Anda di halaman 1dari 17

Dialek Bahasa Aceh

14 Februari 2010 M. Nabil Berri Tinggalkan komentar Go to comments Bahasa Aceh memiliki dialek yang sangat banyak. Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti jumlah dialek yang ada. Perbedaan antar dialek meliputi perbedaan bunyi huruf (fonem), kata, ungkapan, intonasi dan irama bicara, sintaksis dan sebagainya. Keragaman dialek bahasa Aceh tertinggi sepertinya terdapat di wilayah Banda Aceh ditambah Aceh Besar. Dugaan saya hal ini terjadi dikarenakan banyaknya pendatang selama masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam. Para pendatang ini pada akhirnya berbicara dalam bahasa Aceh yang tentu saja dipengaruhi oleh bahasa asli mereka. Seperti misalkan di Ul Karng, di akhir kalimat sering disertai akhiran seperti kebiasaan orang India (dugaan saya pengaruh dari India). Sampai saat ini saya belum menemukan penelitian dialek-dialek bahasa Aceh yang memuaskan, atau barangkali ada tetapi tidak dipublikasikan di internet. Karenanya saya mencoba membagi apa yang saya peroleh ini. Mudah-mudahan bermanfaat. Pendahuluan Data-data yang ada di sini saya peroleh dengan berbagai cara, ada dengan cara mendengar langsung percakapan di masyarakat dan ada pula dengan cara mewawancarai narasumber. Selain itu juga saya pergunakan sumber kamus dan hasil penelitian dialek bahasa Aceh yang telah ada sebelumnya, namun dari sumber ini tidak begitu banyak data yang saya peroleh. Sumber tertulis yang saya pakai: 1. Kamus Bahasa Aceh Indonesia. Aboe Bakar, Budiman Sulaiman, M. Adnan Hanafiah, Zainal Abidin Ibrahim, Syarifah H.. 2001. Jakarta. Balai Pustaka 2. Kamus Umum Indonesia Aceh. M. Hasan Basri. 1995. Jakarta. Yayasan Cakra Daru 3. Penelitian Dialek Daya 4. Penelitian Dialek-dialek Bahasa Aceh. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 5. A Contextual Grammar of Acehnese Sentences (disertasi). Abdul Gani Asyik. 1987. The University of Michigan Penting untuk saya beritahukan bahwa tidak semua kata dari dialek-dialek yang saya sebutkan di bawah ini pernah saya dengar. Untuk contoh, pada dialek Lam Panah, Aceh Besar. Data yang saya peroleh hanya 2 yaitu: Umu Dialek m Lain Melayu

SarSaray Ul Ulay

Nama daerah Kepala

Melihat pola di atas, maka saya cantumkan pula kata-kata lain yang berpola sama. Umu Dialek m Lain Ab Abay Baj Bajay Lak Lakay Sab Sabay dll Mela yu Abu Baju Minta Sabu

Kemudian, setiap keterangan misalkan: Dialek 1 : Banda Aceh dan sekitarnya Dengan keterangan di atas saya bukan ingin mengatakan bahwa dialek 1 tersebut hanya mencakup Banda Aceh. Boleh jadi ada dialek-dialek lainnya yang termasuk. Namun data yang saya peroleh berasal dari daerah tersebut. Kemudian, walaupun sekarang ini dikenal bahwa dialek-dialek di Banda Aceh dan sebagian Aceh Besar tidak mengucapkan bunyi //, namun saya masih tetap menuliskannya mengingat Kamus Bahasa Aceh Belanda yang ditulis oleh Hoessein Djajadiningrat yang mendasarkan pada dialek Banda Aceh mencantumkan bunyi //. Pengecualian hanya pada pembahasan mengenai hilangnya bunyi // pada dialek Banda Aceh dan sebagian Aceh Besar sekarang. Berikut adalah perbandingan kata-kata antara berbagai dialek bahasa Aceh. Bunyi Hidup (Vokal) 1 Bunyi /a/, /ea/, /e/ dan /a/. Contoh : Umu m Ba Hana Na Ka Diale Diale Diale Melay k1 k2 k3 u Bea Be Ba Bawa Hanea Hane Hana Tidak ada Nea Ne Na Ada Kea Ke Ka Sudah

Sebenarnya tidak ada bunyi /a/ murni dalam bahasa Aceh (kecuali barangkali pada dialek Bireun). Bunyi /a/ selalu disusupi bunyi/e/ sebelumnya dalam berbagai derajat, mulai yang paling sedikit sampai yang jelas /ea/. Dialek 1 : Mon Tasik dll

Dialek 2 : Banda Aceh, Lam Panah Dialek 3 : Leupung, Pulo Ach (Aceh Besar) Hana (tidak ada), ada yang mengucapkannya haneu seperti di sebagian Lam No. 2. Bunyi /e/ dan // Contoh : Dialek Lain : Banda Aceh dan sekitarnya Dialek lain : Banda Aceh dan sekitarnya Umum Bet Beuet Bret Chet Hey Le Len Let Rhet Taket Tet Dialek Lain Melayu Bt Cabut Beut Angkat Brt Ct Hy Panggil L Banyak Ln Padam Lt Cabut Srt Jatuh Takt Takut Tt Bakar

3. Bunyi /eu/ dan /u/ Contoh : Umum Dialek Mela Lain yu Eungkho Ungkho Pukul Eungkt Ungket Ikan Beungh Bungh Marah Keubah Kubah Simpa n Keud Kud Kedai Leubh Lubh Lebih Peugah Pugah Bilang Seuum Suum Panas Teubit Tubit Keluar Teumok Tumok Cedok Teut Tut Lutut Dialek lain : dialek Pidi dan Seulimeum. 4. Bunyi /i/ dan // Contoh: Umum Bri Dialek Lain Br Melayu Beri

Cit Euncit Gaki Kri * Pakri * Meukri * Tukri

Ct Eunct Ak Kr * Pakr

Juga Bekas Kaki Cara * Bagaimana

* Meukr * tidak ada * Tukr padanan * Tahu bagaimana

Ri * Meuri * Siri * Turi

R * Sir * Tur

Mana * Yang mana * Tahu mana

* Meur * Tampak

Dialek Lain : Banda Aceh, Aceh Besar, Lam No 5. Bunyi /u/ dan /eu/ Contoh : Umum Dialek Melay Lain u Kureusi Keurusi Kursi Meukeusu Meukuseu Maksu t t d Rimung Rimeung Harim au Umpeun Eumpeu Umpan n Dialek Lain : Pidi 6. Bunyi /eu/ dan /i/ Contoh : Umum Gitok Jingeuk Rijang Rincng Rinyah Rinyeun Dialek Lain Geutok Ceungeuk Reujang Reuncng Reunyah Reunyeun Melayu Getok Jenguk Cepat Rencong Becek Tangga

Dialek Lain : Banda Aceh dan sekitarnya 7. Bunyi // dan //

Contoh : Umu Dialek m Lain Gt Gt Kant Kant KeumKeumt t Keuny Keunyt t Lt Lt Seutt Seutt Khng Khng Mela yu Baik Kuali

Muat Ikut Saja

Dialek Lain : Banda Aceh dan sekitarnya 8. Bunyi // hilang Contoh : Acuan/Sta ndar Blo Deuk Klik Pluk Pulik Sulik Weu Dialek Lain Blo Deuk Klik Pluk Pulik Sulik Weu Melay u Beli Lapar Teriak Kupas Kupas Kupas Kanda ng

Dialek Lain : Banda Aceh, sebagian Aceh Besar, sepertinya juga di pesisir barat dan selatan Aceh. Di Aceh Besar, mulai dari Keumireu sampai perbatasan Pidi memiliki bunyi // Keterangan: Bahasa Aceh asli memiliki bunyi //. Saya tidak tahu apakah bunyi // memang sejak dari dulu tidak terdapat di Banda Aceh dan sebagian Aceh Besar atau hilangnya baru terjadi di kemudian hari. Hal ini dikarenakan Kamus Bahasa Aceh Belanda yang disusun oleh Hoessein Djajadiningrat yang mendasarkan pada dialek Banda Aceh mencantumkan bunyi ini. Saya menduga salah satu penyebab hilangnya bunyi // di Banda Aceh dan sebagian Aceh Besar karena penduduk di kedua daerah tersebut berbicara dengan cepat, sehingga bunyi // yang memperlambat pelan-pelan lenyap. Kini bunyi // semakin terancam kepunahannya terutama di kalangan generasi muda. Gabungan Bunyi 1. Bunyi // dan /o/

Contoh : 2. Bunyi /ay/ dengan /a/ (IPA: ) Contoh : Dialek lain : Sebagian kecamatan Mon Tasik. 3. Bunyi // dengan /ay/ Contoh : Umu Dialek m Lain Ab Abay Baj Bajay Lak Lakay Sab Sabay SarSaray Ul Ulay Melayu Abu Baju Minta Sabu Nama daerah Kepala Diale Diale k1 k2 lia Olia Dsa Dosa Sda Sodar Umu Dialek ra a m Lain BantaBanta y Kapa Kapa y Sapa Sapa* y Melay u Aulia Dosa Sauda Mela ra yu Bantal Kapal Lenga n

Dialek lain : Lam Teuba, Lam Panah, Leungah (Aceh Besar). 4. Bunyi // dengan /y/ Contoh : Umu Dialek m Lain Ab Aby Baj Bajy Lak Laky Sab Saby SarSary Ul Uly Melayu Abu Baju Minta Sabu Nama daerah Kepala

Dialek lain : suatu daerah di Pidi (dugaan saya) 5. Bunyi /eu/ dan /u/ Contoh : Umum Dialek Lain Melayu Peu Pu Apa

Dialek lain : Bireuen, Pas, Peureulak dan Meulabh 6. Bunyi /o/, /oy/*, /ay/, // dan /ow/** Contoh : Umu Diale Diale m k1 k2 Ano Anay An Aso Asay As Blo Blay Bl Kamo KamayKam LakoLakay Lak Diale Diale Melayu k3 k4 Anoy Anow Pasir Asoy^ Asow Isi Bloy^ Blow Beli KamoyKamo Kami ^ w Lakoy Lakow Suami ^ (Laki) Mano Manay Man Manoy Mano Mandi ^ w So Say S Soy^ Sow Siapa Dialek 1 dan 2 adalah dialek Daya. Dialek ini dipakai di kecamatan Jaya, kabupaten Aceh Jaya walaupun tidak semua penduduknya memakai dialek ini terutama di pesisir karena mendapat pengaruh dialek-dialek bahasa Aceh lainnya. Dialek 3 : Pulo Weh. Dialek 4 : Lam Panah, sebagian Pidie, Sama Tiga *) Saya peroleh dari nama salah satu desa di pulo Weh yaitu Anoy Itam. **) Saya ragu apakah /ow/ atau /aw/. Perlu penelitian ulang. Menurut Tgk. Hasmahdi alias Abi Azkia dari Lam Lo, Pidi adalah /ouw/. ^) Mengikuti pola anoy. 7. Bunyi /o/ dan /u/ Contoh : Umu Dialek m Lain 8. Bunyi /H/ dan /Hi/ Buno Bunu Contoh : Jino Jinu Umu Dialek H = Bunyi hidup/vokal m Lain Mano Manu Dialek Lain : Pidi Blah Blaih (sekarang), Seulimeum. Brh Brih Deuh Deuih Keterangan: Reut Reutih Bahasa Aceh asli memiliki bunyi /Hi/. Saya h Uth Utih tidak tahu apakah Dialek lain : Teunom[1] Melay u Tadi Sekara Melayu ng Mandi Belas Sampah Tampak Ratus Ahli, Tukang

bunyi /Hi/ memang sejak dari dulu tidak terdapat di Banda Aceh dan sebagian Aceh Besar atau hilangnya baru terjadi di kemudian hari. Hal ini dikarenakan Kamus Bahasa Aceh Belanda yang disusun oleh Hoessein Djajadiningrat yang mendasarkan pada dialek Banda Aceh mencantumkan bunyi ini. Juga seperti yang ditemui oleh Mark Durie ketika meneliti bahasa Aceh. Saya menduga salah satu penyebab hilangnya bunyi /Hi/ di Banda Aceh dan sebagian Aceh Besar karena penduduk di kedua daerah tersebut berbicara dengan cepat, sehingga bunyi /Hi/ yang memperlambat pelan-pelan lenyap. Kini bunyi /Hi/ semakin terancam kepunahannya terutama di kalangan generasi muda. Bunyi Mati (Konsonan) 1. Bunyi /b/ dan /g/ di awal hilang. Hal ini hanya bila huruf awal suku kata kedua juga sama atau hampir sama. Contoh : Acu Diale an k 2 Baba Abah h Bub Ub Mela yu Mulut Sebes ar Kaki

Gaki Aki, Ak Gigo Igo Gigi Guk Uk Kuku Contoh : Dialek 1 Ceunge uk Cupak Contoh: Umu Dialek m Lain Camc Tamca a Cicak Ticak Diale k2 Jingeu k Jupak

2. Bunyi /c/ dengan /j/ Mela yu Intip Cupak

3. Bunyi /c/ dengan /t/ Melay u Sendo k Cecak

Cic Ticm m Cincu Tincu Cuco Tuco^ Cuc Tuc^

Burun g Runci ng Cucu Bilas

Dialek Lain : Seulimeum, Pidi* ^) Dugaan saya mengikuti pola. *) Sepertinya 4. Bunyi /h/ hilang. Contoh : Umu Dialek m Lain Chet Ct Chit Cit KhmKm Khin King g Melay u Juga Tertaw a Bau

Dialek Lain : Banda Aceh 5. Penambahan bunyi /h/ Contoh : Umu m Cok Dok Mano Mu Dit, Mit Dialek Lain Chok* Dhok Ma-nho Mhu Nhit Mela yu Ambil Mandi Tanda n Sediki t

Dialek Lain : Blang Bintang, Mon Tasik *) Piyeung 6. Bunyi /k/ dengan /t/[2] Contoh: Umu Dialek m Lain Adak Adat Melay u Andaik an

Bak

Bat

Pada

Dialek Lain : Banda Aceh dan sekitarnya 7. Bunyi /m/, /n/, /ng/ di akhir kata diucapkan tidak sempurna, Maksud tidak sempurna di sini ialah ketika diucapkan bunyi-bunyi tersebut mulut tidak tertutup rapat, tetapi terbuka sedikit (peugah haba hana tp babah). Sebagai tanda saya beri garis bawah pada ketiga bunyi tersebut menjadi /m/, /n/ dan /ng/. Contoh: Umu Diale Diale Melay m k1 k2 u Lam Lang Lam Di dalam Nam Nang Nam Enam Nyan ? An Itu Dialek 1 : Khas Kecamatan Simpang Lh (Aceh Besar). Dialek 2 : Kecamatan Darul Kamal (Aceh Besar), desa Grt (Indrapuri). Juga beberapa daerah lainnya di Aceh Besar dan Banda Aceh. 8. Bunyi /m/, /n/ dan /ng/ saling bertukar Contoh: Umu Dialek m Lain Kuyu Kuyum n Lam Lang Melayu

Jeruk nipis Di dalam Nam Nang[3] Enam Dialek Lain : Contoh : Umu Dialek Melayu m Lain Rayek Ghayek Besar Ramb GhambtRambut t an Sira Tigha Garam Bunyi /gh/ yang saya maksudkan di sini adalah bunyi pada anak tekak (uvular). Berhubung kesulitan lambang, saya pakai /gh/, lebih kurang seperti bunyi huruf ghayn walau sebenarnya tidak sama. Pengucapan bunyi /gh/ juga berbeda-beda antara berbagai dialek. Si Brh, Simpang Lh (Aceh Besar). 9. Bunyi /r/ dan /gh/

Dialek Lain : Banda Aceh, Lam Bar, Krung Raya, 10. Bunyi /s/, /ts/ dan /t/. Contoh : Umu m Sa Sibu Gisa Diale Diale k1 k2 Tsea Te Tsibu Tibu Gitsea Gite Melay u Satu Siram Kemb ali

Sebenarnya tidak ada bunyi /s/ murni dalam bahasa Aceh. Gambaran yang paling cocok untuk bunyi /s/ dalam bahasa Aceh adalah seperti bunyi /ts/ pada bahasa Arab. Semua bunyi /s/ memiliki susupan bunyi /t/ di awalnya dalam berbagai tingkat. Mulai dari paling sedikit susupannya seperti pada dialek Bireuen sampai yang hampir hilang bunyi /s/-nya seperti pada dialek Banda Aceh. Dengan alasan kemudahan saja penulisannya memakai huruf /s/. Dialek 1 : Sebagian Aceh Besar, pesisir barat-selatan Aceh* Dialek 2 : Banda Aceh, sebagian Aceh Besar Bunyi /t/ pada kata-kata pada dialek 2 sebenarnya bukan bunyi /t/ murni (bedakan dengan bunyi /t/ asli pada bahasa Aceh) tetapi memiliki susupan bunyi /s/ juga tetapi sangat sedikit (mungkin 10 %), sedangkan bunyi /ts/ susupannya lebih kurang 50 %. Untuk kemudahan saya pakai huruf /t/. *) Dugaan saya 11. Bunyi /ch/, /c/, /sy/ dan /s/. Contoh: Dialek 1 Diale k2 Chit Cit Chdara Cda (?) ra Contoh : Dialek Diale 3 k4 Syit Sit Syda Sda ra ra Melay u Juga Sauda ra

12. Bunyi rangkap /rh/ dan /sr/[4]

Dialek Lain : Banda Aceh dan sekitarnya 13. Bunyi /n/ dan /l/ Contoh : Dialek 1 Jeunam Meunasah Meunint Meunisan Nawah Numb Seunanyan Dialek 2 Jeulam Meulasah Meulint Meulisan Lawah Lumb Seulanyan

Dialek 2 : Bireun dst sampai Langsa*, Seulimeum

Umu Dialek m Lain Rhah Srah Rhak Srak Rhap Srap Melayu Rhat Srat Mahar RhngSrng Mushalla RheuSreu Menantu RhipSrip Manisan Rhit Srit Jarak Sroh Rhoh (batang) Nomor Senin Rhom Srom Rhon Sron RhngSrng

Melayu Cuci Naik (kasar) Harap Rajut Putar Serai Hirup Turun Tumbuk (padi) Lempar (sejenis) Kapak Memasukka n Ribut Tenun Jatuh Angkat

*) Dugaan kuat saya, Rhop Srop karena sebagian kata- Rhk Srk kata di atas memang Rhet Srt pernah saya dengar, Rhu Srung tetapi belum ng semuanya. Untuk Rhuy Sruy Berdiri dialek Seulimeum yang (bulu) masih saya duga adalah: jeulam, meulasahdan lawah. Mengapa saya masukkan karena saya melihat pola yang sama. 14. Bunyi /r/ di akhir kata asal, hilang atau menjadi /y/ Lihat Bahasa Aceh Dialek Seulimeum. Mohon tanggapannya dari orang-orang Aceh terutama dari dialek yang bersangkutan. Apabila ada kekeliruan harap segera diberitahukan. Berikut adalah nama-nama narasumber yang saya wawancarai dan saya memperoleh banyak data. Namun demikian masih banyak lagi narasumber lainnya yang tidak bisa saya sebutkan di sini dikarenakan data yang saya peroleh hanya sedikit. Nama-nama di bawah ini bukanlah satu-satunya narasumber dalam dialek tertentu, karena seperti yang saya sebutkan sebelumnya saya banyak mendengar langsung percakapan di masyarakat mulai dari penjual ikan, pedagang, petani dan masih banyak lagi yang tentunya saya tidak kenal. Saya sebutkan di sini sebagai bentuk penghargaan saya kepada mereka semua. 1. Nila Kesumawati (Seulimeum) 2. (Alm) Mawardi Mohd. Ali (Piyeung, Mon Tasik)

3. Ramly Ganie (Seulimeung) 4. Zainal Abidin/Yah Ck (Seulimeung) 5. Teuku Anwar Amir (Seulimeung) 6. Hidayatullah (Lubok, Aceh Besar) 7. Taufiqurrahman (Lubok, Aceh Besar) 8. Saiful Hadi (Pidie) 9. Bedi Andika (Banda Aceh) 10.Fadli Rais (Peureumbeu, Meulabh) 11.Busyairi Umar (Lam No) 12.Bukhari (Lam Bung, Banda Aceh) 13.Cut Munandar (Lhong Raya, Banda Aceh) 14.M. Daud AK (Darul Imarah, Aceh Besar) 15.Hidayat (Laweung) 16.dll Untuk bentuk pdf bisa dilihat di sini: Dialek Bahasa Aceh [1] Keterangan dari Fadli Idris dari Peureumbeu, Meulabh [2] Saya peroleh dari M. Daud AK (Kuta Karang, Darul Imarah) dan Cut Munandar (Lhong Raya). Juga dari kamus. [3] Keterangan dari Cut Rizki. Orang tuanya berasal dari kecamatan Simpang Lh, Aceh Besar. [4] Dari kamus

Like this:
Suka 3 bloggers like this post. Categories: Artikel Tag:Dialek Bahasa Aceh Komentar (11) Lacak Balik (1) Tinggalkan komentar Lacak balik 1.

abiazkia 18 Februari 2010 pukul 1:22 am | #1 Kutip Memang lthat dialk atawa logat tut ureung Ach, di dairah kamo di Pidie mantong, na meumacam ragam dialeg nyan, tut urung dairah Gart meubida ngon Urung Tiro. Ladm na nyang khun Crh, na cit nyang peugah Crih. :_ (crh=Goreng). Turam;bagah:tajam:reujang:rijang, nyoe ek na saban makna jih? 2. M. Nabil Berri 18 Februari 2010 pukul 7:46 pm | #2 Kutip Bagaimana perbedaan antara dialek Garot dengan Tiro? Kalau yang mengucapkan croih, reutoih, balaih dst, itu di mana saja daerahnya? Pada Kam, 18 Feb 2010 01:22 ICT 3. Abi Azkia 18 Februari 2010 pukul 9:42 pm | #3 Kutip Pada dasarnya tidak ada perbedaan besar pada pengucapan kata-kata tersebut, cuma ada sedikit berlainan, beda-beda tipis mungkin. Misalnya kata crih, reutih, balaih. Ada Ucapan sebagian masyarakat kawasan Tiro, Beureunuen mengucapkannya crisy, reutisy, balaisy. Seperti ada mati ,kalau istilah belajar ngaji. Sementara di daerah Garot, crih, reutih, balaih atau balah. Tapi pada umumnya di Pidie, sering mengucapkan crih, reutih, balaih atau crh, reuth, balah. Sebagian orang daerah Garot ada mengucapkan kata baro dengan ucapan Barauw, lebih berbunyi auw akhirnya, sementara daerah lain tetap mengeja baro. Begitu juga terjadi pada kata-kata rib, jil, mal, di Garot lebih cenderung berbunyi i ujungnya.

Itulah sekelumit yang saya dapati, bila ini merupakan kesalahan, mohon kepada kawan-kawan lain yang lebih mengetahui untuk memperbaikinya. Wassalam. 4. M. Nabil Berri 19 Februari 2010 pukul 1:44 am | #4 Kutip Sabah raya (terima kasih banyak) Abi Azkia! Sebuah informasi yang sangat berharga! Harapan saya ini dapat memicu seluruh orang Aceh agar mau menulis tentang dialek bahasa Aceh di daerahnya masing2 dan menerbitkannya di internet. Selama ini info2 spt ini hnya diketahui oleh orang setempat, tp kini semua org menjadi tau. Ayo kita ungkap lagi keunikan bahasa Aceh! Masih banyak lg daerah2 yg blm terungkap, mulai dari Tamiang hingga Trumon. Pada Kam, 18 Feb 2010 21:42 ICT 5. Abi Azkia 19 Februari 2010 pukul 10:45 am | #5 Kutip Saban-saban, Nabil. 6. M. Nabil Berri 24 Maret 2010 pukul 1:08 pm | #6 Kutip @ Abi Azkia, Abi, saban-saban peue nyo bahsa Aceh aseuli? 7. Abiazkia 8 April 2010 pukul 10:09 pm | #7 Kutip

Saban-saban Na teudeunge-deunge inoe dairah kamo. Mungkn geulanto takheun sama-sama. Sama=saban. 8.

henghulee 10 November 2010 pukul 10:14 pm | #8 Kutip wahhhnyangkeuh nyoe yang kuperle, djeut meurono bahasa aceh, teurimeung genasehhhhhhhhhhhh that 9. kismullah@yahoo.com 30 November 2010 pukul 11:26 am | #9 Kutip Cut bang, lon Kismullah teungeh jak sikula cit nyo, reuncana neuk beuet linguistik cit. Teuman na lon ngieng na padum boh sumber2 tertulis droeneuh di ateuh, termasuk penelitian dialek daya, kiban cara jeut lon baca tulisan nyan? dialek di leupueng na so kaji ka, peukeuh na termasuk lam dialek daya? 10. M. Nabil Berri 30 November 2010 pukul 4:51 pm | #10 Kutip @ Kismullah/ Penelitian tentang Dialek Daya saya temukan di perpustakaan Unsyiah. Penulisnya saya tidak ingat lagi. Penelitian sudah lama dilakukan sekitar tahun 1970-an kalau saya tidak salah. Mengenai Dialek Leupueng saya tidak tahu apakah sudah ada yang meneliti atau belum. Saya pikir Anda yang lebih tahu karena Anda kuliah di linguistik. Sudah dihubungi FKIP Bahasa Unsyiah dan Balai Bahasa Banda Aceh? 11. Anonymous

21 November 2011 pukul 9:33 am | #11 Kutip apa maksud iyq kt liat malingsit pst bertekuk lutut tlong translate dlm bhasa melayu