Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM 1 MIKROBIOLOGI TERAPAN

Di susun oleh : Nama Nim : Wiwik Septiani : 342007055

Kelas/ Semester : A/ V Jurusan Program studi : Pendidikan MIPA : Pendidikan Biologi

Dosen pengasuh : Susi Dewiyeti,S.Si,M.Si

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG 2008/2009

A. PRAKTIKUM KE B. JUDUL

: 1 (satu)

: Pengaruh faktor lingkungan terhadap pertumbuhan bakteri E.coli

C. TUJUAN

: Untuk melihat dan mengamati pengaruh lingkungan atau Ph dan suhu terhadap pertumbuhan bakteri E.coli

D. DASAR TEORI : Mengenal bakteri Escherichia coli Pada umumnya jika kita mendengar kata bakteri, yang langsung terbayang adalah makhluk amat kecil yang berbahaya karena menyebabkan berbagai penyakit. Bakteri Escherichia coli adalah salah jenis bakteri yang sering dibicarakan. Cukup banyak masyarakat yang tahu E. coli namun hanya sebatas bakteri ini adalah penyebab infeksi saluran pencernaan. Namun banyak sebenarnya yang patut diketahui dari bakteri ini.

E. coli merupakan bakteri berbentuk batang dengan panjang sekitar 2 micrometer dan diamater 0.5 micrometer. Volume sel E. coli berkisar 0,6-0,7 micrometer kubik. Bakteri ini termasuk umumnya hidup pada rentang 20-400C, optimum pada 370. Kita mungkin banyak yang tidak tahu jika di usus besar manusia terkandung sejumlah E. coli yang berfungsi membusukkan sisa-sisa makanan. Dari sekian ratus strain E. coli yang teridentifikasi, hanya sebagian kecil bersifat pathogen,

misalnya strain O157:H7. Bakteri yang namanya berasal dari sang penemu Theodor Escherich yang menemukannya di tahun 1885 ini merupakan jenis bakteri yang menjadi salah satu tulang punggung dunia bioteknologi. Hampir semua rekayasa genetika di dunia bioteknologi selalu melibatkan E. coli akibat genetikanya yang sederhana dan mudah untuk direkayasa. Riset di E. coli menjadi model untuk aplikasi ke bakteri jenis lainnya. Bakteri ini juga merupakan media cloning yang paling sering dipakai. Teknik recombinant DNA tidak akan ada tanpa bantuan bakteri ini. Banyak industri kimia mengaplikasikan teknologi fermentasi yang memanfaatkan E. coli. Misalnya dalam produksi obat-obatan (insulin, antiobiotik), high value chemicals (1-3 propanediol, lactate). Secara teoritis, ribuan jenis produk kimia bisa dihasilkan oleh bakteri ini asal genetikanya sudah direkayasa sedemikian rupa guna menghasilkan jenis produk tertentu yang diinginkan. Jika mengingat besarnya peranan ilmu bioteknologi dalam aspek-aspek kehidupan manusia, maka tidak bisa dipungkiri juga betapa besar manfaat E. coli bagi kita.

INOKULASI DAN PEREMAJAAN BIAKAN PADA MEDIUM PADAT DAN CAIR Biakan murni adalah menumbuhkan bakteri dalam suatu biakan yang mana di dalamnya hanya terdapat bakteri yang dibutuhkan tanpa adanya kontaminasi dari mikroba lain. Untuk melakukan hal ini, haruslah di mengerti jenis- jenis nutrien yang disyaratkan bakteri dan juga macam ligkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhan bakteri tersebut (Pelczar, 1986). Biakan murni diperlukan untuk keperluan diagnostik, karakterisasi

mikroorganisme, industri farmasi dan kegiatan lainnya. Untuk memperoleh biakan murni diperlukan teknik kerja aseptis untuk mencegah terjadinya kontaminasi dengan biakan yang mungkin bersifat pathogen.

Inokulasi adalah menanam inokula secara aseptis kedalam media steril baik pada media padat maupun media cair. Inokula merupakan bahan yang mengandung mikroba atau biakan mikroba baik dalam keadaan cair maupun padat. Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Media agar merupakan substrat yang sangat baik untuk memisahkan campuran mikroorganisme sehingga masing-masing jenisnya menjadi terpisah-pisah. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Teknik yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme pada media agar memungkin-kan mikroba tumbuh dengan agak berjauhan dari sesamanya, juga memungkinkan setiap selnya berhimpun membentuk koloni.

Escherichia coli Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species : Bacteria : Proteobacteria : Gamma proteobacteria : Enterobacteriales : Enterobacteriaceae : Escherichia : Escherichia coli

Eschericia colli Merupakan gram negatif, habitatnya di lingkungan akuatik, tanah, makanan, air seni, dan tinja, dan bersifat sebagai patogen. Dinding selnya mengandung peptidoglikan dan asam teikhoat, selalu berpasangan membentuk rantai pendek atau

seperti anggur, merupakn gram positif, biasanya ada di kulit dan hidung,dan bersifat sebagai patogen. Plat Agar Warna media sebelum di inkubasi adalah kuning, dan setelah di inkubasi warna media menjadi bening dan terdapat koloni bakteri Staphilococcus aureus berwarna putih. Perubahan warna yang terjadi pada media disebabkan karena bakteri telah menyerap nutrisi dari media. Pertumbuhan bakteri terjadi dalam inkubator pada suhu konstan 370C karena itu merupakan suhu optimum untuk pertumbuhan bakteri. Agar miring Warna media sebelum di inkubasi adalah kuning, dan setelah di inkubasi warna media menjadi kuning pudar dan terdapat koloni bakteri Staphilococcus aureus berwarna putih mengikuti arah goresan dan tersebar di bagian ujung. Perubahan warna yang terjadi pada media disebabkan karena bakteri telah menyerap nutrisi dari media. Pertumbuhan bakteri lebih banyak terlihat pada awal goresan dan hanya sedikit pertumbuhan pada akhir goresan. Agar Tegak Warna media sebelum di inkubasi adalah kuning, dan setelah di inkubasi warna media menjadi kuning pudar dan terdapat koloni bakteri Staphilococcus aureus berwarna putih, terdapat gelembung dipermukaan. Hal ini menandakan bahwa bakteri tersebut bersifat aerob. Pada bekas tusukan terdapat bakteri. Hal ini menunjukan bakteri bersifat aerob fakultatif. Perubahan warna yang terjadi pada media

disebabkan karena bakteri telah menyerap nutrisi dari media. Pertumbuhan bakteri lebih banyak terlihat pada awal goresan dan hanya sedikit pertumbuhan pada akhir goresan.

Media Cair Warna media sebelum di inkubasi adalah larutan agak keruh, dan setelah di inkubasi warna media sedikit keruh dan terdapat endapan putih di dasar tabung. Hal ini menunjukan bahwa bakteri bersifat anaerob fakultatif. Endapan putih ini merupakan koloni bakteri yang terjadi kerena bakteri telah menyerap nutrisi yang ada pada media sehingga larutan berkurang kekeruhannya. Agar terjadi suatu pertumbuhan mikroorganisme pada media maka dibutuhkan suatu kombinasi nutrien serta lingkungan fisik yang sesuai diantaranya : Faktor lingkungan : a. pengaruh suhu terhadap pertumbuhan mikroorganisme b. pengaruh tekanan osmotik terhadap pertumbuhan mikroorganisme c. pengaruh sinar ultraviolet tehadap pertumbuhan mikroorganisme d. pengaruh pH terhadap pertumbuhan mikroorganisme Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan mikroorganisme Berdasarkan suhu optimum untuk pertumbuhan maka dapat dikelompokan menjadi 3 yaitu : 1. psikrofilik(0-200C), 2. mesofilik Mesofilik (20-300C), 3. termofilik (50-1000C). Suhu merupakan faktor lingkungan yang sangat menentukan kehidupan

mikroorganisme, pengaruh suhu berhubungan dengan aktivitas enzim.

Pengaruh tekanan osmotik terhadap pertumbuhan mikroorganisme Keberadaan mikroorganisma dilingkungan dapat dipengaruhi kepekatan suspensi/cairan di lingkungan. Bila kepekatan suspensi di lingkungan tinggi maka isi sel akan ke luar. Sebaliknya kepekatan suspensi di lingkungan rendah maka akan

terjadi pergerakan massa cair ke dalam sel. Suhu rendah menyebabkan aktiivtas enzim menurun dan jika suhu terlalu tinggi dapat mendenaturasi protein enzim.

Pengaruh sinar ultraviolet terhadap pertumbuhan mikroorganisme Sinar UV panjang gelombang 210-300 nm dapat membunuh mikroorganisme jika dipaparkan. Komponen seluler yang dapat menyerap sinar UV adalah asam nukleat sehingga dapat rusak dan menyebabkan kematian.

Pengaruh pH terhadap pertumbuhan mikroorgansime pH berpengaruh terhadap sel dengan mempengaruhi metabolisme, pada umumnya bakteri tumbuh dengan baik pada pH netral (7,0). Berdasarkan nilai pH yang dibutuhkan untuk kehidupannya dikenal 3 kelompok mikroorganisme yaitu : 1. 2. 3. Acidofilik, Mesofilik/Neutrofilik Basofilik

Daya Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea Indica Less) Terhadap Escherichia Coli Secara In Vitro Pendahuluan Kebutuhan konsumsi protein masyarakat yang berasal dari ternak unggas yaitu produktelur dan daging mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan

bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Pelaksanaan usaha pengembangan ternak unggas, peternak banyakdihadapkan pada berbagai kendala. Satu di antara berbagai kendala itu adalah faktor penyakit. Penyakit infeksi bakteri yang ditemukan pada unggas salah satunya yaitu kolibasillosis. Kolibasillosis disebabkan oleh bakteri

Escherichia coli. Pada unggas penyakit ini dapat menyebabkan infeksi saluran reproduksi, airsacculitis, omphalitis, perikarditis, dan perihepatitis fibrinosa

(Rudyanto, 2004). Infeksi ini dapat menimbulkan kematian, pertumbuhan terlambat, dan penurunan produksi telur sehingga menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak. Pemakaian antibiotika yang tidak tepat untuk pengobatan infeksi bakteri memunculkan berbagai masalah setelah puluhan tahun pemakaiannya yaitu menimbulkan bakteri yang resisten terhadap antibiotika (Muwarni, 2003). Keamanan bahan makanan sehubungan dengan residu antibiotika merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di berbagai negara. Sumber residu antibiotika yang berasal dari pengobatan penyakit atau penggunaan antibiotika dosis rendah pada unggas dapat menimbulkan resistensi antibiotika pada manusia karena penggunaan antibiotika yang tidak tepat dan berlebihan (Anto, 2003).

Sejauh ini tanaman obat tradisional telah lama digunakan pada manusia, tetapi pemanfaatan tanaman obat tradisional pada hewan belum seluas dan sepopuler penggunaannya pada manusia. Menurut Muwarni (2003) tanaman obat tradisional dapat berfungsi sebagai feed aditif alami untuk memperbaiki tampilan produksi ternak, mencegah serangan penyakit dan mengurangi dampak lingkungan. Peluang pengembangan tanaman obat tradisional masih terbuka lebar guna membantu mengurangi ketergantungan Indonesia akan bahan baku pembuatan obat-obatan yang hingga kini masih didatangkan dari luar negeri. Salah satu tanaman yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu, yaitu tanaman beluntas (Pluchea indica less). Tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman pagar di halaman rumah penduduk. Pada masyarakat daun beluntas secara tradisional berkhasiat sebagai penurun demam (antipiretik),

meningkatkan nafsu makan (stomakik), peluruh keringat (diaforetik), dan penyegar (Dalimartha, 1999). Sifat antimikroba daun beluntas telah dilaporkan oleh Purnomo (2001) dan Sumitro (2002). Berkhasiatnya daun beluntas diduga diperoleh dari beberapa kandungan kimia seperti alkaloid, minyak atsiri, dan flavonoid (Hariana, 2006). Menindaklanjuti saran pada penelitian terdahulu bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang daya antibakteri daun beluntas terhadap bakteri selain Staphylococcus aureus misalnya bakteri Gram negatif (Sumitro, 2001). Pada penelitian ini penulis mencoba meneliti daya antibakteri ekstrak etanol daun beluntas terhadap bakteri Escherichia coli secara in vitro. Penggunaan pelarut etanol dalam pembuatan ekstrak daun pada penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi semua senyawa yang berbobot molekul rendah (Harborne, 1987). Metode penelitian Daun beluntas yang dipetik saat berbunga didapat di wilayah Ketintang, aquades steril, Escherichia coli ATCC 25922, media Eosin Metylen Blue Agar (EMBA) sebagai media isolasi dan identifikasi. Daun beluntas dicuci bersih lalu diangin-anginkan selama 1-2 hari pada tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung (Harborne, 1987). Kemudian diblender sehingga menjadi serbuk sebanyak 300 gram dan direndam selama tiga hari dalam pelarut etanol 96%. Penyarian dilakukan sebanyak 3 kali pada filtrat. Ekstrak yang didapatkan diuapkan dalam penguap putar (Rotary Vacuum Evaporator) pada suhu 30oC 40oC (Harborne, 1987). Ekstrak etanol daun beluntas diencerkan dengan aquades steril sehingga diperoleh konsentrasi 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,13%, 1,56%, 0,76%, 0,39%, 0,19%. Kemudian ditambahkan suspensi bakteri menurut standar Mc Farland No 1 masing-masing sebanyak 1 mililiter pada seluruh tabung.

Setelah itu seluruh tabung diinkubasi 37oC selama 24 jam. Penentuan Minimum

Bactericidal Concentration (MBC) dapat dilakukan setelah menginokulasikan larutan dari kedua tabung Minimum Inhibitory Concentration (MIC) terjernih pada media Eosin Methylen Blue Agar (EMBA), kemudian diinkubasi 37oC selama 24 jam. (Lennette, et al.,1974). Hasil Hasil penelitian mengenai daya antibakteri ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indicaless) terhadap Escherichia coli dilakukan dengan metode dilusi yaitu penentuan hasil Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Minimum Bactericidal Concentration (MBC) ekstrak etanol daun beluntas dapat ditentukan setelah menginokulasikan larutan ekstrak etanol daun beluntas dari dua tabung Minimum Inhibitory Concentration (MIC) terjernih yaitu konsentrasi 50% dan 25% pada media EMBA. Hasil MBC dapat dilihat pada Tabel 4.1 di bawah ini : Tabel hasil MBC ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica less) di atas kemudian dianalisis menggunakan Khi-kuadrat dengan hasil perhitungan X2 lebih kecil dari X2 tabel dengan tingkat signifikan 0,05. Ini menunjukkan bahwa pada konsentrasi 50% dan 25% ekstrak etanol daun beluntas tidak memberikan perbedaan nyata terhadap pertumbuhan Escherichia coli secara in vitro. MBC ekstrak etanol daun beluntas terhadap pertumbuhan Escherichia coli secara in vitro yang digunakan adalah konsentrasi 25%. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian tentang daya antibakteri ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica less) dapat diketahui bahwa Minimum Bactericidal Concentration (MBC) konsentrasi 25% dan 50% ekstrak etanol daun beluntas tidak

memberikan perbedaan nyata terhadap pertumbuhan Escherichia coli secara in vitro. Minimum Bactericidal Concentration (MBC) ekstrak etanol daun beluntas yang digunakan terhadap pertumbuhan Escherichia coli adalah konsentrasi 25%. Minimum Bactericidal Concentration (MBC) ekstrak etanol daun beluntas kemungkinan dapat diatas konsentrasi 25% akan tetapi karena rentang konsentrasi pengenceran yang digunakan terlalu besar maka Minimum Bactericidal Concentration (MBC) konsentrasi 25% dan 50% ekstrak etanol daun beluntas tidak tampak nyata. Supaya Minimum Bactericidal Concentration (MBC) lebih tepat rentang konsentrasi pengenceran yang dipergunakan diperkecil misalnya dengan jarak antar konsentrasi sehingga berkisar 5% dan 10%. Hariana (2006) menyatakan bahwa di dalam daun beluntas (Pluchea indica less) mengandung beberapa kandungan kimia yaitu alkaloid, minyak atsiri, dan flavonoid. Menurut Purnomo (2001) flavonoid dalam daun beluntas memiliki aktifitas antibakteri terhadap Staphylococcus sp, Propionobacterium sp dan Corynebacterium. Di dalam flavonoid mengandung suatu senyawa fenol. Fenol merupakan suatu alkohol yang bersifat asam sehingga disebut juga asam karbolat. Pertumbuhan bakteri Escherichia coli dapat terganggu disebabkan adanya suatu senyawa fenol yang terkandung dalam ekstrak etanol daunbeluntas. Kondisi asam oleh adanya fenol dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri Esherichia coli. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri antara lain zat makanan, konsentrasi ion hidrogen (pH), suhu, dan penganginan (Jawetz etal., 1996). Pada pH rendah merupakan salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme penghasil asam tetapi tidak toleran terhadap asam seperti laktobasillus,

enterobacteriaceae, dan beberapa pseudomonas (Schlegel, 1993).

Bakteri Esherichia coli merupakan bakteri Gram negatif tahan hidup dalam media yang kekurangan zat gizi (Rahayu, 2000). Susunan dinding sel bakteri Gram negatif memiliki struktur dinding sel yang lebih komplek daripada sel bakteri Gram positif. Bakteri Gram negatif mengandung sejumlah besar lipoprotein,

lipopolisakarida, dan lemak (Schlegel,1993). Adanya lapisan-lapisan tersebut mempengaruhi aktivitas kerja dari zat antibakteri. Terdapatnya lapisan protein pada permukaan bakteri menyebabkan zat antibakteri kesulitan melakukan penetrasi ke dalam sel bakteri Escherichia coli. Pertumbuhan sel bakteri dapat terganggu oleh komponen fenol atau alkohol dari ekstrak etanol daun beluntas. Fenol memiliki kemampuan untuk mendenaturasikan protein dan merusak membran sel (Rahayu, 2000). Fenol berikatan dengan protein melalui ikatan hidrogen sehingga mengakibatkan struktur protein menjadi rusak. Sebagian besar struktur dinding sel dan membran sitoplasma bakteri mengandung protein dan lemak. Ketidakstabilan pada dinding sel dan membran sitoplasma bakteri menyebabkan fungsi permeabilitas selektif, fungsi pengangkutan aktif, pengendalian susunan protein dari sel bakteri menjadi terganggu. Gangguan integritas sitoplasma berakibat pada lolosnyamakromolekul, dan ion dari sel. Sel bakteri menjadi kehilangan bentuknya, dan terjadilah lisis. Persenyawaan fenolat bersifat bakteriostatik atau bakterisid tergantung dari konsentrasinya (Pelczar dan Chan, 1988). Kematian sel bakteri berarti hilangnya kemampuan bakteri secara permanen untuk bereproduksi (tumbuh dan membelah). Pada media Eosin Methylen Blue Agar (EMBA) yang tidak ditemukan pertumbuhan koloni bakteri Escherichia coli menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun beluntas dapat bersifat bakterisidal.

Kandungan minyak atsiri dari daun beluntas mengandung benzil alkohol, benzil asetat, eugenol dan linolol (Rasmehuli, 1986). Menurut Hasballah, dkk (2005) kandungan minyak atsiri daun sirih terbukti menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies pada gigi. Cara kerja dari minyak atsiri itu sendiri sebagai antibakteri hingga kini belum begitu jelas diketahui. Kemungkinan aktifitas antibakteri ekstrak etanol daun beluntas didapatkan dari kandungan benzil alkohol yang merupakan suatu turunan alkohol. Cara kerja dari benzil alkohol hampir sama dengan alkohol. Alkohol memiliki sifat pelarut lemak yang mendenaturasikan protein secara dehidrasi sehingga membran sel akan rusak dan terjadi inaktivasi enzim-enzim (Binarupa Aksara, 1993). Eugenol merupakan salah satu turunan fenol. Cara kerja dari eugenol hampir sama dengan fenol itu sendiri. Kerusakan struktur protein oleh sejumlah unsur fisik dan kimiawi dapat menyebabkan kematian sel. Zat- zat yang terkonsentrasi pada permukaan sel mungkin dapat mengubah sifat fisik dan kimiawi dinding sel, serta menghalangi fungsi normal dinding sel sebagai penghalang yang selektif dan dengan demikian dapat mengakibatkan kematian sel bakteri (Jawetz etal.,1996). Kesimpulan 1.Ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica less) dapat membunuh Escherichia coli secara in vitro. 2.Daya bunuh minimal konsentrasi 50% dan 25% ekstrak etanol daun beluntas tidak memberikan perbedaan nyata terhadap pertumbuhan Escherichia coli secara in vitro.

3.Minimum Bactericidal Concentration (MBC) konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas yang digunakan adalah konsentrasi 25%.

FAKTOR LINGKUNGAN BAGI PERTUMBUHAN MIKROBA Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia), dan faktor biotik. A. FAKTOR ABIOTIK Suhu

a. Suhu pertumbuhan mikroba Pertumbuhan mikroba memerlukan kisaran suhu tertentu. Kisaran suhu pertumbuhan dibagi menjadi suhu minimum, suhu optimum, dan suhu maksimum. Suhu minimum adalah suhu terendah tetapi mikroba masih dapat hidup. Suhu optimum adalah suhu paling baik untuk pertumbuhan mikroba. Suhu maksimum adalah suhu tertinggi untuk kehidupan mikroba. Berdasarkan kisaran suhu pertumbuhannya, mikroba dapat dikelompokkan menjadi mikroba psikrofil (kriofil), mesofil, dan termofil. Psikrofil adalah kelompok mikroba yang dapat tumbuh pada suhu 0-300C dengan suhu optimum sekitar 15 0C. Mesofil adalah kelompok mikroba pada umumnya, mempunyai suhu minimum 15 0C suhu optimum 25-370C dan suhu maksimum 45-550C. Mikroba yang tahan hidup pada suhu tinggi dikelompokkan dalam mikroba termofil. Mikroba ini mempunyai membran sel yang mengandung lipida jenuh,

sehingga titik didihnya tinggi. Selain itu dapat memproduksi protein termasuk enzim yang tidak terdenaturasi pada suhu tinggi. Di dalam DNA-nya mengandung guanin dan sitosin dalam jumlah yang relatif besar, sehingga molekul DNA tetap stabil pada suhu tinggi. Kelompok ini mempunyai suhu minimum 400C, optimum pada suhu 55600C dan suhu maksimum untuk pertumbuhannya 750C. Untuk mikroba yang tidak tumbuh dibawah suhu 300C dan mempunyai suhu pertumbuhan optimum pada 600C, dikelompokkan kedalam mikroba termofil obligat. Untuk mikroba termofil yang dapat tumbuh dibawah suhu 300C, dimasukkan kelompok mikroba termofil fakultatif. Grafik pertumbuhan mikroba pada berbagai kisaran suhu pertumbuhan

Bakteri yang hidup di dalam tanah dan air, umumnya bersifat mesofil, tetapi ada juga yang dapat hidup diatas 500C (termotoleran). Contoh bakteri termotoleran adalah Methylococcus capsulatus. Contoh bakteri termofil adalah Bacillus, Clostridium, Sulfolobus, dan bakteri pereduksi sulfat/sulfur. Bakteri yang hidup di laut (fototrof) dan bakteri besi (Gallionella) termasuk bakteri psikrofil. b. Suhu tinggi Apabila mikroba dihadapkan pada suhu tinggi diatas suhu maksimum, akan memberikan beberapa macam reaksi. (1) Titik kematian thermal, adalah suhu yang dapat memetikan spesies mikroba dalam waktu 10 menit pada kondisi tertentu. (2) Waktu kematian thermal, adalah waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu spesies mikroba pada suatu suhu yang tetap. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian thermal ialah waktu, suhu, kelembaban, spora, umur mikroba, pH dan komposisi medium. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis Spora Clostridium botulinum Waktu (menit) 20-30 19 20-50 100-330 Suhu ( oC) 57 60 100 100

c. Suhu rendah Apabila mikroba dihadapkan pada suhu rendah dapat menyebabkan gangguan Metabolisme. Akibat-akibatnya adalah (1) Cold shock , adalah penurunan suhu yang tiba-tiba menyebabkan kematian bakteri, terutama pada bakteri muda atau pada fase logaritmik,

(2) Pembekuan (freezing), adalah rusaknya sel dengan adanya kristal es di dalam air intraseluler, (3) Lyofilisasi , adalah proses pendinginan dibawah titik beku dalam keadaan vakum secara bertingkat. Proses ini dapat digunakan untukmengawetkan mikroba karena air protoplasma langsung diuapkan tanpa melalui fase cair (sublimasi).

Kandungan air (pengeringan) Setiap mikroba memerlukan kandungan air bebas tertentu untuk hidupnya,

biasanya diukur dengan parameter aw (water activity) atau kelembaban relatif. Mikroba umumnya dapat tumbuh pada a w 0,998-0,6. Bakteri umumnya memerlukan aw 0,90-0,999. Mikroba yang osmotoleran dapat hidup pada aw terendah (0,6) misalnya khamir Saccharomyces rouxii. Aspergillus glaucus dan jamur benang lain dapat tumbuh pada aw 0,8. Bakteri umumnya memerlukan aw atau kelembaban tinggi lebih dari 0,98, tetapi bakteri halofil hanya memerlukan aw 0,75. Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora, konidia atau dapat membentuk kista.

Tabel berikut ini memuat daftar aw yang diperlukan oleh beberapa jenis bakteri dan jamur : Nilai aw Bakteri Jamur

1,00 0,90 0,85 0,80 0,75 0,60 Tekanan osmosis

Caulobacter Spirillum Lactobacilus Bacillus Staphylococcus Halobacterium Fusarium Mucor Debaromyces Penicillium Aspergillus Xeromyces

Tekanan osmosis sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis, maka selnya akan mengalami plasmolisis, yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis, maka sel

mikroba akan mengalami plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel, sel membengkak dan akhirnya pecah. Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi (1) mikroba osmofil, adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi, (2) mikroba halofil, adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi, (3) mikroba halodurik, adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi, kadar garamnya dapat mencapai 30%. Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir. Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % wt/wt (aw = 0,94). Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium, misalnya Halobacterium. Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi, umumnya mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya. Bakteri halofil ada yang

mempunyai membran purple bilayer, dinding selnya terdiri dari murein, sehingga tahan terhadap ion Natrium.

Ion-ion dan listrik

a. Kadar ion hidrogen (pH) Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin). Contohnya adalah bakteri nitrat, rhizobia, actinomycetes, dan bakteri pengguna urea. Hanya beberapa bakteri yang bersifat toleran terhadap kemasaman, misalnya Lactobacilli, Acetobacter, dan Sarcina ventriculi. Bakteri yang bersifat asidofil misalnya Thiobacillus. Jamur umumnya dapat hidup pada kisaran pH rendah. Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur, tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. Berdasarkan pH-nya mikroba dapat

dikelompokkan menjadi 3 yaitu (a) mikroba asidofil, adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 2,0-5,0, (b) mikroba mesofil (neutrofil), adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5-8,0, dan (c) mikroba alkalifil, adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 8,4-9,5.

Contoh pH minimum, optimum, dan maksimum untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba minimum pH optimum maksimum

Escherichia coli Proteus vulgaris Enterobacter aerogenes Pseudomonas aeruginosa Clostridium sporogenes Nitrosomonas spp Nitrobacter spp Thiobacillus Thiooxidans Lactobacillus acidophilus b. Buffer

4,4 4,4 4,4 5,6 5,0-5,8 7,0-7,6 6,6 1,0 4,0-4,6

6,0-7,0 6,0-7,0 6,0-7,0 6,6-7,0 6,0-7,6 8,0-8,8 7,6-8,6 2,0-2,8 5,8-6,6

9,0 8,4 9,0 8,0 8,5-9,0 9,4 10,0 4,0-6,0 6,8

Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH yang konstan, terutama pada mikroba yang dapat menghasilkan asam. Misalnya

Enterobacteriaceae dan beberapa Pseudomonadaceae. Oleh karenanya ke dalam medium diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan. Buffer merupakan campuran garam mono dan dibasik, maupun senyawa-senyawa organik amfoter. Sebagai contoh adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7,2. Cara kerja buffer adalah garam dibasik akan mengadsorbsi ion H+ dan garam monobasik akan bereaksi dengan ion OH-. c. Ion-ion lain Logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, dan Pb pada kadar rendah dapat bersifat meracun (toksis). Logam berat mempunyai daya oligodinamik, yaitu daya bunuh logam berat pada kadar rendah. Selain logam berat, ada ion-ion lain yang dapat mempengaruhi kegiatan fisiologi mikroba, yaitu ion sulfat, tartrat, klorida, nitrat, dan benzoat. Ion-ion tersebut dapat mengurangi pertumbuhan mikroba tertentu. Oleh karena itu sering digunakan untuk mengawetkan suatu bahan, misalnya digunakan

dalam pengawetan makanan. Ada senyawa lain yang juga mempengaruhi fisiologi mikroba, misalnya asam benzoat, asam asetat, dan asam sorbat. d. Listrik Listrik dapat mengakibatkan terjadinya elektrolisis bahan penyusun medium pertumbuhan. Selain itu arus listrik dapat menghasilkan panas yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Sel mikroba dalam suspensi akan mengalami elektroforesis apabila dilalui arus listrik. Arus listrik tegangan tinggi yang melalui suatu cairan akan menyebabkan terjadinya shock karena tekanan hidrolik listrik. Kematian mikroba akibat shock terutama disebabkan oleh oksidasi. Adanya radikal ion dari ionisasi radiasi dan terbentuknya ion logam dari elektroda juga menyebabkan kematian mikroba. e. Radiasi Radiasi menyebabkan ionisasi molekul-molekul di dalam protoplasma. Cahaya umumnya dapat merusak mikroba yang tidak mempunyai pigmen fotosintesis. Cahaya mempunyai pengaruh germisida, terutama cahaya bergelombang pendek dan bergelombang panjang. Pengaruh germisida dari sinar bergelombang panjang disebabkan oleh panas yang ditimbulkannya, misalnya sinar inframerah. Sinar x (0,005-1,0 Ao ), sinar ultra violet (4000-2950 Ao ), dan sinar radiasi lain dapat membunuh mikroba. Apabila tingkat iradiasi yang diterima sel mikroba rendah, maka dapat menyebabkan terjadinya mutasi pada mikroba.

f. Tegangan muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan tersebut menyerupai membran yang elastis. Seperti telah diketahui protoplasma mikroba terdapat di dalam sel yang dilindungi dinding sel, maka apabila ada perubahan

tegangan muka dinding sel akan mempengaruhi pula permukaan protoplasma. Akibat selanjutnya dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba dan bentuk morfologinya. Zat-zat seperti sabun, deterjen, dan zat-zat pembasah (surfaktan) seperti Tween80 dan Triton A20 dapat mengurangi tegangan muka cairan/larutan. Umumnya mikroba cocok pada tegangan muka yang relatif tinggi. g. Tekanan hidrostatik Tekanan hidrostatik mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan mikroba. Umumnya tekanan 1-400 atm tidak mempengaruhi atau hanya sedikit mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan mikroba. Tekanan hidrostatik yang lebih tinggi lagi dapat menghambat atau menghentikan pertumbuhan, oleh karena tekanan hidrostatik tinggi dapat menghambat sintesis RNA, DNA, dan protein, serta mengganggu fungsi transport membran sel maupun mengurangi aktivitas berbagai macam

enzim.Tekanan diatas 100.000 pound/inchi2 menyebabkan denaturasi protein. Akan tetapi ada mikroba yang tahan hidup pada tekanan tinggi (mikroba barotoleran), dan ada mikroba yang tumbuh optimal pada tekanan tinggi sampai 16.000 pound/ inchi 2 (barofil). Mikroba yang hidup di laut dalam umumnya adalah barofilik atau barotoleran. Sebagai contoh adalah bakteri Spirillum.

h. Getaran Getaran mekanik dapat merusakkan dinding sel dan membran sel mikroba. Oleh karena itu getaran mekanik banyak dipakai untuk memperoleh ekstrak sel mikroba. Isi sel dapat diperoleh dengan cara menggerus sel-sel dengan menggunakan abrasive atau dengan cara pembekuan kemudian dicairkan berulang kali. Getaran suara 10010.000 x/detik juga dapat digunakan untuk memecah sel.

B. FAKTOR BIOTIK

Di alam jarang sekali ditemukan mikroba yang hidup sebagai biakan murni, tetapi selalu berada dalam asosiasi dengan jasad-jasad lain. Antar jasad dalam satu populasi atau antar populasi jasad yang satu dengan yang lain saling berinteraksi.

1. Interaksi dalam satu populasi mikroba Interaksi antar jasad dalam satu populasi yang sama ada dua macam, yaitu interaksi positif maupun negatif. Interaksi positif menyebabkan meningkatnya kecepatan pertumbuhan sebagai efek sampingnya. Meningkatnya kepadatan populasi, secara teoritis meningkatkan kecepatan pertumbuhan. Interaksi positif disebut juga kooperasi. Sebagai contoh adalah pertumbuhan satu sel mikroba menjadi koloni atau pertumbuhan pada fase lag (fase adaptasi). Interaksi negatif menyebabkan turunnya kecepatan pertumbuhan dengan meningkatnya kepadatan populasi. Misalnya populasi mikroba yang ditumbuhkan dalam substrat terbatas, atau adanya produk metabolik yang meracun. Interaksi negatif disebut juga kompetisi. Sebagai contoh jamur Fusarium dan Verticillium pada tanah sawah, dapat menghasilkan asam lemak dan H2S yang bersifat meracun.

2. Interaksi antar berbagai macam populasi mikroba Apabila dua populasi yang berbeda berasosiasi, maka akan timbul berbagai macam interaksi. Interaksi tersebut menimbulkan pengaruh positif, negatif, ataupun tidak ada pengaruh antar populasi mikroba yang satu dengan yang lain.

Nama masing-masing interaksi adalah sebagai berikut: Nama Interaksi Netralisme Komensalisme Pengaruh interaksi Populasi A Populasi B 0 0 0 +

Sinergisme (protokooperasi) Mutualisme (simbiosis) Kompetisi Amensalisme (antagonisme) Predasi

+ + + + +

+ + -

Parasitisme Keterangan: 0: tidak berpengaruh, +: pengaruh positif, -: pengaruh negatif a. Netralisme Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling

mempengaruhi. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi yang sangat rendah atau secara fisik dipisahkan dalam mikrohabitat, serta populasi yang keluar dari habitat alamiahnya. Sebagai contoh interaksi antara mikroba allocthonous

(nonindigenous) dengan mikroba autochthonous (indigenous), dan antar mikroba nonindigenous di atmosfer yang kepadatan populasinya sangat rendah. Netralisme juga terjadi pada keadaan mikroba tidak aktif, misal dalam keadaan kering beku, atau fase istirahat (spora, kista). b. Komensalisme Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu populasi diuntungkan tetapi populasi lain tidak terpengaruh. Contohnya adalah: - Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan ekskresi sistein. Sistein dapat digunakan oleh Legionella pneumophila. Desulfovibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi anaerobic

Methanobacterium. c. Sinergisme

Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk dapat melakukan perubahan kimia tertentu di dalam substrat. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih dalam keperluan nutrisi bersama, maka disebut sintropisme. Sintropisme sangat penting dalam peruraian bahan organik tanah, atau proses pembersihan air secara alami. Contoh sinergisme: Streptococcus faecalis dan Escherichia coli E. coli Arginine S. faecalis Ornithine E. coli Putrescine Agmatine

Contoh sintropisme:

Senyawa A Populasi mikroba 1

Senyawa B Populasi mikroba 2

Senyawa C Populasi mikroba 3

Energi dan hasil akhir d. Mutualisme (Simbiosis) Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang keduanya saling tergantung dan sama-sama mendapat keuntungan. Mutualisme sering disebut juga simbiosis. Simbiosis bersifat sangat spesifik (khusus) dan salah satu populasi anggota simbiosis tidak dapat digantikan tempatnya oleh spesies lain yang mirip.

Contohnya adalah Bakteri Rhizobium sp. yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-kacangan. Contoh lain adalah Lichenes (Lichens), yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria dengan fungi. Algae (phycobiont) sebagai produser yang dapat menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan senyawa organik. Senyawa organic dapat digunakan oleh fungi (mycobiont), dan fungi memberikan bentuk perlindungan (selubung) dan transport nutrien / mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk algae.

E. PELAKSANAAN PRAKTIKUM :

1. Waktu dan tempat : Waktu Tempat : hari jumat tanggal 23 Oktober 2009. Jam 13.00 WIB. : Laboratorium Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang.

2. Alat dan bahan : 1.Alat : Tabung reaksi Pipet tetes Gelas ukur Pinset Gelas kimia Kapas Termometer 2. Bahan: Kertas Ph Aquades Asam cuka / cuka makan Batu es KOH 10 % Air panas Alcohol 70 % Suspensi bakteri E.coli Kertas putih Spiritus 3. Cara kerja : a.Perlakuan Ph asam cuka dan KOH Ukur terlebih dahulu Ph asam cuka, KOH,,aquades, catat! Siapkan 3 tabung reaksi , masing-masing tabung reaksi dimasukkan 5-10 ml asam cuka, KOH, aquades secara aseptis, ditabung diberi label nama. Pada tabung reaksi yang telah berisi asam cuka, KOH, dimasukkan 2 tetes bakteri E. coli secara aseptis. Sumbat mulut tabung reaksi dengan kapas kemudian bungkus dengan kertas putih Inkubasi selama 24 jam kemudian amati perubahan yang terjadi pada tabung reaksi (warna dan bau) b.Perlakuan suhu terhadap pertumbuhan E.coli

Siapkan 2 tabung reaksi masing-masing tabung reaksi masing-masing tabung dimasukkan batu es dan air panas 10 ml ukur suhu dengan thermometer Pada tabung reaksi yang telah berisi air panas dan batu es dimasukkan 2 tetes bakteri E.coli secara aseptis Sumbat mulut tabung reaksi dengan kapas kemudian bungkus dengan kertas putih. Inkubasi selama 24 jam kemudian amati perubahan yang terjadi pada tabung reaksi (warna dan bau)

F. HASIL PENGAMATAN 1. Hasil praktikum pH KOH :14 pH asam cuka : 2 pH aquades: 7 Suhu air panas :47o C Suhu air es : 19oC

Tabel pengaruh faktor lingkungan terhadap pertumbuhan bakteri E.coli No 1 2 3 4 5 Perlakuan Aquades + E.coli Asam cuka + E.coli KOH + E.coli Batu es + E. coli Air panas + E.coli Perubahan warna KERUH jernih Jernih Keruh jernih Bau + Asam + -

2. Pembahasan Pada aquades, E.coli tampak terjadi perubahan pada bau mapun warnanya yang menjadi keruh, ini dikarenakan pH aquades adalah 7, dimana pH 6-7 adalah pH optimum pertumbuhan bakteri E. coli. Pada asam cuka tidak terjadi perubahan warna dan bau, karena pH asam cuka adalah 2, sedangkan pH minimum untuk pertumbuhan E. coli adalah 4. Jadi pada asam cuka E. coli tidak dapat pertumbuhan. Pada KOH sama halnya seperti pada asam cuka, tidak terjadi perubahan warna maupun bau karena KOH memiliki pH 14. Pada batu es terjadi perubahan warna maupun bau, karena suhu dari air es 19oC, dimana bakteri E. coli akan mengalami pertumbuhan apabila suhu lingkungan di bawah suhu 47-57oC. lebih dari suhu tersebut bakteri E.coli akan mati. Pada air panas tidak terjadi perubahan warna maupun bau, karena bakteri E. coli tidak dapat tumbuh pada suhu 47oC.

G. KESIMPULAN :
Bakteri Escherichia coli hanya dapat tumbuh pada pH lingkungan minimum 4, pH ptimum 6-7, dan pH maksimum 9. Lebih atau kurang dari pH tersebut E. coli tidak dapat tumbuh atau juga mati. Bakteri Escherichia coli hanya dapat tumbuh pada suhu lingkungan di bawah atau diatas 47-57oC. Bila suhu lingkungan 47-57oC, bakteri E. coli akan mati.

H. DAFTAR PUSTAKA : Dwitia, Riyan. 2009. inokulasi dan Peremajaan Biakan Pada Medium Padat dan Cair. http://riyanpharmacy.blogspot.com/2009/10/v-behaviorurldefaultvml-o.html. Diakses tanggal 27 Oktoober 2009. Yalun. 2008. Mengenal bakteri Escherichia coli.

http://yalun.wordpress.com/2008/10/07/ coli/. Diakses tanggal 27 Oktoober 2009.

mengenal-bakteri-escherichia-

Posted shadow_anchor. 2009. Daya antibakteri ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica less) terhadap Escherichia coli secara in vitro.

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/kimia/daya-antibakteri-ekstraketanol-daun-beluntas-pluchea-indica-less-terhadap-esche. tanggal 27 Oktoober 2009. Pelczar, Michael J & Chan. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 2. Universitas Indonesia : Jakarta. Diakses

I. LAMPIRAN :

Gambar bakteri Escherichia coli dalam tabung reaksi dan gelas ukur

Gmbar bunset untuk alat mensterilkan