Anda di halaman 1dari 38

Obat Tradisional

Oleh : Ifmaily, S.Si, Apt, M.Kes

Obat adalah unsur penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan Obat Tradisional ( Batra ) adalah sediaan dari berbagai bentuk yang bersal dari mineral, tanaman, maupun hewan yang digunakan oleh rakyat dan / atau segolongan rakyat untuk mengobati penyakit, menjaga kesehatan dan melancarkan proses faal yang dikehendaki

BATRA merupakan warisan nenek moyang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa pendidikan khusus

Depkes membagi BATRA menjadi :


Jamu : gendong, cara modern Fitofarmaka TOGA ( tanaman obat keluarga ) Herbal berstandar : bahan bakunya punya standar tertentu.

Jamu
Jamu adalah obat yang berasal dari tumbuhan, hewan, atau sediaan galenik, atau campuran dari bahan-bahan tersebut, yang digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman Contoh : senyawa organik: belerang untuk obat kudis. Bahan Galenik dapat diolah sendiri, direndam dalam alkohol, disimpan dalam bentuk yang sudah diolah Contoh : obat asma aminofilin

FITOFARMAKA
Fitofarmaka adalah sediaan obat nabati ( serbuk, rajanan, pil, tablet, kapsul, obat minum, salep, dsb ) yang telah terbukti keamanan dan khasiatnya melalui uji klinik dimana bahan bakunya berasal dari simplisia atau persediaan galenik yang sudah memenuhi persyaratan yang berlaku sehingga terjamin keseragaman, komponen aktif, keamanan, dan khasiat

Simplisia merupakan bahan obat dalam bentuk kering dengan kekeringan tertentu Contoh : daun jambu biji yang dikeringkan dan dihaluskan

TOGA
TOGA adalah tanaman obat dalam keluarga yang ditanam dengan tanaman obat yang digunakan scr empirik oleh masyarakat, untuk mengatasi penyakit atau keluhan yang diderita. Beberapa tanaman obat telah dibuktikan efek farmakologinya pada hewan coba dan beberapa tanaman telah dilakukan uji klinik tahap awal. TOGA diperlukan karena susahnya jangkauan obat dari Yankes yang ada dipelosok.

Seluruh bagian tumbuhan contoh : tanaman herba Akar Umbi Batang, kulit batang contoh kulit manis Bunga Buah Biji Getah

Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku toga :

BATRA punya arti penting, karena:


BATRA adalah obat bebas yang dapat diperoleh tanpa resep dokter BATRA dapat diramu sendiri oleh yang memerlukan Contoh : bengkuang utk menurunkan panas Bahan baku utk meramu BATRA tidak perlu diimport ( cadangan alam banyak ) BATRA dapat ditanam di pekarangan atau sekitar tempat pemukiman

Pembinaan BATRA oleh Depkes:


1.Penyebarluasan pengadaan TOGA, disamping itu : Meningkatkan kegunaannya Meningkatkan mutu Meningkatkan ketepatan dan caracara penggunaannya

2. Pengaturan, pembinaan terhadap kegiatan produksi dan distribusi, yang dilakukan oleh badan usaha swasta Cont : syarat-syarat pabrik jamu, kekeringannya

Permenkes RI No.760/Menkes/Per/IX/1992
Pengembangan BATRA perlu dilakukan dgn tepat hingga baik keamanan maupun khasiatnya secara medis dapat dipertanggungjawabkan

Uji BATRA perlu dilakukan:


Uji Toksisitas Uji Farmakologi Uji Klinik Standarisasi

BATRA yang telah lulus pengujian dikelompokkan :

Fitofarmaka : pengujian hanya dilakukan pada fitofarmaka yang tidak bersifat narkotika Narkotika : Papaver somniferum ( morfin ) Kokain : Erytroxylon koka

Cara pemilihan BATRA


Agar pengembangan BATRA lebih efektif dan efisien, maka pemilihan BATRA yang dikembangkan perlu diprioritaskan : 1. Jenis BATRA yang diharapkan punya khasiat utk penyakit-penyakit yang menduduki urutan teratas dlm morbiditas ( pola penyakit ) 2. Jenis BATRA yang diperkirakan punya khasiat utk pernyakit tertentu berdasarkan inventarisasi pengalaman pemakaian

3. Jenis BATRA yang diperkirakan merupakan alternatif yang jarang ( satu2nya alternatif urk penyakit tertentu ) Contoh : obat DM/ kencing manis

Pemanfaatan Tanaman Obat

WHO dan pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan untuk memanfaatkan obat-obat yang berasal dari sumber bahan alam dan nyata berkhasiat utk penyelenggaraan kesehatan masyarakat.

Obat dr bahan alam kurang drastis aktivitas/kerjanya dibandingkan dgn zat murni yg dapat diisolasi dr bahan alam tersebut. Contoh : tanin kerjanya lebih aktif dibanding bahan alam yang mengandung tanin ( psidium folium ) jambu biji utk diare ( relatif aman )
1.

Keuntungan Pemanfaatan Bahan Alam, Khususnya tanaman obat :

2. Bahan alam punya khasiat lbh lengkap dibanding zat aktif tunggal yg dpt diisolasi dr bhn alam tsb. Contoh : Chinae cortex khasiatnya lebih lengkap dibanding kina saja, karena zat aktif lainnya yang ada pada Chinae cortex tersebut ( kinidin, sinkonidin dll ) punya efek farmakologi sendiri-sendiri.

Kina punya efek antipiretik, analgetik, antimalaria dan depresan jantung. Kinidin berkhasiat untuk anti aritmia jantung dan depresan jantung. Khasiat tumbuhan obat alam merupakan gabungan dari khasiat zat yang dikandungnya.

3. Efek samping sangat kecil, dapat dikatakan without side effect bila dibanding dengan zat tunggal yang dapat diisolasi dan dimurnikan dari bahan alam tersebut, karena faktor intrinsik yang ada dlm bahan tersebut dapat menetralisir efek samping yang ditimbulkan oleh zat aktif yang dikandung bahan tersebut

Jika keracunan dapat dimuntahkan dengan minum norit utk mencegah penyerapan shg mencret, minum susu telur utk menggumpalkan zat racun. Duren sifatnya panas untuk menurunkannya minum air dari kulit duren.

Petunjuk Penggunaan tanaman obat


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Hati dalam mengidentifikasi Nama tanaman yang baku adalah nama latin Waktu pemetikan terbaik Pencucian dan Pengeringan Perhatikan sifat dan rasa tanaman Merebus tanaman Waktu minum obat Cara minum obat Lama pengobatan

1. Hati-hati dalam mengidentifikasi tanam karena banyak yang mirip, Contohnya: daun sirih ( antiseptik ) dengan daun sendok ( antiradang, antipiretik ) 2. Nama tanaman yang baku adalah nama ilmiah/nama latin Contoh : tapak leman di Minang ternyata dengan tapak leman di Jateng Tapak leman di Minang, disebut Pasak Bumi di Jateng Cara penulisan nama Latin : Pegagan (antiinfeksi, peluruh kencing, hemostatis ) Centella asiatica = Centela asiatica

3. Waktu Pemetikan terbaik


- Daun : dipetik saat tanaman berbunga sampai dgn buah belum masak - Bunga : dikumpulkan sebelum/sesudah mekar - Buah : dikumpulkan dlm keadaan masak - Biji : dikumpulkan dari buah masak sempurna - Akar, rimpang, umbi lapis : waktu tanaman tidak tumbuh layu.

4.Pencucian dan Pengeringan:


-

Cuci bersih, sebaiknya dengan air mengalir Pengeringan sebaiknya dengan perlahan-lahan, jika dgn sinar matahari sebaiknya tidak terlalu terik krn dpt merusak susunan kimia zat. Jika perlu umbi dan rimpang dapat dipotong-potong Daun dilayukan dulu sebelum dijemur Pengeringan dgn oven umumnya lbh baik, dan sebaiknya memakai oven listrik.

5. Perhatikan sifat dan rasa tanaman

Sifat : dingin, sejuk, hangat dan panas Rasa : pedas, asam, pahit, asin, manis, tawar

6. Merebus tanaman obat :


Tanaman bisa tunggal atau campuran Keadaan tanaman bersih, kering/segar, dan utuh/dipotong Wadah utk merebus jangan menggunakan panci logam, tapi gunakan yg terbuat dari tanah, keramik, gelas, atau panci email

Cara Merebus : 1. Cuci bahan, masukkan ke panci 2. Kemudian tambahkan air sebanyak rencana yang akan diminum, beri tanda pada panci. 3. Setelah itu tambahkan air sama banyak 4. Panaskan sampai mendidih, biarkan mendidih selama 5 menit 5. Kemudian kecilkan api sampai air menguap setinggi tanda.

7. Waktu Minum Obat


-

Bila tidak merangsang lambung beri sebelum makan Obat yang merangsang lambung seperti yang mengandung asam, sebaiknya diberikan setelah makan agar lambung sedikit basa Obat yang bersifat tonikum / penguat diberikan sebelum makan/ waktu perut kosong Obat yang menenangkan diberi sebelum tidur

Penyakit akut diberi sesuai kebutuhan Penyakit kronis harus minum teratur Jika perlu, obat diminum sesering mungkin sebagai pengganti teh

8. Cara Meminum
-

Satu dosis sehari, dibagi utk 2 3 kali minum Obat ada yang diminum saat dingin Ada juga obat diminum saat hangat Obat diminum sedikit demi sedikit tapi sering, utk obat berkhasiat keras

9. Lama Pengobatan

Umumnya dalam jangka lama dibanding obat kimia, karena unsur yang berkhasiat aktif di dalamnya lebih sedikit,

Peran Perawat dalam pengembangan BATRA :


1. 2. 3.

Penyebarluasan program TOGA di lingkungannya Melakukan penyuluhan tentang manfaat BATRA dan program TOGA Melakukan pembinaan pemanfaatan BATRA di dalam masyarakat dengan jalan menginformasikan khasiatnya, cara pengolahannya, cara penggunaannya sesuai dengan perkembangan IPTEK

4. Menjadikan BATRA sebagai cara pengobatan alternatif seandainya obat kimia yang dibutuhkan di unit pelayanan kesehatan tidak tersedia. 5. Melakukan penyuluhan tentang tata cara perkembangbiakan TOGA

1. Menginformasikan kepada pasien cara mengidentifikasi tumbuhan yang dimaksud, sesuai dengan pengobatan penyakit yang dituju. 2. Menginformasikan kepada pasien cara pengolahannya 3. Menginformasikan kepada pasien cara pemakaiannya 4. Menginformasikan kepada pasien lama penggunaannya

Tanggung jawab Perawat dalam pengembangan BATRA :