Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia terus diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan jaman yang semakin global.Peningkatan sumber daya manusia ini juga berpengaruh terhadap dunia pendidikan.Pendidikan yang merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya manusia harus bisa berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan juga kuantitas. Upaya pengembangan pendidikan tersebut harus sesuai dengan proses pengajaran yang tepat agar anak didik dapat menerima pelajaran dengan baik. Proses pengajaran akan lebih hidup dan menjalin kerjasama diantara siswa, maka proses pembelajaran dengan paradigma lama harus diubah dengan paradigma baru yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam berpikir, arah pembelajaran yang lebih kompleks tidak hanya satu arah sehingga proses belajar mengajar akan dapat meningkatkan kerjasama diantara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, maka dengan demikian siswa yang kurang akan dibantu oleh siswa yang lebih pintar sehingga proses pembelajaran lebih hidup dan hasilnya lebih baik. Dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari berbagai variabel pokok yang saling berkaitan yaitu kurikulum, guru/pendidik, pembelajaran, peserta.Dimana semua komponen ini bertujuan untuk kepentingan peserta.Berdasarkan hal tersebut pendidik dituntut harus mampu menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran agar peserta didik dapat melakukan kegiatan belajar dengan menyenangkan.Hal ini dilatar belakangi bahwa peserta didik bukan hanya sebagai objek tetapi juga merupakan subjek dalam pembelajaran.Peserta didik harus disiapkan sejak awal untuk mampu bersosialisasi dengan lingkungannya sehingga berbagai jenis pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik. Berdasarkan pandangan diatas, maka permasalahan yang muncul adalah bagaimana upaya guru untuk meningkatkan hasil balajar siswa dengan pendekatan

yang tepat.Salah satu solusinya yaitu dengan mengembangkan suatu pendekatan pembelajaran yang membuat siswa lebih senang dan lebih termotivasi untuk belajar.Beberapa pendekatan pembelajaran yang dianggap efisien adalah pendekatan pembelajaran komunikatif, pendekatan pembelajaran kontekstual, dan pendekatan pembelajaran humanistik.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah diungkapkan, maka muncul masalah yang akan dibahas yaitu: Apakah konsep dasar pembelajaran individual itu?

C. Tujuan Tujuan dari makalah ini yaitu mendeskripsikan konsep dasar pembelajaran individual.

BAB II PEMBAHASAN

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN INDIVIDUAL A. Pengertian pembelajaran individual Istilah pembelajaran individual atau pembelajaran perseorangan (Individual Instruction) merupakan suatu siasat (strategi) untuk mengatur kegiatan belajar mengajar sedemikian rupa sehingga setiap siswa memperoleh perhatian lebih banyak daripada yang dapat diberikan dalam rangka pengelolaan kegiatan belajar mengajar dalam kelompok siswa yang besar. Menurut Duane (dalam Mbulu, 2001:1) pembelajaran individual merupakan suatu cara pengaturan program belajar dalam setiap mata pelajaran, disusun dalam suatu cara tertentu yang disediakan bagi tiap siswa agar dapat memacu kecepatan belajarnya dibawah bimbingan guru. Pengajaran individual dapat mencakup cara-cara pengaturan sebagai berikut:

Rencana studi mandiri (Independent Study Plans) Guru dan siswa bersama-sama mengadakan perjanjian mengenai materi pelajaran yang akan dipelajari dan apa tujuannya. Para siswa mengatur belajarnya sendiri dan diberikan kesempatan untuk berkonsultasi secara berkala kepada guru untuk memperoleh pengarahan atau bantuan dalam menghadapi tes dan menyelesaikan tugas-tugas perseorangan.

Studi yang dikelola sendiri (Self Directed Study) Siswa diberi sejumlah daftar tujuan yang harus dicapai serta materi pelajaran yang harus dipelajari untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan dilengkapi dengan daftar kepustakaan. Pada waktu-waktu tertentu siswa menempuh tes dan dinyatakan lulus apabila telah memenuhi criteria yang ditetapkan.

Program belajar yang berpusat pada siswa (Learner Centered Program) Dalam batas-batas tertentu siswa diperbolehkan menentukan sendiri materi yang akan dipelajari dan dalam urutan yang bagaimana. Setelah siswa menguasai kemampuan-kemampuan pokok dan esensial, mereka diberi kesempatan untuk belajar program pengayaan.

Belajar menurut kecepatan sendiri (Self Pacing) Siswa mempelajari materi pelajaran tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetapkan oleh guru. Semua siswa harus mencapai tujuan pembelajaran khusus yang sama namun mereka mengatur sendiri laju kemajuan belajarnya dalam mempelajari materi pelajaran tersebut.

Pembelajaran yang ditentukan oleh siswa sendiri (Student DeterminedInstruction) Pengaturan pembelajaran tersebut menyangkut penentuan tujuan pembelajaran (umum dan khusus), pilihan media pembelajaran dan nara sumber, penentuan lokasi waktu untuk mempelajari berbagai topic, penentuan laju kemajuannya sendiri, mengevaluasi sendiri pencapaian tujuan pembelajaran, dan kebebasan untuk memprioritaskan materi pelajaran tertentu.

Pembelajaran Sesuai Diri (Individual Instruction) Strategi pembelajaran ini mencakup enam unsur dasar yaitu (a) kerangka waktu yang luwes, (b) adanya tes diagnostik yang diikuti pembelajaran perbaikan (memperbaiki kesalahan yang dibuat siswa atau memberi kesempatan kepada siswa untuk melangkah bagian materi pelajaran yang telah dikuasainya), (c) pemberian kesempatan kepada siswa untuk memilih bahan belajar yang sesuai, (d) penilaian kemajuan belajar siswa dengan menggunakan bentuk-bentuk penilaian yang dapat dipilih dan penyediaan waktu mengerjakan yang luwes, (e) pemilihan lokasi belajar yang bebas, dan (f) adanya bentuk-bentuk kegiatan belajar bervariasi yang dapat dipilih.

Pembelajaran perseorangan tertuntun (Individually Prescribed Instruction)

Sistem pembelajaran ini didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran terprogram.Setiap siswa diarahkan pada program belajar masing-masing berdasarkan rencana kegiatan belajar yang telah disiapkan oleh guru atau guru bersama siswa berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan dirumuskan secara operasional. Rencana kegiatan i ni berkaitan dengan materi pelajaran yang harus dipelajari atau kegiatan yang harus dilakukan siswa.

B. Latar belakang timbulnya pengajaran individual Latar belakang timbulnya pengajaran individual diilhami oleh teori Skinner yang dikenal dengan Reinforcement Theory pada tahun 1954.Menurut teori ini tiap anak memiliki karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan lainnya. Anak sejak dilahirkan memiliki sejumlah potensi namun dalam perkembangannya dan pertumbuhannya tidak semua potensi dapat berkembang dengan baik. Penganut teori ini berpendapat bahwa tiap-tiap anak memiliki kepribadian yang unik.Keunikan ini terbentuk oleh perpaduan faktor keturunan (heredity), faktor lingkungan (Environment) dan faktor diri (self).Di sekolah dalam satu kelas anak berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, lingkungan sosial budaya yang berbeda, serta memiliki potensi yang berbeda pula. Agar potensi pribadi anak dapat berkembang secara wajar (potensi jamaniah, pikir, rasa, karsa, cipta, karya dan budi nurani) maka para ahli memikirkan, melakukan pengkajian, dan penelitian yang terus-menerus serta menemukan pola pembelajaran yang cocok untuk mengembangkan kemampuan potensial setiap individu anak (siswa). Para siswa dalam suatu kelas diharapkan dapat mengubah secara mendasar dalam hal kemampuan mentalnya (mental ability), prestasi belajar yang dicapai terdahulu (past achievement), kecepatan belajar (learning rate), motivasi (motivation), minat (interest), dan gaya belajar (learning style). Apabila beragam kemampuan belajar dan prestasi belajar dikombinasikan dengan perbedaan individual siswa dan motivasi, minat dan gaya belajar, maka menjadi kenyataan bahwa pembelajaran kelas regular tidak dapat diharapkan merupakan pembelajaran yang efektif sesuai dengan kebutuhan siswa. Satu solusi terhadap permasalahan yang ditimbulkan oleh kesenjangan perbedaan individual yang luas di kalangan siswa yakni penggunaan criteria kemampuan secara kelompok.

Meskipun pengurangan berjalan satu dimensi (prestasi belajar)hal ini tidak memberikan suatu pengurangan yang seimbang dengan dimensi-dimensi yang lain. Dengan demikian tidak hanya kemampuan belajar yang diharapkan yang dapat memberikan suatu solusi yang memuaskan bagi perbedaan individual. Dalam teori pengurangan sejumlah bantuan yang dibutuhkan individual agar guru dapat memberikan perhatian lebih kepada individu yang sangat membutuhkan. Jelas bahwa pengajaran individual mencakup penyesuaian prosedur pembelajaran dengan kebutuhan siswa, dapat menggunakan variasi bentuk pembelajaran. Latar belakang timbulnya pengajaran individual menurut Duane (dalam Mbulu, 2001:4) dengan sebuah ungkapan sebagai berikut. Tidak ada dua orang pelajar yang 1. Memiliki tingkat prestasi belajar yang sama 2. Me ncapai taraf prestasi belajar dengan menggunakan cara belajar yang sama 3. Memecahkan masalah yang sama dengan cara yang sama pula 4. Memiliki pola tingkah laku dan minat yang sama 5. Dimotivasi untuk mencapai prestasi belajar pada taraf yang sama 6. Mencapai tujuan belajar yang sama 7. Siap untuk belajar pada waktu yang sama 8. Mempunyai kemampuan yang sama untuk belajar Mendukung pendapat Duane (dalam Mbulu, 2001) mengemukakan istilah tidak ada dua makhluk hidup yang sama (no two organism are alike)

C. Tujuan pengajaran individual Setiap pembaharuan di bidang metodologi pengajaran oleh para ahli yang berkompeten selalu menetapkan tujuan yang akan dicapai baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Demikian pula pengajaran individual dilaksanakan dengan tujuan: 1. Membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar terutama kelompok siswa yang lamban belajar 2. Menyesuaikan materi pelajaran dengan perbedaan individual siswa dalam belajar dan memperhatikan kepentingan siswa secara individual

3. Meningkatkan mutu dan efektivitas proses pengajaran dan 4. Pelaksanaan pengajaran yang disesuaikan dengan kemampuan dan minat individual siswa

D. Karakteristik pengajaran individual Perhatian utama terhadap perbedaan individual siswa dan usaha untuk menyesuaikan pengajaran dengan perbedaan tersebut yaitu 1. Lebih mengutamakan proses daripada mengajar (memusatkan perhatian pada siswa yang belajar bukan guru yang mengajar) 2. Menyesuaikan pengajaran dengan kemampuan dan kebutuhan siswa sebagai individual 3. Mengusahakan partisipasi aktif dari siswa untuk belajar secara individual 4. Merumuskan tujuan yang jelas dan spesifik sehingga memudahkan bagi siswa untuk mencapainya 5. Memberikan kesempatan untuk maju sesuai dengan kecepatannya masing-masing 6. Menggunakan banyak feedback dari hasil evaluasi untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar

E. Prinsip-prinsip pengajaran individual Prinsip-prinsip pengajaran individual sebagai berikut 1. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing 2. Membuka kemungkinan bagi siswa untuk mencapai belajar tuntas (mastery learning) atas bahan pelajaran yang dipelajari 3. Mendorong siswa untuk memecahkan masalah (problem solving) dan menggunakan pemikiran dalam memecahkan suatu masalah 4. Mengembangkan kesanggupan berinisiatif dan mengatur diri sendiri dalam belajar 5. Memupuk kebiasaan untuk menilai diri sendiri dan mempertinggi motivasi siswa untuk belajar

6. Menentukan dengan teliti taraf pengetahuan siswa (pengetahuan prasyarat) sebelum diberikan tugas 7. Mengadakan evaluasi yang sering secara individual untuk mengetahui dengan segera hasil yang dicapai sebagai penguatan (reinforcement) bagi siswa maupun guru atau untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa, kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan oleh guru maupun kelemahan-kelemahan tugas yang diberikan oleh guru 8. Dilakukannya diagnosis dan diberikannya remediasi yang tepat dan segera 9. Evaluasi dengan berbagai bentuk (tes dan non tes) dan jadwal yang luwes 10. Pilihan berbagai bentuk pembelajaran (variasi penggunaan metode pembelajaran) 11. Pengorganisasian materi pelajaran dalam suatu cara yang memungkinkan tiap siswa maju sesuai dengan kemampuan dan minatnya masing-masing (modul pembelajaran, teks pembelajaran terprogram, paket pembelajaran) 12. Diberikannya bimbingan dan petunjuk instruksional kepada masingmasing siswa sesuai dengan kebutuhannya

F. Peran siswa dalam pembelajaran individual Kedudukan siswa dalam pembelajaran individual bersifat sentral.Pebelajar merupakan pusat layanan pengajaran. Berbeda dengan pengajaran klasikal, maka siswa memiliki keleluasaan berupa: (i) (ii) keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri, kebebasan menggunakan waktu belajar, dalam hal ini siswa bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilakukannya, (iii) keleluasaan dalam mengontrol kegiatan, kecepatan, dan intensitas belajar, dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan, (iv) (v) siswa melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar, siswa dapat mengetahui kemampuan dan hasil belajar sendiri, serta

(vi)

siswa memiliki kesempatan untuk menyusun program belajarnya sendiri.

Keenam jenis kedudukan siswa tersebut berakibat pada adanya perbedaan tanggung jawab belajar mengajar.Pada pembelajaran klasikal, tanggung jawab guru dalam membelajarkan siswa cukup besar.Pada pembelajaran secara individual, tanggung jawab siswa untuk belajar sendiri sangat besar.Pebelajar bertanggung jawab penuh untuk belajar sendiri. Timbul soal berikut ; apakah siswa telah memiliki rasa tanggung jawab untuk belajar sendiri? hal ini terkait dengan perkembangan emansipasi diri siswa. Meskipun demikian pada tempatnya sejak usia pendidikan dasar (6;0-15;0) siswa dididik untuk memiliki rasa tanggung jawab dalam beajar sendiri (Monks, Knoers, Siti Rahayu Haditono, 1989).

G. Peran guru dalam pembelajaran individual Kedudukan guru dalam pembelajaran individual bersifat membantu. Bantuan guru berkenaan dengan komponen pembelajaran berupa: (i) (ii) (iii) (iv) perencanaan kegiatan belajar, pengorganisasian kegiatan belajar, penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa, dan fasilitas yang mempermudah belajar.

Dalam pengajaran klasikal pada umumnya peranan guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran sangat besar. Hal ini tidak terjadi dalam pembelajaran individual. Perenan guru dalam merencanakan kegiatan belajar sebagai berikut: (i) membantu merencanakan kegiatan belajar siswa; dengan musyawarah guru membantu siswa menetapkan tujuan belajar, membuat program belajar sesuai kemampuan siswa, (ii) membicarakan pelaksanaan belajar, mengemukakan criteria keberhasilan belajar, menentukan waktu dan kondisi belajar, (iii) (iv) berperan sebagai penasihat atau pembimbing, dan membantu siswa dalam penilaian hasil belajar dan kemajuan sendiri. sebagai ilustrasi, guru membantu memilih program

belajar dengan suatu modul. (Tjipto Utomo & Kees, Ruijter, 1990: 69-83.) Peranan guru dalam pengorganisasian kegiatan belajar adalah mengatur dan memonitor kegiatan belajar sejak awal sampai akhir. Peranan guru sebagai berikut: (i) memberikan orientasi umum sehubungan dengan belajar topic tertentu, (ii) (iii) membuat variasi kegiatan belajar agar tidak terjadi kebosanan, mengkoordinasikan kegiatan dengan memperhatikan kemajuan, materi, media, dan sumber, (iv) membagi perhatian pada sejumlah pebelajar, menurut tugas dan kebutuhan pebelajar, (v) (vi) memberikan balikan terhadap setiap pebelajar, dan mengakhiri kegiatan belajar dalam suatu unjuk hasil belajar berupa laporan atau pameran hasil kerja; unjuk kerja hasil belajar tersebut umumnya diakhiri dengan evaluasi kemajuan belajar. Peranan guru dalam penciptaan hubungan terbuka dengan siswa bertujuan menimbulkan perasaan bebas dalam belajar.

H. Keunggulan dan keterbatasan pengajaran individual 1. Keunggulan pengajaran individual bagi siswa Berbagai fakta membuktikan bahwa siswa yang berpartisipasi dalam program belajar mandiri, belajar lebih keras, lebih banyak, dan mampu lebih lama mengingat hal yang dipelajarinya dibandingkan dengan siswa yang mengikuti kelas konvensional. Belajar mandiri memberikan sejumlah keunggulan sebagai metode pengajaran sebagai berikut: a. Program belajar yang dirancang dengan cermat akan memanfaatkan lebih banyak asas belajar. Hasilnya adalah peningkatan baik dari segi jenjang belajar maupun kadar ingatan. Jumlah siswa yang gagal dan menunjukkan kinerja tidak memuaskan dapat dikurangi secara nyata

10

b. Program ini memberikan kesempatan kepada siswa yang lamban maupun yang cepat untuk menyelesaikan pelajaran dengan tingkat kemampuan masing-masing dalam kondisi belajar yang cocok c. Rasa percaya diri dan tanggung jawab pribadi yang dituntut dari siswa oleh program belajar mandiri mungkin dapat berlanjut sebagai kebiasaan dalam kegiatan pendidikan lain, tanggung jawab atas pekerjaan dan tingkah laku pribadi d. Program belajar mandiri dapat menyebabkan lebih banyak perhatian tercurah kepada siswa perseorangan dan memberikan kesempatan yang lebih luas untuk berlangsungnya interaksi antar siswa e. Memungkinkan bagi siswa untuk maju menurut kecepatannya sendiri dengan mempelajari setiap bidang studi atau mata pelajaran f. Siswa berhubungan langsung dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari g. Kesempatan memperoleh respon dengan segera untuk menjawab pertanyaan dan segera pula memperoleh balikan, sehingga siswa merasa puas dengan hasil yang dicapainya h. Memungkinkan siswa untuk memahami materi pelajaran dengan lebih baik karena disusun secara sistematis dan terstruktur i. Memungkinkan siswa untuk mempelajari dan memahami dengan lebih mendalam aspek-aspek mata pelajaran yang dipelajari, melaksanakan tes diagnostik dan mendorong siswa mempelajari materi dengan lebih luas j. Bentuk pengajaran non grade dimana setiap siswa dapat maju dalam suatu mata pelajaran atau bidang studi sejauh kemampuannya memungkinkan

2. Keunggulan pengajaran individual bagi guru a. Membebaskan guru dari kegiatan mengajar rutin, sehingga guru dapat merencanakan tugas lain misalnya buku kerja yang mencatat kemajuan belajar atau kesalahan-kesalahan yang dilakukan untuk semua siswa

11

b. Guru akan lebih akurat mengenal kebutuhan pengajaran bagi setiap siswa c. Memberikan kesempatan kepada guru untuk menyediakan tes diagnostik sebagai dasar untuk menentukan kedudukan siswa d. Guru menyediakan waktu lebih banyak bagi siswa yang membutuhkan bantuan e. Memberikan kesempatan kepada guru agar menghasilkan sesuatu secara sistematis dan teliti walaupun program yang dihasilkan itu dimanfaatkan f. Guru berperan sebagai pembimbing siswa di dalam usaha untuk menambah pengetahuan dari materi pelajaran yang diberikan g. Kegiatan dan tanggung jawab pengajar yang terlibat dalam program belajar mandiri berubah karena waktu untuk penyajian menjadi berkurang dan pengajar mempunyai waktu lebih banyak untuk memantau siswa dalam pertemuan kelompok dan untuk konsultasi perseorangan h. Timbul rasa kepuasan kerja yang lebih tinggi

3. Keterbatasan Para siswa yang sudah terbiasa mengikuti pelajaran secara konvensional akan mengalami kesukaran apabila mereka diarahkan untuk belajar secara mandiri (individual). Belajar secara individual membutuhkan disiplin belajar yang tinggi, mempunyai kemampuan yang kuat untuk belajar mencapai sukses, memiliki motivasi untuk berprestasi, adanya persaingan antar siswa untuk mencapai tingkat prestasi yang optimal. Menyusun bahan belajar memakan waktu berbulan-bulan dan memerlukan biaya yang besar (menulis buku pelajaran misalnya modul, paket belajar, teks pembelajaran terprogram; pembelian bahan ajar, monitoring, menyusun soal tes dan sebagainya) serta membutuhkan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu yang menunjang hasil produksi yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan. Memang pendekatan utama ke arah belajar mandiri mungkin tidak efisien dari segi biaya dalam jangka pendek namun karena teknik dan beraneka ragam sumber yang digunakan berulang-ulang dengan kelompok

12

selanjutnya, biaya program dapat dikurangai secara nyata. Menurut Kemp (dalam Mbulu, 2001) terdapat beberapa kelemahan belajar mandiri yang harus diketahui: a. Mungkin kurang terjadi interaksi antara pengajar dengan siswa atau antara siswa dengan siswa apabila program belajar mandiri dipakai metode satu-satunya dalam mengajar. Oleh karena itu perlu direncanakan kegiatan kelompok kecil antara pengajar dan siswa secara berjangka. b. Program belajar mandiri tidak cocok untuk semua siswa atau semua pengajar c. Kurang disiplin diri dan kemalasan yang menyebabkan kelambatan penyelesaian program oleh beberapa siswa. Kebiasaan dan pola perilaku baru perlu dikembangkan sebelum dapat berhasil dalam belajar mandiri. d. Metode belajar mandiri sering menuntut kerjasama dan perencanaan tim yang rinci diantara staf pengajar yang terlibat dan koordinasi dengan layanan penunjang (sarana media perpustakaan).

13

BAB III KESIMPULAN

Program pembelajaran individual merupakan usaha memperbaiki kelemahan pengajaran klasikal.Dari segi kebutuhan pebelajar, program pembelajaran individual lebih efektif, sebab siswa belajar sesuai dengan programnya sendiri.Dari segi guru, yang terkait dengan jumlah pebelajar, tampnk kurang efisien. Jumlah siswa sebesar empat puluh orang meminta perhatian besar pada guru, dan hal itu akan melelahkan guru. Dari segi usia perkembangan pebelajar, maka program pembelajaran individual cocok bagi siswa SLTP ke atas. Hal ini disebabkan oleh: (i) (ii) (iii) umumnya siswa sudah dapat membaca dengan baik, siswa mudah memahami petunjuk atau perintah dengan baik, dan, siswa dapat bekerja mandiri dan bekerja sama dengan baik.

Dari segi bidang studi, maka tidak semua bidang studi cocok untuk diprogramkan secara individual.Bidang studi yang dapat diprogramkan secara individual adalah pengajaran bahasa, matematika, IPA, dan IPS bagi bahan ajaran tertentu.Bagi bidang studi musik, kesenian, dan olah raga yang bersifat perorangan, juga cocok untuk program pembelajaran individual. Program pembelajaran individual dapat dilaksanakan secara efektif, bila mempertimbangkan hal-hal berikut: (i) (ii) (iii) (iv) (v) disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti oleh siswa, prosedur dan cara kerja dimengerti oleh siswa, kriteria keberhasilan dimengerti oleh siswa, dan keterlibatan guru dalam evaluasi dimengerti siswa.

14