Anda di halaman 1dari 25

Makalah

DEPTH PERCEPTION

Disusun oleh: BARAN PALANIMUTHU NIM: 070100287 Supervisor:

dr. BEBY S. PARWIS, SpM


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

KATA PENGANTAR Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Beby Parwis Sp.M dan Dr. Mila Karmila atas kesediaan, waktu dan kesempatan yang diberikan sebagai pembimbing tugas paper ini, kepada teman sesama kepaniteraan ilmu penyakit mata dan para perawat yang selalu mendukung, memberi saran, motivasi, bimbingan dan kerjasama yang baik sehingga dapat terselesaikannya referat ini. Referat ini disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan bagian Ilmu Penyakit Mata di RSUP Haji Adam Malik, Medan. Referat ini membahas dan menganalisa berbagai hal mengenai Depth Perception. Bahasan referat ini diambil dari berbagai macam sumber. Seperti kata pepatah Tidak ada gading yang tak retak , penyusun sadar bahwa dalam penyusunan referat ini masih banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun diharapkan, demi perbaikan referat ini.

Medan, Januari 2012 Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............i DAFTAR ISI.................ii BAB I PENDAHULUAN.................1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................2 2.1. Persepsi............................................................3 2.2. Fisiologi Penglihatan.......................................7 2.3. Depth Perception...............................18 2.3.1.Dasar Sistem Penglihatan........15 2.3.2. Depth Cues.....................19 DAFTAR PUSTAKA.................21 LAMPIRAN............................................................................................................................22

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Persepsi [perception] merupakan konsep yang sangat penting dalam psikologi, kalau bukan dikatakan yang paling penting. Melalui persepsilah manusia memandang dunianya. Apakah dunia terlihat berwarna cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah persepsi manusia yang bersangkutan. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi [sensation]. Yang terakhir ini merupakan fungsi fisiologis, dan lebih banyak tergantung pada kematangan dan berfungsinya organ-organ sensoris. Sensasi meliputi fungsi visual, audio, penciuman dan pengecapan, serta perabaan, keseimbangan dan kendali gerak. Kesemuanya inilah yang sering disebut indera.9 Berbeda dengan sensasi, persepsi merupakan sebuah proses yang aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi yang diterimanya. Dalam sistem visual kita terdapat 2 macam stimulus, yaitu distal stimulus dan proximal stimulus. Distal stimulus merupakan objek yang berada di "luar", sedangkan proximal stimulus merupakan informasi yang sudah tersimpan dalam reseptor sensori kita. Saat kita mengenali sebuah benda, kita berusaha untuk menemukan identitas distal stimulus walaupun informasi yang disediakan proximal stimulus masih jauh dari sempurna. Untungnya sistem visual kita didukung oleh komponen-komponen lain, yaitu memori atau lebih tepat lagi iconic memory. Iconic memory atau memori visual membantu kita untuk dapat mengenali sebuah benda dalam waktu 200-400 milidetik (kurang dari setengah detik) setelah stimulus menghilang. Selain itu, informasi yang masuk dan diterima retina dikirim ke otak dibantu oleh sistem syaraf. Sistem syaraf ini berada diantara retina dan primary visual cortex yang berada di lobus oksipital.9,10 Persepsi Kedalaman (depth perception) adalah kemampuan sistem visual untuk melihat posisi relatif dari objek di bidang visual. Persepsi kedalaman terbahagi kepada Monocular Cues(penglihatan dengan satu mata) dan Binocular Cues (penglihatan dengan dua mata).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PERSEPSI 9 Persepsi [perception] merupakan konsep yang sangat penting dalam psikologi, kalau bukan dikatakan yang paling penting. Melalui persepsilah manusia memandang dunianya. Apakah dunia terlihat berwarna cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah persepsi manusia yang bersangkutan. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi [sensation]. Yang terakhir ini merupakan fungsi fisiologis, dan lebih banyak tergantung pada kematangan dan berfungsinya organ-organ sensoris. Sensasi meliputi fungsi visual, audio, penciuman dan pengecapan, serta perabaan, keseimbangan dan kendali gerak. Kesemuanya inilah yang sering disebut indera.9 Jadi dapat dikatakan bahwa sensasi adalah proses manusia dalam dalam menerima informasi sensoris [energi fisik dari lingkungan] melalui penginderaan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal neural yang bermakna. Misalnya, ketika seseorang melihat (menggunakan indera visual, yaitu mata) sebuah benda berwarna merah, maka ada gelombang cahaya dari benda itu yang ditangkap oleh organ mata, lalu diproses dan ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal di otak, yang kemudian diinterpretasikan sebagai warna merah.9 Berbeda dengan sensasi, persepsi merupakan sebuah proses yang aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi yang diterimanya. Benda berwarna merah akan memberikan sensasi warna merah, tapi orang tertentu akan merasa bersemangat ketika melihat warna merah itu, misalnya. Banyak ahli yang mencoba membuat definisi dari persepsi. Beberapa di antaranya adalah:9 1. Persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya (Bimo Walgito). 2. Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Davidoff). 3. Persepsi ialah interpretasi tentang apa yang diinderakan atau dirasakan individu (Bower). 5

4. Persepsi merupakan suatu proses pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu (Gibson). 5. Persepsi juga mencakup konteks kehidupan sosial, sehingga dikenallah persepsi sosial. Persepsi sosial merupakan suatu proses yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, baik mengenai sifatnya, kualitasnya, ataupun keadaan lain yang ada dalam diri orang yang dipersepsi sehingga terbentuk gambaran mengenai orang lain sebagai objek persepsi tersebut (Lindzey & Aronson). 6. Persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu (Krech). Persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan dan adanya proses atensi hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya. 2.1.1.ATTENTION Atensi adalah konsentrasi pada tugas (fungsi) proses mental dimana seseorang mencoba tidak mengikutsertakan stimuli yang mengganggu, menerima beberapa pesan (stimulus) pada saat yang bersamaan dan hanya menerima 1 stimulus saja (yang lainnya diabaikan).9,10 Selective Attention Dalam selective attention, manusia diberikan 2 atau lebih stimulus pada waktu yang bersamaan dan hanya diperkenankan berkonsentrasi pada 1 stimulus saja, sementara stimulus-stimulus lainnya diabaikan. Studi tentang selective attention sering menunjukkan bahwa orang-orang hanya memberikan sedikit atensi pada tugas-tugas yang kurang relevan.9,10 2.1.2.PERSEPSI TERHADAP JARAK Penglihatan dengan dua mata merupakan penglihatan yang disebut stereoscopis, di mana kedua mata ini bekerja sama, saling mengisi untuk melihat pengamatan melalui jarak. Jadi, pengamatan mengenai jarak sangat tergantung pada bagaimana kerjasama antara kedua mata itu. Efek dari pengamatan stereoscopis ini tergantung dari perbedaan yang sangat kecil antara apa yang dilihat dengan mata kiri dan apa yang dilihat dengan mata kanan. Karena letak mata terpisah antara kiri dan kanan, maka mata yang satu tidak melihat benda persis 6

dengan mata sebelahnya. Yang jelas bahwa kerjasama antara kedua mata ini bukan pada organnya sendiri, tetapi pada otak. Mungkin sekali kemampuan kita untuk melakukan persepsi ruang tiga dimensi (adanya jarak) bukan hasil yang dipelajari, melainkan suatu kemampuan bawaan.9,10 Bagaimana gambaran pada retina di mana _ datar dapat memberi kesan pengamatan ruang _ tergantung dari penyajian pengamatan bayangan _ retina (mata kita). Kalau kita mampu menampilkan suatu benda pada kertas sesempurna seperti kita jika melihat bayangan dari benda nampak pada retina, maka sebenarnya kita telah dapat / mampu menggambarkan seuatu ruang.9,10 Ada beberapa persyaratan untuk dapat melihat suatu gambaran tentang ruang, yaitu :9 1. Apa yang disebut sebagai super position dari pada objek. Jika bayangan objek muncul pada retina kita memotong bayangan lainnya maka objek tersebut akan memberikan kesan lebih dekat. 2. Adanya perspektif. Misalnya kita sudah mengenal bahwa dua garis sejajar pada jarak tertentu akan bertemu. Kesan perspektif dapat terjadi dari bermacam bentuk. Bentuk yang makin mengecil, bentuk yang makin tinggi dari horizon, perbedaan tekstur. 3. Jelas tidaknya bayangan. Bayangan yang lebih jelas kita hayati sebagai suatu hal yang lebih dekat. Dan bayangan yang kabur sebagai hal yang lebih jauh. 4. Gerakan. Jika kita bergerak ke satu arah maka bayangan dari benda yang jauh akan nampak bergerak bersama-sama dengan kita. Sedang bayangan benda yang dekat itu, bergerak berlawanan dengan arah kita. Dengan demikian, gerakan juga menjadi dasar adanya suatu jarak atau pengalaman mengenai jarak. 5. Akomodasi dari mata / lensa. Seperti yang kita ketahui dalam melihat suatu benda, lensa mata kita selalu menyesuaikan diri dengan mengubah bentuk. Bahwa aktivitas dari otot cilair (yang mengikat lensa), semuanya ini dapat terjadi dengan satu mata saja, sedang adanya dua mata tidak selalu memberikan kesan ruang. 2.1.3.PERSEPSI VISUAL Proses penglihatan dimana pengalaman individu berhubungan dengan objek-objek yang dilihatnya disebut persepsi visual. 7

Latar belakang dalam pengenalan objek visual Saat kita mengenali benda, proses sensori akan mengubah dan mengorganisasikan potongan-potongan informasi yang disediakan oleh reseptor sensori kita. Dalam proses itu kita juga membandingkan stimulus yang kita terima dengan informasi dalam memori kita.9,10 Sistem visual Dalam sistem visual kita terdapat 2 macam stimulus, yaitu distal stimulus dan proximal stimulus. Distal stimulus merupakan objek yang berada di "luar", sedangkan proximal stimulus merupakan informasi yang sudah tersimpan dalam reseptor sensori kita. Saat kita mengenali sebuah benda, kita berusaha untuk menemukan identitas distal stimulus walaupun informasi yang disediakan proximal stimulus masih jauh dari sempurna. Untungnya sistem visual kita didukung oleh komponen-komponen lain, yaitu memori atau lebih tepat lagi iconic memory. Iconic memory atau memori visual membantu kita untuk dapat mengenali sebuah benda dalam waktu 200-400 milidetik (kurang dari setengah detik) setelah stimulus menghilang. Selain itu, informasi yang masuk dan diterima retina dikirim ke otak dibantu oleh sistem syaraf. Sistem syaraf ini berada diantara retina dan primary visual cortex yang berada di lobus oksipital.9,10 Melihat jarak dalam ruang (tiga dimensi) Berdasarkan fakta yang didapat sebenarnya stimulus yang mengenai retina hanyalah dua dimensi saja. Stimulus yang datang dan diterima dari keadaan di sekeliling kita, pada retina akan terbentang menjadi dua dimensi. 10 Binoculair dari depth perception Seseorang hanya akan dapat melihat tiga dimensi dari objek dengan jelas apabila memakai kedua mata (binoculair). Ada dua tanda tambaha dari jarak, yang penting pada penglihatan binoculair, yaitu:9,10 1. Efek stereoskopik Yaitu kedua mata mendapatkan gambar yang berlainan dari suatu benda atau objek yang sama. Perbedaan inilah yang merupakan sebab mengapa kita dapat melihat jarak. Proses jawaban-jawaban pada otak mengenai perbedaan gambaran yang simultan ini, ialah dengan melihat kepadatan benda, inilah yang merupakan tiga dimensi atau depth perception.

2. Double image Bila kita memusatkan pandangan kita pada suatu objek yang dekat (A), maka objek yang jauh (B) pada suatu ketika akan kelihatan kembar bila sedikit demi sedikit digeserkan mendekati A. Demikian sebaliknya, bila kita pada suatu objek yang jauh (B), sedangkan objek yang dekat (A) sedikit demi sedikit digeserkan menjauhi mata (ke arah B), maka pada suatu ketika objek A akan terlihat kembar. Ukuran dan bentuk dari objek visual perception 10 Bila kita mencoba untuk menggambar atau melukis sesuatu pemandangan yang berada di sekitar kita, maka kita akan mendapatkan kesukaran dalam melukiskan bentuk dan ukuran yang berhubungan dengan objek-objek tersebut. Ukuran-ukuran dari objek yang kita lukis tergantung dari ukuran yang sebenarnya dari objek tersebut dan jarak objek terhadap kita. Visual Depth perception10 Banyak dari para ahli yang telah lama meneliti fakta sehari-hari dari penglihatan tiga dimensi. Persoalannya meliputi : Struktur mata yang membentuk bayangan-bayangan optik pada retina. Cahaya yang datang dari arah yang berlainan jatuh di daerah yang berlainan pula pada retina dan karena arahnya dapat dibedakan. Bagaimana orang percobaan dapat membedakan titik mana yang dekat dan mana yang jauh dari matanya, apabila titik-titik tersebut terletak pada arah yang sama dan diproyeksikan pula pada daerah yang sama pada retina. Semua hal ini merupakan problem dalam persoalan depth perception. Tanda-tanda pada kedalaman (depth) Tata cara kerja mata memiliki banyak persamaan dengan tata cara kerja pada kamera. Pada kamera dalam mengukur jarak objek, kita mengenal dua prinsip dasar, yaitu : 1. Focusing 2. Triangulation Walaupun tanda ini tidak cukup memberikan pengukuran yang absolut, tetapi dalam hal ini orang percobaan dapat membedakan jarak dari dua titik yang berlainan.

2.2. FISIOLOGI PENGLIHATAN 2.2.1 Anatomi Mata 1 Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Secara truktur anatomi mata dapat dilihat dalam gambar di bawah ini:

Dari paling luar ke paling dalam, lappisan-lapisan itu adalah; 1. Sclera/kornea 2. Koroid/badan siliaris/iris; dan 3. Retina Sebagian besar bola mata dilapisi oleh sebuah lapisan jaringan ikat protektif yang kuat disebelah luar; sclera, yang membentuk bagian putih mata. Konea trnasparan tempat lewatnya berkas-berkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah di bawah lapisan sclera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengadung pembuluh-pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan koroid di sebelah anterior mengalami spesialisasi untuk menmbentuk badan (korpus) siliaris dan iris. Lapisan paling dalam di bawah koroid adalah retina yang terdiri dari sebuah lapisan berpigmen di sebelah luar dan sebuah lapisan jaringan saraf disebelah dalam. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energy cahaya menjadi implus saraf. Seperti dinding hitam di studio foto, pigmen koroid dan retina menyerap cahaya setelah cahaya mengenai retina untuk mencegah pemantulan atau peghamburan cahaya dalam mata.1 10

Bagian dalam mata terdiri dari dua rongga yang berisi cairan yang dipisahkan oleh sebuah lensa yang semuanya jernih untuk memungkinkan cahaya lewat menembus mata dari kornea ke retina. Rongga anterior antara kornea dan lensa mengandung cairan encer jernih, aqueous humor, dan rongga di posterior yang lebih besar antara lensa dan retina mengandung zat semi cair seperti gel yang disebut vitreous humor.1 Vitreous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata yag sferis. Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor.1 2.2.2 Fisiologi Mata Cahaya adalah suatu bentuk radiasi elektromagnetik yang terdiri dari paket-paket individual energi yang disebut foton dan berjalan menurut cara gelombang. Fotoreseptor dimata hanya peka terhadap panjang gelombang antara 400 dan 700 nm. Gelombang cahaya mengalami divergensi kesemua arah dari setiap titik sumber cahaya. Pada proses penglihatan berkas cahaya yang bersifat divergen harus dibelokkan untuk difokuskan ke sebuah titik di retina untuk menghasilkan suatu bayangan akurat mengenai sumber cahaya.1

Pembelokan berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika berkas berpindah dari satu medium ke medium lainnya dengan kepadatan yang berbeda.1 Berkas cahaya akan mengalami pembelokan jika mengenai permukan medium lainnya kecuali dalam keadaan tegak lurus.2 Dua faktor berperan dalam derajat refraksi : (1) Rasio indeks bias dari kedua medium, (2) Sudut jatuhnya berkas cahaya di medium kedua.1.2 Suatu lensa dengan permukaan konveks (cembung) menyebabkan konvergensi berkas cahaya, sehingga permukaan refraktif mata bersifat konveks. Lensa dengan permukaan

11

konkaf

(cekung) menyebabkan divergensi, sehingga lensa konkaf berguna untuk

memperbaiki kesalahan refraktif mata tertentu, misalnya penglihatan dekat.1

Dua struktur utama dalam refraktif mata adalah kornea dan lensa.2 Permukaan kornea yang melengkung berperan paling besar dalam kemampuan refraktif total mata. 1 Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap konstan karena kelengkungan kornea tidak pernah berubah, sebaliknya kemampuan refraksi lensa dapat disesuaikan dengan mengubah kelengkungannya sesuai untuk melihat dekat atau jauh.1,3 Mekanisme Akomodasi Proses meningkatnya kelengkungan lensa disebut akomodasi.3 Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris.1 Ketika otot siliaris melemas, ligamentum suspensorium tegang dan menarik lensa, sehingga lensa berbentuk gepeng.1,3 Ketika berkontraksi, garis tengah otot ini berkurang dan tegangan di ligamentum suspensorium mengendur dan lensa meningkat kelengkungannya (semakin cembung).1

Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi otot siliaris akan berkontraksi sehingga lensa menjadi lebih cembung pada penglihatan dekat.3 Otot siliaris dikontrol oleh sistem saraf otonom. Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris pada penglihatan jauh, sementara sistem parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk penglihatan dekat.1 Seiring dengan peningkatan usia, maka akan terjadi penurunan kelenturan lensa yang dikenal dengan presbiopia. Hal ini terjadi karena pada lensa, pergantian sel hanya terjadi pada tepi luar lensa, ssel-sel yang berada di tengah lensa tidak mengalami pergantian 12

sehingga semakin meningkatnya usia akan menyebabkan kekakuan pada lensa. Pada orang presbiopia matanya akan terfokus secara permanen pada suatu jarak yang hampir tidak berubah-ubah. Agar dapat melihat jarak dekat atau jauh dengan jelas, maka harus menggunakan kacamata bifokus, bagian atas untuk penglihatan jauh dan bagian bawah untuk penglihatan dekat.1,2 2.2.3. Kelainan Pembiasan Hiperopia (penglihatan Jauh)1,2 Hiperopia biasanya bisa disebabkan oleh bola mata terlalu pendek atau karena sistem lensa terlalu lemah. Benda-benda jauh terfokus diretina hanya dengan akomodasi, sementara benda-benda dekat difokuskan dibelakang retina walaupun mata sudah berakomodasi sehingga benda terlihat kabur. Penderita hiperopia memiliki penglihatan jauh lebih baik daripada penglihatan dekat, sehingga bisa dikoreksi dengan lensa konveks. Miopia (Penglihatan dekat)1,2 Keadaan ini bisa diakibatkan bola mata yang terlalu panjang atau karena daya bias sistem lensa terlalu kuat. Sumber cahaya dekat dibawa ke fokus tanpa akomodasi (walaupun dalam keadaan normal akomodasi diperlukan untuk penglihatan dekat), Sementara sumber cahaya jauh difokuskan didepan retina dan nampak kabur. Sehingga orang myopia memiliki penglihatan dekat yang lebih baik daripada penglihatan jauh dan dapat dikoreksi dengan lensa konkaf. Astigmatisma2 Astigmatisme atau mata silindris merupakan kelainan pada mata yang disebabkan oleh karena lengkung kornea mata yang tidak merata. Bola mata dalam keadaan normal berbentuk seperti bola sehingga sinar atau bayangan yang masuk dapat ditangkap pada satu titik di retina (area sensitif mata). Pada orang astigmatisme, bola mata berbentuk lonjong seperti telur sehingga sinar atau bayangan yang masuk ke mata sedikit menyebar alias tidak fokus pada retina. Hal ini menyebabkan bayangan yang terlihat akan kabur dan hanya

13

terlihat jelas pada satu titik saja. Disamping itu, bayangan yang agak jauh akan tampak kabur dan bergelombang. Astigmatisma ini dapat dikoreksi dengan lensa silindris. Tajam Penglihatan3 Ketajaman penglihatan adalah fenomena yang kompleks dan dipengaruhi pleh berbagai macam-macam faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor optik (keadaan mekanisme pembentukan bayangan), faktor retina (keadaan sel kerucut), dan faktor rangsang (penerangan, kontras antara rangsang dan latar belakang, dan lama waktu rangsang). Uji ketajaman penglihatan biasanya didefinisikan sebagai jarak pisah minimal, yaitu jarak terpendek yang masih memungkinkan 2 garis terlihat terpisah dan tetap terlihat sebagai 2 garis.3 Secara klinis ketajaman penglihatan sering ditentukan dengan menggunakan hurufhuruf Snellen yang dilihat dari suatu jarak 6 m (20 ft). Hasilnya dinyatakan dalam pecahan. Pembilangnya adalah 20 (jarak orang yang membaca huruf Snellen), penyebutnya adalah jarak terjauh dari huruf-huruf Snellen ( seorang normal dapat membaca garis terkecil yang dapat dibaca orang yang diperiksa). Ketajaman penglihatan normal adalah 20/20, seseorang dengan ketajaman penglihatan 20/15 memiliki penglihatan yang lebih baik daripada normal, dan seseorang yang memiliki ketajaman penglihatan 20/100 memiliki penglihatan yang dibawah normal Cahaya harus melewati beberapa lapisan retina sebelum mencapai fotoreseptor. 10 lapisan retina dapat dilihat dalam gambar di bawah ini;

Fototransduksi oleh selretina mengubah rangsangan cahaya menjadi sinyal saraf. Fototransduksi yaitu mekanisme eksitasi, pada dasarnya sama untuk semua fotoreseptor. Ketika menyerap cahaya, molekul fotopigmen berdisosiasi menjadi komponen retinen dan 14

opsin, dan bagia retinennya mengalami perubahan bentuk yang mencetuskna aktivitas enzimatik opsin. Melalui serangkaian reaksi, perubahan biokimiawi pada fotopigmen yag diinduksi oleh cahaya ini menimbulkan hiperpolarisasi potensial reseptor yang mempengaruhi pengeluaran zat perantara dari terminal sinaps fotoreseptor.

Keterangan gambar di atas; fototrasnduksi dan inisiasi potensial aksi di jalur penglihatan. A) kejadian-kejadian yang terjadi di fotoreseptor sebagai respons terhadap keadaan gelap yang mencegah tercetusnya potensial aksi di jalur penglihatan. B) kejadian-kejadian yang terjadi di 15

fotoreseptor sebagai respons terhadap rangsangan cahaya yang menimbulkan potensial aksi di jalur penglihatan (fototransduksi). Jaras visual dan lapang pandang mata;

2.2.4. Anatomi dan Fisiologi Visual Pathway Secara fungsional rangsang visual ditangkap oleh retina (sebagai stasiun I). kemudian diteruskan melalui serabut saraf otak kedua (saraf optik). Saraf optik yang berasal dan sisi nasal kedua mata akan menyilang di daerah kiasma opikum sedangkan yang berasal dari sisi temporal tidak bersilangan di daerah kiasmaini. Selanjutnya serabut saraf ini akan melanjutkan perjalanannya sebagai traktus optikum. Traktus optikus ini selanjutnya menuju ke thalamus sebagai kumpulan sel-sel saraf yang mengolah dan bertindak sebagai stasiun informasi ke II. Bagian thalamus yang berhubungan dengan fungsi visual disebut Corpus Geniculaturn Laterale (CGL). Stasiun ke II ini bertugas menyampaikan informasi ke korteks serebri bagian oksipital. Dengan sampainya informasi ke korteks penglihatan akan hal-hal yang terlihat oleh mata dapat disadari. Dari stasiun ke II ini informasi visual juga disebarkan

16

ke seluruh SSP yang mempunvai hubungan dengan indera penglihatan ke pusat keseimbangan motorik, medulla spinalis, pendengaran, dan sebagainya.4 Corpus geniculatum laterale ( CGL ) merupakan terminal dan seluruh serabut saraf aferen jaras visual. CGL merupakan bagian dari thalamus. Pada CGL terjadi rotasi 90 dari serabut saraf, sehingga serabut saraf yang berasal dari retina bagian superior akan berada di bagian medial CGL, sedangkan yang berasal dan bagian inferior retina akan berada di bagian lateral. Perputaran akan terjadi lagi serabut meninggalkan CGL sehingga retina bagian superior dan inferior terletak superior dan inferior dalam radiasio optika dan korteks serebri.4 Radiasio optika mengandung 3 kelompok besar serabut yaitu (1) bagian superior (berisi serabut yang mengurus lapangan pandang inferior), (2) bagian inferior (berisi serabut yang mengurus lapang pandang superior), (3) bagian sentral (berisi serabut makula).4 Jadi pada radiasio optika (traktus genikulo-kalkarina) terjadi pemutaran, sehingga posisi serabut penglihatan kembali seperti sebelum memasuki CGL yaitu bagian atas retina berjalan dan diproyeksikan di bagian atas korteks serebri dan sebaliknya. Korteks proyeksi penglihatan disebut juga korteks striata (area 17), berada di sepanjang bibir superior dan fissure kalkarina. Ketika impuls sampai di area 17, maka akan terbentuk sensasi visual sederhana. Impuls ini akan rnempunyai arti dan bentuk dengan perantaraan korteks asosiasi area 18 dan 19.4

Perjalanan Serabut Saraf Nervus Optikus 4

17

Otak dan kegiatan-kegiatan yang dikontrolnya. Retina merupakan reseptor permukaan untuk informasi visual. Sebagaimana halnya nervus optikus, retina merupakan bagian dari otak meskipun secara fisik terletak di perifer dari sistem saraf pusat (SSP). Komponen yang paling utama dari retina adalah sel-sel reseptor sensoris atau fotoreseptor dan beberapa jenis neuron dari jaras penglihatan. Lapisan terdalam (neuron pertama) retina mengandung fotoreseptor (sel batang dan sel kerucut) dan dua lapisan yang lebih superfisial mengandung neuron bipolar (lapisan neuron kedua) serta sel-sel ganglion (lapisan neuron ketiga). Sekitar satu juta akson dari sel-sel ganglion ini berjalan pada lapisan serat retina ke papila atau kaput nervus optikus. Pada bagian tengah kaput nervus optikus tersebut keluar cabang-cabang dari arteri centralis retina yang merupakan cabang dari arteri oftalmika.5

18

Lapisan Neuron pada Retina5 Nervus optikus memasuki ruang intrakranial melalui foramen optikum. Di depan tuber sinerium (tangkai hipofisis) nervus optikus kiri dan kanan bergabung menjadi satu berkas membentuk kiasma optikum. Di depan tuber sinerium nervus optikus kanan dan kiri bergabung menjadi satu berkas membentuk kiasma optikum, dimana serabut bagian nasal dari masing-masing mata akan bersilangan dan kemudian menyatu dengan serabut temporal mata yang lain membentuk traktus optikus dan melanjutkan perjalanan untuk ke korpus genikulatum lateral dan kolikulus superior. Kiasma optikum terletak di tengah anterior dari sirkulus Willisi. Serabut saraf yang bersinaps di korpus genikulatum lateral merupakan jaras visual sedangkan serabut saraf yang berakhir di kolikulus superior menghantarkan impuls visual yang membangkitkan refleks opsomatik seperti refleks pupil. Setelah sampai di korpus genikulatum lateral, serabut saraf yang membawa impuls penglihatan akan berlanjut melalui radiatio optika (optic radiation) atau traktus genikulo kalkarina ke korteks penglihatan primer di girus kalkarina. Korteks penglihatan primer tersebut mendapat vaskularisasi dari arteri kalkarina yang merupakan cabang dari arteri serebri posterior. Serabut yang berasal dari bagian medial korpus genikulatum lateral membawa impuls lapang pandang bawah sedangkan serabut yang berasal dari lateral membawa impuls dari lapang pandang atas (gambar 5).5,6

19

Radiatio Optika6 Pada refleks pupil, setelah serabut saraf berlanjut ke arah kolikulus superior, saraf akan berakhir pada nukleus area pretektal. Neuron interkalasi yang berhubungan dengan nukleus Eidinger-Westphal (parasimpatik) dari kedua sisi menyebabkan refleks cahaya menjadi bersifat konsensual. Saraf eferen motorik berasal dari nukleus Eidinger-Westphal dan menyertai nervus okulomotorius (N.III) ke dalam rongga orbita untuk mengkonstriksikan otot sfingter pupil .7,8

Jaras Refleks Pupil 20

2.3 Persepsi Kedalaman Manusia Salah satu bagian penting dalam visualisasi lingkungan maya
[7]

adalah penyediaan

informasi untuk sistem penglihatan. Untuk memahami hal ini,berikut akan dijelaskan mengenai dasar sistem penglihatan manusia dan informasi informasi yang dapat menimbulkan kesan kedalaman. 2.3.1 Dasar Sistem Penglihatan Manusia Sistem penglihatan manusia melibatkan tiga komponen utama yaitu mata, sistem vestibular,dan otak. Ketiga komponen tersebut memegang peranan penting dalam kesetimbangan tubuh, proses penerimaan informasi dan perspektif yang dibutuhkan oleh pikiran manusia. Semua kompnen tersebut dapat dipengaruhi secara fisik dan mental (berdasarkan pengalaman). Dibawah ini merupakan gambaran dasar dari sistem penglihan manusia dan ketiga komponen utamanya.

In fo rm a s i G e r M o u v e m e n t in fo
Sistem Penglihatan Manusia Prinsip dari sistem penglihatan manusia adalah sebagai berikut: Pertama kali mata menerima sinyal dari dunia luar, biasanya diakibatkan adanya cahaya yang masuk melalui lensa mata, kemudian cahaya tersebut dikonversi dari energi menjadi impuls elektrik kecil menuju ke otak. Impuls ini yang akan diinterpretasikan oleh otak. Dalam sistem vestibular terdapat alat pendeteksi kesetimbangan tubuh, sehingga pada saat manusia 21

B ra in

bergarak, alat pendeteksi ini akan mengirimkan informasinya berupa impuls elektrik melalui sistem syaraf menuju otak. Setelah otak menerima informasi berupa impuls elektrik dari mata dan sistem vestibular, kemudian keduanya dibandingkan dengan pengalaman lama. Ketiga informasi ini saling melengkapi satu sama lainnya. Adanya sinyal (impuls elektrik) dan terjadinya konflik akan memunculkan resolusi yang dikenal dengan persepsi. Penjelasan dasar tentang sistem penglihatan dan hubungan kritisnya dengan sistem vestibular mendukung dalam pengembangan sistem lingkungan maya. Ketika terjadi sinkronisasi antara informasi penglihatan dan informasi vestibular, maka otak akan memerintahkan suatu reaksi, misalnya gerakan kesakitan, mengerakan bagian tubuh dan kehilangan keseimbangan. Dalam lingkungan maya, gerakan dan informasi penglihatan harus dapat dikoordinasikan dengan baik. 2.3.2 Depth Cues Dari penjelasan sebelumnya disebutkan bahwa setiap informasi yang diterima oleh sistem penglihatan akan menjadi suatu persepsi bagi pengamat. Sehubungan dengan Tugas Akhir ini, maka informasi yang diterima dapat menimbulkan suatu persepsi kedalaman. Informasi atau cues yang memungkinkan manusia melihat tingkat kedalaman suatu objek yang disebut dengan Depth Cues. Berikut adalah beberapa Depth Cues yang dapat mempengaruhi persepsi pengamat dalam melihat tingkat kedalaman: 1. Bayangan Informasi ini disebabkan karena adanya proyeksi cahaya pada objek sehingga memyebabkan timbulnya bayangan dan efek cahaya. Dengan demkian kesan tiga dimensi (3D) dan tingkat kedalaman pada objek yang dibuat dapat ditampilkan. 2. Perspektif Linier Penggunaan garis parallel digunakan untuk mengkonvergensi suatu jarak, dimana jika objek semakin jauh maka ukuran objek tersebut akan semakin kecil. Teknik perspektif ini sangat berguna dalam menampilkan gambar secara natural. 3. Teksture Informasi ini yang berhubungan dengan lapisan, dan dapat digunakan untuk menunjukkan posisi. Hal ini dapat dilihat apabila seseorang mendekati suatu objek maka teksture pada lapisan objek akan terlihat semakin jelas, demikian juga sebaliknya. 4. Overlapping 22

Jika suatu objek ditutupi oleh objek yang lain, maka dapat dilihat bahwa objek yang menutupi objek lain akan terlihat lebih dekat dengan pengamat. 5. Binocular Depth Cara ini lebih dramatis dalam menampilkan tingkat kedalaman suatu objek, seperti yang disebutkan dalam catatan[9] Wickens etal (1998, p. 100): Stereoscopic Displaymenggunakan Binocular Depth Cues secara signifikan akan meningkatkan performansi. Dalam kondisi natural, mata kanan dan mata kiri manusia terpisah kira kira 65 mm. Akibat dari perbedaan sudut pandang dari masing-masing kedalaman pada gambar. mata memberikan informasi

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Sherwood, Laralee. Fisiologi manusia dari sel ke system. Jakarta; Penerbit Buku

Kedokteran EGC. 2001


2. Guyton AC, Hall CE. Sifat Optik Mata. Dalam : Hall CE, editor. Buku Ajar

Fisiologi Kedokteran. 11th edition Philadelphia: Elsevier Saunders, 2006.p.642-50. 3. Ganong, William F. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed 21. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005; 142-64.
4. American Academy of Ophtalmology Staff. Neuro-Ophtalmology : American

Academy of Ophtalmology staff, editor. Neuro-Ophtalmology. Basic and Clinical Science Course sec. 5. San fransisco The Foundation of American Academy of Ophtalmology, 2009-2010. P 28-31, 128-146. 5. Mardjono Mahar, Neurologi Klinis Dasar. Cetakan ke sepuluh, Dian Rakyat. Jakarta.2004. Hall 116-126.
6. Optic Nerve. Sumber: http://www.thebrain.mcgill.ca/splash/jpg Diakses tanggal 5

Januari 2012. 7. Misbach Jusuf. Neuro-Oftalmologi Pemeriksaan Klinis dan Interpretasi. Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1999. Hall 1-14, 18-23. 8. Guyton AC, Hall JE. Neurofisiologi penglihatan sentral: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi 9. Jakarta 1997. Hall 825.
9. Anonim. Pengertian Persepsi. http://www.infoskripsi.com/Article/Pengertian-

Persepsi2008.html . Diakses pada tanggal 5 Januari 2012. 10. Setia Budi. Persepsi. 2006 .Sumber: http://www.digilib.petra.ac.id//jiunkpe-nss1-2006-32402079-10281-service-chapter2.pdf. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2010. 11. Suratmin, Pengetahuan Dasar Ilmu Penyakit Mata. FK USU, Medan, 2008.

24

LAMPIRAN
25