Anda di halaman 1dari 71

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kondisi ekonomi yang buruk harus di pandang sebagai pendorong umtuk membangun kemampuan mengelola sumber daya secara cerdas, agar bangsa Indonesia dapat keluar dari kondisi buruk ini dan menjadi bangsa yang maju. Dalam keadaan ekonomi yang buruk, laba hanya dapat dihasilkan melalui manajemen yang efektif dan efisien atas penggunaan seluruh sumber daya perusahaan. Manajemen yang efektif dan efisien tercermin dalam perencanaan yang baik, dan perencanaan yang baik sangat membutuhkan informasi yang akurat. Agar dapat merencanakan dengan baik pemanfaatan sumber daya perusahaan, maka manajemen perusahaan memerlukan informasi yang mengungkapkan dengan secara jelas dan cepat fakta yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan. Lingkungan bisnis yang kompetitif menuntut perusahaan untuk merespon dengan cepat dan tepat perubahan yang diperkirakan akan terjadi dalam lingkungan bisnis. Perubahan cepat yang terjadi dalam lingkungan bisnis menuntut perubahan rencana strategis yang digunakan untuk menjalankan bisnis, terutama yang memiliki spectrum jangka panjang. Saat ini, perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur atau industri dan perusahaan BUMN lainnya umumnya menggunakan sistem biaya tradisional dalam menghitung biaya produksinya. Biaya produksi yang hasilkan oleh sistem

30

akuntansi biaya tradisional memberikan informasi biaya yang terdistorsi. Distorsi timbul karena adanya ketidakaturan dalam pembenanan biaya, sehingga mengakibatkan kesalahan penentuan biaya, pembuatan keputusan, perencanaan, dan pengendaliaan (Supriyono, 1999:259). Distorsi tersebut juga mengakibatkan undercost atau overcost terhadap produk (Hansen & Mowen, 2005), sehingga metode tradisional gagal membantu manajemen memperbaiki operasi. Pada metode tradisional, manajer dipaksa untuk menggunakan informasi yang terdistorsi dan tidak mendorong menggunakan tingkat persediaan, memperbaiki pelayanan kepada pelanggan, serta membuat produk yang lebih baik. Untuk mengatasi hal tersebut, ditawarkan suatu metode alternatif yaitu alokasi biaya berdasarkan aktivitas yang menyebabkan terjadinya biaya tersebut. Metode ini dikenal sebagai Activity-Based Costing, yaitu merupakan suatu sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya ke aktivitas dan kemudian ke produk (Hansen & Mowen, 1992). Metode Activity-Based Costing, menganggap bahwa timbulnya biaya disebabkan oleh adanya aktivitas yang menghasilkan produk. Pendekatan ini menggunakan cost driver yang berdasar pada aktivitas yang menimbulkan biaya dan biasanya diterapkan pada perusahaan yang menghasilkan produk yang beragam namun dapat juga diterapkan pada perusahaan yang memiliki satu jenis produk dengan memilih aktivitas-aktivitas yang ada. PDAM Maros merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur karena membuat dan menjual air minum. Setelah penulis mensurvei PDAM

Maros ternyata perusahaan tersebut masih menggunakan sistem akuntansi biaya

31

tradisional dalam penentuan biaya produksinya, dimana semua biaya produksi dan biaya di luar produksi dibebankan ke produk. Dengan menerapkan metode Activity-Based Costing, perusahaan dapat memperoleh informasi yang akurat dan dapat memperbaiki mutu pengambilan keputusan. Dalam Activity-Based Costing, produk hanya dibebani biaya dari sumber daya dan aktivitas yang digunakan dan tidak dibebani oleh biaya sumber daya dan aktivitas yang tidak digunakan. Metode ini menyebabkan biaya per unit yang lebih stabil dan konsisten dengan tujuan pembebanan biaya ke produk yang menyebabkan aktivitas. Berdasarkan latarbelakang di atas, penulis memilih judul :Analisis Penentuan Biaya Produksi Pada PDAM Maros Dengan Menggunakan Pendekatan Metode Activity-Based Costing (ABC).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah pokok yang terdapat dalama penulisan ini: Berapa besar biaya produksi pada PDAM Maros jika menggunakan metode Activity-Based Costing?.

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui biaya produksi pada PDAM Maros jika menggunakan metode Activity-Based Costing.

32

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak, diantaranya: 1. Membantu perusahaan dalam menghitung dan menentukan biaya produksi dengan menggunakan metode Activity-Based Costing System. 2. Menyediakan data hasil perhitungan biaya produksi yang dapat dijumlah sebagai . dengan hasil perhitungan biaya produksi berdasarkan metode tradisional.

33

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Biaya Perusahaan sebagai salah satu unit ekonomi yang berorientasi pada keuntungan, membutuhkan pengelolaan yang professional agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melalui pengelolaan yang profesional akan tercipta suatu sinergi dari tim yang solid dari setiap elemen yang terlibat dalam proses pencapaian tujuan perusahaan. Para akuntan, ekonom dan teknisi, misalnya masing-masing memiliki dan menggunakan konsep, yang meskipun tidak bertentangan satu sama lain namun tetap tampak adanya perbedaan. Proses pencapaian tujuan dalam perusahaan dapat terjadi jika pihak manjemen memiliki kualifikasi pengetahuan yang komprehensif. Karena itu tidak jarang terjadi perbedaan persepsi, sekalipun bagi yang senatiasa dihadapkan dan menyadari sepenuhnya betapa penting arti biaya dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Pengertian biaya (expense) berbeda dengan pengertian harga pokok (cost). Biaya dalam arti luas adalah jumlah uang yang dinyatakandari sumber (ekonomi) yang dikorbankan yang telah terjadi atau yang akan terjadi untuk mendapatkan sesuatu atau mencapai tujuan tertentu. Sedangkan harga pokok (cost) adalah pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva atau pengorbanan sumber ekonomi dalam pengolahan bahan baku menjadi produk (Hartanto, 1992: 24). Dalam arti sempit, biaya (expense) adalah biaya yang dikonsumsikan atau digunakan untuk merealisasikan pendapatan dalam suatu periode akuntansi. Sedangakan harga pokok (cost) adalah biaya yang melekat pada

34

suatu aktiva yang belum dikonsumsikan atau digunakan dalam upaya merealisasikan pendapatandalam suatu dikemudian hari. Mulyadi menyatakan bahwa biaya (expense) adalah sumber daya yang telah atau akan dikorbankan untuk mewujudkan tujuan tertentu. Sedangkan cost adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk memperoleh barang dan jasa yang diharapkan akan membawa manfaat sekarang atau di masa depan bagi perusahaan. B. Penggolongan Biaya Karena aktivitas yang penting dari manajemen adalah suatu periode, dan akan dikonsumsi

pengendalian jumlah dan banyaknya biaya individual dari aktivitas suatu perusahaan, teknik pengelompokan menjadi amatlah berharga. Biaya perlu diklasifikasikan dengan maksud untuk membantu hubungan diantara data biaya sebagai bahan masukan dalam perencanaan. Ray H. Garisson, et. Al, (1993:33) menggolongkan biaya berdasarkan hal-hal sebagai berikut : a. Konsep Biaya dihubungkan dengan tingkat Produksi, yang terdiri dari : 1. Biaya tetap (Fixed Cost) adalah setiap biaya yang jumlahnya tidak berubah-ubah pada setiap produksi dalam pabrik. 2. Biaya Variable (Variabel Cost) adalah setiap biaya yang cenderung bertambah dalam total sebagaimana penambahan tingkat produksi, dan cenderung berkurang sebagaimana pengurangan tingkat

produksi.

35

b. Komponen Biaya Pengolahan Produk Biaya produksi dapat diklasifikasikan menurut komponen dalam proses manufaktur. Klasifikasi setiap biaya pabrik dikategorikan seperti (1) bahan-bahan mentah (Raw Material), (2) Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor), (3) Overhead Pabrik (Factory

Overhead).Pengklasifikasian ketiga ketegori ini atas biaya pabrik membantu menajer untuk mencatat dan mengendalikan operasi departemen. 1. Biaya Bahan Mentah (Raw Material Cost) Semua bahan mentah secara fisik diidentifikasikan sebagai bagian dari barang jadi dan yang dapat ditelusuri pada barang jadi tersebut dengan cara yang sederhana dan ekonomis. 2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost) adalah seluruh tenaga kerja yang dapat ditelusuri secara fisik pada barang jadi dengan cara yang ekonomis. 3. Biaya Overhead Pabrik (Factory Overhead Cost). Biaya overhead pabrik adalah semua biaya selain biaya bahan mentah atau upah langsung yang berkaitan dengan proses produksi. Ada dua subklasifikasi overhead pabrik, yaitu: a. Overhead Pabrik Variable (Factory Overhead Variable),

contohnya energy, perlengkapan, sebagian upah tidak langsung, biaya upah tidak langsung dari suatu kategori tertentu adalah

36

biaya variabel atau biaya tetap, bergantung pada perilakunya pada perusahaan tertentu. b. Overhead Pabrik Tetap (Factory Overhead Fixed) Dua dari tiga kategori biaya diatas biasanya digabung dalam terminologi. 1. Biaya Umum (Prime Cost), yaitu bahan mentah langsung bahan mentah langsung ditambah biaya upahlangsung. 2. Biaya Konversi (Conversion Cost), yaitu biaya upah langsung ditambah biaya overhead pabrik. c. Biaya Dihubungkan Dengan Laporan Kerja Beberapa perusahaan manufaktur mempunyai akuntansi dan sistem pelaporan yang diakumulasikan dalam laporan biaya historis (Actual Cost) dan biaya standar, untuk masing-masing departemen dan masing-masing elemen biaya, meliputi bahan mentah, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik. 1. Biaya Historis (Historical Cost). Istilah biaya historis menunjukkan biaya aktual yang telah dikeluarkan. Sistem akuntansi biaya (Akuntansi Financial) diakumulasikan dalam laporan biaya historis. 2. Biaya Standar (Standar Cost). Biaya ini akan dikeluarkan dalam suatu pemberian atas hal tertentu. Biaya ini

dibandingkan dengan biaya historis dalam evaluasi kinerja. d. Konsep Biaya Dasar Lainnya

37

1.

Biaya Penempatan (Replacement Cost) Biaya ini untuk membeli kembali, menetapkan kembali, atau menyusun kembali suatu aktiva. Biaya penempatan atas inventaris adalah harga yang dibayar jika inventaris telah ditetapkan pada tanggal daftar neraca. Manajemen seringkali menggunakan konsep ini dalam perencanaan. Karena itu konsep biaya penempatan harus pengambilan keputusan. langsung digunakan dalam proses

2.

Biaya Marginal (Marginal cost) Biaya ini merupakan biaya tambahan atau biaya ekstra, yang dikeluarkan untuk memproduksi atau lebih produk.

3.

Biaya Difrensial (Differential Cost) Biaya difrensial adalah biaya antara alterenatif yang satu dengan yang lain. Biaya ini disebut juga bertambah (Incremental Cost) dan biaya yang berkurang (Decremental Cost). Biaya diferensial dapat bersifat tetap atau variable.

4.

Biaya Sunk ( Sunk Cost) Biaya Sunk adalah biaya yang telah dikeluarkan dan tidak dapat diubah oleh keputusan sekarang maupun yang akan mendatang. Oleh karena tidak dapat diubah, maka biaya ini tidak dapat dipakai dalam analisis tindakan untuk waktu mendatang.

C. Pengertian Activity-Based Costing

38

Activity Based Costing merupakan metode yang menerapkan konsepkonsep akuntansi aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang lebih akurat. Namun dari perspektif manajerial, sistem ABC menawarkan lebih dari sekedar informasi biaya produk yang akurat akan tetapi juga menyediakan informasi tentang biaya dan kinerja dari aktivitas dan sumber daya serta dapat menelusuri biaya-biaya secara akurat ke objek biaya selain produk, misalnya pelanggan dan saluran distribusi. Pengertian Activity Based Costing menurut Amin Widjaja (1992:27), Bahwa ABC sistem tidak hanya memberikan kalkulasi biaya produk yang lebih akurat, tetapi juga memberikan kalkulasi apa yang menimbulkan biaya dan bagaimana mengelolanya, sehingga ABC juga dikenal sebagai sistem manajemen yang pertama. Sedangakan menurut Mulyadi (1993:34) memberikan pengertian ABC sebagai berikut : ABC merupakan metode penentuan HPP (Product Costing) yang ditujukan untuk menyajikan informasi harga pokok secara cermat bagi kepentingan manajemen, dengan menguku secara cermat konsumsi sumber daya alam setiap aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk. Pengertian ABC yang lain juga dikemukakan oleh Hansen and Mowen (1999:321) Suatu sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya ke aktivitas kemudian ke produk. Definisi lain dikemukakan oleh Garrison dan Norren (2000: 292), Metode costing yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer untuk keputusan strategik dan keputusan lainnya yang mungkin akan mempengaruhi kapasitas dan juga biaya tetap.

39

Dari beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ABC adalah suatu metode yang mengukur biaya dan kinerja dari suatu proses yang berhubungan dengan aktivitas dan objek-objek biaya. D. Konsep-Konsep Dasar Activity Based Costing Activity Based Costing adalah suatu sistem akuntansi yang terfokus pada aktivitas-aktifitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk/jasa. Activity Based Costing menyediakan informasi perihal aktivitas-aktivitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. Aktivitas adalah setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya (cost driver) yakni, bertindak sebagai faktor penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi. Aktivitas-aktivitas ini menjadi titik perhimpunan biaya.Dalam sistemActivity Based Costing, biaya ditelusuri ke aktivitas dan kemudian ke produk.Activity Based Costingmengasumsikan bahwa aktivitas-aktivitaslah yang mengkonsumsi sumber daya dan bukannya produk Gambar 2.1 Konsep Dasar Activity Based Costing

Sumber: Hansen, Don .R. dan Maryanne, M. Mowen, (2005)

40

1. Perbandingan Biaya Produk Tradisional dan ABC Metode Activity Based Costing memandang bahwa biaya overhead dapat dilacak secara memadai pada berbagai produk secara individual. Biaya yang ditimbulkan oleh cost driver berdasarkan unit adalah biaya yang dalam metode tradisional disebut sebagai biaya variabel. Metode Activity Based Costing memperbaiki keakuratan perhitungan harga pokok produk dengan mengakui bahwa banyak dari biaya overhead tetap bervariasi dalam proporsi untuk berubah selain berdasarkan volume produksi. Dengan memahami apa yang menyebabkan biaya-biaya tersebut meningkat dan menurun, biaya tersebut dapat ditelusuri ke masing-masing produk. Hubungan sebab akibat ini memungkinkan manajer untuk memperbaiki ketepatan kalkulasi biaya produk yang dapat secara signifikan memperbaiki pengambilan keputusan (Hansen dan Mowen, 1999:157-158) Tabel 2.2 di bawah ini menggambarkan perbedaan antara penentuan harga pokok produk tradisional dan sistem Activity Based Costing: Tabel 2.2 Perbedaan Penetapan Harga Pokok Produk Tradisional Dengan Metode Activity Based Costing Metode Penentuan Harga Metode Activity Based Keterangan Pokok Produk Tradisional Costing Tujuan Inventory level Produk Costing Tahap desain, produksi, Lingkup Tahap produksi Tahap pengembangan Biaya bahan baku, tenaga kerja Fokus Biaya Overhead langsung Periode Periode Akuntansi Daur hidup produk Teknologi yang Komputer Metode Manual digunakan telekomunikasi Sumber: Mulyadi, 1993

41

2. Struktur Sistem ABC Desain Activity Based Costing difokuskan pada kegiatan, yaitu apa yang dilakukan oleh tenaga kerja dan peralatan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Kegiatan adalah segala sesuatu yang mengkonsumsi sumber daya perusahaan. Dengan memusatkan perhatian pada kegiatan dan bukannya departemen atau fungsi, maka sistem ABC akan dapat menjadi media untuk memahami, memanajemeni, dan memperbaiki suatu usaha. Ada dua asumsi penting yang mendasari Metode Activity Based Costing, yaitu: 1. Aktivitas-aktivitas yang menyebabkan timbulnya biaya Metode Activity Based Costing bahwa sumber daya pembantu atau sumber daya tidak langsung menyediakan kemampuannya untuk

melaksanakan kegiatan bukan hanya sekedar penyebab timbulnya biaya. 2. Produk atau pelanggan jasa produk menyebabkan timbulnya permintaan atas dasar aktivitas untuk membuat produk atau jasa yang diperlukan berbagai kegiatan yang menimbulkan sumber daya untuk melaksanakan aktivitas tersebut. Asumsi tersebut diatas merupakan konsep dasar dari sistem Activity Based Costing. Selanjutnya, karena adanya aktivitas akan menimbulkan biaya, maka untuk dapat menjalankan usahanya secara efisien, perusahaan harus dapat mengelola aktivitasnya. Dalam hubungannya dengan biaya produk, maka biaya yang dikonsumsi untuk menghasilkan produk adalah biaya-biaya

42

untuk aktivitas merancang, merekayasa, memproduksi, menjual dan memberikan pelayanan produk (Cokins dkk, 1996:12) E. Pembebanan Biaya Overhead pada Activity-Based Costing Pada Activity Based Costing meskipun pembebanan biaya-biaya overhad pabrik dan produk juga menggunakan dua tahap seperti pada akuntansi biaya tradisional, tetapi pusat biaya yang dipakai untuk pengumpulan biaya-biaya pada tahap pertama dan dasar pembebanan dari pusat biaya kepada produk pada tahap kedua sangat berbeda dengan akuntansi biaya tradisional (Cooper, 1991:269-270). Activity Based Costing menggunakan lebih banyak cost driver bila dibandingkan dengan sistem pembebanan biaya pada akuntansi biaya tradisional. Sebelum sampai pada prosedur pembebanan dua tahap dalam Activity Based Costing perlu dipahami hal-hal sebagai berikut: 1. Cost Driver adalah suatu kejadian yang menimbulkan biaya. Cost Driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biayabiaya overhead. Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama tingkat aktivitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktivitas-aktivitas selanjutnya. 2. Rasio Konsumsi adalah proporsi masing-masing aktivitas yang dikonsumsi oleh setiap produk, dihitung dengan cara membagi jumlah aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk dengan jumlah keseluruhan aktivitas tersebut dari semua jenis produk. 3. Homogeneous Cost Pool merupakan kumpulan biaya dari overhead yang variasi biayanya dapat dikaitkan dengan satu pemicu biaya

43

saja.Atau untuk dapat disebut suatu kelompok biaya yang homogen, aktivitas-aktivitas overhead secara logis harus berhubungan dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk. a. Prosedur Pembebanan Biaya Overhead dengan Sistem Activity Based Costing Menurut Mulyadi (1993:94), prosedur pembebanan biaya overhead

dengan sisitem Activity Based Costingmelalui dua tahap kegiatan: 1. Tahap Pertama Pengumpulan biaya dalam cost pool yang memiliki aktifitas yang sejenis atau homogen, terdiri dari 4 langkah : a. Mengidentifikasi dan menggolongkan biaya ke dalam berbagai aktifitas. b. Mengklasifikasikan aktifitas biaya kedalam berbagai aktifitas. Pada langkah ini biaya digolongkan kedalam aktivitas yang terdiri dari 4 kategori yaitu: Unit level activity costing, Batch related activity costing, product sustaining activity costing, facility sustaining activity costing. Level tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Aktivitas Berlevel Unit (Unit Level Activities). Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unit bersifat proporsional dengan jumlah unit produksi. Sebagai contoh, menyediakan tenaga untuk menjalankan peralatan, karena tenaga tersebut cenderung dikonsumsi secara proporsional dengan jumlah unit yang diproduksi.

44

2. Aktivitas Berlevel Batch (Batch Level Activities). Aktivitas dilakukan setiap batch diproses, tanpa memperhatikan berapa unit yang ada pada batch tersebut. Misalnya, pekerjaan seperti membuat order produksi dan pengaturan pengiriman konsumen adalah aktivitas berlevel batch. 3. Aktivitas Berlevel Produk (Produk Level Activities). Aktivitas berlevel produk berkaitan dengan produk spesifik dan biasanya dikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau unit yang diproduksi atau dijual. Sebagai contoh merancang produk atau mengiklankan produk. 4. Aktivitas Berlevel Fasilitas (Fasility level activities). Aktivitas berlevel fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses operasi perusahaan namun banyak sedikitnya aktivitas ini tidak berhubungan dengan volume. Aktivitas ini dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produk yang berbeda. Kategori ini termasuk aktivitas seperti kebersihan kantor, penyediaan jaringan komputer dan sebagainya. c. Mengidentifikasi Cost Driver Dimaksudkan untuk memudahkan dalam penentuan tarif/unit cost driver d. Menentukan tarif/unit Cost Driver Adalah biaya per unit cost driver yang dihitung untuk suatu aktivitas. Tarif/unit cost driver dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

45

Tarif per unit Cost Driver =

2. Tahap Kedua Penelusuran dan pembebanan biaya aktivitas ke masing-masing produk yang menggunakan cost driver. Pembebanan biaya overhead dari setiap aktivitas dihitung dengan rumus sebagai berikut:
= /

F. Manfaat Penentuan Harga Pokok Produk Berdasarkan Aktivitas Jika syarat-syarat penerapan sistem Activity Based Costing sudah terpenuhi, maka menurut Supriyono (2002:698) sebaiknya perusahaan

menerapkan sistem Activity Based Costing dan segera mendesain ulang sistem akuntansi biayanya karena akan bermanfaat sebagai berikut: 1) Memperbaiki mutu pengambilan keputusan. Dengan informasi biaya produk yang lebih teliti, kemungkinan manajer melakukan pengambilan keputusan yang salah dapat dikurangi. Informasi biaya produk yang lebih teliti sangat penting artinya bagi manajemen jika perusahaan menghadapi persaingan yang tajam. 2) Memungkinkan manajemen melakukan perbaikan terus menerus terhadap kegiatan untuk mengurangi biaya overhead. Sistem Activity Based Costing mengidentifikasi biaya overhed dengan kegiatan yang menimbulkan biaya tersebut. Pembebanan overhead harus mencerminkan jumlah permintaan

46

overhead (yang dikonsumsi) oleh setiap produk. Sistem Activity Based Costing mengakui bahwa tidak semua overhed bervariasi dengan jumlah unit yang diproduksi. Denganmenggunakan biaya berdasarkan unit dan non unit overhead dapat lebih akurat ditelusuri ke masing-masing produk. 3) Memberikan kemudahan dalam menentukan biaya relevan. Karena sistem Activity Based Costing menyediakan informasi biaya yang relevan yang dihubungkan dengan berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk, maka manajemen akan menghasilkan kemudahan dalam memperoleh informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan yang menyangkut berbagai kegiatan bisnis mereka. G. Cost Driver Landasan penting untuk menghitung biaya berdasarkan aktivitas adalah dengan mengidentifikasi pemicu biaya atau cost driver untuk setiap aktivitas. Pemahaman yang tidak tepat atas pemicu akan mengakibatkan ketidaktepatan pada pengklasifikasian biaya, sehingga menimbulkan dampak bagi manajemen dalam mengambil keputusan. Jika perusahaan memiliki beberapa jenis produk maka biaya overhead yang terjadi ditimbulkan secara bersamaan oleh seluruh produk. Hal ini menyebabkan jumlah overhead yang ditimbulkan oleh masing-masing jenis produk harus diidentifikasi melalui cost driver. a) Pengertian Cost Driver

47

Cost driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biaya-biaya overhead. Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama tingkat aktifitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktifitas. Ada dua jenis cost driver, yaitu: 1. Cost Driver berdasarkan unit Cost Driver berdasarkan unit membebankan biaya overhead pada produk melalui penggunaan tarif overhead tunggal oleh seluruh departemen. 2. Cost Driver berdasarkan non unit Cost Driver berdasarkan non unit merupakan faktor-faktor penyebab selain unit yang menjelaskn konsumsi overhead. Contoh cost driverberdasarkan unit pada perusahaan jasa adalah luas lantai, jumlah pasien, jumlah kamar yang tersedia. b) Penentuan Cost Driver yang tepat aktivitas yang ada dalam perusahaan sangat komplek dan banyak jumlahnya. Oleh karena itu perlu pertimbangn yang matang dalam menentukan penimbul biayanya atau cost driver. 1. Penentuan jumlah cost driver yang dibutuhkan Menurut Cooper dan Kaplan (1991: 375), penentuan banyaknya cost driver yang dibutuhkan berdasarkan pada keakuratan laporan product cost yang diinginkan dan kompleksitas komposisi output perusahaan. Semakin banyak cost driver yang digunakan, laporan biaya produksi semakin akurat. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat keakuratan yang diinginkan, semakin banyak cost driver yang dibutuhkan.

48

2. Pemilihan cost driver yang tepat. Dalam pemilihan cost driver yang tepat, ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan: (Cooper dan Kaplan, 1991: 383): a) Kemudahan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam pemilihan cost driver (cost of measurement). Cost driver yang membutuhkan biaya pengukuran lebih rendah akan dipilih. b) Korelasi antara konsumsi aktivitas yang diterangkan oleh cost driver terpilih dengan konsumsi aktivitas sesungguhnya (degree of correlation). Cost driver yang memiliki korelasi tinggi akan dipilih. c) Perilaku yang disebabkan oleh cost driver terpilih (behavior effect). cost driver yang menyebabkan perilaku yang diinginkan yang akan dipilih. H. Keunggulan Metode ABC Amin (1994:23) mengemukakan tentang keunggulan Activity Based Costing adalah sebagai berikut: 1. Suatu pengkajian Activity Based Costing dapat meyakinkan manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi lebih kompetitif. Sebagai hasilnya mereka dapat berusaha untuk meningkatkan mutu sambil secara simultan memfokus pada mengurangi biaya. Analisis biaya dapat menyoroti bagaimana benar-benar mahalnya proses

manufakturing, yang pada akhirnya dapat memicu aktivitas untuk mereorganisasi proses, memperbaiki mutu dan mengurangi biaya 2. Activity Based Costing dapat membantu dalam pengambilan keputusan

49

3. Manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif yang lebih wajar 4. Dengan analisis biaya yang diperbaiki, manajemen dapat melakukan analisis yang lebih akurat mengenai volume, yangdilakukan untuk mencari break even atas produk yang bervolume rendah. 5. Melalui analisis data biaya dan pola konsumsi sumber daya, manajemen dapat mulai merekayasa kembali proses manufacturing untuk mencapai pola keluaran mutu yang lebih efisien dan lebih tinggi. I. Kelemahan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional Hal-hal yang tidak diberitahukan oleh sistem akuntansi biaya tradisional kepada manajemen banyak sekali.Akuntansi biaya tradisional memberi sedikit ide kepada manajemen pada saat harus mengurangi pengeluaran pada waktu yang mendesak.Sistem tersebut hanya memberikan laporan manajemen dengan menunjukkan dimana biaya dikeluarkan dan tidak ada indikasi apa-apa yang menimbulkan biaya. Sistem biaya tradisional memang memeperhatikan biaya total perusahaan, akan tetapi mereka mengabaikan below the line expenses, seperti penjualan, distribusi, riset, dan pengembangan serta biaya administrasi. Biayabiaya ini tidak dibebankan kepasar, pelanggan, saluran distribusi, atau bahkan produk yang berbeda.Banyak manajer yang percaya bahwa biaya-biaya ini adalah tetap. Oleh sebab itu, biaya-biaya below the line ini diperlakukan secara sama denganmendistribusikannya kepada pelanggan. Padahal, sekarang ini beberapa pelanggan jauh lebih mahal untuk dilayani dibandingkan dengan yang laindan sebenarnya beberapa biaya tersebut adalah biaya variabel. (Amin, 1992:22).Lebih

50

jauh lagi dijelaskan oleh Supriyono (2002:74-77) bahwa dengan berkembangnya dunia teknologi, sistem biaya tradisional mulai dirasakan tidak mampu menghasilkan produk yang akurat lagi. Hal ini disebabkan karena lingkungan global menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab sistem akuntansi biaya tradisional, antara lain: 1. Sistem akuntansi biaya tradisional terlalu menekankan pada tujuan penentuan harga pokok produk yang dijual. Akibatnya, sistem ini hanya menyediakan informasi yang relatif sangat sedikit untuk mencapai keunggulan dalam persaingan global. 2. Sistem akuntansi biaya tradisional untuk biaya overhead terlalu memusatkan pada distribusi dan alokasi biaya overhead daripada berusaha keras untuk mengurangi pemborosan dengan menghilangkan aktivitas yang tidak bernilai tambah. 3. Sistem akuntansi biaya tradisional tidak mencerminkan sebab akibat biaya karena seringkali beranggapan bahwa biaya ditimbulkan oleh faktor tunggal misalnya volume produk atau jam kerja langsung. 4. Sistem akuntansi biaya tradisional menghasilkan informasi biaya yang terdistorsi sehingga mengakibatkan pembuatan keputusan yang

menimbulkan konflik dengan keunggulan perusahaan. 5. Sistem akuntansi biaya tradisional menggolongkan biaya langsung dan tidak langsung serta biaya tetap dan variabel hanya mendasarkan faktor penyebab tunggal misalnya volume produk, padahal dalam lingkungan

51

teknologi maju cara penggolongan tersebut menjadi kabur karena biaya dipengaruhi oleh berbagai macam aktivitas 6. Sistem akuntansi biaya tradisional menggolongkan suatu perusahaan ke dalam pusat-pusat pertanggung jawaban menekankan kinerja jangka pendek. 7. Sistem akuntansi biaya tradisional memusatkan perhatian kepada perhitungan selisih biaya pusat-pusat pertanggngjawaban tertantu dengan menggunakan standar. 8. Sistem akuntansi biaya tradisional tidak banyak memerlukan alatalat dan teknik-teknik yang canggih dalam sistem informasi dibandingkan pada lingkungan teknologi maju. 9. Sistem akuntansi biaya tradisional kurang menekankan pentingnya daur hidup produk. Hal ini dibuktikan dengan perlakuan akuntansi biaya tradisional terhadap biaya aktivitas-aktivitas perekayasaan, penelitian dan pengembangan. Biaya-biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periode sehingga menyebabkan terjadinya distorsi harga pokok daur hidup produk. yang kaku dan terlalu

52

BAB III METODE PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam melakukan penelitian guna memperoleh data yang diperlukan untuk mendukung penulisan skripsi ini, maka penulis memilih pempat penelitian pada Perusahaan PDAM Maros yang bertempat pada Jl. Asoka 29 Maros, adapun waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Juni sampai Agustus 2011.

B. Tipe Penelitian dan Desain Penelitian


Pada penelitian skripsi ini penulis menggunakan metode deskrptif komparatif mengadakan perbandingan antara metode yang digunakan perusahaan dalam menghitung biaya, dalam hal ini menggunakan metode akuntansi biaya tradisional dengan system ABC (Activity-Based Costing). Adapun tahap-tahapnya yaitu : Penerapan Activity-Based Costing dalam perhitungan biaya produksi. Menurut Horngren, dkk (1996:146) penerapan system ABC (Activity-Based Costing) dilakukan dengan enam langkah yaitu sebgai berikut: a. b. Mengidentifikasi aktivitas dengan memilihnya sebgai objek biaya. Mengidentifikasi biaya langsung (Direct Cost) dari aktifitas seperti biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung. c. Mengidentifikasi Biaya Tidak Langsung (Biaya Overhead) yang Berhubungan dengan Aktivitas. d. Menentukan tarif/unit Cost Driver

53

Adalah biaya per unit cost driver yang di hitung untuk suatu aktivitas. Tarif/unit cost driver dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut: Tarif per unit Cost Driver =

e. Penelusuran dan pembebanan biaya aktivitas ke masing-masing produk yang menggunakan cost driver. Pembebanan biaya overhead dari setiap aktivitas dihitung dengan rumus sebagai berikut:

f. Pengumpulan biaya dalam cost pool yang memiliki aktifitas yang sejenis atau homogen, terdiri dari 4 langkah : yaitu: Unit level activity costing, Batch related activity costing, product sustaining activity costing,facility sustaining activity costing. Level tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Aktivitas Berlevel Unit (Unit Level Activities) Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unit bersifat proporsional dengan jumlah unit produksi. Sebagai contoh, menyediakan tenaga untuk menjalankan peralatan, karena tenaga tersebut cenderung dikonsumsi secara proporsional dengan jumlah unit yang diproduksi. 2. Aktivitas Berlevel Batch (Batch Level Activities) Aktivitas dilakukan setiap batch diproses, tanpa memperhatikan berapa unit

54

yang ada pada batch tersebut. Misalnya, pekerjaan seperti membuat order produksi dan pengaturan pengiriman konsumen adalah aktivitas berlevel batch. 3. Aktivitas Berlevel Produk (Produk Level Activities) Aktivitas berlevel produk berkaitan dengan produk spesifik dan biasanya dikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau unit yang diproduksi atau dijual. Sebagai contoh merancang produk atau mengiklankan produk. 4. Aktivitas Berlevel Fasilitas (Fasility level activities) Aktivitas berlevel fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses operasi perusahaan namun banyak sedikitnya aktivitas ini tidak

berhubungan dengan volume. Aktivitas ini dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produk yang berbeda. Kategori ini termasuk aktivitas seperti kebersihan kantor, penyediaan jaringan komputer dan sebagainya. g. Menghitung rata-rata indirect cost yang actual h. Menghitung Biaya Produksi dengan Menambahkan Biaya Langsung dengan Biaya Tidak Langsung i. Perbandingan Perhitungan Biaya Produksi Antara Activity-Based Costing dengan Akuntansi Tradisional

C. Populasi dan Sampel D. Teknik Pengumpulan Data

55

Untuk

melengkapi

pembahasan

ini

penulis

menggunakan

metode

pengumpulan data, yaitu: Penelitian lapangan (filed research), dengan mengadakanpeneltian lapangan ke objek penelitian PDAM Maros dengan menggunakan 2 tekik sebagai berikut: a. Teknik observsi langsung, yaitu pengumpulan data melalui

pengamatan langsung penulsi terhadap objek penelitian untuk menemukan hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan ini. b. Teknik komunikasi langsung, yaitu pengumpulan data dengan megadakan wawancara dengan orang-orang yang berhubungan lansung dengan data yang diperlukan penulis.

E. Definisi Operasional Variabel F. Teknik Pengolahan Data


1. Jenis Data Adapun teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Data kuantitatif Yaitu data yang berupa anga-angka, seperti semua biaya-biaya yang terdapat dalam perusahaan yaitu biaya produksi. b. Data Kualitatif Yaitu jenis data yang berbentuk informasi, baik yang berbentuk lisan maupun tulisan yang berperan sebagai pendukung bagi data yang

56

dibutuhkan yang diperoleh dari pendapat pihak perusahaan maupun pihak yang mengetahui system ABC (Activity-Based Costing) serta berbagai macam literatur. 1. Sumber Data Sedangkan sumber data dalam penelitian ini yaitu data sekunder, merupakan data yang diperoleh berupa biaya-biaya produksi, formulir, struktur organisasi dan dokumen lain yang berhubungan dengan masalah yang dibahas serta literatureliteratur yang dijadikan acuan oleh penulis.

57

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Singkat Pengelolaan usaha air minum di Kabupaten Maros, di mulai pada tahun 1987 berdasarkan instruksi Gubernur Kepala Daerah tingkat I Sulawesi Selatan No. 539/3039/Serakda, tanggal 12 Oktober 1987 dan nama Badan Usaha Pengelola Air Minum (BPAM) yang berada di bawah koordinasi Direktur Jendral Karya Cipta Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Pada periode 1988 sampai 1989 dengan bantuan dana anggaran pembangunan dan belanja Negara (APBN) dari pemerintah Perancis, mulailah dilakukan pemasangan jaringan transmisi dan distribusi dalam wilayah Kabupaten Maros. Selanjutnya pada tahun 1990 PDAM Kabupaten Maros yang berbeda di bawah koordinasi Dirgen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia, mulai beroperasi (Trial Operation) dengan pelanggan yang masih terbatas, hanya melayani dalam wilayah Kab. Maros. Dalam perkembangan selanjutnya sesuai dengan tuntuan keadaan dan dikaitkan dengan Undang-Undangan No. 5 tahun 1994 tentang Pokok-pokok pemerintahan di daerah untuk menjamin rfisiensi dan efektifitas Pengelolaan air minum, maka berdasarkan surat keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia No. 72/KPTS/1993 tanggal 17 Februari 1993 Usaha pengelolaan Air di Kabupaten Daerah Tkatkan K.II di Sulawesi zselatan yaitu: Tana Toraja, Mamuju, Takalar, Selayar, dan Pinrang.

58

Hal ini dilakukan berdasarkan pada perauran Daerah No.7/Tahun 1993 tentag tujuan pendirian perusahaan ialah turut melaksanakn pembangunan Ekonmi Daerah dan Nasional dalam rangka meningkatkan kesejatraan dan memenuhi kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat sekaligus sebagai upaya peningkatan Pendapatan Daerah serta memperluas lapangan kerja khususnya di Kabupaten Maros. B. Struktur Organisasi Dalam suatu perusahaan, adanya suatu organisasi yang tersusun rapid an masing-masing bagian brjalan sesuai dengan fugsinya, merupakan salah satu kunci keberhasilan suatu perusahaan, utnuk meraih sukses dalam usahanya. Dengan demikian didalam suatu perusahaan diperlukan adanya struktur organisasi yang baik untuk mengatur tugas dan tanggungjawab dari setiap bagian yang ada pada suatu perusahaan. Demikain pula halnya pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Maros, telah memiliki struktur organisasi, yang dalam kegiatannya menerapakan struktur organisasi lini dan staf. Pimpinan perushaan dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh sejumlah pejabat lini dan staf. Sebelum diuraikan Struktur Organisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Maros, terlebih dahulu akan dikemukakan mengenai pengertian organisasi. Suatu organisasi dibentuk atas tujuan tertentu menurut kepentinggannya, oleh karena suatu organisasi yang baik harus jelas perbedaan setaiap fungsinya, guna mencapai tujuan perusahaan. Berbagai kegiatan dari kebutuhan perusahaan dapat dikerjakan apabila dilakukan oleh orang-orang yang secara teratur bekerja.

59

Dalam suatu pembagian fungsi dan tanggungjwab antara satu departemen dengan departemen lain. Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan mengenai struktur organisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Maros. Gambar struktur organisasi dan selanjutnya akan dijelaskan mengenai uraian tgas dan fungsi tiap-tiap bagian didlamnya sebagai berikut: 1. Kedudukan. a. Perusahaan Daerah adalah pelaksana pemerintah daerah di bidang pengelohan air minum pengelola air minum. b. Perusahaan daerah diselenggarakan atas azas ekonomi perusahaan dalam kesatuan system pembinaan ekonomi Indonesia berdasarkan Pancasila yang menjamin kelangsungan demokrasi yang berfungsi sebagai alat utnuk meningkatkan kesejatraan masyarakat. c. Perusahaan daerah dipimpin oleh seorang direktur utama dan bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Badan Pengawas. 2. Tujuan pokok Perusahaan Daerah mempunyai tugas melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah dalam bidang pengelolaan air bersih. 3. Fungsi Untuk melaksanakn tugas sebagaimana tersebut dalam pasal 13, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) mempunyai fungsi: a. Melaksanakan pelayanan umum/jasa kepada masyarakat konsumen dalam penyediaan air bersih.

60

b. Menyelenggarakan pemanfaatan umum yang dapat dirasakan oleh masyarakat. c. Memupuk pendapatan untuk biaya kelangsungan hidup perusahaan dan pembangunan daerah. 4. Susunan Organisasi Susunan organisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terdiri atas : a. Unsur Pimpinan adalah Direksi yang terdiri dari: i. ii. iii. Direktur Utama Direktur Bidang Administrsi dan Keuangan Direktur Bidang Teknik

b. Unsur-unsur Staf Direktur BIdang terdiri: i. ii. iii. iv. v. vi. Bagian Hubungan Langganan Bagian Keuangan Bagian Produksi dan Laboratorium Distribusi Bagian Peralatan Teknik Bagian PErencanaan Teknik

c. Unsur Pelakasana adalah: i. Unit pelayanan

C. Deskripsi Jabatan Deskripsi jabatan berisi pembagian tugas-tugas dan wewenan fungsi-fungsi dalam organisasi, dimana fungsi tersebut mempertanggungjawabkan tugastugasnya kepada manajemen puncak.

61

Adapun fungsi wewenang dan tanggung jawab masing-masing sebgai berikut: 1. Direksi Direksi mempunyai tugas, wewenang dan tanggung jawab: a. Memimpin perusahaan daerah sehri-hari berdasarkan kebijaksanaan umum yang digariskan oleh Kepala Daerah atau Badan Pengawas dengan mengikuti peraturan, tata tertib serta tata kerja yang sudah ditetapkan, memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Mengurus dan mengawasi kekayaan perusahaan daerah. c. Dengan persetujuan atau pemberian kuasa dari Buati/Badan Pengawas, direksi dapat melakukan hal-hal sebgai berikut : 1. Mengadakan perjanjian-perjanjian atas nama Perusahaan Daerah untuk jangka waktu lebih dari 1 tahun. 2. Mengadakan peminjaman 3. Memperoleh bergerak. 4. Mengadakan investasi baru. 5. Mewakili Perusahaan Daerah di dalam maupun di luar pengadilan. 6. Mengadakan tindakan-tindakan lain yang dianggap perlu. d. Mengusulkan tarif air minum kepada Kepala Daerah Badan Pengawas. e. Menyusun dan mengajukan rencana anggaran Perusahaan Daerah selambat-lambatnya 3 (tiga) sebelum tahun buku mulai berlaku untuk dimintakan persetujuan dari Bupati melalui Badan Pengawas. pemindahtanganan atau membebani benda tak

62

f. Menyusun tambahan atau perubahan anggaran yang terjadi dalam tahun yang bersangkutan dan melaksanakannya setelah menpat persetujuan terlebih dahulu dari Bupati melalui Badan Pengawas. g. Setiap akhir tahun buku Direksi berkewajiban menyampaikan laporan keuangan kepada Bupati kepada Badan Pengawas selambat-lambatnya (tiga) bulan setelah tahun buku berakhir. h. Mengangkat dan memberhentikan pegawai perusahaan sesuai dengan peraturan kepegawaian perushaaan yang berlaku. i. Melaksanakan tugas-tugas yang lain yang diberikan oleh Bupati atau Badan Pengawas. Dalam melakasanakan tugasnya Direksi bertanggung jawab kepada Bupati melalui Badan Pengawas. 2. Direktur Utama Direktur Utama mempunyai, wewenang dan tanggung jawab: a. Merencanakan perusahaan daerah untuk jangka panjang mengawasi dan mengkoordinir kegiatan dalam bidang umum termasuk keuangan dan administarasi utnuk mencapai tujuan. b. Merumskan strategi Perusahan Daerah dan menjalankan kebijaksanaan operasi Perusahaan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. Membina hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintahan, swasta maupun degan sesama Perusahaan Daera Air Minum (PDAM).

63

d. Memimpin perencanaan dan pelaksanaan kerja masing-masing satuan organisasi yang dibawahainya dalam rangka mencapai tujuan Perusahaan Daerah. e. Bertindak sebagai otorisator dalam anggaran Perushaan Daerah, menandatangani surat perintah, mengeluarkan uang, giro dan cheque. f. Menandatangani perjanjian dengan pihak ketiga. g. Menandatangani keputusan Direksi dan naskah dinas lain yang dianggap perlu Perusahaan Daerah. h. Menerima laporan dari bawsahan atau stafnya dan mengevaluasi laporan tersebut untuk bahan pengambilan keputusan. i. Melaksanakan tanggung jawab administrasi fungsional perusahaan daerah kepada Bupati. j. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Bupati. Direktur Utama dalam menjalankan tugasnya bertangung jawab kepada Bupati dan Badan Pengawas. Direktur Utama dibantu oleh: a. Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan. b. Direktur Bidang Teknik. 3. Direktur Bidang Administrasi, Keuangan dan Umum Direktur Bidang Adminisrasi dan Keuangan mempunyai tugas: a. Memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan dibidang hubungan langganan, administrasi umum dan keuangan.

64

b. Merencanakan dan mengedalikan kegiatan pengadaan dan pengelolaan serta perlengakapan. c. Merencanakan dan mengendalikan, pendapatan dan belanja serta mengatur penggunaan kekayaan perusahaan. d. Mengawasi menyusun anggaran belanja/menetapkan besarnya modal kerja perusahaan, merumusakan dan menetapkan kebijaksanaan mengenai keuangan yang lebih efisien dan efektif. e. Membuat penilaian dan persetujuan semua pembelian untuk keperluan organisasi melalui atau tanpa melalui tender. f. Mengatur cara pelayanan sebaik-sebaiknya bagi masyarakat calon pelanggan maupun para pelanggan. g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direktur Utama. Dalam melaksanakan tugas Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan bertanggung jawab kepada Direktur Utama. Dalam melaksanakan tugasnya Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan dibantu oleh: 1. Bagian Hubungan Langganan Bagian Hubungan langganan mempunyai tugas: a. Mengkoordinir dan mengawasi kegiatan seksi pelayanan Langganan, seksi pemakaian Air dan Seksi Pemasaran, penerapan dan pengaduan. b. Menyelenggarakan pemasaran, penyuluhan dan pelayanan kepada calon pelanggan dan calon pelanggan.

65

c. Menyelenggarakan administrasi pemakaian air dan dan pengelolaan data pelanggan serta pelayanan pengaduan pelanggan. d. Mengkoordinir, mengawasi serta melaksanakn pelayanan pengaduan pelanggan. e. Melaksanakan dan menerapkan sanksi kepada pelanggan yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan sesuai peraturan perusahaan. f. Mengawasi kelancaran dan kebenaran pencatatan meter dan sewaktuwaktu mengadakan peninjauan kepalapangan utnuk mendapatkan informasi dari pelanggan. g. Mengadakan koordinasi dengan bagia-bagian lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya. h. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direksi. Bagian Hubungan Langganan dipimpin oleh seorang kapela bagian yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan tanggungjwab kepada Direkutr Bidang Administrasi dan Keuangan. Kabag Hubungan Langganan dibantu oleh: 1. 2. 3. Seksi Pelayanan Langganan. Seksi Pemakaian Air. Seksi Pemasaran, penerangan dan pengaduan. Tipa-tiap seksi tersebut pada ayat (3) pasal ini dipimpin oleh seorang kepala seksi yang dalam melaksanakn tugasnya berada dibawah dan tanggung jawab kepada Kepala Bagian Hubungan Langganan. a. Seksi Pelayanan Langganan mempunyai tugas: 1. Mencatat setiap permohonan sambungan baru dan calon pelanggan.

66

2. Mengerjakan administrasi pemasangan/ penyambungan baru, pemutusan dan penyambungan kembali saluran air minum langganan. 3. Mencatat dan melaporkan data setiap perubahan wilayah, status, nama, alamat dan perubahan tarif lainnya. 4. Melayani, mencatat setiap pelayanan pada terminal air, hidran umum dan pelayanan lainnya. 5. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Hubungan Langganan. b. Seksi Pemakaian Air Mempunyai tugas: 1. Melaksanakan pengendalian dan pengawasan pencatatan angka meter langganan. 2. Menyusun jadwal dan rencana pencatatn meter perwilayah menurut jumlah petugas. 3. Melaporkan semua keadaan meter yang tidak normal, keluhan konsumen dan kebocoran yang ditemukan serta pelanggaran lainnya. 4. Mengadakan penelitian dan pengecekan secara langsung di lapangan dan memastikan kebenaran pembacaan meter serta sebab terjadinya penurunan dan kenaikan pemakaian air pelanggan. 5. Mengerjakan laporan pemakaian air minum setia bulan. 6. Mengerjakan laporan pemakaian air dalam dalam hal terjadi

ketidakwajaran pemakaian air langganan dan meneruskannya kepada pengelola rekening.

67

7. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagin Hubungan Langganan. c. Seksi Pemasaran, Peneranagan dan Pengaduan mempunyai tugas: 1. Melakasanakan usahan pemasaran (peningkatan) jumlah pelanggan air minum serta meningkatkan kesadaran langganan dalam memenuhi kewajibannya membayar air minum. 2. Melayani pengaduan dari langganan baik masalah administrasi maupun teknik. 3. Mengundang atau memberitahukan kepada pelanggan yang diketahui melakukan pelanggaran dan memproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 4. Mengadakan pemeriksaan ke persil langganan untuk kepentingan perusahaan daerah. 5. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Hubungan Langganan. d. Bagian Umum Bagian umum mempunyai tugas: 1. Merenacanakan, mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan tugas dan seksi perbekalan dan perawatan, seksi gufang, seksi kepegawaian. 2. Menyelangaran kegiatan-kegiataan dibidang administrasi umum,

kerumahtanggan serta perlangkapan kantor.

68

3. Mengkoordinir, memeriksa, merawat, memperbaiki dan memelihara serta mengatur dan mengawasi penggunaan kendaraan dinas sesuai dengan kebijkasanaan yang telah ditetapkan. 4. Melakasanakan pengadaan/pembeliaan barang /material dan jasa yang diperlukan perusahaan. 5. Mengadakan usaha pemeliharaan dan pengawasan peralatan dan bangunan kantor. 6. Mengendalikan semua barang dan peralatan yang menjadi milik perusahaan daerah sesuia dengan kebutuhannya. 7. Menyimpan dan mendistribusikan tiap jenis barang kepada semua unit kerja sesuai dengan keperluannya setelah mendapat pengesahan. 8. Meneliti, mempelajari dan melaksanakan petunjuk perundang-undnagan yang ada sesuai dengan kondisi perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku. 9. Mengadakan inventarisasi barang/peralatan yang menjadi milik

perusahaan sesuai ketentuan yang berlaku untuk bahan pertanggung jawaban perusahaan daerah. 10. Mengkoordinir/mengurus inventarisasi perusahaan. 11. Mengadakan koordinasi dengan bagian-bagian lain yang yang berkaitan dengan bagiannya tugasnya. 12. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direksi. pelaksanakan asuransi barang-barang

69

Bagian umum didampingi oleh seorang kepala bagian yang dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh beberapa seksi dan bertanggung jawab kepada Direkutr Bidang Administrasi dan Keuangan. Kepala Bagian Umum dibantu oleh: a. Seksi Perbeakalan dajn Perawatan. b. Seksi gudang c. Seksi Kepegawaian. Tiap-tiap seksi tersebut pada ayat (3) pasal ini dipimpin oleh seorang kepala siksi yang didalam melaksanakn tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab keapada Kepala Bgian Umum. a. Seksi Perbekalan dan Perawatan mempunyai tugas: 1. Merencanakan pengadaan barang dan jasa yang diperlukan dengan memperhatikan jumlah, harga, mutu, jenis dan ketepatan waktu. 2. Menampung dan melayani penerimaan barang dari unit-unit kerja operasional sesuai dana yang tersedia. 3. Mempersiapkan dan mengikuti pelaksanaan proses pembelian dan jasa berdasarkan ketentuan yang berlaku. 4. Melaksanakn pembelian barang yang lebih menguntungkan

perusahaan sesuai dengan tata cara dan peraturan yang berlaku. 5. Mengkoordinir dan mengawasi perawatan/penggunaan dari seluruh bangunan, ruangan halaman, taman-taman dan perlengkapan kantor serta kendaraan dinas.

70

6.

Menyelengarakan investasi dan mengurus barang-arang inventaris milik perusahaan dareah.

7.

Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Umum.

Bagian

b. Seksi gudang mempunyai tugas: 1. Meneliti menyimpan dan memelihara barang persediaan dan mengeluarkannya dari gudang sesuai dengan bukti yang sah. 2. Menghimpun semua bukti penerimaan barang persediaan yang meliputi pipa besar, pipa kecil dan meter. 3. Membukukan setiap peneriman dan pengeluaran barang dalm kartu kimia perusahaan daerah. 4. 5. 6. Menghimpun semua bon pengeluaran/pemakaian barang persediaan. Membuat laporan bulanan secara periodik sesuai dengan kebutuhan. Melakukan stock opname barang persediaan di gudang setiap tiga kali bulan sekali. 7. Melaksanakan tugas lain diberikan oleh Kepala Bagian Umum.

c. Seksi Kepegawaaian mempunyai tugas: 1. Mengurus adminsitrasi kepegawaian yang meliputi usul

kepankgatan, kenaikan pankgat, mutasi, promsi, peberhentian, pension dan konduite. 2. Mempersiapakn dan menyusun syarat-syarat dan kwalifkasi calon pegawai yang dibutuhkan.

71

3. Menyusun rencana pendidikan dan latihan pengembangan karier pegawai. 4. Menegakkan taat tertib dan dispilin pegawai. 5. Mengusulkan pemberian hukuman terhadap pegawai yang

melanggar disiplin kepegawaian dan pemberian pengahargaaan kepada pegawai yang berprestasi/berjasa terhadap perusahaan. 6. Meyusun/memeriksa daftar gaji dan tunjangan asuransi pegawai baik perorangan maupun atas nama perusahaan. 7. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Umum. 4. Bagian Keuangan Bagian keuangan mempunyai tugas; a. Merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi tugas dari Perencanaan Keuangan, Seksi Pembukuan, Seksi Kas, Seksi penagihan dan rekening. b. Merencanakan, mengendalikan pendapatan dan pembelanjaan serta kekayaan perusahaan. c. Merencanakan, mengusahakan dan mengawasi kelancaran penagihan, piutang langganan. d. Menyelenggarakan penyusunan anggaran, meneliti dan mengevaluasi penerimaan dan pengeluaran anggaran perusahaan. e. f. Menyusun rencana Cash Flow dan Cash Budget. Mempersiapakan dan merencanakan program penyesuian sesuai dengan prinsip yang berlaku dan pelaksanaan penyusunan laporan keuangan.

72

g.

Mengendalikan pelaksanaan akuntansi perusahaan sesuai dengan prinsip yang berlaku dan pekaksanaan penyusunuan laporan keuangan.

h.

Melakukan pemeriksaan kas dan pembukuan perusahaan setiap bulan sekali atau sewaktu-waktu diperlukan dan mencocokkan kebenaran saldo buku bank perusahaan dengan rekening Koran bank.

i.

Mengadakan koordinasi dengan bagian lain sesuai dengan bidang tugasnya.

j.

Melaksanakan tugas-tugas lailain yang diberikan oleh Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan.

Bagian keuangan dipimpin oleh seorang Kepala Bagian Keuangan yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan. Dalam melaksanakan tugas Kepala Bagian Keuangan dibantu oleh: a. Seksi Perenacanaan Keuangan. b. Seksi Pembukuan dan Pelaporan. c. Seksi Kas. d. Seksi Penagihan dan Rekening. Tiap-tiap seksi tersebut pada ayat (3) pasal ini dipimpin oleh seorang Kepala Saksi yang dalam melasanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bagian Keuangan. a. Seksi Perencanaan Keuangan mempunyai tugas. 1. Membantu Kepala Bagian Keuangan dalam bidang tugasnya.

73

2.

Menyusun rencana anggaran perusahaan berdasarkan daftar usulan anggaran dari masing-masing bagian secara sistematis setiap tahun.

3.

Mencatat realisasi anggaran menurut mata anggaran yang terjadi setiap saat.

4.

Membuat laporan secara periodik seperti bulanan/triwulan/tahunan mengenai realisasi anggaran dan perubahan anggaran.

5.

Secara berkala mengadakan perkirann dan analisis terhadap penerimaan dan pengeluaran kas.

6.

Mempersiapakan dan mengusulkan kemungkinan perubahan anggaran.

7.

Mengadakan koordinasi dengan seksisesi lain yang berkaitan dengan tugasnya.

8.

Seksi perencanaan keuangan dikepalai oleh seorang kepala seksi yang dalam melaksnakan tugasnya berada bertanggung jawab kepada kepala bagian keuangan. dibawah dan

9.

Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian keuangan.

b. Seksi Pembukuan mempunyai tugas: 1. Melaksanakan pekerjaan akuntansi perusahaan sesuai prinsip yang berlaku meliputi pencatatan pada buku harian, buku besar, buku bank, buku piutang, buku hutang, dan buku lain yang berkaitan dengan akuntansi daerah. 2. Menyiapkan nerca perhitungan rugi/laba perusahaan daerah.

74

3. Menyusun laporan dan laporan tahunan perusahaan. 4. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian keuangan. c. Seksi Kas mempunyai tugas: 1. Mengerjakan Buku Kas Harian yang berdasarkan bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran yang sah. 2. Membuka dan menutup kas register setiap hari untuk pengamanan penerimaan dan pengeluaran perusahaan daerah. 3. Menyusun bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran sebgai

pendukung kas harian. 4. Menerima hasil setoran tagiahan rekening air/non air dan penerimaan. 5. Melakukan pembayaran baik jasa maupun barang kepada pihak ketiga serta pembayaran kebutuhan lainnya sesuai dengan buktibukti pengeluaran sah. 6. Melaksanakan penyetoran seluruh hasil penerimaan setiap hari ke bank dan menyimpan setiap bukti setoran bank. 7. Membuat laporan posisi kas setiap hari. 8. Melaksanakan bukti cek dan giro yang belum/sudah ditandatangani oleh direktur utama dan menyimpan surat-surat berharga lainnya. 9. Melayani pemeriksaan dengan sebaik-baiknya, baik yang dilakukan pihak intern maupun ekstern.

75

10. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian keuangan. d. Seksi Penagihan Rekening mempunyai tugas: 1. Membantu kepala bagian keuangan dalam bidang tugasnya. 2. Menerima rekening air dan non air dari kepala nagian keuangan untuk dipersiapakan penagihannya. 3. Menyerahkan dan membagikan rekening air kepada

penanggungjwab wilayah serta pelaksanaanya. 4. Memberikan bimbingan dan pengarahan secara berkala kepada penagih dan para petugas loket mengenai tata cara penagihan efektif kepada langganan. 5. Melakukan peninjauan langsung kelapangan apabila diperlukan, jika terjadi hambatan dalam pelakasanaan penagihan, serta mengambil langkah-langkah penagihan. 6. Melaksanakan administarasi penagihan secara baik dan teratur sehingga memudahkan untuk mengetahui aktifitas penagihan. 7. Menampung permasalahan dan saran dari penagih dan petugas loket sehubungan dengan pelaksanaan tugas dilapangan dan

mengusahakan jalan keluar untuk pemecahannya. 8. Mengadakan koordinasi dengan seksi-seksi lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya. 9. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian keuangan.

76

5.

Direktur Bidang Teknik a. Mengkoodirnasikan dan mengendalikan kegiatan-kegiatan dibidang produksi, distribusi, perlatan dan perencanaan. b. Mengkoordinasi dan mengendalikan air baku serta sumber lainnya, instansi produksi dan system distribusi. c. Mengkoodirnasi kegiatan-kegiatan pengujian peralatan teknik dan bahanbahan kimia. d. Mengadakan kerja sama dengan Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan dalam mengatur, mengawasi penyediaan fasilitas dan material yang dibutuhkan untuk melancarkan kegiatan dalam bidang operasional. e. Merumuskan dan menetapkan kebijaksanaan mengenai peningkatan hasil produksi. f. Memelihara hubungan baik antra isntasni serta pihak lain yang mewakili Perusahaan Daerah keluar dengan sepengetahuan Direkutur Utama. g. Mengatur car pelayanan yang sebaik-baiknya bak masyarakat calon pelanggan maupun para pelanggan. Dalam melaksanakan tugas Direktur Bidang Teknik bertanggung jawab

kepada Direktur Utama. Dalam melakasanakan tugasnya Direktur Bidang Teknik dibantu oleh: A. Bagian Produksi dan Laboratorium. 1. Merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan tugas dan seksi instansi dan seksi laboratorium.

77

2. Mengendalikan kwalitas dan kualitas produksi air minum termasuk penyusunan rencana kebutuhan material kebutuhan material produksi. 3. Mengkoodinir dan melakukan kegiatan-kegiatan pengujian peralatan produksi dan bahan kimia yang dipergunakan. 4. Mengendalikan pemeliharaan instansi dan perlatan produksi. 5. Mengendalikan kegiatan pengujian perlatan produksi dan bahan kimia yang dipergunakan. 6. Mengadakan penyediaan bahan kimia, ketenagaan dan mengontrol kualitas labotatorium. 7. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direksi. Bagian produksi dipimpin oleh seorang Kepala Bidang Teknik. Dalam melaksanakan tugas kepala bagian keuangan dibantu oleh: a. b. Seksi Perencanaan Keuangan Seksi Pembukuan dan Pelaporan

Tiap-tiap seksi tersebut pada ayat (3) pasal inidipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bagian Produksi. a. Seksi Instalasi Seksi instalasi mempunyai tugas: 1. 2. Mengendalikan mesin/listrik dalam proses produski air brsih. Membuat laporan tentang debit air baku, air brsih dan kondisi mesin instalasi. 3. Mengurus dan merawat barang inventaris/perlengkapan kantor instalasi.

78

4. Melakukan pemantauan dan pemeliharaan saluran transmisi air baku dari bendungan/intake instalasi produksi. 5. Melakukan pemantauan dan pemeliharaan perlatan unit-unit produksi untuk kelancaran proses produksi. 6. Menerima, mencatat, menyampaikan serta menyimpan surat-surat masuk serta keluar. 7. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian produksi dan laboratorium. b. Seksi Laboratorium Seksi laboratorium mempunyai tugas: 1. Melaksanakan penelitian laboratorium secara terus menerus (periodic) terhadap kualitas air. 2. Menentukan dan mengawasi dosis penggunaan bahan kimia untuk masingmasing jenis berdasarkan tingkat kualitas air. 3. Melaksanakan pengendalian kuliatas air bersih yang ada pada jaringan distribusi. 4. Mengadakan penelitian laboratorium kualitas air bersih dan instalasi serta membantu penelitian laboratorium lualitas air bagi masyarakat. 5. Mengendalikan dan menyusun rencana kebutuhan/penggunaan bahan baku utnuk pengelolahan air bersih. 6. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala bagian produksi dan laboratorium. B. Bagian Distribusi

79

Bagian distribusi mempunyai tugas: 1. Mengkoordinir dan megawasi pelaksanaan tugas dari seksi pemeliharaan dari pelayanan gangguan seksi pemasangan instalsi langganan. 2. Menyelenggarakan dan mengawasi pengaturan supply air pemasangan jaringan pipa distribusi alat bantunya terus menerus. 3. Mengadakan pemeriksaan dan menaggulangi gangguan yang terjadi terhadap pelayanan langganan. 4. Mengendalikan dan memeriksa pemasangan pipa instalasi dan alat

bantunya serta meter air baik yang dilakasnakn oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sendiri maupun oleh instalatur. 5. Melaksanakan pemeliharaan pipa distribusi dalam rangka pembagian air minum secafra merata dan terus menerus serta ngatasi gangguana kelancaran air minum termasuk menyusun rencana material untuk distribusi. 6. Melaksanakan system administrasi teknik baik untuk pemakainan material maupun pelaporannya, begitu pula operasaionalnya pelaksanaanya terhadapa semua kegiatan lapangan. 7. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh direktur bidang teknik. Bagian Distribusi dipimpin oleh seorang Kepala Bagian yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Bidang teknik. Bagian Distribusi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh: a. b. Seksi Pemeliharaan dan Pelayanan Gangguan Seksi Pemasangan Instalasi Langganan.

80

Tiap-tiap seksi tersebut pada ayat (3) pasal ini dipimpin oleh seorang kepala seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepala Bagian Teknik. a. Seksi Pemeliharaan dan Pelayanan Gangguan. Seksi Pemeliharaan dan Pelayanan Gangguan mempunyai tugas: 1. Memeliahara jaringan pipa dan peralatannya serta perlengkapan distribusinya. 2. Mengatur system operasi pemeliharaan/control terhadap jaringan pipa distribusi secara rutin. 3. Melakasanakan penaggulangan kebocoran/kerusakan. 4. Melaksanakan pemeliharaan, perbaikan dan pengawasan terhadap gangguan kelancaran aliran air. 5. Melakukan pengecekan kelapangan tempat terjadinya gangguan distribusi dan melaksanakan perbaikan jaringan pipa yang mengalami gangguan. 6. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian distribusi. b. Seksi Pemasangan Instalasi Langganan. Seksi pemasangan instalasi langganan mempunyai tugas: 1. Membantu kepala bagia distribusi dalam bidang tugasnya. 2. Melaksanakan pengawasan, penelitian dan pemeriksaan terhadap kondisi pipa instalasi/pipa dinas dan meter air. 3. Mengatur dan mengawasi pelaksanaan pemasangan, penggantian dan pencabutan meter air serta menginventarisir data-data yang diperlukan

81

berupa angka meter, diameter, nomor meter, merk dan sebagainya dikaitkan dengan kartu meter. 4. Mengadakan pengawasan dan pemeriksaan terhadap kondisi meter air yang berubah, diganti dan dirusak oleh pelanggan. 5. Melaksanakan dan mengawasi kegiatan pemasangan instalasi langgan baru baik yang dilaksanakan oleh Perusahan Daera Air Minum (PDAM) sendiri maupun oleh instalutur. 6. Menginventarisir data langgan yang telah direalsikan dan

mgnkoordiansikan denga bagian yang terkait. 7. Melaksanakan tugas lain yang yang diberikan oleh kepala bagian distribusi. C. Bagian Peralatan Teknik Bagian Peralatan teknik mempunyai tugas: 1. Merencanakan, mengkoordnir dan megawasi pelaksanaan tugas dan seksi bengkel dan pengendalian peralatan serta seksi perawatan dan pemeliharaan. 2. Meyusun rencana kebutuhan penggunaan perawatan peralatan teknik yang meliputi segala perlatan teknik produksi dan ditribusi air minum. 3. Menyelenggarakan dan mengawasi kegiatan perbaikan serta pemeriksaan dan pengujian dari peralatan teknik yang digunakan. 4. Melakansakan administrasi penerimaan pengeluaran barang-barang perlengkapan dan alat-alat kerja serta mesinmesin lainnya sesuai degan kebutuhan.

82

5. Merencanakan

dan

melaksanakan

kegiatan-kegiatan

pemeliharaan

/perbaikan untuk semua peratalatan teknik baik yang bergerak maupun tidak bergerak. 6. Megadakan koordniasi dengan bagia-bagian yang berkaitan dengan nidang tugasnya. 7. Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh direktur bidang teknik. Bagian peralatan teknik dipimpin oleh seorang kepala bagian yang dalam melaksanakn tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada direktur bidang teknik. Dalam melaksnaakan tugasnya kepala Bagian Peralatan Teknik dibantu oleh: a. Seksi Bengkel dan Pengendalian Perawatan mempunyai tugas: 1. Membantu kepala bagian peralatan teknik dalam bidang tugasnya. 2. Mempersiapakan dan mengamankan perlatan kerja mesin-mesin dan suku cadangnya untuk pemeliharaan/perbaikan sesuai kebutuhan dangan memperhatikan kuantitas dan kualitas. 3. Mempersiapkan dan memliahra mengamankan perltan dan mesin-meisn pengujian. 4. Mempersiapkan dan mengajukan kebutuhan barang-barang perlengkapan peralatan teknik dengan sebaik-baiknya. 5. Melaksanakan admisntarsi pemerimaan pengeluaran barang perlengkapan dan alat-alat sesuai dengan kebutuhan yang berlaku.

83

6. Melaksanakan kegiatan perakitan, pengujian terhadap meter air yang pernah terpasang ataupun yang akan dipasang untuk mendapatkan ketelitian yang diharapakan. 7. Mengadakan koordinasi degan seksi-seksi lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya. 8. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Distribusi. b. Seksi Perawatan dan Pemeliharaan Seksi perawatan dan pemeliharaan mempunyai tugas: 1. Menginventarisir seluruh peralatan teknik yang ada di perusahaan. 2. Merencanakan penjadwalan kegiatan dan pemeliharaan elektrik dan mekanik. 3. Membuat dan melaksanakan kartu peralatan pemeliharaan untuk peralatan yang dioperasiakan. 4. Mengawasi, memonitor kegiatan secara rutin terhadap system kerja dari mesin-meisn dan alat-alat teknik lainnya. D. Proses Produksi Produksi adalah suatu proses atau kegiatan menghasilkan suatu produk di mana kegiatan tersebut adalah kegiatan mengolah atau mendayagunakan bahan baku menjadi barang jadi yang dapat dimanfaatkan untuk selanjutnya distribusikan kepada konsumen sesuai kebutuhan melalui transmisi dan distribusi air menurut pembagian wilayah yang ada. Proses pengolahan transmisi dan dsitrubusi air pada PDAM Maros sebagai berikut: melaksnakan perawatan

84

1. Bahan Baku a. Biaya Bahan Kimia 2. Proses Pembuatan Sumber air baku PDAM Kab. Maros ada 2 lokasi pengambilan air baku yaitu, sungai bantimurung. Insatalasi pengolahan I Bantimurung kapasitas air 80 liter/dtk diambil dari dari sungai bantimurung dengan sistim pompanisasi, pompa yang digunakan yaitu pompa jenis Summer Sible (intake pump). Pompa tersebut menyuplai air baku ke media pengolahan. Sebelum air bahan baku diolah dilakukan deteksi dengan bahan kimia (tawas) dengan memakai pompa doshing (pompa doshing) dan diaduk melalui pengaduk (flash mixing) cepat di dalam pipa, dilanjutkan ke bak flokulator, guna pembentukan flok yang diinginkan kemedia air masuk ke bak sedimentasi terus masuk ke media filterisasi (filter) dan terakhir masuk ke bak reservoir kemudian di pompa ke pipa distribusi untuk dialirkan ke konsumen (pelanggan) PDAM Kab. Maros. E. Perhitungan Biaya Produksi pada PDAM Maros Selama ini PDAM dalam menghitung biaya produksi masih menggunakan sistem akuntansi tradisional dengan menggunakan volume produksi sebagai dasar alokasi. Unsur-unsur yang membentuk biaya produksi terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung . 1. Biaya Langsung 1. Biaya Listrik Aktual

85

2. Biaya Bahan Bakar Aktual 3. Biaya Penyusutan Aktual 4. Biaya Tenaga Kerja Aktual 5. Biaya Pemeliharan Aktual 6. Biaya Bahan Kimia Aktual 7. Biaya Lain-lain Aktual Jumlah biaya langsung yang terdapat pada PDAM Kab. Maros dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini. Daftar Biaya Langsung yang Aktual PDAM Kab. Maros Tahun 2010 1 2 3 4 5 6 7 Biaya listrik Biaya Bahan Bakar Biaya Penyusutan Biaya Pegawai Biaya Pemeliharaan Biaya Bahan Kimia Biaya Lain-lain Jumlah Rp. 1.221.421.160 Rp. 174.333.984 Rp. 1.545.025.738 Rp. 1.545.025.738 Rp. 206.303.780 Rp. 539.932.250 Rp. 104.706.690 Rp. 5.026.518.218

Sumber: PDAM Kab. Maros, data telah diolah

86

2. Biaya Tidak Langsung (Biaya Overhead) Jumlah biaya tida langsung yang terdapat pada PDAM Kab. Maros dapat kita lihat 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2 Daftar Overhead Pabrik yang Aktual PDAM Kab. Maros Tahun 2010

1 2 3 4 5

Biaya Pegawai Biaya Bunga Biaya Penyusutan Aktiva Tetap Biaya Penyisihan Piutang Baiya Lain-lain Jumlah

Rp2.264.606.653 Rp1.721.732.957 Rp132.362.446 Rp200.135.800 Rp1.560.910.510 Rp5.879.748.365

Sumber: PDAM Kab. Maros, data telah diolah

87

F. Perhitungan Harga Pokok Produksi Perusahaan

88

PDAM KAB. MAROS HPP (Harga Pokok Produksi) Tahun 2010 Biaya Usaha (B. Langsung) 1 Biaya listrik 2 Biaya Bahan Bakar 3 Biaya Penyusutan 4 Biaya Pegawai 5 Biaya Pemeliharaan 6 Biaya Bahan Kimia 7 Biaya Lain-lain Jumlah Rp1.221.421.160 Rp174.333.984 Rp1.545.025.738 Rp1.234.794.616 Rp206.303.780 Rp539.932.250 Rp104.706.690 Rp5.026.518.218

Biaya Umum dan Admnistrasi (B. Tdk Langsung) 1 Biaya Pegawai Rp2.264.606.653 2 Biaya Bunga Rp1.721.732.957 3 Biaya Penyusutan Aktiva Tetap Rp132.362.446 4 Biaya Penyisihan Piutang Rp200.135.800 5 Baiya Lain-lain Rp1.560.910.510 Jumlah Rp5.879.748.365 Rp10.906.266.583 Jumlah Biaya Harga Pokok Air Jumlah = Jumlah Produksi- Kebocoran Rp10.906.266.583 = Rp 2.965/M3 Rp3.678.646

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Penerapan Activity-Based Costing System dalam Biaya Produksi. PDAM Kab. Maros dalam proses produksinya telah mengklasifikasikan biaya menjadi 3 bagian. Namun sampai saat ini produk yang di produksi hanya air bersih untuk masyarakat Maros dan sekitarnya. 1. Biaya Bahan Baku (Material Cost)

89

Bahan baku merupakan unsur penting yang digunakan dalam proses produksi yang diubah menjadi produk jadi dengan tambahan biaya overhead dan tenaga kerja. Biaya bahan yang terdapat pada PDAM Kab. Maros terdiri dari : Bahan baku kimia (Tawas dan Kaporit dan lain-lainnya) 2. Biaya Tenaga Kerja (Labour Cost) Biaya tenaga kerja terdiri dari 2 jenis biaya yaitu: a. Biaya tenaga kerja langsung (direct labour) yaitu semua biaya tenaga kerja yang secara langsung berkaitan dengan produksi barang jadi, yang dapat dengan mudah ditelusuri ke produknya. b. Biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labour) yaitu semua biaya tenaga kerja yang terlibat dalam memproduksi suatu produk yang bukan merupakan tenaga kerja langsung. 3. Biaya Overhead Pabrik (Factory Overhead Cost) Biaya overhead pabrik yaitu semua biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi suatu produk selain biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung. B. Mengidentifikasi Aktifitas Berikut ini beberapa aktivitas yang berhubungan dengan proses produksi yang dilakukan oleh PDAM Kab. Maros adalah sebagai berikut :
Aktivitas Penanganan Bahan Pengolahan Transmisi dan Distribusi Pemeliharaan Pengembangan Produk Cost Driver Jam mesin, Volume, & jumlah pegawai Jam mesin & Jumlah pegawai Volume & Jumlah Pegawai Jumlah Pemeliharaan Jumlamlah pengembangan Produk

C. Mengidentifikasi Biaya Langsung

90

PDAM Kab. Maros memiliki biaya langsung yang dianggarkan sebagai berikut : 1. Biaya Bahan dianggarakan 2. Biaya Tenaga Kerja dianggarkan 3. Biaya Pemeliharan dianggarkan 4. Biaya Bahan Kimia dianggarkan 5. Biaya Lain-lain dianggarkan Berikut ini jumlah biaya langsung dianggarakan yang terdapat pada PDAM Kab. Maros dapat dilihat pada table 5.1 berikut ini. Tabel 5.1 Biaya Langsung PDAM Kab. Maros Tahun 2010

D. Mengidentifikasi

Biaya Tidak

Langsung

(Biaya Overhead)

yang

Berhubungan dengan Aktivitas. Biaya overhead yang terdapat pada PDAM Kab. Dapat dilihat pada table 5.2 berikut ini : Tabel 5.2 Daftar Biaya Overhead Pabrik yang Dianggarkan PDAM Kab. Maros Tahun 2010

91

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Jenis Biaya Biaya Bahan Bakar di operasi sumber Rupa-rupa by operasi sumber Biaya Listrik di operasi sumber Biaya Sewa Reservoar di pengelohan Rupa-rupa by operasi pengelohan Biaya bahan dan pelrengkapan di distribusi Rupa-rupa by operasi transdist Biaya Pemeliharaan Sumber Biaya Pemeliharaan Pengolahan Biaya Pemeliharaan Transdist Biaya Penyusutan TransDist Biaya Penyusutan Sumber Biaya Penyusutan Pengelohan Biaya Penelitian Dan Pengembagan Produk Total Biaya Overhead

Biaya Cost Driver 174.333.984 Aktivitas Penanganan Bahan 1.588.500 Aktivitas Penanganan Bahan 1.221.421.160 Aktivitas Penanganan Bahan 89.512.500 aktivitas pengolahan 1.263.500 aktivitas pengolahan 2.368.500 Aktivitas Trans & Dist 315.200 Aktivitas Trans & Dist 154.296.090 Aktivitas Pemeliharaan 11.152.500 Aktivitas Pemeliharaan 50.513.680 Aktivitas Pemeliharaan 806.416.692 Aktivitas Pemeliharaan 273.922.509 Aktivitas Pemeliharaan 464.686.537 Aktivitas Pemeliharaan 9.500.000 Aktivitas Pengembagan Produk 3.128.807.517

E. Mengengedentifikasi Cost Driver Cost driver merupakan suatu tolak ukur dari frekuensi dan intensitas dari permintaan yang ditempatkan pada aktivitas oleh objek biaya (cost object). Cost driver dari tiap aktivitas yang terdapat pada PDAM Kab. Maros dapat kita lihat pada table 5.4 berikut ini. Tabel 5.4 Daftar Aktivitas Cost Driver Tiap Aktivitas PDAM Tahun 2011
Aktivitas Penanganan Bahan Pengolahan Transmisi dan Distribusi Pemeliharaan Jumlah Jam Mesin Volume Jumlah Pegawai (jam) (M3) (orang) 8.760 2.110.518 26 8.760 12 1.987.276 12 17.520 4.097.794 50

F. Menentukan Tarif per unit Cost Driver

92

Setelah mengidentifikasi cist driver kemudian menentukan tariff per unit cost driver. Karena setiap aktivitasnya memiliki cost driver dengan cara membagi jumlah biaya dengan cost driver. Menurut Hansen and Mowen (1999;134) terif per unit cost driver dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut: Tabel 5.4 Daftar Aktivitas dan cost driver tiap Aktivitas PDAM Kab. Maros Tahun 2010

No 1 2 3 4 5

Aktivitas Penanganan Bahan Pengolahan Transmisi dan Distribusi Pemeliharaan Pengembangan Produk

Cost Driver Jam mesin, Volume & jumlah pegawai Jam mesin & Jumlah pegawai Volume & Jumlah Pegawai Jumlah Pemeliharaan Jumlah pengembangan Produk

G. Mengalokasikan Biaya Overhead ke Aktivitas Setelah mentukan cost driver selanjutnya biaya overhead dialokasikan ke aktivitas agar di dapatkan biaya setiap aktivitas. Tabel 5.5 melihat alokasi biaya overhead ke aktivitas . Tabel 5.5 Alokasi Biaya Overhead ke Aktivitas PDAM Kab. Maros Tahun 2010

93

Aktivitas Aktivitas Penanganan Bahan aktivitas pengolahan Aktivitas Trans & Dist Aktivitas Pemeliharaan Aktivitas Pengembagan Produk Total

Biaya (Rp) 701.325.157 655.770.070 1.224.281 1.760.988.008 9.500.000 3.128.807.517

H. Mengelompokkan aktivitas ke pusat biaya yang homogen. Agar dapat masuk ke dalam suatu kelompok biaya yang homogen aktivitas-aktivitas overhead harus berhubungan secara logis dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk. Rasio konsumsi dihitung dengan cara membagi jumlah suatu aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk dengan jumlah seluruh aktivitas. Tabel 5.5
Pengelompokkan Aktivitas ke pusat Biaya yang Homogen Kelompok Biaya AKTIVITAS I. Unit Level Activities Pengolahan Trans & Dist Total II. Batch Level Activities Penanganan Bahan III. Product Level Activities Pengembangan Produk IV. Facility Level Activities Pemeliharaan

Biaya (Rp) 655.770.070 1.224.281 656.994.351 701.325.157 9.500.000 1.760.988.008

I. Menentukan Tarif Biaya Overhead Menentukan tarif biaya overhead untuk masing- masing cost pool dengan membagi aktivitas homogen sama pemicu biaya cost driver untuk semua produk. Berikut ini tabel 5.6 menunjukkan perhitungan tarif biaya overhead. Tabel 5.6

94

Kelompok Biaya I. Unit Level Activities II. Batch Level Activities III. Product Level Activities IV. Facility Level Activities

Tarif Biaya Overhead B. Overhead Pabrik Cost Driver Tarif (Rp) 656.994.351 8760 Jam 74.999 701.325.157 48 Kali 14.610.941 9.500.000 1 Jenis 9.500.000 1.760.988.008 2.110.518 M3 834

J. Mengelokasikan biaya overhead ke pabrik ke harga pokok produk berdasarkan ABC. Tabel 5.7

Alokasi Biaya Overhead Pabrik Ke Produk Data Produk 8670 jam x Rp. 74.999 650.244.409 48 kali x 14.610.941 701.325.157 1 jenis x Rp. 9.500.000 9.500.000 2.110.518 M3 x Rp. 834 1.760.988.008 Total Biaya Overhead 3.128.807.517 Unit Produksi 2.110.518 Biaya Overhead Per Unit 1.482

Harga Pokok Produksi Per M3 Menurut Sistem ABC Produk By Bahan By T.K.L BOP HPP I 539.932.250 1.234.794.616 3.128.807.517 4.903.534.383 Produk I Biaya Produksi Per M3 By Bahan By T.K.L BOP 256 585 1.482

HPP Per M3 2.323

95

BAB VI

96

PENUTUP 5.1 Kesimpulan Pada bab ini akan dijelaskan tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan penulis, dengan tujuan untuk menentukan analisis biaya produksi pada PDAM Kab. Maros dengan menggunakan metode yang berbasis aktivitas (Activity Based- Costing). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh penulis di PDAM Kab. Maros, maka dapat diambil kesimpulan sbb: 1. PDAM Kab. Maros, selama ini mengalami penyimpangan biaya produksi pada sistem akuntansi biaya tradisional dengan Activity Based- Costing. Hal ini disebabkan karena sistem Activity Based- Costing menggunakan banyak pemicu biaya (cost driver) dalam pembebanan biaya tidak langsung sedangkan pada sistem akuntansi tradisional hanya didasarkan pada volume produksi saja sehingga menyebabkan terjadinya distorsi biaya produksi. Hal ini disebabkan karena hanya menggunakan satu dasar alokasi biaya yaitu berdasarkan volume produksi. 2. Hasil perhitungan biaya produksi PDAM Kab. Maros menunjukkan selisih antara perhitungan biaya produksi dengan sistem Activity Based- Costing dan sistem akuntansi tradisonal adalah sebagai berikut: Hasil perhitungan biaya tradisonal :

97

3.

Dalam pelaporan biaya produksi terjadi distorsi dimana biaya produksi untuk air dilaporkan dengan pembebanan biaya lebih besar dari yang sebenarnya (vercosted) sedangkan untuk

4.

Selama ini PDAM Kab. Maros dalam menghitung biaya produski masih menggunakan sistem akuntansi tradisional dengan menggunakan volume produksi sebagai dasar alokasi. Unsur-unsur yang membentuk biaya produksi terdiri dari biaya tidak langsung. Akibatnya informasi biaya produksi yang hasilkan mengalami distorsi. Penerapan Activity-Based Costing untuk menghitung biaya produksi pada PDAM Kab. Maros dapat memberikan informasi yang lebih akurat sehingga Activity-Based Costing ini dapat meyakinkan pihak manajemen bahwa mereka harus mengabil sejumlah langkah untuk menjadi yang lebih kompetetif.

5.2. Saran Dari kesimpulan di atas, terdapat bebrapa saran yang diberikan penulis kepada pihak perusahaan, yaitu: 1. Ada baiknya perusahaan mempertimbangkan penerapan sistem ActivityBased Costing dalam menghitung biaya produksi mengingat persaingan pasar bebas sangat menuntut agar perusahaan bisa beroperasi secara efisien dan efektif. Informasi yang lebih akurat yang hasilkan site mini, akan membantu manajemen untuk mengidentifikasi dan menganalisis kegiatan-kegiatan dan sumber daya yang dikonsumsi. 2. Produksi adalah suatu proses atau kegiatan menghailkan suaut produk di mana kegiatan tersebut adalah kegiatan mengolah atau mendayahganukan

98

bahan baku menjadi barang jadi yang dapat dimanfaatkan untuk selanjutnya didistribukan kepada konsumen sesuai kebutuhan melalui distributor menurut pembagian wilayah yang ada hal ini dapat berdampak pada perkembangan usaha dari perushaan dalam menghadapi persaingan baik di dalam maupun di luar negeri. 3. Untuk menerapkan Activity-Based Costing dalam perhitungan biaya produksi maka, sebaiknya perusahaan terlebih dahulu memperhatikan biaya-biaya yang akan di keluarkan, disamping itu perusahaan juga perlu memperhatikan manfaat yang akan diperoleh. Perusahaan juga harus memperhatikan manfaat jangka panjang yang akan diperoleh dengan penerapan sistem ini. Oleh karena itu dengan menganalissis biaya maka manajemen dapat melakukan analisis yang akurat mengenai volume yang diperlukan untuk mencapai impas (break even).

99

100