Anda di halaman 1dari 503

1

TITIK-TITIK KISAR DI PERJALANANKU


(Otobiografi Ahmad Syafii Maarif)

BUMI KELAHIRAN, SAUDARA-SAUDARAKU


I.

IBU-BAPAK,

dan

A. Sumpur Kudus, Makkah Darat, dan Perdagangan Aku lahir di bumi Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Sumpur Kudus Makkah Darat (Makah Darek dalam Bahasa Minang) adalah bumi bersejarah. Makkah Darat adalah ungkapan yang sering diulang-ulang tidak saja oleh kaum elit nagari itu, rakyat jelata pun tak lupa pula menyebutnya. Apakah mereka paham makna yang sebenarnya di belakang ungkapan historis itu, tentu sulit untuk dikatakan. Mungkin sebagian kecil orang tua masih agak mengetahuinya secara remang-remang melalui cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, tetapi pasti tidak akan bisa menjelaskannya secara utuh dan mendalam. Fakta dan legenda di sini sering telah bercampuraduk. Era orang-orang tua itu dengan kejadian sejarah yang dimaksud telah dibatasi oleh jarak waktu yang jauh. Dengan wafatnya Raja Ibadat di awal abad

ke-19 Sumpur Kudus telah berhenti jadi pusat perhatian dalam sejarah Minangkabau. Akibatnya sedikit sekali orang Minang modern yang tahu di mana letak Sumpur Kudus itu karena makna historisnya telah tertimbun di bawah debu zaman selama hampir dua abad. Baru setelah sejarah Minangkabau dibuka, nama itu pasti muncul. Apalagi dengan generasiku, jarak itu sudah semakin menjauh saja. Dipisahkan tidak saja oleh lapisan tahun, tetapi juga oleh perkisaran abad. Kalaulah tersedia keterangan tertulis yang memadai, tentu akar sejarahnya tidak sulit untuk ditelusuri. Catatan tertulis yang agak memadai tentang ini tidak mudah didapatkan. Ada semacam kekosongan atau rantai yang terputus antara meninggalnya Raja Adityawarman (1347-1375) dari Pagaruyung dengan proses masuknya Islam menggantikan posisi Hinduisme/Budhisme yang semula tertanam kuat di seluruh Minangkabau, termasuk di kawasan Sumpur Kudus. Adityawarman sendiri beragama Budha Tantrayana. Sekiranya Islam tidak pernah bertapak kuat secara politik dan kultural di kampungku di masa dulu, nama Sumpur Kudus boleh jadi tidak akan pernah muncul dalam peta. Atau di zaman modern,

sekiranya P.D.R.I.(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pada 1949 tidak menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Indonesia sekitar tiga minggu, siapa yang mau berurusan dengan desa terpencil dan miskin ini. Juga sekiranya P.R.R.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tidak menjadikan Sumpur Kudus sebagai sebagai salah satu tempat persembunyian di akhir 1950-an atau awal 1960-an, kawasan ini pasti akan jarang disebut. Baru pada permulaan abad ke-21, nagari ini mulai mendapat perhatian dari teman-teman Jakarta, tetapi dari perspektif lain: pembangunan sarana publik yang langsung menyentuh secara kongkret kehidupan rakyat banyak, sebagaimana yang akan dibicarakan lebih jauh. Oleh sebab itu aku berharap agar rakyat Sumpur Kudus setelah diguyuri rahmat dan nimat, pandai-pandailah bersyukur, karena pada masa revolusi nagari atau kecamatan ini cukup beruntung. Namanya sempat terbaca di peta politik nasional, sementara puluhan ribu desa lainnya di seluruh nusantara tidak dikenal orang, sekalipun juga punya jasa dalam satu dan lain peristiwa sejarah. Politik Jakarta yang sentralistik telah menyebabkan daerah dianaktirikan selama puluhan tahun

dengan segala akibat buruknya bagi perjalanan bangsa ini secara keseluruhan. Menurut rekaman sejarah Indonesia kuno, Adityawarman lahir dan dibesarkan dalam kerajaan Majapahit, punya darah campuran Sumatera-Jawa. Dia datang ke Sumatera tahun 1340-an untuk menguasai kawasan pengekspor emas Dhamasraya di hulu sungai Batanghari yang sejak 1270-an sebagai pembayar upeti kepada kerajaan Hindu-Jawa yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi beberapa prasasti sejak 1347 menunjukkan bahwa dia telah melepaskan kesetiaannya kepada Majapahit, kemudian dia pindah ke Tanah Datar untuk mendirikan kerajaan independen. Adityawarman memakai gelar Maharajadiraja dan Kanakamedinindra (penguasa bumi yang mengandung emas). Pusat kerajaannya berada di sekitar Bukit Gombak dan Saruaso. Sumpur Kudus sebagai salah satu pusat perdagangan emas adalah bagian dari daerah kekuasaan Adityawarman ini. Sistem kerajaannya tidak saja mengikuti pola Majapahit, unsur Minangkabau sangat dominan. Di bawah kekuasaannya Minangkabau mulai mengembangkan kebudayaan tingginya sendiri, dengan seni, bahasa, dan tulisannya sendiri. Terjadilah di sini perpaduan dan perkawinan antar unsur Melayu dan unsur Jawa. Tetapi setelah raja

Minang-Jawa ini wafat, kerajaannya mulai berantakan. Perang saudara pecah, sebab tak seorang pun dari keturunannya yang mampu meneruskan kepemimpinannya.1 Pada abad berapa Sumpur Kudus dan kawasan sekitarnya berubah dari penganut Hinduisme-Budhisme menjadi penganut Islam sehingga dijuluki Makah Darek? Tidak mudah untuk dikatakan. Sejarah Minangkabau secara keseluruhan adalah sejarah yang galau, serba simbolik, tidak berterus terang. Semuanya dibungkus dalam kemasan petatah-petitih, sekalipun punya nilai sastra yang tinggi. Tetapi kematian Adityawarman telah membawa perubahan besar bagi sejarah Minangkabau. Kaum bangsawan yang telah terpecah itu mencari daerah tempat berpijaknya masing-masing. Sebagian menetap di lembah Batang Sinamar, di sekitar Buo, Sumpur Kudus, dan Pagaruyung yang masih terletak di sekitar Kumanis sekarang. Batang Sinamar menjadi sangat vital bagi perjalanan perahu para saudagar emas, lada, dan kopi untuk mengangkut barang dagangannya menuju Inderagiri, kawasan yang sudah dikuasai oleh pedagang-pedagang Muslim.

Lih. Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847. London & Malmo: Curzon Press, 1983, hlm. 61-63
1

Di daerah baru ini, yang terjadi tidak saja interaksi komersial, tetapi juga interaksi relijius. Maka di seputar pertengahan abad ke-16, Sumpur Kudus, Buo, Pagaruyung, dan kawasan sekitarnya mengalami proses Islamisasi secara berangsur tetapi pasti.2 Salah satu akibatnya adalah Hinduisme/Budhisme secara formal semakin menghilang dari peredaran digantikan Islam, sekalipun dalam praktik, unsur-unsur lama itu tetap bertahan. Bahkan dalam berbagai kebiasaan penduduk, Islam hanyalah sampai di lapisan kulit saja. Praktik Hinduisme-Budhisme dan tradisi lokal masih saja diikuti, seperti yang juga dialami oleh unit-unit peradaban lain di muka bumi. Apa yang disebut sinkretisme juga berlaku di sini. Pada bagian akhir abad ke-16 di seluruh Minangkabau penyebaran Islam tampaknya sudah merata dengan kualitas yang masih sinkretik itu. Sultan Alif rupanya adalah raja Muslim pertama di Minangkabau, sekalipun penduduknya mungkin sudah lebih dulu masuk Islam. Anehnya, kapan Sultan Alif ini lahir dan tahun berapa mulai naik takhta, semuanya serba gelap. Yang banyak disebut adalah tahun wafatnya pada 1580, bahkan ada
2

Ibid., halaman 63 - 64

yang mengatakan tahun 1680, berbeda satu abad bukan?.3 Akibat Sultan Alif tidak punya keturunan langsung, politik jadi kacau, perebutan takhta pun terjadi. Kerajaan terpaksa dikeping menjadi tiga. Inilah yang dikenal kemudian sebagai Tungku Nan Tigo Sajarangan atau Tali Sapilin Tigo. Maksudnya terdapat tiga raja (rajo) yang sama-sama naik takhta. Ada Yang Dipertuan Raja Alam sebagai koordinator kerajaan di Pagaruyung, ada Raja Ibadat di Sumpur Kudus yang menangani masalah hukum syarak, ada Raja Adat di Buo yang bertanggung jawab dalam soal adat dan lembaga. Ketiga raja inilah yang disebut Rajo Tiga Selo, atau lengkapnya Rajo Nan Tigo Selo.4 Ungkapan Makah Darek ternyata punya akar sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur HinduBudhis di pedalaman Minangkabau. Ia adalah simbol dari pusat gerakan dan kajian Islam yang terletak jauh dari pantai, baik pantai barat mau pun pantai timur di daerah Riau sekarang. Istilah adat nan menurun, syarak nan mendaki harus dilihat dari gerak adat dari tempat yang tinggi dari Pariangan Padangpanjang di
3

Lih. Asmaniar Idris, Kerajaan Pagaruyung dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie, Khairul jasmi, dan Syofiardi Bachyul Jb. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia-LKAAM Sumatra Barat, 2002, hlm. 68 4 Ibid., hlm. 68-69

lereng gunung Merapi. Syarak mendaki dari dataran rendah pantai Timur dan dari Ulakan di pantai barat menuju tempat yang tinggi.5 Gerak turun dan gerak mendaki inilah kemudian membuahkan formula strategis berupa adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, dan syarak mengata adat memakai (syarak mangato adaik mamakai, dalam Bahasa Minang), sekalipun masih banyak unsur adat itu yang berlawanan dengan agama. Keengganan Syekh Ahmad Khatib Sulaiman untuk pulang ke Minangkabau dan memilih menetap di Makkah sebagai salah seorang imam besar Masjidil Haram harus dilihat dalam perspektif adat yang dinilai masih bercampur dengan unsur-unsur lokal yang dinilainya tidak Islami ini. Tetapi ide dasarnya adalah bahwa adat tidak boleh berlawanan dengan ajaran Islam. Dari sisi formulasi sudah benar, tetapi dalam implementasi tidak selalu mudah. Lapisan adat kebiasaan yang sudah berusia bilangan abad amat sulit diubah secara total, apalagi jika dawah kurang menampilkan dimensi-dimensi yang lebih fundamental dari ajaran Islam. Makah Darek dikaitkan dengan Makkah al-Mukarramah di Arabia ketika Islam mulai
Lih. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie dkk, op.cit., hlm. xvi.
5

menapakkan kakinya di kawasan pedalaman itu. Penamaan Sumpur Kudus sebagai Makah Darek sekaligus menunjukkan keberhasilan Islam secara formal menundukkan hati manusia di kampungku dan sekitarnya. Tentu telah terjadi pergumulan antar Islam dengan Hinduisme/Budhisme plus kepercayaan lokal yang telah berakar terlebih dulu. Catatan di bawah ini menunjukkan bahwa istana raja Pagaruyung punya pengawal dengan jumlah yang fantastik. Itu artinya keadaan belum sepenuhnya aman karena masih memerlukan pengawalan ketat dengan jumlah personil yang besar. Biasa, sebuah masa peralihan ditandai oleh ketegangan, jika bukan bentrokan. Tetapi berapa lama proses ini berlangsung, perlu kajian lebih lanjut. Berapa jumlah penduduk ketika itu, susah juga untuk dikatakan. Tetapi Dobbin mencatat bahwa Thomas Diaz, seorang Portugis yang menjadi utusan Belanda pada 1684 telah berkunjung ke Pagaruyung yang ketika itu masih berpusat di sekitar Kumanis. Menurut Diaz, penduduk Pagaruyung pada waktu itu sekitar 8000, tidak termasuk kawasan pinggiran. Sumpur Kudus sendiri juga punya penduduk sejumlah itu. Menariknya adalah Diaz dalam sebuah kunjungannya ke suatu tempat diiringi oleh

10

4000 pengawal istana. Bahkan ketika utusan Belanda ini bergerak meninggalkan Pagaruyung menuju Siluka, tidak kurang dari 3000 perajurit bersenjata yang mengawalnya. Para prajurit ini terus saja menembakkan bedilnya ke udara.6 Kita bisa membayangkan bagaimana ngeri atau gelinya rakyat menyaksikan prajurit raja yang ugal-ugalan itu, main tembak segala, sebuah kebiasaan primitif yang belum sepenuhnya hapus di era modern. Aku tidak tahu bagaimana perasaan si Portugis ini diperlakukan seperti itu. Mungkin dia senang karena merasa begitu dimuliakan oleh seorang raja beragama Islam. Tetapi juga dapat ditafsirkan bahwa petinggi Pagaruyung begitu bangganya dengan kedatangan si bule ini. Sebuah suasana inferiority complex (rasa rendah diri) boleh jadi berlaku di sini. Apalagi V.O.C. (Kompeni India Timur) sudah mulai beroperasi di daerah-daerah tertentu di nusantara sejak 1602, 82 tahun sebelum Diaz mengunjungi pusat kerajaan Pagaruyung di tepi Batang Sinamar itu. Yang aku heran adalah kemana penduduk dan prajurit dalam jumlah besar itu menghilang dalam perjalanan waktu kemudian. Sebab sekarang saja (2006) jumlah penduduk untuk seluruh kecamatan
6

Dobbin, op.cit., hlm. 68.

11

Sumpur Kudus hanyalah sekitar 20.000 jiwa. Apakah dalam pergumulan Islam dengan kepercayaan sebelumnya harus minta korban, kita tidak tahu. Atau lebih banyak korban karena alasan ekonomi yang tidak bisa lagi memberi kehidupan layak, orang lalu berpindah ke kawasan lain. Apakah dalam proses Islamisasi di kawasan ini tidak berlaku teori penetration pacifique (masuk atau menembus secara damai), masih galau bagiku. Tetapi bahwa korban pasti ada, sebab di Ranah Minang sebelum datangnya Islam juga dikenal banyak parewa (preman) dengan segala perbuatannya yang buruk dan merusak masyarakat, sebagaimana yang akan disoroti lebih lanjut. Jadi Makah Darek bukan suatu ungkapan sederhana biasa yang hanya bisa dibaca sambil lalu. Secara kultural, ia melambangkan sebuah gerak perlawanan terhadap apa yang bernama kultur hitam jahiliyah yang dikuasai preman sangar di daerah pedalaman, sekalipun petingginya beragama Hindu atau Budha, atau bahkan di masa Islam sampai hari ini, parewa ini belum hilang. Gerak Islam ini bertujuan untuk mencerahkan hati dan mencerdaskan otak manusia agar terbebas dari segala macam kelakuan buruk dan jahat yang merusak dan mengancam masyarakat yang tak berdaya. Kultur

12

preman adalah kultur hukum rimba yang mengutamakan otot, bukan kultur otak, sebagaimana yang masih saja kita jumpai di zaman modern. Islam datang untuk melunakkan hati manusia dan melepaskannya dari pasungan yang mencekam fisik dan jiwanya. Agama wahyu terakhir ini ingin membentuk manusia merdeka, santun, dan bertanggungjawab, baik terhadap sesama mau pun terhadap Tuhan, maha Pencipta. Kampungku termasuk salah satu pusat penting dalam gerakan perlawanan kultural itu. Akhirnya Islam mencatat kemenangan abadi, setidak-tidaknya secara statistik. Maka jika aku bangga dengan kemenangan Islam dalam pertarungan kultur itu, rasanya cukup punya alasan, sekalipun proses Islamisasi tidak pernah mengenal batas akhir. Ia bergerak terus secara dinamis dan kreatif untuk mencari pendukung baru, di sisi meningkatkan kualitas dirinya, suatu on-going process, kata teori antropologi. Untuk mempercepat proses Islamisasi kualitatif ini, peran organisasi kemasyarakatan, seperti Muhammadiyah menjadi sangat penting dan strategis. Kesulitan yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai daerah adalah salah satu fakta kurangnya pemimpin yang mengerti agama dan rela berkorban dalam makna yang luas.

13

Aku sendiri di hari tua ini juga terlibat secara tidak langsung dalam proses memajukan kegiatan Muhammadiyah di kampung sendiri, sekalipun mencari kader yang handal dalam jumlah yang memadai ternyata sulit sekali. Gerakan Muhammadiyah sudah memasuki kampungku setahun menjelang meledaknya P.D. (Perang Dunia) II (19391945), atau 13 tahun setelah gerakan Islam modern ini menancapkan kukunya di Sungaibatang Tanjungsani, Maninjau, pada tahun 1925. Pelopor utamanya adalah Dr. H. Abdulkarim Amrullah, Jusuf Amrullah, A.R. Sutan Mansur, Hamka, dan diikuti oleh generasi sesudahnya. Tokoh-tokoh yang berkepribadian kokoh inilah yang menanamkan urat tunggang Muhammadiyah di Ranah Minang. Oleh sebab itu siapa pun yang mengaku menjadi pemimpin Muhammadiyah di Ranah Minang tetapi tidak kenal dengan pribadi-pribadi besar tersebut adalah sebuah malapetaka sejarah. Mereka akan kehilangan pedoman dan acuan dalam bermuhammadiyah. Dr. Karim Amrullah sekalipun menjadi penggerak awal Muhammadiyah, dia sendiri tidak pernah secara resmi menjadi anggota persyarikatan ini. Mungkin punya kartu anggota itu tidak penting baginya. Itu hanyalah urusan administrasi. Yang pokok

14

bagi sahabat Dahlan ini adalah agar Muhammadiyah harus menjadi masa depan Minangkabau, jika ranah ini tidak mau terus hanyut dalam gelombang tarekat dengan berbagai aliran yang memperbudak jiwa manusia di samping punya tujuan-tujuan ekonomi. Sumpur Kudus tidak saja dikenal karena Rajo Ibadatnya sebagai petinggi agama, tetapi dahulunya juga sebagai kawasan perdagangan emas dan kopi. Aku tidak tahu di mana lokasi tambang emas itu dahulunya, sebab bekasnya tidak ditemukan lagi. Mungkin saja terletak di nagari lain di sekitar Sumpur Kudus. Ada memang nama kampung Tombang (Tambang?) dalam kenagarian Sumpur Kudus. Apakah di sekitar tempat ini dahulu terdapat tambang emas, amat sulit untuk disimpulkan. Semuanya kini telah berubah sejalan dengan bergulirnya waktu dalam rentangan yang panjang. Kalau kopi tentu tidak sulit ditelusuri, karena sampai hari ini masih ada saja warga masyarakat yang menanamnya. Tanaman kopi dan lada adalah komoditas yang dapat diperbarui terus menerus, sedangkan emas jika sudah habis, ya habis, tidak dapat diperbarui lagi. Dari kawasan inilah a.l. dahulu barang dagangan itu diangkut ke Singapura via Riau sekarang, kemudian ke Eropa. Aku hanya terkaget-kaget membaca catatan

15

sejarah masa lampau ini tentang kampungku, tetapi sekaligus tentu memuat kebanggaan khusus, sekalipun semuanya itu kini tinggal kenangan belaka. Sebuah kelampauan yang indah telah berlalu digilas perputaran roda zaman. Siapa nama-nama saudagar kampungku ketika itu, semuanya gelap bagiku, atau mungkin mereka hanya pekerja tambang dan petani kopi melulu. Tentu mereka semua buta huruf Latin, tetapi sudah mengerti bahwa emas dan kopi adalah komoditas komersial yang memberi kemakmuran kepada penduduk. Ini hanya sekadar perkiraanku belaka. Bagaimana kenyataan yang sebenarnya, perlu dikaji lebih jauh oleh orang lain yang berminat dan punya waktu. Membongkar masa lampau kemudian membangunnya kembali adalah pekerjaan sulit dan melelahkan, tetapi itulah tugas sejarawan yang cukup menantang. Mengapa kukatakan mereka buta huruf, itu berdasarkan alasan yang sederhana saja, karena sekolah di kampungku adalah salah satu gejala abad ke-20, berupa sebuah S.R. (Sekolah Rakyat) di pusat kota Sumpur Kudus. Inilah sekolah dasarku dan sekolah dasar generasi jauh sebelumku. Aku menyelesaikan sekolah di sini pada tahun 1947. Aku tidak tahu tahun berapa persisnya sekolah ini didirikan oleh

16

pemerintah kolonial. Mungkin pada dasa warsa pertama awal abad ke-20, sekolah ini sudah muncul. Ayahku kelahiran 1900 adalah alumnus sekolah itu juga. Inilah satu-satunya sekolah dulu untuk mencerdaskan nagari-nagari Unggan, Silantai, Sumpur Kudus, dan Mangganti, sewaktu aku masih kecil. Ke pusat kota inilah para pelajar berdatangan dengan berjalan kaki yang berjarak antara 2-7 km. Umumnya dengan kaki telanjang, termasuk aku. Aku sendiri yang tinggal di Calau hanya berjalan kaki sepanjang 2 km. Pernah juga terjadi sekalikali perkelahian sesama pelajar, antar anak Sumpur dan anak Silantai, antar anak Sumpur dan anak Calau. Anak Sumpur banyak yang sombong. Mungkin karena mereka merasa sebagai orang kota yang memandang enteng anak kampung. Aku masih ingat betul pernah bacakak (berkelahi) dengan Amirusjid (alm.), teman sekelas di S.R. Sumpur Kudus ini. Rasanya tidak ada yang kalah, tidak dia dan tidak aku. Aku sudah lupa siapa yang menghasung kami sampai bacakak itu. Sebenarnya fisikku tidaklah terlalu kuat untuk adu otot. Mungkin akan lebih baik kalau yang diadu itu kemampuan otak. Sekarang keadaannya sudah jauh berubah. Sejalan dengan pertambahan penduduk, terjadi pulalah pemekaran

17

pusat-pusat pendidikan dasar. S.D. (Sekolah Dasar) sudah bertebaran di manamana. Satu nagari saja bisa punya lima S.D. Dengan perubahan positif ini, tentu sudah sulit mencari anak-anak usia sekolah yang masih buta huruf, sekalipun karena alasan ekonomi mereka belajar di SD tidak sampai tamat. Dalam soal pendidikan dasar ini, kemerdekaan bangsa bagi kampungku punya makna yang sangat berarti. Dari sisi ini, Sumpur Kudus sudah agak lama merdeka. Tetapi jangan ditanya tentang sarana-sarana publik lain yang baru pada tahun-tahun belakangan ini saja diperhatikan. Sarjana Skandinavia Christine Dobbin dalam karyanya di atas dengan cukup menarik menggambarkan betapa pada abad-abad permulaan era penjajahan Belanda, nagari-nagari seperti Sumpur Kudus, Kumanis, Unggan, Mangganti, Durian Gadang, Siluka, dan lain-lain, memang merupakan pusat-pusat perdagangan yang terkenal. Nama Silantai dan Sisawah tidak muncul dalam buku itu, mungkin keduanya adalah nagari baru yang menyusul kemudian, aku pun tidak bisa menjelaskan7. Nama Sumpur Kudus sendiri disebut dalam 11 halaman8. Biasanya jika ada pembukaan sebuah
7 8

Lih. indeks buku Dobbin hlm. 298. Ibid.

18

kampung baru, rakyat meneroka (babat alas, dalam Bahasa Jawa) lebih dulu. Secara berangsur sesudah itu berdirilah kampung atau nagari baru, memisah dengan induknya. Belakangan Sisawah telah mekar pula menjadi dua nagari: Sisawah dan Kabun. Maka jumlah nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus setelah pemekaran menjadi sembilan, dengan Kabun sebagai nagari termuda. Dan juga tidak tertutup kemungkinan kecamatan ini akan dipecah pula pada waktunya. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, mekar pulalah nagari, kecamatan, kabupaten, kota, propinsi, asal masih dalam koridor sebuah bangsa yang utuh. Bagiku masalah keutuhan bangsa menjadi sesuatu yang sangat mutlak. Pada berbagai forum dan kesempatan, aku hampir tidak pernah lupa menekankan perlunya keutuhan bangsa ini dijaga dan dipertahanlan. Karena sikapku inilah barangkali Bung Taufik Kiemas (suami Presiden Megawati, 2000-2004) menilaiku sebagai seorang yang memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi.9 Jakarta: Maarif Institute, 2005, hlm. 369). Rasanya penilaian semacam itu tidaklah keliru karena cintaku kepada bangsa ini adalah sebuah cinta yang tulus dan autentik. Tidak
Lih. Abd Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay (ed.), Cermin Untuk Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif. Jakarta: Maarif Institute, 2005, hlm. 369
9

19

dibuat-buat, tidak pula untuk mencari posisi duniawi. Latar belakang Minang dan keislamanku turut menjadi faktor penting mengapa aku menyayangi Indonesia. Perkembangan politik di Indonesia pada tingkat akar rumput di awal abad ke21 dengan berlakunya UU Otonomi Daerah tampaknya sedang bergerak dan berubah secara dinamis. Bukan saja propinsi dan kabupaten yang dimekarkan, kecamatan dan desa pun berlomba untuk memekarkan diri, untuk tujuan baik atau karena ingin memunculkan raja-raja lokal. Ada peribahasa: Jika tak jadi buaya di lautan, jadi gerundang (anak katak) di kubangan pun jadi. Tetapi marilah kita berbaik sangka bahwa semua proses ini memang merupakan tuntutan alamiah dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pertimbangan masalah jarak dengan ibu kota kecamatan, kabupaten, atau propinsi. Tentu pada saatnya kelak akan tercapai keseimbangan dalam sebuah tatanan Indonesia baru, sekalipun pasti akan menimbulkan banyak gesekan dan persoalan. Tetapi tanpa gesekan bukanlah politik namanya. Asal saja gesekan itu tidak membawa bencana perpecahan. Jika perpecahan ini yang berlaku, sudah pasti akan menelan biaya tinggi dan menguras energi.

20

Sumpur Kudus itu sendiri di samping nama nagari, juga nama kecamatan di era modern. Sungainya pun bernama Batang Sumpur tanpa dilengkapi dengan Kudus. Tepian tempat mandiku di kala kecil ya di sungai ini, persis seperti anak-anak kampung yang lain. Bahkan aku disunat (dikhitan) juga di sebuah tepian mandi di Calau. Sebelum disunat aku dilomeh (diguyur) dengan air Batang Sumpur sampai menggigil untuk menghilangkan rasa sakit ketika disunat. Bibirku sampai berubah warna karena kedinginan. Banyak sekali teman sambil bersorak-sorai mengguyur sekujur tubuhku yang ditutupi dedaunan. Sekalipun badanku sudah gemetar keras karena kedinginan yang sangat menusuk, ketika upacara khitan itu berlangsung, rasanya masih perih sekali, berdenyut sampai ke otak. Maklumlah bius ala kampung yang dikomandani oleh seorang dukun bernama Dt. Bagindo Tanomeh. (Tanomeh= sutan emas). Orangnya berkumis, tinggi sedang, agak langsing, pakaiannya putih necis. Tetapi dia adalah tukang jagal bagian tubuh anak lelaki yang ditakuti. Jangan main-main dengannya. Aku tentu berterima kasih kepadanya yang telah mengislamkanku melalui cara yang dramatis itu. Kata orang kampungku, hanya orang kafir yang tidak

21

bersunat. Oleh sebab itu bersunat=menjadi orang Islam. Batang Sumpur mengalir dari utara ke selatan menuju Sisawah dan Padang Lawas. Pertemuan Batang Sumpur dengan Batang Sinamar disebut juga Muara Sumpur (dalam Bahasa Minang: Muaro Sumpu). Di kala kecil, aku pun pernah naik perahu dari Sisawah ke muara itu. Tranportasi perahu sangat menyenangkan, sebab kita dapat bersahabat dengan air sebagai sumber kehidupan. Di sini aku harus berterus terang bahwa pada saat naik perahu itu apresiasiku terhadap lingkungan alam terasa dingin-dingin saja, belum menggeliat, jika bukan tumpul sama sekali. Bagaimana mau menggeliat, wawasanku hanyalah sebatas Batang Sumpur dan Bukit Bakul, sebuah bukit yang membatasi kampungku dengan wilayah Riau. Bacaanku nol, paling-paling buku pelajaran membaca tingkat S.R. berjudul Cahaya. Bacaan lain sangat langka, dan itu pun tidak ada yang mendorong rasa ingin tahu lebih jauh. Ada juga bacaan ArabMelayu, tetapi aku sudah lupa judulnya. Gembira ya gembira duduk santai di atas perahu sambil mengulurkan tangan ke air, tetapi jauh dari suasana renungan. Apa yang mau direnungkan. Yang ada ketika itu adalah perasaan lepas, samasekali tidak takut kalau-kalau perahunya karam, karena

22

aku tokh bisa berenang. Maklumlah masih dalam usia S.R. dan tidak ada orang yang mengusik batinku untuk mencintai alam. Perasaan itu tumbuh dan berkembang kemudian secara alamiah dengan merangkaknya usia dan bertambahnya bacaan serta pengalaman. Prosesnya berjalan lamban sekali, karena memang apa yang dikenal belakangan dengan teori eko-sistem sangat asing bagi penalaranku pada saat naik perahu itu. Dan akan menjadi hal yang luar biasa jika teori serba canggih itu diketahui bocah ingusan seperti aku. Bersamaan dengan melajunya perahu yang dikayuh juru mudi, melaju pulalah tatapan mataku menumbuk berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur di kiri kanan Batang Sumpur. Sebagian daunnya ada menjulai menyentuh air, sebagian telah menguning ditelan usia untuk kemudian berguguran menyatu dengan bumi. Pulang ke asalnya, persis seperti manusia, siapa pun dia, tak seorang pun yang mampu mengelak dari ketentuan Langit ini. Dan memang tidak perlu mengelak. Dari tanah kita berasal, ke tanah kita pasti akan kembali, hanya cara dan prosesnya yang mungkin berbeda. Sejak dari hulu jauh di utara nagari Unggan sampai ke Muaro Sumpu, Batang Sumpur hampir tidak ada yang lengang

23

dari pepohonan, tempat burung, kera, tupai, dan bermacam jenis makhluk bermain, bersenda gurau, dan mencari makan. Sebuah eko-sistem yang harmonis sekali. Pohon memberi kehidupan kepada makhluk di atas, sementara kotorannya yang jatuh ke tanah memberi kesuburan kepada pepohonan. Masing-masing saling memerlukan, saling mendukung. Oleh sebab itu para perusak hutan, apalagi hutan lindung adalah manusia yang tidak beradab, tetapi sering mendapat perlindungan dari aparat, demi upeti. Cara kasar inilah yang telah merusak Indonesia sampai batas-batas yang sangat jauh. Jika pada satu saat ada pulau di nusantara berubah menjadi padang pasir yang tandus, maka itu adalah akibat dari dosa dan dusta kolektif mereka yang main dalam proses penggundulan hutan itu. Hutan di Indonesia sekarang sudah berada dalam tahap rentan dan berbahaya. Kayu ulin (kayu besi) misalnya yang tumbuh di Kalimantan dan Sumatera, kabarnya sudah hampir punah, padahal jenis ini tidak dapat dibudidayakan karena pertumbuhan batangnya teramat lambat. Demikianlah Batang Sumpur akhirnya merelakan dirinya untuk lebur ke dalam Batang Sinamar yang perkasa. Kemudian di Muaro Sijunjung, Batang Sinamar menyatu dengan Batang Kuantan yang

24

jauh lebih perkasa. Air Batang Sumpur sekarang telah menyatu dengan air yang berasal dari sungai-sungai lain, sebelum semuanya itu menyatukan diri dengan laut lepas yang telah berubah rasa. Apalah daya air Batang Sumpur yang lemah berhadapan dengan lingkungan raksasa lain yang serba asin. Air sungai ini pun larut menjadi asin, sebab pilihan untuk tetap tawar tidak ada lagi. Sungai mana pula di muka bumi ini yang kuasa melawan dan menundukkan laut? Semua sungai pasti mengarah dan bermuara ke laut. Itulah undang-undang alam yang serba keras dan pasti untuk dipatuhi oleh apa pun, oleh siapa pun. Air Batang Sumpur diangkut ke laut oleh Batang Kuantan yang merupakan gabungan dari banyak sekali sungai sejak dari hulu sampai ke muara. Batang Ombilin yang berasal dari danau Singkarak itu sebelumnya telah ditelan oleh Batang Sinamar untuk menyatukan diri ke dalam Batang Kuantan. Tidak hanya berhenti di situ. Dari lautan maha luas itu air dengan sistemnya sendiri menguap ke angkasa lepas untuk kemudian turun lagi menjadi hujan, sementara rasa asinnya tidak dibawa terbang. Hujan membasahi dan menyuburkan bumi untuk kepentingan makhluk hidup. Alangkah teratur dan dahsyatnya perputaran ini. Tetapi jika

25

manusia tidak cukup cerdas membaca perkisaran ini, lalu lingkungan dirusak semau gue tanpa memperhatikan dampaknya bagi kehidupan berjenis makhluk, air hujan akan mendatangkan banjir yang dapat meluluhlantakkan kampung dan kota, sawah dan ladang, bahkan peradaban. Jangan main-main dengan air. Prilakunya mesti dipelajari. Ia senantiasa bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang rendah. Manusia dapat kehilangan segala-galanya, termasuk jiwanya sendiri diamuk banjir. Bencana ini dapat terjadi pada semua unit peradaban. Tinggallah kesigapan dan kemampuan manusia untuk menanggulanginya. Teknologi menjinakkan air sangat diperlukan untuk menghadapi bahaya banjir yang dapat marah sewaktu-waktu, khususnya pada musim hujan. Indonesia makin lama makin tak berdaya menghadapi bahaya banjir dan tanah longsor yang telah membunuh banyak manusia, gara-gara orang menzalimi hutan dan lingkungan. Akibatnya yang fatal adalah bahwa tanah kehilangan kekuatan penyanggahnya. Kerakusanlah yang menjadi sebab utama kerusakan lingkungan ini. Rasanya aku pernah juga naik perahu bersama ayahku dari Sisawah ke Muaro

26

Sumpu ini. Alangkah gembiranya berakit bersama ayah. Seterusnya kami melintasi Batang Sinamar untuk naik ke Padang Lawas menuju Tanjung Ampalu, ke rumah adik-adik seayahku. Sekarang semua kenangan ini masih terekam dalam memoriku dengan bayangan yang tidak terlalu jelas. Tidak urut, tidak teratur. Tahun-tahun yang persis tidak bisa lagi ditentukan. Tetapi jelas sebelum aku belajar ke Lintau tahun 1950, sewaktu masih di S.R. sampai tahun 1947 plus masa menganggur selama tiga tahun kemudian. Selama menganggur, tidak ada rasanya sesuatu yang besar yang melintas dalam otak dan angan-anganku. Semuanya berlalu begitu saja. Tidak ada juga kegelisahan yang terbersik untuk menghadapi masa depan. Semuanya mengalir begitu saja. Dari kejauhan semua kenangan masa silam itu tampak serba indah dan elok, puitis sekali, sedangkan ketika dijalani tidak ada sesuatu yang istimewa yang dirasakan, tidak ada kesan yang mendalam. Semakin lama orang berpisah dengannya, semakin mengecil dan menciut pula gambaran yang tersisa, bersamaan dengan bergantinya musim, bertukarnya tahun. Bahkan sudah berjalan puluhan tahun ketika gigi-gigiku mulai berguguran, pertanda usia sudah semakin mendekati

27

hari-hari terakhir. Fisik pun sudah mulai renta, sekalipun rasa ingin tahu tidak pernah menyusut, seakan-akan segalanya tidak sedang bergerak menuju tempat perhentian terakhir. Dari mana asal-usul nama Sumpur Kudus ini, sampai saat menulis bagian ini, aku pun tidak tahu. Zulfahmi (Emi), adik iparku yang sedikit tahu tentang sejarah Sumpur Kudus, mengatakan bahwa nama itu berarti sampurna suci yang diberikan oleh Syekh Ibrahim, penyebar Islam di kampungku. Sebelumnya bernama Koto Ijau (Koto Hijau) yang lokasinya di Koto Tuo. Ada kemungkinan syekh ini berasal dari Aceh sekitar abad ke-16. Syekh inilah tampaknya yang mengubah Sumpur Kudus dari kawasan hitam menjadi hunian putih. B. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah Dengan menerima Islam Sumpur Kudus menjadi beradab. Sebelumnya mungkin merupakan tempat yang dikuasai preman dengan judi, rampok, dan sabung ayam sebagai profesinya. Sisa dari kebiasaan buruk masa lampau ini, yaitu menyabung ayam dengan bertaruh, belum terlalu lama hilangnya. Kebiasaan berjudi di kampungku kadang-kadang masih juga kambuh sampai sekarang. Tetapi sport adu ayam tanpa taruhan adalah juga bagian dari hidup masa kecilku. Ke mana-mana seekor ayam

28

jantan aku kundang (bawa) mencari lawannya. Tidak jarang kepala ayam itu berdarah-darah setelah bertempur matimatian. Tabiat buruk ini tentu tak perlu kusesali, karena itu merupakan bagian dari sport masa anak-anak, asalkan tidak pakai taruhan. Sekiranya pakai taruhan, di mana pula aku dapat uang? Ayahku pasti akan marah, sebagaimana pernah memarahi abangku yang suka berjudi. Akibatnya tidak jarang tungau (kutu kecil berwarna merah yang bersembunyi di balik bulu ayam atau burung) sering menyerang bagian-bagian badanku untuk menghisap darah sebagai bukti bahwa ayam adalah sahabat aduanku. Gigitan makhluk kecil ini menimbulkan rasa gatal yang luar biasa. Ia menggigit dan terus menggigit, dan baru berhenti setelah tubuhnya menggelembung penuh darah, lalu kondisinya seperti tak bertenaga lagi. Aku kenal sekali dengan binatang ini, karena di masa kecilku sering berurusan dengan ayam jantan untuk diadu. Sepengetahuanku tak ada seekor ayam pun yang bebas dari serangan tungau, si warna merah penghisap darah, tidak peduli darah apa pun, darah siapa pun. Kita kembali ke Tanah Bato. Sampai hari ini orang kampungku pasca panen padi masih mendatangi Tanah Bato, tempat berkuburnya Syekh Ibrahim yang

29

terletak di seberang Batang Sumpur. Mereka ke sana untuk berkaul (Bahasa Jawa: khol). Wakil-wakil dari berbagai suku dengan perasaan bahagia berbondong membawa jamba (makanan lengkap di atas piring besar atau talam) ke sana. Di saat kecilku, aku pun tak ketinggalan meramaikan tempat itu. Bukankah makan bersama anak-anak lain merupakan sebuah kegembiraan tersendiri yang serba mengasyikkan? Semuanya berbahagia menghadapi jamba yang sarat dengan aneka sambal khas kampungku, dan tentu nasi sebagai menu pokoknya tidak boleh ketinggalan. Tidaklah bernama makan tanpa nasi, sekalipun perut misalnya sudah diisi penuh dengan makanan lain. Tetapi setelah aku sedikit kenal Muhammadiyah yang melarang orang makan di tempattempat yang dianggap keramat, seperti kuburan, aku tidak lagi ke sana. Bahkan lebih dari itu. Minatku untuk mengenal siapa Syeh Ibarahim menjadi hilang. Ini adalah sikapku yang kurang dewasa, tidak bisa memisahkan mana yang sejarah, mana pula yang berbau syirik. Syekh Ibrahim adalah tokoh sejarah penyampai Islam di Sumpur Kudus yang layak dikenal lebih jauh. Muhammadiyah memang sangat ketat menjaga masyarakat agar tidak tercebur ke dalam perbuatan syirik. Pertanyaannya

30

adalah apakah makan-makan di Tanah Bato ini syirik atau lebih bercorak budaya, tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Aku sendiri memang tidak pernah lagi ke sana untuk berkaul itu. Tetapi ada segi buruknya, Tanah Bato yang bernilai historis menjadi luput dari perhatianku. Aku kemudian menganggap tempat itu sebagai pusat syirik belaka. Dalam kasus semacam ini, pengaruh wahabi memang dirasakan di lingkungan Muhammadiyah, serba puritan, untuk tujuan baik tentunya, sekalipun kadangkadang merugikan dari sisi sejarah. Sumpur Kudus jelas sangat berutang budi kepada Syekh Ibrahim melalui jasa dawahnya itu. Si alim inilah yang menerangi batin orang kampungku dan sekitarnya dengan cahaya Islam. Menurut cerita Zulfahmi lagi, syekh ini juga mengerti ilmu irigasi dan pertanian yang kemudian mengajarkannya kepada penduduk. Karena dia memasuki kawasan hitam, besar kemungkinan syekh ini juga ahli silat kenamaan yang dapat menundukkan preman yang sok jagoan. Orang kampungku dengan rasa hormat memanggil syekh ini dengan sebutan Iniak Tanahbato (Nenek Tanahbato), sebuah sebutan yang diturunkan dari generasi ke generasi yang datang silih berganti.

31

Tempat ini dulunya dilingkari pohonpohon tinggi yang rindang, tetapi belakangan kabarnya telah banyak dirusak oleh tangan-tangan jahil. Tanah Bato jelas punya nilai sejarah yang sangat penting bagi penyebaran Islam. Tampaknya syekh ini dan pembantunya memang berkubur di Tanah Bato. Ini menurut Azwir Maruf yang pernah meneliti tempat itu bersama Dr. M. Sanusi Latief, Sjamsu Anwar, dan Jafri Dt. Bandaro Lubuk Sati. Masih terdapat dua kuburan panjang di situ: satu makam syekh, yang lain mungkin makam pembantunya. Ada informasi bahwa Syekh Ibrahim bekerja sama dengan Rajo Ibadat, entah yang ke berapa, dalam mengembangkan Islam. Wilayah yang menjadi obyek dawahnya kira-kira meliputi kecamatan Sumpur Kudus sekarang ditambah kawasan-kawasan lain yang bisa dijangkaunya. Tentu dengan berjalan kaki atau paling-paling dengan menggunakan kuda tunggangan. Dapat dibayangkan betapa sukarnya medan yang harus dilalui dan betapa pula tabah dan sabarnya para pekerja dawah ini, jika dibandingkan dengan keadaan kita di zaman modern. Jika arti Sumpur Kudus memang adalah sempurna suci, alangkah bagus dan elok nama itu, sekalipun masih perlu diteliti lebih lanjut tentang kebenarannya. Ini pun sebenarnya tidak aneh, karena ada

32

sejumlah ribuan nama kota, desa, nagari, jorong, dan lain-lain yang kita tidak tahu makna dan asal-usulnya. Sejarah sebenarnya juga bertugas meneliti itu, seperti sejarah Kota Solok, Kota Semarang, Kota Sawahlunto, Kota Banjarmasin, Kota Klaten; sejarah nagari Tamparungo, nagari Unggan, taratak Talao di Calau, dan 1001 yang lain yang sulit diketahui sejarah awalnya. Tetapi sejarah hanya tertarik kepada sesuatu yang benar dan bermakna, sebagaimana A.J.Toynbee pernah berteori dalam karyanya A Study of History, 12 jilid, tetapi ada ringkasannya dalam satu jilid dengan judul yang sama. Bagaimana menentukan yang benar dan bermakna itu? Menentukan yang bermakna itu pun dalam sejarah bersifat relatif di kalangan sejarawan. Mereka terikat dengan hukum relativisme manusia. Umur manusia terbatas, sejarah terbatas, kemampuan juga terbatas, sementara rasa keingintahuannya adalah tanpa batas. Orang tak mungkin mengetahui masa lampau secara utuh. Yang dikumpulkan adalah fragmen-fragmen yang berserakan, kemudian disusun dalam sebuah bangunan yang kelihatan utuh dengan alur logika yang cermat di belakangnya. Itulah sejarah yang kita sebut sebagai sebuah gambaran masa lampau yang sebenarnya. Di antara

33

sejarawan sendiri belum tentu sama dalam melihat masa silam itu. Tetapi setidaktidaknya para sejarawan telah berupaya menghadirkan masa lampau itu, betapa pun masih banyak lobang yang harus ditutupi oleh mereka yang datang kemudian. Jika kehendak hati diperturutkan, rasanya pikiran dan kemauan ingin berdansa terus menerus tanpa henti, sampai pada suatu ketika saraf-saraf otak yang jumlahnya milyaran itu kehabisan daya dan tenaga untuk kemudian menyerah. Ujung dan perhentian terakhirnya itulah yang bernama maut. Bila sudah sampai di titik ini dian kehidupan itu akan padam secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu. Berlakulah di sini sebuah ketegangan kreatif antara keingintahuan dan keterbatasan, yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi yang lain tanpa henti. Selama matahari masih bersifat dermawan memberikan cahayanya, selama itu pulalah roda kehidupan bergerak tanpa henti. Sekali cahaya itu padam, maka padam pulalah lampu kehidupan untuk seluruh makhluk. Apa yang disebut kemajuan sebenarnya adalah hasil dan buah dari ketegangan itu. Ada pun bagi manusia yang malas berpikir, ketegangan itu tidak

34

begitu dirasakan. Saraf otaknya terlalu dimanjakan. Semuanya dibiarkan berlalu begitu saja, setelah itu menghilang tanpa bekas. Mereka singgah ke dunia hanyalah untuk beranak pinak, setelah itu berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna yang dapat dikenang orang. Dan pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diturunkan Allah dari langit berupa rezki, yang menghidupkan bumi setelah mati, dan pada perkisaran angin, merupakan ayat-ayat bagi kaum yang menggunakan akalnya.10 Al-Quran sangat simpati kepada manusia yang mau berpikir. Ayat 13 dalam surat yang sama mengatakan yang artinya: Dan [Allah] telah menundukkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi seluruhnya yang berasal dariNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan ayat-ayat bagi kaum yang berpikir.11 Tetapi mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun? Tidak ada lagi karya besar yang dapat disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan, padahal risalah Islam itu dialamatkan untuk kebahagiaan alam semesta, tanpa pilih kasih. Inilah sebuah keteledoran sejarah yang terlalu parah,
10 11

Makna ayat al-Quran s. al-Jatsiyah: 5 Makna ayat al-Quran s. al-Jatsiyah : 13

35

parah sekali, sementara sikap mereka menghadapi serba ketertinggalan sangat beragam, bahkan saling berlawanan. Belum ada bahasa yang sama dalam upaya mencari jalan ke luar dari kondisi ketertinggalan ini. Umat Islam sampai permulaan abad ke-21 masih saja berada di persimpangan jalan, bahkan belum banyak beranjak dari buritan peradaban. Keadaan semacam ini jelas merisaukan mereka yang berpikir. Alangkah sukarnya membangun kembali peradaban Islam itu. Kesukaran itu justru lebih banyak berasal dari dalam, dari suasana batin umat Islam sendiri yang jauh dari cahaya pencerahan, meskipun ada saja kelompok yang merasa tercerahkan terus. Hanya parameter yang dipakainya bersifat parokial, subjektif, sulit diterima pihak lain yang ingin mendapatkan ukuran objektif yang standar. Dengan kata lain, pilihan yang terbuka bagi umat Islam adalah berpikir dan beramal terus sambil berinteraksi dengan peradaban lain untuk dijadikan perbandingan dengan situasi kita. Hidup tanpa perbandingan dapat membuat orang bersikap serba linear, sempit, dan merasa serba cukup serta bangga diri. Ini adalah pertanda sebuah kebangkrutan peradaban. Adapun apa yang mungkin dilakukan oleh seorang sejarawan atau peminat sejarah hanyalah ibarat menating sebuah

36

bata untuk bangunan, bangunan peradaban, setelah itu menghadap Allah. Generasi yang datang kemudian meneruskan kerja itu, sekiranya mereka punya minat. Terlalu bertimbun masalah dan sasaran penelitian yang tidak mungkin diselesaikan oleh manusia seumur hidupnya, oleh otak jenius sekalipun. Allah maha tahu segala-galanya, sedangkan kemampuan ilmu manusia teramat sedikit dan sangat terbatas. Serba keterbatasan ini adalah bagian dari hakekat manusia yang nisbi. Betapa pun hebatnya daya nalar manusia, dia tidak akan pernah berada pada posisi maha kuasa atau maha tahu. Atribut serba maha ini bukan milik manusia. Ia sepenuhnya kepunyaan Langit yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengukurnya. Jika kemauan hati tidak dikendalikan, rasanya umur 1000 tahun pun tidak memadai. Ditambah 1000 tahun lagi, juga tidak akan cukup. Penyair Chairil Anwar (1922-1949) yang mau hidup seribu tahun lagi, meninggal dalam usia 27 tahun. Manusia adalah makhluk misterius yang ingin menggapai dan menaklukkan segalagalanya, tetapi tidak mungkin kecapaian. Maka tidaklah heran kita, para malaikat kehabisan argumen berhadapan dengan Tuhan yang tidak bergeming untuk membela kehadiran manusia dengan

37

segala kekuatan dan kelemahannya. Protes malaikat tidak mempan. Manusia didatangkan juga ke muka bumi untuk membangun dunia dan peradaban, sekalipun di antara mereka ada pula jenis pengrusak dan penghancur kejam yang pernah dicemaskan para malaikat dalam dialognya dengan Tuhan pada saat Adam diciptakan.12 Kembali kepada cerita kampungku. Khusus untuk Sumpur Kudus di masa lampau, selain sebagai pusat bisnis, juga sebagai pusat kajian Islam seperti terlukis di atas. Informasi ini bagiku sekarang menjadi luar biasa pentingnya. Paling tidak ada rasa bangga menyelinap dalam diriku bahwa kampungku punya masa lampau yang diperhitungkan. Aku yang lahir di kawasan ini tidak pernah tahu sebelumnya secara agak mendalam, sampai peneliti asing itu menerbitkan karyanya yang kubaca sewaktu sedang bertugas di Univ. McGill, Montreal, Kanada, 1993-1994, sebagai dosen tamu, atas kebaikan Munawir Sjadzali (alm.), menteri agama waktu itu. Bahwa di sana terdapat kuburan Rajo Ibadat dan makam Syekh Ibrahim, batu bersurat, aku sudah lama diberi tahu, tetapi hanya sekadar itu. Rasa ingin tahuku
Tentang penciptaan Adam, reaksi malaikat dan iblis, serta sikap Tuhan kepada reaksi mereka itu, lih. al-Quran s. Thaha: 115-124; s. al-Araf: 11-25; al-Baqarah: 30-39
12

38

selama 18 tahun tinggal di sana memang belum muncul untuk mengenal lebih jauh sejarah kampung halaman sendiri. Setelah dewasa hidupku kemudian malah lebih banyak bertualang di rantau orang mengikuti garis-garis nasib yang tidak kukuasai, sehingga sisi-sisi historis Sumpur Kudus tidak singgah lagi dalam otakku, kecuali dalam bentuk cerita remangremang di atas yang kudengar sambil lalu. Sesungguhnya kita tidak perlu heran benar mengapa kawasan tersuruk itu pernah punya nilai historis bila diukur dengan kondisi zaman dan lingkungan pada waktu itu. Bukankah sampai abad ke18 keadaan tranportasi hampir sama saja di seluruh Minangkabau, yaitu bendi, pedati, perahu, kuda tunggang, dan kuda beban. Bahkan ada manusia yang dijadikan kendaraan oleh manusia lain dengan upah tertentu. Ruas dan luas jalan pun ketika itu masih serba terbatas. Jadi sebenarnya tidak hanya Sumpur Kudus yang tersuruk dan terisolasi, daerah lain kurang lebih sama kondisinya. Baru setelah kereta api dan kendaraan bermesin lainnya ditemukan orang dan menjamah daerah tertentu di kawasan itu, kampungku tetap terpencil, karena memang lingkungan alamnya yang rentan dan sulit untuk ditaklukkan.

39

Beberapa ruas jalan sekitar delapan km menjelang memasuki kampungku sampai hari ini masih banyak tempat yang rentan, mudah runtuh karena terdiri dari tanah pasir yang rapuh. Diperbaiki berulang kali, kemudian runtuh lagi dan runtuh lagi. Tetapi itulah sarana jalan menuju nagari Sumpur Kudus dengan julukan Makkah Darat itu. Arah jalan dari utara dan selatan masih dalam proses pembangunan untuk membuka isolasi itu. Sekali terbuka, rakyat kampungku akan lebih lincah dalam kegiatan ekonominya. Yang aku heran, termasuk heran terhadap diri sendiri, adalah rasa cinta kepada kampung halaman yang tersuruk itu tidak pernah surut sampai sekarang, setelah lebih setengah abad kutinggalkan. Inilah daya tarik kampung yang tak pernah sirna dari perasaanku. Aku tidak tahu apakah teman-teman perantau yang lain yang seangkatan denganku punya perasaan seperti itu pula. Bagiku mereka bukan hanya harus punya perasaan cinta kampung, tetapi juga mau bekorban untuk bumi tempat kelahirannya dalam batas kemampuan mereka tentunya. Tanpa rantau, ranah tidak mungkin berkembang. Lahannya terlalu sempit dan sumber-sumber alamnya serba terbatas. Bahkan P.A.D. (Penghasilan Asli Daerah) Sumatera Barat hanyalah sekitar

40

30%, samasekali tidak memadai untuk menghidupi rakyatnya, apalagi untuk pembangunan. Kata orang, daerah ini lebih baik mengembangkan industri otak, yaitu terus meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sebagai syarat untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Sumpur Kudus termasuk kawasan yang sulit sekali untuk dikembangkan, karena letak geografisnya yang tersuruk dan alamnya yang kurang bersahabat. Hasil-hasil alam seperti karet, gambir, dan terakhir soklat, menghadapi kendala dalam masalah biaya transportasi. Biaya angkutan Sumpur Kudus-Padang Rp. 500 per kg, sama dengan ongkos PadangJakarta. Ayahku dan diikuti oleh yang lain selama bertahun-tahun malah mengalihkan transportasi karet via Batang Sumpur menuju Padang Lawas atau Muaro. Tidak jarang karet itu hilang dalam perjalanan jika Batang Sumpur lagi menguap pada musim hujan. Kadang-kadang karet itu menghilang ditelan air terjun yang curam. Maka para pekerja harus berjibaku mengeluarkannya. Mengenang ini semua, alangkah bersyukurnya aku karena dimudahkan Allah pada akhirnya dalam upaya mencari rezki. Sebagai seorang peminat sejarah, perhatianku kemudian memang lebih terpusat pada masalah-masalah nasional

41

dan global: agama, kebudayaan, pemikiran, politik, dan dunia Muslim pada umumnya. Pada usiaku menjelang malam, aku juga seorang kolumnis, menyoroti berbagai masalah bangsa yang tak putus juga dirundung malang. Sejarah kampung sendiri luput dari agenda kajianku. Sekalisekali nama Sumpur Kudus muncul juga dalam kolomku. Semestinya kawasan yang punya sejarah tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja, sekalipun kondisi alamnya serba sulit, khususnya dalam jarak beberapa km menjelang mencapai nagari Sumpur Kudus. Bukan untuk apa-apa, tetapi masa lampau sebuah kawasan yang menyimpan peristiwa-peristiwa penting jika direkonstruksi secara teliti, objektif, dan bertanggung jawab tentu akan mengilhami generasi yang datang kemudian. Siapa tahu dari kawasan ini akan lahir manusia yang dihitung orang setidak-tidaknya secara nasional pada suatu ketika. Kalau untuk tingkat kabupaten atau propinsi, sudah ada beberapa anak Sumpur Kudus yang berperan, baik sebagai anggota legislatif mau pun di birokrasi pemerintahan. Ada satu dua orang dari kecamatan itu yang menjadi pegawai di Jakarta. Satu saat, entah kapan, aku ingin melihat sosok pengusaha yang berhasil dari Sumpur Kudus, tetapi yang tetap

42

punya ikatan batin dengan kampung halamannya, sekalipun mungkin ikatan itu tidak akan sekuat teman-teman Sulit Air (Solok) yang fenomenal itu. Mengingat begitu pentingnya posisi kawasan itu di masa lampau bila diukur dalam konteks zamannya, maka tidaklah mengherankan benar mengapa salah seorang rajo (raja) Tigo Selo, yaitu Rajo Ibadat, berkedudukan di Sumpur Kudus. Dua rajo yang lain bertahta di Pagaruyung (Rajo Alam), dan Rajo Adat berkedudukan di Buo. Pagaruyung dan Buo sekarang merupakan bagian Kabupaten Tanah Datar, sedangkan Sumpur Kudus belakangan berada di lingkungan Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung dengan ibu kabupaten sekarang Muaro. Dulu kabupaten ini meliputi kawasan hilir sampai ke Pulau Punjung, sekarang karena pemekaran wilayah, bagian hilir telah membentuk kabupaten baru dengan nama Dhamasraya, sebuah nama yang juga bersejarah pada masa dulu. Dalam catatan Dobbin Rajo Ibadat terakhir wafat pada 1817, empat tahun sebelum meledaknya Perang Paderi (18211837) melawan kaum adat dan Belanda. Puteri Raja Ibadat terakhir ini bahkan dikawini oleh Tuanku Lintau, tokoh Paderi, yang perkasa dan kejam setelah berhasil meluluhkanlantakkan Pagaruyung dengan

43

senjata, kemudian menggabungkan kedudukan Raja Adat dan Raja Ibadat, berpusat di Lintau. Tuanku Lintau adalah pendatang baru yang membawa paham wahabi ke Pagaruyung. Raja Alam terakhir Sultan Arifin Muning Alamsyah yang renta, berusia sekitar 70 tahun bersama cucunya berhasil lari ke Lubuk Jambi di Inderagiri, sedangkan dua puteranya terbunuh.13 Sejak itu Sumpur Kudus berhenti menjadi salah satu pusat kekuasaan, dan seluruh bangunan kerajaan Pagaruyung hancur. Adapun rakyat Sumpur Kudus yang mengaku keturunan raja jumlahnya cukup banyak, tetapi tidak jelas mereka berasal dari pohon silsilah yang mana. Kehidupan raja-raja kecil ini kemudian tak ubahnya seperti rakyat biasa, banyak yang melarat, bahkan ada yang menjadi tukang kampo (mengolah daun gambir untuk diambil getahnya), sebuah pekerjaan yang berat sekali. Mereka tak punya kebanggaan apaapa lagi, kecuali sebagian masih menyandang rajo atau sutan di awal namanya bagi laki-laki, atau puti bagi perempuan. Yang dipertuan Negeri Sembilan di Malaysia kabarnya juga punya hubungan darah dengan Sumpur Kudus. Tidak mustahil memang, karena nenek moyang raja-raja Negeri Sembilan di Malaysia memang adalah migran dari
13

Dobbin, op.cit., hlm. 136-137

44

Pagaruyung. Adat istiadat dan bahasa ala Minang masih bertahan di sana dengan modifikasi tertentu, seperti sistem tanah ulayat milik suku yang tidak bisa diganggugugat oleh negara. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak begitu tertarik untuk melacak silsilah rajaraja ini, karena sistem serba kerajaan adalah produk sejarah belaka, tidak berasal dari doktrin Islam yang otentik, jika bukan sebuah penyimpangan. Tetapi sebagai bagian dari sejarah, pelacakan itu memang diperlukan, asal bukan bertujuan untuk melanggengkan sistem kerajaan yang sudah usang dan ditolak semangat zaman. Orang memang perlu bercermin ke masa lampau, apalagi belum terlalu jauh. Yang jauh pun dikaji orang, itulah profesi kaum arkeolog. Tugasnya menggali dan menggali, jika perlu sampai ke pitala bumi, menelusuri dan mencari jejak-jejak peninggalan manusia purba. Sejarawan melacak kelampauan dari bekas-bekas yang sudah ada tulisan. Siapa tahu melalui jejak-jejak kelampauan itu kita dapat bercermin dan menemukan kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional Indonesia yang masih dalam proses mencari bentuk dan jati-diri yang kokoh. Indonesia sebagai bangsa dan negara adalah hasil temuan baru pada 1920-an dan 1940-an. Sebelum itu tidak

45

ada Indonesia, yang ada Hindia Belanda. Jauh sebelum itu pula di nusantara telah berkembang kerajaan-kerajaan independen, tanpa ikatan nasional sama sekali. Sekiranya nusantara ini tidak pernah dijajah, apakah bangsa dan negara yang bernama Indonesia itu akan muncul dalam peta dunia? Belum tentu bukan? Di samping penjajahan itu memang jahat dan eksploitatif, ternyata ada juga segi positifnya. Mereka melicinkan jalan untuk sebuah Indonesia merdeka yang berdaulat menjelang pertengahan abad ke-20. Akibat sudah tidak lagi menjadi salah satu pusat kerajaan, jadilah kampungku itu terlupakan selama hampir dua abad. Lengang, gelap (bila malam), miskin, tertinggal, itulah gambaran kampung itu setelah Indonesia merdeka. Dan baru pada tanggal 29 Januari 2005 terjadi terobosan baru, digelar upacara peresmian listrik masuk ke sana berkat uluran tangan banyak pihak dengan penekanan tombol oleh Dr. Ir. Herman Darnel Ibrahim, direktur produksi dan transmisi P.L.N. (Perusahaan Listrik Negara) pusat yang sengaja datang untuk maksud itu. Aku turut mendampinginya dalam upacara yang cukup meriah ala kampung, disambut dengan tari gelombang segala. Sebagai bagian dari tradisi Minangkabau, Sumpur Kudus masih memelihara apa-apa yang

46

bercorak Minang. Proses listrik masuk desa ini tergolong sangat cepat, hanya dalam hitungan bulan kemudian menjadi kenyataan. Luar biasa memang perhatian para sahabat terhadap Sumpur Kudus. Aku sungguh berterima kasih kepada mereka yang empati terhadap kampungku. Sejak cahaya itu masuk, Sumpur Kudus sudah mulai merdeka, jika syarat merdeka itu adalah listrik dan aspal, sekalipun aspalnya masih belum merata sampai akhir 2006. Ternyata harus menanti 60 tahun pasca proklamasi, Sumpur Kudus beroleh cahaya listrik. Tentu jika ditengok dari kepentingan bisnis P.L.N., aliran api ke kampungku tidak menguntungkan, mungkin malah rugi. Tetapi membaca peta kepentingan bangsa tidak boleh hanya dilihat dari untung rugi secara materi. Ada nilai-nilai sejarah dan kebudayaan yang harus dipertimbangkan. Dari sisi inilah barangkali P.L.N. bersedia memberi cahaya listrik ke pelosok itu, sementara beberapa kawasan lain dalam kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung masih ada yang gelap di malam hari. C. Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P.D.R.I Aku bersyukur kepada Allah atas segala kurnia yang tak ternilai ini bagi kampungku. Semoga rakyatnya patuh dan

47

disiplin dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan sebagai tanda rasa bersyukur pula. Demikian gembiranya rakyat di kecamatan itu, pada 29 Januari 2006 diadakan upacara syukuran listrik masuk desa bertempat di nagari Silantai. Hari itu sungguh luar biasa artinya bagi rakyat pedesaan. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa dana bantuan untuk kepentingan masyarakat desa. Aku masih akan menulis tentang listrik ini pada bagian akhir otobiografi ini. Sehari sebelum itu, yaitu tanggal 28 Januari, diselenggarakan pula Peringatan Ulang Tahun P.D.R.I. (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ke-56 di nagari Sumpur Kudus, seperti tahun yang lalu diadakan di Bidar Alam, Solok Selatan. Aku pun hadir di Bidar Alam dan memberikan makalah di sana. Terasa Sumpur Kudus yang gelap di kala malam itu, kini sudah mulai bernafas dan menggeliat kembali, menimati kurnia kemerdekaan bangsa yang penuh makna. Dengan listrik ini, ekonomi rakyat kecil pun mulai menggelinding dan berkembang, asal mereka pandai membaca dan memanfaatkan peluang dan fasilitas yang telah tersedia. Tempat kelahiranku sendiri bernama Calau, sebuah taratak (jorong) kecil dan lengang sekitar dua km ke arah selatan nagari Sumpur Kudus. Bagaimana keadaan

48

kampung ini, akan kututurkan pada saatnya. Menurut cacatan kakak sulungku, almarhumah Rahima, kupanggil kaktuo Hima, aku lahir pada hari Sabtu, 31 Mei 1935, sebuah hari yang keras menurut tuturan orang kampungku. Bagiku hari itu sama saja, tidak ada yang keras atau lembut. Bagaimana keadaan cuaca juga akan tergantung pada musim apa, panas, hujan, atau mendung, dan di lokasi mana seseorang berada. Informasi tentang tanggal kelahiranku itu kulihat tertulis dengan kapur di dinding selatan beranda rumah kelahiranku yang bertanduk empat sewaktu aku masih duduk di bangku S.R. (Sekolah Rakyat), jika ingatanku tidak keliru. Pada waktu itu dinding itu sudah mulai dimakan asai (kutu bubuk), padahal belum terlalu lama dibangun ayahku. Asai makhluk kecil dan lembut, tetapi bukan main ganasnya. Kayu sekeras itu dapat dijadikan mangsanya. Dengan sabar dinding itu digerogotinya dari dalam sampai lapuk, sekalipun dari luar belum tentu selalu kelihatan kerapuhannya. Bak kayu dimakan bubuk, kata peribahasa Melayu, di luar tampak rata dan licin, di dalam remuk. Inilah makhluk kecil yang dilengkapi dengan kelebihan untuk menghancurkan bangunan besar, sekalipun dilihat dari sisi kepentingan manusia cukup

49

merugikan, bukan? Tetapi penciptaannya oleh Allah pasti punya tujuan yang kita belum tentu tahu. Dengan keampuhan air liurnya yang mungkin lebih tipis dari embun pagi, kayu dibuatnya tak berkutik, kecuali kayu besi, jati, dan sungkai yang tidak bisa ditaklukkannya. Allah maha kuasa memberi rahasia kekuatan kepada makhluk alit ini. Anai-anai (rayap) juga punya keampuhan yang mirip dengan asai dalam menaklukkan kayu. Bangunan besar yang terbuat dari kayu tetapi tak terpelihara dengan baik dapat dirubuhkannya, lambat tetapi pasti. Oleh sebab itu orang tidak boleh menganggap enteng setiap makhluk Allah, betapa pun terlihat lemah, kecil, dan seperti tak berguna. Dalam serba kelemahannya itu, tersembunyi kekuatan dahsyat, bila diukur dengan tubuhnya yang rapuh dan lembut itu. Allah menciptakan semua makhluk pasti punya tujuan, tidak pernah sia-sia. Mencari hikmah di balik penciptaan itu sangat dianjurkan kepada umat manusia oleh al-Quran.14 Tulisan kapur Rahima di dinding itu tentu sangat penting bagiku untuk menentukan kapan aku meninggalkan rahim ibuku untuk kemudian datang ke muka bumi. Tetapi beberapa tahun setelah itu aku menemukan catatan ayahku bahwa
14

lih. misalnya surat Ali Imran: 190-191

50

aku lahir pada 24 Mei 1935 pada hari yang sama, seminggu lebih tua dari cacatan kakakku. Mana yang benar di antara dua catatan itu, aku tidak dapat memastikannya karena tidak sempat minta konfirmasi kepada keduanya semasa mereka masih hidup. Belakangan baru terasa keperluan untuk menanyakan masalah itu, tetapi semuanya sudah berlalu, tidak bisa dikejar lagi. Inilah di antara kritikku kepada diri sendiri, kurang peka pada momen-momen tertentu yang ternyata penting bagiku, setidak-tidaknya untuk keperluan penulisan ini agar lebih akurat. Peminat sejarah sangat memperhatikan akurasi dalam penulisan, baik dalam menentukan sumber mau pun metode dalam analisis. Sepintas lalu perbedaan seminggu tidak punya arti banyak, tetapi kalau hari-hari itu memuat kejadian sejarah, masalahnya tentu menjadi lain. Namun bagi diriku, perbedaan tanggal itu tidaklah bermakna banyak, tidak ada kejadian sejarah yang berarti masa itu. Aku lahir sama persis dengan kelahiran anak-anak kampung. Kalau ada bedanya, karena ayahku seorang terpandang di lingkungannya. Pasti semua anak, termasuk aku, lahir dengan bantuan dukun beranak, karena bidan belum ada di kampungku ketika itu.

51

Dalam ijazah dan riwayat hidupku, aku menggunakan tanggal 31 Mei, karena itu yang lebih dulu kuketahui, sekalipun boleh jadi yang benar adalah catatan ayahku. Dengan demikian umur pensiunku sebagai pegawai negeri berlebih satu minggu. Amat kusayangkan karena cacatan ayahku dalam bentuk sebuah buku tulis kecil telah hilang entah ke mana, mungkin sewaktu aku kuliah pada Universitas Cokroaminoto Surakarta tahun 1960-an, di saat banjir dahsyat melanda kota Sala. Banyak dokumenku yang lenyap ditelan bencana air itu, sedangkan aku lagi tidak berada di tempat saat itu. Dalam catatan ayahku itu, tanggal kelahiran kami empat beradik tertulis di dalamnya. Pada saat otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 (-dan terus mengalami perubahan dan perbaikan-), batang usiaku sudah berangkat jauh, yaitu 68 tahun 92 hari, padahal usia ayahku sewaktu wafat pada 5 Oktober 1955 hanyalah sekitar 55 tahun, sementara ibuku Fathiyah, sudah meninggalkanku sewaktu usiaku 18 bulan. Ibuku wafat pada 1937 dalam usia sekitar 32 tahun, sempat dua tahun mengasuh dan menyusuiku, tetapi aku tidak mengenal wajahnya. Orang mengatakan bahwa ibuku cukup cantik. Mungkin saja demikian, sebab jika tidak, mana mungkin ayahku mau mengawininya.

52

Bukankah ayahku seorang terpandang di kampung, saudagar gambir, jauh sebelum dia diangkat menjadi Kepala Nagari tahun 1936? Ayahku tentu punya selera tinggi dalam mencari pasangan hidup. Setidaktidaknya cantik menurut ukuran nagari tentu tampak pada diri ibuku. Ibuku lahir kira-kira tahun 1905, sedangkan ayahku sekitar tahun 1900, terpaut lima tahun usia keduanya. Pada masa itu tidak ada Akte Kelahiran, sehingga kepastian tanggal dan tahun kelahiran tidak dapat dilacak. Mereka kawin tentu karena dijodohkan oleh keluarga kedua belah pihak, sebab pada masa itu hampir tidak ada orang yang mencari pasangannya sendiri, seperti yang berlaku pada masa modern. Tetapi ajaibnya hal serupa kemudian justru juga berlaku pada diriku. Aku tidak mencari jodoh sendiri, tetapi dicarikan pihak keluarga. Dari sisi ini, aku tidaklah tergolong modern, bahkan kuno. Sudah merantau ke mana-mana, bini saja harus dicarikan, tetapi memang itulah aku. Untung ada gadis yang mau bersuamikan anak rantau si bujang lapuak yang tidak punya apa-apa secara materi dalam usianya yang hampir mencapai 30 tahun ketika itu. Aku tidak sempat merasakan betapa manis atau pun pahitnya hidup bersama

53

ibu. Juga aku tidak diberi tahu bagaimana suasana rumah tangga orang tuaku. Apakah mereka selalu akur saja, atau kadang-kadang terjadi pula gesekan, sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sebuah rumah tangga, aku pun tidak tahu. Apakah ibuku memanggil ayahku dengan kaktuo (kakak tertua, karena ayahku adalah putera tertua dari tujuh bersaudara) atau sebutan dan panggilan lain, aku tidak bisa mengatakannya. Panggilan seorang isteri kepada suaminya di kampung punya kekhasannya sendiri. Ada yang memanggilnya kaktuo, kakoncu, onga, udo, dan datuk jika suaminya menyandang gelar suku. Bahkan ada yang memanggilnya inyo. Jarang yang memanggil suaminya uda, karena itu sudah berbau kota dan akan lucu kedengarannya di telinga orang kampung. Memang belakangan ini, cara-cara kota telah semakin merasuk ke kawasan pedalaman. Kata-kata om, tante, uda, dan uni, sudah mulai terdengar di pelosok Minang yang jauh tersuruk. Apalagi sekarang dengan masuknya listrik, t.v., dan parabola akan semakin mempercepat gaya kota menular ke pedesaan. Desa semakin kehilangan ciri kedesaannya. Tetapi apakah itu merupakan sebuah yang patut ditangisi? Belum tentu juga, sebab berkat kemajuan komunikasi dan

54

informasi, kawasan pedesaan sudah semakin mengecil digusur oleh kekuatan urbanisasi. Menurut teori Ibn Khaldun (1332-1406), orang desa bergairah sekali untuk meniru dan menyerap pola hidup kota, sekalipun di dalamnya sarat dengan unsur yang tidak sehat. Hanya sering muncul perasaan kehilangan akan sesuatu yang khas dan unik desa. Jika semuanya sudah beruda-uda, bertante-tante, ber-omom, di mana panggilan kaktuo, kakonga, kakudo, dan kakoncu, mak oncu, pak oncu harus ditempatkan? Dibiarkan sirna digilas arus urbanisasi? Rasanya tak rela juga. Kampung sekalipun lengang menyimpan suatu kedamaian dan ketenangan yang belum tentu dimiliki kota. Yang aku risaukan adalah budaya kota yang serba bebas juga akan menular ke lingkungan kampungku akibat tv dan parabola. Di sinilah penerangan dan pendidikan agama sangat perlu diintensifkan. Nagari sebagai warisan Rajo Ibadat dan Iniak Tanahbato jangan sampai binasa oleh pengaruh buruk media elektronik modern ini. Warga Muhammadiyah khususnya jelas punya tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga moral masyarakat kampung agar tidak larut dalam budaya kota yang negatif. Tentu tidak semua yang sifatnya serba kota itu buruk. Bahkan tidak jarang

55

berlaku kondisi moral di kota tertentu jauh lebih baik dari suasana kampung yang citra moralnya tidak dijaga oleh para elit yang seharusnya bertanggungjawab untuk itu. Kembali kepada lingkungan ayahibuku. Kira-kira ibuku sangat hormat kepada ayahku, sebagaimana hormatnya ibu-ibu tiriku kepadanya. Apalagi ayahku sebagai kepala suku Malayu dengan menyandang gelar Datuk Rajo Malayu yang dijabatnya sampai wafat. Pun secara ekonomi ayahku termasuk dalam kategori elit di kampung, tempat masyarakat mengadu tentang berbagai masalah, tidak saja yang menyangkut masalah ekonomi, juga masalah adat dan lembaga tingkat nagari. Pengetahuan agama ayahku diperolehnya dengan membaca. Bahwa ayahku cerdas, semua orang kampung mengakui. Aku sendiri sering menyaksikan betapa rasa hormat masyarakat kepada ayahku. Orang yang menemui ayahku, pasti datang dengan sikap sopan sebagai pertanda bahwa yang ditemui itu memang layak untuk itu. Untuk ibuku, tidak ada lagi tanda-tanda yang dapat kutelusuri, kecuali pusaranya yang juga tidak jauh dari rumah tempat kelahiranku. Potretnya tidak kutemui sama sekali di rumah kelahiranku itu, padahal waktu itu tukang foto sudah ada. Apakah ibuku memang tidak pernah difoto? Kini

56

yang tersisa dari rumah itu tinggallah bekasnya belaka. Bangunan utamanya dengan bergulirnya waktu telah rubuh atau dirubuhkan karena sudah lapuk. Rumah buatan ayahku ini bertanduk empat, seperti umumnya gaya arsitektur Minangkabau masa lampau. Karena ibuku wafat masih muda, aku tinggal di rumah ini kurang dari dua tahun untuk kemudian ayahku menitipkanku pada bibiku Bainah (kupanggil etek) yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahiranku. Seakan-akan akulah yang menjadi anak pertamanya, sebelum Saiful Wahid, adik sepupuku, lahir tahun 1939. Saiful punya dua orang adik kandung: Yusnida dan Muslim, keduanya sudah wafat dalam usia yang relatif muda. Etekku Bainah wafat pada 1973 dalam usia yang belum terlalu tua. Sepengetahuanku, semua adik perempuan ayahku tidak ada yang disekolahkan. Jadi mereka sepanjang usianya hidup dalam rahmat buta huruf. Alangkah sedihnya, alangkah pilunya. Kemenakanku dan keturunannya yang menempati bekas rumah kelahiranku, kulihat tak seorang pun yang bermaya (Bahasa Malaysia: berhasil) secara ekonomi. Mereka menjalani hidup seperti kebanyakan orang kampung, bertani dan menyadap karet. Pernah kubantu di antara mereka mendapatkan kerja di Jawa, tetapi

57

tidak punya nyali untuk hidup di rantau, lalu pulang ke kampung dengan tangan kosong. Seorang lagi, cucu kakakku Nursiah, kucarikan kerja di Medan sambil kuliah, semoga yang satu ini tidak kandas pula di tengah jalan. Sejak pertengahan tahun 2005 semua bantuan untuk yang kuliah di Medan kuhentikan agar belajar berdikari, karena sudah kucarikan juga kerja sebagai karyawan U.M.S.U. (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dengan gaji yang sangat sederhana. Jika yang seorang ini bisa menyelesaikan S1-nya, tentu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan oleh orang tuanya, bukan? Dan dana yang dititipkan para pengusaha dan sahabat-sahabat yang kusalurkan untuk kepentingan pendidikan, semoga telah mengenai sasarannya, di samping sasaran-sasaran yang lain di lingkungan Muhammadiyah. Aku bersyukur di hari tuaku, ada saja teman yang tetap percaya memberi dana agar disalurkan untuk kepentingan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan. Kepercayaan semacam ini bagiku sangat penting, sebab dengan cara itu aku bisa membantu orang lain yang memerlukan dalam jumlah yang lebih banyak., tidak saja untuk kampungku, tetapi untuk beberapa amal-usaha Muhammadiyah di

58

berbagai bagian Indonesia yang sangat memerlukannya. Setelah aku tidak lagi menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang (3-8 Juli 2005), dana teman-teman itu masih tersisa sedikit untuk terus kusalurkan pada sasaransasaran yang tepat. Yang aku agak heran dengan menantu kakakku Nursiah sebagai ayah kandung anak yang kuliah di Medan ini, seperti tidak ikut bertanggung jawab untuk membantu kelanjutan studi anaknya. Mungkin untuk membiayai kuliah secara penuh, memang kondisi ekonominya tidak mengizinkan, tetapi untuk turut memikirkan sebisanya kuliah anak kandungnya adalah kewajiban seorang ayah, bukan kewajiban orang lain. Tetapi sudahlah, tak perlu kuperpanjang cerita tentang pendidikan anak ini. Contohnya cukup banyak di kampungku di mana orang tua memang tidak hirau dengan masalah pendidikan anaknya. Bahwa mereka umumnya miskin, betul. Tetapi bukankah sudah ada beberapa contoh bahwa dengan kondisi ekonomi yang relatif sama, beberapa anak nagari Sumpur Kudus berhasil menjadi sarjana, berkat perhatian yang serius dari orang tua yang sadar tentang mutlaknya pendidikan anak? Pada Agustus 2005, yang kuliah di Medan ini sudah duduk pada semester IV

59

Fakultas Hukum pada universitas itu. Namanya Indra Kurniawan. Semoga yang seorang ini berhasil meraih sarjana hukum untuk bekal hidupnya di kemudian hari, sekalipun modalnya dari S.T.M. (Sekolah Teknik Menengah). Orang desa kalau tidak gigih dan tabah untuk mengubah nasib, biasanya tidak pernah beranjak dari tempat. Mereka tidak akan mengalami apa yang disebut dalam teori sosiologi sebagai proses mobilitas sosial secara vertikal. Beranak pinak di situ, tanpa masa depan yang jelas, sementara mereka yang gigih umumnya berhasil memperbaiki kondisi hidupnya dengan belajar sambil merantau, tetapi sekali-kali pulang kampung untuk bantu keluarga atau buat rumah untuk hari tua bagi mereka yang ingin berhari tua di sana. Tidak mudah bagiku untuk menyadarkan keturunan kakakku ini agar berani hidup menderita untuk meraih sebuah cita-cita, sekiranya mereka memang punya cita-cita itu, seperti yang bertahun-tahun kualami. Mereka punya ibu-bapa sampai umur dewasa, sementara aku, seperti sering kututurkan setelah dewasa, hanyalah karena belas kasihan ombak dapat terdampar ke tepi. Jalannya panjang dan berliku-liku, kadang-kadang tak tentu saja kaki ini mau melangkah ke mana. Tetapi aku tidak pernah patah

60

harapan untuk terus belajar, sekalipun sering tertatih-tatih dan menggapai ke kiri dan ke kanan. Oleh sebab itu aku agak terlatih untuk berurusan dengan berbagai ragam situasi yang berat sekalipun. Tempaan hidup serba kekurangan selama tahun-tahun yang panjang dalam perjalanan hidup menjadi penting bagiku untuk tidak lupa kepada asal-usul. Di antara orang kecamatanku, anakanak nagari Silantai cukup pantas untuk disebut. Mereka yang tabah dalam penderitaan, demi ilmu, umumnya berhasil menjadi sarjana, bahkan dua telah menjadi guru besar Universitas Andalas Padang (Novirman dan Novesar, kakak beradik), juga dari suku Caniago, sukuku. Aku bangga dengan mereka. Novirman doktor alumnus sebuah universitas di Filipina dan Novesar doktor dari I.T.B. Dari Novirman aku mendapat keterangan bahwa ayahnya Djamarun (keluarga Muhammadiyah) dengan susah payah menyekolahkan mereka agar menjadi orang dengan bekal ilmu pengetahuan. Tidak banyak orang tua di kecamatanku yang bisa menandingi Djamarun dalam berjibaku untuk mendidik anak-anaknya sampai tuntas. Djamarun yang hanya tamatan SR ternyata punya cita-cita tinggi untuk keturunannya agar tidak tetap menempel di kampung, tanpa

61

mobilitas menaik. Menurut logika biasa, anak sepantasnya harus mengungguli orang tua dalam soal pendidikan. Orang tua seperti Djamarun juga terdapat di nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus, tetapi jumlahnya sangat kecil. Tetapi aku tidak menyesali ayahku yang tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan sekolahku karena beban ekonomi dari dua rumah tangga sudah teramat berat yang harus terpikul di bahunya seorang. Betapa pun berat beban yang dipikul, ayahku jarang sekali mengeluh. Seakan-akan semuanya berjalan biasa tanpa rintangan. Ayahku pandai sekali menyembunyikan sesuatu yang berat yang dirasakannya. Mungkin agar anak-anaknya tidak terganggu oleh beban itu. Bagaimana pandanganku tentang seorang laki-laki beristeri lebih satu, akan kujelaskan pada bagian-bagian lain otobiografi ini, setelah aku rampung belajar di Universitas Chicago pada tahun 1982, 26 tahun sepeninggal ayahku, atau 45 tahun setelah ditinggal ibuku. Masalah ini termasuk wacana dalam kisaran pemikiran keislamanku menjelang usiaku setengah abad. Djamarun telah menandangi berbagai pekerjaan, dari menyadab karet, bertukang, bahkan tidak jarang harus

62

menggadaikan barang yang ada, demi sekolah anak, adalah contoh yang ditinggalkannya. Di hari tua Djamarun dan isterinya telah pula menunaikan ibadah haji. Sedikit sekali orang kecamatanku yang berhasil menunaikan rukun Islam yang kelima itu, karena memang tidak terjangkau oleh kemampuan ekonomi mereka. Harapanku tentu saja agar mereka yang sudah berjaya ini tidak melupakan kampung yang sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun hidup dalam serba kekurangan, lahir batin. Ketabahan dan kerja keras untuk meraih sebuah cita-cita umumnya membawa orang kepada keberhasilan. Ini dalil sederhana belaka dalam kehidupan manusia. Siapa lagi yang diharapkan bisa membantu kampung, jika bukan mereka yang terdidik, sekiranya mereka punya kepekaan terhadap lingkungan yang telah membesarkan mereka. Pada saat aku menulis kalimat ini (Pebruari 2006), Novirman sedang menjabat Ketua Kopertis untuk wilayah Sumatera Barat, Riau, dan Jambi. Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa seorang anak yang dibiayai dengan susah payah oleh ayahnya pada suatu hari akan memegang posisi setinggi itu. Aku pun turut membantu di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta agar proses

63

pengangkatan Novirman ini berjalan lancar. Ada lagi sepupuku dari pihak ayah Azwir Maruf dan kemenakanku Ramadhan, anak Rahima, adalah di antara contoh manusia tabah. Azwir pada waktu ini dosen negeri yang diperbantukan pada perguruan tinggi swasta di Padang. Semula sebagai Kepala Biro A.U.A.K. pada I.A.I.N. Imam Bonjol, kemudian beralih karier sebagai dosen. Ramadhan seorang sarjana pertanian bidang agronomi, sekarang bekerja sebagai peneliti di Solok. Namanama yang kusebut ini, tentu masih ada yang lain dari Tanjung Bonai Aur, Tamparungo, Unggan, Mangganti, dan Sisawah, telah menjadi acuan bagi mereka yang mau belajar dan bekerja keras, demi mengubah status sosial sebagai anak desa yang hidup dalam kondisi pas-pasan. Dari Sisawah akan muncul seorang doktor dalam kajian dakwah Islam tamatan U.K.M. (Universiti Kebangsaan Malaysia). Namanya Sabiruddin, dosen Fak. Dakwah I.A.I.N. Imam Bonjol Padang, pribadi yang sangat gigih melawan segala keterbatasan, demi cita-cita dan mobilitas sosial. Sabiruddin kelahiran Muaro karena orang tuanya merantau lokal ke daerah itu. Dari keluarga isteriku, yaitu sepupunya ada yang pula berhasil jadi dokter A.D. (Angkatan Darat), yaitu Mayor dr.

64

Ruswandi Aswad, tetapi belum pernah menetap di Sumpur. Dokter ini cukup santun dalam penampilannya, pernah bertugas ke luar negeri (Bosnia) sebagai dokter A.D. Dia adalah dokter pertama warga kampungku lulusan Universitas Indonesia Jakarta, dengan ibu Sumpur Kudus, ayah dari Tarusan, Painan. Ada lagi dokter lulusan Universitas Sumatera Utara, orang tuanya dari kecamatan Sumpur Kudus. Dokter ketiga masih dalam pendidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang yang kedua orang tuanya asli Sumpur Kudus. Sekiranya Indonesia tidak merdeka, kita bisa membayangkan betapa gelapnya kondisi bangsa ini, apalagi kawasan Sumpur Kudus yang sudah terpencil itu pasti akan semakin terpuruk lagi. Dan aku sendiri tentu hanya akan menikmati pendidikan tingkat S.R., setelah itu membiarkan nasib ditarik oleh situasi yang serba tak menentu, seperti layaknya anak kampung yang lain. Rasanya tidak akan lebih maju dari itu. Oleh sebab itu, kemerdekaan bagiku adalah sesuatu yang mutlak, tidak dapat ditawar. Maka sangatlah besar jasa mereka yang telah membelanjakan sebagian usia produktifnya untuk berjuang dalam upaya meraih kemerdekaan bangsa, dengan segala pengorbanan yang luar biasa dan beratnya

65

beban derita yang telah mereka tanggungkan, demi lepas dari penjajahan durjana. Benarlah Pembukaan U.U.D. 1945: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Sungguh padat dan padu kalimat ini, sebuah perumusan sikap bangsa yang bernilai strategis universal, sesuai dengan semangat zaman yang sudah talak tiga dengan segala bentuk penjajahan. Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anakanak bangsa. Memang tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras, tabah, dan mau mengalami proses pencerahan terus menerus. Tanpa kemauan keras untuk maju, jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong. Nasib seseorang, di samping di tangan Allah, akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri. Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya. Agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas, hidup tanpa inisiatif, dan lebih suka menadahkan tangan minta bantuan. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat ego-nya yang terkenal

66

mengatakan bahwa seseorang sebaiknya menghindari harta warisan, sekalipun itu sesuatu yang halal. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan, bukan suatu yang diwariskan kepada kita. Setelah dilepas ke gelanggang, otakotak Sumpur Kudus ternyata tidak kalah dalam bersaing dengan otak orang kota asal berani merebut kesempatan dan membaca peluang untuk maju. Peluang itu tentu tidak selalu datang. Sekalipun belakangan ini aku kadang-kadang kesal melihat perilaku sebagian anak nagari Sumpur Kudus yang tidak pandai bersyukur dan tidak hirau dengan agama, cintaku kepada kampung ini tidak pernah memudar. Aku tidak tahu mengapa begitu. Masalah moral anak-anak muda kampung menjadi bagian dari perhatianku, karena ini berkaitan dengan masalah pendidikan yang banyak sekali tantangannya, baik di kota mau pun di desa. Di hari tuaku, aku sering mengunjunginya, sekalipun belum tentu menginap agak satu malam. Salah satu alasannya mungkin karena aku lahir di sana, dibesarkan selama 18 tahun oleh air Batang Sumpur yang tidak pernah berhenti mengalir itu. Sungai yang berhulu jauh di utara menuju selatan, sampai bergabung dengan Batang Sinamar di Padang Lawas, sebelum akhirnya menuju ke laut lepas dan

67

menjadi asin, seperti yang telah kusinggung di muka. Kalau sudah lebur ke dalam samudera, apalah artinya Batang Sumpur yang hanya sebuah unsur kecil belaka di antara ratusan ribu sungai di muka bumi? Alasan lain yang tidak kalah pentingnya mengapa aku tidak bisa melupakan Sumpur Kudus adalah karena ibuku lahir dan berkubur di sana. Ibuku berasal dari kota Sumpur Kudus, lahir di Tepi Balai. Aku tidak tahu apakah kakakkakak dan abangku juga lahir di Calau atau di Sumpur Kudus. Boleh jadi, setelah ayahku mengawini ibuku, mereka kemudian pindah ke dan membangun rumah di Calau di tanah suku Caniago belahanku. Ini memang adat kebiasaan orang kampungku, membangun rumah di tanah suku isterinya. Penyimpangan tentu selalu ada, tetapi untuk pedesaan pola di atas seakan telah menjadi norma. Repotnya adalah bila terjadi perceraian, si lelaki harus meninggalkan rumah hasil jerih payahnya itu untuk ditempati oleh lelaki lain yang mengawini jandanya. Beruntung kalau si lelaki ini punya keturunan, rumah itu pada gilirannya akan menjadi milik anaknya sendiri. Malang bagi yang tidak, dia harus merelakan hasil jerih payahnya itu untuk bekas isterinya. Pencarian apa yang

68

disebut gono-gini untuk tingkat kampung tidak terdapat di sini. Oleh sebab itu seorang lelaki Minang yang belum disentuh budaya kota harus menyiapkan mental, bila berlaku perceraian, untuk pulang ke rumah orang tuanya mungkin dengan tangan kosong. Jika rumah orang tua tidak mencukupi, lelaki Minang tidak jarang tidur di surau. Tentu pada zaman modern ini telah terjadi perubahan di sana-sini, anak laki-laki punya kamar tersendiri di rumah orang tuanya. Kembali ke masalah rumah. Rumah kayu yang bukan terbuat dari kayu jati atau kayu sungkai memang tidak kebal dimakan bubuk zaman. Atapnya yang terbuat dari seng juga pasti dimakan karat. Jika bisa bertahan 50-75 tahun sudah cukup bagus. Sekarang di Minangkabau, rumah model dan gaya semacam ini sudah semakin sedikit peminatnya, karena memang tidak praktis. Rumah bertanduk yang sering dihuni beberapa keluarga, sungguh ruwet untuk dipertahankan. Sama sekali tidak nyaman bagi mereka yang ingin hidup mandiri setelah bersuami di antara sesama saudara perempuan. Perbedaan tingkat ekonomi pasti akan menyulut masalah dan sering menimbulkan ketegangan demi ketegangan. Jarang yang bisa akur jika masing-masing sudah berkeluarga.

69

Aku tidak tahu sudah berlangsung berapa abad orang Minang bertahan dalam suasana komunal yang berdesak-desakan semacam itu, sekalipun pada masa modern ini, cara hidup semacam itu sudah banyak yang ditinggalkan, dan memang harus ditinggalkan. Bagiku, jika seseorang sudah berumah tangga harus memisah dari lingkungan rumah bertanduk sebagai warisan itu. Manusia memerlukan udara bebas dan iklim merdeka sebagai unit keluarga baru yang memang harus belajar hidup merdeka. Tanpa berusaha untuk menjadi manusia bebas, dunia ini akan terasa semakin sempit, beban melulu, dan sulit untuk bernapas lega. Untuk kelangsungan hidupnya, orang Minang pada mulanya sangat tergantung kepada tanah berupa sawah, ladang, kebun, kolam ikan, atau pekarangan. Sebagian giat dalam dunia perdagangan yang memang menjadi salah satu ciri orang Minang. Bergantung kepada tanah semata, jelas tidak memadai. Tanah adalah milik suku atau keluarga. Jumlah anggota bertambah terus, sementara luas tanah umumnya tidak bertambah bahkan menyusut. Sebagian tanah tadi tidak saja berganti fungsi tapi di atas sebagian tanah ini telah didirikan berbagai bangunan. Kenyataan ini jelas mengundang masalah di antara sesama saudara. Lahan sempit

70

sedangkan jumlah manusia yang memerlukannya berkembang biak, risikonya hanya satu: terjadi proses pemiskinan, jika otak tidak dipakai untuk mencari jalan ke luar. Syaratnya hanya satu, tidak banyak: otak jangan dibiarkan menganggur. Berpikir terus dan terus berpikir, jangan menyerah kepada rintangan, jangan percaya kepada kegagalan. Jadikan kegagalan sebagai tangga untuk meraih keberhasilan bagi mereka yang berpikir positif. Aku mungkin termasuk anak kampung yang berupaya untuk tidak menyerah kepada rintangan, betapa pun beratnya berbagai cobaan dan keprihatinan silih berganti menerpa dan menghimpit perasaan pada suatu ketika. Mungkin realitas sosio-ekonomi yang serba tidak kondusif inilah yang merupakan salah satu faktor pendorong kuat mengapa si Minang laki-laki khususnya harus pergi merantau. Banyak sekali di antara mereka yang berhasil di negeri orang. Maka istilah ranah merujuk kepada bumi Minang dan mereka yang menetap di sana, sementara rantau adalah negeri orang tempat warga Minang mencari nafkah atau meniti karier. Ranah dan rantau saling melengkapi. Para perantau tidak sedikit mengirimkan bantuan untuk nagarinya masing-masing, baik untuk keluarganya sendiri atau untuk keperluan publik. Tanpa rantau, ranah

71

Minang tidak mungkin menghidupi diri sendiri. Ini fakta keras yang harus diakui semua pihak. Kabarnya lebih dari 50% penduduk Minang yang mencari rezki di rantau, sekalipun banyak pula yang tidak mau lagi mengaku sebagai berasal dari ranah Sumatera Barat. Sebagian besar merantau Cina, tidak kembali ke kampung secara permanen, tetapi ada pula sedikit yang menetap kembali di kampung. Aku dan keluargaku tampaknya termasuk dalam kategori merantau Cina ini. Setelah proklamasi kemerdekaan, semakin banyak saja orang Minang melakukan kawin campur dengan suku-suku lain, sesuatu yang hampir tabu pada zaman Siti Nurabaya atau Salah Asuhan, dua novel karya Marah Roesli dan Abdoel Moeis tahun 1920-an. Dengan terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara persatuan, kawin lintas suku itu alamiah belaka. Sesuatu yang semula dinilai tabu oleh adat Minang, dengan perubahan sosial yang tidak bisa dibendung, semuanya telah mencair dan berganti, sekalipun bukan tanpa gesekan. Bagiku tidak ada masalah, asal nilai-nilai dasar Islam tidak dilangkahi. Dalam masalah dasar ini, aku jelas seorang yang berpihak, tidak mungkin netral. Secara filosofis, seharusnya orang Minang itu tidak saja berani merantau,

72

tetapi juga berupaya untuk tampil sebagai warga dunia dengan wawasan universal. Filosofi itu berbunyi: Alam terkembang jadi guru. Dengan berpegang kepada filosofi ini, orang Minang semestinya tidak cuma belajar di bangku sekolah atau madrasah, tetapi juga harus pandai membaca alam semesta. Dalam perspektif ini, si Minang yang ciut nyalinya bila memasuki kawasan kultur lain yang asing sifatnya, tidak saja terkurung dalam kategori pengecut, tetapi memang tidak paham filosofi dasar Minangkabau yang sering dituturkan kaum adat pada upacaraupacara tertentu. Filosofi ini jika dipahami secara benar dan dalam, merupakan kekuatan pendorong yang dahsyat untuk maju dan berkembang. Bahwa banyak juga orang Minang yang tidak meninggalkan rumah mande (ibu) seumur hidup tentu selalu ada dan memang harus ada. Merekalah yang umumnya menjadi penghuni dan penjaga nagari, penyandang gelar suku, pengguna harta pusaka, dan pewaris adat Minang. Jika semuanya merantau, apakah ranah akan dibiarkan lengang tanpa penghuni? Tentu mustahil bukan? Yang perlu diupayakan terus menerus adalah agar ranah dan rantau tetap melangsungkan dialog dan komunikasi untuk kemajuan si

73

Minang dalam bingkai Indonesia yang bersatu. Di sinilah letak kepentingannya bagi si Minang untuk mengetahui masa lampau Minangkabau dengan karakteristiknya yang khas, demokratik, berani, dan egalitarian. Dari rahim Ranah Minang sudah banyak contoh yang patut disebut. Seorang Tan Malaka (lahir 1896 di nagari Pandan Gadang, Suliki, dan terbunuh 1949 di Jawa Timur) pernah tampil sebagai salah seorang tokoh Komintern (Komunis Internasional) tentu diilhami juga oleh doktrin Alam terkembang jadi guru. Pandan Gadang adalah adalah nagari kecil dalam Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Hatta, Natsir, Sjahrir, Bahder Djohan, Assaat, Halim, Sjabilal Rasjad, Hamka, Isa Anshary, Rusjad Nurdin, adalah Minang belaka, tetapi mereka jadi orang setelah bergumul dengan kultur lain di rantau, sebab itu semua merupakan bagian dari alam terkembang. Sekiranya mereka tidak beranjak dari kampungnya masingmasing, potensi mereka yang luar biasa tidak akan berkembang, dikungkung oleh alam Minang yang sempit. Oleh sebab itu si Minang wajib menghargai tanah rantau, sebab rantaulah yang memberi peluang kepada mereka untuk maju dalam

74

mengaktualisasikan potensinya: baik secara spiritual, intelektual, dan ekonomi. Namun orang juga harus jujur, bahwa dalam beberapa hal, ranah Minang itu bak sri-gunung, jauh terlihat cantik, setelah didekati terlihat banyak boroknya. Si Minang yang sudah pernah hidup di rantau, mungkin seperasaan denganku, tidak betah lama-lama tinggal di kampung. Banyak cara hidup itu yang sudah lapuk dan rapuh bila ditengok melalui parameter perubahan zaman, khususnya bagi mereka yang sudah mengenal unsur-unsur positif dari sub-kultur suku-suku lain selama di rantau. Bahwa mereka tetap bangga dengan Minang, memang adalah sebuah kenyataan, tetapi kebanggaan mereka biasanya disertai sikap yang sangat kritikal. Mungkin budaya egalitarian Minang sebagai fondasi sistem demokrasi merupakan salah satu unsur budaya yang dibanggakan itu, seperti juga yang aku rasakan dan praktikkan selama ini. Orang Minang akan merasa sangat gelisah hidup di bawah sebuah sistem politik otoritarian, di mana penguasa sajalah yang benarbenar merdeka. Filosofi sosial Minang mengajarkan agar semua orang merdeka, semua orang setaraf dan sederajat. Kalau ada yang lebih, itu semata-mata karena

75

capaian pribadi yang juga terbuka untuk semua orang untuk mencapainya. Kita tengok lagi rumah gaya lama gaya Minang. Memang kantor gubernur, bupati, wali kota, camat, nagari, dan lain-lain, masih mengabadikan bangunan gaya lama ini. Mungkin agar jejak sejarah yang serba Minang tidak pupus begitu saja. Aku sendiri sudah tidak tertarik lagi dengan rumah bertanduk empat itu. Aku pun tidak percaya dengan pepatah: tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan, kecuali bila itu bersangkut paut dengan nilai-nilai dasar adat yang dibenarkan Islam. Di luar semuanya itu boleh saja diubah atau bahkan ditinggalkan. Tidak ada dosa sejarah dengan mengambil sikap semacam ini. Bagiku parameter yang benar dalam mengukur sesuatu yang menyangkut adat adalah parameter Islam yang dipahami secara benar sesuai dengan realitas zaman yang sedang dihadapi. Ayahku telah membangun beberapa rumah. Selain rumah tempat kelahiranku ini, juga rumah untuk adiknya Bainah, etekku, dan rumah untuk kakak sulungku Rahima. Rumah-rumah ini umumnya berdinding dan berlantai kayu dengan atap seng. Pada waktu aku berkunjung ke Sumpur Kudus pada Jan. 2005, rumah kakakku itu masih berdiri, tetapi mungkin sudah tak layak huni, kecuali kabarnya

76

digunakan untuk menyimpan padi oleh anak Rahima. Orang kampung menyebutnya gudang Hima karena bentuknya sudah meniru bangunan kota tanpa tanduk. Pokoknya sudah mengikuti bentuk dan model arsitektur modern. Mungkin rumah ini dibangun ayahku pada 1930-an untuk menyambut anak perempuan pertamanya. Aku pun sewaktu masih kecil pernah juga sekali-sekali menginap di sana. Gudang dalam pengertian di atas bukan untuk menyimpan barang, tetapi rumah biasa untuk tempat tinggal manusia. Aku tidak tahu mengapa orang kampungku menyebutnya gudang. Aku bayangkan, alangkah berhasilnya ayahku dalam membangun ekonomi dirinya pada tahun 1930-an itu sehingga mampu mendirikan beberapa rumah untuk adik, anak, dan kemudian untuk dirinya sebelum dan sesudah ibuku wafat. Ada yang masih bertahan, dan sekarang dijadikan surau untuk mengaji. Surau ini dulu dipakai oleh pusat pemancar radio P.D.R.I. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara tahun 1949 untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. Salah seorang adik Lintauku lahir di sini dan diberi nama Aurina Radiati oleh staf radio pemancar P.D.R.I. itu yang memang tinggal di rumah ayahku.

77

Sekalipun tersuruk, kampungku ternyata juga punya andil untuk kemerdekaan. Kedatangan tokoh-tokoh P.D.R.I. disambut hangat oleh orang kampungku. Apa yang ada pada mereka telah disumbangkan, demi membela kemerdekaan. Yang terbesar menyumbang adalah Pak Halifah, pedagang gambir terkenal. Entah sudah berapa ton beras yang disumbangkannya untuk kepentingan revolusi kemerdekaan sejak 1945 sampai 1949 di samping uang, kerbau, sapi, dan komoditas lain. Tetapi sebagaimana nasib kebanyakan desa di seluruh Indonesia yang pernah berjasa untuk perjuangan kemerdekaan, Sumpur Kudus termasuk yang tidak diperhatikan selama puluhan tahun. Devisa negara tersedot oleh para penguasa di kota, sementara sebagian besar desa tetap dibiarkan sunyi tak dipedulikan. Suasana semacam ini pun semakin menambah cintaku kepada nagari yang memang perlu dibantu ini, terutama untuk sarana-sarana publik melalui berbagai lobi yang kulakukan di Jakarta pada usia tuaku. Tujuanku tidak lain kecuali agar tanah kelahiranku dan sekitarnya merasakan pula fasilitas modern, seperti jalan yang beraspal dan listrik. Untuk adik-adikku di Tanjung Ampalu dan Lintau, juga dibuatkan rumah oleh

78

ayahku, tetapi semuanya sudah hancur. Yang di Tanjung Ampalu dibakar pada zaman revolusi, ayahku sudah tidak mampu lagi membangun yang baru. Di atas reruntuhan itulah ayahku mendirikan bangunan baru yang sangat sederhana. Revolusi banyak membawa bencana dan korban, sekalipun bertujuan mulia untuk kemerdekaan. Setelah pengakuan kedaulatan, ekonomi ayahku sudah tidak pernah pulih seperti sediakala untuk menghidupi dua rumah tangga sekaligus dengan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Rumah yang di Lintau juga hancur karena sudah tua, kemudian adikku Nurhayati bersama suaminya Herman telah pula membangun rumah baru di atas bekas tanah perumahan yang didirikan ayahku itu. Tanah itu sendiri adalah milik suku etek Lamsiah. Kembali kepada ibuku. Pusara ibu inilah yang sesekali aku ziarahi sewaktu aku pulang kampung, berkunjung kepada ibuku dalam kenangan. Jasadnya telah luluh menyatu dengan tanah, tanah sebagai asal-muasalnya. Ibu yang tak terbayangkan seperti apa perawakannya, seperti apa senyumnya, dan seperti apa pula ketika dia menggendong anakanaknya, yaitu tiga orang kakakku. Tentu selagi aku masih bayi sempat juga digendongnya. Alangkah bahagianya

79

sekiranya ada foto ibuku yang sedang menggendongku. Akan kutatap foto itu berkali-kali sambil membiarkan air mataku meleleh tak tertahankan. Sulit sekali aku membayangkan sosok ibuku. Tentu segalanya ini berlaku karena kelalaianku sendiri. Mengapa sewaktu ayah, kakak-kakakku, dan paman-pamanku masih hidup aku tidak menanyakan tentang itu. Kesadaran sejarahku waktu itu masih tumpul dan lemah sekali. Dan jelas tak seorang pun, termasuk aku dan keluargaku, yang memperkirakan bahwa aku setelah dewasa menjadi seorang peminat sejarah, bahkan guru besarku adalah dalam filsafat sejarah pada Universitas Negeri Yogyakarta. Setelah memasuki masa pensiun pada 1 Juni 2005, aku malah dipaksa lagi untuk menjadi guru besar emeritus di kampus yang sama, sementara aku sendiri sebenarnya sudah jenuh memberi kuliah. Tetapi demi menenggang perasaan teman-teman, aku betahkan juga untuk membantu mereka dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Rahima, Nursahih, paman-paman, dan bibi-bibiku pasti mengerti sifat-sifat ibuku. Juga mereka tentu ingat bagaimana perawakan ibu, sebab mereka cukup lama hidup bersama, sedangkan kakakku Nursiah pada tahun 1937 itu sudah berusia

80

sekitar 10 tahun. Rahima bahkan sudah punya anak satu (Zainal Abidin, lahir 1936) sewaktu ibuku wafat. Aku sungguh menyesal mengapa aku tidak bertanya tentang ibuku. Kepada kakakku Nursahih yang dekat denganku, aku pun tidak pernah bertanya tentang ibu yang setiap hari ada dalam ingatanku. Mengapa ibuku berangkat ke alam baka dalam usia yang masih muda? Jawaban terhadap pertanyaan ini bukan urusan manusia, tetapi sepenuhnya merupakan rahasia Langit, kita hanya bisa mengira-ngira, tidak lebih dari itu. Pada masa itu, jangankan dokter, menteri kesehatan saja tidak ada di kampungku. Yang bertindak sebagai tabib adalah para dukun yang biasa menghembus-hembus penyakit seseorang dengan napas mulutnya yang bercampur air liur. Dukun model ini masih ada saja sisa-sisanya di pelosok-pelosok yang belum tersentuh proses pencerahan, tetapi dengan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang telah berdiri dengan megah di kampungku sekarang, orang kampung lebih memilih berobat ke dokter. Inilah di antara rahmat kemerdekaan yang telah dirasakan oleh orang kampungku sebagai warisan pemerintah Soeharto yang dalam hal ini patut dipuji.

81

Aku pun tidak tahu betapa gembiranya ibuku sewaktu menyambut kedatangan cucu pertamanya Zainal. Usiaku dengan Zainal hanyalah berbeda setahun. Tidak seperti aku yang tidak sempat mengenal wajah ibuku, Zainal dan adik-adiknya betulbetul puas hidup bersama kedua orang tuanya sampai keduanya wafat dalam usia 80 tahunan. Tentu aku tidak boleh menyesali semua yang berlaku ini, sebab rahasianya bukan di tangan manusia. Allah bertindak menurut kemauan-Nya yang tetap misteri bagi manusia sepanjang masa. Kita hanya mampu berspekulasi menafsirkan kehendak-Nya itu. Spekulasi tidak akan pernah memberi jawaban pasti, sekalipun para filosuf telah mencobanya selama berabad-abad. Fungsi filsafat hanyalah agar otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan dengan sesuatu yang tidak rasional. Filsafat dalam kaitan ini adalah pembantu iman dalam pergumulannya dengan serba realitas. Filsafat juga melakukan kritik terhadap iman-iman palsu yang menyimpang dari tauhid, yang dapat menyebabkan manusia menjadi korbannya, menjadi budak spiritual, jika anda mau mengatakannya demikian. Tidak jarang memang sebagian manusia terpuruk ke dalam lembah ini, karena mengabaikan filsafat sebagai

82

metode berpikir kritikal, radikal, dan rasional. Mereka yang mendewakan keturunan raja, ulama, atau bahkan keturunan nabi, termasuk dalam kategori perbudakan spiritual ini, menurut pemahamanku. Bagiku gelar-gelar sayid, syarifah, wali, habib, dan 1001 gelar lain, yang mengaku keturunan nabi, atau keturunan raja, hulubalang, atau keturunan bajak laut dan perompak lanun yang kemudian ditakdirkan menjadi raja, sultan, amir, dan dianggap keramat dan suci oleh sebagian orang, akan runtuh berkepingkeping berhadapan dengan ayat al-Quran surat al-Hujurat 13: Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling taqwa. Apakah ada doktrin Kitab Suci selain al-Quran yang menilai begini tinggi kerja spiritual seseorang? Di sini apa yang dikenal dengan ungkapan personal achievement (raihan pribadi) menjadi sangat penting dan menentukan. Hubungan darah sudah tidak punya makna apa-apa. Untuk merebut posisi taqwa, terbuka bagi seluruh orang beriman, tanpa terkait dengan latar belakang keturunan, kultur, sejarah, ekonomi, dan apa pun. Posisi seseorang di dunia ini menurut yang kupahami ditentukan oleh kualitas hidupnya, kualitas iman dan amalnya, tidak oleh yang lain. Dengan paradigma

83

semacam ini, terbukalah peluang yang sama bagi semua anak Adam untuk berfastabiqul khairat (berlomba untuk kebaikan) di muka bumi ini. Islam bagiku pada akhirnya sudah merupakan pilihan secara sadar, bukan hanya karena keturunan. Ayat di atas sungguh dahsyat dalam memberikan status sama tanpa diskriminasi kepada manusia untuk merebut martabat dan keagungan nilai ruhani sejauh yang mungkin dicapai dalam batas kapasitas manusia. Terserahlah kepada kesungguhan dan ketulusan manusia untuk bergerak menuju posisi mulia yang terbuka itu. Bagiku al-Quran adalah rujukan terakhir dan tertinggi dalam merumuskan sikap hidup beragama. Inilah aku setelah dewasa setelah belajar alQuran pada Fazlur Rahman selama beberapa tahun di Chicago, tempat pendidikanku yang terakhir, sekalipun dalam usia yang hampir mendekati setengah abad, karena memang demikianlah jalan hidup yang harus dilalui. Jika dengan ayah aku sempat bergaul sampai tahun 1953 sebelum aku berangkat ke Jogjakarta. Sesudah itu aku tidak pernah lagi berjumpa secara fisik dengannya. Wajahnya bersih, tinggi sedang, kulit agak hitam, berkumis agak tebal, dan bila berjalan melenggok. Kebiasaannya pakai

84

kopiah sutera hitam. Rambutnya tak pernah memutih secara total seperti rambutku juga, sekalipun sudah menua. Makamnya terdapat di Tapi Selo, di tanah persukuan orang Melayu. Semula ayahku sakit di Tanjung Ampalu, di tempat ibu tiriku mak Maran, kemudian etek Lamsiah, ibu tiriku yang lain, memboyongnya ke Tapi Selo sampai wafat di sana. Atas saran adikku Nurhayati beberapa tahun yang lalu, makam ayah kami telah kami pugar sekadar tanda bahwa ayah kami berkubur di sana. Setelah ibu-ayahku pergi, kewajibanku sebagai anak bungsu dari isteri pertama ayahku adalah mendoakan ampunan bagi keduanya yang telah mengasuh dan membesarkanku, suatu sikap ruhani yang memang dituntunkan al-Quran. Pada saatsaat tertentu rinduku kepada keduanya terasa sangat dalam dan dalam sekali, dan tidak jarang aku menangis sendirian, dalam umur yang setua ini. Aku pun tidak mengerti mengapa cintaku kepada orang tuaku sampai berlarut-larut begini. Mungkin karena aku tidak sempat hidup bersama mereka dalam tempo yang relatif cukup lama, khususnya dengan ibuku. Di atas itu semua aku tak sempat membalas jasa keduanya, jasa yang tanpa batas dan tanpa ujung itu. Ayah dan ibuku, beristirahatlah di sana, anak bungsumu ini

85

rasanya tidak lama lagi akan menyusulmu, entah di bumi mana, aku pun tidak tahu. Entah ayah-bundaku, apakah di akhirat kita dapat berkumpul kembali, di alam yang lain sama sekali, sebuah alam yang abadi menurut ajaran agama. Uwoku (ibu dari ibuku) bernama Rajo Aminah, sedangkan ayahnya (gayekku) berasal dari suku Melayu, suku ayahku, yang pernah kujumpai sewaktu aku masih kanak-kanak. Sayang aku lupa namanya. Ibuku bersaudara seibu seayah ada tiga orang: ibuku dan adiknya Marah, pamanku, sedangkan kakak ibuku tampaknya wafat sewaktu masih kecil. Adiknya yang lain A. Wahid, lain ayah dengan ibuku. Ada tiga lagi saudara ibuku yang seayah berasal dari Silantai, nagari tetangga Sumpurkudus, salah seorang dipanggil Ani, yang kata orang rupanya mirip ibuku. Aku memanggilnya ande Ani. Semuanya sudah tiada, tinggal lagi keturunannya yang aku tidak tahu jumlahnya. Karena tidak bergaul sejak dari kecil, kontak psikologisku dengan saudarasaudara yang tinggal di Silantai tidak begitu terasa. Beberapa tahun yang lalu, adik perempuan ibuku di sana sedang sakit berat, dan aku berkunjung menengoknya dalam keadaannya yang setengah sadar. Tak lama kemudian adik ibuku ini wafat, sementara dua adik laki-lakinya yang

86

kupanggil datuk telah lebih dulu pergi. Orang kampung memanggil ibuku onga Tiah, yaitu mereka yang umurnya di bawah ibuku. Onga adalah panggilan untuk anak kedua dalam tradisi kampungku, baik lakilaki atau pun perempuan. Ayahku bersaudara seayah-seibu (Abd. Rauf dan Bailam) berjumlah tujuh: Marifah, Karimah, Siti Dariyah, Saidina Hasan, Bainah, Mattudin Rauf, dan Ahmad. Karimah dan Ahmad wafat sewaktu masih kecil, sementara Saidina Hasan (kupanggil pak oncu Naksan) wafat pada 1949 di Rumah Sakit Sawahlunto dalam usia sekitar 32 tahun karena sakit, tetapi punya dua keturunan perempuan. Yang masih hidup tinggal satu, sementara anak dan cucunya masing-masing entah berapa jumlahnya. Isterinya bernama Saujah yang kupanggil ande. Oncu Naksan amat menyayangiku. Dia tukang kayu dan sekaligus pandai besi, merangkap dukun. Aku pun pernah dibuatkannya lading (pisau panjang) yang sering kubawa ke manamana. Pada saat wafatnya, aku menangis sejadi-jadinya karena aku sungguh kehilangan pak oncu yang dekat denganku. Tidak jarang aku makan di rumahnya bersama adik-adik sepupuku yang masih kecil-kecil, Baili, Nurbahri, dan Jiwahur (wafat waktu kecil).

87

Dengan pakoncu Mattudin Rauf (pakoncu Tudin) dan isteri pertamanya onga Sarikayo, hubunganku cukup dekat. Sewaktu aku belajar di sekolah rakyat dan madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, aku sering makan di rumah pasangan ini di kawasan Patopang. Lebih dari itu, bedil pakoncu Tudin biasa kupakai untuk menembak binatang dan burung. Tentu aku bangga karena seumur itu sudah biasa menembak. Sedangkan pakoncu Tudin memang dikenal sebagai pemembak ulung. Sudah berapa ekor rusa dan kijang yang direbahkannya dengan bedil, jumlahnya aku tidak tahu. Yang jelas aku sudah biasa menikmati daging hasil buruannya yang segar dan manis. Aku masih ingat pada suatu sore di kampung Patopang aku menembak jatuh seekor elang hantu (Bahasa Sumpur: olang katutuih) yang biasa mencuri ikan di kolam penduduk. Suara elang ini sungguh menakutkan bila berbunyi di waktu malam. Matanya tajam menembus. Mangsanya tidak hanya ikan; tikus, ular, ayam, dan binatang lainnya adalah santapan hariannya. Binatang-binatang ini disambarnya dengan kukunya yang sangat kuat dan paruhnya yang tajam agak membungkuk. Saudara ayahku lain ibu (uwo Datun) ada tiga: Raayan (sudah wafat), Raadin,

88

dan A. Wahab, dengan anak dan cucu yang juga berkembang biak. Pak enek Wahab hampir seumur denganku. Orang tua ayahku Abd. Rauf (dipanggil Badurau), gelar Manti Besar, dari suku Domo, adalah seorang dukun dan tukang yang cukup dikenal sampai ke nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus, tetapi aku tak pernah bertemu dengannya. Ibu ayahku Bailam masih sempat kujumpai pada saat kecilku. Aku memanggilnya uwo. Ayahku sangat menghormati ibunya. Sampai tua uwo Bailam di bawah tanggungan ayahku, di samping membantu adik-adiknya. Oleh sebab itu, ayahku sangat terhormat di mata adik-adik dan familinya. Mungkin karena ibuku wafat muda, hubunganku dengan keluarga ayah (suku Melayu) jauh lebih akrab dibandingkan dengan keluarga pihak ibu (suku Caniago), sukuku sendiri. Belakangan kekurangakraban ini ditambah lagi oleh perbedaan organisasi antar kami: Perti dan Muhammadiyah. Belahan sepupu ibuku dari pihak ibu umumnya berpihak ke Perti. Ibuku sendiri sewaktu wafat belum lagi mengenal Muhammadiyah karena memang gerakan pembaruan ini belum lagi menjamah kampungku. Suami Rahima, M. Nalam (alumnus Normaal School), seorang guru S.R. / S.D. yang pandai berbahasa Belanda, adalah

89

salah seorang pelopor Muhammadiyah di kampungku. Kariernya sebagai guru dan Kepala Sekolah cukup lama. Bahkan sempat bertugas di Pitala (Padang Panjang) dan di Kubang Sirakuk (dalam Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung). Pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang orang kampungku yang pandai berbahasa Belanda adalah kakak iparku itu, dan mungkin juga Rivai dari suku Piliang yang pernah menjadi camat Sumpur Kudus. Yang aku sedikit menyesal, seperti telah kusinggung, adalah karena aku tidak pernah bertanya kepada ayahku tentang ibuku, watak dan sifat-sifatnya bagaimana. Maklumlah anak desa yang tidak cukup punya angan-angan sejauh itu untuk bertanya. Sekiranya itu aku lakukan, tentu ayahku dengan senang hati akan menuturkannya, sekalipun dia sudah berumahtangga dengan isteri-isteri lain. Hubunganku dengan ayahku akrab sekali, begitu juga dengan abangku Nursahih, kupanggil onga Sahih, seorang pendekar yang baru menjalankan salat setelah agak berumur. Dengan kakak-kakak perempuanku, hubungan itu terasa biasa saja, apalagi mereka pun telah berumah tangga dengan unit keluarganya masingmasing. Jarak umur antara kami bersaudara seibu-seayah bervariasi. Antara Rahima

90

dan Nursahih hanya terpaut sekitar dua tahun, antara Nursahih dan Nursiah tujuh tahun, dan antara Nursiah dan aku juga sekitar tujuh tahun. Ayah-ibuku membina hidup bersama selama 18 tahun dengan membuahkan dua puteri dan dua putera dengan keturunannya masing-masing jumlahnya hitungan peleton dan siapa namanya aku pun tidak tahu. Keturunan darah Abdurrauf-Bailam mungkin jumlahnya sudah ratusan, bertebaran di seluruh nusantara, khususnya Sumatera, Jawa, dan Malaysia. Aku sudah sulit mengenal mereka semua. Bertemu di jalan mungkin kami sudah tidak saling menegur karena jarang atau tidak pernah berjumpa. Aku sudah merantau sejak tahun 1953 dalam usia 18 tahun: ke Jogjakarta, Lombok, dan Surakarta. Kemudian kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah pada F.K.I.S.-I.K.I.P. dan menetap di kota ini sampai saat tua. Dari kampus I.K.I.P. (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta, U.N.Y.) aku meneruskan studi ke Amerika Serikat dengan mengunjungi tiga kampus: Northern Illinois University (DeKalb), Ohio University (Athens), dan the University of Chicago (Chicago) antara tahun 1972-1982. Tentang kuliah ini akan kuuraikan pada porsinya. Akhirnya di mana aku akan menetap bila tugas-tugas kemasyarakatanku telah

91

usai, aku pun tidak tahu. Mungkin akan sangat tergantung kepada kondisi kesehatanku dan pertimbangan isteriku Hj. Nurkhalifah dan anak tunggal kami: Mohammad Hafiz. Pun di mana aku akan berkubur, semuanya itu adalah rahasia Allah, tak seorang pun yang dapat menentukan. Semboyanku sederhana saja, yaitu kita jalani hidup ini secara wajar dan sebaik mungkin, alamiah, jangan terlalu ngoyo (Bahasa Jawa: tak sabaran, terlalu menguras enerji untuk mencapai sesuatu). Bahwa aku seorang pekerja keras, mungkin banyak orang yang sudah tahu, sekalipun kamar kerjaku sering berantakan dan sumpek (Jawa: tidak segar) karena dipadati buku, majalah, dan dokumen yang tak sempat kuatur, karena sempitnya ruangan yang tersedia. Dalam soal kerapian kamar kerja aku memang tidak dapat dicontoh. Banyak dokumen yang tidak berguna, kubiarkan saja berkeliaran dalam ruang kerja yang sekaligus kamar tidurku. Dalam kamar inilah aku menulis, membaca, dan merenung. Apa yang direnungkan, kadangkadang juga tidak jelas benar. Sesaat setelah ibuku wafat, aku diberi tahu bahwa ayahku menggendongku ke tepi Batang Sumpur, tak jauh dari rumah kelahiranku sebelah barat melalui pematang sawah. Sungai ini tak pernah kering, sumber penghidupan para petani

92

yang merupakan mayoritas penduduk kampungku. Batang Sumpur ini digambarkan sebagai: Airnya jernih, pasirnya putih, tebingnya landai, dan ikannya jinak, sekalipun dalam kenyataannya ketika hujan lebat airnya keruh juga, dan ikannya tidak pernah jinak, kecuali yang sakit atau pingsan. Tetapi begitulah caranya orang kampung memuja tanah kelahirannya, semuanya serba dielokkan, semuanya serba dilebihlebihkan. Di kala kecil, aku juga gemar memuja kampungku, karena memang di situ duniaku, sekalipun penduduknya serba sederhana, dan banyak yang miskin. Sampai setua ini, aku masih sering berkunjung ke kampung, membantunya dalam batas-batas kemampuanku, sebagaimana telah kusinggung sebelumnya. Saat sering pulang, aku masih cukup dikenal oleh penduduk Sumpur Kudus, apalagi oleh mereka yang sudah berumur tua. Ayah sewaktu ditinggal ibuku jelas merasa gundah dan sangat kesepian. Aku hanya bisa membayangkan betapa runtuh dan remuk perasaannya ketika ditinggal isteri pertamanya dalam usia yang masih muda dengan meninggalkan seorang anak kecil yang sudah piatu dan samasekali belum paham apa makna kematian seorang ibu bagi dirinya. Selagi sehat

93

kabarnya ibuku kalau bepergian biasa naik kuda dengan selendang sarung Bugis yang diselempangkan di bahunya, suatu kebiasaan yang tak terlalu lazim di kampungku. Tetapi sebagai isteri orang terkemuka pada tingkat nagari, masyarakat dapat memakluminya. Alangkah anggunnya ibuku barangkali ketika sedang berada di atas punggung kuda. Gambaran tentang sosok ibuku hanyalah terbayang dalam imajinasiku yang serba kabur, tidak lebih dari itu. Tetapi kerinduanku kepada ibu tidak pernah surut. Terasa teramat dalam dan tulus. Selain ibuku yang sering menunggang kuda, menurut keterangan Nasaruddin (lahir 1928), kemudian menjadi kakak iparku, adalah mak Sarialam, ande Lia, seorang perempuan kaya di kampungku, ande Karang, mak Rasia, ibunda Sanusi Latief, kakak sesukuku di kampung. Mereka ini semua adalah perempuan-perempuan elit pada masanya, sebuah panorama yang tidak lagi diikuti oleh generasi berikutnya. Apalagi budaya naik kuda sudah lampau, digantikan oleh kendaraan serba bermesin, berasap, dan tentu mengotori lingkungan. Aku bayangkan betapa gagahnya perempuan-perempuan yang menjadi ibu itu di punggung kuda. Mereka menunggang

94

kuda dengan jarak sekitar 60 km, yaitu dari Sumpur Kudus ke pasar Kumanis pergipulang. Mereka ke sana untuk berbelanja membeli keperluan sehari-hari, berangkat hari Senen, kembali hari Rabu. Hasil belian itu dibawa pulang oleh kuda beban dengan seorang pengiring. Istilah kuda beban menunjukkan profesi seseorang yang tugasnya mengangkut barang: dari Sumpur bawa gambir, karet, dan hasil hutan lainnya; dari Kumanis bawa barang dagangan keperluan harian penduduk. Hari Selasa merupakan pasar besar di Kumanis. Para pedagang berdatangan ke sana dari berbagai kabupaten, seperti dari Tanah Datar, Payakumbuh, bahkan dari Bukit Tinggi dan Padang. Kumanis memang dikenal sebagai pasar serba ada. Di sana terdapat pula pasar ternak. Juga pasar kera dan beruk. Binatang pemanjat ini dilatih untuk memetik buah kelapa, durian, mangga, petai, dan lain-lain. Aku pun pernah memelihara beruk yang dikaryakan ini. Sesekali dapat juga upah sebagai hasil menurunkan buah kelapa orang lain. Di Minang, budaya beruk dan cigak (kera) ini tetap lestari sampai hari ini, terbanyak di daerah Pariaman sebagai gudang kelapa. Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang kusaksikan di Sulawesi Utara, di mana peran manusia pemanjat kelapa sangat besar dan menentukan. Mengapa

95

mereka tidak belajar kepada orang Minang dalam perkara manjat memanjat ini? Seekor beruk atau cigak mampu menurunkan kelapa sampai dalam jumlah ratusan sekali main, dengan syarat disediakan makanan bergizi, seperti telor dan tebu. Kembali kepada perempuan dan kuda. Apa bukan merupakan sesuatu yang luar biasa, kaum perempuan melebihi sebagian besar kaum pria yang bisa dan biasa naik kuda pada masa itu. Aku yang laki-laki dalam perkara menunggang kuda ini jauh tertinggal oleh ibuku, karena aku memang tak pernah dilatih untuk itu. Sekarang jangankan naik kuda atau memelihara kuda beban, setelah ada mobil, orang kampungku sudah tak pernah lagi melihat kuda, kecuali dalam tv atau pergi ke daerah lain yang masih memelihara kuda, terutama untuk menarik delman (bendi). Sungguh besar perubahan akibat revolusi transporatasi dengan kekuatan mesin, bensin, dan solar. Akibatnya roda peradaban pun berputar semakin cepat. Entah untuk berapa miliar tahun lagi, tak seorang pun yang bisa mengatakan. Tetapi iman menyebutkan, bahwa perputaran itu akan berhenti suatu ketika, matahari sudah tidak akan bersinar lagi, sinar yang memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk.

96

Dengan budaya naik kuda, bukankah itu berarti pula bahwa posisi perempuan di kampungku sangat terhormat, tidak kalah dengan kaum pria? Dalam kultur Minangkabau yang matrilinial, kaum perempuan secara teori memang punya posisi dominan, tetapi kebiasaan menunggang kuda, apakah terkait dengan konsep itu? Aku tidak tahu! Yang pasti adalah bahwa ibuku merupakan salah seorang di antara yang pandai menunggang kuda. Aku pun bangga mendengar cerita semacam ini, karena ibuku ternyata bukanlah manusia kolot pada saat Indonesia masih berada di bawah sistem penjajahan. Di sebuah nagari yang tersuruk, kebiasaan perempuan naik kuda, bagiku adalah sebuah lambang kemajuan dan kesetaraan. Dan salah seorang di antaranya adalah ibu kandungku, Fathiyah, dipanggil Patiah. Orang kampung menyebutnya onga Tiah. Sepeninggal ibuku aku dipelihara bibiku Bainah, adik ayahku, yang kemudian kawin dengan pamanku A. Wahid, adik ibuku seibu. Tampaknya ayahku sengaja menitipkan anaknya pada adiknya sendiri mungkin agar dapat diawasinya dari dekat, karena rumah ayahku sangat berdekatan dengan rumah bibiku. Sebelum aku pergi merantau, selama 16 tahun pada periode pertama aku hidup bersama bibi dan

97

pamanku. Mereka berdua telah sangat berjasa memelihara dan membesarkanku dengan segala suka-dukanya. Aku tak sempat membalas jasanya secara berarti. Kemudian sebelum aku berumah tangga pada 1965, jika pulang kampung, aku masih juga ke tempat bibiku Bainah yang sangat menyayangiku. Kabarnya yang turut mencarikan isteriku Nurkhalifah adalah bibiku ini melalui pendekatan antar keluarga, khususnya antara dia dan mertuaku Sarialam. Semasa di kampung biaya hidupku umumnya dibantu ayahku. Bersama paman dan bibiku, aku juga membantu bekerja di sawah, bahkan aku turut mengembalakan sapi milik mereka. Menyabit dan menjunjung rumput untuk makanan sapi tidaklah asing bagiku, sekalipun yang aku pelihara hanyalah seekor sapi jantan warna putih tetapi luar biasa berani (bagak)-nya. Sapi (disebut jawi di kampungku) ini milik Saiful, adik sepupuku yang pernah kuasuh dan kuajar mengaji selagi kecil karena umur kami berjarak empat tahun. Sapi ini sering kuadu dengan sapi-sapi lain yang jauh lebih besar dan gagah. Yang menang pastilah sapi peliharaanku. Kadang-kadang aku dan teman-teman pergi ke Menganti (sekitar 5 km dari tempat tinggalku) untuk mencari lawan sapi peliharaanku ini. Seingatku, sapi putih

98

yang bertanduk tumpul ini belum pernah terkalahkan. Aku bangga memang dengan si bagak ini. Sifat burukku adalah ini: suka mengadu sapi dan mengadu ayam. Tentu bersama teman-teman sekampung yang sebagian masih hidup sampai awal 2006. Mereka rata-rata sudah berusia 70 tahunan seperti halnya aku. Kejadian lain yang masih terekam dalam memoriku adalah bahwa aku dan temanku Makdiah mengerjain teman lain. Namanya Husin yang tak pandai berenang, sementara air Batang Sumpur ketika itu sedang naik, warnanya keruh kemerahmerahan. Suatu hari kami bimbing dia menyeberangi sungai itu persis di sebuah tepian di Calau, lalu ditinggal di seberang sana. Jelas saja Husin menangis sejadijadinya. Tak lama kemudian kami jemput lagi, tentu dengan perasaannya yang sangat mendongkol akibat ulah buruk kami. Orang kampung yang tak pandai berenang, apalagi laki-laki, jelas merupakan sebuah kekurangan dan agak aneh. Bukankah anak-anak muda di kampungku ketika itu suka bersianyut (berenang dari arah hulu ke hilir)? Kadangkadang dengan menggunakan perahu batang pisang dan jerami. Perkara badan menjadi gatal oleh miang jerami, tak diraskan ketika itu. Pokoknya bersianyut sepanjang dua km.

99

Tidak saja bersianyut, menjala ikan dan memancing di Batang Sumpur, juga memerlukan kepandaian berenang. Aku tidak tahu apakah Husin sampai tua tidak pandai berenang atau keadaannya tetap saja seperti kami kerjain puluhan tahun yang lalu. Aku berharap agar otobiografi ini akan sempat dibaca teman-teman sekampungku yang masih hidup, untuk bernostalgia tentang kehidupan kampung yang penuh warna-warni dan kadangkadang menggelikan. Sebagai lukisan tentang masa anak-anak yang ceria tanpa beban, tanpa angan-angan yang membubung ke langit tinggi. Aku dan teman-teman sebaya sama-sama menikmati suasana penuh nostalgia itu. Kembali ke sapi. Alangkah kagetnya aku kemudian, sewaktu aku sudah belajar di Muallimin Lintau, aku melihat sapi yang pernah kupelihara itu ternyata sudah dijual dan dibawa orang ke arah Payakumbuh. Cukup berat batinku dibuatnya, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena bukan aku yang punya. Selamat jalan sapi peliharaanku untuk tidak mungkin berjumpa lagi. Andaikata engkau mengerti, tentu engkau paham betapa luluh perasaanku sewaktu engkau melewati Madrasah Muallimin Lintau pada saat aku sedang istirahat. Engkau ditarik orang untuk dijual atau disembelih, entah di

100

mana, aku pun tidak tahu. Kenangan akan keberanianmu menghadapi lawan berkelahi tak pernah pupus dari ingatanku. Ternyata seorang anak manusia seperti aku dapat saja punya kaitan batin yang dalam dengan seekor hewan, apalagi hewan itu bagak sekali, tak pernah terkalahkan. Sapi gagah bertanduk panjang dan runcing belum tentu menang bertarung dengan sapi bertanduk tumpul, tetapi punya semangat tempur yang dahsyat. Mungkin juga manusia tidak banyak berbeda dengan hewan. Seorang yang tungkainya gagah perkasa, tetapi semangat hidupnya lembek, merengek, dan sering menggerutu, memandang hidup ini dari sisi negatif melulu, biasanya tak pernah berjaya. Sebaliknya sosok manusia kecil tetapi punya lan vital (semangat hidup yang perkasa), ungkapan ini berlaku baginya: alu tertarung patah tiga, untuk sekadar mengutip bagian kalimat lagu Minang, jika hal itu boleh digunakan di sini. Bagiku, Islam menyatakan ya terhadap hidup, dengan segala tantangan dan risikonya. Mungkin aku dipengaruhi puisi Iqbal dalam Israr-e Khudi (Rahasia Pribadi) dan karya-karya lain yang sudah menjadi klasik itu. Di antara bait itu berbunyi: Tak kan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. Iqbal sampai batas-batas tertentu dalam hal kehebatan manusia terpengaruh

101

juga oleh sebagian gagasan F. Nietzsche, filosuf Jerman, yang kontroversial itu. Usiaku sekarang sudah jauh melampaui usia ayahku, apalagi usia ibuku. Dari empat bersaudara seibu seayah (Rahima, Nursahih, Nursiah, dan aku), tinggallah aku yang dikurniai Allah hidup sampai sekarang, sedangkan saudara seayah dari dua ibu yang lain yang masih hidup (Jan. 2006) berjumlah sembilan: Safinar, Yusnaini, Nurhayati, Amrina, Aurina Radiati, Asnarti, Syukri, Agustar, dan Armayulis. Seluruhnya sudah berkeluarga, bahkan sebagian sudah punya cucu, sedangkan aku dengan putera tunggal (yang hidup), jangankan punya cucu, punya menantu pun belum pada saat otobiografi ini mulai ditulis. Baru bulan pada 10 Juni 2005 Hafiz putera kami menikah dengan puteri Jawa Ginda Pramita Sari di Cimahi, Jawa Barat, karena besanku punya rumah dan sekolah di sana. Adikadikku di Bandung turut jadi panitia dalam perkawinan ini sebagai wakil orang tua Hafiz. Di atas sudah kukatakan bahwa desa kelahiranku bernama Calau (pernah diubah menjadi Koto Salo, entah apa alasannya) dalam lingkungan kenagarian Sumpur Kudus, kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung, Sumatera Barat. Kondisi nagari ini, 244 meter di atas permukaan laut,

102

sangat sederhana, tersuruk, 30 km dari jalan raya. Penduduknya umumnya bertani. Ayahku Marifah Rauf Dt. Rajo Malayu, di samping bertani juga berdagang gambir dan karet, sebagaimana telah kusebut sebelumnya. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah ayahku pernah pula mencangkul di sawah sewaktu mudanya. Ketika aku berusia setahun pada 1936 ayahku diangkat menjadi Kepala Nagari yang dijabatnya sampai tahun 1945. Jadi ibuku setidak-tidaknya pernah pula menjadi nyonya Kepala Nagari, sekalipun hanya sebentar kemudian dia dipanggil Allah. Tetapi kira-kira bagi ibuku menjadi nyonya orang penting atau bukan tidak banyak bedanya. Budaya P.K.K. (Program Kesejahteraan Keluarga) belum muncul ketika itu. P.K.K. baru dikenalkan sejak masa pemerintahan Jenderal Soeharto (19661998) yang berlanjut sampai sekarang. Jadi ibuku tidak pernah jadi ketua P.K.K. nagari. Andaikan itu terjadi, boleh jadi ibuku tidak bisa melakukannya, karena kadang-kadang harus berpidato dan memberi pengarahan (entah apa yang mau diarahkan), sesuatu yang mustahil bagi seseorang seperti ibuku yang boleh jadi buta huruf. Sewaktu kecilku tidak ada cita-cita tinggi yang ingin diraih, tidak ada anganangan untuk jadi apa atau siapa, karena

103

memang lingkungan nagari yang sempit dan sederhana itu tidak mendorong orang untuk menjadi sosok yang melebihi orang kampungnya. Semasa kecilku, pengaruh kota belum menjalar ke kampungku, karena televisi saat itu belum lagi ada. Wawasanku pun hanyalah sebatas nagari Sumpurkudus. Paling-paling sekiranya aku pandai berpidato di masjid kampung, rasanya sudah luar biasa. Sudah merasa dihargai orang banyak. Cita-citapun hanya tertumbuk sampai di situ. Aku memang mengagumi orang yang mahir berpidato. Sewaktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus, aku pernah dibuatkan teks pidato oleh A. Rahman Gafur (guru S.R.), adik Muchtar Gafur, salah seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua D.P.R.D. Kab. Sawahlunto atau Sijunjung dari partai Masyumi tahun 1950-an. Aku masih ingat di antara teks pengantar pidatoku itu ada ungkapan yang kira-kira berbunyi: Dengan hati gedebakgedebur saya beranikan diri berdiri di depan para hadirin dan hadirat yang mulia. Sebagai pengagum pidato orang, kata-kata pembukaan yang dibuatkan Rahman itu masih melekat di benakku, sekalipun mungkin tidak persis seperti kutipan itu karena terjadi lebih setengah abad yang lalu. Tetapi ungkapan gedebak-

104

gedebur memang ada dalam teks pengantar pidato itu. Dasar anak kampung, kelahiran Calau lagi, membuat ungkapan gedebak-gedebur saja harus minta bantuan segala. D. Dinamika Retorika dan Muallimin Balai Tangah atau Lintau. Dalam kehidupan sehari-hari aku bergaul dengan teman-teman sekampung, mengadu sapi, mengadu ayam, mengail, menjala, menembak burung dengan senapan angin milik abangku, dan gembala sapi, seperti telah disinggung di atas. Pernah juga aku mencangkul sawah (batobo) bersama pak enek A. Wahab, adik bungsu ayahku lain ibu. Itu terjadi antara tahun 1947-1950, sewaktu aku masih belum belajar ke madrasah Muallimin Lintau di Balai Tangah dalam kabupaten Tanah Datar. Usiaku ketika itu sedang merangkak menuju 15 tahun, sangat belia bukan? Sebuah usia yang penuh canda, tidak banyak yang menjadi beban. Di madrasah Muallimin Balai Tangah aku belajar antara 1950-1953. Di tempat baru ini, sudah tentu wawasanku sudah semakin luas, tetapi cita-cita untuk jadi sarjana tidak terbayang sama sekali. Jangankan terbayang, kata sarjana itu sendiri aku pun tidak paham. Di tahun 1950-an itu di Lintau seorang tamatan

105

S.M.A. saja sudah sangat dihormati. Begitu tingginya posisi seorang terpelajar masa itu, karena populasinya masih sangat langka. Salah seorang guruku dalam mata pelajaran aljabar dan ilmu ukur di Lintau yang berasal dari Kamang kabarnya tidak tamat S.M.A., tetapi sudah diminta jadi guru Muallimin. Karena kurang berbakat dalam ilmu serba eksak ini, hubunganku dengan guru ini tidak begitu akrab. Tempat tinggalku di Lintau berpindahpindah. Pernah juga di rumah etek Lamsiah, di Tapi Selo. Dua dari adik Lintauku, aku yang memberi nama: Agustar dan Armayulis. Agus seorang insinyur teknik industri dan Arma tamatan D3, semuanya di kota Bandung, jauh sepeninggal ayah kami. Sesekali kami masih saling mengunjungi. Maklumlah masing-masing terbenam dengan kesibukan hidupnya di rantaunya masingmasing. Adik-adik Lintau ini tak seorang pun yang tinggal di kampung asalnya. Rantau telah menjadi tumpuan hidup mereka. Sebuah catatan perlu kutambahkan di sini. Belakangan ini adikadik ini tidak lupa menyiapkan seekor sapi qurban untuk disembelih di kampung ayahnya, sebuah sikap yang patut dipuji. Mereka tidak lupa bahwa separo darahnya berasal dari Sumpur Kudus dan pernah dibesarkan oleh air Batang Sumpur.

106

Di antara adik-adikku, baru Syafril (alm.) dan Nurhayati yang paling berhasil mendidik anak-anaknya. Ada yang jadi dokter, insinyur. Pokoknya sebagian besar anaknya jadi sarjana. Dengan modal pendidikan ini mereka memperbaiki status sosialnya, jauh melebihi orang tuanya sendiri. Sekiranya kami semua masih terbenam di Calau, tidak tahulah ke mana biduk nasib ini akan dikayuh selanjutnya. Atau tidak akan bergerak ke mana pun, berhimpit dan berdesak-desak di Sumpur Kudus, sulit untuk dikatakan. Kematian seorang ayah memang sangat ditangisi dan terasa pilu sekali, tetapi di balik itu ternyata selalu tersimpan hikmah yang baru kemudian dapat dirasakan. Allah mengatur semuanya ini, sementara manusia hanya bisa mengancang-ancang, tidak lebih dari itu. Sebagai Kepala Nagari dan pedagang, ayahku cukup disegani masyarakat. Dialah tempat orang bertanya dan mengadu, tetapi aku belum pernah tahu apakah ayahku pernah naik podium untuk berpidato. Sebagai kepala suku Malayu, ayahku sangat paham adat nagari dalam bingkai alam Minangkabau. Sekalipun pendidikannya hanyalah sampai tingkat S.R. lima tahun, karena kesukaan dan hobinya membeli dan membaca buku, pengetahuannya di atas rata-rata orang

107

kampung. Setelah wafat, buku-buku peninggalannya terserak entah ke mana. Sekiranya masih tersimpan dengan baik, aku tentu bisa melihat buku-buku apa saja yang pernah dibaca ayahku dan yang telah mempengaruhi pola fikirnya. Saat masa kecilku tinggal bersama bibi dan paman, aku dekat sekali dengan tempat tinggal ayahku bersama ibu tiriku: Maran dan Lamsiah, yang didatangkan secara bergiliran ke Calau. Keduanya berasal dari kecamatan yang berbeda: Koto VII dan Lintau Buo yang dikawini ayahku tahun 1938, setahun setelah ibuku wafat. Ayahku masih punya tiga isteri yang lain, tetapi tidak punya keturunan. Seingatku, ayahku pernah hidup bersama tiga isteri, salah seorang dari nagari Sisawah, dalam waktu yang bersamaan, tetapi yang bertahan sampai ajalnya hanyalah dengan mak Maran dan etek Lamsiah, nama-nama yang telah kusebut di atas. Sepengahuanku, mak Maran dan etek Lamsiah jarang sekali bertengkar bila bertemu. Hanya sekali aku ingat mereka berkelahi, saling menarik rambut, cara perempuan untuk menunjukkan kebolehannya dalam menundukkan saingannya. Tentu ketika saling menarik rambut itu, celoteh Minang berhamburan ke luar tanpa kendali.

108

Sewaktu ibuku masih hidup, ayahku pernah pula menikahi seorang perempuan desa, Kariman, tetapi tidak bertahan lama. Kabarnya ibuku tidak bisa dimadu. Demi menenggang perasaan ibuku, ayahku berpisah dengan isteri keduanya ini. Sampai saat ibuku wafat pada 1937, ayahku tidak menambah isterinya. Salah satu sifat ayahku adalah bahwa dia tidak pernah menyia-nyiakan anak-anaknya. Dari satu ayah dengan tiga isteri kami bersaudara berjumlah 15, sebagian sudah wafat. Semua anaknya dirawat, dibesarkan, dan dididiknya, sekalipun hanya sampai S.R. atau S.D., S.M.P. (Syafril), dan madrasah Muallimin, yaitu aku. Di antara 15 bersaudara, aku lebih daripada bersyukur, karena pendidikanku sampai tuntas, Ph.D. dari Universitas Chicago (1983), Amerika Serikat, sesuatu yang tak terbayangkan oleh ayah apalagi oleh ibuku. Hanya Engkaulah ya Allah yang memahami betul betapa dalamnya rasa syukurku kepadaMu. Arwah ayah-bundaku tentu akan tersenyum menyaksikan anak bungsunya sampai belajar jauh ke Barat. Tanpa bimbinganMu ya Allah, anak piatu yang digendong ayahnya ke tepi Batang Sumpur setelah ibunya wafat boleh jadi tidak akan ke mana-mana. Paling-paling jadi pedagang kecil tingkat desa atau

109

kecamatan, lalu beranak pinak di sekitar itu. Oleh sebab itu jangan biarkan aku lengah dalam bersyukur kepadaMu. Jangan Engkau biarkan aku mati rasa setelah bergunung nimatMu dilimpahkan kepadaku sekeluarga, nimatMu yang tanpa putus, tanpa batas. Kebiasaan beristeri lebih dari satu ini di Sumpur Kudus bukanlah dimonopoli ayahku sendiri. Sebagian teman-teman sebayanya jika kondisi ekonominya memungkinkan juga melakukan hal serupa. Yang tidak masuk akal adalah, seorang lelaki yang tak mampu secara ekonomi, juga ada yang berpoligami. Aku heran, mengapa perempuan juga mau dimadu dengan kondisi semacam ini? Sekarang kebiasaan itu di desaku sudah jauh berkurang, tetapi hobi kawin-cerai masih berlangsung dengan segala akibat buruknya, terutama bagi anak-anak yang dihasilkannya. Tidak berbeda dengan ayahku, pamanku Mattudin, dan kakakku Nursahih yang juga beristeri lebih dari satu juga yang tidak pernah menelantarkan anak-anaknya. Sebagian laki-laki orang kampungku bila sudah bercerai, anaknya umumnya menderita tanpa belas kasih dari ayahnya. Maka terserahlah kemudian kepada bekas isterinya untuk menghidupi anak-anak yang telah ditinggal hidup ayahnya sendiri. Sebuah tabiat yang buruk

110

sekali dari manusia yang tidak bertanggungjawab. Sebagian manusia kampungku memandang praktik kawincerai sebagai suatu yang enteng saja. Bagaimana akibat buruknya bagi keturunannya tidak dipikirkan jauh. Sumpur Kudus, desa tertinggal, sampai 2003 belum lagi mengenal listrik, kecuali dengan diesel. Aspal sudah, tetapi tidak ada yang bertahan lama karena kualitas campurannya yang tidak baik. Di usia lanjutku, di Jakarta aku turut melobi ke sana ke mari agar desaku ini diperhatikan. Agar rakyatnya juga merasakan bagaimana rasanya hidup di lingkungan fisik yang agak modern dengan aspal dan listrik. Aku senantiasa berharap pada waktu itu, mudah-mudahan lobi-lobi ini bakal membuahkan hasil dalam tempo dekat. Di antara pejabat P.L.N. pusat yang paling berjasa adalah Dr. Herman Darnel Ibrahim, salah seorang direktur, yang dikenalkan kepadaku oleh Al Hilal Hamdi, mantan menteri era reformasi. Pertemuanku dengan Herman di Kantor P.P. Muhammadiyah Jakarta, kemudian juga dikuatkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Poernomo Yusgiantoro, akhirnya telah membuahkan suatu hasil yang sangat spektakuler: listrik masuk kampungku dan ke nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. Bahkan Bung

111

Herman berkunjung sendiri ke kampungku dan berjanji bahwa listrik akan mengalir ke nagari tersuruk itu. Peresmiannya dilakukan tanggal 29 Januari 2005, sebuah tanggal hasil rundinganku dengan Bung Herman yang akan datang sendiri untuk menekan tombol. Dapat dibayangkan betapa bahagianya orang kampungku karena mendapat durian runtuh ini. Biaya yang dikeluarkan untuk itu sekitar Rp. 3 miyar, kemudian membengkak menjadi Rp. 4,3 milyar, sebuah angka yang sangat besar bagi ukuran kampungku. Keberhasilan lobi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari posisiku sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah (periode 1998-2005). Sebelum aku melanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku semasa di kampung, aku teringat pada suatu hari aku dibawa ke Padang dalam usia kelas II atau kelas IV S.R. Aku menginap di sebuah hotel di kota itu. Mungkin itulah aku pertama kali mengenal lampu listrik yang bisa dihidupkan atau dimatikan hanya dengan menekan tombolnya di dinding. Seingatku aku bertanya kepada kaktuo Djarah, sahabat kakakku Nursahih, yang juga menginap di hotel itu: apakah listrik itu bisa dibawa ke kampung. Tentu saja dijawab bahwa itu tidak bisa. Cobalah bayangkan betapa pandirnya aku yang ingin membawa listrik ke kampung, seperti

112

orang membawa lampu minyak tanah saja. Tentu cerita orang pandir ini tidak ada kaitannya dengan masuknya listrik ke kampungku puluhan tahun sesudah aku bertanya kepada kaktuo Djarah pada tahun 1940-an. Kaktuo Djarah pernah menjabat Kepala Nagari Sumpur Kudus setelah ayahku. Sekolah rakyat enam tahun aku tamatkan di Sumpurkudus pada tahun 1947, tanpa ijazah karena sekolah kami pada masa revolusi kemerdekaan itu tidak mengeluarkannya. Seharusnya aku baru tamat pada 1948, tetapi karena aku termasuk mereka yang pernah naik dua kali dalam setahun, maka pendidikan S.R. cukup kutempuh dalam masa lima tahun. Pada masa revolusi, semuanya berantakan, semuanya tidak teratur. Guru-guru pun tidak pernah lengkap. Bahkan aku masih ingat salah seorang guru kami lantaran sulitnya hidup (aku agak lupa apakah pada masa Jepang atau masa revolusi), sampaisampai merotasikan letak celananya. Kadang-kadang bagian muka diputar ke belakang dan sebaliknya agar lebih tahan lama. Aneh memang, tetapi itulah risiko kesulitan hidup yang hampir-hampir tak tertahankan, namun proses belajarmengajar tetap berlangsung. Itulah panggilan seorang guru yang tidak mengenal putusasa dalam mendidik anak-

113

anak kampung. Jasa mereka semua telah turut mengisi otak dan hatiku melalui pendidikan S.R. Tanpa pengabdian mereka tentu anak-anak usia sekolah di kampungku akan terlantar dan buta aksara. Alangkah hinanya, bukan? Pada sore hari untuk beberapa lama aku belajar agama pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Di madrasah inilah aku mulai mengenal gerakan Islam yang bernama Muhammadiyah. Malamnya di surau di Calau aku belajar mengaji al-Quran dengan guru utamanya A. Wahid, pamanku. Muhammadiyah masuk ke Sumpur Kudus sekitar tahun 1937/1938, sewaktu usiaku dua atau tiga tahun. Tokohtokoh Muhammadiyah setempat di antaranya: Harun Malik, A. Latief Dt. Rajolelo, Syamsuar, Muchtar Gafur, M. Nalam (suami Rahima, wafat pada 3 Jan. 2004 dalam usia yang sudah sangat lanjut), A. Wahid, Rivai Dt. Rajo Malayu, M. Tari, Makkah, Suki Khatib Rajo, Rajo M. Rusjid, Sutan Bachtiar, Mattudin Rauf (adik ayahku, wafat pada 2 Mei 2004, jam 6.40 pagi di Calau dalam usia 87 tahun), Maangkat, dan Kahar, sementara pamanku Marah lebih dekat ke Perti. Zulkifli Mahmud, tokoh Muhammadiyah dari Lintau, juga berjasa dalam

114

mengembangkan Muhammadiyah di kampungku. Kecuali Kahar, nama-nama di atas di saat bagian ini ditulis telah tiada semua. Ayahku sendiri tampaknya tidak terlibat langsung dalam Muhammadiyah. Mengapa demikian, aku tidak tahu. Mungkin karena kedudukannya sebagai kepala nagari harus bersikap netral, tidak berpihak kepada Perti atau kepada Muhammadiyah. Atau mungkin juga karena kesenjangan umur antara ayahku dan pimpinan Muhammadiyah. Jadi terdapat jarak psikologis dengan mereka. Ayahku tampaknya juga pengagum Hamka lewat Tasawuf Modern-nya. Dari famili senenek pihak ibu, kami terbelah dalam paham agama dalam arti fiqh harian, sebagian besar pendukung Perti, sebagian pendukung Muhammadiyah, seperti telah disinggung di muka. Terasa sekali bahwa pada masamasa itu di Sumpur Kudus antar Perti dan Muhammadiyah senantiasa bersaing, saling berebut pengaruh. Masa kecilku ditempa dalam suasana persaingan itu. Sebenarnya tidak ada masalah besar tentang agama yang diperbincangkan mereka. Paling-paling berdebat tentang persoalan khilafiah, soal qunut subuh, ushalli, permulaan puasa dan hari raya, rakaat tarawih, dan masalah kenduri orang

115

mati. Dari delapan nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus sampai barubaru ini, hanyalah Sumpur Kudus dan Silantai yang berhasil ditembus oleh Muhammadiyah. Nagari-nagari yang lain: Unggan, Mangganti, Sisawah, Tamparungo, Tanjung Bonai Aur, dan Kumanis, seakan-akan tertutup bagi gerakan Islam non-mazhab ini. Ya, biasa Muhammadiayah dinilai sebagai gerakan pembawa agama baru yang merusak Islam. Dalam perjalanan waktu, anehnya adalah semua gerakan pembaru di mana pun di muka bumi, telah dilawan dan dimusuhi, tetapi kemudian diam-diam diikuti, karena gerakan ini berbuat sesuatu yang kongkret untuk kepentingan masyarakat banyak. Maka perjalanan Muhammadiyah di seluruh tanah air sering ditandai oleh sikap-sikap permusuhan, antipati, dan yang sebangsa itu, ketika Muhammadiyah belum mereka pahami. Namun sejak tahun 2000, Muhammadiyah telah mulai mengembangkan sayapnya ke seluruh nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus, sesuatu yang tak terbayangkan 50 tahun yang lalu. Perhatian terhadap Muhammadiyah di sana kini besar sekali hingga beberapa ranting telah resmi berdiri. Sudah tentu aku bangga mengikuti

116

perkembangan itu semua karena berlaku pada waktu aku menjabat Ketua P.P. Muhammadiyah, sesuatu yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya. Kepada pengurus cabang Sumpur Kudus yang sekarang selalu kukatakan agar energi jangan dihabiskan untuk masalah khilafiah. Tunjukkan secara tulus dan dengan bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan untuk kepentingan orang banyak bagi upaya pencerdasan, penyantunan, penyadaran, dan pencerahan. Melalui metode dan pendekatan model ini, lambat atau cepat, Muhammadiyah akan menjadi milik masyarakat tanpa kecuali. Muhammadiyah harus memahami dengan baik tradisi dan kondisi lokal agar gerak dawahnya berjalan lebih lancar dan efektif. Sudah tentu ide-ide besar di atas tidak pernah singgah dalam benakku sewaktu aku terlibat dalam debat khilafiah di kampungku tempo doeloe. Suatu metode dawah yang menguras tenaga, tetapi untuk jangka panjang tidak bernilai strategis harus ditinjau kembali oleh kalangan Muhammadiyah. Harus disusun strategi baru dengan mengemukakan pandangan dunia al-Qurn yang menilai kehidupan dunia ini penting, sekalipun bukan tujuan, hubungan antar tauhid dan keadilan, konsep persaudaraan universal

117

sesama Muslim dan antar Muslim dan nonMuslim, tentang mutlaknya penguasaan ilmu pengetahuan, prilaku hidup yang jujur, bersih, dan prinsip egalitarian. Semua atribut mulia ini kuketahui setelah aku mengembara ke berbagai bagian dunia sambil membaca beberapa literatur, khususnya setelah aku belajar di Chicago. Tetapi amal kongkret untuk menyantuni masyarakat yang sudah menjadi merek paten Muhammadiyah wajib diteruskan dan dikembangkan secara kreatif. Pengalaman masa kecil dan masa belajar di S.R. di Sumpur Kudus tentu ada pengaruhnya dalam pembentukan kepribadianku kemudian. Tapi kebiasaan cara desa tetap saja melekat pada diriku di usia senja ini. Hobi berbelanja ke pasar atau ke lepau kecil sekalipun sampai hari ini masih belum berpisah dari diriku. Banyak orang bertanya tentang ini kepadaku, tetapi kujawab dengan penuh kebanggaan, karena itulah aku. Bagi sementara orang, cara hidupku ini terlalu bersifat desa. Betul, sebab aku tidak mungkin menjadi pribadi lain selain diriku. Aku tidak pernah merasa jadi kecil dengan kebiasaan semacam ini. Juga tidak merasa besar kalau hidup ala kampung itu kutinggalkan. Dalam usia di atas 70 tahun aku masih biasa menyetir mobil sendiri, asal tidak

118

untuk perjalanan yang terlalu jauh. Bahkan lebih jauh dari itu, jika isteriku tidak ada di rumah, aku biasa berbelanja dan memasak sendiri. Dalam budaya hidup mandiri ini, aku termasuk yang beruntung karena merasa tidak ada kecanggungan sama sekali. Untuk membuat menu sambal yang agak lezat, aku sering minta diajari isteriku. Sekarang untuk jenis makanan rebus ikan, aku bisa bertanding dengan siapa saja dari segi rasa, tanpa bumbu masak yang anehaneh, tanpa ajinomoto. Bahkan aku malah merasa bangga karena ciri kedesaan tetap melekat pada diriku. Apa sulitnya bagiku untuk hidup seperti orang desa, karena memang aku orang desa. Bukankah aku selama 18 tahun telah dibentuk oleh suasana lingkungan desa? Desa yang sampai sekarang masih sering kukunjungi, sekalipun aku tidak punya rumah lagi untuk tinggal di sana. Jika pulang kampung, aku sering menginap di rumah anak kakakku Suherman, atau di rumah sepupuku Asril Maruf. Jika pulang bersama keluarga, tentu aku menginap di rumah saudara isteriku setelah aku berumah tangga pada Pebruari 1965 yang pada gilirannya akan kubicarakan apa adanya tentang suasana perkawinanku yang serba sederhana.

119

Pengalaman selama di Lintau Di atas sudah disinggung bahwa aku melanjutkan pelajaran ke Lintau setelah menganggur selama tiga tahun akibat revolusi. Bila dibandingkan dengan Sumpur Kudus, Lintau jauh lebih maju. Masalah sarana jalan raya sudah lama dimilikinya, dan lokasinya pun mudah dicapai. Seorang tokoh Chairul Saleh, orang penting pada era Bung Karno, berasal dari Lubuk Jantan, salah satu nagari di Kecamatan Lintau-Buo. Jadi jika aku belajar ke sana, memang sudah sepantasnya. Bukankah Buo dikenal sebagai tempat Rajo Adat dalam tambo Minangkabau setelah Islam? Dari trio raja tigo-selo, Rajo Alam di Pagarruyung, Rajo Adat di Buo, dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus, untuk sekadar mengulangi apa yang sudah kusebutkan. Aku tidak tahu mengapa seorang rajo (raja) pernah bertahta di Sumpur Kudus. Tetapi dari tuturan sejarah, Sumpur Kudus memang dikenal sebagai Mekkah Darat, sebab di sanalah pada abad-abad yang lalu terdapat pusat kajian Islam, di samping pusat perdagangan emas, kopi, dan lain-lain. Kemudian pusat itu berpindah, maka Sumpur Kudus ditinggalkan, dan jadilah ia sebagai desa yang lengang dan miskin, seperti berulang telah kututurkan pada halaman-halaman lain.

120

Ada beberapa catatan penting yang patut direkamkan di sini dalam proses dan selama aku belajar di Balai Tangah, Lintau. Pertama, Lintau tidak terlalu jauh dari kampungku, yaitu sekitar 48 km. Bila terpaksa, berjalan kaki pun mungkin, dan cara itu pernah kujalani sewaktu libur kuwartal untuk pulang kampung, sekalipun tidak selalu. Tetapi yang terus kulakukan adalah berjalan kaki dari Sumpur ke Kumanis sepanjang 27 km, dan sebaliknya. Jika rata-rata 5 km per jam, perjalanan Lintau-Sumpur akan memakan tempo sekitar 11 jam plus istirahat di jalan. Tentu aku tidak sendirian lawalata sejauh itu, sebab teman-teman Sumpur dan Silantai banyak juga yang belajar di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Balai Tangah. Aku mungkin adalah generasi ketiga yang belajar di sana. Sebelum itu telah pula belajar ke sana Djuli Taha, Sjafril Tahar, keduanya dari Sumpur Kudus. Kemudian menyusul Ali Akbar (Silantai), Nawadir Makkah, Damhuri Gafur, Ismael Rusyid, Sjamsu Kamar. Enam teman ini setahun di atasku. Generasi sesudahku masih ada juga yang belajar ke sana. Kedua, pada awal 1950-an di kampungku beredar berita bahwa madrasah Muallimin Lintau itu hebat sekali. Dalam tempo tiga tahun orang akan mendapatkan ilmu agama melebihi dari

121

sekolah-sekolah lain dengan sistem belajar yang lebih lama. Maka sepakatlah keluargaku untuk meneruskan sekolahku ke sana, tetapi harus melalui ujian masuk. Ujian itu aku lalui dengan susah payah karena bekal S.R.-ku sama sekali tidak memadai. Hasilnya sudah dapat diduga: aku tidak lulus. Namun karena berasal dari desa terpencil, aku terpaksa diterima juga. Seorang anak udik tampaknya perlu disantuni oleh guru-guru madrasah pada waktu itu, apalagi antara Muhammadiyah Sumpur Kudus dengan Muhammadiyah Lintau telah terjalin hubungan yang rapat. Ini menguntungkan posisiku yang tidak lulus tes masuk. Ketiga, setelah aku secara berangsur dapat menyesuaikan diri dengan suasana belajar, maka pada ujian kenaikan dari kelas satu ke kelas dua, aku semula meraih ranking nomor lima. Tetapi malangnya karena salah hitung angka rapor, aku diturunkan menjadi nomor enam, sebab ternyata ada murid lain yang seharusnya mendapat nomor dua, semula terlupa tidak dimasukkan. Pengumunan mengatakan bahwa ranking nomor enam terpaksa diadakan karena kesalahan kalkulasi di atas. Tetapi bagiku tidak mengapa karena ranking enam bagi orang yang tak lulus ujian masuk adalah suatu prestasi yang luar biasa. Tidak dapat ranking pun, aku

122

gembira. Mungkin jika tidak naik kelas, tentu aku akan merasa malu, karena itu dapat diartikan sebagai seorang yang tidak layak untuk belajar lanjut ke tingkat sekolah menengah. Bayangkan, usia 15 tahun baru masuk kelas satu Muallimin, gara-gara revolusi kemerdekaan. Seumur itu ibuku sudah berumah tangga dengan ayahku. Dalam keadaan normal, usia sekian itu sudah ancang-ancang untuk melanjutkan ke S.M.A. atau yang sederajat. Tetapi tanpa perlawanan dalam revolusi, apakah pada 17 Agustus 1945, Indonesia sudah merdeka? Keempat, kecuali ujian terakhir kelas tiga, aku selalu menjadi juara nomor satu sejak kelas dua. Pada ujian penghabisan, aku turun menjadi nomor dua karena kelalaianku sendiri. Pada saat-saat menjelang ujian, aku belajar naik sepeda sewaan dengan semangat tinggi di lapangan bola di Balai Tangah, hingga waktu belajarku menjadi tersita karenanya dan kakiku terluka sampai berdarah-darah, tetapi bangganya bukan main, orang kampung bisa naik sepeda. Selain ujian sekolah, murid kelas tiga Muallimin harus ikut ujian bersama Muallimin-Muallimin yang lain, bertempat di Bunian, Payakumbuh. Aku lulus dengan baik dalam ujian bersama itu. Apa tidak hebat Muhammadiyah daerah ketika itu, demi

123

menjaga mutu, diadakan ujian persamaan Muallimin dalam satu propinsi. Aku pun merasa bangga dapat turut dalam ujian ini. Perasaanku ketika itu, alangkah rancak-nya kota tempat ujian persamaan ini. Rancak (bagus), tentu bila dibandingkan dengan kampungku dan Lintau. Payakumbuh bagiku pada waktu itu adalah sebuah kota yang ramai. Bahkan tentu lebih ramai bila dibandingkan dengan Lintau, tempatku belajar selama tiga tahun. Adapun kampungku demikian sunyinya, kadang-kadang di kala malam, ngauman harimau masih terdengar dengan penuh wibawa dan sangat menakutkan penduduk. Belakangan kabarnya harimau itu sudah menghilang, jejaknya saja sudah sulit untuk dijumpai, di dalam hutan yang jauh sekalipun, dikalahkan oleh manusia yang memburunya untuk tujuan komersial. Pencinta lingkungan hidup dan satwa tentu risau dengan menghilangnya raja hutan ini, sekalipun sewaktu mengganas, orang kampung pernah diterkamnya. Akibat menghilangnya harimau ini, babi hutan yang biasa menjadi makanan empuk raja hutan ini menjadi merajalela. Untunglah orang Minang punya hobi berburu babi untuk santapan anjing-anjing mereka. Dengan cara ini, populasi babi hutan sebagai musuh petani dapat dikurangi.

124

Kelima, aku harus mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada semua guruku selama aku belajar di Lintau. Tanpa didikan mereka, aku tak mungkin mengembara begini jauh. Khusus untuk guru-guru agama menurut kesanku mereka semua adalah ahli di bidangnya. Penguasaan Bahasa Arab mereka cukup bagus hingga bila diukur dengan standar pesantren di Jawa, mereka semua adalah para kiyai yang mumpuni. Khath (tulisan Arab) mereka bagus sekali. Kini sebagian besar mereka telah tiada. Pada saat tulisan ini dibuat, mungkin ada dua guruku yang masih hidup: Dt. Bandaro Ratih dan Ustaz Mahyuddin Dt. Indomadjo, guru Bahasa Arab dan guru Bahasa Inggris/Bahasa Indonesia, tiga pelajaran yang sangat kugemari. Dt. Bandaro Ratih dalam usia hampir 90 tahun masih kuat pergi meninggalkan Lintau. Bahkan pada waktu syukuran setahun listrik masuk desa tanggal 29 Januari 2006, guruku ini malah datang menemuiku di nagari Silantai, sekitar 2 km utara Sumpur Kudus. Seharusnya muridlah yang mengunjungi guru. Tetapi karena keterbatasan waktu aku tidak dapat berbicara agak lama dengan beliau. Keenam, selama belajar di Lintau aku bersama teman-teman dari Sumpur Kudus dan Silantai hidup secara berdikari, belanja

125

dan masak sendiri dengan menu yang serba sederhana. Yang penting aku akhirnya dapat menyelesaikan madrasah Muallimin dengan prestasi yang tidak mengecewakan, tetapi bagaimana selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dipecahkan, karena pada waktu itu kondisi ekonomi ayahku tidak lagi kuat, sementara adik-adikku masih kecil-kecil dari dua rumah tangga. Sebenarnya sewaktu aku hampir merampungkan belajar di Muallimin Lintau, sudah terbetik pikiran untuk berdagang kecil-kecilan ke daerah hilir (daerah Riau Daratan sekarang). Pikiran ini pernah kusampaikan kepada etek Lamsiah dan mendapat dukungan. Tetapi pertemuan dengan Sanusi Latief di kampung telah mengubah jalan hidupku, berlaku perkisaran secara mendasar, sekalipun kemudian sering tertatih-tatih dan berliku-liku. Kemana aku setelah Muallimin Lintau, sementara usiaku sudah 18 tahun? Jawaban terhadap pertanyaan ini berkait erat dengan peran M. Sanusi Latief, pelopor gerakan pencerahan intelektual Sumpur Kudus. Sanusi kelahiran 1928 adalah pekerja keras dan sosok yang sangat gigih dalam mencapai cita-cita. Akhirnya dia berjaya. Liku-liku perjalanan hidupnya yang penuh warna akan dapat

126

mengilhami generasi yang datang kemudian di nagari itu, sekiranya mereka mau mengambil pelajaran. Di Jogja untuk mempertahankan hidup, Sanusi pernah merangkap jadi tukang potong rambut di pinggir jalan. Sebuah contoh kegigihan dari seorang pekerja keras, demi ilmu pengetahuan. Aku tidak bisa membayangkan masa depanku jika seorang Sanusi, perintis pendidikan tinggi tidak lahir dari rahim Sumpur Kudus. II.
KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF

A. M. Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu Peranan kakak sesukuku M. Sanusi Latief (kemudian bergelar Dt. Bandaro Hitam) cukup besar dalam mengubah jalan hidupku. Dialah yang mengajakku belajar ke Jogjakarta bersama dua adik sepupunya: Azrai dan Suwardi. Reaksi ayahku terhadap ajakan ini tidaklah terlalu positif, mungkin karena mengingat biaya, sedangkan pak oncuku Mattudin Rauf memberikan dorongan kuat, sementara abangku Nursahih bersikap biasa-biasa saja. Akhirnya diputuskan bahwa aku berangkat meneruskan sekolah pada madrasah Muallimin Jogjakarta yang memakai sistem lima tahun. Kampung dan teman-teman harus aku tinggalkan, entah

127

untuk berapa lama. Untuk selanjutnya, akan ke mana kaki ini melangkah setelah merantau ke Jawa, pada waktu itu belum dibayangkan. Pokoknya melangkah dan terus melangkah, toh pada akhirnya akan sampai jua setelah melewati liku-liku hidup yang sarat dengan beban, tetapi penting bagi pembentukan karakter. Merantau ke Jawa bagi orang kampungku ketika itu bukan perkara biasa. Tanpa Sanusi Latief, perjalanan jauh ini tidak akan terjadi. Dengan menompang dek kapal laut kami berangkat menuju Jawa dengan perasaan yang bercampuraduk. Maklumlah anak kampung yang belum biasa merantau jauh, apalagi ke tanah Jawa, sesuatu yang agak luar biasa pada waktu itu. Memang Sanusi Latief adalah pionir pertama yang paham betul apa makna pendidikan lanjut bagi anak kampung seperti kami. Merantau ke Jawa telah mengubah seluruh jalan hidupku, berkat Sanusi Latief, seperti telah kusinggung di atas. Rasa terima kasihku yang dalam tak pernah kulupakan terhadap guru besar pertama yang lahir dari bumi Sumpur Kudus. Kalau sejarah pendidikan lanjut Sumpur Kudus ditulis, maka nama Sanusi Latief harus diletakkan paling atas sebagai pelopor utamanya. Tanpa Sanusi Latief, aku barangkali akan tetap sibuk dengan

128

senapan angin, milik kakakku, menjala, dan memancing, meneruskan kebiasaaanku sebelum ke Lintau. Aku akan melebur kembali dalam tradisi kampung, sebagaimana banyak anak nagari berbuat serupa. Akan berlaku involusi dalam cara pandangku membaca kenyataan yang terus berubah. Aku tidak akan ke manamana. Rantaulah kemudian yang mengubah cara berpikirku. Interaksiku dengan sub-kultur suku lain telah memaksaku untuk mengatakan bahwa Minang bukanlah segala-galanya. Apalagi Sumpur Kudus yang hanya sebuah sekrup belaka dalam kultur Minang yang selalu kusanjung itu. Setelah beberapa hari dalam perjalanan darat-laut-darat, tibalah kami di kota tujuan. Sesampai di Jogja semula kami berempat tinggal dalam satu kamar berukuran kecil di Kauman sebelum kemudian kami berpisah tempat. Kami masak bersama secara bergantian. Di antara yang berempat itu, aku sendirilah yang tidak punya kasur untuk tidur. Azrai dan Suwardi, jika tak salah, membawa kasur dari kampung. Coba bayangkan pada waktu itu, kasur saja harus diangkut dari kampung. Di dek kapal kasur itu dipakainya, sementara aku cukup tidur di atas tikar. Bagiku keadaan seperti ini tidak menjadi halangan, karena di kampung pun

129

aku tidur tanpa kasur. Bahkan tidak jarang aku tidur di sela-sela goni gambir milik ayahku, kadang-kadang bersama sahabatku Khaidir, kemenakan ayahku dari suku Melayu, sekalipun tidak kemenakan kandung. Aku berangkat ke Jogja dengan sebuah kopor besi kuno, sisa zaman Belanda. Kopor ini adalah juga saksi hidup tentang betapa sederhananya keluarga bibi dan pamanku. Untuk bekal berangkat ke Jawa bibiku juga merendangkan daging burung kikiak hasil tembakanku di daerah Ranah Payo, jalan ke Mangganti. Sampai di Jogja, tugas pertama yang kuurus adalah masalah sekolah karena itu tujuan utama berangkat ke Jawa. Aku datang ke Jogjakarta dengan membawa ijazah kelas tiga Muallimin Lintau. Semula diperkirakan tidak akan ada halangan apaapa untuk masuk ke kelas empat. Mengapa aku ternyata tidak bisa langsung diterima? Mengapa nasibku setengah kandas untuk masuk Muallimin Jogja? Pertanyaan ini sangat mengganggu benak seorang anak desa seperti aku. Kenapa berbeda sekali sikap pimpinan Muallimin Lintau dengan Muallimin Jogja. Mungkin Lintau lebih mengenal lingkungan dari mana aku berasal, oleh karena itu perlu disantuni, sekalipun nilai ujian masukku tak memenuhi syarat. Sekiranya aku ditolak masuk, tentu kisah hidupku akan berbeda

130

dengan apa yang aku jalani kemudian, entah bagaimana jadinya. Semuanya berada dalam rahim sejarah yang tidak akan pernah dibuka, karena memang tidak terjadi. Kita boleh saja berandai-andai, tetapi di sini tak perlu diteruskan, sebab hanya akan memperpanjang cerita yang tak pernah ada. Bermacam alasan dari pihak madrasah yang masih aku ingat . Pertama, kelas empat sudah penuh, karena gedung baru di Jl. Tamansari No. 68 itu belum lagi rampung untuk ditempati. Jadi bangku tidak tersedia untukku. Kedua, dari seorang guru aku mendengar bahwa kualitas pelajaran di Jogja lebih tinggi dibandingkan dengan Muallimin daerah lain. Jadi aku akan mengalami kesulitan bila langsung masuk ke kelas empat. Jelas aku merasa terhina oleh pernyataan ini, tetapi aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah. Akibatnya aku harus menganggur, jika aku tidak mau mengulang kelas tiga. Perasaanku jelas sangat tertusuk oleh sikap penolakan ini. Ada semacam keangkuhan yang kuterima di sini. Jika di Lintau tidak lulus ujian masuk tetapi terpaksa diterima karena orang desa, di Jogja aku membawa ijazah dengan nilai tinggi, tetapi ditolak untuk meneruskan ke kelas empat karena

131

katanya kualitas tidak sama. Dua situasi berbeda yang sulit aku lupakan. Apakah di sini berlaku semacam keangkuhan Jawa vis a vis Luar Jawa? Tentu tidak akan sejauh itu, apalagi sesama Muhammadiyah. Namun aku tetap bersyukur, sebab mungkin tanpa pengalaman-pengalaman pahit seperti itu aku tidak akan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi goncangan demi goncangan yang datang silih berganti, sampai saat tuaku ini, termasuk goncangan dalam keluarga yang berkali-kali mendera kami. Siapa mengira bahwa pada satu saat aku diangkat jadi guru Madrasah Muallimin Jogja untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, tetapi pengalaman di atas tak pernah kuceritakan kepada para pelajar. Semuanya sudah berlalu dan dijadikan modal untuk melangkah ke depan dengan membuang semua perasaan yang tidak enak untuk dihanyutkan melalui Batang Sumpur. Mungkin inilah sikap yang bijak yang harus kukembangkan di mana pun berada. Tidak peduli berhadapan dengan siapa, budaya lapang dada mungkin yang terbaik yang tidak boleh hilang dari diriku selama hidup di dunia. Bahwa semula aku bingung dan kecewa adalah wajar belaka. Dalam keadaan seperti itu, dengan persetujuan onga Sanusi aku bersama Azrai mengikuti

132

sekolah montir di Jl. Ngabean (sekarang Jl. Ahmad Dahlan). Azrai yang semula masuk S.M.P. swasta juga tidak betah lama di sana. Setelah sekian bulan belajar montir, teori dan praktik, aku lulus, tetapi kemudian kebingungan mulai mendera lagi. Akan diteruskan ke sekolah sopir atau melamar lagi ke Muallimin? Lagi onga Sanusi memberi nasehat agar aku bersedia masuk ke Muallimin, sekalipun dengan perasaan terhina, sementara Azrai pindah ke Purwokerto untuk sekolah sopir, mengikuti mentornya dari Jogja yang pindah ke kota itu. Adapun Suwardi bernasib lebih baik, masuk S.M.P. Muhammadiyah dan terus ke S.M.A. Muhammadiyah, tetapi karena satu dan lain sebab tidak sampai selesai. Lalu pulang ke kampung. Kedua sahabatku ini sekarang menetap di daerah kelahirannya, kembali mengikuti irama hidup secara kampung. Suwardi pindah ke Unggan mengikuti isterinya yang memang berasal dari nagari itu. Teman yang satu ini tetap setia dengan isteri satu. Kontakku dengan keduanya masih terjalin sampai sekarang. Azrai kini bergelar Dt. Rajo Lelo dari suku Melayu-Kampai, gelar yang dulu disandang oleh A. Latief, ayah kandung Sanusi Latief, paman kandung Azrai. Suwardi adalah saudara satu ayah dengan dua profesor Unand yang telah kusebut di atas, tetapi

133

jalan hidupnya berbeda, sesuatu yang harus diterima apa adanya. Azrai telah berapa kali membina rumah tangga. Terakhir dengan perempuan Mancang Labuah, sekitar 1 km dari Calau. Aku tidak tahu sudah berapa jumlah anaknya dari berbagai isteri itu. Pengalaman Jogja tentu tidak pernah kami lupakan, karena sudah tersimpan dalam memori kolektif kami bertiga. Suka dan duka terekam dalam memori itu. Tak terasa, waktu telah bergulir lebih setengah abad sejak kami meninggalkan Kauman Jogjakarta, meniti titian nasib masingmasing. Di Kauman inilah kami mengenal bakmi, jenis makanan asal Cina tetapi yang sudah dijawakan. Luar biasa aku menyukainya, tetapi apa daya sering aku membelinya hanya separo piring saja seharga 50 sen ketika itu, mengingat sangat terbatasnya uang sakuku. Azrai juga sangat menyenangi jenis makanan yang satu ini. Kesukaan kepada bakmi ini tidak pernah punah sampai usia tuaku kemudian. Teman-teman masjid Nogotirto amat sering berkeliaran bak kelelawar di malam hari untuk mencari bakmi di berbagai sudut kawasan di Jogjakarta. Karena kondisi ekonomi sudah semakin membaik, pesan setengah piring sudah tidak pernah terjadi lagi. Gara-gara lapar di Kauman tahun 1950-an, kesukaan kepada

134

bakmi tetap berlanjut. Tentu tidak ada yang salah di sini bukan? Masih tentang bakmi. Semakin aku ingat pengalamanku di Kauman sekarang ini dengan porsi separo piring itu, semakin tinggi rasanya seleraku untuk tidak berpisah dengan makanan ini. Isteriku Nurkhalifah suatu saat juga suka sekali memasak bakmi dengan campuran daging ayam hampir sepertiga ekor. Sangat berbeda dengan pengalamanku sewaktu tinggal di Kauman. Dia dan anaknya Hafiz menyukai bakmi goreng, sementara aku tetap saja jenis rebus dengan kuah yang melimpah, kadang-kadang juga nyemeg (antara goreng dan rebus). Perbedaan selera ini tetap bertahan di antara kami sampai hari ini. Kami sangat toleransi dalam hal perbedaan ini. Bukan saja dalam selera makan, juga tidak jarang dalam selera politik, perbedaan itu sering mengemuka. Bagiku, semuanya ini lumrah belaka, tidak perlu dijadikan gesekan. Dibandingan dengan Hafiz yang kurang menyukai politik, Nurkhalifah, ibunya, cukup bergairah dalam masalah ini. Tidak jarang, dia mengajakku berdebat dalam soal politik. Kadang-kadang penilaian kami terhadap seorang figur berlawanan sama sekali, sebuah keadaan yang harus disikapi dengan lapang dada.

135

Kembali kepada masalah sekolah. Dengan perasaan yang serba bercampur, aku siapkan mental untuk mengulang kwartal terakhir kelas tiga Muallimin. Ternyata tidak seperti bayangan guru di atas, aku bisa mengikuti pelajaran, dan dengan mudah kemudian aku naik ke kelas empat. Tetapi ada pengalaman penting di kelas tiga yang cukup dahsyat kualami, kalau tak salah, pada hari pertama aku masuk kelas. Seorang guru Ilmu Hitung marah-marah di muka kelas karena nilai mata pelajarannya di kalangan murid umumnya buruk. Tidak sekadar marah, guru ini bahkan menancapkan pisau ke punggung meja dengan tangan bergetar. Melihat panorama ini, aku cukup ngeri, sebab pengalaman macam ini sangat baru dan asing bagiku. Guru ini dengan segala hormatku kepadanya suka sekali bercerita tentang keluarganya di muka kelas, dan kami harus mendengarnya, sekalipun belum tentu menarik. Nilaiku dalam Ilmu Hitung, Aljabar, Ilmu Ukur, dan Ilmu Alam, memang tidak pernah sangat tinggi. Nilai ujian terakhirku pada kelas lima untuk mata pelajaran di atas adalah: 8, 7, 7, dan 6. Dengan tancapan pisau di meja, semakin sadarlah aku bahwa aku harus siap untuk kena marah oleh guru Ilmu Hitung ini pada suatu saat. Untunglah di

136

kelas empat guru ini tidak lagi mengajar. Sebab jika dia tetap mengajar, persiapan mental ekstra kuat amat diperlukan. Jangan-jangan pisau tertancap lagi di punggung meja. Bila semuanya ini kukenang kemudian, yang tersisa hanyalah rasa geli sebagai intermezo di masa sekolah di Muallimin Jogja. Madrasah Muallimin telah banyak mencetak kader Muhammadiyah yang tangguh. Tetapi betapa pun jua, aku wajib berterimakasih kepada guruku ini karena telah mengajarku Ilmu Hitung, sekalipun diawali dengan tancapan pisau. Tanpa tancapan pisau ini, tentu dimensi human interest (menarik secara manusiawi) yang agak menegangkan ini tidak terangkum di sini. Sampai tahun 2005, alumnus Muallimin Jogja yang pernah menjabat Ketua P.P. Muhammadiyah barulah aku. Yang lain seperti Djarnawi Hadikusumo, Djindar Tamimy, pernah menjadi wakil ketua. Tetapi A.R. Fachruddin yang terlama menjadi Ketua P.P., juga pernah belajar di Muallimin, tetapi tidak jadi rampung. Seorang yang semula ditolak untuk masuk Muallimin Jogja, kemudian malah terpilih menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah yang membawahi madrasah ini. Inilah dunia yang tidak mudah diperkirakan ke mana dia akan bergerak.

137

Kelas empat dapat kulalui secara wajar tanpa rintangan yang berarti. Kemudian aku naik ke kelas lima dengan nilai yang tidak mengecewakan. Namun batinku tergoncang keras sewaktu aku sedang duduk di kelas lima. Seperti telah disinggung di muka sebelum aku menyelesaikan pelajaran di Muallimin, aku dapat cobaan berat dengan wafatnya ayahku yang kucintai, setelah aku berpisah dengannya sejak 1953. Tetapi aku bersyukur karena sempat hidup bersama ayah selama 18 tahun. Salah salah satu kekuatan Muallimin Yogya barangkali terletak pada suasana pendidikan bagi pembentukan watak untuk jadi pemimpin yang pandai berpidato. Tiap pagi murid-murid dilatih bicara secara bergiliran di lapangan terbuka. Aku tak lagi ingat berapa kali aku mendapat giliran itu. Para guru Muallimin umumnya punya wibawa karena kemampuan ilmunya yang mumpuni. Beberapa nama perlu kusebut di sini: K.H. Djazarie Hisjam (Ushul Fiqh), Mohammad Mawardi (Ilmu Guru), Djarnawi Hadikusumo (Bahasa Inggris), K.H. Mahfudz Siradj (Ilmu Tafsir), Balija Umar (Musthallah Hadits), Fakih (Bahasa Arab), Wiludjeng (Bahasa Inggris), Sjafii Sulaiman (Bahasa Indonesia dan Sejarah), Muhammad Djamil (Ilmu Hayat), Rowijan (Aljabar), Sudiro

138

(Ilmu Alam), dan masih banyak yang lain, tak terekam dengan baik dalam ingatanku. Tetapi ada seorang guru Bahasa Arab baru didatangkan ke Muallimin, tamatan Mekkah, Muhammad Thajib namanya, masih sangat muda. Ternyata paham agamanya kuno, tak sesuai dengan yang kami pelajari selama ini di lingkungan Muhammadiyah. Dasar anak Muallimin yang nakal, suka berdebat, tak peduli dengan siapa pun. Aku adalah salah seorang di antara yang nakal itu. Terjadilah perdebatan berkali-kali dengan guru ini. Kadangkadang sangat keras. Masalah yang dibicarakan apa lagi kalau bukan soal khilafiah. Aku yang sudah agak terlatih berdebat sejak di Muallimin Lintau, merasa kesempatan semacam itu sangat menggairahkan, apalagi dengan guru tamatan Mekkah yang konservatif. Aku pun pada saat itu sudah sejak lama mengikuti A.Hassan dalam buku soal-jawabnya yang sangat kusukai, karena selalu disertai dalil agama yang ditafsirkan secara tegas dan jelas. A. Hassan adalah salah seorang guru agama Mohammad Natsir sewaktu masih tinggal di Bandung, sama-sama mengurus Persis (Persatuan Islam) yang lebih radikal dalam soal agama dibandingkan Muhammadiyah.

139

Sewaktu berdebat, aku tak ingat lagi bahwa aku membayar uang asrama di bawah harga teman-teman. Tentu apa pula hubungannya perdebatan ini dengan urusan asrama segala, bukan? Melalui tulisan ini aku berterimakasih kepada seluruh guruku di Muallimin Jogja, termasuk yang mau berdebat dengan kami para pelajar. Pelajar Muallimin menurut penilaianku memang dididik untuk menjadi manusia penuh yang merdeka, tetapi sopan dalam pembawaan, sekalipun kadang-kadang lupa soal kesopanan ini waktu berdebat. Pak Djazarie, guru Ushul Fiqh adalah seorang alim dengan wawasan agama yang sangat luas. Aku amat berutang budi kepadanya, di sisi sifatnya yang penyabar. Di Muallimin aku juga turut aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan, sekalipun aku tak sempat agak lama dilatih di sana. Aku masih ingat betul celana panjang biru dan baju warna soklat plus topi H.W. yang aku banggakan itu. Aku tak ingat lagi sepatu yang kupakai, tetapi pasti yang harga murah, sesuai dengan kondisi keuanganku yang serba mepet. Kalau tak khilaf aku dipilih sebagai sekretaris H.W. Muallimin sedangkan ketuanya Muhammad Badjuri yang kemudian ditugaskan ke Bintuhan, Bengkulu Utara, setelah tamat sekolah. Pengalaman Muallimin Jogja ini di

140

kemudian hari ternyata menjadi faktor penting bagiku untuk menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah (1998-2005). Bukankah aku dengan demikian adalah tamatan sekolah kader, sekalipun tidak pernah dilatih dalam perkaderan I.P.M. (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) atau I.M.M. (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Apakah aku masih memerlukan itu semua sebagai syarat sekiranya aku pada suatu ketika naik ke puncak dalam Persyarikatan? Pelajar Muallimin juga menerbitkan majalah bernama Sinar sebagai media cetak untuk berlatih menulis. Aku pernah menjadi pemimpin redaksinya. Melalui majalah inilah aku belajar mengarang. Sempat beberapa artikelku muncul dalam majalah ini. Tulisan-tulisanku umumnya bermuatan politik pro-Masyumi dan antiP.K.I. Kalau tidak khilaf, pada 1954 aku mengirimkan sebuah tulisan pula untuk majalah Hikmah, milik dan suara resmi Partai Masyumi, sebuah partai yang pada saat itu menjadi idolaku. Tulisan itu baru dimuat pada 1957. Tentang apa? Apalagi kalau bukan tentang kampungku Sumpurkudus. Sekalipun memakan waktu lebih tiga tahun baru dimuat, gembiraku luar biasa. Sebuah majalah Masyumi memuat tulisanku selagi aku masih di Muallimin, apa bukan hebat, sekalipun

141

pada tahun itu aku sudah meninggalkan Jogja. Begitulah perasaanku ketika itu. Aku memandang terlalu tinggi orang yang pandai menulis. Itulah sebabnya bila tulisanku dimuat di sebuah majalah di Jakarta, rasa percaya diriku jelas semakin meningkat. Pada usia senja menjelang malam ini, aku tetap saja menulis dan menulis. Mungkin baru berhenti setelah tanganku tidak bisa digerakkan lagi karena sudah renta dan keriput. Aku tidak tahu dari aliran darah mana bakat menulis ini kuwarisi. Mungkin bukan dari siapa-siapa, sebab ibu-ayahku jelas tidak pernah menyusun karangan. Ayahku paling-paling terlatih menulis surat biasa atau catatan untuk kepentingan dagangnya. Ibuku sendiri mungkin belum pernah menulis. Jadi barangkali karena pengaruh lingkunganlah aku belajar menulis, sebuah profesi yang ternyata dikemudian hari juga sebagai tambahan rezki pada saat-saat kepepet. Sampai pada usia tua ini aku tak pernah menghitung sudah berapa puluh atau malah ratusan juta rupiah aku menerima honorarium dari kerja tulis menulis ini, termasuk menulis makalah untuk berbagai forum, dalam dan luar negeri. Sewaktu aku duduk di kelas lima Muallimin, aku sudah turut kampanye

142

Pemilu 1955 ke daerah Bantul untuk kemenangan Masyumi. Pada waktu itu aku sedang gila-gilaan dengan Masyumi, sekalipun setelah studi lanjut di Amerika Serikat aku kemudian juga mengeritiknya, karena partai ini tidak selalu mendasarkan keputusan yang diambilnya pada data sosiologis yang cermat dan akurat. Tetapi pada tataran moral politik, partai ini hampir tidak ada tandingannya di Indonesia. Partai ini juga dikenal sebagai pembela yang paling gigih terhadap sistem demokrasi dan konstitusi, dan bahkan partai ini dibubarkan dalam proses pembelaan itu. Di kelas lima Muallimin aku memilih jurusan A: akan cepat terjun ke masyarakat dan tidak akan meneruskan, karena bayangan suram untuk biaya menyambung sekolah sudah terpampang di pelupuk mata. Keinginan untuk belajar lanjut harus ditekan, karena syarat untuk itu memang tidak tersedia. B. Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya. Sewaktu ayahku wafat, anak-anaknya yang sudah dewasa barulah dua kakakku dan seorang abangku. Selebihnya dari aku ke bawah belum seorang pun yang mandiri, apalagi adik-adik seayahku telah menjadi yatim semuanya. Kami kemudian mengikuti garis dan guratan nasib masing-

143

masing, sementara peninggalan ayah hampir-hampir tidak ada lagi. Berita tentang wafatnya ayahku pada 5 Oktober 1955 diberikan oleh adikku alm. Syafril Maarif, anak sulung dari etek Lamsiah, yang wafat beberapa tahun yang lalu di Lampung dalam usia 56 tahun. Betapa parah dan gundahnya perasaanku mendengar kepergian ayahku di Lintau, jauh dari diriku. Patahlah sudah salah satu tempat pergantunganku. Untunglah ada abangku Nursahih yang turut membantu beaya sekolahku dengan standar yang minim, karena tanggungannya yang juga cukup berat. Aku masih ingat betul, beaya asrama Muallimin pada waktu itu adalah Rp. 175 per bulan, tetapi karena sudah ditinggal orang tua, aku diberi keringanan dengan hanya membayar Rp. 125. Terimakasih Muallimin, madrasahku yang telah turut menyuburkan kepekaan jiwaku dan telah meringankan beaya belajarku! Aku tamat Muallimin pada 12 Juli 1956. Dalam ijazah tertulis nama Majlis Ujian: Pemimpin H. Djazarie, Penulis R. Muhammad, sedangkan Pengurus Muhammadiyah Majlis Pengajaran tertanda Moh. Mawardi dan Penulis Moh. Faried Ali. Fotoku yang tertempel pada ijazah sungguh sangat belia, pakai kopiah agak tinggi dan baju lorek-lorek, tampaknya

144

seperti baju kaos, aku tak ingat lagi. Raporku pada Muallimin Lintau hilang entah ke mana, padahal di dalamnya ada nilai 10 untuk Bahasa Arab. Kematian ayah benar-benar kurasakan terlalu berat, apalagi itu berlaku jauh dari diriku. Setiap mengingat sosok ayahku, yang terbayang adalah pakaiannya berupa celana batik dan baju teluk belanga, kopiah sutera hitam yang mudah dilipat, khususnya kalau pergi salat Jumat ke mesjid Sumpurkudus dengan berjalan kaki, seperti umumnya orang kampungku. Jika sewaktu ibuku wafat, aku tidak paham apa makna kematian itu, tetapi sewaktu ayahku menyusul 18 tahun kemudian, batinku benar-benar remuk dan tercabikcabik dengan pukulan yang datang secara tiba-tiba itu. Akan pulang kampung? Tidak banyak gunanya, di samping tidak ada biaya untuk itu. Sekiranya itu aku lakukan, beban batinku akan bertambah berat menyaksikan adik-adikku yang masih kecilkecil, ditinggal seorang ayah yang menjadi tulang punggung ekonomi dan payung pelindung mereka selama ini. Semuanya berantakan, semuanya mengalir begitu saja, tanpa payung pelindung. Ayah kami pergi untuk tidak kembali. Bila peristiwa perih ini kukenang, air mataku meluncur tak tertahankan. Mengapa batinku begitu

145

remuk ditinggal ayah? Karena cintaku kepadanya hampir tanpa batas, sedangkan aku tak punya kesempatan membalas jasa itu, kecuali dalam doa. Melalui doa inilah aku berdialog dengan arwah ayahku. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosanya dan melupakan segala kekurangannya. Ayah, anakmu yang dulu digendong ke tepi Batang Sumpur sewaktu ibunya meninggal tak pernah melupakan segala jasa dan kebaikan ayah. Sepanjang ingatanku ayah tak pernah marah kepadaku, tetapi aku juga tidak pernah dimanja. Kedua ibu tiriku bersama anak-anaknya kemudian terpaksa meninggalkan Sumpur Kudus untuk selama-lamanya, kembali ke nagari asalnya, karena memang demikianlah yang biasa berlaku di ranah Minang, setidak-tidaknya untuk Sumpur Kudus, setelah mereka hidup bersama ayahku selama 17 tahun. Adik-adikku beserta ibunya masing-masing meninggalkan kampung Marifah Rauf tanpa kepastian masa depan. Mereka harus mengarungi bahtera hidupnya tanpa suami dan ayah yang selama ini menjadi pelindungnya. Tetapi etek Lamsiah untuk beberapa tahun kemudian masih berulang ke kampung suaminya sambil berdagang kecil-kecilan, demi menghidupi adik-adikku yang telah kehilangan ayah. Hubungan

146

abangku Nursahih dengan etek Lamsiah sepeninggal ayahku tampaknya akrab sekali, mungkin juga karena terkait dengan urusan dagang. Kemudian jauh sepeninggal ayahku, aku pernah mengunjungi etek Lamsiah dan adik-adikku di Bandung. Sewaktu kami duduk-duduk sambil bercerita, etek Lamsiah berucap: Sekitar tiga bulan sebelum wafat, bapak Pii ingin mengunjungi Pii ke Jogja. Pii adalah panggilan namaku di kampung. Mendengar ini, jiwaku bergetar lagi, sebab keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Sekiranya niat itu dapat diwujudkan, tentu ayahku akan menemuiku di asrama Muallimin, tempatku dididik oleh Muhammadiyah. Setahuku ayahku memang tidak pernah mengunjungi pulau Jawa seumur hidupnya. Teritorial jelajahnya hanyalah berputar di sekitar Sumatera Barat (waktu itu Sumatera Tengah karena meliputi Riau dan Jambi). Bagi orang kampungku, pergi ke Jawa pada zaman itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Jangankan berlayar ke Jawa, aku berkunjung ke Padang saja misalnya, sepulangnya pasti banyak cerita yang akan disampaikan kepada teman-teman di kampung. Tentu saja cerita-cerita sepele, seperti cerita tentang lampu listrik yang dihidupkan tanpa korek api, kereta api,

147

menginap di hotel, dan yang sebangsa itu. Alangkah jauh perbedaannya bila diukur dengan situasi sekarang. Orang kampungku pada dasa warsa belakangan ini bukan saja telah merantau ke Jawa, yang mengadu nasib ke Malaysia pun sudah ratusan jumlahnya. Tidak sedikit pula yang dikategorikan sebagai pendatang haram oleh polisi Malaysia, tetapi mereka tidak pernah jera, sebab tekanan ekonomi di kampung belum banyak berubah, sekalipun nagari ini tetap saja digambarkan oleh penduduknya sebagai: Sumpurkudus Makkah Darat, ikannya jinak, tebingnya landai, pasirnya putih, seperti yang telah disinggung sedikit di depan. Dari perantauan tidak sedikit devisa masuk ke kampungku, khususnya dari mereka yang berhasil dan bersikap hemat di negeri orang. Sumpurkudus sebagai bagian dari tanah Minang, sesungguhnya kebiasaan merantau jauh ini barulah terjadi pasca proklamasi kemerdekaan, dan orang kampungku termasuk yang agak terlambat untuk urusan ini. Mungkin letak geografisnya yang terisolasi sehingga dorongan untuk merantau dirasakan tidak terlalu kuat. Ini berbeda sekali misalnya dengan orang Sulit Air, Solok. Jauh sebelum merdeka mereka sudah mengelana ke ujung-ujung nusantara. Banyak di antara

148

mereka yang berhasil secara finansial. Dan mereka punya kebiasaan pulang sekali setahun, pada hari raya Idul Fithri. Nagari Sulit Air tentu banyak sekali mendapat bantuan untuk perbaikan dari para perantau yang jumlahnya mungkin ratusan.
III. UJUNG TOMBAK MUALLIMIN

A.

Bertugas di Lombok Timur Sebelum aku tamat belajar di Muallimin Jogja, datanglah konsul Muhammadiyah dari Lombok mencari seorang guru untuk bertugas di Pohgading, Pringgabaya, Lombok Timur. Konsul itu adalah H. Harist, tamatan Darul Hadist Mekkah. Penguasaan Bahasa Arab dan Ilmu Agamanya tentu saja sangat mumpuni. Paham agamanya modern. Ahli debat yang cukup dikenal. Entah mengapa konsul ini ingin mencari tamatan Muallimin yang berasal dari Sumatera Barat, sesuatu yang tidak mudah untuk dijawab. Pada waktu kalau tidak salah hanya ada dua orang di Muallimin Jogja: Hasan Basri (asal Lubuk Jantan, Lintau) dan aku. Hasan adalah kakak kelasku dan ditugaskan di daerah lain. Maka tinggallah aku yang jadi pilihan. Sebagai anak panah Muhammadiyah (begitu kami dijuluki pada waktu itu) tidak lama setelah aku tamat, berangkatlah aku

149

ke Lombok sendirian dalam usia 21 tahun. Tamatan jurusan A banyak yang bertebaran ke berbagai sudut tanahair, menjadi guru dan muballigh Muhammadiyah. Masih segar dalam ingatanku, sewaktu akan aku naik kereta api dari Tugu menuju Surabaya, Pak Djazarie turut mengantarkanku. Alangkah baiknya orang tua itu. Alangkah mulia hatinya. Dengan bekal pas-pasan, aku kini menuju Lombok, sebuah pulau yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Bermalam semalam di kantor Muhammadiyah Surabaya. Bismillah, aku mulai melangkahkan kaki untuk belajar hidup mandiri, karena memang tempat bergantung sudah tak dapat diharapkan lagi. Inginnya meneruskan sekolah, tetapi pijakan ekonomi sudah rapuh semua. Abangku (kupanggil onga) Nursahih sudah tidak mungkin lagi membantuku. Tanggungannya terhadap keluarganya sendiri sudah cukup berat dengan anakanaknya yang masih kecil. Sedangkan dari paman-paman aku hampir tidak mendapatkan bantuan yang berarti. Maklumlah kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan saja. Dari stasiun Semut menuju kantor Muhammadiyah, aku naik becak tanpa kutawar sewanya terlebih dulu, padahal bekal perjalananku sedikit sekali. Sampai di

150

tempat tujuan, aku bayarlah sewa becak itu, aku tak ingat berapa jumlahnya. Pokoknya tidak banyak. Bang becak dengan kasar menolak, minta ditambah lagi. Maka dari pada bertengkar, aku lemparkan lagi sewa tambahan itu. Masalahnya selesai dengan perasaan yang kurang enak. Aku melapor kepada pengurus kantor untuk menginap semalam. Besok harinya aku akan naik kapal menuju Mataram, menginap semalam di rumah Pak Asmo, seorang tokoh Muhammadiyah untuk kemudian terus ke Pohgading dengan bus plat nomor DR. Pak Asmo terlalu ramah untuk kukenang. Selama menginap di rumahnya, aku bebas makan dan minum, termasuk disuguhi kopi coklat yang manis sekali. Di tengah perjalanan perutku meronta kesakitan. Mungkin akibat minuman coklat yang kelewat manis. Aku minta turun sebentar untuk ke belakang. Ternyata aku harus membuang celana dalamku ke sungai kecil karena tidak dapat dipakai lagi. Malu rasanya, tetapi bagaimana lagi, sesuatu yang harus kulakukan. Untunglah jarak antara Mataram dan Pohgading tidak terlalu jauh. Aku tak ingat lagi jam berapa aku sampai di tempat tujuan. Yang jelas sakit perutku telah sembuh, sekalipun menyimpan kenangan yang agak getir dan rasa malu.

151

Kedatanganku di Lombok Timur disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat. Aku ditempatkan di kampung Batuyang, di rumah Pak Subki, adik kandung H. Harist yang juga sebagai kepala desa. Di sinilah aku tinggal selama setahun: mengajar pada P.G.A. Muhammadiyah Pohgading yang terletak di pinggir sungai. Santoso, tamatan S.G.A. dari Blitar, adalah teman mengajarku di sana. Ilmu Pasti adalah mata pelajaran yang dipegang Santoso. Aku pegang macam-macam, agama dan umum, yang tidak terlalu kuingat lagi. Pada suatu saat Santoso pulang ke Blitar. Lalu siapa yang harus mengajar Ilmu Pasti sementara? Timbullah masalah yang agak gawat, karena aku tidak menguasai ilmu itu. Tetapi apa boleh buat, terpaksa juga aku lakukan, karena memang tidak ada pilihan lain. Bayangkan untuk mengajar besok pagi aku harus berjaga malam-malam untuk menyiapkan Ilmu Pasti itu. Sebab kalau tidak, bisa keluar keringat dingin. Akhirnya bisa juga, tetapi jelas tidak memuaskan. Seperti terlihat dalam ijazahku, nilaiku dalam ilmu itu sedang-sedang saja, bahkan aku dapat angka enam dalam Ilmu Alam. Untunglah aku tidak pernah mengajar Ilmu Alam itu. Memang tamatan Muallimin kelas lima, ilmu yang kita dapat sebenarnya serba

152

tanggung. Mungkin untuk mengajar S.D. tidak ada masalah. Untuk sekolah menengah, jelas perlu tambahan ilmu. Tampaknya tamatan S.G.A. lebih siap dibandingkan aku untuk mengajar mata pelajaran umum. Sebelum kami datang sudah ada sebelumnya dua guru tamatan Muallimat Jogja, berasal dari Bangka dan Sulawesi Selatan, tetapi tidak sempat mengajar bersama kami karena sudah harus pulang ke daerahnya masingmasing. Demikianlah, hampir setiap hari aku bertugas mengajar dalam tempo setahun, untuk kemudian aku kembali ke Jawa. Sebagai guru Muhammadiyah di tempat yang tingkat ekonominya serba sederhana, aku mengerti bagaimana pengurus Muhammadiyah mencari infaq untuk honorarium guru yang besarnya hanyalah sekedar untuk bertahan hidup. Dipungut dari sana-sini. Tetapi karena berasal dari keluarga desa, aku tak terkejut menghadapi kondisi yang semacam itu. Sebagai alumnus Muallimin, aku langsung diminta menjadi khatib tetap pada hari Jumat di desa Batuyang (Pohgading). Kalau perkara khotbah ini, aku sudah agak terlatih sejak dari Muallimin, tidak memerlukan persiapan seperti mengajar Ilmu Pasti yang dapat menyebabkan kita

153

terengah-engah ditambah kurang tidur lagi. Ada kebiasaan orang Lombok yang aku suka dalam perkara makanan yang serba pedas dan merangsang, yaitu kelapa muda yang dibubuhi sambal trasi. Lalu dicampuraduk dalam tempurungnya yang dipotong pada bagian kepala dan langsung siap untuk disantap. Air mata biasanya menjadi berlelehan karena kepedasan, tetapi di situlah nikmatnya. Berkali-kali aku diajak pesta kelapa muda plus sambal trasi ini, dan tidak pernah kapok. Memang dalam masalah makanan aku tidak merasa kesulitan apa pun. Dasar lidah Minang yang suka pedas-pedas, makanan orang Lombok banyak sekali miripnya dengan makanan kampung saya di Sumpur Kudus. Memang pedas, sesuai dengan nama pulaunya: Pulau Lombok (lada). Waktu terus bergulir tanpa terasa. Sekitar bulan Maret 1957 pada saat usiaku 22 tahun, aku pulang kampung dengan membawa bibit bawang merah sekeranjang dengan maksud untuk dikembangbiakkan di kampungku. Perjalanan Lombok-Padang memakan tempo 11 hari dengan kapal laut. Ada sebuah anekdot dalam masalah bawang merah ini yang sampai sekarang aku agak malu mengenangnya. Tetapi itu perlu

154

direkamkan di sini sebagai bumbu otobiografi ini. Sesampai di Padang aku tidak langsung ke hotel mengingat persediaan sangu yang serba terbatas, sekalipun telah jadi pak guru selama beberapa bulan. Keranjang bawang itu aku bawa ke tempatku menginap di rumah pak Halifah, saudagar terkaya menutut ukuran kampungku. Semua anaknya aku kenal, termasuk yang puteri: Rahmah (alm.) dan Rosma. Ada adiknya lagi seorang puteri yang dipanggil Lip. Malam itu aku main remis dengan kakak-kakaknya. Kadang-kadang dia pindah ke ruang lain, kami terus saja main. Nanti pada saatnya akan kusambung lagi cerita ini. Jarak antara Padang dan Sumpur Kudus sekitar 148 km. Dari Padang aku menompang truk pak Halifah menuju Kumanis, pasar untuk Kecamatan Sumpur Kudus. Mengapa dengan truk? Jawabannya langsung: karena tidak perlu dibayar, sekalipun aku singgah dulu di Padang Panjang, tidak terus dengan truk ke Kumanis. Tentu saja bawang tetap setia bersamaku. Merantau beberapa bulan di Lombok, yang aku dapat adalah pengalaman yang berharga sebagai anak panah Muhammadiyah yang memang disiapkan oleh Muallimin. Kumanis-Sumpur Kudus masih 27 km lagi yang harus

155

ditempuh dengan jalan kaki, sementara bawang ditompangkan pada kuda beban. Tidak ada yang sukar bagiku menempuh jarak sekian itu, karena memang sudah menjadi latihanku sejak usia sekolah rakyat. Di Kumanis adikku dari Tanjung Ampalu, Syukri Maarif (dipanggil Buyung), datang menemuiku. Usianya pada 1957 itu sekitar 13 tahun sebaya dengan si Celana Merah, anak orang kaya itu. Kami dua beradik hanyalah saling menangis mengenang ayah yang baru dua tahun wafat. Yang dapat kuberikan kepadanya hanyalah sedikit uang hasil pendapatanku yang kecil di Lombok. Kemudian kami berpisah. Aku langsung ke kampung, Buyung kembali ke Tanjung Ampalu. Luluh juga perasaan pada waktu itu, seperti ayam kehilangan induk. Tidak pasti akan ke mana kaki ini selanjutkan harus dilangkahkan. Keinginanku untuk meneruskan sekolah masih belum pudar. Lalu bagaimana tugasku di Lombok? Sebab jika aku pergi harus dicarikan gantinya dari Minang juga. Untuk itu aku harus mencarinya, jika mungkin orang kampungku juga lepasan Muallimin Lintau. Tentu warga Muhammadiyah Lombok masih menginginkanku tetap bertugas di sana, tetapi jika itu aku jalani, sejarah hidupku mungkin akan menempuh arah

156

lain lagi. Dengan berat hati pengurus Muhammadiyah setempat harus melepasku untuk kembali ke Jawa. B. Lombok-Sumpurkudus-Surakarta Sebelum pulang kampung, aku telah berembuk dengan pengurus Muhammadiyah Cabang Pohgading tentang siapa penggantiku sekiranya aku tidak lagi terus mengajar di sana. Di kampung aku punya seorang teman, namanya Bachtasar Tahar, alumnus Muallimin Lintau. Dia adalah adik ipar kakakku Nursahih. Teman inilah yang kemudian aku ajak mengajar di Lombok, dan ia bersedia. Sayang teman ini tidak bisa lama tinggal di sana. Mungkin tidak sampai setahun, ia harus pulang kampung. Kalau tidak salah pada awal 1958 teman ini telah kembali ke Sumpurkudus, tetapi mengalami kesulitan dalam perjalanan karena pada waktu itu pergolakan daerah pimpinan Letkol. Ahmad Husein yang kemudian terkenal dengan P.R.R.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) mulai memanas. Hubungan Sumatera Barat dengan Jakarta mulai memanas. Untunglah Bachtasar selamat sampai di kampung, sementara aku ketika itu sudah berada di Jawa lagi. Mengapa aku ke Jawa? Tidak lain karena ingin sekolah lagi, sementara usiaku sudah 23 tahun pada 1958 itu.

157

Bersama temanku Muhammad Saman dari Krui (Lampung), adik kelasku di Muallimin, aku semula ragu akan melanjutkan ke mana. Ada pikiran kami untuk masuk kelas 6 Muallimin agar punya ijazah tingkat S.L.T.A. (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) untuk kemudian terus ke perguruan tinggi. Tetapi setelah ditimbang-timbang, rasanya tak enak juga kembali ke Muallimin. Bukan karena apa-apa, hanya soal perasaan kurang mantap untuk duduk bersama adikadik kelas yang juga meneruskan ke kelas 6. Karena beban psikologis inilah kemudian kami pergi ke Surakarta cari perguruan tinggi. Kami kemudian memutuskan untuk mendaftar pada Universitas Cokroaminoto Surakarta. Karena dasar ijazahku hanya lima tahun, jelas aku tidak bisa langsung mendaftar sebagai mahasiswa. Harus masuk sekolah pendahuluan terlebih dulu karena memang disediakan oleh universitas. Mata pelajaran di sekolah ini hampir sama dengan kelas tiga S.M.A. Setelah setahun aku belajar, lalu ujian. Aku lulus dengan baik, sekalipun nanti sebelum ujian sarjana muda pada F.K.I.P. jurusan Sejarah Budaya pada 1964, aku harus menempuh apa yang disebut ujian Colluqium Doctum. Tetapi yang kurang enak adalah dokumen nilaiku untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Pengetahuan

158

Umum, dan Bahasa Inggris hilang entah kemana. Pimpinan universitas lalu mengambil kebijakan untuk memberi angka enam untuk tiga mata pelajaran itu. Jelas aku dirugikan, tetapi karena ingin cepat rampung, ijazah aku terima juga, sekalipun dengan perasaan mendongkol. Dengan ijazah ini aku sekarang diizinkan untuk menempuh ujian negara yang dilaksanakan oleh F.K.I.S. (Fakultas Keguruan Ilmu Sosial) I.K.I.P. Jogjakarta. Ada lima mata pelajaran yang diujikan dalam colluqium itu. Selain yang tiga di atas ditambah lagi dengan Pancasila dan Manipol R.I. serta Pengetahuan Sejarah, di mana nilaiku masing-masing delapan dan tujuh. Lama juga aku belajar di lingkungan Universitas Cokroaminoto itu, 1957-1964. Bukan karena apa-apa, tetapi aku harus bekerja menghidupi diri sendiri. Karena pergolakan daerah, hubungan putus dengan kampung. Maka mulailah aku bekerja apa saja untuk melangsungkan kuliah, sekalipun bertele-tele. Pernah aku mengajar mengaji anak orang Minang yang ada di Solo. Pernah pula bekerja sebagai buruh dalam memilih besi tua pada seorang pedagang asal Silungkang. Kemudian aku diterima sebagai pelayan toko kain oleh Pak Burhan dengan Toko Anti Mahal-nya pada 1958. Bermacam

159

tugasku di toko ini: pelayan, kasir, dan tidak jarang disuruh beli barang ke Bandung dan Surabaya. Teman-teman Minang yang diterima bekerja di toko ini adalah M. Hawari, M. Nasai, Muchktar, dan aku. Temanku Hawari wafat beberapa tahun yang lalu di rumah keluarganya di Cirebon. Nasai pada waktu tulisan ini dibuat masih tinggal di Solo setelah pensiun sebagai guru agama pada Sekolah Teknik Negeri Solo. Pak Burhan sudah lama wafat dan jauh sebelum itu tokonya sudah dijual. Nasai adalah yang terlama bekerja pada toko kain milik Pak Burhan ini. Kuliah sambil bekerja terasa tidak mudah. Semula aku masuk ke Fakultas Hukum, tetapi karena kuliahnya teratur, aku tidak mungkin bisa. Maka pindahlah aku ke F.K.I.P. jurusan Sejarah-Budaya, yang presensinya dipegang oleh Jusuf, bagian pengajaran, berasal dari Sulawesi Utara. Jusuf, mahasiswa Cokroaminoto, yang juga putus hubungan dengan kampungnya gara-gara pemberontakan Permesta (Perjuangan Semesta) yang kemudian bergabung dengan P.R.R.I. Dengan Jusuf aku dapat mengatur presensiku, sehingga pada saat ujian tidak ada masalah. Jalan semacam ini harus aku tempuh karena tidak ada cara lain. Dari segi disiplin presensi aku jelas salah. Jusuf banyak menolongku dalam masalah

160

presensi ini. Maklumlah sama-sama perantau yang putus hubungan dengan daerahnya masing-masing. Korban pergolakan daerah. Sejak aku meninggalkan Solo tahun 1965, kontakku dengan Jusuf sudah putus samasekali. Mungkin ia sudah beranak pinak di tanah kelahirannya. Jusuf yang baik hati telah banyak menolongku sampai berhasil mendapatkan sarjana muda, baik melalui ujian lokal maupun ujian negara. Kurang lebih setahun aku bekerja sebagai pelayan toko kain sampai datanglah suatu hari teman sekelasku di Muallimin Jogja berkunjung ke toko Anti Mahal. Namanya Murdijo, asal Baturetno, Surakarta, yang semula ditugaskan di Donggala (Sulawesi Tengah) sebagai anak panah Muhammadiyah pula. Pertemuan kami ternyata kemudian membawaku dan Hawari ke Baturetno, meninggalkan posisiku sebagai pelayan toko. Mula-mula dagang kecil-kecilan, ayam dan kambing, tetapi semuanya merugi. Karena merugi, kami lalu jualan rokok, tembakau, dan lainlain bersama Pak Markum, pemilik warung di Baturetno. Warung ini kami beri nama Warung Ideal, sekalipun ternyata tidak ideal samasekali untuk mengangkat ekonomi kami. Untunglah selain itu, aku dan Hawari diminta jadi guru pada beberapa sekolah menengah di kota

161

kecamatan itu. Tugas sebagai guru honorer ini sangat penting bagi kelangsungan hidup kami di tanah rantau, Baturetno, yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupku. Sekiranya Murdiyo tidak berkunjung ke toko Anti Mahal suatu ketika, entah ke mana pula aku harus mengelana selanjutnya, tidak dapat dikatakan. Pertemuan yang tak sengaja itu ternyata telah turut menentukan perjalanan hidup seseorang. Sampai menjelang usia 70 tahun ini, sesekali aku masih bertemu dengan Murdiyo yang juga telah lama pindah sebagai pedagang yang berhasil ke kawasan Jogjakarta. Cukup lama aku bertugas sebagai guru pada beberapa sekolah menengah di Baturetno. Sekiranya aku punya ijazah negeri, besar kemungkinan aku akan diangkat jadi guru tetap, sebab aku juga diminta mengajar Bahasa Inggris di S.T.P.N. (Sekolah Teknik Pertama Negeri) di sana. Pak Sujadi, kepala sekolah, sangat menyukaiku mengajar di sekolah itu. Sebagai guru honorer, tentu pendapatanku jangan dibandingkan dengan pendapatan guru tetap. Tetapi setelah digabung dengan apa yang dipungut di sana-sani, dapat jugalah aku melangsungkan hidup secara sederhana. Keluarga Pak Makruf dan keluarga Pak Baitani, sebagai tokoh Muhammadiyah di sana telah berbuat baik

162

menyantuniku selama mengajar di kota kecil itu. Kebaikan mereka tidak akan pernah kulupakan. Pada saat menulis catatan ini, aku tidak tahu lagi apakah Pak Sujadi masih hidup atau sudah wafat. Aku tinggal di Baturetno selama beberapa tahun karena itulah jalan yang harus kulalui. Aku harus tabah bergumul dengan realitas, karena opsi lain pada waktu itu belum terbuka. Ketertarikan Pak Sujadi kepadaku bermula dari suatu kejadian pada saat gencar-gencarnya indoktrinasi ManipolUsdek (Manifesto Politik, Undang-undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin). Slogan politik Soekarno ini sedang membahanahi bumi dan udara Indonesia ketika itu. Pembicara utama dalam pekan indoktrinasi itu adalah Purwanto, dari kantor penerangan kabupaten Wonogiri. Tampil dengan gaya Bung Karno. Pada waktu itu Departemen Penerangan di seluruh tanah air telah menjadi mesin politik Soekarno sebagai P.B.R. (Pemimpin Besar Revolusi) yang tidak ada tandingannya. Dikatakan bahwa revolusi belum selesai sebelum masyarakat adilmakmur terwujud di Indonesia, atau suatu permanent revolution dalam istilah V.I. Lenin. Masalah revolusi selesai atau belum ini telah menjadi wilayah perbedaan

163

pandangan yang tajam antara Soekarno dan Hatta. Bagi Hatta, tidak ada revolusi berkepanjangan yang berlangsung di muka bumi ini. Revolusi, kata Hatta, adalah perubahan radikal dalam tempo yang relatif singkat, kemudian menyusullah masa pembangunan. Tentu Hatta geli mendengar pidato berapi-api yang meneriakkan revolusi yang tak pernah rampung sampai ke pelosok-pelosok yang terpencil. Rakyat Indonesia terbius oleh retorika politik yang serba panas, tetapi kosong itu. Bukan main bersemangatnya juru bicara Manipol ini memuji Bung Karno dan pemikirannya yang terekam dalam TUBAPI (Tujuh Bahan Pokok Revolusi Indonesia). Pada saat ada kesempatan tanya-jawab, aku tidak menyia-nyiakannya. Untuk menunjukkan bahwa aku tidaklah terlalu kampungan, aku lalu teringat beberapa kutipan Bahasa Inggris dari alm. Mr. Abdullah Sjahir, dalam majalah Panji Masyarakat atau Gema Islam, kedua majalah ini di bawah pimpinan Hamka. Di antara kutipan itu adalah scientific approach dan scientific consideration ( pendekatan ilmiah dan pertimbangan ilmiah). Mendengar kutipan mentereng ini, Pak Sujadi mengira bahwa aku pandai berbahasa Inggris. Mungkin saja aku mengucapkan kutipan itu memang dengan

164

cara yang benar, sehingga dapat mempesona orang lain. Sebuah trik anak desa yang belum percaya diri. Bukankah kutipan-kutipan asing itu juga menjadi senjata Soekarno di muka pengadilan kolonial jauh sebelum proklamasi? Bedanya, Soekarno tokoh nasional dan dunia, sedangkan aku masih sedang mencari jati diri pada tingkat kecamatan. Tetapi cara itulah yang kulakukan, dan ada buahnya untuk tambahan rezki. Perbedaan lain adalah: Soekarno mengutip dari sumber aslinya, aku hanyalah menghafalhafal kutipan dari kutipan orang lain, entah dari sumber mana diambilnya. Maka tak lama kemudian, jadilah aku diangkat sebagai guru di S.T. di atas, padahal Bahasa Inggrisku masih terbatabata. Andaikan aku punya ijazah negeri, tidak mustahil aku akan diangkat jadi guru tetap di sana, dan mungkin aku tidak akan ke mana-mana lagi, akan menetap dan terpaku di sana bak perantau Cina (sebuah ungkapan orang Minang perantau yang tidak pernah kembali). Garis nasib ternyata kemudian bergerak ke arah lain, aku tinggal mengikutinya saja. Pada suatu ketika, beberapa tahun setelah itu, cerita tentang pengalaman ini aku sampaikan kepada Bung M. Amien Rais, dia hanya terkekeh-kekeh sambil mengulangi kutipan Bahasa Inggris itu.

165

Itulah aku, dasar anak desa, dan aku malah bangga menuturkannya kembali. Bung Amien, komentator yang tajam, dengan terkekeh itu saja, malah menambah abrabnya persahabatan kami. Sebagai kader Muhammadiyah, alumnus Muallimin Jogja lagi, untuk menjadi ketua cabang Baturetno, tentu tidak akan terlalu sukar bagiku, sekiranya aku terus terbenam dan membenamkan diri di Baturetno. Dan tidak mustahil pula dalam musyawarah daerah, aku bakal terpilih jadi Ketua P.D.M. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) kabupaten Wonogiri. Jika itu yang terjadi, tentu pada suatu hari sebagai Ketua P.D.M., aku akan berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memohon anggota P.P. memberi pengajian kepada warga Persyarikatan di daerahku. Dan tidak mustahil jawaban yang akan kuterima adalah bahwa pada saat itu semua anggota P.P. sedang sibuk menyiapkan Sidang Tanwir sehingga kunjungan ke daerahku terpaksa ditunda. Semuanya ini kemudian harus kulaporkan kepada pengurus P.D.M. dengan menambahkan bahwa perlu dicari pembicara lain yang bukan anggota P.P., setidaknya majelis tingkat P.P. Demikian tinggi rupanya penghormatan daerah kepada tokoh Muhammadiyah tingkat pusat. Aku percaya bahwa pengurus tentu

166

akan menyetujui saranku, karena kita memang ingin selalu mendapat penyegaran dari pimpinan yang lebih atas. Demikianlah kalau kita berandai-andai, tidak akan ada ujungnya. Yang jelas aku tidak pernah menjadi Ketua Cabang atau Ketua P.D.M. Wonogiri yang memohon anggota P.P. untuk berkunjung ke sana. Tetapi sebagai selingan, berandai-andai ini perlu juga untuk mengurangi ketegangan saraf bila beban otak terlalu sarat dan berat, asal saja kita tidak membiarkan diri tenggelam dalam lingkaran pengandaian itu. Sekarang (tahun 2006) Muhammadiyah kabarnya semakin berkibar di daerah itu, sesuatu yang selalu aku banggakan. Siapa yang takkan bangga, jika Persyarikatan yang telah turut membentuk kepribadiannya terus saja melaju dan berkembang untuk beramal bagi kebaikan sesama. Untuk turut serta dalam upaya mempercepat proses pencerdasan dan pencerahan bangsa Indonesia yang masih dilanda kesulitran, peran Muhammadiyah tentu akan semakin penting dan strategis. Di samping dapat sekadar uang, aku juga mendapatkan tiwul (makanan dari tapioka kering) sebagai tambahan gizi (kalau tiwul itu masih ada zat gizinya) saban bulan. Tiwul merupakan makanan pokok bagi sebagian rakyat Wonogiri. Geli juga rasanya aku mengenang semuanya

167

itu sekarang ini. Kutipan perkataan Inggris di atas ternyata telah memancing orang untuk memintaku menjadi G.T.T. (Guru Tak Tetap) di sebuah sekolah negeri. Sekalipun hanya dalam posisi G.T.T., bangga juga aku rasanya ketika itu. Pada saat kondisi ekonomi yang lemah di tengah-tengah gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek, aku mendapat sedikit rezki dari sekolah negeri ini. Pada tahun 1960-an itu, Abdullah Sjahir, di samping Sidi Gazalba, adalah di antara penulis favoritku, terutama karena kutipan-kutipan Bahasa Inggrisnya yang memukauku. Tingkat intelektualitasku baru sampai di situ. Mudah mengagumi orangorang pintar yang kreatif dan produktif. Aku sendiri pada waktu itu jelas belum punya akses membaca buku-buku asing. Andaikan punya akses, untuk memahami satu alinea saja, tentu kamus harus dibuka, karena minimnya kosa-kata yang dikuasai, padahal usiaku ketika itu sudah sekitar 25 tahun. Jika kukenang semuanya ini, alangkah jauh tertinggalnya wawasan dan pengetahuanku dibandingkan dengan sebagian anak muda pintar dan kreatif belakangan, sekalipun jumlahnya juga tidak banyak. Peluang untuk berkembang dan maju lebih terbuka bagi mereka. Pada tahun 1960-an itu di samping mengajar di Baturetno, aku juga mengajar

168

di kota Solo: di madrasah Muallimat N.D.M. pimpinan Pak Suhardi, S.M.A. M.I.S. (Modern Islamic School) pimpinan Pak Abdul Manan Kadim. Mata pelajaran yang kuasuh umumnya sama dengan yang di Baturetno: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Cukup lama juga aku bolak-balik Solo-Baturetno dengan kereta api. Aku naik di Pasar Pon terus melaju ke Baturetno dengan jarak 52 km pada saat itu. Sekarang kabarnya lebih jauh lagi karena harus mengitari Waduk Mungkur yang dibangun setelah aku meninggalkan daerah itu. Peta bumi Wonogiri telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan sejak aku meninggalkannya sekian puluh tahun yang lalu. Sewaktu masih kecil di Sumpur Kudus, tak seorang pun yang mengira bahwa aku akan mondar-mandir antara Solo-Baturetno, demi kelangsungan hidup sebagai anak rantau yang terlunta akibat perang saudara. K.A. Solo-Baturetno ini adalah kendaraan para pedagang kecil (bakul), anak sekolah, dan rakyat umum. Aku termasuk dalam kategori yang terakhir ini. Semua ini kujalani tanpa perasaan gelisah yang menganggu, karena cara inilah satusatunya jalan bagiku untuk dapat meneruskan kuliah di Solo: Universitas Tjokroaminoto. Samasekali tidak ada

169

bayangan waktu itu bahwa suatu saat aku akan belajar dan mengajar ke dan di luar negeri: Amerika Serikat, Malaysia, dan Kanada. Modal dasarku ketika itu jauh di bawah batas minimal. Maka adalah sebuah perbuatan gila kalau mengimpikan yang bukan-bukan. Bukankah seperti sering kukatakan bahwa aku terdampar ke tepi semata-mata karena belas kasihan ombak? Kalaulah aku harus menyebut dua nama yang telah turut mengubah perjalanan intelektualku di samping peran ombak, maka alm. Prof. Dr. M. Sanusi Latief dan Prof. Dr. M. Amien Rais, M.A. adalah yang paling berjasa melalui caranya masing-masing. Sanusi Latief berjasa karena telah membebaskanku dari lingkungan kampung yang serba sederhana dan rutin, dengan Batang Sumpurnya yang terus mengalir tanpa henti, untuk kemudian berangkat ke Jogjakarta setelah aku merampungkan Madrasah Muallimin Lintau selama tiga tahun. Juga telah membebaskanku dari kebiasaan menyandang bedil ke sana-ke mari sebagai wujud kesukaanku menembak hewan. Sewaktu aku belajar pada Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus, Sanusi Latief pernah mengajarku, sebagai guru selingan, manakala dia pulang kampung dari tempat belajarnya di Bukit Tinggi. Amien Rais adalah sahabat

170

yang mengenalkanku dan yang meminta rekomendasi kepada Fazlur Rahman agar aku dapat diterima untuk meneruskan kuliah pada Universitas Chicago tahun 1979-1982. Jasa kedua tokoh ini sudah terekam baik dalam memori hidupku. Keduanya adalah fasilitator yang efektif bagiku untuk mengembara lebih jauh dengan modal dasar yang semakin bertambah. Sekalipun kadang-kadang berlaku perbedaan pendapat, rasa terima kasihku takkan pernah sumbing kepada keduanya. Mereka telah berperan penting pada saatsaat aku sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan pilihan. Perbedaan bagiku adalah kekayaan ruhani untuk mempertajam wawasan kemanusiaanku. Kemudian terserahlah kepada masyarakat luas untuk menimbang-nimbang perbedaanperbedaan kecil itu. Tokh, kami bertiga berasal dari sub-kultur yang sama: Muhammadiyah yang telah turut membentuk jiwa kami. Persyarikatan inilah yang membebaskan kami dari kerikatan yang kaku terhadap mazhab-mazhab pemikiran Islam yang sudah berabad-abad usianya. Aku tidak dapat membayangkan sekiranya K.H.A. Dahlan (1868-1923) tidak berjaya membentuk dan mengembangkan Muhammadiyah, tentu sebagian besar

171

rakyat Indonesia, apalagi masyarakat kampungku, akan tetap saja sebagai pemuja kuburan yang dikeramatkan, dan perhatian terhadap orang yang hidup tentu akan kecil sekali. Muhammadiyah dengan demikian adalah gerakan pembebasan teramat penting agar manusia Indonesia tampil sebagai orang merdeka lahir-batin, tidak hanyut dalam arus perbudakan fisikal dan spiritual. Bagiku kemerdekaan adalah bagian yang menyatu dengan bangunan imanku. Dengan demikian, perbudakan dalam bentuk apa pun harus dilenyapkan dan dimusnahkan, karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia. Apalagi jika dikaitkan dengan doktrin tauhid yang hanya kepada Allah sajalah orang boleh menghambakan diri.
IV. MENITI BIDUK KEHIDUPAN

A.

Mulai Dijodohkan Sikitar tahun 1963 pada saat usiaku 28 tahun, terjadi perkembangan baru dalam hidupku, seperti telah kusinggung di depan. St. Ismael Rusyid (wafat 6 September 2005 di Payakumbuh, dikebumikan di Sumpur Kudus 7 Sept.) , teman sekelasku di S.R. Sumpur Kudus dan sepupu jauhku, suami Rahma, anak Sarialam-Halifah, secara diam-diam telah

172

menghubungi etekku Bainah. Teman ini, seorang menteri kesehatan di Simalanggang, Payakumbuh, memang sangat dekat dengan keluarga etekku. Mereka tampaknya telah merundingkan suatu masalah yang kemudian ternyata telah menentukan pula perjalanan hidupku. Lifuarda (namanya sewaktu di S.M.P. Tanjung Ampalu, kemudian kembali menggunakan nama aslinya Nurkhalifah), adik kandung Rahma, dikenalkan kepadaku melalui surat. Tidak hanya dikenalkan, tetapi mau dijodohkan, jika aku dan yang bersangkutan bersedia. Bagiku, ini merupakan hiburan yang membanggakan. Mengapa tidak? Seorang bujang lapuak diincar oleh keluarga kaya yang aku kenal, tetapi terasa sebagai sesuatu yang hampir mustahil. Sebagai seorang yang belum punya pilihan untuk teman hidup, aku sempat termenung. Apakah mungkin seorang gadis belasan tahun dari keluarga berada bisa diajak membicarakan masalah rumah tangga dengan seorang yang tak punya pencarian tetap, sudah tua lagi jika dibandingkan dengan umurnya? Berkecamuk juga perasaanku antara senang dan bimbang. Ibunya Sarialam memang kenal diriku sebagai anak piatu yang kini sedang berada di perantauan. Bukan sebagai pedagang yang mapan

173

seperti umumnya orang Minang, tetapi sebagai mahasiswa dan guru pada beberapa perguruan sewasta yang hidupnya pas-pasan, jika bukan kurang dari itu. Tetapi surat Ismael seakan-akan telah memastikan bahwa Lip (panggilan gadis itu) tidak keberatan. Aku sendiri hampir seusia dengan Rahma (wafat tahun 2003), isteri Ismael yang sudah berumah tangga sejak 1959, tetapi aku juga kenal Lip ini pada saat usianya 13 tahun. Bulan Maret tahun 1957, seperti telah kututurkan, dalam perjalanan pulang ke Sumpur Kudus dari Lombok, aku singgah dan menginap di rumah keluarga ini di Seberang Padang, Padang. Bersamaku, ada sekeranjang bawang dari Lombok yang akan dijadikan bibit untuk dikembangkan di kampung. Seperti biasa, aku diterima dengan baik oleh keluarga ini, dan besoknya aku menompang truk miliknya, kalau mungkin sampai ke Kumanis, pasar gambir dan karet yang terkenal di Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. Ayah Lip adalah seorang pedagang gambir yang terkenal dengan beberapa truk yang menjadi miliknya. Mengapa aku mau singgah di rumah orang kaya ini? Pertimbangannya sederhana: untuk menompang truknya. Alangkah geli bercampur malunya rasanya, bila kukenang ini semua belakangan.

174

Seorang guru Muhammadiyah pulang kampung dari rantau hanya punya biaya pas-pasan untuk naik bus sendiri. Aku agak lupa, sampai di mana aku menompang truknya. Rasanya tidak sampai ke Kumanis, sebab aku singgah dulu di Padang Panjang untuk menemui teman-teman Muallimin Lintau di sana. Baru setelah itu bergerak ke Kumanis untuk kemudian berjalan kaki ke kampung. Semalam di Seberang Padang rupanya telah membentuk kenangan tersendiri bagiku di kemudian hari. Sewaktu aku dan putera-puteri Sarialam-Halifah main remis bersama, ada gadis dengan celana panjang merah, sebentar muncul sebentar menghilang, karena tidak ikut main. Nampaknya si celana merah ini manja sekali. Mungkin saja dia tidak biasa main remis. Dalam hati kecilku aku hanya bergumam, lincah juga gadis ini, rambutnya panjang terurai, matanya tajam. Tetapi hanya sekadar sampai di situ, sebab aku sadar betul akan posisiku, apalagi usia terpaut jauh. Tidak ada fikiran macam-macam pada malam itu. Semuanya berlalu begitu saja. Akan dilirik kakakkakaknya, Rahma (bintang desa) dan Rosma, adiknya, juga tidak mungkin. Apa yang mau ditawarkan oleh seorang guru swasta yang tidak jelas penghasilannya,

175

sementara mereka ini semua hidup dalam kondisi serba ada dalam ukuran ekonomi. Enam tahun kemudian, pada saat situasi politik antara Jakarta dan bekas P.R.R.I. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara, masih belum mendingin betul, sekalipun tokoh-tokohnya telah ditangkap, datanglah surat Ismael di atas. Ingatan pertamaku adalah pada peristiwa Seberang Padang itu: si celana merah dengan rambut terurai itu, dengan sekeranjang bawang yang kubawa dari Lombok langsung ke Teluk Bayur. Ismael jelas berjasa dalam masalah ini. Aku tidak tahu bagaimana cara Mak Sarialam memintanya untuk menemui etekku Bainah di Calau untuk menjajaki persoalan Lip dan aku. Yang juga aku heran adalah: mengapa si kecil ini mau dihubungkan dengan pemuda tua yang jarak usianya sekitar sembilan tahun, miskin lagi. Tak lama kemudian, aku pulang kampung pada tahun 1963 itu, tentu dengan perasaan bercampur-aduk antara senang, ragu, dan malu. Senang, karena akan bertemu dengan si kecil; ragu janganjangan dia sudah berbalik arah dan haluan; malu, karena tak punya apa-apa, sekalipun bajuku ketika itu tidaklah terlalu buruk, hanya badanku agak kurus. Pada waktu itu Mak Sarialam masih hidup, sekalipun sudah

176

sakit-sakitan karena asma. Ke mana aku singgah dulu sebelum ke kampung? Ke mana lagi, jika bukan ke Rimbo Kaluang, rumah si kecil yang baru yang belum beberapa tahun dibangun ayahnya di kawasan elit Padang Baru, Padang. Rumahnya gagah dan kokoh, dibangun di atas tanah 1000 meter persegi. Di depannya beberapa truk biasa diparkir, sebagai simbol keluarga pedagang terkenal, setidak-tidaknya di beberapa kawasan Sumatera Barat, apalagi di kalangan orang kampungku. Truknya diberi nama Sumpur Kudus, diambil dari nama kampung yang sama-sama kami cintai. Dengan truk yang menyandang nama kampung yang biasa berkelana antar propinsi, Sumpur Kudus setidak-tidaknya sedikit dikenal orang ramai. Ayah si kecil adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet, semula dari posisi sebagai sopir selama bertahun-tahun, kemudian menjadi pengusaha yang berhasil secara mandiri. Anda bisa bayangkan seorang guru swasta mau dijodohkan dengan keluarga pengusaha! Apakah ini bukan sesuatu yang lucu? Apakah nanti bisa bertahan lama? Setelah melewati jalan Raden Saleh, aku kemudian berbelok dengan berjalan kaki ke arah rumah si kecil. Dari kejauhan, aku melihat perempuan tiga beradik sedang duduk-duduk di tras beranda

177

rumah. Kalau tak salah, di situ ada Rahma (yang sudah punya anak), ada Rosma (juga sudah punya anak), ada si kecil, yang waktu itu sudah berusia 19 tahun. Jadi bukan kecil lagi sebenarnya. Setelah melihat penampilanku dari kejauhan yang melenggok-lenggok, kabarnya Rahma berkomentar: Tampaknya yang datang itu orang susah! Maklumlah aku agak kurus, mungkin kurang gizi, sekalipun telah merantau sambil sekolah selama 10 tahun sampai saat itu, termasuk merantau dekat ke Lintau selama tiga tahun sebelumnya. Tetapi itulah aku dalam keadaan polos, dalam keadaan apa adanya. Aku memang tidak berbakat jadi aktor, pandai bertanam tebu di bibir. Umpamanya, sebelum berkunjung ke rumah si kecil, aku pinjam pakaian dan sepatu teman untuk menunjukkan bahwa aku orang berada, agar kelihatan agak sedikit parlente, bukanlah caraku, sekiranya di Padang aku punya teman. Jika itu aku lakukan, tentu aku adalah seorang pemain sandiwara yang suka berpura-pura, demi gensi, tetapi tidak autentik. Perkara si kecil kemudian mau berpaling arah, mencari yang lain, aku tentu tak dapat berbuat apa-apa. Sebuah risiko harus dihadang, bukan? Bagi si piatu yang sudah terbiasa malang melintang mengarungi nasib, tidak ada yang harus terlalu dirisaukan. Dalam serba

178

kesederhanaan, aku terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. Masalahnya adalah aku akan berumah tangga. Apakah masih boleh aku berpikir seperti sendirian? Apalagi calonku ini tidak terbiasa hidup miskin. Ini persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan. Galau dan bimbang juga fikiran dibuatnya. Yang aku heran adalah mengapa Mak Sarialam, bibiku Bainah, dan kakakku Rahima bersikeras menjodohkanku dengan si kecil gesit yang biasa manja. Apa pun yang diingininya secara materi selama ini di lingkungan keluarganya selalu tersedia, sementara aku masih terombang-ambing di putaran roda nasib yang tidak menentu. Teman sekelas si kecil di S.M.P. Tanjung Ampalu di akhir 1950-an, Herry Komar (wafat 13 Feb. 2006 di Jakarta), mantan wartawan senior Indonesia, pernah menyebut si kecil sebagai bunga kelas. Apakah kawin dengan bunga kelas ini tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari? Di samping jarak usia yang jauh, juga terbentang jarak psikologis, pengalaman hidup, dan jarak ekonomi yang tentu tidak mudah dijembatani dan dipertemukan. Perasaan semacam ini pada waktu itu memang tidak terlalu tajam kurasakan. Tetapi bibiku dan kakakku demikian kuat mendorong agar aku cepat berumah tangga karena batang usiaku telah bergulir

179

semakin larut, teman-teman sepermainan di kampung sudah beranak pinak, sekalipun secara ekonomi dalam kenyataannya aku sama sekali tidak siap. Bagaimana akan siap, aku belum punya pekerjaan tetap. Sampai tahun 1963 itu, tak secarikpun ijazah sekolah negeri yang terpegang di tanganku. Dalam kondisi semacam itu, aku tak mungkin melamar jadi pegawai negeri. Baru setahun kemudian melalui ujian negara pada Universitas Cokroaminoto Surakarta, aku mendapatkan ijazah persamaan negeri untuk tingkat sarjana muda, di samping ijazah hasil ujian lokal untuk derajat yang sama. Sekalipun aku telah mengantongi dua ijazah B.A. pada 1964, tokh aku tetap saja sebagai seorang setengah penganggur dengan mengajar di sana-sini di daerah Surakarta, demi kelangsungan hidup dalam keadaan tertatih-tatih, sekalipun tidak lapar. Sebelum aku kembali ke Jawa dari kampung pada tahun 1963 itu, ada kejadian kecil yang mungkin baik juga diungkapkan di sini. Si bunga kelas juga pulang kampung beberapa hari kemudian. Sebelum berbelok ke rumahnya, tidak jauh dari Simpang Balai, Sumpur Kudus, pada suatu pagi aku dan teman-teman, termasuk Manirun, kakak sepupuku dari pihak ayah, berselisih jalan dengannya. Ia

180

baru datang dari Padang. Tampaknya ia sangat pemalu, langkahnya bergegas, agak menjauh ke tepi jalan. Seingatku ia pakai baju putih, baju anak sekolah. Kami tidak saling berteguran, sekalipun orang kampung sudah tahu semua bahwa kami telah dijodohkan, bukan atas inisiatif kami berdua. Aku hanya meliriknya sepintas lalu, dia membuang muka ke arah lain. Aku tidak tahu apakah hatinya semakin mantap atau sebaliknya semakin hambar berselisih jalan denganku. Yang jelas aku menyukainya, karena sebelumnya belum pernah aku bercinta secara serius yang menuju ke perkawinan. Si kecil ini ternyata kemudian memang bukan seorang materialistik, yang memburu kekayaan. Kekayaan mana pula yang mau diburu dari seorang aku yang kurang gizi? Tetapi aku harus jujur, dalam perjalanan hidup kami kemudian sekalipun banyak pancarobanya, rezki secara berangsur terus mengalir, khususnya setelah usia perkawinan kami agak lanjut, sebagaimana yang akan kututurkan. Andaikan pada waktu itu dia merasa bosan melihatku, aku akan pasrah, tidak akan pergi ke dukun untuk minta obat pekasih demi melunakkan hatinya. Andaikan pertalian itu akan patah di tengah jalan, aku pun tidak akan bertingkah di luar jalur agama. Aku ini anak

181

Muhammadiyah alumnus Madrasah Muallimin Lintau dan Jogjakarta yang dilarang berbuat macam-macam di luar bingkai dan alur tauhid. Semuanya biar berjalan secara alamiah, sekalipun sekiranya nasib malang yang akan menimpa, tentu batin ini akan terluka juga. Tetapi betapa pun perihnya hati, agama melarangku untuk main mata dengan tukang guna-guna yang di kampungku cara itu masih sering disebut-sebut orang. Dalam perkara ini, aku sangat kokoh, tidak akan berganjak sedikit pun. Inilah di antara jasa Muhammadiyah yang cukup penting dalam membentuk pribadiku. Aku tak bisa membayangkan sekiranya Muhammadiyah tidak berhasil menembus kampungku, tentu aku ini tidak akan pernah mengalami proses pencerahan batin yang teramat menentukan bagi perjalanan hidupku. Bagiku pada sisinya yang terdalam, Muhammadiyah lebih dari pada gerakan sosial keagamaan yang giat menyantuni manusia; Muhammadiyah adalah gerakan pembebasan manusia menuju posisi tauhid sejati dan persaudaraan universal umat manusia dengan segala perbedaan yang ada. Maka salah satu buahnya yang elementer adalah membebaskan manusia dari segala macam bentuk kepercayaan yang menyimpang dari tauhid, yang berbau syirik.

182

Memang di masa kecil aku pernah pula diajar oleh seorang dukun perempuan dari nagari Menganti baca-bacaan yang serba karut itu, jauh sebelum aku mengenal Muhammadiyah. Dukun ini kenal baik dengan bibiku Bainah. Di antara bacaan untuk menyembuhkan penyakit sijundai (semacam sakit kepala) yang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku adalah sebagai berikut (aslinya dalam Bahasa Minang): Hai sungsang, Muhammad sungsang, Qul huwallah sungsang. Akan dirantai Allah-lah engkau, Akan dibelenggu Muhammad-lah engkau. Aku memantrakan obat parang sijundai. Masuk sekalian tawar, Keluar sekalian penyakit Berkat doa, doa Malin Karimun Baris kedua dan ketiga jelas gawat, masakan Muhammad dan ayat Allah dikatakan sungsang. Sungsang artinya kaki di atas kepala di bawah, atau seperti bayi yang lahir kakinya lebih dulu keluar. Aku pun tidak tahu siapa itu Malin Karimun yang disebut itu. Mungkin nama salah seorang dukun dalam legenda Minangkabau yang sudah berbau Islam, sebab ada gelar malin dan ungkapan-

183

ungkapan bernafas Islam. Nama malin di sini dikaitkan dengan orang yang dianggap tahu agama merangkap dukun. Ini tentu berbeda dengan cerita Malin Kundang, si anak durhako dalam Hikayat Sabai Nan Aluih itu. Ilmu andai-andai di atas sengaja kutuliskan dalam kaitannya dengan serba kemungkinan hubunganku dengan si kecil, semata-mata sebagai bunga dan bumbu penuturan, sekalipun di dalamnya termuat juga sebuah keyakinan agama yang mendalam yang menjadi peganganku. Artinya aku tidak boleh oleng menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. Bukankah perjalanan hidupku sampai detik itu belum pernah merasakan apa yang bernama hidup berkelapangan? Pernah berbulanbulan di Solo aku tak pernah merasakan enaknya daging, sebab tak terjangkau oleh kantongku. Pendeknya suasana hidup miskin adalah pakaianku sehari-hari selama bertahun-tahun. Gontai dan tertatih langkah ini untuk berumah tangga pada waktu itu sering benar dibayangi oleh situasi yang serba kekurangan itu. Goncang batinku juga tidak terlepas dari lingkaran situasi yang masih serba melilit itu. Oleh sebab itu, aku paham benar apa makna kemiskinan, apa makna serba kesulitan hidup bagi manusia. Mudah-

184

mudahan semuanya ini akan tetap mendidikku untuk tidak lupa terhadap masa-masa sulitku yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh proses pembentukan diriku. Jangan sampai aku merasa diri seperti orang yang lupa daratan, lupa lautan, tidak memperhatikan orang miskin, tidak peduli terhadap masalah kemiskinan bangsa. Apalagi kemiskinan di Indonesia bukan disebabkan oleh langkanya sumber daya alam yang langka. Penyebab utamanya terletak pada kualitas kepemimpinan pada semua tingkat yang tidak serius mencarikan jalan ke luar dari serba kekurangan yang menimpa rakyat banyak ini. Tidak banyak memang yang dapat kuperbuat kemudian, tetapi dengan segala keterbatasan, aku setidak-tidaknya telah berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak. Sumpur Kudus dan Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung, dan beberapa daerah Muhammadiyah di seluruh tanah air setidak-tidaknya mengerti apa yang aku maksud. Inilah yang sedikit membahagiakan batinku, sekalipun itu semua aku lakukan di saat batang usiaku telah beranjak jauh. Tetapi pada masa itulah kesempatan untuk berbuat itu datang. Ini jelas terkait dengan kiprahku sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah dan masa-masa sesudah itu. Interaksiku

185

dengan tokoh-tokoh lintas agama, lintas kultural, lintas etnis, para jenderal, birokrat, dan pengusaha, Muslim dan nonMuslim, sungguh sangat subur di hari-hari tuaku. Pada tempatnya nanti aku akan mengulas lagi masalah ini. Kita kembali kepada alur cerita semula. Selama beberapa hari di kampung, aku suka juga bertandang ke rumah si celana merah yang disertai Mak Sarialam yang anggun dan dermawan itu. Aku pun tak tahu mengapa ibu yang ramah ini mau menjodohkan anaknya denganku, apakah ada akar sejarah masa lampau, tidak jelas bagiku. Orang tua seorang teman di kampung kabarnya pernah pula mendatangi Mak Sarialam untuk menjodohkan anaknya dengan si kecil. Entah bagaimana akhirnya, tidak ada kelanjutannya, sementara si kecil kabarnya tidaklah keberatan benar. Itu aku dengar sendiri dari si kecil setelah ia kemudian menjadi isteriku. Aku hanya senyumsenyum ketika mendengarnya, sebab siapa tahu, sekiranya itu menjadi kenyataan, mungkin si kecil akan lebih bahagia bersamanya dibandingkan hidup bersamaku. Sudahlah, ini perkara jodoh, kita tak perlu selidik menyelidik lagi. Kita terima suratan nasib sebagaimana adanya, kemudian hadapi kenyataan secara wajar dan penuh optimisme. Jika muncul

186

masalah, selesaikan sebaik dan seadil mungkin. Beberapa kali aku bertandang ke rumah si kecil selama di kampung sungguh menyenangkan, sekalipun ia tidak terlalu terbuka untuk menyampaikan isi hatinya. Mungkin karena jarak usia yang jauh, yaitu sembilan tahun, menjadi salah satu kendala baginya untuk berkata terus terang. Aku pun tidak bisa bertutur banyak tentang masa depan, karena aku belum punya peta masa depan. Aku belum punya pegangan apa-apa dalam masalah ekonomi. Aku masih gamang. Apa yang mau diucapkan tentang kemungkinan masa depan segala. Bukankah semuanya itu belum ada dalam agendaku? Mengapa mau bicara agenda segala, apa yang akan diagendakan? Seperti seorang pengusaha saja dengan menyusun anggaran segala! Aku tak perlu malu mengatakan bahwa aku tak punya agenda apa-apa, tetapi itulah aku dalam keadaan polos, lugu, dan mungkin kekanak-kanakan. Paman, abang, dan famili yang lain, juga tidak memberi saran apa-apa, karena mereka pun telah terlalu sibuk dengan urusan diri dan rumah tangganya masing-masing. Wawasan mereka pun sebatas kecamatan, kabupaten, dan sedikit sebatas propinsi. Bukankah pada masa itu, ekonomi bangsa sedang morat-marit di bawah sistem D.T.

187

(Demokrasi Terpimpin, 1959-1966) dengan politik mercu suar yang tidak berpijak di bumi? Politik sebagai panglima! Sumpur Kudus sebagai bagian tersuruk dari Indonesia, tidak pelak lagi juga merasakan dampak buruk dari cara Jakarta mengurus negeri yang sedang kelaparan itu. Ditambah lagi konfrontasi dengan Malaysia yang banyak menyedot energi dan perhatian publik, sebuah kebijakan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari suasana perut keroncong karena negara dibiarkan berada dalam kondisi centangperenang secara ekonomi dan politik. Dengan kalimat lain, Indonesia pada waktu itu adalah sebuah Indonesia yang sedang terkapar, lapar, karena kesalahan pemimpin di tengah-tengah kerumunan rakyat yang menderita penyakit amnesia (pelupa). Bung Karno sebagai P.B.R. (Pemimpin Besar Revolusi) tetap saja berpidato di mana-mana, membakar semangat rakyat yang sering kedinginan lantaran perut kosong. Antri beras, antri minyak, antri sabun, antri garam, antri bensin dan antri apa lagi, merupakan pemandangan dan panorama sehari-hari pada masa itu. Atapatap rumah, gedung-gedung, sekolah, semuanya dihiasi dengan tulisan ManipolUsdek dengan huruf-huruf besar untuk menunjukkan bahwa revolusi belum

188

selesai. Partai-partai yang masih tersisa turut pula dalam koor manipolis itu dengan segala kepura-puraan yang memuakkan mereka yang siuman. Selama periode yang panas ini, apa yang dikenal dengan pelacuran intelektual terjadi secara besarbesaran dalam masyarakat Indonesia. Dalilnya adalah: If you cannot beat them, join them. (Jika anda tidak mampu memukul mereka, ikuti mereka). Kebanyakan orang telah menjual hati nurani dan kemerdekaan pribadinya, demi keamanan dan kelangsungan hidup yang serba sulit dan penuh risiko. Warga negara terbelah menjadi dua: pendukung atau pengeritik konsep revolusi yang tak pernah selesai itu. Di antara pengeritik yang paling vokal, argumentatif, dan berpengaruh adalah Bung Hatta yang menulis artikel dalam majalah Panji Masyarakat bulan Mei 1960 dengan judul Demokrasi Kita. Dalam artikel inilah Hatta meramalkan bahwa sistem kekuasaan otoritarian itu tidak akan bertahan lama, paling-paling seumur penciptanya. Sekalipun Hatta tidak ditangkap, majalah pimpinan Hamka itu akhirnya diberangus. Dalam sejarah kontemporer Indonesia tulisan Hatta ini (sudah dicetak dalam bentuk buku kecil) telah menjadi klasik. Sudah lebih 40 tahun karya penting ini tetap saja dikutip manakala orang berbicara tentang

189

masalah demokrasi di Indonesia. Hatta menurut penilaianku adalah seorang demokrat dalam teori dan praktik par excellence. Dialah sebenarnya Bapak Demokrasi Indonesia yang autentik. Suasana politik bangsa panas sekali. Rasanya kita sedang berada dalam kondisi kebingungan dan konflik semesta. Aku yang sudah agak mengerti politik dan simpatisan berat Partai Masyumi yang telah dibubarkan, sungguh merasa amat terpukul oleh situasi yang serba manipolis itu. P.K.I. (Partai Komunis Indonesia) yang memang terlatih dalam jor-joran politik berperan amat sentral dalam mendukung konfrontasi Bung Karno. Partai-partai lain pada umumnya tinggal menari saja mengikuti irama genderang yang sedang ditabuh, termasuk partai-partai Islam selain Masyumi. Genderang politik manipolis serta yel-yel konfrontasi dengan semangat tinggi adalah panorama sehari-hari. Aku pun heran, kecuali Hatta dan para pengikutnya, tokoh-tokoh yang dulu pernah ditempa oleh dan dalam P.I. (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda seperti turut menikmati bunyi genderang manipolis itu. Ternyata akal sehat dalam situasi tidak menentu sering tidak berfungsi secara wajar. Ini yang terlihat dalam sikap sebagian alumni P.I. yang mendukung D.T.

190

Orang boleh mengeritik dan menyayangkan sikap mereka mengapa harus demikian, tetapi itulah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Salah seorang tokoh P.I., Ali Sastroamidjojo, diplomat ulung, mantan duta besar di Washington D.C., dan dua kali menjabat perdana menteri sebelum era D.T., juga larut dalam kompetisi manipolis ini, terpaksa atau sukarela, aku tidak tahu. Otak normal sulit sekali membaca peta politik yang sedang berkembang. Sesungguhnya Ali sebagai formatur kabinet pasca Pemilu 1955 pernah melihatkan taringnya sewaktu membentak Bung Karno karena dipaksa juga membentuk kabinet berkaki empat dengan memasukkan P.K.I., tetapi yang ditolak oleh partai-partai lain. Akhirnya Bung Karno menyerah, maka kemudian terbentuklah Kabinet A.R.I. (Ali-Roem-Idham, P.N.I.Masyumi-N.U.), sekalipun Bung Karno gerah dibuatnya. Tetapi mengapa kemudian Ali seperti tidak berkutik pada masa D.T? Inilah politik yang kadangkadang sulit dikalkulasi dan dipahami oleh pikiran jernih dan rasional. Sejarah Indonesia pasca proklamasi sarat dengan contoh-contoh yang lucu-lucu tetapi melelahkan ini. Di mana rasionalitas, di mana akal sehat, aku pun tidak bisa menjelaskannya.

191

Sungguh luar biasa Indonesia pada waktu itu. Romantisme perjuangan telah mengalahkan akal sehat dengan segala akibat buruknya. Menengok fenomena ini, kita sebenarnya tidak perlu terlalu heran, sebab Jerman yang maju itu, dari buminya telah lahir puluhan filosuf, pernah pula memuja Hitler yang haus darah dan ekspansif selama bertahun-tahun, termasuk filosuf eksistensialis Martin Heidegger (1889-1976) yang membingungkan kalangan yang masih berpikir nalar. Semua noda hitam sejarah ini tidak mungkin dihapus dari memori kolektif kita, kita tinggal memberikan penafsiran yang cerdas dan jujur mengapa semuanya harus itu terjadi dalam kondisi dan situasi tertentu, dan diharapkan tidak terulang lagi. Dalam suasana politik semacam itulah aku menganyam dan menjalin cinta dengan si kecil. Tentu akan ada yang bertanya, apa pula hubungan cinta dengan revolusi yang tak kunjung selesai menurut Bung Karno? Pertanyaan semacam ini biarlah tetap menggantung, karena tidak ada jawabannya. Aku pun tidak tahu apakah cinta itu tertarik revolusi atau ungkapan-ungkapan politik yang membosankan. Usiaku pada waktu itu sudah 28 tahun, sebuah usia yang layak untuk berumah tangga. Aku tidak bertanya

192

apakah si kecil mengikuti politik atau tidak. Baginya serba kesulitan mungkin tidak begitu terasa karena roda bisnis ayahnya masih berputar dan bergulir, sekalipun mulai agak melemah. Berbeda denganku yang gamang menentukan langkah, karena ketidakpastian ekonomi yang membayangiku selama bertahun-tahun dalam usia dewasaku. Bagaimana mau menikahi seseorang, sementara awak tak punya apa-apa. Jadi bila akhirnya aku kawin dengan si kecil, itu adalah bagian dari sikap nekatku. Mengapa dia mau kawin dengan seorang yang nekat, inilah pertanyaannya, sementara tidak sedikit pemuda yang telah lama mengintainya, tetapi aku tak pernah cemburu kepadanya, seperti dia cemburu kepadaku kemudian. Bukankah dia bunga kelas dalam pandangan Bung Herry Komar, wartawan kawakan Indonesia, temannya sewaktu belajar di S.M.P. Tanjung Ampalu di masa pergolakan daerah, seperti telah disebut sebelumnya? Dampak P.R.R.I., 1958-1963, yang melawan Jakarta sungguh gawat bagi Sumatera Barat, dan Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusatnya, seperti halnya P.D.R.I. pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan. Sejak itu sosok Sjafruddin telah menjadi tokoh

193

kontroversial dalam sejarah kontemporer Indonesia sampai hari ini. Seharusnya dua situasi sejarah yang berbeda tajam itu jangan dicampuraduk. Dapatkah orang membayangkan sebuah republik yang sedang panik tanpa P.D.R.I.? Aku sangat hormat kepada Sjafruddin karena integritas pribadinya sebagai salah seorang pemimpin bangsa yang moralis, tetapi keterlibatannya dalam P.R.R.I. perlu kajian ulang. Apakah memang tidak ada cara lain pada waktu itu untuk menginsafkan Bung Karno agar tetap setia kepada U.U.D. 1950 selain memberontak yang ternyata berakibat fatal bagi keutuhan Indonesia, di samping darah anak bangsa yang tak berdosa telah banyak pula yang tertumpah secara sia-sia? Jawaban terhadap pertanyaan semacam ini belum selesai di otakku sampai sekarang. Aku yang semula pro-P.R.R.I., tetapi melihat korban yang begitu banyak, perlu mempertanyakan cara-cara berjuang untuk menekan Jakarta dengan membentuk pemerintah tandingan. Soekarno dengan egonya yang kelewat besar menjadi tidak stabil bila dilawan dengan senjata pemberontakan itu. Bukankah Bung Karno dalam istilah W.S. Rendra adalah penganut doktrin daulat tuanku? Di usia tuaku, aku bersahabat dengan anak-anak dan menantu Sjafruddin, karena

194

kami sama-sama sering berbicara tentang P.D.R.I. yang selama sekian tahun tidak dihargai oleh Jakarta. Bahkan Bung Karno dalam Pidato 17 Agustus 1950, setelah Sjafruddin baru saja menyerahkan mandat kepadanya bulan Juli 1949 sebagai Ketua P.D.R.I., sama sekali tidak menyebut P.D.R.I. dan pemimpinnya, padahal pemerintahan gerilya ini selama tujuh bulan yang kritikal adalah penyelamat Republik Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di istana Jogjakarta. Memang harus diakui secara jujur bahwa bintik-bintik hitam sebenarnya tidak elok berlaku dalam sejarah modern Indonesia, jika pemimpinnya berjiwa besar dan demokratik. Demokrasi Indonesia lebih banyak dituturkan dari pada dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Aku yang pada masa itu pro-P.R.R.I., seperti baru saja kukatakan, belakangan mulai mempertanyakan sikapku itu, apakah sudah benar atau karena larut dalam emosi anti komunis yang mendukung Manipol-Usdek. Situasi saat itu sangat sulit bagi mereka yang bersikap kritikal, apalagi bagi simpatisan Masyumi dan P.S.I. yang aku heran adalah sikap rakyat umumnya tetap saja terpaksa mendukung rezim otoritarian itu, sekalipun mereka lapar. Sungguh berlaku yang aneh-

195

aneh, ada kalanya kita sulit memahami sikap politik rakyat banyak. Karena Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusat P.R.R.I., adik sepupuku Azwar Makruf (siswa S.M.P. kelas 1), putera Mattudin Rauf-Sarikayo terbunuh kena bom pada saat pesawat A.U.R.I. menjatuhkan bom di desa itu. Sebuah kehilangan yang berat bagi kami. Azwar adalah adikku yang sangat lincah dan pandai bergaul. Dia panggilku kakoncu. Sampai hari ini suara Azwar masih terngiang-ngiang di telingaku. Dia korban sengketa politik daerah-pusat, seperti ratusan anak Minang yang lain yang juga menjadi korban. Sungguh peristiwa ini sangat menyayat hati, seorang anak manusia tak berdosa harus terbunuh dalam konflik elit politik bangsa. Siapa yang bertanggungjawab dalam tragedi seperti ini? Rakyat kecil hanya korban. Korban sengketa politik para elit bangsa yang sering lupa diri. Tidak memikirkan nasib rakyat kecil yang menderita karena kelakuan mereka. Kembali kepada dunia dagang ayah si kecil. Dengan susah payah pak Halifah membangun dan mempertahankan dunia bisnisnya dalam situasi yang serba manipolis itu. Entah sudah berapa harta bendanya dikorbankan semasa krisis itu. Di pedesaan P.K.I. juga mengganas dan merajalela karena merasa sedang berada

196

di atas angin. Jumlah anggota P.K.I. di Kecamatan Sumpur Kudus tidak seberapa, tetapi situasi politik sungguh berpihak kepada mereka. Bahkan posisi sebagai sebagai Wali Nagari Sumpur Kudus pernah dijabat oleh seorang P.K.I. dari suku Caniago, bukan karena dipilih, tetapi karena diangkat. Bayangkan ketika itu, P.K.I. dapat menyelusup ke kampung yang sangat jauh itu, dan sekaligus menjadi wali nagari. Semuanya ini berlaku terutama karena P.R.R.I. kalah perang. Bukankah di antara isu politik yang diangkat P.R.R.I. adalah isu anti komunisme? Untungnya ayah si kecil tidak dikenal sebagai orang politik, sehingga usaha dagangnya masih bisa berjalan di sela-sela kemelut politik yang panas itu. Sebagai seorang yang merangkak dari bawah dalam dunia dagang, ayah si kecil demikian piawai dan tabah dalam mengatasi berbagai rintangan yang datang silih berganti. Sikap optimisme dalam berdagang tidak pernah surut. Dalam keadaan sulit, naluri saudagarnya berdansa terus. Barulah setelah ditinggal mak Sarialam pada 1964, ayah si kecil tidak terlalu berjaya lagi dalam membangun bisnisnya, khususnya dagang gambir dan karet yang diangkut ke Padang. Mak Sarialam dikenal sebagai perempuan yang bertangan dingin dalam

197

mendampingi suaminya, mengelola perusahaan, sekalipun tidak secara langsung. Rupanya peran isteri dalam karier suami sering sangat menentukan, tidak saja di dunia dagang, tetapi juga di arena kehidupan yang lain. Aku pun merasakan betul seorang isteri dalam setiap langkah yang kuayunkan. B. Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah Aku kembali ke Solo tahun 1963 itu juga, jika ingatanku tidak salah. Si kecil kembali ke Padang meneruskan sekolahnya ke S.M.A. Negeri di sana. Aku dan si kecil bersama rombongan berangkat meninggalkan kampung dengan jalan kaki ke Kumanis untuk kemudian naik bus menuju tempat persinggahan masingmasing. Sebelum meninggalkan kampung mak Sarialam telah membuatkan rendang daging sapi untuk kubawa ke Jawa. Terlalu baik dan lembut calon mertuaku ini, mungkin lebih lembut dibandingkan si kecil yang sering keras kepala. Sayang sekali usia Mak Sarialam tidak berlanjut sampai pada saat kami berumah tangga. Damailah di sana, di seberang makam, wahai mertuaku yang baik hati! Selama ini dalam soal perjodohan dan perkawinan anak-anaknya, peran mak Sarialam begitu besar, sementara pak

198

Halifah biasanya tinggal menyetujui saja siapa pun yang akan menjadi calon menantunya. Semua diserahkan kepada mak Sarialam yang anggun ini. Tetapi ada satu hal yang memberi harapan bahwa pak Halifah akan membantu biaya perkuliahanku jika aku meneruskan sekolah setelah kawin dengan anaknya. Sesunggguhnya perasaan kecilku tidak terlalu enak dijanjikan biaya semacam ini setelah kawin, tetapi aku sedang kepepet, tidak punya pilihan lain. Kapan pula aku tidak kepepet? Jika kukenang sekarang, aku merasa malu, sekalipun bapak si kecil akan dengan tulus memberi bantuan itu. Bukankah kedua orang tua si kecil dikenal dermawan? Di Solo aku kembali mengajar di berbagai sekolah demi kelangsungan hidup. Sampai Desember 1964, aku dan si kecil selalu bersurat-suratan, saling menjajaki. Selama masa pertunangan itu berbagai berita tentang aku telah sampai kepada si kecil. Salah satunya adalah info yang diterimanya bahwa aku sudah punya anak di Baturetno. Akibatnya si kecil menderita dan tertekan sekali, padahal aku bukanlah pribadi seperti yang digambarkan info itu. Memang sekiranya aku punya mata pencarian tetap sebelumnya, mungkin aku sudah lama berumah tangga, entah di mana. Kenyataannya, jangankan

199

menghidupkan orang lain, menghidupi diri sendiri saja bertele-tele. Sejak di Muallimin Lintau, Jogja, sampai tahun 1960-an itu, aku belum pernah merasakan hidup lapang yang layak untuk dibanggakan. Aku adalah di antara anak Minang yang tidak terjun ke dunia dagang, karena masih ingin sekolah juga, sekalipun harus hidup menderita. Apalagi pada era D.T., kondisi ekonomi bangsa benar-benar terpuruk dan sarat tangis rakyat lapar. Jangankan orang seperti aku yang saban hari mengais ke sana ke mari, para pegawai pun yang berpenghasilan tetap menjerit dihimpit dan dililit serba kekurangan. Jodoh memang tidak dapat direncanakan. Begitulah aku dan si kecil akhirnya berumah tangga setelah diterpa berbagai info yang negatif tentang diriku, tetapi pertunangan tidak sampai kandas di tengah jalan. Cincin pertunangan yang dipasang di jari si kecil jangan dikira aku yang membelikan. Dia beli sendiri. Dengan apa kubelikan, bukan? Tetapi ada yang sedikit menghibur. Si kecil pernah mengatakan sebelumnya kepadaku bahwa ia ingin merantau, tidak akan betah tinggal di Sumatera Barat, apalagi ibu yang sangat dekat dengannya telah dipanggil Allah pada bulan Juli 1964. Pertemuan terakhirku dengannya adalah sewaktu memberikan rendang ke tanganku. Rendang ini kubawa

200

sampai ke Jawa. Terima kasih mak! Sejak bertunangan, batinku rasanya sudah agak tenang, sekalipun gamang juga bila mengingat bagaimana nanti menghidupi anak orang yang terbiasa manja, sangat kontras dengan perjalanan hidupku. Awal 1965 aku pulang kampung untuk menikah. Secara materi aku tak punya bekal apa pun, termasuk tidak punya persiapan untuk sekadar membayar mas kawin. Tetapi inilah potretku yang sebenarnya yang tak perlu kututupi. Si kecil tahu betul keadaanku, tetapi sebuah pertanyaan tetap saja belum hilang dari hatiku: mengapa dia mau? Jawaban yang paling sederhana adalah karena suratan nasib sudah menetapkan begitu. Jawaban lain adalah memang kami sedang mencari jodoh masing-masing. Perkara kondisi tidak seimbang, baik dalam umur mau pun dalam ekonomi, adalah di antara persoalan yang harus dihadapi dan dipecahkan. Dari pihak keluargaku, kakak, paman, dan lainlain, tidak ada bayangan akan membantu proses perkawinanku ini. Seakan-akan aku dibiarkan berjalan seorang diri. Bahkan sebagian khawatir bahwa aku akan menjadi pengiring truk milik ayah si kecil, sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku. Dan si kecil pun tidak akan membolehkanku berstatus sebagai pengiring itu. Si kecil memang berhati

201

keras. Seluruh saudara kandungnya berpendapat demikian. Kekuatannya terletak pada sifatnya yang mudah tersentuh melihat orang menderita. Sifat ini tampaknya menetes dari darah orang tuanya. Dalam masalah ini, aku banyak belajar padanya. Memang kawin dengan keluarga berada bisa mengundang berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi. Banyak sudah contoh yang dialami orang lain. Tetapi apakah aku harus pula seperti itu? Perkembangan selanjutnya ternyata tidak demikian. Kalau ditanya siapa yang paling proaktif dalam proses perkawinanku ini? Jawabannya jelas, yaitu etek Bainah dan kakakku Rahima, tetapi ekonomi mereka juga pas-pasan, tidak mungkin mampu mengeluarkan biaya yang sederhana sekalipun. Pedih juga rasanya bila mengenang ini semua. Untungnya, baik etek mau pun kakakku punya hubungan yang sangat baik dan erat dengan mak Sarialam. Mungkin inilah di antara modal mereka untuk menjodohkanku dengan si kecil. Etek dan kakakku sudah terlalu terpukau oleh si kecil, entah apa sebabnya. Mungkin saja karena mereka tidak ingin aku hilang di rantau, sebagaimana banyak yang menimpa si Minang. Suami etekku A.Wahid, entah dari mana ia dapat

202

ilmu, memang pernah mengatakan bahwa si kecil adalah ibarat jawi bangka yang bertuah. Entahlah! Aku tidak berfikir apakah bertuah atau tidak, sebab itu akan tergantung kepada kesediaan pasangan untuk memahami satu sama lain untuk membina hidup bersama, sesuatu yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. Dua makhluk lain jenis dengan latar belakang yang berbeda dan usia yang berjarak jauh tentu perlu pendekatan khusus. Di sinilah terletak salah satu kelemahan dan kekuranganku. Pada tingkat usia 30 tahun itu, seharusnya aku punya kearifan dalam memahami calon isteriku. Ternyata itu tidak kumiliki. Kukira semuanya akan lancar begitu saja setelah akad nikah. Aku dinikahkan oleh engku kadi Sumpur Kudus, tokoh spiritual Perti, sesudah salat Jumat di masjid Rajo Ibadat pada tanggal 5 Februari 1965 di rumah si kecil yang dikenal dengan kawasan Mandahiling dalam sebuah upacara sederhana. Engku kadi mengatakan bahwa aku dengan lancar mengucapkan lafaz akad nikahku. Bagaimana tidak akan lancar, bukankah aku alumnus madrasah Muallimin dari dua tempat? Biaya perkawinan sepenuhnya ditanggung oleh keluarga si kecil. Potong kambing segala, tetapi jelas tidak ada kemewahan dalam serimoni itu. Ini berbeda kabarnya dengan

203

upacara perkawinan kakak-kakak si kecil sebelumnya yang relatif meriah. Ini dapat dipahami karena dua hal. Pertama, mak Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya, sehingga peran utama yang biasa dimainkannya tidak ada lagi yang dapat menggantikan. Kedua, sekalipun kekayaan keluarga si kecil masih ada, tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian mak Sarialam. Kedua faktor inilah tampaknya sebagai penyebab mengapa pesta perkawinan kami berjalan biasa saja, sekalipun cukup membahagiakan. Kenekatanku akhirnya memetik hasil. Masa membujangku berakhirlah sudah. Etekku Bainah dan kakakku Rahima bulan main senangnya, karena buah kelapa tidak sampai jatuh di tanah rantau. Pemuda Sumpur Kudus mendapatkan gadis Sumpur Kudus, sekalipun lahirnya di Payakumbuh pada saat orang ayahnya memusatkan bisnisnya di sana. Payakumbuh tempatku menempuh ujian persamaan Muallimin se Sumatera Tengah pada 1953. Sekalipun upacara perkawinan kami berlangsung sederhana, si kecil, untuk seterusnya kupanggil Lip, sempat juga berarak keesokan harinya ke rumah etekku Bainah, sebuah tradisi kampungku yang masih bertahan sampai sekarang. Seharusnya Lip berarak ke rumah kakakku

204

Rahima dari suku Caniago, tetapi etekku Bainah dari suku Melayu telah lama berfungsi sebagai pengganti ibuku. Maka akan sangat eloklah kalau Lip dengan rombongan dengan pihak keluarganya berarak ke sana dengan berjalan kaki sepanjang dua km. Aku tak ingat berapa jumlah rombongan itu, sementara aku menunggunya di rumah etekku itu bersama teman-teman dengan perasaan gedebak-gedebur. Indah juga untuk dikenang upacara dalam tradisi kampung model ini, sekalipun jauh dari suasana mewah. Di atas sudah kusinggung nama Nasaruddin, kakak Lip atau kakak iparku yang kupanggil uda Nasar. Selama beberapa tahun uda Nasar menjadi pengikut agama lain, entah apa penyebabnya. Beberapa hari sebelum perkawinanku, aku berdebat dengannya tentang masalah agama bertempat di sebuah madrasah Sumpur Kudus. Yang hadir ramai sekali, termasuk abangku Nursahih. Aku tidak ingat berapa lama perdebatan itu berlangsung. Di akhir perdebatan uda Nasar mengakui bahwa Islam adalah agama yang lebih masuk akal, tetapi ia masih tetap dalam agamanya. Sebenarnya pihak keluarganya, khususnya mak Sarialam sangat risau dan gundah dengan perpindahan agama

205

anaknya ini. Apalagi penduduk Sumpur Kudus 100% sebagai pemeluk Islam, kecuali seorang kakak iparku itu. Di akar rumput, masalah pindah agama ini sangat peka dan jadi omongan tak habis-habisnya sampai di kedai-kedai. Alhamdulillah beberapa tahun yang lalu uda Nasar sudah kembali kepada agama aslinya, yaitu Islam. Karena kejadian ini untuk ukuran kampung merupakan sesuatu yang penting, maka kami mengadakan upacara syukuran di rumah Mandailing dengan memotong kambing. Hampir semua orang penting tingkat nagari diundang untuk menyaksikan kejadian itu. Aku jelas bersyukur karena pada akhirnya kerisauan keluarga gara-gara pindah agama dari seorang anggotanya telah terobat. Uda Nasar pada saat syukuran itu memakai kopiah hitam, dan semua yang hadir menyalaminya tanda senang dan gembira. Dengan kembalinya uda Nasar ke pangkuan Islam, maka angka 100% pemeluk Islam di Sumpur Kudus menjadi sempurna kembali. Bukan main pihak keluarga senangnya, sebab apabila wafat pada suatu saat tidak akan ada lagi masalah dalam proses upacara penguburan jenazahnya. Bagiku kejadian ini tentu mengingatkan perdebatan sekitar puluhan tahun yang lalu, tetapi yang ketika itu belum

206

membuahkan hasil yang berarti. Sekarang dari sisi agama, tidak ada lagi penduduk Sumpur Kudus yang beragama lain selain Islam, sekalipun belum tentu semua menjalankan ibadah harian. Sayangnya, mak Sarialam dan pak Halifah sudah lama wafat ketika anak yang dirisaukannya itu telah kembali kepada agama yang dianut ibu-bapaknya. Perkara rajin salat atau malah sering ditinggalkan adalah masalah disiplin yang perlu latihan terus menerus. Kekurangan Sumpur Kudus belakangan ini adalah langkanya guru agama yang mampu menyampaikan Islam dengan bahasa sederhana, tetapi mencakup nilainilai fundamentalnya yang universal, tahan bantingan sejarah. C. Belajar Sambil Bekerja Sewaktu aku menikah usiaku sudah 30 tahun dan belum punya pekerjaan tetap, seperti telah kujelaskan. Tingkat pendidikanku baru sarjana muda dari F.K.I.P. Universitas Cokroaminoto Surakarta pada 1964. Setelah beberapa hari di kampung, aku dan Lip berangkat ke Padang untuk tinggal sementara di rumahnya di kawasan Padang Baru Barat dalam persiapan untuk ke Jawa. Ke mana? Tentu ke Solo dulu karena aku masih punya harapan untuk dapat meneruskan sekolah pada tingkat doktoral F.K.I.P. jurusan

207

sejarah Universitas Cokroaminoto, sesuatu yang ternyata tidak menjadi kenyataan. Lip yang jarak usianya terpaut jauh denganku mulai gelisah di Solo karena merasa tidak enak untuk terus menompang di rumah uni Nudiar, anak pak Burhan, induk semangku sewaktu aku menjadi pelayan tokonya di Solo. Kegelisahan itu dipicu lagi oleh kabar bahwa aku katanya pernah akan dijodohkan dengan seorang gadis asal Sulit Air yang sudah lama menetap di Solo bersama keluarganya sebagai pedagang buku dan alat tulis. Kabar itu sebenarnya tidak betul, sebab tidak mungkin seorang gadis anak pedagang mau menjadi isteri si penganggur. Anak itu memang datang ke rumah uni Nudiar, tetapi Lip tidak mau ke luar kamar untuk menemuinya. Terjadilah sedikit gesekan antar kami, tetapi hikmahnya cukup besar, yaitu mempercepat proses keberangkatan ke Jogja untuk meneruskan kuliah di I.K.I.P. Negeri Yogyakarta. Bukankah aku sudah punya ijazah negeri tingkat sarjana muda melalui ujian negara? Sekalipun sudah lengkap dengan ijazah negeri, pada mulanya cukup sulit bagiku untuk mendaftarkan diri pada F.K.I.S.I.K.I.P. Yogyakarta jurusan pendidikan sejarah. Drs. Lafran Pane, pendiri H.M.I. (Himpunan Mahasiswa Islam) pada 1947,

208

adalah pembantu dekan I pada fakultas yang akan kumasuki itu tidak mudah menerimaku, entah apa sebabnya. Berbagai upaya telah kulakukan agar bisa meneruskan kuliah. Maka bantuan Drs. Wuryanto, ketua jurusan pendidikan sejarah F.K.I.S. (kemudian jadi professor dan pernah pula jadi rektor I.K.I.P. Semarang dan anggota D.P.R. R.I.) sangat besar untuk memuluskan jalanku memasuki perguruan tinggi ini dengan memberiku surat rekomendasi agar aku diterima. Juga bantuan Komandan Lasykar Ampera Padamulia Lubis (alm.) yang mengantarkanku menemui Lafran Pane menguatkan rekomendasi Pak Wuryanto. Jika aku tak salah ingat Drs. M. Sanusi Latief yang pada saat itu sudah menjadi dosen I.A.I.N. Sunan Kalijaga Jogjakarta juga menulis surat kepada Lafran Pane agar aku dapat diterima. Melalui berbagai upaya itu, akhirnya aku dapat diterima untuk tingkat doktoral F.K.I.S.-I.K.I.P. Yogyakarta, sementara biaya kuliahku dibantu oleh pak Halifah, mertuaku. Karena aku tak punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri, sahabatku sewaktu kuliah di Cokroaminoto alm. Bakir Amir sungguh sangat berjasa membantu mengatasi kesulitanku dalam masalah tempat tinggal ini. Kami ditawarkannya untuk tinggal di rumah

209

ibunya Nyai Amir di Kotagede Jogjakarta, sekitar 6 km dari kota tanpa menyewa. Nyai Amir adalah kakak seibu Prof. Abdul Kahar Muzakkir, salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Prof.Kahar sendiri tinggal hanya beberapa meter saja jaraknya dengan rumah Nyai Amir. Kami hampir selalu berjamaah salat maghrib di emper rumah Nyai Amir dengan Prof. Kahar sebagai imamnya. Banyak pengalaman yang kudapat selama menetap di Kotagede ini. Selain memperoleh ilmu dari Prof. Kahar dalam berbagai pertemuan, aku juga sering diminta jadi khatib Jumaat di Masjid Gede Kotagede dan Masjid Perak, tempat alm. K.H. Amir (suami Nyai Amir) mengasuh dan memberikan pengajian. Kiyai Amir pernah menjadi anggota Majelis Tarjih P.P. Muhammadiyah, tetapi aku tak sempat menjumpainya karena sudah wafat sewaktu kami tinggal di Kotagede. Informasi yang sampai kepadaku adalah bahwa Kiyai Amir adalah seorang alim besar yang sangat dihormati oleh umat Islam umumnya, apalagi oleh kalangan Muhammadiyah. Keuntungan lain yang kudapat di Kotagede adalah perkenalanku dengan Kiyai Djafar Amir (sekarang alm.), abang Bakir Amir, seorang penulis buku-buku pelajaran agama untuk sekolah. Aku

210

diajaknya menulis bersama. Tentu aku menjadi senang karena setidak-tidaknya dapat menambah sumber biaya hidup kami. Dia sendiri adalah guru P.G.A. Negeri Surakarta. Ada beberapa judul buku pelajaran sekolah yang kami tulis bersama yang diterbitkan oleh Penerbit Kota Kembang Jogjakarta, milik seorang pedagang Sunda. Sekalipun honorarium yang kuterima tidak banyak, kegiatan sampingan ini ada juga manfaatnya, yaitu aku telah turut menulis buku pelajaran untuk kepentingan siswa. Buku-buku itu meliputi: sejarah Islam, masalah ibadah, dan masih ada yang lain yang aku tak ingat lagi, karena arsipnya sewaktu menulis autobiogarfi ini belum ketemu. Di Kotagede inilah kami mengalami peristiwa G30S/P.K.I. yang kemudian mengakhiri sebuah periode sejarah Indonesia, dari era Bung Karno ke era Pak Harto bersama Generasi 66 yang banyak dipuja dan dielukan kala itu. Peralihan periode ini sungguh dramatis dan bermandikan darah. Perang saudara sesama anak bangsa tidak dapat dihindari. Kekuatan komunis yang merajalela sebelumnya harus berhadapan dengan kekuatan anti-komunis dengan intinya Angkatan Darat plus anak-anak K.A.P.P.I. (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan K.A.M.I. (Kesatuan Aksi Mahasiswa

211

Indonesia). Yel-yel anti-komunis bertaburan di mana-mana. Situasi bangsa sangat genting dan berbahaya. Peranku selama masa bergolak itu tidak ada yang penting. Sekalipun masih mahasiswa, usiaku sudah bergerak tua, berkeluarga, miskin lagi. Selama setahun lebih tinggal di Kotagede, pada bulan Maret 1966 lahirlah anak kami yang pertama di P.K.U. Muhammadiyah Jogjakarta yang kami beri nama Salman. Kondisi ekonomi kami jauh dari memadai, sementara aku sedang kuliah. Ada tawaran dari pak Halifah untuk menambah kiriman, tetapi Lip dan aku tidak sampai hati mengiyakannya. Untuk perlengkapan tempat tidur, hanya Salman saja yang kami belikan kasur pendek, sementara Lip dan aku tidur tanpa kasur. Bagiku keadaan semacam ini tidaklah menjadi persoalan besar, karena sudah terbiasa sejak kecil. Tetapi bagi Lip tentu sangat tidak nyaman. Namun itulah yang harus dijalani dengan penuh keprihatinan, sekalipun aku kemudian diterima menjadi tukang koreksi membantu alm. A. Bastari Asnin untuk majalah Suara Muhammadiyah, pimpinan alm. H.A. Basuni, B.A. dan alm. Mohammad Diponegoro. Di samping sebagai korektor, aku juga disuruh mengurus iklan untuk majalah. Ada lagi sedikit tambahan penghasilan. Mungkin sebagian kecil hasil

212

iklan terselip dalam kantongku, aku lupalupa ingat berapa. Keadaan umum masyarakat Indonesia sungguh memprihatinkan pada masa ini. Ekonomi morat-marit, demonstrasi merebak di mana-mana. Tuntutan mereka terkristal dalam Tritura yang dicetuskan pada 12 Januari 1966: Bubarkan P.K.I., Bersihkan Kabinet dari Unsur G30S/P.K.I., Turunkan Harga dan Perbaiki Ekonomi. Sekalipun ujung tombak demo sebenarnya sudah mengarah kepada pimpinan tertinggi negara, bahasa yang dipakai masih sangat samar-samar, karena peta kekuatan politik belum terlalu jelas. Sebagai seorang yang bukan aktor, aku tetap saja kuliah sambil bekerja, seraya mengikuti perkembangan keadaan sebisanya. Untung ada beberapa koran di kantor S.M. (Suara Muhammadiyah), lantai II Kantor P.P. Muhammadiyah yang lama, Jl. K.H.Dahlan 99. T.V. masih belum ada ketika itu. Andaikan ada, tokh aku tidak mungkin memilikinya. Kasur pun hanya punya separo, khusus untuk anak yang baru lahir, bukan? Perkara hidup melarat ini sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan, sebab sebagian besar rakyat Indonesia ketika itu lebih parah dibandingkan keadaanku. Jika aku masih sendirian, tentu tidak ada persoalan. Beban

213

mentalku menjadi berat, karena ada isteri dari keluarga kaya plus anak yang masih bayi yang memerlukan susu tambahan. Ini yang membuatku kadang-kadang pusing memikirkannya. Dengan menempuh 6-7 km dari Kotagede aku mengayuh sepeda tua yang catnya sudah berantakan menuju kota Jogjakarta: mengoreksi S.M. pagi dan kuliah sore hari. Isteri dan anak tinggal di rumah seharian di rumah Nyai Amir di Selokraman. Mungkin lebih setahun kami menetap di sana, sementara kondisi Salman tidak selalu sehat. Perkembangan fisiknya berjalan lambat, mungkin sewaktu dalam kandungan kekurangan gizi. Ruang tempat tinggal pun tidak cukup mendapatkan cahaya matahari. Karena kondisi ekonomi rumah tangga kami sangat sederhana, tidak jarang nasi dibagi sebelum disuap. Bila kiriman pak Halifah agak terlambat datangnya, perhiasaan emas Lip beberapa kali dilego ke rumah gadai. Untung dia punya perhiasan. Kalau aku apa yang mau digadaikan. Pernah suatu hari benar-benar tidak beras, tetapi tiba-tiba muncul wesel honorarium tulisanku sebesar Rp. 20 dari sebuah majalah di Solo. Cukup untuk membeli 4 kg beras pada waktu itu. Bukan main bahagianya perasaan. Masalah beras cepat teratasi. Selama di Kotagede, Lip

214

tidak pernah gemuk, sekalipun sudah tambahan penghasilan dari S.M., tetapi jumlahnya tidak seberapa. Seorang tukang koreksi tentu penghasilannya jauh di bawah redaksi. Setelah sekian lama aku jadi korektor, posisi redaksi kemudian diberikan kepadaku sampai aku berhenti bekerja di sana karena mau berangkat ke Amerika Serikat Juli 1972. Suara Muhammadiyah telah turut menyelamatkan ekonomi rumah tangga kami yang sering mengalami kekurangan dan kegoncangan. Kepada Bung Bastari aku berterima kasih atas bimbingannya dalam kerja koreksi. Sayang sahabat yang satu ini tidak berusia panjang untuk meneruskan kariernya sebagai sastrawan Indonesia bersama dengan yang lain. Bastari adalah salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963 untuk mengimbangi gerak laju Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik P.K.I., salah seorang tokoh utamanya adalah Pramudya Ananta Toer. Manifes atas desakan P.K.I. akhirnya dibubarkan Soekarno dalam pernyataannya pada 8 Mei 1964, dituduh sebagai kekuatan anti Manipol. Bung Karno waktu itu seperti kena hipnotis oleh komunis. Klaim sebagai penyambung lidah rakyat yang sering diucapkan Bung Karno dalam berbagai kesempatan, kini telah

215

berubah menjadi penyambung lidah P.K.I. Sangat disayangkan.


V. MUSIBAH SILIH BERGANTI

A. Lip ke Padang Bersama Salman (19661967) Aku lupa pada bulan apa Lip dan anaknya kembali sementara ke Padang, sedangkan aku tetap kuliah di Jogja, tetapi tempat tinggal sudah pindah dari Kotagede agar tidak terlalu jauh dari tempat bekerja dan kuliah. Alasan utama mengapa mereka pulang tidak lain karena masalah ekonomi. Salman yang sering sakit sampai di Padang dalam beberapa bulan malah semakin parah. Ayahnya jauh di rantau, sedangkan ibunya merasai (menderita) bersama anaknya. Sudah lebih dua tahun kami berumah tangga, bayangan perbaikan ekonomi secara mandiri belum kunjung kelihatan. Kalaulah pak Halifah menghentikan bantuannya terhadap kami pada tahun pertama perkawinan, bolehjadi kuliahku tidak akan pernah selesai. Setelah Lip dan Salman berada di Padang, biaya hidupku sudah kutanggung sendiri, sebab jika dibantu pula, maka ini namanya pemerasan oleh menantu. Anaknya sudah diberikan, ayahnya diperas lagi.

216

Oleh sebab itu jasanya untuk kelanjutan kuliah menantunya cukup penting dan menentukan, sekalipun bantuan itu tidak pernah cukup. Jika kukenang sekarang, untung ia mau membantu. Coba kalau tidak, entah ke mana pula langkah ini harus diayunkan. Inilah di antara buahnya Lip kawin dengan orang yang nekat, seperti telah kusebutkan di depan. Semoga arwah mak Sarialam dan arwah pak Halifah diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang terpuji. Amin. Bantuannya yang tulus tentu dihargai Allah, padahal dari sisi agama tidak lagi menjadi kewajibannya. Pada waktu Lip dan anaknya tinggal di Padang, ada sedikit kemajuan dari sember penghasilanku, yaitu aku diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan Tinggi tertanggal 1 Juni 1967 dengan gaji per bulan Rp. 868 (delapan ratus enam puluh delapan rupiah) plus pendapatanku di Suara Muhammadiyah yang aku lupa berapa angkanya. Pada saat-saat sulit itu, tambahan pendapatan tentu sedikit menolong, sekalipun masih serba kurang. Ingat tingkat inflasi Indonesia saat itu sudah mencapai 650%, sebuah angka yang sangat mengerikan. Suasana negara dalam masa peralihan dari era Soekarno ke era Soeharto sungguh sangat melelahkan dan berbahaya. Nasib

217

pegawai negeri kempas-kempis, apalagi aku yang baru masuk dengan pangkat E/II berdasarkan ijazah sarjana mudaku lewat ujian negara pada tanggal 5-7 Nopember 1964 pada F.K.I.P. Universitas Cokroaminoto Surakarta jurusan Sejarah Budaya. Tetapi sekarang setidak-tidaknya aku buat pertama kali punya ijazah negeri. Pintu masuk melalui asisten Perguruan Tinggi menjadi sangat penting bagi perjalanan karierku di kemudian hari. Tanpa pintu itu, sulit kubayangkan akan ke mana perjalanan hidup ini mau mengarah. Jika kinerjaku dinilai baik, tentu aku akan dapat melanjutkan tugas sebagai dosen pada saatnya. Sebagai asisten aku diberi tugas mengajar Sejarah Indonesia Kuno pada F.K.I.S. I.K.I.P. Yogyakarta, di samping juga menjadi asisten Sejarah Islam pada Fakultas Syariah dan Tarbiyah U.I.I. (Universitas Islam Indonesia) atas bantuan pak Drs. M. Sanusi Latief yang telah menjadi orang penting pula di sana. Pak Sanusi sering muncul membantuku pada saat-saat aku perlu pertolongannya. Berbeda dengan situasi sewaktu akan masuk I.K.I.P. Yogya yang menghadapi banyak sekali kendala, justru sekarang Pak Lafran yang mengusulkanku untuk diangkat sebagai pegawai negeri. Sejak itu hubunganku dengan Pane adalah ibarat hubungan bapak-anak, baik sekali, sampai

218

ia wafat beberapa tahun setelah dikukuhkan menjadi guru besar Hukum Tata Negara pada F.K.I.S.-I.K.I.P. Yogyakarta. Dengan kenyataan ini, pak Lafran Pane juga turut melicinkan karierku sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi. Rasa terima kasihku kepadanya sungguh besar, sebab jika sikapnya tetap seperti ketika aku mau meneruskan kuliah di F.K.I.S., tentu akan menjadi tidak jelas pula akan ke mana aku setelah gelar sarjana kuperoleh. Tampaknya perjalanan hidupku ini tidak pernah linear, selalu berliku-liku. Nasib seseorang ternyata tidak bisa dirancang secara pasti. Pak Lafran yang semula begitu ketus terhadapku, kemudian berubah 180 derajat menjadi bapak dan pembimbingku, apalagi aku adalah anggota H.M.I. sejak dari Solo. Lafran Pane adalah pendiri H.M.I. pada 1947 pada saat Indonesia masih dalam era revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan. Untuk Sejarah Indonesia Kuno, aku beruntung karena sewaktu belajar pada Universitas Cokroaminoto, mata kuliah ini dipegang oleh Drs.R. Pitono dari I.K.I.P. Malang, seorang dosen yang ahli di bidang ini. Pitono datang sekali sebulan ke Solo dan selalu diberi fasilitas oleh sahabatku Bakir Amir (alm.), pengusaha batik, teman sekelasku di Cokroaminoto. Sekalipun

219

pengetahuanku tentang sejarah kuno Indonesia sudah banyak yang lupa, kuliah Pitono yang menarik sungguh sangat membantuku sebagai asisten di perguruan tinggi negeri. Kembali kepada suasana rumah tanggaku. Kegaduhan rumah tangga sudah berkali-kali terjadi pada tahun-tahun pertama itu kerena berbagai sebab: gizi yang tidak memadai (ini perkiraan semula) dan cemburu sebagai bawaannya dari dalam kandungan. Dan cemburu ini ternyata masih setia sampai saat tua, sekalipun sudah kelebihan gizi. Bukankah sewaktu Lip masih dalam rahim ibunya, perkelahian antara ibu dan bapaknya sering terjadi, gara-gara ibunya tidak mau dimadu? Katanya sejak bayi sudah diberi air susu panas oleh sang ibu. Entahlah. Seperti ayahku juga, pak Halifah pernah mengawini beberapa perempuan. Selain mak Sarialam, ada tiga yang diberi keturunan, tetapi saudara seayah Lip yang hidup sampai sekarang tinggal seorang perempuan, tinggal di Tanjung Ampalu. Gaduh ya gaduh, tetapi ternyata rumah tangga kami masih bertahan lebih 40 tahun. Bagaimana seterusnya, tidak usah dibicarakan. Dalam Pidato Pengukuhanku sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah pada 4 Januari 1997, aku menulis: Kepada isteriku

220

Nurkhalifah dan anakku Mohammad Hafiz yang telah betah hidup bersama dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan perang dan damai, disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terbatas. Ungkapan perang dan damai, sekalipun dikurung dalam dua tanda kutip, realitas yang sebenarnya memanglah demikian. Sudah tentu iklim damainya jauh lebih lama, sedangkan perang yang melelahkan pecah juga sekalikali. Kesimpulannya adalah cemburu tidak ada kaitannya dengan gizi, setidaktidaknya dalam kasus rumah tanggaku. Bisa jadi, semakin sempurna gizi, semakin menjadi pula sifat yang satu ini. Semula aku kira faktor kesulitan ekonomilah yang menjadi penyulut utama cemburu plus terlalu banyak tinggal di rumah. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, setelah dua faktor itu hilang, penyakit yang satu itu tetap setia. Rupanya memang sudah bawaan dari lahir, atau dalam Bahasa Jawa gawan bayen, sesuatu yang harus kuterima dengan menjadikannya sebagai pendorong untuk maju. Lip tampaknya juga menyadari bahwa cemburunya sebuah penyakit yang tidak bisa diatasi. Dia menderita, aku pun menderita. Untunglah iklim semacam itu datang sekali-sekali, sementara karierku tetap saja melaju dan melaju. Kesulitan

221

telah dibaca sebagai peluang untuk bergerak terus tanpa henti. Kadang-kadang hubungan kami sudah berada di ujung tanduk, terasa berat sekali. Seperti telah kukatakan, aku semula memang tidak siap untuk berumah tangga, ditambah lagi jarak usia dan jarak psikologis yang jauh serta kondisi ekonomi yang tidak seimbang. Pada suatu ketika semasa tinggal di Kotagede, aku punya sedikit uang untuk mengganti baju Lip yang sudah lusuh. Pergilah kami ke toko Ramai, di kawasan perbelanjaan di Jogja. Aku masih ingat warna baju yang dibeli itu jambon, sedangkan roknya biru muda berombak-ombak. Lumaian jugalah, sekalipun badan kurus, dibungkus dengan baju baru yang tidak mahal, cantik juga kelihatan, karena memang aslinya adalah bunga kelas, seperti pengakuan Bung Komar. Sebelum kawin denganku, harga pakaiannya pasti di luar jangkauan orang kebanyakan. Dibandingkan dengan ayahku yang beristeri banyak, bagiku seorang saja rasanya sudah kewalahan. Jawi Bangka yang bertuah ini memang termasuk manusia sulit dan rumit, sekalipun aku banyak belajar padanya, terutama sikap hidupnya yang dermawan dan pengiba terhadap orang yang terlantar. Masalah

222

kebersihan, jangan ditanya lagi, dialah juaranya. Untuk makanan anaknya saja, misalnya, dibasuhnya berkali-kali, sampaisampai kukatakan: Yang terakhir cucilah dengan air susu, untuk menunjukkan orang tidak boleh berlebihan dalam kebersihan. Kelebihan lain, Lip sangat rapi dalam mengatur rumah, sekalipun di hari tuanya agak menurun. Perhatiannya terhadap tanaman untuk menghias pekarangan malah semakin dahsyat. Bisa berjam-jam ia merawat tanaman itu hampir saban hari. Tanah, tanaman, dan bunga adalah sahabatnya yang setia. Mungkin juga ini semua sebagai hiburan yang mengasyikkan baginya. Salman sejak lahir tampak lamban dan di biji salah satu matanya terlihat bintik putih kecil. Aku cukup banyak menggendongnya, termasuk di malam hari, ketika Lip sudah sangat lelah. Rasa sayang kepada anak ini terasa dalam sekali, apalagi pada usia yang seharusnya sudah berjalan, Salman belum bisa. Setelah sakit beberapa lama di Padang, Salman akhirnya dipanggil Allah pada usia kurang sedikit dari 20 bulan. Pada waktu aku pulang ke Padang, berita kematian inilah yang disampaikan Lip kepadaku. Kalimatnya berbunyi: Maman (panggilannya) sudah tidak ada kak oncu. Bayangkan

223

perasaanku waktu itu sungguh remuk. Anak pertama wafat tidak di depan ayahnya. Hanya ibunyalah dibantu famili Lip yang lain yang menjaga dan merawat Salman sampai wafat. Sebagai orang beragama, aku dan Lip tidak punya pilihan lain, kecuali merelakan kepergian anak pertama kami, pergi untuk tidak kembali. Sewaktu Salman wafat, aku masih duduk pada doktoral dua F.K.I.S. I.K.I.P. Yogyakarta, jurusan sejarah. Dalam tulisan-tulisanku, aku sering benar meminjam nama anak ini, tetapi ditambah dengan kata Sumpur. Jadi Salman Sumpur sebagai nama samaranku, demi cintaku kepada anak ini. Kuburan Salman di pinggir laut, sekarang sudah tidak ada bekasnya lagi karena telah ditelan ombak. Anakku, engkau pergi tanpa dosa, sementara ayahmu belum tentu lagi nasibnya. Sewaktu ayahmu menulis bagian ini (Oktober 2005), engkau telah meninggalkan kami selama 38 tahun, dihitung sejak tahun wafatmu pada bagian akhir tahun 1967. Sungguh nak, kepergianmu menyebabkan batin ayah sangat goncang, tetapi inilah kenyataan pahit dan perih yang harus dilalui. Engkau wafat dalam keadaan ekonomi orang tuamu masih kucar-kacir, sehingga kami tidak mampu memeliharamu secara

224

maksimal. Maafkan nak. Air mata ayah terus saja meleleh sewaktu menulis kalimat ini, sekalipun usia ayah sudah di atas 70 tahun. Kenangan kepadamu kembali menguat, dan itu melukai batin ayah yang terasa sangat dalam. Beban mental akibat kematian anak hampir-hampir tak terpikul. Hanya iman saja yang dapat menolong agar tidak terus larut dalam suasana ketidakstabilan jiwa. Inilah perasaanku selanjutnya ketika menulis bagian ini: Salman, sewaktu engkau wafat, usia ayahmu baru 32 tahun, sedangkan ibumu Nurkhalifah 23 tahun. Masih panjang rantau yang harus ditempuh, dan itu menjadi bagian yang menyatu dengan pengalaman dan penderitaan tahun-tahun awal berumah tangga ayah-ibumu nak. Ketika keadaan kami sudah mulai membaik, engkau telah pergi, anakku. Enam tahun kemudian, kematian anak kedua berlaku pula. Bertimpa-timpa, beruntun, selama delapan tahun berumah tangga, hilang satu, hilang dua. Ini surat kecil Lip sebagai pengantar kiriman kalamai (dodol model Minang untukku di Jogja: Kanda, ini kalamai adinda kirimkan sedikit. Yang pakai kacang yang enak. Berilah teman-teman kakanda di kantor. Kalau masih ada, kirimi si Tatang, anak sdr. Abduh. Salman

225

waktu memasukkan kalamai ini, dia tertawa-tawa. Adinda bisikkan padanya bahwa kalamai ini untuk ayah Maman yang jauh di rantau orang. Wassalam dan maaf, adinda Nurkhalifah 19 Januari 1967 Kiriman yang mengharukan ini kuterima jam 11.25 tanggal 1 Februari 1967. Abduh, adik Mohammad Diponegoro, adalah teman sekerjaku di Suara Muhammadiyah. Siapa menyangka tidak lama setelah itu, Salman pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk tidak kembali. B. Kembali ke Jogja, lulus S1, dan Lahirnya Ikhwan Tidak lama sesudah Salman pergi, aku dan Lip kembali ke Jogja dalam proses penyelesaian kuliahku. Seingatku, dalam beberapa bulan kemudian Lip hamil yang kedua yang nanti akan melahirkan anak kedua pada 2 Nopember 1968 yang kami beri nama Ikhwan. Tanggal ini aku ingat karena bertepatan dengan dimulainya kongres Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) di Malang yang kemudian memilih Mohamad Roem sebagai ketua umum, tetapi yang ditolak oleh rezim Soeharto. Roem tokoh moderat Masyumi masih ditakuti rezim karena pengaruhnya dalam masyarakat masih cukup kuat.

226

Kelahiran Ikhwan tentu sedikit mengobat hati yang luka. Sungguh besar harapan orang tua agar anak kedua ini berusia panjang. Aku tidak selalu ingat berapa kali kami harus pindah rumah sewaktu Iwan (panggilan anak ini) masih kecil. Pernah di sekitar Rumah Sakit Mangkulayan kami pindah dua kali. Pertama di bekas rumah sewaan sahabatku alm. A. Bastari Asnin, sastrawan terkenal, kelahiran Muara Dua, yang wafat dalam usia 40 tahun. Asnin pernah memenangkan Hadiah Sastra dari majalah Sastra dengan cerpennya Di Tengah Padang. Seperti telah kuceritakan bahwa Asninlah yang mengajarku jadi korektor majalah Suara Muhammadiyah di Percetakan Negara, Jl. Jenderal Katamso, Jogjakarta. Berbulanbulan aku dan Asnin bekerja di percetakan itu, sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Aku bergaul dengan para karyawan percetakan yang umumnya bergaji kecil. Mereka wajib minum susu segar tiap hari untuk menghindari T.B.C. karena selalu bergumul dengan timah percetakan. Karena aku sudah kenal baik para karyawan, akan dengan mudah saja aku minta tolong untuk dibuatkan stempel namaku dari timah: Ahmad Syafii Maarif, B.A. Mentereng bukan? Pakai B.A. segala, tetapi pada 1960-an itu gelar sarjana muda belum terlalu mengalami inflasi.

227

Berbeda dengan abangnya Salman, Iwan sejak lahir tampak sehat dan ceria. Serasa usianya akan panjang. Tetapi setelah menginjak usia sekitar dua tahun, Iwan diserang virus miningitis, radang selaput otak, entah dari mana asalnya. Mungkin sewaktu kami tinggal dekat Mangkulayan, setelah kami pindah dari rumah sewaan Asnin. Suasana sekitar rumah itu memang lembab. Cukup lama Iwan menjadi pasien alm. Prof. Ismangun, dokter ahli anak terkenal di Jogja. Segala macam obat yang diwajibkan, betapa pun pahitnya, ditelan Iwan tanpa ragu. Kadangkadang malah dikunyahnya, karena lidahnya sudah kebal. Melihat itu, batinku terenyuh pedih, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Kalau dikenang sekarang, seperti tak kuat batin ini menanggungkannya. Dalam perjalanan hidupnya yang masih sangat bocah itu, Iwan telah bergumul dengan radang itu, dan kami telah mengobatnya dalam batas kemampuan kami. Sumber penghasilanku ada dua pada waktu itu: pegawai negeri dan redaktur Suara Muhammadiyah merangkap korektor. Bantuan dari pak Halifah memang sudah agak lama kami hentikan, karena sudah mulai bisa berdikari, meskipun masih kuliah. Adapun untuk keperluan obat Iwan tidak boleh sampai

228

terlambat, dan itu sangat kami utamakan, sekalipun mengalahkan keperluan yang lain. Aku merampungkan kuliah untuk tingkat S1 pada 1968, bulan-bulan menjelang Iwan lahir. Skripsi yang kutulis berjudul Gerakan Komunis di Vietnam (1930-1954), bimbingan Pak Dharmono Hardjowidjono, dosen Sejarah Asia Tenggara. Berbulan-bulan aku menyiapkan skripsi ini sambil tetap bekerja pada Suara Muhammadiyah sebagai redaktur. Dengan Bahasa Inggrisku sudah jauh lebih baik, sumber-sumber untuk skripsiku umumnya berasal dari bahasa itu. Entah apa sebabnya aku begitu tertarik dengan komunisme yang pada waktu itu memang masih menjadi musuh terbesar dari blok kapitalisme, khususnya Amerika Serikat. Ijazah S1-ku Jurusan Sejarah tertanggal 28 Agustus 1968 ditandatangani oleh Dekan F.K.I.S. Dochak Latief, Sekretaris Gading Tua Siregar (alm.), dan Rektor I.K.I.P. Sutrisno Hadi dengan materai Rp. 1. (Bandingkan dengan materai senilai Rp. 6000 setelah tiga dasa warsa kemudian). Sejak tanggal itu resmilah aku menjadi sarjana plus pegawai negeri pula yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya. Mata kuliah untuk tingkat doktoral yang tercantum dalam ijazah selain skripsi adalah: Kapita Selekta Sejarah Asia

229

Selatan, Kapita Selekta Sejarah Eropa, Kapita Selekta Sejarah Indonesia Kuno, Kapita Selekta Sejarah Afrika, Kapita Selekta Sejarah Asia Tenggara, Kapita Selekta Sejarah Indonesia Baru, Teori Sejarah, Bimbingan Tesis, Manipol/Pancasila. Dosen penguji tesisku selain Dharmono Hardjowidjono adalah alm. Drs. Sasjardi, dosen senior jurusan sejarah. Untuk mata kuliah Manipol/Pancasila, aku harus mengayuh sepeda burukku ke Bulak Sumur (gedung unit V kampus Universitas Gadjah Mada) karena perkuliahan indoktrinasi itu dipusatkan di sana. Entah berapa ratus mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang wajib itu yang menumpuk dalam sebuah ruangan besar. Dosennya Kunto Wibisono dari Fakultas Filsafat U.G.M., yang setelah bertahun-tahun kemudian menjadi sahabatku. Kami sering bertemu dalam berbagai seminar, tetapi aku tidak pernah menyentuh soal Manipol segala. Yang berlalu, biarlah berlalu, tak perlu terlalu dirisaukan karena penguasa memang senang indoktrinasi, demi melanggengkan kekuasaan yang otoritarian. Untuk teman-teman seangkatan, aku adalah lulusan pertama. Bangga juga rasanya, sekalipun usia sudah 33 tahun. Ada catatan kecil yang tidak boleh dilewatkan sewaktu aku menghadapi ujian

230

ini. Peraturan fakultas mengatakan agar dalam menempuh ujian skripsi (waktu itu dipakai istilah tesis), mahasiswa harus memakai baju putih lengan panjang berdasi, sementara aku tak punya. Maka kupinjamlah baju temanku Hermansjah Nazirun yang juga redaktur Suara Muhammadiyah, berasal dari Curup, kemudian menjadi anggota D.P.R. Pusat dari P.A.N. (Partai Amanat Nasional), periode 2004-2009, sarjana hukum alumnus Universitas Gadjah Mada. Dengan baju pinjaman itulah aku merampungkan kuliah pada F.K.I.S.-I.K.I.P. Jogjakarta setelah aku berulang ke kampus sebagai mahasiswa sejak 1965. Tentu sesudah itu aku masih terus ke kampus sebagai tenaga pengajar yang kujalani sampai pensiun pada 1 Juni 2005, sebuah karier yang cukup panjang, bukan? Dari kampus I.K.I.P. atau U.N.Y. dan dari kantor pusat Muhammadiyah aku selama bertahun-tahun kemudian berulang kali menapak berbagai bagian dunia sebagai pembawa makalah, tenaga pengajar, dan atau sebagai tamu undangan. Negara-negara yang telah kukunjungi sampai akhir tahun 2005 selain Amerika Serikat, tercatat Singapura, Malaysia, Thailand, Pakistan, India, Iran, Iraq, Jordan, Malta, Libia, Saudi Arabia, Qatar, Chad, Jerman, Inggris, Belgia,

231

Belanda, Australia, Kanada, Italia, Roma, Yunani (hanya menginjakkan kaki di bandara semata-mata untuk menyentuh bumi yang pernah melahirkan para filosuf dengan izin awak pesawat), dan Hong Kong. Dengan rampungnya kuliahku sekalipun melalui berbagai kesulitan, sebuah tanggungjawab telah terlampaui. Pada waktu itu aku sekeluarga tinggal di rumah sewaan di Patang Puluhan. Selama menyiapkan tesis, aku bekerja di ruang tamu dan sekaligus tidur di atas kursi yang terbuat dari rotan di bawah sorotan lampu. Warna rotan itu kemudian telah berubah menjadi kemerah-merahan akibat cucuran keringatku. Bukan saja warnanya yang telah berubah, pada bagian-bagiannya malah sudah ada jamurnya. Aku memang agak urakan, mungkin sampai hari ini masih belum sembuh sama sekali. Sekalipun masih pinjam baju segala, keadaan ekonomi rumah tangga tidaklah terlalu parah lagi. Bukankah aku sudah menjadi pegawai negeri sejak Juni 1967 di samping redaktur S.M. (Suara Muhammadiyah). Gaji dari kedua sumber itu memang pas-pasan, tetapi paling tidak sudah ada yang diandalkan secara pasti tiap bulan. Keadaan ekonomi Indonesia saat itu sama sekali belum pulih sebagai akibat dari sistem Demokrasi Terpimpin

232

yang menelantarkan bangsa dan negara dengan proyek mercu suarnya yang terkenal itu. Bakat menulisku banyak disalurkan melalui S.M. Bermacam topik yang kutulis, tetapi umumnya menyangkut masalah agama, sejarah, dan politik. Sewaktu bekerja pada S.M., aku pun pernah menjadi anggota P.W.I. (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Jogjakarta. Kartuku ditandatangani oleh alm. Mahboeb Djunaidi sebagai ketua P.W.I. Pusat ketika itu. Pada tahun-tahun itu aku memang pengagum Abul Ala Maududi dan Maryam Jemeelah, mualaf dari Amerika Serikat yang menjadi murid Maududi di Pakistan. Beberapa tulisan Maududi kuterjemahkan untuk dimuat dalam S.M.. Kemudian sebagian distensil untuk dipakai sebagai bahan kuliah pada F.K.I.S. untuk sejarah Asia Barat, salah satu mata kuliah yang kuasuh selama bertahun-tahun. Maududi memang seorang penulis prolifik yang produktif, apalagi karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Arab, dan Indonesia. Baru setelah belajar di Chicago, aku mulai bersikap kritis terhadap pengarang ini, sekalipun dikagumi oleh tokoh-tokoh Masyumi. Mulai terasa perbedaanperbedaan signifikan dalam pemikiran politik terutama antara aku dan tokoh-

233

tokoh yang aku banggakan itu. Adapun sikap moralnya, aku junjung tinggi sampai sekarang. Beruntunglah rahim bumi Indonesia telah melahirkan para moralis yang sukar dicari tandingannya. Semuanya ini menunjukkan bahwa bacaanku baru sampai ke batas itu, apalagi tokoh-tokoh Masyumi mengagumi Maududi yang dipandangnya sebagai salah seorang pemikir besar abad ke-20. Bukankah aspirasi politikku berkiblat kepada Masyumi sejak aku masih belajar pada madrasah Muallimin Jogja? Hampir semua tokoh puncak partai itu aku hafal namanya sampai sekarang, apalagi Muhammadiyah memang menjadi anggota istimewa Masyumi. Nama-nama mereka itu adalah: Soekiman Wirjosandjojo, Mohammad Natsir, Prawoto Mangkusasmito, Mohamad Roem, Sjafruddin Prawiranegara, Jusuf Wibisono, Kasman Singodimedjo, Zainal Abidin Ahmad, Abu Hanifah, Junan Nasution, Ny. Hafni Abu Hanifah, Ny. Soekapti Mangunpuspito, Burhanuddin Harahap, Muhammad Isa Anshary, Mohammad Sardjan, Amelz. Di antara nama itu ada tiga orang yang pernah menjadi ketua umum, yaitu Soekiman Wirjosandjojo, Mohammad Natsir, dan Prawoto Mangkusasmito. Dan di antara meerka itu ada tiga orang yang pernah menjabat Perdana Menteri Republik

234

Indonesia: Natsir, Soekiman, dan Burhanuddin. Pada saat Masyumi dibubarkan pada akhir 1960, yang menjadi ketua umum adalah Prawoto Mangkusasmito dengan sekretaris umum M. Junan Nasution, sementara Natsir, Sjafruddin, dan Burhanuddin sedang berada di pedalaman Sumatera Barat untuk memimpin P.R.R.I., sebuah perjuangan yang gagal untuk memaksa Soekarno kembali kepada rel U.U.D.. Mana mungkin aku masih ingat nama-nama mereka, sekiranya aku bukan pengagum partai itu? Sekiranya partai ini bisa bertahan lama, tidak mustahil kondisi demokrasi di Indonesia akan jauh lebih baik, karena ada kekuatan politik yang menjadi penyanggahnya. Adapun kritikku kepada partai ini, akan kujelaskan pada ruang yang lain. C. Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 Lulus ujian pada Agustus 1968 dan kedatangan Iwan pada Nopember 1968 semestinya menandai momen-momen bahagia dalam kehidupan kami. Apalagi kehilangan Maman telah sedikit terobati dengan kehadiran Iwan sebagai anak kedua. Sumber ekonomi rumah tangga belum berubah: pegawai negeri dan redaksi Suara Muhammadiyah. Kegemaran

235

menambah ilmu semakin kugalakkan dengan jalan membaca dan membaca, sekalipun batin sering goncang. Bahasa Inggrisku sudah mulai lancar, sementara Bahasa Arab kurang terpelihara setelah aku tamat Muallimin pada 1956. Ini amat disayangkan, sekalipun kaedah pokok dalam nahwu-sharaf masih melekat di otakku. Paham keislamanku belum banyak beranjak sampai aku pada suatu hari aku belajar di Chicago. Di kampus orientalis inilah otakku dicuci melalui kajian al-Quran dari Fazlur Rahman. Sekiranya aku sempat membaca kuliah-kuliah H.A. Salim di Cornell tahun 1953, proses pencucian otak ini seharusnya telah lama kualami. Tetapi semuanya tidak terjadi karena catatan kuliah Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia itu baru terbit melampaui setengah abad kemudian, dan aku turut memberi kata pengantar. Terlalu lama otakku berdansa di panggung paham keislaman yang kurang mencerahkan. Muhammadiyah sendiri lebih menekankan kepada amal saleh dan kurang pada pemikiran. Virus politik untuk sebuah Negara Islam di Indonesia telah banyak menguras energi umat, tetapi yang berakhir dengan sebuah kegagalan. Tetapi semuanya ini tidak perlu disesali, karena proses dan perkembangan pemikiran tidak

236

datang dengan tiba-tiba. Ia memerlukan waktu dan pancingan-pancingan radikal dan serius secara intelektual dari berbagai pihak dan sumber. Pancingan semacam inilah yang tidak kuperoleh sebelum ke Chicago. Periode antara 1950-an sampai dibubarkannya Majelis Konstituante pada 5 Juli 1959, dan bahkan sampai tahun akhir 1970-an aku adalah salah seorang pendukung kuat gagasan Negara Islam Indonesia. Pemikiran tokoh-tokoh Masyumi plus Maududi adalah rujukan primerku. Cobalah ikuti pernyataan vulgarku di depan Rahman di Chicago sekitar tahun 1979: Profesor Rahman, please just give me one fourth of your knowledge of Islam, Ill convert Indonesia into an Islamic State (Profesor Rahman, mohon limpahkan kepadaku seperempat dari ilmumu tentang Islam, saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam). Tentu Rahman geli mendengar ucapan ingusan ini, tetapi dengan sopan dijawab: You can take all of my knowledge. (Anda boleh ambil seluruh ilmuku). Coba anda bayangkan bahwa di akhir 1970-an dalam usia menjelang 40 tahun aku masih satu perahu dengan Masyumi dalam masalah Negara Islam ini. Pembicaraan yang agak mendalam mengenai isu ini harus ditunggu

237

sampai aku kuliah di Chicago awal 1980an. Kita kembali kepada pokok tuturan pada bagian ini. Menginjak dua tahun usia Iwan, anak mungil ini jatuh sakit sampai wafat bulan Oktober 1973 setelah tiga tahun menjalani pengobatan terus menerus di bawah pengawasan Prof. Dr. Ismangoen (alm.). Saat-saat di akhir hayatnya kesehatan Iwan tampak membaik, Dr. Ismangoen menyuruh hentikan obat utamanya. Periode ini, kalaulah iman tidak kuat, mungkin aku tidak akan memikirkan kuliah lanjut, tetapi memusatkan perhatian semata-mata pada kesehatan anak. Lip sungguh telah berkorban terlalu banyak untuk anak yang satu ini. Dengan tetap berkonsentrasi pada masalah anak, tes-tes Bahasa Inggris tetap kujalani. Dengan segala pertimbangan keluarga, pada tahun 1972 aku terpilih untuk kuliah lanjut ke N.I.U. (Northern Illinois University), DeKalb, Illinois untuk bidang sejarah dengan beasiswa Fulbright. Pemeliharaan Iwan kemudian sepenuhnya berada di tangan ibunya yang sengaja pulang ke Padang agar dekat dengan familinya. Mungkin orang lain menilaiku sebagai egoistis, tega-teganya meninggalkan anak yang sedang sakit, sekalipun tidak parah pada mulanya.

238

Tetapi setelah kuliah berjalan selama dua semester, Lip sudah tidak mampu menghadapi anaknya tanpa ayahnya. Maka tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pulang ke tanah air dengan risiko gagal untuk meraih M.A. dalam sejarah. Keadaan anak yang semakin kritis harus lebih diutamakan, lupakan kuliah. Bulan Maret 1973 aku pulang ke Padang untuk menjemput Lip dan Iwan. Selama beberapa bulan kesehatan agak membaik, apalagi tempat tinggalku saat itu di asrama Muallimin Mancasan, di depan lapangan sepak bola. Hampir saban pagi aku menjemur Iwan sambil melatihnya berjalan. Terasa banyak kemajuan, sekalipun tubuhnya sarat oleh suntik plus obat yang terus menerus, sehingga sulit melangkah sendiri. Seperti telah kusinggung di atas, Dr. Ismangoen menghentikan pemakaian obat untuk Iwan karena sudah banyak kemajuan. Tetapi Allah punya ketetapan lain. Tidak selang berapa lama setelah obat dihentikan, Iwan jatuh sakit lagi, dan harus menginap di rumah sakit Pugeran, masih di bawah pengawasan Dr. Ismangoen. Siang malam aku dan Lip menunggui Iwan di Pugeran, kadang-kadang bergantian. Maka hari berkabung yang sangat tidak diharapkan itu akhirnya datang jua. Dini hari, Iwan meninggalkan dunia fana ini,

239

kembali kepada Pemilik yang sebenarnya, Allah! Sebelum nyawanya dicabut malaikat, aku mendengar suara Iwan: Ibu! Kebetulan ibunya sedang pulang ke rumah malam itu. Habislah sudah upaya duniawi kami untuk membesarkan Iwan. Subuh itu aku dan sahabat tetangga pak guru Sugeng (guru S.D. Muhammadiyah) membawa jenazah Iwan ke Mancasan dengan becak untuk besok harinya dimakamkan di pekuburan Kuncen. (Untuk sementara bagian ini harus kuhentikan pada jam 21. 50 tanggal 2 Desember 2005 karena beban perasaan mengenang anak yang telah tiada menjadi sangat berat kembali. Terngiang panggilan Iwan terhadap ibunya sebelum wafat. Semoga jiwaku akan cepat pulih untuk meneruskan otobiografi ini). Sudah dua anak kami yang dipanggil Allah dalam usia 20 bulan dan lima tahun kurang sedikit. Pada saat Iwan wafat, usiaku sudah 38 tahun, sementara Lip 29 tahun dalam keadaan hamil antara 3-4 bulan. Dapat dibayangkan betapa luluh perasaan kami ditinggal anak kedua ini. Demi meringankan beban batin, aku dan Lip menyingkir ke Cangkringan (Sleman, Jogja), ke rumah pak Sukadijono, kepala S.D. Muhammadiyah Wirobrajan. Kami berterima kasih kepada keluarga pak Kad, panggilannya sehari-hari. Tempat ini di

240

daerah pegunungan yang sepi dan dingin. Sekitar dua minggu kami tinggal di sana menenangkan perasaan yang pilu dengan membaca al-Quran dan berzikir. Terasa sangat tidak mudah melupakan Iwan, wajahnya selalu terbayang. Sewaktu aku latih berjalan di lapangan Mancasan, anak ini cukup ceria. Jika kutanyakan siapa nama ibunya, akan dijawab: Nun Epah, untuk sebutan Nurkhalifah, isteriku. Yang terkenang dari anak ini di samping penderitaannya, adalah kelucuannya. Lucu dalam penderitaan selama tiga tahun, di Jogja-Padang-Jogja. Anakku, terlalu berat nak melepas kepergianmu pada 21 Oktober 1973 menyusul abangmu Salman, delapan bulan setelah kepulangan ayahmu dari DeKalb. (Terpaksa kuhentikan menulis sementara pada jam 08.20 pagi tanggal 3 Desember 2005, air mataku meluncur tak tertahankan). Kepergian Iwan telah menyebabkan aku dan Lip menjadi kesepian dan perasaan tidak menentu, sementara Lip tengah hamil sekitar 2-3 bulan. Ada kekhawatiran kalau musibah ini akan mempengaruhi kandungannya karena batin yang goncang berat, jauh dari stabil. Berhari-hari perasaan lengang itu menerpa kami. Anak satu-satunya telah berangkat pula menyusul abangnya Salman. Mengapa

241

cobaan beruntun semacam ini menimpa kami? Hanya iman sajalah yang menjaga kami tidak larut dalam kebingungan. Hilang satu, hilang dua. Boleh jadi musibah ini sebagai teguran Allah kepadaku, aku pun tidak dapat menjawabnya. Kalaulah boleh digantikan, maulah rasanya aku yang lebih dulu pergi, bukan anak. Tetapi perkara ini bukan urusan manusia. Jangankan aku yang lemah dan sarat dosa ini, nabi pun mengalami cobaan demi cobaan. Kematian Ibrahim anak laki-laki beliau satu-satunya adalah bukti bahwa nyawa bukan di tangan manusia. Rasul pun tidak dapat berbuat apa-apa bila perintah Allah telah datang.
VI. SECERCAH HARAPAN TANTANGAN dan BERAGAM

A. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi Setelah perasaan berangsur pulih, aku bertugas seperti biasa, memberi kuliah. Untuk sementara keinginan belajar lanjut tidak dipikirkan dulu sampai suatu saat jiwa telah stabil. Memang serba dilematis, seorang dosen yang hanya berijazah S1 pasti akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya, sebab yang diajar berada dalam tingkat yang sama. Pengalamanku di DeKalb, sekalipun semula

242

terasa sangat berat, suasana kampus dengan perpustakaan yang hampir lengkap tidak pernah lupa dari ingatanku. Mudahmudahan aku bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri jika aku ingin belajar lagi ke Barat. Kecemasan aku dan Lip bahwa kandungannya mungkin akan mengalami gangguan serius, alhamdulillah tidak terbukti, sekalipun anak kami yang ketiga lahir prematur pada 25 Maret 1974. Kami beri nama Mohammad Hafiz dengan berat badan hanya 2.20 kg. Karena kondisi yang belum stabil ini Hafiz harus menjadi penduduk R.S. P.K.U. Muhammadiyah Jogjakarta selama satu bulan, kemudian baru boleh dibawa pulang. Di saat lahir dan selanjutnya Hafiz berada di bawah pengawasan ahli kebidanan Dr. Hardjo Djojodarmo (alm). Tiap hari kami berulang ke P.K.U. menengok perkembangan Hafiz yang dari ke hari menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang positif. Dalam pada itu setelah anggota keluarga bertambah satu yang kami syukuri benar, pada tahun 1974 itu aku dan Husain Haikal, teman dosen jurusan sejarah, mencoba mengadu untung dengan mengikuti tes untuk ke Saigon, demi perbaikan ekonomi. Alhamdulillah kami tidak diterima. Gelar doktorandus memang tidak laku jual, kecuali penyandangnya

243

dikenal luas oleh lembaga-lembaga asing. Adapun aku saat itu, siapa yang kenal? Sebenarnya keinginan bekerja di luar negeri lebih banyak bertujuan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga. Gaji sebagai dosen hanyalah sekadar untuk menutup biaya hidup sederhana dari bulan ke bulan. Jika ingin beli buku harus difikir matang-matang lebih dulu, apakah tidak akan menggangu asap dapur. Sampai awal abad ke-21, nasib pegawai negeri di Indonesia belum juga mengalami perbaikan yang mendasar. Itu pun orang banyak masih berebut untuk menjadi pegawai. Alasan utamanya tidak lain karena lapangan kerja yang sulit sekali, sementara jumlah angkatan kerja semakin membengkak dari tahun ke tahun. Tampaknya negara ini belum berhasil menciptakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya, sementara praktik korupsi belum semakin berkurang. Korupsi yang sudah menggurita terjadi di sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia. Kenyataan pahit ini amat memberatkan batinku. Tahun berikutnya Husain dan aku berputar arah ke L.P.P.D. (Lembaga Pendidikan Pos Doktoral) yang melekat dengan I.K.I.P. Bandung. Setelah mengikuti tes, aku tidak lulus karena kurang nilai setengah, sementara Husain berhasil. Baru tahun berikutnya lagi aku lulus dan

244

diterima untuk belajar di lembaga itu selama satu semester. Para dosen yang memberi kuliah di lembaga ini sebagian besar adalah guru besar, atau setidaktidaknya menyandang gelar doktor. Mereka adalah Prof. Dr. Garnadi Prawirodirdjo, Prof. Dr. Sikun Pribadi, Prof. Dr. S. Nasution, Prof. Dr. Achmad Sanusi, Dr. Supardjo, dan masih ada yang lain. Pada tanggal 10 Maret 1976 aku lulus dari L.P.P.D. dengan nilai tanpa A. dari lima mata kuliah, yaitu Filsafat Pengetahuan Alam/Sosial (B+), Kepemimpinan & Manajemen (B), Filsafat Ilmu & Pendidikan (B+), Sistim Pengembangan Kurikulum (B+), dan Bahasa Inggris (B). Itulah prestasi akademikku di Bandung, agak sedikit memalukan. Tanpa nilai A, aku jelas tidak puas, tetapi itulah kenyataan yang harus diterima, padahal sewaktu belajar di DeKalb, nilaiku jauh lebih baik. Apakah para guru besar Bandung ini memang terlalu hebat sehingga nilai A adalah untuk mereka? Aku tidak boleh berprasangka demikian, terimalah apa adanya. Dan jika masih punya kesempatan belajar ke Barat, tunjukkan bahwa nilai A juga milik mahasiswa, termasuk milikku tentunya. Ada pengalamanku yang agak aneh dan menggelikan dengan Prof. Sikun. Pada suatu malam aku dan teman dari I.K.I.P. Semarang diundang ke rumahnya untuk

245

ditemukan dengan Suryadi, tokoh spiritual Prof. Sikun, padahal yang yang bersangkutan adalah bekas mahasiswanya di U.N.P.A.D. (Universitas Padjadjaran) Bandung sampai tingkat sarjana muda. Suryadi malam itu menjelaskan masalah alam semesta yang dipelihara oleh banyak tuhan, tetapi ada Tuhan dengan huruf T besar dengan nama Robina sebagai kepala dari tuhan-tuhan itu. Prof. Sikun hanya tunduk mengiyakan tuturan gurunya. Aku yang geli mendengar cerita karut ini telah melabrak habis ocehan Suryadi yang berlangsung sampai larut malam, sementara teman dari Semarang karena hormat kepada Prof. Sikun bersikap lebih banyak diam. Isteri Prof. Sikun yang malam itu mendampingi suaminya sesaat mendengar perkataan Robina berucap: Kok seperti nama perempuan ya! Aku hanya semakin geli dengan suasana semacam ini dan bertanya dalam hati: Mengapa seorang profesor begitu mudahnya menjadi budak spiritual dari seorang Suryadi dari Cirebon itu? Kurekamkan kembali episode ini bukan untuk mengurangi rasa hormatku kepada mendiang Prof. Sikun sebagai salah seorang guru besar di program L.P.P.D. yang hubungannya denganku cukup baik, sekalipun aku sering mendebatnya dalam perkuliahan. Ternyata seorang guru besar

246

filsafat pendidikan tanpa dasar tauhid yang jelas dan kuat dengan mudah saja menjadi pengikut dukun klenik seperti Suryadi. Ini penting kuungkapkan di sini karena banyak sekali pejabat, jenderal, dan kaum elit negeri ini yang minta nasehat dukun dalam menjalankan tugasnya. Bagaimana bangsa kita akan cerdas dan cerah jika sebagian para elitnya lebih mempercayai dukun dari pada akal sehat dan pertimbangan rasional dalam proses mengambil keputusan untuk kepentingan negara? Tidak hanya sampai di situ. Di antara para elit itu bahkan ada yang pergi ke kuburan untuk mohon petunjuk dan berkat. Dalam perkara ini, tidak banyak bedanya antara mereka yang terdidik dan berpangkat dengan sebagian rakyat awam yang memang biasa minta-minta kepada orang mati. Aku yang sejak kecil dilatih dalam kultur Muhammadiyah tentu hanya punya satu sikap: lawan segala bentuk klenik itu, karena hanya akan merendahkan harkat dan martabat manusia merdeka! Lebih dari itu, klenik dengan segala cabangnya hanyalah akan memasung manusia secara kejiwaan. Tidak selang berapa lama sebelum meninggalkan Bandung untuk kembali ke Jogja, aku telah menempuh ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) dalam upaya meneruskan kuliah yang

247

terbengkalai karena Iwan sakit sebelum wafat. Hasil tes lumayan, sudah di atas 500, sekalipun masih di bawah 600. Karena hasil itu aku dapat diterima di Univeritas Hawaii dan O.H. (Ohio University, Univeritas Ohio) di Athens. Tentu aku senang. Ringkas cerita dengan beasiswa Fulbright untuk kedua kalinya aku pilih Ohio untuk mendapat M.A. pada departemen sejarah. Lip dan Hafiz harus ditinggal lagi, tetapi mereka rela, sekalipun tentu dengan perasaan berat mengingat pengalaman traumatik yang pernah diderita. Pertengahan tahun 1976 aku berangkat lagi ke Amerika dan kuliah di Ohio selama empat kuartal. Kali yang kedua ini alhamdulillah berhasil dengan mengantongi ijazah M.A. dalam bidang sejarah dengan tesis Islamic Politics under Guided Democracy in Indonesia (19591965) di bawah penyelia Prof. William H. Frederick, Ph.D., seorang ahli sejarah Indonesia dan sejarah Jepang yang teramat baik denganku. Bahkan terlalu baik. Sekalipun kuliahku telah rampung di akhir tahun 1977, penulisan tesisku masih terbengkalai menanti saat aku sudah mengambil program Ph.D. di Universitas Chicago. Dengan nilaiku dari NIU dapat dipindahkan ke Ohio sebanyak 51 kredit, maka beban kuliahku di kampus baru ini agak sedikit ringan. Aku hanya mengambil

248

delapan mata kuliah plus tesis dengan nilai B+, A, A-, B, A, A-, A-, B+, dan A- untuk tesis. Rata-rata A- atau I.P.K. (Indeks Prestasi Kumulatif)3,67. Cukup lumaian bukan, bila dibandingkan dengan nilaiku di L.P.P.D., tanpa nilai A satu pun. Ijazahku dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 1980 dari O.H., tahun ke-176 dari usia universitas. Mengapa lama? Karena tesis yang kutulis baru rampung pada 1979, sekalipun akhir 1978 aku sudah berada di Chicago. Di Athens, seorang sahabat dosen jurusan sejarah dari Jogjakarta, Doddy Soejono, seorang seniman dari suku Sunda, sudah lebih dulu belajar di Universitas Ohio. Setelah meraih gelar M.A. dia kembali mengajar di Jogja sampai pensiun. Sebenarnya cukup berat bagiku menyelesaikan tesis sambil kuliah S3. Di sinilah peran penting dari Prof. Frederick yang selalu memberikan komando dari Athens agar aku tetap menggarap tesis. Dorongan semacam ini sangat penting, apalagi dari seorang penyelia yang begitu ingin agar tesisku cepat dipertahankan di depan tim penguji. Alhamdulillah, akhirnya aku diuji pada 7 Juni dengan hasil seperti telah kusebutkan di atas. Untuk keperluan ini aku harus terbang dari Chicago menuju Columbus, dan dari sana meluncur ke Athens, kampus lamaku. Di samping Prof. Frederick, tim penguji yang lain adalah

249

Prof. Gerald Doxie, dosen sejarah Asia Barat dan Afrika Utara, seorang Katholik yang taat dan sangat bagus dalam memberikan kuliah. Semua nilaiku dari dosen ini bergerak antara A- dan A. Jadi tidak terlalu buruk, bukan? B. Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran Selama periode Athens (1976-1978), dari segi pemikiran keislamanku belum ada perkembangan yang berarti, sebagaimana telah kusinggung selintas di atas pada waktu menyebut Fazlur Rahman. Aku masih terpasung dalam status quo. Masih berkutat pada Maududi, Maryam Jameela, tokoh-tokoh Ikhwan, Masyumi, dan gagasan tentang negara Islam. Iqbal, pemikir dan penyair besar Pakistan itu memang telah ikuti, tetapi ruh ijtihadnya belum singgah secara mantap di otakku yang masih bercorak aktivis, belum reflektif dan kontemplatif. Apalagi aku aktif dalam M.S.A. (Muslim Students Association), yang masih sangat merindukan tegaknya sebuah negara Islam di suatu negeri. Seakan-akan dengan merek serba Islam itu, semuanya akan menjadi beres. Betapa sederhananya cara berpikir seperti ini. Di Athens aku tinggal bersama temanteman Malaysia yang juga aktivis M.S.A.

250

yang masih serba belia, sementara usiaku sudah di atas 30 tahun. Di lingkaran M.S.A., aku bergaul dengan teman-teman dari Saudi Arabia, Kuwait, Mesir, Iraq, Libia, Aljazair, di samping teman-teman dari Indonesia dan Malaysia. Dari segi moral pergaulan, M.S.A. sungguh bagus, hati-hati, dan saling menjaga. Tidak ada di antara mereka yang larut dalam budaya serba bebas ala Barat. Di Athens, aku adalah salah seorang khatib pada hari Jumat yang kami selenggarakan di sebuah ruangan luas di lingkungan kampus. Dari segi menjaga nilai-nilai keislaman harian anggotanya, M.S.A. sangat berjasa. Budaya saling menasehati dan mengawasi anggota merupakan bagian penting dari missi M.S.A. Jadi secara moral, dunia M.S.A. adalah ibarat sebuah pulau tersendiri di tengah gelombang peradaban sekuler. Ilmu Barat dipelajari, tetapi nilai-nilai budayanya yang serba bebas sejauh mungkin dihindari. Kesulitanku adalah: apakah secara moral dalam makna umum, negeri Muslim lebih baik dari Barat? Bagaimana tentang korupsi yang merebak di dunia Muslim, dan bagaimana pula disiplin sosial yang sangat rapuh? Apakah dengan memberi label Islam kepada suatu negara, semuanya akan membaik? Inilah di antara pertanyaan krusial yang susah dijawab. Itu belum lagi

251

kita berbicara tentang betapa kuatnya pengaruh Amerika di negeri-negeri Muslim, seperti Saudi dan Kuwait misalnya. Dengan membaca peta semacam ini, kita perlu mempertanyakan sampai di mana kedaulatan sebuah negara Muslim, kalau pemerintahnya bergantung di ketiak asing. Bagiku semuanya ini tidak lain dari pada akibat kerapuhan negeri-negeri Muslim secara politik, ekonomi, ilmu, dan teknologi. Dengan demikian label Islam belum bisa menolong selama masalahmasalah mendasar itu belum diatasi. Bukankah dunia Muslim sampai di awal abad ke-21 masih berkutat di buritan peradaban? Pada periode Athens, pertanyaan-pertanyaan besar itu belum singgah di otakku sebagai bawaan dari Indonesia. Pokoknya dengan negara Islam, dunia kita atur. Semua seakan-akan menjadi beres semua dengan sebuah negara Islam itu. Pemikir lain yang juga kukutip dalam khutbah dan tulisan adalah Hossen Nasr, tokoh syiah moderat dari Iran. Nasr meninggalkan negerinya setelah revolusi Khomeini berhasil secara dramatis menggulingkan rejim Shah pada 1979. Rupanya berbeda dengan Ali Shariati yang melawan Shah, Nasr bukanlah tipe itu. Oleh sebab itu tumbangnya kekuasaan Shah berarti tanah Iran sudah tidak

252

nyaman bagi seorang Nasr yang lebih banyak berfilsafat, menggali khazanah klasik Islam yang kaya itu. Dia tidak terlibat dalam gerakan di bawah tanah untuk meruntuhkan rezim diktatur dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat. Maka tidaklah mengherankan Nasr sampai usia tuanya adalah guru besar pada Universitas Washington untuk kajian-kajian keislaman, tetapi tak satu pun yang mencoba berangkat dari pandangan dunia al-Quran. Karyanya cukup banyak yang meliputi berbagai bidang kajian keislaman yang umumnya diterbitkan di Barat. Sebagai penulis prolifik, Nasr cukup populer di kalangan kaum akademisi, Muslim dan Barat. Beberapa pemimpin M.S.A. yang datang ke Athens dari berbagai negara bagian Amerika dan Kanada hampir semuanya adalah aktivis yang dipengaruhi Ikhwan dan Jamaat Islami. Beberapa teman dari Saudi yang hidup kesehariannya sangat saleh, tetapi cara berpikirnya terasa kaku dan buntu. Mereka begitu menilai tinggi Muhammad bin Abdul Wahab, pencetus gerakan puritan di Arabia pada abad ke-18. Dari nama inilah dunia kemudian mengenal gerakan Wahabi yang banyak diilhami oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan penerusnya Ibn Taimiyah. Bedanya adalah Ibn Taimiyah, di samping

253

seorang aktivis, dia juga seorang intelektual kelas satu pada masanya yang kemudian mengilhami gerakan-gerakan pembaruan di seluruh dunia Muslim. Ibn Taimiyah juga turut angkat senjata melawan pasukan Mongol yang menjarah negerinya. Adapun gerakan Wahabi lebih banyak mengambil sisi aktivisme dari Ibn Taimiyah, sementara dimensi intelektual dilupakan. Di sini tragedi intelektual itu terjadi. Inilah salah satu sebab mengapa sarjana-sarjana Saudi sedikit sekali yang bisa diajak berpikir filosofis radikal. Kekayaan minyak yang melimpah di Saudi bolehjadi merupakan salah satu sebab mengapa kaum intelektualnya menjadi manja dan malas berpikir. Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang puritan begitu dominan di Saudi sehingga pemikiran lain yang berbeda tidak boleh berkembang. Dari sisi terobosan intelektual Islam, Saudi hampir tidak ada yang dapat ditiru karena sudah terkurung dalam pasungan Wahabisme yang menyatu dengan penguasa otoritarian. Teman-teman Indonesia alumni Saudi rata-rata tidak bisa diajak berpikir melampaui guru-gurunya di sana, kecuali mereka yang berani membuka hati dengan membaca sumber-sumber pemikiran dari sarjana Muslim yang lain. Kenyataan ini merupakan kesulitan tersendiri bagi umat

254

Islam Indonesia karena begitu beragamnya hasil pemikiran keislaman yang lahir dalam sejarah kontemporer Indonesia. Mereka yang tamatan Barat sering dicurigai sebagai pengikut kaum orientalis yang digambarkan serba merusak Islam. Dialog terbuka dan mendalam tentang pemikiran Islam yang beragam belum terjadi di Indonesia secara mendalam dan tuntas. Di Athens, lingkungan pergaulanku berada di tengah-tengah orang-orang saleh, dermawan, tetapi hampir sepi dari pemikiran yang memungkinkan kita keluar dari kebuntuan intelektual yang sudah berabad diderita dunia Muslim. Teori-teori keislaman yang bertolak dari sikap anti asing (baca Barat) ternyata tidak mampu menawarkan solusi bagi masalah modernitas yang semakin sekuler kalau bukan ateistik. Sebuah paradoks berlaku di sini. Para pendukung Maududi, Qutb, yang mengeritik Barat in toto, umumnya tidak betah tinggal di negerinya sendiri, karena berhadapan dengan penguasa yang korup, otoritarian, dan ulama yang konservatif. Justru mereka memilih hidup di Barat yang dijadikan sasaran kritik itu. Bahkan anak Maududi seorang dokter malah tinggal di Buffalo, New York. Kasus Said Qutb sedikit berbeda. Dia menjadi pembela negara Islam dan anti Barat setelah pernah tinggal di Amerika sekitar tiga tahun. Setidak-

255

tidaknya dia telah mengenal Barat melalui pengalaman langsung dan pendidikan. Bahkan mendapatkan M.A. dalam ilmu pendidikan dari Wilsons Teachers College (Kolorado) pada 1950. Dia mengakui perkembangan ilmu dan ekonomi di Amerika dan Barat lainnya, tetapi dia sangat ngeri menyaksikan rasisme, kebebasan seks, dan pro-Zionisme. (Lih. Sharough Akhavi, Qutb, Sayyid dalam John L. Esposito (ed.), The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. New York-Oxford: Oxford University Press, 1995, hlm. 401). Qutb bukanlah termasuk pendiri Ikhwan, sebab dia bergabung dengan gerakan ini setelah pulang dari Amerika. Di dunia ini ternyata kita tidak boleh memakai kaca mata hitam putih. Di antara mahasiswa Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia, tidak sedikit yang menemukan Islam setelah mereka belajar di Barat. Bahkan sebagian mereka menjadi puritan. Di tanah airnya masing-masing belum tentu mereka mengenal salat dan praktik-praktik harian Islam lainnya, di Barat justru muncul kesadaran baru untuk menjadi Muslim yang baik. Bahkan terlalu baik sehingga menjadi kaku dan sempit. Ini fakta keras sejarah yang tidak boleh dimungkiri oleh siapa pun. Oleh sebab itu akan lebih bijak bila orang bersikap lapang

256

dada saja, jangan ekstrem anti sesuatu, sebab Barat-Timur itu milik Allah. Kearifan tidak bersifat Barat atau bersifat Timur. Orang bisa saja menemukan kearifan itu di mana saja asal dicari dengan sungguh-sungguh melalui hati dan otak yang terbuka semata-mata karena rindu kepada kebenaran. Mengurung diri dalam pasungan pemikiran sempit atau hanya mengenal satu alur aliran pasti akan memperlama orang berada dalam suasana kebuntuan intelektual yang pengap. Bahkan bisa membawa orang hidup dalam dunia semu, tidak menyentuh realitas. Padahal Islam menurut pandanganku haruslah senantiasa bersentuhan dengan realitas. Bukan saja bersentuhan, tetapi malah wajib berupaya mengubah realitas yang pengap menjadi sesuatu yang asri, adil, dan penuh rahmat yang dapat diukur dengan parameter apa pun. Sampai aku meninggalkan Athens tahun 1978, rasanya tidak ada yang dapat kutawarkan untuk menembus kebuntuan intelektualisme Islam. Dalam usia 43 tahun, wawasan keislamanku tidak pernah melampaui Ikhwan, Maududi, dan Masyumi. Dominasi politik begitu terasa. Dalam masalah ibadah harian tidak ada masalah, sebab paham Muhammadiyah sudah lama menjadi bagian menyatu dengan diriku. Pada saat usia yang sudah

257

demikian jauh, status quo pemikiran sebenarnya patut disayangkan, tetapi aku tidak bisa lebih dari itu. Teman-teman M.S.A. memang banyak yang idealis, tetapi jalan keluar dari kebuntuan belum ditemukan. Fazlur Rahman hampir tidak dikenal di lingkungan M.S.A. Ini berbeda dengan Ismail al-Faruqi dan Naquib al-Attas dengan proyek islamisasi ilmu pengetahuannya cukup populer di kalangan mereka. Dengan al-Faruqi, aku belum pernah berdialog secara langsung, sementara dengan al-Attas pernah berjam-jam di rumahnya di kawasan Petaling Jaya, Malaysia. Kesanku adalah bahwa al-Attas adalah seorang al-Ghazalian yang kental, seakan-akan al-Ghazali adalah segalagalanya. Konsepsinya tentang pendidikan Islam dipopulerkan oleh Prof. Dr. Wan Mhd. Nor Wan Daud, salah seorang murid Rahman di Chicago, dan teman dekatku. Hanya kami berbeda dalam menilai al-Attas dan guru spiritualnya al-Ghazali. Aku hormat kepada al-Ghazali, tetapi tidak pernah menempatkannya sebagai yang terhebat. Dalam arti intelektual, aku mungkin lebih dekat kepada Ibn Taimiyah, sekalipun beberapa hadits yang dikutip dalam teori politiknya telah kupertanyakan secara serius dalam disertasiku di Chicago.

258

Tentang al-Attas dengan segala kelebihannya, aku merasakan sesuatu yang kurang pas pada dirinya: anti egalitarianisme, yang bagiku merupakan bagian dari tauhid sejati. Al-Attas kelahiran Bogor, kemudian hijrah ke Malaysia. Proyek I.S.T.A.C. (International Institute of Islamic Thought and Civilization)-nya sesungguhnya sangat strategis bagi pengembangan pemikiran Islam, tetapi Mahathir Mohamad karena bentrok dengan Anwar Ibrahim yang dipandang sebagai orang dekat al-Attas, proyek ini akhirnya digabungkan dengan Universitas Islam Internasional Malaysia. Karena proyek alAttas berupa I.S.T.A.C. kehilangan kemandiriannya, ruhnya menjadi sirna. Yang positif dari al-Attas adalah bahwa I.S.T.A.C. mau dijadikannya pusat kajian ilmiah bagi pemikiran Islam yang sangat beragam. Rahman pada saat-saat terakhir cukup diapresiasi di sana. Bahkan seluruh perpustakaan Rahman telah dibeli dan diboyong ke kampus I.S.T.A.C. Amat disesali, politisi Malaysia tidak paham makna dari proyek besar al-Attas yang ingin membangun sebuah peradaban alternatif setidak-tidaknya di kawasan Asia Tenggara terlebih dulu. Orang boleh berseberangan dengan al-Attas, tetapi karya besarnya harus dijunjung tinggi dan dikembangkan lebih jauh.

259

C. Chicago I: Sebelum Titik Kisar Tidak mudah bagiku untuk meneruskan belajar ke Universitas Chicago, sekalipun aku sudah diterima untuk program Ph.D. dalam pemikiran Islam. Bantuan sahabatku M. Amien Rais, sebagaimana telah kukatakan terdahulu, sungguh menjadi penting bagiku untuk belajar Islam ke kampus orientalis ini. Lagi Profesor Frederick turut membantuku untuk mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation dan U.S.A.I.D. melalui perwakilannya di Jakarta. Akhirnya dengan bantuan banyak pihak, beasiswa itu kudapatkan. Pada saat-saat awal itu tidak terbayang dalam otakku bahwa Chicago akan mengubah secara fundamental sikap intelektualku tentang Islam dan kemanusiaan. Kalau Rahman masih belum alergi menggunakan ungkapan negara Islam, aku pada akhirnya tidak tertarik lagi dengan proyek serba mewah itu. Sebelum kuteruskan tuturan yang agak berbau intelektual ini, ada masalah lain yang pribadi dan keluarga sifatnya, tetapi tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Tanpa penyelesaian yang bijak tentang persoalan keluarga ini, periode Chicago-ku bisa buyar berantakan di tengah jalan. Egoismeku untuk terus belajar tidak boleh dibiarkan mengelana sebebas-bebasnya,

260

karena aku punya tanggung jawab keluarga yang sarat dengan beban traumatik, seperti telah kujelaskan sebelumnya. Pihak Ford Foundation melalui kantor Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Jakarta yang mendanai transportasiku memberi syarat yang sangat berat jika aku ingin mengikutsertakan keluarga ke Chicago. Syarat itu adalah bahwa pada semester pertama aku harus meraih nilai A untuk semua mata kuliah yang kuambil. Gila bukan? Otak sudah tua, beban mental dalam bekeluarga tidak ringan, disuruh cari nilai A lagi. Aku stres menghadapi ancaman semacam ini. Isteriku Lip sudah lama menderita karena ditinggal pergi oleh dua anak pertamanya, sekarang suami pergi lagi untuk ketiga kalinya. Sepintas lalu bagi sementara orang apa yang kulakukan ini sudah tidak pada tempatnya. Hanya si gila saja yang berbuat begitu. Bukankah keluarga harus lebih diutamakan dari pada belajar terus dan terus belajar. Di mata mereka hanya orang nekat saja yang mau pergi terus dengan meninggalkan isteri dan anak. Sudah kujelaskan bahwa sebutan nekat itu bukan asing bagiku. Perkawinanku dengan Lip adalah buah dari kenekatanku. Mungkin istilah nekat bisa diganti dengan berani agar lebih beradab kedengarannya, sekalipun hakekatnya

261

tidak banyak berbeda. Dalam pepatah Minang ada ungkapan: Tak kaya berani pakai. Aku anak Minang yang juga dibesarkan dalam budaya petatah-petitih itu, jauh sebelum aku mengenal lontaran puisi Iqbal: Takkan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya, seperti telah kukutip terdahulu. Sebenarnya aku tidaklah seberani itu. Aku punya rasa takut dan cemas. Memang jika dibandingkan dengan rata-rata orang Indonesia, aku tidaklah termasuk dalam kategori pengecut, apalagi dengan kebanyakan orang kampungku Sumpur Kudus yang tetap saja ingin bersianyut di Batang Sumpur. Rasa cemasku akan menjadi sangat berat jika masalah keluarga tak dapat terselesaikan, dan tantangannya adalah bagaimana upaya untuk memboyong mereka segera ke Chicago. Dengan doa dan kerja keras nilai A untuk semester pertama harus kuupayakan agar menjadi kenyataan. Jika upaya itu kandas, maka beban batin akan semakin bertambah dan bisa runyam akibatnya. Maka terjadilah pergumulan yang menegangkan selama beberapa bulan antara kemampuan otak dalam usia tua dengan persoalan keluarga yang sering goncang oleh bermacam persoalan. Yang menguntungkanku, Lip tidak melarangku untuk terus belajar, sekalipun dia

262

menderita. Ini bagiku sebuah modal yang luar biasa nilainya. Coba bayangkan kalau dia merengek dan memberontak, tentu semua langkah akan terhenti seketika, tidak mungkin bergerak lebih jauh. Untuk sikapnya ini aku berterima kasih kepadanya. Aku mendaftar di Departemen BahasaBahasa Timur Dekat dan Peradaban dengan fokus kajian tentang pemikiran Islam di bawah payung Studi Kearaban dan Islam. Sekarang aku harus belajar Bahasa Arab lagi plus Bahasa Persi, di samping mata kuliah yang diasuh Rahman. Juga harus lulus Bahasa Perancis sebelum ujian disertasi. Setelah kursus Bahasa Perancis selama 75 jam, aku lulus dengan angka P+, artinya baik sekali, sekalipun sekarang sudah lupa semua. Selama semester pertama aku harus belajar keras, bukan semata-mata untuk meraih prestasi akademik yang tinggi, tetapi juga karena terkait dengan masalah keluarga. Tantangan di depanku ketika itu sangat nyata: tanpa nilai rata-rata A, keluarga tidak bisa dibiayai untuk berangkat ke Chicago. Biaya sendiri mana mungkin, sekalipun misalnya dengan menggadaikan sawah milik familiku di Sumpur Kudus yang memang hampir tak pernah kumanfaatkan. Rantau telah mendidikku untuk tidak bermain-main dengan harta warisan.

263

Andaikan kuusulkan untuk menggadai, pasti seluruh saudaraku akan menentang dan kampung akan turut gaduh, sebab kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada keberadaan sawah itu. Cemeeh dari mulut ke mulut akan berkeliaran ke mana-mana. Bunyinya kirakira demikian: Sawahnya telah tergadai untuk ongkos sekolah di luar negeri, padahal hasilnya belum jelas. Syafii hanya memikirkan diri sendiri. (Dalam Bahasa Minang: Sawahnyo alah tagadai untuak ongkos sekolah di lua nagari, padahal hasiahnyo alun jaleh. Syafii hanya mamikiahkan dironyo sorang). Bukankah Minangkabau dikenal sebagai pusat cemeeh di muka bumi? Aku terbebas dari lingkaran cemeeh itu karena harta keluarga tidak kusentuh untuk belajar di luar negeri. Bahkan sawah-sawah yang tergadai oleh paman dan abang, sebagian sudah kutebus untuk kepentingan agama sebelum kuserahkan kembali kepada pihak keluarga setelah sekian tahun. Aku adalah di antara berempat anak Fathiyah-Marifah yang sedikit sekali memanfaatkan harta warisan. Aku tentu bangga dengan ini semua, berkat rantau. Sekiranya tidak merantau, bukan mustahil pula aku akan menggadaikan harta warisan, lantaran desakan hidup misalnya. Apalagi jika

264

menyandang gelar suku. Tidak sedikit orang kampungku yang hobi dalam transaksi gadai menggadai ini. Harta keluarga dibawa ke rumah bini dan anak. Ini pasti membuahkan gunjingan demi gunjingan. Akibatnya wibawa mamak jatuh di mata kemenakan. Di kalangan keluarga dekatku, kelakuan semacam ini juga terjadi. Rantau telah menyelamatkanku dari segala macam perbuatan melego harta pusaka itu. Kembali kepada nilai A pada semester pertama 1978-1979. Dengan nafas agak terengah-engah pada musim gugur aku mengikuti kuliah, menulis makalah, dan menempuh ujian akhir. Tesis S2 untuk Athens sementara dilupakan dulu. Konsentrasi adalah untuk meraih nilai A. Nilai A= keluarga datang. Alhamdulillah, harapan untuk meraih nilai A bagi tiga mata kuliah benar-benar menjadi kenyataan. Bukan main rasa syukurku. Segera Lip dan perwakilan Ford Foundation di Jakarta dikontak untuk menyampaikan kabar gembira ini. Lip diminta menyiapkan mental untuk berangkat ke Chicago bersama anaknya yang baru berusia kurang sedikit dari lima tahun pada Februari 1979. Pendek cerita semuanya berjalan dengan lancar sekalipun tanpa bekal Bahasa Inggris. Dalam perjalanan

265

sejauh itu mereka berangkat dengan bantuan bahasa isyarat. Biaya cukup, entah berapa ratus dolar Lip diberi Ford yang disimpan begitu saja dalam tas tangannya. Terbanglah mereka dua beranak dengan mengucapkan bismillah dengan pesawat apa, aku lupa. Mungkin dengan pesawat Thai Air dari Jakarta-Hong Kong dan dengan North Western Hong Kong-Chicago . Tidak langsung ke Chicago, harus singgah di jalan, yaitu menginap di hotel mewah di Hong Kong yang lengkap dengan berbagai fasilitas. Hafiz, nama anak kami, kebetulan sampai di hotel tidak minta minum. Mungkin karena lelah, mereka tidak sempat membuka kulkas yang menyimpan berbagai jenis minuman. Baru keesokan harinya di bandara mereka beli air minuman kaleng. Pagi-pagi buta Lip dan anaknya sudah berangkat ke bandara, tanpa menunggu jemputan yang sudah disiapkan Ford dari Jakarta. Tuhan memudahkan perjalanan mereka ke Chicago hampir tanpa rintangan yang berarti. Tugasku kemudian menjemput mereka ke bandara OHare yang sangat sibuk itu. Semua itu kulakukan dengan rasa lega dan bersyukur. Kami dapat berkumpul di rantau asing setelah sering berpisah dengan berbagai trauma yang menyertainya. Perjalanan

266

panjang itu kini telah jadi kenangan. Likuliku perjalanan jauh banyak menyimpan cerita lucu, kadang-kadang menegangkan, dan semuanya itu telah terekam dengan baik dalam memori kolektif kami. Sebelum masuk S.D., Hafiz belajar pada Taman Kanak-Kanak lebih dulu. Karena anak kecil, Hafiz cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu. Bahasa Inggris pun cepat dikuasainya. Sampai di Chicago masalah lain datang pula. Lip tidak betah menganggur. Hafiz sekolah, aku hampir tiap hari ke kampus. Ini masalah baru yang harus dicarikan jalan ke luar. Rintangan bahasa dapat diatasi. Tokh dalam pergaulan harian, bahasa Inggris itu akan dipahami juga. Setelah beberapa minggu di Chicago, cari informasi ke sana dan ke mari, Lip akhirnya dapat kerja sebagai baby sitter (pengasuh anak), demi membantu beasiswaku yang kecil. Lebih tiga tahun Lip bekerja sebagai pengasuh anak ke tempat yang agak jauh dari rumah kami di lingkungan kampus. Mula-mula dengan keluarga hitam-putih (suami hitam isteri putih), terakhir dengan keluarga putih (suami Yahudi, isteri Kristen). Pagi-pagi buta Lip berangkat sendirian ke tempat kerja. Di musim dingin harus berjuang dengan es yang menggumpal. Pernah juga kuantar dengan mobil. Cuaca

267

dingin sekali, tetapi harus diadang dan dilalui dengan tabah. Lip punya sifat tabah ini. Di musim panas, dia berangkat dengan sepeda. Dengan kerja delapan jam per hari, Lip telah jadi orang kaya baru. Untuk biaya hidup kami sehari-hari Lip tidak pernah kikir menyerahkan sebagian penghasilannya, demi menambah beasiswaku. Jika aku tak salah ingat gaji pertama yang diterimanya per hari $3,50 x lima hari kerja per minggu menjadi $140 x 4 =$560 per bulan. Beasiswaku ya sekitar itu. Kurs ketika itu $1=Rp. 750. Pendapatan total per bulan rata-rata dinilai dengan rupiah adalah Rp. 419.000 pada saat rupiah masih belum terjun bebas. Tahun terakhir gajinya meningkat menjadi $5 per jam. Pada waktu aku pertama kali jadi pegawai negeri bulan Juni 1967 gajiku hanya Rp. 868 per bulan, bukan? Tahun 1979, gajiku sekitar Rp. 60.000 per bulan. Dibandingkan dengan pendapatan Lip Rp.419.000 per bulan pada waktu yang sama bedanya teramat jauh. Bila dijumlah dengan besiswa yang kuterima $560 juga, maka penghasilan kami berdua dalam rupiah menjadi 2x Rp. 419.000=Rp. 838.000. Tahun 1979 kami sudah berani beli sebuah mobil merek Pinto buatan Ford tahun 1974 dengan harga $900, tidak menghabiskan gaji gabungan per bulan. Sebelum pulang ke tanah air, Pinto ini

268

kujual kepada teman bengkel kulit hitam dengan harga $250, setelah dikaryakan sekitar empat tahun. Bulan-bulan terakhir menjelang pulang pada awal Januari 1983, penghasilan isteriku cukup tinggi, yaitu lima dolar per jam, sebagaimana yang baru saja kujelaskan. Bekerja delapan jam per hari kali kali lima hari seminggu. Cukup fantastik hasilnya, apalagi bila dibandingkan dengan penghasilan di Indonesia, sungguh jauh nian bedanya. Selama bekerja, melaksanakan salat menjadi cukup sulit, begitu juga berpuasa. Jalan ke luarnya adalah salat dikumpulkan seluruhnya setelah pulang, puasa dengan membayar fidyah. Aku tidak tahu apakah fiqh mengizinkan dalam kondisi yang serba sulit itu. Sisa pendapatan dari baby sitter itulah yang kami gunakan untuk membayar uang muka rumah K.P.R. (Kredit Perumahan Rakyat) tipe 70 di Nogotirto yang kami tempati sejak tahun Nopember 1985, sekalipun kemudian telah mengalami perombakan setelah rezki agak sedikit mengalir. Luas tanahnya 230 m2. Sebelum pulang ke tanah air, kami sempat melalukan ibadah umrah. D. Chicago II: Setelah Titik Kisar Titik kisar ini berlaku sejak sekitar 1979 sampai selanjutnya di usia tuaku. Sudah

269

kututurkan bahwa selama periode Athens tidak banyak yang berubah dalam pola pemikiranku tentang Islam. Baru di Chicago perubahan mendasar itu terjadi. Aku merasa sedang mengalami kelahiran kedua dalam pemikiran. Islam bagiku adalah sumber moral utama dan pertama. AlQuran adalah Kitab Suci dengan sebuah benang merah pandangan dunia yang jelas sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal, termasuk acuan dalam berpolitik. Pergumulanku dengan kuliahkuliah Rahman selama empat tahun telah mempengaruhi sikap hidupku dengan secara sangat mendasar. Bagiku Rahman dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah seorang pemikir Muslim yang sangat akrab dengan kajian Islam klasik dan modern plus pengetahuannya yang luas tentang tetapi sangat kritikal terhadap dunia modern. Ilmu seorang alim ada di tangannya, sementara kajian orientalis tentang Islam telah lama dikuasainya. Entah berapa bahasa asing yang dikuasainya. Bandingannya untuk Indonesia adalah H.A. Salim. Bedanya, Rahman belajar secara teratur sampai memperoleh Ph.D. di Inggris, sementara Salim mengenal Islam lebih banyak dengan belajar sendiri berkat penguasaan bahasa asing sampai jumlahnya sembilan macam. Keinginan

270

Salim untuk belajar menjadi dokter di negeri Belanda kandas karena ketiadaan beasiswa. Sekiranya Salim sempat pula belajar Islam seperti Rahman, kira-kira kualitas pemikiran Islam di Indonesia tentu sudah terbang jauh ke angkasa. Persoalan hubungan Islam dan negara tidak perlu menguras energi umat Islam Indonesia selama bertahun-tahun, dan tak kunjung selesai. Pandangan Maududi dan Said Qutb tentang kaitan Islam dan negara terlalu dominan, terutama di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia selama lebih 20 tahun. Karya merekalah yang banyak dijadikan rujukan untuk memperjuangkan tegaknya sebuah negara Islam di Indonesia. Kaum santri tinggal ikut saja dengan gagasan mewah itu, termasuk aku sebelum titik kisar pemikiranku terjadi di Chicago periode kedua. Kelas Rahman tidak pernah terlalu ramai. Berbagai latar belakang mahasiswa datang menghadiri kuliah-kuliahnya tentang ilmu-ilmu keislaman, kelasik dan modern. Ada dari Eropa, Kanada, Amerika Serikat, Iraq, Saudi, Malaysia, Indonesia, dan dari negara lain. Ada Muslim (sunni dan syii), ada Kristen, ada Yahudi, semuanya dengan tekun mengikuti kuliahkuliahnya yang selalu hangat dan menantang. Otakku mau tidak mau telah mengalami pencucian: aktivisme tanpa

271

kontemplasi yang mendalam akan bermuara dengan kesia-siaan, ibarat sumur tanpa dasar. Argumen-argumen Rahman tentang Islam jauh dari sifat mendawahi. Mungkin baginya, jumlah besar tanpa kualitas yang prima lebih merupakan beban sejarah. Dan itulah situasi umat Islam sampai hari ini. Para pemikir modern Muslim sejak abad ke-18 sampai permulaan abad ke-21 telah datang dan pergi. Ada Shah Wali Allah (India), Jamal al-Din al-Afghani (Iran/Afghanistan), Muhammad Abduh (Mesir), Ahmad Khan (India), Muhammad Rasyid Ridha (Suria), Iqbal (India/Pakistan), Agus Salim (Indonesia) Malek Bennabi (Aljazair), Muhammad Asad (Austria/Pakistan), Fazlur Rahman (Pakistan), Hossein Nasr (Iran), Ismail alFaruqi (Palestina/Amerika), Muhammad AlNaquib al-Attas (Indonesia/Malaysia), Mohammad Natsir (Indonesia), Hamka (Indonesia), Bassam Tibi (Suria), Muhammad Arkoun (Aljazair), Abdullahi Ahmed An-Naim (Sudan), Muhammad Abed Al-Jabiri (Maroko), Abdulaziz Sachedina (Iran), Nurcholish Madjid (Indonesia), Khaled M. Abou El Fadl (Kuwait), Muhammad Amin Abdullah (Indonesia), dan beberapa nama lagi yang bisa ditambahkan. Mereka ini telah menghasilkan karya keislaman yang cukup

272

banyak dan bermutu. Kecuali Shah Wali Allah, Rasyid Ridha, Natsir, Hamka, AlAttas, al-Faruqi, dan Hossein Nasr yang kurang bersikap kritikal terhadap khazanah pemikiran kelasik, para pemikir lainnya telah mencoba melakukan dekonstruksi terhadap berbagai aspek pemikiran Islam abad pertengahan itu. Banyak persamaan di antara mereka, tetapi rekonstruksi yang lebih utuh untuk Islam masa depan masih perlu dikerjakan lebih lanjut oleh pemikir Muslim yang datang kemudian. Kita kembali ke ruang kelas Rahman. Semua kuliah disampaikan Rahman dengan jelas, tegas, mendalam, obyektif, kritikal, dan komprehensif. Terserah kepada mahasiswa untuk menilainya. Mereka diberi kebebasan penuh untuk mendebat. Mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang al-Quran, filsafat Islam, tasawuf, teori politik Islam, modernisme Islam, hukum, dan masih ada yang lain. Pokoknya di Universitas Chicago, kiyai besarnya tentang Islam adalah Rahman sampai dia wafat pada 1988. Setelah beberapa bulan kuliah dengannya, aku tidak lagi berucap: Professor Rahman, please give me one fourth of your knowledge of Islam, I will convert Indonesia into an Islamic state? Kalau kalimat masih juga kuucapkan, berarti aku masih berada dalam perahu fundamentalisme yang

273

penuh semangat tetapi sunyi dari pemikiran kontemplatif yang mendalam. Tidak ada manfaatnya aku pergi belajar jau-jauh ke rantau asing. Satu mata kuliah pilihan selama satu kuartal yang mahasiswanya hanyalah aku seorang adalah Readings in Iqbal dengan sumber-sumber Bahasa Inggris dan Bahasa Persi. Malam hari sebelum kuliah besoknya aku dengan susah payah membaca sajaksajak Iqbal dalam Bahasa Persi dengan bantuan terjemahan dalam Bahasa Inggris. Selama belajar di Chicago, bahkan selama aku belajar di perguruan tinggi, hanya dalam mata kuliah Iqbal ini nilai A+ kudapatkan, dan itu dari Rahman. Mungkin memang jawaban ujianku untuk yang satu ini mendekati sempurna. Selama kuliah di Chicago, aku telah mengambil sebanyak 25 mata kuliah dengan nilai: satu A+,15 A, satu A-, lima B+, tiga B. Untuk disertasi aku juga mendapatkan nilai A. Dengan demikian nilai A menjadi 16. Berdasarkan angka-angka itu, maka I.P.K. yang kuperoleh adalah 3,84. Lebih baik dari apa yang kudapatkan di Ohio yang hanya 3,67. Tentu aku berhak merasa bangga dengan prestasi akademik semacam ini dalam usiaku menjelang setengah abad. Jadi tidak sia-sia aku belajar sampai larut malam di perpustakaan Regeinstein Universitas

274

Chicago yang cukup melelahkan selama empat tahun empat bulan. Sekalipun disertasi telah kupertahankan pada tanggal 3 Desember 1982, wisuda baru diadakan pada tanggal 10 Juni 1983, pada saat aku sudah berada di tanah air. Lebih satu jam aku diuji oleh sebuah Tim Penguji yang terdiri dari enam guru besar. Dalam menghadapi peristiwa penting ini, aku didampingi oleh dua sahabatku alm. Nurcholish Madjid dan Salim Said. Dukungan moral keduanya telah semakin menguatkan batinku dalam menghadapi ujian disertasi sebagai tugas akademik terakhir sebelum aku mengucapkan sayonara kepada almamaterku: the University of Chicago, biasa disingkat U.C. Yang aku agak heran, Rahman masih sedikit meragukan tentang kemampuan Bahasa Arab Iqbal, padahal gelar M.A.-nya dalam bahasa al-Quran itu. Tetapi dalam membaca realitas umat Islam, Iqbal dengan bahasa puisinya tidak bisa ditandingi Rahman yang memang sering mengutip bait-bait puisi itu dalam perkuliahan. Terlalu banyak yang dihafalnya, sekalipun kritiknya terhadap Iqbal kadang-kadang cukup keras. Dalam tradisi akademik cara-cara semacam ini rupanya lumrah belaka.

275

Bagaimana dengan gagasan negara Islam? Rahman sendiri masih menggunakan istilah itu dan berpendapat bahwa proyek itu adalah sebuah kemungkinan dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Di antara syarat itu adalah agar cita-cita al-Quran bagi pembentukan sebuah masyarakat yang bermoral dan beretika betul-betul dijadikan tujuan dan pedoman utama. Di luar itu, merek Islam adalah sebuah kemewahan belaka, sementara isinya sarat dengan korupsi dan prilaku elit yang tidak senonoh. Syarat lain yang bisa kutangkap dari Rahman adalah agar seluruh produk teori politik yang pernah berkembang dalam sejarah Islam ditinjau kembali secara cerdas dan kritikal dengan mengambil al-Quran dan praktik nabi sebagai rujukan utama. Dengan kata lain, sebuah proses dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi secara radikal dan besar-besaran harus dilakukan. Teori politik Islam yang diciptakan dalam lingkungan budaya imperial dan dinastik harus dibongkar. Tanpa pembongkaran ini, Islam akan menjadi tawanan dari berbagai kepentingan dan intrik politik yang a-moral. Kegagalan umat Islam berurusan dengan kekuatan modernitas tidak boleh lalu lari berlindung dalam kungkungan masa lampau yang diidolakan secara tidak cerdas dan kritikal.

276

Dari perspektif ini, aku gagal memahami upaya segelintir gerakan Islam untuk membangun kembali sistem kekhilafahan yang telah hancur di ujung era Turki Usmani. Bagiku upaya model ini hanya akan menghabiskan tenaga, fikiran, dan dana. Buahnya sudah bisa diperkirakan: kegagalan untuk membangun peradaban Islam yang penuh wibawa sebagai alternatif bagi peradaban sekuler yang zalim dan kering. Bagiku sendiri mungkin karena terikat juga oleh suasana Indonesia, sebutan negara Islam itu tidak diperlukan lagi. Tetapi bahwa moral Islam harus menyinari masyarakat luas adalah sebuah keniscayaan, jika memang Indonesia ingin menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur. Ada pun perangkat hukum-hukum Islam dapat dikawinkan dengan sistem hukum nasional melalui proses demokratisasi. Ungkapan Hatta yang kirakira berbunyi: Janganlah gunakan filsafat gincu, tampak tetapi tak terasa; pakailah filsafat garam, tak tampak tetapi terasa, sering kukutip untuk menjelaskan posisiku dalam masalah hubungan Islam dan negara. Oleh sebab itu, Pancasila yang sudah disepakati itu harus membukakan pintu seluas-luasnya bagi masuknya sinar wahyu, sehingga tuduhan bahwa Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak berbeda

277

dengan negara sekuler akan dapat ditangkal. Pancasila yang hanya dimuliakan dalam kata, tetapi dikhianati dalam laku, hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini, sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan semakin menjauh juga. Dengan cara ini, masalah hubungan Islam dan negara yang masih mengundang kontroversi akan dapat dikurangi dan ditiadakan. Setelah 60 tahun merdeka, sebagian orang belum mau berpikir ke arah yang kuusulkan ini. Masih saja misalnya muncul kelompok-kelompok kecil radikal yang bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Bagiku cara berfikir semacam ini bukan saja usang dan tidak realistik, tetapi merupakan sebuah halusinasi politik yang sia-sia. Selama empat tahun lebih di Chicago, perkisaran cara berpikirku ini sungguh terasa sekali. Bahwa aku pernah dituduh sebagai antek kaum orientalis, biarlah tuduhan itu diteriakkan terus, sikap moral yang kubuktikan selama ini akan menjelaskan di mana sebenarnya posisiku dalam soal bernegara ini. Aku lebih mementingkan substansi yang memberi solusi terhadap masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan, bukan merek luar dengan isi yang penuh borok politik. Aku sudah lama kehilangan kepercayaan

278

kepada kelompok-kelompok radikal yang sesungguhnya sangat haus kekuasaan itu. Amat disayangkan, pada abad modern belum ada satu contoh pun tentang negara Islam yang dapat dijadikan teladan. Semuanya bermasalah. Islam malah sering digunakan untuk tangga mendapatkan keuntungan duniawi. Dalam ungkapan lain, nama Tuhan sering dibajak untuk tujuantujuan rendah. Aku tidak rela dan bahkan berontak melihat kenyataan buruk semacam ini. Aku tidak mau lagi menyaksikan bilamana Islam dijadikan barang dagangan dengan harga murah. Islam adalah pedoman hidup maha sempurna. Aku melihat proyek negara Islam yang diawali abad ke-20 tidak satu pun yang berdasarkan hasil penelitian komprehensif dan mendalam dengan menyiginya di bawah cahaya al-Quran dengan konsep syuranya yang menempatkan manusia pada posisi setara dan sejajar. Jika upaya serba radikal ini gagal, dan memang tidak punya syarat untuk berhasil, maka sebab utamanya adalah karena sebuah gagasan besar dikerjakan oleh otak-otak kecil yang lebih banyak dikuasai oleh emosi, bukan oleh kekuatan penalaran yang mantap secara teori. Ada mereka bangun semacam teori, tetapi belum berangkat dari pemahaman al-Quran dan

279

sunnah nabi secara autentik. Suasana dunia Islam yang terjepit telah dijadikan dasar tak langsung dari teori yang coba dibangun itu. Hasil akhirnya pasti akan kacau balau karena suasana batin yang marah menghadapi realitas telah dijadikan pangkal tolak dalam membangun teori. Pasti akan sia-sia. Sekalipun aku sendiri belum melahirkan sebuah teori yang utuh tentang hubungan Islam dan negara, setidaktidaknya aku telah merintis kerja ke arah itu dalam beberapa buku yang telah kuhasilkan. Beberapa orang telah menulis tentang beberapa aspek pemikiranku untuk skripsi, tesis, dan bahkan kabarnya juga disertasi. Nguyen Canh Toan dari departemen luar negeri Vietnam yang belajar pada Universitas Gadjah Mada telah menulis tesis tentang padanganku mengenai pluralisme budaya dan agama selama aku menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah (1998-2005). Mungkin saja hasil pemikiranku ini baru berupa fragmenfragmen, tetapi telah mulai menarik minat orang untuk mengkajinya. Titik kisar dalam pemikiranku tentang Islam tidak hanya bertalian dengan teori kekuasaan. Masalah toleransi inter dan antar agama, juga mendapat porsi yang penting setelah aku dibasuh di Chicago. Sementara keyakinanku kepada Islam

280

Qurani (jika ungkapan ini boleh kugunakan) semakin kuat dan utuh, sikap toleransiku terhadap pemeluk agama dan keyakinan lain juga semakin mendasar. Bukan saja terhadap pemeluk agama lain, aku pun bisa hidup berdampingan dengan seorang yang mengaku sebagai ateis. Syaratnya tentu saja agar masing-masing pihak saling menghormati secara tulus dan siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi ini di atas dasar formula: Bersaudara dalam perbedaan, dan berbeda dalam persaudaraan. Prinsip ini telah kupasarkan dalam berbagai forum pertemuan dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi. Teman-teman lintas agama sangat akrab denganku, karena sikap dasarku dibangun di atas formula itu. Dengan formula ini, imanku rasanya tidak semakin lemah, malah semakin kokoh, sementara hubungan persaudaraan dengan siapa pun dapat terjalin secara bebas dan bermartabat. Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir, hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu. Semuanya ini kulakukan berdasarkan pemahamanku terhadap ayat-ayat alQuran dalam surat al-Baqarah: 256, surat Yunus: 99, dan masih ada beberapa ayat

281

lagi. Bagiku planet bumi ini bukan hanya untuk pemeluk Islam, tetapi untuk semua, apakah mereka beriman atau pun tidak. Semuanya punya hak yang sama untuk hdup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas dasar keadilan dan toleransi. Tak seorang pun punya hak monopoli atas bumi ini. Oleh sebab itu umat Islam semestinya secara aktif mengembangkan budaya toleransi ini dengan syarat pihak lain pun berbuat serupa. Jika ada gerakan agama atau politik yang ingin mengusir pihak lain dari muka bumi, maka mereka adalah musuh peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan. Ada pun sebagian besar pemeluk Islam telah kalah dalam persaingan dalam memanfaatkan isi bumi, itu semata-mata karena kelalaian mereka yang tidak mau belajar bagaimana memenangkan kompetisi. Dalam ungkapan lain, mereka yang selalu menyalahkan pihak lain manakala kalah dalam perlombaan, maka itulah mereka yang tak mau belajar secara sungguh-sungguh untuk menang. Sudah berulang kali kusampaikan agar umat Islam tidak hanya pandai mengarahkan telunjuknya kepada pihak lain, tetapi harus lebih sering telunjuk itu dihadapkan kepada diri sendiri. Tengok diri secara berani pada kaca kehidupan dan kemudian simpulkan

282

apa yang salah pada diri kita: kalah berkepanjangan selama berabad-abad! Tanpa perubahan sikap yang nendasar dalam masalah ini, masih akan panjang waktu yang diperlukan sampai umat Islam mau berkaca diri secara jujur, sungguhsungguh, dan cerdas. Jangan harapkan pihak lain akan menolong kita, jika kita tidak siap menolong diri sendiri. Barangkali saja usiaku yang menjelang malam ini tidak akan punya kesempatan lagi untuk menyaksikan kebangkitan peradaban Islam yang autentik, toleran, dan berkualitas tinggi. Tetapi setidak-tidaknya aku dengan bekal dari pesantren Chicago tidak pernah tinggal diam dalam menyuarakan pemikiran-pemikiran terobosan, sekalipun nilainya belum seberapa dikaitkan dengan harapan yang teramat besar untuk sebuah perubahan yang fundamental dengan alQuran sebagai hakim yang tertinggi. Dalam pemahamanku terhadap syura (mutual consultation), sistem politik demokrasi rasanya lebih sesuai untuk dilaksanakan dalam konteks modern. Demokrasi tidak harus bercorak Barat. Aspek-aspek sekuler dari sistem ini dapat saja disingkirkan, sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolaknya. Kita ambil contoh, sebutlah misalnya parlemen sebuah negara menghalalkan judi karena didukung oleh lebih 50%

283

anggotanya. Dalam sistem demokrasi Barat, judi dengan demikian menjadi halal. Dalam sistem politik syura, hal itu tidak mungkin berlaku, sekalipun didukung oleh 100% anggota parlemen sebagai perumus dan pembuat undang-undang. Dalam sistem syura, di atas parlemen ada ketentuan agama yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apa pun, kecuali dalam kondisi yang sangat darurat. Seperti bolehnya memakan daging babi dalam kondisi terpaksa, demi mempertahankan hidup seseorang. Dalam kondisi normal, memakan daging babi adalah haram mutlak, sekalipun misalnya parlemen membolehkannya. Mengapa demokrasi lebih ditekankan? Karena sistem ini menempatkan manusia pada posisi sama dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama. Di sini doktrin egalitarian mendapatkan tempatnya secara wajar, sementara dalam sistem kerajaan yang masih berlaku pada beberapa negara Muslim, rakyat tidak punya hak untuk berkuasa. Pada waktu membahas konsep daulat rakyat dan daulat tuanku sebelumnya aku sudah menyinggung masalah ini. Dengan demikian di mana posisiku dalam masalah sistem politik ini sudah sangat jelas, tidak perlu diperpanjang lagi, kecuali dalam konteks

284

yang sangat memerlukan. Tetapi jika aku berbicara tentang demokrasi, hendaklah dibaca dalam konsep demokrasi yang berkeadilan. Tanpa keadilan, sistem politik mana pun tidak lebih dari panggung sandiwara yang mengatasnamakan rakyat. Banyak contoh sudah dalam sejarah, demokrasi hanya dipakai sebagai kedok untuk keuntungan pribadi dan kelompok. Jika ini yang berlaku, maka kesimpulan kita adalah bahwa orang telah berkhianat dengan topeng demokrasi. Perkembangan pemikiran lain akibat Chicago adalah tentang posisi perempuan dalam politik. Bagiku tidak ada masalah dan halangan seorang perempuan dipilih jadi bupati, gubernur, dan bahkan presiden, sesuatu yang tabu dalam khazanah kelasik Islam. Tidak saja pada masa kelasik, di era modern pun masih cukup banyak ulama dan sarjana Muslim yang menolak perempuan untuk jadi pemimpin dengan berbagai alasan. Tentu tidak asal perempuan. Harus dicari untuk dipilih pribadi yang benar-benar punya kemampuan prima, bermoral, dan akan lebih baik pasca usia 40 tahun pada saat ia telah lebih longgar untuk berkiprah di bidang politik. Rintangan-rintangan alamiah sebagai risiko menjadi perempuan sudah sangat berkurang. Dengan demikian perhatian untuk membela rakyat menjadi

285

terbuka lebar. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah izin suaminya, sekiranya ia masih bersuami. Pendapatku ini sudah tentu bertabrakan dengan pendapat sebagian ulama yang masih terikat dengan warisan kelasik. Tetapi biarlah wacana semacam ini berkembang terus karena masing-masing pihak punya alasan dari sudut agama dan kemaslahatan rakyat. Tafsiran mana yang mendekati kebenaran, biarlah perkembangan masyarakat yang akan menilai. Aku setidak-tidaknya sejak seperempat abad yang lalu telah mengemukakan pendapat ini, sementara Rahman sendiri tidak terlalu banyak berbicara tentang masalah krusial ini. Pendapatku tentang masalah kepemimpinan perempuan ini berangkat dari diktum al-Quran tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa, laki-laki mau pun perempuan (lih. surat al-Hujurat: 13 dan ayat-ayat lain yang saling mendukung). Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah, asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Posisi pemimpin formal (laki-laki dan perempuan) akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja

286

keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Sebaliknya zalim adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang salah. Pemimpin laki-laki atau perempuan yang adil haruslah memenuhi kriteria yang elementer tetapi cukup mendasar ini. Dengan pemikiran semacam ini aku ingin melihat dunia ini tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Dalam wacana modern, keadilan gender harus ditegakkan secara proporsional. Kaum perempuan yang merasa tertindas selama berabad-abad, tidak terkecuali di dunia Islam, dengan pendapat ini telah memperoleh hak-haknya yang sejati. Tidak lagi dimainkan oleh ketentuan fiqh yang pada umumnya ditulis oleh laki-laki. Sebenarnya dalam sejarah nusantara, kasus Aceh adalah contoh yang menarik, di mana kaum perempuan pernah menduduki posisi puncak dalam militer dan pemerintahan. Jadi telah ada contoh empirik untuk kemudian kita bangunkan teorinya berdasarkan pemahaman yang benar dan cerdas terhadap al-Quran. Pendapat klasik yang tidak didukung Kitab Suci ini harus dibongkar dan diganti dengan teori yang lebih adil terhadap perempuan.

287

Masih terkait dengan masalah perempuan ini adalah mengenai sistem perkawinan, monogami atau poligami. Dalam masalah ini, pendapat Rahman cukup dominan dalam mempengaruhi pendirianku. Pokoknya sistem perkawinan yang benar menurut al-Quran adalah monogami. Poligami dibuka pada saat-saat yang sangat terpaksa dengan syarat-syarat yang berat. Memang dalam surat al-Nisa: 3 terkesan selintas kebolehkan beristeri lebih dari satu. Tetapi kesan itu akan berguguran dengan menghubungkan pernyataan kebolehan itu dengan ayat 129 pada surat yang sama. Kalau ayat tiga mensyaratkan berlaku adil terhadap isteri-isteri, ayat 129 menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin, sekalipun sang suami ingin sekali berbuat adil. Dengan memadukan kedua ayat ini, maka aku menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam adalah monogami, sedangkan pintu poligami tertutup rapat kecuali dalam kasus-kasus yang sangat darurat. Memang di Arabia sebelum dan pada masa awal Islam, praktik poligami itu sangat merebak. Tidak mungkin diubah dalam sekejap mata. Maka di sini berlaku hukum evolusi: secara berangsur tetapi pasti, sistem perkawinan dalam Islam haruslah menuju kepada sistem isteri tunggal dengan catatan kaki seperti di

288

atas. Jangan dibalik: sistem perkawinan dalam Islam pada dasarnya adalah poligami, kecuali bagi yang tidak mau. Pendapat ini jelas bersikap tidak adil terhadap perempuan, seakan-akan laki-laki sudah ditakdirkan bersifat polygamous dan perempuan monogamous. Sebelum berangkat ke Chicago, aku berada dalam biduk yang sama dengan para ulama yang pro-poligami, sekalipun aku tidak melakukannya karena memang tidak mungkin dan karena trauma Lip yang menderita karena ibunya dimadu. Pendapatku tentang sistem monogami sudah final berdasarkan pemahamanku terhadap dua ayat dalam surat al-Nisa di atas. Tidak ada kaitannya dengan sistem Barat yang lebih banyak hipokritnya. Isteri satu, tetapi bini tak resmi berkeliaran di mana-mana. Seks bebas telah menghancurkan sistem famili dan pasti akan berakibat destruktif bagi perjalanan peradaban manusia jangka panjang. Di Barat sekarang konsep single parent (orang tua tunggal) bukan lagi suatu yang ditutupi. Konsep ini menunjukkan bahwa si anak hanya mengenal ibunya, sementara bapaknya entah siapa. Atau bapaknya diketahui tetapi telah berpisah dengan ibunya. Apa yang disebut anak hasil kumpul kebo sudah hampir merata di Barat.

289

Kabarnya di kota-kota besar Indonesia, praktik seks bebas ini juga mulai menggejala, sesuatu yang bila tidak dihentikan, struktur keluarga lambat atau cepat akan berantakan. Ironisnya lagi, mayoritas penduduk Indonesia secara statistik sebagai pemeluk Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara. Sila pertama Ketuhanan yang maha esa semestinya dijadikan panduan moral dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga seks bebas, terang-terangan atau secara sembunyi harus distop dan tidak dibiarkan meracuni generasi yang baru muncul yang masih relatif bersih. Aspek pemikiranku yang lain berkaitan aliran-aliran dan firqah-firqah yang marak dalam sejarah umat Islam pada umumnya berpangkal dari konflik politik berdarah yang terjadi antara Ali dan Muawiyah dalam Perang Shiffin pada 37 H/657 M dan kemudian diikuti oleh Tahkim di Daumat alJandal yang menghebohkan itu. Bagaimana pendapatku tentang tragedi ini, baiklah kuturunkan kolomku dengan judul Mengapa Sunisme, Syiisme Masih Juga Diberhalakan? yang dimuat dalam Republika, 22 Maret 2005, halaman 12 dengan sedikit modifikasi. Sepanjang pengetahuan saya, pada masa nabi Muhammad, umat Islam tunggal, tidak berkeping-keping.

290

Munculnya kelompok Suni, Syaii, dan Khawarij baru seperempat abad setelah wafatnya nabi. Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Daumat alJandal pada 657 antara kelompok Ali dan kelompok Muawiyah untuk mengakhiri Parang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu. Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asyari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian Amr ibn al-Ash sebagai pendukung setia Muawiyah. Al-Quran dan nabi yang kemudian dibawa-bawa dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan, sadar atau tidak sadar, terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu. Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas. Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan al-Quran sebagai al-Furqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)? Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan, padahal kemenangan

291

sudah hampir di tangan. Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri). Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Muawiyah, Ali, dan Ibn al-Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat. Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada tahun 661 M di Kufah, sedangkan dua yang lain selamat. Dengan terbunuhnya Ali, maka lapanglah jalan bagi Muawiyah untuk menjadi penguasa pasca al-Khulafa al-Rasyidun, sesuatu yang sudah lama diincarnya. Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Daumat al-Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang, Syii, pembela Ali, dan Khawarij, yang anti terhadap keduanya. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal nabi. Yang pertama adalah Perang Jamal antara Aisyah dan Ali, yang dimenangkan pihak Ali. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah Aisyah, isteri nabi, dan Ali, sepupu dan menantu nabi, sekalipun isteri Ali, Fathimah, puteri nabi bersama Khadijah, sebab Aisyah tidak dikurniai keturunan. Siapa yang meragukan

292

kualitas iman mereka ini semua. Tak seorang pun, bukan? Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan. Dengan kata lain, politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan, tidak terkecuali para sahabat nabi yang mulia ini. Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian tragis itu dengan penuh kearifan, sesuatu yang tidak selalu mudah, sekalipun bukan mustahil, dengan syarat al-Quran dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskansetiap langkah duniawi kita. Jika tidak demikian, al-Quran menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman. Timbul pertanyaan, mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga, sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologis umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia: Iraq, Afghanistan, Palestina, dan di mana

293

lagi, tragedy berdarah yang tak kunjung usai jua. Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkarai, tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar, sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin, kecuali jika kita memang mau membuang al-Quran ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh Islam dalam jubah sunisme, syiisme, dan isme apa lagi, seperti yang berlaku berabad-abad. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan, jika memang kita mengaku setia kepada al-Quran? Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syiah di Teheran beberapa tahun yang lalu. Saya ingin mereka bersedia mendekati al- Quran dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu. Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang, saya amat khawatir keluhan rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini. Dan mengeluh [aslinya berkata] rasul: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menyebabkan al-Quran ini ditelantarkan. 15
15

(Lih. al-Quran s. al-Furqan: 30).

294

Kalau realitasnya memang demikian, mengapa umat Islam di bagian-bagian lain dunia hanya mengekor saja terhadap apa yang berlaku dalam masyarakat Arab yang sarat dengan konflik dan pertengkaran? Benar, Islam lahir pertama kali di Arabia, tetapi Islam tidak sama dengan Arab. Mereka yang berbahasa Arab belum tentu faham Islam. Sama halnya dengan orang yang berbahasa Indonesia, banyak yang bahlul tentang Indonesia. Oleh sebab itu kebangkitan Islam yang sering disebut-sebut itu tidak harus muncul dari bumi yang berbahasa Arab, sekalipun untuk memahami agama secara dalam, penguasaan Bahasa Arab merupakan sesuatu yang mutlak. Bagiku, jalan terbaik dan benar untuk mengukur apakah suatu aliran pemikiran bersifat Islam atau bukan, ialah dengan menggandengkannya dengan al-Quran yang dipahami secara jujur, adil, dan cerdas (bi al-uqul al-shahihah wa alqulub al-salimah). Tentu sebagai manusia yang relatif, pemahaman seseorang terhadap Kitab Suci belum tentu sama persis. Tetapi setidak-tidaknya, bila kejujuran dan sikap rindu kepada kebenaran yang dikedepankan, perbedaan pemahaman itu tidak akan terlalu jauh, apalagi saling bertentangan secara tajam. Bagiku tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk dipecahkan, sekiranya semua pihak

295

memakai pikiran jernih, dada lapang, dan punya ilmu yang memadai.
VII. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN

A. Perkisaran Abad, Harapan, dan Kecemasanku Siapa pun berhak berbicara tentang masalah-masalah besar yang menyangkut hari depan umat manusia. Dalam berbagai tulisanku yang tersebar di media cetak, aku telah agak sering berbicara tentang dunia modern yang terlepas dari jangkar transendental sejak 300-400 tahun yang lalu, khususnya yang terlihat di belahan bumi barat. Sub-bagian berikut sebagian kuambil dari kolomku dengan judul Peradaban di Tengah Harapan dan Kecemasan (Republika, 14 Juni 2005, hlm. 12) dengan perubahan dan tambahan di sana-sini. Sebagai orang yang pernah mengajar sejarah peradaban Islam, tentu tidak terlalu sukar bagiku untuk berbicara tentang topik semacam ini, betapa pun belum mendalam. Adalah Richard Falk, guru besar hukum internasional pada Universitas Princeton, Amerika Serikat, yang sering berbicara tentang masalah-masalah besar yang tengah menerpa dunia dan kemanusiaan di abad modern atau pasca-modern. Dua

296

tahun sebelum pergantian abad ke-20 ke abad ke-21, Falk menulis: Kedatangan milenium baru setidak-tidaknya mendorong imajinasi. Ia adalah sebuah alat penunjuk yang dilemparkan ke pantai di gelap malam sementara sungai sejarah mengalir dengan deras. Yang kita lihat tidak lebih dan tidak kurang selain apa yang diizinkan imajinasi, terutama harapan-harapan kita yang terdalam dan kecemasan-kecemasan kita yang mengerikan. Berlalunya milenium ini mendorong kutub-kutub harapan [ke arah] yang serba berlawanan: berakhirnya dunia atau bermulanya sebuah tatanan baru. (Lih. Just Commentary, No. 8, Jan. 1998, hlm. 1). Sungai sejarah telah mengalir selama tujuh tahun sejak tulisan Falk muncul. Dunia memang belum berakhir, tetapi tatanan baru yang lebih ramah dan manusiawi juga belum tampak bayangannya. Afghanistan berantakan, Iraq kacau balau, dan Palestina belum juga merdeka, padahal Presiden Bush pernah mengatakan bahwa tahun 2005 adalah kemerdekaan bagi bangsa Arab yang sudah terlalu lama menderita akibat kekejaman Israel dengan dukungan dari Amerika. Dunia Islam? Apakah ada dunia Islam? Yang ada bangsa-bangsa Muslim yang belum tentu terikat dengan agamanya.

297

Tetapi baiklah istilah dunia Islam tetap kita pakai, sekalipun prilaku sebagian para elitnya belum tentu mencerminkan ajaran Islam autentik dan sejati. Dunia Islam masih tetap rentan karena juga belum siuman untuk berbenah diri di bawah tekanan atau rayuan Barat, khususnya Amerika Serikat. Indonesia, sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi, keadaannya setali tiga uang, masih belum pula bebas dari berbagai penyakit sosial dan politik yang parah, di samping harus menerima pukulan alam berupa gempa dan tsunami yang telah meluluhlantakkan sebagian wilayah republik tercinta ini. Alangkah sukarnya menciptakan sebuah dunia yang beradab melalui parameter universal di tengah arus global yang semakin sekuler dan bahkan ateistik. Negara-negara maju dengan teknologi super canggih belum juga sadar tentang tanggung jawab globalnya untuk menolong dunia miskin. Bahkan yang berlaku adalah dunia miskin masih saja dihisap oleh negara kaya dengan berbagai dalih dan tipu. Jika abad pertengahan di Eropa dianggap tidak menghormati martabat manusia demi Tuhan, diawali terutama sejak renaisans, situasinya terbalik 180 derajat. Gagasan besar tentang Tuhan menjadi tertindas, demi manusia. Memang

298

pengakuan dan penghormatan lahiriah terhadap Tuhan masih tampak di berbagai unit peradaban, tetapi laku manusia pada umumnya sudah lama tidak menghiraukanNya. Bahkan Tuhan dianggap sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan manusia. Tuhan memang masih disebut pada koin Amerika misalnya, tetapi perang neo-imperialisme terhadap bangsa-bangsa yang tak berdaya di bawah komando Amerika Serikat tetap saja berlangsung dengan seribu dalih dan retorika murahan. P.B.B. (Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah lama mandul untuk menyetop agresi biadab negara kuat. Akankah abad ke-21 yang baru di awal jalan ini menawarkan secercah harapan untuk sebuah dunia yang lebih ramah dan adil? Sulit kita menjawabnya. Tokoh-tokoh agama besar telah sering berkumpul di berbagai belahan bumi, di mana aku sering juga terlibat, dalam upaya mencari titik temu untuk merumuskan sumbangan agama terhadap perdamaian, tetapi belum pernah efektif. Salah satu sebabnya adalah kenyataan bahwa masalah internal agama sendiri masih jauh dari suasana damai, sementara manusia sekuler modern telah muak terhadap apa yang bernama iman. Abad kita sekarang sedang berada di antara jepitan sekularisme ateistik dengan harapan besar manusia untuk kembali

299

mengenal Tuhan. Apakah sebuah keseimbangan baru akan tercipta, di mana martabat manusia tetap dalam terhormat, tetapi Langit diundang untuk menyapa bumi kembali. Membiarkan situasi disikuilibrium (ketidakseimbangan) seperti sekarang, rasanya sudah sangat berat. Abad modern yang semakin jauh dari nilai-nilai moral-transendental terasa semakin gersang dan ganas saja. Tetapi, apakah Tuhan masih belum juga mau mendengar jeritan mayoritas manusia menderita di tengah-tengah kemewahan kelompok minoritas yang angkuh dan mati rasa? Atau apakah jeritan itu masih belum sungguh-sungguh padahal air mata hamba Allah sudah banyak yang kering? Kita pun tidak bisa menjawabnya. Imajinasi kita dapat menjadi liar, jika kita mencoba menyahutinya dengan pasti. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ada di balik kesenjangan yang parah ini. Tetapi menurut apa yang kurenungkan, ada satu yang pasti: dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang tanpa rujukan. Prinsip moral tertinggi menjadi musnah tanpa Tuhan. Bumi kehilangan wasit sejati, tempat manusia dan kemanusiaan mangadu mencari keadilan yang autentik. Dalam ungkapan lain, tanpa sapaan Langit, bumi akan tetap diterpa ketidakadilan dan penderitaan panjang. Untuk berapa lama?

300

Pertanyaan ini terutama harus dijawab oleh mereka yang mengaku beragama. Sampai berapa lama mereka memperalat Tuhan untuk kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek yang jauh dari suasana yang diajarkan Langit? Secara teoretis, semua agama mengajarkan kebaikan dan keutamaan, tetapi mengapa doktrin ini sering benar dilanggar? Iman di tangan mereka yang berhati sempit pasti akan melahirkan malapetaka, hampir serupa dengan laku mereka yang telah meelupakan Tuhan. Kesimpulannya: fundamentalisme agama yang bernafsu memonopoli kebenaran atas nama Tuhan akan berakibat tidak jauh berbeda dengan sekularisme-ateistik yang telah talak tiga dengan apa yang bernama iman. Maka, ambillah pelajaran wahai kamu yang mempunyai penglihatan, seru al-Quran dalam surat al-Hasyr: ayat 2. Penglihatan yang tajam inilah yang susah kita dapatkan di lingkungan peradaban yang lebih terpaku dan terpukau oleh kilauan yang serba kulit, lupa hakekat. Dunia Islam juga belum punya kesadaran yang cerdas tentang missi Islam yang sebenarnya: menebarkan rahmat untuk alam semesta. Alangkah mulianya tujuan missi ini, tetapi alangkah kecilnya otak manusia pendukungnya, termasuk aku di

301

dalamnya. Batin meronta keras, namun realitas tidak beranjak juga. B. Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago Kegiatan ini berlangsung sejak aku kembali ke tanah air awal tahun 1983 sampai saat aku menulis bagian ini (Peb. 2006). Sampai di mana ujungnya nanti akan sangat tergantung kepada kesehatanku dan tanggapan masyarakat luas terhadap pikiran-pikiran kusampaikan. Jika pikiran itu dinilai sudah usang, tidak lagi menantang, dengan sendirinya kegiatan kemasyarakatanku akan menyusut, karena tidak ada hal-hal baru yang dilontarkan. Sajian itu ke itu juga yang mengundang kebosanan. Bila itu terjadi, aku harus sadar bahwa tidak saja fisik yang sudah melemah, syaraf otak pun tidak lagi dapat berfungsi secara prima. Semuanya sudah berada dalam proses laruik sanjo (larut senja) menuju tempat perhentian terakhir: kuburan. Harapanku tentunya agar tidak menyusahkan keluarga dan masyarakat sebelum aku sampai ke ujung jalan kehidupan dunia itu. Kegiatan pertamaku setelah pulang adalah mengajar pada Jurusan Sejarah F.P.I.P.S. I.K.I.P. Yogyakarta (sekarang F.I.S. Universitas Negeri Yogyakarta). F.P.I.P.S., Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, kemudian berubah menjadi F.I.S.,

302

Fakultas Ilmu Sosial, untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan penting dari bentuk I.K.I.P. ke universitas. Selama dua tahun tempat tinggalku dan keluarga masih berpindah-pindah karena belum punya tempat tinggal permanen. Baru akhir tahun 1985, kami pindah ke rumah permanen di Nogotirto melalui K.P.R. (Kredit Perumahan Rakyat) dari perusahaan P.T. Nitibuana yang berpusat di Kudus. Bung Profesor Ichlasul Amal Achmad, teman lama sejak dari DeKalb, mantan rektor U.G.M., pada suatu ketika sambil bergurau mengatakan bahwa perumahan model K.P.R. itu adalah bak sarang merpati. Ya, tetapi itulah yang baru dapat dijangkau secara mencicil oleh seorang pemegang ijazah Ph.D. tamatan Amerika. Untuk pembayaran uang muka rumah K.P.R., untung Lip punya sisa uang dari hasil baby sitter-nya di Chicago. Sedangkan kekayaanku kalau tidak salah hanya tinggal di bawah $22. Miskin bukan, sementara gaji sebagai pegawai negeri tidak cukup untuk menghidupi tiga jiwa dengan standar yang sangat sederhana. Aku yang sudah beroleh Ph.D. dari salah satu universitas terkenal harus puas dengan kondisi kesejahteraan pegawai yang demikian itu. Semua pegawai bernasib sama. Solusinya adalah aku harus

303

memberi kuliah di perguruan lain, negeri atau swasta. Cara ini harus ditempuh, sebab tanpa itu kehidupan kami sekeluarga akan tetap saja tidak berubah seperti sebelum berangkat. Dua perguruan tinggi I.A.I.N., U.I.I., dan U.N.S. adalah tempatku memberikan kuliah, selain mengemban tugas pokokku di I.K.I.P. Mata kuliah yang kupegang bervariasi. Ada sejarah Islam, agama, pemikiran ideologi, dan bahkan Pancasila. Tahun 1984 I.A.I.N. membuka program pasca sarjana. Aku diminta sebagai salah seorang tenaga pengajar. Tugas ini kupegang selama beberapa tahun. Tahun 1986 selama 100 hari aku diminta untuk mengajar studi keislaman di Universitas IOWA. Rektor I.K.I.P. kala itu adalah mendiang Drs. St. Vembriarto. Agak aneh bin ajaib, aku dihalangi untuk berangkat tanpa alasan yang jelas. Tetapi pihak IOWA memotong rintangan itu melalui Jakarta, dan berhasil. Vembriarto tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah. Maka aku dan Prof. Barnadib, mantan rektor I.K.I.P., sama-sama berangkat ke universitas yang sama. Gaji tidak besar, tetapi jauh lebih baik dari pendapatanku di Indonesia. Pulang dari sana ada sisa uang yang kubelikan sebuah pickup Suzuki yang sudah tua, mungkin setua mobil yang pernah kupakai selama

304

kuliah di Chicago dengan merek Pinto buatan Ford. Inilah mobil stasiun pertama yang kumiliki di Indonesia pada saat aku sudah menginjak usia 51 tahun. Isteriku Nurkhalifah pernah juga memakai pickup ini untuk mengantarkan Hafiz ke sekolah ketika aku tidak di Jogja. Kemudian menjadi kapok ketika mobil berhenti seketika di belakang bus kota. Atas kebaikan awak bus, pickup tua ini diantar ke Nogotirto. Sejak itu ibu Hafiz tak mau lagi pegang stir, sekalipun S.I.M. (Surat Izin Mengemudi) diurus juga. Pengalaman lain dengan Vembriarto adalah menahan proses kenaikan pangkatku selama beberapa bulan. Padahal sewaktu masih di Chicago aku telah membantunya dengan mengopikan buku-buku yang diperlukannya di Indonesia. Suasana politik di kampus sewaktu Daud Jusuf menjadi menteri pendidikan memang cukup tegang dan panas. Sebagai seorang yang dilahirkan merdeka, aku tidak mau tinggal diam. Rektor harus kudatangi untuk menanyakan apa pasal penahanan kenaikan pangkatku, yang pada waktu itu baru sampai pada tahap penandatanganan D.P.3. Terjadi dialog. Mungkin pak rektor berbuat begini karena saya tak mau pakai pakaian seragam. Dijawab: Itu antara lain.

305

Peluang ini kumanfaatkan untuk memberi tekanan kepadanya. Mohon D.P.3 saya ditandatangani secepatnya. Hanya dalam tenggang waktu dua-tiga hari semuanya menjadi beres. Ternyata manusia ini begitu-begitu saja. Berlagak seperti orang yang tak dapat disentuh. Setelah didatangi dengan sikap percaya diri, semua keangkuhan itu menjadi berguguran. Aku adalah di antara sedikit dosen I.K.I.P. yang tetap menjaga kemerdekaan di tengah-tengah tekanan politik untuk serba seragam selama berada di kampus. Semua orang di I.K.I.P. paham kelakuanku ini. Aku jelas bangga karena tidak hanyut dalam budaya yang serba menyerah di bawah payung sistem politik negara yang otoritarian di era Orde Baru. Kegiatan lain adalah di Muhammadiyah. Sejak tahun 1985 atas dorongan M.A. Rais, aku diminta aktif sebagai anggota Majelis Tabligh P.P. Muhammadiyah yang dipimpinnya. Aku sekalipun pernah menjadi anak panah Muhammadiyah yang dikirim ke Lombok, tampaknya perlu menyegarkan diri kembali dengan memasuki majelis yang menjadi ujung tombak P.P. Muhammadiyah ini. Amat rajin majelis ini mengadakan rapat reguler saban minggu di kantor P.P. yang lama, Jl. K.H. A. Dahlan 99, Jogjakarta. Sebagai alumnus Madrasah Muallimin,

306

tentu tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tabligh ini. Sebelumnya sewaktu bekerja pada majalah Suara Muhammadiyah aku pun pernah menjadi anggota Majelis Pustaka P.P. Muhammadiyah pimpinan H.A. Basuni, B.A. yang sekaligus pimpinan majalah. Majelis Pustaka ini kurang aktif dalam menjalankan kegiatannya. Dalam berkiprah pada Majelis Tabligh ini aku mulai berkunjung ke daerahdaerah. Majelis pimpinan M.A. Rais ini sangat aktif dalam menjalankan missi dawahnya, tidak saja secara lisan, penerbitan pun digalakkan. Di samping Rais, Dr. A. Watik Pratiknya juga merupakan motor dari majelis ini. Suasana kerja dengan demikian menjadi sangat hidup dan menggairahkan. Seakan-akan majelis ini adalah P.P. dalam P.P. Nama Rais melambung melalui Majelis Tabligh ini. Yang lain mengikuti. Posisiku dalam Muhammadiyah belum begitu kuat, karena memang belum terlalu dikenal pada tingkat akar rumput. Ini terbukti dalam Muktamar ke-42 tahun 1990 di Jogjakarta, aku menempati nomor buntut kedua dari bawah, yaitu 12. Posisi 13 diisi oleh A.R. Fachruddin, tokoh yang paling lama memimpin Muhammadiyah, kemudian tidak bersedia lagi jadi ketua. Angka 12 yang jatuh atas diriku sesungguhnya tidak

307

terlalu mengherankan karena beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah bertolak ke Malaysia menjadi dosen tamu pada U.K.M. (Universiti Kebangsaan Malaysia), 1990-1992. Sekalipun berada pada angka 12, aku sudah masuk ke dalam jajaran P.P. Muhammadiyah, sebuah posisi yang tidak selalu mudah dimasuki oleh kader persyarikatan. Akibat aku tidak bisa aktif sebagai anggota P.P., posisi bendahara diberikan kepadaku, sedangkan aku seumur hidup belum pernah terlibat dalam urusan keuangan organisasi. Pengalamanku dalam soal ini adalah nol. Rupanya posisi ini diberikan kepadaku, karena tokh fungsi bendahara sehari-hari dapat dijalankan oleh bagian keuangan, tidak terlalu tergantung pada bendahara P.P. Maka jadilah aku sebagai bendahara simbol sampai kembali dari Malaysia. Teman-teman P.P. cukup baik dengan mengizinkanku untuk tidak bertugas aktif. Kasus semacam ini pernah juga berlaku pada teman-teman P.P. yang lain. Untuk lebih memberi gambaran tentang konfigurasi kepemimpinan Muhammadiyah sebagai hasil Muktamar Jogja, kutipan di bawah tentang hasil perolehan suara perlu diturunkan sebagai berikut: Ahmad Azhar Basyir (997), M. Amien Rais (993), Ismail Suny (890),

308

Sutrisno Muhdam (830), Rusjdi Hamka (774), A. Rosjad Sholeh (748), Fahmy Chatib (701), Djarnawi Hadikusumo (676), Ramli Thaha (671), Ahmad Watik Pratiknya (655), S. Prodjokusumo (638), Ahmad Syafii Maarif (557), Abdurrozak Fachruddin (516). Angka-angka ini sekaligus menunjukkan bahwa aku, sekalipun alumnus Madrasah Muallimin, belum begitu berakar dalam Muhammadiyah. Ini ditambah lagi dengan keberangkatanku ke Malaysia, seperti tersebut di atas. Para pemilih kadangkadang cukup jeli dalam menentukan siapa yang seharusnya menjadi anggota P.P. itu. Dalam daftar di atas, nama Lukman Harun dan Djazman al-Kindi yang juga berseberangan tidak muncul. Muktamar Jogja karena ada gesekan-gesekan internal ini menjadi panas. Sama sekali tidak sehat. Aku pada waktu itu masih partisan, sebuah sikap yang kemudian aku koreksi secara total. Bagiku, dalam organisasi seperti Muhammadiyah, budaya saling menjegal sesama teman adalah a-moral. Dan Tuhan pun menurut perasaanku tidak suka bahkan benci dengan cara-cara demikian itu, sebab jika ada perbedaan, selesaikan melalui mekanisme musyawarah, seperti yang dituntunkan al-Quran (lih. s. Ali Imran: 159, s. al-Syura: 38). Mengapa kita sulit sekali menyesuaikan langkah dengan perintah al-Quran? Dalam masalah ini,

309

kader Muhammadiyah belum tentu selalu setia kepada Kitab Suci ini. Aku kemudian benar-benar menyadari ketelodoranku karena pernah menjadi partisan, ikut-ikut teman, tanpa berfikir panjang dan dalam. Semoga Allah memaafkan. Sekalipun suasana muktamar pernah memanas, tujuan utama tercapai juga. Rapat anggota P.P. terpilih kemudian menetapkan pengurus harian P.P. sebagai berikut: Ketua: Ahmad Azhar Basjir, Wakil Ketua: M. Amien Rais, Wakil Ketua: Ismail Suny, Sekretaris: Ahmad Watik Pratiknya dan Ramli Thaha, Bendahara: S. Prodjokusumo dan Ahmad Syafii Maarif. Yang lain di samping sebagai anggota P.P., juga merangkap ketua bidang, kecuali A. Rosjad Sholeh karena kesibukannya di Departemen Agama. Jika aku tidak berangkat ke Malaysia, tentu aku akan ditempatkan pada jabatan yang lebih sesuai. Dua tahun aku bertugas di U.K.M., selama itu pulalah aku tidak menunaikan amanah secara langsung sebagai bendahara, sekalipun dengan persetujuan P.P. Proses keberangkatan ke Malaysia dimulai dari informasi Dr. Ir. Imaduddin Abdul Rahim, tokoh pergerakan Islam yang bersahabat dekat dengan Anwar Ibrahim. Bang Imad memberi tahukan bahwa U.K.M. memerlukan tenaga dosen dari Indonesia

310

dengan kualifikasi Ph.D. dalam kajian Islam. Ijazahku dari Chicago memang dalam bidang itu. Maka dimulailah proses pengurusan izin dari I.K.I.P. Yogya dan proses pelamaran untuk U.K.M., termasuk menekan kontrak untuk dua tahun. Semua proses ini relatif berjalan lancar. Statusku tetap sebagai dosen I.K.I.P., bukan dengan status cuti di luar tanggungan negara, dengan tetap menerima gaji bulanan, tetapi tanpa tunjangan fungsional. Dengan kata lain, aku ditugaskan negara untuk memberi kuliah di Malaysia. Ini bagiku menguntungkan, sebab jika statusku bertugas di luar tanggungan negara, untuk kembali ke lembaga asal bukan main sulitnya. Pasti berliku-liku. Allah yang maha penyayang ternyata masih memudahkan jalan hidupku. Teman-teman kampus pun tidak ada yang mencoba menghalangi. Vembriarto pada waktu itu sudah bukan rektor lagi. Karena I.K.I.P. terlalu berbaik hati, maka setelah pulang sebagian gaji kuserahkan kepada karyawan fakultas sebagai tanda terima kasihku kepada lembaga yang telah mengizinkanku untuk bertugas di luar negeri selama dua tahun. Dengan pertimbangan bahwa sewaktu berangkat pangkatku di I.K.I.P. belum guru besar, maka gaji yang diterima di U.K.M. disesuaikan dengan kepangkatanku di

311

tanah air. Ini memang menurut peraturan yang berlaku di sana. Tidak masalah bagiku, sebab pendapatan di U.K.M. jauh lebih besar dari yang kuterima dari I.K.I.P., yaitu sekitar empat kali lipat ketika itu, sementara ongkos hidup harian tidak banyak perbedaan. Maka mulailah aku menabung sebagai persiapan untuk hidup di Indonesia selanjutnya setelah tugas di U.K.M. berakhir. Semula kami berangkat tiga beranak: aku, Lip, dan Hafiz, anak kami satusatunya. Setelah setahun belajar di S.M.A. Indonesia di Kuala Lumpur, Hafiz kembali ke Jogja, karena berbagai pertimbangan. Tinggallah aku dan Lip yang menetap sementara di Malaysia, setahun setelah Hafiz memisahkan diri untuk meneruskan pelajarannya di S.M.A. 8 Jogja sampai rampung. Selama belajar di S.M.A. Indonesia, Hafiz malah mengalami kemunduran dalam pelajarannya. Teknis tranportasi dari Kajang ke Kuala Lumpur juga tidak sederhana. Dinihari Lip sudah harus bangun untuk menyiapkan pakaian sekolah Hafiz. Kecuali Ahad, tiap hari Hafiz harus naik bus ke Kuala Lumpur. Sore kembali ke Sungai Jelok. Cukup menguras fisik dan mental. Di U.K.M. aku diberi tugas untuk mengajar mata kuliah Sejarah Perang Salib, Islam dan Perubahan Sosial di Asia

312

Tenggara, dan masih ada lagi mata kuliah lain yang aku lupa. Mata kuliah Perubahan Sosial terbuka untuk mahasiswa dari jurusan lain. Karena buku-buku sumber untuk mengajar relatif mudah didapatkan di perpustakaan U.K.M., maka dalam menyiapkan perkuliahan tidak banyak rintangan yang kuhadapi. Sebagai dosen aku diberi sebuah ruangan kantor yang cukup mewah, sesuai dengan perkembangan ekonomi negara tetangga itu. Di ruang inilah aku membaca dan menyiapkan perkuliahan sambil menulis artikel untuk koran Indonesia dan koran Malaysia. Berbeda dengan Indonesia, seorang dosen di U.K.M. harus berada di kampus sehari penuh. Berangkat pagi dengan bus dari Sungai Jelok kembali sore juga dengan bus. Ini semua kujalani selama dua tahun. Kadang-kadang sewaktu pulang, aku menompang kendaraan Profesor Ibrahim Abu Bakar yang tinggal di kawasan Kajang. Abu Bakar dari jurusan Ushuluddin U.K.M. adalah di antara teman dosen yang sering berbincang denganku dalam berbagai kesempatan. Ada catatan penting yang perlu kurekamkan sebelum masa kontrakku di U.K.M. berakhir. Pada tahun 1992, Dr. Watik menelponku dari Jogja untuk dijadikan sebagai salah seorang Naib Amiril Hajj. Lip juga akan turut. Kebetulan kami

313

memang belum menunaikan rukun Islam ke-5 itu. Karena itu aku harus pulang dengan tidak memperpanjang kontrak di U.K.M., padahal pihak U.K.M. masih membujukku untuk meneruskan tugasku. Profesor Dr. Faisal Othman, dekan Fakulti Pengkajian Islam, dan Dr. Abdullah Zin, ketua Jururan Dawah dan Kepimpinan, (sekarang Menteri Agama Malaysia) datang ke rumah tempat tinggalku di Sungai Jelok, Kajang. Keduanya meminta dengan serius agar aku masih mau melanjutkan tugas di U.K.M. Rasanya tidak sekali mereka mendatangiku untuk tujuan serupa. Setelah ditimbang masak-masak, aku dan Lip memutuskan untuk pulang, berkat telepon sahabatku Dr. Watik yang bertujuan mulia itu. Agar aku memperkuat barisan P.P. Muhammadiyah secara langsung, tidak hanya menjadi bendahara tituler. Di lingkungan Muhammadiyah, ada ketentuan moral yang harus ditaati. Jika terpilih sebagai pimpinan berarti amanah yang harus ditunaikan. Aku terpilih, dan itu adalah sebuah amanah yang tidak boleh dianggap enteng. Aku sendiri setelah aktif di P.P. Muhammadiyah beberapa bulan kemudian, baru tahu betul apa makna amanah itu. Tidak ringan memang, tetapi dari sudut iman nilainya mulia dan tinggi. Semula terasa agak bimbang juga untuk memutuskan: antara pulang atau

314

meneruskan kontrak, apalagi pihak U.K.M. benar-benar memintaku untuk memperpanjang dan memperbarui kontrak. Tetapi mengingat kedudukanku sebagai anggota P.P. Muhammadiyah yang belum pernah kujalani, maka imbauan Watik yang menang. Aku dan Lip harus kembali ke Jogja sambil menyiapkan mental untuk menunaikan ibadah haji. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. Hafiz kembali berkumpul dengan orang tuanya, setelah setahun belajar hidup sendiri di rumah sewaan yang tidak jauh dari rumah kami. Berbeda denganku yang terbiasa mengurus diri sendiri sejak kecil, Hafiz kutemui di rumah kontrakannya yang masih di lingkungan Nogotirto, masya Allah. Semuanya berantakan, sarung bantal dan kain sarung hampir tidak pernah dicuci. Sudah mengeras dengan baunya yang lumayan. Entah sudah berapa lama tidak disentuh air. Rupanya, inilah perbedaannya dengan orang yang sudah mandiri sejak usia masih sangat kecil. Mencuci pakaian, membersihkan kamar tidur, adalah bagian dari kerja masa kecilku. Aku cukup terlatih. Hafiz terbiasa manja, terutama oleh ibunya. Semuanya disiapkan. Hafiz tinggal menggunakan. Enaknya punya ibu, bukan? Tetapi sisi

315

negatifnya adalah menjadikan seseorang tidak bisa mengurus diri sendiri. Jika pada satu saat Hafiz membaca tulisan ini, harapanku adalah agar dia tidak pernah lupa kepada kebaikan ibunya. Terhadap ayahnya, terserah sajalah. Aku tidak berharap banyak kepada anak ini. Sekiranya dia bisa hidup layak dengan agama yang mantap, rasanya aku sudah bahagia. Ibunya sebenarnya punya sikap serupa. Tidak ada yang kami harapkan dari anak, kecuali dia hidup secara benar, tidak kikir, dan tidak pernah lupa beribadah. Sederhana, bukan? Sekiranya pada suatu saat rezkinya cukup, aku mengharapkan agar Hafiz tidak lupa kepada Muhammadiyah yang telah digumuli ayah selama bertahun-tahun. Benar, Muhammadiyahlah yang membebaskan ayahnya dari sikap taqlid buta dalam memahami agama. Tanpa Muhammadiyah ayahnya entah ke mana, entah di mana, dan entah jadi siapa. Hafiz harus paham benar apa yang kukatakan ini, sekalipun misalnya tidak aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Aku sekarang beralih kepada masalah tugas-tugas kemasyarakatanku. Dengan aktif di Majelis Tabligh sambil memberi kuliah, aku mulai sibuk. Rasa cintaku kepada Muhammadiyah menjadi semakin dalam. Inilah tempat beramal yang tepat

316

bagiku. Kalau dalam partai politik, selalu ada pahala jangka dekat yang dijanjikan atau diharapkan, apakah itu jadi pejabat eksekutif, legislatif, atau posisi di B.U.M.N. (Badan Usaha Milik Negara). Bahasa politik selalu menjurus kepada janji-janji seperti itu, diakui atau tidak. Berbeda dengan Muhammadiyah yang hanya menjanjikan pahala jangka jauh di akhirat. Itu pun jika seseorang ikhlas beramal. Jika tidak, pahala jauh itu pun tidak akan diraih. Agama mengajarkan sesuatu yang sangat halus ke dalam batin manusia. Aku sendiri tidak tahu, apakah aku ikhlas atau tidak. Biarlah Allah yang menilai. Ada formula filosofis yang pernah kusampaikan kepada Bung Shofwan Karim, waktu itu sebagai Ketua P.W.M. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Sumatera Barat. Formula itu berbunyi: Mengurus Muhammadiyah itu melelahkan, tetapi sekaligus membahagiakan! Shofwan Karim katanya telah mengulang-ulang formula ini selama berkiprah dalam Muhammadiyah. Ada sedikit catatan tentang Shofwan Karim ini dalam kaitannya dengan Muhammadiyah Sumatera Barat. Tokoh ini punya komunikasi publik yang cukup bagus. Bahasa Inggris lancar. Sudah berkali-kali berkunjung ke luar negeri. Dosen tamu di Singapura, dan sederetan kiprah yang lain. Sangat giat mendatangi

317

daerah, bahkan cabang-cabang Muhammadiyah di lingkungan P.W.M. Sumbar tidak asing baginya. Tetapi mengapa dalam Musywil (Musyawarah Wilayah) bulan Desember 2005 di Kota Sawahlunto, Shofwan tidak termasuk dalam daftar calon 39, ketentuan yang hampir baku di lingkungan persyarikatan. Dia terpental ke nomor 43. Bagiku kejadian ini luar biasa. Mungkin baru pertama kali terjadi di lingkungan Muhammadiyah, tidak saja untuk Sumatera Barat, tetapi untuk Indonesia. Kepada Dr. Yunahar Ilyas, salah seorang Ketua P.P. Muhammadiyah pilihan Muktamar Malang Juli 2005 yang menghadiri Musywil itu, kejadian dramatis ini telah kusampaikan. Dijawab, memang di luar dugaan, kemudian Yunahar malah balik bertanya, apakah kejadian ini positif atau negatif menurut pendapatku. Tidak mudah kujawab, tetapi perlu dikaji agak mendalam mengapa semuanya itu harus berlaku. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Shofwan sendiri. Aku hanya berharap agar semuanya ini diterima dengan tenang sambil berkaca diri, sebagaimana semua kita perlu berkaca. Dalam menghadapi kasus-kasus tertentu, anggota Muhammadiyah di akar rumput sangat peka, terutama bila bersentuhan dengan isu politik. Apakah

318

karena sikap-sikap politiknya, Shofwan tidak terpilih, aku tidak bisa mengatakannya. Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua kader Muhammadiyah, khususnya untuk Sumatera Barat. Di balik itu semua pasti ada hikmah yang dapat ditelusuri yang berguna bagi semua pihak yang terlibat dan yang tak terlibat. Shofwan telah cukup dewasa menghadapi kejadian seperti ini. Mungkin lebih dari itu sudah pernah dialaminya. Tetapi betapa pun juga, apa yang dialami Shofwan termasuk sesuatu yang langka di lingkungan Muhammadiyah. Jika perhatianku agak sedikit beralih ke Sumatera Barat, bukan tanpa alasan. Bukankah aku dibesarkan dalam lingkungan budaya Minang dengan pepatah-petitihnya yang antara lain mengatakan: Alun takilek alah tabayang. (Belum terkilat sudah terbayang). Kadangkadang orang Minang ini terlalu peka terhadap sesuatu yang belum tentu diketahuinya secara lengkap. Kesimpulan cepat diambil, tetapi belum tentu benar. Apakah kasus tidak terpilihnya Shofwan berada dalam kategori pepatah-petitih itu, sulit untuk mengatakannya. Hubungannya denganku cukup akrab. Oleh sebab itu aku terkejut dengan kejadian yang dialaminya. Tetapi sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Ke depan orang harus lebih hati-

319

hati dalam memimpin Muhammadiyah, jangan sampai berlaku gesekan yang tidak perlu, sebab hanya akan melemahkan persyarikatan yang sama-sama dicintai. Jalan hidupku memang tidak pernah linear. Belum sampai setahun aku aktif di P.P. Muhammadiyah, datang pula tawaran dari Menteri Agama Munawir Sjadzali untuk mengajar di Universitas McGill, Kanada, di bawah program Lembaga Studi Islam antara 1993-1994. Aku berangkat lagi bersama Lip, sekalipun ada perasaan kurang enak dengan teman-teman Muhammadiyah. Balum begitu lama pulang dari Malaysia, kini pergi pula Kanada. Hubunganku dengan pak Munawir demikian akrabnya. Jauh sebelum tawaran ke Kanada ini, melalui jasa baik pak Munawir pula sebuah masjid Y.A.M.P. (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) didirikan di perumahan Nogotirto Elok Jogjakarta. Masjid ini diresmikan pada 1989 oleh pak Munawir sendiri sebagai wakil yayasan yang didirikan Presiden Soeharto itu. Dana yayasan ini berasal potongan gaji pegawai negeri yang beragama Islam setiap bulan, tidak terasa. Kabarnya sudah hampir 1000 masjid yang didirikan Y.A.M.P. ini sampai tahun 2005, sekalipun dana yang masuk dari pegawai sudah dihentikan sejak turunnya Soeharto. Sebenarnya

320

gagasan ini cukup mulia, tetapi karena bersifat serba Soeharto akhirnya dihentikan. Sulit bangsa Indonesia berpikir dielektik. Seharusnya yang baik dan positif diteruskan, sekalipun rezim telah berganti, suasana telah berubah. Selama dua semester aku memberi kuliah di McGill tentang masalah-masalah keislaman, termasuk Islam di Indonesia. Seperti perpustakaan-perpustakaan lain di Barat, di McGill perpustakaannya hampir lengkap, termasuk mengenai sumbersumber Islam dalam berbagai aspek dalam berbagai bahasa. Mahasiswa yang mengambil kuliahku berasal dari berbagai negara: Iran, Jepang, Mesir, Kanada, dan Indonesia. Ada beberapa mahasiswa Iran alumni Qum yang mengambil kuliahku. Pada saat berbicara tentang sunni dan syiah, biasanya perdebatan menjadi ramai. Posisiku sudah kujelaskan kepada mereka: tidak sunni tidak syiah, sebab kedua aliran itu tidak lain dari pada produk sejarah dengan latar belakang politik. Dengan pengetahuanku tentang sejarah Islam agak lumayan, sanggahansanggahan mahasiswa tidak terlalu sulit untuk kujawab. Aku sudah lama tidak tertarik dengan konsep-konsep ahlu alsunnah wa al-jamaah, syiah, salafiyah, dan lain-lain. Semuanya ini adalah produk manusia pasca nabi yang dapat senantiasa

321

dipertanyakan dengan mengambil alQuran sebagai hakim tertinggi, sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. Aku berkeyakinan bahwa tidak ada kusut yang tak dapat diselesaikan, asal orang pergi ke pangkal: al-Quran yang dipahami secara jujur, autentik, dan cerdas. Jika al-Quran tidak lagi dapat menyelesaikan masalah-masalah umat dan manusia pada umumnya, maka ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, kita tidak jujur kepada Kitab Suci ini, akibatnya solusi fundamental tentang masalah-masalah umat dan kemanusiaan sulit sekali ditemukan. Latar belakang sosio-politik dan kultural sering menjadi kendala untuk membiarkan alQuran berbicara tentang dirinya. Dengan kata lain, egoisme kultural dan subjektivisme sejarah sering ditempatkan lebih tinggi dari al-Quran, disadari atau tidak disadari. Ini merupakan salah satu pangkal benang kusut itu. Kedua, pendekatan yang serba parsial dan ad hoc terhadap Kitab Suci ini telah melahirkan pandangan dunia yang sempit, jauh dari filosofi rahmatan lil-alamin (lih. surat al-Anbiya: 107). Selama bertugas di McGill aku cukup banyak membaca. Modal Chicago telah kukembangkan lebih jauh, sekalipun masih saja terasa kurang. Kelemahanku terletak pada kenyataan

322

bahwa aku belum juga mampu menulis sebuah karya yang lebih berbobot yang dapat menjelaskan secara lebih detil lontaran-lontaran pendapat yang telah kusampaikan selama 22 tahun terakhir. Sebagai alasan dapat saja kukatakan bahwa kegiatan kemasyarakatanku telah menyita waktu terlalu banyak untuk merenung dan menulis secara lebih dalam, sistematis, dan Qurani. Tetapi ini hanyalah sekadar alasan. Alasan yang sebenarnya adalah bahwa kemampuanku untuk berkarya yang lebih komprehensif tentang Islam dan kemanusiaan tidaklah seperti yang diperkirakan orang. Aku ternyata juga manusia lemah, sementara usia sudah lari dan lari menuju perhentian terakhir. Entahlah, sampai di mana nanti perjalanan intelektualku untuk memunculkan karyakarya kreatif yang bermutu tinggi, aku pun tidak bisa mengatakannya. Mungkin yang dapat kukerjakan hanyalah menulis fragmen-fragmen, sedangkan gagasan yang ada di belakangnya berkaitan dengan persoalan-persoalan besar dan dahsyat yang memerlukan otak besar yang tulus dan jujur, bukan otak-otak besar yang culas dan curang. Otakku adalah otak desa yang terlambat untuk maju dan berkembang. Tetapi di atas itu semua, aku wajib

323

bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya yang tak putus-putusnya kuterima. Kurnia itu mengalir dan terus mengalir. Sebagai anak kampung yang tersuruk, aku telah sempat menyelesaikan studi Islam sampai ke ujung. Apakah aku kemudian dinilai sementara orang menjadi semakin sekuler, liberal, atau sebaliknya, kuserahkan sepenuhnya kepada yang menilai. Penilaian terakhir, sepenuhnya di tangan Allah. Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diriku. C. Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah Aku pulang dari Kanada bulan Maret 1994 setelah mengajar selama dua semester dengan berbagai pengalaman dan rezki yang telah kukumpulkan. Sewaktu di Kanada inilah berita duka tentang wafatnya Prof. M. Sanusi Latief pada 3 Maret 1994 dalam usia 66 tahun disampaikan kepadaku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdoa semoga amal-baktinya selama hidup diterima di sisi Allah dan kemudian ditempatkan pada tempat yang baik bersama orang-orang yang beramal saleh selama hidup di dunia. Sanusi dimakamkan di pekuburan Tunggul Hitam, tidak jauh dari bandara Tabing, Padang. Pelopor pencerahan intelektual

324

Sumpur Kudus ini telah pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan tiga anak, dua puteri dan satu putera. Ketiganya adalah sarjana dan sudah hijrah ke Jakarta bersama pasangannya masingmasing. Anak bungsu pasangan SanusiSalima (Salima berasal dari Bukittinggi) Ahmad Hanif masih sering mengirimkan bantuan untuk kepentingan kampung ayahnya. Seperti telah kuakui dengan jujur bahwa tanpa Sanusi Latief, aku setamat dari Muallimin Lintau entah akan ke mana melangkah, tidak ada kepastian. Onga Sanusilah yang memberi kepastian itu. Terima kasih ongaku. Engkau adalah guru besar pertama dari Sumpur Kudus, dari suku Caniago lagi, sukuku. Sekali-kali menyebut nama suku untuk maksud baik tidak apa-apa, bukan? Sesampainya di Indonesia aku kembali melakukan kegiatan seperti sebelum berangkat: mengajar, menulis, dan mengurus Muhammadiyah. Tetapi bulan Juni 1994, musibah kedua terjadi lagi. Kalau Sanusi Latief bukan bagian dari P.P. Muhammadiyah, musibah kedua ini benarbenar menggoncangkan, yaitu wafatnya Ahmad Azhar Basjir, Ketua P.P. Muhammadiyah sejak Muktamar Jogjakarta 1990 dalam usia yang hampir sebaya dengan Sanusi Latief. Muhammadiyah berduka dalam, tetapi itulah kenyataan

325

yang harus dihadapi oleh seluruh warga persyarikatan modern itu. P.P. Muhammadiyah segera mengadakan sidang untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menggantikan Pak Azhar sebagai Pejabat Ketua sebelum tanwir menentukan yang definitif. Tidak diragukan lagi bahwa bola kepemimpinan itu pasti jatuh ke tangan tokoh enerjetik, intelektual, alumnus Universitas Chicago Departemen Ilmu Politik tahun 1980: Dr. Mohammad Amien Rais. Tokoh ini sebelumnya telah menjabat sebagai salah seorang Wakil Ketua P.P. Muhammadiyah era Azhar. Rais adalah generasi ketiga dalam lingkungan keluarganya yang aktif terlibat dalam Muhammadiyah, sedangkan aku adalah generasi kedua. Aku tidak perlu berkecil hati dalam urutan generasi ini. Kampung Kemasan (Solo), tanah air Rais terlalu dekat dengan Jogja untuk dijamah Muhammadiyah. Sedangkan Sumpur Kudus yang lengang, tanah airku, nun tersuruk di lembah Bukit Barisan di pulau Andalas. Untung saja Muhammadiyah tersesat ke sana. Sekiranya Muhammadiyah tidak merayap ke lembah ini menjelang P.D. (Perang Dunia) II, boleh jadi aku tidak akan melebihi nasib kebanyakan orang kampungku. Paling-paling menjadi

326

saudagar alit (kecil) tingkat kecamatan. Itu pun sudah merupakan sebuah prestasi. Tentu aku akan kenal dengan nama besar M. Amien Rais dan Cak Nur (Nurcholish Madjid), anggota mafia Chicago, melalui media cetak yang kadang-kadang sampai juga ke kampungku dan melalui media elektronik sambil mengaguminya dari jarak jauh sebagai idolaku. Keduanya tidak mungkin mengenalku, dan untuk apa pula. Tidak ada alasan sama sekali. Tetapi retak tangan telah menentukan lain. Keduanya adalah sababatku, sama-sama dari kelompok mafia Chicago, dengan perbedaan-perbedaan kecil yang telah memperkaya wawasan antar kami bertiga. Nurcholish telah berangkat lebih duluan pada 29 Agustus 2005 untuk tidak kembali. Aku hadir dan memberi sambutan di depan jenazahnya yang padat dengan para takziah di aula Paramadina. Hatiku hanya menangis melepas seorang sahabat cendekiawan besar Indonesia. Bertahuntahun aku bergaul dengan Cak Nur, berbagai masalah kami bicarakan. Banyak persamaan, di samping ada perbedaan di sani-sini. Adapun aku dan M. Amien Rais sudah sama-sama luluh dalam Muhammadiyah dalam tempo yang panjang. Benarlah Bung Haedar Nashir, sekretaris P.P. di masaku dan salah seorang ketua P.P. pasca

327

Muktamar Malang bahwa M. Amien Rais dan aku tetap menjaga kesetiaan yang utuh terhadap Muhammadiyah. Mudahmudahan penilaian itu benar-benar didukung oleh kenyataan seterusnya. Siapakah aku tanpa Muhammadiyah? Itulah salah satu pertanyaan sentral yang perlu disampaikan. Jika aku mengeritik Muhammadiyah, itu sama artinya dengan mengeritik diri sendiri yang memang harus dilakukan terus menerus. Tanpa kritik diri, proses kemunduran, jika bukan pembusukan, akan berlaku dalam gerakan apa pun. Di bawah nahkoda M. Amien Rais, Muhammadiyah mulai dibawa ke tengahtengah kisaran politik bangsa yang semakin panas, tak menentu, tinggal menanti momen yang tepat kapan berakhirnya sebuah rezim. Gejala pembusukan kekuasaan otoritarian ini sudah agak lama dilihat para pengamat. Bukankah dalam Tanwir Surabaya tahun 1993, M. Amien Rais telah melontarkan bola panas berupa perlunya suksesi kepemimpinan nasional? Karena peserta tanwir umumnya adalah mereka yang bersifat amal-oriented (beroriensi kepada kerja), terobosan M. Amien Rais jelas menimbulkan kegoncangan yang membawa panik. Saya rasa M. Amien Rais telah mengantisipasi suasana semacam

328

itu, tetapi tanwir dinilai sebagai forum strategis untuk melontarkan sebuah gagasan penting yang menyangkut nasib bangsa secara keseluruhan. M. Amien Rais cukup piawai dalam membuat move-move semacam ini. Sudah dapat diperkirakan bahwa tanwir akhirnya menolak gagasan itu, tentu bukan karena substansinya, tetapi karena takut nasib yang akan menimpa Muhammadiyah di tengah-tengah budaya politik yang bertuan seorang itu. Ada peserta tanwir yang mengatakan bahwa lontaran itu tidak sesuai dengan etika Muhammadiyah, seperti dia saja yang paham etika Muhammadiyah itu. Sewaktu gagasan itu dilontarkan aku bersama Rusjdi Hamka berada di meja pimpinan. Cukup panas suasana tanwir waktu itu. Tetapi dasar orang Muhammadiyah yang rasional dan lugu, suasana panas tidak membawa perpecahan. Paling-paling saling menggerutu, setelah itu mendingin kembali. M. Amien Rais sepanjang yang aku amati memang punya naluri politik yang kuat. Ini berbeda denganku, mungkin karena umur yang sudah semakin lanjut. Pekerjaan politik pasti menuntut pengerahan energi yang lebih besar, sementara energiku sudah berkurang ditelan usia.

329

Aku yang sudah muak dengan suasana politik bangsa yang pengap mendukung lontaran M. Amien Rais itu. Tetapi apalah artinya aku yang ketika itu kata orang masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. Intelektualisme Fazkur Rahman yang sedikit kuwarisi dari Chicago belum tentu selalu efektif bila dihadapkan kepada realitas politik keras yang bergerak dengan kencang sekali. M. Amien Rais tampaknya menimati perubahan yang penuh risiko itu. Bukan saja menimati, tetapi ingin memimpin dan mengarahkan perubahan itu jika mungkin. Keinginan inilah kemudian yang mengkristal dalam pencalonannya sebagai kandidat presiden yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo dari sub-kultur nasionalis. Pengalamanku dengan politik bangsa sangat terlambat dimulai, dan itu pun lebih terbatas pada dunia wacana. Sebagaimana telah kuakui bahwa usiaku tidak memungkinkan lagi aku menerjuni dunia politik praktis, sekalipun bakat untuk itu mungkin ada. Bukankah aku sejak di Muallimin Jogja sudah turut berkampanye untuk partai Masyumi pada pemilihan umum pertama tahun 1955? Dalam usia lanjut itu, dunia Muhammadiyah tampaknya lebih nyaman dan sesuai untukku, sekalipun tidak kurang pula banyak masalah yang harus dicarikan jalan

330

ke luar. Kadang-kadang bertele-tele juga. Tetapi dibandingkan dengan iklim partai politik yang sarat gesekan dan intrik, dunia Muhammadiyah terasa lebih tenang dan damai. Bahwa sekali-sekali pimpinan harus pukul meja, bukanlah pertanda buruk, tetapi hanyalah sebuah dinamika dalam berorganisasi. Kembali ke Surabaya. Sekalipun tanwir menolak gagasan gila M. Amien Rais, gaungan pesannya terus bergulir selama berbulan-bulan pasca tanwir. Koran-koran terus saja mengulasnya. Maklumlah iklim politik sejak awal tahun 1990-an itu sudah mulai dirasakan pengap dan oleng. Puncaknya kemudian adalah turunnya Soeharto sebagai presiden yang dijabatnya lebih dari tiga dasa warsa. Nama M. Amien Rais sejak Tanwir 1993 semakin melambung tinggi di balantara perpolitikan bangsa, sementara sebagian warga Muhammadiyah yang tidak suka gejolak menjadi gamang dan cemas. Bahkan tidak kurang sebagian anggota P.P. merasa kecut dengan gagasan M. Amien Rais itu, tetapi mereka segan untuk berterus terang. Para peserta tanwir yang pegawai negeri, tidak saja dari Sumatera Barat tetapi juga dari daerah lain, umumnya menjadi resah dengan gagasan suksesi itu. Namun cinta mereka terhadap M. Amien

331

Rais tidak pernah menyusut. Di sinilah dilema itu terletak. M. Amien Rais dicintai, tetapi gagasannya menakutkan. Ada istilah manis kemudian yang digunakan seorang wartawan dalam melukiskan sosok M. Amien Rais sebagai seorang yang telah putus urat takutnya. Memang di saat-saat kritikal pada tahun-tahun terakhir ORBA (Orde Baru), tidak ada di antara anak bangsa ini yang melebihi keberanian M. Amien Rais dalam mengeritik rezim. Ada pun kemudian setelah rezim otoritarian itu tumbang, M. Amien Rais tidak berhasil melakukan konsolidasi kekuatan penentang adalah perkara lain yang belum saatnya direkamkan di sini. Pada tahun 1994 itu Muhammadiyah mulai disibukkan oleh persiapan muktamar yang akan diadakan pertengahan tahun 1995 di Banda Aceh. Pak Azhar baru saja wafat. Duka Muhammadiyah belum lagi hilang. Untungnya M. Amien Rais yang telah tampil sebagai tokoh utama bangsa mulai bergerak mencari dana muktamar yang jumlahnya tidak kecil. Bagi M. Amien Rais masalah dana ini ternyata tidaklah terlalu sulit untuk dipecahkan. Jaringannya yang sudah cukup luas dengan berbagai kalangan akan memudahkannya mendapat dana itu. Tugasku waktu itu hanyalah membantu-bantu di mana yang mungkin. B.J. Habibie sebagai wakil presiden masa

332

itu punya hubungan yang baik dengan M. Amien Rais. Keduanya juga sebagai tokoh I.C.M.I. (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada akhir 1990 sewaktu aku masih bertugas di Malaysia. Jadi aku tidaklah termasuk salah seorang bidan I.C.M.I, tetapi aku mendukungnya, dan bahkan kemudian menjadi salah seorang penasehat di dalamnya. Sekalipun masalah dana bukanlah masalah besar bagi M. Amien Rais, ada persoalan politik yang cukup pelik dan rawan yang harus dihadapi. Umum sudah tahu bahwa sejak Tanwir Surabaya, Presiden Soeharto sudah tidak bahagia melihat kiprah M. Amien Rais yang mulai menghadapkan tombak berbisa kepada rezim yang dipimpinnya. Gagasannya tentang suksesi kepemimpinan nasional sungguh menyakitkan hatinya. Kultur politik Jawa pedalaman yang semi feodal tidak boleh diperlakukan secara kurang ajar itu. Itulah sebabnya menjelang Muktamar Aceh (6-10Juli 1995), pihak istana berusaha keras agar M. Amien Rais tidak terpilih menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah. Tetapi M. Amien Rais sudah terlanjur sangat populer tidak saja di lingkungan Muhammadiyah, di kalangan bangsa pun hampir tidak ada yang tidak mengenalnya. Jika koran dan tv cukup berjasa dalam menokohkan sosok ini,

333

memang sudah pada tempatnya, tidak berlebihan. Maka segala upaya untuk membendungnya agar tidak terpilih dalam muktamar adalah sebuah kesia-siaan. Tak ada gunanya. Warga yang penakut pun akan memilih M. Amien Rais, karena dialah pilihan yang paling tepat ketika itu. Pada masa-masa genting itu hubunganku dengan Rais sungguh dekat sekali, apalagi kedudukanku sebagai salah seorang Wakil Ketua P.P. Muhammadiyah setelah Pak Azhar wafat tahun 1994. Sekalipun usiaku sembilan tahun lebih tua dari padanya, dalam menghadapi isu-isu besar politik bangsa, posisiku tidak bisa dibandingkan dengan M. Amien Rais. Aku kadang-kadang hanya menasehatinya agar lebih bijak dan hati-hati dalam melontarkan kritik, sekalipun belum tentu didengar dan diperhatikannya. Di sini letaknya salah satu kelemahan M. Amien Rais. Suasana semacam ini berlangsung terus sampai satu ketika agak mendingin pada tahun-tahun ketika mulai menghangatnya iklim pemilihan presiden pada permulaan abad ke-21. Kita tengok sebentar suasana menjelang Muktamar Aceh tahun 1995 dan jalannya muktamar itu sendiri. Ketegangan hubungan M. Amien Rais dan Soeharto mewarnai dengan kental bulan-bulan menjelang muktamar. Dalam rapat-rapat

334

P.P. Muhammadiyah bahkan muncul pendapat agar faktor Soeharto jangan terlalu dipertimbangkan benar. Muhammadiyah bisa saja melangsungkan muktamar tanpa dibuka presiden. Tetapi yang lain berpendapat bahwa jika itu terjadi, apakah bukan sebuah preseden yang kurang baik. Hubungan Muhammadiyah dengan negara bisa jadi akan semakin memburuk. Apalagi akar budaya oposisi tidaklah terlalu kuat di kalangan warga Muhammadiyah. Masalah yang memberati otak warga adalah nasib yang akan menimpa amal-usaha persyarikatan yang tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari lingkungan birokrasi pemerintah. Kondisi semacam ini sangat mengganggu bagi Muhammadiyah untuk bersikap terlalu tegas terhadap penguasa. Aku rasa persasaan seperti ini wajar-wajar saja. Tetapi rasa takut yang keterlaluan dapat mengurangi nilai tauhid. Jadi jika ada dari kalangan warga yang takut dengan gerak M. Amien Rais, sesungguhnya berdasarkan pertimbangan pragmatis saja: nasib amal-usaha yang ribuan jumlahnya boleh jadi akan mengalami kesulitan, seperti baru saja disinggung di atas. Muhammadiyah belum bisa lepas sepenuhnya dari birokrasi pemerintahan. Jika hubungan dengan pusat kekuasaan memburuk, dampaknya akan

335

dirasakan sampai jauh ke pelosok tanah air, di mana amal-usaha Muhammaiyah yang sudah bertebaran akan dihadapkan kepada raja-raja lokal yang membebek ke Jakarta. Ada pengalaman sejarah pahit yang dirasakan Muhammadiyah misalnya terjadi pada waktu Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno akhir tahun 1960-an. Masyarakat luar ketika itu susah sekali membedakan antara Masyumi dan Muhammadiyah. Kasus yang hampir mirip mengenai hubungan Muhammadiyah dengan politik juga berlaku pada saat P.A.N. (Partai Amanat Nasional) dibentuk pada Agustus 1998 dengan pimpinan tertingginya M.A. Rais. Masalah ini akan aku berikan uraian khusus dan sikap yang kuambil menghadapinya setelah aku menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah. Pengalaman Muhammadiyah pada era 1960-an itu benar-benar pahit. Warganya dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit dan rumit, karena tidak saja sebagai salah satu pendiri partai itu, sekaligus menjadi anggota istimewa Masyumi. Trauma masa lampau ini masih segar dalam ingatan kalangan warga Muhammadiyah, khususnya mereka yang sudah agak berumur. Politik itu dirasakan sangat menyakitkan, sekalipun tidak bisa dihindari. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan dalam Muktamar

336

Ujung Pandang 1971 yang memutuskan bahwa Muhammadiyah harus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Saran-saran Kasman Singodmedjo dan A. Malik Ahmad telah menjadi bahan pertimbangan penting oleh muktamar menghadapi perkisaran angin yang semakin sulit diperkirakan. Keputusan ini masih tetap dijadikan acuan Muhammadiyah selanjutnya selama puluhan tahun, sekalipun tidak selalu mudah dilaksanakan di lapangan. Warga Muhammadiyah yang libido politiknya tinggi amat sulit untuk tidak mengaitkan persyarikatan ini dengan partai yang didukungnya. Kecenderungan ini sebenarnya lebih menyangkut kepentingan pribadi jangka pendek warga yang terlibat, sekalipun tidak diakui terus terang. Muktamar 1971 yang telah memberi kebebasan kepada setiap warga untuk menentukan sendiri pilihan politiknya malah membuka peluang untuk terperangkap ke dalam formula: Seiring bersimpang jalan. Dengan demikian di lapangan ternyata sering terjadi gesekan sesama warga, sekalipun tidak sampai berdarah-darah seperti yang pernah dialami oleh warga organisasi Islam lain yang tak perlu kutulis namanya di sini. Dalam hal ini Muhammadiyah masih lebih

337

dewasa dan berlapang dada dibandingkan dengan yang lain. Dalam berpolitik, tampaknya orang tidak boleh memakai parameter yang serba idealis. Gesekan di lapangan pasti terjadi, keras atau lunak. Jika itu yang digunakan, maka dunia ini pasti terlihat gelap belaka, Muhammadiyah dikatakan sudah hancur. Politik di mana pun di muka bumi ini, pasti sarat dengan intrik dan gesekan itu, tidak peduli siapa pelakunya, beragama atau ateis. Ini fakta keras dalam sejarah. Yang membedakan mereka yang beragama punya rujukan moral yang pasti. Tergantung kemudian, apakah acuan moral itu dipakai atau dibuang pada saat-saat kritikal. Jika dibuang, kita akan sukar membedakan antara mereka yang percaya kepada wahyu dengan mereka yang telah membebaskan dirinya dari agama. Warga Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku tidaklah ada yang terlalu larut dalam godaan kekuasaan. Kalau pun ada, jumlahnya tentu sedikit sekali, dan akan tersingkir dari persyarikatan, lambat atau cepat. Muhammadiyah terlalu besar untuk hanya dijadikan kuda tunggangan politik. Menurut tuturan R.B. Khatib Kayo, Ketua P.W.M. Sumatera Barat sebagai hasil Musyawarah Sawahlunto awal Desember 2005, dalam Muktamar Ujung Pandang Kasman Singadimedjo pernah berkata:

338

Muhammadiyah tidak boleh dijadikan onderbouw (bawahan) atau oderdil partai politik, sebuah penegasan yang patut direnungkan. Kasman Singodimedjo yang sudah kenyang dengan asam garam politik sejak zaman penjajahan, paham betul apa yang sengaja dilontarkannya secara terang-terangan itu, demi menjaga independensi Muhammadiyah. Jika boleh kutambahkan: Menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk naik dalam urusan-urusan duniawi, risikonya hanya satu: pasti menyesal pada akhirnya karena telah berkhianat terhadap kepribadian persyarikatan. Dengan bergulirnya waktu, Muktamar Aceh semakin mendekat. Persiapan secara finansial, seperti kukatakan, bukan masalah besar. Tetapi gesekan politik antara M. Amien Rais dengan Soeharto harus dicermati betul menjelang muktamar. Salah-salah langkah bisa sangat menyulitkan. Apalagi di kalangan tokoh Muhammadiyah ada satu dua yang Soehartois. Muhammadiyah mau tidak mau harus menemui presiden sebelum muktamar. Itu sudah menjadi adat tak tertulis dalam budaya politik Indonesia sejak proklamasi. Akan menjadi sangat lucu di mata publik jika P.P. Muhammadiyah dalam pertemuan dengan presiden itu tidak dipimpin oleh M. Amien

339

Rais. Aku terus mengikuti perkembangan ini dari jarak yang sangat dekat sejalan dengan dekatnya hubunganku dengan M. Amien Rais. Demikianlah beberapa bulan menjelang muktamar P.P. Muhammadiyah lengkap pada suatu hari diterima Presiden Soeharto di Istana Negara, dan dipimpin langsung oleh ketuanya Mohammad Amien Rais. Anda bisa membayangkan betapa semaraknya suasana ketika itu. Aku melihat bibir M. Amien Rais selalu komatkamit, entah apa yang dibacanya, sebab akan berhadapan dengan seorang penguasa yang kabarnya punya ilmu kebatinan yang tangguh. M. Amien Rais yang sudah terlatih dalam budaya tauhid Muhammadiyah tentu tidak perlu terlalu risau, tetapi juga tidak boleh sombong. Kami anggota P.P. yang lain berupaya bersikap biasa saja, sebab tokh kita hanya akan berhadapan dengan seorang anak manusia yang kebetulan jadi presiden, mengaku Muhammadiyah lagi. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu, kami semua dipanggil protokol untuk bertemu presiden di tempat yang telah ditentukan. M. Amien Rais berjalan paling depan menuju ruang pertemuan itu, kemudian diikuti oleh yang lain. Perasaanku ketika itu tidak ada gejolak yang berarti. Komandan pertemuan dari

340

pihak Muhammadiyah adalah M. Amien Rais, bukan aku. Jadi tidak perlu persiapan mental yang serba ekstra dari diriku. Apalagi aku yang sudah diajar Muhammadiyah untuk tidak takut kepada sesuatu selain Allah, ingin tetap bersikap sebagai manusia merdeka berhadapan dengan siapa pun. Maka sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara Rais dan Soeharto. M. Amien Rais menjelaskan maksud kedatangan P.P. hari itu dengan memohon kesediaan presiden membuka muktamar. Permohonan lain (ini biasa kita lakukan) ialah minta bantuan presiden untuk meringankan beban panitia muktamar yang akan digelar dalam tempo dekat. Seperti yang diharapkan dari awal, ternyata Presiden Soeharto mengabulkan semua permohonan ini. Bantuan akan diguyurkan setengah milyar, sekalipun yang sampai kepada panitia kabarnya kurang dari jumlah itu. Bukan karena keleledoran Soeharto, tetapi itulah wajah birokrasi Indonesia sampai hari ini, suatu birokrasi yang sarat dengan upeti. Maka sekarang bereslah segalanya. Kendala politik telah teratasi. M. Amien Rais tak perlu komat-kamit lagi. Missinya berhasil hampir tanpa rintangan. Dengan iklim semacam ini, diharapkan Muktamar Aceh akan berjalan mulus pada saatnya. Ilmu

341

kebatinan Soeharto luluh berhadapan dengan kekuatan tauhid M. Amien Rais. Tetapi apakah semuanya sudah mulus? Benar, semua yang tampak di permukaan seakan-akan tidak ada persoalan antara M. Amien Rais dengan Soeharto, aman-aman saja, sekalipun kita tahu persis pihak istana sudah sejak sekitar dua tahun menjadi gerah karena sikapsikap politik Ketua P.P. itu. Muatan politik di lingkungan Muhammadiyah di bawah nakoda M. Amien Rais memang terasa sekali. Tetapi semua ini adalah pengalaman penting bagi persyarikatan untuk memberi bobot tambahan yang lebih menyeluruh terhadap missi dawahnya dalam formula amar maruf nahi munkar. Adapun banyak rangkaian gerbong persyarikatan belum tentu siap untuk mengangkut tugas akibat perubahan orientasi yang radikal itu, adalah persoalan adaptasi belaka, sekalipun dirasakan oleh sebagian pimpinan tidak sederhana. M. Amien Rais terus melaju dengan agendaagendanya, baik dalam tanwir, muktamar, maupun setelah terpilih jadi ketua dalam muktamar. Muktamar Aceh relatif berjalan tenang. Tetapi ada sebuah catatan kaki yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja dalam masalah persaingan kepemimpinan yang segera akan muncul. Ada sementara kader

342

Muhammadiyah, a.l. Lukman Harun, Din Sjamsuddin, Hajriyanto Y. Thohari, dan para pendukungnya yang berupaya mengusung tokoh sepuh Jenderal H.S. Prodjokusumo untuk dicalonkan menjadi Ketua P.P. di medan muktamar. Tentang kesetiaan jenderal pensiun ini terhadap Muhammadiyah, tak seorang pun yang meragukan. Hampir seluruh hidupnya telah dibaktikan untuk persyarikatan. Dia adalah menantu Muljadi Djojomartono, tokoh penting Muhammadiyah sejak zaman penjajahan sampai wafatnya. Selain itu Muljadi sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Bahkan pernah menjadi menteri dalam kabinet di era itu. Karena sikap politiknya yang sangat akomodatif, Muljadi sering dipuji Bung Karno. Keduanya bahkan saling memuji. Dengan adanya Muljadi dalam pemerintahan, posisi Muhammadiyah menjadi sedikit aman, sekalipun tudingan dari kekuatan kiri sebagai antek Masyumi tetap saja berjalan. Muljadi pernah memimpin Masyumi Jawa Tengah, tetapi sikap oposisi keras partai ini kepada rezim Soekarno telah membuatnya memisahkan diri. Hubungannya dengan Muhammadiyah tidaklah putus, karena persyarikatan ini memang memerlukan payung pelindung dari kekuasaan, demi kelangsungan amalusahanya yang sekian banyak. Inilah

343

politik, kawan dan lawan sering tidak berumur panjang. Tidak putusnya hubungan Muhammadiyah dengan Muljadi semakin memperkuat apa yang kukatakan di atas bahwa untuk membangun sikap oposisi total terhadap penguasa, betapa pun korup dan otoritariannya tidak selalu mudah bagi Muhammadiyah. Aku yang mengusung M. Amien Rais untuk menjadi nahkoda, terpaksa sedikit bergesekan dengan Lukman dan Din di arena muktamar. Ya, gesekan ala Muhammadiyah, tidak menjurus kepada permusuhan abadi. Jenderal Prodjo sebenarnya secara fisik sudah kurang sehat, tetapi untuk membendung M. Amien Rais, dicoba diusung juga. Dalam gesek menggesek ini, aku mungkin telah bersikap kurang arif ketika itu. Telah ke luar dari mulutku perkataan yang menyinggung perasaan alm. Lukman, sahabat lamaku yang pernah sangat dekat denganku sampai tahun 1993. Untuk itu aku mohon dimaafkan. Aku akui pada tahun-tahun itu seakan-akan ada formula ini: Lawan Amien Rais seolah-olah telah menjadi lawanku. Begitu kokoh dan eratnya hubungan itu. Tetapi bukan terhadap semua orang. M. Amien Rais yang juga berseberang jalan dengan alm. Djazman alKindi, persahabatanku dengan pendiri I.M.M. ini tetap utuh, tak berubah, sampai

344

dia wafat. Berbagai pandangannya tentang M. Amien Rais sering disampaikan kepadaku, padahal dia tahu bahwa aku adalah teman M. Amien Rais. Lukman dan M. Amien Rais memang sudah agak lama bersilang jalan karena politik dan faktor lain. Begitu juga antara Lukman dan Djazman yang sudah sejak lama susah untuk berlayar dalam satu biduk. Pokoknya ada yang lucu-lucu juga dalam Muhammadiyah, bukan? Tetapi ada alasan lain mengapa aku tidak selalu sejalan dengan Lukman, yaitu sikap politiknya yang mudah ganti kendaraan. Dari Parmusi ke P.P.P. (ini masih nalar), lalu terakhir bergabung dengan Golkar (Partai Golongan Karya), kendaraan politik ORBA. Aku dalam persoalan ini boleh dinilai sebagai konservatif, tetapi itulah caraku memandang politik. Namun di atas itu semua, Lukman adalah sahabatku dan juga sahabat M. Amien Rais dalam Muhammadiyah. Lukman, sang politikus, tidak kurang tajam menyerangku sebagai seorang yang terlalu cepat naik ke puncak, padahal tidak pernah menjadi pengurus ranting atau cabang, katanya. Betul, aku tak pernah mengurus ranting dan cabang secara langsung, tetapi sebagai alumnus Madrasah Muallimin Lintau dan Jogjakarta, apa sulitnya bagiku untuk mendaki ke

345

puncak, kalau warga menginginkan. Yang jelas aku tidak pernah membuat rekayasa atau manuver dalam bentuk apa pun agar dipilih dalam muktamar. Itu bukan watak dan tabiatku. Semua orang Muhammadiyah paham ini. Bukanlah caraku untuk bergerak ke atas dengan membentuk tim-tim sukses agar menang, karena aku tahu secara diam-diam warga Muhammadiyah telah menjadi tim suksesku secara sukarela. Mungkin dari sisi inilah aku lebih baik tidak memasuki partai politik yang selalu ramai dengan tim-tim sukses yang saling berebut menjual barang dagangannya dengan retorika yang kadang-kadang sangat murahan. Muktamar Aceh akhirnya dibuka Presiden Soeharto. Biasa, Muhammadiyah dipuji. Tetapi ada yang di luar kebiasaan. Di luar teks pidato, presiden berucap, kirakira a.l. berbunyi: Tanpa tedeng alingaling, aku adalah bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia. Mungkin tidak persis demikian, tetapi intinya begitu. Hebat bukan? Pak Harto berpuisi. Muktamar gaduh dalam kesenangan. Ada bibit yang menjadi presiden. Berbulanbulan setelah itu masih banyak mulut Muhammadiyah yang mengulang-ulang pujian itu. Ucapan inilah kemudian yang disebarkan setelah dicetak bagus di berbagai daerah oleh warga

346

Muhammadiyah. Mereka merasa mendapatkan perlindungan yang lebih kuat dalam situasi politik yang serba bercorak daulat tuanku itu. Bukan karena latah tentunya, tetapi bertujuan untuk lebih mengamankan posisi Muhammadiyah di mata penguasa setempat. Pejabat mana yang berani berhadapan dengan Pak Harto sebagai bibit Muhammadiyah, sekalipun di panggung bangsa dia sedang dilawan oleh bibit yang lain. Jadi ada pertempuran antara bibit dengan bibit. Menarik dan menegangkan. Dalam perjalanan waktu beberapa tahun kemudian, bibit pertama jatuh dari kekuasaan secara dramatis, bibit yang kedua kalah dalam pemilihan presiden Juli 2004 dengan segala kenangan yang berwarna-warni. Inilah dunia, tetapi Muktamar Aceh berjalan relatif lancar. M. Amien Rais terpilih dengan suara terbanyak. Lukman pun setelah melalui pemungutan suara ulangan di tanwir karena urutan namanya berada di ujung, akhirnya masuk pula dalam pencalonan, dan kemudian terpilih menjadi anggota P.P. urutan nomor 10 setelah lima tahun ditinggalkannya sejak Muktamar Jogja tahun 1990. Aku sendiri masuk nomor tiga, selisih satu suara dengan Pak Sutrisno Muhdam, yang berada pada urutan kedua,

347

sebagaimana akan terlihat dalam daftar di bawah. Jika pada Muktamar Jogja, aku berada pada nomor bontot kedua, di Aceh aku sedang bergerak ke pucuk secara alamiah, sekalipun masih kurang layak di mata Bung Lukman karena tidak pernah memimpin ranting dan cabang. Bagiku, komentarkomentar model ini adalah intermezo belaka sebagai bagian yang memperkaya proses titik kisar di perjalanan hidupku. Kalaulah sekarang Bung Lukman masih hidup, aku akan mendatanginya untuk rekonsiliasi permanen. Tidak ada gunanya melanggengkan formula seiring bersimpang jalan, serumah berlain rasa, sekalipun dalam kenyataan pergaulan manusia tidak selalu mudah, betapa pun terdidiknya mereka. Mukatamar Aceh telah memilih 13 anggota P.P. Muhammadiyah dengan urutan suara sebagai berikut: M. Amien Rais (1245), Sutrisno Muhdam (1048), Ahmad Syafii Maarif (1047), A. Watik Pratiknya (886), A. Rosjad Sholeh (874), Yahya A. Muhaimin (866), Ramli Thaha (852), Asjmuni Abdurrahman (802), M. Muchlas Abror (730), Lukman Harun (660), Anhar Burhanuddin (628), Rusjdi Hamka (624), M. Sukriyanto (589). Pada waktu pemungutan suara aku tidak memilih diri sendiri sehingga yang kuperoleh kurang

348

satu di bawah Sutrisno Muhdam. Tetapi dibandingkan dengan Muktamar Jogjakarta, aku telah melompati sembilan nama. Di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun mengurus PP Muhammadiyah. Dari 13 nama itu, ditetapkan tujuh anggota yang menjadi pengurus harian sebagai berikut: Ketua: M. Amien Rais, Wakil Ketua: Sutrisno Muhdam, Wakil Ketua: Ahmad Syafii Maarif, Sekretaris: A. Rosjad Sholeh, Sekretaris: M. Muchlas Abror, Bendahara: Anhar Burhanuddin, Bendahara: M. Sukriyanto A.R. Sebenarnya salah satu alasan mengapa muktamar diadakan di Aceh adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa propinsi itu cukup aman. Muktamar Muhammadiyah adalah di antara test-casenya. Memang selama muktamar berlangsung, hampir tidak ada gangguan yang berarti, sebab pengamanan sangat ketat. Tetapi pada tahun 1995 itu, situasi yang sebenarnya di lapangan adalah bahwa Aceh jauh dari aman. Peluru dari G.A.M. dan T.N.I. masih saling menyalak. Korban sesama anak bangsa tetap saja berjatuhan tanpa henti. Dari sisi ini, muktamar di kawasan tak aman itu adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Apakah pernah Muhammadiyah tidak berani? Berani yang dibungkus dalam kesopanan sering dibaca orang sebagai pengecut

349

dalam kemasan berani. Terserah sajalah segala penilaian itu. Sikap Muhammadiyah memang lentur berhadapan dengan fluktuasi politik karena mengingat kondisi lapangan seperti tersebut di atas. Di atas itu semua, Muhammadiyah adalah gerakan dawah, bukan partai. Ingat ketua panitia lokal adalah seorang jenderal Angkatan Darat yang sekaligus ketua Golkar propinsi Aceh. Ini saja sudah menunjukkan bahwa pengamanan muktamar harus ekstra ketat. Amat disesali, beberapa tahun yang lalu jenderal ini ditembak mati oleh kekuatan gelap tidak jauh dari masjid raya Baiturrahman, Banda Aceh. Tentu tragedi maut ini tidak ada hubungannya dengan peran Jenderal Djohan dalam penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-43 di ibu kota propinsi bergolak itu. T. Djohan telah bekerja maksimal untuk mensukseskan Muktamar Aceh, dan karena itu Muhammadiyah berutang budi kepadanya. Alasan lain berupa harapan agar muktamar itu akan dapat memberi suntikan dan dorongan kepada warga Muhammadiyah setempat untuk bangkit dalam kerangka sebuah Indonesia yang utuh. Di mata kebanyakan warga Muhammadiyah, opsi merdeka untuk Aceh tidak realistik, tetapi diakui bahwa Jakarta

350

telah memperlakukan propinsi secara tidak adil selama bertahun-tahun, sebagaimana terbaca dalam puisi yang kutulis sembilan tahun pasca muktamar pada saat Aceh dihantam gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Itulah bagian-bagian human interest dari panggung Muktamar Aceh yang digelar dengan meriah, dibuka oleh bibit, dan ketua terpilih kemudian juga seorang bibit lain yang lebih autentik sedang berseberangan jalan dengan bibit pertama. Sebagai pencinta Aceh, beberapa hari pasca tsunami, aku menulis puisi historis untuk menunjukkan duka yang teramat dalam pada bait-bait berikut:
Aceh: Mengapa Harus Dihukum? Aceh, bumimu mengandung kekayaan minyak, emas, tembaga, kayu, dan mungkin yang lain. Sebagian telah dikuras untuk engkau berikan kepada Indonesia secara paksa atau suka rela. Sementara engkau sendiri Menderita dan menjerit, Sampai hari ini. Aceh, dari sisi sejarah, engkau adalah bumi pahlawan, laki-laki dan perempuan. Mereka telah menyerahkan segala yang terbaik untuk membela kehormatan dan martabat manusia, sebagai wujud dari harga diri

351

untuk melawan si kafe dan kezaliman. Aceh, juga dari sisi sejarah, engkau adalah wilayah yang tersingkat dijajah Belanda. Perang Aceh berakhir pada 1912. Sejak itulah engkau resmi dijajah,

tapi hanya 30 tahun.


Pada 1942 si kafe pontang-panting dihalau Jepang, Tanahmu lepas dari Belanda. Aceh, di masa revolusi kemerdekaan, engkau kembali menunjukkan keperkasaanmu, karena engkau pantang dijajah, Belanda sangat takut kepadamu. Engkau bela republik dengan darah, engkau sumbang Indonesia dengan harta untuk beli pesawat, demi kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dalam rentang waktu berbilang musim. Aceh, pada tahun 1950-an, engkau berontak karena merasakan dilecehkan Jakarta. Perang saudara berlangsung selama beberapa tahun, dengan meninggalkan korban dan dendam, untuk kemudian berdamai. Tapi tidak bertahan lama, engkau kembali melawan, dengan sisa-sisa kekuatanmu yang terpecah dan terbelah. Sebagian besar rakyatmu

352

ingin tetap bersama Indonesia, karena engkau turut mendirikannya, sekalipun telah dianiaya. Aceh, perang saudara belum usai, luka-luka tubuhmu masih memancarkan darah segar. Tanpa dinyana, tanpa ada tanda-tanda, alam tiba-tiba mengamuk dengan garang. Akibat gesekan lempeng bumi, lahirlah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan tubu dan jiwamu, sebagian wilayahmu menjadi rata dengan bumi. Sekitar 200.000 rakyatmu menjadi mayat sebagai syuhada, berserakan di mana-mana, akibat kemurkaan alam. Indonesia meratap tanpa air mata, karena sudah kering. Dunia berduka dan terluka, perih sekali! Sebuah pertanyaan tetap saja tak terjawab: mengapa Aceh harus dihukum? Bukankah ia telah berkorban dan berkorban untuk kepentingan Indonesia? Sebuah rahasia yang belum dibukakan Langit kepada kita semua. Allahu alam! Jogja, 1 Jan. 2005

Puisi ini dimuat pertama kali sebagai Resonansi dalam harian Republika, 4

353

Januari 2005, halaman 12, kemudian dimuat lagi dalam kumpulan tulisanku, Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim, dengan penyunting Hery Sucipto, Anton Syafriuni, dan Husni Amriyanto Putra. Jakarta: Grafindo, 2005, hlm. 131132. Itulah Aceh, Tanah Pahlawan, Tanah Rencong, tempat Muktamar Muhammadiyah ke-43 digelar dengan meriah, sembilan tahun sebelum diserang gempa dan tsunami yang menyebabkan kita semua bertanya: mengapa Aceh harus dihukum? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab manusia. Allah maha tahu segala akibat perkara. Melalui perundingan Helshinki 10 tahun kemudian antara Jakarta dan G.A.M. (Gerakan Aceh Merdeka) pada Agustus 2005, akhirnya Bumi Rencong berdamai sudah, darah sudah tak tertumpah lagi, sesuatu yang lama kurindukan agar menjadi kenyataan. Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden telah diberi tugas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berbuat maksimal untuk merampungkan tragedi Aceh, dan alhamdulillah berhasil. Selamat Bumi Rencong, selamat Indonesia. Yang berlalu, biarlah berlalu, jangan diulang lagi. Luka-luka sengketa sesama anak bangsa lambat laun akan sembuh secara alamiah. Mari kita saling memaafkan. Jakarta harus lebih arif

354

menghadapi daerah yang terlalu lama dianaktirikan sebagai ciri utama dari politik sentralistik a-moral yang dipraktikkan sekian lama. Sebagai warga Muhammadiyah aku harus berterima kasih kepada Bumi Rencong yang telah menjaga jalannya Muktamar Aceh 1995 dengan aman, damai, dan berhasil, sekalipun saat itu belum ada perdamaian antara Jakarta dan G.A.M.. Peluru masih mendesing di manamana, tidak terkecuali di Banda Aceh. Peranan Jenderal Tengku Djohan sebagai ketua panitia lokal muktamar sangat penting dan menentukan keberhasilan perhelatan Muhammadiyah itu. Amat disayangkan beberapa waktu kemudian jenderal yang berjasa ini telah ditembak mati oleh kekuatan gelap di Banda Aceh, seperti tersebut di atas. Semoga arwahnya diterima Allah dan ditempatkan pada tempat terhormat sesuai dengan amalbaktinya semasa hidup di dunia. Maka adalah sebuah rahmat Allah, muktamar bisa berlangsung tanpa gangguan di bumi sengketa tahun 1995 itu. Tentu dengan pengamanan ekstra ketat dari aparat di bawah pengarahan Jenderal Djohan, dibantu oleh bagian keamanan Muhammadiyah. Imam Syuja adalah Ketua Wilayah Muhammadiyah saat muktamar berlangsung dan masih dijabatnya sampai

355

tahun 2005. Syuja kemudian menjadi politikus sebagai anggota parlemen di Jakarta dari P.A.N. Di Jakarta aku sendiri juga turut membicarakan penyelesaian masalah Aceh ini bersama Ali Alatas, Surjadi Sudirdja, Ali Yafie, Nurcholish Madjid, di samping teman-teman Aceh yang tinggal di Jakarta. Tsunami memang merupakan kiamat kecil, tetapi di balik itu ada saja segi positifnya, yaitu terwujudnya perdamaian setelah perang saudara bertahun-tahun, karena masing-masing pihak, Jakarta dan G.A.M., semula samasama keras kepala. Jakarta selalu saja memandang Aceh dari kaca mata negara kesatuan, sementara G.A.M. menuntut keadilan. Benturan antara dua kutup ini harus dibayar dengan harga mahal sekali. Kembali ke Muhammadiyah. Posisi M. Amien Rais setelah Muktamar Aceh semakin kokoh. Segera disusun pengurus lengkap P.P., aku ditempatkan sebagai salah seorang wakil ketua di samping Sutrisno Muhdam. Di bawah komandan Rais P.P. yang baru dipilih ini segera menyusun pengurus lengkap, disusul oleh majelis, badan, dan lembaga. Ada sebuah perkembangan baru pada Majelis Tarjih dengan tambahan tugasnya menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. Untuk ketuanya aku

356

usulkan Dr. M. Amin Abdullah dari Fakultas Ushuluddin I.A.I.N. Sunankalijaga, bukan dari Fakultas Syariah seperti biasanya. Usul ini disetujui rapat pimpinan. Dengan Amin Abdullah diharapkan majelis ini tidak hanya membicarakan masalah-masalah hukum agama, tetapi juga akan meluas ke kawasan pemikiran Islam, sesuai dengan nama baru yang disandangnya. Di bawah kepemimpinan Abdullah, majelis ini telah melakukan terobosan-terobosan, di antaranya melalui diterbitkannya buku Tafsir Tamatik yang cukup penting. Tetapi kekuatan konservatif dalam Muhammadiyah ternyata tidak menyukai buku ini, karena dinilai telah berangkat terlalu jauh dalam penafsiran alQuran. Majelis Tarjih sekalipun diprotes, buku ini tetap saja beredar sampai sekarang. Bagiku munculnya buku ini sangat strategis dalam upaya memberikan dimensi intelektual kepada warga yang selama ini terasa lemah sekali. Aku menyayangkan bahwa sesuatu yang tidak terlalu elok telah berlaku belakangan. P.P. Muhammadiyah hasil Muktamar Malang 2005 mengubah lagi nama Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid. Rupanya di kalangan sebagian warga persyarikatan istilah pengembangan pemikiran dinilai berbahaya bagi Muhammadiyah. Dikhawatirkan berbagai

357

aliran pemikiran akan merambat ke dalam lingkungan warga, sementara tidak semua mereka memiliki saringan yang kuat. Dari sudut pandangan ini mungkin benar. Tetapi mengapa tidak dipertimbangkan dari dimensi lain untuk merangsang kegiatan intelektual di kalangan warga. Pemikiran di dunia ini tidak pernah statis, juga di bumi Muslim. Bagiku kekhawatiran ini berlebihan, sebab salah satu akibatnya adalah otakotak cerdas dan kreatif tetapi tetap beriman akan merasa sesak nafas dalam lingkungan Muhammadiyah. Ini akan sangat merugikan warga jika Muhammadiyah memang punya keinginan untuk juga tampil sebagai gerakan ilmu, suatu gagasan yang sudah kulontarkan sejak tahun 1985. Kepada anak-anak muda yang gelisah terhadap gejala konservatisme ini, aku selalu mengingatkan agar mereka jangan sampai hengkang dari Muhammadiyah, karena berbahaya bagi kemajuan berpikir. Sebab bila hal itu terjadi, Muhammadiyah akan lengang dari otak-otak kreatif di tengahtengah gelombang pertarungan pemikiran yang semakin sengit dan dahsyat. Pertanyaan yang muncul dalam hatiku adalah: apa sebenarnya yang dicemaskan terhadap pemikiran baru yang lebih segar

358

selama masih dikawal oleh koridor Kitab Suci? Apa yang ditakutkan, sementara alQuran sendiri telah menantang manusia untuk beriman atau tidak beriman dengan risikonya masing-masing. Selama sebagian warga Muhammadiyah hanya berkutat di lingkungan yang sempit, selama itu pulalah mereka tidak akan kenal cara berpikir pihak lain. Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, sepanjang pengetahuanku adalah sosok yang tidak pernah gamang berhadapan dengan siapa saja. Bahkan dia bergaul kaum komunis, Kristen, dan siapa saja. Mengapa kemudian sebagian warga Muhammadiyah tidak percaya diri? Jawabannya hanya tunggal: kurang bacaan! Inilah salah satu sebab mengapa Muhammadiyah dinilai sebagian pengamat sebagai gerakan yang gersang dari kerjakerja intelektual, sekalipun dengan perkembangan terakhir penilaian semacam itu sudah tidak benar. Belakangan anakanak muda persyarikatan telah tampil ke gelanggang intektualisme Indonesia. Mari sama kita ikuti apakah mereka akan menjadi semakin sekuler, liberal, atau semakin beriman. Bagiku konservatisme dan sekularisme dalam kenyataan tidak banyak bedanya. Pendukung kekuatan pertama seperti sangat beriman, tetapi agama tidak

359

disentuhkan dengan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin akut dari tahun ke tahun akibat perubahan sosial yang kencang. Mereka tidak punya poin lagi yang dapat ditawarkan untuk mengarahkan perubahan itu sebagaimana dituntut oleh wahyu. Sebaliknya kaum sekuler hanya mau menempuh jalan pintas saja dengan membuang secara kasar apa saja yang berbau agama dan nilai-nilai kenabian sebagai sumber satu-satunya dari keamanan ontologi. Beberapa tulisanku yang sudah diterbitkan banyak menyinggung persoalan-persoalan fundamental yang tengah dihadapi dunia modern yang sekuler-ateistik, di samping menyoroti dunia Muslim yang tak berdaya. Ia dikepung oleh berbagai kekuatan yang saling bersaing karena potensi bahan bakar yang tersimpan di buminya. D. Keruntuhan Rezim, Habibie, Muhammadiyah, dan Aku Dengan sub judul ini, bukanlah maksudku untuk menunjukkan bahwa aku orang penting. Sama sekali tidak, sebab menonjolkan diri bukanlah watakku. Semua teman tahu. Yang hendak kututurkan pada bagian ini adalah bahwa dengan kejatuhan ORBA yang dipimpin oleh bibit Muhammadiyah, getaran kuatnya sangat dirasakan oleh warga persyarikatan, berkat

360

M. Amien Rais. Sedangkan aku sebagai sebuah skrup kecil dalam Muhammadiyah juga sangat diusik oleh getaran itu. Dengan keterangan ini, aku berharap tidak ada yang salah tafsir terhadap judul bagian ini. Aku adalah anak kampung, dan tetap anak kampung. Adapun pikiranku telah menerawang jauh memasuki berbagai arus peradaban, itu adalah karena Muhammadiyah telah mengajarku untuk menjadi manusia merdeka yang berani. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Yang Tunggal. Jadi mohon dimaklumi anak didik Muhammadiyah ini telah memilih jalan seperti itu secara sadar. Dengan keterangan ini, tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepadaku sebagai orang sekuler didikan Barat, biarlah sejarah pada akhirnya yang akan memberi keputusan tentang siapa yang sekuler sesungguhnya. Aku tak peduli lagi. Apa yang digulirkan M. Amien Rais sejak 1993 akan perlunya sebuah suksesi kekuasaan di Indonesia setelah rentang waktu lima tahun akhirnya menjadi kenyataan. Dipicu oleh krisis moneter pada 1997 yang semula menghantam Thailand, dalam tempo hanya beberapa bulan Indonesia diterjangnya dengan pukulan yang lebih dahsyat. Jaminan seorang menteri keuangan yang menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu cemas dengan

361

krisis yang melanda adalah jaminan yang rapuh. Tidak punya dasar. Dikatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat ternyata tidak didukung oleh data empirik. Presiden Soeharto gelagapan. I.M.F. (International Monetary Fund) segera menawarkan jasa baiknya kepada pemerintah. Dalam keadaan bingung, tawaran itu diterima. Maka jadilah Indonesia kemudian masuk dalam perangkap kapitalisme yang bernama I.M.F. itu. Akan ke luar, susahnya bukan main, sebab Indonesia sudah dalam tawanannya. Resep terus diberikan, tetapi tak satu pun yang mujarab. Akhirnya Presiden Soeharto yang bibit ini menyerah. Berbeda dengan sikap yang diambil pemerintah Indonesia yang membungkuk kepada I.M.F., Mahathir Mohamad dari Malaysia justeru melawan badan keuangan dunia yang dikuasai Amerika ini. Pernyataan Mahathir di bawah ini menjelaskan dengan sangat terang siapa I.M.F. itu. Dengan ekonomi yang compangcamping, pemerintah harus meminjam dari I.M.F., tetapi pinjaman itu hanyalah akan diberikan jika pemerintah menyerahkan manajemen ekonomi kepada I.M.F. dan mengizinkan para bangsawan kulit putih asing untuk mengambil bank-bank dan perusahaan-

362

perusahaan lokal yang lagi jatuh nilainya. (Lih. Mahathir Mohamad, Globalisation and the New Realities. Subang Jaya: Pelanduk Publications, 2202, hlm. 15). Dalam perspektif ini Mahathir adalah pahlawan, penjaga kedaulatan ekonomi negaranya. Aku yang tidak begitu paham masalah keuangan, campur tangan asing yang terlalu jauh terhadap masalah domestik suatu negara tidak lain dari pada bentuk neo-imperialisme yang berlagak dermawan, tetapi tetap menghisap darah orang yang sedang sekarat. Indonesia ketika itu adalah salah satu negara yang nafasnya sedang kembang-kempis. Amat disesalkan para ekonom ORBA telah kehilangan kapekaan patriotiknya dengan menyerahkan leher bangsa RI kepada I.M.F. untuk dibantai. Malaysia yang jumlah penduduknya hanya sepersepuluh Indonesia ternyata masih punya harga diri untuk menjaga kedaulatannya sebagai negara merdeka. Ekor dari kebijakan ekonomi yang memalukan ini masih cukup panjang untuk diselesaikan Indonesia yang lagi kepayahan itu. Mahathir bahkan mengatakan bahwa I.M.F. dan badanbadan keuangan dunia lainnya sebagai predators (pemangsa), suatu penegasan yang berani sekali. (Lih. ibid., hlm. 122).

363

Pada tanggal 21 Mei 1998, hari naas bagi Soeharto berlakulah sudah. Dia menyerahkan kekuasaannya kepada B.J. Habibie yang sedang menjabat Wakil Presiden ketika itu. Muhammadiyah di bawah nahkoda M. Amien Rais sangat proaktif dalam menggumuli perubahan cepat yang sedang terjadi antara tanggal 19-21 Mei itu. Aku ingat betul pada tanggal 19 Mei M. Amien Rais memintaku segera ke Jakarta untuk membantunya membaca peta perkembangan politik. Sebagai wakil ketua aku segera terbang, tetapi penglihatanku terhadap apa yang sedang terjadi tidak cukup tajam. M. Amien Rais bukan main sibuknya. Mondar-mandir antara Gedung Muhammadiyah Menteng Raya dengan kediaman Dirjen Bimbaga Islam A. Malik Fadjar di Jalan Indramayu. Fadjar adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang merangkap Universitas Muhammadiyah Surakarta sebelum diangkat menjadi dirjen. Dalam situasi yang sangat kritikal itu, karena faktor M. Amien Raislah Muhammadiyah secara tidak langsung telah terlibat dalam pusaran politik bangsa dalam bilangan bulan. Yang aku gagal memahami adalah sikap M. Amien Rais yang terlalu kritikal terhadap Habibie setelah beberapa bulan menjadi presiden. Dua tokoh yang semula begitu akrab,

364

karena berdasarkan kalkulasi politik masing-masing, hubungannya dari hari ke hari semakin memburuk dan renggang. Aku sangat menyayangkan mengapa hal itu harus terjadi. Komukasi antar keduanya mulai tidak lancar sebagai pertanda bahwa kongsi mereka telah hampir buyar. Hubunganku dengan M. Amien Rais pada waktu itu masih terjaga baik, sekalipun beberapa catatan kaki telah kumiliki. Pada waktu Habibie membentuk kabinet, peran M. Amien Rais cukup besar untuk membantu teman-teman yang punya selera politik tinggi. Masuknya Adi Sasono dan Malik Fadjar menjadi menteri tidak lepas dari peran M. Amien Rais. Aku masih ingat betul sewaktu Adi Sasono datang menemui M. Amien Rais di P.P. Muhammadiyah agar ia benar-benar diperjuangkan menjadi menteri koperasi dalam kabinet. Aku hanya membantu di sana-sini bila diperlukan. Adapun kemudian setelah Adi jadi menteri, sikapnya semakin dingin terhadap M. Amien Rais adalah sesuatu yang aneh. Saya rasa M. Amien Rais tidak mengaharapkan apa-apa dari Adi, kecuali hubungan baik. Maka semakin mengertilah aku bahwa kekuasaan itu sering membutakan dan memekakkan manusia. Aku banyak belajar pada tahuntahun transisi yang menegangkan itu. Malik Fadjar tetap menjaga hubungan baik

365

dengan banyak orang, termasuk dengan M. Amien Rais, sekalipun belakangan mengalami fluktuasi yang agak dramatis. Sebagai seorang tokoh yang punya hubungan international luas, terutama dengan Eropa, tidak sulit bagi Habibie mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Indonesia yang sedang terpuruk. Inflasi yang telah mencapai titik puncak yang sangat berbahaya, secara berangsur tetapi pasti ditekan demikian rupa. Habibie berhasil. Rupiah yang terjun bebas berhadapan dengan dolar Amerika berbanding 1:15 ($1=Rp. 15.000) dalam beberapa bulan turun menjadi 1: 6,7). Ini prestasi yang luar biasa dari seorang presiden untuk menolong sebuah negeri yang sedang sekarat. Kran demokrasi dibukanya untuk memenuhi tuntutan masyarakat, khususnya kaum elit dan para mahasiswa. Pada 22 Mei 1998 Habibie membentuk kabinet yang diberi nama K.R.P. (Kabinet Reformasi Pembangunan). Aku yang sedikit tahu tentang proses pembentukan kabinet ini pada 24 Mei menulis sebuah tanggapan yang dimuat dalam Harian Republika tanggal 3 Juni 1998, hlm. 6. Untuk mengingat kembali apa yang kukatakan tentang proses itu, di bawah ini direkamkan lagi secara lengkap pendapat itu:

366

Minggu ketiga bulan Mei 1998 benarbenar merupakan hari-hari bersejarah yang sangat kritikal. Krisis politik sedang berada di puncaknya dan Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah nasionalnya setelah sebelumnya ratusan anak bangsa mati tertembak dan terbakar sebagai tumbal reformasi yang dipekikkan mahasiswa Indonesia yang perkasa. Orde Baru yang disimbolkan mantan Presiden Soeharto telah tumbang sewaktu beliau menyerahkan kekuasaannya pada 21 Mei kepada wakilnya B.J. Habibie yang kemudian dilantik menjadi presiden R.I. yang ketiga. Pada 22 Mei Presiden Habibie mengumumkan nama-nama menteri kabinet baru dengan nama KRP (Kabinet Reformasi Pembangunan) menggantikan Kabinet Reformasi yang hanya berusia dua bulan lebih sedikit, umur kabinet terpendek sepanjang sejarah Orba. Jika KRP gagal mengatasi krisis dalam tempo yang singkat boleh jadi akan bernasib sama dengan kabinet yang digantikannya. Ini tantangan terberat bagi Habibie, apalagi kabinet ini adalah kabinet gado-gado. Di dalamnya berkumpul kekuatan reformasi dan kekuatan antireformasi. Habibie tampaknya tidak

367

cukup punya daya untuk membentuk kabinet yang sepenuhnya proreformasi. Ini dilema terbesar baginya. Keterkaitannya dengan mantan Presiden Soeharto selama lebih seperempat abad menyulitkan dirinya untuk mengambil posisi yang tegas dan mantap. Sekiranya Habibie berani banting stir setelah mendapat pelimpahan kekuasaan dengan membentuk sebuah kabinet reformis, posisinya secara moral dan politik akan jauh lebih kuat. Tetapi politik tidak semudah yang kita bayangkan. Atau mungkin juga Habibie memang tidak punya asisten reformis yang piawai yang siap memberikan masukan kepadanya secara pas dan demi kepentingan bangsa secara keseluruhan. Sebagian asistennya barangkali lebih banyak memikirkan posisi birokrasinya masing-masing tinimbang didorong oleh pertimbangan kepentingan bangsa. Menurut A.H. Nasution, salah satu kelemahan Habibie adalah tidak pernah selektif dalam memilih pembantu. Seharusnya menurut saran saya, dua syarat perlu dipenuhi oleh para asisten: loyal tetapi kritikal. Bahwa Habibie seorang jujur, lugu, dan selalu punya sangka baik kepada setiap manusia, tak seorang pun yang meragukan. Di sinilah terletak

368

kekuatan dan sekaligus kelemahannya. Dan sifat semacam inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang dekatnya untuk menggunting dalam lipatan. Pemungutan suara dalam DPR barubaru ini tentang proses penurunan presiden adalah salah satu bukti tentang apa yang kita gambarkan di atas. Dengan perbandingan suara 229 lawan 175, DPR akhirnya sepakat hanya menurunkan Soeharto bukan dalam satu paket dengan Habibie. Siapa pelopor kekuatan yang meraih suara 175 yang ingin menurunkan Soeharto dan Habibie dalam satu paket? Tidak lain adalah adik teman dekat Habibie yang kini masih bercokol dalam kabinet. Keluguan Habibie telah dimanfaatkan orang dengan cara yang tidak bermoral. Untuk menghadapi masa transisi yang sangat kritikal ini saya menyarankan agar Presiden Habibie secepatnya mengangkat tim penasehat presiden yang piawai, punya watak negarawan, dengan kriteria di atas: loyal tetapi kritikal. Dengan cara ini diharapkan Habibie akan dapat memutuskan sesuatu kebijakan secara tepat, bijak, dan efektif. Jumlah penasehat itu cukup lima atau tujuh orang saja. Tim penasehat ini harus punya on-line setiap saat dengan presiden. Habibie benar-benar berlomba dengan waktu.

369

Itulah analisisku tentang perkembangan politik dalam masa transisi yang gaduh. Para oportunis tentu akan terus kasak-kusuk untuk melihat peluang bagi dirinya dalam pemerintahan. Bukankah masuk kabinet dirindukan oleh banyak anak bangsa? Dalam pada itu antara bulan Mei dan Agustus 1998, juga terjadi proses dinamika internal yang cepat dalam Muhammadiyah. Lagi-lagi faktor Amien Rais sebagai penyebab utamanya. Anggota P.P. yang lain umumnya lebih banyak mengikuti, adakalanya dengan perasaan khawatir. Lukman yang belum juga akur dengan Amien Rais dan aku, kadang-kadang juga memunculkan riak-riak yang agak mengganggu, tetapi diabaikan saja, sebab pengaruhnya di Muhammadiyah sudah jauh merosot. Seperti sudah kukatakan sahabat yang satu ini tidak masuk dalam Kabinet Muhammadiyah dalam Muktamar Jogjakarta tahun 1990 karena sikap-sikap politiknya yang dinilai kurang pas di mata warga persyarikatan. Sampai jatuhnya Orba, Lukman masih bagian dari Golkar, kendaraan politik Soeharto selama ini. Untuk menentukan sikap P.P. menghadapi perkembangan politik bangsa setelah Soeharto jatuh atau menjatuhkan diri dan Habibie telah jadi presiden, diadakanlah rapat pleno P.P. pada bulan Mei itu

370

bertempat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih dengan agenda tunggal, yaitu bagaimana menyikapi perkembangan politik yang sedang hangat. Setelah berdiskusi agak lama, sebagian besar anggota P.P. menginginkan Amien Rais agar mundur dari politik agar dapat sepenuhnya berkonsentrasi mengurus Muhammadiyah. Tokh tugas utamanya menjatuhkan rezim telah rampung. Aku dan Dr. Watik berpendapat lain. Amien Rais harus maju terus dalam perjuangannya untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang rusak. Kalau mandi, jangan kepalang basah. Amien Rais jelas sangat setuju dengan pendapat ini, karena aku tahu betul naluri politiknya sangat kuat, sebagaimana yang telah kusebut sebelumnya. Seandainya rapat tidak menyetujui langkah Amien Rais untuk terus maju ke pentas politik, saya rasa seorang diri pun dia akan bergerak. Tokh pendukungnya sudah semakin meluas. Dengan kata lain, teman-teman PP yang lain tampaknya kurang menyadari kenyataan psikologis seorang petanding politik yang mau naik ring ini. Dukungan kuatku dan Watik terhadap Amien Rais tentu sedikit banyaknya akan meringankan perasaannya dalam mengambil langkah-langkah strategis selanjutnya. Pada waktu itu aku benar-

371

benar mendorongnya untuk bergerak tidak kepalang tanggung. Siapa tahu dengan majunya Amien Rais ke gelanggang politik, dia akan berbuat banyak untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan. Jelas di sini aku juga punya naluri politik, tetapi tidak sekuat Amien Rais. Pada waktu itu aku menyadari bahwa pengaruhku mulai dirasakan dalam lingkungan Muhammadiyah. Dalam rapat di atas P.P. tidak diadakan pemungutan suara untuk melepas Amien Rais ke medan yang lebih luas, karena memang di situ habitat yang tepat baginya. Adapun kemudian gagal mencapai puncak tertinggi, itu adalah karena garis tangan yang belum mengizinkan. Persoalan belum selesai dengan keputusan rapat P.P. itu. Perlu langkahlangkah selanjutnya untuk merumuskan sikap yang lebih pasti tentang bentuk langkah Amien Rais itu. Pikiran inilah kemudian yang memaksa P.P. untuk mengadakan Rapat Pleno yang diperluas di Semarang bulan berikutnya dengan mengundang P.W.M. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) se Indonesia. Ramai sekali yang hadir. Warga Muhamadiyah yang selera politiknya juga mencuat, seperti A.M. Fatwa, juga tidak ketinggalan hadir dalam pertemuan itu, bahkan turut bersuara memberi masukan kepada

372

peserta. Fatwa, mantan tahanan politik ORBA, akhirnya cita-citanya tercapai juga untuk menjadi seorang pemain politik kelas bantam di Indonesia. Yang lain juga mengikuti, sekalipun tidak banyak kemudian yang tetap setia kepada Muhammadiyah, rumah tangga asli mereka. Pucuk dicinta ulam tiba. Rais diberi mandat penuh untuk merumuskan langkah-langkah politiknya untuk kepentingan bangsa dan Muhammadiyah. Tetapi ada masalah yang sedikit pelik. Sekiranya langkah Rais itu mengarah kepada pembentukan partai baru, lalu siapa yang akan menjadi ketuanya? Aku sejak awal sudah menentukan pilihan agar Rais yang tetap maju, bukan yang lain. Entah dipengaruhi siapa, Rais sendiri semula agak ragu-ragu. Anehnya dia menyebut aku yang akan menjadi ketua partai baru itu. Akibatnya wartawan mulai menguntitku. Biasa, jawabanku lugu. Politik bukan duniaku. Biarlah orang yang berbakat yang harus memikul tugas politik itu. Selesai rapat aku hengkang ke Jogja sebagai isyarat kuat untuk tidak mau terlibat dalam permainan politik, karena energiku lebih baik digunakan untuk yang lain. Tokh peminat politik di kalangan Muhammadiyah cukup tersedia, untuk maksud baik atau sebaliknya.

373

Antara Juni-Agustus 1998, Rais dan pendukungnya, termasuk aku, mulai sibuk melobi ke sana-sini dalam upaya mencari format yang pas bagi kendaraan politik yang akan dibentuk itu. Di ujung upaya, maka berdirilah P.A.N. (Partai Amanat Nasional) pada 20 Agustus 1998 yang dideklarasikan di Jakarta dengan Ketua Umumnya Mohammad Amien Rais. Lalu bagiamana posisinya sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah? P.P. bertindak cepat, tidak boleh terlambat. Rapat Pleno yang diperluas diadakan lagi pada 22 Agustus 1998, bertempat di kantor P.P. Muhammadiyah Jakarta. Acara pokoknya tunggal lagi: siapa yang akan menggantikan Rais sebagai Pejabat Ketua P.P. Muhammadiyah sampai Sidang Tanwir berikutnya. Amien Rais dan sebagian besar peserta memilihku untuk tampil, kecuali sahabatku K.H. Djamaluddin Amin, Ketua P.W.M. Sulawesi Selatan yang bersikukuh agar Amien Rais tetap merangkap sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah selain memimpin partai. Ini luar biasa memang. Fanatiknya kepada Amien Rais sudah berada di luar nalar, tetapi kuhargai seperti biasa, tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Sampai hari ini, persahabatanku dengan kyai ini tetap utuh, sekalipun aku pernah menasehatinya agar tidak turut

374

bermain di arena politik praktis. Nasehat ini mungkin didengarnya, tetapi kondisi Muhammadiyah setempat mengharuskannya memimpin P.A.N. tingkat wilayah. Maka jadilah Djamaluddin Amin mulai dikenal sebagai tokoh politik di samping tokoh Muhammadiyah. Mungkin semula dia berharap agar Amien Rais juga begitu, tetapi teman yang terakhir ini lebih arif dalam memposisikan diri. Aku kemudian belum sempat bertanya lagi kepada kiyai Sulawesi ini, apakah dia merasa lebih bermanfaat di politik atau tetap mengurus Muhammadiyah yang telah digelutinya selama puluhan tahun. Setelah bola mulai terpegang di tanganku sebagai pejabat ketua P.P., aku semula merasa agak gamang juga. Alasannya sederhana saja. Aku menggantikan posisi seorang yang sedang berada di atas angin. Namanya disebut di mana-mana. Semua wartawan berduyunduyun mengejarnya, tidak peduli ke tempat yang tersembunyi sekalipun. Ini tidak mengherankan, karena debut politiknya secara lebih mengarah sudah dimulai sejak Tanwir Surabaya. Inilah sosok yang aku gantikan. Repot bukan? Memang repot! Salah-salah melangkah, aku akan tenggelam. Muhammadiyah juga akan kurang diperhitungkan orang. Tidak seperti di bawah kepemimpinan Amien Rais yang

375

telah membawa Muhammadiyah bersinar terang, sekalipun bukan tanpa masalah di lapangan. Mungkin kritik Lukman Harun kepadaku ada unsur kebenarannya. Aku tidak terlatih menjadi orang pertama, bahkan tidak di tingkat ranting atau cabang. Sekarang tahu-tahu sudah berada di pucuk pimpinan Muhammadiyah, orang Minang kedua sesudah A.R. Sutan Mansur. Tokoh piawai inilah yang batinnya ditaklukkan Dahlan untuk menceburkan diri ke dalam Muhammadiyah. Dan panggilan batin itu dilakukannya dengan sepenuh hati. Tokoh inilah yang senantiasa mengarahkan Hamka untuk tetap istiqamah dalam hidup. Tokoh ini pulalah dulu yang sering menasehati Soekarno agar pandai-pandai menjaga amanah kekuasaan. Aku bukanlah sosok yang sepiawai itu. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Muhammadiyah merosot di bawah kepemimpinanku, biarlah orang banyak yang menjawab.Tanyalah tokoh-tokoh N.U., K.W.I., P.G.I., Budha, Hindu, cendekiawan, budayawan, warga Muhammadiyah, pejabat, politisi, militer, dunia kampus, atau siapa saja. Merekalah yang punya otoritas untuk menentukan citra publik dalam menilai kepemimpinanku. Bukan aku. Tetapi harus kuakui, setelah ditetapkan menjadi ketua definitif sampai

376

muktamar berikutnya dalam Sidang Tanwir Bandung, Des. 1998, selama setahun aku harus belajar banyak tentang bagaimana sebaiknya aku melangkah. Kata orang, selama setahun pertama aku masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. Bagiku hal ini baik saja, sebab masih ada bayang-bayang yang melindungi bukan? Tahun 1998 itu ada lagi perkembangan lain yang menyangkut diriku. Orang kantor Akbar Tanjung, sekneg (Sekretaris Negara) ketika itu, bulan Mei mengontak Lip (karena aku tidak berada di tempat) untuk menanyakan apakah aku bersedia menjadi anggota D.P.A. (Dewan Pertimbangan Agung). Lip menjawab: Saya tidak tahu, tanyakan langsung saja nanti. Sebelumnya tidak ada pembicaraan apaapa tentang masalah ini, tetapi orang seumurku mungkin memang dinilai cocok sebagai penasehat presiden. Apakah presiden mau dinasehati atau sebaliknya, bukanlah urusan D.P.A.. Pada 11 Juni 1998 aku dilantik bersama anggota D.P.A. yang lain, termasuk Sutrisno Muhdam, juga dari Muhammadiyah. Lebih lima tahun aku menjadi anggota D.P.A., berhadapan dengan tiga presiden bertutut-turut: B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati. Kemudian pada akhir tahun 2003, D.P.A. dilikuidasi karena M.P.R. menganggapnya tidak diperlukan

377

lagi. Aku diberi hak pensiun sebagai anggota D.P.A. pada tahun itu juga. Dengan bergabung ke dalam dewan yang terdiri dari mereka yang umumnya sudah berumur lanjut, aku seakan-akan memasuki sekolah baru dalam politik secara langsung. Aku mulai belajar bagaimana caranya merumuskan sebuah pertimbangan dan pernyataan yang padat dan mengenai sasaran yang tepat, tetapi dibungkus dalam kemasan bahasa yang sopan. Para mantan menteri, mantan jenderal, mantan anggota parlemen, mantan sekretaris jenderal, politisi, dan mantan-matan petinggi lainnya. Sebagai seorang yang sudah agak melek politik, aku tidak merasa canggung bergabung dengan mereka. Pengetahuanku tentang sejarah Indonesia sangat membantu tugasku sebagai anggota dewan. D.P.A. selama periodeku bukan main aktifnya membuat berbagai pertimbangan dan saran untuk disampaikan kepada presiden. Entah berapa ribu halaman kertas yang telah digunakan untuk tujuan itu. Dari pengamatanku, memang tidak banyak dari pertimbangan dan saran itu yang dipakai rujukan oleh presiden, kecuali oleh B.J. Habibie yang kebetulan punya hubungan baik dengan Ketua D.P.A., baik A.A. Baramuli, maupun Achmad Tirtosoediro. Itulah sebabnya barangkali

378

ada orang yang membaca D.P.A. sebagai Dewan Pensiunan Agung, karena dinilai kurang efektif dan banyak diisi oleh para pensiunan, baik sipil maupun militer. Sewaktu aku masuk D.P.A., umurku sudah menginjak 63 tahun, sedangkan Tirtosudiro dan Sulasikin Moerpratomo, agak jauh di atasku. Bagiku apa pun kata orang, aku sungguh banyak belajar dari anggotaanggota lain yang sudah kenyang dengan pengalaman dalam menangani berbagai masalah bangsa dan negara ini. Semua anggota D.P.A. secara berangsur telah menjadi teman baikku, tanpa kecuali. Apakah itu jenderal, marsekal, politisi, kiyai, tokoh masyarakat, mereka terlalu baik denganku. Sampai hari ini yang selalu saja berkomunikasi denganku adalah Jenderal Marinir Gafur Chalik. Melalui Gafur, aku banyak dikenal di kalangan korps marinir, bahkan pernah memberikan makalah di depan para elitnya di Jakarta bersama Profesor Joewono Soedarsono, menteri pertahanan dalam kabinet SBYKalla. Di samping banyak belajar pada teman-teman anggota, penghasilanku dengan sendirinya juga meningkat. Ini juga meringankan P.P. Muhammadiyah untuk tidak selalu memikirkan ongkos perjalananku sebaagi ketua.

379

Sambil mengurus Muhammadiyah di Jakarta, aku hampir saban minggu bolakbalik Jogja-Jakarta-Jogja untuk menghadiri sidang-sidang D.P.A. Aku mendaftar sebagai anggota Komisi Politik sampai saat-saat terakhir. Dengan demikian aku punya dua kantor di Jakarta, satu di Mentang Raya untuk Muhamadiyah dan di Jalan Veteran, dekat istana presiden, untuk D.P.A. Sutrisno Muhdam, Wakil Ketua P.P. Muhammadiyah, di samping A. Rosjad Saleh setelah Amien Rais mundur, tidak sampai rampung menjalankan tugasnya sebagai anggota D.P.A. karena wafat setelah sakit beberapa lama. Hubunganku dengan Muhdam manis sekali, karena pribadinya selalu kalem dan tulus. Aku tidak tahu, apakah dirinya bagian dari Muhammadiyah atau Muhammadiyah bagian dari dirinya. Begitu menyatunya hubungan itu. Muhdam adalah menantu A.R. Fachruddin, ketua P.P. yang terlama, penuh kharisma. Aku sungguh banyak belajar dengan Pak A.R. Rasa humornya tinggi. Satu ketika aku bertanya: Pak A.R. banyak merokok bukan? Jawabannya pendek, cepat, segar, dan sedikit menggelikan. Tidak, hanya satu-satu. Mana pula orang memasukkan rokok dua sekaligus ke mulutnya. Itulah gaya Pak A.R., mertua Muhdam. Semoga Allah menerima semua

380

amal-bakti mereka yang tulus selama hidup. Muhammadiyah kehilangan dengan kepergian mereka, dan semua kita pasti akan menyusul pula. Hanya soal waktu. Kepemimpinan Pak A.R. dikenal oleh warga sebagai sesuatu yang teduh dan sejuk, alon-alon asal kelakon (pelan tetapi dilaksanakan), biar lambat asal selamat. Amien Rais dan aku mungkin agak berbeda, cepat selamat. Apakah kemudian Muhammadiyah benar-benar selamat, biarlah publik yang menilai. Setelah aku membicangkan sedikit tentang D.P.A., sekarang kusambungkan lagi dengan masalah langkah Habibie dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. Catatanku tentang ini adalah sebagai berikut. Tidak diragukan lagi bahwa presiden ketiga ini punya niat luhur untuk memulihkan kedaulatan rakyat sesuai dengan konstitusi yang selama ini diabaikan oleh sistem daulat tuanku, sebagaimana telah kusinggung lebih dari sekali sebelumnya. Karena upaya beraninya ini, aku pernah menyebut Habibie sebagai Bapak Demokrasi Kedua sesudah Hatta. Seluruh dunia memujinya. Tetapi ada catatan lanjutannya. Karena Indonesia sedang berada dalam proses transisi kritikal dari rezim sebelumnya yang anti-demokrasi ke era demokrasi, pemerintah tampaknya cukup

381

khawatir kalau tidak cepat-cepat memenuhi tuntutan masyarakat yang ingin berubah spontan. Kran demokrasi dibukanya terlalu lebar, sehingga yang berjalan bukan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab, tetapi ultra-demokrasi yang penuh eforia. Keadaan sukar sekali dikontrol, masyarakat menjadi liar. Situasi ini dimanfaatkan kaum elit yang berseberangan dengan Habibie untuk menangguk di air keruh. Amien Rais juga turut mengeritik Habibie dengan keras, sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya. Tampak di sini Amien Rais juga kurang sabar dalam membaca peta persoalan yang sedang berkembang. Dalam menghadapi Habibie, aku tidak selalu bisa mengikuti Amien Rais. Mengapa Habibie tidak diberi waktu yang cukup untuk membuktikan kemampuannya sebagai negarawan. Bahwa Habibie pernah sangat dekat dengan Soeharto, semua orang tahu. Tetapi setelah teraju kekuasaan tergenggam di tangannya, apakah Habibie masih Soehartois? Ternyata kan tidak. Kran demokrasi yang dibukanya adalah bukti telanjang bahwa dia telah mengoreksi secara tegas pendahulunya. Inilah yang kurang diapresiasi para elit, termasuk Amien Rais. Dalam situasi serba dilematis ini, Habibie memang telah melangkah terlalu

382

jauh dengan mengizinkan penyelesaian masalah Timtim (Timor Timur) melalui referendum. Pemerintah mendapat data dan informasi yang keliru tentang Timtim ini ketika itu. Informasi itu mengatakan bahwa hampir 80% rakyat pasti akan berpihak kepada Indonesia. Setelah referendum diadakan, hasilnya adalah kebalikan 100% dari perkiraan pemerintah itu. Hanya sekitar 22,5% rakyat Timtim yang ingin tetap bergabung dengan Republik Indonesia. Aku tidak tahu siapa penasehat politik Habibie yang telah memberikan data tidak akurat ini tentang Timtim. Kondisi semacam ini jelas fatal bagi Habibie, sekalipun sebenarnya jika dilihat dari sejarah penggabungan Timtim itu, langkah pemerintah cukup antisipatif. Dengan kata lain, pengambilalihan Timtim telah lama dituduh sebagian orang sebagai langkah imperialistik dari Indonesia. Aku rasa tuduhan itu tidak berlebihan. Apa hak politik kita untuk mengambil secara paksa tanah orang lain yang dulu tidak merupakan bagian dari Hindia Belanda? Satu-satunya alasan adalah karena dikhawatirkan Timtim akan menjadi sebuah negara marxis setelah ditinggal Portugis. Soeharto memang dikenal dunia sebagai seorang piawai dalam menghancurkan komunisme.

383

Yang patut dicatat adalah Amerika Serikat yang biasanya sangat peka dalam masalah invasi suatu negara terhadap bangsa lain, kali ini malah mendukung pemerintah Soeharto, bahkan sering dipuji oleh I.M.F. dan Bank Dunia. Politik memang sarat dengan kepentingan pragmatis. Amerika Serikat yang masih takut dengan marxisme/komunisme malah merasa sangat senang dengan invasi Indonesia ini, sekalipun itu bertentangan dengan hukum internasional. Tetapi apa pula urusan Amerika dengan hukum internasional segala jika invasi itu menguntungkan politik luar negerinya yang anti komunis? Itu perkara kecil baginya. Tetapi penyerbuannya terhadap Afghanistan dan Iraq belum lama ini tidak ada perkataan lain yang tepat ditembakkan kepadanya kecuali tindakan biadab. Habibie jelas salah hitung dengan Timtim. Kritik terhadapnya semakin merebak, Abdurrahman Wahid tidak ketinggalan menghantamnya. Suara keras Wahid dan Amien Rais sungguh telah semakin melemahkan posisi Habibie. Orang melihat pemimpin dua organisasi besar Islam: N.U. dan Muhammadiyah tidak lagi mendukung Habibie. Padahal aku tahu bahwa warga kedua organisasi itu belum tentu sepakat dengan pemimpinnya. Tetapi siapa pula yang akan mempertimbangkan

384

suara silent majority (mayoritas yang diam) dalam sebuah sistem demokrasi yang belum sehat? Inilah tragedi Habibie yang memang agak terlambat mengenal watak bangsanya sendiri. Terlalu lama berada di rantau asing: Jerman. Ringkas kaji, Sidang M.P.R. digelar untuk mengadili Habibie terhadap langkah-langkah politiknya yang dinilai merugikan, sekalipun ekonomi bangsa telah diperbaikinya. Power politics (politik kekuasaan) begitu dominan menguasai pendapat para politisi yang tidak berpikir jauh. Seperti sudah diperkirakan oleh banyak pengamat bahwa M.P.R. akan menolak pertanggungjawaban Habibie, dan ternyata memang itulah yang terjadi. Golkar sendiri tidak sungguh-sungguh mempertahankan Habibie. Tidak selang lama setelah sidang, Salahuddin Wahid dan aku menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan. Kami menanyakan kepadanya apakah masih akan maju sebagai calon presiden setelah tidak didukung oleh suara mayoritas dalam M.P.R. Jawaban yang kami dapat adalah jawaban seorang negarawan bahwa dia sebagai kesatria tidak akan maju lagi, sekalipun tidak ada aturan konstitusi yang melarangnya. Aku dan Salahuddin hanya terpaku dan kagum atas sikap yang diambilnya. Habibie sangat tahu diri dan

385

menghormati keputusan M.P.R., sekalipun telah membidik dirinya sendiri. Sebuah teladan demokrasi yang baik dalam praktik telah diwariskan Habibie kepada bangsanya. Masa kekuasaan Habibie hanya 17 bulan, tetapi dia telah berbuat banyak untuk kepentingan Indonesia yang sedang menghadapi masa-masa sulit sebagai warisan dari masa sebelumnya. Krisis moneter adalah penyebab utama mengapa Presiden Soeharto harus meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998 itu. Sekalipun aku tidak sependapat dengan Amien Rais dalam menilai Habibie, persahabatan kami tidaklah rusak. Kejatuhan Habibie telah membuat politisi bangsa menjadi sangat sibuk, termasuk Amien Rais. Pertanyaan yang hendak dicari jawabannya adalah: siapa pengganti Habibie? Amien Rais sebagai tokoh gerakan reformasi pada saat-saat kritikal itu tetap menjadi sorotan publik. Aku senantiasa mengamatinya dari dekat, apalagi pada waktu itu sudah menjadi Pejabat Ketua P.P. Muhammadiyah yang harus sedikit banyaknya tahu situasi yang sedang berkembang. Aku beruntung karena bersahabat dengan Amien Rais yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain, tidak peduli siang atau malam. Seolah-olah rasa lelah tidak pernah singgah di otaknya. Maklumlah, politik adalah

386

habitat yang sebenarnya baginya. Disiplin ilmunya pun, baik pada saat belajar di Universitas Gadjah Mada, di Indiana, mau pun di Universitas Chicago adalah ilmu politik. Ada perkembangan yang agak sulit rumit untuk dipahami. Muncul gagasan Poros Tengah yang kabarnya berasal dari Dr. Fuad Bawazir, penasehat dan salah seorang penyandang dana Amien Rais dalam politik. Tetapi sewaktu kuajukan pertanyaan kepada Bawazir tentang siapa pencetus gagasan Poros Tengah, jawabannya adalah: Jujur saja, gagasan Poros Tengah lahir dari suatu proses perenungan dan diskusi-diskusi yang diadakan segera setelah Pemilu 1999 di mana partai-partai Islam kalah dari P.D.I.P. dan Golkar. Intinya dari tokoh-tokoh P.A.N., P.K.S., dan P.P.P. Dengan membentuk Poros Tengah, maka mereka (P.A.N., P.K.S., P.P.P.) merasa sejajar dengan P.D.I.P. dan Golkar. (SMS 26 Januari 2006 jam 22.49/51. Tata tulis disesuaikan dengan EBJ). Poros inilah yang mengusung Abdurrahman Wahid untuk menjadi presiden pengganti Habibie. Amien Rais cukup bersemangat mendukung pemimpin N.U. ini untuk ditandingkan dengan Megawati dari P.D.I.P. dalam Sidang M.P.R. Amien Rais sendiri baru saja dipilih menjadi ketua M.P.R. mengalahkan Matori Abdul

387

Djalil dari P.K.B. (Partai Kebangkitan Bangsa). Wahid sesungguhnya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi presiden mengingat fisiknya yang bermasalah. Tetapi di mata Poros Tengah dari pada memilih Megawati biarlah Wahid yang tampil. Wahid yang sebelumnya dinilai sebagian orang sebagai tokoh pluralis dan kulturalis, sebenarnya punya naluri politik yang tinggi. Sekalipun N.U. yang dipimpinnya telah kembali ke khittah 1926 pada Muktamar N.U. 1984 di Situbondo, tokoh-tokohnya rupanya sangat sulit berpisah dengan politik praktis, termasuk Wahid. Inilah dilema N.U. yang tidak mudah diatasi. Sejak N.U. keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan mengubah dirinya menjadi partai politik, gagasan kembali ke khittah selalu dihadapkan kepada realitas lapangan yang bertolak belakang dengan harapan itu. Sementara itu Muhammadiyah relatif lebih aman, sekalipun beberapa kadernya juga punya selera politik tinggi. Kalau kemudian orang bertanya mengapa bukan Amien Rais yang diusung jadi presiden? Agak berbelit cerita tentang ini. Aku mengikuti kejadian ini dari jarak yang agak dekat, sekalipun aku sendiri bukan bagian dari partai. Sebenarnya dalam pertemuan di rumah Habibie pada

388

tanggal 21 Oktober 1999 subuh, semua yang hadir mengarahkan mata mereka kepada Amien Rais. Aku lihat yang hadir itu di samping Habibie, banyak yang lain, di antaranya Jenderal Wiranto, Akbar Tandjung, Hamzah Haz, Yusril Ihza Mahendra, Marzuki Darusman, Adi Sasono, Dawam Rahadjo. Semuanya meminta agar Amien Rais yang maju, tetapi tetap ditolaknya. Pada saat itu siapa yang dapat mengatakan bahwa itulah momen yang tepat bagi Amien Rais untuk tampil sebagai pemimpin puncak bangsa. Ibarat jago silat, setelah babak belur, baru teringat silatnya. Tetapi siapa tahu pula, pilihan penolakan itu yang terbaik bagi Amien Rais di kemudian hari. Jadi kita hanya bisa berandai-andai dalam ungkapan bersayap siapa tahu. Situasinya memang rumit sekali. Aku sangat setuju sekiranya Amien Rais tidak terlanjur menyebut Wahid untuk dicalonkan. Ini mengingat hubungan Muhammadiyah-N.U. di akar rumput bisa gaduh, jika Rais yang maju. Selain itu, ini aku dengar dari Rais sendiri, dia baru saja 10 hari menjabat Ketua M.P.R. Jadi tidaklah elok tampil lagi sebagai calon presiden. Adi Sasono Dawam Rahardjo subuh itu mengatakan kepadaku bahwa jangan risau dengan hubungan N.U.-Muhammadiyah. Mereka yang akan mengatasi. Seperti

389

mereka faham saja watak umat di akar rumput. Aku yang pada waktu itu sudah menjadi Ketua P.P. pasti akan kewalahan jika di masyarakat bawah terjadi huru-hara antara massa N.U. dan massa Muhammadiyah. Umpamanya dalam huruhara itu ada yang mati, maka eskalasinya bisa jadi akan sangat meluas. Tidak mungkin seorang Adi Sasono atau Dawam Rahardjo bisa memadamkannya. Jadi memang serba dilematis. Sebelum aku mendampingi Amien Rais pergi ke tempat Habibie, atas inisiatif sendiri aku menemui Wahid di sebuah kamar Hotel Mulia. Ada Alwi Shihab dan seorang lagi yang setia menemani A. Rahman Wahid yang sedang bersiap-siap menjadi presiden keempat setelah Habibie. Dinihari itu A. Rahman Wahid mengatakan kepadaku: Besok pagi mata saya akan melihat, diobat oleh para kiyai. Aku lalu bertanya: Para kiyai itu datang ke sini, atau Gus Dur yang akan menemuinya. Dia menjawab: Saya yang akan mengunjungi mereka. Lalu sebelum pamit aku ucapkan selamat kepadanya. Shihab hanya senyumsenyum mendengar A. Rahman Wahid yang berharap macam-macam itu. Tetapi itulah A. Rahman Wahid yang punya rasa percaya diri yang kuat sekali. Ada cerita lain yang terkait dengan naluri politik A. Rahman Wahid ini. Sekitar

390

bulan Juni 1998 sewaktu menemuiku di kantor P.P. Muhammadiyah Jakarta, A. Rahman Wahid sudah yakin bahwa dia akan jadi presiden. Bahkan kabinet bayangan telah dibentuknya. Katanya akan ada dua wakil Muhammadiyah dalam kabinet yang dirancangnya itu, padahal Habibie waktu itu masih berkuasa. Saksi yang hadir dalam pertemuan di atas adalah H. Azidin, S.E., Ketua Umum Alwasliyah yang pada waktu itu kami sama-sama menjadi anggota D.P.A. Di samping berbicara tentang kabinet, Abdurahman Wahid juga menyebut nama Matori Abdul Djalil yang akan dijadikannya sebagai Ketua D.P.R. Bahkan Abdurahman Wahid mengatakan: D.P.R. perlu dipimpin oleh preman. Padahal Matori bukan preman setahuku. Abdurahman Wahid memang suka berbicara seenaknya. Saya dan Azidin hanya tertawa geli dalam hati mendengar tuturan Abdurahman Wahid itu. Aneh bin ajaib kemudian berlaku. Poros Tengah dengan Amien Rais sebagai salah seorang tokoh puncaknya malah mengusung Abdurahman Wahid untuk dicalonkan jadi presiden menghadapi Megawati. Dan Abdurahman Wahid terpilih betul. Bukankah ini sebuah keajaiban dalam sejarah Indonesia modern? M.P.R.-pun tidak mempersoalkan tentang kesehatan jasmani dan ruhani sebagai syarat bagi

391

seorang calon presiden. Pada hari-hari itu memang beredar kasak-kusuk A.B.M. (asal bukan Mega) di kalangan anggota M.P.R. dan masyarakat tertentu. Dengan terpilihnya Abdurahman Wahid sebagai presiden oleh M.P.R. mengalahkan Megawati untuk menggantikan Habibie, sempat sebentar terjadi ketegangan antara pendukung Abdurahman Wahid dan mendukung Megawati. Tetapi tidak menimbulkan kegoncangan yang berbahaya, sebab keajaiban berikutnya juga terjadi. Megawati bersedia dicalonkan menjadi wakil presiden. Entah itu keinginan Mega sendiri atau karena dorongan temanteman P.D.I.-P. yang tidak mau kehilangan segala-galanya. Perasaan saya adalah karena faktor yang kedua ini, sekalipun pada era Habibie hubungan Abdurahman Wahid dengan Mega ibarat kakak beradik. Mereka biasa pergi bersama ke makam Bung Karno di Blitar atau ke Tebu Ireng, tempat berkuburnya Syekh Hasjim Asjari, kakek Abdurahman Wahid, bapak spiritual N.U. Ziarah-ziarah politik ini memang telah membuahkan kursi presiden dan wakil presiden untuk mereka, sekalipun kemudian kongsi mereka pecah lagi oleh berbagai sebab. Tampilnya Abdurahman Wahid sebagai presiden, umumnya disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh berbagai

392

golongan dalam masyarakat plural Indonesia. Wahid memang telah lama dikenal sebagai seorang tokoh pluralis yang bersemangat. Teman-temanku dari pihak Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha, semula punya harapan yang besar bahwa Abdurahman Wahid akan bisa memperbaiki kondisi bangsa yang sudah rusak ini. Bukan saja mereka, seorang A.M. Fatwa, tokoh P.A.N. sampai sujud syukur di gedung M.P.R. sebagai tanda bahagia dengan terpilihnya Abdurahman Wahid. Hubungan N.U.-Muhammadiyah jangan ditanya lagi. Mereka semuanya gembira. Apalagi dikaitkan dengan peran Amien Rais sebagai Ketua M.P.R. yang cukup menentukan bagi terpilihnya Abdurahman Wahid. Lebih dari itu, dalam lingkup nasional, untuk pertama kali terjadi negara Indonesia dipimpin oleh para santri: Abdurahman Wahid, Amien Rais, dan Akbar Tandjung sebagai Ketua D.P.R. Abdurahman Wahid mewakili puak N.U., Amien Rais puak Muhammadiyah, Akbar puak H.M.I. Luar biasa bukan? Santri sekarang sedang memimpin Indonesia. Pertanyaannya adalah: untuk berapa lama mereka dapat bertahan? Apakah mereka bersatu hati dan strategi untuk membangun Indonesia dengan cara-cara demokratis? Ingat, ini kongsi politik yang

393

sering rentan diterpa berbagai virus kepentingan yang tidak sederhana, apalagi dengan kondisi moral bangsa Indonesia yang masih rapuh dan tak menentu. Tiga figur santri: Amien Rais, Abdurahman Wahid, dan Akbar Tandjung telah tampil sebagai pemain utama di pentas politik nasional, sebuah peristiwa yang baru sekali ini terjadi sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Mereka yang naluri politiknya tidak begitu tajam berharap betul bahwa kongsi tiga tokoh ini akan bertahan lama. Tetapi mereka yang sudah kenal dengan watak ketiga pemain itu tidak terlalu berharap bahwa ketiganya akan bebas dari macam-macam gesekan politik yang akan membuyarkan kongsi mereka secara dramatis. Sepintas lalu, seperti ungkapan dalam bait lagu Minang pada akhirnya yang berlaku pada diri mereka adalah: sepayung berjauh hati, serumah berlain rasa. Belum sampai dua tahun, cabinet Abdurahman Wahid diterpa angin limbubu. Sebelum jatuh sama sekali, para pengikutnya telah berupaya mempertahankan Abdurahman Wahid dengan segala cara, termasuk dengan jalan yang sama sekali tidak masuk akal. Tidak kurang para kiyai pun telah terjun ke gelanggang, demi menolong posisi idolanya yang sedang oleng. Iklim politik

394

menjadi panas, tidak saja di kalangan elit. Rakyat jelata pun tidak kurang antusiasnya mengikuti gonjang-ganjing politik yang diciptakan para elit. Aku, M. Deddy Julianto, seorang pengusaha pribumi, dan Dr. Umar Wahid (adik Presiden Wahid) berupaya agar umat di akar rumput dapat dikendalikan, tidak saling bertarung dalam mempertahankan kedudukan pemimpinnya masing-masing. Tetapi alangkah sukarnya, sebab kata mereka Abdurahman Wahid dan Amien Rais tidak saja sedang berjauhan hati, tetapi sudah bertarung, dan memang keduanya adalah petarung sejati. Padahal yang menurunkan Abdurahman Wahid adalah M.P.R., bukan Amien Rais, karena dinilai telah menyalahgunakan kekuasaannya dalam masalah bantuan dana dari Brunai. Tetapi umat banyak sukar sekali membedakan M.P.R. dan ketuanya M. Amien Rais. Akibatnya sangat nyata. Di akar rumput Muhammadiyah juga telah kena getahnya. Beredar berita bahwa Amien Rais adalah tokoh utama yang menggoyang kepresidenan Abdurahman Wahid. Khususnya di Jawa Timur, masjidmasjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah dirusak, warga diteror dengan diberi tanda X di rumahnya. Sekolahnya pun ada yang dibakar hangus seperti di Situbondo. Dalam situasi serba

395

sulit ini, tidak mudah bagiku memimpin Muhammadiyah, sekalipun aku punya hubungan baik dengan elit N.U., termasuk dengan Ketua Umumnya K.H. Drs. A. Hasjim Muzadi. Akibat emosi akar rumput susah dikendalikan, P.B. N.U. tidak berhasil meredakan ketegangan situasi, khususnya bagaimana agar Muhammadiyah tidak dijadikan sasaran kemarahan mereka yang mengaku pengikut Abdurahman Wahid. Menghadapi keadaan yang mencemaskan itu, Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur telah bertindak sangat arif. Bukan dengan membalas perbuatan brutal dengan cara serupa, tetapi dengan menulis semacam buku putih sebagai dokumen yang memaparkan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Ini adalah reaksi yang cukup beradab yang dilakukan oleh Muhammadiyah wilayah itu. Karena kejadian itu cukup menegangkan, maka pernyataan P.W.M. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur yang ditandatangani oleh ketua dan sekretarisnya: Prof. DR. H. Fasich, Apt. dan H. Nadjib Hamid, S.Sos., tertanggal 5 Februari 2001, perlu kukutip di bawah ini. 1. Mendukung gerakan demokrasi dengan cara damai dan konstitusional. 2. Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan.

396

3. Menyerukan kepada aparat keamanan untuk dapat segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin mengusut dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. 4. Menghimbau kepada masyarakat Jawa Timur agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan adu domba dari pihak-pihak tertentu. (Lih. Ainur R. Sophiaan, Faaisol Taselan, Nadjib Hamid, Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik. Surabaya: P.W.M. Jawa Timur, 2002, hlm. 89). Bacalah pernyataan itu baik-baik yang dengan cara sopan mengimbau aparat untuk cepat bertindak terhadap siapa pun yang mengacau keadaan, tanpa menyebut golongan mana mereka. Dengan menyembunyikan nama pelaku teror ini, Muhammadiyah tidak ingin dan tidak rela karena gara-gara politik, persaudaraan umat di tingkat akar rumput menjadi kacau dan berantakan. Apa yang terjadi di Jawa Timur ini menjadi perhatian utamaku bersama anggota P.P. yang lain. Kontak dengan P.W.M. Jawa Timur terus dilakukan, sambil mendesak aparat agar tidak membiarkan tindakan kekerasan itu semakin meluas. Anak-anak muda N.U. yang dekat denganku terus dihubungi agar

397

menggunakan jasa-jasa baik mereka untuk turut meredakan keadaan, tetapi mereka menemui kesulitan karena massa emosional sangat sulit dikendalikan. Cukup banyak milik Muhammadiyah yang menjadi sasaran tindakan brutal dan kekerasan selama berbulan-bulan sampai Abdurahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan kursi kepresidenannya. Di antara spanduk yang mengancam Muhammadiyah terdapat misalnya di Jl. K.H. Kholil Gresik, berbunyi: Generasi Muhammadiyah Gresik jangan ikut-ikut munafiq seperti Pimpinan MD Pusat yang cacat mulut sbb: Syafii Maarif, Dien Syamsuddin, A.M. Fatwa: bajingan negara. (Ibid., hlm. 55, dengan sedikit perbaikan ejaan, tetapi isi tidak berubah). Bagiku semuanya harus dimaafkan, tetapi jangan diulang lagi di masa yang akan datang. Aku dan teman-teman telah bekerja keras agar Muhammadiyah-N.U. benar-benar bisa bahu membahu untuk memperbaiki moral bangsa dan negara yang terlanjur rusak ini. Janganlah energi dihabiskan untuk tujuan yang sia-sia. Alhamdulillah beberapa bulan kemudian setelah Abdurahman Wahid tidak berkuasa lagi, hubungan N.U.-Muhammadiyah di tingkat bawah berangsur pulih secara perlahan, tetapi pasti. Kata orang, aku

398

cukup berperan dalam proses pemulihan hubungan ini. P.B. N.U. bukan tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya dan karena itu menawarkan bantuan untuk turut memperbaikinya kembali. Tetapi P.W.M. Jawa Timur dengan cara sopan telah menolaknya karena secara spontan warga Muhammadiyah telah mulai melakukan perbaikanperbaikan. ( Ibid., hlm. 94). Aku yang telah bekerja keras sejak Muktamar Muhammadiyah Juli 2000 untuk merajut persaudaraan tulus dengan N.U., tentu sangat kecewa dengan apa yang dialami Muhammadiyah berupa ancaman teror dan pengrusakan di atas. Tetapi awal tahun 2002 upaya itu kuteruslan lagi dan secara berangsur semakin tampak hasilnya, sekalipun Muhammadiyah harus banyak berkorban. Inilah risiko yang harus dilalui persyarikatan karena masyarakat tertentu belum bisa membedakan figure Amien Rais sebagai Ketua M.P.R. dengan Muhammadiyah yang pada waktu itu berada di bawah pimpinanku. Kita surut sebentar ke belakang untuk menengok Muktamar Muhammadiyah ke44 di Jakarta, 8-11 Juli 2000, di mana akhirnya aku terpilih sebagai ketuanya dengan perolehan suara yang cukup tinggi. Gambaran urutannya adalah sebagai

399

berikut: Ahmad Syafii Maarif (1282), M. Din Syamsuddin (1048), A. Malik Fadjar (1041), A. Rosjad Sholeh (1034), Yahya A. Muhaimin (971), M. Amin Abdullah (940), Ismail Suny (921), Mohammad Dawam Rahardjo (910), Ahmad Watik Pratiknya (803), M. Muchlas Abror (788), Asjmuni Abdurrahman (769), Haedar Nashir (748), M. Sukriyanto A.R. (706). Tidak lama sesudah itu, Rapat Pleno P.P. Muhammadiyah telah menyusun pengurus P.P. periode 2000-2005 dengan pengurus harian sebagai berikut: Ketua: Ahmad Syafii Maarif, Wakil-wakil Ketua: A. Malik Fadjar, A. Rosjad Sholeh, Din Syamsuddin, M. Amin Abdullah; Sekretaris: Haedar Nashir dan Goodwill Zubir; Wakil Sekretaris: Hajryanto Y. Thohari dan Abdul Munir Mulkhan; Bendahara: M. Sukriyanto A.R. (kemudian digantikan oleh Dasron Hamid karena Sukri minta berhenti) dan Husni Thoyar (kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Bambang Sudibyo). Thoyar ingin memusatkan perhatiannya sebagai Ketua P.W.M. Daerah Khusus Jakarta. Karena masih menjabat ketua pada waktu muktamar dilangsungkan, aku harus menyampaikan apa yang sudah menjadi tradisi Muhammadiyah: Pidato Iftitah pada pembukaan yang dihadiri oleh para pembesar Indonesia: Presiden

400

Abdurrahman Wahid, Ketua M.P.R. M. Amien Rais, Ketua D.P.R. Akbar Tandjung, dan banyak yang lain. Inilah a.l. isi Pidato Iftitah itu: Sampai dengan Muktamar ke-41 Surakarta 1985, Muhammadiyah telah mengubah dan memperbarui Anggaran Dasarnya sebanyak 12 kali, dan Anggaran Rumah Tangga sebanyak tujuh kali. Persyarikatan ini tidak pernah mensakralkan Anggaran Dasarnya, apalagi memberhalakannya, sebab bila itu terjadi resikonya hanya satu: memasung diri dalam kepengapan dan kebuntuan kultural. Analog dengan ini pula, UUD 1945 yang disucikan selama sekian dasa warsa adalah salah satu sebab utama mengapa kita masih saja kebingungan dalam mencari format dan sistem politik yang lentur dan pas bagi bangunan sebuah bangsa dan negara modern. Pengalaman ini semestinya mengajarkan kepada kita bahwa pemberhalaan suatu ciptaan dan hasil pemikiran adalah pertanda dari lonceng kebangkrutan dan kematian yang dapat menyebabkan kita kehabisan agenda dan wacana. Sudah berjalan hampir 60 tahun pasca proklamasi, kita belum juga memiliki sistem politik yang mantap, sementara korban manusia karena sistem-sistem otoritarian yang diberlakukan telah ribuan

401

jumlahnya. Semoga jumlah ini tidak bertambah lagi. Cukup sampai di sini saja penderitaan yang ditimpakan atas jiwa dan raga rakyat banyak. Akrobatik dan petualangan politik yang amoral jangan lagi diteruskan! Para politisi yang masih rabun ayam (myopic) diharapkan agar mempertajam visi masa depannya, agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan, dan untuk jangka panjang. Maka Muhammadiyah menawarkan diri kepada seluruh komponen kekuatan masyarakat yang memiliki sense of crisis untuk bahu membahu dalam menjaga dan memelihara bangsa ini agar tidak terus bergerak dan meluncur menuju jurang kehinaan dan kehancuran. Muhamadiyah sadar betul bahwa tanggung jawab kita sebagai manusia yang beriman tidak hanya terhenti di dunia fana ini saja, tetapi berlanjut sampai ke seberang makam. Oleh sebab itu, masa hidup yang pendek dan singkat ini tidak boleh dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia. Muhammadiyah dengan filsafat sosialnya yang telah teruji tidak akan pernah putus asa dan patah harapan. Bangsa ini adalah milik kita semua. Kita tidak akan lari meninggalkan bangsa yang sedang dililit banyak masalah ini. Oleh sebab itu dalam

402

kapasitas dan posisi kita masingmasing, kita harus berbuat yang terbaik untuk kepentingan semua dan sesama, berapa pun biaya yang perlu dikeluarkan untuk itu. Ayat 105 surat al-Taubah yang juga tertulis pada dinding atas bagian utara aula kantor Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta telah menjadi landasan filsafat sosial Persyarikatan ini. Ayat itu berbunyi [yang dikutip di sini artinya saja]-- Dan katakan: Beramallah kamu, maka Allah, rasulnya, dan orang-orang beriman akan memperhatikan (hasil) amalmu itu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu kepadamu akan diberitakanNya (hasil dan jejak) dari apa-apa yang telah kamu kerjakan. Dari kutipan sebagian Pidato Iftitah itu aku ingin mengatakan bahwa Muhammadiyah menurut jalan pikiran ini tidak boleh hanya berkutat di kandangnya sendiri. Sayap amalnya harus mampu melindungi siapa saja yang perlu dilindungi, tanpa melihat latar belakang sosial, agama, suku, dan sejarah. Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang untuk semua. Muktamar Jakarta cukup semarak, tetapi pers, seperti biasa, pada umumnya

403

lebih tertarik kepada pemilihan pimpinan. Apalagi di kalangan publik luas sudah beredar isu bahwa akan ada pertarungan segi tiga antara Ahmad Syafii Maarif, A. Malik Fadjar, dan Din Syamsuddin untuk posisi ketua. Masyarakat memang demam pertandingan, apalagi pertarungan antar figur. Sekitar tiga bulan sebelum muktamar, Amien Rais sempat khawatir bahwa aku akan terjungkal dalam pemilihan, karena kurang mengunjungi wilayah dan daerah. Jawabanku biasa dan datar, terserah saja kepada para pemilih di muktamar. Jika dipilih sebagai ketua berarti aku meneruskan kepemimpinanku melalui muktamar untuk lima tahun lagi. Bilamana sebaliknya yang berlaku, aku betul-betul terjungkal, ya diterima saja. Berarti aku memang belum berakar kuat di kebun Muhammadiyah. Biar orang lain yang dipilih, apalagi usiaku ketika itu sudah 65 tahun lebih sedikit. Tetapi sekitar sebulan sebelum muktamar Amien Rais baru yakin bahwa pendukungku sudah meluas, sekalipun tanpa tim sukses, sesuatu yang memang tidak kusukai. Sekalipun Muhammadiyah bukan partai politik, menghadapi pemilihan pimpinan pusat terasa juga nuansa politik itu ikut mengacau keadaan, tetapi masih dalam batas-batas yang tidak terlalu jauh, seperti main uang, misalnya.

404

Sepengetahuanku, apa yang disebut permainan politik uang belum menjangkiti Muhammadiyah. Semoga begitu seterusnya, sebab sekali Muhammadiyah dibencanai oleh praktik a-moral ini, wibawa organisasi ini akan sangat merosot di depan publik. Ongkosnya teramat mahal jika Muhammadiyah dijadikan ajang pertarungan duniawi yang bernilai rendah itu. Warga dan simpatisan Muhammadiyah tampaknya sungguh berharap agar gerakan Islam ini terhindar dari praktikpraktik busuk dan pengap itu. Dalam perkara yang satu ini, Muhammadiyah jangan sampai menjadi bagian dari Indonesia yang sudah oleng secara moral. Suasana partai politik jangan ditanya lagi. Permainan uang seakan telah menjadi norma. Orang melakukannya tanpa rasa dosa dan salah. Ini pertanda bahwa kepekaan moral telah semakin terkikis dilanda nafsu mumpungisme. Bagaimana berharap agar negeri ini semakin membaik, jika para pemain politik dan ekonominya banyak yang bermental maling? Segera setelah angka-angka di atas diketahui, ketiga belas yang terpilih di atas mengadakan rapat pertama untuk menetapkan siapa Ketua P.P. Muhammadiyah yang akan diusulkan kepada muktamar. Rapat berjalan sangat singkat dan secara aklamasi

405

menetapkanku sebagai ketua, sekalipun dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada ketentuan bahwa yang memperoleh suara terbanyak pasti otomatis menjadi ketua. Dalam rapat kilat itu, seingatku yang pertama angkat bicara adalah Malik Fadjar yang mengusulkanku untuk menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah untuk periode 20002005. Anggota yang lain setuju saja. Dengan kenyataan ini, mentalku harus benar-benar disiapkan, sebab jika usia masih dipanjangkan, periode lima tahun cukup berat bagiku, sekalipun aku sudah sedikit punya pengalaman dalam memimpin gerakan Islam modern yang perkasa dalam amal kongkret ini. Muktamar Jakarta telah semakin membawaku ke pusaran masalah bangsa dan negara yang semakin kompleks dan penuh ranjau politik. Aku mulai melepaskan diri dari bayang-bayang Amien Rais yang sudah dikenal sebagai tokoh politik nasional terkemuka. Adalah Jeffrie Geovanie dan Rizal Sukma yang dengan jeli melihat bahwa aku sudah tidak dibayangi oleh siapa pun lagi, sekalipun keduanya melihat tahun yang berbeda. Geovanie bahkan mengatakan bahwa sejak menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah, tak seorang pun yang mempengaruhiku. Geovanie melalui SMS tanggal 6 Januari 2006 jam 22:08 menulis: Dibayangi dalam

406

pengertian mempengaruhi kepemimpinan Buya di P.P. Muhammadiyah sebagai ketua menurut saya tidak pernah. Kepemimpinan Buya bernuansa sangat berbeda dengan pendahulu-pendahulu yang mana pun. Kalau dalam muktamar seolah-olah Buya terbayangi oleh yang sebelumnya lebih karena perkubuan Yogya saja. Artinya aku sudah mandiri dalam menentukan sikap. Sukma lebih spesifik mengatakan bahwa antar muktamar dan tanwir, aku terlihat mengalah. Selengkapnya berbunyi: Sejak Muktamar Jakarta sampai Tanwir [Makassar?], buya menurut saya menunjukkan sikap mengalah karena persahabatan dan menjaga agar tidak ada friksi dalam Muhammadiyah, namun tidak bisa didikte oleh MAR. Jadi, periode itu adalah periode let wisdom prevailed [sic] by itself. Ketika segelintir orang di sekitar MAR pushed it, buya revealed to all of us that there was a boundry that no one should ever crossed. Bravo. (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22.24, ejaan disesuaikan). Lebih jauh Sukma menulis: After Tanwir Makassar, if you ordered me to pull my support for MAR, I would have listened gladly. Saya kan pernah menyampaikan ke buya sekitar bulan Mei 2004, saya mau keluar saja dari tim karena tidak tahan atas cara mereka mempersepsikan buya. Jawaban buya sangat jelas: Jangan,

407

bantulah dia sebisanya. (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22.30, ejaan disesuaikan). Bagiku sendiri, jika ada sikap-sikap yang kurang proporsional pada saat-saat suku politik sedang mendidih dapat dimaklumi, sekalipun kadang-kadang menyakitkan. Mengapa dua anak muda ini aku kutip? Karena mereka cukup faham peta gerak Muhammadiyah, khususnya yang menyangkut langkah-langkahku dalam memimpin persyarikatan ini dalam situasi yang sarat dengan kepentingan politik jangka pendek. Mungkin Sukma benar dalam membaca sikapku yang mengalah berhadapan dengan MAR dan pendukungnya, demi menjaga keutuhan Muhammadiyah. Dalam suasana yang tidak normal itu, aku kadang-kadang merasa seperti bika, di bawah panas di atas panas. Tetapi jika tidak demikian, bika tidak akan masak, bukan? Bagiku yang penting adalah agar citra Muhammadiyah di depan publik tidak rusak sebagai kekuatan sipil yang independen vis--vis politik kekuasaan. Banyak pujian yang disampaikan kepadaku dari berbagai kalangan karena aku dinilai berhasil menjaga Muhammadiyah dari tarikan politik kanan kiri. Tetapi perasaan yang kurang sedap pada suatu ketika dengan bergulirnya musim akan sirna dengan sendirinya. Aku mau berdamai dengan siapa saja, asal

408

dilakukan dengan tulus dan autentik. Hidup yang singkat ini tentu tidak elok dipakai untuk sesuatu yang sia-sia. Inilah filosofi hidupku yang sederhana yang terasa semakin tajam setelah aku menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah. Pergumulanku dengan berbagai kalangan yang masih mempertahankan idealisme selama tujuh tahun terakhir telah semakin menyuburkan kepekaan batinku untuk tidak larut dalam suasana saling curiga yang hanya membuahkan kesia-siaan. Al-Quran surat al-Hujurat ayat 12 menegaskan yang maksudnya: Hai orang-orang beriman, jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu tentu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Bagiku pesan ayat ini terlalu gamblang, tetapi mengapa aku pada saat-saat tertentu di masa lampau kurang atau bahkan tidak menghiraukannya? Aku menyesal karena pada saat Muktamar Jogja dan Aceh aku belum bebas dari iklim yang kurang sehat karena mata sering terpaku

409

kepada masalah kepemimpinan. Aku belajar banyak dari pengalaman muktamar ke muktamar, sekalipun pasti ada saja kekeliruan yang kulakukan. Barangkali usia yang telah merangkak jauh semakin menyadarkanku untuk lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan sesama, baik teman seagama maupun dengan teman lintas agama yang sampai sekarang tetap terjaga dengan baik. Apalagi Muhammadiyah adalah gerakan dawah, bukan gerakan politik yang tidak bebas dari budaya menohok kawan seiring, menggunting dalam lipatan. Itulah sebabnya dalam Pidato Iftitah di Sidang Tanwir Denpasar, Bali, 24 Januari 2002, aku mencoba menarik garis pembeda antara politik dan dawah: Politik mengatakan: Si A adalah kawan Si B adalah lawan Dawah mengoreksi: Si A adalah kawan Si B adalah sahabat. Politik cenderung berpecah dan memecah Dawah merangkul dan mempersatukan. Sesungguhnya jauh sebelum Muktamar Jakarta, aku sudah bertekad untuk tidak turut lagi dalam permainan internal politik dalam Muhammadiyah. Apa yang

410

kukatakan di atas adalah endapan dan kristalisasi dari apa yang sudah agak lama kurenungkan. Tanwir Denpasar relatif berlangsung manis, tetapi ada sedikit bintik kecil yang perlu direkamkan di sini. Rapat Pleno P.P. Muhammadiyah sebelumnya sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Megawati agar memberi sambutan dalam tanwir dalam rangka sosialisasi dawah kultural. Dan undangan itu dikabulkannya. Presiden yang didampingi oleh suaminya Taufik Kiemas telah memberikan sambutan pada waktu pembukaan Tanwir. M. Amien Rais yang diundang secara khusus untuk menghadiri Sidang Tanwir semula juga datang. Tetapi setelah dia tahu bahwa Megawati juga hadir, sahabatku ini membatalkan niatnya untuk hadir dalam pembukaan. Kami anggota P.P. telah berupaya meyakinkan agar Amien Rais jangan membatalkan niatnya, tetapi sia-sia belaka. Din Syamsuddin disalahkan karena dikira dialah yang mengundang Mega dan aku tak bisa mengontrol Din. Yang benar bukan begitu. P.P. yang mengundang Mega, dan aku mendukung. Jadi tidak benar Din dijadikan sasaran kecurigaan dalam kasus ini. Amien Rais akhirnya tidak mau hadir, lalu meninggalkan Bali. Di antara kalimat yang diucapkannya yang masih terngiang

411

di teligaku adalah: Dulu kita sudah sepakat untuk tidak membungkuk-bungkuk kepada penguasa. Jawabanku adalah: Siapa yang membungkuk-bungkuk? Tidak seorang pun. P.P. mengundang presiden adalah dalam rangka dawah kultural dan itu melalui keputusan rapat, bukan kemauan seseorang. Amien Rais tidak mau dengar semua alasan ini. Akhirnya Sidang Tanwir berjalan bagus dan semarak tanpa Amien Rais. Informasi lain datang dari Rizal Sukma yang ketika itu merupakan bagian dari tim Amien Rais. Dikatakannya bahwa di lingkungan terdekat Amien Rais ada kecurigaan bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk menerima tawaran menjadi cawapres (calon wakil presiden) Megawati (SMS tanggal 11 Januari 2006, jam 17.15). Dengan anggapan yang bersimpang siur ini, maka dapatlah dipahami mengapa Amien Rais merasa terganggu di Denpasar dengan kedatangan Megawati itu. Untuk menanggapi kabar-kabar burung model ini, jauh sebelum itu aku sudah mengatakan: Sesama bus kota tidak boleh saling mendahului. Ungkapan ini telah banyak dikutip pers. Dr. Sulastomo bahkan telah menjadikannya untuk judul tulisannya dalam rangka 70 tahun usiaku. Dengan demikian di mana posisiku telah teramat

412

jelas. Amien Rais dari Muhammadiyah, aku pun dari Muhammadiyah. Apakah layak dari sudut moral dan etika jika aku mempersulit Amien Rais sebagai calon presiden, sekiranya aku turut pula dalam perlombaan politik yang melelahkan itu? Jika itu dilakukan aku harus bertempur dulu dengan isteri dan anakku yang sama sekali tidak rela kalau suami dan ayahnya memasuki gelanggang politik praktis. Semenjak Tanwir Denpasar inilah aku semakin sulit memahami cara berpikir Amien Rais yang kadang-kadang begitu emosional dan temperamental, padahal yang memilih Megawati sebagai presiden adalah M.P.R. pimpinan M. Amien Rais setelah M.P.R. mencabut mandat Presiden Abdurrahman Wahid. Aku melihat permainan politik itu kejam, ganas, kawan dan lawan sering berubah tergantung kepada kepentingan jangka pendek. Kutipan Pidato Iftitah di atas adalah refleksiku dalam membaca perseteruan politik kekuasaan di Indonesia di era reformasi. Dalam perseteruan ini, aku menyaksikan betul bahwa apa yang bernama iman yang mengharuskan orang menjaga persaudaraan sering tidak berfungsi. Kekuasaan itu, kata orang, memang dapat membutakan hati manusia. Kearifan dalam bersikap sering pupus

413

begitu saja ditiup angin politik yang bertiup tak terkendali. Pada bulan-bulan pasca Muktamar Jakarta, mobilitasku memang meningkat drastis. Tamu-tamu berdatangan ke P.P. Muhammadiyah Jakarta, asing atau domestik, siang dan malam. Undangan dari dalam dan luar negeri juga banyak sekali. Tidak jarang aku baru bisa tidur setelah larut malam. Saudara Zaenuddin dan Hefinal dari sekretariat P.P. Muhammdiyah tahu betul tentang kesibukanku ini, sebab merekalah yang mengatur agendaku. Kepada kedua anak muda ini aku wajib menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala kebaikan dan ketekunan mereka dalam menjalankan tugas. Keduanya cukup profesional, tidak ada urusan yang tidak beres. Kadang-kadang mereka tidak mengenal waktu dalam bertugas. Keikhlasan mereka terlihat di wajahnya yang tidak pernah menampakkan rasa tidak senang, sekalipun lelah. Perkawananku dengan tokoh-tokoh lintas agama semakin meyakinkanku bahwa sikap-sikap yang kuperlihatkan dalam memimpin Muhammadiyah mendapat apresiasi yang tinggi dari mereka. Tidak saja dari mereka, tetapi dari berbagai kalangan birokrat, jenderal, menteri, mantan menteri, pengusaha, budayawan/seniman, dan banyak yang

414

lain, sangat menghargai sikap dan pernyataanku untuk konsumsi publik. Mungkin mereka melihatku sebagai seorang tua tanpa agenda pribadi untuk sebuah jabatan penting. Dengan demikian tak seorang pun yang akan rugi bila bersahabat denganku. Rasanya apa yang kukatakan memang tidak dibuat-buat. Semuanya keluar dari hati tanpa agenda jangka pendek. Dengan kata lain, perasaanku dengan mudah ditangkap oleh kawan-kawan itu, mungkin karena ada gelombang yang sama. Sejak aku muncul sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah dan sesudahnya, aku telah biasa berdialog dengan tokoh-tokoh seperti B.J. Habibie, M. Amien Rais, Susilo Bambang Yudhoyono, M. Jusuf Kalla, Abdurrahman Wahid, Megawati, Hatta Rajasa, Todung Mulia Lubis, Nurcholish Madjid, H.S. Dillon, Adnan Buyung Nasution, Salim Said, Sri-Edi Swasono, Denny J.A., Gunawan Mohamad, Achmad Tirtosudiro, Tarub, M. Dawam Rahardjo, Hidayat Nur Wahid, Romo Benny, Muchlas Abror, Din Syamsuddin, Bambang Sudibyo, M.S. Kaban, Fuad Amsyari, Franz Magnis Suseno, Biku Pannyavaro, Josef Handojo, Pdt. Weinata Sairin, A.A. Gewanggoe, Fuad Bawazir, Ajib Rosidi, Anas Urbaningrum, Ramadhan K.H., Taufik Abdullah, Sulaiman Abdul Manan, Taufiq Ismail, Ahmad Hasyim

415

Muzadi, Salahuddin Wahid, Achmad Bagdja, Masdar F. Masudi, Umar Wahid, Siswono Yudo Husodo, M. Deddy Julianto, Mustofa Bisri, A.M. Fatwa, Sutrisno Bachir, Handojo S. Muljadi, Bambang Widjojanto, Muhammad Najib, A.M. Hendropriyono, Sjafri Sairin, Zamroni, Syamsir Siregar, Rusdi Latif, Herman Darnel Ibrahim, Jakob Utama, Rosihan Anwar, Jusuf Wanandi, Matori Abdul Djalil, Sofyan Wanandi, Sudhamek AWS, Fasli Djalal, Gafur Chalik, Albert Hasibuan, Suyanto, A. Rosjad Sholeh, Dasron Hamid, Haedar Nashir, M. Amin Abdullah, Jeffrie Geovanie, Rizal Sukma, Hamid Basyaib, T. Jacob, Sulasikin Murpratomo, A. Watik Pratiknya, A. Malik Fadjar, Kuntowijoyo, Yunahar Ilyas, Muhammad Muqoddas, dan puluhan yang lain, termasuk dengan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Beberapa duta besar asing juga menyambut kehadiranku sebagai teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Untuk teman-teman sebangsa dan setanah air yang seide, kita semua berpendapat bahwa Indonesia adalah milik bersama, tak seorang pun yang berhak mengklaim bahwa dirinya punya hak-hak istimewa di sini. Tentu prinsip-prinsip demokrasi harus pula dijadikan pegangan agar orang mampu berpikir secara proporsional dan adil. Pertukaran pikiran

416

dengan berbagai kalangan itu, aku sungguh banyak belajar, tidak terkecuali dengan kaum muda yang tidak jarang punya gagasan-gagasan cemerlang. Di dalamnya termasuk anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif menulis pada berbagai media cetak. Dengan duta besar Ralph L. Boyce (Amerika), Lu Shumin (Cina), Edward Lee (Singapura), Richard Gozney (Inggris), untuk menyebut hanya berapa nama, aku sudah bertemu dan berbincang. Dengan Boyce malah sering, sekalipun menghadapi masalah-masalah krusial tertentu yang menyangkut tuduhan terhadap seseorang, aku dan dia bersimpang jalan, seperti menilai kasus Abu Bakar Baasyir yang dituduh Amerika sebagai gembong teror. Aku memang tidak sepaham dalam banyak hal dengan Baasyir, tetapi menuduhnya sebagai Godfather kaum teroris, aku belum punya bukti. Pernah juga atas prakarsa Jeffrie Geovanie, pada tanggal 19 Desember 2003 aku berdialog hampir dua jam dengan Alvin Toffler, tokoh yang pada tahun 1980-an sangat populer di Indonesia, terutama melalui karyanya Future Shock yang banyak dikomentari itu. Di antara pertanyaan sentral yang diajukan Toffler adalah mengenai sebab-sebab mengapa posisi Islam pada tataran global dinilai

417

banyak pihak sebagai tertinggal jauh di buritan. Seperti biasa jawabanku lugas tanpa basa-basi, a.l.: Pertama kukatakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak berorientasi ke depan, tetapi tenggelam dalam imajinasi kebesaran masa lampau yang bukan mereka sebagai penciptanya. Dalam kondisi yang semacam itu akan sulitlah bagi mereka untuk berani mengeritik diri sendiri, karena pikirannya tidak lagi bersentuhan dengan realitas yang sebenarnya. Maka aksi teror yang melibatkan sekelompok amat kecil Muslim harus dibaca dari kacamata ketidakberdayaan atau keputusasaan yang mereka rasakan sangat kejam dan menghimpit. Tetapi mengapa mereka memakai jubah agama? Kedua, kepada Toffler kujelaskan bahwa jika Islam itu dipahami secara benar dan autentik dalam perspektif tradisi spiritual nabi Ibrahim yang bertujuan menebarkan rahmat di muka bumi, dan ini sangat Qurani, maka orang tidak akan dengan mudah mencap Islam sebagai agama anti peradaban. Ya, Islam sejak tragedi 11 September 2001 telah dijadikan agama tertuduh oleh pers Barat yang tidak mau meneliti lebih dalam apa Islam itu sebenarnya. Toffler, seorang Yahudi, tetapi

418

katanya kepadaku sudah tidak beragama lagi. Pergaulanku dengan berbagai ragam manusia telah semakin menyadarkanku bahwa manusia itu sungguh banyak sekali dimensinya. Entah apa alasan dan daya pikatnya, hubungan mereka denganku terasa begitu akrab, baik sebelum mau pun sesudah Muktamar Jakarta, termasuk dengan beberapa pengusaha. Ini sangat memudahkanku mencari dana muktamar, sesuatu yang semula sangat aku khawatirkan. Amien Rais sudah sibuk dengan dunianya, maka masalah dana muktamar harus aku ambilalih. Allah maha pemurah. Cukup banyak tangan yang diulurkan kepadaku untuk meringankan beban panitia penyelenggaraan muktamar dengan biaya besar itu. Memang dari amalusaha modal dasar sudah disiapkan untuk setiap muktamar, tetapi belum cukup. Untuk mencari tambahan dana inilah yang menjadi salah tugasku sebagai ketua. Menariknya, tugas ini sering kulakukan sambil lalu. Kabarnya konon para Ketua P.P. itu dipercaya banyak pihak. Aku ingat misalnya ketika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sangat memerlukan dana untuk membeli tanah untuk membangun kampus barunya di Kasihan, Bantul. Pak A.R. Fachruddin cukup

419

hanya dengan menulis surat singkat dalam Bahasa Jawa kepada Presiden Soeharto. Menurut keterangan Rektor U.M.Y. Dasron Hamid (ketika itu), surat itu dikirimkan via Kolonel Ali Afandi dari sekneg (sekretaris negara), seorang perwira yang sangat dipercaya Pak Harto. Tidak perlu menunggu lama, dana itu telah turun dengan mudah. Jumlahnya Rp. 500.000.000, sebuah angka yang cukup besar kala itu. Jadi orang boleh mengeritik Pak Harto, seperti yang kulakukan juga, tetapi harus dicatat bahwa tanah kampus Universitas Muhammadiyah di kawasan Bantul itu diperoleh berkat hubungan baik A.R. Fachruddin dengan presiden Indonesia kedua itu. Aku hanya meneruskan apa yang telah dicontohkan oleh para pendahuluku. Hasilnya memang di luar dugaan. Muhammadiyah ternyata punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Ada yang datang langsung ke P.P. Muhammadiyah Menteng Raya dengan membawa dolar, seperti yang dilakukan Bung Dokter Hariman Siregar, pemimpin demonstrasi tahun 1970-an, tanpa meminta kuitansi. Pada waktu itu kami belum akrab, sekalipun sudah saling mengenal nama. Donatur yang lain berdatangan satu persatu, besar-besar lagi. Melihat kenyataan ini, kepercayaanku

420

kepada diri sendiri semakin kuat. Ternyata, aku pun bisa. Kadang-kadang pihak calon donatur hanya dihubungi melalui HP (telpon genggam) saja. Aku benar-benar bersyukur atas segala kepercayaan yang diberikan oleh berbagai kalangan, termasuk dari sahabat-sahabat nonMuslim. Hubungan baik dan akrab sahabatsahabat ini denganku tampaknya tetap bertahan. Semoga aku pandai menjaga amanah, sebagaimana umumnya pemimpin Muhammadiyah sebelumku. Dalam upaya pencarian dana ini, peran Bung Sumaryono dari Rumah Sakit Islam Jakarta sebagai tangan kanan Bendahara P.P. Dasron Hamid sungguh besar. Dialah yang berkeliaran ke mana-mana menemui para donatur yang telah kutentukan. Danadana besar yang pernah kuterima dari pihak luar, tidak saja untuk muktamar, tetapi juga untuk PP Muhammadiyah adalah dari B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Taufik Kiemas (ini yang terbesar disampaikan via adik iparnya Drs. H. Herianto), Hatta Rajasa, Jenderal Muchdi, Jenderal A.M. Hendropriyono, Al Hilal Hamdi, M.S. Kaban, Fuad Bawazir, pimpinan pabrik rokok Sampoerna (aku lupa namanya), dan masih ada yang lain. Jadi aku pernah juga bergelimang dengan uang yang berasal dari bantuan berbagai pihak itu.

421

Ada sekadar catatan kecil lagi. P.W.M. D.K.I. yang sewaktu Sidang Tanwir di Banjarmasin menjelang Muktamar Jakarta telah memenangkan wilayahnya untuk menjadi tuan rumah muktamar. Mereka begitu menggebu untuk menanggung sebagian biaya muktamar sampai 60%, ternyata kemudian kempis, tidak menjadi kenyataan. Maka tugasku dan temanteman P.P. menjadi semakin berat dalam masalah dana ini. Tetapi untunglah, kepercayaan masyarakat sudah semakin kuat. Jaringan persahabatan dengan berbagai pihak telah mulai dirajut. Suasana semacam ini sangat membantu tugasku dalam bermasyarakat dan mengurus Muhammadiyah. Dana datang tanpa diduga. Kadangkadang diantar dalam tas kertas besar sejumlah Rp. 500.000.000 dengan pecahan Rp. 50.000 lagi yang harus kuangkut ke Jogja untuk diserahkan kepada panitia. Tidak sekali cara ini kualami. Oleh sebab itu terima kasihku kepada para darmawan ini sangat dalam dan tulus. Tanpa uluran tangan mereka, Muhammadiyah akan kesulitan dalam penyelenggaraan muktamar di ibu kota yang serba mahal itu. Bilamana kuceritakan tentang bantuan ratusan juta ini kepada isteriku, reaksinya sangat biasa, datar. Uang tampaknya memang tidak pernah menggiurkannya,

422

tetapi jika tak punya, dia pusing juga. Coba kalau isteri mata duitan, tentu sedikit banyaknya akan jadi beban batin yang mempersukar gerakku di Muhammadiyah. Karena dana yang masuk cukup lumayan jumlahnya, panitia akhirnya bisa menyisihkan sebagian untuk membangun kantor P.P. yang baru di Jl. Cik Di Tiro No. 23, Jogja. Hampir Rp. 4 miliar kantor baru yang cukup megah ini menelan biaya. Sewaktu masih dalam proses pembangunan Bung Hatta Rajasa, menristek ketika itu, kuajak meninjaunya, tentu sambil merogoh kantongnya. Rajasa dengan mudah menyediakan dana sebesar Rp. 400.000.000. Rajasa tidak hanya membantu pembangunan gedung ini. Sebagai menteri perhubungan dalam Kabinet SBY-Kalla, aku mohon lagi dibelikan sebuah mobil kijang untuk Majelis Tabligh P.P. Muhammadiyah. Itu pun dikabulkannya. Kantor yang baru ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 1 Muharram 1423/15 Maret 2002 dengan penandatangani sebuah prasasti. Masih ada yang lain. Dengan bantuan Bung Muhammad Najib, beasiswa untuk anakku Hafiz yang belajar di Negeri Belanda, juga dibantu Rajasa. Kurekamkan semuanya di sini bukan untuk apa-apa, tetapi untuk mengatakan bahwa banyak pihak yang membantuku dalam hidup ini. Oleh sebab

423

itu sifat-sifat mulia seperti ini juga harus kita tiru dalam batas kemampuan kita. Salah seorang sahabatku Sudhamek, ketua umum Majelis Budhayana Indonesia, di akhir masa jabatanku di P.P. Muhammadiyah pernah juga mengantarkan cek sebesar Rp.75.000.000 untuk membantu pelaksanaan Muktamar Malang. Jadi Muslim dan non-Muslim telah menjadi sahabat-sahabatku yang akrab dan tulus. Sewaktu aku masih menjadi Wakil Ketua P.P., suasana semacam ini belum lagi tercipta. Rupanya orang kemudian melihat bahwa kiprahku sebagai ketua sedikit atau banyak telah turut membawa kesejukan dalam masyarakat luas di Indonesia. Pengakuan tentang ini beberapa kali telah kudengar langsung dari berbagai kalangan, Muslim dan nonMuslim. Sekiranya aku menjadi politikus, hubunganku dengan mereka tentu akan berbeda. Pidato Iftitah yang kusampaikan di Bali telah menjelaskan perbedaan antar sikap politik dan sikap dawah, seperti telah disinggung sebelumnya. Dawah selalu merangkul dan mempersatukan atau mencari kawan sebanyak-banyaknya, sesuatu yang jarang berlaku dalam dunia politik yang sarat dengan bahasa retorika kepentingan pragmatis jangka pendek.

424

E. Sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah, 1998-2005 Bagian ini adalah penekanan pada butir-butir tertentu yang dipandang perlu tentang langkah-langkahku sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah yang di sana-sini telah disinggung di depan menurut konteksnya. Sekitar tujuh tahun aku dipercaya menjadi komandan Muhammadiyah di era yang sering disebut Era Reformasi setelah bangunan Orba runtuh. Di Era Orba, jabatan tertinggiku adalah sebagai Wakil Ketua P.P. Muhammadiyah setelah Ahmad Azhar Basjir wafat pada Juni 1994, sedangkan sebagai ketua dijabat oleh Muhammad Amien Rais yang sebelumnya adalah sebagai salah seorang wakil ketua. Muktamar Aceh 1995 mengukuhkan posisi Amien Rais sebagai ketua dan aku sebagai salah seorang wakil ketua. Sebagai wakil ketua tentu kiprahku lebih banyak membantu ketua. Tetapi aku senantiasa belajar dan mengikuti perkembangan Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika masyarakat Indonesia yang sedang berubah dengan cepat. Tanwir Surabaya pada 1993 yang heboh itu menjadi catatan tersendiri bagiku dalam membaca peta perjalanan bangsa. Sejak itu hubungan Muhammadiyah dengan Presiden Soeharto agak sedikit terganggu, sebagaimana telah kusinggung

425

sebelumnya. Yang sedikit membantu keadaan adalah karena yang menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah waktu itu bukan Amien Rais, tetapi Ahmad Azhar Basjir, seorang alim yang tidak punya naluri politik. Wajahnya adalah wajah Muhammadiyah sejati. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk terus mencurigai Muhammadiyah, apalagi move Amien Rais di Surabaya tidak didukung secara formal oleh peserta tanwir. Mujur yang tak dapat diraih, malang yang tak dapat ditolak. Ahmad Azhar wafat bulan Juni 1994, dan Amien Rais naik sebagai pajabat ketua sampai Sidang Tanwir berikutnya menetapkan seorang ketua definitif. Tetapi pada waktu itu tidak ada tokoh lain yang bisa menyaingi Amien Rais. Namanya sedang jadi buah bibir publik. Muhammadiyah otomatis menjadi bahan perbincangan, apalagi antara Amien Rais dan Soeharto lagi dalam suasana tidak enak badan. Sebagaimana telah kujelaskan di muka Muktamar Aceh telah berjalan lancar dan Amien Rais dikukuhkan lagi sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah periode 1995-2000. Tetapi perubahan peta politik nasional telah mengubah pula jalan sejarah, termasuk sejarah Muhammadiyah. Pada bulan Agustus 1998 Amien Rais meninggalkan P.P. untuk memimpin P.A.N. Suasana inilah yang kemudian

426

mendorongku untuk menggantikan posisinya, semula sebagai pejabat ketua sebelum ditetapkan sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah oleh Sidang Tanwir Bandung Desember 1998. Bila dihitung dari Desember 1998 sampai dengan 8 Juli 2005, aku telah menjalankan tugas sebagai ketua selama enam tahun delapan bulan lebih sedikit. Tetapi kalau hitungannya dimulai sejak pejabat ketua, maka periodeku menjadi tujuh tahun. Inilah masa-masaku menggumuli Muhammadiyah secara intensif. Hampir semua wilayah telah kudatangi, kecuali beberapa propinsi baru yang belum sempat dikunjungi, yaitu Gorontalo, Bangka-Belitung, dan Sulawesi Barat Daya. Interaksiku dengan warga persyarikatan rasanya cukup lancar, tidak saja dengan wilayah, tetapi beberapa P.D.M. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) telah pula dikunjungi. Satu dua cabang, bahkan ranting pernah pula didatangi. Keinginan warga, jika mungkin, seluruh daerah jangan sampai ditinggalkan. Aku paham betul tentang benarnya harapan itu, tetapi tidak mungkin ditandangi. Sekitar 400 jumlah P.D.M. terlalu dahsyat untuk dapat didatangi seorang ketua, apalagi seumurku. Kesanku selama kunjungan-kunjungan itu adalah bila dibandingkan dengan

427

gerakan sosial lain di Indonesia, secara kuantitatif, Muhammadiyah dengan segala kelemahannya masih berada di papan atas. Tetapi bila parameter yang digunakan adalah cita-cita al-Quran untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia yang bermoral, Muhammadiyah masih saja berada di awal jalan. Suasana semacam ini memang memprihatinkan. Tentu untuk bergerak ke sana merupakan tanggung jawab semua kekuatan bangsa dengan pimpinan pemerintah yang juga harus bermoral. Tetapi yang menjadi sorotan adalah karena Muhammadiyah menyebut dirinya sebagai gerakan Islam, gerakan dawah amar maruf nahi munkar. Rumusan semacam ini mengisyaratkan tanggung jawab yang besar sekali, sementara energi Muhammadiyah lebih banyak terkuras oleh kerja-kerja sosial kemasyarakatan. Masalah bangsa secara keseluruhan sering tidak sempat terpikirkan secara mendalam. Suasana moral bangsa yang terus meluncur sejak 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan dawah belum efektif. Dalam berbagai forum aku sering mengatakan bahwa di bidang pendidikan dan kesehatan, Muhammadiyah hanyalah sebagai pembantu pemerintah, tidak lebih dan tidak kurang.

428

Muhammadiyah belum mampu menawarkan sistem alternatif, baik untuk pendidikan, kesehatan, maupun untuk bidang-bidang kemanusiaan lain yang selalu memerlukan perhatian khusus. Jangankan menangani masalah-masalah yang punya cakupan luas itu, mengurus dunianya sendiri saja Muhammadiyah sudah kelelahan. Selama tujuh tahun sebagai ketua, ternyata belum banyak yang dapat kulakukan. Tetapi di bidang pemikiran keislaman, buahnya sudah mulai tampak dengan munculnya potensi pemikir-pemikir muda Muhammadiyah yang senantiasa kudorong dan diberi payung perlindungan. Sebagian dekat dengan Dr. Muslim Abdurrahman, seorang kiyai-antropolog, sebagian yang lain muncul sebagai penulispenulis bebas. Yang kukenal hanya sebagian kecil saja. Menurut Fuad Fanani, beberapa nama telah muncul sebagai penulis, di antaranya Ahmad Najib Burhani, Pradana Boy ZTF, Zuly Qodir, Asep Purnama Bahtiar, Hilman Latief, Abd. Rohim Ghazali, Saleh Partaonan Daulay, Ahmad Fuad Fanani, Hery Sucipto, Zakiyuddin Baydhawi, A. Norma Permata, M. Abduh Hisyam, Kuni Khoirun Nisa, Sukidi Mulyadi, Munim A. Sirry, Promono U. Thantowi, M. Hilaly Basya, Andar Nubowo,

429

Ilham Mundzir, Fajar Riza Ul Haq, Rahayu Arman, Budi Asyhari Arman, Nur Hidayah. Entah berapa orang di antara nama itu yang akan tampil menjadi pemikir kaliber nasional, kita belum bisa mengatakan. Akan sangat tergantung kepada kesetiaan mereka kepada idealisme yang telah mulai tertanam dalam diri mereka dengan membaca sebanyak-banyaknya, sekuatkuatnya secara kritikal. Aku ulangi di sini filosofi Minangkabau yang mungkin baik juga untuk mereka perhatikan, demi wawasan mondial yang perlu dikembangkan sebagai pemikir: Alam terkembang jadi guru. Kepada anak-anak muda Muhammadiyah aku tekankan benar bahwa yang harus dibela adalah persyarikatan sebagai institusi. Maka jika tidak mantap misalnya dengan pimpinan, jangan lalu meninggalkan Muhammadiyah, bergabung dengan yang lain. Terlibat dalam Muhammadiyah menuntut kesabaran tingkat tinggi. Berbagai masalah pasti muncul, kadang-kadang bertubi-tubi. Tidak jarang pula terjadi gesekan sesama pengurus karena masalah sepele. Orang yang tidak sabar lalu hengkang sambil menjelekkan pengurus yang lain. Cara semacam ini hanyalah akan menambah beban Muhammadiyah, padalah niat semula adalah untuk beramal. Ada contoh

430

yang terjadi sesudah Muktamar Malang Juli 2005. Seorang pengurus terpilih yang punya pengaruh besar minta saran kepadaku untuk mundur dari P.P. karena alasan tertentu. Jawabanku adalah: Jangan. Keterikatan kita bukan dengan manusia, tetapi dengan cita-cita persyarikatan. Kita aktif di Muhammadiyah adalah karena didorong panggilan iman untuk beramal secara teratur, bukan karena yang lain. Kadang-kadang memang sesama pengurus tidak bisa kompak karena faktor macam-macam. Di sinilah perlunya kesabaran dan niat baik untuk senantiasa dijaga dan dipertahankan. Bahwa kadang-kadang terjadi gesekan sesama pengurus, itu bukan hal baru. Sepanjang sejarah Muhammadiyah ada saja peristiwa yang tidak sedap dirasakan, tidak saja di tingkat bawah, di tingkat P.P. pun, seperti telah kukatakan, hal serupa terjadi. Yang penting jika ada masalah cepat diselesaikan, jangan dibiarkan membusuk. Iman seorang Muslim tidak membuka peluang untuk seiring bersimpang jalan. Bagiku tidak ada resep yang mujarab untuk membangun persaudaraan yang ramah dan produktif, kecuali kembali kepada ruh agama, kepada niat tulus untuk bergerak dan aktif beramal dalam Muhammadiyah. Kekuatan

431

Muhammadiyah selama ini banyak ditentukan oleh adanya figur-figur yang benar-benar paham untuk apa persyarikatan ini didirikan pada 1912/1330, hampir satu abad yang lalu. Karena masyarakat terus bergerak, maka pemimpin Muhammadiyah harus pula punya wawasan dan otak yang tidak boleh diam. Muhammadiyah harus dibaca sebagai gerakan Islam dengan cara kreatif, kritikal, tetapi tetap berada dalam koridor kepribadian yang telah dirumuskan. Selama periodeku memimpin Muhammadiyah, ada beberapa kegiatan samping yang kulakukan. Sekalipun tidak sempat aktif benar, pada akhir Nopember 1999 aku dipilih sebagai salah seorang presiden internasional dari W.C.R.P. (World Confrerence on Religions for Peace) dalam sidangnya yang ke-7 di Amman, Yordania. Posisi ini sebelumnya diduduki oleh Abdurrahman Wahid dari N.U. Kantor pusat W.C.R.P. berada di New York dengan sekjennya Dr. William F. Vendley, seorang Katolik yang taat. Alamat kantor pusat W.C.R.P. adalah: 777 United Nations Plaza, New York, NY 10017, U.S.A. Karena kesibukan dalam Muhammadiyah, setelah pertemuan Amman, beberapa undangan yang dikirimkan kepadaku tidak sempat dihadiri seperti pertemuan di Nairobi pada Juni 2002, tetapi aku

432

mengirimkan surat permohonan maaf kepada Vendley. Dalam pergaulan lintas iman, seorang sahabatku Dr. I. Suharyo, Uskup Agung Semarang, menulis: Melepaskan diri dari belenggubelenggu sejarah bukanlah perkara mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat. Yang jelas, haruslah dibangun sejarah baru yang tidak membelenggu, tetapi sebaliknya sejarah yang membebaskan dan memberi harapan. Untuk itu dituntut mutlak peran para tokoh sejarah. Bapak Syafii adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sudah lama memainkan peranan itudengan pemikiran-pemikiran beliau yang cerdas, terbuka, inspiratif, dan langkah-langkah moral beliau yang beranidan kita harapkan akan terus memerankannya.16 Rasanya Dr. Suharyo agak berlebihan menilai peranku. Selama dalam pergaulan lintas iman itu, aku belum berbuat maksimal untuk kepentingan semua pihak pihak. Tetapi tidak-tidaknya dalam segala keterbatasanku, aku telah membawa Muhammadiyah sebagai salah satu tenda besar untuk turut serta memayungi semua pemeluk agama di Indonesia. Rupanya
16

Lih. Abd. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay, op.cit., hlm. 555.

433

sikap-sikap yang kubangun itu telah dirasakan sebagai suatu yang sangat positif oleh teman-teman lain yang berbeda iman. Ungkapan Suharyo tentang sejarah yang membebaskan dan memberi harapan mencerminkan apresiasi itu. Kegiatan samping lain sejak Nopember 2002, atas dorongan seniman W.S. Rendra, aku dimasukkan menjadi anggota A.J. (Akademi Jakarta) di samping 26 anggota yang lain. Kami memilih Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoentri untuk mengetuai akademi ini yang tidak pernah absen dalam memimpin rapat. Orangnya penyabar menghadapi para seniman dan intelektual yang banyak tingkah. Aku belajar kepada teman-teman anggota yang terdiri dari para seniman, cendekiawan, wartawan, dan para penulis terkenal. Anggota A.J. yang rajin menghadiri rapat-rapat adalah: Rosihan Anwar, Taufik Abdullah, Gunawan Mohamad, Rendra, Nh. Dini, Endo Suanda, Ramadhan K.H., A.D. Firous, Sardono W. Kusumo, Saini K.M., Ajib Rosidi, Misbach Yusa Biran, Toeti Heraty N. Rooseno, Slamet Abdul Syukur, Tatiek Maliyati W.S., Ahmad Syafii Maarif. Rata-rata usia anggota A.J. di atas 60 tahun. Kadang-kadang aku merasa malu sendiri berbicara dengan mereka karena pengetahuanku tentang seni sangat terbatas. Pada saat Prof. Sardono W.

434

Kusumo, Rektor Institut Kesenian Jakarta, pada 12 Pebruari 2006 menghadiahkan buku tentang Aceh, aku sungguh merasa rikuh karena ada tulisan: Untuk guruku Bpk Syafii. Apakah ini bukan terbalik? Akulah yang banyak berguru kepada para anggota A.J. yang sarat dengan pengalaman hidup dan renungan mendalam tentang bangsa dan hakekat kemanusiaan. Dengan belajar ini, aku semakin mengerti bahwa manusia tetap manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Demikianlah pada suatu rapat yang juga dihadiri oleh anggota sastrawan Sitor Situmorang, aku menonton debat singkat antara Gunawan dengan Sitor. Sitor begitu emosi karena usulnya tentang sesuatu kurang mendapat perhatian dari rapat. Dia berdiri dan dengan suara garang mengancam akan keluar dari A.J. Gunawan dengan tenang menjawab: Adalah hak anda untuk keluar. Tentu debat semacam ini tidak ada kaitannya dengan sengketa antara pendukung Manifes Kebudayaan (Gunawan) dan Sitor yang kekiri-kirian pada era Demokrasi Terpimpin dan menentang keras kehadiran Manifes bersama Pramoedya Ananta Toer dan kameradnya.

435

Kenggotaanku dalam A.J. telah semakin meluaskan radius pergaulanku dengan para seniman/sastrawan Indonesia di luar A.J. Pada tanggal 22 Nopember 2005 oleh Dewan Kesenian Jakarta aku diminta untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan dengan judul Pengkhianatan Kaum Intelektual Dalam Perspektif Kebudayaan. Banyak tokoh nasional yang hadir pada malam itu. Anggota A.J. seniman Endo Suanda yang hadir malam itu mengomentari pidatoku itu di bawah judul Pahlawan dan Pengkhianat: Dua kata di atas merupakan isu pokok dalam Pidato Kebudayaan Buya Syafii Maarif, di Gedung Graha Bhakti Budaya, TIM, 22 Nopember 2005 lalu. Kaum intelektual, ungkapnya, akan menjadi berkah pada umat, jika kecerdasannya dia sumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan: dia akan jadi pahlawan. Tapi sebaliknya, jika dia gunakan kekuatannya itu untuk kepentingan dirinya, dengan menghancurkan yang lain: ia akan jadi pengkhianat. Dalam mendengarkan pidato Buya Syafii, kita pun tidak cuma mendengar kata yang terucap, melainkan kalbu yang berujarseperti melihat tinta, pena, tangan, dan pribadi pengarangnya, ketika kita membaca

436

suatu karya sastra. Kejujuran di situ terasa, karena pendengar umumnya tahu siapa Buya Syafii. Itu berarti bahwa selama mendengarkan sekitar satu jam pidato, ingatan kita terhadap kiprah pembicara puluhan tahun sebelum berucap di podium, sadar ataupun tidak, sangat menentukan. Jadi, pemaknaan kita bukan yang eksplisit saat itu, melainkan titik-titik yang merentang panjang, yang mengantarkan kita pada peristiwa pidato. Ya, memang, untuk bisa jujur, pantangannya jangan berdusta.17 Sewaktu kusampaikan kepada Endo bahwa pernyataan di atas telah menjadikanku tersanjung terlalu tinggi yang belum pada tempatnya, jawaban yang kuterima adalah: saya menulis secara jujur saja, dan kejujuran rasanya satu-satunya modal yang saya punya. Salam.(SMS tanggal 15 Feb. 2006, 16:23:58, ejaan disesuaikan). Semoga saja aku tidak hilang keseimbangan bila dihargai seorang teman atau siapa pun. Karena berasal dari ranah Minang, aku sering dipanggil buya, sedangkan aku sendiri merasa tidak layak untuk menduduki posisi itu. Dalam perkataan buya jika saja disisipkan huruf a di antara
Lih. [Endo Suanda], Pahlawan atau Pengkhianat dalam Gong: Media Seni dan Pendidikan Seni, No. 77/VIII/2006, hlm. 3.
17

437

bu dan ya, akan terbaca buaya, bukan? Aku menyaksikan di ranah Minang pada permulaan abad ke-21 ini, setelah para buya masuk politik, integritasnya sebagai buya sering berantakan, wibawanya merosot ke titik nol. Oleh sebab itu aku takut menyandang suatu atribut yang mungkin aku tak kuasa memikulnya. Aku lebih senang dipanggil nama tanpa atribut. Salah-salah tingkah dapat menimbulkan cibiran dan cemeeh yang menyakitkan.
VIII. MASA DEPAN INDONESIA

A. Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K.K.R. Adalah Nursam, S.S., sejarawan muda asal Makassar dan seorang penulis prolifik yang kuminta membaca draf otobiografi ini, menyarankan agar kegiatan Muhammadiyah di bawah pimpinanku dalam melawan korupsi perlu dimasukkan. Juga disarankan agar proses pencalonanku untuk menjadi anggota K.K.R. (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) jangan sampai ditinggalkan, karena itu semuanya itu telah terekam dalam memori publik. Kedua saran ini setelah kutimbang-timbang, rasanya memang tidak salah jika dijadikan bagian dari riwayat hidupku.

438

Dalam sebuah deklarasi bulan Oktober 2003 yang difasilitasi Dr. H.S. Dillon dari Lembaga Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan, Muhammadiyah dan N.U. sepakat untuk turut menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit dan musuh semua agama dan peradaban. Dalam pertemuan itu Ahmad Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum N.U., aku, dan Dillon menandatangani sebuah deklarasi untuk memulai gerakan moral anti korupsi. Sekalipun kita tahu bahwa korupsi di Indonesia bersifat sistemik dan berlapis-lapis sehingga untuk memberantasnya menjadi sesuatu yang sangat sulit. Tetapi dengan deklarasi di atas, apalagi juga didukung oleh semua kekuatan agama di Indonesia, setidaktidaknya masyarakat luas akan tergugah dan sadar bahwa masyarakat sipil di bawah payung Muhammadiyah dan N.U. belum tidur benar, masih mau angkat senjata moral dengan mengumumkan perang terhadap korupsi. Gemanya luar biasa. Menurut catatan Dillon, tidak kurang dari 16 media nasional dalam tajuknya telah menyambut gerakan moral ini dan berharap akan ada hasilnya.18 Seorang jenderal polisi yang beragama Katholik mengatakan kepada saya bahwa
Lih. H.S. Dillon, Syafii Maarif, Pemberantasan Korupsi, dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia dalam Cermin Untuk Semua, op.cit., hlm. 290.
18

439

pada suatu ketika dia gembira dengan gerakan moral ini. Saya, katanya, sebagai orang dalam, mengerti betul betapa sulitnya melawan penyakit sosial berupa korupsi itu. Saya berada di belakang gerakan sipil ini. Tentu aku sangat berterima kasih kepada jenderal yang punya gelombang nurani yang sama dengan tokoh-tokoh agama yang mencoba menyadarkan masyarakat bahwa hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. Jika berhasil, ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan. Sebaliknya jika gagal, mungkin masih ada masa depan, tetapi sebuah masa depan yang gelap-gulita. Gerakan ini agak sedikit mengendor setelah Hasyim Muzadi turut dalam pertandingan pemilihan presiden/wakil presiden melalui duet Mega-Hasyim. Seperti kita ketahui pemenang dalam pertandingan yang digelar pada bulan Juli 2004 itu adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono/Muhammad Jusuf Kalla. N.U. sebagai salah satu sayap besar umat Islam di bawah pimpinan Hasyim Muzadi semula diharapkan bersama Muhammadiyah akan tetap teguh berada pada posisi independen menghadapi tarikan politik praktis. Sahabatku Hasyim Muzadi barangkali punya perhitungan lain dalam mengambil

440

langkah kontroversial itu. Pernah dia menyampaikan kepadaku bahwa langkahnya itu adalah juga untuk memperbaiki moral bangsa melalui struktur kekuasaan. Allahu alam! Gerakan moral anti korupsi ini adalah gerakan penyadaran melalui bahasa dan media agama, bukan gerakan eksekutor, karena itu semua adalah tugas aparat negara penegak hukum. Sebagai gerakan penyadaran, sampai batas-batas tertentu Muhammadiyah-N.U. telah berhasil menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit sosial yang dapat membunuh peradaban, oleh sebab itu merupakan sebuah jihad menurut ajaran agama untuk memberantasnya. Selanjutnya tergantung kepada alat penegak hukum untuk merespons apa yang telah diteriakkan MuhammadiyahN.U. ini. Sebagai kekuatan sipil kedua sayap umat ini bersama dengan seluruh kekuatan lintas agama dengan caranya masing-masing akan tetap bersuara lantang dalam upaya memperbaiki moral bangsa yang terlanjur rusak ini. Tetapi suara lantang ini tidak akan punya dampak besar, sekiranya pemerintah dan semua aparat penegak hukumnya tidak membuka telinga terhadap suara-suara keras yang datang dari masyarakat luas.

441

Memang aku sadar bahwa apa yang kami lakukan di atas adalah untuk menyatakan bahwa hati nurani masyarakat sipil belumlah mati suri, sekalipun sebagian orang sudah putusasa dengan keadaan. Diharapkan dengan gerakan moral di atas, masyarakat banyak masih melihat titik-titik terang di ujung lorong gelap yang telah menyiksa bangsa ini dalam bilangan dasa warsa. Anak-anak muda Muhammadiyah dan anak-anak muda N.U. dengan cara dan metodenya masing-masing cukup proaktif dalam memasyarakatkan gagasan besar yang terkandung dalam Deklarasi 15 Oktober 2003 di atas. Sebuah pekerjaan melelahkan dan penuh duri telah ditempuh Muhammadiyah-N.U. bersama kekuatan lintas agama. Hasilnya sampai hari ini belum terlalu nyata. Tekad SBY-Kalla untuk melawan korupsi sudah mulai dilaksanakan, tetapi menurut para pengamat, masih belum terlalu fokus. Setidak-tidaknya genderang ke arah pemberantasan penyakit akut itu telah ditabuh dengan suara keras, maka pemerintah tidak boleh main-main dalam perkara yang satu ini. Indonesia jaya atau bangkrut akan sangat tergantung kepada kesungguhan atau kelalaian kita semua untuk berjihad melawan korupsi yang sudah sangat menyesakkan nafas seluruh anak bangsa.

442

Tentang pencalonan K.K.R., dapat kujelaskan sebagai berikut. Beberapa tokoh muda Muhammadiyah di Jakarta di awal tahun 2005, di antaranya Rizaluddin, S.Ag., M.Si., telah menemuiku agar bersedia dicalonkan menjadi anggota K.K.R. yang bertugas mencari solusi terhadap konflikkonflik anak bangsa yang tidak bisa diselesaikan oleh badan-badan hukum yang sudah ada. Adanya K.K.R. ini merupakan pelaksanaan TAP M.P.R. No. VI/2000 tentang Persatuan Nasional, kemudian ditegaskan lagi dalam U.U. No. 26/2000 pasal 43. Dikatakan bahwa pelanggaran H.A.M. (Hak-hak Asasi Manusia) yang tidak dapat diselesaikan via pengadilan H.A.M. Ad. Hoc., akan ditangani K.K.R. Untuk masuk seleksi menjadi calon anggota, ada beberapa syarat yang harus ada, a.l. surat keterangan dari dokter. Aku yang sebenarnya tidak berminat untuk masuk ke dalam komisi ini, tetapi demi rasa hormatku kepada anak-anak muda Muhammadiyah, syarat-syarat itu kuusahakan juga dan berhasil. Semula kuberharap agar aku tidak lolos dalam seleksi. Namun setelah dua seleksi berjalan, namaku terus muncul bersama dengan nama-nama lain seperti Prof. Dr. Deliar Noer, Dr. Natan Setiabudi, Dr. Anhar Gonggong, Dr. Asvi Warman Adam. Melihat

443

gelagat semacam ini, aku mulai khawatir jangan-jangan nanti masuk betul. Maka setelah berunding dengan beberapa anak muda, kuputuskan untuk menarik diri dari pencalonan. Artinya aku tidak lagi ikut seleksi selanjutnya. Menurut Rizaluddin, keputusanku itu tidak diterima secara aklamasi oleh anakanak muda Muhammadiyah dengan argumennya masing-masing. Mereka yang menyetujui kemunduran diri itu adalah kelompok yang sudah apatis dengan negara ini. Di mata mereka K.K.R. ini tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya karena pasti banyak rintangan, termasuk dari orang-orang pemerintah sendiri. Bukankah K.K.R. juga akan melacak akarumbi penyebab konflik sesama anak bangsa yang telah banyak menumpahkan darah itu. Setelah semuanya dibongkar dan siapa yang bersalah juga sudah dikenali, kemudian komisi ini bertugas mendamaikan mereka, dan mereka saling memaafkan. Itulah idealnya yang hendak dicapai oleh komisi ini, tetapi mereka yang apatis tidak yakin bahwa harapan itu akan menjadi kenyataan. Karena itu, kata Rizaluddin, aku akan menjadi kecil. Pertanyaannya adalah: apakah aku pernah jadi besar? Rasanya juga tidak. Adapun kelompok yang mendukung pencalonanku dan kecewa atas sikap

444

mundurku berdalil bahwa komisi itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan menunjukkan kinerja yang bagus. Serba kekurangan akan dapat diperbaiki sambil berjalan. Kata kelompok ini aku adalah orang yang dapat dipercaya. Tentu aku gembira diberi penghargaan semacam ini, sekalipun sekiranya aku masuk, belum tentu harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan. Komisi ini memang akan punya pekerjaan berat: mendamaikan anak bangsa, sekalipun dahulunya mereka, orang tua, atau nenek mereka telah saling membinasakan. Umumnya karena perbedaan ideologi politik. Dalam hati kecilku, tugas komisi sebenarnya cukup menantang dan bukanlah watakku untuk lari dari tantangan. Tetapi mengapa aku mundur? Pertanyaan inilah yang dinilai oleh sementara orang masih saja mengambang karena aku belum memberikan keterangan yang jelas kepada publik. Dr. Natan Setiabudi, mantan Ketua Umum P.G.I. (Persatuan Gereja-gereja Indonesia), seorang sahabatku, memang menyayangkan mengapa aku mundur dari pencalonan. Menurut sahabat ini, jika aku diterima masuk bersama dengannya, mungkin kami dapat berbuat sesuatu untuk mendekati tujuan komisi yang sarat tantangan itu. Agar masalah ini tidak terus

445

mengambang, keterangan di bawah ini semoga sedikit atau banyak akan bisa menjawab pertanyaan di atas. Pada waktu dicalonkan aku masih menjabat sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah. Tetapi aku sudah berkalikali menyatakan tidak bersedia lagi untuk dicalonkan menjadi anggota P.P. dalam Muktamar Malang, sekalipun masih ada saja pihak yang berharap agar tetap maju. Nah, seandainya aku diterima sebagai anggota K.K.R., dan dalam pemilihan pimpinan aku terpilih misalnya menjadi ketua, apakah ini tidak lucu? Akan ada gumaman begini: menjadi Ketua K.K.R. bersedia sementara P.P. Muhammadiyah ditinggalkannya. Ada apa? Ini namanya membiarkan pertanyaan tergantung di awang-awang. Tidaklah elok bagi semua. Pertimbanganku yang kedua adalah karena mengingat usia yang sudah di atas 70 tahun sebaiknya tidak lagi memegang posisi penting dan strategis. Berilah peluang kepada mereka yang lebih muda, energetik, dan punya waktu yang lebih banyak. Orang seperti aku, jika masih diperlukan, cukuplah menjadi penasehat, pelindung, dan yang sebangsa itu. K.K.R. jika benar-benar difungsikan dengan maksimal akan sangat menguras energi. Bayangkan komisi ini tentunya akan bertugas mendamaikan bekas-bekas D.I.

446

(Darul Islam) dan simpatisannya dengan P.K.I dan sisa-sisa pendukungnya. Begitu juga mereka atau orang tuanya yang pernah bermusuhan dengan tentara, komisi ini juga akan mencari sebab pokoknya, kemudian saling berkomukasi untuk berdamai dan memaafkan masa lampau. Sungguh sangat mulia tujuan yang hendak diraih. Oleh sebab itu aku mendukung dan memberi selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota K.K.R. (sampai tanggal 23 Peb. 2006 pada saat bagian digarap, namanama anggota K.K.R. komisi ini belum juga diumumkan, entah mengapa). Dan jika aku diminta pendapat dan saran untuk melancarkan tugas komisi ini, aku tentu dengan senang hati akan memberikannya. Dengan keterangan yang tidak memuaskan ini, aku berharap mundurnya aku dari pencalonan anggota K.K.R. tidak lagi dijadikan bahan untuk diperkatakan, khususnya di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah dan teman-teman L.S.M. (Lembaga Swadaya Masyarakat). Adapun bahwa bangsa ini harus kita bela bersama sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing, tidak ada perbedaan di antara kita. Kita satu. Perasaan satu bangsa inilah yang dicemaskan oleh berbagai kalangan yang prihatin. Komitmen kebangsaan dinilai sudah

447

semakin memudar akibat salah tingkah sebagian kaum elit yang tidak tahu diri. Masalah B.P.I. Di tengah-tengah gencarnya Muhammadiyah melawan korupsi, di dalam diri sendiri ada masalah B.P.I. (Bank Persyarikatan Indonesia ) yang cukup merepotkan P.P. selama lebih tiga tahun. Semua ini terjadi di bawah kepemimpinanku, maka kasus B.P.I. ini perlu dimasukkan dalam otobiografi ini. B.P.I. adalah singkatan dari Bank Persyarikatan Indonesia sebagai perubahan dari Bank Swansarindo, sebuah bank swasta yang diakusisi. Teman-teman Majelis Ekonomi P.P. Muhammadiyah di bawah komandan Prof. M. Dawam Rahardjo, S.E. sebagai Pembina Ekonomi Muhammadiyah begitu bersemangat untuk terjun ke dunia perbankan. Apalagi Muktamar Aceh mendorong Muhammadiyah untuk bergerak ke sana. Aku yang tidak paham soal bank, mengatakan kepada Bung Dawam bahwa pintu masukku untuk masalah ini adalah Bung Dawam sendiri sebagai ekonom dan pernah bekerja di Bank Amerika di Jakarta. Maka atas rekomendasi Majelis Ekonomi pada tahun 2002, seorang yang bernama Lulu Harsono dikenalkan kepada rapat P.P. sebagai seorang pakar perbankan yang ingin membantu

448

Muhammadiyah dalam masalah keuangan. Bahkan Bung Dawam tidak tanggungtanggung mengatakan bahwa untuk dana Muktamar Muhammadiyah yang akan datang, kita tidak perlu lagi mencari dana ke luar. Cukup dari kegiatan bisnis Muhammadiyah, termasuk di dalamnya perbankan. Seperti begitu gampangnya mengelola sebuah bank. Dalam perjalanan waktu akhirnya berdirilah B.P.I. dengan Bung Dawam sebagai Komut (Komisaris Utama). Lulu yang katanya banyak punya uang cukup bermain di belakang karena izin dari B.I. (Bank Indonesia) untuk orang ini tidak mudah didapat karena track record-nya tidak bagus. Tetapi Lulu dan teman-teman Majelis Ekonomi selalu membela diri dan mengatakan bahwa B.I. itu tidak benar. Aku sebenarnya sudah mendapat peringatan dari Dirut B.N.I. (waktu itu) Saefuddin Hasan, S.E., M.A. dan M. Deddy Julianto bahwa Lulu punya rapor merah, tetapi Majelis Ekonomi dan beberapa anggota P.P. yang lain tetap saja ingin bekerja sama dengan Lulu, termasuk Din Syamsuddin dan Hajriyanto Y. Thohari. Pada waktu aku mulai curiga terhadap bisnis perbankan ini, Lulu dengan caranya sendiri menemuiku di kantor P.P. Jogja sambil mencium kakiku bahwa dia benarbenar berniat baik untuk Muhammadiyah.

449

Tidak ada motif macam-macam, kecuali kebaikan. Cerita ini kusampaikan dalam rapat Pleno P.P., tetapi tetap saja ada yang membela Lulu. Sebagai dari permainan yang penuh misteri ini, aku dan Dawam semula ditulis sebagai pemegang saham terbesar dalam B.P.I., padahal tak sesen pun aku menyetorkan modal. Jadi ini adalah saham fiktif. Dalam sebuah rapat P.P. di Jakarta dan di Malang aku mengatakan bahwa P.P. Muhammadiyah itu bahlul, sedangkan komandan bahlul adalah ketuanya, yaitu aku sendiri. Ungkapan semacam kulontarkan karena aku sangat kesal dengan bisnis perbankan yang sangat mengecewakan. Ada sebuah catatan kaki yang terkait dengan masalah bank ini. Suatu hari melalui Hajri, Ketua P.P. pernah ditawari Lulu mobil BMW atau Mercedes, tetapi kutolak dengan sopan. Sekiranya kuterima, tentu riwayat hidupku akan sedikit berbeda. Juga melalui si Minang bernama Hatta Abdullah, orang kepercayaan Lulu, aku diberi hadiah hari raya berupa komputer laptop mini merek Sony. Hatta mengatakan bahwa itu bukan dari Lulu. Tetapi setelah beberapa hari di tanganku ada perasaan tidak nyaman dalam diriku, lalu hadiah itu kuserahkan lagi kepada si Minang yang memberikan. Membaca

450

gelagatku itulah barangkali Lulu sengaja menemuiku di Jogja bahwa dia benar-benar punya niat baik untuk membantu Muhammadiyah, seperti tersebut di atas. Sekitar tahun 2003 sewaktu aku berkunjung ke Jerman, Din Syamsuddin menelpon bahwa sebaiknya Ketua P.P. melepaskan sahamnya di B.P.I. Aku bergembira sekali dan langsung kusetujui. Kemudian saham ini didistribusikan kepada beberapa teman. Ini adalah sebuah blessing in disguise (sesuatu yang tampaknya tidak enak, tetapi mengandung kebaikan di dalamnya) bagiku. Untuk ini aku berterima kasih kepada Din yang telah menyelamatkan posisi Ketua P.P. dari masalah bank yang sarat kongkalingkong itu. Bung Dawam sebagai Komisaris Utama yang digaji seharusnya bertugas mengawasi cash flow (aliran dana) B.P.I., tetapi semuanya tidak dilakukannya dengan baik. Baru di saat-saat terakhir setelah keadaan semakin parah, Dawam tidak lagi membela Lulu yang kemudian wafat karena kanker hati. Karena kondisi B.P.I. semakin memburuk dari hari ke hari, Hajriyanto yang kemudian menggantikan posisi Dawam sebagai Komut telah bekerja keras menyelamatkan B.P.I., tetapi alangkah sulitnya. Berkali-kali Hajri memintaku agar melakukan pendekatan politik dengan

451

menemui Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla (M.J.K.) dalam upaya mencari jalan ke luar. Semua permintaan Hajri kujalankan, sampai aku merasa malu sendiri dengan M.J.K. karena seringnya pertemuan itu. Setelah terlihat titik-titik terang, sekalipun masih ada ganjalan hukum, aku kirim SMS kepada M.J.K. untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan dan bantuannya untuk menyelamatkan B.P.I. Jawaban langsung dari M.J.K. yang kuterima berbunyi: Demi Muhammadiyah dan buya. Akhirnya setelah 17 langkah (istilah Hajri) B.P.I. dapat diselamatkan melalui sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Bukopin sebagai investor baru. Setelah aku tidak lagi menjabat sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah sejak Muktamar Malang Juli 2005, kalau ada masalah B.P.I. aku masih saja dihubungi Hajri untuk turut memikirkan. Sebagai orang yang dilibatkan dalam soal perbankan ini sejak semula, sekalipun pengetahuanku nol tentang bank, aku memang tidak bisa lepas tangan, bukan karena Lulu pernah mencium kakiku, tetapi ongkos yang harus kutanggung karena sikap bahlul-ku. Kalau aku melakukan refleksi tentang B.P.I. ini, benarlah ucapan M.J.K. dalam sebuah pertemuan di kediaman wakil presiden dengan mengutip sebuah hadist:

452

Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggu sajalah saat kehancurannya. Ternyata Bung Dawam yang ekonom dan pendukungnya dalam soal bank ini tidak kurang bahlul-nya dibandingkan yang lain. Sebuah pengalaman pahit tetapi berharga selama aku memimpin Muhammadiyah. Pada masa yang akan datang, sebelum memutuskan segala sesuatu yang menyangkut perbankan, pengalaman periodeku harus dijadikan cermin untuk bersikap ekstra hati-hati. Usul seorang ekonom tidak boleh lagi dijadikan acuan satu-satunya untuk melangkah ke sebuah dunia yang sarat masalah dan liku-liku. B. Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun Ada dua orang anak muda Muhammadiyah, mantan ketua umum dan sekretaris jenderal I.R.M. (Ikatan Remaja Muhammadiyah), Raja Juli Antoni (Toni) dan Rizaluddin Kurniawan (Rizal), yang bersemangat sekali mengumpulkan dan kemudian menerbitkan kumpulan tulisanku dengan judul: Mencari Autentisitas. Jakarta: PSAP, 2004. Kedua anak muda ini menurut penilaianku punya potensi untuk tampil sebagai intelektual sekaligus aktivis, dengan syarat mereka mau terus belajar dan belajar dengan menguasai satu atau dua Bahasa Asing. Toni, anak Kuantan,

453

Riau, dan berdarah Minang, telah berhasil menyelesaikan S2-nya di Inggris, sementara Rizal di U.I. (Universitas Indonesia). Keduanya telah punya jaringan dengan berbagai pihak dalam upaya turut memperbaiki kondisi moral bangsa Indonesia. Kedua anak muda yang bersemangat ini bekerja tidak tanggung-tanggung dalam proses menyiapkan penerbitan buku di atas. Bahkan mereka sampai menghubungi Prof. R. William Liddle, Ph.D., guru besar Universitas Negeri Ohio, Columbus, Amerika Serikat, untuk membubuhi kata pengantar. Liddle adalah salah seorang guruku sewaktu aku kuliah di Universitas Ohio, Athens, sekalipun aku hanya sebagai mahasiswa pendengar di kelasnya. Liddle yang baik hati menulis kata pengantar itu di bawah judul Syafii Maarif dan Indonesia. Di ujung kata pengantarnya, Liddle menulis: Local knowledge pengetahuan setempat, apakah dari Sumatra, Jawa, atau pulau lain, tentu tidak boleh diremehkan. Namun, local knowledge tersebut harus dilengkapi dengan pemikiran dan keahlian yang terbaik dari seluruh dunia. Hukum ini berlaku bagi Mohammad Hatta dan Syafii Maarif. Kini, dia berlaku bagi angkatan muda yang semoga saja akan melihat

454

lebih jauh sebab mereka berdiri di atas pundak para pendahulu yang cemerlang dan berjasa besar. Syafii Maarif, yang pernah belajar lama di mancanegara dan berprofesi dosen di Tanah Air, pasti akan menyokong pesan ini (lih. hlm. XX). Sebagai anak Minang dengan filosofi alam terkembang jadi guru, bagiku, pesan Liddle berfungsi sebagai penguat apa yang telah ada di otak belakangku sekian lama. Pesan ini sebenarnya merupakan salah satu manifestasi atau wujud dari sekelumit ajaran hijrah, terutama dalam bidang ilmu. Buku setebal 220 halaman plus indeks diluncurkan pada tanggal 8 Maret 2004, bertempat di Hotel Aryaduta, Jakarta. Tamu yang hadir cukup banyak, di antaranya Muhammad Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Wiranto, W.S. Rendra, Taufiq Ismail, Rosihan Anwar, Natan Setiabudi, Din Syamsuddin, Jakob Utama, Salahuddin Wahid, Douglas Rumage, Jeffrie Geovannie, Rizal Sukma, H.S. Dillon, M. Deddy Julianto, Muhammad Najib. Peluncuran buku ini dinilai orang sebagai suatu yang berhasil, terutama dilihat kepada jumlah tamu yang hadir. Itu artinya simpatisan dan sambutan teman, sahabat, baik yang seagama mau pun yang lintas agama cukup tinggi. Sudah tentu aku berterima kasih kepada mereka

455

semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir malam itu. Bulan Maret 2004 usiaku sudah mendekatan 69 tahun. Bulan 31 Mei 2005 aku 70 tahun, melampaui usia nabi. Atas prakarsa anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif di Maarif Institute, sebagaimana sudah membudaya di Indonesia, usiaku 70 tahun diperingati sambil juga meluncurkan buku. Ada empat buku yang diluncurkan malam itu: (1) Cermin untuk Semua (editornya sudah disebut sebelumnya), berisi tulisan teman-teman untuk menyambut 70 tahun usiaku. Tidak kurang dari 93 tulisan yang termuat dalam buku, termasuk dari penulis asing. Karena jika diterbitkan dalam satu buku ternyata cukup tebal, sementara tulisan temanteman yang masuk masih ada, maka dibuat buku (2) dengan editor sama, yaitu Abd. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay dengan diberi judul Muhammadiyah dan Politik Islam Inklusif. Jakarta: Maarif Institute, 2005. Buku setebal 271 ini memuat 17 tulisan, sebagian cukup panjang, seperti tulisan Gunawan Mohamad dan Wan Mohd Nor Wan Daud (guru besar dari ISTAC Malaysia). (3) Kumpulan makalah dan tulisan-tulisan lepasku, dieditori oleh Saleh Partaonan Daulay. Diberi judul Menggugah Nurani Bangsa. Jakarta: Maarif Institute, 2005,

456

tebal 267 halaman dengan indeks. (4) Kumpulan kolomku di harian Republika plus beberapa tulisanku yang lain, dikumpulkan dan dieditori oleh Hery Sucipto, Anton Syafriuni, Husni Amriyanto Putra, Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. Jakarta: Grafindo, 2005, tebal 317 dengan indeks. Tamu yang hadir agak di luar perkiraan banyaknya, di antaranya Mantan Wakil Presiden Try Soetrisno, Hidayat Nur Wahid, Bambang Sudibyo, Fadilah Supari, Hatta Rajasa, H.S. Dillon, A. Hasyim Muzadi, Sudhamek, Akbar Tandjung, Suyanto, M. Deddy Julianto, Dani Pratomo (Dirut Indofarma), Kardinal Julius Darmaatmadja, Natan Setiabudi, Sutrisno Bachir, Syamsir Siregar, Herman Darnel Ibrahim, Salahuddin Wahid, Sjafri Sairin, Rizal Sukma, Jeffrie Geovanie, A. Malik Fadjar, Dasron Hamid, Hajriyanto Y. Thohari. Tidak ketinggalan teman-teman dari Nogotirto dan para dosen Jurusan Sejarah F.I.S., Universitas Negeri Yogyakarta, yang sengaja meluangkan waktu ke Jakarta untuk hadir di Hotel Aryaduta malam itu. Untuk membiayai ultah dan peluncuran buku ini, sumbangan datang dari berbagai penjuru. Ada dari pengusaha Handojo S. Muljadi, M. Deddy Julianto dan temantemannya, Nasrullah Setiawan (staf khusus Menteri Pendidikan Nasional), Jakob Utama,

457

dan banyak dermawan yang lain. Tidak kurang dari Rp. 700.000.000 dana yang masuk untuk keperluan ini. Sebuah angka yang sangat besar bagiku. Dana yang masuk melaluiku, seluruhnya kuserahkan kepada Maarif Institute. Panitia penyelenggara umumnya berasal dari pimpinan Maarif Institute dan anak-anak muda Muhammadiyah. Hiburan tunggal diberikan oleh penyanyi Ebiet. C. Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya Seperti telah kusebutkan di atas bahwa aku harus meninggalkan P.P. Muhammadiyah setelah tujuh tahun aku pimpin. Sewaktu lembar pencalonan dikirimkan kepadaku awal 2005, cepat kuisi dengan tidak bersedia lagi dicalonkan. Masih ada teman-teman P.P. lama dan banyak warga yang menyarankan agar putusanku itu ditinjau kembali. Karena sudah lama kupertimbangkan, maka aku berketapan hati untuk tidak masuk lagi dalam jajaran pimpinan pusat. Semula jadi anggota penasehat juga aku keberatan. Tetapi dalam sebuah rapat di kediaman A. Malik Fadjar di Malang sebelum susunan P.P. baru ditetapkan, semua yang hadir, khususnya M.A. Rais, tetap meminta agar aku mau dicalonkan menjadi salah seorang anggota Penasehat P.P. Muhammadiyah.

458

Akhirnya dengan berat hati aku setujui. Maka jadilah P.P. pasca Muktamar Malang menetapkan lima penesehat: Prof. Dr. M. Amien Rais, M.A., Prof. Dr. Ismail Suny, S.H., L.L.M., Prof. Asjmuni Abdurrahman, Abdurrahim Nur, M.A., dan Ahmad Syafii Maarif. Keenggananku ini bukan karena ingin mengucapkan sayonara (selamat tinggal) kepada Muhammadiyah, sesuatu yang tak mungkin kulakukan, tetapi semata-mata ingin memberi peluang seluas-luasnya kepada pimpinan baru untuk mengayuh biduk Persyarikatan ini agar melaju lebih cepat, terarah, dan benar-benar menjadi tenda bangsa, sesuatu yang telah kurintis sebelumnya. Aku lebih menyukai istilah tenda bangsa dari pada tenda umat. Bukankah Islam itu datang ke muka bumi untuk memayungi semua makhluk, termasuk mereka yang tidak beriman? Beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah berkali-kali menekankan di berbagai forum Persyarikatan agar Muktamar Malang berjalan mulus, anggun, dan beradab. Alhamdulillah, harapanku ini menjadi kenyataan, sekalipun ada beberapa kritikku terhadap proses pemilihan. Aku masih mengamati berlakunya kampanye yang kurang elok oleh sementara tim-tim sukses, demi kemenangan jagonya. Tetapi praktik main

459

uang tidaklah terjadi dalam setiap Muktamar Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku. Bagaimana penilaianku dengan Muktamar Malang (3-8 Juli 2005), sudah kutuangkan dalam ruang Resonansi dengan judul Mulus, Anggun, dan Beradab(Republika, 12 Juli 2005, hlm. 12). Agar penilaian itu menjadi bagian dari otobiografi ini, apa yang kutulis di atas akan diturunkan selengkapnya di bawah ini: Judul di atas merupakan tiga kata kunci yang memuat harapan agar Muktamar ke45 Muhammadiyah di Malang, 3-8 Juli 2005, berlangsumg dengan aman, produktif, dalam bingkai moral yang prima. Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat Indonesia yang umumnya belum pulih secara moral dan etika, terbersit juga sedikit kekhawatiran janganjangan Muhammadiyah akan mengikuti kekuatan-kekuatan sosio-politik yang lain: gaduh dalam kongres yang memang menjadi tren buruk dalam pembangunan demokrasi kita. Tetapi, melihat suasana sidang tanwir yang melekat dengan muktamar pada 1-2 Juli dengan agenda tunggal untuk memilih calon tetap sebanyak 39 dari 126 nama yang bersedia dan sah, kecemasan di atas sudah jauh berkurang.

460

Tanwir berjalan dengan mulus, anggun, dan beradab. Suasana yang sejuk seperti itu pulalah yang berlaku dalam muktamar. Adapun telah terjadi cara-cara kampanye yang kurang sehat dalam proses pemilihan final untuk menetapkan 13 anggota PP, sehingga memprihatinkan mereka yang lugu dalam politik, pada muktamar yang akan datang jangan terulang lagi. Muhammadiyah tidaklah pantas untuk diperlakukan dengan cara itu. Tetapi dihindarkannya proses voting untuk memilih ketua umum yang memperoleh suara terbanyak, Din Syamsuddin, adalah agar muktamar ini tetap berlangsung mulus dan beradab. Memang, bila virus politik masuk ke tubuh organisasi sosial, gesekan terselubung pasti terjadi. Warga Muhammadiyah harus banyak belajar untuk tidak terbiasa dengan prilaku yang dapat mencoreng wajah dakwah yang menjadi wataknya selama ini. Budaya tenggang rasa yang tinggi yang ditunjukkan oleh berbagai pihak selama muktamar, agar keutuhan tetap terjaga, patut disyukuri. Memang, tidak selalu mudah untuk bersih 100 persen, karena Muhammadiyah adalah bagian dari sebuah bangsa yang belum siuman secara moral, sebuah penyakit yang masih mendera kita semua.

461

Pembukaan muktamar oleh Presiden SBY pada 3 Juli malam dalam lingkaran sorotan cahaya yang sangat cantik, penuh warna, dan spektakuler adalah sebagai rahmat dari penggunaan teknologi informasi modern. Keadaan ini semakin meyakinkan peserta dan anggota muktamar bahwa perhelatan akbar itu akan berjalan dengan baik, sekalipun harus tetap diwaspadai akan adanya kemungkinan perilaku yang menyimpang yang dapat saja terjadi, seperti yang telah disinggung di atas. Sebagai Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005, saya benar-benar berdoa agar akhir masa jabatan saya akan husnul khatimah (ujung yang manis), sehingga tidak ada lagi beban berat yang berarti yang harus dipikul setelah tanggung jawab itu terlepas dari tangan. Para sahabat dari berbagai kalangan dan kelompok sama berharap agar saya jangan sampai meninggalkan catatan kaki yang buruk di belakang hari. Kepada para sahabat yang tulus ini, saya tidak punya kosa kata lain, selain berterima kasih yang setulus-tulusnya atas segala doa dan harapan yang telah mereka nyatakan melalui SMS yang bertubi-tubi dan media lain. Ternyata punya sahabat baik yang banyak itu adalah sebuah kebahagiaan

462

yang tidak bisa dinilai dengan benda. Saya semakin sadar bahwa hidup ini akan terasa kerontang bila sunyi dari teman dan sahabat yang diikat oleh tali batin yang kokoh, sekalipun belum tentu seagama. Bukankah kemanusiaan itu tunggal? Persahabatan yang semacam inilah yang telah dirajut selama saya diberi amanah sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah, kemudian harus saya lepaskan untuk tidak mau dicalonkan lagi. Kepada teman-teman lintas agama dan kultural, para pengusaha, pejabat-pejabat negara, yang masih berharap agar terus, saya mohon maaf. Filosofi dasar saya ambil dari ucapan almarhum Mohammad Natsir, Memimpin adalah untuk melepaskan. Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya, filosofi ini sebagai anutan yang sering saya ulang-ulang menyebutnya. Mendiknas Bambang Sudibyo menyalami saya sambil bertutur, Pak Syafii telah menyudahi akhir jabatan dengan cara yang manis sekali. Semoga penilaian salah seorang anggota PP yang terpilih untuk periode 2005-2010 ini tidaklah terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Dalam muktamar Jakarta, tahun 2000, saya sama sekali tidak pernah berkampanye dan membentuk timtim sukses, karena semuanya itu bukanlah watak saya sebagai kader Muhammadiyah.

463

Akhirnya, saya mohon maaf kepada semua pihak atas segala salah tutur dan salah langkah yang saya lakukan selama tujuh tahun kepemimpinan (1998-2005) saya di PP Muhammadiyah. Kepada duatiga wilayah baru yang belum sempat dikunjungi, saya juga mohon dimaafkan. Jantung saya sudah berdetak selama lebih dari 70 tahun. Kekuatan fisik sudah semakin terbatas. Jagalah Muhammadiyah dari segala tarikan politik praktis yang memang bukan kepribadian otentik dari gerakan Islam ini. Dari kutipan di atas sudah jelas bagaimana filosofi dasarku dalam memimpin Muhammadiyah selama satu setengah periode. Apa yang kukatakan, itulah aku, baik di dalam mau pun di luar. Bagiku, hidup yang hanya sekali ini tidak boleh dipermain-mainkan, sekalipun aku sendiri sering lalai menjaga filosofi ini. Pasca Malang, kegiatan kemasyarakatanku ternyata tidak semakin berkurang, tetapi untuk menolak undangan dari kalangan luar Muhammadiyah jauh lebih ringan dibandingkan dengan undangan yang datang dari kalangan sendiri. Beberapa undangan dari luar negeri, baru dua yang kukabulkan, yaitu dari sebuah lembaga kajian di Singapura akhir 2005, di mana aku memberikan makalah, dan undangan departemen luar

464

negeri Indonesia untuk turut menghadiri dialog lintas iman di Cebu, Filipina pada bulan Maret 2006. Karena aku sudah semakin tua, kuajak isteriku Nurkhalifah untuk menemani. Cara berjalanku kadangkadang agak oleng karena engsel lutut yang sering rewel. Selanjutnya harapanku adalah agar Muhammadiyah di bawah pimpinan yang baru akan jauh lebih maju, dinamis, kreatif, tetapi tidak goyang dalam menjaga khittah. Tidak mudah memang menjaga Persyarikatan ini, khususnya bila menghadapi fluktuasi politik yang tidak menentu di Indonesia. Aku sendiri yang sudah berupaya agar tetap berada pada posisi independen, pada saat pencalonan Amien Rais sebagai presiden masih dikritik orang juga. Tetapi pemihakan Muhammadiyah kepada pencalonan Rais adalah keputusan rapat pleno yang diperluas dengan melibatkan semua wilayah. Jadi keputusan itu adalah keputusan bersama yang harus dilaksanakan. Adapun dalam kenyataannya tidak semua warga Muhammadiyah mematuhi keputusan itu, kita tidak dapat memaksa. Ini adalah pilihan politik sebagai warga negara yang harus dihormati. Setelah Amien Rais gugur dalam putaran pertama, warga Muhammadiyah tidak terikat lagi dengan keputusan di atas.

465

Diserahkan sepenuhnya kepada mereka dalam menentukan pilihan dengan berpedoman kepada suara hati nurani masing-masing. D. Komunitas Nogotirto-Trianggo Ini adalah bagian akhir sebelum penutup dari otobiografi ini. Aku harus menyertakan komunitas ini karena aku sekeluarga telah tinggal di Nogotirto sejak Nopember 1985, lebih 20 tahun yang lalu. Sebenarnya nama Nogotirto ini telah kusebut juga pada bagian lain, tetapi belum mendapatkan porsi khusus. Selama rentang waktu 20 tahun usia tuaku telah dibelanjakan di sana, mungkin sebagai terminal terakhir dari hidupku. Nogotirto terdiri dari dua kata: nogo (naga) dan tirta (air), artinya banyak air. Kawasan ini sebelumnya adalah daerah pesawahan, kemudian oleh lurah (kepala desa) dijual kepada P.T. Nitibuana untuk dijadikan perumahan penduduk, sementara pihak kelurahan mendapatkan tanah di tempat lain sebagai gantinya. Kami mengangsur perumahan K.P.R. (Kredit Prumahan Rakyat) kepada B.T.N. (Bank Tabungan Negara) untuk jangka waktu 15 tahun. Sebagaimana sudah kusebutkan bahwa untuk pembayaran uang muka, bukan uangku yang dikeluarkan karena memang tidak punya,

466

tetapi diambilkan dari penghasilan isteriku Nurkhalifah selama bekerja di Chicago. Untuk angsuran saban bulan memang diambilkan dari gajiku sebagai pegawai negeri sebesar Rp. 87.670, dimulai sejak Desember 1985. Tetapi karena ekonomi rumah tangga semakin membaik, belum sampai 15 tahun, pembayaran rumah sudah lunas sama sekali. Dengan demikian aku tak perlu lagi berulang menyetorkan angsuran rumah ke bank. Jumlah angsuran ini pada tahun 1980an itu terasa cukup berat. Tanpa aku bekerja sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi Jogja dan Solo, bisa jadi dapur tidak berasap. Tetapi untunglah aku tidak pernah menunggak untuk membayar kredit rumah ini. Alhamdulillah tidak sampai 10 tahun aku telah melunasi semua tuggakan rumah itu. Dengan demikian sebagian gaji tak perlu lagi dipakai untuk rumah. Di perumahan Nogotirto inilah muncul sebuah komunitas baru yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dengan latar belakang etnis, jenis kerja, dan agama yang berbeda. Sebagian besar tentu sebagai penganut Islam sesuai dengan komposisi penduduk Indonesia. Ada yang berasal dari Kalimantan, Sumatera, Madura, dan dari lain-lain pulau. Yang mayoritas tentu berasal dari Jawa.

467

Dari jenis profesi, di antara mereka ada karyawan bank, jaksa, dosen negeri dan swasta, dinas pubakala, karyawan RRI, wiraswasta, pertamina, pegawai departemen pendidikan nasional, tentara, polisi, dokter manusia dan dokter hewan, dan mungkin masih ada dari jenis pekerjaan lain. Beberapa pemegang Ph.D. (Doctor of Philosophy) tamatan America dan Perancis adalah di antara pendatang baru itu. Ada Prof. Dr. Mohtar Masoed, Prof. Dr. Suyanto, keduanya tamatan Amerika; ada juga Dr. Marchaban, alumnus Perancis. Kebetulan mereka ini adalah jamaah masjid Nogotirto. Mereka yang sudah menunaikan ibadah sudah puluhan jumlahnya. Tidak pernah putus saban tahun, ada saja rombongan yang berangkat, padahal aku lihat mereka umumnya adalah dari kelas menengah seperti aku juga. Sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya, masjid Nogotirto ini adalah hasil perjuangan teman-teman jamaah kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Sebelum ada masjid kami melakukan salat tarawih di rumah-rumah yang belum ditempati ketika itu. Sekitar empat tahun kami melakukan itu. Untuk salat Jumat kami bertebaran ke berbagai masjid, tergantung keadaan masingmasing. Tetapi setelah masjid berdiri pada

468

tahun 1989, tarawih dan Jumat dipusatkan di masjid ini sampai sekarang. Sungguh kami tidak bisa membayangkan jika di perumahan baru ini tidak terdapat masjid. Hubungan persaudaraan tanpa masjid juga tidak akan mudah, sekalipun untuk tingkat R.T. (Rukun Tetangga) ada kegiatan arisan. Kehadiran masjid di lingkungan kami telah memberikan nuansa tersendiri bagi jamaah. Bagiku jamaah masjid ini adalah teman-teman baru yang mengesankan. Sewaktu menulis bagian ini, terbayang olehku wajah Drs. H. Muhammad Romli (darah Madura kelahiran Solo), yang pernah bekerja sebagai kepala dinas purbakala selama puluhan tahun. Agak sedikit emosional, tetapi hati dan dedikasinya untuk kepentingan agama dan manusia kental sekali. Hubungannya denganku sangat dekat. Beberapa tahun menjabat ketua R.W. (Rukun Wilayah). Ada Drs. H. Djumari, pimpinan P.P.P.G. (Pusat Pendidikan dan Pengembangan Guru). Teman karibku ini pandai sekali menyiasati harga tanah, entah sudah berapa ratus juta dia meraup keuntungan dari jual-beli tanah ini. Ada saja peluang untuk mendapatkan tanah yang diintainya. Salah seorang anggota panitia pembangunan masjid yang sejak awal telah terlibat adalah Drs. H. Muhammad Bachtiar, M.Si., dosen fakultas

469

psikologi UII. Setelah tidak banyak bertugas ke luar Jawa, sahabat ini termasuk yang rajin salat berjamaah. Tidak jarang bersamaku tetap tinggal di masjid antara maghrib dan isya. Ada lagi bung Drs. Nur Hidayat jamaah tetap di samping sebagai imam favorit karena bacaannya yang fasih. Kemudian Ahmad Syamlawi, S.E.,M.Si., pernah menjabat Ketua R.T. VII. Tugas sehari-hari adalah sebagai dosen sebuah perguruan tinggi sewasta di Jojakarta. Kadang-kadang jadi muazzin dan imam salat. Belakangan mulai pula aktif berjamaah Drs. H. Heru, pengurus R.W. 16, dan karyawan pada sebuah bank. Dalam pada itu jika ada anggota yang tidak pernah menolak menjadi sekretaris kepanitiaan dan kordinator konsumsi untuk kegiatan masjid, maka nama Kastolani, B.A. adalah yang paling menonjol. Berasal dari Prembun (Kebumen), sahabat yang satu ini adalah guru dan wakil kepala sekolah salah satu S.M.K. Negeri Jogjakarta. Sahabat ini seakan-akan telah menjadi sekretaris abadi kepanitiaan. Semua urusan di tangannya beres, tidak ada yang tidak selesai. Terbayang juga olehku sahabat jamaah Sjamzaini, S.H., mantan jaksa, penah bertugas di Timor Timur sebelum daerah itu lepas dari Indonesia. Teman ini

470

diberi julukan imam besar masjid Nogotirto, karena seringnya menjadi imam untuk salat subuh, maghrib, dan isya, juga tarawih. Ada lagi H. Duriat Subekti, mantan kepala R.R.I. Sumenep. Sosok ini aktif sekali dalam kegiatan masyarakat dan Muhammadiyah Nogotirto. Kalau ada urusan pengeras suara, dialah ahlinya, sesekali juga bertindak sebagai muazzin. Nama Ir. Irawadi Buyung, M.T.,seorang sarjana teknik listrik, tidak boleh dilupakan. Anak Lampung yang punya darah MinangJawa ini adalah tempat mengadu jika masjid menghadapi masalah lampu dan kipas angin. Dengan cepat dia akan memperbaikinya. Tidak saja itu, dia juga seorang muazzin dan komandan takbir bila hari raya datang. Selama bulan puasa, dia juga pemegang aba-aba untuk salat tarawih/witir. Mulai tahun 1426 hijriyah/2005 miladiyah Irawadi adalah salah seorang pelopor pemotongan hewan qurban untuk blok tiga utara sehingga meringankan tugas panitia masjid Nogotirto dalam masalah distribusi daging. Sekalipun baru pertama kali, jumlah korban sapi mencapai lima ekor plus kambing. Tampak pula wajah Dr. H. Eko Supriyanto, S.H., M.Pd., M.Si, dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sarat dengan titel akademik. Inilah sosok yang punya naluri L.S.M. (Lembaga

471

Swadaya Masyarakat). Tidak pernah menolak permintaan masyarakat untuk membantu mereka. Dalam peribasa tipe yang satu ini adalah cepat kaki ringan tangan. Ada lagi Drs. H. Mohammad Hatta, M.Si., beberapa tahun menjadi ketua takmir, di samping khatib Jumat. Dadanya lapang, pemaaf, dan humoris. Tinggal agak ke utara masjid, ada Drs. Thohar Fuaedy, M. Pd., seorang ahli komputer, di samping ketua Y.A.S.I.N. (Yayasan Amal Sosial Islam Nogotirto). Jika komputerku sedikit rewel, aku pernah minta tolong kepadanya. Tak jauh dari rumah Bung Thohar, ada sahabat yang sangat ceria dari pertamina. Namanya Hartoyo, karyawan perusahaan minyak itu. Ketika bahuku pada suatu saat terasa agak kaku, Hartoyo mengajakku untuk mencoba tusuk jarum yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Pendeknya kawan yang satu ini agak mirip dengan Eko: cepat kaki ringan tangan. Berat badannya mungkin di atas 80 kg. Jamaah masjid yang hampir tidak pernah absen salat berjamaah ada beberapa orang, di samping sebagian sudah kesebut di atas. Yang lain adalah Drs. M. Miska Amin, dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, berasal dari Bengkulu. Dia dikenal sebagai perisensi karya tulis orang lain. Entah berapa puluh sudah resensinya yang telah dimuat di

472

berbagai media cetak. Ketika datang hari raya Idul Qurban, dialah salah seorang jagal yang ditakuti kambing. Jumlah kambing yang telah dihabisinya, sudah puluhan jika bukan ratusan. Teringat juga sosok Drs. Usmar Salam, M.A., dosen Fisipol Universitas Gadjah Masa, alumnus Jepang yang mahir berbahasa Jepang. Berasal dari Lirik, Riau Daratan. Perawakannya tinggi semampai. Kadangkadang rajin ke masjid, ada kalanya terlalu sibuk di luar. Muazin yang sangat aktif sejak dua tahun terakhir adalah Drs. Yulian Yamit, M.Si., dosen Fakultas Ekonomi UII (Universitas Islam Indonesia), juga dari Bengkulu, dari Manna. Aku pernah berkunjung ke kampungnya. Jika ada orang yang ceria di Nogotirto, maka Yulian termasuk dalam daftar teratas. Tertawanya yang keras dengan menggerak-gerakkan kepala selalu mengundang lingkungan untuk juga terbahak. Apalagi matanya, hilang kala tertawa. Setiap Idul Qurban, tugas pokoknya adalah menimbang daging. Dia teliti sekali. Ada pula si Minang kelahiran Jogja. Namanya H. Hermansyah. Orang tuanya berasal dari Sulit Air. Dia saudagar alat-alat tulis di Pasar Kranggan Jogja. Seingatku jika untuk simpan menyimpan uang masjid, Hermanlah orangnya, di samping H. Marsono, S.E. dari unit Syariah bank B.R.I.,

473

dan H. Abdul Aziz dari pertamina. Ketiga sahabat ini sangat amanah dalam urusan uang. Ketiganya adalah jamaah tetap masjid. Jarang absen. Abdul Aziz sekalipun telah membangun rumah pula di Pundong, masih juga sering datang ke masjid Nogotirto utnuk bergabung dengan temanteman, apalagi pada hari Jumaat dan harihari raya. Bung Marsono yang dulu adalah penggemar berat sate kambing, sejak beberapa tahun terakhir telah talak tiga, sebab bisa menaikkan tekanan darahnya. Berat badannya sekitar 80 kg. Aku melihat wajah ketiga teman ini, seperti wajah teman-teman lain, adalah wajah ikhlas. Bekerja untuk kepentingan masjid tanpa pamrih. Dosen Fakultas Ekonomi yang lain adalah Drs. H. Warsono Muhammad, M.A., alumnus U.I.I. dan Hawaii, berasal dari Bojonegoro. Pernah dua periode menjabat dekan. Tambahan Muhammad ini dipakainya setelah menunaikan ibadah haji. Aku tidak tahu apa alasannya. Rasanya pernah dikatakannya, agar citra santrinya lebih kentara. Teman inilah yang memprakarsai arisan Jumat sekali sebulan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan dana masjid Nogotirto. Aku lihat cara berpikirnya cepat dan tangkas, analisis ekonominya tidak kalah dibandingkan dengan para pengamat

474

ekonomi yang lain. Kecuali untuk jamaah subuh, untuk maghrib dan isya sering datang. Dalam rangka mengurus daging korban, Bung Warsono juga bersama Yulian bertugas menimbang daging. Keduanya sama-sama ekonom. Ada pula drh. H. Toto Purwantoro yang juga rajin salat berjamaah. Untuk memeriksa kesehatan sapi korban, biasanya sahabat kita ini yang diminta untuk turut ke tempat pembelian. Dia bekerja sebagai distributor makanan ternak dengan kantor pusatnya di Semarang yang dilajunya dari Nogotirto. Jamaah lain adalah H. Siswojo, S.E.,M.M. dari pimpinan Bank Mandiri U.G.M. Kadangkadang juga berfungsi sebagai muazzin dengan suaranya yang cukup bagus. Mulai tahun 1426/2006 dia menjadi penitia korban di perumahan utara masjid Nogotirto. Teman-teman lain masih banyak. Ada Drs. H. Hilman Nadjib, M.Sc, mantan kepala L.P.P. (Lembaga Pendidikan Perkebunan), berasal dari Kudus. Banyak memberikan dana untuk urusan masjid. Sesekali masih sempat berjamaah di masjid jika kebetulan ada di Nogotirto. Teman lain adalah Bambang Samiyo, pemilik apotik di Bantul, sejak dua tahun terakhir juga aktif sebagai jamaah masjid. Yang juga mulai rajin ke masjid adalah Drs. H. Sudiyono, M.Si., dosen Universitas Muhammadiyah

475

Yogyakarta, pindahan dari Kalimantan Tengah; begitu juga dr. Idam Nawawi, spesialis anak, asal Sumatera Selatan, adalah di antara sahabatku yang aktif salat berjamaah. Ada lagi Suharwidjono, mantan kepala kantor pertanahan Sleman dan Gunung Kidul yang rajin sekali salah berjamaah. Masih banyak yang lain sehingga Masjid Nogotirto tidak pernah sepi dari jamaah, khususnya untuk maghrib, isya, dan subuh. Yang cukup menarik juga untuk dicatat adalah kegiatan anak-anak muda di masjid. Hampir setiap malam mereka membaca alQuran, mengajar dan belajar sesama mereka. Lingkungan masjid telah membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang taat, di samping sekolah mereka yang lancar. Di antara mereka ada yang kuliah di Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, U.I.I., Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan mungkin masih ada yang kuliah di tempat lain. Tidak semua mahasiswa, ada juga yang masih belajar di sekolah menengah. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda ini yang mempunyai perilaku menyimpang. Mereka tidak pernah terlibat dalam berbagai minuman keras dan tindak kekerasan. Masjid telah mendidik mereka menjadi manusia santun dan bertanggung jawab. Dalam kegiatan

476

kepanitiaan, mereka selalu diikutsertakan, demi estafet generasi di lingkungan masjid Nogotirto. Komunitas Nogotirto/Trianggo sebagai unit persahabatan baru bagiku sangat mengesankan. Begitu mudahnya mendapatkan dana di sini untuk keperluan sosial keagamaan. Infaq masjid tiap Jumaat rata-rata sekitar Rp. 200.000, dan pendapatan bulan Ramadan terus meningkat. Ramadan 1426 hijriyah mencapai sekitar Rp. 6.000.000. Kemudian infaq yang dikumpulkan Y.A.S.I.N. rata-rata Rp. 500.000 per bulan. Dana ini dipakai untuk memberikan beasiswa kepada sektor masyarakat yang kurang mampu. Itu kita belum lagi berbicara tentang infaq insidental yang begitu mudah didapatkan. Seperti telah kukatakan, anggota komunitas baru ini tidak ada yang kaya meletus, istilah Minang untuk jutawan. Isteriku Nurkhalifah adalah di antara jamaah masjid yang aktif, di samping juga turut membayar iuran untuk Y.A.S.I.N. dan iuran pengajian kaum ibu di masjid Nogotirto. Dia juga dikenal sebagai juru masak kambing dan sop buntut di lingkungan masjid dan R.T. VII perumahan Nogotirto. Tampaknya banyak yang senang hasil masakannya. Sebelum dihidangkan kepada tamu, dia pasti tanya dulu padaku: bagaimana hasil masakannya? Tentu aku

477

jawab dengan mengangkat ibu jari. Setiap Hari Raya Qurban, sudah menjadi tradisi kami untuk masak dan makan bersama dalam rangka penyembelihan hewan qurban. Bagiku pesta tahunan ini sangat menyenangkan. Berbagai jenis masakan dihidangkan, biasanya setelah salat zuhur. Hasil masakan isteriku sepanjang pengetahuanku tidak pernah bersisa. Sebagai manusia kelahiran Minang, salah satu kelemahanku adalah suka makan, kadang-kadang mungkin sudah sedikit berlebihan, khususnya pada Hari Raya Qurban ini. Gulai kambing masakan isteriku sungguh fantastik. Selama 20 tahun menjadi penduduk Nogotirto, beberapa taman jamaah masjid telah mendahului kami. Di antaranya Drs. M. Rusli Karim, M.A., asal Palembang, seorang penulis prolifik. Biaya kuliahnya pada I.K.I.P. Yogyakarta boleh dikatakan berasal dari karya tulisnya. Entah berapa sudah karya tulis yang dihasilkannya. Dia wafat dalam usia yang relatif muda. Program S3 dengan biaya pribadi diambilnya pada U.K.M. (Universiti Kebangsaan Malaysia), tempatku memberi kuliah selama dua tahun, seperti yang telah kusebut terdahulu. Disertasinya telah rampung ditulis, tinggal menunggu ujian doktor yang ternyata tidak terkejar oleh usianya. Bung Rusli adalah seorang aktivis

478

Muhammadiyah sejak masih mahasiswa. Aku benar-benar merasa kehilangan dengan kepergian teman yang satu ini. Bukan saja aku, Muhammadiyah pun kehilangan. Dia dimakamkan di pemakaman kampung, tidak jauh dari perumahan Nogotirto. Teman lain yang sudah wafat adalah Sutjipto, mantan jaksa. Malamnya masih menyanyi menyambut 17 Agustus 2005, dinihari sudah dipanggil Allah. Atas prakarsa isteri dan anakku Hafiz, rumah kami di Nogotirto telah direnovasi agar lebih luas dengan tiang baja. Rumah lama terasa terlalu sempit untuk tempat bukuku yang terus saja berdatangan dari berbagai penerbit. Kamar tidurku sebelum rumah dirombak sudah tidak layak untuk ditiduri, karena harus bersaing dengan buku dan kertas. Hafiz, seorang sarjana teknik U.I.I. dan S2 di Rotterdam (Belanda), pernah mengeritik ayahnya mengapa buku terlalu banyak. Bukankah itu hanyalah kumpulan pikiran orang? Tentu saja pertanyaan itu wajar saja karena disampaikan oleh sarjana teknik yang tidak terlalu banyak memerlukan bacaan sebagaimana yang dituntut oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Berbeda denganku, Hafiz belum begitu tertarik dengan filsafat, kajian agama, politik, apalagi sejarah. Perbedaan ini wajar

479

saja. Bagiku seorang anak bebas saja untuk menentukan bidang apa yang mau digelutinya. Tetapi aku akan naik pitam, jika anak tidak tertarik untuk belajar. Jika hal itu terjadi aku dan Lip benar-benar telah gagal sebagai seorang ayah dan ibu. Alhamdulillah, Hafiz berhasil menyelesaikan studi S2-nya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Yang aku masih prihatin adalah karena Hafiz belum serius menjalankan agama. Harapanku adalah bahwa pada satu saat, agama akan menjadi sesuatu keperluan mutlak bagi anak ini melalui pilihannya yang sadar. Sebagai orang tua aku sering kecewa terhadap sikapnya yang sering acuh tidak acuh dalam melakukan salat, sekalipun sering aku peringatkan. Untuk salat Jumat tampaknya dia cukup rajin. Tetapi dimensi kemanusiaannya tidaklah kurang, mungkin lebih banyak diwarisi dari darah ibunya. Salah satu faktor mengapa aku sering menolak untuk memberi khutbah Hari Raya Idul Qurban di luar kota Jogjakarta adalah suasana qurban di sekitar masjid Nogotirto yang benar-benar menyenangkan. Sejak dua tahun terakhir aku tidak lagi banyak melakukan penyembelihan sapi. Jagal-jagal lain yang lebih muda telah bermunculan menggantikan posisiku. Untuk penyembelihan kambing aku masih berperan aktif dengan menggunakan pisau

480

yang sangat tajam. Kubeli ketika menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. Untuk mengasah pisau ini cukup digesekkan saja pada sarungnya. Sangat praktis. Pisau ini selama masa penyembelihan tersisip di pinggangku yang sewaktu-waktu dikeluarkan untuk memotong leher sapi atau kambing. Entah sudah berapa puluh leher hewan qurban yang dibinasakan oleh pisau kesayanganku ini. Di perumahan Nogotirto ini, ada juga teman-teman Katolik dan Kristen yang berdampingan dengan komunitas Muslim yang mayoritas. Hubungan lintas agama di sini baik sekali. Saling membantu dan saling menjenguk bila ada keperluan, seperti sakit atau kematian. Perbedaan agama tidak pernah menjadi alasan untuk tidak mengakrabkan persahabatan. Apalagi teman-teman ini tahu betul bahwa aku berkawan dengan tokoh-tokoh puncak mereka di Jakarta. Bahkan tetangga dekatku adalah seorang penganut Katolik. Kami biasa bersenda gurau, bicara macammacam, politik, ekonomi, dan keprihatinan yang sama terhadap keadaan bangsa yang masih saja belum menggembirakan. Angka pengangguran malah semakin bertambah. Teman ini adalah pensiunan B.R.I., terakhir bertugas di Jayapura. Ringkas kata, suasana lingkungan perumahan Nogotirto

481

cukup nyaman untuk masyarakat majemuk. E.

didiami

oleh

Syukuran Listrik Sudah dijelaskan bahwa peresmian pemakaian listrik untuk beberapa nagari di kecamatan Sumpur Kudus berlangsung pada tanggal 29 Januari 2005. Atas gagasan Prof. Novirman yang aku dukung sepenuhnya pada tanggal 29 Januari 2006 diadakan syukuran setahun listrik masuk desa bertempat di masjid Silantai, seperti telah kusinggung sedikit terdahulu. Peristiwa ini bagi orang kampungku sangat penting dan menggembirakan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah bahwa pada akhirnya listrik yang sudah lama dirindukan kedatangannya menjadi kenyataan. Untuk mengenang suasana syukuran istimewa itu, di bawah ini kuturunkan kembali apa yang kutulis dalam Resonansi yang muncul dalam Republika 7 Pebruari 2006, halaman 12 dengan judul Syukuran Listrik di Silantai: Kabarnya konon sepanjang sejarah perlistrikan di Indonesia peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi. Di bawah kordinasi M. Deddy Julianto, yang saya sebut sebagai Panglima Jawa, dan panitia lokal di bawah pengawasan Prof. Dr. Novirman

482

Djamarun, Kopertis Sumatera Barat, Jambi, Riau, dibantu oleh Drs. Khairuddin Kanaan dari Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, maka digelarlah upacara syukuran itu pada 29 Januari 2006. Tamu yang hadir tidak tanggung-tanggung: dari Jakarta, Bandung, Padang, Muaro, Solok, Sijunjung, Lintau, dan tentu saja dari kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya. Nagari Silantai yang terletak sekitar dua km di utara nagari Sumpur Kudus sebagai lokasi upacara seperti berada dalam suasana mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Apalagi semula diperkirakan Menhub M. Hatta Rajasa akan hadir, tetapi karena mendadak dipanggil presiden, dia mengirim wakil dua orang staf ahli dan staf khusus, keduanya alumni ITB dengan memberikan bantuan untuk Panti Asuhan, TK, dan Cabang Muhammadiyah Sumpur Kudus. Tamu dari Jakarta a.l. adalah dua dirjen departemen pendidikan nasional: manajemen pendidikan dasar/menengah dan luar sekolah, karo keuangan departemen pendidikan nasional, staf khusus menteri pendidikan nasional, dua dari departemen perhubungan, seperti tersebut di atas, dirut Indofarma dan

483

staf, direktur IGM (Indofarma Global Medica), mantan dirut BNI, rektor Universitas Negeri Jakarta, karo kesra wakil presiden, dua orang dari Maarif Institute, puluhan dari PLN di bawah komandan Dr. Ir. Herman Darnel Ibrahim, salah seorang direktur PLN Pusat. Tidak ketinggalan Ir. Sofyan Amin mantan General Manager PLN Sumbar sebelum digantikan oleh Ir. Sudirman, M.M. Tamu-tamu yang datang tidak sekadar menghadiri syukuran, tetapi telah mengguyurkan bantuan untuk berbagai lembaga pendidikan, panti, masjid, surau, ketrampilan, dan beberapa anak miskin. Nilai keseluruhan bantuan, baik berupa voucher mau pun uang kontan, saya hitung-hitung lebih dari satu milyar, suatu angka yang terlalu amat besar bagi desa yang tersuruk itu. Juga ada obat-obat dan sedekah/infaq dari dirut Indofarma, mantan dirut BNI, dan dari Panglima Jawa untuk Puskesmas, TK dan panti. Sebelum bertolak ke Silantai sesudah Subuh 29 Jan., Bupati Darius Apan malam 28 Jan. telah menjamu dan menyediakan penginapan bagi seluruh tamu yang datang. Seperti perhelatan besar saja, bukan? Tentu bintang dalam upacara syukuran itu

484

adalah Bung Darnel Ibrahim yang pada malam sebelumnya telah memberikan kuliah memukau dan juga mencemaskan tentang perlistrikan Indonesia yang, jika tidak waspada, akan menghadapi masalah sangat serius pada masa depan yang dekat. Oleh sebab itu pemerintah harus memantau betul dan mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam soal listrik ini yang pasti punya politik tinggi karena melibatkan dana puluhan triliun rupiah. Menurut Darnel, sesudah oksigen, seolah-olah listrik telah menempati posisi kedua dalam kehidupan manusia. Dari seluruh penggunaan tenaga listrik di muka bumi, Amerika adalah yang terbanyak memakainya, yaitu 27%, padahal penduduknya hanya 270 juta. Sisanya yang 73% adalah untuk bangsa-bangsa lain yang bilangannya sekitar 200 itu. Berapa jumlah kendaraan yang menyerbu Sumpur Kudus hari itu? Karena berada di barisan depan, saya tidak tahu berapa jumlah iringan mobil yang mengangkut tamu ke lokasi. Kabarnya di atas 50, baik yang disediakan dephub, Indofarma, PLN, pemda kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung, serta kendaraan pribadi. Sepintas lalu, jika orang tidak

485

membaca informasi tentang sumbangan di atas, mungkin akan bertanya: apa-apaan ini? Tetapi setelah mencermatinya, baru akan berucap: dalam rangka membantu kawasan IDT (Inpres Desa Tertinggal) dengan memanfaatkan syukuran setahun listrik masuk desa. Ada berita dari Silantai yang menyentuh batin kita sewaktu menyambut tamu. Bunyi talempong dan salung disertai ungkapanungkapan puitis khas Minang yang mengharukan digelar, tetapi hanya suara pelaku yang terdengar. Mereka disembunyikan di belakang kerumunan manusia yang berjubel. Mengapa? Novirman mengatakan karena tidak punya pakaian seragam. Malu jika dilihat tamu penting dari Jakarta. Padahal harga pakaian mereka itu hanyalah sekitar Rp. 150.000 s/d Rp. 200.000 per orang. Sayang mereka terlambat memberi tahu sehingga tidak sempat dibelikan ke kota. Bukankah ini sebuah panorama yang membuat kita iba? Tanpa kesediaan mereka secara pribadi dalam melestarikan khazanah kelasik itu, seni khas daerah itu pasti, lambat atau cepat, akan punah dimakan musim.

486

Bupati dalam sambutannya pada upacara yang dipusat kandi masjid Silantai yang masih terbengkalai itu mengulangi lagi ucapannya bahwa dia tidak sanggup memasukkan listrik ke Sumpur Kudus tanpa Jakarta turun tangan. Karena perhatian Jakarta inilah PLN Sumbar bergerak cepat untuk memberi cahaya ke nagari-nagari itu sejak setahun terakhir. Dan perlu dicatat keterangan pimpinan PLN ranting Sijunjung bahwa tidak ada tunggakan masyarakat di sana dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan. Jadi angka 100% lunas adalah salah satu bentuk rasa syukur itu, bukan? Tulisan ini kusiapkan di Air Dingin Padang, 31 Januari 2006 untuk Republika, seperti telah kusebutkan di atas. Masjid Silantai yang terbengkalai itu mendapat bantuan dari P.L.N. dan karo keuangan departemen pendidikan nasional masingmasing Rp. 50.000.000 dan Rp. 20.000.000. Dengan bantuan ini masjid ini dalam beberapa bulan akan muncul sebagai masjid cantik di nagari itu. Aku meminta takmirnya agar kebersihan betulbetul dijaga, sehingga masjid ini akan melakukan dawah tanpa kata. Setiap orang yang masuk ke dalamnya akan bergumam: alangkah bersihnya masjid ini.

487

Tempat wudhunya juga mencerminkan watak Islam sebagai agama yang menjadikan kebersihan sebagai bagian dari iman. Dibandingkan dengan peresmian masjid Y.A.M.P. Calau dan peresmian listrik masuk desa sebelumnya yang cukup meriah, maka pertemuan kali ini jauh lebih besar, baik diukur dari jumlah tamu yang hadir mau pun dari suasana syukuran yang jauh lebih semarak. Barangkali ini adalah peristiwa besar terakhir dalam hidupku di mana aku turut mendorongnya, demi menggembirakan rakyat Sumpur Kudus. Semoga tokoh-tokoh lain dari desa ini akan muncul pula di kemudian hari untuk memajukan kampung halaman yang sudah puluhan jika bukan ratusan tahun berada dalam kategori desa tertinggal.
IX. AKHIRNYA

Inilah potret perjalanan hidupku yang diberi judul Titik-titik Kisar di Perjalananku. Dari seorang anak piatu di desa Calau, Sumpur Kudus, aku telah merangkak mengikuti arah retak tangan, terlibat dalam pusaran waktu yang cukup panjang dan berliku. Di kala kecil tidak ada cita-cita tinggi yang hendak kuraih. Alam Sumpur Kudus yang sempit dan terpencil di

488

lembah Bukit Barisan telah turut membentuk diriku untuk tidak punya angan-angan besar yang aneh-aneh. Aku tumbuh dan berkembang bersama temanteman desa yang serba sederhana. Aku menjala, memancing ikan di Batang Sumpur, mengadu sapi, mengadu ayam bersama mereka. Sekalipun aku lahir sebagai anak Kepala Nagari, hidupku tidak ada bedanya dengan teman-teman kampung itu. Seingatku sejak masa kanakkanak sampai dewasa jarang sekali aku tidur di atas kasur. Tikar kasar adalah sahabat setiaku dalam rentang waktu yang panjang. Sampai setua ini, aku akan bisa tidur nyenyak tanpa kasur, karena sudah terlatih sejak kecil. Titik kisar pertama terjadi pada waktu aku belajar di madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau, setelah menganggur selama tiga tahun pasca S.R. Dengan modal pendidikan Muallimin sedikit banyaknya aku telah berani berpidato di depan publik kampung yang jumlahnya terbatas. Bahkan lebih dari itu, aku sudah berani pula memberi ceramah di tempat-tempat lain. Dengan bekal ilmu agama yang serba kurang, aku telah berani berdebat di masjid menghadapi kaum elit Sumpur Kudus dengan semangat tinggi. Topik perdebatan

489

tidak melebihi masalah-masalah khilafiah di tingkat kampung. Paham agama Muhammadiyah yang telah dipompakan ke dalam otak dan hatiku sejak masih belajar di madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus telah menjadi modalku untuk berkayuh lebih jauh sampai ke lingkungan Universitas Chicago di Amerika Serikat. Modal ini pernah menghilang sementara ketika aku sibuk dengan ilmu-ilmu sekuler, kemudian hadir kembali dengan fondasi yang lebih mantap dan kokoh. Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus (sudah lama mati), aku mulai belajar agama menurut paham Muhammadiyah. Salah seorang guruku di sini adalah ibu Nurjannah dari Padang yang kemudian kawin dengan Muchtar Gafur, seorang tokoh Masyumi tingkat kabupaten. Harun Malik, A. Wahid dan M. Sanusi Latief juga pernah mengajarku di madrasah ini, tetapi tidak tetap. Sanusi Latief hanya mengajar ketika pulang kampung dari Bukittinggi, tempat dia belajar di Sekolah Menengah Islam. Titik kisar kedua terjadi setelah meneruskan pelajaran ke madrasah Muallimin Jogjakarta. Wawasan semakin luas, tetapi naluri sebagai seorang fundamentalis belum berubah, jika bukan semakin menguat. Bahkan sampai aku

490

belajar sejarah pada Universitas Ohio di Athens, Amerika Serikat, paham agamaku belum banyak mengalami perubahan. Citacita politikku tetap saja ingin menaklukkan Indonesia agar menjadi negara Islam, padahal batang usiaku ketika itu sudah di atas 40 tahun. Otak dan hatiku ketika itu belum mendapatkan virus pencerahan untuk memasuki gerbang titik kisar tahap ketiga, dan mungkin yang terakhir sebelum maut menyudahi karierku di muka bumi. Di lingkungan kampus Universitas Chicago-lah aku mengalami kebangkitan spiritual dan intelektual yang baru dan sekaligus merupakan titik kisar yang ketiga. Ini adalah titik kisar dalam pemikiran keislaman dan keindonesiaanku. Peran Fazlur Rahman, dengan segala kritikku kepadanya, sungguh sangat besar. Strategi dan pendekatan yang digunakannya agar aku menimbang seluruh kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan al-Quran barangkali telah membuatku mengalami titik kisar terakhir di perjalanan intelektualku. Pertanyaannya adalah: apakah titik kisar yang ketiga ini sudah berada di jalan yang lurus dan benar secara agama? Aku tidak bisa mengatakannya. Biarlah para pengamat yang menjawabnya. Aku sendiri hanya berharap bahwa perjalanan hidupku

491

tetap berada dalam koridor Islam yang autentik, sementara keindonesiaanku telah lama menyatu dengan keislamanku. Memang pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa apa yang dikenal dengan kelompok sunni, syii, khawarij, dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai unit peradaban Muslim, adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan, diterima atau ditolak, dengan menempatkan al-Quran sebagai hakim tertinggi. Sebagaimana nenek mereka terdahulu, cicit-cicit ini juga tidak jarang terlibat untuk saling bahu hantam yang tak putus-putusnya, karena al-Quran tidak dijadikan rujukan pertama dan utama. Al-Quran sudah terlalu lama dicampakkan ke dalam limbo sejarah. Kesimpulan ini adalah dari aku sendiri, bukan dari Rahman. Semua hasil sejarah pasti terikat dengan ruang dan waktu. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan, bukan milik kita. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan, sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas, jujur, dan kritikal. Untuk Indonesia ke depan, tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas

492

nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. Pandangan Mohammad Hatta dan H.A. Salim barangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam dan Indonesia itu. Dalam perspektif ini Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya harus berhenti untuk hanya dijadikan retorika politik. Semua nilai itu harus diterjemahkan ke dalam format yang kongkret sehingga prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia benar-benar menjadi kenyataan. Tanpa upaya yang serius ke arah tujuan mulia ini, akan sangat sulit bagi Indonesia untuk bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat dan adil. Dalam ungkapan lain, terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia, sesungguhnya dapat dicari akarumbinya pada kelalaian fatal para elit bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya yang sangat tinggi. Tetapi alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau. Integrasi nasional bukanlah sesuatu yang sudah final, ia adalah sebuah proses yang terus berlangsung, tidak pernah berhenti. Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan autentik, di

493

samping Bahasa Indonesia, akan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi pemantapan proses integrasi ini. Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan, aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal! Oleh sebab itu bacalah baik-baik peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan caracara yang radikal yang sia-sia itu. Demikianlah otobiografi ini kususun dengan lobang-lobang yang terdapat di sana-sini karena kelemahanku semata. Jika aku menyebut nama seorang teman secara kurang proporsional dan dari sudut etika kurang tepat, permohonanku hanya tunggal: maafkan aku! Tidaklah maksudku untuk menyinggung perasaan seseorang sekiranya aku menyebut namanya. Semua itu kulakukan semata-mata dalam konteks kiprahku, khususnya selama memimpin Muhammadiyah dalam bingkai bangsa dan negara Indonesia. Selanjutnya dalam usia yang sudah sangat larut ini, agenda utamaku adalah turut berbuat sesuatu, betapa pun kecilnya, agar Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tetap utuh, tidak terkoyak oleh berbagai kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat. Apakah

494

angan-angan mewah ini akan menjadi kenyataan sebelum aku tutup mata, tidaklah penting bagiku, sebab aku sadar betul bahwa masalah Indonesia cukup ruwet dan sarat dengan serba ketidakpastian. Tetapi setidak-tidaknya sebagai warga negara biasa aku telah menyampaikan sesuatu kepada bangsa yang kucintai ini. Terserahlah kepada semua pihak untuk menilainya secara bebas dan adil. Apalah artinya seorang aku yang hanya sebagai sebuah skrup alit yang seperti kata dalam pepatah Minang: Bak melukut (pecahan beras karena ditumbuk) di atas gantang. Masuk tidak menggenapkan, keluar tidak mengurangi. Tetapi aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam sekali. Bagiku membela bangsa adalah dalam rangka membela Islam, karena Indonesia merupakan bangsa Muslim terbesar di muka bumi yang harus dijaga martabat dan kedaulatannya. Dalam pergumulan pemikiranku pasca Chicago, Indonesia dan Islam telah lebur menjadi satu. Islam yang dianut mayoritas penduduk tidak boleh mau menang sendiri. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air tetapi berbeda iman haruslah dilindungi dan diperlakukan secara adil dan proporsional. Adapun muncul kelompok kecil Muslim yang mau menang sendiri tidak paham esensi ajaran Islam yang

495

mengajarkan persaudaraan semesta dengan dasar saling menghormati. Tidak untuk saling menggusur, apalagi saling meniadakan. Pihak minoritas juga harus memahami dengan baik peta sosiologis masyarakat Indonesia yang plural agar gesekan-gesekan di akar rumput dapat ditiadakan dengan terus membangun budaya saling pengertian. Planet bumi hanya satu untuk tempat kediaman seluruh makhluk. Umat Islam semestinya menjadi wasit dalam pergaulan antar peradaban, sekalipun yang berlaku belakangan mereka malah sering diwasiti karena kualitas di bawah standar. Karierku sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah, 1998-2005, telah membawaku ke pusaran perkembangan politik, sosial, dan kultural secara nasional. Kampungku Sumpur Kudus setidaktidaknya telah sedikit terangkat berkat perhatian dan bantuan teman-teman yang empati dan simpati terhadap kawasan I.D.T. (Inpres Desa Tertinggal) itu. Selanjutnya terserahlah kepada para pengamat untuk menempatkanku pada posisi berhasil, gagal, setengah berhasil, atau setengah gagal. Aku tidak punya kosa-kata untuk mengomentari pendapat atau penilaian yang diberikan oleh siapa saja, domestik atau pihak asing, terhadap kiprahku selama delapan tahun terakhir.

496

Sebuah rentang waktu yang tersibuk bagi diriku. Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua P.P., diperkirakan semula kegiatan kemasyarakatanku akan berkurang, ternyata tidak demikian. Diskusi, seminar, simposium, dan yang sebangsa itu tetap saja kujalani, sekalipun secara selektif. Undangan dari berbagai daerah masih saja berdatangan, tetapi hanya sedikit yang dapat kukabulkan, mengingat kondisi fisik yang belum tentu selalu mendukung. Kata orang dalam usia di atas 70 tahun, aku masih terlihat sehat. Penyakit gula yang ada pada diriku sejak beberapa tahun yang lalu, dengan pil amaryl ukuran 1 mm dan vitamin nerviton E, dapat dikontrol sebaik-baiknya. Selain itu aku juga makan bawang putih satu siung saban pagi, jika tidak lupa. Sebegitu jauh aku tidak menghadapi kesulitan dalam soal makanan. Sebagai pembawaan dari Minang, selera makanku belum menyusut. Hanya gula pasir yang hampir tak pernah kusentuh lagi. Sebagai gantinya aku minum susu kaleng bercampur madu hampir tiap malam. Selama hidup, alhamdulillah, aku baru sekali menginap di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari pada tahun 2004. Mungkin karena terlalu lelah, pemandanganku berkunang-kunang dan jungkir-balik, dunia terasa berputar

497

kencang sekali. Langsung malam itu dengan kebaikan Bung Hefinal, S.E. dan Zainuddin, S.Ag., S.E., karyawan P.P. Muhammadiyah Jakarta, aku dilarikan ke rumah sakit dan tinggal di sana sampai kesehatanku pulih sama sekali. Untuk selanjutnya permohonanku kepada Allah adalah bahwa jika sekiranya aku jatuh sakit lagi, jangan sampai merepotkan orang lain, termasuk tidak memberatkan kekuarga sendiri. Otobiografi ini adalah potret terbuka tentang diriku yang mudah-mudahan ada gunanya bagi keturunanku atau bagi siapa saja yang sempat membacanya. Sebagai seorang anak manusia yang serba kurang, tentu di sana-sini terdapat kelemahan data karena sebagian besar diolah dari ingatan yang masih melekat dalam otakku. Unsur yang tak teringat mungkin lebih banyak lagi. Oleh sebab itu setiap aku baca ulang draf ini, ada saja yang perlu ditambah, dikurangi, atau bahkan dibuang. Tetapi sudahlah, tidak ada gading yang tak retak. Jika tidak ada disiplin untuk berhenti menulis, bisa jadi akan berlarut-larut. Dibaca ulang, diperbaiki, ditambah, dikurangi lagi, demikian seterusnya tanpa putus, tidak akan ada ujungnya. Oleh sebab itu, aku harus memaksa komputer berhenti sampai di sini saja bagi penulisan otobiografi ini. Kepada para sahabat yang

498

kuminta membaca draf ini sebelum diterbitkan, aku menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala saran yang telah diberikan, khususnya kepada Bung Haedar Nashir Ketua P.P. Muhammadiyah dan Bung Nursam, sejarawan, dari Penerbit Ombak Jogjakarta.
(Draf sementara otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 jam 20.42 di Perum Nogotirto Elok II, Jl. Halmahera D/76, dan rampung pada 28 Februari 2006 jam 10.00 di rumah sewaan Perum Nogotirto Elok II, Jl. Jawa no. 19, Jogjakarta 55292)

DAFTAR ISI
BAB Halaman

499

BUMI KELAHIRAN, IBU-BAPAK, dan SAUDARA-SAUDARAKU . . 1 A. Sumpur Kudus, Makkah Darat, dan Perdagangan . . . .

. . . . . .. B. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah . . . . . . . . . . . . Lintau . . . . II . 92

1 . .. . . . . . . . 20 34 76

C. Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P.D.R.I . . . . . . . D. Dinamika Retorika dan Muallimin Balai Tangah atau KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF . . . . . . . . A. M. Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . III . . . 108 A. Bertugas di Lombok Timur . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . IV . . 125 A. Mulai Dijodohkan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 125 B. Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah. . . . . . . . . . . . . . C. Belajar V Sambil Bekerja 150 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 156 143 108 113 B. Lombok-Sumpurkudus-Surakarta . . . . . . . . . . . . . MENITI BIDUK KEHIDUPAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . 92 104 B. Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya UJUNG TOMBAK MUALLIMIN . . . . . . . . . . . . . . . . .

MUSIBAH SILIH BERGANTI . . . . . . . . . . . . . . . . . .

500

A. Lip

ke

Padang

Bersama

Salman

(1966-1967) 156 164

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 170 VI

B. Kembali ke Jogja, Lulus S1, dan Lahirnya Ikhwan C. Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 . . . . SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN . . . . . . 175 A. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi . . . . . . . . . . . 175 B. Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran . . . . . . . . . . . . C. Chicago I: Sebelum Titik Kisar 188 195 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . VII . 214 A. Perkisaran Abad, Harapan, dan Kecemasanku. . . . . . . . . . . . . . . . . . C. Kiprahku dalam Memimpin . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . E. Sebagai Ketua P.P. Muhammadiyah, . . . . . . . . . . . . . . 319 A. Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K.K.R. . . . . . . . . 319 214 219 Muhammadiyah 235 262 1998-2005 309 B. Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago. . . . . . . . . . 181

D. Chicago II: Setelah Titik Kisar . . . . . . . . . . . . . . . BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN. . . . . . . . . .

D. Keruntuhan Rezim, Habibie, Muhammadiyah, dan Aku

VIII MASA DEPAN INDONESIA . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

501

B. Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . IX . . . . . 330 333 339 351 355 C. Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya . . . D. Komunitas Nogotirto-Trianggo. . . . . . . . . . . . . . . E. Syukuran Listrik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . AKHIRNYA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

502

GLOSSARY
Halaman 1 Makah Darek = Makkah Darat 5 Rajo = Raja 6 Syarak mangato adaik mamakai = Syarak mengata adat memakai 8 inferiority complex = rasa rendah diri penetration pacifique = masuk atau menembus secara damai parewa = preman 9 on-going process = proses yang terus berjalan 12 bacakak = berkelahi 13 babat alas = pembukaan sebuah kampong baru 15 dilomeh = diguyur gerundang = anak katak tanomeh = sutan emas 16 Muaro Sumpu = Muara Sumpur 20 Koto Ijau = Koto Hijau 21 kundang = bawa 22 jamba = makanan lengkap di atas piring besar atau talam 23 Iniak Tanahbato = Nenek Tanahbato taratak = 24 jorong = 31 puti = gelar untuk putrid yang merasa sebagai keturunan raja di Minangkabau seperti halnya gelar rajo atau sutan untuk kaum pria Tukang kampo = pengolah daun gambir untuk diambil getahnya 36 asai = kutu bubuk alit = kecil Anai-anai = rayap 38 lapuak = tua kaktuo = kakak tertua kaktuo, kakoncu, onga, udo, inyo, panggilan isteri terhadap suami 42 bermaya (Malaysia) = berhasil 52 rumah mande = rumah ibu 55 etek = bibi

503

61

62 wanita 64 67 68 71 74 76 90 91 98 99

uwo = ibu dari ibu gayek = ayah dari ibu personal achievement = raihan pribadi berfastabiqul khairat = berlomba untuk kebaikan ande = bibi onga = panggilan untuk anak kedua baik pria atau oncu = paman lading = pisau panjang olang katutuih = elang hantu ngoyo (Jawa) = tidak sabaran sumpek (Jawa) = tidak segar cigak = kera bagak = berani bersianyut = berenang dari arah hulu ke hilir jawi = sapi lan vital = semangat hidup yang perkasa Israr-e Khudi = Rahasia Pribadi batobo = sawah rancak = bagus Khath = tulisan Arab nyemeg = antara goreng dan rebus human interest = menarik secara manusiawi