Anda di halaman 1dari 2

Mafia Pajak Medan Transaksi Fiktif Rp300 M

10:54, 04/05/2010 MEDAN-Keberadaan mafia pajak Medan kembali dibeber. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuding PT PHS yang berlokasi di Sumatera Utara terlibat mafia pajak. Modusnya, restitusi pajak perusahaan yang dipimpin R tersebut menggunakan faktur pajak yang tidak berdasarkan transaksi sebenarnya atau transaksi fiktif, dengan nilai sekitar Rp300 miliar Pimpinannya diduga sudah lari ke luar negeri, jelas Sri Mulyani kepada wartawan di Jakarta tanpa menyebut kepanjangan dari PHS, kemarin. Saat ini, kasusnya tengah ditangani Ditjen Pajak bersama dua kasus transaksi fiktif pajak lain dengan nilai ratusan miliar rupiah. Jika fakta menunjukkan keterlibatan aparat, kata Sri Mulyani, tetap dilakukan penindakan.Menteri Keuangan yang didampingi Dirjen Pajak Tjiptardjo lantas menginstruksikan jajarannya untuk melakukan pemeriksaan atas berbagai kasus penyimpangan pajak. Tidak ada moratorium atau penghapusan untuk kasus sebelum tahun 2007, meski reformasi birokrasi baru dilakukan pada pertengahan tahun 2007. Remunerasi memang baru tahun 2007, tapi tidak berarti sebelum 2007 dilakukan moratorium karena pajak itu kadaluarsanya 10 tahun, jelas Sri Mulyani. Sementara itu, PT Permata Hijau Sawit (PHS) langsung melakukan bantahan tudingan melakukan transaksi pajak fiktif. Penegasan tersebut disampaikan Ketua Tim Advokasi dan Hukum PT PHS, Juncai kepada wartawan di Medan, Senin (3/5) siang. Juncai menjelaskan, dalam konferensi pers sebelumnya, Sri Mulyani tidak secara langsung menyebutkan bahwa PHS adalah PT Permata Hijau Sawit. Namun Juncai membenarkan PT PHS yang berkantor di Jalan Iskandar Muda 107 Medan ini, sejak tujuh bulan lalu menjalani pemeriksaan oleh petugas pajak. Ditegaskannya, Ditjen Pajak belum dapat membuktikan secara otentik transaksi fiktif yang dituduhkan kepada PT PHS. Kami menduga tuduhan itu sengaja dihembuskan karena Dirjen Pajak membayar utang restitusi kepada PT PHS sebesar Rp530 miliar selama tiga tahun, kata Juncai. Selain itu, Juncai juga membantah pimpinan PT PHS pergi ke Singapura bukan melarikan diri, tetapi untuk kepentingan penanganan masalah kesehatan. Sampai sekarang memang belum kembali karena dalam pengobatan. Kepala Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Wilayah I Sumut Yusri Natar Nasution yang ditanyai komentarnya perihal kasus PHS tersebut mengaku tidak mengetahui hal itu. Saya tahunya dari Mas, ujarnya kemairn. Ditambahkannya, apa yang dikatakan oleh Menkeu Sri Mulyani masih sebatas dugaan. Itukan masuh dugaan, bisa benar bisa juga tidak. Nah, yang berwenang mengatasi persoalan ini adalah

Ditjen Pajak Pusat, dimana penyelidikannya dilakukan oleh bagian Inteldik Ditjen Pajak, akunya. Ketika ditanya apakah masalah penggelapan atau transaksi fiktif pajak PT PHS melibatkan oknum-oknum Ditjen Pajak Wilayah I Sumut, Yusri membantah keras. Tidak ada sama sekali. Itu juga kasus yang telah terjadi beberapa tahun lalu, kata Yusri lagi. (net/bbs/mag-13)

Mafia Pajak Incaran Menkeu


1. Grup PHS di Sumatera Utara Modus: Faktur pajak fiktif Nilai: Rp300 juta Pimpinan berinisial R diduga kabur ke luar negeri 2. Konsultan Pajak berinisial SOL Modus: Faktur pajak fiktif Nilai: Rp247 miliar. 3. Biro Jasa berinsial W Modus: Faktur pajak fiktif Nilai: Rp60 miliar. Pimpinan berinisial TKB