Anda di halaman 1dari 3

Gegar budaya (culture shock) adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan yang diderita

orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke lingkungan yang baru. Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambing-lambang dalam pergaulan social. Misalnya kapan berjabat tangan dan apa yang harus kita katakan bila bertemu dengan orang, kapan dan bagaimana kita memberikan tip, bagaimana berbelanja, kapan menolak dan menerima undangan, dsb. Petunjuk-petunjuk ini yang mungkin berbentuk kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah, kebiasaan-kebiasaan, atau norma-norma, kita peroleh sepanjang perjalanan hidup kita sejak kecil. Bila seseorang memasuki suatu budaya asing, semua atau hampir semua petunjuk ini lenyap. Ia bagaikan ikan yang keluar dari air. Banyak definisi dari para ahli tentang gegar budaya, namun pada initinya, jika kami menyimpulkan, gegar budaya adalah kondisi kecemasan yang dialami seseorang dalam rangka penyesuaiannya dalam lingkungan yang baru di mana nilai budaya yang ada tidak sesuai dengan nilai budaya yang dimilikinya sejak lama. beberapa tahapan dalam culture shock ini antara lain: 1. harapan besar (eager expectations) yakni orang tersebut merencanakan untuk memasuki kebudayaan kedua atau kebudayaan baru. Rencana tersebut dibuatnya dengan bersemangat walaupun ada perasaan was-was dalam menyongsong kemungkinan yang bias terjadi.Sekalipun demikian dia optimis menghadapi masa depan yang perencanaan selanjutnya 2. semua begitu indah (everything is beautiful) yakni segala sesuatu yang baru terasa menyenangkan. Walaupun mungkin beberapa gejala seperti tidak bias tidur atau perasaan gelisah dialami, tetapi rasa keingintahuan dan antusiasme dengan cepat dapat mengatasi perasaan tersebut. Para ahli menyebut masa ini dengan masa bulan madu. Menurut penelitian masa ini berlangsung beberapa minggu sampai enam bulan. 3. semua tidak menyenangkan (everything is awful) masa bulan madu telah usai. Sekarang segala sesuatu tidak menyenangkan. Setelah beberapa lama ketidakpuasan, ketidaksabaran, kegelisahan mulai terasa. Nampaknya semakin sulit berkomunikasi dan segalanya terasa asing. Orang mulai depresi dan frustasi. 4. semua berjalan lancar.( everything is ok) setelah beberapa saat kemudian orang tersebut menemukan dirinya dalam keadaan dapat menilai hal yang positif ataupun negative secara seimbang.Ia juga mulai terbiasa dengan makanan, pemandangan , suara, bau, perileku nonverbal masyarakat setempat,.

Dalam hal ini perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang memasuki kebudayaan baru mengalami hal-hal sama seperti di atas, dengan urutan tahapan demikian. Orang dapat mengalami culture shock dalam tahapan yang berbeda-beda. Reaksi pada culture shock Reaksi terhadap culture shock bervariasi antara 1 individu dengan individu lainnya, dan dapat muncul pada waktu yang berbeda. Rwekasi-reaksi yang mungkin terjasi, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. antagonis/ memusuhi terhadap lingkungan baru. rasa kehilangan arah rasa penolakan gangguan lambung dan sakit kepala homesick/ rindu pada rumah/ lingkungan lama rindu pada teman dan keluarga merasa kehilangan status dan pengaruh menarik diri menganggap orang-orang dalam budaya tuan rumah tidak peka

Tingkat-tingkat Culture shock (u-curve) Meskipun ada berbagai variasi reqaksi terhadap culture hock, dan perbedaan jangka waktu penyesuaian diri, sebagian besar literatur menyatakan bahwa orang biasanya melewati 4 tingkatan culture shock. Keempat tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva u, sehingga disebut u-curve. Fase optimistic, fase pertama yang digambarkan berada pada bagian kiri atas dari kurva U. fase ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan, dan euphoria sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru Masalah cultural, fase kedua di mana maslah dengan lingkungan baru mulai berkembang, misalnya karena kesulitan bahasa, system lalu lintas baru, sekolah baru, dll. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis daalm culture shock. Orang menjadi bingung dan tercengan dengan sekitarnya, dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap permusuhan, mudah marah, tidak sabaran, dan bahkan menjadi tidak kompeten.

Fase recovery, fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. Pada tahap ini, orang secara bertahap membuat penyesuaian dan perubahan dalam caranya menanggulangi budaya baru. Orang-orang dan peristiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan. Fase penyesuaian, fase terakhir, pada puncak kanan U, orang telah mengertpi elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai, adapt khusus, pola keomunikasi, keyakinan, dll). Kemampuan untuk hidup dalam 2 budaya yang berbeda, biasanya uga disertai dengan rasa puas dan menikmati. Namun beberapa hali menyatakan bahwa, untuk dapat hidup dalam 2 budaya tersebut, seseorang akan perlu beradaptasi kembali dengan budayanya terdahulu, dan memunculkan gagasan tentang W curve, yaitu gabungan dari 2 U curve.