Anda di halaman 1dari 4

KEUTAMAAN 10 HARI TERAKHIR ROMADHON,, Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi saw.

ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama: Sebab pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdoa: Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak. Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan di duga turunnya lailatul qadar, karena lailatul qadar bisa juga turun pada bulan Ramadhan secara keseluruhan, sesuai dengan firman Allah swt. Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Quran pada malam kemulyaan. (QS Al-Qadar 1) Allah swt. juga berfirman: Bulan Ramadhan,adalah bulan diturunkan di dalamnya Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda antara yang hak dan yang batil-. (QS Al-Baqarah 185) Al quran dan hadits sahih menunjukkan bahwa lailatul qadar itu turun di bulan Ramadhan. Dan boleh jadi di sepanjang bulan Ramadhan semua, lebih lagi di sepuluh terakhir Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi saw.: Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan. Pertanyaan berikutnya, apakah lailatul qadar di seluruh sepuluh akhir Ramadhan atau di bilangan ganjilnya saja? Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di

bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda: Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil. Oleh karena itu, kita rebut lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik di bilangan ganjilnya atau di bilangan genapnya. Karena tidak ada konsensus atau ijma tentang kapan turunya lailatul qadar. Di kalangan umat muslim masyhur bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ubai bin Kaab dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Akan tetapi sekali lagi tidak ada konsensus pastinya. Sehingga imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari menyebutkan, Paling tidak ada 39 pendapat berbeda tentang kapan lailatul qadar. Ada yang berpendapat ia turun di malam dua puluh satu, ada yang berpendapat malam dua puluh tiga, dua puluh lima, bahkan ada yang berpendapat tidak tertentu. Ada yang berpendapat lailatul qadar pindah-pindah atau ganti-ganti, pendapat lain lailatul qadar ada di sepanjang tahun. Dan pendapat lainnya yang berbeda-beda. Untuk lebih hati-hati dan antisipasi, hendaknya setiap manusia menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan. Apa yang disunnahkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari akhir Ramadhan? Pertama: Bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir melebihi kesungguhan pada malam-malam selainnya, dalam hal shalat, membaca Al-Quran, berdoa, dan ibadahibadah yang lainnya. Aisyah R.A menceritakan: Dahulu Rasulullah Saw jika memasuki sepuluh malam terakhir, beliau menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya, serta mengencangkan tali pinggangnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Kedua: Menegakkan shalat tarawih dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah. Nabi Muhammad Saw bersabda: Barangsiapa yang menegakkan shalat pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka pasti akan diampuni dosadosanya yang telah lalu. (HR. Al-Jamaah, kecuali Ibnu Majah).

Ketiga: Membaca doa sebagaimana yang diajarkan Nabi Saw kepada Aisyah Ra. : : : :

Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa beliau berkata: Saya berkata: Wahai Rasul, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa malam ini adalah lailatul qadar, apa yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda: Ucapkanlah: Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fafu anni. (Ya Allah, Engkau Dzat Pengampun, Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka ampunilah saya. (Ahmad dan disahihkan oleh Al-Albani) Keempat : Mandi antara Maghrib dan Isya' Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah ra.: "Rasulullah jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli) isteri-isterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya." Ibnu Jarir berkata, mereka menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam sepuluh hari terakhir. Di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar. Karena itu, dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan di dalamnya turun Lailatul Qadar untuk membersihkan diri, menggunakan wewangian dan berhias dengan mandi sebelumnya, lalu berpakaian bagus, sebagaimana hal tersebut dianjurkan juga pada waktu shalat Jum'at dan hari-hari raya. Namun, tidaklah sempurna berhias secara lahir tanpa dibarengi dengan berhias secara batin. Yakni dengan kembali (kepada Allah), taubat, dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sungguh, berhias secara lahir sama sekali tidak berguna, jika ternyata batinnya rusak. Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu. Karena itu, barangsiapa menghadap kepada Allah, hendaknya ia berhias secara lahiriah dengan pakaian, sedang batinnya dengan taqwa. Allah Ta'ala berfirman, "Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. " (Al-A'raaf: 26). Kelima :Itikaf Itikaf adalah usaha untuk senantiasa menetap di masjid disertai dengan menyibukkan

diri dengan ibadah (seperti menegakkan shalat-shalat sunnah disamping shalat lima waktu, memperbanyak membaca Al Quran, memperbanyak dzikir, doa, dan istighfar), meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat (seperti mengobrol, cerita, senda gurau dan semisalnya), dan tidak keluar dari masjid selama itikaf, kecuali bila ada keperluan yang mengharuskan untuk keluar (seperti buang hajat atau semisalnya). Aisyah radliyallahu anha berkata: Yang disunnahkan bagi orang yang beritikaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak bertaziyah, tidak menggauli dan mencumbu istrinya, serta tidak keluar dari masjid untuk sebuah kebutuhan kecuali perkara yang mengharuskan untuk keluar. Padahal dalam agama Islam, menjenguk orang sakit dan bertaziyah keduanya merupakan perkara yang sangat dianjurkan. Namun demikian, ia menjadi gugur ketika menjalankan ibadah itikaf di masjid. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perkara itikaf tersebut. Sehingga orang yang beritikaf hendaknya bersungguh-sungguh menggunakan waktunya untuk bermunajat kepada Allah Subhanallahu wa Taala. Ini merupakan sebuah sunnah (ibadah) yang perlu kita hidupkan dan semarakkan, karena hampir-hampir sunnah ini menjadi asing ditengah-tengah umat Islam. Padahal Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam selalu beritikaf di bulan Ramadhan. Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata: Dahulu Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam beritikaf pada setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari, dan pada tahun wafatnya, beliau beritikaf selama dua puluh hari. (HR. Al Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)