Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam kewirausahaan, kekayaan menjadi relatif sifatnya. Ia hanya merupakan produk bawaan (by-product) dari sebuah usaha yang berorientasi dari sebuah prestasi. Prestasi kerja manusia yang ingin mengaktualisasikan diri dalam suatu kehidupan mandiri. Ada pengusaha yang sudah amat sukses dan kaya, tapi tidak pernah menampilkan diri sebagai orang yang hidup mewah, dan ada juga orang yang sebenarnya belum bisa dikatakan kaya, namun berpenampilan begitu glamor dengan pakaian dan perhiasan yang amat mencolok. Maka soal kekayaan akhirnya terpulang pada masing-masing individu. Keadaan kaya miskin, sukses gagal, naik dan jatuh merupakan keadaan yang bisa terjadi kapan saja dalam kehidupan seorang pengusaha, tidak peduli betapapun piawainya ia. Ilmu kewirausahaan hanya menggariskan bahwa seorang Wirausahawan yang baik adalah sosok pengusaha yang tidak sombong pada saat jaya, dan tidak berputus asa saat jatuh. Tidak ada satu suku katapun dari kata Wirausaha yang menunjukkan arti kearah pengejaran uang dan harta benda, tidak pula kata wirausaha itu menunjuk pada salah satu strata, kasta, tingkatan sosial, golongan ataupun kelompok elite tertentu. Di Indonesia, di penghujung abad ke 20 ini kewirausahaan boleh dikata baru saja diterima oleh masyarakat sebagai salah satu alternatif dalam meniti karier dan penghidupan. Seperti diketahui, umumnya rakyat Indonesia mempunyai latar belakang pekerja pertanian yang baik. Dengan hidup dialam penjajahan hampir 3,5 abad lamanya, nyaris tidak ada figur panutan dalam dunia kewirausahaan. Yang ada hanya pola pemikiran feodalisme, priyayiisme, serta elitisme yang satu diantaranya sekian banyak ciri-cirinya adalah mengagungkan status sosial sebagai pegawai, terutama pegawai negeri (kontras dengan status leluhur yang petani).

Penulis melihat banyak peluang usaha ekonomi produktif di wilayah kecamatan Krucil, akan tetapi penulis berpendapat bahwa kegiatan Wirausaha yang paling cocok di wilayah ini adalah Wirausaha Budidaya Ternak sapi Perah. B. Pokok Masalah

Bagaimanakah Peluang kewirausahaan di Kecamatan Krucil saat ini? Peluang usaha apakah yang sangat potensial di wilayah Kecamatan Krucil? Motivasi apa saja yang mendorong para pengusaha kecil untuk berwirausaha budidaya ternak sapi perah di Kecamatan krucil?

C. Tujuan

Ingin Mengetahui kondisi kewirausahaan Kecamatan Krucil saat ini. Ingin mengetahui peluang usaha apakah yang sangat potensial di Kecamatan Krucil. Ingin Mengetahui Motivasi apa saja yang mendorong para pengusaha kecil untuk berwirausaha budidaya ternak sapi perah di Kecamatan krucil.

D. Batasan Masalah Malakalah ini membahas tentang


Kondisi kewirausahaan di Kecamatan Krucil saat ini Peluang usaha Budidaya Ternak sapi perah di Kecamatan Krucil

BAB II LANDASAN TEORI


A. Kewirausahaan Sosok kewirausahaan yang ideal dituntut mempunyai nilai-nilai kearah kualitas manusia yang semapan mungkin, dalam artian sangat memperhatikan struktur prioritas kewirausahaan yang terdiri dari empat lapisan yaitu : 1. Sikap Mental Sikap mental merupakan elemen paling dasar yang perlu dijamin untuk selalu dalam keadaan baik. Unsur ini yang menentukan apakah orang menjadi sosok yang tinggi budi ataukah sebaliknya menjadi orang yang jahat dan culas. Orang baik budi merupakan kader pembangunan bangsa, sedangkan orang jahat akan menjadi beban masyarakat dari bangsa itu sendiri. Tentu kita tidak ingin melihat bahwa banyak kejahatan dan keculasan merajalela di negeri ini. Itu sebabnya pembinaan sikap mental menjadi unsur penting dalam dunia kewirausahaan sekaligus dalam kehidupan. Selain menghadirkan sifat-sifat baik alamiah seperti kejujuran dan ketulusan, sikap mental mencakup juga segi-segi positif dalam motivasi dan proaktivitas. Saran-saran berikut akan membantu wirausahawan untuk mengembangkan sikap mental yang baik : a. Para wirausaha adalah orang-orang yang mengetahui bagaimana menemukan kepuasan dalam pekerjaan dan bangga akan prestasinya. Tunjukan sikap mental yang positif terhadap pekerjaan wirausahawan, karena sikap inilah yang akan ikut menentukan keberhasilan wirausahawan.
b.

Otak wirausahawan merupakan alat yang berdaya luar bisaa.

Menyediakan waktu beberapa saat setiap hari untuk renungan pikiran wirausahawan yang akan memungkinkan wirausahawan terarah pada kegiatan-kegiatan yang berarti. 3

c.

Kebanyakan orang membatasi pikiran-pikirannya pada problem-

problem dan kegiatan-kegiatan sehari-hari. Gunakanlah imajinasi wirausahawan untuk meluaskan pikiran-pikiran wirausahawan dan cobalah berpikir yang besar-besar. Orang-orang yang dapat melihat gambaran besar adalah orang yang bersifat wirausaha dan merupakan calon-calon pemimpin bisnis maupun masyarakat. d. Rasa humor ikut mengembangkan sikap mental yang sehat. Terlalu serius dapat merugikan pekerjaan wirausahawan dan tidak sehat. Menunjukan rasa humor berpengaruh terhadap orang lain dengan jalan menyebarkan optimisme dan suasana yang santai. Pikiran wirausahawan haruslah terorganisasi dengan baik sekali dan mampu memfokuskan pada pelbagai problem. Wirausahawan haruslah mampu memindahkan perhatian wirausahawan dari satu problem ke problem lain dengan upaya yang minim. 2. Kepemimpinan. Suatu pedoman bagi kepemimpinan yang baik adalah sebagai berikut perlakukanlah orang-orang lain sebagaimana wirausahawan ingin diperlakukan . Berusaha membangkitkan suatu keadaan dari sudut pandangan orang lain akan ikut mengembangkan sebuah sikap tepo seliro. Pengusaha yang berpeluang untuk maju secara mantap adalah yang memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat menonjol. Ciri-ciri mereka bisaanya sangat menonjol, dan sangat khas. Dimana keputusan dan sepak terjangnya sering dianggap tidak lazim dan lain dari pada umumnya pengusaha. Mereka tampil beda. Salah satu contoh : adalah Kim Woo Chong, seorang Wirausahawan terkemuka di Korea, pendiri kelompok Daewoo. Kim tidak pernah terpengaruh oleh sepak terjang pengusahapengusaha lain dan ikut-ikutan mengejar trend bisnis yang ramai-ramai dilakukan orang. Pada saat para pengusaha lain berlomba-lomba mencari pasar di Amerika dan Eropa, ia secara mengejutkan justru menerobos

negara-negara tirai besi, seperti Rusia dan sekutu-sekutunya. Lebih mencengangkan lagi ia juga merangkul negara-negara yang sejauh ini sangat ditakuti dan diharamkan oleh negara-negara penganut kapitalisme seperti Libia dan Iran. Akan tetapi kenyataan membuktikan bahwa Kim benar. Dengan keputusannya itu ia, dan Daewoo berkembang menjadi salah satu konglomerat terbesar di Asia serta diperhitungkan dimana-mana termasuk Amerika dan Eropa. a. Perilaku Pemimpin Perilaku pemimpin menyangkut dua bidang utama :

Berorientasi pada tugas yang menetapkan sasaran, merencanakan dan mencapai sasaran. Berorientasi pada orang, yang memotivasi dan membina hubungan manusiawi.

Orientasi Tugas Seorang pemimpin dengan orientasi demikian cenderung menunjukan perilaku :

Merumuskan secara jelas peranannya sendiri maupun peranan Menentukan tujuan-tujuan yang sukar tapi dapat dicapai. Melaksanakan kepemimpinan secara aktif dalam merencanakan,

stafnya.

mengarahkan, membimbing dan mengendalikan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada tujuan.

Berminat mencapai peningkatkan produktivitas.

Orientasi orang-orang yang kuat dalam orientasi orang cenderung akan menunjukan perilaku sebagai berikut :

Menunjukan perhatian atas terpeliharanya keharmonisan dalam Menunjukan perhatian pada orang sebagai manusia dan bukan Menunjukan pengertian dan rasa hormat pada kebutuhan-

organisasi dan menghilangkan ketegangan, jika timbul.

sebagai alat produksi saja.

kebutuhan, tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan, perasaan dan ideide karyawan.

Mendirikan komunikasi timbal balik dengan staf.

Menerapkan prinsip penekanan ulang untuk meningkatkan prestasi Mendelegasikan kekuasaan dan tanggung jawab, serta mendorong Menciptakan suatu suasana kerjasama dan gugus kerja dalam

karyawan.

inisiatif.

organisasi. b. Tindakan Kepemimpinan Saran-saran berikut akan dapat membantu wirausahawan meningkatkan kemampuan kepemimpinan wirausahawan : 1. Sekali wirausahawan telah mengambil keputusan, ambil tindakan secepat mungkin 2. Upaya-upaya wirausahawan dapat dilipat gandakan melalui bakat dan kemampuan staf wirausahawan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, wirausahawan harus mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan kemampuan ini dari orang-orang yang mampu disekitar wirausahawan dan menyokong serta percaya pada wirausahawan sebagai pemimpin. 3. Wirausahawan akan memperoleh kepercayaan pada kemampuan kepemimpinan wirausahawan, jika wirausahawan memusatkan perhatian pada upaya meningkatkan situasi dimana kekuatan-kekuatan kelemahan-kelemahan wirausahawan. Jauhilah

wirausahawan akan tampak. 4. Seorang pemimpin yang baik bersedia mengakui kesalahankesalahan dan mengubah rencana-rencana. Wirausahawan haruslah sadar bahwa keadaan selalu berubah dan penyesuaian-penyesuaian haruslah dibuat sewaktu-waktu. 3. Tata Laksana Tata laksana merupakan terjemahan dari kata Management artinya pengelolaan. Yang perlu dimengerti disini adalah manajemen bukan sematamata konsumsi para manajer saja. Setiap orang perlu manajemen apapun

status dan jabatan orang tersebut. Bahkan ibu rumah tanggapun perlu manajemen untuk mengelola uang dapur dan belanjaannya. Tata laksana merupakan metode atau serangkaian cara dan prosedur. Gunanya jelas, yaitu untuk menghasilkan efektifitas dan efisiensi setiap pekerjaan, agar mendapatkan hasil yang baik dalam mutu serta tepat waktu dalam penyerahannya. Berbeda dengan sikap mental dan kepemimpinan yang termasuk dalam klasifikasi nilai atau kualitas, maka manajemen merupakan pengetahuan yang bersifat praktis. Kalau sikap mental dan kepemimpinan berada di dalam jiwa, manajemen berada diluar mirip ketrampilan teknis. Manajemen mempunyai arti yang amat luas. Kegunaannya juga sangat universal dan semua orang atau organisasi memerlukan manajemen. Banyak sekali kasus yang membuktikan bahwa bila manajemen terabaikan, maka sebuah organisasi akan menjadi kacau dan morat marit. Perusahaan tanpa manajemen yang baik, bisa dipastikan akan mengalami hambatan besar dalam perkembangannya. Oleh sebab itu, setiap orang yang ingin memulai usaha harus mewaspadai aspek tata laksana sedini mungkin. Mulailah kegiatan manajemen seketika pada saat perusahaan baru saja dimulai, sekecil apapun ukurannya. 4. Ketrampilan Lapisan terluar dari struktur prioritas keWirausahaan adalah ketrampilan. Banyak pihak berpendapat, bahwa dengan berbekal penguasaan ketrampilan, seseorang akan bisa diharapkan menjadi seorang entrepreneur yang berhasil. Pendapat ini sebenarnya tidaklah terlalu salah, kalau dilihat banyak contoh yang membuktikan, misalnya seorang penjahit dengan ketrampilan yang dimiliki akhirnya bisa memiliki sebuah perusahaan pakaian jadi yang cukup besar. Namun demikian, kalau wirausahawan mau meneliti lebih jauh, ternyata keberhasilan-keberhasilan itu sebenarnya bukan disebabkan oleh ketrampilan semata, melainkan lebih oleh jiwa kepemimpinan yang dimiliki

si pengusaha. Leadership yang bersangkutan yang menuntun dan membawanya ke jenjang sukses. Ada tiga hal yang memungkinkan seseorang, baik trampil maupun tidak untuk bisa tampil sebagai tokoh yang sukses, atau orang yang berkecukupan yaitu :

Memanfaatkan ledership yang berasal dari diri sendiri. Memanfaatkan ledership orang lain. Faktor keberuntungan ( luck atau hoki )

B. Karakteristik Wirausahawan. Sejarah kewirausahaan menunjukkan bahwa Wirausahawan mempunyai karakteristik umum serta berasal dari kelas yang sama. Para pemula revolusi industri Inggris berasal dari kelas menengah dan menengah bawah. Dalam sejarah Amerika pada akhir abad ke sembilan belas, Heillbroner mengemukakan bahwa rata-rata Wirausahawan adalah anak dari orang tua yang mempunyai kondisi keuangan yang memadai, tidak miskin dan tidak kaya. Schumpeter menulis bahwa Wirausahawan tidak membentuk suatu kelas sosial tetapi berada dari semua kelas. Menurut Mc Clelland, karakteristik Wirausahawan adalah sebagai berikut : 1. Keinginan untuk berprestasi. Penggerak psikologis utama yang memotivasi Wirausahawan adalah kebutuhan untuk berprestasi, yang bisaanya diidentifikasikan sebagai kebutuhan. Kebutuhan ini didefinisikan sebagai keinginan atau dorongan dalam diri orang yang memotivasi perilaku ke arah pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan merupakan tantangan bagi kompetisi individu. 2. Keinginan untuk bertanggung jawab. Wirausahawan menginginkan tanggung jawab pribadi bagi pencapaian tujuan. Mereka memilih menggunakan sumber daya sendiri dengan cara bekerja sendiri untuk mencapai tujuan dan bertanggung jawab sendiri terhadap hasil yang dicapai. Akan tetapi mereka akan melakukannya secara

berkelompok sepanjang mereka bisa secara pribadi mempengaruhi hasilhasil. 3. Preferensi kepada resiko-resiko menengah. Wirausahawan bukanlah penjudi. Mereka memilih menetapkan tujuantujuan yang membutuhkan tingkat kinerja yang tinggi, suatu tingkatan yang mereka percaya akan menuntut usaha keras tetapi yang dipercaya bisa mereka penuhi. 4. Persepsi pada kemungkinan berhasil. Keyakinan pada kemampuan untuk mencapai keberhasilan adalah kwalitas kepribadian Wirausahawan yang penting. Mereka mempelajari fakta-fakta yang dikumpulkan dan menilainya. Ketika semua fakta tidak sepenuhnya tersedia, mereka berpaling pada sikap percaya diri mereka yang tinggi dan melanjutkan tugas-tugas tersebut. 5. Rangsangan oleh umpan balik. Wirausahawan ingin mengetahui bagaimana hal yang mereka kerjakan, apakah umpan baliknya baik atau buruk. Mereka dirangsang untuk mencapai hasil kerja yang lebih tinggi dengan mempelajari seberapa efektif usaha mereka. 6. Aktifitas enerjik. Wirausahawan menunjukan enerji yang jauh lebih tinggi dibandingkan ratarata orang. Mereka bersifat aktif dan mobil dan mempunyai proporsi waktu yang besar dalam mengerjakan tugas dengan cara baru. Mereka sangat menyadari perjalanan waktu. Kesadaran ini merangsang mereka untuk terlibat secara mendalam pada kerja yang mereka lakukan. 7. Orientasi ke masa depan. Wirausahawan melakukan perencanaan dan berpikir ke depan. Mereka mencari dan mengantisipasi kemungkinan yang terjadi jauh di masa depan. 8. Ketrampilan dalam pengorganisasian. Wirausahawan menunjukkan ketrampilan dalam organisasi kerja dan orangorang dalam mencapai tujuan. Mereka sangat obyektif dalam memilih

individu-individu untuk tugas tertentu. Mereka akan memilih yang ahli bukan teman agar pekerjaan bisa dilakukan dengan efisien. 9. Sikap terhadap uang. Keuntungan finansial adalah nomor dua dibandingkan arti penting dari prestasi kerja mereka. Mereka hanya memandang uang sebagai lambang kongkret dari tercapainya tujuan dan sebagai pembuktian dari kompetensi mereka. C. Potensi Kewirausahaan. Karakteristik Wirausahawan sukses adalah sebagai berikut : 1. Kemampuan inovatif. Inovasi memerlukan pencarian kesempatan baru. Hal tersebut berarti perbaikan barang dan jasa yang ada, menciptakan barang dan jasa baru, atau mengkombinasikan unsur-unsur produksi yang ada dengan cara baru dan lebih baik. 2. Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity). Ini berarti kemampuan untuk berhubungan dengan hal yang tidak terstruktur dan tidak bisa diprediksi. Karakteristik ini berkaitan erat dengan proses inovatif 3. Keinginan untuk berprestasi adalah tanda-tanda penting dari dorongan keWirausahaan. Hal ini menandai para pemiliknya sebagai orang yang tidak mengenal menyerah di dalam mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan sendiri. 4. Kemampuan perencanaan realistis. Menetapkan tujuan yang menantang dan bisa diterapkan adalah tanda dari perencanaan realistis. Tujuan ditetapkan sesuai dengan tujuan dari Wirausahawan. 5. Kepemimpinan terorientasi pada tujuan. Wirausahawan membutuhkan aktivitas yang mempunyai tujuan. Semangat yang tinggi memotivasi mereka untuk mengarahkan tenaga mereka dan rekan kerja serta bawahan mereka ke arah tujuan yang ditetapkan.

10

6. Obyektivitas. Wirausahawan obyektif di dalam mengarahkan pemikiran dan aktivitas keWirausahaannya dengan cara pragmatis. Wirausahawan mengumpulkan fakta-fakta yang ada, mempelajarinya dan menentukan arah tindakan dengan cara-cara praktis. 7. Tanggung jawab pribadi. Wirausahawan memikul tanggung jawab pribadi, mereka menetapkan tujuan sendiri dan memutuskan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut dengan kemampuan mereka sendiri. 8. Kemampuan beradaptasi. Para Wirausahawan mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Ketika Wirausahawan terhambat oleh kondisi yang berbeda dari apa yang mereka harapkan, mereka tidak menyerah, namun melihat situasi secara obyektif. 9. Kemampuan sebagai pengorganisasi dan administrator. Wirausahawan mempunyai kemampuan mengorganisasi dan administasi di dalam mengidentifikasi dan mengelompokkan orang-orang berbakat untuk mencapai tujuan. Mereka menghargai kompetensi dan akan memilih para spesialis untuk mengerjakan tugas dengan efisien.

11

BAB III ANALISA MANAJEMEN KEWIRAUSAHAAN


A. Kondisi Nyata Usaha Kecil dan Menengah saat ini Selama krisis ekonomi yang berawal pada pertengahan tahun 1997, sektor agribisnis termasuk didalamnya bisnis kecil secara nyata telah mampu menjadi stabilizer perekonomian di Indonesia. Hal ini terbukti masih tetapnya usaha-usaha agribisnis berproduksi, terutama usaha menengah dan usaha kecil. Meskipun demikian, pengembangan usaha kecil juga mengalami berbagai permasalahan seperti : [1] kesulitan mendapatkan modal yang cukup, [2] kekurangan pengetahan di bidang agribisnis, [3] kelemahan dalam pengelolaan atau manajemen usaha, [4] kekurangan dalam perencanaan usaha, [5] kekurangan dalam pengalaman berusaha, [6] kekurangan pengetahuaan dan ketrampilan teknis bidang usaha yang dilakukan. Dengan kata lain, titik berat persoalan usaha kecil adalah sedikitnya pengusaha kecil yang memiliki jiwa wirausaha. (Noer: 2001). Kewirausahaan adalah jiwa, sehingga kurang tepat jika dikatakan pengembangan kewirausahaan agribisnis dan usaha kecil. Kewirausahaan adalah kemampuan dalam melihat atau menilai kesempatan di peluang bisnis serta kemampuan mengoptimalkan sumberdaya dan mengambil tindakan yang beresiko tinggi. Mungkin lebih tepat apabila dikatakan pengembangan agribisnis usaha kecil. (Noer: 2001) Selama ini prospek bisnis ke depan, yang berkaitan dengan kontrak/transaksi, cenderung memerlukan kemitraan dalam kaitannya antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil. Kemitraan ini tidak hanya di budidaya, tetapi juga di bagian pembibitan dan pengolahan. Kegiatan hulu sampai dengan kegiatan hilir ini dapat saling dimanfaatkan. (Noer: 2001) Bagi agribisnis baik petani, maupun pengusaha kecil dalam menjalankan usahanya, mempunyai karakteristik, berupa harga dan pasar hasil

12

petani tidak dapat dipengaruhi oleh produser secara sendiri-sendiri tapi harus dihadapi oleh agribisnis secara keseluruhan. Untuk mendpatkan kesepakatan bersama ini tidak mudah tapi kelompok sekaligus bisa mempengaruhi harga dan pasar, sehingga semua produser baik yang masuk kelompok atau tidak akan merasakan hasilnya. Kemudian akan banyak para produser untuk menanamkan produknya lebih luas dan produser yang tadinya tidak menanam produk tersebut akan tertarik pula untuk menanam produk yang sama, sehingga pada akhirnya persediaan produk berlebih serta harga dan pasar akan turun. B. Peluang Usaha Kecil yang sedang dikembangkan. Untuk mendayagunakan keunggulan Indonesia sebagai negara agraris dan maritim serta menghadapi tantangan kedepan seperti otonomi daerah, liberalisasi perdagangan, perubahan pasar internasional lainnya. Pemerintah sedang mempromosikan pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing (Competiveness), berkerakyaratan (People-Driven), berkelanjutan (Sustainable) dan terdesentralistis (Decentralized). Pembangunan pertanian dalam kerangka system agribisnis merupakan suatu rangkaian dan keterkaitan dari : (1) Sub agribisnis hulu (upstream agribusiness) yaitu seluruh kegiatan ekonomi yang menghasilkan sarana produksi bagi pertanian primer (usahatani); (2) Sub agribisnis usahatani (onfarm agribusiness) atau pertanian primer, yaitu kegiatan yang menggunakan sara produksi dan sub agribisnis hulu untuk menghasilkan komoditas pertanian primer. Sub ini di Indonesia disebut pertanian; (3) Sub agribisnis hilir (down-stream agribusiness) yaitu kegiatan ekonomi yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan baik bentuk produk antara (intermediate product) maupun bentuk produk akhir (finished product); dan (4) Sub jasa penunjang yaitu kegiatan yang menyediakan jasa bagi ketiga sub agribisnis di atas.

13

Sedangkan Strategi Sistem Agribisnis diatas harus bersinergi kedalam 4 sub-sistem yang terjabarkan sebagai berikut: Keterkaitan 4 sub Sistem dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Upstream Agribusiness Sub sistem agribisnis hulu berupa pengembangan industri yang menghasilkan barang modal bagi pertanian, yaitu industri pembenihan atau pembibitan, tanaman, ternak ikan industri agro kimia (Agro-otomotif) seperti pupuk, pestisida, obat, vaksin ternak/ikan, sindustri alat dan mesin pertanian. 2. Onfarm agribusiness Sub sistem pertanian primer berupa pengembangan kegiatan budidaya yang menghasilkan komoditi pertanian primer (usaha tani tanaman pangan, usahatani hortikultura, usahatani tanaman obat-obatan) usaha perkebunan, usaha peternakan, usaha perikanan, dan usaha kehutanan. 3. Downstream agribusiness Sub sistem Agribisnis Hilir berupa pengembangan industri-industri yang mengolah komoditi pertanian primer menjadi olahan seperti makanan dan minuman, industri pakan ternak, industri barang-barang serat alam, industri farmasi, industri bio-energi dan lain-lain. 4. Services for Agribusiness Sub Sistem penyedia jasa Agribisnis berupa fasilitas Perkreditan, transportasi, pergudangan, Litbang, Pendidikan SDM dan kebijakan ekonomi. Dalam artian, peluang akan membuka usaha kecil dan menengah terbuka pada 4 subsistem agribisnis, yang menjadi kendala saat ini, adakah jiwa-jiwa kewirausahaan dan kepemimpinan untuk segera mempergunakan peluang tersebut. Hasil penelitian yang telah dilakukan beberapa peneliti menunjukkan bahwa integrasi dan link-antar sub sistem usaha agribisnis belum tersinkron dengan baik, dimana setiap subsistem masih berjalan dengan sendiri-sendiri bahkan cenderung mengakibatkan kerugian yang sebenarnya justru harus

14

mendatangkan dampak positip dari keberadaannya. Usaha-usaha pada sistem agribisnis tersebut masih berskala kecil dengan sumberdaya manusia seadanya, teknologi yang terbatas dan tidak ada kepastian harga dan proteksi akan kelangsungan usahanya. C. Kondisi Kepemimpinan Usaha Kecil 1. Mencari Pemimpin Yang Baik. Usaha mencari perpaduan terbaik untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses tidaklah mudah. Dan, usaha untuk bisa menemukan nilai, gaya dan aktivitas atau apa pun yang relevan untuk disebut sebagai pemimpin yang sukses merupakan proses yang panjang. Ada pemimpin yang sukses karena mampu bertindak sebagai seorang pengarah tugas, pendorong yang kuat, dan berorientasi pada hasil sehingga mendapatkan nilai kepemimpinan yang tinggi. Ada pemimpin yang sukses karena mampu memberi wewenang kepada para pegawainya untuk membuat keputusan dan bebas memberikan saran, mampu menciptakan jenis budaya kerja yang mendorong serta menunjang pertumbuhan. Pendeknya, untuk menjadi pemimpin yang sukses haruslah memiliki dorongan yang kuat dan integritas yang tinggi. Kepemimpinan adalah sebuah proses yang melibatkan seseorang untuk mempengaruhi orang lain dengan memberi kekuatan motivasi, sehingga orang tersebut dengan penuh semangat berupaya menuju sasaran. Ahli manajemen, Peter F Drucker secara khas memandang kepemimpinan adalah kerja. Seorang pemimpin adalah mereka yang memimpin dengan mengerjakan pekerjaan mereka setiap hari. Pemimpin terlahir tidak hanya dalam hirarki managerial, tetapi juga dapat terlahir dalam kelompok kerja non formal. 2. Kondisi Kepemimpinan Bisnis Kecil saat ini Kepemimpinan sebenarnya sangat bersangkut erat terhadap karakter seseorang, jika seseorang berbudi halus maka ia cenderung memimpin dengan gaya dan type yang halus pula. Melihat kondisi kebanyakan bisnis kecil yang ada di Indonesia, Pemimpin: Manajer, Direktur bisaanya juga

15

pemilik itu sendiri, bagian-bagian vital perusahaan cenderung dijabat oleh anggota keluarga dekat, sehingga kekuasan pemimpin pada bisnis kecil tak terbatas. Disamping itu pengetahuan akan teori-teori kepemimpinan juga terbatas sehingga kebanyakan pemimpin bisnis kecil memimpin dengan gaya tradisional, misalnya pemimpin bisnis kecil di Bali akan cenderung memimpin dengan gaya serta type dengan kaidah-kaidah atau norma-norma ke-baliannya. Begitu juga, jika ada pemimpin bisnis kecil dari suku Tionghoa akan cenderung juga menerapkan gaya dan type kepemimpinan ala cines, atau kalau kita bandingkan dengan teori kepemimpin lebih dekat kepada gaya Paternalistik kekeluargaan. Masalah-masalah SDM pada perusahaannya belum begitu nampak besar dan serius karena skala usahanya masih kecil, unsur kekeluargaan masih bisa dijalankan dengan baik, hal ini juga sebenarnya menjadi faktor penghambat kenapa bisnis kecil tetap kecil. Alasan pertama adalah gaya dan type kepemimpinan yang masih tradisional, paternalistik, lebih-lebih masih saja ada yang feodal, seperti di Jawa misalnya. 3. Penerapan Teori Kebutuhan Maslow Dalam Bisnis Kecil Penerapan Teori Kebutuhan Maslow dalam menumbuhkan dukungan yang kuat para anggota perusahaan yang bersaing dalam: inovasi dan peningkatan kualitas sehingga terjadi peningkatan kinerja dan keuntungan perusahaan. Motivasi merupakan proses interaksi antara kebutuhan (need), dorongan (drive), dan tujuan (goals) Mengapa dua produk yang sama, dijual oleh dua perusahaan yang berbeda, memberikan hasil yang berbeda ? Suatu perusahaan membuat produk yang dapat dijual, bukan menjual produk yang dapat dibuat, karena itu perusahaan perlu mengenali pelanggan dan mengidentifikasi kebutuhannya. Dengan demikian perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. Salah satu kegagalan dari produk baru, bisaanya adalah karena mereka salah mengenali kebutuhan konsumen. Perusahaan mengharapkan konsumennya menjadi pelanggan, sehingga ada kontinuitas pembelian.

16

Dalam pemenuhan kebutuhan konsumen, wirausahawan tidak dapat menciptakan suatu produk untuk memenuhi semua kebutuhan. Diversifikasi produk perlu dilakukan untuk melayani semua kebutuhan. Berbagai usaha dilakukan perusahaan untuk membuat pelanggannya merasa istimewa. Selain untuk meningkatkan penjualan juga untuk membangun loyalitas pelanggan. Perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas, sehingga mereka yang menjalankan organisasi tahu apa yang ingin dicapai dan dapat melakukan perencanaan dan implementasinya. Kunci dari keberhasilan Perusahaan untuk mencapai tujuan yaitu membangun loyalitas pelanggan dalam arti luas dapat dijabarkan bahwa: pelanggan bukan semata-mata hanya orang yang membutuhkan produk yang dihasilkan oleh perusahaan tetapi jauh lebih luas, dalam Total Quality Management dijelaskan yang termasuk pelanggan adalah: Konsumen, Pekerja, dan pemilik. Kelemahan mendasar pada bisnis kecil adalah mengabaikan arti dan makna motivasi ini, pemilik bisaanya hanya memperhatikan pada tingkat kebutuhan dasar, belum lagi, pemerintah telah mematok upah minimum regional misalnya, justru ini akan menjadi acuan untuk menggaji karyawannya sebatas atau sebesar UMR itu sendiri. Pada akhirnya banyak bisnis kecil yang tidak bertahan lama.

17

BAB IV ANALISA USAHA BUDIDAYA TERNAK SAPI PERAH

A. Peluang Usaha di Kecamatan Krucil Wilayah Kecamatan Krucil terletak di daerah pegunungan, tepatnya di lereng gunung Argopuro sebelah barat, dengan ketinggian 800 s/d 950 m DPL. Dengan kondisi alam yang berbukit-bukit dan masih alamiahnya kondisi hutan sehingga debit air sangat banyak. Begitu juga banyak lahan kosong yang belum dimanfaatkan serta luasnya padang rumput, sehingga banyak peluang usaha khususnya sektor Agribisnis dan wisata alam Bahari yang layak dikembangkan di wilayah ini. Wilayah Kecamatan Krucil sampai saat ini hanya sector Wisata saja yang dimanfaatkan oleh investor. Akan tetapi untuk peluang usaha Agribisnis masih belum ada Investor yang menagani secara signifikan. Oleh karena itu penulis tertarik untuk menganalisa peluang usaha Agribisnis di Wilayah Kecamatan Krucil khususnya wirausaha budidaya ternak sapi perah.
B. Faktor Pendukung Budidaya Ternak Sapi Perah

Kondisi alam yang agraris diwilayah Kecamatan Krucil sangat cocok untuk dikembangkan khususnya pada sektor usaha Agribisnis baik dibidang pertanian maupun peternakan. Dalam makalah ini penulis berusaha menganalisa usaha di bidang peternakan khusunya Wirausaha Budidaya Ternak Sapi Perah. Mengapa penulis memilih menganalisa di bidang peternakan khusunya Wirausaha Budidaya Ternak Sapi Perah?. Karna kondisi alam di wilayah Kecamatan Krucil sangat mendukung dalam menjalankan usaha ini. Adapun faktor pendukung Wirausaha Budidaya Ternak Sapi Perah di wilayah Kecamatan Krucil adalah sebagai berikut :

18

1. Kondisi Sumber Daya Alam Wilayah Kecamatan Krucil yang terletak di daerah pegunungan sangat lah strategis untuk pengembangan usaha budidaya ternak sapi perah. Karena diwilayah ini masih alami dan banyak sumber daya alam yang mendukung seperti, lahan yang luas, debit air yang melimpah, banyak rumput hijauan, banyaknya hasil bumi masyarakat yang dapan dimanfaatkan sebagai pakan ternak (jagung, daun jagung, singkong, daun singkong, kulit kacang kedelai, ketela rambat, katul padi, katul jagung dan sebagainya). 2. Permodalah Dalam menjalankan suatu usaha modal financial adalah faktor utama selain faktor pendukung lainnya dalam menyukseskan suatu usaha. Dalam hal ini bagi setiap orang yang mau mengembangkan usaha ini sangatlah mudah, karena di Kecamatan Krucil telah ada KUD sebagai mitra peternak dalam mengembangkan usahanya. Dalam hal permodalan penulis mengkategorikan 2 macam Wirausahawan dalam Budidaya ternak sapi perah: a) Pengusaha yang modal dengkul (Modal Tenaga Saja) Bagi masyarakat yang tidak mempunyai modal untuk membuat kandang dan tidak mampu membeli sapi, di Wilayah kecamatan Krucil Terdapat KUD ARGOPURO yang menyediakan modal usaha bagi peternak yang tidak mempunyai modal sendiri. System ini dinamakan system Gadoan (Kerjasama), yang mana dalam hal ini KUD sebagai pemberi modal pinjaman mempberikan pembinaan dan pengawasan secara langsung kepada peternak. Dengan konsekwensi peternak menyicil setelah sapi produksi sampai dengan lunas sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama, dan secara otomatis peternak yang bersangkutan langsung menjadi anggota KUD. Setelah modal pinjaman lunas, peternak dalam jangka waktu tertentu sudah dapat memiliki hewan ternak dan kandang sapi sendiri. b) Pengusaha dengan modal sendiri (Modal Uang Pribadi)

19

Bagi masyarakat yang mempunyai modal sendiri bisa membeli Sapi kepada KUD dan menyetor Susu ke KUD secara langsung dengan syarat harus menjadi anggota KUD dan mematuhi segala peraturan yang berlaku. 3. Pemasaran Adapun hasil produksi dari ternak sapi perah ini adalah susu segar yang dihasilkan. Dalam pemasarannya peternak bisa langsung setor ke KUD yang menampung susu segar dari peternak dua kali sehari (pagi dan sore). Kemudian susu segar diolah oleh KUD yang selanjutnya disetor ke PT. Nestle Indonesia Kejayan Pasuruan.
C. Analisa Usaha Budidaya Ternak Sapi Perah (Analisis SWOT)

Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya. Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5-4% dari bahan kering.

20

Matriks SWOT Usaha Peternakan Sapi Perah

Kekuatan S
1. Adanya koperasi susu (KUD) yang memberikan pelayanan pengadaan modal, konsentrat, IB, kesehatan dan menyalurkan susu ke Industri Pengolahan Susu (IPS) 2. Adanya IPS yang menampung produksi susu dari peternak 3. KUD Memiliki tenaga ahli di bidang peternakan 4. Pemanfaatan teknologi IB (Insenminasi Buatan) sudah meluas yang mengurangi biaya produksi dan meningkatkan laju reproduksi 5. Adanya balai-balai IB yang menyediakan bibit pejantan, memproduksi semen dan mendistribusikannya 6. Adanya petugas IB yang memberikan pelayanan IB dan kesehatan Adanya kelompok-kelompok peternak sapi perah sebagai wadah peternak-peternak kecil yang mengkoordinasi dan menampung semua permasalahan yang berkaitan dengan peternakan 7. Pelatihan dan penyuluhan tentang sapi perah oleh petugas penyuluh pertanian dan petugas koperasi susu atau KUD untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peternak 8. Pelatihan dan pengembangan ketrampilan bagi Peternak 9. Lahan hijauan di Wilayah Kecamatan Krucil sangat luas sehingga Rumput segar sebagai makanan pokok ternak mudah didapatkan serta didukung oleh Sumber air, dan hasil bumi masyarakat yang melimpah

21

Kelemahan W
1. Produktivitas sapi perah masih rendah 2. Kebijakan pemuliaan sapi perah yang tidak terarah karena sistem pencatatan yang kurang bagus sehingga peningkatan mutu genetik lamban 3. Pengadaan bibit pejantan IB dan bahan baku konsentrat masih impor dari wilayah kecamatan lain 4. Penggunaan bahan baku konsentrat masih bersaing dengan manusia 5. Biaya produksi yang cukup tinggi, sehingga membutuhkan penanganan yang maksimal 7. Pendidikan dan ketrampilan peternak yang masih rendah 8. Sistem pencatatan produksi dan reproduksi yang buruk pada peternakan rakyat 9. Adanya kasus pemalsuan susu

22

Peluang O
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Permintaan susu dalam negeri belum terpenuhi Hubungan yang baik antara peternak, Koperasi Susu atau KUD dengan IPS Jalur distribusi produk jelas Berkembangnya diversifikasi produk olahan susu sehingga memperluas pangsa pasar produk susu Konsumsi susu sapi yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan susu dari ternak lainnya Meningkatnya konsumsi susu terutama akibat tuntutan selera yang menginginkan aneka produk Pertumbuhan penduduk semakin meningkat Peningkatan pengetahuan terutama ilmu gizi dan taraf hidup masyarakat

9. Tersedianya tenaga kerja 10. Adakanya kebijakan kebijakan pemerintah yang mendukung pelaksanaan usaha peternakan sapi perah 11. Berkembangnya pasar swalayan, restoran dan lain-lain yang dapat mendukung system distribusi produk

Ancaman T
1. Krisis ekonomi yang menyebabkan harga bahan baku konsentrat naik 2. Melemahnya rupiah terhadap dolar 3. Susu Segar mudah basi (butuh penanganan khusus untuk menajaga mutu) 4. Tingkat suku bunga pinjaman tinggi

23

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan analisis SWOT, maka strategi-strategi yang dapat dilakukan dalam menjalankan usaha peternakan sapi perah diantaranya adalah seperti yang dipaparkan di bawah ini. Strategi S -O 1. Meningkatkan pemanfaatan teknologi IB untuk meningkatkan laju reproduksi. 2. Mengembangkan skala usaha untuk meningkatkan produksi. 3. Memanfaatkan kelompok-kelompok peternak, koperasi susu atau KUD, balai IB dan IPS sesuai dengan fungsinya. 4. Meningkatkan kerjasama antara peternak, koperasi susu atau KUD, balai IB dan IPS. 5. Mengurangi ketergantungan impor bahan baku konsentrat dengan memanfaatkan bahan baku lokal terutama by product pertanian dan limbah industri misalnya ampas tahu dan ampas tempe. Strategi W O 1. Meningkatkan produktivitas sapi perah dengan memperbaiki mutu genetik dan manajemen beternak. 2. Mengurangi ketergantungan impor bahan baku konsentrat dengan memanfaatkan bahan baku lokal terutama by product pertanian dan limbah industri misalnya ampas tahu dan ampas tempe.

24

3. Memperbaiki budidaya hijauan makanan ternak, mengusahakan lahan untuk budidaya dan memperbaiki teknologi pengawetannya. 4. Membuat dan melaksanakan kebijakan pemuliaan yang sesuai terutama memperbaiki sistem pencatatan dan memanfaatkannya. Strategi S -T 1. Mengoptimalkan pelayanan KUD terutama dalam pengadaan konsentrat dengan pemanfaatan bahan baku pakan lokal untuk mengurangi ketergantungan impor. 2. Pendayagunaan tenaga ahli peternakan untuk misalnya untuk

memformulasikan konsentrat dengan menggunakan bahan baku lokal. 3. Untuk mengatasi masalah bunga pinjaman yang tinggi dengan

memperbaiki dan mempertahankan hubungan kerjasama antara pihak investor dan lembaga-lembaga perbankan dengan KUD, IPS dan peternak agar diperoleh modal dengan skim kredit yang sesuai dengan usaha peternakan. Strategi W -T 1. Mengurangi ketergantungan impor bahan baku konsentrat dengan memanfaatkan bahan baku lokal terutama by product pertanian dan limbah industri misalnya ampas tahu dan ampas tempe. 2. Membuat dan melaksanakan kebijakan pemuliaan yang sesuai terutama memperbaiki sistem pencatatan dan memanfaatkannya Penulis berharap makalah ini dapat berguna bagi semua pihak yang membacanya, khusunya bagi masyarakat yang berminat menjadi peternak.

25

B. Saran Motivasi Pemerintah Selama krisis ekonomi yang berawal pada pertengahan tahun 1997, sektor agribisnis termasuk didalamnya bisnis kecil secara nyata telah mampu menjadi stabilizer perekonomian di Indonesia. Hal ini terbukti masih tetapnya usaha-usaha agribisnis berproduksi, terutama usaha menengah dan usaha kecil. Jika ini yang terjadi haruslah ada intervensi pemerintah sebagai regulasi dalam memotivasi bertumbuhnya wira-wira usaha baru sehingga perekonomian nasional dapat segera bangkit. Khususnya bagi Usaha budidaya Ternak sapi perah, Pemerintah perlu mendukung peternak dalam menjembatani usahanya, baik dalam usaha peningkatan Keterampilan melalui pelatihan maupun kemudahan dalam mendapatkan pinjaman modal. Diwilayah kecamatan Krucil KUD Argopuro berperan sangat penting dalam usaha Peningkatan dan Kesejahteraan Peternak sapi perah. Oleh karena itu Dinas Peternakan wajib membina KUD Argopuro sebagai mitra peternak dalam mengembangkan usahanya. Peternak sangat membutuhkan bimbingan dan kemudahan dari semua instansi terkait dalam memotivasi bertumbuhnya usaha budidaya ternak sapi perah sehingga upaya mendorong peningkatan perekonomian nasional dapat segera bangkit.

26

DAFTAR PUSTAKA
Sutjipta, Nyoman, 2001, Manajemen Sumber Daya Manusia Diktat: Univeritas Udayana, Denpasar. Sumidjo, Wahyo, 1984,Kepemimpinan dan Motivasi, Ghalia Indonesia, Jakarta. http://artikelrande.blogspot.com/2010/07/manajemen-kewirausahaan.html Thoha, Miftah, 1994,Kepemimpinan Dalam Manajemen, CV. Rajawali, Jakarta. Yukl, Gary, 1996, Kepemimpinan Dalam kewirausahaan, Prerhallindo, Jakarta. Anonim. 1983. Petunjuk cara-cara penggunaan obat-obatan ternak. Samarinda, Dinas Peternakan Kalimantan Timur. Anonim. 1988. Kondisi peternakan sapi perah dan kualitas susu di pulau Jawa. Buletin PPSKI Anonim. 1988. Pemerahan, satu faktor penentu jumlah air susu. Swadaya Peternakan Indonesia Anonim. 1988. Upaya peningkatan kesejahteraan peternak melaluipeningkatan efisiensi produksi. Buletin PPSKI Bandini, Yusni. 1997. Sapi Bali. Cet 1. Jakarta, Penebar Swadaya. Djarijah, Abbas Sirega. 1996. Usaha ternak sapi. Yogyakarta, Kanisius.

27