Anda di halaman 1dari 12

Buruh Bekasi minta KPK kawal gugatan Apindo

Selasa, 24 Januari 2012 15:45 WIB | 2044 Views Jadi Apindo sudah kedua kalinya mengingkari perjanjian yang mereka buat. Kami melihat, ada strategi di balik Apindo. Ada indikasi-indikasi, dan saya berharap KPK bisa memantau proses peradilan ini. Berita Terkait
y y y y

Iklim investasi diharapkan tetap kondusif Buruh Bekasi tutup tujuh pintu tol Cikarang Puluhan ribu buruh lumpuhkan EJIP Cikarang Empat konfederasi pekerja bentuk sekretariat bersama Kurungan tiga bulan untuk pelanggar UMK

Video Terkait

Buruh Pertanyakan ...

MENAKERTRANS AWARD Bandung (ANTARA News) - Serikat Buruh di Kabupaten Bekasi meminta agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memantau proses persidangan pencabutan gugatan oleh Apindo terkait surat keputusan Gubernur Jawa Barat tentang penetapan UMK Kabupaten Bekasi, di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung. "Jadi Apindo sudah kedua kalinya mengingkari perjanjian yang mereka buat. Kami melihat, ada strategi di balik Apindo. Ada indikasi-indikasi, dan saya berharap KPK bisa memantau proses peradilan ini," kata Ketua Dewan Pengupahan Kabupaten Bekasi Saeful Anwar, usai persidangan, Selasa. Oleh karena itu, pihaknya akan mengadukan Asosiasi Pengusahan Indonesia (Apindo) kepada tiga lembaga hukum sekaligus, yakni ke Mahkamah Agung (MA), Komisi Yudisial (KY) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Hari ini teman-teman kita di Bekasi adukan ke KPK, MA dan KY," kata Saeful Anwar yang menjadi saksi dalam persidangan itu namun tidak digunakan oleh majelis hakim. Saeful menuturkan, penentuan UMK Kabupaten Bekasi tahun 2012 dilakukan pada 19 November 2011. Menurutnya, saat itu, rapat dihadiri oleh sekitar 28 penentu hasil akhir penetapan UMK Kabupaten Bekasi termasuk oleh Apindo. "Rapat dimulai pukul 19.45, namun pukul 02.55 tanggal 16 November dini hari Apindo walk out," katanya. Ia menuturkan, meskipun Apindo melakukan aksi `walk out` yang artinya rapat sah karena sudah berlangsung sejak pukul 19.45 WIB hingga pukul 02.55 WIB. "Kemudian pukul tiga terjadi voting. Makanya di mana letak persoalannya?" katanya. Ia menambahkan, pada 15 Januari 2011 lalu juga ada kesepakatan antara buruh dan Apindo

Kabupaten Bekasi bahwa gugatan harus dicabut. Dikatakannya, hal ini sudah disampaikan kepada majelis hakim namun pencabutan gugatan malah diingkari oleh Apindo Kabupaten Bekasi. Padahal, kata Syaiful, surat pencabutan itu tertulis dilengkapi materai dan ditandatangani Ketua dan Sekretaris Apindo Bekasi dan Ketua Buruh Bergerak. "Terlihat kan bahwa Apindo sendiri yang menyebabkan Bekasi bergolak. Tanggal 15 Januari tak ada demo, disepakati penuh kesadaran tapi justru Apindo mengingkari," ujar Saeful. Editor: Ella Syafputri COPYRIGHT 2012

Gugatan UMK Bekasi

Ratusan Buruh Bekasi Kawal Sidang Gugatan Apindo


Iman Herdiana - Okezone Selasa, 24 Januari 2012 12:25 wib 1 25 Email0

Ilustrasi (Foto: Koran SI)

BANDUNG - Ratusan buruh memadati ruang sidang perkara gugatan upah minimum kabupaten (UMK) Bekasi oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Pengadilan Tata Usaha Negara

(PTUN) Bandung. Para buruh yang pekan lalu sempat memblokir tol Cibitung, datang sejak pagi tadi menggunakan beberapa bus. Mereka tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Ruang sidang disesaki ratusan buruh. Bahkan puluhan buruh lainnya tidak kebagian masuk ke ruang sidang, memilih untuk duduk di tangga dan halaman PTUN. Persidangan yang beragenda putusan sela ini berlangsung di tengah isu terjadinya demonstrasi buruh besar-besaran di Bekasi. Salah seorang buruh yang mengawal sidang, Deden (35), menyebutkan pihaknya akan terus mengawal sidang pencabutan gugatan Apindo. Apindo keberatan dengan UMK yang sekarang ditetapkan. Jika dicabut, upah kami jadi Rp1,2 juta, mana cukup untuk hidup di Bekasi, tukas Deden, Selasa (24/1/2012). Pria yang sudah 16 tahun bekerja di PT Kyoya Indonesia itu menambahkan, sebenarnya pihak pemilik perusahaan asal Jepang tidak keberatan dengan revisi UMK. Apindo saja yang keberatan, tambahnya. Menurutnya, penetapan UMK versi buruh sudah diperkuat dengan survei kebutuhan hidup di lapangan. Karena itu, jika pengadilan memenangkan gugatan Apindo, para buruh akan menunggu instruksi dari pimpinan. Iya sebagai anggota kita ikut pimpinan. Saya sih persoalan ini ingin cepat selesai," ujarnya. Pangkal persoalan gugatan itu bermula dari keluarnya SK Gubernur Jawa Barat Nomor 561/Kep.1558-Bangsos/2011 yang menetapkan UMK Kabupaten Bekasi sebesar Rp1,491 juta atau naik 11 persen dari kebutuhan hidup layak, meningkat dibanding 2011 sebesar Rp1.286.421. (ton) HomeMetroLayanan publik

Sejumlah serikat buruh Kabupaten Bekasi menghujat majelis hakim usai sidang di Pengadlan Tata Usaha Negara, Bandung, Jawa Barat, Selasa (24/1). Sidang penolakan Apindo Bekasi mengenai besaran UMK tersebut akan dilanjutkan Kamis depan. TEMPO/Prima Mulia Bagikan16

Berita Terkait
y y y y y

Aksi Dukung Buruh Freeport Serbu Mabes Polri DPR Minta Maaf Belum Bisa Rampungkan RUU BPJS Serikat Pekerja Kereta Api Jabodetabek Tidak Diakui ILO Menangkan Serikat Pekerja Grand Aquila Komisi Yudisial Awasi Sidang Sengketa Perburuhan di Pasuruan

Topik
y

Hubungan Buruh Manajemen

Selasa, 24 Januari 2012 | 14:26 WIB

Gugatan Tak Dicabut, Buruh Bekasi Kecewa


Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Bandung - Sedikitnya seratus buruh asal Bekasi terpaksa pulang dengan kecewa seusai mengikuti sidang gugatan Asosiasi Pengusaha Indonesia atas Keputusan Gubernur Jawa Barat tentang upah minimum Kabupaten Bekasi 2012 di Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung, Selasa 24 Januari 2012. Dalam sidang hari ini hakim tetap meneruskan persidangan, padahal sebelumnya mereka berharap hakim membacakan pencabutan gugatan oleh Asosiasi. "Kami terluka. Ini kedua kalinya Apindo Kabupaten Bekasi dan Pusat membohongi kami. Padahal kami para buruh sudah mengalah. Tapi malah dikhianati," ujar Nurdin, salah seorang aktivis buruh Bekasi, seusai sidang di halaman gedung PTUN Bandung siang ini. "Sekarang kami pulang ke Bekasi dengan hati luka. Kami akan rapatkan barisan dan menunggu perintah pimpinan buruh, apakah nanti menghentikan proses produksi atau diam saja, kami akan taati," kata anggota Federasi Serikat Buruh Metal Indonesia itu dengan nada marah. Menurut Nurdin, Apindo telah mengkhianati kesepakatan dengan perwakilan buruh pada Ahad 15 Januari 2012. Salah satu isinya adalah Apindo Kabupaten Bekasi setuju akan mencabut gugatan atas Keputusan Gubernur tentang upah minimum Rp 1,49 juta tersebut. Kesepakatan diteken pimpinan Apindo Kabupaten Bekasi Sutomo dan Muryono serta pimpinan buruh. "Tapi ternyata Sutomo dan Muryono katanya malah dipecat oleh Apindo Pusat dan surat permohonan pencabutan gugatan tak pernah diajukan ke pengadilan. Biang kerok semua ini adalah Ketua Apindo Pusat, Sofyan Wanandi," kata Nurdin. Dalam sidang, Ketua Majelis Hakim Disiplin Manao memang tak banyak menyinggung ihwal pencabutan perkara selain saat pembukaan. "Perkara tak terhenti oleh 2 lembar kertas tertanggal 15 Januari 2012 tentang kesepakatan berunding. Bila itu dilanjutkan dan kemudian penggugat dan tergugat sepakat berdamai, baru gugatan bisa dicabut oleh penggugat," ujar Disiplin di awal sidang. Buruh di Bekasi terus bergolak setelah Asosiasi mengajukan gugatan atas besaran upah yang telah ditetapkan Gubernur Jawa Barat. Asosiasi merasa berkeberatan dengan upah minimum tersebut dan hingga kini belum membayarkan kewajiban sesuai dengan penetapan Gubernur. ERICK P. HARDI

Antara/Eric Ireng

Unjuk rasa para buruh menuntut perbaikan Upah Minimum Kota (UMK). TERKAIT : Amankan Aksi Buruh, Polda Turunkan 832 Personel LBH Dukung Buruh Jateng Lakukan Mogok Massal DPR Maklumi Keterlambatan Penetapan UMP Menaker Panggil 16 Kadisnaker Terkait UMP Upah Buruh Bekasi Dinaikkan

Apindo Bekasi Menggugat, Pemprov tak Bisa Komentar Banyak


Senin, 23 Januari 2012 22:14 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG Terkait gugatan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bekasi terhadap upah minimun kabupaten (UMK) Bekasi, Pemprov Jabar mengaku tidak bisa berkomentar banyak. "Kami tidak ingin membela diri di luar pengadilan. Karena rasanya tidak etis saja," ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jabar, Hening Widiatmoko, Senin (23/1). Hening mengatakan, Pemprov sudah berbuat maksimal dalam penetapan UMK tersebut. Sementara soal gugatan yang dilayangkan Apindo ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Bandung, menurut Hening, itu adalah hak mereka. "Kita lihat saja nanti hasilnya (sidang)," ucapnya. Hening menambahkan, Pemprov sudah siap dengan apa pun keputusan pengadilan nantinya. Bahkan, bukan tidak mungkin Pemprov mengajukan banding bila gugatan tersebut dikabulkan.

Hening pun mengaku sudah melakukan kontak dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta. "Kementerian akan mengupayakan dialog antara pihak-pihak yang berkepentingan dalam masalah ini. Jadi, kita tunggu saja bagaimana perkembangannya," tegasnya. Sementara itu, Ketua Apindo Bekasi, Purnomo Narmiadi, membantah munculnya gugatan tersebut karena adanya intervensi dari Apindo pusat. "Kita hanya melakukan koordinasi saja. Karena antara Apindo di kabupaten kota dan Apindo pusat merupakan satu-kesatuan," jelasnya. Menurut Purnomo, proses pencabutan gugatan tidak bisa dilakukan begitu saja. Sebab, persoalan ini sudah memasuki wilayah hukum, sehingga harus ada keputusan inkracht dari pengadilan. Oleh karenanya, dia berharap agar semua pihak menghormati proses peradilan tersebut. "Saya minta kepada pemerintah dan pekerja bisa memahami persoalan ini dengan pikiran jernih," kata dia. Sebelumnya, Apindo Bekasi melayangkan gugatan atas penetapan UMK dalam SK Gubernur No. 561/Kep.1540-Bangsos/2011 kepada PTUN. Gugatan tersebut muncul karena UMK di daerah tersebut dinilai memberatkan pengusaha.
Redaktur: Chairul Akhmad Reporter: Ahmad Islamy Jamil

Apindo cabut gugatan PTUN Selasa (24/1)


Sabtu, 21 Januari 2012 00:06 WIB | 8206 Views Berita Terkait
y y y y

Buruh Bekasi minta KPK kawal gugatan Apindo Apindo Bali prediksi nilai ekspor 2012 menurun Buruh Bekasi minta KPK kawal gugatan Apindo Disnakertrans Karawang serahkan kasus TKW Susanti ke pusat Forum Investor Bekasi imbau buruh kedepankan negosiasi

Bekasi (ANTARA News) - Koordinator Buruh Bekasi Bergerak Obon Tabroni menegaskan bahwa pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia Kabupaten Bekasi akan mencabut gugatan di PTUN Bandung terkait surat keputusan Gubernur Jabar tentang penetapan upah minimum

kota/kabupaten. "Kita tunggu saja hasil kesepakatan itu dan berharap bisa terlaksana sesuai kesepakatan," kata Obon dihubungi dari Bekasi, Jumat, usai melaksanakan pertemuan dengan pihak Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Bekasi, Disnaker dan Polrestro Bekasi Kabupaten. Ia menegaskan, yang bisa mencabut gugatan adalah Apindo Kabupaten Bekasi, selaku pihak penggugat dan kalaupun pengurus pusat "ngotot", kewenangan ada pada pengurus kabupaten. Dalam pertemuan itu Apindo diwakili Darwoto wakil ketua Apindo kabupaten Bekasi, Haris dari Disnaker dan petinggi Polrestro Bekasi Kabupaten. Secara tegas Obon menyatakan buruh atau pekerja akan menahan diri dari melakukan aksi unjuk rasa, mogok kerja, apalagi sampai aksi perusakan. "Batas waktunya sampai 30 Januari 2012. Bila belum juga gugatan itu dicabut, maka akan terjadi mogok massal," ujarnya. Terkait dengan "sweeping" yang dilakukan sebagian demonstran sembari berkonvoi dengan motor dan mengitari sejumlah perusahaan di Kawasan Industri Ejip, Cikarang dan Kawasan Industri Jababeka, menurut Obon bukanlah kebijakan dari wadah buruh yang tergabung dalam Buruh Bekasi Bergerak. "Ada yang memprovokasi agar buruh melakukan `sweeping` dan mogok kerja, tapi saya tegaskan itu oknum. Jumlah mereka juga tidak banyak atau berkisar seribuan orang sementara buruh di kawasan industri kabupaten Bekasi lebih dari 300 ribu orang," ujarnya. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Kabupaten Bekasi Darwoto saat aksi mogok buruh Kamis (20/1) menilai telah terjadi mispersepsi antara pihaknya dengan buruh setempat hingga berujung penutupan sejumlah pintu tol kawasan industri. "Kami amat menyayangkan terjadinya aksi ini. Apalagi aksi disebabkan terjadinya mispersepsi antara Apindo dengan buruh terkait jadwal pencabutan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung," katanya, di Cikarang. Menurut Darwoto, buruh berpatokan pencabutan gugatan terhadap Gubernur Jawa Barat pascapenetapan Upah Minum Kabupaten (UMK) 2012 oleh Apindo berlangsung pada Kamis (19/1) pagi. Padahal, pihaknya baru melakukan pencabutan gugatan pada siang harinya. Proses pencabutan gugatan itu, kata dia, dilakukan secara langsung oleh Ketua Apindo, Sutomo, bersama dengan perwakilan buruh Kabupaten Bekasi di PTUN Bandung berdasarkan hasil kesepakatan bersama antara buruh dan Apindo yang disaksikan oleh perwakilan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta pada Minggu (15/1). Apa yang disampaikan Darwoto itu berbeda faktanya karena hingga Jumat buruh masih berdemonstrasi dan terus melakukan "sweeping" menuntut agar gugatan itu segera dicabut. Pangkal persoalan gugatan itu bermula dari keluarnya SK Gubernur Jawa Barat No.

561/Kep.1558-Bangsos/2011. yang menetapkan UMK Kabupaten Bekasi sebesar Rp1,491 juta atau 110 persen dari kebutuhan hidup layak, meningkat dibanding 2011 sebesar Rp 1.286.421. Dengan upah Rp1,491 juta itu buruh/pekerja menilai belum mampu menjawab kebutuhan riil mereka. Hasil survei pekerja menunjukkan nilai kebutuhan hidup layak (KHL) di Kabupaten Bekasi mencapai Rp 2,7 juta menggunakan 86 komponen. Sementara itu, Kepmen 17 tahun 2005 tentang KHL sebagai dasar penetapan upah minimum bagi buruh baru mengakomodir 46 komponen. (M027/Y006) Editor: B Kunto Wibisono COPYRIGHT 2012 Selasa, 24/01/2012 11:36 WIB Ratusan Buruh Bekasi Hadiri Sidang Gugatan Apindo Tya Eka Yulianti - detikBandung Share Bandung - Sekitar seratusan buruh dari berbagai organisasi asal Kabupaten Bekasi memenuhi ruang sidang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung, Jalan Diponegoro, Selasa (24/1/2012). Mereka datang untuk mengikuti sidang lanjutan gugatan Apindo. Mereka berharap, Apindo dapat mencabut gugatan tersebut dalam sidang dengan agenda pemeriksaan dokumen itu. "Katanya hari ini penentuan lanjut atau tidaknya gugatan. Harapannya sih ya dicabut," ujar seorang buruh yang mengenakan jaket FSPMI yang tak mau menyebutkan namanya itu. Sidang perkara gugatan ini diketuai majelis hakim Disiplin F Manao. Pantauan detikbandung, baik dari penggugat maupun tergugat, diwakili masing-masing 3 kuasa hukum. Ruang sidang berukuran 7 meter X 7 meter pun dipenuhi para buruh. Bahkan mereka berkumpul mengikuti sidang di tangga dan lorong di luar ruang sidang. Sidang ini dijaga puluhan polisi, baik di dalam maupun di luar ruang sidang. Aksi yang dilakukan tersebut merupakan langkah untuk menyikapi gugatan yang dilayangkan Apindo terhadap SK Gubernur Jabar No 561/KEP /1540-bangsos/2011 tentang Upah Minimum. (tya/ors)

Ratusan Buruh Bekasi Hadiri Sidang Gugatan Apindo


Selasa, 24 Januari 2012 | 12:49

Ribuan buruh Bekasi memblokade jalan menuntut kenaikan UMK. (sumber: Antara) Sidang yang berlangsung di lantai dua Gedung PTUN Bandung di Jalan Diponegoro ini, dijaga ketat oleh polisi. Sidang pencabutan gugatan oleh Apindo terkait surat keputusan Gubernur Jawa Barat tentang penetapan UMK Kabupaten Bekasi, di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung, dipenuhi ratusan buruh dari berbagai organisasi, hari ini. Para buruh tersebut berdatangan ke Gedung PTUN Bandung sejak pagi tadi menggunakan beberapa bus dari Bekasi dan memenuhi ruang sidang serta halaman PTUN Bandung. Sidang yang berlangsung di lantai dua Gedung PTUN Bandung di Jalan Diponegoro ini, dijaga ketat oleh polisi. Para wartawan yang hendak meliput persidangan ini, diharuskan memperlihatkan kartu identitas persnya sebelum memasuki ruang sidang. Sementara itu, salah seorang buruh yang hadir di persidangan Deden (35), mengatakan pihaknya akan terus mengawal sidang pencabutan gugatan Apindo. "Kami akan mengawal hingga tuntas jalannya persidangan. Dan jika dicabut, upah kita jadi Rp1,2 juta, mana cukup untuk hidup di Bekasi," kata Deden. Pangkal persoalan gugatan itu bermula dari keluarnya SK Gubernur Jawa Barat Nomor 561/Kep.1558-Bangsos/2011. Yang menetapkan UMK Kabupaten Bekasi sebesar Rp1,491 juta atau 110 persen dari kebutuhan hidup layak, meningkat dibanding 2011 sebesar Rp 1.286.421. Dengan upah Rp1,491 juta itu buruh/pekerja menilai belum mampu menjawab kebutuhan riil mereka.

Hasil survei pekerja menunjukkan nilai kebutuhan hidup layak (KHL) di Kabupaten Bekasi mencapai Rp 2,7 juta menggunakan 86 komponen. Sementara itu, Kepmen 17 tahun 2005 tentang KHL sebagai dasar penetapan upah minimum bagi buruh baru mengakomodir 46 komponen. Penulis: Ardi Mandiri Sumber:Antara