Anda di halaman 1dari 9

Transplantasi Jaringan Lemak : Pilihan Orisinil dalam Myringoplasty

S. Ayache, F. Braccini, F. Facon, dan J. M. Thomassin

Otorhinolaryngology and Cervical and Facial Surgery Federation, La Timone Hospital, Marseille Cedex, France, and Medical and Surgical Agency of otorhinolaryningology, Nice, France

Objektif : untuk menggambarkan transplantasi lemak sebagai bahan rekonstruksi dalam myringoplasty. Metode : dalam review dari 45 pasien antara 1993 dan 1999, penulis telah menganalisa outcome pasien setelah dilakukannya myringoplasty dengan transplantasi lemak. Median follow-upnya 2,5 tahun (rentang, 6 bulan-6 tahun). Hasil : kami mencapai angka keberhasilan sekitar 90%.Fitur yang berbeda dari pasien dan perforasi timpani telah dipelajari untuk menunjukkan peranannya dalam kualitas dari operasi penutupan. Review dari literature telah dilakukan untuk membandingkan hasil kami dengan hasil serial lainnya yang menggunakan tipe transplantasi ini sebagaimana dengan studi dari fasia otot temporal yang menjadi bahan transplantasi. Kesimpulan : reabilitas tinggi dari transplantasi lemak dan kesederhaan teknik dari prosedur ini pada perforasi anterior, khususnya pada penggunaaan endoskopi intraoperatif, membuatnya menjadi teknik yang atraktif. Kata kunci : endoskopi-transplantasi lemak-myringoplasty-perforasi timpani. Otol Neurotol 24:158-164, 2003.

Myringoplasty adalah operasi paling efektif dalam otology karena tingginya frekuensi dari perforasi timpani. Perforasi ini bertanggung jawab terhadap infeksi sekunder, dengan konsekuensi dari kehidupan social pasien, terutama di kalangan anak-anak. Lebih dari 3 abad, berbagai bahan rekonstruksi telah sukses digunakan dalam myringoplasty, tetapi munculnya penggunaan autograft di akhir abad 19 memimpin revolusi dari metode bedah rekonstruksi timpani. Meskipun flap dari fasia otot temporalis merupakan metode yang paling sering digunakan, banyak kontroversi dalam penggunaan teknik ini. Studi ini mengusulkan transplantasi lemak sebagai bahan rekonstruksi alternative dalam myringoplasty. Percobaan pertama dalam menutup perforasi timpani dilakukan oleh Banzer, yang man di tahun 1640 melakukan penyisipan ke daerah yang berlubang yaitu saluran elkhorn yang ditutupi dengan kandung kemih babi. Selanjutnya, Leschevian di tahun 1763, dan Authenrieth dan Bohneberger di 1815 mengusulkan untuk menggunakan timpani buatan, tetapi gagal. Di tahun 1852, Toynbee mencoba lagi

konsep timpani buatan dengan menggunakan substansi yang mirip karet yang terpasang pada kawat perak halus dan dimasukkan ke membrane timpani sentral yang perforasi. Berthold adalah yang pertama sukses melakukan penutupan timpani dengan transplantasi kulit di tahun 1878. Ia menggunakan tekniknya dalam 10 tahun terakhir tetapi memungkinkan untuk kelayakan pada zamannya. Meskipun Tangeman berhasil melakukan myringoplasty di tahun 1933, dalam literatur survei tidak muncul, hanya di tahun 1950an barulah dilaporkan myringoplasty dalam literatur otologi, dengan dipulikasikan oleh Wullstein dan Zollner. Setelah penggunaan pertama dari transplantasi kulit pada myringoplasty di tahun 1878, yang mana menyebabkan rekurensi perforasi dan kolesteroma, berbagai macam varietas dari bahan rekonstruksi timpani digunakan dan digolongkan menggunakan terminology yang tepat. Allograft menggunakan bahan dari donor manusia telah dilakukan. Marquet telah menjelaskan metode apusan dan implantasi, yang mana memilki keuntungan dari pemulihan timpani secara utuh dengan annulusnya, dengan atau tanpa rantai ossicular total atau parsial. Jadi, mereka memerlukan bank donor dan pasienpasien yang memiliki resiko tertular HIV and penyakit Creutzfeldt-Jacob dari bahan donor. Xenografts berasal dari donor hewan dan bahan dasarnya dari peritoneum sapi. Dengan metode ini, Zini et al. membangun timpani buatan menggunakan vena jugularis sapi. Diluar dari kekurangan allografts, bagaimanapun, transplantasi ini terlihat kurang anatomis karena ketidakadaan annulus. Membran timpani buatan menimbulkan resiko tinggi dari komplikasi benda asing seperti fenomena inflamasi dan autolisis. Beberapa upaya dalam pembedahan ini menghasilkan berbagai macam komplikasi. Autografts menggunakan bahan apusan dari pasien. Cara ini mudah dalam melakukan apusan dan tidak membawa risiko transmisi virus, namun memungkinkan untuk reepitelisasi yang cepat. Sejak penggunaan pertama pada tipe myringoplasty ini di tahun 1878, sumber dari bahan transplantasi banyak mengalami perubahan seperti duremeria, kornea, perikondrium, transplantasi periosteum, vena, jaringan konjungtif, membran amnion, dan perikardia sudah pernah digunakan. Ortegen adalah yang pertama menggunakan fasia otot temporalis dalam myringoplasty di tahun 1959 dan bahan transplantasi ini telah diperkenalkan 1 tahun setelahnya di US oleh L. Strorrs, setelah itu bahan ini dipergunakan secara luas dan menjadi bahan yang paling sering digunakan. Pengalaman bedah pertama menggunakan jaringan lemak muncul di luar bidang otologi oleh Rehn di tahun 1912 yang telah menggunakan bahan autogen pada kelinci dan anjing percobaan. Bahan ini telah ditunjukkan untuk memiliki kapasitas resistensi yang tinggi. Di tahun 1914, Lexer telah menggunakan jaringan lemak untuk melindungi perlengketan di sekitar saraf dan tendon setelah

penjahitan. Mann, di tahun 1921, mengamati transplantasi jaringan omentum di cavum peritoneum dapat bertahan selama kurang lebih 1 tahun. Peer di tahun 1950 melaporkan bahwa transplantasi lemak tunggal yang besar dalampercobaaan manusia berkurang menjadi sekitar setengah volume aslinya setelah 1 tahun,

sedangkan beberapa transplantasi kecil kehilangan 40-50% dari volume awal di periode yang sama. Secara histologi, stelah 1 tahun, sel-sel lemak pada transplantasi telah menghilang atau telah menurun dari kadar awal dan tidak berasal dari jaringan host. Pembuluh-pembuluh darah muncul hanya beberapa hari setelah transplntasi dan beberapa darinya mengalami anastomose dengan pembuluh host. Goodale and Montgomery mempelajari kapasitas cavum obliterasi di tahun 1961 menggunakan lemak perut di sinus frontal, seperti yang dilakukan Piquet et al. di tahun 1958 setelah evakuasi petromastoid. Percobaan pertama menggunakan lemak dalam penutupan perforasi timpani dilakukan oleh Ringenberg. Metode penutupan perforasi kecil timpani ini telah dikonfirmasi oleh Sterkers di tahun 1964 dengan menggunakan kompresi lemak perut danselanjutnya dikonfirmasi ulang oleh Terry et al. dan Gross et al. Transplantasi ini sangat berguna dalam memperbaiki perforasi dari sluran transtimpani pada anak-anak.

Bahan dan Metode


Bahan Studi retrospektif dari 45 myringoplasty menggunakan transplantasi lemak pada 45 pasien di RS La Timone antara September 1993 dan Desember 1999. Terdiri dari 27 perempuan dan 18 laki-laki (ratio, 1,5 : 1) yang mana rata-rata umurnya berkisar 36 tahunan (rentang, 4-77 tahun). Lima belas pasien (33,3%) lebih muda dan 30 pasien (66,7%) lebih tua dari 15 tahun. Seri homogen ini menjalani operasi yang dilakukan oleh dokter ahli bedah tunggal. Median follow-upnya berkisar 2,5 tahun (rentang, 6 bulan-6 tahun). Diantara pasien yang telah dilakukan operasi, 12 myringoplasty berhasil dilakukan dengan transplantasi fasia otot temporalis. 11 pasien (24%) mendapat keuntungan dari operasi saluran gendang telinga untuk pengobatan otitis seromukus kronis, 10 (91%) dari pasien ini adalah anak-anak. 2 pasien (5%) diketahui mengalami trauma langsung pada telinganya; tidak ada pasien yang memiliki penyakit umum seperti diabetes. 23 (51%) dari perforasi merupakan perforasi di telinga kiri dan 22 (49%) perforasi di telinga kanan. Partisi dan lokasi ditunjukkan pada gambar 1 dan 2. Perforasi yang ada terjadi di marginal atau di pars flaccida. Pada satu pasien (2%), timpaninya mengalami lesi myringosclerotic jernih. Dasar dari telinga tengah telah mongering pada 41 pasien (91%) dan basah pada 4 pasien lainnya (9%). Rinne pertengahan sekitar 23 dB (rentang, 10-40dB) pada 500-, 1000-, dan 2000 Hz, ambang pertengahan ke bawah untuk konduksi udara-tulang sekitar 25 dB (rentang, 10-40dB) dan ambang tertingginya sekitar 7 dB ( rentang, 0-30 dB), untuk ambang tengahnya sekitar 16 dB (rentang, 0-55 dB). Gambar 1. Repartisi dengan ukuran dari perforasi. Gambar 2. Repartisi dengan topografi dari perforasi.

Metode Prosedur pembedahan yang dilakukan kepada pasien di bawah pengaruh anestesi lokal dengan aplikasi panjang dari cairan Bonain. Operasi berlangsung setidaknya 30 menit pada 18 pasien (40%), semuanya merupakan orang dewasa (umurnya > 15 tahun). General anestesi dengan intubasi orotrakeal dilakukan pada semua pasien anak-anak (15 anak) untuk kenyamanan pasien dan ahli bedah. Pada semua kasus ini, menggunakan pendekatan pada meatus auditorius tanpa pemisahan dari kulit meatus atau gendang telinga. Pada kebanyakan dari kasus ini (43 pasien, 95,5%) telah dilakukan endoskopi intraoperative (diameter, 4mm). Penggunaan mikroskop selama operasi hanya pada 2 pasien (4,5%). Setelah membersihkan dengan hati-hati bagian meatus eksternal, kemiringan dari perforasi dibuat dengan micropoint, berikan perhatian khusus untuk tidak membiarkan lapisan epitel superfisial gendang telinga masuk ke dalam telinga tengah untuk menghindari berkembangnya cholesteatoma. (Gambar 3-6) Gambar 3. Perforasi anterior-inferior dan non-marginal. Gambar 4. Eksisi tepi perforasi dengan micropoint. Gambar 5. Membuat tepi perforasi dengan gunting mikro. Gambar 6. Transplantasi lemak. Apusan lemak besar yang kemudian diambil dari pasien digunakan untuk menutup luka operasi. Bagian yang diplih adalah perut pada sebagian besar kasus yang ada (41 kasus, 91%). Insisi 1 cm dibuat pada lipatan kulit yang mendekati umbilical. Pada 4 pasien lainnya (9&), apusan lemak diambil dari bagian anterior area pretragal homolateral. Transplantasi ini memiliki ukuran dua kali dari perforasi. Transplantasi disisipkan melalui perforasi dengan micropoint dan dimasukkan setengahnya dengan Champagne cork (Gambar 7). Transplantasi selanjutnya difiksasi dengan lem bilogis pada semua kasus. Setelah terfiksasi, beberapa fragmen penyerapan diletakkan di permukaan. Insisi dari apusan ditutup dengan benang yang tidak diserap. Gambar 7. Gambaran Champagne cork transplantasi lemak. Gambar 8. Gambaran dari perforasi Gambar 9. Perforasi setelah pembedahan.

Hasil
Rawat inap rata-rata pada kasus ini sekitar 2 hari dan rata-rata follow-up sekitar 2,5 tahun (rentang, 6 bulan-6 tahun). Tidak ada komplikasi post operatif yang tercatat. Studi follow-up dilakukan dengan otoskop, dengan atau tanpa endoskopi, pada 7 hari, 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan. Gambar 8 dan 9 menunjukkan awal dan postmyringoplasty (setelah 1,5 tahun) untuk perforasi anterior dari gendang telinga kanan. Di antara 4 perforasi residu,1 muncul pada post operatif hari ke 7. Dengan rentang followup dari 6 bulan hingga 6 tahun, tingkat penutupan secara global mencapai 91,1% ( 41 perforasi dari 45

total operasi). Tidak ada perbedaan signifikan yang telah diamati pada jenis kelamin pasien (25% lakilaki, 75% perempuan) atau umur (1 orang dewasa, 3 anak-anak, umur 8-10 tahun). Di antara 4 pasien yang memiliki perforasi residu pada 6 bulan, 1 yang memiliki keuntungan dari myringoplasty dengan fasia otot temporalis ((25%), dan 1 yang memiliki keuntungan dari saluran gendang telinga (25%). Tidak ada pasien yang dilaporkan mengalami trauma telinga. Di antara keempat kegagalan pengobatan, tidak ada preoperatif myringosklerosis dan telinga tengah yang dalam keadaan basah yang dilaporkan. Operasi yang dilakukan terhadap pasien menggunakan anestesi lokal pada 1 kasus dan general anestesi pada 3 kasus, yang mana kesemuanya adalah anak-anak. Myringoplasty telah dilakukan dengan pendekatan meatus auditori dan panduan dari endoskopi. Transplantasi lemak perut digunakan pada keempat kasus ini. Keempat sisa perforasi ini terdiri dari 1 inferior (25%), 2 anterior (50%), dan 1 posterior (25%), yang merupakan area primer dari perforasinya. Ukuran perforasi mewakili seperempat dari area pada ketiga pasien (75%). Keempat perforasi ini berbentuk poin, sedangkan primernya ini merupakan

sepereempat dari area pada keempat pasien yang ada. Perforasi sisa telah berhasil dioperasi ulang dengan metode klasik menggunakan fasia otot temporalis pada keempat pasien tersebut.

Diskusi
Tingkat keberhasilan keseluruhan untuk myringoplasty pada serial ini mencapai 91,1%. Pada tahun 1962, Ringenberg melaporkan 86,5% tingkat keberhasilan untuk myringoplasty dengan menggunakan lemak lobus telinga. Gross et al. pada tahun 1989, menjelaskan serial dari 76 intervensi bedah pada 62 anak. Awal tingkat keberhasilan mereka mencapai 84,7% dan menurun ke 79,2% setelah 1 tahun follow-up. Pada tahun 1993, Deddens et al. melaporkan 89% tingkat keberhasilan untuk penutupan timpani pada 28 pasien. Baru-baru ini, pada tahun 1997, Mitchell et al. melaporkan tingkat keberhasilan 80% dengan prosedur ini. Lihat table 2. Tabel 3 menunjukkan tingkat keberhasilan rata-rata yang dicapai dengan myringoplasty menggunakan prosedur klasik selama 15 tahun terakhir ini, tetapi serial ini mengandung lebih banyak pasien dan perforasi timpani yang lebih lebar. Tidak ada perbedaan signifikan pada hasil yang telah diobservasi dengan perihal jenis kelamin pada studi kita. Observasi ini dibuat oleh Deddens et al. dalam studi 28 anak yang dibedah dengan mwnggunakan transplantasi lemak. Umur pasien lebih sering didiskusikan dalam hubungan dengan perbedaan penggunaan prosedur myringoplasty. Dalam serial Deddens et al. yang rata-rata umur pasiennya berkisar 7 tahun (rentang, 2-15 tahun), umur bukanlah faktor penentu terhadap komplikasi. Pada serial tahun 1997 dari 342 anak-anak telah dicapai tingkat keberhasilan sekitar 92%, Mitchell et al. menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara umur pasien dan hasil postoperatif. Kami juga memiliki kesimpulan yang sama pada studi kami karena dalam observasi tidak ditemukan hubungan yang berarti

pada umur. Namun, Black et al. and MacDonald et al., menemukan bahwa transplantasi fasia otot temporalis merupakan kontraindikasi terhadap pasien yang berumur di bawah 8 tahun, meskipun penulis yang lain tidak setuju. Sejak munculnya secara luas penggunaan dari tabung gendang telinga dalam terapi otitis media kronik, terlebih pada anak-anak, peningkatan perforasi kecil anteroinferior telah ditemukan. Dalam serial Deddens et al. terhadap 28 anak, 89% memiliki perforasi post tabung gendang telinga. Dalam serial kami rata-rata terjadinya hanya 24% (11 pasien). Namun, diantara 91% anak, hanya 1 (9%) yang mengalami perforasi residu setelah transplantasi lemak. Perforasi post tabung gendang telinga merupakan indikasi baik untuk penutupan dengan menggunakan trasnplantasi lemak. Namun, diantara indikasi tersebut terdapat banyak lesi-lesi myringosklerotik yang dikarenakan fenomena otitis media kronik. Gambaran terjadinya lesi tersebut tidak dimunculkan pada literatur, dan pada serial kami hanya 1 pasien yang mengalaminya, dan kami sukses mengelolanya. Terlepas dari ini, meskipun lapisan terluas dari myringosklerotik yang letaknya jauh dari perforasi tidak akan menggangu penutupan, lapisan yang mendekati bagian dari perforasi justru akan mengganggu. Sesungguhnya, kelangsungan dari transplantasi memerlukan ahli bedah untuk menggambarkan bentuk dari perforasi. Prosedur ini sangatlah sulit dikarenakan adanya myingosklerotik, yang mengapa kami menganggap ini merupakan komplikasi buruk dari prosedur. Aspek dasar dari telinga tengah bermacam-macam pada pasien-pasien otitis media kronik. Di antara penulis-penulis yang menggunakan transplantasi fasia temporalis, Lau and Tos menganggpa bahwa telinga tengah yang basah menjadi faktor prognosis buruk, tetapi Francois et al. and Sade et al. tidak setuju. Aspek dari kontralateral telinga tengah bias ditentukan. Pada serial dari 231 myringoplasty yang menggunakan prosedur ini, Denoyelle et al. menganggap aspek dari mukosa telinga tengah dan kondisi kontralateral menjadi faktor prognosis yang sangat penting.

Tabel 1. Karakteristik dari perforasi residu (n = 4/45) Perforasi Jenis kelamin/umur Perforasi 1 P/8 tahun Tidak ada Perforasi 2 P/10 tahun Tabung gendang telinga Perforasi 3 L/43 tahun Tidak ada Tidak/kering Lokal Inferior/inferior punctiform Tidak/kering Umum Posterio/posterior - Riwayat Sklerosis/telinga tengah Tidak/kering Umum Anterior/anterior - Anestesi Topografi Ukuran

Perforasi 4

P/8 tahun

Tidak ada

Tidak/kering

Umum

Anterior/anteror

Tidak ada pasien pada serial kami yang menderita diabetesatau penyakit lain sebelumnya yang dapat menimbulkan sikatrik. Tidak ada dari faktor-faktor tersebut yang terbukti. Namun, lebih seringnya yang didiskusikan adalah ukuran dari perforasi, Deddens et al. menganggap ukurun merupakan faktor krusial. Perforasi, dalam serialnya, berkisar 5-30% pada permukaan timpani, yang merupakan faktor prognosis baik pada transplantasi lemak dan juga kriteria yang sangat baik untuk seleksi preoperatif, Gross et al. setuju dengannya. Penulis lainnya melaporkan berbagai serial dari myringoplasy yang menggunakan fasia temporal, diantara berbagai macam perforasi, hanya saja hasil mereka lebih rendah, Denoyelle et al. mengesampingkan faktor ini dari faktor prognosis buruk. Sebagian besar dari penulis nampaknya setuju pada ukuran perforasi yang mencapai 50%. Kami memiliki pendapat yang sama, itulah mengapa kami peruntukkan indikasi kami pada punctiform dan dari permukaan gendang telinga, yang menampilkan 95,5% dari perforasi, dan 4,5% dari 50% permukaannya (2 kasus); yang terakhir telah dioperasi dengan sukses. Tabel 2. Hasil dari myringoplasty dengan transplantasi lemak sejak 20 tahun terakhir. Penulis Ringenberg, 1962 Gross et al., 1989 Deddens et al., 1993 Mitchell et al., 1997 Studi kami Jumlah kasus 65 76 25 342 45 Tingkat keberhasilan (%) 86,5 79,2 89 80 91,1

Mengenai topografi, perforasi anterior atau inferior mendominasi pada serial kami, masingmasingnya berkisar 37,7% (17 kasus) dan 42,2% (19 kasus). Perforasi posterior muncul pada yang lainnya (17,7%, 8 kasus). Repartisi ini merupakan hal klasik pada literature, jadi, semua perforasi adalah anteroinferior pada serial Deddens et al., yang khususnya karena tabung gendang telinga, pada 89,3%. Fakta ini tercatat pada serial Gross et al. dari 76 myringoplasty dengan lemak. Topografi anteroinferior, yang disebabkan oleh tabung gendang telinga menjadi indikasi yang begitu baik. Pada serial kami, 90% dari mereka yang mengalami perforasi tersebut telah ditutup dengan lemak. Pada penulis lain, yang menggunakan fasia temporalis tidak setuju dengan pendapat ini. Sesungguhnya, Jurovitzki dan Sade berfikir bahwa topografi hanyalah faktor prognosis dari keberhasilan prosedur bedah. Penutupan dari perforasi anterior dilaporkan sebagai kesulitan dalam penanganan oleh sebagian besar ahli bedah. Pada kebanyakan hipotesis mengenai penjelasan tentang kesulitan-kesulitan yang ada, sebagai visualisai yang

sangat buruk dari batas anterior pada perforasi, ukuran kecil dari bagian anterior dimana transplantasi diletakkan, atau khususnya metabolisme dari bagian anterior pada gendang telinga yang merupakan bagian paling rentan. Jadi, Reijnen dan Kuijpers menggunakan thymidine tertitrasi, menjelaskan kerentanan ini dengan kebutuhan metaolisme tinggi pada area itu, dikarenakan aktivitas miosis yang besar; Pau, menggunakan studi angiografi, yang hanya akan melibatkan sedikit sistem vaskuler. Berbagai macam prosedur telah digunakan untuk mengatasi masalah tersebut: Sandwich Technique, menggunakan fasia berlapis atau bahan asing, Potsic et al. melaporkan prosedur yang memungkinkan fasia temporalis, medial ke gendang telinga, tetapi lateral ke palu, dan menduduki bagian anterior dari saluran auditorial eksternal, di bawah anulus, dengan tingkat keberhasilan 98% di antara 42 kasus setelah 6 bulan. Tabel 3. Hasil dari myringoplasty dengan prosedur klasik Penulis Francois et al., 1985 Lau dan Tos, 1986 Ophir et al., 1987 Prescott dan Robartes, 1991 Kessler et al., 1994 Black et al., 1995 Chandrasekhar et al., 1995 Denoyelle et al., 1998 Jumlah kasus 150 124 155 96 209 100 381 231 Tingkat keberhasilan (%) 81 92 79 84 92 75,3 81 83,4

Dalam kasus pasien kami, kami menggunakan otoendoskopi dengan melalui saluran auditorial, pada 95% kasus. Ada penulis yang menentang bahwa endoskopi yang dipakai seorang ahli bedah, dan tidak memungkinkan semua tempat di saluran, untuk dilalui instrumen. Selain itu, hal tersebut memiliki keuntungan untuk memungkinkan visualisasi yang sangat baik pada dinding anterior dari saluran auditorial, dan untuk menempatkan transplantasi lemak di bawah kendali dari pandangan. Ini akan sangat berguna dalam survei pasca operasi. Saluran pendengaran memungkinkan juga tidak memiliki hematoma, bekas luka dan kenyamanan pasca operasi yang sangat baik. Sebagian kecil publikasi berbicara tentang sifat-sifat jaringan lemak, di Otologi. Ringenberg, mempelajari sifat-sifat di Otologi, dan kami pernah berbicara tentang itu. Dia membandingkan tiga jenis dari apusan, perut, pantat dan lobulus telinga, dan menyimpulkan bahwa lobulus telinga memungkinkan jaringan konjungtif yang lebih baik, karena lebih padat, dan pertumbuhan epitel dan mukosa timpani yang lebih baik. Jika fasia otot temporalis adalah bahan inert, yang merupakan dukungan bagi penutupan timpani, trnasplantasi lemak menyajikan aktifitas besar revaskularisasi. Hal ini dilaporkan oleh otoskopi,

hanya beberapa hari setelah prosedurnya. Revaskularisasi awal ini mungkin menjelaskan fisiologis dari pertumbuhan timpani. Studi tentang vaskularisasi dari jaringan lemak telah menunjukkan angiogenesis yang mendahului adipogenesis tersebut. Selain itu, jaringan lemak ini memicu proses sikatrik dan revaskularisasi dari area nonvaskuler. Properti ini sangat erat hubungannya karena aktifitas sekresi dari sel-sel adiposa, memproduksi banyak protein dan metabolit. Di antara mereka, monobutyrin adalah molekul kunci dalam regulasi mekanisme angiogenesis, juga dalam perkembangan sel-sel dan jaringan yang normal. Hal ini luar biasa untuk angiogenesis yang diamati pada bagian transplantasi omentum pada jaringan otak, di mana banyak koneksi vaskular yang berkembang antara dua jaringan ini. Faktor angiogenesis akan berpengaruh pada fenomena ini. Faktor pertumbuhan endotel vaskular adalah faktor utama. Hal ini adalah polipeptida, yang disintesis oleh jaringan lemak, khususnya dalam kondisi hipoksia. Molekul lainnya dapat memainkan perannya. Jadi, peran prostaglandin mucul oleh induksi dari neovaskularisasi lebar setelah transplantasi subkutan dan jaringan lemak omentum pada kornea kelinci. Hasil ini sama dengan hasil setelah transplantasi satu sama lain dari jaringan ini, sedangkan tidak ada efek yang dilaporkan pada jaringan otot atau hati. Selain itu, indometasin menghambat efek ini, memungkinkan untuk membangkitkan peran prostaglandin. Sifat-sifat dari proses sikatrik dari jaringan lemak juga dilaporkan dalam obliterasi sinus frontalis setelah prosedur bedah. Kontrol setelah gambarannya membuktikan bahwa sebagian besar jaringan lemak digantikan oleh jaringan konjungtif. Akhirnya, kita harus menekankan peran penting dari sitokin, yang diproduksi oleh sel adiposa. Jadi, sebuah studi eksperimental diwujudkan, in vitro, dalam kultur jaringan perikardial. Hal ini untuk menunjukkan jika jaringan ini dapat memungkinkan terjadi neovaskularisasi, dan kemudian memperbaiki jaringan. Hal ini terjadi bahwa jaringan ini, pada perbedaan jaringan otot, dapat menghasilkan interleukin 1 dan 6 dan TNF, sitokin yang dikenal berperan dalam memperbaiki jaringan. Selain itu, tidak ada deteksi yang bisa dilakukan, tentang gamma interferon, yang menghambat pertumbuhan fibroblast dan juga mekanisme dari proses sikatrik. Transplantasi lemak merupakan bahan hidup, yang aktifitasnya tergantung pada kapasitas neovaskularisasi.

Kesimpulan
Dengan tingkat penutupan timpani yang mencapai 91,1%, transplantasi adiposa menunjukkan kelangsungan hidupnya yang sangat tinggi, memberikan indikasi pada seleksi yang ketat. Prosedur myringoplasty ini sangat disederhanakan dengan penggunaan otoendoskopi, yang dapat secara khusus menemukan perforasi anterior, dimana kondisi anatomi merupakan masalah yang besar, sangat sering berpengaruh pada kegagalan.

Beri Nilai