Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dapat dipandang dari dua segi, pertama dari segi pandangan masyarakat, pendidikan berarti pewarisan atau pemindahan nilai- nilai intelek, seni, politik, ekonomi, agama dan lain sebagainya. Kedua dari segi pandangan individu pendidikan berarti pengembangan potensi- potensi manusia .1 Istilah pendidikan adalah terjemah dari bahasa Yunani paedagogie yang berarti pendidikan dan pedagogia yang berarti pergaulan dengan anakanak. Sedangkan orang yang tugasnya membimbing atau mendidik dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri disebut pedagogos. Istilah pedagogos berasal dari kata peados (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin). Berpijak dari istilah di atas, pendidikan bisa diartikan sebagi usaha yang dilakukan orang dewasa dalam pergaulannya dengan anakanak untuk membimbing/memimpin perkembangn jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. Atau dengan kata lain, pendidikan ialah bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak dalam pertumbuhannya, baik jasmani maupun rohani agar berguna bagi diri sendiri dan masyarakat.2 Menurut Poerbakawatja dan Harahap, pendidikan adalah usaha secara

sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tangung jawab moril dari segala perbuatannya, orang dewasa itu adalah orang tua si anak atau orang yang atas dasar tugas dan kedudukannya mempunyai kewajiban untuk mendidik, misalnya guru sekolah, kiyai dalam lingkungan keagamaan, kepalakepala asrama dan sebagainya.3
Hasan langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, Bandung PT Al maarif,1980 hal 131 - 1312 2 Armai Arief, Reformulasi pendidikan Islam,CRSD PRESS Jakarta, april 2005, hal 17 -18 3 Departeman Pendidikan dan Kebudayaan GBPP Pendidikana Agama Islam SMP hal 1
1

Pada awal abad 20 dunia pendidikan Islam lebih berorientasi pada pendidikan agama. Pada sisi lain pemerintah kolonial Belanda

memperkenalkan pendidikan barat yang sekuler yang tidak mengenal ajaran agama, sedikit banyak mempengaruhi sitem pendidikan di Indonesia, yaitu pesantren. Padahal diketahui bahwa pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan di Indonesia sebelum adanya kolonial Belanda. Dalam hal ini mucul kesadaran dari pendidikan Islam ulamaulama yang pada waktu itu juga menyadari bahwa sistem pendidikan tradisional dan langgar tidak sesuai dengan iklim pada masa itu. Maka dirasakanlah akan pentingnya mengadakan pembaharuan yaitu memberikan pendidikan secara teratur di madrasah atau sekolah. Salah satunya adalah pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Persatuan Islam (PERSIS), Persis didirikan pada tanggal 12 September 1923 di Bandung oleh sekelompok umat Islam yang tertarik pada kajian dan aktivitas keagamaan, Persis memiliki tokoh yang gencar mengadakan pembahruan yaitu A. Hassan, atau lebih dikenal dengan sebutan Ahmad Hasan Bandung. Dilahirkan di Singapura tahun 1887, Ahmad Hasan adalah seorang yang berasal dari keluarga campuran, Indonesia dan India. Ayahnya bernama Ahmad, yaitu seorang penulis yang ahli dalam Islam dan kesusastraan Tamil. Sedangkan ibu nya Hassan bernama Muznah yang berasl dari Pelekat Madras, tetapi lahir di Surabaya. Ahmad dan Muznah menikah di Surabaya ketika Ahmad berdagang ke kota Surabaya dan akhirnya mereka tinggal di Singapura.4 Di singapura A. Hassan sempat berganti-ganti profesi, berdagang tekstil, permata dan minyak wangi, menjadi penulis di kantor jamah haji di Jeddah Piligrrim office Singapura serta menjadi guru bahasa Melayu dan bahasa Inggris di Pontian, sanglang, Benut dan Johor. Pada tahun 1921 A. Hassan pindah dari Singapura ke Surabaya dengan maksud untuk mengambil alih pimpinan toko tekstil yang menjadi milik pamannya, Haji Abdul Latif, namun akhirnya mengalami kemunduran dan diserahkan kembali kepada pamannya. Sahabat A. Hassan yaitu Bibi Wantee
4

Dadan wildan,Sejarah Perjuangn Persis, GEMA SYAHIDA Bandung,BAndung 1995, hal 31

dan Muallimin, mengirim A. Hassan untuk memepelajrari pertenunan di Kediri, setelah itu A. Hassan melanjutkan belajarnya kesekolah pertenunan pemerintah di Bandung dan tinggal pada keluarga Muhammad Yunus salah seorang pendiri Persis. Dengan demikian tanpa sengaja A. Hassan telah mendekatkan dirinya pada pusat kegiatan penelaahan agama pada organisasi Persis. A. Hassan mengadakan pembaharuan dalam berbagi hal termasuk di dalam bidang pendidikan, Pendidikan Islam yang dulu hanya berupa pengajian pengajian biasa di surau surau, A. Hassan mengadakan pembaharuan dalam hal Pengajaran Agama Islam. Maka atas dasar kesimpatikan Penulis terhadap Ahmad Hasan dan rasa ingin tahu yang mendalam tentang pembaharuanya dalam bidang pendidikan Islam di lingkungan Persis. Penulis bermaksud untuk menulisnya dalam bentuk skripsi yang berjudul : PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM DI LINGKUNGAN PERSIS (Studi Kasus : Kontribusi Ahmad Hassan).

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka identifikasi masalahnya adalah sebagi berikut : 1. Kurang relevannya orientasi pendidikan Islam yang dimiliki oleh persis. 2. Kurang berdaya gunanya hasil pendidikan agama Di lingkungan Persis. 3. Kurang bervariasinya penggunaan metode dalam pengajaran agama.

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah Dari identifikasi masalah di atas maka Penulis merasa perlu untuk membatasi pembahasan pada aspek Kurang relevannya orientasi pendidikan Islam yang dimilik. Serta kurang bervariasainya penggunaan metode dalam pengajaran agama di lingkungan Persis, melahirakan bentuk yang sempit. Berdasarkan indentifikasi dan perumusan masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: pemahaman

Kontribusi apa saja yang diberikan A. Hassan dalam memperbaharui pendidikan Islam di lingkungan Persis?

D. Tujuan dan Manfaat Penulisan Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut 1. Penelitian ini bertujuan untuk menjelasakan kontribusi A. Hassan dalam melakukan pembahruan pendidikan Islam di kalangan Persis. Manfaat yang diambil dari penulisan skripsi ini adalah : 1. Melalui skripsi ini penulis berharap bisa memberikan informasi bagi siapa saja yang ingin mengetahui kontribusi Ahmad Hassan dalam

memperbaharui sitem pendidikan Islam di kalangan Persis.

E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Berdasarkan obyek penelitian ini, jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode study pustaka dalam bentuk penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan deskriptif analisis. 2. Metode Penulisan Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan. Untuk mendapatkan data-data penelitian, penulis

mengumpulkan data kepustakaan, terutama yang berkaitan dengan pembaharuan pendidikan Islam di lingkungan Persis dan kontribusinya A. Hassan terhadap pendidikan Islam di lingkungan Persis dari berbagai sumber. 3. Fokus Penelitian Fokus penelitian ini adalah pembaharuan pendidikan Islam di lingkungan Persis. Serta kontribusi yang di berikan A. Hassan dalam pendidikan Islam di lingkungan Persis. Cara penyajian bersifat deskriptif analisis. Penyajian deskriptif adalah menjelaskan tentang pembaharuan pendidikan Islam di lingkungan persis

itu sendiri. Analisisnya adalah menganalisa kontribusi A. Hassan dalam pembahruan pendidikan Islam di lingkungan Persis dari berbagai sumber yang memiliki keterkaitan. 4. Sumber Data Dalam pengumpulan data penulis mempergunakan metode penelitian kepustakaan. Untuk mendapatkan data-data penelitian, penulis

mengumpulkan bahan-bahan kepustakaan terutama yang berkaitan dengan pembaharuan pendidikan Islam yang dilakukan A. Hassan di lingkungan Persis dari beberapa sumber diantaranya: Sejarah Perjuangan Persis, Konsep Pendidikan Formal Islam Ikhtiar Pendidikan Formal Persis, Persatuan Islam: Pembahruan Islam Indonesia Abad XX. Observasi yaitu mengamati peninggalan-peninggalan A. Hassan, wawancara dengan Pengurus Pusat Persis mengenai Pembaharuan pendidikan Islam di lingkungan Persis yang dilakukan Oleh A. Hassan 5. Proses Penelitian a. Tahap Persiapan Pada tahap ini penulis mengadakan kunjungan perpustakaan dalam rangka pengumpulan data. b. Tahap Pelaksanaan 1. Study dokumentasi, menginventaris kontribusi A. Hassan dalam pembahruan pendidikan Islam di kalangan Persis 2. Observasi, mengamati bentuk-bentuk peninggalan hasil pemikiran Ahmad Hassan baik dalam buku, atau dalam lembaga pendidikan. 3. Wawancara, yaitu merupakan tanya jawab yang dikerjakan secara sistematis berlandaskan pada tujuan penelitian. Wawancara ini dilakukan dengan Pengurus Pusat Persis tentang pembaharuan yang dilakukan Ahmad Hassan dalam pendidikan Islam dan lainlain. c. Tahap Penyelsaian

Dalam tahap ini, peneliti menyimpulkan hasil observasi dan wawancara kemudian menafsirkan secara menyeluruh dalam bentuk hasil penelitian.

F. Tehnik Penulisan Skripsi Teknik penulisan skripsi ini berpedoman pada buku Pedoman Penulisan Skripsi yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negri Jakarta Syarif Hidayatullah Jakarta 2007.

Anda mungkin juga menyukai