Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Hutan Bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempattempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di telukteluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran tadi yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi. Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika. Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungaisungai besar. Yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

Hutan Mangrove yang tumbuh karena dipengaruhi pasang air laut ini, sering juga kita menyebutnya dengan hutan bakau yang sebenarnya kurang tepat, karena bakau, dari keluarga Rhizophora itu sendiri adalah hanya salah satu dari sekian jenis yang tumbuh diekosistem hutan Mangrove ini adalah tipe hutan yang berkarakteristik unik, mengingat didaerah payau ini berpadu 4 ( empat ) unsur biologis penting yang fundamental, yaitu daratan, air, pepohonan, dan fauna. Bahwa kemudian kita harus sangat perlu menjaganya agar lestari, bukan saja karena hal keunikan serta rumit sistem alamnya tersebut, namun juga peranan hutan Mangrove yang begitu penting untuk kehidupan manusia, di antaranya sebagai pelindung pantai dari abrasi, melindungi penduduk didaratan dari serangan ombak laut/tsunami dan angin, menyaring pencemaran laut, mencegah perembesan air laut kedaratan yang dapat memengaruhi kesuburan lahan pertanian dan mencampuri sumur air tawar sehingga tidak dapat dikonsumsi manusia, tempat asuhan ( nursery ground ) ikan, kepiting, kerang dan udang dari hasil berkembang biaknya para induk, tempat budi daya tambak ikan bandeng, udang dan buaya, serta bisa sebagai tempat rekreasi pantai, semacam Ancol atau Disneyland.

Gambar 1.hutan mangrove di tepi pantai Kerusakan hutan tropis yang terjadi di berbagai negara di dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun dan bahkan dalam dua atau tiga decade yang akan datang diperkirakan akan mengalami ancaman kepunahan yang disebabkan karena penebangan liar (illegal logging), pengalihan fungsi lahan, eksploitasi hutan yang berlebihan, dan lain-lain. Sehingga pada awal tahun 1990-an para ahli

lingkungan dari seluruh dunia mengadakan pertemuan di Rio de Jenero, Brasil yang pada intinya membahas mengenai langkah dan strategi yang harus dilakukan untuk melestarikan alam termasuk juga upaya mengurangi laju kerusakan atau penyelamatan hutan tropis tersebut. Di Indonesia, laju kerusakan hutan mencapai 2,8 juta hektar per tahun dari total luas hutan yaitu seluas 120 juta hektar yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Dari total luas hutan tersebut, sekitar 57 sampai 60 juta hektar sudah mengalami degradasi dan kerusakan sehingga sekarang ini Indonesia hanya memiliki hutan yang dalam keadaan baik kira-kira seluas 50% dari total luas yang ada. Kondisi semacam ini apabila tidak disikapi dengan arif dan segera dilakukan upaya-upaya penyelamatan oleh pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia maka dalam jangka waktu dua dasawarsa Indonesia akan sudah tidak memiliki hutan lagi (Mangrove Information Center, 2006). Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia mencapai 25% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia (18 juta hektar) yaitu seluas 4.5 juta hektar atau sebanyak 3,8 % dari total luas hutan di Indonesia secara keseluruhan. Sedikitnya luas hutan mangrove ini mengakibatkan perhatian Pemerintah Indonesia terhadap hutan mangrove sangat sedikit juga, dibandingkan dengan hutan darat. Kondisi hutan mangrove juga mengalami kerusakan yang hampir sama dengan keadaan hutan-hutan lainnya di Indonesia (Mangrove Information Center, 2006). Penebangan hutan baik hutan darat maupun hutan mangrove secara berlebihan tidak hanya mengakibatkan berkurangnnya daerah resapan air, abrasi, dan bencana alam seperti erosi dan banjir tetapi juga mengakibatkan hilangnya pusat sirkulasi dan pembentukan gas karbon dioksida (CO2) dan oksigen O2 yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Kebanyakan orang (khususnya para pengusaha yang memperjualbelikan hasil kayu hutan, investor yang mengembangkan usahanya dengan menebang hutan dan digantikan dengan tanaman lainnya seperti kelapa sawit atau menggantinya dengan usaha lain seperti tambak, dan oknum pejabat yang mengeluarkan izin untuk penebangan kayu di hutan) menutup mata dan sama

sekali tidak merasa bersalah dan berdosa terhadap bencana-bencana alam yang sudah, sedang dan akan terjadi sehubungan dengan kegiatan yang mereka lakukan. Miskinnya keperdulian dan kesadaran terhadap lingkungan bagi orangorang tersebut harus ditingkatkan secara khusus di era yang sedang gencargencar membicarakan tentang global warming karena model pendidikan lingkungan yang biasanya dilakukan sudah tidak mampu lagi untuk menyadarkan manusia-manusia serakah tersebut yang cendrung mengkorbankan kepentingan orang banyak demi kepentingan pribadi dan keluarganya. Dapat diyakini bahwa orang tersebut memiliki kontribusi yang banyak terhadap global warming yang terjadi sekarang ini sehingga mereka sepantasnya mendapatkan ganjaran yang setimpat atas perbuatannya. Berani dan mampukah aparat penegak hukum di Indonesia untuk menindak tegas para oknum ini demi keselamatan dan keberlangsungan alam serta kepentingan dan kelangsungan hidup manusia di Indonesia dan dunia? Keberadaan hutan mangrove sebagai sebuah kawasan yang bisa menyerap gas buang dan menekan jumlah gas rumah kaca yang terlepas ke atmosfer memang tidak perlu disangsikan lagi. Sebagai salah satu daerah yang masih cukup luas wilayah hutan mangrovenya, Bali mestinya bisa mempertahankan luasan itu, bahkan bila perlu menambah luasannya jika melihat kondisi yang ada saat ini. Akan tetapi luas hutan bakau terus berkurang setiap saat dikarenakan aktivitas manusia yang menebang dan merusak hutan mangrove dengan seenaknya padahal hutan mangrove merupakan salah satu bagian dari ekosistem bagi flora dan fauna tertentu. Merusak hutan mangrove berarti juga merusak keseimbangan alam yang tidak hanya berakibat kepada flora dan fauna tetapi juga kepada manusia itu sendiri.

Gambar 2. hutan mangrove di wilayah Indonesia

Gambar 3. Jenis tanaman hutan mangrove

Berdasarkan uraian latar belakang diatas penulis tertarik mengambil judul makalah tugas akhir mata kuliah Ilmu Kelaman Dasar Peran Serta Masyarakat Terhadap Pelestarian Hutan Bakau. 1.2. Perumusan Masalah Bagaimana mengurangi kerusakan hutan mangrove dengan peran serta masyarakat. 1.3. Batasan Masalah Penulis membatasi masalah dalam hal pemberdayaan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan hutan bakau diwilayah Indonesia. 1.4. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Menggerakkan masyarakat agar mau melestarikan hutan mangrove. 2. Menyelamatkan populasi flora dan fauna yang berhabitat di hutan mangrove 3. Menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya ekosistem hutan mangrove dalam kehidupan manusia. 4. Menyadarkan masyarakat untuk selalu menjaga keseimbangan lingkungan hidup. 1.5. Manfaat Penulisan Manfaat dari kelestarian hutan mangrove adalah : 1. Melindungi hutan mangrove beserta flora dan fauna yang ada didalamnya. 2. Mencegah terjadinya abrasi pada pantai-pantai diwilayah Indonesia. 3. Mengurangi efek dari polusi udara dan pelepasan gas buang yang berbahaya. 4. Meningkatkan kualitas hidup manusia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pemahaman Tentang Pentingnya Hutan Mangrove Ekosistem hutan mangrove memberikan banyak manfaat baik secara tidak langsung (non economic value) maupun secara langsung kepada kehidupan manusia. Beberapa manfaat yang tidak langsung sebagai konsumsi manusia antara lain adalah: A. Menumbuhkan pulau dan menstabilkan pantai. Salah satu peran dan sekaligus manfaat ekosistem mangrove, adalah adanya sistem perakaran mangrove yang kompleks dan rapat, lebat dapat memerangkap sisa-sia bahan organik dan endapan yang terbawa air laut dari bagian daratan. Proses ini menyebabkan air laut terjaga kebersihannya dan dengan demikian memelihara kehidupan padang lamun (seagrass) dan terumbu karang. Karena proses ini maka mangrove seringkali dikatakan pembentuk daratan karena endapan dan tanah yang ditahannya menumbuhkan perkembangan garis pantai dari waktu ke waktu. Pertumbuhan mangrove memperluas batas pantai dan memberikan kesempatan bagi tumbuhan terestrial hidup dan berkembang di wilayah daratan. Akar pohon mangrove juga menjaga pinggiran pantai dari bahaya erosi. Buah vivipar yang dapat berkelana terbawa air hingga menetap di dasar yang dangkal dapat berkembang dan menjadi kumpulan mangrove di habitat yang baru. Dalam kurun waktu yang panjang habitat baru ini dapat meluas menjadi pulau sendiri. B. Menjernihkan air. Akar pernafasan (akar pasak) dari api-api dan tancang bukan hanya berfungsi untuk pernafasan tanaman saja, tetapi berperan juga dalam menangkap endapan dan bisa membersihkan kandungan zat-zat kimia dari air yang datang dari daratan dan mengalir ke laut. Air sungai yang mengalir dari daratan seringkali membawa zat-zat kimia atau polutan. Bila air sungai melewati akarakar pasak pohon api-api, zat-zat kimia tersebut dapat dilepaskan dan air yang terus mengalir ke laut menjadi bersih. Banyak penduduk melihat daerah ini

sebagai lahan marginal yang tidak berguna sehingga menimbunnya dengan tanah agar lebih produktif. Hal ini sangat merugikan karena dapat menutup akar pernafasan dan menyebabkan pohon mati. C. Mengawali rantai makanan. Daun mangrove yang jatuh dan masuk ke dalam air. Setelah mencapai dasar teruraikan oleh mikro organisme (bakteri dan jamur). Hasil penguraian ini merupakan makanan bagi larva dan hewan kecil air yang pada gilirannya menjadi mangsa hewan yang lebih besar serta hewan darat yang bermukim atau berkunjung di habitat mangrove. D. Melindungi dan memberi nutrisi. Akar tongkat pohon mangrove memberi zat makanan dan menjadi daerah nursery bagi hewan ikan dan invertebrata yang hidup di sekitarnya. Ikan dan udang yang ditangkap di laut dan di daerah terumbu karang sebelum dewasa memerlukan perlindungan dari predator dan suplai nutrisi yang cukup di daerah mangrove ini. Berbagai jenis hewan darat berlindung atau singgah bertengger dan mencari makan di habitat mangrove. E. Manfaat bagi manusia. Masyarakat daerah pantai umumnya mengetahui bahwa hutan mangrove sangat berguna dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pohon mangrove adalah pohon berkayu yang kuat dan berdaun lebat. Mulai dari bagian akar, kulit kayu, batang pohon, daun dan bunganya semua dapat dimanfaatkan manusia. Beberapa kegunaan pohon mangrove yang langsung dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari antara lain adalah: F. Tempat tambat kapal. Daerah teluk yang terlidung seringkali dijadikan tempat berlabuh dan bertambatnya perahu. Dalam keadaan cuaca buruk pohon mangrove dapat dijadikan perlindungan dengan bagi perahu dan kapal dengan mengikatkannya pada batang pohon mangrove. Perlu diperhatikan agar cara tambat semacam ini tidak dijadikan kebiasaan karena dapat merusak batang pohon mangrove yang bersangkutan.

G. Obat-obatan. Kulit batang pohonnya dapat dipakai untuk bahan pengawet dan obatobatan. Macam-macam obat dapat dihasilkan dari tanaman mangrove. Campuran kulit batang beberapa species mangrove tertentu dapat dijadikan obat penyakit gatal atau peradangan pada kulit. Secara tradisional tanaman mangrove dipakai sebagai obat penawar gigitan ular, rematik, gangguan alat pencernaan dan lainlain. Getah sejenis pohon yang berasosiasi dengan mangrove (blind-your-eye mangrove) atau Excoecaria agallocha dapat menyebabkan kebutaan sementara bila kena mata, akan tetapi cairan getah ini mengandung cairan kimia yang dapat berguna untuk mengobati sakit akibat sengatan hewan laut. Air buah dan kulit akar mangrove muda dapat dipakai mengusir nyamuk. Air buah tancang dapat dipakai sebagai pembersih mata. Kulit pohon tancang digunakan secara tradisional sebagai obat sakit perut dan menurunkan panas. Di Kambodia bahan ini dipakai sebagai penawar racun ikan, buah tancang dapat membersihkan mata, obat sakit kulit dan di India dipakai menghentikan pendarahan. Daun mangrove bila di masukkan dalam air bisa dipakai dalam penangkapan ikan sebagai bahan pembius yang memabukkan ikan (stupefied). H. Pengawet. Buah pohon tancang dapat dijadikan bahan pewarna dan pengawet kain dan jaring dengan merendam dalam air rebusan buah tancang tersebut. Selain mengawetkan hasilnya juga pewarnaan menjadi coklat-merah sampai coklat tua, tergantung pekat dan lamanya merendam bahan. Pewarnaan ini banyak dipakai untuk produksi batik, untuk memperoleh pewarnaan jingga-coklat. Air rebusan kulit pohon tingi dipakai untuk mengawetkan bahan jaring payang oleh nelayan di daerah Labuhan, Banten. I. Pakan dan makanan. Daunnya banyak mengandung protein. Daun muda pohon api-api dapat dimakan sebagai sayur atau lalapan. Daun-daun ini dapat dijadikan tambahan untuk pakan ternak. Bunga mangrove jenis api-api mengandung banyak nectar atau cairan yang oleh tawon dapat dikonversi menjadi madu yang berkualitas tinggi. Buahnya pahit tetapi bila memasaknya hati-hati dapat pula dimakan. .

J. Bahan mangrove dan bangunan. Batang pohon mangrove banyak dijadikan bahan bakar baik sebagai kayu bakar atau dibuat dalam bentuk arang untuk kebutuhan rumah tangga dan industri kecil. Batang pohonnya berguna sebagai bahan bangunan. Bila pohon mangrove mencapai umur dan ukuran batang yang cukup tinggi, dapat dijadikan tiang utama atau lunas kapal layar dan dapat digunakan untuk balok konstruksi rumah tinggal. Batang kayunya yang kuat dan tahan air dipakai untuk bahan bangunan dan cerocok penguat tanah. Batang jenis tancang yang besar dan keras dapat dijadikan pilar, pile, tiang telepon atau bantalan jalan kereta api. Bagi nelayan kayu mangrove bisa juga untuk joran pancing. Kulit pohonnya dapat dibuat tali atau bahan jaring Selama ini kita selalu mengidentikkan istilah hutan sebagai suatu tempat atau wilayah yang sangat luas dengan ditumbuhi berbagai macam tumbuhan serta flora hidup didalamnya, fungsi dari hutan ini sangat banyak, dan sangat mempengaruhi kualitas hidup manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, tidaklah salah jika kita berpikir seperti itu, akan tetapi jika kita mau lebih membuka cakrawala pemikiran kita maka kita akan menemukan suatu jenis ekosistem yang mnyerupai hutan tetapi berada dipesisir pantai atau daerah yang sebagian wilayahnya terendam oleh air. Mungkin kita pernah mendengar tentang hutan mangrove, atau lebih dikenal dengan hutan bakau tetapi apakah kita tahu apa itu hutan bakau, apakah sama dengan hutan-hutan lainnya yang lazim berada di daerah pegunungan. Hutan ini memang tidak jauh berbeda dengan hutan yang lazim kita ketahui, perbedaannya adalah hutan ini terdapat didaerah yang basah dan umumnya sebagian terendam oleh air, sehingga hanya flora dan fauna jenisjenis tertentu saja yang dapat hidup. Jenis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasivariasi lingkungan fisik di atas, sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah: 1. Jenis tanah. Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat

10

bercampur dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut. Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi, atau bahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang. 2. Terpaan ombak Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang. Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai, yakni yang terletak di tepi sungai. Perbedaannya, salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi, terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar. 3. Penggenangan oleh air pasang `Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya; bahkan terkadang terus menerus terendam. Pada pihak lain, bagian-bagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan. 2.2. Flora Hutan Mangrove Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini, secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove; yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut, hingga ke pedalaman yang relatif kering. Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat

11

(Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api putih (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.).

Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha). Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau, tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis. Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya

12

gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.

Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, seperti Rhizophora mangle, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar, sekitar 9097% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun. Pada pihak yang lain, mengingat sukarnya memperoleh air tawar, vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan

13

mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik, sehingga mengurangi evaporasi dari daun. Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis.Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya. Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon. Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Buah pohonpohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buahbuah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau terbawa air pasang, tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh. Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa (Aegiceras), jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon, meski tak nampak dari sebelah luarnya. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul. Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul dapat tidur (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai

14

tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur. Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Dengan adanya proses suksesi ini, perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal, melainkan secara perlahan-lahan bergeser. Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove, dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau. Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai, pasir yang terbawa arus laut, segala macam sampah dan hancuran vegetasi, akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. Hutan bakau pun semakin meluas. Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang. Demikian perubahan terus terjadi, yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau, zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering. Uraian di atas adalah penyederhanaan, dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas, bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan.

15

Di wilayah-wilayah yang sesuai, hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih; meskipun pada umumnya kurang dari itu. Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau. Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera, anggota dari sekitar 16 suku, yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya. Dari jenis-jenis itu, sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia; menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik. Total jenis keseluruhan yang telah diketahui, termasuk jenis-jenis mangrove ikutan, adalah 202 spesies. Berikut ini adalah daftar suku dan genus mangrove sejati, beserta jumlah jenisnya (dimodifikasi dari Tomlinson, 1986).

Suku Acanthaceae Avicenniaceae Verbenaceae) Combretaceae Arecaceae Rhizophoraceae Sonneratiaceae

Genus, jumlah spesies (syn.: atau Avicennia (api-api), 9 Laguncularia, 11; Lumnitzera (teruntum), 2 Nypa (nipah, 1 Bruguiera (kendeka), 6; Ceriops (tengar), 2; Kandelia (berus-berus), 1; Rhizophora (bakau), 8 Sonneratia (pidada), 5

16

Suku Acanthaceae Bombacaceae Cyperaceae Euphorbiaceae Lythraceae Meliaceae Myrsinaceae Myrtaceae Pellicieraceae Plumbaginaceae Pteridaceae Rubiaceae Sterculiaceae 2.3.

Genus, jumlah spesies Acanthus (jeruju), 1; Bravaisia, 2 Camptostemon, 2 Fimbristylis (mendong), 1 Excoecaria (kayu buta-buta), 2 Pemphis (cantigi laut), 1 Xylocarpus (nirih), 2 Aegiceras (kaboa), 2 Osbornia, 1 Pelliciera, 1 Aegialitis, 2 Acrostichum (paku laut), 3 Scyphiphora, 1 Heritiera (dungun)2, 3

Fauna Hutan Mangrove Komunitas hutan mangrove membentuk percampuran antara 2 (dua)

kelompok. 1. Kelompok fauna daratan membentuk/terestrial yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove, terdiri atas : insekta, ular, primata dan burung.Kelompok ini sifat adaptasi khusus untuk hidup didalam hutan mangrove,karena mereka melewatkan sebagian besar hidupnya diluar jangkauan air laut pada bagian pohon yang tinggi meskipun mereka dapat mengumpulkan makanannya berupa hewan laut pada saat air surut. 2. Kelompok fauna perairan / akuatik, terdiri atas dua tipe yaitu : a. Yang hidup dikolam air, terutama berbagai jenis ikan dan udang. b. Yang menempati substrat baik keras (akar dan batang mangrove) maupun lunak (lumpur) terutama kepiting, kerang dan berbagai jenis invertebrata lainnya. Habitat mangrove adalah sumber produktivitas yang bisa dimanfaatkan baik dalam hal produktivitas perikanan dan kehutanan ataupun secara umum merupakan sumber alam yang kaya sebagai ekosistem tempat bermukimnya berbagai flora dan fauna. Mulai dari perkembangan mikro organisme seperti

17

bakteri dan jamur yang memproduksi detritus yang dapat dimakan larva ikan dan hewan-hewan laut kecil lainnya. Pada gilirannya akan menjadi makanan hewan yang lebih besar dan akhirnya menjadi mangsa predator besar termasuk pemanfaatan oleh manusia. Misalnya kepiting, ikan blodok, larva udang dan lobster memakan plankton dan detritus di habitat ini. Kepiting diambil dan dimanfaatkan manusia sebagai makanan. Berbagai hewan seperti, reptil, hewan ampibi, mamalia, datang dan hidup walaupun tidak seluruh waktu hidupnya dihabiskan di habitat mangrove. Berbagai jenis ikan, ular, serangga dan lain-lain seperti burung dan jenis hewan mamalia dapat bermukim di sini. Sebagai sifat alam yang beraneka ragam maka berbeda tempat atau lokasi habitat mangrovenya maka akan berbeda pula jenis dan keragaman flora maupun fauna yang hidup di lokasi tersebut. Beberapa jenis hewan yang bisa dijumpai di habitat mangrove antara lain adalah; dari jenis serangga misalnya semut (Oecophylla sp.), ngengat (Attacus sp.), kutu (Dysdercus sp.); jenis krustasea seperti lobster lumpur (Thalassina sp.), jenis laba-laba (Argipe spp., Nephila spp., Cryptophora spp.); jenis ikan seperti ikan blodok (Periopthalmodon sp.), ikan sumpit (Toxotes sp.); jenis reptil seperti kadal (Varanus sp.), ular pohon (Chrysopelea sp.), ular air (Cerberus sp.); jenis mamalia seperti berang-berang (Lutrogale sp,) dan tupai (Callosciurus sp.), golongan primata (Nasalis larvatus) dan masih banyak lagi seperti nyamuk, ulat, lebah madu, kelelawar dan lain-lain. Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang diantaranya terancam punah, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatranensis), bekantan (Nasalis larvatus), wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam (Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilus javanicus, dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran. Di Kalimantan bermukim bekantan (Proboscis Monkey) atau Nasalis larvatus sejenis primata langka yang dilindungi. Bekantan ini bermukim di daerah pantai. Di negara bagian Serawak (Malaysia) terdapat Silver-leaf Monkey yang suka berkelompok sambil makan daun-daun mangrove. Ada pula Long18

Tailed Mongkey, salah satu jenis kera yang menyukai dan mencari kepiting untuk makanannya. Di Taman Nasional tersebut tercatat lebih dari 150 spesies burung bermukim dan berkunjung ke habitat mangrove. Berang-berang bisa dijumpai di hutan mangrove sebagai hewan pemangsa ikan, kepiting, siput dan kodok yang juga ada di habitat mangrove sambil bermain air. Kadal pun dapat ditemukan di hutan mangrove, menyukai ikan-ikan kecil sebagai makanannya.

19

20

21

2.4.

Peran Pemerintah Dalam Pelestarian Hutan Mangrove

22

Hutan mangrove memiliki fungsi yang begitu banyak dan sangat bermanfaat bagi manusia, akan tetapi perusakan demi perusakan hutan ini semakin banyak dari hari kehari sehingga wilayah hutan ini semakin sedikit. Hal ini menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi manusia yaitu hilangnya habitat bagi flora dan fauna tertentu, semakin tercemarnya udara karena berkurangnya hutan sebagai penyaring udara dan penghasil oksigen dan semakin terkikisnya garis pantai karena abrasi dari ombak yang biasanya mampu diminimalisasi oleh hutan mangrove kini sudah tidak ada. Itu adlah dampak secara langsung dari rusaknya hutan bakau, sedangkan dampak tidak langsungnya lebih banyak lagi. Pemerintah sudah berusaha untuk mengurangi atau menanggulangi kerusakan hutan mangrove dengan berbagai macam cara dan membuat berbagai macam program. Biasanya dilakukan oleh Departemen Kehutanan ataupun juga pemerintah daerah setempat, akan tetapi dikarenakan berbagai macam factor, program-program yang telah tersusun dengan baik tidak dapat terlaksana sebagai mestinya. Seperti mendirikan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I (BPHM I) merupakan institusi baru di dalam jajaran Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan, yaitu sejak diterbitkannya Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.04/Menhut-II/2007 tanggal 6 Februari 2007. Keberadaan institusi BPHM I diharapkan dapat menjadi fasilitator dalam terwujudnya penyelenggaraan pengelolaan mangrove yang berorientasi pada aspek ekologis, sosial dan pemanfaatan lestari hutan mangrove. Hal tersebut sangat bertalian erat dengan telah makin beratnya tingkat kerusakan hutan amngrove di Indonesia, khususnya di dalam wilayah kerja BPHM-I. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.04/Menhut-II/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengelolaan Hutan Mangrove, BPHM I memiliki susunan organisasi terdiri dari Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Program, Seksi Kelembagaan dan Kelompok Jabatan Fungsional. Untuk menjalankan tugas pokok tersebut, BPHM-I menjalankan fungsi sebagai berikut

23

1. Penyusunan Rencana dan program rehabilitasi, perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan lestari hutan mangrove. 2. Pelaksanaan inventarisasi, identifikasi, koleksi, sortasi, pengelolaan informasi sumber daya hutan mangrove. 3. Pemantauan dan evaluasi pengelolaan hutan mangrove 4. Pengembangan kelembagaan yang meliputi model, sumberdaya manusia, jejaring kerja dan penyebaran informasi pengelolaan hutan mangrove. 5. Pelaksanaan urusan tata usaha Balai. Namun semua itu hanya akan menjadi sia-sia belaka dan menghabiskan banyak biaya tanpa ada hasil yang nyata untuk kelestarian hutan mangrove. 2.5. Masyarakat Sebagai Ujung Tombak Pelestarian Hutan Mangrove Usaha penghijauan atau reboisasi hutan mangrove di beberapa daerah, baik di pulau Jawa, Sumatra,Sulawesi, maupun Irian Jaya telah berulangkali dilakukan. Upaya ini biasanya berupa proyek yang berasal dari Departemen Kehutanan ataupun dari Pemda setempat. Namun hasil yang diperoleh relatif tidak sesuai dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan oleh pemerintah. Padahal dalam pelaksanaannya tersedia biaya yang cukup besar,tersedia tenaga ahli, tersedia bibit yang cukup,pengawasan cukup memadai, dan berbagai fasilitas penunjang yang lainnya. Mengapa hasilnya kurang memuaskan? Salah satu penyebabnya adalah kurangnya peran serta masyarakat dalam ikut terlibat upaya pengembangan wilayah, khususnya rehabilitasi hutan mangrove; dan masyarakat masih cenderung dijadikan obyekdan bukan subyek dalam upaya pembangunan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan masukan dalam pelaksanaan rehabilitasi hutan mangrove sehubungan dengan pelaksanaan otonomi daerah saat ini. Pelaksanaan rehabilitasi hutan mangrove yang telah terjadi dalam beberapa dekade ini dilakukan atas perintah dari atas. Sudah menjadi suatu kebiasaan dalam suatu proyek apapun yang namanya komando atau rencana itu senantiasa datangnya dari atas;sedangkan bawahan termasuk masyarakat sebagai ujung tombak pelaksana proyek hanya sekedar melaksanakan perintahatau dengan istilah populer dengan pendekatan top-down (lihat gambar 1).

24

Pelaksanaan proyek semacam ini tentusaja kurang memberdayakan potensi masyarakatpesisir. Padahal idealnya masyarakat tersebutlah yang harus berperan aktif dalam upaya rehabilitasi hutan mangrove tersebut, sedangkan pemerintah hanyalah sebagai penyedia dana,pengontrol, dan fasilitator berbagai kegiatan yang terkait. Pelaksanaan proyek semacam ini.tentu saja sudah dapat ditebak hasil akhirnya,yaitu sebagaimana telah diutarakan di awal tulisan ini. Akibatnya setelah selesai proyek tersebut,yaitu saat dana telah habis tentu saja pelaksana proyek tersebut juga merasa sudah habis pula tanggung jawabnya. Di sisi lain masyarakattidak merasa ikut memiliki (tidak tumbuh senseof belonging) hutan mangrove yang telahmereka rehabilitasi tersebut. Begitu pula,seandainya hutan mangrove tersebut telah menjadi besar, maka masyarakat merasa sudah tidak ada lagi yang mengawasinya, sehingga mereka dapat mengambil atau memotong hutanmangrove hasil rehabilitasi tersebut secara leluasa. Masyarakat beranggapan bahwa hutanmangrove tersebut adalah milik pemerintah dan bukan milik mereka, sehingga jika masyarakat membutuhkan mereka tinggal mengambil tanpa merasa diawasi oleh pemerintah atau pelaksana proyek. Begitulah pengertian yang ada pada benak masyarakat pesisir yang dekat dengan rehabilitasi hutan mangrove.

PEMERINTAH

PEMKAB

PERANGKAT DESA

MASYARAKAT

Gambar 1. Top Down Approach. Tidak ada partisipasi aktif dalam masyarakat 25

Semestinya upaya rehabilitasi atas biaya pemerintah tersebut semuanya dipercayakan kepada masyarakat mulai dari perencanaan,pelaksanaan, evaluasi keberhasilan dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dapat melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bersama perangkat desa, pemimpin umat, dan lain-lain.Masyarakat pesisir secara keseluruhan perlu mendapat pengertian bahwa hutan mangrove yangakan mereka rehabilitasi akan menjadi milik masyarakat dan untuk masyarakat, khususnya yang berada di daerah pesisir. Dengan demikian semua proses rehabilitasi atau reboisasi hutan mangrove yang dimulai dari proses penanaman, perawatan,penyulaman tersebut dilakukan oleh masyarakat.Melalui mekanisme ini, masyarakat tidak merasadianggap sebagai kuli, melainkan ikut memiliki hutan mangrove tersebut, karena mereka merasaikut merencanakan penanaman dan lain-lain. Masyarakat merasa mempunyai andil dalam upaya rehabilitasi hutan mangrove tersebut, sehingga status mereka akan berubah, yaitu bukan sebagaikuli lagi melainkan ikut memilikinya. Dari sini akan tergambar andaikata ada sekelopok orang yang bukan anggota masyarakat yang ikut menaman hutan mangrove tersebut ingin memotong sebatang tumbuhan mangrove saja,maka mereka tentu akan ramai-ramai mencegah atau mengingatkan bahwa mereka menebang pohon tanpa ijin. Ini merupakan salah satu contoh kasus kecil dalam perusakan hutan mangrove yang telah dihijaukan, kemudian dirusak oleh anggota masyarakat lainnya yang bukan anggota kelompoknya.

26

Pelaksanaan rehabilitasi hutan mangrove dengan penekanan pada pemberdayaan masyarakat setempat inibiasa dikenal dengan istilah pendekatan bottomup (lihat gambar 2). Dalam pelaksanaan Otoda(otonomi daerah) dewasa ini seharusnya semua kegiatan rehabilitasi hutan mangrove hendaknya diserahkan pada masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan mengembangkan partsipasinya terhadap berbagai kegiatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kehidupan mereka. Keberhasilan merehabilitasi hutan mangrove akan berdampak pada adanya peningkatan pembangunan ekonomikhususnyadalam bidang perikanan, pertambakan, industri,pemukiman, rekreasi dan lain-lain. Tumbuhan mangrove dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan kayu bakar, bahan tekstil, penghasil tanin, bahan dasar kertas, keperluan rumah tangga, obat dan minuman, dan masih banyak lagi lainnya. Hutan mangrove juga berfungsi untuk menopang kehidupan manusia, baik dari sudut tekologi, fisik, maupun sosial ekonomi misalnya untuk menahan ombak, menahan intrusi air laut ke darat, dan sebagai habitat bagi biota laut tertentu untuk bertelur dan pemijahannya. Hutan mangrove dapat pula dikembangkan sebagai wilayah baru dan untuk menambah penghasilan petani tambak dan nelayan, khususnya di bidang perikanan dan garam. Di samping itu, hutan mangrove sebagai suatu ekosistem di daerah pasang surut, kehadirannya sangat berpengaruh terhadap ekosistem-ekosistem lain di daerah tersebut. Pada daerah ini akan terdapat ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun, dan ekosistem estuari yang saling berpengaruh antara ekosistem yang satu dengan lainnya. Dengan demikian, terjadinya kerusakan/gangguan pada ekosistem yang satu tentu saja akan mengganggu ekosistem yang lain. Sebaliknya seperti diuraikan di atas keberhasilan dalam pengelolaan (rehabilitasi) oleh pemerintah, pemkab, perangkat desa dan juga masyarakat

27

Gambar 2. Bottom Up Approach. Ada partisipasi aktif dari masyarakat Hutan mangrove akan memungkinkan peningkatan penghasilan

masyarakat pesisir khususnya para nelayan dan petani tambak karena kehadiran hutan mangrove ini merupakan salah satu faktor penentu pada kelimpahan ikan atau berbagai biota laut lainnya.Gambar 2. Bottom-up approach, ada partisipasi aktif dari masyarakat

28

Sudah dapat dibedakan bahwa pada kegiatan proyek yang menggunakan pendekatan top-down dan pendekatan bottom-up akan mendapatkan hasil yang lebih baik, karena adanya unsur partisipasi masyarakat. Hasil dari kegiatan dengan menggunakan pendekatan bottom up ini akan menjadikan masyarakat enggan untuk memotong kayu atau hutan mangrove yang telah mereka tanam, sekalipun tidak ada yang mengawasinya; karena masyarakat sadar bahwa kayu yang mereka potong tersebut sebenarnya adalah milik mereka bersama. Tugas pemerintah hanyalah memberikan pengarahan secara umum dalam pemanfaatan hutan mangrove secara berkelanjutan. Sebab tanpa arahan yang jelas nantinya akan terjadi konflik kepentingan dalam pengelolaan dalam jangka panjang. Dari sini nampak bahwa pendekatan bottom up relatif lebih baik jika dibandingkan dengan pendekatan top down dalam pelaksanan rehabilitasi hutan mangrove di era pelaksanaan otoda dewasa ini. Kecuali itu pemerintah atau pemilik modal tidak terlalu berat melakukannya, karena masyarakat dapat berlaku aktif pada proses pelaksanaan rehabilitasi tersebut, dan di dalam masyarakat pesisir akan timbul rasa ikut memiliki terhadap hutan mangrove yang telah berhasil mereka hijaukan. Dengan demikian pelaksanaan suatu proyek dengan pendekatan bottom up atau menumbuhkan adanya partisipasi dari anggota masyarakat ini juga sekaligus merupakan proses pendidikan pada masyarakat secara tidak langsung. Dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi atau reboisasi hutan mangrove di era otonomi daerah dewasa ini, hendaknya pemerintah lebih banyak melibatkan unsur masyarakat. Pendekatan botom-up perlu untuk digalakkan dan bukan sebaliknya mengingat dewasa ini masyarakat adalah sebagai ujung tombak dalam suatu kegiatan pembangunan di desa. Masyarakat jangan dianggap sebagai obyek pembangunan, melainkan sebagai subyek pembangunan. Apalagi dalam alam reformasi dan demokratisasi ini masyarakat telah sadar, pandai dan berani untuk menuntut hak-haknya, karena masyarakat tahu bahwa seharusnya mereka sebagai subyek pelaksana pembangunan mereka pulalah yang akan menikmati hasil pembangunan tersebut khususnya dalam bidang proteksi abrasi air laut dan perikanan.

29

BAB III BAHAN DAN METODE

3.1. Alat dan Bahan Adapun alat dan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 30

1. Seperangkat computer dengan alat cetak (printer). 2. Flashdisk 3. Pulpen 4. Pensil 5. Kertas 6. Buku catatan. Sedangkan bahan yang digunakan adalah : 1. Data-data yang didapat dari internet dan hasil wawancara narasumber. 2. Buku yang membahas tentang hutan mangrove 3.2. Metode Penulisan Supaya tujuan penulisan dapat tercapai, penulis menggunakan metode penulisan sebagai berikut : 1. Library Search Mengutip dan mempelajari berbagai literature dan buku-buku baik dari perpustakaan maupun internet yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.

2. Interview Melakukan wawancara dengan berbagai pihak yang dapat memberikan informasi kepada penulis sehubungan dengan apa yang dibahas dalam makalah. 3.3. Tahapan Penulisan 1. Pencarian literature di perpustakaan dan internet sebagai pedoman penulisan makalah, dan bahan penyusunan makalah.

31

2. Penyusunan bahan makalah, mulai bagian pendahuluan, tinjauan pustaka, bahan, metode, sampai dengan daftar pustaka. 3. Pengajuan makalah dan konsultasi terhadap dosen yang mengajar mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar. Melakukan proses bimbingan dalam hal perbaikan isi dan tata cara penulisan dalam penyusunan makalah. 3.4. Waktu Penulisan Waktu Penulisan dimulai dari tanggal 1 Desember yaitu pada saat pengajuan judul makalah dan disetujui oleh dosen ybs. Dan berakhir apabila makalah ini telah disetujui oleh dosen sebagai tugas akhir mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan Dari semua penjabaran tentang pelestarian hutan mangrove ini maka penulis menarik beberapa kesimpulan yaitu :

32

1. Hutan mangrove adalah factor yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup. 2. Pemerintah memiliki peranan yang sangat penting dalam pelestarian hutan mangrove, tetapi bukan sebagai eksekutor melainkan hanya sebagai pembuat program dan aturan-aturan untuk menjaga keutuhan hutan ini. 3. Masyarakat adalah ujung tombak dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. 4. Tanpa peran aktif dari masyarakat maka tidak akan tercipta keseimbangan lingkungan hidup yang akan berdampak pada kualitas hidup manusia itu sendiri. 4.2. Saran 1. Kesadaran dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan tempat tinggal kita. 2. Tidak ada kata terlambat jika kita mau belajar mencintai alam sekitar kita.

DAFTAR PUSTAKA

Tanjung, Hendra, 2003, Mengenal & Merawat Hutan Kita, Agromedia Pustaka, Jakarta. www. Pikiran Rakyat.com www. Irwantoshut. Com www. Kompas. Com 33

www. Indonesi community Around The World. Co.id www. Bali Post. Com

34