Anda di halaman 1dari 14

BAB I

Pendahuluan
I. LATAR BELAKANG MASALAH Istilah Hukum Administrasi Negara berasal dari bahasa belanda Administratiefrecht menurut Utrecht, Hukum Administrasi Negara adalah kaidah hukum yang mengatur dan menguji hubungan hukum istimewa yang memungkinkan para petugas administrasi menjalankan tugas khusus. Dimana tujuan tugas khusus tersebut menyangkut bagaimana petugas administrasi menjalankan atau mengemban tugas itu agar dapat mewujudkan keadilan dan kemakmuran sebagaimana yang diamanatkan oleh pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Indoharto, yang dimaksud petugas administrasi atau pemerintah itu diklasifikasikan menjadi lima ( 5 ) : 1. 2. 3. 4. 5. dan fungsi serta kewajiban untuk mengurus segala apa yang menjadi kehendak pemerintah dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat wajib menaati hukum yang berlaku, salah satu bentuk pelayanan publik petugas administrasi negara adalah dalam hal melayani masyarakat didalam pembuatan Kartu Tanda Penduduk ( KTP ), secara administrasi kewenangan tersebut berada pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, pengaturan mengenai masalah kependudukan ini berlandaskan pada Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UndangUndang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan 1 Institusi yang langsung dibawah kekusaan presiden Institusi yang berada dilingkungan kekuasaan eksekutif Badan Hukum Perdata/ Badan Swasta Badan Hukum Swasta murni Instasi hukum swasta Petugas administrasi negara didalam menjalankan tugas

dan Peratuarn Presiden No. 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk Dan Pencatatan Sipil. Menurut Pasal 1 angka ( 14 ) Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, yang dimaksud Kartu Tanda Penduduk adalah Identitas resmi Penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana yang berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia . KTP merupakan kartu penting yang wajib dimiliki masyarakat yang berdomisili di satu daerah. KTP berfungsi sebagai bukti identitas seseorang. Dengan demikian KTP menjadi faktor kunci atau penentu dalam banyak urusan. KTP juga merupakan pengakuan atas kewarganegaraan seseorang oleh negara. Dengan memiliki KTP maka hak-hak seseorang sebagai warga negara terlindungi secara hukum, namun pada kenyataanya pelayanan publik dalam bentuk pelayanan administrasi kependudukan khususnya dalam hal pembuatan (KTP) belum sepenuhnya dapat berjalan dengan efektif dan masih ditemuinya hambatan karena belum tersosialisasi dengan baik, salah satu contohnya dalam pembuatan KTP masih dikenakan biaya, padahal Peraturan Daerah Perda Jakarta No. 3 Tahun 1999 tentang Retribusi Daerah jo Perda Provinsi DKI Jakarta No 7 Tahun 2000 tentang Perubahan Pertama atas Perda DKI Jakarta No 3 Tahun 1999 tentang Retribusi Daerah menyatakan bahwa "biaya KTP adalah Rp 0,- atau gratis. Tetapi faktanya hal tersebut malah bertolak belakang, karena kurangnya sosialisasi Perda mengenai pembuatan KTP, sehingga masih ada masyarakat yang belum memahami tata cara pembuatan KTP disamping itu ada oknum tertentu yang memanfaatkan kesempatan dengan menarik biaya ( pungli ) terhadap pembuatan KTP. II. Perumusan Masalah 1. Faktor-faktor apa yang menjadi penghambat dalam pembuatan KTP? a. Sarana ( alat-alatnya ) b. Prasarana ( SDM)

Serta Tindakan apa yang diambil Pemerintah bila terjadi penyimpangan dan bagaimana upaya meningkatkan pelayanan publik khusunya pembuatan KTP di DKI?

BAB II
TINJAUAN TEORI I. Pengertian pemerintah
Pemerintahan adalah berkenaan dengan sistem, fungsi, cara perbuatan, kegiatan, urusan atau tindakan memerintah yang dilakukan atau diselenggarakan atau dilaksanakan oleh pemerintah dalam arti luas (semua lembaga Negara) maupun dalam arti sempit (presiden beserta jajaran atau aparaturnya). Eksekutif adalah cabang kekuasaan Negara yang melaksanakan kebijakan public (kenegaraan dan atau pemerintahan) melalui peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan oleh lembaga legislative maupun atas inisiatif sendiri. Secara teoritis, presiden atau Pemerintah memiliki dua kedudukan yaitu sebagai salah satu organ negara dan sebagai administrasi negara. Sebagai organ negara pemerintah bertindak untuk dan atas nama negara. Sedangkan sebagai administrasi negara, pemerintah dapat bertindak baik di lapangan pengaturan (regelen) maupun dal am lapangan pelayanan (bestuuren). Administrasi (Negara) adalah badan atau jabatan dalam lapangan kekuasaan eksekutif yang mempunyai kekuasaan mandiri berdasarkan hukum untuk melakukan tindakan-tindakan pemerintahan baik di lapangan pengaturan, maupun penyelenggaraan administrasi Negara. II.

Tindakan Pemerintahan
Dalam melakukan aktifitasnya, pemerintah melakukan dua macam tindakan, tindakan biasa (feitelijkehandelingen) dan tindakan hukum (rechtshandelingen). Dalam kajian hukum, yang terpenting untuk dikemukakan adalah tindakan dalam katagori kedua, Usaha rechtshandelingen. Negara dalam Tindakan rangka hukum pemerintahan urusan adalah tindakan yang dilakukan oleh Badan atau Pejabat Tata melaksanakan pemerintahan. Tindakan pemerintahan memiliki beberapa unsur yaitu sebagai berikut :

Perbuatan itu dilakukan oleh aparat Pemerintah dalam kedudukannya sebagai Penguasa maupun sebagai alat perlengkapan pemerintahan (bestuursorganen) dengan prakarsa dan tanggung jawab sendiri;

Perbuatan

tersebut

dilaksanakan

dalam

rangka

menjalankan fungsi pemerintahan; Perbuatan tersebut dimaksudkan sebagai sarana untuk menimbulkan akibat hukum di bidang hukum administrasi; Perbuatan rangka rakyat. Dalam negara hukum, setiap tindakan pemerintahan harus berdasarkan atas hukum, karena didalam negara terdapat prinsip wetmatigheid menentukan diberikan oleh van bahwa suatu bestuur tanpa atau adanya asas legalitas. Asas ini dasar wewenang yang yang yang bersangkutan dilakukan negara dalam dan pemeliharaan kepentingan

peraturan

perundang-undangan

berlaku, maka segala macam aparat pemerintah tidak akan memiliki wewenang yang dapat mempengaruhi atau mengubah keadaan atau posisi hukum warga masyarakatnya. Meskipun demikian, tidak selalu setiap tindakan pemerintahan tersedia peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. Dapat terjadi, dalam kondisi tertentu terutama ketika pemerintah harus bertindak cepat untuk menyelesaikan persoalan konkret dalam masyarakat, peraturan perundangundangannya belum tersedia. Dalam kondisi seperti ini, kepada pemerintah diberikan kebebasan bertindak (discresionare power) yaitu melalui freies Ermessen, yang diartikan sebagai salah satu sarana yang memberikan ruang bergerak bagi pejabat atau badan-badan administrasi negara untuk melakukan tindakan tanpa harus terikat sepenuhnya pada undang-undang. Freies Ermessen ini menimbulkan implikasi dalam bidang legislasi bagi pemerintah, yaitu lahirnya hak inisiatif untuk membuat peraturan perundang-undangan yang sederajat dengan UU tanpa persetujuan DPR, hak delegasi untuk membuat peraturan yang derajatnya di bawah UU, dan droit function atau 5

kewenangan menafsirkan sendiri aturan-aturan yang masih bersifat enunsiatif. Menurut Bagir Manan, kewenangan pemerintah untuk membentuk peraturan perundang-undangan karena beberapa alasan yaitu; Pertama, paham pembagian kekuasaan harus menekankan dari pada perbedaan fungsi daripada pemisahan organ, karena itu fungsi pembentukan peraturan tidak terpisah fungsi untuk penyelenggaraan menyelenggarakan pemerintahan; kesejahteraan Kedua, dalam negara kesejahteraan pemerintah membutuhkan instrumen hukum umum; Ketiga, untuk menunjang perubahan masyarakat yang cepat, mendorong administrasi negara berperan lebih besar dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Freies Ermessen merupakan konsekuensi logis dari konsepsi welfare state, akan tetapi dalam kerangka negara hukum, freies Ermessen ini tidak dapat digunakan tanpa batas. Atas dasar itu, Sjachran Basah mengemukakan unsur-unsur freies Ermessen dalam suatu negara hukum yaitu sebagai berikut : Ditujukan untuk menjalankan tugas-tugas servis publik; Merupakan sikap tindak yang aktif dari administrasi negara; Sikap tindak itu dimungkinkan oleh hukum; Sikap tindak itu diambil atas inisiatif sendiri; Sikap tindak itu dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan penting yang timbul secara tibatiba; Sikap tindak itu dapat dipertanggung jawab baik secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa maupun secara hukum.

BAB III
PEMBAHASAN
Landasan Hukum Pembuatan KTP Tujuan pemerintah dengan membentuk organisasi pemerintahan salah satunya antara untuk membagi habis tugas pemerintah, agar semua urusan pemerintahan dapat diawasi, dikoordinasikan, dikomunikasikan. Segala tindakan petugas administrasi didasarkan pada peraturan perundang-undangan, seperti dalam hal pembuatan KTP di DKI Jakarta. Urusan adminstrasi kependudukan merupakan bagian dari wewenang Menteri Dalam Negeri yang membawahi Departemen Dalam Negeri. Kemudian Menteri Dalam Negeri melimpahkan wewenang mengurusi ini kepada pemerintah pembuatan daerah, KTP, dalam hal ini pemerintah provinsi DKI Jakarta. Petugas administrasi yang pelayanan diserahkan kepada pemerintahan Desa/Kelurahan yang dikepalai oleh seorang Lurah. Adapun dasar hukum dalam pelayanan publik ini adalah : 1. Intruksi Presiden No. 1 Tahun 1995 tentang Perbaikan Peningkatan Mutu Pelayanan Aparatur kepada Masyarakat 2. Keputusan Publik 3. Keputusan Menpan No. 26/KEP/M.PAN/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas Penyelenggaraan Pelayanan Publik Salah satu bentuk dari pelayanan publik yang dilaksanakan untuk masyarakat adalah pelayanan publik bidang administrasi kependudukan, seperti pembuatan KTP. Pembuatan KTP diatur dalam peraturan perundang-undangan sebagai berikut : 1. 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 tentang pelaksanaan UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan Menpan No. 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyenggaraan Pelayanan

3.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1996 tentang Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia

4. 5.

Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1977 tentang Pendaftaran Penduduk Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13A Tahun 1995 tentang dalam Penyelenggaraan Rangka Sistem Pendaftaran Informasi Penduduk

Manajemen Kependudukan 6. Keputusan Mendagri Nomor 45 Tahun 1992 tentang Pokok-pokok 7. Penyelenggaraan Sistem Informasi Manajemen Departemen Dalam Negeri Keputusan Mendagri Nomor 15A Tahun 1995 tentang Spesifikasi penunjang 8. blanko/formulir/buku lainnya yang serta sarana dalam dipergunakan

penyelenggaraan pendaftaran penduduk Keputusan Mendagri Nomor 20A Tahun 1995 tentang Prosedur Pendaftaran 9. dan Tata Cara dalam Penyelenggaraan Kerangka Sistem Penduduk

Informasi Manajemen Kependudukan Keputusan Mendagri Nomor 42 Tahun 1995 tentang Pedoman Penyususan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Kerangka Kependudukan 10. Keputusan Mendagri Nomor 15 Tahun 1996 tentang Pedoman Biaya Pelayanan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. Dalam Pasal 1 disebutkan bahwa : Biaya pelayanan pembuatan KTP setinggi-tingginya Rp. 3.000, 00 per lembar. 11. Keputusan Mendagri Nomor16 Tahun 1996 tentang Harga Blanko dan dalam Formulir-formulir Pelaksanaan yang Dipergunakan Pendaftaran Pendaftaran Penduduk dalam Sistem Informasi Manajemen

Penduduk. Pasal 1 dalam ketentuan ini disebutkan harga blanko untuk KTP adalah Rp. 1.000,00 per lembar. Dalam Pasal 2 dikatakan bahwa biaya 8

pelayanan sebagaimana dimaksud Pasal 1, diatur dan ditetapkan dalam Peraturan Daerah Tingkat II sesuai dengan kondisi dan kemampuan masyarakat setempat. Untuk Provinsi DKI Jakarta selain perundang-undang tersebut diatas, Provinsi DKI Jakarta sudah menetapkan perda yaitu : 1. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusu Ibukota Jakarta Kerangka Kependudukan Ibukota Jakarta 2. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 4 Tahun 2004 tentang Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil 3. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 16 Tahun 2005 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftran Penduduk dan Pencatatan Sipil Maka untuk Provinsi DKI Jakarta besarnya retribusi KTP bagi WNI ditetapkan Rp. 1.000,00 berdasarkan Pasal 33 Perda DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk dalam Kerangkan Sistem Manajemen Kependudukan dalam Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sehingga pembuatan KTP DKI Jakarta hanya diperlukan Rp. 2.000, 00 sudah termasuk biaya blanko. Faktor-Faktor Penghambat yang Ditemui dalam Pembuatan KTP a. Sarana ( alat- alat ) : Dalam menunjang pembuatan KTP diperlukan dukungan peralatan yang memadai, idealnya dengan adanya peralatan yang lengkap, maka kinerja administrasi dapat berjalan dengan maksimal, akan tetapi kenyataannya hal tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kurang primanya pelayanan terhadap publik ini, akan berimplikasi kepada pandangan masyarakat terhadap 9 Nomor 1 Tahun Informasi Wilayah 1996 Penduduk Daerah tentang dalam Khusus Manajemen Penyelenggaraan Pendaftaran dalam

Sistem

instansi terkait, lebih jauh persoalan sarana ini sering dijadikan alasan untuk menutupi kinerja yang kurang baik. Sebagai contoh adalah dalam pembuatan KTP, jika didukung dengan sarana yang memadai pembuatan KTP akan menjadi lebih cepat dan mudah. b. Sumber Daya Manusia ( SDM ) Selain faktor sarana yang kurang memadai, faktor lainnya yang menjadi penghambat adalah sumber daya manusianya itu sendiri yang kurang memberikan layanan yang prima dan maksimal , sikap pelayanan prima yang seharusnya diterapkan dalam setiap kali proses pekerjaan didalam melayani masyarakat cenderung diabaikan, seperti di Dinas Pencatatan Sipil, Kecamatan, Kelurahan masih menunjukkan sikap yang kurang bersahabat, sikap tersebut menghambat dalam proses komunikasi antara masyarakat dan petugasnya. Faktor faktor lainnya yang turut menghambat adalah sosialisasi yang kurang oleh Pemda DKI kepada

masyarakat, dengan kurangnya sosialisasi maka banyak dari mereka tidak mengetahui bahwa biaya pembuatan KTP adalah gratis, menurut Perda Jakarta No. 3 Tahun 1999 tentang Retribusi Daerah jo Perda Provinsi DKI Jakarta No 7 Tahun 2000 tentang Perubahan Pertama atas Perda DKI Jakarta No 3 Tahun 1999 tentang Retribusi Daerah biaya dalam pembuatan KTP adalah gratis, namun sebenarnya tidak 100% gratis. Pembuatan KTP di DKI Jakarta dalam aturannya memerlukan biaya sebesar Rp. 2000,- yang dibebankan sebagai biaya retribusi. Dengan kurangnya sosialisasi, banyak oknum petugas keluhan yang dari memanfaatkannya, sehingga timbul

masyarakat mengenai tingginya biaya pembuatan KTP. Serta tindakan apa yang diambil Pemerintah bila terjadi penyimpangan dan bagaimana upaya dalam meningkatkan pelayanan publik khusunya pembuatan KTP di DKI Jakarta?

10

Penyimpangan

dalam

pelayanan

publik

kepada

masyarakat merupakan hal yang tidak perlu terjadi, karena permasalahan pelayanan publik ini jika tidak dibenahi sejak dini akan meresahkan masyarakat. Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan pelayanan publik ini harus memenuhi standard operating procedure ( SOP ) yang ada, berikut ini syarat-syarat penunaian tugas, fungsi, dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh Administrasi Negara adalah : 1. Efektivitas, artinya kegiatan harus mengenai sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan atau direncanakan; 2. Legitimasi, karena 3. tidak artinya dapat kegiatan oleh Administrasi masyrakat Negara jangan sampai menimbulkan heboh oleh diterima setempat atau lingkungan yang besangkutan; Yuridikitas, artinya syarat yang menyatakan, bahwa perbuatan para pejabat Administrasi Negara tidak boleh melawan atau melanggar hukum dalam arti luas; 4. Legalitas, merupakan syarat yang menyatakan bahwa tidak satu pun perbuatan atau keputusan administrasi Negara yang boleh dilakukan tanpa dasar atau pangkal suatu ketentuan undang-undang ( tertulis ) dalam arti luas; bila sesuatu dijalankan dengan dalih keadaan darurat, maka kedaruratan tersebut wajib dibuktikan kemudian bilamana tidak terbukti, maka perbuatan tersebut dapat digugat di Pengadilan; 5. Moralitas adalah salah satu syarat yang paling diperhatikan oleh masyarakat, moral dan etik umum maupun kedinasan wajib dijunjung tinggi, perbuatan tidak senonoh, sika kasar, kurang ajar, kata-kata yang tidak pantas, dan sebagainya wajib dihindari; 6. Efisiensi, wajib dikejar seoptimal mungkin, kehematan biaya dan produktivitas wajib diusahakan setinggi-tingginya; 11

7.

Teknik dan Teknologi, yang setinggi-tingginya wwajib baiknya. dipakai untuk mutu mengembangkan prestasi yang atau sebaikmempertahankan

Upaya pemerintah dalam membenahi sistem administrasi Negara dalam rangka mengatasi hambatan yang kerap terjadi di lingkungan pemerintahan Desa/Kelurahan terkait pembuatan KTP DKI Jakarta antara lain : 1. 2. 3. 4. Pengawasan, Pembinaaan melalui pendidikan dan pelatihan Pembinaan personil, dengan melalui sistem remunerasi yang adil dan motivatif Memberikan pemahaman sistem teknologi terbaru/canggih demi menunjang fasilitas pelayanan pembuatan KTP, agar proses pembuatan KTP seefisien dan seefektif mungkin. Sekarang ini yang terkenal dengan E-government. 5. administrative yang Pengenaan diberikan kepada sanksi Pejabat dari pejabat

administrasi Negara yang berada di atasnya sistematis,

administrasi yang menyalahi kewenangannya akan ditindak lanjuti berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku 6. Penambahan dari segi sarana pada kantor-kantor Kelurahan yang ada di Jakarta, berupa pengadaan komputer, faksimile, telepon dan infrastruktur lainnya.

12

BAB I V
KESIMPULAN
Dari pembahasan masalah di atas maka dapat disimpulkan, bahwa faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam pembuatan KTP sehingga terjadi penyimpangan dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, dari pihak aparatur pemerintahan di tingkat Kelurahan. Dan kedua, dari pihak masyarakat itu sendiri. Faktor penghambat dari pihak aparatur pemerintah desa yaitu : 1. Kurang memadainya sarana penunjang, seperti unit komputer yang masih kurang, sistem teknologi yang kurang canggih, serta alat komunikasi yang masih terbatas. 2. 3. Kurangnya pemahaman sumber daya manusiaSikap aparatur pemerintah yang kurang nya dalam sistem e-government. memberikan pelayanan yang maksimal dan prima. Tak jarang melakukan perbuatan nakal, seperti pungutan liar. 4. 5. waktu lama. Faktor penghambat dari pihak masyarakat yaitu : 1. pembuatan KTP. 2. 3. aparatur pemerintahan. Setiap tindakan pejabat pemerintahan berserta jajarannya yang melakukan penyimpangan dalam hal ini pasti akan mendapatkan sanksi sesuai yang tertera di dalam UU No. 23 Tahun 2006. Begitupula dari oknum masyarakat yang melakukan tindakan di luar ketentuan undang-undang akan dikenakan sanksi di dalam UU No.23 Tahun 2006. Sikap masyarakat/pemohon sistem birokrasi yang selalu ingin cepat dan instan. Anggapan yang mempersulit pemohon dalam hal berurusan dengan Kurangnya sosialisasi tentang prosedur yang sesuai dengan undang-undang dalam Kurangnya pengawasan dari atasan. Sistem birokrasi yang rumit dan memakan

13

Oleh karena itu, dibutuhkan peran pemerintah untuk meningkatkan kinerjanya, dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, sesuai dengan tujuan Hukum Administrasi Negara. Serta peran masyarakat untuk mendukung dan menerapkan ketentuan undang-undang.

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3. 4. 5. 6. Admosudirdjo, Prajudi. 1981. Hukum Administrasi Negara. Jakarta : Ghalia Indonesia Ridwan. 2002. Hukum Administrasi Negara. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada Prins, W.F Mr, R. Kosim Adisapoetra. 1983. Pengantar Ilmu Hukum Administrasi Negara. Jakarta : PT. Pradnya Paramita S.H. Mustafa, Bachsan. 2001. Sistem Hukum Administrasi Negara Indonesia. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugasmakalah/hukum-kepolisian/negara-hukum http://sanggar.wordpress.com/2008/01/03/negarakesejahteraan-mimpi-negara-atawa-negara-mimpi/

14