Anda di halaman 1dari 9

EPIDEMIOLOGI MALARIA

Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit kecil yang disebut protozoa dari genus plasmodium dengan gejala-gejala seperti anemia,demam berkala, dan limpa membesar. Penyakit ini dapat bersifat akut, laten atau kronis.Malaria merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian global. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering menimbulkan KLB, berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi, serta dapat mengakibatkan kematian.

A. PREVALENSI MALARIA Malaria merupakan penyakit infeksi parasit yang utama di dunia. Setiap tahun terjadi 300 500 juta kasus yang menyebabkan 2 juta kematian (1 dalam 30 detik) dan lebih dari 90% penderita adalah anak balita.

Di indonesia sendiri berdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 prevalensi malaria secara nasional adalah sebesar 2,85 %. Dengan kata lain dari 100.000 penduduk terdapat sekitar 2850 orang yang menderita malaria. Pada tahun 2007, diperkirakan prevalensi malaria sebesar 850 per 100.000 penduduk dan angka kematian spesifik akibat malaria sebesar 11 per 100.000 untuk laki-laki dan 8 per 100.000 untuk perempuan. Walaupun terjadi penurunan prevalensi, malaria tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena prevalensinya masih cukup besar.

B. KONSEP TRIAS EPIDEMIOLOGI 1. Factor Host Umur berkaitan dengan perbedaan derajat kekebalan karena variasi keterpaparan kepada gigitan nyamuk. Bayi di daerah endemic mendapat perlindungan antibody maternal secara transplasental. Jenis kelamin. Sama halnya dengan factor umur, jenis kelamin juga berkaitan dengan perbedaan derajat kekebalan karena variasi keterpaparan kepada gigitan nyamuk. Beberapa penelitian menunjukan bahwa perempuan mempunyai respons imun yang lebih kuat dibandingkan laki-laki, namun kehamilan menambah resiko malaria. Status gizi. Sebenarnya status gizi tidak menambah kerentanan terhadap malaria. Ada beberapa studi yang menunjukan bahwa anak yang bergizi baik justru lebih sering mendapat kejang dan malaria dibandingkan dengan anak yang bergizi buruk. Akan tetapi anak yang bergizi baik dapat mengatasi malaria berat dengan lebih cepat dibandingkan anak yang bergizi buruk. 2. Factor Agent Malaria disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus plasmodium, familia flasmodidae, dan dari Orde Coccidiidae. Penyebab malaria di indonesia sampai saat ini ada empat macam plasmodium, yaitu : P. vivax P. malariae P. ovale malaria vivaks/ malaria tertiana/ malaria tertiana benigna malaria malariae/malaria kuartana

malaria ovale/malaria tertian malaria falsiparum/malaria tertiana maligna/malaria tropika/malaria

P. falciparum

subtertiana/malaria pernisiosa Seorang penderita dapat ditulari oleh lebih dari satu jenis plasmodium, biasanya infeksi ini disebut infeksi campuran (mixed infection). Tapi umumnya paling banyak hanya dua jenis parasit, yaitu campuran antara plasmodium falcifarum dengan plasmodium vivax atau plasmodium malariae, campuran tiga jenis plasmodium jarang sekali terjadi.

3. Factor Lingkungan Lingkungan Biologi Tumbuhan air Lumut, bakau, ganggang, dan berbagai tumbuhan air lain dapat

meningkatkan populasi nyamuk karena dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi larva dari serangan makhluk hidup lainnya. Vektor Malaria pada manusia hanya dapat ditularkan oleh nyamuk anopheles betina. Di Indonesia telah ditemukan 24 spesies anopheles yang menjadi vektor malaria. Anopheles jarang ditemukan pada ketinggian lebih dari 2000-2500 m. Sebagian besar nyamuk anopheles ditemukan di dataran rendah. Jarak terbang nyamuk anopheles terbatas, biasanya tidak lebih dari 2-3 km dari tempat perindukannya. Bila ada angin yang kuat nyamuk anopheles bias terbawa sampai 30 km. Nyamuk anopheles bisa terbawa pesawat terbang atau kapal laut dan menyebarkan malaria ke daerah yang non-endemik. Dalam kehidupan nyamuk ada tiga macam tempat yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Hubungan ketiga tempat tersebut dapat dilukiskan dengan bagan sebagai berikut:

Lingkungan Fisik Geografis Karena nyamuk Anopheles jarang ditemukan pada ketinggian lebih dari 2000-

2500 m. Sebagian besar nyamuk anopheles ditemukan di dataran rendah maka penularan malaria lebih cepat di dataran rendah. Kecepatan dan arah angin Kecepatan dan arah angin dapat mempengaruhi jarak terbang nyamuk dan ikut menentukan jumlah kontak nyamuk dengan manusia.

Suhu 30C.

Suhu optimum untuk perkembangan parasit dalam tubuh nyamuk berkisar antara 20-

Kelembapan Kelembapan yang rendah memperpendek umur nyamuk. Sedangkan pada kelembapan yang lebih tinggi, nyamuk menjadi lebih sering menggigit sehingga meningkatkan penularan malaria. Air Arus air yang deras lebih disukai oleh nyamuk An.minimus, sedangkan air tergenang lebih disukai oleh nyamuk An.letifer.

Lingkungan Sosial-Budaya Kebiasaan kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari akan memudahkan nyamuk

untuk menggigit sehingga dapat meningkatkan penularan malaria. Pengetahuan Orang yang memiliki pengetahuan tinggi tentang malaria dan kesehatan dapat

melakukan pencegahan yang dimulai dari diri sendiri. Sehingga hal ini dapat meminimalisir angka kejadian malaria. Berbagai kegiatan manusia seperti pembuatan bendungan, pembuatan jalan, pertambangan dan pemukiman baru/transmigrasi sering mengakibatkan perubahan lingkungan yang menguntungkan penularan malaria (man-made malaria).

C. RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT Perjalanan penyakit malaria terdiri dari serangan demam yang disertai oleh periode bebas penyakit. Gejala khas demamnya adalah periodisitasnya. a) Masa Tunas Intrinsik Masa tunas intrinsic pada mlaria adalah waktu antara sporozoit masuk dalam badan hospes sampai timbulnya gejala demam, biasanya berlangsung antara 8-37 hari, tergantung spesies parasit, beratnya infeksi, pengobatan sebelumya, atau pada derajat imunitas hospes. Masa prepaten berlangsung sejak saat infeksi sampai ditemukan parasit dalam darah untuk pertama kali, karena jumlah parasit telah melewati ambang mikroskopik. Masa tunas intrinsic parasit malaria yang paling singkat adalah P.falciparum dan yang paling panjang adalah P.malariae.

b) Fase Klinis Pada fase ini, terlihat gejala klinis sebagai berikut: Badan terasa lemas dan pucat karena kekurangan darah dan berkeringat. Nafsu makan menurun. Mual-mual kadang-kadang diikuti muntah. Sakit kepala yang berat, terus menerus, khususnya pada infeksi dengan plasmodium Falciparum. Dalam keadaan menahun (kronis) gejala diatas, disertai pembesaran limpa. Malaria berat, seperti gejala diatas disertai kejang-kejang dan penurunan. Pada anak, makin muda usia makin tidak jelas gejala klinisnya tetapi yang menonjol adalah mencret (diare) dan pusat karena kekurangan darah (anemia) serta adanya riwayat kunjungan ke atau berasal dari daerah malaria. Gejala klasik malaria merupakan suatu paroksisme biasanya terdiri atas 3 stadium yang berurutan yaitu : 1. Stadium dingin (cold stage). Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan yang sangat dingin. Gigi gemeretak dan penderita biasanya menutup tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut yang tersedia nadi cepat tetapi lemah. Bibir dan jari jemarinya pucat kebiru-biruan, kulit kering dan pucat. Penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam. 2. Stadium demam (Hot stage). Setelah merasa kedinginan, pada stadium ini penderita merasa kepanasan. Muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala menjadi-jadi dan muntah kerap terjadi, nadi menjadi kuat lagi. Suhu badan dapat meningkat sampai 41C atau lebih. Stadium ini berlangsung selama 2-6 jam. Pada malaria vivaks dan ovale periodisitas demamnya bersifat tersian (setiap 48 jam), dan pada malaria kuartana yang disebabkan oleh P.malariae demamnya terjadi dengan interval 72 jam. 3. Stadium berkeringat (sweating stage). Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampai-sampai tempat tidurnya basah. Suhu badan meningkat dengan cepat, kadang-kadang sampai dibawah suhu

normal. Penderita biasanya dapat tidur nyenyak. Pada saat bangun dari tidur merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain, stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam. Serangan demam yang khas ini sering dimulai pada siang hari dan berlangsung 8-12 jam. Setelah itu terjadi stadium apireksia. Gejala infeksi yang timbul kembali setelah serangan yang pertama disebut relaps. Relaps dapat bersifat: Rekrudesensi (relaps jangka pendek) yang timbul karena parasit dalam darah menjadi banyak. Demam timbul lagi dalam waktu 8 minggu sesudah serangan pertama hilang Rekurens (relaps jangka panjang) yang timbul karena parasit daur eksoeritrosit dari hati masuk ke dalam darah dan menjadi banyak, sehingga demam timbul lagi dalam waktu 24 minggu atau lebih setelah serangan pertama hilang. c) Periode Laten Klinis Bila infeksi malaria tidak menunjukkan gejala di antara serangan pertama dan relaps, maka keadaan ini disebut periode laten klinis, walaupun mungkin ada parasitemia dan gejala lain seperti splenomegali. Periode laten parasit terjadi bila parasit tidak dapat ditemukan dalam darah tepi, tetapi stadium eksoeritrosit masih bertahan dalam jaringan hati. Serangan demam makin lama makin berkurang beratnya karena tubuh menyesuaikan diri dengan adanya parasit dalam badan dank arena adanya respon imun hospes.

D. ETIOLOGI MALARIA Parasit malaria termasuk genus Plasmodium. Pada manusia terdapat 4 spesies: Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Berikut adalah karakteristik masing-masing plasmodium: P. falcifarum siklus eksoertitrositik primer (hari siklus aseksual dalam darah (jam) masa prepaten (hari) masa inkubasi (hari) keluarnya gametosit 6-25 7-27 8-15 8-27 13-17 5 12-20 14 5 18-59 23-69 5-23 48 48 50 72 5-7 8 9 14-15 P. vivax P. Ovale P. Malarine

(hari) jumlah merozoit per sizon jaringan siklus sporogoni dalam nyamuk (hari) 9-22 8-16 12-14 16-35 3-40.000 10.000 15.000 15.000

Siklus Hidup Plasmodium

E. UPAYA PENCEGAHAN MALARIA Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi malaria, yaitu : Pencegahan terhadap parasit yaitu dengan pengobatan profilaksis Pencegahan terhadap vector/gigitan nyamuk

a. Menghindari atau mengurangi gigitan nyamuk malaria, dengan cara tidur menggunakan kelambu, pada malam hari tidak berada di luar rumah, mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk, memakai obat nyamuk bakar, memasang kawat kasa pada jendela dan menjauhkan kandang ternak dari rumah. b. Membersihkan tempat sarang nyamuk dengan cara membersihkan semak-semak

disekitar rumah dan meliputi kain-kain yang bergantungan dan mengusahakan didalam rumah tidak terdapat tempat-tempat yang gelap, mengalirkan genangan-genangan air serta menimbun genangan-genangan air. c. Membunuh nyamuk dewasa (dengan penyemprotan insektisida) d. Membunuh larva nyamuk anopheles. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membunuh larva nyamuk anopheles: Secara Kimiawi. Pemberantasan nyamuk anopheles secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan larvasida yaitu zat kimia yang dapat membunuh larva nyamuk, yang termasuk dalam kelompok ini adalah solar/minyak tanah, parisgreen, temephos, fention, altosid dll. Selain zat-zat kimia yang disebutkan di atas dapat juga digunakan herbisida yaitu zat kimia yang mematikan tumbuhtumbuhan air yang digunakan sebagai tempat berlindung larva nyamuk. Secara Hayati. Pemberantasan larva nyamuk anopheles secara hayati dilakukan dengan mengunakan beberapa agent biologis seperti predator misalnya pemakan jentik (clarviyorous fish) seperti gambusia, guppy dan panchax (ikan kepala timah).

F. UPAYA PEMBERANTASAN MALARIA Pemberantasan dilakukan dengan mematahkan mata rantai daur hidup parasit, yaitu dengan memusnahkan parasitnya dalam badan manusia dengan pengobatan atau memusnahkan nyamuk vektornya dengan berbagai cara. Sebaiknya pemberantasan dilakukan dengan kedua cara serentak, yaitu mengobati pengandung parasit dan menghilangkan tempat perindukan vector atau membunuh vector dengan berbagai insektisida. Dalam pemberantasan malaria dapat dibedakan pemberantasan (control) dan pembasmian (eradication). Di Indonesia pada taraf sekarang dilakukan pemberantasan saja.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Dit Jen PPM PLP. Buku Malaria No:3 Pengobatan. Jakarta, Departemen Kesehatan RI.
http://www.batan.go.id/ptkmr/Alara/BulAlara%20Vol%208_3%20April%202007/BAlara2007_08304_15 1.pdf diakses pada tanggal 25 April 2010 pukul 13.05 WIB
http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Mikrobiologi/plasmodium-p.pdf diakses pada

tanggal 25 April 2010 pukul 13.50 WIB http://www.isfinational.or.id/pt-isfi-penerbitan/124/443-apakah-malaria-itu-.pdf diakses pada tanggal 25 April 2010 pukul 13.00 WIB

Staf Pengajar Bagian Parasitologi FKUI Jakarta. Parasitologi Kedokteran, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2006. Tambayong. Penanganan Malaria secara Terpadu. Fakultas Kedokteran Sam Ratulagi. Percetakan Offset Wenang dan Toko Lima, Manado. Widoyo. Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan Pemberantasan Penyakit Tropis. Erlangga. Jakarta 2008.
www.undp.or.id/pubs/imdg2005/BI/TUJUAN%206.pdf www.pdfqueen.com/pdf/pr/proporsi-prevalensi-malaria