Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG Kelenjar timus adalah organ limfoepitelial yang terletak di mediastinum, organ ini mencapai perkembangan puncaknya semasa usia muda. Timus berfungsi sebagai limfopoiesis yang terutama terjadi selama masa fetal dan awal masa pasca lahir. Timus juga menghasilkan hubungan dengan sel retikuler epitelial untuk mengetahui antigen asing dan bila antigen ini berhubungan dengan membran glikoprotein pada permukaan sel yang ditandai dalam Major Histocakompatibility Complex (M.H.C). Glikoprotein MHC bekerja sebagai reseptor pengikat antigen yang mengaktifkan respon sel T yang tepat tehadap antigen asing yang khusus dan sel T tersebut menghasilkan sel yang mempunyai kemampuan imunologi atau kekebalan tubuh. Timus berbentuk seperti kupu-kupu berwarna abu-abu yang didalamnya berwarna merah muda. Kelenjar terletak di bawah tulang dada dan fungsi regulernya mulai aktif setelah pasca neonatal. Berdasarkan pentingnya peranan kelenjar timus dalam pertahanan tubuh, maka penulis ingin menjelaskan tentang kelenjar timus. I.2. TUJUAN a. Menjelaskan fungsi kelenjar timus b. Menjelaskan makroskopis kelenjar timus c. Menjelaskan mikroskopis kelenjar timus d. Menjelaskan perkembangan kelenjar timus

I.3. MANFAAT

Menambah wawasan dan keilmuan untuk penulis serta membantu pembaca khususnya teman-teman mahasiswa lainnya untuk memahami tentang kelenjar timus yang berada di dalam tubuh kita.

BAB II PEMBAHASAN II.1. Definisi Kelenjar Timus Kelenjar Timus adalah suatu organ limfoid simetris bilateral yang terdiri atas dua lobus berbentuk piramid, yang terletak di bagian anterior mediastinum superior. Perkembangan timus yang maksimal dicapai kirakira pada saat pubertas, dan timus kemudian mengalami suatu proses involusi pelahan digantikannya parenkim oleh jaringan lemak dan fibrosa yang lambat laun akan menurun fungsi imun pada masa dewasa (W.A Newman, 2010). II.2.Fungsi Kelenjar Timus 1. Kelenjar timus dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh terutama pada masa kanak-kanak.
2. Kelenjar timus menghasilkan limfosit atau dikenal sebagai sel T (timus),

limfosid pada dasarnya adalah sel darah putih. 3. Kelenjar timus berfungsi untuk mengendalikan pertumbuhan abnormal sel. II.3 Mekanisme Kerja Kelenjar Timus Satu kegiatan timus yang diketahui adalah limfopoiesis (pertumbuhan dan pematangan limfosit) yang terutama terjadi selama masa fetal dan awal masa pasca lahir, sel-sel plasma dan mielosit juga dibentuk dalam jumlah kecil. Timus juga menghasilkan hubungan dengan sel retikuler epitelial untuk mengetahui antigen asing dan bila antigen ini berhubungan dengan membran glikoprotein pada permukaan sel yang ditandai dalam Major Histocakompatibility Complex (M.H.C). Glikoprotein MHC bekerja sebagai reseptor pengikat antigen yang mengaktifkan respon sel T yang tepat tehadap antigen asing yang khusus dan sel T tersebut menghasilkan sel yang mempunyai kemampuan imunologi atau kekebalan tubuh. Dalam organ limfoid sel T menempati zona thymus dependent termasuk zona parakortikal limfonodus. Pada orang dewasa timus tetap merupakan

sumber limfosit kecil yang penting, terutama bila seseorang telah mengalami brkurangnya organ limfoid karena radiasi. Substansi yang berefek humoral tampaknya menembus melalui saringan kedap-sel dan bekerja sebagai pengganti timus yang paling dikenal dengan timosin. Timosin dihasilkan oleh sel retikuler epitelial dan dapat diraikan menjdi 2 fraksi glikoprotein dengan B.M. rendah. Substansi yang mematangkan sel T adalah timoprotein. Timus dipengaruhi oleh kelenjar kelamin, kelenjar adrenal, dan kelennjar tiroid. Hormon kelamin menyebabkan involusi dan tiroidektomi mempercepat involusi. Miastenia gravis adalah salah satu penyakit gangguan autoimun yang mengganggu sistem sambungan saraf (synaps). Pada penderita miastenia gravis, sel antibodi tubuh atau kekebalan akan menyerang sambungan saraf yang mengandung acetylcholine (ACh), yaitu neurotransmiter yang mengantarkan rangsangan dari saraf satu ke saraf lainnya. Jika reseptor mengalami gangguan maka akan menyebabkan defisiensi, sehingga komunikasi antara sel saraf dan otot terganggu dan menyebabkan kelemahan otot. Penyebab pasti reaksi autoimun atau sel antibodi yang menyerang reseptor acetylcholine belum diketahui. Tapi pada sebagian besar pasien, kerusakan kelenjar thymus menjadi penyebabnya. Maka itu kebanyakan si penderita akan menjalani operasi thymus. Tapi setelah thymus diangkat juga belum ada jaminan penyakit autoimun ini akan sembuh. Thymus adalah organ khusus dalam sistem kekebalan yang memproduksi antibodi. Organ ini terus tumbuh pada saat kelahiran hingga pubertas, dan akan menghilang seiring bertambahnya usia. Tapi pada orang-orang tertentu, kelenjar thymus terus tumbuh dan membesar, bahkan bisa menjadi ganas dan menyebabkan tumor pada kelenjar thymus (thymoma). Pada kelenjar thymus, sel tertentu pada sistem kekebalan belajar membedakan antara tubuh dan zat asing. Kelenjar thymus juga berisi sel otot (myocytes) dengan reseptor acetylcholine. II.4 Makroskopis Kelenjar Timus

Gambar .2.1 Makrosokopis Kelenjar Timus (Mitchell-Reece, 2004) Thymus yang terletak di atas jantung di belakang tulang dada Berbentuk seperti kupu-kupu berwarna abu-abu yang didalamnya berwarna merah muda Terletak di bagian anterior mediastinum superior Arteri pada kelenjar timus adalah arteri medula. Arteri tersebut memasuki timus melalui simpai kemudian bercabang memasuki organ bagian dalam, yang mengikuti serta jaringan ikat. Anteriol keluar untuk memasuki parenkim disepanjang perbatasan antara kortex dan medula . aretriol ini bercabang menjadi kapiler yang memasuki kortex dengan jalan melengkung dan akhirnya sampai di medula kemudian mencurahkan isinya kedalam venula. Medula disuplai oleh kapiler, yaitu cabang-cabang arteriol pada perbatasan kortex medula. Kapiler medula mencurahkan isinya kedalan venula, yang juga menerima

kapiler yang kembali ke daerah kortex. Vena medula memasuki septa jaringan ikat dan meninggalkan timus melalui simpainya. Timus tidak memiliki pembuluh limfe aferen dan tidak membentuk saringan bagi cairan limfe seperti kelenjar getah bening. Pembulu limfe terdapat pada dinding pembuluh darah dan jaringan ikat septa II.5. Mikroskopis Kelenjar Timus Kelenjar timus memiliki lobus yang dibungkus oleh suatu kapsul jaringan ikat yaitu tempat trabekula berasal. Trabekula masuk kedalam organ dan membagi kelenjar timus menjadi banyak lobulus yang tidak utuh. Setiap lobulus terdiri dari korteks yang terpulas gelap dan medula terpulas terang. Karena lobulus tidak utuh, medula memperlihatkan kontinuitas diantara lobulus yang berdekatan. Pembuluh darah masuk kedalam kelenjar timus melalui kapsul jaringan ikat dan trabekula. Korteks setiap lobulus mengandung limfosit yang tersusun padat yang tidak membentuk modulus limpoid. Sebaliknya, medula mengandung limfosit lebih sedikit tetapi mempunyai epitteiocytus reticularis yang lebih banyak. Medula juga mengandung banyak corpusculum thymicum merupakan ciri khas kelnjar timus. Histologi kelnjar timus bervariasi bergantung pada usia individu. Kelenjar timus berkembang mencapai puncaknya segera setelah lahir. Pada saat pubertas, kelenjar timus mengalami involusi atau menunjukan tanda-tanda regresi dan degenerasi secara bertahap. Akibatnya produksi limfosit menurun dan corpus culum thymicum menjadi lebih menonjol selain itu parenkim atai bagian seluler kelenjar secara bertahap digantikan oleh jaringan ikat longgar dan sel adiposa. Akumulasi jaringan adiposa dan tanda infolusi dini pada kelnjar timus bergantung pada usia individu. 1. Organ-organ limfoid yang lain : Thymus Nodus lympaticus Lien Tonsilla

1. Hubungan antara kelenjar timus dengan limfosit

Untuk memproduksi sel limfosit misalkan ada antigen yang masuk kelenjar timus akan mensekresi sel limfosit untuk melawan antigenantigen tersebut.
2. Perbedaan dan persamaan kelenjar timus dengan limfosit

Limfoit ada 2 yaitu limfoit B dan limfoit T yang berperan dalam pertahanan tubuh atau antibodi. Kelenjar timus sebagai tempat produksinya limfosit tetapi masih banyak fungsi lainnya sedangkan limfosit hanya berperan dalam antibodi.

Gambar. 2.2 Mikroskopis Kelenjar Timus (Victor P, 2010)

Gambar. 2.3 Mikroskopis Kelenjar Timus (Victor P, 2010) II.6 Perkembangan Kelenjar Timus Kelenjar timus tumbuh sebagai pertumbuhan ke ventral dari kantung bronkial ketiga. Mulanya mempunyai lumen sempit, akan tetapi segera menutup karena proliferasi sel epitelial yang membatasinya. Sel-sel epitelia berdiferensiasi dan sebagaian berubah menjadi sel retikuler epitelial pada akhir bulan kedua kehamilan. Timosit diduga berasal dari sel mesenkim yang menyebuk ke timus yang sedang berkembang. Limfosit berproliferasi cepat dan epitel berubah menjadi massa sel retikuler. Badan hassall mulai tampak selama kehidupan fatal dan terus dibentuk sampai involusi dimulai. Di duga badan hassall berasal dari sel epitelial yang mengalami hipertrofi dan yang berdegenerasi. Dengan bertambahnya usia, maka timus mengalami proses involusi fisiologik apabila produksi limfosit berkurang, korteks menipis dan perenkim sebagian besar diganti dengan jaringan lemak. Proses involusi menua normal ini dulu diduga berawal pada manusia sejak pubertas, namun kini diketahui bahwa pengurangan volume relatif perenkimnya sebenarnya dimulai sejak kanak-kanak. Pada orang dewasa timus telah berubah menjadi

massa jaringan lemak dengan sebaran pulau-pulau perenkim yang mengandung sedikit limfosit namun terdiri atas sel-sel epitelial. Pada percobaan dengan rodentia mengenai penghancuran sebagian besar limfositnya ternyata bahwa timus mempertahankan kemampuan fungsuional seumur hidup dan sanggup mendapat kembali kapasitas limifositopietik selaruhnya. Hal yang sama mungkin juga benar untuk manusia namun belum diprelihatkan. Proses involusi menua yang berangsur itu dapat dengan segera dipercepat pleh yang disebut involusi kebetulan yang dapat terjadi sebagai respons terhadap penyakit. Stres berat, radiasi ionisasi, endotoksin bakteri dan pemberian hormon adrenokortikotrofik atau steroid adrena;l dan gonad. Pada salah satu kondisi ini timus dengan cepat mengecil akibat kematian masal limfosit kecil korteks dan pembuangannyaoleh makrofag. Limfosit medula lebih tahan. Karenanya pola lobul yang biasa dengan korteks gelap dan medula pucat dapat terbaek. Involusi akut, diinduksi pada hewan percobaan diikuti regenerasi hebat dan timus dengan epat kembali ke ukurannya yang normal.

BAB III

10

KESIMPULAN

III.1. KESIMPULAN Kelenjar timus merupakan organ limfoid simetris bilateral yang terletak di bagian anterior mediastinum superior, yang mempunyai fungsi sebagai penghasil sel limfosit (antibodi), kelenjar timus terletak di dada,
yakni dalam lingkup cakra jantung. Dalam mikroskopisnya kelenjar timus berbentuk seperti kupu-kupu berwarna abu-abu yang didalamnya

berwarna merah muda. Kelenjar timus mengalami perkembangan dari awal masa kelahiran dan mengalami penurunan fungsi pada saat masa pubertas.

DAFTAR PUSTAKA

11

Dorland, W.A Newman. 2010. Kamus Kedokteran Edisi 31. EGC, Jakarta. 2244 hal Eroschenko Victor P. 2010. Atlas Histologi difiore Edisi 1, EGC, Jakarta.210-211 hal Fawcett & Bloom. 1994. Buku Ajar Histologi Edisi 12, EGC, Jakarta Http://setengahbaya.info/penyakit-miastenia-gravis.html Junqueira Luiz Carloz, Carneiro Jose. 2007. Histologi Dasar Teks dan Atlas Edisi 10. EGC, Jakarta. 261-264 hal Leeson C. Roland, Leeson S. Thomas dan Paparo A. Anthony. 1996. Buku Ajar Histologi Edisi 5. EGC, Jakarta 288-291 hal