Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN I.

I Latar Belakang Era globalisasi yang dihadapi masyarakat dunia pada saat ini memberikan kemajuan dalam informasi teknologi, komunikasi dan transportasi yang menjadi faktor utama terciptanya dunia yang borderless. Kemajuan-kemajuan tersebut memudahkan seseorang untuk bermigrasi dari tempat satu ke tempat yang lain. Meskipun demikian, jumlah migran meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2002 tercatat 154 juta migran internasional yang meningkat menjadi 191 juta pada tahun 2005. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kehidupan, khususnya secara ekonomi. Jika dianalisa lebih lanjut, hampir 50% migran adalah perempuan dengan peningkatan persentase dari tahun ke tahun. Dari 191 juta migran internasional yang terdata pada tahun 2005, 94.5 juta di antaranya adalah perempuan dengan 12.7 juta di antaranya mengalami forced migration. Oleh karena itu muncullah konsep gendered migration yang mencoba untuk menganalisa mengapa hal tersebut bisa terjadi dan apa yang terjadi di dalamnya. Dari tipe-tipe yang disebutkan di atas, buruh perempuan khususnya di Asia sebagai pemasok migran terbesar, menurut Yamanaka dan Piper melakukan pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga, entertainers dan/atau pekerja seks, pekerja ilegal, menjadi istri, skilled workers dan pekerja yang membagikan warisan budaya negaranya ke negara tujuan. Hal yang akan dibahas di makalah ini adalah mengapa peningkatan jumlah migran perempuan bisa meningkat dari tahun ke tahun dalam jumlah yang signifikan? Apa dampak dari migrasi tersebut baik bagi perempuan yang melakukan migrasi, keluarga dan negara yang ditinggalkan bahkan ke negara yang menjadi tujuannya?

I.II Pertanyaan Permasalahan: Bagaimana dampak migrasi perempuan terhadap dirinya sendiri, keluarga dan negara yang ditinggalkan serta negara tujuan?

[Type text]

Page 1

BAB II Landasan Teori II.I Migrasi dan Pembangunan Menurut The Special Rapporteur of the Commission on Human Rights kriteris seseorang disebut migran adalah: (1) orang yang berada di luar teritori negara dimana ia menjadi warga negara, tidak menjadi subjek dari perlindungan hukum negara tersebut; (2) orang yang tidak menikmati pemenuhan hak-hak dalam negaranya dan pindah ke negara lain (refugee); (3)orang yang tidak menikmati proteksi hak-hak mendasarnya dalam perjanjian diplomatik serta perjanjian lain yang disepakati negaranya. Menurut Jayati Gosh, migrasi ada fenomena multidimensi yang memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah dapat meningkatkan kesempatan untuk pekerjaan produktir dan membawa ke perspektif yang lebih luas tentang isu-isu sosial di antara migran dan populasi di negara tujuan. Sementara itu dampak negatif dari migrasi adalah memungkinkan terjadinya abuse buruh migran yang dilakukan oleh majikan dan lain-lain. Migrasi terdiri dari beberapa tipe, di antaranya adalah (1) migrasi permanen, adalah migrasi yang dilakukan dari satu negara ke negara lain tanpa ada niatan untuk kembali menetap di negara asal, (2) return migration, seseorang bermigrasi dan kembali ke negara asal baik secara sukarela maupun tidak setelah tinggal paling tidak satu tahun di negara lain. (3) forced migration, perpindahan yang dilakukan secara paksa dan biasanya sebagai akibat dari kejadian seperti bencana alam, konflik bersenjata atau pemindahan lain. (4) irregular migration, perpindahan yang dilakukan secara ilegal, seperti smuggling yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan materi atau trafficking yang dilakukan secara paksa oleh agen tertentu. (5) very short-term or seasonal migration, perpindahan dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dilakukan oleh buruh atau pekerja. Migrasi dan pembangunan masih menjadi yang menjadi perdebatan para akademisi: apakah migrasi mendorong pembangunan negara asal atau sebaliknya malah menghalangi pembangunan? Jika berkaca kepada sejarah yang terjadi pada tahun 1970-1980an, kegagalan strategi export-oriented industrialization (EO) dan structural adjustment programs (SAP) yang dilakukan oleh IMF dan Bank Dunia di negara dunia ketiga di Asia mengakibatkan krisis ekonomi, meningkatnya utang luar negeri dan tingkat pengangguran yang berdampak akhir kepada meningkatnya kemiskinan. Untuk keluar dari masalah ini, banyak orang Asia
[Type text] Page 2

yang menjadi buruh migran ke negara-negara berkembang. Tampaknya hal ini cukup membantu, paling tidak mengurangi jumlah pengangguran dan meningkatkan pendapatan negara. II.II Neoclassical Theory Neoclassical theory adalah teori migrasi yang fokus kepada push and pull factors sebagai faktor-faktor seseorang melakukan migrasi. Castells mengatakan secara singkat teori ini menekankan perpindahan dari tempat yang padat penduduk ke tempat yang lebih renggang atau dari low-income areas ke tempat yang siklus bisnisnya fluktuatif atau highincome areas. Faktor pendorong adalah kondisi-kondisi di negara asal yang menjadi alasan seseorang untuk pindah demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik, contohnya adalah bencana alam, ketidakstabilan politik dan ekonomi, pertumbuhan demografis, standar hidup yang rendah, demokrasi yang rendah, dan lain-lain. Sementara itu faktor penarik adalah kondisi-kondisi di negara tujuan yang terlihat lebih baik dibandingkan di negara asalnya dan membuat orang tertarik untuk pergi ke negara tersebut, seperti kebutuhan negara tersebut akan tenaga kerja, tingkat kehidupan yang lebih baik, stabilitas ekonomi dan politik, dan lainlain. Berdasarkan teori ini, keputusan seseorang untuk pindah adalah keputusan rasional yang dilakukan dengan menghitung cost and benefit demi memperoleh income maximization. Selain itu menurut teori ini, seseorang melakukan migrasi juga untuk individual maximalize utility, yaitu usaha seseorang untuk memaksimalkan potensi mereka demi memperoleh apa yang Chiswick sebut sebagai human capital. Maksudnya adalah seseorang memutuskan untuk berinvestasi lewat migrasi. Mereka berinvestasi dalam pendidikan atau pelatihan vokasi dan akan bermigrasi jika hasil (pendapatan) yang diharapkan lebih besar daripada effort yang dikeluarkan untuk bermigrasi.

[Type text]

Page 3

BAB III PEMBAHASAN Banyaknya jumlah perempuan yang bermigrasi disertai pertambahan jumlah yang signifikan dari tahun ke tahun membuat munculnya konsep feminization of international migration. Jumlah migran perempuan dari tahun 1960-2000 mengalami kemajuan lebih dari 100% dengan kawasan Amerika Utara sebagai pemasok terbesar diikuti oleh Asia dan Eropa. Data ILO menyebutkan di Asia, sekitar 22 juta orang bekerja di luar dari negara mereka, termasuk perempuan baik yang unskilled maupun skilled profession. Sebagian besar bekerja sebagai pekerja domestik rumah tangga dan entertainer, dan sedikit sebagai perawat dan tenaga pengajar. Enam negara Gulf Cooperation Council (GCC) yaitu Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menjadi negara tujuan migrant perempuan. Bahkan di Arab Saudi tercatat bahwa 67% buruh adalah buruh migran. Di Afrika jumlah migran perempuan secara keseluruhan relatif lebih rendah dibandingkan dengan bagian dunia lain namun tetap dalam kisaran yang meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu Amerika Latin dan Karibia tercatat sebagai kawasan negara berkembang pertama yang mencatat kesetaraan jumlah antara migran perempuan dan pria. Brazil dan Rep. Dominika menjadi negara sumber migran perempuan terbesar dengan jumlah 70%. Menurut Thadani dan Todari, terdapat empat principal types migrasi perempuan yang dibedakan dari status pernikahan dan alasan bermigrasi, yaitu: (1) married women migrating in search of employment, (2) unmarried women migrationg in search of employment, (3) unmarried women migrating for marriage reason, dan (4) married women engaged in associational migration with no thought of employment. Meskipun secara jumlah migran perempuan banyak, namun tidak menjadi alasan mereka tidak menjadi sasaran diskriminasi. Dari proses pemberangkatan di keluarga sebenarnya mereka sudah mendapatkan perlakuan diskriminatif. Seringkali perempuan yang bermigrasi adalah perempuan dengan tingkat pendidikan yang rendah karena mendapat peluang untuk sekolah lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Pendidikan yang rendah ini menyebabkan skill yang dipunya juga minim dan akibat selanjutnya adalah migran perempuan mendapatkan gaji yang lebih rendah daripada laki-laki. Selain itu mereka juga mendapatkan diskriminasi dalam mendapatkan informasi yang menyeluruh dan dapat dipercaya dari agen yang mengirim mereka. Kekurangan informasi ini menyebabkan mereka lebih rentan untuk dieksploitasi dan menjadi korban trafiking. Bahkan aparat pemerintah
[Type text] Page 4

yang seharusnya melindungi warga negara turut menambah penderitaan migran perempuan. Kepada calon migran perempuan yang less skilled dan berasal dari keluarga miskin, biaya pembuatan paspor lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Bukan hanya migran perempuan yang mendapat perlakuan diskriminatif, mereka yang berpendidikan juga sering kali dieksploitasi. Jumlah ekspatriat perempuan di AS lebih kecil dibandingkan ekspatriat pria. Angka ini menjadi lebih senjang di perusahaan multinasional Inggris. Selain itu juga sering kali mereka digaji lebih rendah dibandingkan kualifikasi yang mereka miliki. Bentuk diskriminasi lain yang dihadapi di negara tujuan adalah tidak dipenuhinya hak untuk mendapatkan informasi yang detil tentang lowongan pekerjaan. Stereotipi yang terbentuk adalah migran perempuan bekerja sebagai pekerja domestik rumah tangga, oleh karena itu mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mengetahui informasi tentang lowongan pekerjaan lain yang lebih baik dan sesuai dengan kualifikasi mereka. Jika mendapatkan informasi tersebut, pihak perusahaan yang menerima juga enggan untuk menerima mereka bekerja karena stereotipi yang melekat tersebut. Bekerja sebagai pekerja domestik juga merupakan diskriminasi tersendiri bagi mereka. Dengan kondisi yang berada di negara asing sebagai buruh rendahan, mereka sulit untuk mendapatkan jaminan hukum di negara orang, khususnya bila mendapatkan perlakuan kekerasan dari majikan. Buruh migran perempuan juga seringkali mendapatkan diskriminasi dalam perolehan akses ke pelayanan sosial, seperti pelayanan kesehatan. Misalnya adalah tidak adanya tunjangan atau cuti untuk melahirkan. Bahkan di Africa, buruh migran perempuan rentan terkenal HIV-AIDS dikarenakan rendahnya upah yang mereka terima mengharuskan mereka untuk menjadi pekerja seks komersial untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Selain itu hubungan seks bebas itu juga bisa terjadi tanpa adanya imbalan uang ketika migran perempuan dan laki-laki terpisah dari pasangan mereka masing-masing dan akhirnya mereka terlibat dalam short-term sexual relationship yang menjadi gaya hidup mereka. Diskriminasi-diskriminasi tersebut dapat terjadi karena perempuan dianggap sebagai kaum rentan yang mendapat perlakuan nomor dua dalam masyarakat dunia yang sebagian besar masih patriarkis.

[Type text]

Page 5

Analisa Peranan Migran Perempuan terhadap Pembangunan Terlepas dari diskriminasi yang ada dan sudah menjadi rahasia umum bahkan calon migran perempuan sudah mengetahui tantangan yang akan mereka hadapi, angka migran perempuan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentu saja karena adanya harapan bahwa mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dalam hal ini penulis akan lebih menekankan kepada aspek ekonomis. Sesuai dengan neoclassical theory, para perempuan bermigrasi untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarga di negara asal. Jika demikian, lantas mengapa pemerintah sepertinya tidak berbuat apa-apa terhadap mereka bahkan menyetujui apa yang mereka lakukan? Jawabannya adalah karena apa yang mereka lakukan dapat membantu pembangunan negara asal mereka. Remiten yang mereka kirimkan tiap bulan atau tiap tahunnya untuk keluarga dapat secara tidak langsung membantu pembangunan desa, kota dan negara asalnya. Pada tahun 2005 Bank Dunia memprediksikan remiten yang sampai ke negara berkembang melebihi 200 juta dolar Amerika per tahun. Dibandingkan dengan Offical Development Assistance (ODA) yang hanya 100 juta dolar Amerika membuktikan bahwa migran berkontribusi lebih besar ke negara asal mereka dibandingkan agen pembangunan dari negara maju. Jika ditelusuri lebih lanjut, didapati fakta bahwa migran perempuan lebih rajin dan lebih banyak menyumbangkan remiten dibandingkan migran laki-laki. Hal ini disebabkan karena rasa kekeluargaan dan empati perempuan lebih tinggi dibandingkan lakilaki sehingga perempuan cenderung untuk mengirim remiten ke kerabat-kerabat dekat sementara laki-laki hanya ke istrinya atau orang tua saja. Jadi jika migran perempuan dianggap berperan dalam pembangunan suatu negara, mengapa pemerintah sepertinya diam terhadap diskriminasi yang dihadapi warga negaranya di luar sana? Mengapa pemerintah tidak menjaga warga negaranya tersebut? Menurut Wahyu Susilo, policy dari NGO Migrant Care yang fokus terhadap upaya advokasi mengangkat isu buruh migran, pemerintah khawatir jika diberlakukan kebijakan yang protektif akan mempersulit seseorang untuk menjadi buruh migran dan permintaan dari luar negeri juga berkurang. Ketakutan ini intinya adalah pemerintah takut jumlah buruh migran berkurang sehingga remiten yang diterima juga berkurang. Oleh karena itu menurut Wahyu Susilo, pemerintah turut melegalkan trafiking terhadap buruh migran.

[Type text]

Page 6

Perbaikan yang harus dilakukan oleh pemerintah yang memiliki warga negara perempuan yang menjadi migran, khususnya menjadi buruh migran adalah menata kebijakan dan kesepakatan pengiriman dan perlindungan tenaga kerja dengan negara penerima. Hal inilah yang sedang diusahakan oleh Migrant Care dan INFID sebagai NGO yang mengupayakan penegakan hak atas buruh migran. Banyaknya buruh migran Indonesia yang dianiaya di negara-negara khususnya di Arab Saudi dan Malaysia membuat kedua NGO ini berpikir keras untuk mengatasinya. Melalui usaha advokasi yang dilakukannya, keduanya berhasil menekan pemerintah untuk menekan Malaysia untuk merevisi MoU perlindungan TKI di Malaysia. Strategi yang dilakukan adalah dengan melakukan moratorium pengiriman TKI ke Malaysia sehingga Malaysia merasa kewalahan karena tidak ada tenaga kerja domestik yang membantu di sana. Oleh karena itu Malaysia merasa terdesak untuk merevisi MoU yang banyak merugikan TKI, misalnya paspor yang dipegang oleh majikan, tidak adanya hari libur, dan lain-lain. Jika pemerintah menganggap migran, sebagai apapun mereka, juga adalah bagian dari negara yang patut dijunjung tinggi hak-hak dasarnya, maka pemerintah harus memikirkan kebijakan-kebijakan tepat yang memastikan perlindungan hakhak migran.

[Type text]

Page 7

BAB IV KESIMPULAN Migrasi telah menjadi fenomena yang dijadikan salah satu alternatif untuk perbaikan kehidupan seseorang. Angka perempuan yang menjadi migran semakin bertambah dari tahun ke tahun. Fakta ini menarik perhatian masyarakat dunia dan mendorong untuk tidak sekedar melihat angka namun menganalisa apa yang sebenarnya terjadi terhadap perempuanperempuan yang bermigrasi tersebut. Perempuan bermigrasi sebagian besar menjadi pekerja dengan gaji rendah namun tugas yang berat. Hal ini juga menjadikan migran perempuan tidak lepas dari perlakuan yang diskriminatif. Banyaknya jumlah perempuan yang menjadi buruh juga turut mengundang tanya, apakah dampak dari migrasi tersebut ke dalam diri migran dan keluarganya terlebih kepada negara asalnya? Ternyata pendapatan negara, khususnya negara berkembang seperti Indonesia, sebagian besar berasal dari remiten warganya yang bekerja mengadu nasib di luar negeri. Oleh karena itu sebenarnya pekerjaan yang seringkali dipandang sebelah mata ini berperan besar dalam pembangunan negara, seperti Indonesia. Oleh karena itu sudah selayaknya jika pemerintah negara serta organisasi-organisasi internasional memberi perhatian khusus kepada migran perempuan dan turut memikirkan kesejahteraan mereka karena mereka juga manusia yang memiliki hak-hak dasar untuk dipenuhi.

[Type text]

Page 8

DAFTAR PUSTAKA
Susan Forbes Martin, diakses dari http://www.un.org/womenwatch/daw/meetings/consult/CM-Dec03-WP1.pdf

Ibid., hal 36-37.


Migration, http://portal.unesco.org/shs/en/ev.php-URL_ID=3020&URL_DO=DO_TOPIC&URL_SECTION=201.html Jayati Ghosh, Migration and gender empowerment: Recent trends and emerging issues, diakses dari http://www.networkideas.org/featart/mar2009/Migration.pdf Ibid., hal 4 Migration and Development, diakses dari http://www.asianmigrants.org/files/AMY_2005_Migration_and_Development.pdf, Castles dan Miller, The Age of Migration: International Population Movements in the Modern World, 4th edition, New York: Guilford Press, 2009, hal 22. Douglas Massey, et al, Theories of International Migration: A Review and Appraisal. Gender, Reproductive Rights and International Migration, diakses dari http://www.eclac.org/celade/noticias/paginas/6/27116/MoraL.pdf. Gender, Reproductive Rights and International Migration, hal. 5 Ibid. Ibid., hal 8.

[Type text]

Page 9