Anda di halaman 1dari 5

DAMPAK KONVERSI LAHAN PERTANIAN MENJADI PUSAT INDUSTRIALISASI DI MALANG BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara untuk melaksanakan tu gas mewujudkan tujuan nasional. Berdasarkan pokok pikiran diatas, maka hakikat p embangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia selu ruhnya. Pembangunan nasional dilaksanakan secara berencana, menyeluruh, terarah, bertahap, dan berlanjut untuk memacu peningkatan kemampuan nasional dalam rangk a mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang telah maju. Pembangunan di Indonesia tidak terlepas dari peran manusia sebagai sumber daya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sejak zaman orde lama sampai memasuki era reformasi, ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas sangat dibutuhk an bagi kesejahteraan bangsa. Tetapi pada msing-masing era yang dilalui oleh ban gsa Indonesia tidak sedikit mengalami pasang surut dalam mewujudkan sumberdaya m anusia yang berkulitas. Mengapa kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkuali tas sangat diperlukan, karena manusia merupakan sumber dari berkembangnya dan ma junya suatu pembangunan di Indonesia. Maka dari itu pemenuhan sumber daya manusi a yang berkualitas diperlukan sebuah pendidikan yang nantinya akan mendukung tum buh dan majunya suatu perkembangan di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar. Jumlah penduduk ini terus bertambah setiap tahunnya. Pertumbuhan penduduk yang b egitu cepat, serta aktivitas pembangunan dalam berbagai bidang tentu saja akan m enyebabkan ikut meningkatnya permintaan akan lahan. Permintaan akan lahan terseb ut terus bertambah, sedangkan lahan yang tersedia jumlahnya sangat terbatas. Keb ijakan pemerintah menyangkut pertanian ternyata sebagian besarnya tidak berpihak pada sektor pertanian itu sendiri. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya ko nversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian. Lahan pertanian menjadi korb an untuk memenuhi kebutuhan lahan penduduk Indonesia yang tidak bertanggungjawab . Konversi lahan merupakan konsekuensi dari akibat meningkatnya aktivitas dan ju mlah penduduk serta pembangunan yang lainnya. Konversi lahan pada hakekatnya mer upakan hal yang wajar terjadi pada era modern seperti sekarang ini, namun konver si lahan pada kenyataannya membawa banyak masalah karena terjadi di atas lahan p ertanian yang masih produktif. Lahan pertanian dapat memberikan banyak manfaat seperti dari segi ekonomi, sosia l, dan lingkungan. Namun, akibat konversi lahan tersebut sehingga menjadikan sem akin sempitnya lahan pertanian akan mempengaruhi segi ekonomi, sosial, dan lingk ungan tersebut. Dan jika konversi lahan pertanian ke non-pertanian ini terus dil akukan dan tak terkendali, maka hal ini tidak hanya menjadi masalah bagi petani di pedesaan, tetapi hal ini bisa menjadi masalah nasional bangsa Indonesia. Di a ntaranya bukan hanya pada pada sektor perekonomian, tetapi juga menjadi masalah pada sektor lingkungan. Di sektor lain, pertumbuhan perekonomian menuntut pemban gunan infrastruktur baik berupa jalan, bangunan industri dan pemukiman. Dengan k ondisi demikian, diduga permintaan terhadap lahan untuk penggunaan hal tersebut semakin meningkat. Akibatnya, banyak lahan sawah, terutama yang berada disekitar perkotaan, mengalami alih fungsi ke penggunaan tersebut. Kemudian, pada sektor pertanian itu sendiri, kurangnya insentif pada usaha tani lahan sawah diduga aka n menyebabkan alih fungsi ke tanaman pertanian lainnya. 1.2. Rumusan Masalah 1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya konversi lahan pertania n menjadi pusat industrialisasi? 2. Bagaimanakah kesinambungan antara konversi lahan pertanian terhadap RTRW kota Malang? 3. Bagaimanakah dampak yang ditimbulkan terhadap perekonomian di kota Malan g dan lingkungan hijau di kota Malang?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembangunan Berwawasan Lingkungan Dalam pelaksanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan, sektor Sumberdaya Ala m dan Lingkungan Hidup perlu memperhatikan penjabaran lebih lanjut mandat yang t erkandung dari Program Pembangunan Nasional, yaitu pada dasarnya merupakan upaya untuk mendayagunakan sumberdaya alam yang dipergunakan sebesar besarnya untuk k emakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingku ngan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masya rakat lokal sertapenataan ruang. Pengertian pembangunan berkelanjutan adalah pem bangunan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pada saat ini tanpa mengurangi kemam puan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Konsep ini mengandung dua unsur : Yang pertama adalah kebutuhan, khususnya kebutuhan dasar bagi golongan masyarakat yang kurang beruntung, yang amat perlu mendapatkan prioritas tinggi d ari semua negara. Yang kedua adalah keterbatasan. Penguasaan teknologi dan organisasi sosial harus memperhatikan keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada saat ini dan di masa depan. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan sumberdaya alam, berupa tan ah, air, udara, dan sumber daya lain yang termasuk kedalam sumber daya alam yang terasuk dalam kategori sumberdaya alam yang dapat diperbaharui. Namun demikian, perlu kita sadari bahwa sumberdaya alam yang kita miliki tidak selamanya mampu untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa perlu dikelola. Antara lingkungan dan man usia saling mempunyai kaitan yang sangat erat. Ada kalanya manusia sangat bergan tung pada alam dan lingkungan disekitarnya, tapi tidak serta merta manusia tidak memberikan bentuk terimakasih terhadap alam, walaupun manusia sangat bergantung pada lingkungan sekitarnya, tetapi tetap saja harus ada sinkronisasi antara ala m dengan manusia. Pembangunan yang mempunyai tujuan utnuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ti dak dapat terhindarkan dari penggunaan sumber daya alam, namun eksploitasi sumbe rdaya alam yang tidak mengindahkan kemampuan dan daya dukung lingkungan mengakib atkan merosotnya kualitas lingkungan. Merosotnya kualitas lingkungan nantinya me nyebabkan beberapa sektor di negara menjadi terhambat, diantaranya kerusakan lin gkungan yang berdampak pada perekonomian negara dan persediaan pangan di Indones ia. Pada akhirnya Indonesia kesulitan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan pok ok. Cara lain yang digunakan pemerintah untuk memenuhi swasembada pangan adalah dengan melakukan impor dari negara asing. Padahal, jika kita ketahui untuk mengi mpor bahan makanan dari luar negeri, Indonesia membutuhkan dana yang tidak sedik it untuk membayar bea dan cukai dari negara asing tersebut. Pemberdayaan ekonomi sebagai salah satu opsi pemecah jalan buntu kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat merupakan bagian dari proses panjang pembangunan. Upa ya pemberdayaan ekonomi ini diharapkan bisa mencakup konsep pembangunan berkelan jutan yang mengisyaratkan adanya garansi bagi keberlangsungan kehidupan masyarak at di masa yang akan datang. Dalam garansi kehidupannya masyarakat lintas genera si berhak sepenuhnya untuk bisa terus menerus menikmati hasil-hasil dari pemberd ayaan tanpa mengurangi kualitas sekaligus kuantitas sumber daya yang dimiliki se lama ini. 2.2. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang RTRW Kota Malang ini secara garis besar berisikan mengenai penataan ruang yang a da di Kota Malang antara lain : strategi pengembangan wilayah Kota Malang melipu ti penjabaran tentang evaluasi RTRW, potensi dan permasalahan pembangunan wilaya h, skenario pengembangan wilayah dan strategi pengembangan wilayah; kebijaksanaa n perencanaan tata ruang wilayah Kota Malang yang meliputi kebijaksanaan umum, k ebijaksanaan operasional, penetapan sektor-sektor prioritas pembangunan, kriteri a penetapan kawasan lindung dan kawasan budidaya, strategi pengembangan ekonomi dan strategi pembangunan kebutuhan dasar; RTRW Kota Malang merupakan penjabaran dari rencana struktur tata ruang kota, rencana distribusi penduduk, rencana pema nfaatan ruang kota, rencana sistem transportasi, rencana sistem utama jaringan u

tilities, rencana wilayah pengendalian ketat, dan rencana pengembangan wilayah p rioritas; ketentuan pemanfaatan ruang yang meliputi ketentuan umum, ketentuan ad ministrasi, institusi dan pelaksanaan; dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang meliputi indikasi program, ketentuan pe ngawasan dan penertiban, ketentuan rencana tata ruang yang lebih terperinci di k awasan perkotaan dan kawasan tertentu, dan ketentuan evaluasi serta peninjauan k embali. Revisi RTRW ini diharapkan dapat digunakan sebagai program pembangunan d i masa yang akan datang, dan harus diikuti oleh segenap pelaku pembangunan baik pemerintah daerah, swasta, maupun masyarakat . Sesuai dengan UU no 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang, terdapat beberapa defi nisi mengenai tata ruang, yaitu Pertama, rencana tata ruang adalah hasil perenca naan tata ruang, beberapa kebijakan dan alokasi pemanfaatan ruang yang secara st ruktur menggambarkan ikatan fungsi yang terpadu bagi berbagai kegiatan. Kedua, r encana tata ruang wilayah adalah rencana tata ruang yang meliputi penetapan kawa san lindung, kawasan budidaya, sistem transportasi, rencana pusat pemukiman, pen gaturan kawasan dan pengembangan kawasan tertentu. Salah satu penetapan fungsi d an peran dari wilayah di kota Malang itu sendiri adalah sebagai pusat pengolahan bahan baku dan kegiatan industri. Karena kota Malang merupakan lokasi yang stra tegis dan relatif sentris terhadap wilayah di sekitar kota Malang sebagai pusat pelayanan jasa distribusi untuk mengelola lebih lanjut dari berbagai bahan baku yang ada. Maka dari itu, kemudian kota Malang ini di bentuk lokasi khusus untuk dilakukan pengembangan industri. Kemudian pada RTRW kota Malang yang mengacu pada Kebijakan keseimbangan Ekologi Kota, untuk kawasan perkotaan, pada dasarnya tanah yang ada di kota Malang ini d ialihfungsikan untuk kegiatan perkotaan yang beroientasi pada sektor non pertani an. Meskipun demikian, kawasan perkotaan yang seperti ini sangat diperlukan ruan g terbuka hijau untuk menjaga keseimbangan ekologisnya. Disamping itu, selain pe nyediaan ruang terbuka hijau, diperlukan pula pengendalian perkembangan yang pad at bangunan, kawasan dengan intensitas pergerakan kendaraan bermotor yang tinggi , atau kawasan sekitar perkembangan industri yang mempunyai dampak terhadap ling kungan hidup. 2.3. Konversi Lahan Konversi lahan yang biasa di definisikan dengan arti pengalihan fungsi lahan, ya ng sering di terapkan pada lahan pertanian. Utomo dkk (1992) mendefinisikan alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fung si sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang diren canakan) menjadi fungsi lain yang menjadi masalah terhadap lingkungan dan potens i lahan itu sendiri. Alih fungsi lahan dalam artian perubahan/penyesuaian perunt ukan penggunaan, disebabkan oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin bertambah jumlahnya dan m eningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik. Sihaloho (2004) membag i konversi lahan kedalam tujuh pola atau tipologi, antara lain sebagai berikut: a. Konversi gradual berpola sporadis, yang dipengaruhi oleh dua faktor utam a yaitu lahan yang kurang/tidak produktif dan keterdesakakn ekonomi pelaku konve rsi b. Konversi sistematik berpola enclave , disebabkan karena lahan kurang produktif sehingga konversi dilakukan secara serempak untuk meningkatkan nilai tambah c. Konversi lahan sebagai respon atas pertumbuhan penduduk, lebih lanjut di sebut konversi adaptasi demografi, dimana dengan menigkatnya pertumbuhan pendudu k, lahan terkonversi untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal. d. Konversi yang disebabkan oleh masalah sosial, disebabkan oleh dua faktor yakni karena keterdesakan ekonomi dan perubahan kesejahteraan e. Konversi tanpa beban, yang dipengaruhi oleh faktor keinginan untuk mengu bah hidup yang lebih baik dari keadaan saat ini dan ingin keluar dari kampung. f. Konversi adaptasi garis, disebabkan karena keterdesakan ekonomi dan k einginan untuk berubah dari masyarakat dengan tujuan meningkatkan hasil pertania n g. Konversi multi bentuk atau tanpa bentuk, konversi dipengaruhi oleh berba gai faktor, khususnya faktor peruntukan untuk perkantoran, sekolah, koperasi, pe rdagangan, termasuk sistem waris yang tidak dijelaskan dalam konversi demografi.

Irawan (2005) dalam Akbar (2008) mengemukakan bahwa konversi tanah lebih besar t erjadi pada tanah sawah dibandingkan dengan tanah kering karena dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu pertama, pembangunan kegiatan non pertanian seperti kompleks perumahan, pertokoan, perkantoran, dan kawasan industri lebih mudah dilakukan p ada tanah sawah yang lebih datar dibandingkan dengan tanah kering. Kedua, akibat pembangunan masa lalu yang terfokus pada upaya peningkatan produk padi maka inf rastruktur ekonomi lebih tersedia di daerah persawahan daripada daerah tanah ker ing. Ketiga, daerah persawahan secara umum lebih mendekati daerah konsumen atau daerah perkotaan yang relatif padat penduduk dibandingkan daerah tanah kering ya ng sebagian besar terdapat di wilayah perbukitan dan pegunungan. Konversi lahan biasanya terkait dengan proses perkembangan wilayah, bahkan dapat dikatakan bahw a konversi lahan merupakan konsekuensi dari perkembangan wilayah. Sebagian besar konversi lahan yang terjadi, menunjukkan adanya ketimpangan dalam penguasaan la han yang lebih didominasi oleh pihak kapitalis dengan mengantongi izin mendirika n bangunan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pola konversi lahan dapat ditinjau dari beberapa aspek. Menurut pelaku konversi, maka dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, alih fungsi secara langsung oleh pem ilik lahan yang bersangkutan. Lazimnya, motif tindakan ada 3: (a) untuk pemenuha n kebutuhan akan tempat tinggal, (b) dalam rangka meningkatkan pendapatan melalu i alih usaha, (c) kombinasi dari (a) dan (b) seperti misalnya untuk membangun ru mah tinggal yang sekaligus dijadikan tempat usaha. Pola konversi seperti ini ter jadi di sembarang tempat, kecil-kecil dan tersebar. Ditinjau menurut prosesnya, konversi lahan sawah dapat pula terjadi: (a) secara gradual, (b) seketika (insta nt). Alih fungsi secara gradual lazimnya disebabkan fungsi sawah tidak optimal. Umumnya hal seperti ini terjadi akibat degradasi mutu irigasi atau usaha tani pa di di lokasi tersebut tidak dapat berkembang karena kurang menguntungkan. Alih f ungsi secara instant pada umumnya berlangsung di wilayah sekitar urban, yakni be rubah menjadi lokasi pemukiman atau kawasan industri. 2.4. Teori Ekosentrisme Teori ini merupakan lanjutan dari teori etika lingkungan biosentrisme, yaitu teo ri yang menganggap setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berhar ga pada dirinya sendiri. Ekosentrisme sering kali disamakan dengan teori biosent risme, karena memiliki banyak kesamaan diantara keduanya. Keduanya menentang car a pandang teori antroposentrisme, yaitu teori yang memandang bahwa manusia sebag ai pusat dari sistem alam semesta yang membatasi keberlakuan etika hanya pada ko munitas manusia. Salah satu dari teori ekosentrisme yang sekarang populer dengan nama Deep Ecology (DE) yang menuntut suatu etika baru yang tidak hanya berpusat pada manusia, tetapi juga berpusat pada seluruh makhluk hidup yang ada didunia dalam upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup. DE ini tidak menentang hubunga n antara manusia dengan manusia, tetapi lebih kepada memusatkan perhatian kepada semua spesies termasuk spesies bukan manusia. Begitu pula pada entitas waktunya , DE tidak hanya memusatkan perhatian pada kepentingan jangka pendek saja, tetap i jangka panjang. Maka dari itu, prinsip moral yang dikembangkan DE menyangkut k epentingan seluruh komunitas ekologis. BAB III PEMBAHASAN 3.1. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Konversi Lahan Pertanian Adanya konversi dari lahan pertanian menjadi bangunan fisik tentunya tidak terle pas dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konversi tersebut. Tid ak akan ada asap, jika tidak ada api begitulah kata pepatah yang menggambarkan konv ersi lahan pertanian tersebut. Utomo et al (1992) dalam Lestari (2010) mendefini sikan alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah peru bahan fungsi sebagian atau bahan seeluruh kawasan lahan dan fungsinya semula men jadi fungsi lain yang tertuang dalam rencana tata ruang wilayah pada setiap kota , juga termasuk pada kota Malang. Peluang konversi pada suatu wilayah diduga san gat dipengruhi oleh parameter proporsi pekerja di sektor pertanian yang tercermi n dari segi kepadatan penduduk, total luas lahan yang tersedia di suatu wilayah, parameter perkembangan kota atau bisa disebut dengan urbanisasi, serta pengangg uran yang tidak terlihat di sektor pertanian tersebut. Alih fungsi lahan pertani

an ke non-pertanian disebabkan oleh beberapa faktor, menurut Kustiawan (1997) da lam Lestari (2010) terdapat tiga faktor penting yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan, yaitu : Pertama, Faktor Eksternal merupakan faktor yang disebabka n oleh adanya dinamika pertumbuhan perkotaan (fisik maupun spasial), demografi m aupun ekonomi. Kedua, Faktor Internal yang merupakan faktor yang disebabkan oelh kondisi sosial-ekonomi rumah tangga pertanian pengguna lahan. Ketiga, adanya fa ktor kebijakan yang merupakan aspek regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pu sat maupun daerah yang berkaitan dengan perubahan fungsi dari lahan pertanian.