Anda di halaman 1dari 7

Pernikahan Dini Langgar Hak Anak

Kamis, 13 November 2008 | 16:01 WIB YOGYAKARTA, KAMIS Pernikahan dini setidaknya melanggar lima hak anak. Ironisnya, pernikahan dini masih banyak terjadi di Indonesia. Hal itu diungkapkan Tri Lestari Dewi Saraswati, Direktur Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak Yogyakarta, Kamis (13/11) di Yogyakarta. Menurut Tri, hak-hak anak yang dilanggar, yaitu pertama, hak untuk mendapatkan pendidikan. "Dengan kasus pernikahan dini itu, anak tidak melanjutkan sekolah," katanya. Kedua, hak untuk berpikir dan berekspresi. Sesuai UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan setiap anak berhak untuk berpikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya dalam bimbingan orangtuanya. "Dengan kasus pernikahan dini tentunya anak sudah tidak lagi bisa mengekspresikan dan berpikir sesuai usianya karena dia dituntut dengan berbagai kewajiban sebagai seorang istri," ucapnya. Ketiga, hak untuk menyatakan pendapat dan didengar pendapatnya. "Perlu dipertanyakan apakah dalam kasus pernikahan dini anak telah dimintai pendapatnya dan didengar pendapatnya. Sebab, pada kenyataannya orang dewasa cenderung memandang anak belum mampu menentukan keputusan sendiri. Akhirnya, ujar Tri, orang dewasalah yang mengambil keputusan dan mengatasnamakan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak. "Padahal, banyak motif berdasarkan kepentingan orang dewasa atau orangtua, seperti motif ekonomi," katanya. Keempat, hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan teman sebaya, bermain, berekspresi, dan berkreasi. Kelima, hak perlindungan. Anak seharusnya dilindungi dari pernikahan dini yang berdampak pada perkembangan anak, baik secara fisik maupun psikis. Rohidin, dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, menyatakan, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mengatasnamakan agama atau hukum agama bahwa perkawinan dini itu bisa dibenarkan. "Karena tidak diatur dalam hukum Islam," katanya.

Kiai Nikahi ABG, Secara Medis Membahayakan

TPG IMAGES /

Jumat, 24 Oktober 2008 | 04:36 WIB SEMARANG, KAMIS Seorang kiai kaya raya, Syekh Puji, mengaku akan menikahi dua bocah lagi, umurnya 9 dan 7 tahun. Keduanya akan dinikahi sekaligus dengan Lutfiana Ulfa (12). Kalau pernikahan itu terwujud, Syekh Puji memiliki empat istri. Kiai nyentrik yang terkenal karena membagi zakat Rp 1,3 miliar ini beberapa hari terakhir membuat heboh karena tersebar kabar bahwa ia telah menikahi gadis cilik berusia 12 tahun bernama Lutfiana Ulfa. Sebelumnya, pada bulan puasa lalu sang kiai membagikan zakat yang jumlahnya sangat spektakuler. "Kalau Ulfa umurnya 12 tahun, gadis yang lain ada yang umurnya 9 tahun dan satu lagi 7 tahun," kata Syekh Puji. Pernikahan dengan para bocah itu akan dilangsungkan dalam waktu dekat atau bahkan dalam minggu-minggu ini. Pada pernikahan itu Puji akan menikahi tiga gadis di bawah umur sekaligus, salah satunya adalah Lutfiana Ulfa. Namun, kiai bernama asli Pujiono Cahyo Widianto (43) itu masih merahasiakan nama kedua bocah yang juga bakal menjadi istrinya. Syekh Puji punya alasan mengapa ia berhasrat menikahi gadis-gadis belia. "Saya ini memang sukanya yang kecil," kata pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Miftakhul Jannah, Semarang, Jawa Tengah, ini. Menurut Puji, dirinya memang suka dengan wanita yang masih kecil supaya ia bisa dengan mudah mendidik pasangannya agar menjadi orang hebat. Menurut Puji, ketiga istri ciliknya tersebut bakal diminta mengurus sejumlah perusahaannya. Saat ditanya apakah bocah-bocah di bawah umur itu bersedia ia nikahi, Syekh Puji menjawab sambil terkekeh, "Wong mereka sudah menyatakan cintanya kepada saya.

(Ulfa bilang) Saya cinta Syekh Puji." Ketika dikatakan bahwa pernikahannya dengan gadis cilik itu menimbulkan pro-kontra di masyarakat, Syekh Puji beralasan pernikahan tersebut ia lakukan berdasarkan ajaran agama. "Saya punya dasar agama juga. Enggak ngawur," katanya. Syekh Puji mengatakan, dia mengikuti Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah, gadis berumur 7 tahun. Namun, Rasulullah tidak bercampur dengan Aisyah hingga si gadis akil baliq. Syekh Puji pun tidak akan bercampur dengan istri-istri ciliknya sebelum mereka akil baliq. "Saya sesuai ajaran kanjeng nabi. Kalau menikah dengan yang umurnya 7 tahun boleh saja. Kalau urusan campur, itu baru dilakukan setelah dia mens," ujarnya. Menurut Syekh, Lutfiana Ulfa sudah akil baliq atau dengan kata lain sudah haid. Syekh Puji juga menjelaskan bahwa sejauh ini pernikahannya dengan Ulfa belum terjadi. Rencananya, Puji akan menikahi Ulfa dan dua gadis cilik lainnya sekaligus atau di waktu dan tempat yang sama. Sebelumnya, Darmo, tetangga Ulfa, mengatakan bahwa Syekh Puji pada bulan Puasa lalu mengatakan telah menikahi Ulfa secara siri. Darmo mengaku tak tahu pasti kapan pernikahan siri dilakukan. Namun, menurut kabar yang ia dengar, pernikahan itu digelar di ponpes Miftakhul Jannah milik Syekh Puji. Dilarang Kiai Husein Muhammad, Komisioner Komnas Perempuan, menyatakan, pernikahan pria dewasa dengan wanita di bawah umur dan dilakukan secara siri merupakan pernikahan terlarang. Pasalnya, pernikahan tersebut merugikan si perempuan. "Tidak boleh terjadi pernikahan di bawah umur dan nikah siri. Ini harus ada solusi. Islam itu melindungi perempuan," katanya. Husein Muhammad menegaskan, menikahi bocah 12 tahun melanggar UU Perkawinan. Ia tidak bisa menerima alasan yang mengatasnamakan Islam dalam kasus pernikahan tersebut. Pernikahan siri, kata Husein, sangat bertentangan dengan ajaran Islam. "Karena Islam justru harus melindungi perempuan. Kalau nikah siri, malah merugikan, bukan melindungi," katanya. "Si perempuan tidak punya perlindungan hukum kalau terjadi apaapa bagaimana? Belum lagi kalau punya anak, anaknya tidak akan diakui oleh negara," tutur Kiai Husein. Bagaimana pendapat dari sisi medis? Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr Deradjat Mucharram Sastrawikarta Sp.Og mengatakan, pernikahan pada anak perempuan berusia 9-12 tahun sangat tidak lazim dan tidak pada tempatnya. "Apa alasannya ia menikah? Sebaiknya jangan dulu berhubungan seks hingga anak itu matang fisik ataupun psikologis," ujarnya saat dihubungi semalam. Menurutnya, pernikahan itu menyalahi peraturan pemerintah yang mewajibkan usia minimal 16 tahun untuk menikah.

Dokter yang berpraktik di klinik spesialis Tribrata Polri ini menjelaskan, kematangan fisik seorang anak tidak sama dengan kematangan psikologinya sehingga meskipun anak tersebut memiliki badan bongsor dan sudah menstruasi, secara mental ia belum siap untuk berhubungan seks. "Apakah anak seusia itu sudah mengerti tentang hubungan seks, kalau belum, itu bisa saja dikatakan 'menggagahi' karena bukan atas dasar suka sama suka," tandasnya. Ia menambahkan, kehamilan bisa saja terjadi pada anak usia 12 tahun. Namun, psikologinya belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Jika dilihat dari tinggi badan, wanita yang memiliki tinggi dibawah 150 cm kemungkinan akan berpengaruh pada bayi yang dikandungnya. Posisi bayi tidak akan lurus di dalam perut ibunya. Sel telur yang dimiliki anak juga diperkirakan belum matang dan belum berkualitas sehingga bisa terjadi kelainan kromosom pada bayi. Dalam mengahadapi persalinan, kematangan psikis juga sangat berpengaruh. Di kotakota besar, bisa saja dilakukan operasi melahirkan. Namun, persalinan normal bagi anak yang belum dewasa juga cukup beresiko. Jika hubungan seks dilakukan pada saat anak tersebut belum menstruasi, bisa mengakibatkan robek berat pada bagian keintimannya dan bisa mengganggu sistem reproduksinya kelak jika terjadi infeksi. Sementara itu, Warta Kota menerima telepon dari orang yang mengaku adik kelas Syekh Puji sewaktu SMP di Semarang. Orang yang meminta namanya tidak disebutkan ini mengatakan, Syekh Puji memiliki sifat doyan perempuan. "Yang saya tahu sebelum ini dia sudah memiliki banyak istri," katanya. Sebelum menjadi miliarder, Syekh Puji pernah menjadi karyawan perusahaan kaset di Jakarta. Setelah berhenti bekerja, Syekh Puji membuka usaha kaligrafi kuningan. "Omzetnya Rp 150 miliar setahun," katanya. Sistem penjualan yang dilakukan Syekh Puji menggunakan direct selling. Dia merekrut pengangguran untuk menjadi tenaga penjual yang dikirim ke berbagai daerah. Usahanya berhasil karena omzet penjualannya terus meningkat. "Namun, ada cacatnya, karena sistemnya bagi hasil, orang yang dikirim ke berbagai daerah penghasilannya tergantung dari hasil penjualan. Kalau dagangannya tidak laku, orang itu tak akan punya uang," katanya. (sab/tat)

Mengapa Pernikahan Bisa Amat Singkat?

TPG IMAGES /

Rabu, 20 Agustus 2008 | 10:39 WIB ENGGAK nyangka ya kayaknya baru kemarin ada berita dia menikah besar-besaran, eh tahu-tahu sudah cerai, begitu komentar seorang teman saat menyaksikan berita perceraian seorang artis di infotainment. Komentar-komentar seperti ini beberapa tahun belakangan sering kali terdengar. Tak heran jika kemudian muncul stereotipe bahwa artis identik dengan kawin cerai. Parahnya, makin ke sini usia pernikahan sepertinya makin pendek saja. Belum satu tahun menikah, sudah saling menggugat cerai. Ternyata, fenomena ini juga terjadi di sekitar kita. Apa penyebab perkawinan singkat? Dan mengapa perempuan sekarang lebih berani memutuskan bercerai? KURANG UANG Beberapa faktor yang menjadi penyebab perkawinan berusia pendek, menurut Adriana Ginanjar, psikolog dari Universitas Indonesia, di antaranya: - Tidak terlalu kenal. Masa pacaran yang singkat bisa jadi penyebab. Mereka tak saling mengenal sehingga terkaget-kaget begitu kelemahan pasangannya terkuak setelah pesta pernikahan. - Fokus hanya satu hal. Mereka hanya memerhatikan pasangan untuk satu hal saja dan tak melihat lagi hal lainnya. Misal, pasangannya begitu perhatian. Ia tak tahu bahwa selain perhatian, dibutuhkan tanggung jawab, penghargaan, dan lainnya untuk membina suatu perkawinan. - Masalah keuangan. Uang merupakan masalah sensitif karena menyangkut power dan harga diri, Persoalan ini banyak memicu perceraian. Juga ikut campurnya keluarga dalam persoalan rumah tangga.

- Orang ketiga. Bagi sebagian orang, ketika pernikahan telah dinodai oleh orang ketiga, tak ada jalan lain yang harus ditempuh kecuali perceraian. CERAI? SIAPA TAKUT! Menurut Adriana, fenomena makin banyaknya perempuan yang berani mengambil keputusan cerai belakangan ini karena perempuan sekarang banyak yang bekerja sehingga merasa mapan secara ekonomi. Sepuluh tahun lalu, perempuan akan berpikir seribu kali untuk bercerai. Banyak yang perlu dipikirkan, dari soal anak-anak sampai lingkungan sosial. Mungkin benar kalau dibilang orang sekarang lebih individualistis. Lebih melihat kepentingan diri sendiri. Pernikahan kini bukan lagi mencari status atau mendapatkan rasa aman, melainkan pencarian kebahagiaan, ungkap Adriana. Ia juga menambahkan, kebanyakan perempuan sekarang menginginkan perkawinan bisa membawa kebahagiaan dalam waktu singkat. Orang sekarang kurang sabar dan tabah menjalani perkawinan sehingga ketika merasa tak bahagia dalam perkawinan, mereka mudah memutuskan cerai. Alasan mereka bercerai cepat juga cukup menarik, yakni mumpung masih muda dan anak masih kecil. Dulu, orang yang akan bercerai biasanya akan menunggu anak-anaknya cukup besar atau dirasa siap menerima perceraian. Sekarang, makin cepat malah mungkin dianggap makin baik. Kalau sudah ketahuan tak cocok mengapa harus menunggu 5-10 tahun lagi? Begitu pikir mereka. Makin kecil usia anak makin bagus karena dia belum tahu apa-apa dan akan mudah beradaptasi dengan ayah baru dalam pernikahan berikutnya. Setiap keputusan yang diambil terburu-buru pastinya tak akan berdampak baik. Kalau setiap kepentok persoalan dalam perkawinan Anda memilih berpisah, wah repot dong. Bukan hanya dua kali, Anda mungkin bakal mengalami pernikahan berkali-kali. Padahal, pernikahan bukan seperti pakaian yang bisa Anda buka dan menggantinya dengan yang baru sesuka hati. Ada hal yang perlu dipikirkan sebelum Anda memutuskan bercerai, di antaranya kemungkinan untuk mengulang kesalahan yang sama akan lebih besar. Misal, persoalan antara Anda dan pasangan adalah beda komunikasi. Anda merasa komunikasi Anda dengan dia tidak nyambung. Karena itu Anda memilih berpisah dan mencari orang yang komunikasinya bisa nyambung dengan Anda. Persoalannya, menurut Adriana, kecenderungannya perempuan tertarik pada pria bertipe sama. Kemungkinan besar pasangan barunya akan setipe dengan pasangan lamanya. Bukan tidak mungkin masalah yang sama juga akan terjadi lagi. Dan jika tidak dibereskan, persoalan ini akan terus terjadi. Belum lagi persoalan anak. Anak akan merasa tidak mendapat perhatian, berkonflik dengan mantan suami gara-gara urusan anak, dan sebagainya. Berikutnya Anda akan

menghadapi persoalan baru ketika akan menikah lagi. Siapa yang menjadi korban? Lagilagi anak. TUMBUH BERSAMA Lantas apa yang harus dilakukan ketika perkawinan mengalami masalah agar tidak terjadi perceraian? Adriana memberi langkah-langkah berikut. - Atasi Bersama. Jangan menganggap pernikahan bakal steril dari masalah. Ada baiknya sebelum menikah Anda menyiapkan diri kalau-kalau masalah itu ada. Namun, yang paling penting adalah mengatasinya bersama-sama. Kalau ada ketidakcocokan dan perbedaan, benahi bersama. Lakukan komunikasi. Lagi pula bukankah perbedaan malah akan membuat hubungan lebih kaya. - Terima saja. Kalau komunikasinya tidak berhasil, terima saja hal itu sebagai kelemahan dia yang harus Anda terima apa adanya. - Toleransi. Bukan hanya komunikasi yang penting, tapi juga toleransinya harus kencang. Toleransi di sini adalah Anda bisa menerima hal-hal negatif dalam diri pasangan. Sadari bahwa ada hal-hal dalam dirinya yang memang harus Anda terima dan ada yang bisa Anda ubah untuk jadi lebih baik. - Fleksibilitas. Dalam suatu pernikahan, tak ada peraturan mati. Misal, dalam perjanjian sebelum menikah, yang bertugas mengurus keuangan adalah Anda. Tapi di tengah jalan karena satu dan lain hal itu tidak lagi memungkinkan sehingga peraturan harus diubah. Nah, Anda harus bisa menerima itu. Biarkan aturan itu berkembang sejalan dengan pernikahan Anda. Sehingga Anda dan perkawinan sama-sama tumbuh. - Waktu Berdua. Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang Anda dan pasangan suka. Ciptakan romantisme. Ini perlu untuk mempertahankan keintiman. Kalau komunikasi Anda dan dia kurang sehat, sering kali bertengkar, lakukan kegiatan ini tanpa berkata-kata. Misal, menonton film sambil berpegangan tangan atau berpelukan. Dari sini bisa tercipta kedekatan emosi. Jika kondisi bisa tercipta dengan baik, pernikahan singkat tidak perlu terjadi.