Anda di halaman 1dari 20

Hubungan Mobilisasi Dini Dengan Penurunan Tinggi Fundus Uteri Pada Ibu Nifas

iklan1 1.2. Identifikasi Masalah Berdasarkan survei awal 2 minggu di BPS ...................... terdapat jumlah ibu post partum sebanyak 20 orang, sementara yang melakukan mobilisasi dini hanya 5% saja. Berdasakan hal tersebut maka dipandang perlu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan mobilisasi dini dengan penurunan tinggi fundus uteri. 1.3. Rumusan Masalah Berdasarkan Identifikasi masalah diatas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana hubungan mobilisasi dini dengan penurunan tinggi fundus uteri? 1.4. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahui hubungan mobilisasi dini dengan penurunan tinggi fundus uteri pada ibu 6 jam post partum. 2. Tujuan khusus 1. Mengidentifikasi penurunan tinggi fundus uteri pada 6 jam post partum. 2. Mengidentifikasi jumlah ibu nifas yang melakukan mobilisasi dini. 3. Mengidentifikasi penurunan tinggi fundus uteri pada ibu yang melakukan mobilisasi dini. 1.5. Manfaat penelitian 1. Bagi program studi kebidanan STIKES ABI Sebagai masukan data dan memberikan sumbangan pemikiran perkembangan Ilmu Pengetahuan untuk melakukan penelitian selanjutnya. 2. Bagi perawat/ bidan Dari hasil penelitian dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan mobilisasi dini. 3. Bagi ibu nifas Di harapkan hasil penelitian ini ibu nifas dapat mengetahui keuntungan mobilitas dini dan melaksanakannya.

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pascasalin 2.1.1 Pengertian Pascasalin atau puerperium adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alatalat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Pascasalin berakhir selama kirakira 6 minggu (Bari, 2002 dalam Harnawatiaj, 2008). Menurut WHO pascasalin atau puerperium adalah masa setelah 1 jam plasenta lahir sampai berakhirnya minggu keenam atau berlangsung selama 42 hari (Manuaba, 2001). 2.1.2 Periode Pascasalin Pascasalin (puerperium) di bagi dalam 3 periode yaitu puerperium dini, saat ini ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dianggap telah bersih dan boleh berjalan setelah 40 hari. Puerperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalis yang lamanya 6-8 minggu. Puerperium remote, yaitu waktu yang diperlukan untuk kepulihan dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi (Harnawatiaj, 2008). Masa setelah melahirkan ini mendapatkan istilah khusus karena seorang ibu memerlukan perawatan, bantuan, dan pengawasan demi pulihnya kesehatan seperti sebelum melahirkan. Dalam perumusan pascasalin, dikatakan bahwa waktu pascasalin itu tertentu, jadi bukan berarti bahwa setelah ibu melahirkan akan selalu disebut dalam masa pascasalin dengan tidak terbatas, atau terbatas sampai kelahiran anak yang berikutnya. Maksud dari waktu tertentu adalah waktu untuk memulihkan kesehatan umum dan mengembalikan keadaan organ yang 5 Universitas Sumatera Utara mengalami perubahan. Waktu ini umumnya dibatasi antara 6 sampai 12 minggu apabila dalam keadaan normal, dan waktu ini di anggap cukup untuk mengembalikan keadaan organ seperti pada saat ketika belum hamil. Tentu saja bila tidak terjadi komplikasi.

Tetapi ada pula yang menentukan bahwa masa nifas itu hanya selama 7-10 hari saja, yaitu sampai ibu selesai di rawat di rumah sakit dan dianggap cukup sehat dan kuat untuk pulang ke rumah. Batas waktu ini mungkin dapat diterima bila pulihnya keadaan tersebut hanya bagi kesehatan umum saja, yang dalam kenyataannya waktu 10 hari sesudah melahirkan (bila keadaan normal) ibu sudah tampak sehat. Jadi, di sini tidak memperhitungkan kembalinya uterus dan organ-organ lain ke keadaan normal. Karena uterus dan organ-organ reproduksi yang lain tidak dapat kembali seperti semula dalam waktu 10 hari (Ibrahim, 1996). 2.1.3 Perubahan Fisiologis Pada Masa Pascasalin Perubahan fisiologis pada masa pascasalin terjadi pada sistem reproduksi, servik, perineum, vulva dan vagina, payudara, sistem perkemihan, sistem gastrointestinal, sistem kardiovaskuler, sistem endokrin, sistem muskuloskeletal, dan sistem integumen (Harnawatiaj, 2008). Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Pada saat bayi lahir fundus uteri setinggi pusat dengan berat uterus 1000 gram, pada akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba 2 jari di bawah pusat dengan berat uterus 750 gram. Ketika satu minggu pascasalin tinggi fundus uteri teraba pertengahan pusat simpisis pubis dengan berat 500 gram. Dua minggu pascasalin tinggi fundus uteri tidak teraba di atas Universitas Sumatera Utara

simpisis pubis dengan berat uterus 350 gram, dan enam minggu pascasalin bertambah kecil dengan berat 50 gram. Servik mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium eksterna dapat dimasuki oleh dua jari tangan, setelah 6 minggu persalinan servik menutup (Harnawatiaj, 2008). Lokhea adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina. Dalam masa postpartum, ada macam-macam lokhea yaitu; lokhea rubra (kruenta) berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekonium selama dua hari pascasalin; lokhea sangunolenta berwarna kuning, berisi darah dan lendir, pada hari ketiga sampai ketujuh postpartum; lokhea serosa yang berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi pada hari ketujuh sampai keempat belas pascasalin; lokhea alba berupa cairan putih setelah dua minggu; lokhea purulenta cairan seperti nanah berbau busuk dan terjadi bila ada infeksi; serta lokheastasis yaitu lokhea yang tidak lancar keluar (Harnawatiaj, 2008). Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama setelah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah tiga minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol. Setelah melahirkan perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada postnatal hari ke-5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan (Harnawatiaj, 2008). Universitas Sumatera Utara

Perubahan pada payudara dapat meliputi penurunan kadar progesteron secara cepat dengan peningkatan hormon prolaktin setelah persalinan. Kolostrum sudah ada saat persalinan, produksi ASI terjadi pada hari kedua atau hari ketiga setelah persalinan dan payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses laktasi (Harnawatiaj, 2008). Pada sistem perkemihan buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama, kemungkinan terdapat spasme sphincter dan edema leher buli-buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan. Urine dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan ini merupakan deuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo enam minggu. Pada sistem gastrointersinal kerap kali diperlukan waktu 3-4 hari sampai faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan mengalami penurunan selama satu atau dua hari, gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan diberikan enema. Rasa sakit di daerah perineum dapat menghalangi buang air besar (Harnawatiaj, 2008). Setelah terjadi deuresis yang mencolok akibat penurunan kadar estrogen, volume darah kembali kepada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah merah dan hemoglobin kembali normal pada hari ke-5 meskipun kadar estrogen mengalami penurunan yang sangat besar selama masa nifas, namun kadarnya masih tetap lebih tinggi dari pada normal. Plasma darah tidak begitu mengandung cairan dan dengan demikian daya koagulasi meningkat, pembekuan darah harus dicegah Universitas Sumatera Utara

dengan penanganan yang cermat dan penekanan pada ambulasi dini. Pada sistem endokrin kadar estrogen menurun 10% dalam waktu sekitar 3 jam pascasalin. Progesteron turun pada hari ketiga pascasalin sedangkan kadar prolaktin dalam darah berangsur-angsur hilang (Harnawatiaj, 2008). Pada sistem muskuloskletal, ambulasi pada umumnya dimulai 4-8 jam postpartum. Ambulasi dini sangat membantu untuk mencegah komplikasi dan mempercepat proses involusi. Penurunan melanin umumnya terjadi pada sistem integumen setelah persalinan, menyebabkan berkurangnya hyperpigmentasi kulit dan perubahan pembuluh darah yang tampak pada kulit karena kehamilan dan akan menghilang pada saat estrogen menurun (Harnawatiaj, 2008). 2.1.4 Kebutuhan Dalam Masa pascasalin Kebutuhan dalam masa pascasalin meliputi kebutuhan fisik, psikologis, sosial. Dalam beberapa aspek kebutuhan-kebutuhan tersebut saling berkaitan. Kebutuhan fisik maksudnya adalah keadaan ibu selama hamil umumnya menurun walaupun tidak sakit. Waktu persalinan, keadaan umum ini lebih menurun lagi karena kelelahan, kesakitan, perdarahan, dan adanya luka bekas plasenta melekat dan luka pada vagina atau perineum. Pada periode pascasalin inilah waktunya berusaha memulihkan keadaan umum kembali seperti sebelum hamil. Untuk itu, menurut kebutuhan-kebutuhan fisik diperlukan istirahat cukup, makan bergizi, udara segar, lingkungan bersih (bebas dari ancaman kuman-kuman penyakit). Dalam pemenuhan kebutuhan ini, diperlukan pengawasan dan perawatan yang sempurna serta pengertian dari keluarga setelah ibu pulang nanti (Ibrahim, 1996). Universitas Sumatera Utara

Kebutuhan psikologis merupakan kebutuhan bagi tiap-tiap individu, bahwa manusia butuh diakui oleh manusia lain, butuh dikenal, butuh dihargai, butuh diperhatikan, butuh hubungan yang sehat, dan sebagainya. Perlu diingat setelah melahirkan keadaan psikis ibu mengalami distress karena adanya kelelahan dan kekecewaan, keadaan ini disebut postpartum syndrom (depresi setelah melahirkan). Dalam pemenuhan kebutuhan psikologis ini perawat dan semua petugas kesehatan yang berhubungan, serta keluarga harus bersikap dan bertindak bijaksana. Harus dapat menunjukkan rasa simpatik, mengakui, menghargai, menghormati ibu sebagaimana adanya, memperhatikan ibu dengan memberikan ucapan selamat misalnya, akan dapat memberikan perasaan senang. Dengan adanya a good human relationship diharapkan dapat memenuhi kebutuhan psikologis ibu setelah melahirkan (Ibrahim, 1980). 2.2 Perawatan Diri 2.2.1 Pengertian Merawat adalah suatu aktivitas atau kegiatan dengan ruang lingkup yang luas, yang dapat menyangkut diri kita sendiri, orang lain atau sesuatu yang lain dapat juga menyangkut lingkungan kita. Jika kita merawat sesuatu, kita menginginkan agar hasil yang dicapai akan memuaskan, jadi kita akan selalu berusaha untuk mencapai suatu keseimbangan antara keinginan kita dan hasil yang akan diperoleh. Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial, dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004). Universitas Sumatera Utara

Perawatan diri mempunyai arti yang lebih luas dari apa yang sering diartikan dengan cara merawat diri menurut AKS (aktivitas kehidupan sehari-hari). Dalam pengertian merawat diri individu, terdapat beberapa hal yang mendasar yaitu pertama menyangkut sejumlah nilai, norma dan pendapat sehubungan dengan perbuatan seseorang sesuai dengan tindakannya. Kedua menyangkut juga pengertian, pandangan pribadi, dan beberapa aspek tertentu. Seseorang menginginkan suatu perawatan tertentu berdasarkan pandanganpandangan pribadinya. Jika seseorang tidak lagi berminat mengambil keputusan semacam ini, maka ia akan mengalami gangguan merawat diri. Jadi dapat dikatakan bahwa kegiatan perawatan diri merupakan sikap dan kegiatan yang dilakukan pada saat perawatan diri itu berlangsung (Stevens dkk, 2000). Perawatan pascasalin adalah perawatan terhadap wanita yang telah selesai bersalin sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lamanya kira-kira 6-8 minggu. Akan tetapi seluruh alat genitalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Hanafiah, 2004). 2.2.2 Jenis-jenis perawatan diri pascasalin Setelah lahirnya plasenta, organ-organ reproduksi akan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Untuk membantu mempercepat proses pemulihan ibu harus melakukan perawatan diri pascasalin. Ada beberapa jenis perawatan diri yang dapat dilakukan oleh ibu pascasalin diantaranya: perawatan vulva dan perineum, perawatan uterus dan abdomen, perawatan payudara, perawatan kaki, perawatan hemoroid, dan perawatan kulit (Pritchard, dkk.1991). Universitas Sumatera Utara

2.2.3 Cara Melakukan Perawatan Diri Post Partum a. Perawatan Vulva dan Perineum Vulva adalah bentuk lonjong dibatasi oleh klitoris pada bagian depan, kanan kiri oleh labia minora, dibelakang oleh perineum, terdapat orificium eksternal (Mochtar,1991). Perawatan vulva dapat dimulai dengan menyiram genitalia eksterna dan anus dengan air yang bersih kemudian cuci dengan sabun sampai kotoran-kotoran yang keluar dari vagina bersih. Kemudian bilas dengan air bersih. Lakukan perawatan vulva ketika mandi dan setiap kali ibu merasa tidak nyaman (Pritchard,1991). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus. Yang perlu diperhatikan dalam perawatan perineum adalah bentuk luka perineum. Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu Ruptur dan Episiotomi (Danis, 2000 dalam Harnawatiaj, 2008). Ruptur adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala dan bahu janin pada saat proses persalinan. Bentuk ruptur biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan (Hamilton, 2002). Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi. Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anastesi local, kecuali bila pasien sudah diberi anastesi epidural (Derek, 2002 dalam Harnawatiaj, 2008). Universitas Sumatera Utara

Menurut Hamilton (1995) lingkup perawatan perineum adalah mencegah kontaminasi dari rektum, menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma. Bersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau. Prosedur yang diajurkan kepada ibu untuk melakukan perawatan perineum yaitu mencuci tangan, membuang pembalut yang penuh dengan gerakan kebawah mengarah ke rektum dan letakkan pembalut tersebut kedalam kantong plastik, berkemih dan BAB ke toilet, siramkan air ke seluruh perineum, keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang kemudian setelah semua selesai cuci kembali tangan (Hamilton, 1995). Perawatan perineum juga bisa dilakukan dengan cara penghangatan kering. Penghangatan kering dari cahaya lampu kadang-kadang digunakan untuk meningkatkan penyembuhan perineal, caranya perineum dibersihkan terlebih dahulu untuk membuang sekresi. Ibu berbaring terlentang dengan lutut fleksi dan diregangkan, dan lampu diletakkan dengan jarak 20 inci dari perineum. Penghangatan dengan cahaya lampu biasanya dilakukan tiga kali sehari selama 20 menit (Hamilton, 1995). b. Perawatan Uterus dan Abdomen Uterus (rahim) adalah struktur otot yang cukup kuat, dibagian luar ditutupi peritoneum dan rongga dalam dilapisi oleh mukosa rahim. Dalam keadaan tidak hamil, rahim terletak dalam rongga panggul kecil antara kandung kemih dan dubur. Rahim bentuknya seperti bola lampu pijar atau buah pear dan berongga terdiri atas 3 bagian besar yaitu badan rahim berbentuk segitiga, leher rahim berbentuk silinder, dan rongga rahim (Mochtar, 1991). Universitas Sumatera Utara

Besarnya rahim berbeda-beda tergantung pada usia, pernah melahirkan anak atau belum, ukurannya kira-kira sebesar telur ayam kampung. Pada nulipara ukurannya 5,5-8 cm x 3,5-4 cm x 2-2,5 cm sedangkan pada multipara 9-9,5 cm x 5,5-6 cm x 3-3,5 cm. Beratnya 40-50gr pada nulipara dan 60-70gr pada multipara. (Mochtar, 1991). Segera setelah melahirkan ukuran dan konsistensi uterus kira-kira seperti buah melon kecil dan fundusnya terletak tepat dibawah umbilicus. Setelah itu tinggi fundus berkurang 1-2 cm setiap hari sampai akhir minggu pertama, saat tinggi fundus sejajar dengan dengan tulang pubis (Hamilton, 1995). Dengan kontraksi yang baik, uterus bisa diharapkan kembali mengkerut ke ukuran normal tanpa bantuan obat-obatan. Karena kontraksi pada dasarnya tidak hanya dibutuhkan untuk mengeluarkan janin saat persalinan. Tapi juga mengembalikan rahim ke bentuk dan ukuran semula, baik pada persalinan normal maupun persalinan dengan tindakan seperti vakum, forcep ataupun sesar (Pritchard,1991). Untuk memaksimalkan involusi uteri dan memulihkan tonus abdomen dapat dibantu dengan penggunaan korset dan melakukan senam nifas. Latihan ini dapat dilakukan dalam waktu 5-10 kali hitungan setiap harinya dan akan meningkat secara berlahan-lahan. Program senam nifas dimulai dari tahap yang paling sederhana hingga yang sulit. Adapun gerakan-gerakannya sebagai berikut: Hari pertama, ambil nafas dalam-dalam, perut dikembungkan, kemudian napas dikeluarkan melalui mulut. Ini dilakukan dalam posisi tidur terlentang. Hari kedua, tidur terlentang, kaki lurus, tangan direntangkan kemudian ditepukkan ke muka badan dengan sikap tangan lurus, dan kembali ke samping. Hari ketiga, berbaring dengan posisi tangan di samping badan, angkat lutut dan Universitas Sumatera Utara

pantat kemudian diturunkan kembali. Hari keempat, tidur terlentang, lutut ditekuk, kepala diangkat sambil mengangkat pantat. Hari kelima, tidur terlentang, kaki lurus, bersamasama dengan mengangkat kepala, tangan kanan, menjangkau lutut kiri yang ditekuk, diulang sebaliknya. Hari keenam, tidur terlentang, kaki lurus, kemudian lutut ditekuk ke arah perut 90o secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan. Hari ketujuh, tidur terlentang kaki lurus kemudian kaki dibuka sambil diputar ke arah luar secara bergantian. Hari 8, 9, 10, tidur terlentang kaki lurus, kedua telapak tangan diletakkan di tengkuk kemudian bangun untuk duduk (sit up) (Schemieg, 2009). c. Perawatan Payudara Perawatan payudara adalah melakukan perawatan payudara pada ibu pascasalin atau sesudah melahirkan untuk memperlancar proses laktasi. Perawatan dengan menggunakan baby oil dan massage di sekitar payudara selama hamil juga dapat membantu puting yang datar. Sebaiknya dilakukan sebalum atau sewaktu mandi. Prosedur parawatan payudara pada Ibu yang menyusui ada lima langkah masing-masing dilakukan 25-30 kali yaitu; pertama, tempatkan kedua belah telapak tangan di tengah dada ibu kemudian lakukan gerakan memutar mengelilingi payudara kearah luar, saat tangan berada di bawah payudara, angkat atau sanggah payudara sebentar dan lepaskan secara perlahan kearah depan. Kedua, tangan kanan membentuk kepalan, tempatkan di pangkal payudara. Tangan kiri menyanggah payudara, dengan buku-buku jari lakukan pengurutan dari pangkal payudara ke ujung ke arah puting susu. Lakukan merata ke seluruh payudara. Ketiga, tangan kanan diletakkan di pangkal payudara, tangan kiri Universitas Sumatera Utara

menyanggah payudara, lakukan pengurutan dari pangkal ke ujung ke arah putting susu. Keempat, tempatkan masing-masing ibu jari di atas payudara dan jari-jari lain menopang atau menyanggah payudara, tekan jari-jari ke ujung payudara atau ke arah puting susu. Kelima, lakukan gerakan memelintir puting susu sampai puting susu elastis dan kenyal. Kompres payudara menggunakan handuk yang telah dibasahi dengan air hangat selama 5 menit, ulangi pengompresan menggunakan handuk yang dibasahi dengan air dingin lakukan bergantian dan akhiri pengompresan menggunakan handuk yang dibasahi dengan air dingin. Lakukan 3 kali pada setiap payudara, keluarkan ASI kemudian keringkan (Kompos, 2008). Selain itu parawatan payudara juga dilakukan pada Ibu yang tidak menyusui, misalnya pada ibu yang bayinya meninggal setelah dilahirkan. Pada Ibu yang tidak menyusui, pemberian obat-obat penghambat laktasi untuk mengurangi pembengkakan payudara yang terjadi dalam derajat tertentu. Penggunaan kutang yang dapat menyanggah payudara dengan baik sangat dianjurkan. Dapat juga dilakukan kompres es tetapi secara periodik harus dihentikan untuk memungkinkan terjadinya disfungsi refleks saraf dan aliran darah di antara kulit. Obat-obatan analgetik dapat digunakan untuk mengurangi rasa tidak nyaman (Hamilton, 1995). d. Perawatan Kaki Beratnya bobot tubuh yang bertumpu pada kaki selama kehamilan dapat menyababkan terjadinya tromboflebitis. Tromboflebitis merupakan peradangan dinding vena dan biasanya disertai pembentukan bekuan darah. Ketika pertama Universitas Sumatera Utara

kali terjadi bekuan pada vena akibat statis atau hyperkoagulabilitas, tanpa disertai peradangan, maka proses ini awal dari tromboflebitis (Smeltzet, 2003). Perawatan tromboflebitis dapat dilakukan dengan tirah baring 5-7 hari setelah terjadinya trombosis vena dalam waktu ini kurang lebih sama dengan waktu yang diperlukan trombus melekat pada dinding vena, sehingga menghindari terjadinya emboli. Ketika mulai berjalan harus menggunakan stoking elastis. Berjalan-jalan akan lebih baik dari pada berdiri atau duduk lama-lama. Latihan di tempat tidur seperti dorsofleksi kaki melawan papan kaki juga dianjurkan. Kompres hangat dan lembab pada ekstrimitas yang terkena dapat mengurangi ketidak nyamanan sehubungan dengan trombisis vena dalam (Smeltzet, 2003). e. Perawatan Hemoroid Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi pada bagian kanal anal. Hemoroid sangat umum terjadi pada usia 50 tahunan, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luasnya vena yang terkena. Kehamilan dapat mengawali atau memperberat hemoroid (Smeltzet, 2003). Beberapa Ibu mengalami nyeri hemoroid setelah melahirkan. Tindakan yang dapat membantu menurunkan nyeri tersebut termasuk mandi berendam. Salep analgetik, supositoria rektal, dan pembalut hazel. Hemoroid dapat dimasukkan ke dalam rektum dengan menggunakan jari tangan yang bersarung. Mempertahankan posisi berbaring miring atau terlentang dan menghindari duduk lama juga sangat membantu. Hemoroid biasanya akan menghilang dalam beberapa minggu bila Ibu tidak mengalaminya sebelum kehamilan (Hamilton, 2003). Universitas Sumatera Utara

f. Perawatan Kulit Naik turunnya kadar hormon estrogen dan progesteron saat hamil dan sesudah bersalin sangat mempengaruhi kulit. Beberapa kulit bereaksi dengan berjarawat dan ada juga yang lebih mulus dari biasanya. Jika anda berjarawat, sebisanya tidak menggunakan obat karena unsur kimianya bisa membahayakan si kecil yang masih menyusu. Lakukan saja perawatan kulit wajah rutin, seperti membersihkan, menyegarkan, dan melembabkan kulit (Danuatmaja, 2003). Jika ketika hamil mengalami topeng kehamilan (cloasma gravidarum), atau perubahan kulit yang menjadi lebih gelap di sekitar mata, tulang hidung, dahi, dan bibir atas. Setelah melahirkan perubahan ini akan memudar dalam enam bulan. Beberapa obat-obatan memang dapat mempercepat, tetapi lupakan pemakaiannya jika sedang menyusui si kecil. Sambil menunggu kulit mulus kembali hindari paparan sinar matahari secara langsung karena akan memperparah melasma. Jika ingin keluar rumah gunakan krim tabir surya. Coba periksa leher, ketiak, dan bagian bawah payudara, apakah mengalami kulit tags atau serpihan daging tumbuh, jika ya tidak perlu khawatir karena ini bukan masalah medis yang perlu dikhawatirkan (Danuatmaja, 2003). 2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan diri masa pascasalin. Aktifitas merawat diri masa pascasalin merupakan hal yang sangat penting. Selain mencegah infeksi nifas, perawatan pascasalin juga bertujuan mempercepat proses pengembalian keadaan ibu seperti keadaan sebelum hamil, serta meningkatkan kualitas hidup ibu dan bayi. Ibu harus mengetahui bentuk perawatan diri mana yang akan dijalankan dengan kesungguhan dan cara yang Universitas Sumatera Utara

sehat. Menurut berbagai sumber aktifitas merawat diri yang dijalankan seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berbeda. Ada lima faktor yang mempengaruhi dalam melakukan perawatan pascasalin. 2.3.1 Faktor masa lalu. Melalui pengalaman di masa lalu seseorang dapat belajar cara merawat diri. Apabila Ibu sudah mengenal manfaat perawatan diri atau tehnik yang akan dilakukan, maka Ibu akan lebih mudah dalam melakukan perawatan diri pascasalin (Stevens, 2000). Contohnya jika Ibu mengetahui atau pernah melakukan perawatan payudara sebelumnya, maka akan mempengaruhi perilaku perawatan diri Ibu pascasalin. Ibu lebih mudah belajar atau melakukan perawatan payudara. Sedangkan Ibu yang belum mengetahui tentang perawatan payudara akan sulit melakukan perawatan tersebut. Dalam hal ini masa lalu memberikan pengaruh pada perilaku Ibu untuk melakukan perawatan diri pascasalin. Menurut Stright (2005) dalam Yuliana (2008) ada faktor-faktor yang berpengaruh dalam perawatan diri Ibu pascasalin adalah faktor pengalaman pascasalin meliputi sifat persalinan/kelahiran, tujuan kelahiran, persiapan persalinan/kelahiran, peran menjadi orang tua yang mendadak. 2.3.2 Faktor lingkungan ibu pascasalin. Lingkungan akan terus berubah selama kita hidup. Jika memasuki suatu fase kehidupan yang baru, akan selalu terjadi proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Situasi ini dapat mempengaruhi Ibu dalam melakukan perawatan diri pada masa pascasalin (Stevens, 2000). Universitas Sumatera Utara

Sarana prasarana tersedia di dalam lingkungan guna mendukung dan mempromosikan perilaku kesehatan. Jasa konsultan dan spesialis dari petugas kesehatan lain seperti ahli nutrisi, dokter ahli, dan pekerja sosial harus ada sebagai usaha dalam membantu pasien mendapatkan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai atau menjaga kesehatan dan kesejahteraannya agar tetap optimal. Organisasi berbasis masyarakat sering kali merupakan sarana yang sangat baik untuk menyebarkan informasi (Gomez & Gomez, 1984 dalam Bastable, 2002). Selain itu, keluarga juga berperan sebagai sistem pendukung yang kuat bagi anggotaanggotanya, khususnya dalam penanganan masalah kesehatan keluarga. Seperti halnya Ibu pascasalin, maka anggota keluarga yang lain akan berusaha untuk membantu memulihkan kondisi kesehatannya ke kondisi semula. Fungsi keluarga dalam masalah kesehatan meliputi reproduksi, upaya membesarkan anak, nutrisi, pemeliharaan kesehatan dan rekreasi (Bobak, 2004). 2.3.3. Faktor internal ibu pascasalin. Faktor internal adalah segala sesuatu yang berasal dari dalam diri sendiri (Marhijanto, 1999). Aktivitas merawat diri akan berbeda pada setiap individu. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh; usia, pendidikan, karakter, keadaan kesehatan, tempat lahir, budi pekerti, kebudayaan, dll. Ada juga faktor tertentu yang melekat pada pribadi yang tertentu seperti: selera dalam memilih, gaya hidup, dll. Pada Ibu usia muda perawatan pascasalin yang dilakukan akan berbeda dengan Ibu yang memiliki usia lebih dewasa. Demikian juga dengan pendidikan semakin tinggi pendidikan Ibu, maka kepeduliannya terhadap perawatan diri semakin baik (Stevens, 2000). Universitas Sumatera Utara

2.3.4 Petugas kesehatan Petugas kesehatan, khususnya perawat sangat berperan penting dalam mempengaruhi perilaku perawatan diri Ibu pascasalin. Perawat merupakan orang yang dalam melakukan tindakannya didasari pada ilmu pengetahuan serta memiliki keterampilan yang jelas dalam keahliannya. Selain itu perawat juga mempunyai kewenangan dan tanggung jawab dalam tindakan yang berorientasi pada pelayanan melalui pemberian asuhan keperawatan kepada individu, kelompok, atau keluarga. Pemberian asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan kebutuhan dasar pasien. Di rumah sakit perawat adalah orang yang paling dekat dengan pasien, oleh sebab itu perawat harus mengetahui kebutuhan pasiennya. Perawat dapat memberikan asuhan keperawatan misalnya mengajarkan pada ibu postpartum bagaimana cara melakukan perawatan diri. Awalnya perawat dapat membantu Ibu dalam melakukan perawatan diri pascasalin, kemudian anjurkan Ibu untuk mengulanginya secara rutin dengan bantuan suami atau keluarga. Selanjutnya Ibu akan mampu melakukan perawatan diri pascasalin secara mandiri (Hidayat, 2004). 2.3.5 Pendidikan kesehatan Pendidikan kesehatan merupakan serangkaian upaya yang ditujukan untuk mempengaruhi orang lain, mulai dari individu, kelompok, keluarga dan masyarakat agar terlaksananya perilaku hidup sehat. Sama halnya dengan proses pembelajaran yang bertujuan merubah perilaku individu, kelompok, keluarga dan masyarakat. Pendidikan kesehatan yang dimaksud adalah pendidikan kesehatan yang diperoleh Ibu pascasalin dari perawat atau tenaga kesehatan lainnya tentang Universitas Sumatera Utara

kesehatan, dalam hal ini khususnya tentang perawatan diri pascasalin (Dermawan, 2008). Pendidikan kesehatan ini akan mempengaruhi pengetahuan Ibu tentang perawatan diri pascasalin, yang akhirnya akan mempengaruhi perilaku perawatan diri Ibu. Untuk mempermudah pemahaman Ibu, dalam melakukan pendidikan kesehatan perawat dapat menggunakan metode demonstrasi. Jika memungkinkan minta pasien untuk menjadi praktikan, jika tidak memungkinkan dapat menggunakan patung. Universitas Sumatera Utara

Efektivitas Massase Uterus terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Kala IV Persalinan di Klinik Bersalin Mariani - Medan Authors: a Nababan, Efelyn Advisors: Darti, Nur Afi Issue Date: 14-May-2011 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh massase uterus terhadap penurunan tinggi fundus uteri pada kala IV persalinan di klinik bersalin Mariani-Medan. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah quasi-eksperiment. Besar sampel ditentukan berdasarkan tabel power analysis dengan jumlah sampel minimal 13 orang. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria ibu bersalin secara pervaginam yang tidak mengalami komplikasi, kontraksi uterus lemah, tidak mengalami perdarahan, sedang berada pada kala IV (kala pengawasan) dan bersedia dilakukan intervensi massase uterus dengan sukarela. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner Abstract: data demografi dan lembar observasi hasil pengukuran tinggi fudus uteri dalam satuan millimeter. Pengumpulan data dilakukan selama tiga bulan, yaitu Januari hingga Maret 2010. Hasil pengumpulan data diuji menggunakan uji paired t-tes yang digunakan untuk membandingkan tinggi fundus uteri sebelum dan setelah dilakukan intervensi massase uterus. Berdasarkan hasil analisa data uji paired t-test diketahui bahwa tinggi fundus uteri mengalami penurunan yang signifikan yaitu sekitar 1.25-3 millimeter dengan nilai p=0.000 (p<0,05). Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh perawat dalam melakukan asuhan keperawatan kala IV pada ibu-ibu bersalin pervaginam. Perawat sebaiknya melakukan tindakan massase uterus selama kala IV untuk membantu Title:

Keywords:

URI: Appears in SP - Nursing Collections:

kontraksi uterus tetap baik sehingga mempercepat penurunan tinggi fundus uteri selama kala IV dan proses involusi uteri berlangsung dengan baik dan ibu cepat sehat. Massase Uterus Penurunan Tinggi Fundus Uteri Kala IV http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/24415