Anda di halaman 1dari 7

BEA MATERAI Dasar Hukum Peraturan mengenai Bea Materai yang berlaku di Indonesia saat ini adalah UndangUndang

Nomor 13 Tahun 1985 tertanggal 27 Desember 1985 tentang Bea Materai. UndangUndang ini menggantikan Aturan Bea Materai 1921 (zegelverordening 1921). Beberapa perbedaan terkait dengan pengenaan Bea Materai berdasarkan ABM 1921 dengan UU Bea Materai dapat diringkas sebagai berikut : ABM 1921 UU NOMOR 13 TAHUN 1985 y Terdiri dari 16 bab dan 142 pasal y Terdiri dari 7 bab dan 16 pasal y Obyek pajak : tanda / dokumen yang y Obyek pajak : dokumen yaitu kertas menyatakan keadaan,perbuatan atau yang berisikan tulisan yang peristiwa di bidang hukum perdata mengandung arti dan maksud tentang yang mempunyai arti bagi perbuatan,keadaan atau kenyataan pemegangnya,dan dapat digunakan bagi seseorang dan/atau pihak-pihak sebagai alat bukti di hadapan yang berkepentingan pengadilan y Terdapat 4 macam tarif : tarif y Terdapat dua macam tarif tetap yaitu umum,tarif sebanding,tarif menurut Rp 6.000,- dan Rp 3.000,luas kertas dan tarif tetap y Surat asli sahih pengadilan beserta y Surat asli sahih pengadilan beserta salinan dan petikannya dikenakan Bea salinan & petikannya tidak dikenakan Materai menurut luas kertas bea materai y Akta notaris dikenakan Bea Materai y Akta notaris dikenakan Bea Materai menurut luas kertas Rp 6.000,y Daluwarsa penagihan 3 tahun sejak y Daluwarsa penagihan 5 tahun sejak ditemukan pelanggaran tanggal pembuatan dokumen Objek dan Tarif Bea Materai Yang menjadi objek Bea Materai adalah dokumen bukan peristiwa,keadaan atau perbuatan hukumnya. Jika suatu peristiwa hukum atau perbuatan hukum terjadi namun tidak dibuatkan dokumennya maka menurut ketentuan dalam UU Bea Materai tidak menjadi objek pajak. Tentang Bea Materai berlaku asas Tiada dokumen tiada pajak. Dokumen didefinisikan sebagai kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan,keadaan atau kenyataan bagi seseorang dan/atau pihak-pihak yang berkepentingan. Secara teoritis kita bisa mengatakan suatu dokumen adalah Objek Bea Materai apabila memenuhi dua syarat yaitu : 1. Memiliki ciri fisik sebagai dokumen 2. Disebutkan oleh UU Bea Materai

Meski Bea Materai dikenakan terhadap dokumen,tetapi tidak setiap dokumen dikenai Bea Materai. Yang dikenai Bea Materai dan tarif yang dikenakan sesuai dengan PP Nomor 24 Tahun 2000 adalah sebagai berikut : 1) Dokumen yang dikenai Bea Materai dengan tarif Rp 6.000,- adalah : a) Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan,kenyataan,atau keadaan yang bersifat perdata. b) Akta-akta Notaris termasuk salinannya c) Akta-Akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangkap-rangkapnya d) Yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,- untuk dokumen berupa : y Surat yang memuat jumlah uang,yaitu : 1. Yang menyebutkan penerimaan uang 2. Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di Bank 3. Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank 4. Yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan y Surat berharga seperti wesel ,promes dan aksep atau e) Dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan,yaitu : y Surat-surat biasa dan surat kerumahtanggaan y Surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Materai berdasarkan tujuannya,jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain,selain dari maksud semula. f) Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) g) Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,2) Dokumen yang dikenai Bea Materai denga tarif Rp 3.000,- adalah : a) Yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah) sampai dengan Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah),berupa : y Surat yang memuat jumlah uang,yaitu : 1. Yang menyebutkan penerimaan uang 2. Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di Bank 3. Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank 4. Yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan y Surat berharga seperti wesel,promes dan aksep atau b) Cek dan bilyet giro tanpa batas pengenaan besarnya harga nominal c) Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp 1.000.000,-

d) Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal sampai dengan Rp 1.000.000,-

Dokumen Perbankan Mengenai dokumen perbankan, Direktur Jenderal Pajak telah menerbitkan Surat Edaran Nomor SE-29/PJ.5/2000 yang menjelaskan jenis dokumen perbankan yang terutang Bea Meterai dengan tarif yang berlaku. Rinciannya adalah sebagai berikut: 1) Perjanjian pembukaan rekening giro : Rp 6.000,2) Rekening koran bulanan khusus giro : Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 3) Surat Kuasa Rp6.000,4) Sertifikat Deposito Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 5) Deposito Berjangka Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 6) Bukti pencairan deposito (baik tunai ataupun pemindahbukuan) Rp3.000,- dan Rp6.000,Berdasarkan harga nominal 7) Deposito on call (dalam bentuk sertifikat) Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 8) Pencairan kiriman uang masuk untuk nasabah Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 9) Stop Payment Order (baik atas cek/ bilyet giro atau bentuk perintah pembayaran lainnya oleh nasabah) Rp3.000,- dan Rp6.000,- Berdasarkan harga nominal 10) Cek/bilyet giro Rp 3.000,11) Penarikan kuitansi (selain untuk tabungan) Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 12) Bank Draft yang dibayarkan di dalam negeri Rp 6.000,13) Penegasan pemenang SBI Rp 6.000,14) Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 15) Bukti pelunasan SBI Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 16) Pencairan deposito antar Bank Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 17) Kontrak jual/beli forward Rp 6.000,18) Kuitansi penarikan Giro Valas Rp3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 19) Aplikasi pembelian Devisa Umum Rp 6.000,20) Surat Pengikatan perjanjian transaksi derivatif Rp 6.000,21) Aplikasi pembelian Traveller Check Rp 6.000,22) Draft (ekspor, negosiasi L/C, dan Bank Garansi Rp 6.000,23) Indemnity/pelunasan pakai copy Airway Bill (surat pernyataan guarantee) Rp 6.000,24) Jaminan (counter guarantee) Rp 6.000,25) Perjanjian permohonan plafon untuk pengeluaran Bank Garansi Rp 6.000,26) Aplikasi permohonan pengeluaran/ perubahan Bank Garansi (yang disetarakan dengan suatu perjanjian) Rp 6.000,27) Garansi Bank Rp3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 28) Penerbitan Shipping Guarantee Rp 6.000,29) Perjanjian Kredit Rp 6.000,30) Tanda terima pencairan kredit secara tunai Rp3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 31) Pengakuan hutang Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal

32) Surat sanggup bayar (promes) Rp 3.000,-dan Rp 6.000,- Berdasarkan harga nominal 33) Cessie di bawah tangan Rp 6.000,34) FEO/fidusia di bawah tangan Rp6.000,35) Laporan stok dari debitur Rp6.000,36) Borgtocht di bawah tangan Rp6.000,37) Akta pemberian tanggungan (personal guarantee) Rp6.000,38) Surat pernyataan tidak menyewakan barang jaminan Rp6.000,39) Perjanjian Risk Sharing Rp6.000,40) Surat perjanjian electronic banking Rp6.000,41) Perjanjian pembukaan sewa deposit box Rp6.000,Dalam hal dokumen perbankan syariah mempunyai nama yang tidak sama dengan dokumen di atas, maka untuk menentukan dokumen tersebut dikenakan Bea Meterai atau tidak adalah dengan cara mencocokkan isi dan makna dari dokumen dimaksud dengan dokumen di atas.

Dokumen Yang Tidak Dikenai Bea Materai Dokumen-dokumen yang tidak dikenai Bea Materai ditetapkan sebagai berikut : 1) Dokumen yang berupa : a. Surat penyimpanan barang b. Konosemen c. Surat angkutan penumpang dan barang d. Keterangan pemindahan yang dituliskan diatas dokumen e. Bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang f. Surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim g. Surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat 2) Segala bentuk ijazah 3) Tanda terima gaji,uang tunggu,pensiun,uang tunjangan dan pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu 4) Tanda bukti penerimaan uang Negara dari kas Negara,kas Pemerintah Daerah,dan bank 5) Kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari kas Negara,Kas Pemerintah Daerah dan bank 6) Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi 7) Dokumen yang menyebutkan tabungan,pembayaran uang tabungan kepada penabung oleh bank ,koperasi dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut 8) Surat gadai yang diberikan oleh perusahaan jawatan pegadaian 9) Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek,dengan nama dan dalam bentuk apapun. SUBJEK BEA METERAI DAN SAAT TERUTANGNYA Ketentuan mengenai subjek Bea Meterai dan saat terutangnya diatur dalam Pasal 5 dan Pasal 6 UU Bea Meterai. Bea Meterai terutang oleh pihak yang menerima atau pihak yang mendapat manfaat dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain.

Saat terutang Bea Meterai ditentukan: a. dalam hal dokumen yang dibuat oleh satu pihak, adalah pada saat dokumen itu diserahkan; Dalam hal dokumen itu dibuat oleh satu pihak misalnya kuitansi, Bea Meterai terutang oleh penerima kuitansi dan terutang saat kuitansi itu diserahkan kepada penerima kuitansi bukan pada saat ditandatangani oleh pembuat kuitansi. Tanda tangan adalah tanda tangan sebagaimana lazimnya dipergunakan, termasuk pula paraf, teraan atau cap tanda tangan atau cap paraf, teraan cap nama atau tanda lainnya sebagai pengganti tanda tangan; b. dalam hal dokumen yang dibuat oleh lebih dari salah satu pihak, adalah pada saat selesainya dokumen itu dibuat; Apabila dokumen itu dibuat oleh dua pihak atau lebih misalkan surat perjanjian jual beli maka saat terutangnya adalah saat dokumen selesai dibuat yaitu telah ditandatangani oleh kedua belah pihak dan masing-masing pihak terutang Bea Meterai atas dokumen yang diterimanya. Jika surat perjanjian dibuat dengan Akta Notaris, maka Bea Meterai yang terutang baik atas asli sahih yang disimpan oleh Notaris maupun salinannya yang diperuntukkan pihak-pihak yang bersangkutan terutang oleh pihak-pihak yang mendapat manfaat dari dokumen tersebut, yang dalam contoh ini adalah pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Jika pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain, maka Bea Meterai terutang oleh pihak atau pihak-pihak yang ditentukan dalam dokumen tersebut. c. dalam hal dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia. Dokumen yang dibuat di luar negeri pada saat digunakan di Indonesia harus telah dilunasi bea Meterai yang terutang dengan cara pemeteraian-kemudian. (Pasal 9 UU Bea Meterai).

SAAT PELUNASAN BEA MATERAI Bea Materai dilunasi pada saat dilakukan pencamtuman materai pada dokumen, baik dengan benda materai maupun cara lain yang telah ditetapkan.

PENGGUNAAN DAN CARA MELUNASI BEA MATERAI a. Bentuk ukuran, warna meterai tempel dan kertas meterai, demikian pula percetakan, pengurusan, penjualan serta penelitian keabsahannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. b. Bea Meterai atas dokumen dilunasi dengan cara : y menggunakan benda meterai 1. materai tempel

c. d. e.

f. g. h.

i. j.

k. l.

m. n.

2. kertas materai y menggunakan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan 1. mesin teraan materai 2. teknologi percetakan 3. sistem komputerisasi 4. alat lain dengan teknologi tertentu y pemateraian kemudian (oleh pejabat kantor pos) 1. pemateraian kembali karena pelanggaran 2. pemateraian kembali bukan karena pelanggaran Meterai tempel direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di atas dokumen yang dikenakan Bea Meterai. Meterai tempel direkatkan ditempat dimana tanda tangan akan dibubuhkan. Pembubuhan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal, bulan dan tahun dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga sebagian tanda tangan di atas kertas dan sebagian lagi di atas meterai tempel. Jika digunakan lebih dari satu meterai tempel, tanda tangan harus dibubuhkan sebagaian di atas semua meterai tempel dan sebagian di atas kertas. Kertas meterai yang sudah digunakan, tidak boleh digunakan lagi. Jika isi dokumen yang dikenakan Bea Meterai terlalu panjang untuk dimuat seluruhnya di atas kertas meterai yang digunakan, maka untuk bagian isi yang masih tertinggal dapat digunakan kertas tidak bermeterai. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud angka 1 sampai angka f tidak dipenuhi maka dokumen yang bersangkutan dianggap tidak bermeterai. Dokumen sebagaimana yang dimaksud dalam objek Bea Meterai tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya dikenakan denda administrasi sebesar 200% ( dua ratus persen ) dari Bea Meterai yang tidak atau kurang bayar. Pemegang dokumen atas dokumen sebagaimana dimaksud pada angka 10 harus melunasi Bea Meterai yang terhutang dengan cara pemeteraian kemudian. Pejabat pemerintah, hakim, panitera, jurusita, notaris dan pejabat umum lainnya, masing-masing dalam tugas atau jabatannya tidak dibenarkan : y Menerima mempertimbangkan atau menyimpan dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang bayar. y Melekatkan dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar sesuai dengan tarifnya pada dokumen lain yang berkaitan. y Membuat salinan, tembusan, rangkapan atau petikan dari dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar. y Memberikan keterangan atau catatan pada dokukmen yang tidak atau kurang dibayar sesuai dengan tarif Bea Meterainya. Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan angka 12 dikenakan sangsi administratif sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku Kewajiban pemenuhan Bea Meterai dan denda administrasi yang terhutang menurut undang-undang Bea Meterai daluwarsa setelah lampau waktu 5 tahun, terhitung sejak tanggal dokumen dibuat.

SANKSI BAGI PELANGGAR Tindak pidana yang diatur dalam ketentuan pidana dalam UU Bea Meterai adalah merupakan tindak pidana di bidang perpajakan. Tindak pidana ini merupakan tindak pidana umum dalam ketentuan khusus. Tindak pidana umum berarti tata cara penyidikannya mengacu kepada KUHP. Karena merupakan tindak pidana dalam ketentuan khusus maka yang melakukan penyidikan dapat penyidik PNS dari Direktorat Jenderal Pajak. Dalam Pasal 13 UU Bea Meterai dinyatakan: Dipidana sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana : a. Barang siapa meniru atau memalsukan meterai tempel dan kertas meterai atau meniru dan memalsukan tanda tangan yang perlu untuk mensahkan meterai; b. Barang siapa dengan sengaja menyimpan dengan maksud untuk diedarkan atau memasukan ke Negara Indonesia meterai palsu, yang dipalsukan atau yang dibuat dengan melawan hak; c. Barang siapa dengan sengaja menggunakan, menjual, menawarkan menyerahkan, menyediakan untuk dijual atau dimasukkan ke Negara Indonesia meterai yang mereknya, capnya, tanda-tangannya, tanda sahnya atau tanda waktunya mempergunakan telah dihilangkan seolah-olah meterai itu belum dipakai dan atau menyuruh orang lain menggunakan dengan melawan hak; d. barang siapa menyimpan bahan-bahan atau perkakas-perkakas yang diketahuinya digunakan untuk melakukan salah satu kejahatan untuk meniru dan memalsukan benda meterai. Selanjutnya dalam Pasal 14 dinyatakan bahwa sebagai tindak pidana kejahatan: Barang siapa dengan sengaja menggunakan cara lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf b tanpa izin Menteri Keuangan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 7 (tujuh) tahun. Sanksi tidak atau kurang melunasi bea materai (sanksi administrasi) Dokumen yang terutang/dikenakan Bea materaiyang tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya dikenakan denda administrasi sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Materai yang tidak atau kurang dibayar. Pemegang dokumen atas dokumen yang tidak atau kurang dibayar Bea Materainya harus melunasi Bea materai yang terutang berikut dendanya dengan cara pemateraian kemudian.