Anda di halaman 1dari 5

FARMAKOLOGI DIABETES MELITUS TIPE 2 1.

Insulin

Insulin dilepaskan dari sel-sel beta pulau Langerhans dalam responnya terhadap peningkatan glukosa darah. Pankreas secara normal mensekresikan 4060 unit insulin setiap harinya. Insulin meningkatkan ambilan glukosa, asam amino, dan asam lemak dan mengubahnya menjadi bahan-bahan yang disimpan dalam sel-sel tubuh. Glukosa diubah menjadi glikogen untuk keperluan glukosa di masa mendatang dalam hepar dan otot. Sehingga menurunkan kadar glukosa dalam darah. Nilai glukosa darah normal adalah 60-100 mg/dL, dan glukosa serum, 70-110 mg/dL, dapat terjadi glukosuria (gula dalam urin). Peningkatan kadar glukosa darah bertindak sebagai diuretik osmotik, menyebabkan poliuria. Bila gula darah tetap meninggi (>200 mg/dL), terjadi diabetes melitus. Insulin suntikan diperoleh dari pankreas babi dan sapi ketika hewan-hewan ini disembelih. Insulin babi sangat mirip dengan insulin manusia, hanya memiliki perbedaan satu asam amino; insulin sapi memiliki empat asam amino yang berbeda. Insulin manusia (Humilin) diperkenalkan pada tahun 1983 dan diproduksikan dengan 2 metode yang terpisah: (1) mengubah asam amino yang berbeda dari insulin babi atau (2) memakai teknologi DNA. Insulin babi merupakan alergen yang lebih lemah daripada insulin sapi. Dan pemakaian insulin manusia memiliki insiden yang sangat rendah untuk terjadinya efek alergi dan kekebalan. Insulin sekarang lebih murni dari insulin dahulu, terutama Humulin yang diproduksikan dengan teknologi DNA, memberikan efek samping yang lebih sedikit. Insulin harus disimpan pada tempat yang sejuk atau di dalam lemari es. Konsentrasi insulin 40 atau 100 U/mL, (U40/mL, U100/mL) dan insulin dikemas dalam vial berisi 10 mL. spuit insulin ditandai dalam unit sampai maksimum 100 U per 1 mL. Spuit insulin harus digunakan untuk dosis yang akurat. Untuk mencegah kekeliruan, perawat harus memastikan bahwa konsentrasi insulin sesuai dengan unit kalibrasi pada spuit insulin. Sebelum dipakai, klien atau perawat harus memilin botol insulin dan bukan mengocoknya, untuk memastikan bahwa insulin dan segala yang terkandung di dalamnya tercampur dengan merata. Mengocok botol insulin dapat menimbulkan gelembung-gelembung yang dapat membuat dosis menjadi tidak akurat. Kebutuhan insulin bervariasi; biasanya kebutuhan insulin menurun dengan latihan fisik dan lebih banyak insulin dibutuhkan bila ada infeksi dan demam tinggi. Ada tiga tipe insulin:

insulin kerja singkat Insulin kerja singkat disebut insulin regular (kristalin) dan merupakan larutan bening tanpa tambahan bahan untuk memperpanjang kerja insulin. Onset kerjanya adalah -2 jam, puncak kerja timbul dalam 2-4 jam, dan lama kerjanya 6-8 jam. kerja sedang Awitan insulin kerja sedang adalah 1-2 jam, puncak 6-12 jam, dan lama kerja 18-24 jam. kerja panjang Insulin kerja panjang bekerja dalam 4-8 jam, puncak 14-20 jam, dan berakhir sampai 24-36 jam.
Insulin dan Kerjanya INSULIN Insulin Kerja Singkat Regular (crystalline) Humulin R Semilente Insulin Kerja Sedang Lente Humulin L NPH Humullin H Insulin Kerja Panjang PZI Ultralente DESKRIPSI Jernih, SK atau IV Jernih, SK atau IV Keruh, zinc dalam sulfat sedikit, SK Keruh, zinc, SK, 30% semilente dan 70% ultralente Keruh, zinc, SK, 30% semilente dan 70% ultralente Keruh, SK, protamin Keruh, SK, protamin Keruh, SK, protamin dan zinc Keruh, SK, insulin zinc yang diberi tambahan MULA KERJA 0,5-1 jam 30-45 menit 1-2 jam 1-2 jam 4-8 jam 5-8 jam PUNCAK KERJA 2-4 jam 4-6 jam 8-12 jam 6-12 jam 14-20 jam 14-20 jam LAMA KERJA 6-8 jam 12-16 jam 18-28 jam 18-24 jam 24-36 jam 30-36 jam

Insulin adalah suatu protein dan tidak dapat diberikan per oral karena sekresi gastrointestinal merusak susunan insulin. Insulin diberikan secara subkutan, dengan sudut suntikan 45 sampai 90o. Sudut 90o dibuat dengan mengangkat kulit dan jaringan lemak di bawahnya; insulin disuntikkan ke dalam ruang antara lemak dan otot. Pada klien yang kurus yang memiliki sedikit lemak, dipakai sudut 45-60o. Insulin regular merupakan satu-satunya tipe yang dapat diberikan secara inravena. Insulin biasanya diberikan pada pagi hari sebelum sarapan. Dapat diberikan pada pagi hari sebelum sarapan. Dapat diberikan beberapa kali sehari. Tempat suntikan insulin harus dipindah-pindah untuk mencegah lipodistropi (atropi atau hipertropi jaringan), yang dapat menggangu penyerapan insulin. Untuk memperpanjang kerja, dipakai insulin kerja sedang dan kerja panjang, yang selain mengandung regular insulin atau kristalin juga mengandung protamin atau Zn atau keduanya. Insulin lente mengandung Zn, insulin neutral-protamine-Hagerdon (NPH) mengandung protamin, dan insulin protamineZn- (PZI) mengandung keduanya, protamine dan Zn. Insulin regular dapat dicampur dalam spuit dengan protamine atau Zn.

a.
b. c.

d.

e.

Kontraindikasi. Hipersensitivitas terhadap insulin (sapi, zinc, protamin) Farmakokinetik Insulin regular dan NPH diabsorpsi dengan baik pada semua cara pemberian secara subkutan, tetapi hanya insulin regular yang dapat diberikan secara intravena. Waktu paruhnya bervariasi. Insulin dimetabolisme di dalam hepar dan otot dan dikeluarkan ke dalam urin. Farmakodinamik Insulin menurunkan kadar gula darah dengan mempercepat pemakaian glukosa oleh sel-sel tubuh. Insulin juga menyimpan glukosa sebagai glikogen di dalam otot. Awitan kerja insulin regular yang diberikan secara subkutan adalah -1 jam dan bila diberikan secara intravena, 10-30 menit. Awitan kerja NPH adalah 1-2 jam. Puncak kerja insulin adalah sangat penting karena kemungkinan terjadinya reaksi hipoglemik (syok insulin) selama periode tersebut. Kadar maksimum untuk insulin regular dicapai dalam 2-4 jam dan 6-12 jam untuk insulin NPH. Perawat perlu menilai tanda-tanda dan gejala-gejala dari reaksi hipoglikemia, seperti kecemasan, tremor, bingung, berkeringat, dan meningkatnya denyut jantung. Air jeruk, minuman yang mengandung gula dan gula-gula yang keras harus tersedia untuk diberikan bila timbul reaksi hipoglikemia. Insulin regular dapat diberikan beberapa kali sehari. Insulin regular (3-15 U) dapat dicampur dengan insulinkerja sedang (NPH atau lente), terutama jika diperlukan awitan kerja yang cepat. Insulin kerja panjang jarang diberikan karena puncak kerjanya timbul di malam hariatau di waktu dini hari. Bila mengganti insulin dari insulin babi menjadi insulin manusia, klien mungkin perlu suatu penyesuaian dosis, karena insulin manusia memiliki lama kerja yang lebih pendek. Interaksi Obat Obat-obatan seperti diuretik (preparat kortison), agen-agen tiroid, dan estrogen meningkatkan gula darah, dan dosis insulin mungkin perlu disesuaikan. Obat yang menurunkan kebutuhan insulin adalah antidepresi trisiklik, inhibitor monoamine oksidase (MAO), produk-produk aspirin, dan antikoagulan oral. Efek Terapeutik Menurunkakadar gula darah; mengendaliakan diabetes melitus

f.

Efek Samping dan Reaksi yang Merugikan : Reaksi Hipoglikemik dan Ketoasidosis Jiak insulin diberiakn lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk metabolism glukosa, timbul reaksi hipoglikemik atau syok insulin. Penderita dapat menjadi cemas, gemetar, dan tidak terkoordinasi, kulit dingin dan lembab, dan mungkin mengeluh sakit kepala. Memberikan gula secara oral atau intravena meningkatkan pemakaian insulin, dan gejala-gejala segera menghilang. Pada keadaan dimana jumlah insulin tidak mencukupi , gula tidak dapat dimetabolisasikan dan terjadi katabolisme lemak. Pemakaian asam lemak (keton) untuk energy menyebabkan ketoasidosis (asidosis diabetik atau koma diabetik).. REAKSI TANDA-TANDA DAN GEJALA-GEJALA Reaksi hipoglikemik (syok insulin) Sakit kepala, kepala terasa dingin Gelisah, rasa takut Tremor Keringat berlebihan, dingin, kulit lembab Takikardi Bicara tersendat-sendat Lupa, kekacauan mental, kejang Kadar gula darah <60 mg/dL Ketoasidosis diabetik Sangat haus (reaksi hiperglikemik) Bau napas seperti buah Pernapasan Kussmaul (dalam, cepat, melelahkan, terasa menekan, sesak) Denyut nadi cepat, lemah Selaput lendir kering, turgor kulit buruk Kadar gula darah >250 mg/dL

2.

Obat Antidiabetik Oral (Obat Hipoglikemik Oral) Obat antidiabetik oral, disebut juga obat hipoglikemi oral, disebut juga obat hipoglikemi oral, ditemukan pada tahun 1950-an. Obat-obatan ini dipakai oleh penderita Diabetes Tipe 2. Tidak boleh diberikan pada pasien Diabetes Melitus Tipe 1. Penderita DM Tipe 2 memiliki sedikit sekresi insulin oleh pankreas. Ada beberapa jenis obat yang termasuk ke dalam OHO, yaitu :

Obat-obatan ini bisa diberikan secara terpisah maupun kombinasi satu dengan yang lainnya. Diperlukan waktu untuk memastikan jenis obat atau kombinasi mana yang paling tepat untuk seorang penderita diabetes melitus. Jika gula darah masih tetap tinggi setelah mengkonsumsi obat yang diberikan, maka segeralah kembali berkonsultasi dengan dokter anda. Namun demikian, dari semua itu kombinasi yang terbaik dalam mengkonsumsi obat adalah dengan tetap mengontrol pola makan dan olahraga yang teratur. Sulfonilurea Beberapa derivat sulfonylurea telah dipakai dalam terapi, semua pada dasarnya mempunyai mekanisme kerja yang sama. Obat ini hanya berbeda dalam hal potensi serta farmakokinetik yang mendasari perbedaan masa kerja. a. Farmakodinamik Penurunan kadar glukosa darah yang terjadi setelah pemberian sulfonylurea disebabkan oleh perangsangan sekresi insulin di pankreas. Sifat perangsangan ini berbeda dengan perangsangan oleh glukosa, karena ternyata pada saat hiperglikemia gagal merangsang sekresi insulin dalam jumlah yang mencukupi, obat-obat tersebut masih mampu merangsang sekresi insulin. Itulah mengapa sebabnya obat-obat ini sangat bermanfaat pada penderita diabetes dewasa yang pankreasnya masih mampu memproduksi insulin. Pada penderitan dengan kerusakan sel pulau Langerhans pemberian obat derivat sulfonylurea tidak bermanfaat. Pada dosis tinggi, sulfonylurea menghambat penghancuran insulin oleh hati. b. Farmakokinetik Absorpsi derivate sulfonylurea melalui usus baik, sehingga dapat diberikan per oral. Setelah absorpsi, obat ini tersebar ke seluruh cairan ekstrasel. Dalam plasma sebagian terikat pada protein plasma terutama albumin (70%-90%). Mula kerja serta farmakokinetiknya berbeda-beda untuk setiap sediaan. Tolbutamid

Mula kerja tolbutamid cepat dan kadar maksimal dicapai dalam 3-5 jam. Dalam darah tolbutamid terikat protein plasma. Di dalam hati obat ini dipecah menjadi karboksitolbutamid dan diekskresi melalui ginjal.

c.

d.

e.

f.

Asetoheksamid Dalam tubuh cepat sekali mengalami biotransformasi, masa paruh plasma hanya -2 jam. Tetapi dalam tubuh obat ini diubah menjadi 1hidroksileksamid yang ternyata lebih kuat efek hipoglikemianya daripada asetoheksamid sendiri. Selain itu 1-hidroksileksamid juga memperlihatkan mas paruh lebih panjang, kira-kira 4-5 jam, sehingga efek asetoheksamid lebih lama daripada tolbutamid. Kira-kira 4-5 jam, sehingga efek asetoheksamid labih lama daripada tolbutamid. Kira-kira 10% dari metabolit asetoheksamid diekskresi melalui empedu dan dikeluarkan bersama tinja. Tolazamid Diserap lebih lambat di usus daripada sediaan yang lain; efeknya terhadap kadar glukosa darah beluam nyata untuk beberapa jam setelah obat diberikan. Masa paruh kira-kira 7 jam. Dalam tubuh tolazamid menjadi p-karboksitolazamid, 4-hidroksimetiltolazamid dan senyawasenyawa lain; beberapa diantaranya memiliki sifat hipoglikemik yang cukup kuat. Klorpropamid Cepat diserap oleh usus, 70-80% dimetabolisme dalam hati dan metabolitnya cepat diekskresi melalui ignjal. Dalam darah obat ini terikat albumin; masa paruhnya kira-kira 36 jam sehingga efeknya masih terlihat beberapa hari setelah pengobatan dihentikan. Efek hipoglikemik maksimal dosis tunggal terjadi kira-kira 10 jam setelah obat itu diberikan. Efek maksimal pemberian berulang, baru tercapai setelah 1-2 minggu. Sedangkan ekskresinya baru lengkap setelah beberapa minggu. Glizipid Mirip dengan sulfonylurea lainnya dengan kekuatan 100x lebih kuat daripada tolbutamid, tepai efek hipoglikemia maksimal mirip dengan sulfonylurea lain. Dengan dosis tunggalpagi hari terjadi peninggian kadar insulin selama 3x makan, tetapi insulin puasa tidak meningkat. Glizipid diabsorpsi lengkap sesudah pemberian oral dan dengan cepat dimetabolisme dalam hati menjadi tidak aktif. Metabolit dan kira-kira 10% obat yang utuh diekskresi melalui ginjal. Reaksi nonterapi terjadi pada 11,8% (N=720). Reaksi kemerahan pada waktu minum alcohol terjadi pada 4-15%. Satu setengah persen penderita menghentikan obat karena efek samping obat ini. Gliburid (glibenklamid) Cara kerjanya sama dengan sulfonylurea lainnya. Obat ini 200x lebih kuat daripada tolbutamid, tetapi efek hipoglikemia maksimal mirip sulfonylurea lainnya. Pada pengobatan dapat terjadi kegagalan primer dan sekunder dengan seluruh kegagalan kira-kira 21% selama satu setengah tahun. Gliburid dimetabolisme hati hanya 25% matabolit diekskresi melalui urin dan sisanya diekskresi melalui empedu dan tinja. Gliburid efektif dengan pemberian dosis tunggal. Bila pemberian dihentikan, obat akan bersih dari serum sesudah 36 jam. Efek Non Terapi Pada umumnya frekuaensi efek nonterapi tidak lebih dari 5%, sedangkan reaksi alergi jarang sekali terjadi. Frekuensi efek samping pada tolbutamidpaling rendah jika dibandingkan dengan karbutamid atau sediaan lain yang kerjanya lebih panjang. Gambaran gejala pada dasarnya serupa untuk semua derivat sulfonylurea, hanya frekuensinya yang berlainan. Gajala meliputi gejala saluran cerna, kulit, hematologic, susunan saraf pusat, mata dan sebagainya. Gejala saluran cernaantara lain berupa mual, diare, sakit perut, hipersekresi asam lambung yang kadang-kadang terasa seperti pirosis substernal di daerah jantung. Gejala saluran cerna ini dapat dikurangi dengan mengurangi dosis, memberikannya bersaman makanan atau membegi obat dalam beberapa dosis. Gejala susunan saraf pusat berupa vertigo, bingung, ataksia, dan sebagainya. Gajala hematologic diantaranya berupa leukopnea dan agranulositosis. Selain itu telah diketahui juga bahwa obat-obat tersebut dapat menimbulkan gejala hipotiroidisme dan pada beberapa penderita menimbulkan ikterus obstruktif. Ikterus biasanya bersifat sementara dan lebih sering timbul pada pemakaian kloropamid (0,4%). Berkurangny atoleransi terhadap alcohol juga telah dilaporkan pada pemakaian tolbutamid dan kloropropamid. Hipoglikemia dapat terjadi pada penderita yang tidak mendapat dosis yang tepat, tidak makan cukup atau dengan gangguan fungsi hati dan/atau ginjal. Kecenderungan hipoglikemia pada orang tua disebabkan oleh mekanisme kompensasi berkurang dan asupan makanan yang cenderung kurang. Selain itu hipoglikemia tidak mudah dikenali pada orang tua karena timbul perlahan tanpa tanda akut (akibat tidak ada reflex simpatik) dan dapat menimbulkan disfungsi otak sampai koma. Penurunan kecepatan ekskresi kloropamid dapat meningkatkan hipoglikemia. Indikasi Memilih sulfonylurea yang tepat untuk penderita tertentu sangat penting untuk suksesnya terapi. Yang menentukan bukanlah umur penderita waktu terapi dimulai, tetapi umur penderita waktu penyakit diabetes mellitus mulai timbul. Pada umumnya hasil yang baik diperoleh pada penderita yang diabetesnya mulai timbul pada umur di atas 40 tahun. Sebelum menentukan keharusan pemakaian sulfonylurea, selalu harus dipertimbangkan kemungkinan mengatasi hiperglikemia dengan hanya mengatur diet serta mengurangi berat badan penderita. Kegagalan terapi dengan salah satu derivat sulfonylurea, mungkin juga disebabkan oleh penurunan farmakokinetik obat, umpamanya penghancurang yang terlalu cepat. Apabila hasil pengobatan yang baik tidak dapat dipertahankan dengan dosis 0,5 g kloropamid, 2 g tolbutamid, 1,25 g asetoheksamid atau 0,75 g tolazamid, sebaiknay dosis jangan ditambah lagi. Selama pengobatan, pemeriksaan fisik dan laboratorium harus tetap dilakukan secara teratur. Pada keadaan gawat seperti stress, komplikasi, infeksi dan pembedahan, insulin tetap merupakan terapi standar. Peringatan/Perhatian Sulfonylurea tidak boleh diberikansebagai obat tunggal pada penderita diabetes yuvenil, penderita yang kebutuhan insulinnya tidak stabil, diabetes mellitus berat, kehamilan dan keadaan gawat. Obat-obat tersebut harus dipakai sanagt berhati-hati pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, insufisiensi endokrin (adrenal, hipofisis, dan sebagainya), keadaan gizi ynag buruk dan pada penderita yang mendapat obat tertentu. Selain itu pemberian sulfenilurea juga harus diberikan dengan hati-hati pada alkoholisme akut serta penderita yang mendapat diuretic tiazid. Interaksi Obat yang dapat meningkatkan resiko hipoglikemia sewaktu pemberian sulfonylurea ialah insulin, alcohol, fenformin, sulfonamide, salisilat dosis besar, dikumarol, kloramfenikol, penghambat MAO, guanetidin, anabolic steroid, flenfuramin dan klofibrat. Propanolol dan obat penghambat adrenoseptor lainnya menghambat reaksi takikardi, berkeringat dan tremor pada hipoglikemia oleh berbagai sebab termasuk olehOHO, sehingga keadaan hipoglikemia memberat tanpa diketahui. Sulfonylurea terutama kloropamid dapat menurunkan toleransi terhadap alcohol, hal ini ditunjukkan dengan kemerahan terutama di muka dan leher (flush), reaksi mirip disulfiram. DOSIS DAN MASA KERJA SEDIAAN SULFONOLUREA DAN BIGUANID

GOLONGAN Sulfonilurea

SEDIAAN Tolbutamid Tolazamid Asetoheksamid Klorpropamid Glibenklamid

DOSIS 0,5-3 g dibagi dalam beberapa dosis 100-250 mg, dosis tunggal atau dalam beberapa dosis 0,25-1,25 g, dosis tunggal atau dalam beberapa dosis 100-500 mg, dosis tunggal 5-20 mg, 1-2 kali sehari (lebih dari 10 mg, dalam 2 dosis) 2,5-40 mg 500-3000 mg, 2-3 kali sehari

MASA KERJA (JAM) 6-12 10-14 12-24 Sampai 60 15 >12 -

ISI TABLET 0,5 g 100mg, 250 mg 250 mg, 500 mg 100 mg, 250 mg 5 mg 5 mg 500 mg

Biguanid

Glipizid Metformin

Biguanid a. Kimia dan Sediaan Senyawa biguanid terbentuk dari dua molekul guanidine dengan kehilangan satu molekul amonia. Sediaan yang tersedia adalah fenformin, buformin, dan merformin. b. Farmakologi Derivate biguanid mempunyai mekanisme kerja yang berlainan dengan derivate sulfonylurea, obet-obet tersebut kerjanya tidak melalui perangsangan sekresi insulin tetapi langsung terhadap organ sasaran. Pemberian biguanid pada orang non diabetic tidak menurunkan kadar glukosa darah; tetapi sediaan biguanid ternyata menunjukkan efek potensiasi dengan insulin. Pemberian biguanid tidak menimbulkan perubahan ILA (Insulin-Like Aktiviti) di plasma, dan secara morfologis sel pulau langerhans juga tidak mengalami perubahan. Pada penelitian invitro ternyata ditermukan bahwa biguanid merangsang glikolisis anaerob, dan anaerobiosis tersebut mungkin sekali berakibat lebih banyaknya glukosa memasukii sel otot. Biguanid tidak merangsang ataupun menghambat perubahan glukosa menjadi lemak. Pada penderita diabetes yang gemuk, ternyata pemberian biguanid menurunkan berat badan dengan mekanisme yang belum jelas pula; pada orang non diabetic yang gemuk tidak timbul penurunan berat badan dan kadar glukosa darah. Penyerapan biguanid oleh usus baik sekali dan obat ini dapat digunakan bersamaan dengan insulin atau sulfonylurea. Sebagian besar penderita diabetes yang gagal diobati dengan sulfonylurea dapat ditolong dengan biguanid. c. Intoksikasi Preparat biguanid yang telah banyak digunakan ialah fenfermin. Pada terapi dengan fenformin umumnya tidak terjadi efek toksik yang hebat. Beberapa penderita mengalami mual, muntah, serta diare; tetapi dengan menurunkan dosis keluhan-keluhan tersebut segara hilang. Pada beberapa penderita yang mutlak bergantung pada insulin luar, kadang-kadang biguanid menimbulkan ketosis yang tidak disertai dengan hiperglikemi (starvation ketosis). Hal ini harus dibedakan dengan ketosis kerena defisiensi insulin. Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal atau system kardiovaskuler, pemberian biguanid dapat menimbulkan peninggian kadar asam laktat dalam darah, sehingga hal ini dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam cairan tubuh. d. Indikasi Sediaan biguanid tidak dapat menggantikan fungsi insulin endogen, dan digunakan pada terapi diabetes dewasa. Dari berbagai derivate biguanid, data fenformin yang paling banyak terkumpul tetapi sediaan ini kini dilarang dipasarkan di Indonesia karena bahaya asidosis laktat yang mungkin ditimbulkannya. Di eropa, fenformin digantikan dengan metformin yang kerjanya serupa fenformin tetapi diduga lebih sedikit menyebabkan asidosis laktat. Dosis metformin ialah 1-3 gr sehari dibagi dalam 2 atau 3 kali pemberian. e. Kontra Indikasi Sediaan biguanid tidak boleh diberikan pada penderita dengan penyakit hati berat, penyakit ginjal dengan uremia, dan penyakit jantung kongestif. Pada keadaan gawat sebainya juga tidak diberikan biguanid. Sedangkan pada kehamilan, seperti juga sediaan OHO lainnya, sebaiknya tidak diberikan biguanid, sampai terbukti bahwa obat ini tidak menimbulkan bahaya yang berarti. Alpha Glukocidase Inhibitor Obat golongan ini bekerja di usus, menghambat enzim di saluran cerna, sehingga pemecahan karbohidrat menjadi glukosa atau pencernaan karbohidrat di usus menjadi berkurang. Hasil akhir dari pemakaian obat ini adalah penyerapan glukosa ke darah menjadi lambat, dan glukosa darah sesudah makan tidak cepat naik. Termasuk obat golongan ini kita kenal dengan Acarbose dan Miglitol. Acarbose ada di pasaran dengan nama Glucobay, dalam kemasan 50 mg dan 100 mg, yang diminum bersamaan dengan makanan, ditujukan terutama untuk mengatasi kenaikan glukosa darah sesudah makan. a. Efek Samping Obat ini umumnya aman dan efektif, namun ada efek samping yang kadang mengganggu, yaitu perut kembung, terasa banyak gas, banyak kentut, bahkan diare. Keluhan ini biasanya timbul pada awal pemakaian obat, yang kemudian berangsur bisa berkurang. Bila diminum bersama dengan suntikan insulin atau tablet sulfonylurea, kadang bisa menyebabkan hipoglikemia. Apabila efek samping ini terjadi, maka dianjurkan minum susu atau suntik glukosa, karena makanan gula atau buah manis akan dihambat penyerapannya oleh acarbose. b. Yang Harus Diperhatikan Karena kerap timbul keluhan perut, maka acarbose jangan diberikan pada keadaan sebagai berikut : o Irritable bowel syndrome o radang usus kronis, ulcerative colitis atau Crohns disease o gangguan penyerapan usus yang kronis, chronic malabsorption disorder. Dosis yang tinggi dari acarbose dapat menggangu fungsi hati, tetapi bila dosis obat diturunkan atau dihentikan maka hati akan pulih (reversible). Thiazolidinedione Thiazolidinedione (sering juga disebut TZDs atau glitazone) berfungsi memperbaiki sensitivitas insulin dengan mengaktifkan gen-gen tertentu yang terlibat dalam sintesa lemak dan metabolisme karbohidrat. Thiazolidinedione tidak menyebabkan hipoglikemia jika digunakan sebagai terapi tunggal, meskipun mereka seringkali diberikan secara kombinasi dengan sulfonylurea, insulin, atau metformin. Beberapa studi menunjukkan thiazolidinediones mengakibatkan berbagai efek baik pada jantung, termsuk penurunan tekanan darah dan peningkatan trigliserida dan kadar kolesterol (termasuk peningkatan kadar HDL, yang dikenal sebagi kolesterol baik). Obat ini juga meredam molekul yang disebut 11Best HSK-1 yang berperan penting pada sindrom metabolik (kondisi pre diabetes, termasuk tekanan darah tinggi dan obesitas) dan diabetes melitus tipe 2. Rosiglitazone (Avandia) dan pioglitazone (Actos) adalah obat dari golongan thiazolidinedione yang sudah disetujui. Salah satu studi meyakini rosiglitazone bisa memperbaiki fungsi sel beta dan membantu mencegah progresivitas diabetes. Tetapi, di balik manfaatnya yang besar, efek samping obat golongan ini pun mengkhawatirkan. Thiazolidinediones bisa menyebabkan anemia dan bersama obat diabetes oral lainnya bisa menaikkan berat badan meski masih dalam skala moderat. Obat ini juga meningkatkan risiko peningkatan cairan yang akan memperburuk gagal jantung. Faktanya, troglitazone (Rezulin), agen pertama golongan ini ditarik dari pasaran setelah ditemukan laporan gagal jantung, gagal hati, dan kematian. Tetapi thiazolidinedione saat ini tidak menunjukkan efek yang sama pada hati meskipun ada beberapa laporan liver injury. Pasien yang mendapat thiazolidinedione harus dimonitor secara teratur menyusul studi tahun 2002 yang menemukan insiden cukup tinggi gagal jantung pada pasien yang menggunakan obat ini. Meski studi ini tidak dibuktikan dengan relasi penyebab dan ada dugaan temuan gagal jantung terjadi pada pasien yang memang sudah mengidapnya, namun studi lebih lanjut tetap diperlukan. Beberapa pasien yang mengalami kenaikan berat badan dengan cepat, retensi cairan, atau napas pendek harus dipantau lebih ketat. Obat jenis ini belum diteliti secara intensif dan para ahli meyakni seharusnya tidak digunakan secara rutin untuk manajemen diabetes melitus tipe 2, hanya dalam konteks studi klinis.

Meglitinida Meglitinida juga termasuk jenis obat diebetes yang bekerja dengan menstimulasi sel-sel beta di pankreas untuk memproduksi insulin. Yang termasuk golongan Meglitinides adalah repaglinida (Prandin), nateglinida (Starlix), dan mitiglinida. Mekanisme aksi dan profil efek samping repaglinida hampir sama dengan sulfonylurea. Agen ini memiliki onset yang cepat dan diberikan saat makan, dua hingga empat kali setiap hari. Repaglinida bisa sebagai pengganti bagi pasien yang menderita alergi obat golongan sulfa yang tidak direkomendasikan sulfonylurea. Obat ini bisa digunakan sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan metformin. Harus diberikan hati-hati pada pasien lansia dan pasien dengan gangguan hati dan ginjal.

Efek samping umum golongan meglinitide adalah diara dan sakit kepala. Sama dengan sulfnylurea, repaglinida memilki risiko pada jantung. Jenis yang lebih baru, seperti nateglinida, memiliki risiko sama namun lebih kecil. 3. Terapi Komplementer (Sambiloto)

Jumlah pasien diabetes mellitus di Indonesia terbanyak keenam di dunia. Dalam 20 tahun, prevalensi kencing manis yang semula hanya 1,7% melonjak menjadi 14,7%. Padahal, Indonesia kaya tanaman obat yang berfaedah meredakan kadar gula darah, seperti sambiloto Andrographis paniculata. Keampuhan sambiloto menurunkan kadar gula darah dikenal sejak nenek moyang. Mereka meyakini kandungan zat pahit pada sambiloto menetralkan rasa manis akibat kadar gula darah tinggi. Kepercayaan itu terbukti secara empiris. Pantas bila cerita tentang khasiat ki oray-sebutan sambiloto dalam bahasa Sunda-terwariskan hingga sekarang. Jumlah pasien diabetes mellitus di Indonesia terbanyak keenam di dunia. Dalam 20 tahun, prevalensi kencing manis yang semula hanya 1,7% melonjak menjadi 14,7%. Padahal, Indonesia kaya tanaman obat yang berfaedah meredakan kadar gula darah, seperti sambiloto Andrographis paniculata. Keampuhan sambiloto menurunkan kadar gula darah dikenal sejak nenek moyang. Mereka meyakini kandungan zat pahit pada sambiloto menetralkan rasa manis akibat kadar gula darah tinggi. Kepercayaan itu terbukti secara empiris. Pantas bila cerita tentang khasiat ki oray-sebutan sambiloto dalam bahasa Sunda-terwariskan hingga sekarang. Nenek moyang kita merebus segenggam daun sambiloto kering-setara 1-2 gram- dalam 3 gelas air hingga tersisa segelas. Keesokan hari air rebusan itu dikonsumsi 3 kali sehari. Dalam beberapa hari, gejala kencing manis seperti mudah haus, sering berurine, dan mata buram pun perlahan mereda. Terbukti ilmiah Di era modern keampuhan sambiloto menurunkan kadar gula darah bukan lagi sekadar mitos. Berbagai penelitian di tanah air membuktikan khasiat anggota famili Acanthaceae itu. Salah satunya pengujian pada tikus percobaan. Tikus yang diuji dibagi ke dalam 5 kelompok. Kelompok I alias kontrol diberi larutan tragakan berkadar 1%. Tiga kelompok lainnya diberi sambiloto yang diekstrak dengan heksana, etilasetat, dan etanol berdosis 0,5 g/kg bb tikus. Kelompok sisanya diberi tolbutamid berdosis 0,315 g/kg bb untuk perbandingan. Tolbutamid senyawa aktif yang biasanya terkandung dalam obat diabetes di pasaran. Sebelum percobaan tikus dipuasakan selama 18 jam, tetapi tetap minum. Satu jam setelah perlakuan, seluruh tikus diberi larutan glukosa 10% berdosis 2 g/kg bb secara oral. Kadar gula darah diukur pada 30, 60, 90, dan 150 menit setelah pemberian glukosa. Hasil riset menunjukkan kelompok tikus yang diberi ekstrak etanol mampu menurunkan kadar gula darah dari rata-rata 170,81 mg/100 ml menjadi 79,31 mg/100 ml dalam waktu 150 menit. Sedangkan tikus yang diberi sambiloto yang diekstrak dengan heksana dan etilasetat tidak menunjukkan perubahan bermakna. Keampuhan sambiloto menurunkan glukosa darah berkat interaksi senyawa aktif yang terkandung di dalamnya. Daun sambiloto mengandung laktone yang terdiri atas deoksiandrografolida, andrografolida, neoandrografolida, 14-deoksi-11-12-didehidroandrografolida, dan homoandrografolida. Sambiloto juga kaya flavonoid, alkana keton, aldehida, mineral (kalium, kalsium, natrium), asam kersik, dan damar. Aneka flavonoid seperti polimetoksiflavon, andrografin, panikulin, mono-0-metilwithin, dan apigenin-7,4-dimetileter juga terdapat pada bagian akar. Andrografolida senyawa aktif paling dominan. Berdasarkan penelitian senyawa itu berkhasiat antidiabetes. Caranya dengan meningkatkan kadar betaendorfin dalam plasma. Betaendorfin adalah neurotransmiter yang berefek analgesik alias pereda rasa sakit dan antipiretik atau penenang. Khasiatnya mengurangi tekanan psikis para pasien. Kondisi stres mengacaukan metabolisme tubuh sehingga pasien sulit mengendalikan kadar gula darah. Andrografolida juga berfaedah menurunkan aktivitas pembentukan glukosa dari senyawa-senyawa nonkarbohidrat seperti piruvat dan laktat. Dengan begitu kadar gula darah pasien dapat dikendalikan. Aman Kandungan senyawa aktif sambiloto terbukti aman. Hasil uji toksisitas akut menunjukkan LD50 (lethal dose) sambiloto mencapai 27,5 g/kg bb. Artinya, herbal itu aman dikonsumsi karena efek toksik hanya timbul pada dosis yang sangat tinggi. Pada manusia berbobot 60 kg akan berefek racun bila mengkonsumsi lebih dari 1,65 kg. Itulah sebabnya tahap uji klinis kini tengah ditempuh Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala. Ekstrak sambiloto berkadar andrografolida 10% diberikan kepada sejumlah pasien diabetes mellitus. Hanya saja penelitian belum tuntas karena belum memenuhi kuota yang disyaratkan dalam prosedur uji klinis. Takila-sebutan sambiloto dalam bahasa Jawa-tak hanya ampuh bila diekstrak dengan etanol. Sambiloto yang diekstrak dengan air panas terbukti juga mampu menurunkan kadar gula darah dari rata-rata 148,81 mg/100 ml menjadi 77,1 mg/100 ml. Itu artinya khasiat sambiloto tidak berkurang meski disajikan secara tradisional dengan cara direbus. Kerabat landep itu juga dapat disajikan dalam bentuk kemasan seperti teh celup. Satu gram sambiloto kering dihaluskan lalu masukkan ke dalam kantong teabag. Celupkan ke dalam air panas bersuhu 80-90oC selama 5 menit. Setelah dingin air seduhan sambiloto siap dikonsumsi. Senyawa aktif andrografolida juga terbukti berfaedah melindungi hati dari 52% zat beracun alias hepatoprotektor. Aneka jenis bakteri penyebab penyakit seperti Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgaris, Shigella dysentriae, dan Eschericia coli juga mati ketika terpapar ekstrak sambiloto. Pada pengujian secara in vitro, air rebusan sambiloto merangsang daya fagositosis sel darah putih sehingga meningkatkan kekebalan tubuh. Andrografolida terbukti menurunkan demam yang ditimbulkan oleh pemberian vaksin yang menyebabkan panas pada kelinci. Sambiloto juga berefek antiradang. (www.trubusonline.co.id)