Anda di halaman 1dari 17

BAB I TINJUAN PUSTAKA A.

Definisi Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Diabetes mellitus disebut juga penyakit kencing manis karena berhubungan dengan keadaan air seni penderita yang banyak mengandung glukosa sebagai akibat proses pemakaian gula di dalam tubuh tidak dapat berlangsung normal dalam memenuhi kebutuhan energi. Diabetes Melitus adalah suatu sindrom klinik yang ditandai oleh adanya hiperglikemia yang disebabkan oleh defisiensi atau penurunan efektifitas insulin. Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis metabolisme abnormal yang mmerlukan pengobatan seumur hidup dengen diet, latihan dan obat-obatan. Insulin adalah zat atau hormon yang dikeluarkan oleh sel beta di pankreas. Pankreas merupakan sebuah organ yang berada di belakang lambung. Hormon insulin ini sangat berperan dalam mengatur kadar gula darah. B. Etiologi Belum diketahui penyebabnya secara pasti diduga karena pola makan yang tidak teratur, gaya hidup yang tidak sehat, dll C. Klasifikasi / Tipe DM 1. Tipe I Diabetes mellitus tergantung pada insulin (IDDM) Pankreas tidak bisa menghasilkan insulin secara absolut sehingga seumur hidup tergantung insulin dari luar dan kebanyakan terjadi pada usia dibawah 40 tahun. 2. Tipe II Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM) Pankreas masih bisa menghasilkan insulin secara relatif, kebanyakan terjadi pada usia diatas 40 tahun dan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang berimbas pada gaya hidup.

3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindroma lainnya 4. Diabetes mellitus gestasional D. Gejala-Gejala Diabetes Mellitus Adanya penyakit diabetes ini pada awalnya seringkali tidak dirasakan dan tidak disadari oleh penderita. Beberapa gejala penyakit diabetes yaitu 1. Gejala khas DM yaitu sering buang air kecil (Poliuria) sering haus (Polidipsia) sering lapar (Polifagia) yang diikuti oleh tubuh yang cepat lelah. 2. Kurang tenaga serta badan cepat menjadi kurus tanpa penyebab yang jelas, meskipun makannya banyak. 3. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl. 4. Kadar glukosa darah dua jam sesuadah makan lebih dari 200 mg/dl. Gejala lain yang biasanya muncul adalah 1. Adanya rasa kesemutan 2. Sering gatal-gatal 3. Sering keputihan 4. Bila terkena infeksi sulit untuk sembuh 5. Bisul yang hilang timbul 6. Penglihatan kabur 7. Cepat lelah 8. Mudah mengantuk E. Faktor-faktor Risiko Diabetes Mellitus Secara singkat faktor risiko atau faktor pencetus diabetes mellitus adalah 1. Faktor keturunan Penyakit diabetes mellitus kebanyakan adalah penyakit keturunan bukan penyakit menular. Artinya bila orang tuanya menderita diabetes, anak-anaknya kemungkinan akan menderita diabetes juga. 2. Usia. Umumnya manusia mengalami perubahan fisiologi yang secara dramatis turun dengan cepat setelah usia 40 tahun. Diabetes sering muncul setelah seseorang memasuki usia rawan setelah usia 45 tahun.

3. Pola makan yang tidak seimbang. Kurang gizi atau kelebihan berat badan sama-sama meningkatkan resiko terkena diabetes. Kurang gizi (malnutrisi) dapat merusak pankreas. Sedangkan obesitas (Kegemukan) dapat mengakibatkan gangguan kerja insulin. 4. Kegemukan (Obesitas). Kegemukan bisa disebabkan oleh kebanyakan makan, dalam hal karbohidrat, lemak maupun protein tetapi juga karena kurang bergerak. Kegemukan dapat menyebabkan gangguan dalam fungsi tubuh merupakan salah satu risiko untuk menderita penyakit kronis, seperti diabetes mellitus. 5. Kurang olah raga. 6. Hipertensi. Umumnya tekanan darah diatas 140/90 mmHg mempunyai faktor risiko terkena diabetes mellitus 7. Mempunyai riwayat melahirkan bayi dengan berat bayi lahir lebih dari 4000 gram. 8. Riwayat diabetes mellitus pada waktu hamil. 9. Kadar lemak darah tidak normal. Kolestrol HDL 35 mg/dl dan atau trigliserida lebih dari 250 mg/dl 10. Penderita penyakit jantung koroner, TBC dan penyakit hipertiroid. F. Komplikasi Diabetes Mellitus Komplikasi diabetes mellitus dapat muncul secara akut dan secara kronik yaitu timbul beberapa bulan atau beberapa tahun setelah mengidap mulai dari rambut sampai ujung kaki termasuk semua alat tubuh didalamnya. Komplikasi tersebut tidak akan muncul jika perawatan diabetes mellitus dilaksanakan dengan baik, tertib dan teratur. Diabetes mellitus dapat mempengaruhi bagian-bagian tubuh berikut ini yaitu 1. Rambut Penderita diabetes mellitus yang sudah menahun dan tak terawat secara baik, biasanya rambutnya lebih tipis. Bila akar rambut terserang, rambut menjadi mudah rontok.

2. Mata a. b. Bila kadar glukosa didalam darah mendadak tinggi lensa mata menjadi cembung dan penglihatan penderita menjadi kabur. Penyakit diabetes mellitus dapat menyebabkan lensa mata menjadi keruh (Tampak putih) dan penderita mengeluh kabur, lensa yang keruh ini disebut katarak c. Komplikasi menahun pada mata yang lain adalah meningkatnya tekanan bola mata yang disebut glaukoma. 3. Gigi dan gusi Karena jaringan yang mengikat gigi pada rahang mudah rusak, gigi penderita diabetes mellitus mudah goyah bahkan mudah rusak. 4. Paru Penderita diabetes mellitus jika batuk umumnya lama sembuhnya karena pertahanan tubuhnya menurun. Dibandingkan dengan orang normal, penderita diabetes mellitus lebih mudah menderita TBC paru. 5. Jantung Penderita diabetes mellitus lebih mudah menderita penyakit jantung koroner yaitu penyakit jantung yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah koroner. Dibandingkan dengan orang normal, penderita diabetes mellitus dua kali lebih mudah menderita serangan jantung. Selain itu karena keadaan diabetes mellitus yang kurang baik dan telah berlangsung lama, daya pompa otot jantung sedemikian lemah dan penderita diabetes mellitus sesak nafas ketika jalan ataupun naik tangga. 6. Ginjal Penderita diabetes mellitus mempunyai kecenderungan tujuh belas kali lebih mudah mengalami gangguan fungsi dibandingkan dengan ginjal orang normal. Hal ini disebabkan oleh faktor infeksi yang berulang-ulang yang sering timbul pada diabetes mellitus dan adanya faktor penyempitan pembuluh darah kapiler di dalam ginjal. 7. Gangren Diabetik Semua luka atau radang yang terjadi pada daerah dibawah mata kaki harus segera diobati dan bila perlu dirawat di rumah sakit. Bila terlambat, mudah timbul gangren diabetik (luka kehitaman karena sebagian jaringannya mati

dan berbau busuk) dan tidak jarang pada akhirnya kaki harus dipotong (diamputasi). 8. Kulit Pada umumnya kulit penderita diabetes mellitus kurang sehat atau kuat dalam hal pertahanannya sehingga mudah terkena infeksi dan penyakit jamur. Komplikasi akut diabetes mellitus yang paling sering adalah 1. Reaksi hipoglikemia Reaksi hipoglikemia adalah gejala yang timbul akibat tubuh kekurangan glukosa dengan tanda-tanda : rasa lapar, gemetar, keringat dingin, pusing dan sebagainya. 2. Koma diabetik Koma diabetik timbul karena kadar glukosa didalam darah terlalu tinggi dan biasanya lebih dari 600 mg/dl. G. Pencegahan Penyakit diabetes sebenarnya dapat dicegah dengan cara-cara sebagai berikut : 1. Menjaga berat badan. Menjaga berat dan dapat dilakukan melalui : a. b. Mencapai dan mempertahankan berat badan ideal Menurunkan berat badan bila kegemukan

2. Melakukan olahraga Olahraga sebaiknya dilakukan secara teratur, paling tidak 3-4 kali seminggu selama 30 menit. 3. Mengkonsumsi makanan yang seimbang Agar makanan seimbang, sebaiknya disesuaikan dengan proses pertumbuhan, status gizi, umur, kegiatan jasmani dan lain sebagainya. 4. Bagi penderita atau yang mempunyai riwayat keluarga diabetes mellitus hendaknya berhati-hati terhadap makanan dibawah ini. a. Yang harus dihindari Gula murni : gula pasir, gula jawa Makanan dan minuman yang terbuat dari gula murni : manisan, sirup, cake, susu kental manis, coklat, es krim dan lain-lain.

b.

Yang harus dibatasi Makanan yang mengandung karbohidrat : nasi, ubi, singkong, roti, mie, kentang, jagung dan makanan yang diolah dari tepung-tepungan.

H. Patofisiologi Pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuak menghasilakan isulin karena sel-sel beta pankreas telah hancur oleh proses autoimun. Hiperglikemiapuasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak teraukur oleh hati. Disamping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati merkipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan) Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat mneyerap kembali semua glukosa yang tersaring, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urine (Glukosuria). Ketika glukosa yang berlebihan diekskresikan kedalam urine, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan leektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan diureisi osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan dalam berkemih, pasien akan menalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia). Defisiensi insulin juga akan mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (Polifagia) akibat menurunnnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino serta substansi lain) namun pada penderita defisinesi insulin, proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut turut menimbulkan hiperglikemia. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Badan keton merupakan asam yang mengganggu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebih. Ketoasidosis diabetik yang diakibatkannya dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti abdomen, mual, muntah, hiperventilasi, nafas bau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan kematian.

I. Patway Keperawatan
DM

Defisiensi insulin berat

Neuropati

ambilan darah Hiperglikemi

katabolisme protein asam amino Kehilangan nitrogen

Peningkatan lipolisis asam lemak bebas

Sensori

Motorik

Kehilangan sensori

Atropi

glukosa Genesis

Vaskuleria T Gliserol Gangguan pembuluh darah

Perubahan dalam pergerakan

Hiper osmolalitas

Diuresis osmotik

ketogenesis

Kelemahan

Ketonimia Vikositas darah Kehilangan hipotonik Keto nuria Ketoas idosis Mual muntah

Suplai makanan kejar Luka sembuh

Perdarahan dalam retina Pandangan kaku Perubahan perilaku Kurang pengetahuan

Aliran darah ke otak G3 perfusi jaringan cerebral

Penipisan volume cairan Defisit vol cairan

Asidosis Metabolik

Nutrisi kurang dari kebutuhan

Ganggren

Resiko infeksi

J. Penatalaksanaan

1. Perencanaan makan (meal Planning) 2. Latihan jasmani 3. Obat Macam-macam insulin a. b. c. RI (Reguler Insulin) Daya kerjanya pendek (6-8 jam) Monotard (protamin Zink / PZI) Daya kerjanya panjang (24-36jam) Insulin Nordisk Daya kerjanya pendek (6-8 jam) Tujuan pemberian insulin a. b. Mengubah glukosa dalam darah menjadi glikogen Mengatur keseimbangan glukosa dalam darah

BAB II 8

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA A. Kebutuhan Dasar Manusia 1. Cairan dan elektrolit Definisi Keadaan dimana seorang individu yang tidak menjalani puasa mengalami atau berisiko mengalami dehidrasi vaskuler, interstitial atau intravaskuler. Batasan karakteristik a. Mayor 1). Ketidakcukupan masukan cairaan oral 2). Keseimbangan negatif antara masukan dan haluaran 3). Penurunan berat badan 4). Kulit / membran mukosa kering b. Minor 1). Peningkatan natrium serum 2). Penurunan haluaran urine atau haluaran urine berlebih 3). Urine memekat atau sering berkemih 4). Penurunan turgor kulit 5). Haus/mual/anoreksia. 2. Nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh Definisi Keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko mengalami penambahan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang melebihi kebutuhan metabolik. Batasan karakteristik a. Mayor 1). Kelebihan berat badan ( berat badan 10 % melebihi tinggi dan kerangka tubuh ideal) 2). Obesitas (berat badan 20 % atau lebih diatas tinggi dan kerangka tubuh ideal) 3). Lipatan kulit trisep lebih besar dari 15 mm pada pria dan 25 mm pada wanita b. Minor 9

1). Melaporkan adanya pola makan yang tidak di inginkan 2). Masukan melebihi kebutuhan metabolik 3). Pola aktivitas menurun B. Anatomi fisiologi

BAB III 10

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN 1. Aktifitas/Istirahat : a. b. S : lemah, lelah, kejang otot, penurunan tonus otot, gangguan istirahat/tidur. O : Tachicardi, tachipnea saaat aktifitas/istirahat. Letargi, koma, penurunan kekuatan otot. 2. Sirkulasi : a. b. S : Riwayat hipertensi, AMI, luka pada kaki, penyebuhan luka yang lambat. O : Tachicardi, Postural hipotensi, hipertensi, penurunan nadi, disritmia, kulit kering, sunken eyeballs 3. Integritas Ego : a. b. a. b. a. S : Stress, tergantung pada orang lain. O : Anxiety, iritabel. S : Poliuria, nokturia, nyeri saat BAK, diare. O : Oligouia/anuria, urine keruhdan dilusi, bunyi usus menurun. S : Nafsu makan menurun, mual, muntah, tidak patuh terhadap program diit, peningkatan intake glukosa/karbohidrat, berat badan meningkat, haus. b. O : kulit kering, turgor menurun, distensi abdomen, muntah, napas berbau acetone. 6. Neurosensori : a. b. S : Pusing, nyeri kepala, mati rasa, kelemahan otot, parestesis, gangguan penglihatan. O : Disorientasi, letargi, stupor, koma, gangguan memori, confusion, kejang (tahap lanjut) 7. Nyeri/Rasa Nyaman : a. b. S : Nyeri abdomen : O : Ekspresi nyeri saat palpitasi. 11

4. Elimination :

5. Makanan/Cairan :

8. Respirasi : a. b. S : Batuk, dengan atau tanpa sputum. S : Peningkatan kecepatan pernapasan, tachypnea, napas cepat dalam (Kussmauls). 9. Keamanan : a. b. S : Kulit kering, ulcerasi kulit. O : Panas, diaporesis, kulit pecah, lesi/ulcerasi, penurunan ROM, parestesis/paralisis. 10. Seksualitas : S : Discharge vagina, masalah impotensi, kesulitan orgasme. 11. Pemeriksaan Diagnostik a. b. c. d. e. Glukosa serum : Peningkatan 200-1000 mg/dl atau lebih. Aseton plasma (ketones) : positif kuat. FFA : lipid dan kolesterol meningkat. Osmolaritas erum : meningkat, <330 mOsm/L Elektrolit : 1). Serum :normal, meningkat/menurun 2). Kalium : normal, meningkat (sellular shift) 3). Phosphorus : sering menurun. f. g. h. AGD : pH menurun dan HCO3 menurun. CBC : hematokrit meningkat BUN : normal atau meningkat

B. Diagnosa Keperawatan 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan : a. b. c. a. b. c. Diuresis osmotik Kehilangan gastrik berlebihan : diare, muntah Restriksi cairan. Defisiensi insulin Penurunan intake oral Status hipermetabolik.

2. Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan :

3. Resiko tinggi perubahan pola seksualitas (Pria) berhubungan dengan masalah ereksi sekunder terhadap neuropati perifer atau konflik psikologis 12

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan : a. b. c. a. b. a. b. Peningkatan glukosa Penurunan fungsi lekosit Gangguan sirkulasi. Perubahan kimia endogen : glukosa/insulin Ketidakseimbangan elektrolit. Penurunan produksi energi Peningkatan kebutuhan energi : status hipermetabolik.

5. Gangguan persepsi sensori, berhubungan dengan :

6. Fatigue berhubungan dengan

7. Powerlessness berhubungan dengan Tergantung pada orang lain. 8. Kurang pengetahuan berhubungan dengan a. b. Mis interpretasi Penurunan daya ingat.

C. Rencana Tindakan dan Rasionalisasi 1. Kekurangan volume cairan : a. Kaji riwayat muntah, pengeluaran urine berlebihan. Rasionalisasi Mengetahui banyaknya cairan yang keluar / output cairan. b. Monitor Tanda Vital, postural hipotensi, kusmaull respiration, penggunaan otot bantu pernapasan, periode apnea, sianosis, peningkatan suhu tubuh. c. d. Rasionalisasi Untuk mengetahui tanda-tanda dari kekurangan volume cairan tubuh. Kaji nadi perifer, capillary refill, turgor kulit, mukosa membran. Rasionaslisasi Untuk mengetahui sirkulasi cairan dalam tubuh. e. Monitor intake dan output, berat jenis urine Rasionalisasi Keseimbangan cairan f. Timbang BB setiap hari 13

Rasionalisasi Sejauhmana kebutuhan cairan berpengaruh pada penurunan berat badan dan mengetahui seberapa banyak cairan kehilangan cairan tubuh. g. Pelihara intake minimal 2500 ml/hari Rasionalisasi Keseimbangan cairan untuk memperbaiki system sirkulasi. h. Monitor status mental Rasionalisasi Kebutuhan cairan yang terganggu berpengaruh pada status emosi. i. Catat keluhan mual, nyeri abdomen, adanya muntah dan distensi abdomen. Rasionalisasi Menentukan tindakan lebih lanjut dan keperluan penegakan diagnostic. j. Observasi peningkatan fatigue, crackles, edema, peningkatan BB. Rasionalisasi Mengidentifikasi adanya penumpukan cairan dalam tubuh karena intake cairan yang berlebih. k. Kolaborasi : 1). Pengelolaan cairan : Normal or half-normal saline dengan/tanpa dekstrose. Rasionalisasi Mengembalikan kebutuhan cairan yang hilang. 2). Albumin, plasma, dekstran. Rasionalisasi Keseimbangan cairan ektracell dan intracell 3). Pemasangan kateter Rasionalisasi Memantau output cairan lewat urine 4). Monitor lab : Hct, BUN/Cr, Osmolaritas serum, Na, K. Rasionalisasi Memantau cairan elektrolit 5). Pengelolaan kalium dan elektrolit lain melalui IV. Rasionalisasi Untuk mempertahankan kebutuhan elektrolit jantung. 14

6). Pemberian bikarbonat, jika pH <7.0 Rasionalisasi Keseimbangan asam-basa 7). Pemasangan NGT. Rasionalisasi Pemenuhan kebutuhan cairan lewat NGT 2. Nutrisi Kurang dari kebutuhan : a. Timbang BB setiap hari Rasionalisasi Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berpengeruh pada penurunan BB b. Sertakan klien dan keluarga : penyusunan program diit Rasionalisasi Keikutsertaan keluarga dan pasien diharapkan saling mengingatkan dalam konsumsi makanan sehingga diitnya dapat terkontrol. c. Auskultasi bunyi usus, catat adanya mual, muntah. Pertahankan NPO sesuai indikasi Rasionalisasi Hal yang mempengaruhi nafsu makan atau yang pengaruhi dalam kebutuhan nutrisi. d. Berikan cairan yang berisi nutrisi dan elektrolit, tingkatkan makanan padat. Rasionalisasi Pemenuhan kebutuhan nutrisi e. Observasi tanda-tanda hipoglikemi. Rasionalisasi Mencegah terjadinya hal-hal tidak diharapkan dan dapat melakukan tindakan penyelamatan lebih cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. f. Kolaborasi : 1). Pemberian regular insulin : IV bolus/pump 5-10U/h hingga glukosa 250 mg/dl. Rasionalisasi Mengendalikan kadar insulin dalam darah. 15

2). Konsul ahli gizi Diet : 60% karbohidrat, 20% protein, 20% lemak. Rasionalisasi Disesuaikan dengan kadar Glukosa darah dan kebutuhan nutrisi pasien 3. Resiko tinggi perubahan pola seksualitas (Pria) berhubungan dengan masalah ereksi sekunder terhadap neuropati perifer atau konflik psikologis Kreteria Hasil a. b. c. a. Mendiskusikan masalah seksualitasnya Menunjukkan maksud untuk membagi perasaannya dengan pasangan Mengidentifikasi pokok tindakan Bahas efek umum diabetes terhadap seksualitas pria. Disfungsi seksualitas merupakan masalah kompleks yang dapat diakibatkan oleh kesulitan fisiologis atau psikologis. Individu dengan diabetes lebih cenderung mengalami disfungsi seksualitas karena penyakit merusak saraf dan sistem sirkulasi. Rasionalisasi Dengan menjelaskan penyebab dapat membantu klien membedakan antara impotensi psikologis dan fisiologis b. Dengan jelas memperlihatkan keinginan untuk mendiskusikan perasaan dan masalah klien : sampaikan sikap dan empati terhadap masalah. Rasionalisasi Dialog terbuka dan jujur dapat menurunkan rasa malu dan penolakan klien untuk meceritakan rasa takut dan masalah. c. Bila klien seara fisiologis tidak mampu untuk menahan ereksi yang cukup untuk hubungan seksual, diskusikan kemungkinan penggunaan protese penis Rasionalisasi Penis implantasi memberikan ereksi yang diperlukan untuk hubungan seksual tanpa mengubah sensasi atau kemampuan untuk ejakulasi d. Pertegas pentingnya kedekatan dan ekspresi perhatian : libatkan pasangan klien dalam sentuhan dan cara ekspresi seksual lainnya. Rasionalisasi 16

Intervensi dan Rasionalisasi

Kenikmatan dan kepuasan seksual tidak dibatasi pada hubungan seksual.ekspresi seksualitas lainnya dan kasih sayang dapat membuktikan lebih berarti dan memuaskan. e. Bila ada indikasi, rujuk klien pada ahli terapi seksual atau konselor kesehatan mental untuk evakuasi dan pengobatan masalah seksual. Rasionalisasi Klien mungkin membutuhakn evaluasi dan pengobatan spesialis. 4. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan sensasi taktil, penurunan ketajaman pengelihatan dan episode hipoglikemi Kreteria Hasil a. b. c. a. Menyebutkan tiga risiko yang dapat menyebabkan cedera Menyebutkan hubungan cedera pada hipoglikemia Identifikasi metode koping dnegan penurunan pengelihatan Anjurkan klien untuk sering memantau kadar gkokosa darah Rasionalisasi Pemantauan gula darah yang cermat dapat mendeteksi GD rendah sebelum mengakibatkan cedera serius b. Ajarkan orang dekat klien untuk menyiapkan dan memberikan glukagon Rasionalisasi Glukagon yang dijual bebas merupakan pengobatan injeksi untuk hipoglikemia berat. Glukagon ini tersedia dengan resep dan dianjurkan bagi klien yang mungkin mengalami kekacauan mental atau tak sadar dan tidak mampu makan atau minum melalui mulut. Glukagon bekerja dengan mengubah glikogen dalam hepar menjadi bentuk glukosa yang dapat digunakan. Stabilitas glukagon pendek karena harus dicampur sebelum digunakan, karena glokagon harus diberikan oleh orang lain, keluarga klien atau teman harus diajarkan bagaimana menyiapkan dan memberikan pada kasus darurat. BAB IV KASUS

Intervensi dan rasionalisasi

17