Anda di halaman 1dari 4

INVESTASI EMAS Oleh : Shinta Rahmani

Beberapa sahabat bertanya mengenai investasi emas. Setelah era berkebun emas berkurang gaungnya, maka kini sahabat saya banyak ditawari cara-cara membeli emas dengan pola kredit. Apakah itu termasuk dalam kategori investasi dan apakah baik untuk mereka serta tak lupa pertanyaan yang selalu ada dalam konteks syariah, apakah ini halal atau tidak? Menurut para ahli yang bukunya saya baca, diantaranya, Bodi & Kane, Reailly and Brown atau Tandelilin, pada intinya Investasi adalah mengorbankan asset yang dapat konsumsi saat ini, kemudian asset tersebut diikatkan pada satu komitmen tertentu dengan harapan memperoleh keuntungan dimasa datang. Karena ada unsur harapan, maka ada kemungkinan harapan tersebut tidak dapat terpenuhi, artinya ada unsur risiko didalamnya, bahwa bisa saja keuntungan tersebut tidak diperoleh, bahkan mungkin saja rugi. Emas memang logam berharga paling dicari belakangan ini. Ketika harganya terus melonjak, bahkan melebihi inflasi, maka emas kerap dijadikan benda untuk berinvestasi. Sama seperti property yang nilainya terus meningkat. Bedanya emas lebih mudah untuk ditukarkan menjadi uang alias likuid dibandingkan property yang bahkan bisa dalam hitungan tahun untuk dapat terjual. Dengan demikian, membeli emas dengan cara beli tunda termasuk investasi, sama seperti membeli rumah atau tanah dengan cara beli tunda alias dikredit. Tentu saja semua itu benar, selama emas merupakan benda. Namun dalam sejarah Islam, kita ketahui emas merupakan alat pembayaran, yang setara dengan uang, sehingga muncullah beberapa pendapat yang mengatakan bahwa berinvestasi emas dengan cara demikian tidak diperbolehkan. Saya selalu berpikiran positif, bahwa ahli fikih telah bekerja dan MUI juga tidak melarang pembelian emas dengan cara beli tunda, maka mari kita lihat bahwa pembelian emas dengan cara beli tunda adalah halal. Kita juga perlu berpikiran positif, bahwa pembelian emas dengan cara tunda ditawarkan di bank-bank syariah, diantaranya BSM, BNI Syariah dll, maka Dewan Pengawas Syariah dibank bersangkutan tentu telah mempelajari fikih-nya dan semua transaksi tersebut halal. Sehingga pembahaan tentang investasi emas halal atau haram sudah terjawab. Strategi Investasi Emas Emas menjadi barang yang paling dicari belakangan ini karena banyak yang meyakini nilainya selalu naik, sehingga dengan membeli emas dan menyimpannya sama dengan berinvestasi, yang definisinya adalah menunda koonsumsi saat ini untuk mendapatkan keuntungan dimasa depan. Tapi tahukah Anda bahwa emas tidak selamanya harganya naik. Dibawah ini ada grafik harga emas sepanjang tahun 2011 dan grafik berikutnya adalah emas sepanjang tahun 1985-sekarang. Emas tidak selamanya harganya naik. Lihat grafik berikut :

Sumber : Kitco.com akses pada 4 Januari 2012 Kalau Anda membeli emas di awal tahun 2011 dan menjualnya disaat harganya tinggi yakni dibulan Agustus hingga September 2011 tentu saja Anda memperoleh keuntungan yang cukup tinggi. Namun jika Anda membeli emasnya saat harga sedang tinggi dan diakhir tahun menjual emas tersebut untuk suatu keperluan, jelas Anda merugi. Secara umum harga emas selalu meningkat, lihat grafik harga emas tahun 1985-sekarang dibawah ini. Sepanjang waktu tersebut, emas telah menjadi 6 kali lipat harganya. Sehingga menyimpan emas tidak akan menjadikan kekhawatiran akan berkurang nilainya, namun sebaliknya terus bertambah.

Sumber : Kitco.com akses pada 4 Januari 2012 Mungkin Anda telah mendengar cerita bahwa harga seekor domba saat Nabi Muhamad SAW masih hidup adalah seharga 1 dinar (4.25 gr emas). Saat ini jika Anda memiliki 1 dinar emas kira-kira seharga Rp. 2,200,000.- dipastikan Anda dapat membeli domba yang gemuk. Dengan konteks ini maka nilai emas tidak berkurang jika dibandingkan dengan harga barang lain. Nilai emas meningkat jika dibandingkan dengan mata uang, misalnya US$ ataupun Rupiah.

Kalau demikian, saat kita menyimpan emas maka kita menyimpan nilai. Tapi apakah menyimpan emas merupakan investasi? Menurut saya tidak. Jika definisi investasi adalah penundaan konsumsi asset yang diikatkan pada komitmen tertentu, maka menyimpan emas di rumah, di safe deposit box, atau bahkan dibank syariah berarti tidak diikatkan pada komitmen tertentu, maka sulit untuk mengatakan bahwa hal tersebut berinvestasi. Bagaimana jika emas yang anda miliki dibelikan kambing saja. Misalnya anda punya 10 dinar emas, dan anda belikan kambing sebanyak 10 ekor lima ekor perempuan dan lima lagi kambing jantan, kemudian menitipkannya pada orang dikampung/peternak untuk dipelihara dengan pola bagi hasil. Setahun kemudian, kambing tersebut telah beranak sebanyak 6 ekor. Setahun berikutnya dari 16 ekor tersebut beranak lagi sebanyak 8 ekor. Maka diakhir tahun kedua kambing tersebut telah bertambah menjadi 24 ekor. Dengan pola bagi hasil, maka Kambing Anda menjadi 17 sedang peternak mendapat 7 ekor. Lalu kambing tersebut Anda jual semuanya dan dibelikan lagi dinar emas. Maka diakhir tahun kedua dinar emas Anda telah menjadi 17. Kalau saja dinar emas tersebut Anda simpan, maka jumlahnya tetap 10 dinar. Dengan berinvestasi menjadi peternak kambing, tentu ada risiko kambingnya mati, dicuri dll. Tapi dengan cara tersebut, Anda telah memberi penghasilan kepada peternak sebanyak 7 ekor kambing dalam waktu 2 tahun. Sedangkan Kekayaan Anda meningkat bertambah sebanyak 7 ekor kambing atau 7 dinar. Ini hanya ilustrasi saja, namun inilah yang lebih pas untuk disebut investasi. Seperti yang telah dibahas di atas, bahwa yang disebut sebagai investasi adalah menunda konsumsi asset saat ini untuk diikatkan pada suatu komitmen untuk mendapatkan keuntungan dimasa depan, maka membeli emas dengan cara beli tunda atau dicicil yang emasnya hanya disimpan saja, bukan merupakan bentuk investasi. Membeli emas untuk disimpan hanyalah salah satu cara menyimpan kekayaan/nilai dengan harapan terhindar dari inflasi, sehingga nilainya tidak tergerus atau menurun. Investasi emas adalah menggunakan emas untuk mendapatkan keuntungan dimasa depan. Misalnya, Anda memiliki usaha yang memerlukan dana segar, sedangkan Anda hanya memiliki emas batangan, dan tidak ingin menjual emas tersebut. Anda bisa saja pergi ke Bank Syariah dan menggadaikan emas tersebut untuk memperoleh dana segar, dan menggunakan dana tersebut untuk usaha. Segera setelah dana hasil usaha Anda kembali, maka Anda dapat menebus emas yang anda gadaikan. Anda akan memperoleh keuntungan jika hasil dari usaha tersebut nilainya melebihi biaya gadai. Dengan cara ini, maka emas yang Anda miliki sudah diinvestasikan. Karena ada usaha/bisnis lain yang diikatkan padanya, maka menurut saya ini dapat dikategorikan sebagai Investasi Emas. Contoh lain misalnya, Anda ditawari untuk ikut membiayai suatu proyek, Anda khawatir bahwa saat proyek tersebut selesai, keuntungan yang diberikan pada Anda harus berkurang nilainya oleh inflasi, maka meminjamkan atau membiayai proyek tersebut dalam bentuk emas, akan terasa lebih aman buat Anda. Karena nilai emas yang cenderung melawan inflasi ditambah keuntungan dari proyek tersebut. Dengan cara ini bisa juga disebut Investasi Emas. Apakah Hal ini Baik untuk Setiap Orang? Sebagai perencana keuangan, saya selalu menekankan untuk memperbaiki rencana dan pengelolaan keuangan seseorang atau sebuah keluarga terlebih dahulu baru melangkah ke investasi. Cashflow Anda sudah benar, dana darurat sudah ada dan Anda sudah menetapkan tujuan keuangan dengan benar sesuai ajaran Islam, baru melangkah ke Investasi. Saya tak bosanbosannya menyuarakan bahwa berinvestasi selalu mengandung risiko. Maka dana investasi adalah dana yang memang ditujukan untuk berinvestasi, yang memiliki risiko berkurang atau bahkan hilang

karena suatu kerugian. Meskipun investasi tentunya menjanjikan keuntungan yang bisa saja sangat besar. Membeli emas dengan cara tunda atau dicicil, bukan cara yang saya anjurkan. Daripada Anda membuat hutang, dengan cara membeli emas yang nilainya jauh melebihi kemampuan dana Anda tiap bulan, sehingga harus dicicil, saya lebih menganjurkan untuk menunda pembelian Anda dibulan ke empat atau kelima setelah Anda mampu membeli emas tersebut dengan cara tunai. Dengan demikian, Anda tidak masuk dalam kategori penghutang hanya karena mengejar harga emas yang cenderung terus naik. Bersikap hati-hati menghindari hutang adalah hal terbaik, karena kita tak pernah tau apa yang akan terjadi esok hari. Berinvestasilah saat Anda memang sudah mampu untuk itu. (Selesai) www.amanahsharia.com