Anda di halaman 1dari 9

TUGAS PSIKOLOGI PENDIDIKAN

DIKLAT WIDYAISWARA 2012

PERTANYAAN 1 Jelaskan menurut pendapat Anda tentang pentingnya psikologi pendidikan bagi seorang Widyaiswara dalam mengelola proses belajar mengajar? Jawaban.
Definisi Psikologi Pendidikan Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia dengan tujuan untuk dapat memberi perlakuan yang lebih tepat. Barlow (1985) mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai suatu pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu melaksanakan fungsi dalam proses belajar mengajar secara lebih efektif. Secara garis besar, psikologi pendidikan berorientasi pada poses kegiatan orang-orang yang belajar dan mengajar termasuk pendekatan, strategi, hasil, metode belajar mengajar yang digunakan baik oleh pembelajar maupun pengajar. Widyaiswara sebagai tenaga kependidikan harus melakukan kegiatan sesuai dengan situasi dan kondisi peserta diklat sehingga proses belajar mengajarnya dapat mencapai hasil yang efektif sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam iklim pembelajaran yang kondusif. Oleh karena itu, untuk menciptakan iklim yang kondusif, para WI sebagai tenaga kependidikan harus memahami konsep dasar psikologi pendidikan agar dapat melakukan kegiatan diklat secara lebih proffesional sehingga hasil dari proses pendidikannya lebih efektif dan efisien. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan mutlak diperlukan oleh WI karena psikologi pendidikan dengan pendidikan memiliki hubungan yang erat seperti hubungan antara metode dengan pendidikan.

Manfaat WI terhadap Pemahaman Psikologi Pendidikan Beberapa manfaat yang dapat diperoleh seorang WI yang memahami psikologi pendidikan, antara lain: WI memahami proses perkembangannya sehingga WI dapat melakukan penyesuaian dengan tahap perkembangan ranah cipta atau akal WI sehingga mereka dapat lebih mudah mencerna dan memahami materi yang akan diadopsi. Dalam proses belajar mengajar, keberadaan tenaga kependidikan diperlukan terutama untuk membantu WI agar mau dan mampu belajar dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, seorang WI harus memahami cara dan tahapan belajar. Dalam PP 101 yaitu salah satu tenaga kediklatan yang tugas utamanya adalah mengajar, mendidik, dan melatih yakni segala kegiatan yang terkait dengan menyampaikan materi pelajaran, melatih ketrampilan, menanamkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut. Agar tujuan pengajaran ini dapat tercapai, WI diharapkan dapat memahami tentang seluk beluk mengajar secara individual maupun klasikal. Seorang WI adalah manager kelas, sehingga WI harus dapat merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pengajarannya termasuk membuat keputusan untuk mendinamisasi kelas agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan efisien dengan interaksi belajar mengajar yang lancar dan menyenangkan.

PERTANYAAN 2 Pendekatan yang digunakan dalam PBM antara lain; pendekatan behaviorisme, humanisme, dan kognitivisme. Kemukakan strategi Anda pada saat menentukan pendekatan tsb pada mata diklat yang akan Anda ambil nanti? Jawaban.
Belajar merupakan proses perubahan pada diri individu yang disebabkan oleh pengalaman. Perubahan yang dimaksud dalam definisi ini bukan pertumbuhan secara fisik ataupun perubahan sifat-sifat individu, tetapi perubahan yang lebih bersifat pola pikir, tingkah laku, attitude, dan pengetahuan. Tantangan yang harus dihadapi seorang WI yaitu menumbuhkan keinginan belajar dari peserta diklat, terutama peserta yang mengikuti diklat karena keterpaksaan atau tidak tumbuh dari hati nuraninya. Hal tersebut akan menjadi sebuah permasalahan jika seorang WI tidak memiliki strategi yang mumpuni dalam proses belajar mengajar (pbm). Setiap WI memiliki strategi dalam pbm yang berbeda-beda, tergantung dari pemahamannya terhadap teori-teori belajar yang berkembang saat ini. Dalam perkembangannya, peristiwa belajar dapat ditinjau dari perspektif yang berbeda-beda seperti yang dikemukakan di bawah ini: Pendekatan Behaviourisme Teori pembelajaran melalui pendekatan behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku atau tingkah laku individu (peserta diklat atau didik). Pendekatan ini mengabaikan aspek-aspek mental, dan hanya melihat individu dari sisi jasmani. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam belajar. Para behavioris cenderung memandang manusia sebagai organisme sebagai pemberi respons sehingga manusia dikategorikan sebagai makhluk yang mekanistik, tidak sebagai makhluk
4

otonom yang bebas menentukan nasibnya sendiri. Bahkan dalam behaviorisme radikal tidak memberi tempat kepada asumsi bahwa tingkah laku manusia dipengaruhi oleh pilihan dan kebebasan. Teori-teroi belajar pada pendekatan ini antara lain: 1. The Law of Effect dan Law of Exercise oleh E.L. Thorndike y The Law of Effect Teori ini menyatakan bahwa suatu tindakan yang diikuti oleh akibat yang menyenangkan akan cenderung diulang-ulang, sebaliknya kalau tindakan itu diikuti oleh akibat yang tidak menyenangkan maka tindakan itu cenderung kurang diulangi lagi. Implikasi dari teori ini adalah apabila mengharapkan agar peserta diklat mau mengulangi respon yang sama, maka peserta itu harus diusahakan agar merasa senang, misalnya dengan cara memberi hadiah atau pujian. Sebaliknya, apabila seorang WI menghendaki agar peserta diklat tidak mengulangi respon yang tidak baik, maka ia harus diberi sesuatu yang tidak menyenangkan, misalnya peserta diklat diberi hukuman. y Law of Exercise Teori ini menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon akan menjadi lebih kuat karena latihan. Hubungan antara stimulus dan respon itu menjadi lemah karena latihan tidak diteruskan atau dihentikan. Implikasi teori ini adalah makin sering suatu pelajaran diulang, maka pelajaran itu akan semakin dikuasai dengan baik. Apabila tidak pernah diulang-ulang maka pelajaran itu akan dilupakan. Penerapan teori ini oleh seorang WI yaitu WI harus tahu apa yang hendak diajarkan, respon apa yang diharapkan, dan kapan harus memberikan hadiah atau penguat. 2. Classical Conditioning oleh Ivan Pavlon Pada akhir tahun 1800-an sampai awal 1900-an, Pavlov dan teman-temannya (Slavin, 1994, dan Elliott, dkk, 2000) melakukan eksperimen terhadap anjing. Melalui anjing percobaannya Pavlov ingin membuktikan bahwa tanpa makanpun, yaitu hanya dengan bunyi bel saja dapat keluar air liur. Hal ini bisa terjadi jika makanan yang menyebabkan timbulnya air liur itu disajikan berkali-kali bersama-sama dengan bunyi bel yang tidak bisa mengeluarkan air liur itu.
5

Pavlov menamakan bunyi bel yang dapat mengeluarkan air liur itu sebagai rangsangan terkondisi, sedangkan makanan dinamakan rangsangan tak terkondisi. Akhirnya Pavlov menyimpulkan bahwa belajar atau pembentukan perilaku perlu dibantu dengan kondisi tertentu. Sanjaya menyatakan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu itu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu.

Pengkondisian itu dilakukan melalui pemberian pancingan dengan sesuatu yang dapat menimbulkan tingkah laku tertentu tersebut. Penerapan teori ini yaitu seorang WI memberikan kesempatan untuk peserta diklat melakukan microteaching. Dengan melakukan microteaching sesering mungkin, dapat melatih para peserta diklat agar lebih confidence. Pendekatan Humanisme Teori belajar humanistic mengemukakan bahwa belajar dipengaruhi dan diarahkan oleh arti pribadi dan perasaan-perasaan yang diperolah dari pengalaman belajar mereka. Walaupun teori ini secara jelas menunjukkan bahwa belajar dipengaruhi oleh bagaimana para peserta diklat berpikir dan bertindak, teori-teori tersebut juga dipengaruhi dan diarahkan oleh arti pribadi dan perasaan-perasaan yang mereka ambil dari pengalaman belajar mereka. Dari perspektif humanistic, seharusnya lebih responsive terhadap kebutuhan kasih saying peserta diklat. Kebutuhan afektif yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan emosi, perasaan, nilai, sikap, predisposisi, dan moral. Kebutuhan-kebutuhan ini diuraikan oleh Combs (1981) sebagai tujuan humanistic, yaitu: 1. Menerima kebutuhan-kebutuhan dan tujuan peserta diklat serta menciptakan pengalaman dan program untuk perkembangan keunikan potensi peserta diklat. 2. Memudahkan aktualisasi diri peserta diklat dan perasaan diri mampu. 3. Memperkuat perolehan keterampilan dasar (akademik, pribadi, antar pribadi, dan komunikasi). 4. Memutuskan pendidikan secara pribadi dan penerapannya. 5. Mengenal pentingnya perasaan manusia, nilai, dan persepsi dalam proses pendidikan. 6. Mengembangkan suasana belajar yang menantang dan bisa dimengerti, mendukung, menyenangkan, serta bebas dari ancaman.
6

7. Mengembangkan peserta diklat masalah ketulusan respek dan menghargai orang lain, dan terampil dalam menyelesaikan konflik. Pendekatan Kognitivisme Teori pembelajaran berdasarkan pendekatan kognitivisme berpendapat bahwa belajar adalah kemampuan individu menggunakan kapasitas mentalnya. Pandangan kognitif melihat belajar sebagai suatu proses yang aktif. Banyak ahli psikologi yang telah mempelajari terjadinya belajar dan menyarankan bagaimana seharusnya mengajar dilakukan. Jerome Bruner (1966), David Ausubel (1968), dan Robert Gagne (1985) telah menyampaikan tiga model pengajaran menurut teori kognitif. Strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar dapat mengadopsi ketiga model pengajaran tersebut. 1. Discovery Learning (Jerome Bruner) Penerapannya berdasarkan model pengajaran ini yaitu seorang WI harus menciptakan situasi, dimana peserta diklat dapat belajar sendiri daripada memberikan suatu paket berisikan informasi atau pelajaran kepada peserta diklat. Model pengajaran ini cocok digunakan pada diklat pim, dimana peserta yang mengikuti diklat tersebut seperti botol yang telah penuh terisi dengan air dan memiliki tingkat gengsi yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dalam pbm lebih banyak dengan berdiskusi dan sharing pendapat. 2. Reception Learning (David Ausubel) David Ausubel adalah satu-satunya orang yang mengkritik discovery learning. Dia mempersoalkan bahwa peserta diklat tidak selalu tahu apa yang penting atau relevan, dan banyak peserta diklat membutuhkan motivasi eksternal dalam melakukan tugas-tugas kognitif yang diperlukan untuk belajar apa yang diajarkan di lembaga diklat. Penerapan model pengajaran ini dalam pbm yaitu WI harus dapat menyusun situasi belajar, memilih materi-materi yang tepat untuk peserta diklat, dan kemudian menyampaiknnya dalam bentuk pengajaran yang terorganisasi dengan baik, mulai dari yang umum ke hal-hal yang lebih terperinci. Inti dari pendekatan Ausubel adalah pengajaran yang sistematis dengan penyampaian informasi yang bermakna.

3. Robert Gagne Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan proses dari yang sederhana ke hal yang kompleks. Oleh sebab itu proses belajar selalu bertahap mulai dari belajar melalui tanda, kemudian melalui rangsangan-reaksi, belajar berangkai, belajar secara verbal, belajar membedakan, belajar konsep, sampai kepada cara belajar prinsip dan belajar untuk pemecahan masalah. Model pengajaran ini dapat diterapkan dalam diklat prajabatan.

PERTANYAAN 3 Kepribadian seorang Widyaiswara akan berpengaruh kepada kesehatan mental di kelas. Kemukakan argumentasi Anda atas pernyataan tersebut?
Jawaban. Kepribadian merupakan istilah umum yang seringkali dibicarakan dalam keseharian kita. Seorang peserta diklat akan menyukai WI dengan kepribadian yang baik dan menyenangkan. Demikian pula dalam berbagai tingkat kepemimpinan, kepribadian merupakan faktor terpenting untuk menciptakan hubungan dan hasil kerja yang optimal. Secara umum, kepribadian berkembang dari interaksi karakteristik-karakteristik biologic individu dengan lingkungannya. Tidak berfungsinya organ-organ tubuh dan buruknya karakteristik fisiologik dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang. Perkembangan kepribadian sangat ditentukan oleh peran lingkungan, oleh karena itu perlu diupayakan lingkungan lembaga diklat, rumah, dan dan komunitas yang baik. Kesehatan mental merupakan suatu kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat, serta lingkungan, dan dapat menerima realita hidup. Kesanggupan untuk menyesuaikan diri itu akan membawa seseorang kepada kenikmatan hidup dan terhindar dari kecemasan, kegelisahan, dan ketidakpuasan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental di dalam kelas yaitu kepribadian seorang WI. Widyaiswara merupakan faktor utama yang mempengaruhi peserta diklatnya. Apabila mental WI tidak sehat, maka WI akan mengalami kesulitan mendapatkan suasana kelas yang sehat dan nyaman. Widyaiswara yang memiliki kesehatan mental yang baik, akan memiliki semangat yang menggelora dan kebahagian dalam hidup. WI tersebut akan memiliki konsep diri dan relasi yang baik dengan orang lain serta mempunyai pendekatan yang baik terhadap situasi hidup yang penuh tantangan.