Anda di halaman 1dari 6

TUGAS ETIKA BISNIS

IMPLEMENTASI TANGGUNG JAWAB BISNIS TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP

DISUSUN OLEH YEHUDA PRANATA PURBA 11084731

FAKULTAS BISNIS PROGRAM STUDI MANAJEMEN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA 2011

PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk yang paling berpengaruh di muka bumi ini selain kekuatan alam. Manusia sejak dulunya hidup berpengaruh dan dipengaruhi keadaan alam dan lingkungan di sekitarnya. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia memerlukan sumberdaya alam, yang berupa tanah, air dan udara dan sumberdaya alam yang lain yang termasuk ke dalam sumberdaya alam yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. Namun demikian harus disadari bahwa sumberdaya alam yang kita perlukan mempunyai keterbatasan di dalam banyak hal, yaitu keterbatasan tentang ketersediaan menurut kuantitas dan kualitasnya. Oleh karena itu secara tidak langsung, alam pun memerlukan manusia untuk merawatnya sehingga dapat memenuhi keterbatasan tersebut. Antara lingkungan dan manusia saling mempunyai kaitan yang erat. Ada kalanya manusia sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya, sehingga aktivitasnya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya. Banyak pencemaran lingkungan yang terjadi di negara kita. Kita sering melihat orangorang yang membuang sampah sembarangan, penebangan pohon secara liar yang sering terjadi di hutan-hutan Indonesia, polusi udara akibat kendaraan bermotor dan industri, pembuangan limbah yang tidak memenuhi syarat dilakukan oleh industri-industri, dan berbagai pengrusakan lingkungan lainnya. Contoh sederhana yang sering kita temui seharihari adalah polusi, jika polusi memang merugikan lingkungan, salah satu tindakan yang logis adalah melarang semua kegiatan yang mengakibatkan polusi. Dalam konteks lain kita kadang-kadang mengikuti kebijakan seradikal itu. Tetapi mengenai lingkungan hidup sulit untuk memilih solusi yang tidak mengenal kompormis ini, karena seperti yang sudah dikatakan di atas bahwa kita sebagai manusia harus memenuhi kebutuhan hidup, yang mau tidak mau akan memberatkan lingkungan. Tetapi juga kegiatan yang sebenarnya bukan untuk pemenuhan kebutuhan hidup tidak dapat dilarang begitu saja. Pemakaian kendaraan bermotor pribadi adalah contoh nyata yang paling kita ketahui. Pemakaian kendaraan bermotor memang mencemari lingkungan hidup dan rasanya memiliki kendaraan pribadi tidaklah perlu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seandainya dilarang, kita akan merasa hak kita dilanggar di luar batas. Walaupun tidak mutlak perlu, kendaraan pribadi adalah fasilitas yang amat menyamankan kehidupan kita. Sistem transportasi umum tidak akan sanggup mengimbangi fasilitas pribadi tersebut. Karena itu tanggung jawab moral kita untuk melindungi lingkungan harus dipertimbangkan terhadap faktor-faktor lain, khususnya kegiatan-kegiatan ekonomis kita.

PEMBAHASAN
Pihak yang Harus Membayar dalam konteks bisnis, setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus ditanggung, termasuk konsekuensi finansial dalam hal lingkungan. Ada dua skenario yang berhubungan dengan pihak yang berkewajiban membayar konsekuensi finansial tersebut, yaitu pihak yang mencemari ataupun pihak yang menikmati lingkungan bersih. Pada skenario pertama, pihak yang mengakibatkan pencemaran harus menanggung biaya untuk membersihkan lingkungan tersebut, khususnya pihak yang mengakibatkan banyak polusi dan kerusakan, karena mereka juga mendapat banyak untung dari kegiatan produksi yang merusak tersebut. Jika saja para pihak tersebut tidak memikul beban finansial tersebut, mereka akan mengambil keuntungan dan membebankan konsekuensi negatifnya kepada orang lain. hal ini tidak selalu mudah untuk diterapkan karena pada kenyataannya bahwa kerusakan lingkungan terutama disebabkan oleh kuantitas pembebanan lingkungan melampaui kesanggupan alam untuk membersihkan diri sehingga akhirnya mengakibatkan perubahan kualitas pada lingkungan alam itu sendiri. Manusia modern hidup dalam konglomerasi pemukiman yang besar dan produksi modern yang dilakukan dalam kawasan industri yang luas. Dalam keadaan itu tidak gampang untuk mengatakan siapa penyebab polusi atau siapa yang paling banyak menyebabkan polusi. Dalam kondisi manusia yang cukup kompleks tersebut, bisa kita dapati bahwa yang mencemari adalah kita semua dan yang harus membayar juga kita semua. Apalagi karena pencemaran lingkungan sudah terjadi sebelum zaman kita. Pihak-pihak yang dahulu tidak memelihara lingkungan, tidak mungkin lagi untuk diidentifikasi dan ditagih tanggung jawabnya. Skenario kedua menjelaskan bahwa siapa pun yang mendapat keuntungan dan menikmati lingkungan yang bersih harus menanggung juga biayanya. Dalam konteks ekonomis, hal ini masuk di akal karena jika kita ingin memperoleh manfaat tertentu, kita harus juga berusaha, dan tidak ada sesuatu pun yang dibagi dengan gratis. Yang menjadi hal sulit untuk dihadapi adalah bahwa lingkungan yang bersih tidak merupakan suatu masalah individual saja. Bisa saja kita membayar untuk menikmati lingkungan bersih namun tetangga kita tidak ikut membayar, dan hal tersebut kita pandang tidak adil.

Pembagian Beban Setelah kita sadar bahwa semua pihak ikut serta dalam mebiayai lingkungan berkualitas, maka berikutnya beban finansial dibagi secara fair dengan tiga cara:

Cara pertama adalah dengan membuat peraturan mengenai polusi dari industri dengan hukum sebagai kekuatan paksanya, dan bagi yang melanggar akan mendapat sanksi. Peraturan ini dapat dipandang cukup fair karena diterapkan dengan cara yang sama kepada semua industri. Tetapi terdapat juga kelemahan-kelemahan terhadap cara ini, yaitu bahwa pengawasan atas banyak industri berbeda yang ada membutuhkan teknologi tinggi serta personel berkualitas sehingga menjadi pengeluaran yang mahal dan cukup sulit dijalankan oleh negara berkembang. Cara kedua adalah dengan memberikan insentif kepada industri yang bersedia mengambil tindakan khusus untuk melindungi lingkungan. Kekuatan cara ini adalah bahwa peranan pemerintah dapat dikurangi dan inisiatif dari bisnis dapat dimajukan karena bisnis tidak dipaksakan seperti cara pertama. Salah satu kelemahan yang dapat ditemui dalam metode ini adalah bahwa inisiatif bisnis akan berjalan perlahan-lahan untuk memelihara lingkungan, padahal lebih banyak masalah lingkungan yang disebabkan oleh industri. Cara ketiga adalah dengan menerapkan mekanisme harga, yaitu dengan menetapkan tingkat harga tertentu yang harus dibayar perusahaan sesuai dengan kuantitas emisi dan tingkat pencemaran oleh pabriknya. Melalui cara ini, secara otomatis bisnis akan akan berusaha agar polusi yang diakibatkan oleh kegiatan ekonomisnya seminimal mungkin. Secara implisit, cara ini tetap mengizinkan polusi dan perusakan lingkungan dan dengan demikian hanya toleransi ekonomis dari masyarakat yang dipertimbangkan, bukan toleransi alam atau kemampuan alam untuk membersihkan diri.

Etika dan Hukum Lingkungan Hidup Apa yang berlakut tentang etika bisnis pada umumnya, berlaku juga mengenai masalah lingkungan hidup. Pebisnis belum tentu berlaku etis, bila ia berpegang pada semua peraturan hukum tentang lingkungan hidup. Perusakan lingkungan hidup hingga tidak dapat diperbaiki lagi selalu dianggap tidak etis, juga kalau tidak atau belum melanggar hukum. Kepatuhan pada norma etika tidak bisa dipaksakan, karena itu dibutuhkan peraturan hukum. Lingkungan hidup hanya bisa dilindungi dengan baik, jika tercipta peraturan hukum yang efektif dan lengkap demi tujuan itu. Jika sudah ada sistem peraturan lingkungan yang baik, masalah yang masih tinggal adalah pelaksanaan. Karena segi teknisnyas sering kali sangat kompleks dan amat sulit. Karena itu setelah terbentur sistem peraturan yang lingkungan yang baik, tetap diperlukan kemauan moral dari dunia bisnis untuk mewujudkan tujuannya. Peraturan nasional belum cukup karena polusi yang disebabkan industri tidak berhenti pada perbatasan negara, sehingga pada taraf internasional dilakukan kontrol melalui Agenda 21 dari konfrensi PBB tentang lingkungan dan pembangunan di Rio de Janerio pada tahun 1992, dan banyak negara-negara yang menyetujuinya.

KESIMPULAN
Jika dilihat dari konsekuensi yang harus dibayar dan pihak yang harus bertanggung jawab, kita semua tergolong di dalamnya sebagai penanggung jawab karena kita semua juga menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Oleh karena itu, kerugian tidak boleh dibebankan pada orang lain saja dan bagi mereka yang mengakibatkan kerugian harus bertanggung jawab juga. Lingkungan yang bersih menjadi tanggung jawab kita semua, tapi terutama dari mereka yang mengakibatkan polusi. Pada skala global, hal itu membawa konsekuensi bahwa negaranegara industri maju harus memberikan kontribusi paling besar dalam membiayai lingkungan hidup yang bersih dan sehat, karena mereka pun mengakibatkan paling banyak pencemaran. Agar besar kecilnya konsekuensi yang ditanggung oleh pihak yang melakukan perusakan lingkungan dipandang adil dan etis, maka sudah terdapat tida metode untuk membaginya. Dari tiga metode untuk membagi biaya perusakan lingkungan, tidak satu pun yang seratus persen memuaskan. Semua metode ini berguna, tetapi mempunyai kelemahan masing-masing. Karena itu ketiga-tiganya harus dipakai sekaligus, khususnya metode pertama dan ketiga. Pengaturan tentang lingkungan memang sangat penting. Misalnya, harus ada peraturan yang mengawasi setiap proyek pembangunan yang penting. Sudah sedari perencanaan pertama, proyek pembangunan baru harus dipelajari bukan saja dari segi ekonomis, finansial, sosial, dan sebagainya, tetapi juga dari segi lingkungan hidup. Hal itu kini disebut analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). AMDAL itu harus diadakan menurut kriteria yang jelas dan harus dilaksanakan dengan tegas tanpa kompromis. Kasus yang relevan untuk disorot mengenai bagaimana AMDAL itu dilakukan adalah ketika PT Pertamina segera merelokasi pencemaran minyak mentah sebagai akibat kebocoran pipa minyak tanah yang mencemari lingkungan hidup rumah milik warga masyarakat di Panajam di Kota Tanjung Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, pada bulan Agustus tahun 2010 lalu. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel, lingkungan hidup sekitar lokasi bocornya pipa satu lobang berdiameter 5 cm mengalami pencemaran minyak mentah, hingga mengenai perumahan penduduk, tanaman hingga lainnya. Terdapat enam poin rekomendasi tegas yang diberikan oleh BLHD, yaitu: relokasi perbaikan rumah penduduk, membayar ganti rugi tanaman dan tumbuhan pepohonan yang rusak, ganti pipa yang sudah tidak layak digunakan, harus mengganti pipa tua, Paling penting lagi PT Pertamina harus kembali menyusun amdal baru, PT Pertamina wajib melakukan pembersihan minyak mentah yang sudah mencemari lingkungan sekitarnya. Tindakan PT Pertamina adalah bagian dari harga tanggung jawab yang harus dibayar.

PENUTUP
Dalam memelihara lingkungan tempat manusia hidup dan memenuhi kebutuhannya diperlukan banyak usaha bersama, baik itu dari pemerintah, masyarakat, bisnis, dan pihakpihak lainnya. Pemerintah telah mengeluarkan berbagai regulasi yang mengatur pemeliharaan pada lingkungan hidup. Namun, hukum saja tidaklah cukup tanpa dipimpin oleh kesadaran dan inisiatif dari berbagai pihak yang terlibat, serta banyak pertimbangan tentang etis atau tidaknya tindakan yang dilakukan terhadap lingkungan hidup. Karena semua pertimbangan ini, kita tidak mungkin berhasil dalam upaya melestarikan lingkungan hidup, jika bisnis tidak ikut menegakkan etika dan hukum di bidang ini. Khusus dari sudut etika, perlu ditekankan bahwa bisnis mempunyai tanggung jawab moral untuk tidak merusak lingkungan hidup. Jika bisnis memiliki tanggung jawab moral, dalam ari kewajiban positif untuk memajukan kepentingan lingkungan hidup, hal itu tidak berarti bahwa seluruh tanggung jawab harus dipikul oleh produsen saja, namun juga oleh konsumen. Dalam segala pertimbangannya, produsen harus menomorsatukan kepentingan lingkungan hidup dan keuntungan pada nomor dua. Konsumen pun harus sadar lingkungan dengan tidak memilih produk yang merusak lingkungan. Disamping segi bisnis, seperi yang telah dibahas bahwa semua pihak yang menikmati, apalagi yang terlibat dalam perusakan lingkungan harus ikut membayar tanggung jawab untuk memelihara lingkungan hidup dengan lebih memperhatikan etika disusul oleh hukum yang menuntun kita.