Anda di halaman 1dari 27

.

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM LAPANGAN BIOLOGI KONSERVASI

KAWASAN KONSERVASI

Sri Handayani Alam 091414010 Kelas B

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR


2011

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Ekologi Tumbuhan dengan judul Kawasan Konservasi, disusun oleh:
Nama Nim Kelas : Sri Handayani Alam : 091414010 :B

Setelah diperiksa dan dikoreksi oleh Dosen, maka dinyatakan diterima.

Makassar,

Januari 2012

Mengetahui Dosen Penanggung Jawab

Dr. Ir. Muh. Wiharto, M.si NIP : 1966 09 30 1992 03 1 004

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kawasan konservasi hingga saat ini masih sering dianggap sebagai pengguna dana yang tak mempunyai return yang nyata dan dapat diterima dalam jangka waktu pendek. Upaya-upaya pengelolaan kawasan konservasi memang menyerap dana yang tidak bisa dibilang sedikit. Tapi, mungkin, kenyataan sekarang justru berbalik. Kawasan konservasi justru diyakini bisa menjadi kawasan yang produktif. Jika ditata dan dikelola dengan benar, maka setidaknya upaya-upaya konservasi dapat membiayai dirinya sendiri. Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Kawasan konservasi misalnya Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang beberapa waktu lalu telah kami kunjungi, dapat dikatakan merupakan kawasan konservasi yang kurang terurus. Padahal seharusnya kawasan ini harus dijaga kelestarian ekosistem yang ada di dalamnya. Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, memerlukan renovasi secara menyeluruh karena banyak kawasan yang disfungsional. B. Tujuan Adapun tujuan diadakannya kegiatan ini untuk meneliti kawasan yang bisa dijadikan kawasan konservasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kawasan yang dilindungi adalah kawasan atau wilayah yang dilindungi karena nilai-nilai lingkungan alaminya, lingkungan sosial budayanya, atau karena halhal lain yang serupa dengan itu. Pelbagai macam kawasan yang dilindungi terdapat di berbagai negara, sangat bervariasi baik dalam aras atau tingkat perlindungan yang disediakannya maupun dalam undang-undang atau aturan (internasional, nasional, atau daerah) yang dirujuknya dan yang menjadi landasan operasionalnya. Beberapa contohnya adalah taman nasional, cagar alam, cagar alam laut, cagar budaya, dan lain-lain (Anonym1, 2012) Menurut Anonim1 (2012) defenisi kawasan yang dilindungi menurut IUCN adalah Suatu ruang yang dibatasi secara geografis dengan jelas, diakui, diabdikan dan dikelola, menurut aspek hukum maupun aspek lain yang efektif, untuk mencapai tujuan pelestarian alam jangka panjang, lengkap dengan fungsi-fungsi ekosistem dan nilai-nilai budaya yang terkait. Selanjutnya IUCN membedakan aneka macam kawasan yang dilindungi ke dalam enam kategori, yakni:
y

Ia - Strict Nature Reserve Yakni suatu wilayah daratan atau lautan yang dilindungi karena memiliki keistimewaan atau merupakan perwakilan ekosistem, kondisi geologis atau fisiologis, dan atau spesies, tertentu, yang penting bagi ilmu pengetahuan atau pemantauan lingkungan.

Ib - Wilderness Area Wilayah daratan atau lautan yang masih liar atau hanya sedikit diubah, yang masih memiliki atau mempertahankan karakter dan pengaruh alaminya, tanpa adanya hunian yang permanen atau signifikan; dilindungi dan dikelola untuk mempertahankan kondisi alaminya.

II - National Park

Wilayah daratan dan lautan yang masih alami, yang ditunjuk untuk (i) melindungi integritas ekologis dari satu atau beberapa ekosistem di dalamnya, untuk kepentingan sekarang dan generasi mendatang; (ii)

menghindarkan/mengeluarkan kegiatan-kegiatan eksploitasi atau okupasi yang bertentangan dengan tujuan-tujuan pelestarian kawasan; (iii)

menyediakan landasan bagi kepentingan-kepentingan spiritual, ilmiah, pendidikan, wisata dan lain-lain, yang semuanya harus selaras secara lingkungan dan budaya.
y

III - Natural Monument Wilayah yang memiliki satu atau lebih, kekhasan atau keistimewaan alam atau budaya yang merupakan nilai yang unik atau luar biasa; yang disebabkan oleh sifat kelangkaan, keperwakilan, atau kualitas estetika atau nilai penting budaya yang dipunyainya.

IV - Habitat/Species Management Area Wilayah daratan atau lautan yang diintervensi atau dikelola secara aktif untuk memelihara fungsi-fungsi habitat atau untuk memenuhi kebutuhan spesies tertentu.

V - Protected Landscape/Seascape Wilayah daratan atau lautan, dengan kawasan pesisir di dalamnya, di mana interaksi masyarakat dengan lingkungan alaminya selama bertahun-tahun telah membentuk wilayah dengan karakter yang khas, yang memiliki nilainilai estetika, ekologis, atau budaya yang signifikan, kerap dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Menjaga integritas hubungan timbalbalik yang tradisional ini bersifat vital bagi perlindungan, pemeliharaan, dan evolusi wilayah termaksud. Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri

atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang

merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang. Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut : 1. Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary). 2. Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982). 3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968). 4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980) Kawasan taman nasional dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Suatu kawasan taman nasionali kelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan taman nasional sekurang-kurangnya memuat tujuan

pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan.

Menurut Anonim2 (2012) Pengelolaan Taman nasional didasarkan atas sistem zonasi, yang dapat dibagi atas : 1. Zona inti 2. Zona pemanfaatan 3. Zona rimba; dan atau yang ditetapkan Menteri berdasarkan kebutuhan pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Kriteria zona inti, yaitu :
y y y

mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya. mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan atau tidak atau belum diganggu manusia.

mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologis secara alami.

mempunyai ciri khas potensinya dan dapat merupakan contoh yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi.

mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah.

Kriteria zona pemanfaatan, yaitu : 1. mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau berupa formasi ekosistem tertentu serta formasi geologinya yang indah dan unik. 2. mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam. 3. kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata alam. Kriteria zona rimba, yaitu : 1. kawasan yang ditetapkan mampu mendukung upaya perkembangan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasi. 2. memiliki keanekaragaman jenis yang mampu menyangga pelestarian zona inti dan zona pemanfaatan.

3. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. Menurut Anonim3 (2012) konservasi menurut ilmu lingkungan adalah:
y

Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya.

Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam

(fisik) Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kiamia atau transformasi fisik.

y y

Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya. Kawasan konservasi mempunyai karakteristik sebagaimana berikut:

Karakteristik, keaslian atau keunikan ekosistem (hutan hujan tropis/'tropical rain forest' yang meliputi pegunungan, dataran rendah, rawa gambut, pantai)

Habitat penting/ruang hidup bagi satu atau beberapa spesies (flora dan fauna) khusus: endemik (hanya terdapat di suatu tempat di seluruh muka bumi), langka, atau terancam punah (seperti harimau, orangutan, badak, gajah, beberapa jenis burung seperti elang garuda/elang jawa, serta beberapa jenis tumbuhan seperti ramin). Jenis-jenis ini biasanya dilindungi oleh peraturan perundang-undangan.

y y y y

Tempat yang memiliki keanekaragaman plasma nutfah alami. Lansekap (bentang alam) atau ciri geofisik yang bernilai estetik/scientik. Fungsi perlindungan hidro-orologi: tanah, air, dan iklim global. Pengusahaan wisata alam yang alami (danau, pantai, keberadaan satwa liar yang menarik).

Menurut Anonim4 (2012) hutan konservasi merupakan kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. terdiri dari :
y

Kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok

sebagai sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya,

y y

yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan Kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi

pokok

perlindungan

sistem

penyangga

kehidupan,

pengawetan

keanekaragaman jenis tumbuhan dan


y

satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, dan taman buru

adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu. Sedang dalam ketentuan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang

Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, kita mengenal mengenai kawasan konservasi dan klasifikasinya sebagai berikut : 1. Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan, yang mencakup: 2. Kawasan cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan 3. tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan 4. perkembangannya berlangsung secara alami. 5. Kawasan suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa

6. keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. Kawasan Pelestarian Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun diperairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, yang mencakup :
o

Kawasan taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan,

pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.


o

Kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.

Kawasan taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi alam.

Indonesia merupakan salah satu dari tujuh negara mega biodiversitas yang dikenal sebagai pusat konsentrasi keanekaragaman hayati dunia. Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia sebanyak 6.000 spesies flora dan fauna dan alamnya begitu indah dan mempesona, sehingga pantas untuk d jelajahi. Sebagian besar kekayaan keanekaragaman hayati tersebut berada di kawasan hutan alam, terutama di dalam kawasan konservasi. Kawasan konservasi di Indonesia mencakup areal seluas 27 juta hektar terdiri dari Kawasan Suaka Alam (cagar alam dan suaka margasatwa), Kawasan Pelestarian Alam (taman nasional, taman wisata alam, dan taman hutan raya) dan taman buru. Salah satu kawasan konservasi terbaik untuk menyaksikan keanekaragaman, keunikan, kekhasan, dan keindahan flora/fauna yang

endemik, langka dan dilindungi, termasuk menyaksikan keindahan dan keajaiban fenomena alam adalah di taman nasional. Taman nasional mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam pelestarian keaneka-ragaman hayati, sehingga penunjukan dan penetapannya diupayakan sedapat mungkin mencakup perwakilan semua tipe ekosistem yang berada dalam tujuh wilayah bio-geografi pulau di Indonesia. Taman nasional disamping memiliki daratan berupa hutan, pantai, savana, rawa, juga memiliki perairan dengan kehidupan laut, seperti karang, ikan, moluska, biota laut, mangrove, dan lain-lain), yaitu Taman Nasional Ujung Kulon, Bali Barat dan Komodo. Sedangkan taman nasional yang hampir seluruhnya berupa perairan dengan kehidupan lautnya yaitu Taman Nasional Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Taka Bonerate, Wakatobi, Bunaken dan Teluk Cendrawasih (Anonim5, 2012). Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (atau disingkat TN Babul) terletak di Sulawesi Selatan, seluas 43.750 Ha. Secara administrasi pemerintahan, kawasan taman nasional ini terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Secara geografis areal ini terletak antara 119 34 17 119 55 13 Bujur Timur dan antara 4 42 49 5 06 42 Lintang Selatan. Secara kewilayahan, batas-batas TN Babul adalah sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep, Barru dan Bone, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Taman nasional ini ditunjuk menjadi kawasan konservasi atau taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.398/MenhutII/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Saat ini dikelola oleh Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yang berkedudukan di Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan (Anonim6, 2012). Menurut Anoim7 (2012), Hutan Konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Hutan konservasi terdiri dari :

Kawasan hutan Suaka Alam (KSA) berupa Cagar Alam (CA) dan Suaka Margasatwa (SM)

Kawasan hutan Pelestarian Alam (KPA) berupa Taman Nasional (TN), Taman Hutan Raya (TAHURA) dan Taman Wisata Alam (TWA); dan

Taman Buru (TB). Menurut Anonim8 (2012), dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 68 tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan kawasan pelestarian Alam BAB Ill kawasan pelestarian alam Bagian Pertama tentang Penetapan Kawasan pada Pasal 30, Menetapkan : 1. Kawasan Pelestarian Alam, terdiri dari : a. Kawasan Taman Nasional; b. Kawasan Taman Hutan Raya; c. Kawasan Taman Wisata Alam. 2. Berdasarkan sistem zonasi pengelolaannya Kawasan Taman Nasional dapat dibagi atas : a. zona inti; b. zona pemanfaatan; c. zona rimba; dan atau. zona lain yang ditetapkan Menteri berdasarkan kebutuban pelestarian sumber daya alarn hayati dan ekosistemnya. Pasal 31 1. Suatu kawasan ditunjuk sebagai Kawasan Taman Nasional, apabila telah memenuhi kriteria sebagai berikut: a. kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami; b. memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami; c. memiliki satu. atau beberapa ekosistem yang masih utuh;

d. memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam; e. merupakan kawasan yang dapat dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba dan zona lain yang karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi kawasan, ketergantungan penduduk sekitar kawasan, dan dalam rangka mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dapat ditetapkan. sebagai zona tersendiri. 2. Ditetapkan sebagai zona inti, apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: a. mempunyai keanekaragarnan jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; b. mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya; c. mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia; d. mempunyai luas yang cukup dan bentuk tententu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologis secara alami; e. mempunyai ciri khas potensinya dan dapat merupakan contoh yang keberadaannya memerlukan. upaya konservasi; f. mempunyai komunitas tumbuhan. dan atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah. 3. Ditetapkan sebagai zona pemanfaatan, apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: a. mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau berupa formasi ekosistem tertentu serta formasi geologinya yang indah dan unik; b. mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam;

c. kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata alam.

4. Ditetapkan sebagai zona rimba, apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: a. kawasan yang ditetapkan mampu mendukung upaya perkembangbiakan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasi;

b. memiliki keanekaragaman jenis yang mampu menyangga pelestarian zona inti dan zona pemanfaatan; c. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. Menurut Wiryono (2003), Klasifikasi kawasan lindung menurut Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung adalah : 1. Kawasan memberikan perlindungan bawahnya di yang a. Kawasan hutan lindung b. Kawasan bergambut c. Kawasan resapan air a. Sempadan pantai 2. Kawasan b. Sempadan sungai perlindungan c. Sempadan sekitar danau/waduk setempat d. Kawasan sekitar mata air a. Kawasan suaka alam b. Kawasan suaka alam laut dan 3. Kawasan alam budaya dan suaka perairan lainnya

Kawasan Lindung

cagar c. Kawasan pantai berhutan bakau d. Taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam e. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan

4. Kawasan rawan bencana alam

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources disingkat IUCN kadang-kadang juga disebut dengan World Conservation Union adalah sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam. Badan ini didirikan pada 1948 dan berpusat di Gland, Switzerland. IUCN beranggotakan 78 negara, 112 badan pemerintah, 735 organisasi non-pemerintah dan ribuan ahli dan ilmuwan dari 181 negara. Tujuan IUCN adalah untuk membantu komunitas di seluruh dunia dalam konservasi alam (Anonim9. 2012).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Hari/Tanggal Waktu Tempat : Sabtu, 07 Januari 2012 : Pukul 10.00 s.d 13.00 WITA : Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Bislap. Desa Pattunuang Asue. Kecamatan Simbang. Maros. B. Alat dan bahan 1. Alat a. Kamera b. Alat Tulis Menulis 2. Bahan Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. C. Prosedur Kerja 1. Melakukan pengamatan atau observasi kawasan sekitar. 2. Mengamati penempatan-penempatan bangunan atau tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat di sana. Seperti, tempat pengkaranan kupu-kupu, pengkaran kus-kus, tempat peristirahatan, tempat pembibitan, dan rumah penduduk sekitar. 3. Mengambil gambar tempat-tempat yang sudah tidak layak pakai atau sudah tidak digunakan lagi sebagaimana mestinya untuk dijadikan perbandingan tentang daerah yang menjadi kawasan konservasi. 4. Mengamati keadaan sekitar, mulai dari vegetasi tumbuhan yang hidup disekitar kawasan tersebut, sarana-saran penunjang yang dibuat oleh masyarakat sekitar, dan lingkungan sekitar kawasan tersebut.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan 1. Tempat penangkaran kupu-kupu yang tidak digunakan lagi

2. Tempat pembibitan yang terletak tepat di depan tempat penangkaran kupukupu yang sudah tidak digunakan lagi.

3. Tempat peristirahatan yang tidak layak pakai atau huni

4. Tempat pengkaran ku-kupu yang layak pakai

5. Tempat penampungan air yang berada tepat di depan tempat pengkaran kupukupu yang layak pakai

6. Jalan yang berfungsi untuk jalan para pejalan kaki dan tempat mengalirnya air dari daerah yang lebih tinggi.

7. Sebuah sungai yang tidak jauh dari tempat-tempat diatas.

8. Kondisi terasering yang dibuat oleh penduduk setempat.

9. Bukit karst yang terdapat di sekitar tempat tersebut.

B. Pembahasan Dari beberapa gambar yang sempat kami ambil, dapat dilihat bahwa daerah tersebut belum bisa untuk dikatakan sebagai Taman Nasional karena Menurut UU yang berlaku suatu kawasan ditunjuk sebagai Kawasan Taman Nasional, apabila telah memenuhi kriteria sebagai berikut: 5. kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami 6. memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami 7. memiliki satu. atau beberapa ekosistem yang masih utuh;

8. memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam 9. merupakan kawasan yang dapat dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba dan zona lain yang karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi kawasan, ketergantungan penduduk sekitar kawasan, dan dalam rangka mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dapat ditetapkan. sebagai zona tersendiri. Pembinaan habitat dan populasi satwa di Taman Nasional, meliputi kegiatan : 1. pembinaan padang rumput 2. pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa 3. penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohon-pohon sumber makanan satwa 4. penjarangan populasi satwa 5. penambahan tumbuhan atau satwa asli, atau 6. pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu. Dari hasil pengamatan saat melakukan praktikum lapangan, dapat dilihat bahwa daerah tersebut belum sepenuhnya dapat dikatakan sebagai Taman Nasional yang layak karena beberapa criteria di atas belum terpenuhi misalnya pada poin ke dua yaitu memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami, dapat dilihat pada daerah tersebut belum ada sumber daya yang khas dan unik dalam hal tanamannya, hanya saja pada daerah tersebut terdapat penangkaran Kus-kus, meskipun sebenarnya Sulawesi Selatan

merupakan habitat asli hewan ini, tetapi penempatannya pada daerah Taman Nasional ini kurang tepat karena, daerah ini sering dikunjungi oleh orang banyak untuk melakukan berbagai macam kegiatan alam. Hewan kus-kus ini, sangat sensitive dengan suara-suara keramaian hingga menyebabkan ini bisa mati. Hal khas pada tempat ini berupa Karst-nya yang khas di sepanjang tebing-tebingnya. Sementara keadaan alam di daerah tersebut sudah terjadi campur tangan manusia

contohnya saja vegetasi dalam hutan Taman Nasional tersebut, dapat dilihat pohon-pohonnya tersusun dan terdapat terasering yang tertutupi oleh batuan, hal ini dapat menyebabkan tanaman yang tumbuh di daerah tersebut kekurangan unsure hara. Keadan di daerah yang dikunjungi tersebut terdapat sungai dengan aliran yang cukup deras, hal ini dapat berbahaya bagi pengunjung yang datang. Sebaiknya daerah tepi sungai tersebut diberi pembatas yang jelas sekitar 2 meter dari sungai, dan sebagai koridor bagi yang ingin melihat-lihat pemandangan yang ada di sungai tersebut, karena tebing karst dapat dilihat dari tepi sungai, jadi cukup efektif jika daerah tersebut diberikan pembatas yang jelas. Daerah ini cukup baik untuk dimanfaatkan di bidang pariwisata atau outbound, misalnya arum jeram di daerah sungai karena arus airnya cukup deras dan cocok untuk olahraga air seperti arum jeram bagi orang-orang yang menyukai tantangan. Di taman nasional tersebut terdapat pengangkaran kupu-kupu, tetapi tidak difungsikan karena pada penangkaran tersebut tidak terdapat tanaman dan kupu-kupu untuk penangkaran. Di sekitar penangkaran tersebut terdapat penampungan air, kemungkinan digunakan untuk fasilitas penangkaran kupukupu tersebut. Beberapa fasilitas yang ada di tempat tersebut juga tidak difungsikan misalnya, pos pengamanan yang terlihat kumuh dan tidak terurus dan sebagian besar telah rusak. Sebagai kawasan Konservasi dan kawasan Taman Nasional seharusnya fasilitas-fasilitas seperti itu dijaga dengan baik karena fasilitas tersebut memiliki fungsi yang besar. Taman Nasional juga harus memiliki susunan baik itu dalam hal penenmpatan fasilitas-fasilitasnya maupun bentukan koridor atau daerah pejalan kakinya. Koridor buatan harus dijaga dengan baik karena hal ini sangat berpengaruh bagi pejalan kaki yang dating berkunjung, koridor di daerah tersebut harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak berbahaya bagi pengunjung yang datang. Daerah taman nasional dapat dirancang agar memiliki tananan yang baik, rancangan denah yang sesuai menurut saya yaitu seperti yang digambarkan dibawah ini:

Keterangan :

Koridor/ Jalan Pos penjagaan Tempat penangkaran kupu-kupu/ Tempat pembibitan

Pemukiman warga Sungai Penangkaran Kus-kus Pepohonan Denah diatas menggambarkan bahwa pemukiman warga dekat dengan hutan.. Tempat pembibitan berdekatan dengan sungai agar sumber air yang dibutuhkan dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan tersebut dekat. Kemudian tempat penangkaran kupu-kupu di depan tempat pembibitan agar pohon atau tumbuhan yang akan digunakan untuk pemeliharaan kupu-kupu dapat mudah dipindahkan dari tempat pembibitan, sehingga jarak pemindahannya tidak terlalu jauh. Kemudian tempat penampungan air untuk pengkaran kupukupu berdekatan supaya aliran airnya cepat sampai di tempat pengkaran tersebut. Tempat peristirahatan agak berjauhandari tempat pengkarana kupu-kupu dan kuskus supaya tidak mengganggu aktifitas pemeliharaan hewan-hewan tersebut.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu kawasan taman nasional bantimurung bulusaraung kurang diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat derah sekitar terbukti dengan disfungsi fasilitas yang telah dibuat untuk upaya konservasi. Di daerah tersebut perlu mendapat perhatian yang lebih agar keadaan pada kawasan tersebut menjadi lebih baik karena dilihat dari hasil observasi yang banyak memperlihatakan ketidak layakan sarana pendukung, maka kawasan ini perlu diolah secara sebaik-baiknya untuk pelestarian flora dan fauna yang ada di kawasan tersebut. B. Saran Adapun saran yang diberikan untuk menunjang praktikum selanjutnya yaitu sebaiknya mahasiswa memperhatikan sebaik-baiknya lingkungan kawasan tersebut dan keadaan sekitar kawasan tersebut supaya dapat menjadi bahan pembanding dalam menulis laporan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim1. 2012. Kawasan yang http://id.wikipedia.org/wiki/Kawasan_yang_dilindungi Anonim2. 2012. http://www.pendakierror.com/Konservasi.htm#konservasi Anonim3. 2012. konservasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia Anonim4. 2012. Kawasan Konservasi. http://bpkh8.net. Anonim5. 2012. Konservasi dan Taman Nasional. http://jelajahalamindonesia.multiply.com/journal/item/4/Konservasi_dan_Tam an_Nasional Anonim6. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Taman_Nasional_Bantimurung__Bulusaraung&redirect=no Anonim7. 2012. Perlindungan Hutan dan konservasi Alam. http://dishut.jabarprov.go.id/data/arsip/PERLINDUNGAN%20HUTAN%20D AN%20KONSERVASI%20ALAM.pdf. ANonim 8. 2012. Regulasi Peraturan Perundangan Tentang Satwa Liar di Indonesia.htm. http://www.profauna.org/content/id/index.html. Anonim9. 2012. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=IUCN&redirect=no Wiryono. 2003. Klasifikasi Kawasan Konservasi Indonesia. Jurusan Kehutanan, Universitas Bengkulu. Bengkulu.

dilindungi.

Konservasi.