Anda di halaman 1dari 26

Kewajiban haji

Home / Rukun Haji / Hal-Hal yang Diwajibkan dalam Haji

Hal-Hal yang Diwajibkan dalam Haji


14 October 2011 | Kategori: Rukun Haji Jamaah haji saat thawaf di Masjidil Haram. Foto: AP Oleh: Syekh Abdul Azhim bin Badawi Al-Khalafi Haji adalah salah satu ibadah dari sekian banyak ibadah, mempunyai rukun, hal-hal yang wajib dan hal-hal yang sunnah. Rukun-Rukun Haji 1. Niat Berdasarkan firman Allah SWT: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (QS Al-Bayyinah: 5). Dan sabda Rasulullah SAW, Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya. 2. Wukuf di Arafah Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, Haji adalah wukuf di Arafah. (HR Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasai, dan Abu Dawud). 3. Menginap di Muzdalifah sampai terbit fajar dan shalat Shubuh di sana Berdasarkan sabda Rasulullah kepada Urwah, Barangsiapa yang mengikuti shalat kami (di Muzdalifah), lalu bermalam bersama kami hingga kami berangkat, dan sebelum itu dia benarbenar telah wukuf di Arafah pada malam atau siang hari, maka hajinya telah sempurna dan ia telah menghilangkan kotorannya. (HR Ibnu Majah, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai). 4. Thawaf Ifadhah Berdasarkan firman Allah SWT: Dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS Al-Hajj: 29) Dan dari Aisyah RA, ia berkata, Shafiyah binti Huyay mengalami haidh setelah merampungkan thawaf Ifadhah. Lalu ia berkata lagi, Kemudian hal tersebut aku beritahukan kepada Rasulullah SAW, beliau pun bersabda, Apakah ia akan menghalangi kita (untuk pergi)? Wahai Rasulullah, ia telah thawaf Ifadhah, ia telah thawaf mengelilingi Kabah lalu haidh setelah thawaf Ifadhah, jawabku. Rasulullah SAW bersabda, Kalau begitu kita berangkat. (HR Muttafaq Alaih)

Sabda beliau, Apakah ia akan menghalangi kita (untuk pergi)? menunjukkan bahwa thawaf ini harus dikerjakan. Thawaf ini dapat menghalangi kepergian orang yang belum melaksanakannya. 5. Sai antara Shafa dan Marwah Berdasarkan sainya Rasulullah SAW dan sabda beliau, Kerjakanlah sai, sesungguhnya Allah telah mewajibkan sai atas kalian. (HR Ahmad, Hakim) Hal-Hal yang Diwajibkan dalam Haji 1. Berihram dari miqat-miqat Yaitu dengan melepas pakaian dan mengenakan pakaian ihram, kemudian niat dengan mengucapkan, Aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk menunaikan ibadah umrah. Atau, Aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. 2. Bermalam di Mina pada malam hari-hari Tasyriq Hal ini karena Rasulullah SAW bermalam di sana. Beliau memberi keringanan bagi penggembala unta di Baitullah, mereka melontar pada hari Nahr (hari raya kurban), sehari setelahnya, lalu dua hari setelahnya dan pada hari mereka menyelesaikan ibadah haji (nafar). Rasulullah memberi keringanan kepada mereka, ini merupakan dalil akan wajibnya hal ini bagi yang lainnya. 3. Melempar jumrah secara tertib Yaitu dengan melempar jumrah Aqabah pada hari Nahr menggunakan tujuh kerikil, lalu melempar ketiga jumrah pada hari-hari tasyriq setelah matahari tergelincir. Setiap jumrah dilempar dengan tujuh kerikil, dimulai dengan jumrah Ula kemudian jumrah Wustha dan diakhiri dengan jumrah Aqabah. 4. Thawaf Wada Berdasarkan hadits Ibnu Abbas RA. Telah diperintahkan kepada manusia agar mengakhiri ibadah hajinya dengan thawaf di Baitullah, namun diberi kelonggaran bagi wanita haidh. (HR Muttafaq Alaih). 5. Mencukur rambut atau memendekkannya Mencukur dan memendekkan rambut disyariatkan, baik dalam Alquran, sunnah maupun ijma. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut (QS Al-Fath: 27). Dari Abdullah bin Umar bahwasannya Rasulullah SAW berdoa, Ya Allah, rahmatilah orangorang yang mencukur (gundul) rambutnya. Mereka berkata, Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah? Beliau berdoa lagi, Ya Allah, rahmatilah orangorang yang mencukur (gundul) rambutnya. Mereka berkata, Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah? Beliau berdoa lagi, Ya Allah, rahmatilah orang-

orang yang mencukur (gundul) rambutnya. Mereka berkata, Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah? Beliau berdoa lagi, Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya. Jumhur ulama berselisih pendapat akan hukum mencukur atau memendekkan rambut ini. Sebagian besar dari mereka berpendapat hukumnya wajib, orang yang meninggalkannya wajib membayar dam (denda), sedangkan ulama madzhab Syafii berpendapat mencukur atau memendekkan rambut merupakan salah satu di antara rukun-rukun haji. Faktor yang membuat mereka berselisih pendapat adalah karena tidak adanya dalil yang menguatkan pendapat yang pertama maupun yang kedua, sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Al-Albani.

Syarat-Syarat Thawaf Dari Ibnu Abbas RA bahwasannya Nabi SAW bersabda, Thawaf mengelilingi Kabah seperti shalat, namun dalam thawaf kalian boleh berbicara. Barangsiapa yang berbicara ketika thawaf hendaklah ia berbicara dengan perkataan yang baik. (HR Tirmidzi, Ibnu Hibban, Ad-Darimi, Baihaqi). Jika thawaf itu seperti shalat, maka disyaratkan hal-hal sebagai berikut: 1. Suci dari dua hadats (hadats kecil dan besar). Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, Allah tidak menerima shalat tanpa thaharah (bersuci). Juga berdasarkan sabda beliau kepada Aisyah yang haidh pada saat haji. Kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh orang yang berhaji, hanya saja engkau tidak boleh thawaf di Baitullah sampai engkau mandi (bersih dari haidhmu). (HR Muttafaq Alaih) 2. Menutup aurat Berdasarkan firman Allah SWT: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid (QS Al-Araf: 31). Dan berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasannya Abu Bakar ketika haji yang mana dalam haji itu ia diangkat sebagai amir oleh Rasulullah, sebelum haji Wada. Beliau mengutus Abu Hurairah bersama beberapa orang pada hari raya kurban untuk mengumumkan kepada orangorang. Setelah tahun ini orang musyrik tidak boleh berhaji, dan tidak boleh thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. (HR Muttafaq Alaih). 3. Thawaf sebanyak tujuh putaran sempurna Hal ini karena Rasulullah SAW thawaf tujuh kali, seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Umar, Setelah tiba, Rasulullah SAW thawaf mengelilingi Kabah tujuh kali, kemudian beliau shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim dan sai antara Shafa dan Marwah tujuh kali. Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada contoh yang baik bagimu. Amalan Rasulullah ini merupakan penjelasan dari firman Allah SWT: Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS Al-Hajj: 29).

Apabila ia meninggalkan sedikit saja dari tujuh putaran itu, thawafnya tidak sah. Jika ia ragu hendaknya ia mengambil kemungkinan yang paling sedikit agar ia menjadi yakin. 4. Memulai dan mengakhiri thawaf di Hajar Aswad dengan menempatkan Kabah di sebelah kiri Berdasarkan hadits Jabir RA, Ketika Rasulullah SAW tiba di Makkah, beliau mendatangi Hajar Aswad dan mengusapnya, kemudian beliau melangkah ke arah kanan, beliau thawaf dengan berlari-lari kecil tiga putaran dan berjalan biasa empat putaran. 5. Thawaf di luar Kabah Hal ini karena firman Allah SWT: Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS Al-Hajj: 29). Menunjukkan thawaf harus mengitari seluruh Kabah. Seandainya seseorang thawaf dan lewat di dalam Hijir Ismail, maka thawafnya tidak sah, berdasarkan sabda Rasulullah, Hijir Ismail termasuk Kabah. 7. Berturut-turut (tidak terputus) Hal ini karena Rasulullah thawaf berturut-turut dan beliau bersabda, Ambillah dariku manasik hajimu. Jika thawaf diputus untuk berwudhu atau menunaikan shalat wajib ketika iqamat sudah dikumandangkan atau untuk istirahat sejenak, maka boleh melanjutkan thawaf (tidak perlu mengulang). Jika diputus lama, maka thawaf diulang lagi dari awal. Syarat-Syarat Sai Untuk sahnya amalan sai disyaratkan hal-hal sebagai berikut: 1. Hendaknya dilakukan tujuh kali 2. Hendaknya dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah 3. Hendaknya sai dilakukan di Masa, yaitu jalan yang menghubungkan antara Shafa dan Marwah Berdasarkan amalan Rasulullah saw dan sabda beliau, Ambillah dariku manasik hajimu.

Redaktur: Chairul Akhmad Sumber: Disarikan dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, karya Syaikh Abdul Azhim bin Badawai Al-Khalafi. Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA-Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir. http://www.jurnalhaji.com/2011/10/14/hal-hal-yang-diwajibkan-dalam-haji/

Rukun-Rukun Haji, Hal-Hal Yang Diwajibkan Dalam Haji

Kamis, 7 Oktober 2004 07:38:34 WIB RUKUN-RUKUN HAJI Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi Haji Adalah Salah Satu Ibadah dari Sekian Banyak Ibadah, Mempunyai Rukun, Hal-Hal yang Wajib dan Hal-Hal yang Sunnah II. Rukun-Rukun Haji 1. Niat Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus... [Al-Bayyinah: 5] Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : . Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya. [1] 2. Wukuf di Arafah Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : . Haji adalah wukuf di Arafah. [2] Juga berdasarkan hadits ath-Tha-i, ia berkata, Aku mendatangi Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di Muzdalifah ketika beliau keluar untuk shalat, aku bertanya kepada beliau, Wahai Rasulullah, aku datang dari gunung kembar Thaya, tungganganku telah kubuat lemah, dan diriku juga telah lelah, demi Allah aku tidak meninggalkan satu gunung pun kecuali aku berhenti di sana, apakah aku mendapatkan haji? Beliau menjawab. . Barangsiapa yang mengikuti shalat kami (di Muzdalifah) lalu bermalam bersama kami hingga kami berangkat, dan sebelum itu dia benar-benar telah wukuf di Arafah pada malam atau siang hari, maka hajinya telah sempurna dan ia telah menghilangkan kotorannya.[3] 3. Menginap di Muzdalifah sampai terbit fajar dan shalat Shubuh di sana

Berdasarkan sabda beliau kepada Urwah pada hadits tadi, Barangsiapa yang mengikuti shalat kami (di Muzdalifah), lalu bermalam bersama kami hingga kami berangkat, dan sebelum itu dia benar-benar telah wukuf di Arafah pada malam atau siang hari, maka hajinya telah sempurna dan ia telah menghilangkan kotorannya. [4] 4. Thawaf Ifadhah Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

...Dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). [AlHajj: 29] Dan dari Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, Shafiyah binti Huyay mengalami haidh setelah merampungkan thawaf Ifadhah. Lalu ia berkata lagi, Kemudian hal tersebut aku beritahukan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau pun bersabda, Apakah ia akan menghalangi kita (untuk pergi)? Wahai Rasulullah, ia telah thawaf Ifadhah, ia telah thawaf mengelilingi Kabah lalu haidh setelah thawaf Ifadhah, jawabku. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Kalau begitu kita berangkat. [5] Sabda beliau, Apakah ia akan menghalangi kita (untuk pergi)? Menunjukkan bahwa thawaf ini harus dikerjakan, thawaf ini dapat menghalangi kepergian orang yang belum melaksanakannya. 5. Sai antara Shafa dan Marwah Berdasarkan sainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sabda beliau: . Kerjakanlah sai, sesungguhnya Allah telah mewajibkan sai atas kalian. [6] III. Hal-Hal Yang Diwajibkan Dalam Haji 1. Berihram dari miqat-miqat Yaitu dengan melepas pakaian dan mengenakan pakaian ihram, kemudian niat dengan mengucapkan: . Aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk menunaikan ibadah umrah. Atau: . Aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. 2. Bermalam di Mina pada malam hari-hari Tasyriq

Hal ini karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bermalam di sana. Beliau memberi keringanan bagi pengembala unta di Baitullah, mereka melontar pada hari Nahr (hari raya kurban), sehari setelahnya, lalu dua hari setelahnya dan pada hari mereka menyelesaikan ibadah haji (nafar).[7] Rasulullah memberi keringanan kepada mereka, ini merupakan dalil akan wajibnya hal ini bagi yang lainnya. 3. Melempar jumrah secara tertib Yaitu dengan melempar jumrah Aqabah pada hari Nahr menggunakan tujuh kerikil, lalu melempar ketiga jumrah pada hari-hari tasyrik setelah matahari tergelincir, setiap jumrah dilempar dengan tujuh kerikil, dimulai dengan jumrah Ula kemudian jumrah Wustha dan diakhiri dengan jumrah Aqabah. 4. Thawaf Wada Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma: Telah diperintahkan kepada manusia agar mengakhiri ibadah hajinya dengan thawaf di Baitullah, namun diberi kelonggaran bagi wanita haidh. [8] 5. Mencukur rambut atau memendekkannya Mencukur dan memendekkan rambut disyariatkan, baik dalam al-Qur-an, as-Sunnah maupun ijma. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut... [Al-Fath: 27] Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa: : : : : . : :

Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul) rambutnya. Mereka berkata, Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah? Beliau berdoa lagi, Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul) rambutnya. Mereka berkata, Dan orangorang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah? Beliau berdoa lagi, Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul) rambutnya. Mereka berkata, Dan orangorang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah? Beliau berdoa lagi, Dan orangorang yang memendekkan rambutnya. Jumhur ahli fiqih berselisih pendapat akan hukum mencukur atau memendekkan rambut ini. Sebagian besar dari mereka berpendapat hukumnya wajib, orang yang meninggalkannya wajib

membayar dam, sedangkan ahli fiqh madzhab Syafii berpendapat mencukur atau memendekkan rambut merupakan salah satu di antara rukun-rukun haji. Faktor yang membuat mereka berselisih pendapat adalah karena tidak adanya dalil yang menguatkan pen-dapat yang pertama maupun yang kedua, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh kami, al-Albani. Syarat-Syarat Thawaf Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: . Thawaf mengelilingi Kabah seperti shalat, namun dalam thawaf kalian boleh berbicara. Barangsiapa yang berbicara ketika thawaf hendaklah ia berbicara dengan perkataan yang baik. [9] Jika thawaf itu seperti shalat, maka disyaratkan hal-hal sebagai berikut: 1. Suci dari dua hadats (hadats kecil dan besar) Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: . Allah tidak menerima shalat tanpa thaharah (bersuci). [10] Juga berdasarkan sabda beliau kepada Aisyah yang haidh pada saat haji: . Kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh orang yang berhaji, hanya saja engkau tidak boleh thawaf di Baitullah sampai engkau mandi (bersih dari haidhmu). [11] 2. Menutup aurat Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (me-masuki) masjid... [Al-Araf: 31]. Dan berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasanya Abu Bakar ketika haji yang mana dalam haji itu ia diangkat sebagai amir oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebelum haji Wada, beliau mengutus Abu Hurairah bersama beberapa orang pada hari raya kurban untuk mengumumkan kepada orang-orang. Setelah tahun ini orang musyrik tidak boleh berhaji, dan tidak boleh thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. [12] 3. Thawaf sebanyak tujuh putaran sempurna Hal ini karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam thawaf tujuh kali, seperti apa yang

dikatakan oleh Ibnu Umar, Setelah tiba Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tha-waf mengelilingi Kabah tujuh kali, kemudian beliau shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim dan sai antara Shafa dan Marwah tujuh kali. Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada contoh yang baik bagimu. Amalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini merupakan penjelasan dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

...Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). [AlHajj: 29] Apabila ia meninggalkan sedikit saja dari tujuh putaran itu, thawafnya tidak sah. Jika ia ragu hendaknya ia mengambil kemungkinan yang paling sedikit agar ia menjadi yakin. 4,5. Memulai dan mengakhiri thawaf di Hajar Aswad dengan menempatkan Kabah di sebelah kiri Berdasarkan hadits Jabir Radhiyallahu anhua: Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Makkah beliau mendatangi Hajar Aswad dan mengusapnya, kemudian beliau melangkah ke arah kanan, beliau thawaf dengan berlari-lari kecil tiga putaran dan berjalan biasa empat putaran. 6.Thawaf di luar Kabah Hal ini karena firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

...Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). [AlHajj: 29] Menunjukkan thawaf harus mengitari seluruh Kabah. Seandainya seseorang thawaf dan lewat di dalam Hijir Ismail, maka thawafnya tidak sah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : . Hijir Ismail termasuk Kabah. 7. Berturut-turut (tidak terputus) Hal ini karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam thawaf berturut-turut dan beliau bersabda: . Ambillah dariku manasik hajimu.

Jika thawaf diputus untuk berwudhu atau menunaikan shalat wajib ketika iqamat sudah dikumandangkan atau untuk istirahat sejenak, maka boleh melanjutkan thawaf (tidak perlu mengulang). Jika diputus lama, maka thawaf diulang lagi dari awal. Syarat-Syarat Sai: Untuk sahnya amalan sai disyaratkan hal-hal sebagai berikut: 1. Hendaknya dilakukan tujuh kali 2. Hendaknya dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah 3. Hendaknya sai dilakukan di Masa, yaitu jalan yang meng-hubungkan antara Shafa dan Marwah Berdasarkan amalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau bersabda: . Ambillah dariku manasik hajimu. [Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M] _______ Footnote [1]. Hadits ini sudah pernah dibawakan. [2]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2441)], Sunan at-Tirmidzi (II/188, no. 890), Sunan an-Nasa-i (V/264), Sunan Ibni Majah (II/1003, no. 3015), Sunan Abi Dawud (V/425, no. 1933). [3]. Shahih:[Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2442)], Sunan at-Tirmidzi (II/188, no. 892), Sunan Abi Dawud (V/427, no. 1934), Sunan Ibnu Majah (II/1004, no. 3016), Sunan an-Nasa-i (V/263). [4]. Shahih:[Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2442)], Sunan at-Tirmidzi (II/188, no. 892), Sunan Abi Dawud (V/427, no. 1934), Sunan Ibnu Majah (II/1004, no. 3016), Sunan an-Nasa-i (V/263). [5]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (III/567, no. 1733), Shahiih Muslim (II/964, no. 1211), Sunan Abi Dawud (V/486, no. 1987), Sunan an-Nasa-i (I/194), Sunan at-Tirmidzi (II/210, no. 949), Sunan Ibni Majah (II/1021, no. 3072). [6]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 1072)], Ahmad (XII/76, no. 277), Mustadrak al-Hakim (IV/70). [7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2463)], Sunan Abi Dawud (V/215, no. 962), Sunan at-Tirmidzi (II/215, no. 962), Sunan Ibni Majah (II/1010, no. 3037), Sunan an-Nasa-i (V/573). [8]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (III/585, no. 1755), Shahiih Muslim (II/ 963, no. 1328). Fiqhus Sunnah (I/588), Manaaris Sabiil (I/263). [9]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 121)], Sunan at-Tirmidzi (II/218, no. 967), Shahiih Ibni Khuzaimah (IV/222, no. 2739), Shahiih Ibni Hibban (247/998), Sunan ad-Darimi (I/374, no. 1854), Mustadrak al-Hakim (I/459), al-Baihaqi (V/58). [10]. Hadits ini telah dibawakan sebelumnya [11]. Muttafaq 'alaih: Shahiih Muslim (II/873, no. 1211 (119)), Shahiih al-Bukhari (III/504, no. 1650).

[12]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (I/477, no. 369), Shahiih Muslim (II/982, no. 1347), Sunan Abi Dawud (V/421, no. 1930), Sunan an-Nasa-i (V/234 http://almanhaj.or.id/content/1071/slash/0-4 Oleh: Ustadz Khalid Syamhudi hafizhahullah
Hal-hal yang diwajibkan dalam haji 1. Ihram dari Miqot

Kata ihram diambil dari bahasa arab dari Al-haram yang bermakna terlarang atau tercegah, dinamakan hal tersebut dengan ihram karena seseorang dengan niatnya masuk kepada kehormatan ibadah haji, maka dia dilarang berkata dan beramal dengan hal-hal tertentu seperti jima, menikah, berucap ucapan kotor dan lain-sebagainya. Sehingga dapat diambil satu definisi syari bahwa ihram adalah salah satu niat dari dua nusuk (yaitu haji dan umrah) atau kedua-duanya secara bersamaan1, dari sini jelas terpahami sebagai suatu kesalahan apa yang telah dipahami sebagian kaum muslimin bahwa ihram adalah berpakaian dengan kain ihram karena ihram adalah niat masuk kedalam haji atau umrah, sedangkan berpakaian dengan kain ihram hanya merupakan satu keharusan bagi seorang yang telah berihram . Dan melakukan ihram dari miqat merupakan satu kewajiban dari hal-hal yang wajib dilakukan oleh seorang yang ingin menunaikan haji atau umrah adalah pengambilan miqat sebagai tempat berihram sehingga mereka yang tidak berihram dari miqat berarti meninggalkan suatu kewajiban dalam haji dan wajib atas mereka untuk menggantinya dengan Dam (denda). Adapun cara berihram , maka seorang yang telah berketetapan untuk haji atau umrah maka disunnahkan baginya untuk mencontoh Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam dalam melakukan hal-hal yang berhubungan dengan amalannya sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shahih . Adapun cara-caranya adalah : 1. Disunnahkan untuk mandi sebelum ihram bagi laki-laki dan perempuan baik dalam keadaaan suci atau haidh sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir Radhiallahuanhu, beliau berkata:

:
Lalu kami keluar bersamanya Shallallahualaihi Wasallam lalu tatkala sampai Dzul hulaifah Asma binti Umais melahirkan Muhammad bin Abi Bakr, maka ia (Asma) mengutus (seseorang untuk bertemu) kepada Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam (dan berkata): Apa yang aku

kerjakan? maka beliau Shallallahualaihi Wasallam menjawab: Mandilah dan beristitsfarlah2 dan berihramlah. (Riwayat Muslim (2941) 8/404, Abu Daud no. 1905 dan 1909, dan Ibnu Majah no.3074.) Apabila tidak mendapatkan air maka tidak ber-tayammum karena bersuci yang disunnahkan, apabila tidak dapat menggunakan air maka tidak bertayamum karena Allah menyebutkan tayamum dalam bersuci dari hadats sebagai firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); (QS.Al Maidah :6) maka tidak bisa dianalogikan (di-qiyas-kan) kepada yang lainnya,dan juga tidak ada contoh atau perintah dari Nabi Shallallahualaihi Wasallam untuk ber-tayammum, apalagi kalau mandi ihram tersebut adalah untuk kebersihan dengan dalil perintah beliau kepada Asma bintu Umais yang sedang haidh untuk mandi tersebut. 2. Disunnahkan untuk memakai minyak wangi ketika ihram sebagaimana yang dikatakan Aisyah:

.
Aku memakaikan nabi wangi-wangian untuk ihramnya sebelum berihram dan ketika halalnya sebelum thawaf di Kabah (HR, Bukhory no.1539 dan Muslim no. 1189). Dan hanya diperbolehkan pada anggota badan dan bukan pada pakaian ihramnya karena Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda:

Janganlah kalian memakai pakaian yang terkena minyak wangi zafaran dan wars.(Muttafaqun alaih). Memakai minyak wangi ini ada dua keadaan: 1. Memakainya sebelum mandi dan berihram

Dan ini sepakat tidak ada permasalahan 2. Memakainya setelah mandi dan sebelum berihram dan minyak wangi tersebut tidak hilang Maka ini dibolehkan oleh para ulama kecuali Imam Malik dan orang-orang yang sependapat dengan pendapatnya. Dalil pembolehannya adalah hadits Aisyah, beliau berkata:

Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam kalau ingin berihram memakai wangi- wangian yang paling wangi yang beliau dapatkan kemudian aku melihat kilatan minyak di kepalanya dan jenggotnya setelah itu. (HR.Muslim no.2830 ). Dan Aisyah berkata pula:

Seakan akan aku melihat kilatan misk (minyak wangi misk) di bagian kepala Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam sedangkan beliau dan keadaan ihram . (HR. Muslim no. 2831 dan Bukhory no. 5923). Masalah: Apabila sesorang memakai wangi- wangian dibadannya yaitu di kepala dan jenggotnya, lalu minyak wangi tersebut menetes atau meleleh kebawah, apakah hal ini mempengaruhi atau tidak? Jawab: Tidak mempengaruhi ,karena perpindahan minyak wangi tersebut dengan sendirinya dan tidak dipindahkan, dan juga karena tampak pada Nabi Shallallahualaihi Wasallam dan sahabatnya tidak menghiraukan kalau minyak wangi tersebut menetes karena mereka memakainya pada keadaan yang dibolehkan [Lihat Syarhul Mumti 6/73-74] Kemudian jika seorang yang berihram (muhrim) akan berwudhu dan dia telah mamakai minyak rambut yang wangi, maka tentu akan mengusap kepalanya dengan kedua telapak tangannya, jika dia lakukan maka akan menempelah minyak tersebut ke kedua telapak tangannya walaupun hanya sedikit, maka apakah perlu memakai kaos tangan ketika akan mengusap kepala tersebut? Maka masalah ini dijawab oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin dengan mengatakan: Tidak perlu, bahkan hal itu merupakan berlebih-lebihan dalam agama dan tidak ada dalilnya

demikian juga tidak mengusap kepalanya dengan kayu atau kulit, cukup dia mengusapnya dengan telapak tangannya karena ini termaasuk yang dimaafkan [Syarhul Mumti 6/74] 3. (Disunnahkan) mengenakan dua helai kain putih yang dijadikan sebagai sarung dan selendang Sebagaimana Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam :

Hendaklah salah seorang dari kalian berihram dengan menggunakan sarung dan selendang serta sepasang sandal. (H. R Ahmad 2/34 dan dishahihkan sanadnya oleh Syaikh Ahmad Syakir) dan diutamakan yang berwarna putih berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam:

Sebaik-baik pakaian kalian adalah yang putih, maka kenakanlah dia dan kafanilah mayat kalian padanya (H.R Ahmad lihat syarahahmadsyakir 4/2219 dan berkata isnadnyaa shahih) Berkata Ibnu Taimiyah dalam kitab Manasik (hal. 21): Dan disunnahkan untuk berihram dengan dua kain yang bersih, maka kalau keduanya berwarna putih maka itu lebih utama dan di bolehkan ihram dengan segala jenis kain yang di mubahkan dari katun shuf (bulu domba) dan lain sebagainya. Dan dibolehkan berihram dengan kaian putih dan yang tidak putih dari warnawarna yang diperbolehkan, walaupun berwarna-warni. [dinukil dari Syarhul Mumti 6/75] Sedangkan bagi wanita tetap memakai pakaian wanita yang menutup semua auratnya, kecuali wajah dan telapak tangan. 4. Disunahkan berihram setelah shalat. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiallahuanhuma dalam shahih Bukhary bahwa Rasulullah Shallallahualaihi Wasallambersabda:

:
Telah datang tadi malam utusan dari Rabbku lalu berkata: Shalatlah di Wadi yang diberkahi ini dan katakan: Umrotan fi hajjatin.

Dan hadits Jabir:

Lalu Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam Shalat dimasjid (Dzulhulaifah) kemudian menunggangi Al Qaswa (nama onta beliau) sampai ketika ontanya berdiri di al-Baida berihram untuk haji. (HR.Muslim). Maka yang sesuai dengan sunnah, lebih utama dan sempurna adalah berihram setelah shalat fardhu, akan tetapi apabila tidak mendapatkan waktu shalat fardhu maka terdapat dua pendapat dari para ulama: a. Tetap disunnahkan shalat dua rakaat dan ini pendapat jumhur berdalil dengan keumuman hadits Ibnu Umar Radhiallahuanhuma:

Shalatlah di Wadi ini b. Tidak disyariatkan shalat dua rakaat dan ini pendapat syaikhul islam Ibnu Taimyah. Sebagaimana beliau katakan dalam Majmu Fatawa 26/108: Disunnahkan berihram setelah shalat baik fardhu maupun sunnah. Kalau ia berada pada waktu tathawu menurut salah satu dari dua pendapatnya dan yang lain kalau dia shalat fardhu maka berihram setelahnya dan jika tidak maka tidak ada bagi ihram shalat yang khusus dan ini yang rajih. Dan berkata didalam Al Ikhtiyarat (hal. 116): Dan berihram setelah shalat fardhu kalau ada atau sunnah (nafilah) karena ihram tidak memiliki shalat yan khusus untuknya. Demikianlah tidak ada shalat dua rakaat khusus untuk ihram.
2. Berniat untuk melaksanakan salah satu manasik dan disunnahkan untuk diucapkan dan dibolehkan untuk memilih salah satu dari tiga nusuk yaitu ifrad, qiran dan tamatu

Sebagaimana yang dikatakan Aisyah:

Kami telah keluar bersama Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam pada tahun haji wada maka ada diantara kami yang berihram dengan umrah dan ada yang berihram dengan haji dan umrah dan ada yang berihram dengan haji saja, sedangkan Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam berihram dengan haji saja, adapun yang berihram dengan umrah maka di(*) dan yang berihram dengana halal setelah datangnya haji atau yang menyempurnakan haji dan umrah tidak halal (lepas dari ihramnya) sampai dia berada di (Mutafaq alaih)hari nahar(**) (*) setelah melakukan umrah dengan melakukan thawaf dan syai (**) pada tanggal 10 Dzul Hijjah Maka seorang yang ber-manasik ifrad mengatakan: atau dan seorang yang bermanasik tamatu mengatakan: atau dan ketika hari tarwiyah (8 Dzulhijah) menyatakan: atau dan sunnah yang ber-manasik Qiran menyatakan:
3. Ber-talbiyah

Yaitu membaca:

Labbaika Allahumma labbaik labbaika laa syariika laka labbaik Innal hamda wanimata laka wal mulk laa syariikaa laka, dan yang sejenisnya.* [*tambahan abu zuhriy* Diantara kesalahan yang BANYAK DILAKUKAN kaum muslimin ketika umrah/haji yaitu KELIRU dalam melafazhkan talbiyyah khususnya ketika membaca:

(innal hamda wann ni'mata laka wal mulk); kemudian mereka memotong-motong ... ...

(innal hamda... wann ni'mata... laka wal mulk...) ini adalah SUATU KEKELIRUAN. Permasalahan ini masuk ke dalam bab Al-Wuquuf wa AlIbtidaa'; yang mana, kaidahnya tidak boleh wuquf sampai jumlah sempurna. (lagi pula,) tdk blh wuquf pd tempat yg dpt merusak mkna, ikhtiyriyyan l idhthirriyyan. Lebih detail ttg ini bs dirujuk ke ktb2 tajwid wa qir'ah. (sumber: akh @Abu Yazid Nurdin) *selesai tambahan abu zuhriy*] 3.1 Waktu Talbiyyah Waktu talbiyah adalah dimulai setelah berihram ketika akan melakukan perjalanan, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam dalam hajinya, berkata Jabir Radhiallahuanhu :

Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam mulai membaca talbiyah ketika telah tegak ontanya di al-Baida beliau ihlal (ihram) dengan haji lalu bertalbiyah dengan tauhid, labbaika allahumma labaik (H.R Muslim) 3.2 Bacaan Talbiyah Adapun bacaan talbiyah yang matsur dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam adalah: a. b. c. d. Talbiyah yang poin a namun ditambah kalimat:

3.3 Sebab dan maknanya Sebab disyariatkannya talbiyah adalah dalam rangka menjawab panggilan Allah Taala. Sebagaimana dalam al-Quran surah al-Hajj ayat 27.

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,niscaya mereka akan datang kepadamudengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. al-Hajj 22:27) Berkata Ibnu Abbas Radhiallahuanhu dalam menafsirkan firman Allah Taala ini : Ketika Allah Taala memerintahkan Ibrahim Alaihissalam untuk mengkhabarkan manusia agar berhajji, dia berkata:

Wahai manusia sesungguhnya Rabb kalian telah membangun satu rumah (kabah) dan memerintahkan kalian untuk berhaji kepadanya. Lalu beliau menerima panggilan ini apa saja yang mendengarnya dari batu-batuan, pepohonan, bukit-bukit debu atau apasaja yang ada, lalu mereka berkata (H.R Ibnu Jarir 17/106) Berkata Ibnu Hajar; Berkata Ibnu Abdil Barr: Telah berkata sejumlah dari sebagian dari Ulama: Makna Talbiyah adalah jawaban panggilan Ibrahim Alaihissalam ketika memberitahukan manusia untuk berhaji [Fathul Bari 3/406] Adapun mana dari kata-kata dalam talbiyah tersebut adalah : ( ) :Wahai Allah

( ) :Adalah penegas yang memiliki mana baru (lebih), maka saya mengulang-ulang dan menegaskan bahwa saya menjawab atau menerima panggilan Rabb saya dan tetap dalam ketaatan kepada-Nya ( sesuatu ) :B r m na tid ada sat u e a ak pun yang menyekutukan Engkau (Allah) dalam segala

( ) :Sebagagi penegas bahwa saya menerima panggilan haji tersebut karena Allah, bukan karena pujian, ingin terkenal, ingin harta, dan lain-lain, akan tetapi saya berhaji dan menerima panggilan tersebut karena Engkau saja ( ) :Sesungguhnya saya berikrar dan mengimani bahwa semua pujian dan nikmat itu hanyalah milik-Mu demikikan juga kekuasaan ( ) : Yang semua itu tidak ada sekutu bagimu

Kalau kita melihat kepada mana kata-kata yang ada dalam talbiyah tersebut didapatkan adanya penetapan tauhid dan jenis-jenisnya sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir ( ) (Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bertalbiyah dengan tauhid) Dan hal ini tampak kalau kita mentelaah dan memahami makna kata-kata tersebut. Lihatlah dalam kata-kata ( ) terdapat p a eni daan kesyirikan dalam peribadatan, kemudian ( ) ter dapat tauhi d rububi y yah k ena ar kita telah menetapkan kekuasaan yang mutlak hanya kepada Allah Taala semata, dan hal itupun mengharuskan seorang hamba untuk mengakui terhadap tauhid uluhiyyah, karena iman kepada tauhid rububiyyah mengharuskan iman kepada tauhid uluhiyyah, dan dalam kata ( ) terdapat penetapan sifat-sifat terpuji pada zat dan perbuatan Allah Taala adalah hak dan hal ini adalah merupakan tauhid asma dan sifat Allah Taala. Kalau demikian keharusan orang yang bertalbiyah maka dia akan selalu merasakan keagungan Allah dan akan selalu menyerahkan amal ibadahnya hanya untuk Allah semata bukan hanya sekedar mengucapkan tanpa dapat merasakan hakikat dari talbiyah tersebut. 3.4. Cara membacanya Talbiyah ini dibaca dengan mengangkat suara bagi kaum laki-laki sebagaimana perintah Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam:

Telah datang kepadaku jibril dan dia memerintaahkan aku untk memerintahkan sahabatsahabatku agar mengangkat suara-suara mereka dalam bertalbiyah. Dan tidak disyariatkan bertalbiyah dengan berjamaah akan tetapi apabila terjadi kebersamaan dalam talbiyah tanpa disengaja dan tidak dipimpin maka hal itu tidak mengapa karena Rasulullah para shahabatnya bertalbiyah dalam satu waktu padahal jumlah mereka sangat banyak maka hal tersebut sangat memungkinan untuk terjadinya talbiyah degan suara yang berbarengan, akan tetapi mengangkat suara dalam talbiyah ini jangan sampai mengganggu dan menyakiti dirinya sendiri sehingga dia tidak dapat terus bertakbir. Sedangkan untuk wanita tidak disunahkan mengangkat suara mereka bahkan mereka diharuskan untuk merendahkan suara mereka dalam bertalbiyah. 3.5. Waktu Berhenti Talbiyah Terdapat perbedaan pendapat para ulama dalam penentuan waktu berhenti talbiyah bagi orang yang berumroh atau berhaji dengan tamatu menjadi beberapa pendapat : 1. Ketika masuk haram Ini pendapat Ibnu Umar,Urwah dan Al Hasan serta mazdhab maliki,mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan An Nasaai yang lafadznya;

Ibnu Umar ketika masuk pinggiran haram menghentikan talbiyah kemudian menginap dzi thuwa dan beliau sholat shubuh disana serta mandi dan beliau berkata bahwa Nabipun berbuat demikian 2. Ketika melihat rumah-rumah penduduk Makkah Dan ini pendapat Said bin Al Musayyib 3. Ketika sampai ke Kabah dan memulai thawaf dengan menyentuh (Istilam) hajar aswad Dan ini pendapat Ibnu Abbas, Atha, Amr bin Maimun, Thawus, An-Nakhai, Ats-Tsaury, AsySyafii, Ahmad dan Ishaq serta mazdhab Hanafi. Berdalil dengan hadits Ibnu Abbas secara marfu:

Dia menghentikan talbiyah dalam umroh kalau telah menyentuh (istilam) hajar aswad (HR Abu Daud,At Tirmidzy daan Al Baihaqy dan dilemahkan oleh Al Albany dalam Irwa 4/297) dan juga hadits Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya dengan lafazh:

Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam melakukan umrah tiga kali umrah selruhnya di bulan dzul qadah dan terus bertalbiyah sampai menyentuh (istilam) hajar aswad (H.R Ahmad dan Baihaqi denan sanad yang lemah karena ada Hajaaj bin Abdullah bin Arthah dan dilemahkan oleh AL-Albanny dala Irwa 4/297) Dan mereka berkata : Karena talbiyah adalah memenuhi panggilan untuk ibadah maka dihentikan ketika memulai ibadah yaitu thawaf. Dan ini pendapat yang dirajihkan oleh Syaikul Islam8 dan Ibnu Qudamah3 akan tetapi yang rajih adalah pendapat pertama karena penjelasan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah juga melakukan hal itu,dan itu menunjukkan bahwa Ibnu Umar berlaku demikian karena melihat Rasulullah telah melakukannya, dan ini yang dirajihkan oleh Ibnu Khuzaimah4. Demikian juga pada haji terdapat beberapa pendapat ulama; 1. Menghentikannya ketika berada di Arafah setelah tergelincirnya matahari

Dan ini pendapat Aisyah, Saad bin Abi Waqash, Ali, Al-Auzai, Al-hasan Al-bashry dan madzhab malikiyah. Berdalil dengan hadits:

Haji itu adalah wuquf di Arafah Maka kalau telah sampai Arafah maka akan habis pemenuhan panggilan karena telah sampai kepada inti dan rukun pokok ibadah tersebut. akan tetapi dalil ini lemah karena bertentangan dengan riwayat bahwa Raululloh masih bertalbiyah setelah tanggal 9 Dzuljhijjah tersebut. 2. Menghentikannya ketika melempar jumroh aqobah Dan ini pendapat jumhur ,akan tetapi mereka berselisih menjadi dua pendapat; a. Menghentikan di awal batu yang di lempar dalam jumroh aqobah dan ini pendapat kebanyakan dari mereka, dengan dalil hadits Al fadl bin Al Abbas

Aku membonceng nabi dari Arafah ke Mina dan teru meneru bertalbiyah sampi melempar jumroh Aqobah (HR jamaah) dan hadits Ibnu Masud dengan lafadz:

.
Aku berangkat bersama Rasulullah dan beliau tidak mmeninggalkan talbiyah sampai beliau melempar jumrah Aqobah agar tidak tercampur dengan tahlil atau takbir (HR Thohawi dan Ahmad dan sanadnya dihasankan oleh Al Albani dalam Irwa, /2966). Pendapat ini dirajihkan oleh Syakhul Islam Inu Taimiyah dan beliau menyatakan: Dan secara mana, maka seorang yang telah sampar Arafah- walaupun telah ampai pada tempat wuquf ini- maka dia masih terpanggil setelahnya kepada tempat wukuf yang lainnya yaitu Muzdalifah dan kalau dia telah wukuf di Muzdalifah maka dia terpanggil untuk melempar jumrah, dan kalau telah mmemulai dalam melempar jumrah maka telah selesai panggilannya (Majmu Fatawa 26/173) b. Menghentikannya diakhir lemparan dalam jumroh Aqobah

Dan ini pendapat Ahmad dan sebagian pengikut Syafii serta dirojihkan oleh Ibnu Khuzaimah dengan dalil lafadz hadits Fadhl:

Aku telah keluar bersama Nabi dari Arafah lalu beliau terus bertalbiyah ampai melempar jumroh Aqobah, Beliau bertakbir setiap lemparan batu, kemudian menghentikan talbiyah bersama akhir batu yang dilempar (HR Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dan beliau berkata : ini hadits shahih yang menafsirkan apa yang belum jelas dalam riwayat- riwayat yang lain). [Bersambung] Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc Artikel UstadzKholid.Com

Catatan Kaki
1. Lihat Muzakirat Syarah Umdah hal 65 dan Syarhul Mumti 6/67 2. Istitsfar adalah suatu usaha untuk mencegah keluarnya daarah dari kemaluan orang yang haidh atau nifas dengaan cara mengambil kain yang memanjang yang diletakkan pada tempat darah tersebut dan dilapisi oleh bahan yang tidak tembus darah yang diambil ujung-ujunnya untuk diikatkan di perutnya, akan tetapi pada zaman sekarang telah ada softex (pembalut wanita). Lihat syarah Muslim 8/404. 3. Al-Mughny 5/256 4. Shahih Ibnu Khuzaimah 4/205-207

Sunnah haji http://abuzuhriy.com/?p=2895

RUKUN-RUKUN HAJI.
y

Ihram/niat karena Allah. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (dalam menjalankan agama) dengan lurus" (QS. AlBayyinah: 5) Dan Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niat."

Wuquf di 'Arafah. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

"Ibadah haji adalah wuquf di Arafah."


y

Thawaf ifadhah. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)." (QS.Al-Hajj: 29) Sa'i antara Shafa dan Marwah. Karena Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaksanakannya dan beliau bersabda:

"Laksanakanlah sa'i karena sesungguh-nya Allah telah mewajibkan sa'i atas kamu sekalian." Sebagian ulama ada yang mema-sukkan "Mabit di Muzdalifah hingga shalat Shubuh disana" sebagai salah satu di antara rukun haji, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kepada 'Urwah bin Mudharris ath-Thai Radhiallaahu anhu :

"Barangsiapa yang menyaksikan shalat kami ini, dan wuquf bersama kami hingga kami bertolak )dari Muzdalifah,-Pent), sedang dia telah wuquf sebelum ini di 'Arafah di siang hari atau di malam hari, maka telah sempurna hajinya dan hilanglah kotorannya. Kewajiban-Kewajiban Haji
y

Berihram dari miqat dengan melepaskan pakaiannya dan memakai pakaian ihram, kemudian berniat dengan mengucapkan: atau

y y y

Menginap di Mina pada malam hari-hari Tasyriq. Melempar Jumratul 'Aqabah pada hari Raya 'Idul 'Adhha (Tanggal 10 Dzul-hijjah) dengan menggunakan tujuh batu kecil. Melempar tiga jumrah secara berurutan (Jumrah Shugra, Jumrah Wustha, dan Jumrah 'Aqabah), masing-masing dengan tujuh batu kecil, pada hari-hari Tasyriq sesudah tergelincirnya matahari. Melaksanakan thawaf Wada' berdasar-kan hadits 'Abdullah Ibnu 'Abbas Radhiallaahu anhu :

"Manusia (para jama'ah haji) diperintahkan untuk menjadikan (thawaf wada') disekeliling Ka'bah sebagai masa terakhir mereka (ketika akan meninggalkan Makkah,-Pent), hanya saja diberi keringanan bagi wanita yang haidh (untuk tidak melaksanakan thawaf wada',Pent).
y

Mencukur rambut kepala hingga bersih atau memendekkannya, hal ini berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta'ala : "Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebena-ran mimpinya dengan sebenarnya, (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut." (QS. Al-Fat-h: 27) Dan dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiallaahu anhu , bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: : : : : : :

"Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (rambut kepala mereka,-Pent) Para Sahabat berkata: Dan orang-orang yang memendekkan juga, ya Rasulullah? Beliau berkata: Ya Allah rahmatilah orang-orang yang mencukur. Mereka berkata lagi: Orang-orang yang me-mendekkan juga, ya Rasulullah? Beliau berkata lagi: 'Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur' Mereka berkata lagi: Orang-orang yang memendekkan juga, ya Rasulullah? Beliau berkata: Dan juga orang-orang yang memendekkan. Sebagian ulama memasukkan mabit (bemalam) di Muzdalifah sebagai salah satu di antara kewajiban-kewajiban haji, bukan termasuk rukun haji. Wallaahu Ta'ala a'lam. Sunnah dalm tawaf
y

Ber-idhthiba'

ketika thawaf qudum atau thawaf umrah, yaitu me-masukkan kain ihram penutup pundak dari bagian bawah ketiak kanan, lalu ujungnya diletakkan di atas pundak kiri, dengan demikian pundak kanan-nya terbuka. Berdasarkan hadits Ya'la bin Umayyah Radhiallaahu anhu : "Bahwasanya Nabi Shalallaahu alaihi wasalam melaksanakan thawaf sambil beridhthiba'."
y

Mengusap Hajar Aswad, berdasarkan hadits 'Abdullah Ibnu 'Umar Radhiallaahu anhu , ia berkata:

"Aku melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ketika tiba di Makkah, apabila telah mengusap Hajar Aswad, permulaan thawafnya (yakni) beliau berlari-lari kecil sebanyak tiga putaran pertama dari tujuh putaran thawaf." "Aku melihat 'Umar bin al-Khaththab Radhiallaahu anhu mencium Hajar Aswad dan berkata: 'Kalau saja bukan karena aku melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.'"
y

Sujud diatas Hajar Aswad berdasarkan hadits 'Abdullah bin 'Umar, ia berkata:

"Aku melihat 'Umar bin al-Khaththab mencium Hajar Aswad dan beliau sujud diatasnya, lalu beliau kembali menciumnya dan sujud diatasnya lagi, kemudian berkata: 'Beginilah aku melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .'"
y

Bertakbir (mengucapkan "Allaahu Akbar",-Pent) pada setiap kali tiba di Hajar Aswad berdasarkan hadits 'Ab-dullah bin 'Abbas Radhiallaahu anhu , ia berkata:

"Nabi Shalallaahu alaihi wasalam melakukan thawaf di Baitul-lah dengan menunggang seekor unta, setiap kali tiba di Hajar Aswad beliau memberikan isyarat kepadanya dengan sesuatu yang ada padanya dan beliau bertakbir."
y

Berlari-lari kecil pada tiga putaran per-tama thawaf qudum (thawaf umrah).

Dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiallaahu anhu, ia berkata: "Bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam apabila thawaf di Baitullah, thawaf yang pertama (thawaf qudum,-Pent), beliau berlari-lari kecil pada tiga putaran dan berjalan (biasa) pada empat putaran (terakhir,-Pent) dari Hijr ke Hijr."
y

Mengusap Rukun Yamani berdasarkan hadits 'Abdullah bin 'Umar Radhiallaahu anhu , dia berkata:

"Aku tidak pernah melihat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mengusap bagian dari Baitullah (Ka'bah, -Pent), kecuali dua rukun Yamani."
y

Ketika berjalan (dalam thawaf) antara rukun Yamani dan Hajar Aswad, membaca do'a dibawah ini:

"Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api Neraka."
y

Shalat dua rakaat sesudah thawaf dibelakang maqam Ibrahim, berdasarkan hadits 'Abdullah bin 'Umar Radhiallaahu anhu, ia berkata:

"Rasulullah tiba (di Makkah,-Pent) lalu melakukan thawaf mengelilingi Baitullah tujuh kali, kemudian shalat di belakang maqam Ibrahim dua rakaat dan thawaf antara Shafa dan Marwah, dan (Ibnu 'Umar) berkata: 'Sesungguh-nya pada (diri) Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam terdapat suri teladan yang baik bagi kamu.'"
y y

Membaca : Wattakhidzuu mimmaqaami Ibraahiima mushalla di maqam Ibrahim sebelum melaksanakan shalat dua rakaat. Membaca surat Al-ikhlas dan Al-Kaafiruun pada waktu sunnah thawaf.

Dua point terakhir ini berdasarkan hadits Jabir Radhiallaahu anhu ketika menceritakan tentang sifat/cara haji Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam : "Bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ketika sampai di maqam Ibrahim beliau membaca...
y

Beriltizam (meletakkan dada, wajah (pipi) dan kedua tangan) pada tembok Ka'bah yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, berdasarkan hadits 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata:

"Aku pernah thawaf bersama 'Abdullah bin 'Amr, maka ketika selesai menger-jakan thawaf 7 putaran, kami shalat dibelakang Ka'bah, lalu kukatakan (padanya): 'Tidakkah engkau mohon perlindungan kepada Allah dari siksaan api Neraka?' Ia berkata: 'Aku berlin-dung kepada Allah dari siksaan api Neraka.' Lalu dia ('Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, -Pent) terus berjalan kemudian mengusap Hajar Aswad, lalu berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu (Ka'bah,-Pent) serta menempelkan dada dan kedua tangannya serta pipinya padanya (pada dinding Ka'bah,Pent), lalu ia ber-tutur: 'Beginilah aku melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berbuat.'"
y

Usai melaksanakan shalat sunnah tha-waf, minum air zam-zam dan menu-angkannya diatas kepala, berdasarkan pada hadits Jabir bin 'Abdillah Radhiallaahu anhu , bahwasanya Nabi Shalallaahu alaihi wasalam melakukan hal itu. Lagi pula Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah bersabda:

"Air zam-zam (akan bermanfat) sesuai dengan apa yang diniati ketika di-minum."
y

Setelah minum air zam-zam kembali ke Hajar Aswad, lalu bertakbir dan menciumnya jika memungkinkan, namun jika tidak, maka cukup dengan mengusapnya lalu mencium tangan yang mengusapnya, dan jika tidak dapat mengusapnya, cukup dengan memberi isyarat kepadanyahttp://www.alquran-sunnah.com/haji-dan-umrah/fiqh-haji/142-rukunwajib-dan-sunnah-sunnah-haji-.htmls