Anda di halaman 1dari 2

Betapa mulianya akhlak Rasulullah, Nabi Muhammad SAW.

Beliau adalah tokoh pembaharu bagi peradaban Mekkah yang masih rendah di jamannya, khususnya bila dibandingkan dengan peradaban kuno di sekitarnya. Pada awal-awal abad Masehi, Mekkah bukanlah apa-apa, selain hanya hamparan padang pasir gersang nyaris tak bertuan. Sebagian kecil penduduk dari suku Quraish, Sulaim; Gathafan, Jusyam dan Badui, hidup dalam hukum padang pasir yang keras dan kejam, hampir-hampir tidak ada nilai-nilai kemanusiaan. Hingga suatu saat tampillah Rasulullah menjadi uswatun hasanah, penunjuk jalan bagi yang sesat, pemberi ilmu bagi yang bodoh. Rasulullah ingin agar umat di Mekkah punya kelas etika dan peradaban seperti layaknya orang-orang Yahudi, orang-orang Nasarah di Yaman dan Syria, orang-orang Nabath di Petra serta kisah tutur tentang kehebatan orang Yunani dan Romawi. Beliau juga selalu teringat pada kisah patrotisme sang kakek, Abdul Muntalib yang pernah dengan gagah berani mengalahkan pasukan gajah Gubernur Abrahah dari Yaman. Kisah itu cukup untuk membuktikan bahwa rakyat Mekkah pasti bisa bangkit menjadi bangsa yang besar dan dihormati oleh dunia. Untuk itu, orang-orang Mekkah harus diajari akhlak dan etika. Maka Rasulullah pun menyusun aturan-aturan etika dengan detail. Rasul dengan sabar mengajar hal-hal sepele, tata cara ini dan itu. Betapa sulitnya mengajari akhlak pada umat yang keras kepala dan biadab, yang hanya tahu membunuh, makan, buang air dan melakukan hubungan seksual. Tidak mudah membimbing umat yang jahiliyah yang dibesarkan dalam hukum padang pasir. Tentu Rasul harus berkreasi dan berakal dengan sedikit menyisipkan dongengdongeng yang mendidik yang diadopsi beliau dari peradaban Yahudi dan Nasarah. Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan umat memahami makna kebenaran dan moralitas. Sungguh seperti halnya seorang Bapak mengajari anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Rasululah adalah sosok pemimpin umat yang zuhud dan bijaksana. Umat di Mekkah diajari mengenal Allah, Tuhan Yang Maha Esa, umat diajari sholat dan puasa agar selalu ingat pada Allah dan dapat menahan nafsu. Jumlah istri yang dulunya tak terbatas, kemudian dibatasi dan harus memberi rasa keadilan bagi kaum perempuan. Harkat perempuan ditinggikan dengan busana burqa agar tidak diperkosa di jalan-jalan oleh para laki-laki. Berbagai dogma disusun demi keteraturan dan kesejahteraan umat. Umat bahkan diajari cara hidup yang bersih melalui wudlu, sunat, ber-siwak (membersihkan gigi), larangan buang air kecil di sembarang tempat, sampai mau tidurpun umat diajari untuk dalam keadaan bersih. Subhanallaah!! Maka apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah pun berhasil membawa rakyat Mekkah menjadi bangsa yang besar dan kuat. Dalam periode selanjutnya ajaran-ajaran Rasul ini menjadi agama tandingan bagi Yahudi dan Nasarah, yaitu agama Islam. Peradaban Islam pada masa khalifah sesudah masa Rasul berkembang begitu pesat dan menjadi kekuatan politik, militer dan ekonomi yang mendunia pada rentang abad 8 16Ms. Itulah jejak Rasulullah, Nabi Muhamamd SAW. Jejak teladan yang ditorehkan pada masanya. Tepat dan kontekstual pada jamannya. Rasul adalah pembaharu bagi sebuah peradaban yang mandeg. Ironisnya ketika roda waktu berputar, jaman terus berganti, dan

Islam telah terdampar di jaman modern hari ini, mengapa jejak pembaharuan Rasul justru terhenti. Dogma-dogma yang dulu dicetuskan oleh Rasul yang sudah tidak kontekstual masih terus ditancapkan dalam kehidupan umat Islam. Mengapa para ulama salah menangkap hakikat teladan Rasul yang sesungguhnya, yaitu teladan pembaharuan? Bukankah seharusnya Islam harus terus memperbaharui diri seiring jaman yang terus berubah dan berupaya menjadi yang terdepan dan kekinian jaman? Mengapa ajaran yang lahir dari sebuah pembaharuan, kini berubah menjadi ajaran yang mandeg dan dogmatis? Siapakah yang salah? Andaikan saja Rasulullah kembali dari akhirat dan turun ke bumi, lalu melihat kenyataan Islam hari ini, barangkali beliau akan terheran-heran. Mungkin saja beliau akan berkata: Hey, mengapa kalian para ulama masih menggunakan cara lama itu? Itu kan cocok untuk jaman saya, itu kan cocok untuk daerah saya di Mekkah dengan budaya padang pasirnya. Kalian kan hidup di jaman dan budaya kalian sendiri. Mengapa kalian tidak kreatif? Ingat jejak yang telah saya torehkan . PEMBAHARUAN!!