Anda di halaman 1dari 9

WAN | 0110U214 BARANG PUBLIK Pasar persaingan sempurna merupakan pasar yang ideal untuk alokasi sumber daya

melalui proses pertukaran, namun salah satu asumsi dasarnya adalah barang yang dipertukarkan merupakan barang privat. Barang privat adalah barang yang memiliki sifat rivalry dan exclusive. Rivalry artinya barang tidak dapat dinikmati secara bersama dalam waktu yang sama tanpa saling meniadakan manfaat. Exclusive artinya untuk menngkonsumsi barang tersebut diperlukan syarat (membayar). Dalam pasar oersaingan sempurna sulit dipertukarkan barang publik karena sifat barang publik adalah non rivalry dan non exclusive. Namun dalam kenyataannya barang publik umumnya lebih bersifat publik semu karena adanya unsure privat dan publik pada barang tersebut. 2 bentuk barang semu: Bersifat rival tetapi non exclusive, barang yang tidak dapat dikonsumsi secara bersama tetapi untuk menikmatinya tidak harus membayar (ex: konsultasi siswa) Bersifat non rival tetapi exclusive, barang bisa dikonsumsi bersama dalam waktu yang sama tetapi untuk untuk menikmatinya harus membayar (ex: bis) Barang publik: investasi besar, tingkat pengembalian kecil serta bersifat long-term, manajemennya kompleks. Ciri barang publik: Pengukuran permintaan barang publik sulit dilakukan sebab persepsi yang berbeda dari masyarakat dan bersifat subyektif, sebagian masyarakat mengatakan baik belum bagi sebagian msayarakat lainnya. Pendanaan, kebijakan untuk mengambil alih beban biaya oleh pemerintah dalam peyediaan barang publik dilakukan melalui pembebanan pajak. Namun timbul free rider (orang ikut menikmati tapi tidak ikut membayar pajak, tetapi menikmati barang publik) Penyediaan dari barang publik tidak berfungsinya mekanisme pajak, barang publik disediakan dalam monopoli pemerintah, tetapi kekuasaan monopoli menimbulkan suap, kebocoran, tender tidak terbuka yang menyebabkan anggaran lebih tinggi dari seharusnya. Akhir-akhir ini terdapat kecenderungan menswastakan pengadaan barang publik. Akibatnya perhitungan investasi dan harga serta mekanisme pasar akan menyaring rakyat yang bisa membayar dan tidak bisa membayar. Hal tersebut akan menambah beban kemiskinan rakyat, karena barang-barang yang semula gratis kini harus dibayar dan akan mengurangi daya belinya untuk barang esensial yang lain. Eksternalitas merupakan kerugian atau keuntungan yang diderita atau dinikmati pelaku ekonomi karena tindakan pelaku ekonomi lain, yang tidak tercermin dalam harga pasar. Eksternalitas merugikan misalnya perusahaan makanan memproduksi tanpa membangun fasilitas pengolahan limbah yang memerlukan biaya tinggi, sehingga masyarakat sekitar terkena dampak merugikan karena tindakan perusahaan. Dan di satu sisi eksternalitas menguntungkan bagi perusahaan tersebut karena tidak adanya biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membangun pengolahan limbah, tetapi dialihkan untuk mendorong supply produksinya. Keputusan di dalam menentukan alokasi yang efisien dalam penyediaan barang publik pada kenyataannya sering mengalami kesulitan, sehingga ditempuh cara pemungutan suara 1

WAN | 0110U214 (voting). Cara ini meskipun tidak sempurna dianggap dapat mewakili aspirasi masyarakat. Namun ada 2 kendala: Pilihan masyarakat sering tidak konsisten, apalagi bila pilihan yang dibandingkan makin banyak Adanya eklompok yang mendominasi dan mampu memaksakan kehendak kepada masyarakat, sehingga secara legal pilihan masyarakat tetapi sebenarnya pilihan kelompok kecil Teori median voting, di mana warga negara membuat perwakilan di parlemen dan memutuskan berapa kuantitas dan kualitas barang publik diproduksi, dan bagaimana pembiayaan didistribusikan melalui pajak. Hutang luar negeri termasuk juga ke dalam pengertian pajak yang dipinjam oleh generasi sekarang kepada generasi yang akan datang dan hendaknya diputuskan melalui voting. Dalam voting, biaya minimal terjadi jika dipilih proyek yang median. Itulah sebabnya kelompok tengah umumnya memenangkan voting. Misalnya terdapat tiga pilihan barang publik dengan kebutuhan 1, 3, dan 5. Jika yaang dipilih kuantitas 1, maka yang memilih 3 akan mengalami rugi 2, dan yang memilih 5 mengalami kerugian 4. Sebaliknya, jika yang dipilih 5, kelompok yang memilih 3, akan rugi 2 dan yang memilih 1 akan rugi 4. Total kerugian pilihan di kedua ekstrim adalah 6. Jika dipilih 3, total kerugian sosial hanya 4 (minimal), yaitu, yang memilih 1 rugi 2, dan yang memilih 5 juga rugi 2 Masalah alokasi sumber daya yang efisien secara teoritis dapat diwujudkan melalui pasar persaingan sempurna. Hanya pada kenyatannya hal tersebut sulit diwujudkan karena manusia dihadapkan pada keterbatasan. Masalah lain yang muncul adalah apakah alokasi yang efisien juga merupakan alokasi yang adil. 4 konsep keadilan berdasarkan utilitas (tingkat penggunaan atau manfaat dan kepuasan: Ajaran egalitarian, menyatakan bahwa keadilan tercapai bila setiap kelompok masyarakat mendapat jumlah barang (kepuasan) yang sama Ajaran Rawlsian, kondisi yang adil adalah bila utilitas masyarakat miskin dimaksimumkan Ajaran utilitarian, keadilan tercapai bila tingkat kepuasan masyarakat dimaksimumkan Ajaran Market Oriented, keadilan merupakan hasil interaksi permintaan dan penawaran, selama berdasarkan pasar persaingan sempurna Mengukur keadilan ekonomi dengan konsep utilitas cukup sulit, konsep lain untuk mengukur keadilan dalam perekonomian yaitu distribusi dan pendapatan dan kekayaan (Income and Wealth Distribution). Namun alat ukur keadilan ini pun tidak lengkap karena tingkat utilitas atau kepuasaan seseorang tidak selalu tergantung pada pendapatan, hal ini terlihat pada kenyataan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi belum tentu bahagia (tingkat ulitiasnya rendah). Namun pada batas tertentu pengukuran keadilan melalui konsep distribusi pendapatan dan kekayaan dapat membantu melihat masalah-masalah mendasar dalam kehidupan masyarakat. 3 hal sebab-sebab kegagalan pasar: Pasar tidak dapat berfungsi dengan adanya ekternalitas. Ekternalitas adalah dampak baik positif maupun negatif yang dialami atau diakibatkan oleh konsumen dan produsen. Produsen yang menghasilkaan limbah beracun, sebenarnya untuk menghasilkan produknya memakan biaya yang lebih besar dari yang dibukukan. Ikan dan sawah yang mati milik para petani juga merupakan biaya sosial yang semestinya diperhitungkan Pasar hanya merespon permintaan efektif dari hasil distribusi pendapatan yang terjadi. Distribusi tersebut seringkali tidak sesuai harapan atau tujuan bersama suatu masyarakat, di mana pendapatan negara terdistribusi secara menceng, misalnya, sedikit orang saja 2

WAN | 0110U214 memiliki kekayaan sampai setengah dari PDB dan sebagian besar rakyat berposisi sebagai petani kecil, pekerja informal, dan buruh yang miskin Pasar tidak bekerja otomotais ketika ada pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi yang kurang Ketiga hal tersebut memerlukan campur tangan pemerintah untuk melakukan perbaikan distribusi pendapatan (supaya harta tidak beredar hanya di antara orang kaya), pemerintah juga dapat mendenda atau mensubsidi adanya eksternalitas yang merugikan atau menguntungkan masyarakat. Terakhir, pemerintah bisa memainkan budget yang dimilikinya untuk mendorong produksi, menurunkan harga, dan sekaligus mengurangi pengangguran. Campur tangan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan seluruh rakyat inilah ang kemudian menjadi prnsip welfare state, negara kesejahteraan. Pajak adalah kebocoran pada arus perputaran pendapatan nasionnal, maka meningkatnya penerimaan pendapatan pemerintah dari pajak berarti membesarnya kebocoran. Pungutan pajak akan mengurangi pengeluaran agregat melalui pengurangan ke atas konsumsi rumah tangga. Pajak juga memungkinkan pemerintah melakukan pembelanjaan dan ini akan menaikkan pembelanjaan agregat. Karakteristik perekonomian Indonesia sebagai negara sedang berkembang: Standar hidup yang rendah 70% penduduk tinggal di perdesaan dan bermata pencaharian di sector pertanian. Usaha di bidang pertanian yang berskala kecil menyebabkan tingkat pendapatan mereka rendah. Karena sifat komoditi pertanian yang produksinya sangat tergantung kepada aspek musim, luas lahan, varietas, dan teknologi yang digunakan. Kecil sekali kemungkinan untuk dilipatgandakan produksinya. Sementara itu nilai tukar (term of trade) komodiiti pertanian rendah. Di sisi lain peluang untuk pengembangan usaha di perdesaan sangat terbatas Pertumbuhan penduduk dab beban tanggungan yang tinggi Angka kelahiran penduduk (fertiilitas) pada Negara sedang berkembang sangat tinggi, berkisar 3,5 hingga 4% sehingga mengakibatkan beban ketergantungan tinggi, akibatnya tingkat kesejahteraan rendah. Dengan jumlah oenduduk yang tinggi, maka tingkat pengangguran juga tinggi (terutama bila lapangan kerja tidak berkembang), sehingga sering timbul masalah-masalah social seperti pemukiman kumuh, sanitasi buruk, dan kriminalitas. Langkanya modal untuk investasi Dengan tingkat pendapatan yang rendah, sementara proporsi konsumsi terhadap pendapatan (MPC) tinggi sehingga menyebabkan tingkat tabungan rendah dan selanjutnya menyebabkan kemampuan penciptaan investasu juga rendah. Tingkat produktivitas rendah Langkanya modal serta rendanya teknologi yang digunakan menyebabkan produktivitas rendah, ditambah lagi akibat dari menurunnya produktivitas marjinal tenaga kerja akibat adanya penambahan tenaga kerja sampai batas tertentu, sementara luas lahan dan lapangan kerja yang tersedia tetap/rendah Langkanya tenaga ahli dan tenaga pendidik Pada umumnya junlah tenaga ahli dan tenaga terdidik di Negara sedang berkembang terbatas. Hal ini berkaitan dengan tingkat pendapatan yang rendah, sehingga peluang memperoleh pendidikan yang lebih tinggi terbatas Ketergantungan pada faktor luar negeri 3

WAN | 0110U214 Karena sebagian besar produksi masyarakat Negara sedang berkembang adalah komoditi primer yang orientasi pasarnya adalah ekspor. Sementara meerka tidak memiliki informasi pasar luar negeri yang memadai. Di pihak lain, bila mererka memerlukan barang-barang modal, mereka harus mengimpornya dari luar negeri. Kondisi-kondisi tersebut menciptakan ketergantungan terhadap pihak luar negeri. Solusi untuk mengatasi kendala perekonomian: strategi pembangunan yang menitikberatkan pada pembangunan pedesaan yang terpadu (integrated rural development), intensifikasi pertanian (agricultural intensification), penggunaan teknologi madya (ntermediate technology), pendidikan yang layak (appropriate education), perluasan angkatan kerja (labor force expansion), promosi industri kecil dan ekspor (small industries and export promotion), penciptaan lapangan kerja, perbaikan gizi dan kesehatan (nutrition and health development), pengembangan SDM dab social, distribusi pendapatan, dan perubahan kelembagaan (institutional change). Strategi pembangunan ekonomi harus diarahkan kepada: Meningkatkan output riil/produktivitas yang tinggi yang terus-menerus meningkat. Karena dengan output yang tinggi ini akhirnya akan dapat meningkatkan persediaan dan memperluas pembagian bahan kebutuhan pokok termasuk penyediaan perumahan, pendidikan, dan kesehatan Tingkat penggunaan tenaga kerja yang tinggi dan pengangguran yang rendah, yang ditandai dengan tersedianya lapangan kerja yang cukup Pengurangan ketimpangan ekonomi dan social Perubahan social, sikap mental, dan tingkah laku masyarakat dan lembaga pemerintah Tahapan strategi (perubahan dari outward-looking policies ke inward-looking policies): Pembangunan ekonomi didorong oleh pertumbuhan ekspor komoditas pertanian dan sector primer lainnya Pertumbuhan sector industri, terutama untuk promosi ekspor barang-barang manufaktur Pembangunan ekonomi dengan prioritas pada swasembada komoditas pertanian Pembangunan ekonomi dengan prioritas pada swasembada barang-barang industri melalui kebijaksanaan subtitusi impor Keuntungan penerapan strategi subtitusi impor adalah: Pangsa pasarnya sudah jelas, sehingga tidak perlu melakukan riset pasar terlebih dahulu Penciptaan lapangan kerja Alih teknologi yang dapat meningkatkan ketrampilan tenaga kerja di dalam negeri Penghematan devisa Negara, sehingga cadangan devisa yang ada dapat digunakan untuk mengimpor barang modal yang diperlukan dalam pembangunan Menimbulkan rasa kebanggaan nasional serta kecintaan terhadap produk-produk dalam negeri. Ekonomi kerakyatan adalah watak atau tatanan ekonomi di mana pemilikan aset ekonomi harus didistribusikan kepada sebanyak-banyaknya warga negara. Pendistribusian aset ekonomi kepada sebanyak-banyaknya warga negara yang akan menjamin pendistribusian barang dan jasa kepada sebanyak-banyaknya warga negara secara adil. Dalam pemilikan aset ekonomi yang tidak adil dan merata, maka pasar akan selalu mengalami kegagalan, tidak akan dapat dicapai efisiensi yang optimal (Pareto efficiency) dalam perekonomian, dan tidak ada invisible hand yang dapat mengatur keadilan dan kesejahteraan. Dalam ekonomi kerakyatan, tetap menempatkan pemerintah sebagai penyedia barang publik dan jasa publik. Intervensi pemerintah dalam ekonomi rakyat hanya diperlukan untuk menjamin mekanisme distribusi aset terjadi melalui mekanisme pasar.

WAN | 0110U214 (1) Tata ekonomi yang dapat menjamin pertumbuhan out put secara mantap atau tinggi adalah tata ekonomi yang sumber daya ekonominya digunakan untuk memperoduksi jasa dan barang pada tingkat pareto optimum. Tingkat pareto optimum adalah tingkat penggunaan faktor-faktor produksi secara maksimal dan tidak ada faktor produksi yang nganggur atau idle. (2) Tata ekonomi yang dapat menjamin pareto optimum adalah tata ekonomi yang mampu menciptakan penggunaan tenaga kerja secara penuh (full employment) dan mampu menggunakan kapital atau modal secara penuh. (3) Tata ekonomi yang dapat memberikan jaminan keadilan bagi rakyat adalah tata ekonomi yang pemilikan aset ekonomi nasional terdistribusi secara baik kepada seluruh rakyat, sehingga sumber penerimaan (income) rakyat tidak hanya dari penerimaan upah tenaga kerja, tetapi juga dari sewa modal dan deviden. Secara ekonomis, dalam perekonomian kerakyatan, model income masyarakat adalah sebagai berikut: . Dimana

Yi = (W + + is) i
adalah income individu anggota masyarakat,

Yi

adalah penerimaan dari upah tenaga

W
kerja,

adalah penerimaan dari deviden atau bagi hasil sisa usaha,

adalah tingkat sewa

i
adalah jumlah tabungan atau endowment yang

modal (misalnya bunga deposito), dan

s
disewakan. Dengan demikian dalam tata ekonomi kerakyatan, masyarakat bukan hanya sebagai buruh dalam perekonomian tetapi juga pemilik atau memiliki saham di sektor produksi. Beberapa peran pemerintah dalam perekonomian (agent of development) adalah pemerintah membantu perkembangan bisnis secara umum, mendorong persaingan usaha yang sehat, membantu kelompok ekonomi lemah, dan sebagai stabilizer. Dalam pemerintahan modern, fungsi Pemerintah dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan besar: 1. Fungsi Alokasi, yaitu fungsi pemerintah dalam alokasi sumber-sumber ekonomi Pada dasarnya sumber daya yang dimiliki suatu negara adalah terbatas. Pemerintah harus menentukan seberapa besar dari sumber daya yang dimiliki akan dipergunakan untuk memproduksi barang-barang publik, dan seberapa besar akan digunakan untuk memproduksi barang-barang individu. Pemerintah harus menentukan dari barang-barang publik yang diperlukan warganya, seberapa besar harus disediakan oleh pemerintah, dan seberapa besar yang dapat disediakan oleh rumah tangga perusahaan. Tidak semua barang dan jasa yang ada dapat disediakan oleh sektor swasta. Barang dan jasa yang tidak dapat disediakan oleh sistem pasar ini disebut barang publik, yaitu barang yang tidak dapat disediakan melalui transaksi antara penjual dan pembeli. Sistem pasar tidak dapat menyediakan barang/jasa tertentu oleh karena manfaat dari adanya barang tersebut tidak hanya dirasakan secara pribadi akan tetapi dinikmati oleh orang lain. Barang publik adalah barang yang baik secara teknis maupun secara ekonomis tidak dapat ditetapkan prinsip pengecualian, atas barang tersebut. Barang yang termasuk 5

WAN | 0110U214 dalam barang publik walaupun mempunyai sifat pengecualian, misalnya jalan-jalan dpat disediakan melalui sistem pasar. Perbedaan antara barang swasta dan barang public ditunjukkan: Dapat Dikecualikan Barang swasta murni 1. biaya pengecualian rendah 2. dihasilkan oleh swasta 3. dijual melalui pasar 4. dibiayai oleh hasil penj. Dihasilkan swasta/pemerintah Contoh: sepatu, pensil dll Tidak Dapat Dikecualikan Barang campuran (quasi public) 1. barang yang manfaatnya dirasakan bersama dan dikonsumsikan bersama tetapi dapat terjadi kepadatan. Dijual melalui pasar atau langsung oleh pemerintah. Contoh: Taman

Riva l

Non Riva l

Barang campuran (quasi private) 1. barang swasta yang menimbulkan eksternalitas 2. dibiayai dan hasil penjualan atau dibiayai dengan APB Contoh : rumah sakit, transportasi umum, pemancar TV

Barang publik murni 1. biaya pengecualian besar 2. dihasilkan oleh pemerintah 3. disalurkan oleh pemerintah 4. dijual melalui pasar atau langsung oleh pemerintah Contoh: pertahanan dan peradilan

2. Fungsi Distribusi Pemerintah berupaya untuk mendistribusikan pendapatan atau kekayaan agar supaya masyarakat sejahtera. Tetapi bagaimanapun juga upaya ini tidaklah mudah karena banyak faktor yang mempengaruhi perolehan pendapatan, misalnya kepemilikan faktor produksi, permintaan dan penawaran faktor produksi, sistem warisan dan kemampuan seseorang. Distribusi pendapatan dan kekayaan melalui pasar walau efisien namun tidak adil. Oleh karena itu pemerintah harus campur tangan. Untuk itu Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan agar alokasi sumber daya ekonomi dilaksanakan secara efisien. Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan agar kekayaan terdistribusi secara baik dalam masyarakat, misalnya melalui: perpajakan, subsidi, pengentasan kemiskinan, transfer penghasilan dari daerah kayak e daerah miskin, bantuan pendidikan, bantuan kesehatan dll. Efisiensi adalah objek ekonomi namun keadilan merupakan objek politik. Efisiensi terjadi apabila perubahan tidak memperburuk keadaan golongan lain namun ini sulit dilakukan di dunia nyata, kecuali bila yang terkena pengaruh memperoleh kompensasi. Dengan demikian pemerintah harus mengambil kebijaksanaan untuk membantu mereka yang menghadapi ketidakadilan ini dengan (progresif), memberikan subsidi yang dananya diambilkan dari pajak yang dikenakan pada mereka yang memperoleh pendapatan atau kekayaan tertentu. 3. Fungsi Stabilisasi Pemerintah menstabilkan perekonomian melalui: penekanan laju inflasi, peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan produktivitas masyarakat, stabilisasi harga, dan penciptaan lapangan kerja. Menjaga agar permasalahan yang terjadi pada satu sektor perekonomian tidak merembet ke sektor lain Menjaga agar perekonomian kondusif (inflasi terkendali, sistem keamanan terjamin, dan kepastian hukum terjaga) 6

WAN | 0110U214 Pemerintah dapat melakukan kebijaksanaan moneter (melalui BI) dengan menerapkan sarana persyaratan cadangan, tingkat diskonto, kebijakan mata uang, kebijakan pasar terbuka, dll. Faktor-faktor kegagalan pemerintah: 1. Campur tangan pemerintah kadang-kadang menimbulkan dampak yang tidak diperkirakan terlebih dahulu 2. Pemerintah tidak dapat mengantisipasi akibat kebijakan yang diambilnya. Sering kebijakan yang diambil menimbulkan reaksi masyarakat yang tidak sesuai dengan harapan pemerintah 3. Campur tangan pemerintah memerlukan biaya yang tidak murah, oleh karena itu campur tangan pemerintah harus dipertimbangkan manfaat dan biayanya secara cermat agar tidak lebih besar dari pada biaya masyarakat tanpa adanya campur tangan pemerintah 4. Pemerintah terbatas di dalam mengendalikan akibat kebijakan. Misalnya saja, pemerintah mengendalikan harga sewa rumah yang dimaksudkan agar yang miskin dapat menyewa rumah secara murah. Ternyata pengembang mengalihkan investasinya pada proyek lain 5. Adanya kegagalan dalam pelaksanaan program pemerintah. Pelaksanaan program pemerintah memerlukan tender, dan sistem yang kompleks 6. Pemerintah pada hakikatnya memberikan pelayanan pada kelompok tertentu atau kepentingan tertentu (vested interest) dan mungkin memiliki kepentingan sendiri (self interest), serta sering bertentangan kepentingan (conflict of interest) 7. Perilaku pemegang kebijakan pemerintah yang bersifat mengejar keuntungan pribadi atau rent seeking behavior 8. Penyediaan dari barang publik tidak berfungsinya mekanisme pajak, barang publik disediakan dalam monopoli pemerintah, tetapi kekuasaan monopoli menimbulkan suap, kebocoran, tender tidak terbuka yang menyebabkan anggaran lebih tinggi dari seharusnya Pajak Perusahaan Masalah yang pelik akan timbul dalam pengenaan pajak penghasilan perusahaan, entah itu berupa pajak laba perseroan atau pajak persekutuan dan perusahaan perseorangan yang dikenakan menurut pajak penghasilan perorangan. Bila akuntansi perusahaan belum begitu maju sehingga belum bisa mengukur laba dengan cukup akurat, metode lain harus digunakan. Banyak negara menggunakan taksiran dan bukan pendekatan langsung guna menentukan laba. Caranya adalah dengan menaksir marjin laba atas penjualan di mana terdapat marjin yang beragam untuk berbagai industri. Metode ini, yang digunakan secara luas di negara-negara Asia, yang mana akan mengubah bentuk pajak laba menjadi semacam pajak penjualan. Hal ini terjadi karena kewajiban pajak menjadi fungsi dari penjualan dan marjin tersebut merupakan taksiran dan bukan aktual. Dalam keadaan lain, laba taksiran didasarkan pada patokan tertentu seperti luasnya lantai atau ruang kerja dan lokasi pada wilayah perkotaan. Ini juga merupakan praktek yang bisa ditemukan pada tradisi perpajakan Eropa, khususnya sehubungan dengan pendapatan profesional. Dalam hal pertanian, luasnya lahan atau jumlah ternak bisa digunakan sebagai dasar taksiran. Serentak dengan itu, pembayar pajak yang setia perlu diberi penghargaan, sementara yang bandel diberi hukuman. Proses perbaikannya harus bertahap dan tidak bisa bergerak lebih cepat dari perbaikan metode akuntansi. Para pembaharu pajak sering menyepelekan perbaikan teknik penaksiran pajak terhadap perbaikan teknis dalam pemajakan perseroan, padahal hal terakhir ini tidak begitu penting bagi negara yang sedang berkembang. Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsip-prinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1. Prinsip keadilan (equity) 7

WAN | 0110U214 2. Prinsip kepastian (certainty) 3. Prinsip kenyamanan (convenience) 4. Prinsip ekonomi (economy) Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku-pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. Hal ini dimungkinkan karena pelaku ekonomi yang secara hukum berkewajiban membayar pajak kepada pemerintah belum tentu menggunakan dana pribadi atau dengan kata lain dapat membebankan pajaknya kepada pelaku ekonomi yang lain. Berkenaan dengan dimungkinkannya memindahkan beban pajak kepada pelaku ekonomi lain secara keseluruhan atau sebagian (distribusi pembebanan) maka pembahasan tax incidence dapat dibagi dalam dua konsep yakni statutory incidence dan economic incidence. Statutory Incidence merujuk pada pelaku-pelaku ekonomi yang secara hukum terlibat dalam pendistribusian pembebanan pajak. Sedangkan Economic Incidence lebih mengarah pada pengaruh pendistribusian pembebanan pajak pada tingkat ekulibrium harga. Dampak Pajak Secara umum, struktur perekonomian nasional (tanpa pajak) terdiri dari Pendapatan Nasional (Y), jumlah Konsumsi (C) dan Tabungan (S). Hubungan dari ketiga unsur tersebut adalah Pendapatan Nasional sama dengan jumlah Konsumsi ditambah jumlah Tabungan (Y = C + S). Apabila seluruh Tabungan (S) digunakan sebagai Investasi (S = I), maka tidak akan pernah terjadi inflasi atau deflasi. Kadang-kadang yang muncul adalah jumlah Tabungan (S) lebih besar dari jumlah Investasi (I) atau dengan kata lain, tidak semua tabungan digunakan untuk investasi (S > I) maka akan terjadi kelesuan ekonomi, penurunan harga (deflasi), dan pengangguran. Yang sering terjadi justru jumlah Tabungan lebih rendah dari jumlah Investasi (S < I). Kondisi ini menyebabkan kegairahan ekonomi dan kenaikan harga (inflasi).

Gambar menunjukkan hubungan antara tingkat Pendapatan Nasional (Y), dengan tingkat Konsumsi (C) dan tingkat Investasi (I). Pada tingkat pendapatan nasional sebesar 0Y (S=I), perekonomian dalam keadaan seimbang, tidak ada inflasi ataupun deflasi. Pada tingkat pendapatan 0Y1 (S<I) terdapat inflationary gap. Harga-harga cenderung terus naik sampai tidak ada lagi perbedaan antara Tabungan dan Investasi. Pada kondisi ini instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi, menggeser kurva C+I kebawah dengan menerapkan pajak atas konsumsi. Sebaliknya pada tingkat pendapatan 0Y2 (S>I) terdapat deflationary gap dimana harga-harga cenderung terus turun sampai tidak ada lagi perbedaan antara Tabungan dan Investasi. Pada kondisi ini instrumen pajak dapat digunakan untuk 8

WAN | 0110U214 menurunkan tingkat inflasi, menggeser kurva C+I keatas dengan menerapkan pajak atas tabungan.