Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Setelah dilakukan penyiapan pada sampel dilanjutkan dengan

proses ekstraksi atau penyarian. Penyarian ini dilakukan untuk menarik senyawa-senyawa dan zat aktif yang terdapat didalam sampel. Untuk sampel spons sendiri digunakan ekstraksi dengan cara dingin. Hal ini sesuai dengan banyaknya jurnal yang ditemukan dimana untuk sampel spons menggunakan cara dingin. Setelah diekstraksi sampel spons yang sudah diuapkan kemudian dipartisi dengan metode ECC menggunakan pelarut etil asetat. Pada saat pengerjaan partisi selesai dilanjutkan dengan proses KLT. I.2 Maksud dan Tujuan

I.2.1 Maksud Mengetahui dan memahami cara ekstraksi, partisi, dan KLT sampel spons jenis Callyspongia sp. I.2.2 Tujuan Melakukan ekstraksi sampel pada spons dengan metode maserasi, partisi dengan metode ECC menggunakan pelarut etil asetat, dan pemeriksaan komponen senyawa dengan KLT pada sampel Callyspongia sp.

I.3

Prinsip Percobaan

1.3.1 Maserasi Pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik tersebut sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dan pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam sel dan diluar sel. 1.3.2 Ekstraksi Cair-Cair Memisahkan satu atau lebih senyawa dengan menggunakan satu pelarut dimana senyawa tersebut akan terdistribusi menurut tingkat kepolarannya menggunakan eluen, dan yang tidak larut akan membentuk endapan. 1.3.3 Kromatografi Lapis Tipis Adsorpsi yaitu pemisahan daya serap komponen kimia terhadap adsorben (fase diam). Dan partisi yaitu komponen kimia bergerak naik mengikuti fase gerak (eluen) dengan kecepatan yang berbeda tingkat kepolarannya, hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Uraian Sampel 1. Klasifikasi Kingdom Phylum Kelas Ordo Famili Genus Spesies 2. : Animalia : Porifera : Demospongiae : Haplosclerida : Callyspongiidae : Callyspongia : Callyspongia sp. (1)

Kandungan kimia Hasil Identifikasi Metabolit Sekunder Callyspongia sp. Jenis senyawa

yang diidentifikasi Alkaloid dan Flavonoid (1) 3. Morfologi Demospongiae adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Porifera. Golongan ini bertulang lunak karena tidak memiliki rangka. Ada beberapa yang memiliki rangka yang tersusun dari serabut-serabut spongin dengan spikula dari zat kersik. Contoh dari kelas ini adalah Euspongia sp., Spongila sp., Callyspongia sp., Phyllospongia sp. (2:174)

II.2 Ekstraksi Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Pelarut organik yang paling sering digunakan dalam mengekstraksi zat aktif dari sel tanaman adalah metanol, etanol, kloroform, hexan, aseton, benzen dan etil asetat. Proses terekstraksinya zat aktif dalam sel tanaman adalah : pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik tersebut sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dan pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam sel dan diluar sel.(3) Pada umumnya sampel biota laut yang berupa spons diekstraksi dengan metode maserasi atau perendaman dengan menggunakan pelarut tertentu. Hal ini berdasarkan beberapa jurnal penelitian yang membahas tentang spons. II.3 Partisi Penyarian merupakan proses pemisahan dimana sutau zat terbagi dalam pelarut yang tidak larut dalam pelarut. Tujuan dilakukannya metode ini adalah memisahkan senyawa polar dan non polar. Senyawa polar akan

larut dalam pada pelarut polar dan senyawa non polar akan larut pada pelarut non polar. (4) II.4 KLT KLT merupakan bentuk kromatografi planar. Pada KLT, fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform). Pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat aluminium, atau pelat plastik. Prinsip KLT adalah pemisahan secara fisikokimia. Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip absorbsi dan partisi, dimana komponen kimia bergerak mengikutin caiaran pengembang karena daya seran absorben terhadap komponen kimia tidak sama, sehingga komponen kimia bergerak dengan kecepatan berbeda dan hala ini menyebabkan pemisahan. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak secara menaik (ascending) atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan secara menurun (descending) Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap yang berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 nm. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan semaki semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensi dan resolusinya. (5)

BAB III METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat Alat yang digunakan adalah alat penyemprot, chamber, cawan porselin, gelas ukur, lampu UV, oven, pensil, pipet skala, pipet tetes, tabung reaksi, dan vial. III.1.2 Bahan Bahan-bahan yang digunakan adalah asam sulfat 10 %, aluminium foil, eluen etil asetat, hexan, methanol, ekstrak larut etil, kertas saring, lempeng KLT. III.2 Cara Kerja III.2.1 Ekstraksi Disiapkan alat dan bahan; Sampel Callyspongia sp yang telah dirajang kemudian ditimbang; Dimasukkan ke dalam toples kemudian ditambahkan dengan cairan penyari (metanol) hingga sampel terendam dengan cairan penyari volumenya lebih tinggi 2 cm. Toples ditutup erat dan diberi plester untuk menghindari

menguapnya cairan penyari; Dibiarkan selama 3 hari terlindung dari cahaya, kemudian disaring hasil ekstraksi dan diperas ampasnya; Hasil ekstraksi dimasukkan ke dalam suatu wadah dan dibiarkan menguap dengan bantuan kipas angin; Ditimbang bobot ekstrak, diberi label dan disimpan dalam eksikator.

III.2.2 Partisi Karena ketidaktersediaan alat-alat yang dibutuhkan untuk

percobaan ini seperti magnetik stirer ataupun sentrifuge, maka yang digunakan adalah cawan porselin dan tabung reaksinya dimana ekstrak nanti akan dimasukkan ke dalam cawan porselin dan digerus dengan tabung reaksi sebagai pengganti magnetik stirer. Sejumlah ekstrak metanol Callyspongia sp dilarutkan dalam etil asetat sedikit demi sedikit dalam wadah; Kemudian ekstrak tersebut dimasukkan dan digerus sampai homogen; Setelah homogen, didiamkan sebentar sehingga terlihat ada yang larut dan tidak larut berupa endapan; Ambil bagian yang larut dan pindahkan ke dalam wadah lain dengan menggunakan pipet tetes; Sisa ekstrak berupa endapan yang tidak larut dipindahkan ke wadah lain ; Ulangi prosedur ini hingga dua kali (hingga jernih) III.2.2 KLT Penyiapan Lempeng Kromatograf Lempeng diaktifkan dengan cara dipanaskan dalam oven pada suhu 105C-110C selama 1 jam dan kemudian lempeng tersebut siap untuk digunakan. Identifikasi dengan KLT Sebelum penotolan dilakukan, lempeng yang telah diaktifkan diberi garis batas bawah 1 cm dari tepi bawah lempeng dan garis batas atas 0,5 cm dari tepi atas lempeng; Chamber dijenuhkan dengan cara

memasukkan eluen dan kertas saring ke dalam chamber kemudian ditutup

dengan rapat sampai cairan eluen membasahi kertas saring hingga batas tepi atas chamber yang menandakan jenuhnya chamber; Ekstrak metanol dan isolat ditotolkan pada bagian bawah lempeng (1 cm dari bagian bawah lempeng) hingga diperoleh penotolan yang sempurna; Lempeng yang telah ditotol dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh oleh eluen hexan:etil asetat (5:1) dengan posisi berdiri (diusahakan penotolan sampel tidak terendam dalam eluen) lalu chamber ditutup dan dibiarkan ekstrak terelusi sampai sampai lebih kurang 0,5 cm dari bagian lempeng; Lempeng dikeluarkan dari chamber dan dibiarkan kering; Noda

kromatogram pada lempeng diamati di bawah sinar UV (Ultraviolet) pada panjang 254 dan 366; Untuk noda yang tidak tampak dengan sinar UV maka lempeng disemprot dengan H2SO4 10% kemudian dipanaskan di atas oven hingga diperoleh warna noda yang stabil, noda yang nampak digambar di atas kertas kalkir dan diberi warna sesuai dengan warna yang tampak pada sinar UV; Noda kromatogram yang telah digambar selanjutnya dihitung Rf untuk setiap noda.

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN IV.1 Hasil Berat awal sampel Berat ekstrak hasil maserasi Berat hasil partisi Ekstrak larut etil Ekstrak tidak larut etil : 0,2845 g : 0,1937 g : 9,6 kg : 7,6 g

Penyarian sampel Callyspongia sp ini dilakukan dengan metode maserasi. Pada dasarnya ekstrak yang diperoleh dengan metode maserasi ini jauh lebih pekat dibanding dengan metode lainnya ,karena cairan penyari terendam cukup lama dengan sampel. Metode maserasi dipilih karena sampel spons tidak cocok dengan pengerjaan ekstraksi panas sebab sampel dapat rusak oleh pemanasan dan metode lebih sedehana dibandingkan dengan digesti yang juga sama-sama

digolongkan sebagai ekstraksi dingin. Maserasi dilakukan selama tiga hari. Keuntungan dari metode ini yaitu pengerjaanya yang sederhana dan sedikit menggunakan cairan penyari. Tetapi kerugiannya adalah

memerlukan waktu yang lama pada proses tersebut. Selain itu metode ini juga dilakukan mudah dengan perendaman, zat aktif akan keluar dari sel sehingga dapat diidentifikasi. Setelah diekstraksi, selanjutnya dilakukan partisi ekstrak dengan metode ekstraksi cair-cair. Pengerjaannya yaitu sejumlah ekstrak metanol

Callyspongia sp dilarutkan dalam etil asetat sedikit demi sedikit dalam wadah. Kemudian ekstrak tersebut dimasukkan dan digerus sampai homogen. Setelah homogen, didiamkan sebentar sehingga terlihat ada yang larut dan tidak larut berupa endapan. Ambil bagian yang larut dan pindahkan ke dalam wadah lain dengan menggunakan pipet tetes. Sisa ekstrak berupa endapan yang tidak larut dipindahkan ke wadah lain. Ulangi prosedur ini hingga dua kali (hingga jernih) Hasil ekstraksi dari lapisan etil asetat dan metanol diidentifikasi dengan KLT. Pada saat pengerjaan metode ini perbandingan eluen yang tepat ialah Heksan: Etil asetat (5:1). Dasar pemilihan eluen yang baik adalah: 1. Fase derak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggo karena KLT merupakan teknik yang sensitif. 2. Daya elusi fase gerak harus ditaur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletak antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan. 3. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solut yang berarti juga menentukan nilai Rf. Dari hasil penampakan noda yang dilihat pada UV 254 nm dan pada UV 366 nm diperoleh noda dengan warna kuning. Sedangkan pada penyemprotan dengan H2SO4 10% diperoleh warna kuning dan cokelat kehitaman.

Ada beberapa noda yang tidak tampak pada lampu UV tetapi justru tampak dengan H2SO4 10% hal ini disebabkan karena sifat reduktor kuat dari H2SO4 yang akan menyerang gugus fungsi suatu senyawa dan akan memperpanjang ikatan antar gugus elektron yang akan menyebabkan meningkatkan panjang gelombang senyawa UV ke daerah sinar tampak (visible).

BAB V PENUTUP

V.1 Kesimpulan 1. Metode ekstraksi sampel Callyspongia sp dengan cara maserasi diperoleh ekstrak sebanyak 7,6 g. 2. Metode partisi sampel Callyspongia sp dengan cara ECC diperoleh ekstrak larut etil sebanyak 0,2845 g dan ekstrak tidak larut etil sebanyak 0,1937 g. 3. Pada saat KLT didapatkan eluen hexan:etil dengan perbandingan 5:1 V.2 Saran 1. 2. Alat dan bahan dilengkapi Asisten selalu mendampingi praktikan pada saat praktikum

DAFTAR PUSTAKA

1. Klasifikasi Alkalois. Metabolit Sekunder Callyspongia sp. [Internet]. Tersedia dalam: <http://www.artikelkimia.info/kimia/klasifikasi-

alkaloid/page/2> [Diakses 14 November 2011] 2. D. A. Pratiwi.; Maryati, Sri.; Srikini., Suharno., S, Bambang. (2007). Biologi Jilid 1 untuk SMA Kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga 3. Dirjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Depkes RI 4. Dirjen POM. (1979). Materia Medika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI 5. Gandjar, Ibnu Gholib dan Rohman, Abdul. (2009). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

LAMPIRAN

1.

Skema Kerja
a. Ekstraksi

Sampel Callyspongia sp yang telah dirajang ditimbang

Dimasukkan ke dalam toples

Ditambahkan dengan cairan penyari (metanol)

Toples ditutup erat dan diberi plester

Dibiarkan selama 3 hari terlindung dari cahaya

Disaring hasil ekstraksi dan diperas ampasnya

Hasil ekstraksi dimasukkan ke dalam suatu wadah

Dibiarkan menguap dengan bantuan kipas angin

Ditimbang bobot ekstrak, diberi label, dan disimpan dalam eksikator

b. Partisi Ekstrak MeOH

Dilarutkan dengan etil asetat

Digerus dalam cawan porselin Diamkan beberapa saat

Larut etil asetat (diambil)

tidak larut etil asetat(disimpan)

Dilakukan sebanyak eluennya jernih

Diuapkan c.
KLT

Ekstrak awal

ekstrak larut etil asetat

ekstrak tidak larut etil

Dilarutkan dengan metanol

Ditotolkan pada lempeng

Dielusi dengan eluen hexan : etil = 5 :1

Dilihat penampakannya di UV 254 dan 366 nm serta penyemprotan H2SO4

Dihitung nilai Rf

2.

Gambar UV 254

Hexan:Etil (5:1)