Anda di halaman 1dari 14

I.

TUJUAN Pemucatan bertujuan untuk mengadsorpsi pengotor-pengotor lain yang terdapat dalam CPO seperti sisa tandan, sejumlah kecil logam, dan pengotor hasil oksidasi minyak yang biasanya berwarna gelap serta menghilangkan zat zat warna yang tidak di sukai dalam minyak,dan juga dapat mengurangi Asam Lemak Bebas (ALB),peroksida dan hasil pemecahannya serta logam transisi.

II. DASAR TEORI Pemucatan ialah digunakan dalam aplikasi bleaching (pemucatan/penjernihan) CPO atau juga CNO dan minyak-minyak yang lainnya. Tujuan utama dari pemucatan memang untuk menjernihkan CPO (katakanlah contohnya) dengan cara mengadsorpsi zat-zat warna dalam CPO. Dalam CPO sendiri zat warna yang biasa ditemukan adalah antosianin, klorofil, xanthofil dan beta karoten.Proses bleaching juga bisa mencegah kerusakan minyak karena selain zat warna tadi, pemucatan juga dapat dapat mengadsorpsi pengotor-pengotor lain yang terdapat dalam CPO seperti sisa tandan, sejumlah kecil logam, dan pengotor hasil oksidasi minyak yang biasanya berwarna gelap. Akan tetapi, harap diingat pula, untuk CPO biasanya proses pemucatan dilakukan dengan menggunakan suhu yang relatif tinggi (100-120 derajat celcius). Sudah tentu dengan suhu sedemikian tinggi dapat menyebabkan CPO menjadi teroksidasi walaupun untuk skala lab, biasanya proses oksidasi minyak bisa diminimalisasi atau bahkan dihindari dengan mengkondisikan set alat bleaching dalam kondisi vakum untuk mencegah adanya oksigen atau juga, lebih baik lagi, sebelum dilakukan proses pemucatan oksigen yang ada dalam set alat bleaching diusir terlebih dahulu dengan gas nitrogen.Proses bleaching dengan menggunakan BE jg punya kelemahan terhadap kualitas CPO karena banyak sekali zat-zat yang justru diperlukan seperti beta karoten maupun vitamin E yang ikut teradsorpsi oleh BE.. Berdasar pada pengalaman yg telah saya lakukan, ada kondisi optimum dari BE agar proses bleaching berlangsung dengan baik. Baik disini adalah warna CPO yang jernih dan kandungan zat yang diinginkan seperti beta karoten juga tidak berkurang terlalu banyak.Untuk masalah yg terakhir, ada pertanyaan yang kadang terus menggelitik di kepala tapi sampai saat ini belum terpecahkan, bagaimana caranya agar BE yang digunakan memiliki kemampuan mengadsorpsi yang selektif, dimana hanya pengotor yang tidak diinginkan saja yang terserap sedangkan beta karoten dan vitamin E (misalnya) tidak ikut

terserap,,Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak kelapa sawit (CPO) terbesar di dunia. Pada tahun 2007 produksi CPO (Crude Palm Oil) Indonesia yaitu sebesar 17,5 juta ton sedangkan Malaysia hanya memproduksi CPO sebesar 17 juta ton (www.bisnisindonesia.com). Ekspor CPO Indonesia pada dekade terakhir meningkat 7 - 8% per tahun. Pada tahun 2007 ekspor CPO Indonesia sebesar 12,40 juta ton atau turun 1,1% dari 2006 sebanyak 12,54 juta ton (www.kapanlagi.com). Minyak kelapa sawit (CPO) banyak digunakan di berbagai industri, baik untuk industri pangan ataupun industri non pangan. Salah satunya adalah produk minyak goreng, Pada proses produksi minyak goreng terdapat tahapan pemurnian CPO antara lain penghilangan gum (Degumming), penghilangan asam lemak bebas (Netralisasi), pemucatan warna (Bleaching) serta penghilangan bau (Deodorisasi) (Ketaren, 1986).Pada proses pemucatan CPO menggunakan bleaching earth dengan kadar antara 0.5% hingga 2.0% dari massa CPO (Young, 1987). Bleaching earth merupakan bahan aktif yang digunakan untuk menghilangkan atau menjerap pigmen warna yang terdapat didalam CPO sehingga dihasilkan minyak yang lebih jernih. Bleaching earth yang digunakan di industri ada beberapa jenis antara lain, bentonit, activated clay dan arang aktif. Industri pemurnian CPO di Indonesia umumnya menggunakan Ca-bentonit sebagai bleaching agent. Kebutuhan akan bleaching earth khususnya bentonit setiap tahun semakin meningkat dengan berkembangnya industri minyak nabati, namun disisi lain bentonit tidak dapat diperbaharui. Dengan asumsi pada tahun 2007 sisa ekspor CPO sebesar 3,6 juta ton digunakan untuk membuat minyak goreng dan turunannya, maka dalam proses pemurnian CPO diperlukan bleaching earth sebesar 72.000 ton per tahun.Komposisi limbah terbesar pada industri minyak goreng adalah Spent Bleaching Earth, yaitu bahan limbah padat yang dihasilkan dari pemurnian minyak goreng. Limbah ini masih mengandung 20-30% minyak nabati (Young, 1987). Pada umumnya industri minyak akan membuang spent bleaching earth pada suatu lahan. Tingginya kandungan minyak nabati pada spent bleaching earth sangat potensial untuk dimanfaatkan sehingga perlu dilakukan recovery, selain itu spent bleaching earth dapat dilakukan proses regenerasi untuk digunakan kembali dalam proses pemurnian minyak nabati.Limbah dari proses pemucatan minyak terdiri dari dua komponen utama yaitu minyak dan bentonit. Adapun minyak hasil recovery dapat digunakan menjadi metil ester (biodiesel), hal tersebut dikarenakan minyak sudah tidak lagi food grade artinya minyak sudah rusak (Young, 1987). Selain itu pemanfaatan bentonit setelah recovery ialah untuk penggunaan kembali pada proses pemucatan minyak dan juga untuk bahan baku briket. Pemanfaatan tersebut sangat baik karena potensi limbah yang sangat tinggi dengan seiring perkembangan industri pemurnian minyak sawit.Kheang et al (2006) telah melakukan

penelitian mengenai proses pengambilan minyak dari spent bleaching earth (WAC dan NC) dengan dua metode yaitu solvent extraction (hexan) dan supercritical extraction (SC-CO2). Penelitian tersebut menunjukan bahwa kandungan minyak yang didapatkan dengan metode solvent extraction lebih besar dibanding supercritical extraction (SC-CO2) yaitu sebesar 30% (WAC). Pemanfaatan limbah industri. pemurnian minyak sangat penting dilakukan terkait dengan besarnya potensi limbah yang dihasilkan dan semakin pesatnya pertumbuhan industri pemurnian minyak. Rendemen minyak yang dihasilkan dari proses recovery dengan 2 jenis pelarut organik berkisar antara 16 sampai 21.74 % dari bobot limbah. Pelarut isopropanol memberikan nilai rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan n-hexan yaitu berkisar antara 18.75 sampai 21.74 % sedangkan n-hexan berkisar antara 16.11 sampai 17.74 %.Kepolaran pelarut organik selain berpengaruh terhadap rendemen juga berpengaruh terhadap kejernihan minyak. Nilai transmitten minyak (faktor pengenceran 100 kali) pada panjang gelombang 500 nm untuk minyak yang dihasilkan dari ekstraksi dengan menggunakan isopropanol berkisar antara 15.85 sampai 27.9 % sedangkan pada minyak hasil ekstraksi dengan n-hexan berkisar antara 87.45 sampai 93.55 %. Kadar asam lemak bebas pada minyak hasil recovery ini berkisar antara 13.15 20.9 % untuk semua jenis perlakuan. Bilangan peroksida minyak tidak terdeteksi untuk semua jenis perlakuan. Kadar abu yang terdapat pada minyak hasil recovery umumnya sangat kecil, untuk keseluruhan perlakuan bernilai kurang dari 1%.Nilai pH SBE setelah recovery berkisar antara 3.21 sampai 3.43. Bleach power bentonit hasil recovery ditunjukan dengan nilai % T pada minyak yang dipucatkan oleh bentonit tersebut. Nilai transmitten minyak (faktor pengenceran 50 kali) pada panjang gelombang 500 nm pada bentonit hasil recovery dengan isopropanol memiliki nilai antara 77.05 sampai 80 % sedangkan bentonit hasil recovery dengan n-hexan berkisar antara 60.35 sampai 63.5 %.Menurut Estiasih (2009), ada dua metode umum pemucatan, yaitu metode adsorbsi dengan menggunakan adsorben dan metode pemucatan kimiawi. Metode kimia jarang digunakan dan merupakn metode penghilangan warna dengan cara mengoksidasi pigmen dalam minyak menjadi senyawa yang tidak berwarna. Metode ini tidak digunakan untuk minyak makan. Efek merugikan pada pemucatan secara kimiawi adalah selain mengoksidasi pigmen, minyak juga dapat teroksidasi. Bahan kimia yang digunakan pada proses pemucatan kimiawi ini antara lain natrium klorit, hidrogen peroksida, natrium hiperklorat, natrium perpirofosfat, kalium permanganat, asam hidroklorat dan natrium dikromat.

Metode pemucatan yang lainnya menurut Andersen untuk pemucatan minyak sawit dan lemak lainnya yang telah dikenal antara lain : 1. Pemucatan dengan adsorbsi; cara ini dilakukan dengan menggunakan bahan pemucat seperti tanah liat (clay) dan karbon aktif. 2. Pemucatan dengan oksidasi; oksidasi ini bertujuan untuk merombak zat warna yang ada pada minyak tanpa menghiraukan kualitas minyak yang dihasilkan, proses pemucatan ini banyak dikembangkan pada industri sabun. 3. Pemucatan dengan panas; pada suhu yang tinggi zat warna akan mengalami kerusakan, sehingga warna yang dihasilkan akan lebih pucat. Proses ini selalu disertai dengan kondisi hampa udara. 4. Pemucatan dengan hidrogenasi. Hidrogenasi bertujuan untuk menjenuhkan ikatan rangkap yang ada pada minyak tetapi ikatan rangkap yang ada pada rantai karbon kerotena akan terisi atom H. Karotena yang terhidrogenasi warnanya akan bertambah pucat. Metode pemucatan lainnya menurut Estiasih (2009) antara lain : 1. Metode batch Merupakan metode konvensional yang telah lama digunakan. Pada metode ini minyak dipanaskan dalam ketel dengan bagian bawah berbentuk kerucut. Ketel ini dilengkapi oleh koil pemanas dan pengaduk. Pengaduk ini berfungsi menjaga adsorben yang digunakan tetap tersuspensi dalam minyak selama diaduk. Proses pengadukan udara dapat dapat terperangkap dalam minyak walaupun udara diusahakan serendahrendahnya, udara ini dapat menyebabkan minyak teroksidasi. Untuk menghindarinya dapat digunakan pemucatab metode vakum. Keuntungannya adalah suhu pemucatan dapat lebih rendah. Pemanasan dilakukan secepat-cepatnya dan lama pemanasan tidak boleh lebih dari 1 jam 2. Metode kontinu Metode kontinu lebih efektif dalam mencegah oksidasi minyak dibandingkan metode batch secara vakum. Pada metode ini minyak dan tanah pemucat atau adsorben disemprotkan pada alat pemucat vakum kontinu atau continous vacuum bleacher.

Kontak antara minyak dan tanah pemucat lebih singkat sehingga dapat menghindari proses hidrolisis minyak. Sebagaimana diketahui, hidrolisis dapat terjadi jika adsorben yang digunakan diaktivasi dengan asam. Hidrolisis ini menghasilkan asam lemak bebas yang tidak diinginkan. Jenis Absorben Adsorbsi merupakan suatu peristiwa fisik pada permukaan suatu bahan yang tergantung dari spesifik affinity antara adsorben dan zat yang diadsorbsi (Ketaren, 1986). Adsorbsi dapat diklasifikasikan menjadi adsorbsi fisik dan kimia. Adsorbsi fisik terjadi karena adanya gaya Van der Walls dan bersifat reversibel. Adsorbent yang digunakan dalam adsorbsi fisik harus memiliki luas permukaan yang luas sebagai tempat terkumpulnya solute. Sedangkan adsorbsi secara kimia biasanya bersifat irreversibel. Karena molekul molekul dalam zat padat tiap tiap arah sama maka gaya tarik menarik antara satu molekul dengan yang lain di sekelilingnya adalah seimbang. Sebab daya tarik yang satu akan dinetralkan oleh yang lain yang letaknya simetris. Lain halnya yang ada di permukaan, gaya gaya tersebut tidak seimbang karena pada suatu arah di sekeliling tersebut tidak ada molekul lain yang menariknya. Akibatnya zat tersebut akan mempunyai sifat menarik molekulmolekul gas atau solute ke permukaannya. Metode pemucatan dengan adsorben adalah proses adsorbsi komponen-komponen pigmen dan pengotor dalam minyak dengan menggunakan tanah pemucat (bleaching earth) atau adsorben sintetik. Jenis absorben penting yang digunakan pada proses pemucatan adalah tanah pemucat atau lempung aktif. Kebanyakan tanah pemucat ini terdiri atas mineral aluminium silikat. Penggunaannya pada proses pemucatan minyak umumnya setelah tanah pemucat tersebut diaktifkan. Aktivasi yang biasa dilakukan adalah aktivasi dengan asam. Tujuan aktivasi ini adalah mengaktifkan tapak aktifnya (active site) sehingga dapat berfungsi sebagai adsorben. Jika tidak dilakukan aktivasi, tanah pemucat seperti bentonit dan montmorilonit, tidak mampu menghilangkan warna. Tanah pemucat yang sudah diaktivasi terdapat berbagai tingkatan derajat aktivasi dari netral hingga asam. Tanah pemucat yang lebih asam digunakan untuk memucatkan minyak yang lebih sulit dihilangkan pigmen atau warnanya. Kekurangan penggunaan tanah pemucat yang bersifat asam adalah selama proses pemucatan dapat terjadi hidrolisis terhadap trigliserida sehingga meningkatkan kadar asam lemak bebas. Sebaliknya, tanah pemucat yang

kurang asam lebih sulit untuk memucatkan warna tetapi tidak meningkatkan kadar asam lemak bebas. Tanah pemucat yang sudah diaktivasi terutama digunakan untuk memucatkan minyak dengan mutu yang sangat rendah. Jumlah adsorben yang digunakan pada proses pemucatan beragam bergantung pada keaktifan dan sifat atau cirinya. Faktor lain yang menentukan adalah jenis minyak, intensitas warna minyak dan warna yang diinginkan dari minyak hasil pemucatan. Parameter prose pemucatan seperti suhu dan waktu kontak juga mempengaruhi jumlah adsorben yang dibutuhkan. Umumnya adsorben yang digunakan pada konsentrasi 0.15 0.30%, kecuali pada keadaan yang sangat ekstrim seperti warna minyak yang sangat pekat. Pada umumnya konsentrasi penggunaan adsorben masih dibawah 1%. Bentonit Bentonit merupakan salah satu bahan alternatif yang dapat dipergunakan untuk bahan penjernih (bleaching agent) minyak kelapa, dimana potensi industri ini sangat besar. Pemanfaatan bentonit ini akan memberikan nilai tambah yang cukup besar, dibandingkan jika dimanfaatkan hanya sebagai bahan pengganti batu bata atau batako. Zeolit Aktivasi dapat dilakukan secara fisik maupun kimiawi. Secara fisik, aktivasi dilakukan dengan pemanasan pada suhu tinggi sehingga air yang terikat secara kimiawi menjadi lepas. Aktivasi secara fisik ini akan meningkatkan luas permukaan pori-pori zeolit. Aktivasi kimiawi dilakukan dengan menggunakan basa atau asam kuat. Pada aktivasi ini terjadi penurunan kadar alumina sehingga nisbah silikat/alumina meningkat yang mengakibatkan peningkatkan porositas zeolit dan meningkatkan kemampuannya sebagai adsorben. Karbon aktif Karbon aktif jarang digunakan karena harganya mahal. Selain it, karbon aktif mempunyai sifat dapat menahan minyak dalam jumlah tinggi sehingga penyusutan akibat pemucatan menjadi tinggi pula. Kelebihan karbon aktif adalah dapat mengadsorbsi residu sabun dari pemurnian alkali. Kelebihan lainnya adalah karbon aktif tidak menyebabkan perubahan aroma minyak seperti adsorben yang lain.

Silika amorf Silika amorf digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan residu sabun atau fosfatida. Kerja silika amorf bersifat sinergis dengan tanah pemucat. Biasanya pemucatan silika amorf merupakan perlakuan pendahuluan sebelum dilakukan pemucatan dengan tanah pemucat. Silika amorf mampu mengadsorbsi residu sabun dan fosfatida sehingga jumlah tanah pemucat yang digunakan lebih sedikit. Pembatasan penggunaan silika amorf adalah harganya yang mahal. Syarat clay yang dipakai untuk bleaching Endapan bahan galian lempung di lapangan terdiri dari endapan lempung yang berlapis dan masif. Endapan lempung sedimen memperlihatkan adanya perlapisan. Tetapi karena kondisi di lapangan sudah banyak mengalami pelapukan kuat, sehingga tidak semua dapat diukur jurus dan kemiringannya. Dari hasil pengukuran jurus dan kemiringan dapat terlihat adanya struktur yang bekerja seperti lipatan dan sesar.Keadaan endapan bahan galian bentonit di Kawasan Kebun kayu kertas dan kebun kelapa sawit, desa Tanjung Lalang tersingkap 0,5 meter dilihat hasil analisanya juga cukup bagus dimana sebelum diaktifkan 93 % dan setelah diaktifkan 96%, dengan standar bentonit bleaching (tonsil) 97%. Dilihat dari hasil analisa bleaching powder sebelum diaktifkan 73% dan sesuda diaktifkan 77% dengan standar bentonit bleaching (tonsil) 97%. Ini berarti bahwa endapan bentonit disini cukup bagus.Keadaan endapan tersingkap sebagai tebing jalan dan tersingkap cukup bagus. Dilihat dari hasil analisa bleaching powder sebelum diaktifkan 48% dan setelah diaktifkan 85%. Ini menunjukkan bahwa endapan bahan galian bentonit dapat digunakan setelah diaktifkan sebagai penjernih minyak kelapa sawit.

III. ALAT & BAHAN A.Alat 1. Hot Plat 2. Gelas Erlenmeyer 3. Gelas Ukur 4. Spatula/Pengaduk

5. Thermometer 6. Kertas Saring 7. Kertas Ph 8. Sentrifuse/Sentrifugasi 9. Timbangan Analitik B.Bahan 1. Minyak/CPO 2. Bahan Pemucat/Adsorben (Arang aktif/Arang)

IV. PROSEDUR KERJA


Timbang CPO 50 gram

Masukan ke dalam beaker gelas 250 dan Amati

Timbang 2 % Adsorben ke dalam beaker gelas 250 ml

Panaskan dengan Hot Plat Aduk 15 menit dengan suhu 105 C.

Saring menggunakan kertas saring

Hasil & Amati dan dan di bandingkan dengan hasil pengamatan sebelumnya

V. HASIL PENGAMATAN & PERHUTUNGAN

A.HASIL PENGAMATAN Tabel 1. Hasil Pengamatan Pemucatan Minyak CPO Dengan Menggunakan Adsorben
Sebelum pemucatan Setelah Pemucatan

Berat NO Sampel CPO Awal

Warna & PH

Aroma

Kekentalan/ Endapan

Berat Awal

Warna & PH

Aroma

Kekentalan/ endapan

1.

1%

50gr

Orange pH = 4

Tengik

Kental tidak ada endapan

Merah 44,2 gr manggis Ph = 5

Semakin tengik

Agak kental Tdk ada endapan

2. 2% 50gr Orange pH = 4 Tengik Kental tidak ada endapan 45,39gr

merah manggis Ph = 5

Semakin tengik

Agak kental Tdk ada endapan

3. 3% Orange pH = 4 Kental tidak ada endapan merah bata pH = 5 Semakin tengik Agak kental Tdk ada endapan

50gr

Tengik

46,19gr

4. 4% 50gr Orange pH = 4 Tengik Kental tidak ada endapan 43,49gr Merah bata pH = 5 Semakin tengik

Agak kental Tdk ada endapan

Tabel 1. Hasil Pengamatan Pemucatan Minyak CPO Dengan Menggunakan Adsorben

NO Perlakuan/Penambahan 1. Penambahan berupa arang

Perubahan/Reaksi yang terjadi

adsorben -berat 50 gr / 2 % aktif & Berat awal = 50 gr

kemudian di beriperlakuan Berat akhir = 45,3 gr yaitui di panaskan selama -Warna 15 menit dengan suhu Orange/jingga menjadi merah manggis 105 C -pH pH 4 menjadi pH 5 -Aroma Tengik menjadi semakin tengik -Kekentalan Menjadi semakin kental

B. HASIL PERHITUNGAN Perhitungan penambahan arang aktif : 2 50 gr X 100 = 1 gr

VI. PEMBAHASAN Minyak CPO dengan penambahan arang aktif 1% dan kemudian di panaskan dengan menggunakan hot plat mengalami penurunan berat dari 50 gram menjadi 44,29 gram begitu juga dari segi warna,bau dan pHnya,dari warna CPO tersebut yang semula berwarna orange

setelah mengalami perlakuan dengan penambahan arang aktif 1% warna CPO tersebut berubah menjadi merah manggis kemudian dari segi pHnya yang pH awalnya 4 berubah menjadi 5,begitu pula baunya yang semula tengik menjkadi semakin tengik dan juga dari kekentalan/Endapan dari agak kental menjadi agak kental dan tidak ditemukan adanya endapan pada CPO tersebut.CPO dengan penambahan arang aktif 2% juga mengalami penurunan beratnya begitu juga dari segi warna/pH,aroma dan juga kekentalan dan endapan,dari segi beratnya juga mengalami penurununan yaitu dari 50 gram menjadi 45,3 gram sedangkan warna dari orange menjadi merah manggis begitu juga pHnya dari pH 4 berubah menjadi pH 5,kemudian Aromanya yang awalnya tengik berubah menjadi semakin tengik,kemudian kekentalan yang awalnya kental berubah menjadi semakin kental tetapi tidak ditemukan adanya endapan didalam CPO yang sudah mengalami perlakuan tersebut.Selanjutnya CPO dengan penambahan adsorben berupa arang aktif dengan penambahannya sebanyak 3% juga mengalami perubahan berat,warna/pH,Aroma dan juga Kekentalan/Endapan perubahan yang terjadi dari berat awal 50 gram berkurang menjadi 46.1 gram,warna juga mengalami perubahan yang awalnya orange berubah menjadi merah bata dan pHnya yang awalnya pH 4 berubah menjadi pH 5,kemudian dari segi aroma yaitu dari awalnya tengik menjadi semakin tengik begitu juga dengan kekentalannya yang awalnya kental menjadi agak kental dan juga tidak ada endapan.kemudian terakhir CPO dengan penambahan adsorben berupa arang aktif dengan penambahannya sebanyak 4% juga mengalami perubahan berat,warna/pH,Aroma dan juga Kekentalan/Endapan perubahan yang terjadi dari berat awal 50 gram berkurang menjadi 53,4 gram,warna juga mengalami perubahan yang awalnya orange berubah menjadi merah bata dan pHnya yang awalnya pH 4 berubah menjadi pH 5,kemudian dari segi aroma yaitu dari awalnya tengik menjadi semakin tengik begitu juga dengan kekentalannya yang awalnya kental menjadi agak kental dan juga tidak ada endapan.

VII. KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan Dari pengamatan dan pembahasan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa pemucatan dengan menggunakan Adsorben berupa arang aktif kemudian di beri perlakuan

yaitu dipanaskan dengan menggunakan hot plat dengan suhu 105 C selama 15 menit dapat mempengaruhi Berat,Warna/pH,Aroma dan juga Kekentalan/Endapan. B.Saran Praktikum harus lebih di perbaiki lagi baik dari segi kebersihan,kedisiplinan dan juga jadwalnya.

DAFTAR PUSTAKA

Diklat AJAR. 2004. Teknologi Pengolahan Kelapa sawit. Jurusan Politeknik Negeri Pontianak.

Teknologi Pertanian.

Keteran, S. 2005. Minyak Dan Lemak Pangan.Universitas Indonesia Press Jakarta. Hermansyah A. 2003. Karakterisasi Penyerapan - Karoten Pada Crude Palm Oil dengan Adsorben Alternatif Arang Tulang. Skripsi. PS. Pendidikan Kimia. FKIP Universitas Bengkulu, Bengkulu. hal 58-65.

Widayat, Suherman dan K. Haryani. 2006. Optimasi Proses Adsorpsi Minyak Goreng Bekas Dengan Adsorben Zeolit Alam: Studi Pengurangan Bilangan Asam. Jurnal Teknik Gelagar. Volume 17. Universitas Diponegoro