Anda di halaman 1dari 45

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas bangsa Indonesia dan mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD, yang memungkinkan warganya mengembangkan diri sebagai manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berbudi pekerti dan berbudi luhur, yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab pada masyarakat dan bangsa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional (Depdiknas, 1989). Menurut Undang Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Menyatakan bahwa Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2009). Pembelajaran dengan pendekatan Science Technology Society, proses pengembangan materi tidak terlepas dari cirri sains yang berorientasi pada proses dan produk saja, tetapi juga berorientasi pada

teknologi yang ada dan yang diperlukan dalam masyarakat sekelilingnya (Arifin, 2005). Salah satu cara mewujudkan tujuan dari Undang undang Sistem pendidikan Nasional adalah dengan cara meningkatkan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Kegiatan belajar mengajar akan tercapai dengan baik apabila dilakukan dengan menggunakan metode/pendekatan yang tepat. Hal ini terjadi karena kegiatan belajar merupakan salah satu kegiatan untuk mengembangkan kemampuan siswa secara optimal dalam proses belajar mengajar yang ditekankan kepada siswa dalam belajar. Sesuai dengan hasil observasi awal dan wawancara yang dilakukan dengan guru kimia kelas X di SMA Muhammadiyah Mataram, pada umumnya metode yang sering digunakan oleh guru adalah metode ceramah, metode diskusi, metode Tanya Jawab, serta metode penguasaan. Penggunaan metode dalam proses belajar mengajar harus disesuaikan dengan materi yang akan dipelajari oleh siswa agar hasil prestasi siswa yang diperoleh maksimal. Untuk itu perlu diterapkan metode- metode yang sesuai agar siswa mudah memahami materi tersebut Nilai rata-rata semester II kelas X SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2010/2011 untuk pelajaran kimia terdapat banyak siswa

yang mendapat nilai di bawah 60 atau belum tuntas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 1.1: Nilai ujian akhir siswa kelas X IPA SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Ajaran 2010/2011
No Kelas Jumlah siswa Nilai ratarata siswa Jumlah siswa tuntas Persentase ketuntasan (%)

1 XA 37 57,24 11 29,72 2 XB 30 59,16 13 43,33 Sumber : (Arsip guru mata Pelajaran kimia Tahun pelajaran 2010/2011 di SMA Muhammadiyah Mataram). Data terlampir Bertolak dari pemikiran di atas, maka dapat menjadi objek penelitian. Guru mata pelajaran kimia masih menggunakan metode lama seperti ceramah. Kondisi ini membuat peneliti untuk meneliti tentang masalah pendekatan pembelajaran Science Technology Society (STS) terhadap motivasi dan hasil belajar kimia pada siswa kelas X di SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2011/2012. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dalam penelitian ini adalah apakah pendekatan science technology society (STS) dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada pelajaran kimia di kelas X SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2011/2012? C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi dan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan science tecnology

society (STS) pada siswa kelas X di SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2011/2012. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pendidikan khususnya kimia terkait dengan pendekatan model pembelajaran STS terhadap motivasi dan hasil belajar siswa. b. Bagi instansi terkait, hasil penelitian ini di harapkan dapat di jadikan konstribusi dalam mengkaji metode pembelajaran kimia. 2. Manfaat Praktis a. Bagi guru dapat membantu siswa dalam

penguasaan konsep kimia seperti yang diharapkan dalam tujuan pengajaran IPA khususnya mata pelajaran kimia. Penelitian ini, hendaknya dapat dijadikan sebagai masukan atau acuan guru, sekolah dan Depdikbud, pendekatan serta memberikan manfaat di bagi SMA.

pembaharuan

pembelajaran

kimia

Penggunaan pendekatan STS dalam pembelajaran kimia terhadap motivasi dan hasil belajar siswa sehingga proses pembelajaran tidak monoton pada metode ceramah saja. b. Bagi siswa dapat meningkatkan motivasi dan

hasil belajar siswa dengan pendekatan STS. c. Bagi sekolah dapat memberikan sumbangan

pemikiran kepada pengelolah sekolah ( kepala sekolah dan

jajarannya ) dalam rangka meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa seperti yang di harapkan. d. Bagi peneliti di harapkan akan merangsang

kreativitas peneliti dalam upaya meningkatkan potensi diri untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif. E. Definisi Operasional Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pokok yang terkandung dalam rencana skripsi, maka diberikan batasan yang jelas tentang : 1. Pendekatan Science Technology Society (STS) Science Technology Society (STS) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah salah satu bentuk pengembangan keterampilan proses sains yang dapat membantu penalaran siswa dan diyakini para siswa akan dapat melihat substansi pembelajaran menjadi lebih bermakna, yakni akan membantu siswa untuk memahami, menyikapi dan menerapkannya (Corebima, 2000). Jadi STS yang dimaksud

dalam penelitian ini adalah proses pembelajaran kimia yang berkaitan dengan masalah dan menentukan solusi dari masalah yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari pada mata pelajaran kimia khususnya di SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2011/2012. 2. Motivasi Motivasi berpangkal dari motif, yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan

aktivitas-aktivitas

tertentu

demi

tercapainya

suatu

tujuan

(Fathurrohman dan Sutikno, 2007). Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan yang ada dapat tercapai. Motivasi menurut peneliti bagaimana seorang guru mendorong atau mengembangkan potensi-potensi dari dalam diri siswa, agar siswa-siswanya mampu mencapai hasil belajar yang semaksimal mungkin. 3. Hasil Belajar Hasil Belajar adalah suatu kecapakan dari hasil yang dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka atau nilai yang di ukur dengan tes hasil belajar (sagala 2008). Jadi, hasil belajar dalam penelitian yaitu motivasi dan hasil belajar dengan menggunakan STS (science technology society). Hasil belajar siswa dinyatakan tuntas secara individu, apabila telah mencapai nilai 65 dan hasil belajar siswa dinyatakan tuntas secara klasikal, apabila 85% siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran telah mencapai nilai 65.

F. 1.

Ruang Lingkup Penelitian

Subjek Penelitian Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa/siswi kelas X di SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2011/2012. 2. Objek Penelitia Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah motivasi dan hasil belajar siswa siswa kelas X SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2011/2012.

3.

Batasan penelitian Dalam penelitian ini peneliti membatasi masalah yaitu: 1. Metode : Dalam penelitian ini metode yang di gunakan adalah pendekatan science

technology society (STS). 2. Motivasi : Peneliti menggunakan angket untuk

mengetahui motivasi siswa dalam proses pembelajaran dengan STS. 3. Hasil belajar : Dalam penelitian ini peneliti membatasi dengan penilaian kognitif pada hasil belajar siswa. meggunakan metode

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. A. Science Technology Society (STS) Pengertian Science Technology Society (STS) Secara etimologi, kata teknologi berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu kata techne dan logos. Techne artinya seni atau keterampilan, logos kata-kata yang terorganisasi atau wacana ilmiah yang mempunyai makna. Lebih lanjut dikemukakan bahwa, teknologi mengadakan benda untuk memperoleh kenyamanan dan keamanan bagi diri manusia itu sendiri (Fahar, 2004). Pendekatan Science Technology Society (STS) diperkenalkan di Indonesia pada awal tahun 1990-an. Pendekatan Science Technology Society (STS) merupakan pendekatan pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pada filosofi konstruktivisme. Pendekatan pembelajaran tersebut telah berkembang pesat di Amerika dan di Inggris sejak awal tahun delapan puluhan. Pendekatan STS ini didasarkan pada

perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat yang demikian pesat (Jamaluddin, 2002). Pendekatan Science Technology Society (STS) merupakan salah satu bentuk dari pengembangan pendekatan keterampilan proses sains yang dapat membantu penalaran siswa di sekolah-sekolah. Menurut Corebima (2000), melalui pendekatan Science Technology Society (STS)

diyakini para siswa akan dapat melihat substansi menjadi lebih bermakna, yang akan membantu mahasiswa untuk memahami, menyikapi dan menerapkannya. Menurut Poedjiadi (2007), ada lima tahapan yang harus dilakukan guru dalam pembelajaran menggunakan pendekatan STS yaitu : a. Tahap pembentukan konsep, yaitu siswa membangun atau pengetahuannya sendiri melalui observasi,

mengkonstruksi

eksperimentasi dan diskusi. b. Tahap aplikasi konsep atau penyelesaian masalah yaitu

menganalisis masalah atau isu yang telah dikemukakan di awal pembelajaran sebelumnya. c. Tahapan pemantapan konsep yaitu guru memberikan berdasarkan konsep yang telah dipahami

pemantapan konsep agar tidak terjadi kesalahan konsep pada siswa. d. Tahap evaluasi penggunaan tes untuk mengetahui

penguasaan konsep siswa terhadap materi yang dikaji. B. Karakteristik Pendekatan Science Technology Society (STS) Science Technology Society (STS) merupakan suatu usaha untuk menyajikan pelajaran dengan mempergunakan masalah-masalah dari dunia nyata, STS adalah suatu pendekatan yang mencakup seluruh aspek pendidikan yaitu tujuan, topik dan masalah yang akan dieksplorasi, strategi pembelajaran, evaluasi dan persiapan atau kinerja guru.

Pendekatan ini melibatkan murid dalam menentukan tujuan, prosedur pelaksanaan, pencarian informasi dan dalam evaluasi. Tujuan utama pendekatan STS ini adalah menghasilkan lulusan yang cukup mempunyai bekal pengetahuan sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat agar dapat mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang diambilnya (Iskandar, 1999). C. Landasan Pendekatan Science Technology Society (STS) Pendekatan STS dilandasi oleh tiga hal penting yaitu (Prayekti, 2002) : a. society b. Dalam proses belajar menganut pandangan Adanya keterkaitan yang erat antara sains, teknologi dan

konstruktivisme, yang pada pokoknya menggambarkan bahwa si pelajar membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan. c. Dalam pengajarannya terkandung lima ranah, yang terdiri

atas ranah pengetahuan, ranah sikap, ranah proses sains, ranah kreativitas, ranah hubungan dan aplikasi. Pendekatan STS selalu berfokus kepada kelima ranah yang saling berkaitan ini. Melalui ranah-ranah ini siswa menggunakan pengetahuan dan keterampilan sainsnya untuk mengklasifikasikan dan

10

menguatkan nilai-nilai dan kemudian menerapkannya dalam tindakan sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

D.

Keunggulan Science Technology Society (STS) Ada beberapa keunggulan yang dapat diperoleh dari pendekatan STS yaitu : Keunggulan pendekatan STS jika ditinjau dari tujuan adalah : a. Meningkatkan tidak hanya keterampilan proses sains tetapi juga keterampilan inquiri dan pemecahan masalah. b. Menekankan cara belajar yang baik yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. c. Menekankan sains dalam keterpaduan antar dan inter bidang studi.

1.

Keunggulan pendekatan STS ditinjau dari segi pembelajaran yaitu: a. b. c. Menekankan keberhasilan siswa Menggunakan berbagai strategi Menggunakan berbagai sumber informasi, kerja

lapangan, studi mandiri, serta interaksi antar manusia secara optimal. 2. Keunggulan pendekatan STS ditinjau dari segi guru yaitu : a. b. Mempunyai pandangan luas mengenai sains Mengajar dengan berbagai strategi baru dalam

kelas, sehingga memahami tentang kecakapan dan kematangan serta latar belakang siswa.

11

c.

Menyadarkan guru bahwa kadang-kadang dirinya

tidak selalu berfungsi sebagai sumber informasi. 3. Keunggulan pendekatan STS ditinjau dari segi evaluasi yaitu : a. belajar. b. Perbedaan antara kecakapan dan kematangan serta Ada hubungan antara tujuan, proses dan hasil

latar belakang siswa juga diperhatikan. c. Kualitas, efisiensi dan keefektifan serta fungsi

program juga dievaluasi. d. Guru juga termausk yang dievaluasi usahanya yang

terus menerus dalam membantu siswa. 2. Motivasi A. Pengertian Motivasi Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi, motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. Penemuan-penemuan penelitian bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah. Oleh karena itu, meningkatkan motivasi belajar anak didik memegang peranan penting untuk mencapai hasil belajar yang optimal(Ahmadi dan joko, 2005). Menurut Mc Donald dalam (Fathurrohman dan Sutikno, 2007), motivasi merupakan perubahan energi dalam diri seseorang yang

12

ditandai dengan munculnya feeling dan didahului tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian

dengan yang

dikemukakan ini, maka terdapat tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi, yakni: motivasi mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudiono (2006), motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakan dan mengarahkan prilaku manusia, termasuk prilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan prilaku individu belajar. Dorongan yang berorientasi pada tujuan tersebut merupakan inti dari motivasi. Berdasarkan pernyataan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan atau keinginan dari dalam diri seseorang yang dipengaruhi oleh adanya faktor-faktor tertentu, baik itu faktor yang datangnya dari luar maupun dari dalam diri seseorang dalam kegiatan belajar. Motivasi merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual yaitu sebagai kebutuhan, tujuan keinginan, harapan dan rangsangan siswa dalam belajar kimia. Hal ini akan berimplikasi dalam hasil belajar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan siswa yang memiliki motivasi rendah.

13

Disamping itu menurut Oemar Hamalik (dalam Fathurrohman dan Sutikno, 2007), menyebutkan bahwa ada 3 fungsi motivasi yaitu : 1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai

penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. 2. Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan

yang hendak dicapai. Dengan demikaian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya. 3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan

perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatanperbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Pentingnya menjaga motivasi belajar dan kebutuhan minat serta keinginannya pada proses belajar tak dapat dipungkiri, karena dengan menggerakkan motivasi yang terpendam dan menjaganya dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan siswa akan menjadikan siswa itu lebih giat belajar. Barang siapa yang bekerja berdasarkan motivasi yang kuat, ia tidak akan merasa lelah dan tidak cepat bosan. Oleh karena itu, guru perlu memelihara motivasi pelajar dan

14

semua yang berkaitan dengan motivasi, seperti kebutuhan, keinginan dan lain-lain (Ahmadi dan Joko, 2005).

B. Cara Membangkitkan Motivasi Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak didik sehingga dia mau melakukan kegiatan belajar. Motivasi dapat timbul sebagai akibat dari dalam diri individu dan dapat juga timbul akibat pengaruh dari luar dirinya. Untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, guru hendaknya berusaha dengan berbagai cara. Menurut Fathurrohman dan Sutikno (2007), ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, yakni : 1. Menjelaskan tujuan belajar ke siswa

Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai tujuan yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar. 2. Hadiah

Memberikan hadiah kepada siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih

15

giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.

3.

Saingan/kompetisi

Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya. 4. Pujian

Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun. 5. Hukuman

Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. 6. Membangkitkan dorongan kepada siswa adalah dengan memberikan perhatian

Strateginya

maksimal kepada siswa. 7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik

16

8.

Membantu kesulitan belajar siswa, baik secara

individual maupun kelompok

Ada dua macam motivasi yaitu motivasi Instrinsik dan Ekstrinsik. (Sudjana,N.2009). a. Motivasi instrinsik Motivasi instrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri seriap individu tanpa rangsangan dari luar untuk melakukan sesuatu. Maka yang dimaksud dengan motivasi instrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam pembuatan belajar itu sendiri. b. Motivasi ekstrinsik Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang terjadi karena adanya rangsangan dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan ujian dengan harapan nilai baik, sehingga akan dipuji oleh temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar mendapat hadiah. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan

17

berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Motivasi belajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Dalam kaitan itu perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi adalah bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Hal ini guru harus hati-hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan

perkembangan belajar siswa. 3. Hasil Belajar Hasil belajar adalah prestasi dari suatu kegiatan yang telah di kerjakan, di ciptakan baik secara individual maupun secara kelompok sedangkan belajar adalah suatu aktivitas yang di lakukan secara sadar atau mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah di pelajarinya. Prestasi belajar adalah hasil yang di peroleh berupa kesan yang mengakibatkan perubahan-perubahan dalam diri individual sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar (Djamarah, 1994) Berdasarkan pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa hasil belajar adalah prestasi yang di capai oleh seseorang dalam hal belajar

18

yang berlangsung dalam jangka waktu tertent yang di nyatakan dalam bentuk perubahan tingkah laku, perubahan keterampilan dan perubahan pengetahuan. Dengan demikian prestasi belajar merupakan hasil yang di capai oleh seseorang dengan melalui belajar yang sesuai dengan kemampuan ukuran yang di capai oleh seseorang ataupun anak didik. A. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Menurut slameto (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain : 1. Faktor Internal yakni faktor yang berasal dari individu siswa sendiri yang meliputi faktor fisik maupun mental yang ikut menentukn dan mempengaruhi berhasil tidaknya seseorang dalam belajar seperti minat belajar, motivasi, intelegensi, dan lain-lain yang timbul dalam anak didik. a. Minat belajar Minat sangat besar pengaruhnya dalam kegiatan belajar, minat yang tinggi akan mendorong seseorang dalam belajar. Belajar tanpa minat dan perhatian belum tentu berhasil, sebab di dalam belajar harus di dasarkan atas minat dan perhatian yang sungguh-sungguh. b. Motivasi Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong

seseorang bertindak melakukan sesuatu. Motivasi yang kuat

19

untuk belajar akan memungkinkan individu yang belajar itu mencapai prestasi yang lebih tinggi jika di bandingkan dengan motivasi yang lemah . c. Intelegensi Intelegensi mempunyai peranan yang sangat besar terhadap prestasi belajar, karena intelegensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah. d. Bakat Bakat merupakan potensi yang bersifat khusus yang ada dalam diri individu, potensi tersebut apabila tidak di latih dengan baik maka akan besar sekali pengaruhnya terhadap proses belajar dan hasil belajar siswa. 2. Faktor Eskternal yakni faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri yang juga mempengaruhi berhasil tidaknya dalam belajar yang meliputi faktor lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah, bahan belajar, tempat belajar, metode mengajar, metode belajar, keadaan ekonomi orang tua dan lain-lain : a. Lingkungan tempat tinggal Lingkungan tempat tinggal sangat menentukan,

keberhasilan siswa dalam belajar. Lingkungan merupakan faktor yang perlu di pertimbangkan dalam menganalisa

20

problem pendidikan, peranan cukup menentukan prestasi belajar yang di capai.

b.

Lingkungan sekolah Tata tertib yang di tegakkan secara konsenkuen dan

konsisten merupakan satu hal yang mutlak yang ada di sekolah untuk menunjang keberhasilan belajar. Selain itu lingkungan sekolah yang dapat mempengaruhi kondisi belajar adalah pengajar yang baik dan memadai peralatan belajar yang cukup lengkap. Gedung sekolah yang memenuhi prasyarat, adanya teman baik dan hubungan baik di antara personil di sekolah. c. Bahan belajar Bahan belajar adalah kelengkapan belajar berupa bukubuku bacaan. Terbatasnya bahan pelajaran akan menghambat proses belajar siswa. d. Tempat belajar Belajar dengan teratur dan sistematis memerlukan tempat dan perlengkapan-perlengkapan yang menandai. Tempat belajar merupakan salah satu syarat dalam belajar, tanpa belajar tidak mungkin proses belajar itu dapat berlangsung. e. Metode mengajar

21

Metode mengajar adalah suatu cara atau teknik yang harus di gunakan oleh seorang guru di dalam mengajar agar dapat menyajikan bahan pelajaran kepada siswanya dengan baik. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Guru juga harus dapat memilih metode mengajar yang efektif dan efisien untuk membantu neningkatkan motivasi siswa dalam belajar. f. Metode belajar Metode belajar siswa juga merupakan faktor yang mempengaruhi belajar siswa. Melalui metode belajar, siswa dapat melaksanakan secara teratur dengan pembagian waktu yang baik dan dapat memilih belajar yang tepat dan efisien, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. g. Keadaan ekonomi orang tua Faktor ini juga berperan dalam keadaan belajar siswa, karena apabila keadaan ekonomi orang tuanya kurang mampu, akan berpengaruh pula terhadap anak yang sedang belajar. 4. Tinjauan materi tentang minyak bumi Minyak bumi terbentuk dari proses pelapukan dari tumbuhtumbuhan mikroskopis dan mikroorganisme yang hidup di laut di sebut plankton. Plankton tersebut mati tenggelam ke dasar laut dan mengalami proses pembusukan di bawah pengaruh suhu dan tekanan yang tinggi akhirnya berubah menjadi minyak bumi.

22

Senyawa-senyawa yang terkandung dalam minyak bumi antara lain: a. Senyawa alkana : normal heptana dan iso oktana. b. Senyawa siklo alkana : meta siklo pentana, eti sikloheksana. c. Senyawa aromatik : benzena (C6H6), naftalena (C10H8) dan antrasena (C14H10) Minyak mentah terbentuk cairan kental hitam dan berbau kurang sedap. Minyak mentah belum dapat di gunakan sebagai bahan bakar atau sebagai keperluan lainnya, tetapi harus di olah terlebih dahulu. Pemurnian minyak bumi di lakukan dengan proses destilasi. Proses ini adalah cara pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih dari masingmasing komponen dalam campuran. Dari proses destilasi bertingkat di peroleh macam-macam fraksi minyak bumi seperti yang di tunjukkan oleh tabel berikut ini : Fraksi Gas/LPG Petroleum eter Bensin Kerosin Minyak solar Minyak pelumas Parafin Ukuran molekul C1-C5 C5-C7 C7-C12 C12-C15 C15-C16 C16 ke atas C20 ke atas Titik didih (0C) -160 30 30 70 70 140 180 250 300 350 350 ke atas Merupakan zat padat dengan titik cair rendah Residu Kegunaan Bahan bakar (LPG) sumber hydrogen. Pelarut, binatu kimia (dry cleaning). Bahan bakar motor. Bahan bakar kompor Bahan bakar mesin diesel. Pelumas Lilin dan lain- lain. Bahan dan untuk pengeras jalan raya.

Aspal a. Gas

C25 ke atas

23

Umumnya gas terdiri dari campuran metana (CH4), etana (C2H5), propana (C3H8), dan butana atau iso butana (C4H10). Campuran gas ini kemudian di cairkan pada tekanan tinggi dan di perdagangkan dengan nama LPG. Gas yang terdapat dalam LPG umumnya merupakan campuran propana, butana, dan isobutana. LPG biasanya dikemas dalam botol-botol baja yang beratnya kira-kira 15 kg, dan banyak di pakai sebagai bahan bakar rumah tangga. b. Bensin Bensin di peroleh sebagai hasil destilasipada suhu antara 70140 0C. Bensin merupakan fraksi minyak bumi yang paling banyak kegunaannya. Dewasa ini tersedia empat macam bensin yaitu premium, pertamax,pertamax plus dan biodisel. Keempatnya

mempunyai mutu atau prilaku yang berbeda. Adapun mutu bahan bakar bensin di kaitkan dengan jumlah ketukan (knocking) yang di timbulkannya dan dinyatakan dengan nilai oktan.semakin sedikit ketukan, semakin baik mutu bensin, dan semakin tinggi nilai oktannya. Bilangan oktan adalah bilangan yang menyatakan perbandingan isooktana dengan n-heptana dalam bensin. Bensin standar mempunyai bilingan oktan 100, sedangkan pertamax dan pertamax plus masingmasing mempunyai bilangan oktan 92 dan 94. Bensin dari hasil penyulingan mempunyai bilangan oktan yang rendah. Hal ini terjadi karena sebagian besar bensin dari hasil penyulingan terdiri dari alkana rantai lurus. Nilai oktan bensin harus di

24

tingkatkan sebelum dapat di gunakan sebagai bahan bakar kendaraan. Hal ini dapat di lakukan dengan reforming atau menambahkan zat anti ketukan, seperti TEL (Tetra Etil Lead) dan senyawa 1,2 dibromo etana. Reforming adalah proses untuk mengubah alkana rantai lurus menjadi rantai bercabang, sehingga akan menaikkan nilai oktannya. Dan untuk mencegah timbunan PbO dalam mesin, pada mesin di tambahkan 1,2 dibromo etana dan MTBE (Metil Tertier Butil Eter). c. Nafta Nafta di kenal sebagai bensin berat di peroleh sebagai hasil dari destilasi bertingkat yang mempunyai kisaran titik didih antara 140180 0C. Nafta banyak di gunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan senyawa senyawa kimia yang lain, misalnya etilena dan senyawa aromatic. d. Kerosin Kerosin merupakan hasil dari destilasi yang mempunyai kisaran titik didih antara 180250 0C. Dalam kehidupan sehari-hari kerosin lebih di kenal dengan nama minyak tanah yang banyak di gunakan sebagai bahan bakar kompor. e. Minyak solar Merupakan fraksi minyak bumi yang mempunyai kisaran titik didih 250350 0C. Dengan jumlah atom C sama dengan C15C16. Minyak diesel di pergunakan sebagai bahan bakar pada motor-motor diesel.

25

f. Parafin Paraffin cair dan padat, teristimewa terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Parafin padat sering dipergunakan sebagai bahan bakar dan sebagai lilin. g. Aspal Aspal di peroleh dari zat-zat yang tertinggal dalam ketel atau tabung destilasi. Aspal di gunakan untuk pengeras jalan. Industria sederhana atau alternatif pengganti minyak bumi berupa biogas. Biogas ini adalah energi alternatif hasil fermentasi dari kotoran organik yang menghasilkan gas metan. Pembuatan dan

penggunaan biogas sebagai energi seperti layaknya energi dari kayu bakar, minyak tanah, gas, dan sebagainya sudah dikenal sejak lama. Kotoran yang di gunakan adalah kotoran hewan seperti sapi, kerbau dll. Kotoran ini akan di olah secara biologis yaitu dengan temperatur 27-280 C. Dengan temperatur itu proses pembuatan biogas akan berjalan sesuai dengan waktunya. Tetapi berbeda kalau nilai temperatur terlalu rendah (dingin), maka waktu untuk menjadi biogas akan lebih lama. Kotoran tersebut akan terurai membentuk CH4 (gas metan) dan CO2. Untuk mendapatkan biogas yang diinginkan kotoran organik harus bersifat anaerobik. Dengan kata lain, tangki itu tak boleh ada oksigen dan udara yang masuk sehingga sampah-sampah organik yang dimasukkan ke dalam bioreaktor bisa dikonversi mikroba. Keberadaan

26

udara menyebabkan gas CH4 tidak akan terbentuk. Untuk itu maka bejana pembuatan biogas harus dalam keadaan tertutup rapat. selama dalam kurun waktu 1 minggu didiamkan, maka gas metan sudah terbentuk dan siap dialirkan untuk keperluan memasak. Namun, biogas mempunyai sifat cepat menyala sehingga itu tempat pembuatan atau penampungan biogas harus selalu berada jauh dari sumber api

yang kemungkinan dapat menyebabkan ledakan kalau tekanannya besar. C. Hasil Penelitian Yang Relevan 1. Pegaruh pendekatan STS yang telah di terapkan

untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi (puput lestari matano,2010). Berdasarkan hasil penelitian yang di peroleh dari motivasi dan hasil belajar siswa, bahwa tingkat motivasi siswa sangat tinggi yaitu 21 orang dan 11 orang memiliki motivasi sedang serta anlisis hasil belajar juga memiliki perbedaan yaitu thitung > ttabel = 2,67 > 1,67 sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin di capai dapat di simpulkan bahwa STS dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran biologi kelas VII SMP NEGERI 3 PLAMPANG Tahun pelajaran 2009/2010 2. Efektivitas pembelajaran dengan metode STS

terhadap motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas VII SMPN 4

27

tanjung

tahun

pelajaran

2009/2010

(Ni

Nengah

Ratih

Anggari,2008/2009 ) Berdasarkan hasil anlisis data dan pembahasan maka dapat di simpulkan bahwa metode STS terhadap motivasi dan hasil belajar biologi mengalami peningkatan hal ini di tunjukkan dari hasil motivasi siswa kelas eksperimen yaitu sebesar 64,68 dan hasil belajar juga meningkat yaitu pada kelas eksperimen sebesar 66,8 sedangkan pada kelas kontrol yaitu 58,17. D. Kerangka berpikir Mengajar merupakan suatu proses interaksi antara guru dan siswa. Metode atau pendekatan guru dalam mengajar akan berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran yang diberikan. Selama ini disetiap sekolah umumnya menggunakan metode ceramah dimana metode ini berpusat pada guru sehingga siswa menjadi bersifat pasif, artinya mereka hanya menerima apa yang diberikan oleh guru tampa ada usaha untuk mencari sendiri. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu pendekatan yang tidak hanya melihat hasil tetapi juga proses dalam mendapatkan hasil tersebut. Pembelajaran kimia dengan pendekatan STS didasarkan atas

kecendrungan bahwa anak akan dapat belajar lebih baik dan bermakna jika mereka belajar dalam lingkungan belajar nyata atau alamiah. Anak belajar bukan sekedar mengetahui sebagaimana yang selalu dilakukan selama ini, tetapi anak belajar memahami dan mendalami materi yang dipelajarinya. Hal

28

ini terbukti dengan ketidakmampuan anak dalam memecahkan permasalahan dalam kehidupannya. Dengan demikian hasil belajar akan bermakna jika anak dapat menggunakan sesuatu yang telah dipelajari dengan bebas dengan penuh kepercayaan dalam berbagai situasi hidupnya. Pembelajaran dengan pendekatan STS bukan semata-mata untuk mentrasformasikan atau

membekali pengetahuan kepada anak tentang materi yang diajarkan, tetapi juga dapat diyakini para siswa akan dapat melihat substansi pembelajaran menjadi lebih bermakna, yang akan membentuk siswa untuk memahami, menyikapi dan menerapkannya. Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan metode pendekatan STS di harapkan mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa di SMA Muhammadiyah Mataram. E. Hipotesis Hipotesis yaitu jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik dengan data (Sugiyono, 2010) Dengan demikian berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka pada proposal penelitian ini penulis mengajukan hipotesis yang berbunyi Ha (hipotesis alternatif): Bahwa pembelajarn dengan menggunakan pendekatan STS dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X semester II di SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2011/2012.

29

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Yaitu penelitian yang di lakukan dengan cara peneliti sengaja membangkitkan suatu kejadian atau keadaan,kemudian di teliti hasilnya. Dengan kata lain penelitian eksperimen adalah cara untuk mencari hubungan sebab akibat antara dua faktor yang sengaja di timbulkan oleh peneliti (Arikunto,2006). Dalam penelitian ini peneliti membandingkan hasil belajar yang diperoleh dua kelas dengan cara menggunakan satu kelas sebagai kelas perlakuan atau kelas eksperimen yang strategi pembelajarannya menggunakan STS dan membandingkan hasilnya dengan kelas kontrol yang strategi pembelajarannya menggunakan strategi pembelajaran konvensional atau strategi pembelajaran yang berlaku di sekolah tersebut. B. Pendekatan Penelitian

30

Pendekatan adalah suatu cara untuk mencari jawaban dari rumusan masalah. Pendekatan dalam suatu penelitian tergantung dari gejala yang akan diteliti dan gejala itu dirancang khusus untuk diselidiki atau gejala yang akan diselidiki telah ada secara wajar (Arikunto, 2010). Pendekatan penelitian adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti dalam suatu penelitian tentang urutan-urutan yang akan dilakukan dalam penelitian. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. pendekatan Menurut Arikunto (2006), pendekatan yang banyak dituntut menggunakan kuantitatif angka, adalah dari

mulai

pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2010). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas X SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2011/2012 2. Sampel Sampel adalah bagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2010). Dalam penelitian ini teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah cluster random sampling yang mengelompokkan siswa. Jadi yang menjadi sampel adalah 2 kelas, yang terdiri dari 32 siswi kelas XA dan 29 siswa/siswi kelas XB . Jadi keseluruhan sampel adalah 32+29= 61 orang, di mana kelas XA di

31

jadikan kelas perlakuan atau kelas eksperimen dan kelas XB sebagai kelas kontrol. D. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2011/2012.

2.

Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap dari bulan April sampai bulan Mei Tahun Pelajaran 2011/2012.

E.

Variabel 1. Variabel bebas (independen variabel) yaitu variabel yang nilainya atau besarnya tidak dipengaruhi oleh perubahan nilai variabel lainnya. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah pendekatan Science Technology Society (STS). 2. Variabel terikat (dependen variabel) yaitu variabel yang nilainya atau besarnya tidak dipengaruhi oleh perubahan nilai variabel lainnya. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah motivasi dan hasil belajar siswa.

32

F.

Rancangan Penelitian Dalam penelitian ini, rancangan penelitian yang digunakan sebagai berikut: Populasi 3 kelas XA, XB, XC,

Uji Homogenitas Jika homogen (clostrom random sampling) Jika tidak homogen (porposif sampling)

Kelas Eksperimen (XA) Metode STS

Kelas Kontrol (XB) Metode Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi

Hasil (Data) 33

Pengolahan Data

Analisis Data (Hipotesis)

Kesimpulan G. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah : 1. Angket motivasi belajar Angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2006). Angket dalam penelitian ini yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa untuk memperoleh data tentang motivasi dengan pendekatan STS. 2. Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar merupakan tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajarai sesuatu. Tes prestasi diberikan sesudah orang yang dimaksud mempelajari hal-hal sesuai dengan yang akan diteskan (Arikunto, 2006). Tes hasil belajar yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes obyektif, di mana isi

34

dari tes mencangkup sub materi pokok minyak bumi dengan kisi-kisi instrument sebagai berikut : No 1 Kompetensi dasar Menjelaskan proses pembentukan dan tehnik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi serta kegunaannya Indikator Mendeskripsikan proses pembentukan minyak bumi dan gas alam Menjelaskan komponen-komponen utama penyusun minyak bumi Menafsirkan bagan penyulingan bertingkat untuk menjelaskan dasar dan tehnik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi. Membedakan kualitas bensin berdasarkan bilangan oktannya. Menganalisis dampak pembakaran bahan bakar terhadap lingkungan No soal 1,2,3, 4,5,6 7,8,9, 10,11,12 13,14,15 , 16,17,18 Jumlah soal 6 6 6

6 19,20,21 , 22,23,24 25,26,27 , 28,29,30 30 6

Jumlah total soal H. Uji Coba Instrumen

Tujuan uji coba instrumen, yaitu untuk mengetahui baik tidaknya soal yang diberikan, perlu dilakukan analisis soal yang meliputi : 1. Uji Validitas Butir Soal Untuk mengetahui baik tidaknya butir soal yang diberikan kita harus mengetahui validitas dari soal tersebut. Validitas butir soal suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebuah soal. Sebuah soal dikatakan valid jika dapat mengukur secara tepat apa yang hendak

35

diukur (Arikunto, 2007), untuk mengetahui validitas butir soal digunakan korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut : rxy =

{N X

N XY ( X )( Y )
2

(X ) 2 }{N Y 2 (Y ) 2 }

Keterangan : rxy = Koefisien korelasi

X = Jumlah skor dalam sebaran X Y = Jumlah skor dalam sebaran Y X Y = Jumlah hasil kali skor dalam sebaran X dan Y

= Jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran X

Y = Jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran Y


2

= Menyatakan jumlah sampel

Hasil uji coba validitas kemudian dikonsultasikan dengan rtabel. Jika hasil rXY > rtabel maka soal tergolong dalam katagori valid dan < rtabel maka soal tersebut

begitu juga sebaliknya jika hasil rXY

tergolong dalam katagori tidak valid (Arikunto, 2006). 2. Reliabilitas Soal Untuk mengetahui baik tidaknya soal yang diberikan, harus juga diketahui reliabilitas (taraf kepercayaan) soal. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Reliabilitas tes berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes (Arikunto, 2007). Teknik yang digunakan dalam mencari reliabilitas soal adalah teknik belah dua 36

yaitu prosedur ganjil genap. Mencari reliabilitas seluruh tes dengan menggunakan rumus Spearman Brown.
r1 = 1

2.r12 (1 + r12 )

Keterangan :
r11 = Reliabilitas Instrumen r12 = rxy yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belah

instrumen Selanjutnya hasil perhitungan tes dikonsultasikan dengan rtabel . Jika hasil rhitung > rtabel maka soal tergolong dalam kategori reliabel dan

jika hasil rhitung < rtabel maka soal tersebut dikatakan tidak reliabel. 3. Tingkat Kesukaran Soal Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan

menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal digunakan rumus :
P= B JS

Keterangan : P = Indeks kesukaran 37

= Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul

JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes Kriteria indeks kesukaran soal tersebut dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut :

Tabel 3.1 Kriteria Indeks Kesukaran Soal NO 1 2 3 4. Daya Pembeda Soal Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah (Arikunto, 2007). Sebelum menentukan daya beda soal, terlebih dahulu ditentukan kelompok atas dan kelompok bawah. Penentuan masing-masing kelompok dilakukan dengan mengurutkan nilai siswa dari skor tertinggi sampai skor terendah. Menurut Arikunto (2007) untuk kelompok kecil (peserta tes kurang dari 100), maka kelompok dibagi dua sama besar kemudian diambil 50 % skor tertinggi sebagai kelompok atas dan 50 % skor Nilai 0,00 0,30 0,31 0,70 0,71 1,00 Kriteria Sukar Sedang Mudah (Arikunto, 2007).

terendah sebagai kelompok bawah. Adapun rumus yang digunakan adalah :


D= BA BB Ja Jb

38

Keterangan : D = Daya beda soal BA = Banyak siswa kelompok atas yang menjawab benar BB = Banyak siswa kelompok bawah yang menjawab benar Ja = Jumlah siswa kelompok atas Jb = Jumlah siswa kelompok bawah Adapun kriteria daya beda soal dapat dilihat pada table 1.3 berikut : Tabel 3.2 Kriteria Daya Beda Soal NO 1 2 3 4 Nilai 0,00 0,20 0,21 0,40 0,41 0,70 0,71 1,00 Kriteria Jelek Cukup Baik Baik Sekali (Arikunto, 2007)

Tehnik Pengambilan Data Angket Motivasi Belajar Siswa Diperoleh melalui penyebaran angket motivasi belajar kepada siswa setelah proses pembelajaran menggunakan metode pendekatan STS (scince technologi society). Hasil angket berupa skor dalam skala 1- 4. 2. Tes, yaitu serangkaian pertanyaan atau latihan yang di gunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang di miliki oleh individu atau kelompok (riduwan, 2003). Data yang di dapat melalui tes berupa data yang di sajikan secara kuantitatif dari hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.

39

Adapun jumlah soal tes yaitu 30 soal berupa soal pilihan ganda, dengan skor 1 jika jawaban benar dan nol jika jawaban salah.

Teknik Analisis Data. 1. Angket Motivasi Belajar Siswa Data respon siswa terhadap pendekatan STS terhadap motivasi belajar siswa dianalisis secara kuantitatif menggunakan skala 1-4. Selanjutnya menentukan nilai Mean ideal (Mi) yang dapat dicari menggunakan rumus: Mi =
1 skor maksimum ideal 2

Sedangkan Simpangan baku ideal (Si) dapat dihitung dengan rumus: Si =


1 Mi 3

Tabel 3.3 Konversi Penilaian Skala 1 4 Motivasi Siswa


Interval Kualifikasi

(Mi + 1,5 Si) - (Mi + 3,0 Si) (Mi + 0,5 Si) (Mi + 1,5 Si) (Mi 0,5 Si) (Mi + 0,5 Si) (Mi 1,5 Si) (Mi 0,5 Si) 2. Tes Hasil Belajar Siswa

Sangat baik Baik Cukup Kurang (Sudjana, 2008)

Tes hasil belajar siswa dapat di uji dengan rumus sebagai berikut: 1. Uji Homogenitas

40

Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang menjadi obyek penelitian bersifat homogen atau tidak. Adapun Uji Homogenitas dapat dilakukan menggunakan Uji varian terbesar dibanding varian terkecil :

Fhitung =

var ians terbesar var ians terkecil

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut : Jika Fhitung Ftabel maka data homogen, dan jika Fhitung Ftabel maka data dikatakan tidak homogen (Riduwan, 2003). 2. Uji Normalitas Uji Normalitas data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi atau sebaran data pada sampel. Uji normalitas dapat dilakukan dengan rumus uji Chi Kuadrat :
X2 =
i =1 k

( fo fh )2 fh

Keterangan : X2 = Nilai Chi Kuadrat fo fh = Frekuensi yang diperoleh berdasarkan data = Frekuensi yang diharapkan

Hasil perhitungan nilai Chi Kuadrat (X2) dikonsultasikan dengan X2 yang ada pada tabel. Jika hasil X2hitung< X2tabel maka data tersebut tersebar dalam distribusi normal dan Jika hasil X2hitung > X2tabel maka

41

data tersebut tersebar dalam distribusi tidak normal (Riduwan, 2003).

3.

Uji Hipotesis Uji Hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah pendekatan STS dapat meningkatka motivasi dan hasil belajar siswa. Uji Hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan rumus uji-t sebagai berikut :
t= X1 X 2
2 (n1 1) s12 + ( n2 1) s2 1 1 ( + ) n1 + n2 2 n1 n2

Keterangan :
x x
1

= Nilai rata-rata kelas eksperimen = Nilai rata-rata kelas kontrol = Standar deviasi kelas eksperimen = Standar deviasi kelas kontrol = Jumlah sampel kelas eksperimen

2 s1 2 s2

n1

n2 = Jumlah sampel kelas kontrol

42

Hasil uji-t dikonsultasikan dengan t tabel . Jika t hitung > t tabel hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak.

maka

43

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.,2010, Pedoman Penulisan Skripsi. Tim Penyusun FPMIPA. Mataram IKIP: Mataram. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan. Jakarta : PT Rineka Cipta. Arikunto, S. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta. Ahmadi dan Joko. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia. Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Depdiknas. 1989. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta : Puskur. Depdiknas RI, 2009. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Fathurrohman dan Sutikno. 2007. Strategi belajar melalui penanaman konsep umum dan konsep islam. Bandung : PT Refika Aditama. Poedjiadi, A. 2007. Sains Teknologi Masyaakat Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta. Sudjana, N. 2009. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta

44

Sudjana. 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.Bandung : Remaja Rosdakarya. Sofyatiningrum E, dkk. 2007. Sains Kimia 1 SMA/MA. Jakarta: PT Bumi Aksara Utami B,dkk. 2009. Kimia Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: PT JePe Press Media Utama Riduwan. 2003. Dasar- dasar Statistika. Bandung: Alfabeta. Nurkencana. 1990. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional Puput L. 2010. Pendekatan science technology society (STS) terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII Pada Pelajaran Biologi Di SMP III Plampang Sumbawa Tahun Pelajaran 2009/2010 Skripsi, Mataram. IKIP Mataram.

45