Anda di halaman 1dari 14

BAB II TIJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian

Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobin menurun. Akibatnya, ada penurunan transportasi oksigen dari paru ke jaringan perifer. Selama kehamilan, anemia lazim terjadi dan biasanya adekuat. Meskipun anemia jarang menciptakan krisis kedaruratan akut selama kehamilan, namun pada hakekatnya setiap masalah kedaruratan dapat diperberat oleh anemia yang telah ada. Pada kehamilan 36 minggu,volume darah ibu meningkat rata-rata 40-50% diatas keadaan tidak hamil. Walaupun eritropoetis diperkuat dan volume erotrosit meningkat, namun lebih banyak plasma ditambahkan ke dalam sirkulasi ibu. Akibatnya, konsentrasi hemoglobin maupun hematokrit menurun selam kehamilan. disebabkan defisiensi besi, sekunder terhadap kehilangan darah sebelumnya atau masukan besi yang tidak

2.2 Etiologi

Adanya penurunan transportasi oksigen dari paru ke jaringan perifer. Hal ini disebabkab oleh:

Perdarahan

Akut

(akut/kronik,

interna

/eksterna,jelas/samara) Perdarahan yang jelas ( dari perdarahan per vagina, epistaksis dan sebagainya) menjadi suatu keterangan yang nyata untuk anemia. Perdarahan gastrointestinalis. Bila diduga perdarahan samara,maka feses harus diperiksa melalui tes guaiac atau yang sejenis. Defisiensi Gizi Anemia defisiensi besi diakibatkan defisiensi besi diet atau deplesi cadangn besi. Selama kehamilan normal kirakira 1000 mg besi dibutuhkan oleh janin dan plasenta untuk meningkatkan volume eritrosit ibu. Defisiensi folat dapat menyebabkan anemia megaloblastik,kehamilan yang jarang ditemukan. Diagnosis digambarkan oleh adanya eritrosit makrositik dan leukosit polimorfonuklear hiperpigmentasi pad apemeriksaan apusan darah tepi. Pemeriksaan sumsum tulang dan penurunan folat serum memastikan diagnosis. Hemoglobinopati Cacat genetik herediter dalam gugusan globin hemoglobin. 1. Talasemia Eritrosit bersifat mikrositik dan hipokrom dengan penurunan kelangsungan hidup. Sumsum tulang

cenderung

hiperaktif

sebagaii

usaha

untuk

memerangi anemia. 2. Penyakit Sel Sabit Dengan menurunnya O2 maka deformitas sabit eritrosit tumbuh. Hal ini meningkatkan viskositas darah, menyebabkan stasis, aglutinasi, trombosis, hipoksia bahkan jaringan, nekrosis perdarahan hemolisis perivaskuler, dan kronik menyebabkan

anemia berat. 3. Penyakit Sel Sabit-Hemoglobin C Pasien yang mewariskan sifat hemoglobin C dan hemoglobin Sbisa tetap asimtomatik sampai stress kehamilan.

Depresi Sumsum Tulang Kadar besi serum dan kapasitas pengikat besi (iron binding capacity) cenderung berkurang, besi sumsum ada dan kadang-kadang meningkat, serta granulopoesis toksik dapat ditemukan pada sumsum. Hemolisis Anemia hemolitik congenital, ditandai oleh adanya sferosit, sel hiperkromik keci dengan adanya peningkatan fragilitas osmotic. Anemia Hemolitik

Penyakit

seperti Masa

leukemia, hidup

limfoma yang

dan

lupus

eritematosus.

eritrosit

memendek

merupakan akibat hemolisis auto imun.

2.3 Patofisiologi Perubahan hematology sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume meningkat 45-65% dimulai dari trimester II kehamilan , dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjealang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus.stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang mengakibatkan peningkatan sekresi aldosteron.

2.4 Gejala Klinis Manifestasi klinis dari anemia sangat bervariasi, bias hampir tanpa gejala, bias juga gejala-gejala penyakit dasarnya yang menonjol, ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya. Gejala

gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunangkunang, perubahan jaringan epitel kuku, gangguan system neuromuscular, lesu, lemah,lelah,disphagia dan pembesaran kelenjar limpa. Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar hemoglobin < 7gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan jelas. Nilai ambang yang untuk menentukan status anemia ibu hamil, didasarkan pada criteria WHO tahun 1972 yang ditetapkan dalan 3 kategori, yaitu normal ( > 11 gr/dl, anemia ringan (8-11 gr/dl), dan anemia berat ( kurang dari 8 gr/dl). Berdasarkan pemeriksaan darah ternyata ratarata kadar hemoglobin ibu hamil sebesar 11.28mg/dl, kadar hemoglobin terendah 7. 63 mg/dl dan tertinggi 14.00 mg/dl.

2.5 Komplikasi Pengaruh anemia terhadap kehamilan :


A. Bahaya selama kehamilan:

Dapat terjdi abortus Persalinan prematuritas Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim.mudah terjadi infeksi Ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6gr % ) Mola hidatidosa Hiperemesis gravidarum Perdarahan antepartum

Ketuban pecah dini ( KPD ) B. Bahaya saat persalinan: Gangguan kekuatan mengejan Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar

Kala

kedua

berlangsung dan sering didikuti

lama

sehingga

dapat

melelahkan kebidanan. Kala uri

memerlukan retensio

tindakan dan

dapat

plasenta,

perdarahan postpartum karena atonia uteri. Kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri C. Pada kala nifas Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan postpartum Memudahkan infeksi puerperium Pengeluaran ASI berkurang Terjadi dekompemsasi kordis mendadak setelah persalinan Anemia kala nifas Mudah terjadi infeksi mamae 1. Bahaya terhadap janin Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga

mengganggu dalam bentuk : Abortus

pertumbuhan

dan

perkembangan

janin

dalam rahim. Akibat anemia dapat terjadi gangguan

Terjadi kematian intrauterine Persalinan prematuritas tinggi Berat badan lahir rendah Kelahiran dengan anemia Dapat terjadi cacat bawaan Bayi mudah mendapat infeksi, sampai kematian perinatal Inteligensia rendah

2.6 Pemeriksaan Penunjang Besi serum total Nilai normal 60-135 mcg/100ml. Besi serum total menurun terjadi

pada pada

anemia

defisiensi

besi,

anemia eritrosit

infeksi, dan penyakit kronis. Peningkatan besi serum peningkatan kerusakan ( anemia hemolitik ). Kapasitas pengikatan besi total (Total IronBinding Capacity; TIBC ): Nilai normal 20-40 %. Nilai kurang dari 15 % menunjukkan anemia defisiensi besi. Feritin Serum

Membantu Kadar

penilaian

kecukupan

cadangan

besi.

dibawah

10-12

mcg/100ml

menunjukkan

defisiensi besi. Tes Sel Sabit Pemaparan darah ke zat pereduksi menghasilkan perubahan khas yang menyertai hemoglobin S. Elektroforesis Hemoglobin Dapat mengidentifikasi bentuk hemoglobin yang berbeda. Hitung Retikulosit Nilai normal 0.5 sampai 1.5 % eritrosit. Peningkatan ditemukan pada perusakan ertirosit karena hemolisis (pada penyakit sel sabit hitung retikulosit dapat meningkat sampai 30% ). Pemeriksaan Sunsum Tulang Kurangnya besi yang dapat diwarnai dalam sumsum tulang yang normal dalam hal ini merupakan ukuran paling dapat diandalkan dari defisiensi besi. Hemoglobin Serum Sedikit meningkat pada sel sabit talasemia dan penyakit hemoglobin C serta meningkat sedang pada penyakit sel sabit hemoglobin C,anemia sel sabit, talasemia mayor, anemia hemolitik. Hemoglobin meningkat pada setiap hemolisis intravaskuleryang cepat. Tes Antiglobulin Coombs langsung

Tes ini bertindak untuk memperlihatkan adanya antibody tidak lengkap yang menempel lengkap, pada untuk beberapa tempat di permukaan eritrosit, tetapi membutuhkan isoimunisasi akuista. senyawa menyebabkan aglutinasi. Hasil positif menunjukkan ( ibu dengan disensitif Rh) atau autoantibody nonspesifik pada anemia hemolitik

2.7 Penatalaksanaan dan Pendidikan Pasien Anemia Defisiensi Besi Terapi besi oral lebih disukai, biasanya tablet fero sulfat 325 mg tiga kali besi sekali. 65 mg. Setiap Terapi tablet besi memberikan unsur

parenteral dapat diindikasikan bila ada defisiensi besi berat dan pasien tidak dapat mentoleransi besi oral atau bila diperlukan restorasi hemoglobin cepat. Kira-kira 250 mg dekstran besi (imferon ) diperlukan untuk setiap 1,0 g/100 ml kekurangan dalam konsentrasi hemoglobin. Anemia Megaloblastik Defisiensi Folat Asam folat 1 mg per oral sekali sehari. Tambahan besi harus diberikan sebab sintesis hemoglobin yang cepat membutuhkan besi tambahan. Anemia Infeksi

Infeksi kronik

yang selama

mendasari kehamilan

harus

diobati pada

dengan traktus

antibiotic yang tepat. Tempat infeksi terlazim infeksi adalah urinarius. Tambahan besi mungkin juga dibutuhkan. Anemia Sel Sabit Selama kehamilan tidak diperlukan untuk menaikkan kadar hemoglobin pasien diatas kadar yang biasa selama tidak hamil (sering dalam rentang 7 g/100 ml ). Selama persalinan dan kelahiran, transfusi eritrosit padat (packed red sel ) mungkin diperlukan. Tambahan asam folat 1mg sehari, dianjurkan. Terapi tambahan besi biasanya tidak dibutuhkan. Terapi oksigen harus diberikan selama ada peningkatan kebutuhan oksigen. Anemia Hemolitik Bila mungkin, agen hemolitik ( darah tak cocok, toksin kimia atau bekteri ) harus disingkirkan.

2.8 Asuhan Keperawatan a. Pengkajian

Gejala saat ini umum dapat

kelelahan

dan

kelemahan gejala

merupakan

satu-satunya

penurunan kapasitas pengankutan oksigen. Dispneu saat istirahat jarang terjadi, kecuali kadar hemoglobin 5 g atau kurang. Bahkan yang lebih jarang, nyeri tulang, sendi atau abdomen bias disebabkan oleh krisis trombosis. Riwayat penyakit masa lalu Sering infeksi atau kolelitiasis atau riwayat keluarga anemia menggambarkan kemungkinan hemoglobinopati genetic. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan umum: takikardia, takipnea, kulit dan konjungtiva tampak pucat. Ikterus dapat dilihat pada anemia hemolitik. Tes Laboratorium Hitung sel darah lengkap dan apusan darah. b. Diagnosa keperawatan Diagnosa yang mungkin muncul adalah : Malaise b.d gangguan transport oksigen Gangguan nutrisi b.d asupan inadekuat Ansietas b.d efek perdarahan pada kehamilan dan bayi. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi tentang kehamilan c. Intervensi

Anjurkan klien untuk istirahat Berikan klien rasa nyaman Kaji tanda-tanda vital Lakukan tes lab darah lengkap Berikan klien untuk mengungkapkan perasaan Berikan asupan gizi sesuai anjuran Berikan pendidikan kesehatan. d. Evaluasi Kecemasan berkurang Tanda tanda vital dalam batas normal Hasil laboratorium dalm batas normal Klien mengungkapkan perasaannya Asupan gizi terpenuhi

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobin menurun. Akibatnya, ada penurunan transportasi oksigen dari paru ke jaringan perifer. Selama kehamilan, anemia lazim terjadi dan biasanya disebabkan defisiensi besi, sekunder terhadap kehilangan darah sebelumnya atau masukan besi yang tidak adekuat. Hal ini bisa disebabkan oleh :

Perdarahan

Akut

(akut/kronik,

interna

/eksterna,jelas/samara) Defisiensi Gizi Hemoglobinopati Depresi Sumsum Tulang Hemolisis Anemia Hemolitik Dengan gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan epitel kuku,

gangguan

system

neuromuscular,

lesu,

lemah,lelah,disphagia dan pembesaran kelenjar limpa.

DAFTAR PUSTAKA http://www.bppsdmk.depkes.go.id. Faktor Resiko Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil. Akses17 September, 2007. Carpernito, Lynda Juall. Diagnosa Keperawatan. Ed. 6Jakarta: EGC, 1997 Gde Manuaba, Ida Bagus. Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC,1998 Henderson, Christine. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC, 2005 Tabor, Ben-Zion.Kapita Selekta Kedaruratan Obsetri dan Ginekologi. Ed.2. Jakarta: EGC, 1994.