Anda di halaman 1dari 11

SINOPSIS TUTORIAL

Eni Purwaningsih 08/ 270460/ KH/ 6056 Kelompok 8 Blok 21 Penyakit Unggas

UP 3 Modul III Broiler Sulit Berjalan dan Kulitnya Berdarah Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada 2011

Learning Objectives: 1. Mengetahui Penyakit Bakterial dan Protozoa Pada Sistem Lokomosi dan Imun Unggas (Epidemiologi, Etiologi, Patogenesis, Gejala Klinis, Perubahan Patologis, Diagnosis, Penanganan, dan Pencegahan).

Ringkasan Belajar: 1. Penyakit Bakterial Pada Sistem Lokomosi Unggas Infectious synovitis Infectious synovitis atau disebut synovitis merupakan mycoplasmosis yang disebabkan oleh Mycoplasma synoviae yang merupakan bersifat parasit obligat pada ayam dan kalkun (Gillespie dan Timoney, 1981), serta mempunyai hospes alami pada ayam dan kalkun (Kleven dkk., 1991). Penyakit ini dapat bersifat akut atau kronis, yang dapat menyebabkan semua membran synovial terpengaruh dan lesi yang paling tampak adalah pada sayap dan sendi tarsal (Carter, 1971). Infeksi Mycoplasma synoviae sering timbul sebagai infeksi saluran pernafasan bagian atas dalam bentuk subklinis, namun dapat menyebabkan Airsacculitis bila terjadi gabungan dengan Newcastle disease (ND) atau Infectious bronchitis (IB) atau keduanya (Kleven dkk., 1991). Mycoplasma synoviae sebagai penyebab Infectious synovitis dilaporkan mempunyai dua galur yaitu galur WVU 185 yang dapat menyebabkan synovitis dan galur FIO-2AS yang lebih sering menyebabkan Airsacculitis (Razin dan Barile, 1985). Infectious synovitis banyak terjadi pada ayam-ayam muda terutama jenis ayam petelur tetapi dapat juga terjadi pada bangsa kalkun. Biasanya penyakit ini menyerang pada anak ayam umur 4-12 minggu atau pada kalkun umur 10-12 minggu dan dapat menyerang induk serta anak ayam umur 6 hari (Whiteman dan Bickford, 1983). Secara genetik ayam lebih rentan daripada kalkun tetapi dilaporkan bahwa angsa dapat terinfeksi secara alami (Bencina dkk., 1988) dan dikatakan bahwa angsa peka terhadap infeksi buatan dengan

Mycoplasma synoviae (Kleven dkk., 1991). Dilaporkan juga bahwa angsa akan terinfeksi juga jika dipelihara bersama-sama dengan ayam-ayam penderita (Bencina, 1988). Infeksi oleh Mycoplasma synoviae mempunyai efek pada persendian, bursa dan selubung tendo, sehingga diberi istilah Infectious synovitis (Tully dan Whitcomb, 1979) dan keradangan pada membran synovial dengan disertai eksudat dalam persendian dan selubung tendo unggas yang terinfeksi merupakan tanda-tanda dari penyakit ini (Whiteman dan Bickford, 1983). Lesi-lesi ini paling sering tampak pada sayap dan sendi tarsal (Carter, 1971), sehingga penyakit ini disebut juga Enlarged hock disease atau tendovaginitis (Kleven dkk., 1991). Ditinjau dari segi ekonomis, penyakit ini dapat mengurangi produksi optimal, kenaikan konversi pakan, dapat menyebabkan turunnya berat karkas, kemungkinan dapat mengurangi daya tetas dan pertumbuhan yang terhambat (Tully dan Whitcomb, 1979). Penularan infectious synovitis dapat terjadi secara vertikal dan lateral baik secara langsung maupun tidak langsung. Penularan secara vertikal melalui telur yang berasal dari induk yang terinfeksi atau karier dan bila telur tersebut menetas maka anak ayam yang menetas sudah terinfeksi. Penularan secara lateral dapat terjadi karena kontak langsung antara unggas penderita dengan unggas sehat yang peka (Razin dan Barile, 1985), serta secara tidak langsung melalui udara, leleran hidung, bulu-bulu, peralatan kandang, makanan minuman yang terkontaminasi dan manusia (Johnson, 1983). Diduga arthropoda dapat bertindak sebagai vektor sehubungan dengan ditemukannya Mycoplasma synoviae dalam kutu dan nyamuk setelah lebih dari 24 jam menghisap darah penderita (Razin dan Barile, 1985). Penyebaran Infectious synovitis secara cepat dari satu kelompok ke kelompok yang lain pada suatu peternakan unggas dengan umur bervariasi kemungkinan melalui udara (Opitz, 1983). Gejala klinis dalam bentuk akut tampak adanya depresi yang berat, pertumbuhan terhambat, muka dan balung pucat, dada melepuh, kepincangan dan pembengkakan sendi, walaupun pada kalkun gejala ini kurang tampak. Pada kalkun persendian kadangkadang membengkak, kadang juga ada berak kehijauan (Tully dan Whitcomb, 1979). Pembengkakan pada persendian dapat menyeluruh terutama pada kasus berat tetapi kasus yang ringan, kepincangan dapat disebabkan oleh panas, rasa sakit maupun bengkak pada hokjoint. Bentuk yang akut ini dapat melanjut jadi bentuk kronis dengan manifestasinya pada saluran respirasi yang dapat berupa bersin ringan, mengikuti vaksinasi ND dan IB (Tully dan Whitcomb, 1979), walaupun pada umumnya bentuk kronis tidak

menunjukkan gejala klinis yang nyata (Razin dan Barile, 1985). Diagnosa terhadap Infectious synovitis selain dengan isolasi dan identifikasi, dapat dilakukan uji serologik dengan uji aglutinasi pelat serum (serum plate agglutination = SPA) dan uji haemagglutination inhibition (HI). Kedua uji ini untuk menemukan reaktor atau status infeksi pada suatu kelompok dan bukan sebagai uji diagnosis individual. Dalam uji aglutinasi pelat serum sebenarnya tidak memberikan hasil yang spesifik karena kemungkinan dapat memberikan reaksi positif palsu atau reaksi silang dengan Mycoplasma gallisepticum karena dikatakan adanya hubungan antigenik antara Mycoplasma synoviae dan Mycoplasma gallisepticum. Pada uji HI reaksi silang tidak tampak sehingga uji HI berguna sebagai peneguhan hasil uji aglutinasi positif yang diragukan (Razin dan Barile, 1985). Selain itu adanya reaktor yang tidak spesifik maupun reaksi silang dapat disebabkan oleh bermacam-macam vaksin dalam larutan minyak (Kleven dkk., 1991).

Avian Infectious Synovitis Nama lain: tenosinovitis, Viral Arthritis atau penyakit radang sendi. Merupakan penyakit menular pada ayam yang ditandai dengan radang persendian kaki, pincang dan merugikaan secara ekonomi. Etiologi Penyebab penyakit adalah Reovirus dari family Reoviridae. Materi genetic virus tersusun atas RNA beruntai ganda (ds-RNA), dan disebelah luarnya terdapat kapsid dengan 92 kapsomer. Bentuk virus ikosahedral dan berukuran diameter berkisar 75 nm. Epidemiologi: Distribusi Geografis Penyakit ini tersebar luas di dunia. Di Indonesia belum pernah dilaporkan. Jenis Unggas Terserang Ayam merupakan unggas yang paling peka terhadap penyakit ini. Umur terserang antara 2-4 minggu, tetapi dapat juga terjadi pada umur 14-16 minggu. Cara Penularan Penularan dapat secara horizontal atau kontak langsung dengan ayam sakit. Kandang dan peralatan kandang, alat transportasi dan petugas yang keluar masuk kandang tercemarr dapat menjadi sumber penularan. Selain itu penularan melalui alat pernafasan tidak begitu penting karena virus yang dikeluarkan melalui saluran pernafasan bagian atas sangat terbatas. Penularan vertical melalui telur juga dapat terjadi dan kira-kira 30 % penularan

melalui telur telah dilaporkan. Gejala Klinis Masa inkubasi secara alami tidak diketahui psti, sedangkan pada infeksi percobaan bervariasi tergantung cara infeksi. Infeksi virus melalui telapak kaki, masa inkubasi 2-7 hari, suntikan melalui pembuluh darah vena dan otot 5-11 hari, tetes hidung 15 hari, per oral dan kontak langsung dengan ayam sakit masing-masing berlangsung 13-21 hari dan 37 minggu. Ayam terserang tampak lesu, nafsu makan menurun, jalan kaku dan pincang karena terjadi pembengkakan pada sendi gastrocnemius dan tendo flexor, jaringan kaki agak ditekuk dan lutut kaki sulit ditekuk. Diagnosa Diagnosa penyakit berdasarkan gejala klinis, isolasi dan identifikasi virus. Antigen dalam jaringan dapat dideteksi dengan FAT dan AGP, sedangkan antibody serum tertular atau yang telah divaksinasi dideteksi dengan SN atau ELISA. Diagnosa Banding Avian Infectious Synovitis sering dikelirukan dengan arthritis akibat infeksi bakteri atau akibat kelainan anatomis diskondroplasia atau oleh material toksik lainnya. Pencegahan dan Pemberantasan Tidak ada obat yang efektif untuk penyakit ini. Tindakan yang efektif dilakukan adalah dengan vaksinasi dan menjaga kebersihan kandang. Jenis vaksin yang dapat digunakan ada 2 yaitu vaksin aktif dan inaktif. Vaksinasi pada ayam budi daya dapat dilakukan 3 kali, mulai umur sehari, 30 hari dan terakhir sebelum bertelur.

2. Penyakit Protozoa Pada Sistem Integumen (Kulit) Unggas Leucocytozoonosis Leucocytozoonosis atau malaria like merupakan penyakit parasit dalam ( endoparasit ) yang disebabkan oleh protozoa, yaitu Leucocytozoon sp. Protozoa ini ialah parasit darah yang hidupnya di dalam sel darah merah. Leucocytozoon sp. yang menyerang ayam ada 2, yaitu L.caulleryi dan L.sabrezi. Penyakit ini pertama kali muncul di Afrika Selatan yang kemudian menyebar ke Amerika dan Asia, termasuk Indonesia.Penyakit ini seringkali muncul pada saat perubahan musim dari penghujan ke kemarau. Lalat penggigit seperti Simulium sp. dan Culicoides sp. berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit ini.

Spesies Leucocytozoon yang menyerang ayam di Indonesia teridentifikasi Leucocytozoon caulleryi dan L.sabrazesi ( Soekardono, 1983 ). L.caulleryi disebarkan oleh vektor Culicoides arakawae ( Soekardono, 1987 ). Penyakit ini menimbulkan kerugian yang sangat tinggi, pada unggas muda menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Unggas dewasa juga bisa terinfeksi dengan menimbulkan gejala diare, lemah, penurunan produksi, penurunan daya tetas telur, bahkan bisa menimbulkan kematian. Di samping unggas domestik ( ayam, itik ) unggas liar juga bisa terinfeksi oleh Leucocytozoon, yaitu burung Great Tits oleh L.dubreuili ( Hauptmanova et al, 2002 ) , burung pipit oleh L.fringillinarum ( Gill and Paperna, 2005 ), Little Owls terinfeksi oleh L.zieanni, burung liar lain oleh

L.marchouxi dan L.ziemanni ( Tome et al, 2005 ). Leucocytozoonosis atau malaria like merupakan penyakit parasit dalam (endoparasit) yang disebabkan oleh protozoa, yaitu Leucocytozoon sp. Protozoa ini ialah parasit darah yang hidupnya di dalam sel darah merah. Leucocytozoon sp. yang menyerang ayam ada 2, yaitu L.caulleryi dan L.sabrezi. Etiologi Leukotozoonosis disebabkan oleh protozoa, yang tergolong genus leucotozoon dan family plasmodiidae. Dua genera lain yang termasuk family plasmodiidae adalah haemoproteus dan plasmodium. Leucotozoon mirip dengan plasmodium, kecuali tidak adanya skison didalam darah yang bersikulasi. Siklus Hidup Siklus hidup leucotozoon meliputi fertilisasi dan perkembangan seksual dengan cara sporogoni didalam tubuh insekta, skisogoni (merogoni) didalam sel-sel jaringan (sering pada paru, hati, ginjal) dan hametogoni didalam eritrosit atau leukosit Sekitar 100 spesies leucotozoon telah diidentifikasi, beberapa spesies leucotozoon dapat menginfeksi lebih dari satu spesies unggas. Meskipun demikian, berbagai spesies leucocytozoon bersifat hospes-spesifik. Leucocytozoon simondi dan leucocytozoon aneris menginfeksi itik dan angsa, leucocytozoon neavi menginfeksi ayam mutiara, leucocytozoon smithi menginfeksi kalkun, dan leucocytozoon sabrezi, leucocytozoon caulleryi, dan leucocytozoon andrewsi menginfeksi ayam. Kejadian leucocytozoon pada ayam , terutama disebabkan oleh leucocytozoon caulleryi dengan vector insekta culicoides arakawa, culicoides circumscriptus, dan culicoides odibilis. Para peneliti melaporkan bahwa di Indonesia, leucocytozoon caulleryi yang arakawa. menyerang ayam ditularkan oleh culicoides

Unggas yang terinfeksi protozoa tersebut , lalat hitam (simulin SP), dan serangga penggigit bersayap dua (agas) (culicoides SP). Mungkin bertindak sebagai reservoir penyakit tersebut selama satu musim./priode tertentu. Penyakit ini pertama kali muncul di Afrika Selatan yang kemudian menyebar ke Amerika dan Asia, termasuk Indonesia.Penyakit ini seringkali muncul pada saat perubahan musim dari penghujan ke kemarau. Lalat penggigit seperti Simulium sp. dan Culicoides sp. berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit ini. Secara umum, Leucocytozoonosis bisa menyerang pada ayam petelur dan ayam pedaging. Berdasarkan data lapangan Medion kasus Leucocytozoonosis cukup sering ditemukan dan penyakit ini masuk dalam 10 besar penyakit yang sering menyerang. Kerugian yang Ditimbulkan Serangan leucocytozoon sp. pada anak ayam, baik ayam pedaging maupun petelur dapat menimbulkan kesakitan 0-40% dan tingkat kematiannya mencapai 7-50%. Sedangkan pada ayam dewasa dapat menimbulkan kesakitan 7-40% dan kematian 2-60%. Selain itu, serangan penyakit ini dipastikan akan mengakibatkan hambatan pertumbuhan dan menurunkan produksi telur yang mencapai 25-75%. Gejala Klinis Pada gejala yang bersifat akut, proses penyakit berlangsung cepat dan mendadak. Suhu tubuh yang sangat tinggi akan dijumpai pada 3-4 hari post infeksi, kemudian diikuti dengan anemia akibat rusaknya sel-sel darah merah, kehilangan nafsu makan (anoreksia), lesu dan lemah serta lumpuh. Ayam yang terinfeksi parasit protozoa dapat mengalami muntah darah, mengeluarkan feses berwarna hijau dan mati akibat perdarahan. Infeksi Leucocyztooon caulleryi dapat mengakibatkan muntah darah dan perdarahan atau kerusakan yang parah pada ginjal. Kematian biasanya mulai terlihat dalam waktu 8-10 hari pasca infeksi. Ayam yang terinfeksi dan dapat bertahan akan mengalami infeksi kronis dan selanjutnya dapat terjadi gangguan pertumbuhan dan produksi. Ayam yang terinfeksi protozoa ini akan menunjukkan adanya perdarahan dengan ukuran yang sangat bervariasi pada kulit, jaringan subkutan, otot dan berbagai organ, misalnya ginjal, hati, paru-paru, usus dan bursa Fabricius. Hati dan ginjal biasanya membengkak dan berwarna merah hitam. Ayam muda di bawah umur 1 bulan (mulai umur 15 hari) lebih rentan terserang, biasanya mulai terlihat setelah 1 minggu terinfeksi. Beberapa penyakit yang memiliki gejala mirip dengan leucocytozoonosis diantaranya ND,

AI, ILT, kolera, Gumboro dan keracunan sulfonamida.

Diagnosis Serangan leucocytozoonosis memiliki gejala yang mirip dengan beberapa penyakit lainnya. Oleh karenanya jika sekiranya muncul keraguan dalam penentuan jenis penyakit hendaknya kita tidak ragu untuk melakukan uji laboratorium sebagai pemantapan diagnosa. Caranya ialah melakukan pemeriksaan preparat apus darah guna mendeteksi adanya sporozoit dari leucocytozoon sp. Tahap pengambilan dan penanganan sampel darah menjadi titik kritis pertama terhadap validitas hasil pemeriksaan di laboratorium. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan dan penanganan sampel darah sebelum dilakukan pemeriksaan preparat apus darah antara lain : 1. Jumlah sampel darah setiap kandang minimal 10 sampel agar data yang dioleh bisa mencerminkan kondisi seluruh ayam dan sampel darah diambil dari ayam yang pucat atau sakit 2. Lokasi pengambilan sampel darah untuk ayam ialah di vena brachialis (di daerah sayap) 3. Volume darah yang diambil ialah 1-2 ml. Setelah diambil, darah segera dimasukkan ke dalam vial 6R yang telah diisi antikoagulan lalu dikocok hingga merata 4. Untuk pengiriman ke laboratorium, gunakan marina cooler atau filopur yang telah diberi es. Pengiriman sampel darah sebaiknya dilakukan segera setelah pengambilan darah. Lama pengiriman hendaknya tidak lebih dari 2-3 hari Differensial Diagnosa Serangan penyakit Leucocytozoonosis memiliki kemiripan dengan beberapa penyakit, seperti Gumboro, infectious laryngotracheitis (ILT) dan Newcastle disease (ND). Gumboro Gejala yang mirip ialah perdarahan pada bagian paha ayam. Yang membedakannya ialah perdarahan pada paha yang disebabkan oleh Leucocytozoon sp. berbentuk bintikbintik sedangkan pada serangan Gumboro berbentuk garis. Selain itu, serangan Gumboro juga mengakibatkan perdarahan di antara oesofagus-proventrikulus dan ventrikulusproventrikulus, sedangkan Leucocytozoonosis menyebabkan perdarahan di seluruh daerah proventrikulus.

Infectious laryngotracheitis (ILT) Leucocytozoonosis bisa dikelirukan dengan ILT dari adanya muntah darah. Cara membedakannya ialah dengan melakukan bedah bangkai dan melihat asal dari darah tersebut. Jika berasal dari salurn pernapasan, yaitu trakea maka penyebabnya ialah ILT sedangkan apabila berasal dari salurn pencernaan, yaitu proventrikulus dan ventrikulus maka penyebabnya adalah Leucocytozoonosis. Muntah darah akibat ILT disebabkan karena perdarahan pada trakea Newcastle disease (ND) Serangan ND menimbulkan peradangan pada proventrikulus di bagian kelenjar (yang terlihat lebih menonjol dari permukaan), sedangkan leucocytozoonosis menyebabkan peradangan dan perdarahan di seluruh permukaan proventrikulus. Selain itu, ND juga mengakibatkan peradangan usus. Pencegahan Upaya pencegahan yang optimal tentu akan menekan kasus dan kerugian akibat leucocytozoonosis. Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan antara lain : 1. Hindari adanya genangan air di sekitar kandang. Pastikan tidak ada lubang yang dapat menampung air di sekeliling kandang. Pastikan selokan bersih dan dapat mengalirkan air secara lancar 2. Hilangkan semak belukar atau rumput dan tanaman yang tidak berguna yang terdapat di sekitar kandang karena bisa menjadi tempat atau sarang nyamuk (vektor leucocytozoon sp.) 3. Perhatikan barang-barang yang dapat menampung air sehingga menjadi sarang dan tempat berkembang biaknya nyamuk. Buang atau hilangkan barang-barang tersebut dari lingkungan kandang 4. Bersihkan dan sanitasi kandang secara rutin 5. Jika perlu lakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida untuk membasmi nyamuk 6. Lakukan pemeriksaan sampel darah untuk mengetahui adanya sporozoit dari Leucocytozoon sp. Pengobatan Saat ayam telah terserang leucocytozoonosis maka pengobatan yang dapat dilakukan ialah dengan memberikan antibiotik yang dapat menekan pertumbuhan schizont. Antibiotik

tersebut antara lain : Sulfonamid yang di kombinasikan dengan vitamin A dan K3 Sulfonamid berkerja dengan cara menghambat asam folat sehingga pertumbuhan schizont ditekan dan infeksi terhenti. Adanya vitamin A dan K3 akan membantu mencegah atau mengurangi perdarahan dan kerusakan sel lebih lanjut. Kombinasi antara Sulfonamid dan diaminopirimidin Kombinasi antara sulfonamid dan diaminopirimidin bersifat sinergis (saling menguatkan) dalam menghambat asam folat sehingga pertumbuhan schizont dapat ditekan. Kombinasi obat yang lainnya ialah sulfonamid dan pirimethamin maupun sulfonamid dan trimethoprim. Sulfamonomethoxine merupakan golongan sulfonamid dengan daya kerja yang lama, yaitu selama 24 jam sehingga bisa menekan asam folat secara optimal. Malaria like (leucocytozoonosis) merupakan penyakit parasit darah mampu menurunkan produktivitas ayam. Memahami tentang gejala klinis dan perubahan patologi anatomi akan mempermudah kita dalam penanganannya. Pemantapan diagnosa melalui uji laboratorium juga diperlukan terlebih lagi gejala klinis dan patologi anatominya mirip dengan beberapa penyakit. Saat diagnosa telah termantapkan, langkah penanganannya pun menjadi semakin terarah dan efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, B. T. 1993. Manual Kesehatan Unggas. Panduan Bagi Petugas Teknis, Bencina, D., Tanida, T. and Dorrer, D., 1988. Natural infection of geese with Mycoplasma gallisepticum and Mycoplasma synoviae and egg transmission of the mycoplasmas. Avian Pathol. 17: 925-928. Carter, G.R, (1975). Diagnostis Procedures in Veterinary Microbiology. Springfield, Illionis USA. Pp. 243-249. Charlton, B.r., 1996. Blood borne parasites. In : Avian Disease Manual 4th ed. Pp.162-165. American Associated of Avian Pathologists. University of Pensylvania, New Bolton center, PA. Ernawati, R., R. Soelistiyanto, A.P. Rahardjo, N. Sianita. 1989. Ilmu Penyakit Viral Veteriner Jilid II. Laboratorium Virologi dan Imunologi Fakultas Kedokteran Hewan Airlangga. Surabaya

Fenner, F.J., E.P.J Gibbs., F.A. Murphy., R. Rott., M.J. Studdert and D.O. White. 1993. Veterinary Virology. Edisi Kedua. Penerjemah D.K. Harya Putra. IKIP Semarang Press. Semarang. Gillespie, J.H. and Timoney, J.F., 1981. Hagan and Bruner's Infectious Diseases of Domestic Animals. 7th. ed. Comstock Publishing Associates Cornell University Press. Ithaca and London. p. 299. Johnson, D.C., 1983. Role of Management and Sanitation in Controlling Mycoplasma outbreaks. AAAP Mycoplasma symposium. Avian Disease 27 : 342-343. Kleven, S., Rowland, G.N. and Olson, N.O., 1991. Mycoplasma synoviae infection In : Disease of Poultry. 9th ed. By Calnek, B.W., H.J. Barnes, C.W. Bread, W.M. Reid and H.W. Yorder, Jr. Iowa State University Press, Ames, Iowa. Pp. 223- 231. Levine, N.D., 1995. Protozoologi Veteriner (terjemahan). Gadjah Mada University Press. Markey, B.K, (2002). Veterinery Microbiology and Microbial Disease. Blackwell Publishing. Nakamura, K., Morii ,T. & Iijima,T. 1979.Effects of Sulfamonomethoxine on Parasitemia, Serum Antigen and Antibody Production in Chickens Infected with Leucocytozoon caulleryi. Jap.J. Parasit.28(6) : 377-383. Olson, N.O., 1984. Mycoplasma synoviae Infection In : Disease of Poultry. 8th ed. by Hofstad, M.S., H.J. Barnes, B.W. Calnek, W.M. Reid and Yoder, Jr. Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA. Pp. 212-221. Opitz, H.M., 1983. Mycoplasma synoviae Infection in Maine's Egg Farm. Avian Diseases Vol. 27 No. 2 April-June edition. Published by American Association of Avian Pathologist. Pp. 324-326. Razin, S., and Barile, M.F., 1985. The Mycoplasma. Vol. IV. 1st ed. The Iowa State University Press. Ames, Iowa. Pp. 206-207. Soulsby. E.J.L., 1986. Helmiths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animal 7th Ed. The English and protozoa of society and baillire, Tindall, London. Subrono, (1985). Ilmu Penyakit Ternak. Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Tabbu CR. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Tizard, I.R. 2000. Pengantar Imunologi Veteriner. Penerjemah Soekardjo Hardjosworo. Airlangga University Press. Surabaya. Tullly, J.G., and Whitecomb, R.F., 1979. The Mycoplasma. Vol. II 1st ed. Academic Press. New York, USA. Pp. 17-22.

Whiteman, C.E., and Bickford, A.A., 1983. Avian Disease Manual. 2nd ed. American Association of Pathologist Pensylvania University. Pp. 119-121.