Anda di halaman 1dari 13

Disusun Oleh :

A.M.Rahmat (08101010007) Mikael (08101020002)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN 2009

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat rahmat dan hidayahnyalah, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul FEKUNDITAS yang terangkum dalam mata kuliah Biologi Perikanan. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapakan kritik dan saran dari pembaca guna perbaikan pembuatan makalah berikutnya dan harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi Mahasiswa/(i) Universitas Borneo pada umumnya puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan dan Mahasiswa/(i)Universitas Borneo Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Tarakan, 15 April 2009

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB III PENUTUP..........................................................................................................14

3.1 Kesimpulan..................................................................................................................14 3.2 Saran...........................................................................................................................14 Daftar Pustaka..................................................................................................................15

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Pengetahuan mengenai fekunditas merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam biologi perikanan. Fekunditas ikan dipelajari bukan saja merupakan salah satu aspek dari natural history, tetapi ada hubungannya dengan studi dinamika populasi, sifat-sifat rasial, produksi dan persoalan stok-regruitme (Bagenal, 1978 ). Dari fekunditas secara tidak langsung kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Dalam hubungan ini tentu ada faktor-faktor lain yang memegang peranan penting dan sangan erat hubungannya dengan strategi reproduksi dalam rangka mempertahankan kehadiran spesies itu di alam. Selain itu, fekunditas merupakan suatu subyek yang dapat menyesuaikan dengan bermacam-macan kondisi terutama dengan respons terdapat makanan. Jumlah telur yang dikeluarkan merupakan satu mata rantai penghubung antara

satu generasi dengan generasi berikutnya, tetapi secara umum tidak ada hubungan yang jelas antara fekunditas dengan jumlah telur yang dihasilkan. 1.2 Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini, antara lain:

1. Agar dapat menambah pengetahuan bahwa Fekunditas merupakan satu aspek yang
memegang peranan penting dalam biologi perikanan

2. Memberi informasi kepada pembaca erat hubungannya dengan strategi reproduksi


dalam rangka mempertahankan kehadiran spesies itu di alam

3. Memberi informasi mengenai jenis-jenis fekunditas


1.3 Metode Penulisan Metode dalam penulisan makalah ini adalah dengan mengumpulkan data secara diskriptif yaitu dengan mengumpulkan data-data sekunder yang berkaitan dengan Filum Echinodermata, yang dijadikan acuan penulisan

BAB II Fekunditas Telah banyak usaha-usaha untuk menerangkan dan membuat definisi mengenai fekunditas. Mungkin defisi yang paling dekat dengan kebenarannya adalah seperti apa yang terdapat pada ikan salmon (Onchorynchus sp). Ikan itu hanya satu kali memijah dan kmudian mati. Semua telur-telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan itulah yang dimaksud dengan fekunditas. Tetapi karena spesies ikan yang ada itu bermacammacam dengan sifatnya masing-masing, maka para peneliti berdasarkan kepada definisi yang umum tadi lebih mengembangkan lagi definisi fekunditas sehubungan dengan aspek-aspek yang ditelitinya. Misalnya kesulitan yang timbul dalam menentukan fekunditas itu ialah komposisi telur yang heterogen, tingkat kematang gonad yang berbeda dan tidak seragam dari populasi ikan tersebut, waktu pemijahan yang berbedabeda dan lain-lainnya. (Bagenal, 1978 ) membedakan antara fekunditas yaitu jumlah telur

matang yang akan dikeluarkan dengan fertilitas yaitu jumlah telur matang yang dikeluarkan oleh induk. Menurut (Bagenal, 1967 ), Untuk ikan ikan tropik dan sub-tropik, definisi fekunditas yang paling cocok mengingat kondisinya ialah jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata massa hidupnya. Parameter ini relevan dalam study populasi dan dapat ditentukan karena kematangan tiap-tiap ikan pada waktu pertama kalinya dapat diketahui dan juga statistik kecepatan mortalitasnya dapat ditentukan pula dalam pengelolaan perikanan yang baik. 2.1 Macam Macam Fekunditas Menurut (Nikolsky, 1963) jumlah telur yang terdapat dalam ovari ikan dinamakan fekunditas individu, fekunditas mutlak, fekunditas total. Ia memperhitungkan telur yang ukurannya berlain-lainan. Dalam memperhitungkannya harus diikut sertakan semua ukuran telur dan masing-masing harus mendapatkan kesempatan yang sama. Kosekuensinya harus mengambil beberapa bagian telur dari ovari. Pembagian fekunditas ini terbagi atas :

)a Fekunditas Individu : Jumlah telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan
tahun itu pula dan dianjurkan untuk menentukan fekunditas ikan apabila ovari ikan itu sedang dalam tahap kemetangan yang ke IV, paling baik sesaat sebelum terjadi pemijahan (Nikolsky, 1969). Fekunditas ini akan sukar ditrerapkan untuk ikan ikan yang melakukan pemijahan beberapa kali dalam satu tahun, karena mengandung telur dari berbagai tingkat dan akan lebih sulit lagi menentukan telur yang benar-benar akan dikeluarkan pada tahun yang akan datang, Jadi fekunditas individu hanya baik digunakan untuk ikan yang melakukan pemijaha satu kali dalam setahun.

)b Fekunditas Total : Jumlah telur yang dihasilkan selama hidup, (Royce, 1972).
Sehubungan dengan hal ini maka fekunditas individu tidak relevan dengan fekunditas total.

)c Fekunditas Relatif : Jumlah telur per satuan berat atau panjang. Fekunditas inipun
sebenarnya mewakili fekunditas individu kalau tidak memperhatikan berat dan

panjang ikan. Ada yang menggunakan panjang sebagai pembaginya dan ada juga yang menggunakan berat. Penggunaan fekunditas relatif dengan satuan berat menurut Bengenal (Gerking, 1967) lebih mendekati kepada kondisi ikan itu sendiri dari pada dengan panjang. Bahkan menurut Nikolsky (1969) lebih mencerminkan status ikan betina dan kualitas dari telur kalau berat yang dipakai tanpa berat alat-alat pencenaan makanannya. Fekunditas ini lebih lebih maksimum pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky, 1969). Fekunditas inipun menngalami kesukaran karena tidak dapat dipakai untuk membandingkan satu populasi dengan yang lainnya atau keadaan dari tahun satu ke tahun lainnya. Ikan-ikan yang termasuk dalam golongan vivipar, ikan yang melahirkan anakanaknya, mempunyai 3 macam fekunditas :

)1 Prefertilized fecundity : jumlah telur didalam ovarium sebelum teerjadi pembuahan )2 Fertilized fecundity : jumlah telur yang dibuahi dalam ovarium )3 Larval fecundity : jumlah telur yang sudah menetas menjadi larva tetapi belum
dikeluarkan.

Jenis-jenis fekunditas lainnya adalah :

.A Fekunditas Dengan Panjang.


Fekunditas sering dihubungkan dengan panjang daripada dengan berat, karena panjang penyusunan relatif kecil sekali tidak seperti berat yang dapat berkurang dengan mudah. Hal yang harus diperhatikan dalam membuat hubungan fekunditas dengan pajang apabila mengambil sampel berulang-ulang harus berhati-hati, karena apabila ikan yang diambil pada waktu gonad sedang tumbuh. Penulis memplotkan fekunditas mutlak dengan panjang ikan dan hubungan itu, ialah :
b

Dimana, F : Fekunditas L : Panjang Ikan, a dan b merupakan konstanta yang didapat dari data

F=aL

Persamaan ini kalau ditransformasikan ke logaritmakan mendapatkan persamaan regresi garis lurus : Log F = log a + b log L B. Fekunditas Dengan Berat Fekunditas mutlak sering dihubungkan dengan berat, karena berat lebih mendekati kondisi ikan itu daripada panjang. Namun dalam menentukan fekunditas ini terdapat beberapa kesukaran. Berat akan cepat berubah pada saat pemijahan. Misalnya pada ikan salmon dan ikan sidat akan melakukan ruaya sebelum berpijah dan akan berpuasa sampai tempat pemijahan. Penggunaan fekunditas ini untuk menyatakan hasil yang menduga bahwa korelasi antara fekunditas dengan berat adalah linier yang perumusannya adalah : F = a + bW Beberapa penulis mendapatkan bahwa korelasi antara fekunditas dengan berat tidak linier. Perlu diperhatikan bahwa berat gonad pada awal kematangan berbeda dengan berat akhir dari kematangan itu karena perkembangan telur yang dikandungnya.

C. Fekunditas Dengan Umur Hubungan fekunditas dengan umur tidak selalu sama dengan arti bahwa umur itu ada yang tidak berpengaruh pada fekunditas, ada yang pengaruhnya sedikit dan ada yang secara positif. Hal demikian akan benar apabila yang dilihatnya hanya hubungan anatara fekunditas dan umur saja tanpa melihat parameter lainnya. Tetapi korelasi ini ada batasnya dimana akan ada penurunan jumlah walaupun ikan itu bertambah besar atau tua. Ikan yang siklus hidupnya panjang misalnya ikan sturgeon atau ikan mas, memperlihatkan penambahan jumlah telur yang cepat pada waktu umur muda dan kemudian akan diikuti dengan kecepatan pertambahan yang semakin berkurang dan terus menerun sampai pada keadaan yang tetap. D. Fekunditas Pemijah Berganda

Ikan yang berpijah berulang-ulang dalam waktu yang lama akan melibatkan persoalan telur cadangan dan telur yang sudah berkembang. Krirterianya yaitu ada tidaknya kunig telur. Julah telur yang mempunyai kuning telur yang dihitung fekunditasnya pada musim itu. Dengan membandingkan jumlah telur yang sudah mnempunyai kunung telur dengan jumlah telur yang sudah sangat berkembang, dianggap dapat memberikan jumlah telur pada kelompok yang dikeluarkan tiap musim

E. Fekunditas Dengan Ukuran Telur


Ukuran telur biasanya dipakai untuk menentukan kualitas yang berhubungandengan kandungan kuning telur dimana telur yang berukuran besar menghasilkan larva yang berukuran besar daripada yang berukuran kecil. Dalam membuat perbandingan ukuran telur dengan fekunditas harus berasal dari ovari yang sama tingkat kematangannya. Walaupun tidak terdapat pada semua ikan namun didapatkan bahwa ukuran telur dan ukuran panjang ikan berkorelasi positif. F. Fekunditas Dengan Ras Ras yang berbeda memiliki fekunditas yang tidak sama demikian juga ukuran besar telurnya. Berdasarkan hal ini populasi dapat diketahui homogen atau heterogen. Ikan dari satu spesies hidup dari berbagai habitat yang berbeda dan garis lintang yang mungkin mempunyai perbedaan telur dalam fekunditasnya. G. Fekunditas dan Populasi Bangenal (1978 ) mengemukakan bahwa disamping fekunditas mutlak ada pula fekunditas populasi yaitu jumlah semua telur dari semua fekunditas mutlak ikan betina yang memijah, yaitu semua telur yang akan dikeluarkan dalam satu musim pemijahan. Tiap tahun fekunditas populasi tidak sama. Sebab-sebab variasi ini berhubungan dengan komposisi telur, faktor lingkungan seperti persediaan makanan, kepadatan populasi, suhu perairan, oksigen terlarut dan lain-lainnya. Suhu air mempengaruhi fekunditas secara tidak langsung. Begitu juga dengan kedalaman air dan oksigen terlarut merupakan faktor penghambat. Dalam kondisi lingkungan yang menguntungkan telur, telur dikeluarkan lebih banyak dari pada lingkungan yang kurang menguntungkan.

Suhu air seringkali digunakan sebagai parameter kualitas air yang berpengaruh terhadap kecepatan perkembangan telur. Pada kisaran yang ambien, peningkatan suhu air dapat juga digunakan untuk mengurangi tumbuhnya jamur. Geffen et al. (2006) melakukan penelitian untuk mengamati hubungan antara suhu air dan kelangsungan hidup larva pada ikan Irish Sea cod, Gadus morhua. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa peningkatan suhu air selama masa penetasan dapat meningkatkan mortalitas telur. Walaupun penelitian tersebut juga masih memiliki kelemahan, karena tidak dilakukannya pengujian kualitas telur terhadap tiap individu ikan peneltian. Apabila satu populasi dalam beberapa tahun jumlahnya menjadi sangat berkurang akibat penangkapan misalnya, hal ini berarti akan memperbaiki persediaan makanan untuk populasi sisa. Ternyata populasi sisa tadi fekunditasnya semakin bertambah, sedangkan ketika populasi tadi masih lengkap fekunditasnya kecil.

3.2 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Fekunditas


Faktor faktor yang mempengaruhi fekunditas serta hal-hal lain yang berhubungan dengan itu (Nikolsky, 1969) membuat kaidah utama sebagai berikut :

)a Sampai umur tertentu fekunditas itu akan bertambah kemmudian menurun lagi,
fekunditas relatifnya menurun sebelum terjadi penurunan fekunditas mutlaknya. Fekunditas relatif maksimum terjadi pada golonga ikan muda. Ikan-ikan tua kadang tidak memijah setiap tahun.

)b Fekunditas mutlak atau relatif sering menjadi kecil pada ikan-ikan atau kelas umur
yang jumlahnya banyak, terjadi untuk spesies yang mempunyai perbedaan makanan diantara kelompok ukuran. )c Pengaturan dalam fekunditas terbanyak dalam berespon dalam persediaan makanan berhubungan dengan telur yang dihasilkan oleh ikan yang cepat pertumbuhannya, lebih gemuk dan lebih besar.

)d Ikan yang bentuknya kecil dengan kematangan goand lebih awal serta fekunditasnya
tinggi mungkin disebabkan oleh kandungan makanan dan predator dalam jumlah besar.

)e Perbedaan fekunditas diantara populasi spesies yang hidup pada kodisi lingkungan yang berbeda-beda, bentuk migran fekunditasnya lebih besar )f Fekunditas disesuaikan secara otomatis melalui metabolisme yang mengadakan reaksi terhadap perubahan persediaan makanan dan menghasilakn perubahan dalam pertumbuhan, seperti ukuran pada umur tertentu demikian juga ukuran dan jumlah telur atau jumlah siklus pemijahan dalam satu tahun. )g Fekunditas bertambah dengan mengadakan respon terhadap perbaikan makanan melalui pematangan gonad yang terjadi lebih awal, menambah kematangan individu pada individu yang lebih gemuk dan mengurangi antara siklus pemijahan

)h Kualitas telur terutama isi kuning telur bergantung kepada umur dan persediaan
makanan dan dapat berbeda dari satu populasi ke populasi yang lain. Hubungan antara karakteristik induk, jumlah telur yang dihasilkan dan jumlah benih yang dihasilkannya merupakan dasar untuk penelitian jumlah induk yang diperlukan. Kelangsungan hidup benih bergantung kepada beberapa faktor. Sebagai contoh, selama awal ontogeni, embrio atau kantong kuning telur larva bisa saja mati karena masalah fisiologi dan perkembangan, yang dalam kasus yang sama dapat menghasilkan kerugian yang signifikan disamping adanya pemangsaan pada telur dan larva (Thorsen et al., 2003). Data yang ada menunjukkan adanya korelasi positif antara ukuran telur dan kelangsungan hidup larva. Pengetahuan tentang proses yang mempengaruhi fekunditas dan kualitas telur sangatlah penting untuk dapat memahami jumlah induk yang akan digunakan dalam kegiatan budidaya (Amstrong et al., 2001 dalam Thorsen et al., 2003). Potensi fekunditas pada beberapa spesies ikan dapat diduga dengan cara menghitung jumlah telur yang matang di dalam ovari sebelum memijah. Namun demikian, oosit dapat pula mengalami kerusakan karena folikel sel mengalami atresia dan diserap kembali. Sedikitnya perbedaan antara ukuran oosit yang tidak matang dan yang matang dapat menyebabkan sulitnya pendugaan potensi fekunditas pada beberapa spesies. 3.2 Penelitian Mengenai Fekunditas

Pusat Penelitian Oseanografi, lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, melakukan penelitian mengenai fekunditas dengan abstrak : Perkembangan gonad, musim pemijahan dan fekunditas ikan sebelah "brill" (Colistium guntheri Hutton, 1926) di perairan Otago Selatan, New Zealand telah diamati selama satu tahun. Sam pel ikan ditangkap setiap bulan menggunakan "bottom otter trawl". Indeks gonad, tingkat kematangan gonad dan distribusi frekuensi ukuran telur digunakan untuk menentukan perkembangan gonad dan musim pemijahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan populasi ikan "brill" jantan dan betina tidak berbeda nyata dari 1 : 1. Pada ukuran panjang tubuh yang sarna, ikan betina mempunyai berat badan yang lebih besar dari pada ikan jantan. Hasil analisa histologi menunjukkan bahwa C. guntheri termasuk kelompok ikan yang mempunyai perkembangan telur secara sinkroni. Berdasarkan perubahan nilai indeks gonad dan perkembangan ovari, jenis ikan ini diketahui mengalami pematangan gonad yang sangat cepat pada akhir musim gugur (Juni), yaitu ditandai dengan peningkatan nilai indeks gonad secara drastis dan ovari didominasi oleh telur pada tingkat kematangan akhir (final maturation stage). Musim pemijahan dimulai pada akhir musim dingin (Agustus) sampai musim panas (Januari), ditandai dengan penurunan nilai indeks gonad secara nyata dan ovari didominasi oleh telur yang telah masak (mature), hidrasi (hydrated) dan paska ovulasi (postovulatory). Fekunditas (batch fecundity) ditentukan dengan menghitung semua telur yang telah masak, mencakup sekitar 34% dari total telur di dalam ovari. Pada pengamatan ini diketahui fekunditas (Y) proporsional dengan berat gonad dalam garam (Wg) dengan persamaan regresi Y= 10 abstrak. Perkembangan gonad, musim pemijahan dan fekunditas ikan sebelah "brill" (Colistium guntheri Hutton, 1926) di perairan Otago Selatan, New Zealand telah diamati selama satu tahun. Sam pel ikan ditangkap setiap bulan menggunakan "bottom otter trawl". Indeks gonad, tingkat kematangan gonad dan distribusi frekuensi ukuran telur digunakan untuk menentukan perkembangan gonad dan musim pemijahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan populasi ikan "brill" jantan dan betina tidak berbeda nyata dari 1 : 1. Pada ukuran panjang tubuh yang sarna, ikan betina

mempunyai berat badan yang lebih besar dari pada ikan jantan. Hasil analisa histologi menunjukkan bahwa C. guntheri termasuk kelompok ikan yang mempunyai perkembangan telur secara sinkroni. Berdasarkan perubahan nilai indeks gonad dan perkembangan ovari, jenis ikan ini diketahui mengalami pematangan gonad yang sangat cepat pada akhir musim gugur (Juni), yaitu ditandai dengan peningkatan nilai indeks gonad secara drastis dan ovari didominasi oleh telur pada tingkat kematangan akhir (final maturation stage). Musim pemijahan dimulai pada akhir musim dingin (Agustus) sampai musim panas (Januari), ditandai dengan penurunan nilai indeks gonad secara nyata dan ovari didominasi oleh telur yang telah masak (mature), hidrasi (hydrated) dan paska ovulasi (postovulatory). Fekunditas (batch fecundity) ditentukan dengan menghitung semua telur yang telah masak, mencakup sekitar 34% dari total telur di dalam ovari. Pada pengamatan ini diketahui bahwa fekunditas (Y) proporsional dengan berat gonad dalam gram (Wg) dengan persamaan regresi Y = 103 [(4.34 + 20.06 (Wg)], R2 = 0.95, dan fekunditas relatifper gram berat gonad adalah 18.7601.150 telur.

BAB III PENUTUP 3.2 Kesimpulan Fekunditas ikan dipelajari bukan saja merupakan salah satu aspek dari natural history, tetapi ada hubungannya dengan studi dinamika populasi, sifat-sifat rasial, produksi dan persoalan stok-regruitme. Dari fekunditas secara tidak langsung kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan sesuai dengan pengertian fekunditas, yaitu jumlah telur matang yang akan dikeluarkan dengan fertilitas yaitu jumlah telur matang yang dikeluarkan oleh induk. 3.2 Saran Ada faktor-faktor lain yang memegang peranan penting dan sangan erat hubungannya dengan strategi reproduksi dalam rangka mempertahankan kehadiran

spesies itu di alam oleh karena itu hal-hal yang bersangkutan harus diperhatikan. Mengeingat untuk menentukan fekunditas ada beberapakesukaran maka dalam menentukannya disesuiakan dengan kondisi ikan.

Daftar Pustaka
Effendie, M. I. 1995. Biologi Perikanan In press, Bogor. Nikolsky, G. F. 1963. The Ecology of Fishes Royce, W. F. 1972. Introduction to the Fishery Science. Academic Press. 351pp Setyono, D. E. D. 2007. Pusat Penelitian Oseanografi, lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta Utara Sucipto, A. 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Telur Ikan.