Anda di halaman 1dari 4

YESUS SANG MESIAS

1. MESIAS
Kata "Mesias" dalam bahasa Ibrani adalah - MASYIAKH dari kata MASYAKH, dan bahasa Arab 'MASIH', artinya "YANG DIURAPI".

Kata ini "Mesias" ditulis - khristos dalam bahasa Yunani, dari kata kerja - khri, "mengurapi". Kata ini adalah merupakan asal-muasal bentuk Indonesia 'Kristus'. Maka, nama "Kristus" adalah persamaan "Mesias" dalam bahasa Yunani, sehingga nama Yesus Kristus sungguh berarti "Yesus Sang Mesias", atau "Yesus yang Diurapi".

3. MESIAS YANG DIJANJIKAN


Ada banyak sekali nubuat tentang Mesias dalam Perjanjian Lama. Misalnya di kitab Yesaya, Mazmur, dan lain-lain. Dalam pemahaman masyarakat Yahudi, mesias yang dijanjikan itu adalah Musa baru, seorang pemimpin besar bangsa Yahudi. Bagi bangsa Yahudi jelas bahwa Mesias itu dikaitkan dengan nasionalisme mereka sendiri. Perlu diketahui juga pada zaman Yesus, negara Israel sudah tidak ada lagi bahkan 10 suku Israel pun hilang. Kerajaan Yehuda/Israel sudah lenyap, oleh panjajahan Babel, Asyur, Makedonia, sampai dengan Romawi pada zaman Yesus. Istilah MESIAS/ ALMASIH/ KRISTUS (artinya : Raja yang diurapi) dipakai sebagai gelar resmi dari tokoh utama yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi, merupakan Juruselamat yang mereka tunggu. Menurut Tanakh Ibrani (Perjanjian Lama), Mesias yang dijanjikan adalah orang yang dipilih Allah, ditetapkan untuk menggenapi suatu tujuan penyelamatan bagi umat Allah, dan menggenapi hukuman terhadap musuhmusuh-Nya. Kepadanya diberikan kuasa untuk memerintah bangsa-bangsa, dan dalam semua tindakannya, yang sesungguhnya bertindak adalah Allah sendiri. Namun dalam pemahaman orang Yahudi, Mesias yang dijanjikan itu, mereka berpikir harusnya sosok Mesias itu akan memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan (Romawi). Mengumpulkan kembali bangsa Israel dari segala penjuru bumi. Memimpin pada penyembahan pada Tuhan Allah yang benar. Membawa era perdamaian. Mendirikan kembali negara Israel.

Jadi bayangan orang Yahudi tentang sosok yang disebut Mesias itu harus seperti Musa dalam kepemimpinannya, secara spiritual dan juga kenegarawanannya. Mesias haruslah menjadi sosok yang lebih besar dari Musa sebagai pembebas, lebih besar dari Daud sebagai raja, lebih besar dari Harun sebagai imam, lebih besar dari Elia sebagai nabi, pendeknya, Mesias adalah manusia super dibanding semua manusia. Memang, kepada Mesias yang dinjanjikan yang tertulis dalam Perjanjian Lama, diberikan kuasa untuk memerintah bangsa-bangsa, dan dalam semua tindakannya, yang sesungguhnya bertindak adalah Allah sendiri. Referensi ayat-ayat dalam Perjanjian Lama sangat banyak sekali. Namun, pengharapan Yahudi berpusat akan didirikannya pemerintahan atau Kerajaan Allah, dan pengharapan ini sering dihubungkan dengan datangnya seorang tokoh yang mewakili Allah untuk menjalankan pemerintahanNya. Tokoh seperti itu tentulah "Raja", yang diurapi oleh Allah dan dari suku Daud. Istilah "Yang Diurapi" biasanya ditetapkan untuk raja, imam, atau nabi, pada zaman antar perjanjian dapat digunakan sebagai istilah tekhnis bagi tokoh yang mewakili Allah yang dinantikan itu.

8. PENUTUP :
Adalah jelas bahwa Yesus mengajar murid-muridNya untuk mempercayai bahwa Dia-lah Mesias atau Kristus yang datang dari Allah. Tapi karena luasnya salah pemahaman mengenai Mesias diantara orang Yahudi (bandingkan dengan Yohanes 6:15), maka Ia melarang keras membicarakan ke-Mesias-an-Nya di muka umum (Markus 9:7-9; Matius 16:20; 17:9). Baru sesudah Ia menyelesaikan misi pelayananNya untuk menderita di kayu salib, Ia mengumumkan secara terbuka perananNya sebagai Raja-Mesias, saat Ia dielu-elukan memasuki Yerusalem (Matius 21:1-11; Markus 11:1-18; Lukas 19:1-48, Yohanes 12:12-50). Dihadapan hakimhakim yang mengadiliNya dengan tegas Ia menyatakan bahwa memang Dia adalah Mesias/Kristus (Matius 26:63-64; Markus 14:61-62; Lukas 22:69-71; 23:2-3), tapi Dia bukan Mesias duniawi seperti yang diharapkan orang Yahudi (Yohanes 18:26). Penting diperhatikan, Yesus tidak mengajarkan bahwa karena Dia adalah Mesias maka Dia adalah Anak Allah. Sebaliknya dasar ajaranNya ialah bahwa Dia adalah Anak Allah dalam arti mutlak (bandingkan dengan Matius 27:43; 11:27; 24:36, Markus 13:32 dst), dan karena Dia adalah Anak Allah maka Dia adalah Mesias yang sesungguhnya, yang diurapi Allah. Pertama-tama yang paling asasi Dia adalah Allah itu sendiri, yang inkarnasi menjadi manusia, dalam keadaan inkarnasi ini Iapun mendapat gelar Anak Allah, yang Tunggal dari Bapa (Yohanes 1:14 ) .

. Nubuat :
Mikha 5:1 1.Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.
Penggenapan :

Mat 2:1-6 1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem 2 dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." 3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. 4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. 5 Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: 6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel." Nubuatan diatas serta penggenapannya ,tidak mungkin merupakan rekayasa manusia. Banyak orang yang mengatakan dan percaya bahwa Alkitab telah diubah dan direkayasa oleh manusia. Namun nubuatan diatas serta penggenapannya merupakan salah satu bukti bahwa nubuatan tentang Mesias tidak direkayasa oleh manusia. Kitab Mikha berada di dalam Perjanjian Lama (PL) yang merupakan bagian dari kitab suci orang yahudi(Yudaisme). jadi disini jelas, tidak mungkin ada rekayasa,: 1.umat Kristiani tidak mungkin bisa merekayasa hal tsb, karena jika umat Kristiani merekayasa nubuatan tsb maka, tentu orang yahudi(Yudaisme) akan memprotes akan hal tsb, karena tidak sesuai dengan kitab suci mereka. 2.orang yahudi (agama yahudi / Yudaisme) tidak mungkin merekayasa hal tsb karena mereka tidak percaya / mengimani bahwa Yesus adalah mesias yg selama ini ditunggutunggu. Dan sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk merekayasa hal tsb. Kemudian mengenai penggenapannya yg ditulis di Mat 2:1-6, juga tidak mungkin direkayasa. 1.mengenai tempat kelahiran Yesus, tidak mungkin umat Kristiani merekayasa agar Yesus lahir di Betlehem sehingga bisa menggenapi nubuatan Nabi Mikha di Perjanjian Lama.

2.Sejarah membuktikan hal tsb. 3.jika Matius merekayasa hal tsb , maka ia tidak mungkin rela mati demi kebohongan yg ia buat sendiri. Dan tentu ia akan mendapat kritik dari orang2 sejamannya yg menjadi saksi2 pada era tsb. Jadi hal ini jelas bukan merupakan rekayasa manusia, melainkan Rencana Allah yang Kekal mengenai Mesias, dimana telah dinubuatkan oleh Nabi Mikha dan digenapi oleh Yesus Kristus.