Anda di halaman 1dari 16

BAB I Ringkasan Artikel

Pornografi dalam konteks masyarakat kontemporer tidak dapat dilepaskan dari perbincangan mengenai berbagai prinsip, konsep, pandangan dunia, makna dan nilai nilai yang berasal dari filsafat posmodernisme memberi bentuk kepada media dan pornografi tersebut. Khususnya bagaimana tubuh digunakan dalam wacana posmodernisme, sehingga ia berkembang ke arah yang melampaui batas batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu,dan agama. Selain perkembangan media itu dan penggunaan tubuh di dalamanya tidak bisa pula dilepaskan dari pengaruh perkembangan kapitalisme sebagai sebuah ideologi ekonomi ke arah apa yang disebut libidonomi, yaitu sistm ekonomi yang di dalamnya terjadi eksplorasi secara ekstrim segala potensi libido sebagai komoditi, dalam rangka mendapatkan keuntungan maksimal. Ideologi libidonomi kapitalisme menjadikan tubuh dan segala potensi libidonya sebagai titik sentral dalam produksi dan reproduksi ekonomi serta pembiakan kapital. Ada sebuah efek sinergis yang kuat antara kapitalisme sebagai sistem ekonomi politik dan posmodernisme sebagai sebuah sistem pemikiran, budaya yang di dalamnya tubuh ( kesempurnaan, kecantikannya, gairahnya) menjadi sebuah elemen yang sentral dan raison detre dalam produksi benda benda komoditi. Tubuh tidak saja dijadikan sebagai komiditi, akan tetapi juga sebagai metakomoditi, yaitu komoditi yang digunakan untuk menjual (mengkomunikasikan ) komoditi komoditi lainnya. Tubuh, khususnya perempuan di dalam wacana kapitalisme tidak saja dieksplorasi nilai gunanya -pekerja,porstitusi, pelayan; akan tetapi juga nilai tukarnya gadis model, gadis peraga, hostess; dan kini juga nilai tandanya .Eksplorasi tubuh tersebut berlangsung mengikuti model model pembiakan secara tepat ( proliferation ) atau pelipatgandaan secara kilat ( multiplication ), baik dalam cara, bentuk, varian, teknik, maupun medianya. Pada gadis sampul ada yang tampil dalam pose berdiri dengan pakaian yang sangat mini. Ia menggunakan rok super bikini, memakai baju yang terbuat dari secara embridery yang sangat jarang, sehingga payudaranya yang tidak ditutupi BH tampak secara transparan. Ada semacam permainan terlihat/tak terlihat pada setting pakaian, sehingga payudara tidak tampak secara keseluruhan. Majalah populer cenderung menampilkan gaya tampilan yang bahkan lebih berani. Citraan dan gambar mempunyai peran yang sangat besar dalam menimbulkan rangsangan maupun kepuasan seksual. Pentingnya citraan dan gambar ini diperlihatkan oleh kecendrungan laki laki atau perempuan untuk mengembangkan berbagai bentuk fantasi ketika melihat suatu gambar porno (pornografi). Sebuah tulisan, gambar, foto, atau ilustrasi di dalam berbagai bentuk media dapat menimbulkan sebuah rangsangan dan kepuasan seksual dari cara ia ditampilkan bentuk, pose, posisi, sikap dan ekspresi. Penampilan gambar, foto, ilustrasi, atau penggunaan kata kata (diksi) tertentu di dalam media, disadari atau tidak, dapat mengandung unsur pornografi disebabkan rendahnya standar atau selera ( taste ) medianya. Pemilihan gambar (image) atau kata kata sering menjebak media pada sifat vulgaritas bahasa, yang berakibat pada pendangkalan estetik dan informasi. Salah satu bentuk vulgaritas dan pendangkalan dalam bahasa kitsch. Kitsch dianggap sebagai satu bentuk selera rendah (bad taste) atau sampah artistik, disebabkan rendahnya standar estetik yang digunakan sehingga yang menonjol di dalamnya bukanlah nilai estetik,melainkan nilai provokasi(erotisme,sensualitas,seksualitas). Pornografi dianggap merupakan bagian dari selera rendah tersebut, disebabkan secara etimologis istilah porno yang dalam bahasa Yunani berarti Prostitusi pada tingkatnya yang paling rendah, inheren di dalamnya pengertian mengenai selera rendah. Pornografi yang terperangkap di dalam kitsch

disebut pornokitsch. Berbeda dari pornografi pada umumnya, pornokitsch lebih dicirkan oleh penggunaan gambar atau teks berkonotasi seksualitas, akan tetapi dengan kualitas yang murahan atau dangkal. Sifat selera rendah, murahan, atau dangkal tersebut terlihat pada cara cara penekanan pada unsur unsur erotis dan sensualitas ketimbang pertimbangan estetis yang sublim, semata sebagai cara untuk menimbulkan efek provokasi, kejutan dan kesenangan visual yang segera dan rendah. Kelompok Frankfurt menekankan bahwa sensualitas dan apa yang mereka sebut industri budaya, yaitu sebuah kebudayaan yang selalu berproduksi di dalam domain sensualitas. Berbagai potensi sensualitas diproduksi sebagai bagian dari industri budaya. Penggunaan efek efek sensualitas tersebut merupakan bagian dari penciptaan ilusi, manipulasi, sebagai cara untuk mendominasi selera kultural masyarakat, sebagai sebuah kendaraan dalam menciptakan keterpesonaan dan histeria massa. Haug menggunakan teori teknokrasi sensualitas, untuk menjelaskan bagaimana nilai nilai budaya. Misalnya nilai estetik ditopengi oleh nilai nilai sensualitas, glamour, dan erotisme. Yang terjadi adalah semacam erotisasi kebudayaan dan sensualitas otak, yaitu disaratinya otak dan kebudayaan oleh berbagai bentuk pikiran sensual. Perkembangan posmodernisme sebagai sebuah gerakan sosial budaya di Barat akhir akhir ini, telah membuka berbagai cakrawala dan dimensi baru dalam perbincangan mengenai kebudayaan, khususnya mengenai media dan pornografi di dalamnya. Berbagai nilai nilai yang dibawa oleh posmodernisme, telah membuka ruang yang selebar-lebarnya bagi perkembangan, pembiakan, dan produksi berbagai bentuk hasrat melalui pornografi. Meskipun demikian, posmodernisme bukanlah sebuah kecendrungan yang menawarkan ideologi tunggal dan nilai nilai yang homogen. Ada berbagai kecenderungan posmodernisme, namun dua kecendrungan besar dapat dikemukakan yaitu posmodernisme dekonstruktif dan posmodernisme rekonstruktif. Yang pertama lebih menekankan pada penentangan akan segala bentuk otoritas, pengekangan, dan pembatasan( hukum, aturan, dan agama) demi untuk memperoleh kebebasan ekspresi dan pembebasan hasrat secara total. Sementara, yang kedua lebih menekankan pada penghargaan secara positif akan keanekaragaman, dialog, heterogenitas, dan pluralitas. Adalah posmodernisme dekonstruktif yang mempunya andil besar dalam menciptakan ruang pembebasaan tubuh dan hasrat yang telah merubah secara mendasar berbagai logika yang membentuk kehidupan sosial dan budaya. Setidak tidaknya ada tiga relasi di dalam wacana posmodernisme dekonstruktif yang melibatkan eksploitasi tubuh, yaitu 1) relasi tubuh, (body) yaitu bagaimana tubuh ( secara fisik) digunakan di dalam berbagai relasi sosial, ekonomi, komunikasi, dan kebudayaan; 2) relasi tanda tubuh(body sign), yaitu bagaimana tubuh dieksploitasi sebagai tanda tanda dalam berbagai media, seperti koran, majalah, tabloid, video,vcd, film, televisi, komputer; 3) relasi hasrat (desire) yaitu bagaimana hasrat menjadi sebuah bentuk perjuangan, khususnya bagi pembebasan, pembiakan, dan penyalurannya. Para pemikir posmodernisme dekonstruktif mengembangkan wacana tubuh dan hasrat yang baru, dalam rangka mendobrak berbagai benteng, tembok, dan tapal batas yang selama ini membatasi artikulasi dan pelepasan hasrat;menghancurkan berbagai bentuk kekuasaan ( power), baik itu kekuasaan keluarga, negara, dan agama; mencerai-beraikan otoritas atau hegemoni yyang selama ini membatasi eksploitasi tubuh dengan berbagai potensi dan peluang eksplorasinya. Ada dua buah bentuk kekuasaan yang berkuasa dalam seputar wacana tubuh. Pertama, kekuasaan atas tubuh, yaitu kekuasaan eksternal yang mengatur tindak tanduk, mengadakana pembatasan, pelarangan, dan pengendalian terhadap tubuh.( hukum, tabu , undang-undang). Kedua, kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh, yaitu berupa hasrat dan potensi libidonya Kekuasaan dari dalam tubuh ini harus menentang kekuasaan atas tubuh, lewat sebuah revolusi tubuh, sehingga dapat diciptakan ruang bagi perkembang biakan dan pelipatgandaan secara bebas discourse seksual, yang terbebas dari setiap bentuk dominasi

kekuasaan. Pembebasan hasrat dan revolusi tubuh harus menemukan berbnagai kanal kanal pelepasan. Kapitalisme- lewa budaya komoditinya adalah kanal utama bagi pelkepasan hasrat tersebut, dengan memberi peluang kepada setiap orang untuk menggali setiap potensi hasrat dan energi libidonya sebagai komoditi.Kapitalisme itu sendiri telah mengalami kecendrungan baru ekonomi libido yang di dalamnya diciptakan ruang bagi pluralitas discourse pelepasan hasrat, sehingga setiap orang harus dapat mengeksplorasi dan memasarkan setiap rangsangan libido, untuk mendapaktkan keuntungan ekonomi yang maksimal darinya. Di dalam sistem ekonomi libido, sebuah betis yang terbuka, sebuah payudara yang tersingkap, sebuah paha yang diekspos dianggap bukan sebagai bentuk degradasi moral, melainkan sebuah bentuk nilai jual dan currency. Kebudayaan harus bersifat afirmatif dan permisif, sehingga dengan cara demikianlah manusia dapat memperoleh kesenangan dan jouissance secara maksimal. Siapa saja dapat mewujudkan fantasi fantasinya secara demokratis lewat tubuhnya, dengan mengeksplorasi sebagai alat tukar libido ( libidinal currency ) dalam sebuah sistem pertukaran hasrat (desiring exchange). Tubuh hanya akan bernilai ekonomis bila dapat diproduksi dan direproduksi sebagai nilai tukar lewat berbagai bahasa tanda tubuh(bodily sign), yang menyertai penawaran sebuah komoditi. Di dalam sistem libidonomi kapitalisme, semakin tinggi daya emosi, gairah, dan pesona(fetishism) yang dihasilkan oleh sebatang tubuh, maka semakin tinggi nilai ekonominya, Semakin seksi, semakin terkenal, semakin top atau semakin berani seorang cover girl yang ditampilkan dalam sebuah cover majalah maka ia akan mempunya nilai tukar yang tinggi pula di pasar libido, yang kemudian menentukan nilai libido secara ekonomis. Ketika tubuh dibebaskan dari berbagai kekanganm represi, dan pembatasan, dari berbagai kode, konvensi dan tabu, maka yang tercipta adalah tubuh yang bersifat material, imamen dan sekular, sebagaimana sifat libidonomi kapitalisme itu sendiri. Tubuh yang harus tanpa kendali otoritas kekuasaan dan hanya dikendalikan oleh prinsip katipal membuka ruang yang lebar bagi budaya ketelanjangan, yaitu sebuah budaya tubuh yang tanpa rahasia (obscene) dan tanpa tabir (expose), yang dapat diekspllorasi segala potensi dan kekuatan libidonya untuk kepentingan pembiakan kapital. Teknik teknik close-up atau zoom anatomy yang ditawarkan oleh teknologi media telah memungkinkan bagi setiap orang untuk melihat gambar gambar detil anatomi atau organ tubuh dalam skala diperbesar yang menciptakan semcam pornografi yang melampaui (hyper pornography). Dengan digiringnya tubuh ke arah sebuah proses objektivitas ekstrim, maka tubuh ditanggalkan dari berbagai batasan moral, batasan sosial, batasan spiritual. Tubuh kini tidak memerlukan lagi nilai nilai subjektivitas, seperti privacy,rahasia, rasa malu, rasa risih, atau rasa berdosa. Selain itu, batas batas antara ruang pribadi ( private space) dan ruang publik (publick space) yang selama ini membatasi penggunaan tubuh, kini telah didekonstruksi. Segala sesuatu yang selama ini dianggap sebagai domain private (aurat,kemaluan,organ,tubuh,dan seks) kini dipertontonkan sebagai domain publik, dan akhirnya menjadi milik publik-inilah budaya ketelanjangan. Batas mengenai apa yang boleh dan tidak boleh ditampilkan, dipampangkan, dipamerkan,dipertontonkan,disuguhkan,dipasarkan,dijual kini telah didekonstruksi di dalam wacana tubuh masyarakat cabut- society of the obscene. Hanya dengan membebaskan tubuh dan hasrat dari setiap kekangan dan pembatasannya, maka dapat diciptakan revolusi hasrat. Segala bentuk normalitas harus dilawan karena dianggpa sebagai penindasan atas tubuh dan pengekangan akan hasrat. Sebaliknya, segala sesuatu yang dianggap oleh konvensi sosial sebagai menyimpang, tidak normal, atau gila harus dilihat sebagai sesuatu yang kreatif dan produktif. Revolusi hasrat adalah sebuah bentuk yang penolakan terhadap berbagai aturan dan konvensi sosial, sebuah cara yang di dalamnya manusia dilihat sebagai makhluk plural. Lewat pembebasan tubuh dan hasrat dari setiap kekangan maka yuang tercipta adalah apa

yang disebut deteritorialisasi yaitu sebuah medan kehidupan sosial yang didalamnya orang tidak pernah berhenti pada sebuah teritorial yang tetap konsisten. Tubuh dan hasrat harus hidup dalam nomad, yang didalamnya berlangsung sebuah prinsip pertumbuhan yang disebut nomadologi, yaitu sebuah proses tanpa henti dalam perubahan, perpindahan,pelipatgandaan,perjalanan melampauii batas terjauh. Dengan demikian tidak ada satupun gejolak hasrat atau eksploitasi tubuh yaang harus dilarang, selama semuanya dapat menghasilkan kepuasan. Tubuh posmodern bersifat anti aturan keluarga, antikonvensi sosial, antiwahyu ketuhanan. Kebebasan, ekspresi total, dan pembebasan hasrat yang ditawarkan oleh posmodernisme dekonstruktif mendapatkan respons yang antusias dari berbagai kekangan. Semua itu mengusung nilai yang dibawa oleh wacana posmodernisme dekonstruktif, yang justru memberi ruang yang luas bagi pembiakan pornografi. Sementara itu, berbagai investigasi yang dilakukan terhadap perilaku seks masyarakat di Indonesia dan pandangan mereka mengenai norma seksualitas. Memperlihatkan pula berbagai pengaruh nilai nilai posmodernisme dekonstruktif ini dalam kehidupan sehari hari masyarakat. Bahwa sesungguhnya dimensi yang telah hilang di dalam masyarakat: dimensi rahasia, dimensi rasa malu, dimensi rasa berdosa, dimensi spiritualitas. Sementara itu ada dimensi yang baru tumbuh subur yakni: dimensi ketelanjangan, dimensi ketidakacuhan,dimensi sekularitas, dan dimensi materialitas, yang semuanya berakar dari nilai yang di bawa oleh wacana posmodernisme deikonstruktif. Dalam wacana posmodern dekonstruktif pembongkaran terhadap konvensi konvensi sosial tentang tubuh tidak hanya berlangsung pada tingkat fiisik dan relasi sosial, melainkan pada tingkat tanda atau semiotika. Posmodernisme dekonstruktif mendekonstruksi aturan, norma, tabu, kebiasaan, dan kode-kode pada tingkat pertandaan. Kode kode sosial tentang tubuh dan bahasa tubuh dibiarkan dalam kondisi mencair, dalam rangka membuka ruang bagi sebuah permainan bebas tanda tanda tentang tubuh. Dalam ajang tersebut, tubuh diproduksi sebagai sebuah rangkaian teks, yaitu kumpulan tanda tanda yang dikombinasikan lewat kode kode semiotik tertentu yng menghasilkan berbagai efek dan makna serta perbedaan yang diperlukan dalam kapitalisme. Tubuh didekonstruksi menjadi elemen elemen tanda yang masing masing menjadi sub sub signifier dan yang secara bersama sama membentuk signifierm yang menghasilkan makna yang tidak konvensional.Apa yang duicaru daru wacana semiotika tubuh atau bahasa tubuh adalah apa yang disebut sebagai kepuasan teks. Artinya dengan dibebaskannnya tubuh dan berbagai represi dan pembatasan, dari berbagai aturan, norma,dan tabu tabu, serta dengan dilepaskannya berbagai katup potensi hasratnya, maka dari sanalah kepuasan sempurna(jouissance) dapat diperoleh. Dengan dibebaskannya tubuh dari berbagai pembaatasan, maka ia dapat digunakan sebagai bahan baku di sistem pertukaran benda, dalam rangka mengembangkan nilai tanda di bawah sistem libidonomi kapitalisme. Upakaran kapitalisme, lewat nilai semiotika yng dapat ya besar besaran dilakukan di dalam kapitalisme untuk menggali kekuatan kekuatan yang berasal dari tubuh ini, khususnya kektuan sebagai tanda dan bahasa tubuh, atau kekuatan yang berasal dari fetisisme tubuh. Tubuh dimuati dengan berbagai bentuk pesona(fetish). Dalam masyarakat kapitalis,tubuh perempuan di dalam masyarakat kapitalis terletak pada rayuan yang dimilikinya. Tubuh terutama perempuan, dijadikan sebagai alat tukar di dalam sebuah proses pertukaran kapitalisme, lewat nilai semiotika yang dapat ditawarkannya. Dalam konteks semiotika sebuah tanda mempunyai nilai berdasarkan kemampuannya menghasilkan makna. Nilai sebatang tubuh sebagai tanda terletak pada kemampuannya menawarkan makna,ide,konsep, atau tema tertentu: sensualitas, erotika, kegairahan, kemolekan, keseksian, kesegaran, kemudaan, keperawanan, kecantikan.

Media seringkali mengeksploitasi tubuh sebagai tanda dalam rangka mencari nilai pembedaan tanda tersebut. Citra, gagasan, tema, atau perasaan yang berkaitan dengan sebatang tubuh yang telah mempunyai makna di dalam sebuah masyarakat dipindahkan ke dalam sistem media, sehingga membedakannya dari media lain, yang menggunakan tubuh yang lain. Dengan mengeksploitasi tubuh sebagai tanda, ada berbagai mekanisme yang digunakan media, sehingga aktor aktor yang berperan di dalamnya dapat dieksploitasi segala potensi tandanya. Nilai tanda tubuh sebagai komoditi, dapat dilihat melalui berbagai aspek berikut, yang dikonstruksi di dalam media. Pertama adalah tampilan tubuh, Sering kali media menekankan aspek umur, yaitu kemudaan yang ditampilkan, khususnya pada perempuan. Kedua, perilaku merupakan aspek lain yang menentukan relasi tanda tubuh di dalam media yang dapat dilihat dari ekspresi tubuh dengan berbagai gaya dan kecenderungannya;dari pose, dengan berbagai variasinya. Ketiga, aktivitas tubuh dapat menjadi penanda bagi posisi sosialnya di dalam media. Di antara aktivitas tersebut adalah sentuhan, yang memperlihatkan apakah sebatang tubuh itu pasif,aktif,lemah,berkuasa,dan sebagainya. Sikap posmodernisme dekonstruktif terhadap tubuh, adalah menghancurkan berbagai pembatasan dalam penggunaan tubuh; menanggalkan berbagai selubung penutupnya, mengekspos berbagai rahasianya, merayakan, dan memuja berbagai organ dan komponen tandanya, memberikan ruang bagi berbagai ekspresinya yang bebas. Kapitalisme menyediakan ruang bagi realisasi nilai nilai posmodernisme dekonstruktif di dalam berbagai komoditi. Singkatnya budaya kapitalisme dan posmodernisme dekonstruktif menciptakan ruang yang terbuka luas bagi pembiakan budaya porno. Berbagai upaya komprehensif telah dilakukan yakni mengembangkan filosofi tanding counter, peran komunitas harus dikembangkan, berbagai salkurana media publik harus dikembangkan, perang tanda harus digalakkan dalam rangka menciptakan sebuah ruang yang di dalamnya tidak lagi menjadi sentral dair kebudayaan, bahasa, tanda, dan semiotik, media harus meningkatkan sikap analitis,kritis,dan sikap selektif.

BAB II Komentar dan Hasil Analisis


Gagasan gagasan yang dikemukakan penulis antara lain adalah: a. Pengertian pornografi dan situasi Pornografi adalah kekerasan terhadap perempuan, jelas dan dan nyata. Pornografi adalah kekerasan terhadap perempuan langsung maupun tak langsung. Langsung, banyak dari perempuan yang dieksploitasi dan dijadikan model baik foto, maupun film porno dalam kondisi terpaksa dengan kekerasan maupun terpaksa karena adanya kemiskinan (kekerasan ekonomi). Tak langsung, akibat dari pornografi adalah semakin mantapnya posisi perempuan yang tersubordinasi, yang dalam perjuangan Ordonansi hukum anti pornografi di Mineapolis pornografi menyebabkan hak-hak sipil perempuan terancam. Pornografi berbeda dengan erotika. Erotika tidak mempertontonkan kepasrahan dan subordinasi perempuan sebagai bagian yang dipertontonkan dan menstimulus keseksian dan atau gairah seksual. Erotika adalah bentuk karya yang baik terkait langsung atau tidak langsung dengan seksualitas dan dapat menimbulkan gairah seksual. Pada erotika ada kesetaraan dalam gambaran perempuan dan laki-laki. Meskipun jelas berasal dari luar negeri, pornografi di Indonesia sebagai kata dan sebagai bagian yang tak lepas dari seksualitas telah menjadi isu yang terkait seksualitas dan media sejak tahun 1950an. Pada tahun 1950an telah ada bebebapa surat kabar yang dilarang terbit karena menampilkan gambar-gambar yang dianggap pornografi yang dianggap dapat menimbulkan kecemasan umum karena cabul. Pada masa orde baru, majalah Varia, majalah Mayapada dan lainnya yang tersangkut kasus pornografi dan semua terjerat dalam pasal-pasal di KUHP. Anak-anak dilahirkan dalam kondisi suci. Orang tualah yang nantinya membentuk anak, akan seperti apa. Baik dan buruknya ana, tergantung orang tuanya. Barisan kalimat diatas adalah benar adanya. Peran orang tua dalam mendidik dan membimbing anak sangat urgen dan tidak bias tidak, sangat menentukan keberadaan anak tersebutdimasa yang akan datang. Kenyataannya, peran orang tua dewasa ini semakin berat. Betapa tidak, hantaman era globalisasi telah menafikan aturan yang melarang anak untuk tidak secepatnya mengenal yang namanya pornografi atau pornoaksi.Diberbagai media, baik itu elektronik maupun media cetak, tayangan dan gambar yang mengandung unsur pornografi bergentayangan tak kenal lelah menghantui anak-anak. Berdasarkan catatan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) bernama Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indoesia, selain menjadi Negara tanpa aturan jelas tentang pornografi, Indonesia juga mencatat rekor sebagai Negara kedua setelah Rusia yang paling rentan penetrasi pornografi terhadap anak-anak.Kondisi seperti itu, sebenarnyatelah pula ditangkap Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Lewat beberapa kali penelitian dan survey dilapangan, terkuak kenyataan dilapangan yang mengetengahkan gambaran kehidupan anak-anak Indonesia menjelang remaja, salah satunya adalah kegemaran coba-coba untuk urusan seks.Salah satuya adalah hasil penelitian di Propinsi Jawa Barat, dimana dari 2.880 remaja yang disurvey BKKBN usia 15-24 tahun, sedikitnya 40 persen mengaku pernah melakukan hubungan seks sebelum nikah. Tak hanya sampai disitu. Survey juga mencatat sedikitnya remaja usia 15-19 tahun hampir 60 persen diantaranya pernah melhat film porno dan 18,4 persen remaja putrid megaku pernah membaca buku porno. Data terakhir ini diperoleh dari penelitian sejumlah mahasiswa di Universitas Airlangga terhadap 300 responden.Sayangnya banyak orang tua yang kadangkala kecolongan soal kegemaran anak-anak merka yang menjelang remaja ini terhadap pornografi. Masih berdasakan data terbaru, 25 persen anak-anakbahkan menonton film porno dirumah

sendiri, 22 persen di rumah teman dimana materinya didapat dari VCD rental disekitar rumah mereka.Lebih parah lagi kecanggihan teknologi telepon selular telah pula dirambah pornogarafi. b. Pornokitsch

Kitsch adalah salah satu bentuk vulgaritas dan pendangkalan dalam bahasa. Kitsch dianggap sebagai satu bentuk selera rendah (bad taste) atau sanoah artistik,disebabkan rendahnya standar estetik yang digunakan, sehingga yang menonjol di dalamnya bukan nilai estetik, melainkan nilai provokasi. Pornografi yang terperangkap di dalam kitsch disebut pornokitsch. Penampilan gambar,foto, ilustrasi atau sebagainya dapat mengandung unsur pornografi. Disebabkan rendahnya standar atau selera medianya. Pemilihan gambar sering menjadi vulgaritas, yang berakibat pendangkalan estetik dan informasi. Fotografi adalah seni, yaitu pemotretan yang menghasilkan foto yang indah, bernilai seni tinggi. Bisa dinikmati oleh masyarakat luas sehingga membuat penikmatnya tertawan oleh keindahan, kekaguman, dan pengalaman batin akibat kesan yang ditimbulkan oleh foto tersebut. Foto yang bernilai seni tidak hanya merupakan foto pemandangan alam atau landscape yang indah saja, seperti foto yang menggambarkan suasana air terjun di dalam hutan hijau dengan buih busa yang putih dan efek kabut yang menyelimuti dasar jurang serta sinar mentari yang menembus pepohonan. Foto bernilai seni juga bisa berupa foto situasi sebuah perkampungan di maluku yang hancur lebur akibat kerusuhan yang terjadi di sana. Hal tersebut disebabkan keindahan suatu karya foto dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor; peralatan memotret, situasi pemotretan, objek yang dipotret, dan yang paling utama adalah fotografer yang memotret. Ada fotografer yang memiliki peralatan memotret yang canggih, namun karena tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang fotografi, maka hasilnya akan sia-sia. Ia tidak mampu menampilkan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk karya foto. Namun bila seorang fotografer memiliki kemampuan yang cakap, seperti mampu menghasilkan foto dengan momen yang pas, walaupun hanya menggunakan kamera saku biasa, hasilnya akan menjadi sebuah karya foto yang bernilai seni tinggi.Selain itu keindahan sebuah karya foto kadang sering pula dihubungkan dengan sosok kaum hawa. Ada anggapan bahwa foto yang menarik adalah foto yang menampilkan kecantikan seorang wanita. Lihat saja media massa cetak yang beredar sekarang ini, umumnya pada halaman sampul lebih mendominasi sosok wanita, walaupun media massa cetak tersebut dikhususkan bagi pembaca pria. Apalagi sosok wanita itu ditampilkan plus lekuk-lekuk dan kemolekan tubuhnya yang indah, seperti yang ditampilkan tabloid-tabloid baru yang belakangan banyak muncul di masyarakat yang menampilkan kecantikan dan keindahan tubuh wanita (baca: pamer aurat). Bahkan beberapa waktu lalu sejumlah majalah mingguan dipermasalahkan karena menampilkan foto seorang model pada halaman sampulnya dan dianggap porno oleh pihak yang berwajib. Pemimpin redaksi, fotografer dan modelnya dipanggil oleh kepolisian untuk dimintai keterangan. Fotografer dan modelnya merasa bingung karena mereka merasa tidak melakukan kesalahan dan tidak adanya penyelesaian hukum yang jelas. c. Pornografi dalam Wajah Posmodernisme Post-moderen, post-modernism, dan post-modernity telah diakui telah menjadi nyelimet atau rumit untuk mengartikannya, terutama dengan awalan post dan akhiran ism. Pengertian post-modernisme berbeda dengan post-modernitas, di mana perbedaannya dikemukakan di bawah ini.Post-modernisme, menunjuk pada kritik-kritik filosofis dan gambaran dunia (world-view), sistem ideologi-ideologi modern; postmodernisme merupakan kritik atas

masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas, yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas. Pornografi ditentang dalam posmodernisme. Pada posmodernisme dikembembangkan berbagai konsep pembebasan hasrat dan revolusi tubuh untuk menemukan kanal pelepasannya. Dengan digiringnya tubuh ke arah sebuah proses objektivitas ekstrim, maka tubuh ditanggalkan dari berbagai batasan moral, batasan sosial, batasan spiritual. Tubuh kini tidak memerlukan lagi nilai nilai subjektivitas, seperti privacy,rahasia, rasa malu, rasa risih, atau rasa berdosa. Selain itu, batas batas antara ruang pribadi ( private space) dan ruang publik (publick space) yang selama ini membatasi penggunaan tubuh, kini telah didekonstruksi. Kebebasan, ekspresi total, dan pembebasan hasrat yang ditawarkan oleh posmodernisme dekonstruktif mendapatkan respons yang antusias dari berbagai kekangan. Semua itu mengusung nilai yang dibawa oleh wacana posmodernisme dekonstruktif, yang justru memberi ruang yang luas bagi pembiakan pornografi. Sementara itu, berbagai investigasi yang dilakukan terhadap perilaku seks masyarakat di Indonesia dan pandangan mereka mengenai norma seksualitas. Memperlihatkan pula berbagai pengaruh nilai nilai posmodernisme dekonstruktif ini dalam kehidupan sehari hari masyarakat. Bahwa sesungguhnya dimensi yang telah hilang di dalam masyarakat: dimensi rahasia, dimensi rasa malu, dimensi rasa berdosa, dimensi spiritualitas D. Pospornografi dn Hipersemiotisasi Tubuh Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti tanda atau sign dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Dengan dibebaskannya tubuh dari berbagai pembaatasan, maka ia dapat digunakan sebagai bahan baku di sistem pertukaran benda, dalam rangka mengembangkan nilai tanda di bawah sistem libidonomi kapitalisme. Upakaran kapitalisme, lewat nilai semiotika yng dapat ya besar besaran dilakukan di dalam kapitalisme untuk menggali kekuatan kekuatan yang berasal dari tubuh ini, khususnya kektuan sebagai tanda dan bahasa tubuh, atau kekuatan yang berasal dari fetisisme tubuh. E. Pospornografi dan wajah masa depan kebudayaan. Kecenderungan kapitalisme libido dan filsafat posmodernisme dekonstruktif membuka ruang yang sangat lebar bagi perkembangan dan pembiakan berbagai pornografi, erotisme, dan sensualitas di dalam berbagai media kapitalistik. Singkatnya budaya kapitalisme dan posmodernisme dekonstruktif menciptakan ruang yang terbuka luas bagi pembiakan budaya porno. Berbagai upaya komprehensif telah dilakukan yakni mengembangkan filosofi tanding counter, peran komunitas harus dikembangkan, berbagai salkurana media publik harus dikembangkan, perang tanda harus digalakkan dalam rangka menciptakan sebuah ruang yang di dalamnya tidak lagi menjadi sentral dair kebudayaan, bahasa, tanda, dan semiotik, media harus meningkatkan sikap analitis,kritis,dan sikap selektif.

BAB III Pertanyaan Analitis 1. Apa itu makna pornografi bagi masyarakat Indonesia?
Di Indonesia pornografi semakin menguat dan banyak kejadian kejadian yang berhubungan dengan pornografi. Banyak orang tidak tahu apa maknanya tetapi melakukan itu. Bagi beberapa orang ada yang menganggap pornografi adalah seni. Pertanyaan ini diajukan agar orang orang memberikan makna mereka mengenai pornografi. 2. Bagaimana hubungan kapitalisme dengan pornografi di Indonesia? Ada sebuah efek sinergis yang kuat antara kapitalisme sebagai sistem ekonomi politik dan posmodernisme sebagai sebuah sistem pemikiran, budaya yang di dalamnya tubuh ( kesempurnaan, kecantikannya, gairahnya) menjadi sebuah elemen yang sentral dan raison detre dalam produksi benda benda komoditi 3. Mengapa media tidak memperhatikan tingkat rendahnya selera gambar atau ilustrasi yang digunakan? Tingkat penerimaan media di masyarakat masih rendah di kalangan masyarakat, seharusnya mereka meningkatkan sikap analitis, sikap kritis,dan sikap selektif di kalangan masyarakat. Sehingga seringkali masyarakat terperangkap dalam teknologi libido atau mesin libido yang dikembangkan oleh media kapitalistik.

BAB IV LAMPIRAN
TINDAK pornografi di Indonesia makin menyedihkan. Selain hasil riset kantor berita AP yang menempatkan Indonesia sebagai sorga pornografi nomor dua setelah Rusia, pornografi sudah menyatu menjadi perilaku masyarakat. Penelitian yang dilakukan Pusat Studi Hukum Universitas Islam Indonesia menyebutkan sekitar 15 persen dari 202 responden remaja berumur 15 25 tahun sudah melakukan hubungan seks, karena terpengaruh oleh tayangan pornografi melalui internet, VCD, TV dan bacaan pornografi. Dari penelitian tersebut juga terungkap 93,5 persen remaja telah menyaksikan VCD porno dengan alasan sekadar ingin tahu 69,6 persen dan alasan lain hanya 18,9 persen.Fenomena seperti itu tentu saja sangat memprihatinkan kita semua, terlepas dari validitas dan obyektifitas penelitian tersebut. Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, pornografi dalam pengertian sekarang adalah penyajian tulisan, patung, gambar, foto, gambar hidup (film) atau rekaman suara yang dapat menimbulkan nafsu birahi dan menyinggung rasa sosial masyarakat. Pornografi semula mengacu pada karya-karya sastra Yunani Kuno yang menggambarkan tingkah laku pelacur. Dalam bahasa Yunani Kuno, porne artinya pelacur dan graphein artinya menulis. Dalam bahasa Inggris, ada istilah obscenity selain pornographi. Obscenity mengacu kepada segala sesuatu yang tidak senonoh, mesum dan melanggar kesopanan. Tetapi undang-undang menentang obscenity hanya di Amerika Serikat dan Inggris hanya berlaku untuk ketidaksopanan di bidang seksual. Masyarakat Yunani Kuno yang berpandangan naturalistis tidak menganggap seks atau hubungan seks secara terang-terangan sebagai sesuatu yang mesum. Kaum wanitanya suka memuji patung priapus sebagai dewa kesuburan. Patung itu berupa kepala seorang lelaki yang berjanggut yang diletakkan di atas sebuah alas dan di tengah alas terdapat alat kelamin laki-laki. Dalam masyarakat Romawi Kuno terdapat lukisan-lukisan di dinding kuil Pompeii yang menggambarkan cara-cara bersenggama. Lukisan-lukisan ini merupakan bukti sejarah tentang pornografi dalam kebudayaan Romawi Kuno. Pada zaman itu, terkenal Ars Amatoria (Seni Cinta Asmara), karya sastrawan Ovidus, yang terdiri atas tiga jilid dan membahas secara rinci cara-cara merayu, menggoda dan merangsang nafsu seks (Alex E Rachim, 1997). Pornografi tersebar ke Eropa pada abad pertengahan, dengan selera rendah, berupa teka teki lelucon dan syair pendek berisi sindiran. Yang terkenal adalah cerita Decameron karya Giovanni Boccaccio yang berisi sekitar 100 cerita tak senonoh. Penemuan alat cetak memberi kesempatan bagi penyebaran buku-buku cerita pornografis. Cerita-cerita itu berisi humor dan hubungan asmara yang ditulis untuk tujuan menghibur atau merangsang birahi pembaca. Kemudian di Eropa muncul karya-karya modern pertama yang tidak mengandung nilai sastra dan bertujuan hanya merangsang birahi. Yang terkenal dari zaman itu di Inggris adalah buku Fanny Hill; or Memoirs of a Woman of Pleasure (1749) oleh John Cleland. Penyebaran pornografi menjadi sulit dibendung ketika kemudian ditemukan fotografi dan gambar hidup (film). Sejak Perang Dunia II, pornografi dalam bentuk tulisan mendapat saingan besar dari penyajian secara terang-terangan tingkah laku erotis (cabul) dalam bentuk visual. Selama beberapa dasawarsa belakangan ini tumbuh pula industri porno dengan pesat di sejumlah negara maju dan diperkirakan menghasilkan 7 miliar dolar AS setahun. Yang diproduksi industri juga mencakup berbagai obat dan alat bantu pemuas hubungan seksual.

Telah Membudaya Masyarakat kita tampaknya telah terkontaminasi oleh cara hidup materialisme dan hedonisme, yang memaknai hidup ini dengan tolok ukur materi dan sekadar mencari kesenangan belaka. Dengan mengabaikan moralitas, akhlak sebagai insan beragama dan etika sosial masyarakat. Suka atau tidak suka haruslah diakui pornografi dan pornoaksi telah menjadi budaya dalam masyarakat kita, sebagaimana virus korupsi, kolusi dan nepotisme. Semenjak Indonesia memasuki era reformasi pornografi tumbuh berkembang. Begitu kran kebebasan pers dibuka, media-media porno mulai berkembang dan ironisnya memperoleh sambutan yang hangat dari masyarakat. Kalau sebelum era reformasi, masyarakat masih malu-malu dengan sesuatu yang berbau pornografi, maka dalam era reformasi ini masyarakat tampaknya sudah tidak tahu malu lagi.Layar televisi kita setiap hari selalu dipenuhi oleh tayangan-tayangan yang berbau dan berjiwa porno, baik dalam bentuk hiburan, musik, film, sinetron maupun iklan. Dengan alasan sesuai dengan selera masyarakat. Goyang ngebor salah seorang penyanyi kita telah menimbulkan inspirasi bagi penyanyi yang lain sehingga lahirlah yang namanya goyang ngecor, goyang patah-patah, goyang kayang dan lain-lain cabang goyang erotis. Yang lebih memprihatinkan lagi sebagian besar dari acara televisi yang bernuansa erotis itu memiliki rating yang cukup tinggi, yang berarti merupakan indikasi sebagian besar masyarakat kita menyukai tayangan erotisme. Belum lagi dengan dunia periklanan kita yang menggunakan daya tarik erotisme wanita untuk menjual produknya. Ataupun menggunakan kata-kata yang mengandung imajinasi dan nada bicara yang erotis. Maka tidaklah mengherankan jika iklan sepeda motor dan mi instan pun menggunakan pesona wanita seksi. Seolah takut ketinggalan dunia olah raga kitapun juga dilanda oleh budaya erotisme, misalnya olahraga tinju selalu diselingi oleh lenggak lenggok wanita cantik berpakaian seksi.Pesan moral dalam Alquran tampaknya sudah banyak diabaikan oleh masyarakat Indonesia yang sebagian besar (mengaku) beragama Islam. Dengan berbagai dalih seperti kebebasan berekspresi, seni dan relatifitas difinisi pornografi, mereka larut dalam perbuatan yang jika disadarinya sesungguhnya mendekati zina. Yang lebih mengherankan lagi ketika ada RUU Anti Pornografi, banyak kalangan yang menganggapnya sebagai sesuatu yang kontroversial. Menurut sejumlah kalangan institusi negara tidaklah perlu terlalu jauh mengurusi pornografi yang masih belum jelas batasannya, lalu kalau begitu apa fungsi didirikannya Republik Indonesia ini? Jika institusi negara tidak lagi dapat mendidik dan mengatur masyarakatnya, maka yang timbul hanyalah masyarakat yang terdegradasi moral dan akhlaknya yang pada akhirnya akan menimbulkan kebangkrutan sosial. (Romi Febriyanto Saputro, pustakawan Kantor Perpustakaan Kabupaten Sragen) Sumber: Suara Merdeka, Sabtu, 29 November 2003 http://www.unitedfool.com/2004/04/03/ketika-pornografi-melanda-indonesia/

Pornografi adalah Kekerasan Terhadap Perempuan


Pornografi adalah kekerasan terhadap perempuan, jelas dan dan nyata. Pornografi adalah kekerasan terhadap perempuan langsung maupun tak langsung. Langsung, banyak dari perempuan yang dieksploitasi dan dijadikan model baik foto, maupun film porno dalam kondisi terpaksa dengan kekerasan maupun terpaksa karena adanya kemiskinan (kekerasan ekonomi). Tak langsung, akibat dari pornografi adalah semakin mantapnya posisi perempuan yang tersubordinasi, yang dalam perjuangan Ordonansi hukum anti pornografi di Mineapolis pornografi menyebabkan hak-hak sipil perempuan terancam. Pornografi berbeda dengan erotika. Erotika tidak mempertontonkan kepasrahan dan subordinasi perempuan sebagai bagian yang dipertontonkan dan menstimulus keseksian dan atau gairah seksual. Erotika adalah bentuk karya yang baik terkait langsung atau tidak langsung dengan seksualitas dan dapat menimbulkan gairah seksual. Pada erotika ada kesetaraan dalam gambaran perempuan dan laki-laki. Meskipun jelas berasal dari luar negeri, pornografi di Indonesia sebagai kata dan sebagai bagian yang tak lepas dari seksualitas telah menjadi isu yang terkait seksualitas dan media sejak tahun 1950an. Pada tahun 1950an telah ada bebebapa surat kabar yang dilarang terbit karena menampilkan gambar-gambar yang dianggap pornografi yang dianggap dapat menimbulkan kecemasan umum karena cabul. Pada masa orde baru, majalah Varia, majalah Mayapada dan lainnya yang tersangkut kasus pornografi dan semua terjerat dalam pasal-pasal di KUHP. http://wartafeminis.wordpress.com/2007/12/26/pornografi-adalah-kekerasan-terhadapperempuan/ Anak-anak dilahirkan dalam kondisi suci. Orang tualah yang nantinya membentuk anak, akan seperti apa. Baik dan buruknya ana, tergantung orang tuanya. Barisan kalimat diatas adalah benar adanya. Peran orang tua dalam mendidik dan membimbing anak sangat urgen dan tidak bias tidak, sangat menentukan keberadaan anak tersebutdimasa yang akan datang.Kenyataannya, peran orang tua dewasa ini semakin berat. Betapa tidak, hantaman era globalisasi telah menafikan aturan yang melarang anak untuk tidak secepatnya mengenal yang namanya pornografi atau pornoaksi.Diberbagai media, baik itu elektronik maupun media cetak, tayangan dan gambar yang mengandung unsur pornografi bergentayangan tak kenal lelah menghantui anak-anak. Berdasarkan catatan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) bernama Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indoesia, selain menjadi Negara tanpa aturan jelas tentang pornografi, Indonesia juga mencatat rekor sebagai Negara kedua setelah Rusia yang paling rentan penetrasi pornografi terhadap anak-anak.Kondisi seperti itu, sebenarnyatelah pula ditangkap Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Lewat beberapa kali penelitian dan survey dilapangan, terkuak kenyataan dilapangan yang mengetengahkan gambaran kehidupan anak-anak Indonesia menjelang remaja, salah satunya adalah kegemaran coba-coba untuk urusan seks.Salah satuya adalah hasil penelitian di Propinsi Jawa Barat, dimana dari 2.880 remaja yang disurvey BKKBN usia 15-24 tahun, sedikitnya 40 persen mengaku pernah melakukan hubungan seks sebelum nikah. Tak hanya sampai disitu. Survey juga mencatat sedikitnya remaja usia 15-19 tahun hampir 60 persen diantaranya pernah melhat film porno dan 18,4 persen remaja putrid megaku pernah membaca buku porno. Data terakhir ini diperoleh dari penelitian sejumlah mahasiswa di Universitas Airlangga terhadap 300 responden.Sayangnya banyak orang tua yang kadangkala kecolongan soal kegemaran anak-anak merka yang menjelang remaja ini terhadap pornografi. Masih berdasakan data terbaru, 25 persen anak-anakbahkan menonton film porno dirumah sendiri, 22 persen di rumah teman dimana materinya didapat dari VCD rental disekitar rumah mereka.Lebih parah lagi kecanggihan teknologi telepon selular telah pula dirambah

pornogarafi. Beberapa penyelidikan bahkan diketahui soal gambar porno yang sampai ketelepon selular atau hanphone anak-anak.Bahaya lain yang mengancam anak-anak adalah keberadaan situs porno. Inke Maris dari ASA Indonesia mengutip hasil penelitian di Amerika bahwa setidaknya ada 28 ribu situs porno di internet pada tahun 2000 sementara setiap pekannya hadir 2 ribuan situs porno baru.Malangnya, di Indonesia, situasi ini sedemikian tidak segera ditanggapi oleh pihak berwenang, yakni pemerintah. Hal itu bias dilihat dari tidak adanyaregulasi yang jelas mengenai pornografi dan pornoaksi serta hukumnya. http://varfin.wordpress.com/2008/06/16/anak-anak-rentan-pengaruh-pornografi/ Fotografi adalah seni, yaitu pemotretan yang menghasilkan foto yang indah, bernilai seni tinggi. Bisa dinikmati oleh masyarakat luas sehingga membuat penikmatnya tertawan oleh keindahan, kekaguman, dan pengalaman batin akibat kesan yang ditimbulkan oleh foto tersebut. Foto yang bernilai seni tidak hanya merupakan foto pemandangan alam atau landscape yang indah saja, seperti foto yang menggambarkan suasana air terjun di dalam hutan hijau dengan buih busa yang putih dan efek kabut yang menyelimuti dasar jurang serta sinar mentari yang menembus pepohonan. Foto bernilai seni juga bisa berupa foto situasi sebuah perkampungan di maluku yang hancur lebur akibat kerusuhan yang terjadi di sana. Hal tersebut disebabkan keindahan suatu karya foto dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor; peralatan memotret, situasi pemotretan, objek yang dipotret, dan yang paling utama adalah fotografer yang memotret. Ada fotografer yang memiliki peralatan memotret yang canggih, namun karena tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang fotografi, maka hasilnya akan sia-sia. Ia tidak mampu menampilkan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk karya foto. Namun bila seorang fotografer memiliki kemampuan yang cakap, seperti mampu menghasilkan foto dengan momen yang pas, walaupun hanya menggunakan kamera saku biasa, hasilnya akan menjadi sebuah karya foto yang bernilai seni tinggi. Selain itu keindahan sebuah karya foto kadang sering pula dihubungkan dengan sosok kaum hawa. Ada anggapan bahwa foto yang menarik adalah foto yang menampilkan kecantikan seorang wanita. Lihat saja media massa cetak yang beredar sekarang ini, umumnya pada halaman sampul lebih mendominasi sosok wanita, walaupun media massa cetak tersebut dikhususkan bagi pembaca pria. Apalagi sosok wanita itu ditampilkan plus lekuk-lekuk dan kemolekan tubuhnya yang indah, seperti yang ditampilkan tabloid-tabloid baru yang belakangan banyak muncul di masyarakat yang menampilkan kecantikan dan keindahan tubuh wanita (baca: pamer aurat). Bahkan beberapa waktu lalu sejumlah majalah mingguan dipermasalahkan karena menampilkan foto seorang model pada halaman sampulnya dan dianggap porno oleh pihak yang berwajib. Pemimpin redaksi, fotografer dan modelnya dipanggil oleh kepolisian untuk dimintai keterangan. Fotografer dan modelnya merasa bingung karena mereka merasa tidak melakukan kesalahan dan tidak adanya penyelesaian hukum yang jelas. Sang fotografer merasa bukan membuat foto porno, melainkan sebuah karya seni yang menampilkan keindahan sosok wanita, seperti kasus Sophia Latjuba dan Inneke Koesherawaty. Ada juga kasus Dewi Syuga yang sangat menghebohkan itu. Ironisnya, tabloid-tabloid yang jelas-jelas mengutamakan erotisme (baca: pornografi), baik dari sampulnya sampai materi isinya, tidak pernah diganggu gugat. Bahkan sampai kini tetap saja berkibar dengan bebasnya. http://imajiplus.wordpress.com/about/nude-photography-seni-atau-pornografi/

TUGAS 2 ETIKA ANALISIS ARTIKEL POSPORNOGRAFI

Nama : Antonio Frian NPM : 2010620113 Kelas : K Dosen : Hendrikus Endar Suhendar, SS.,M.Hum.

Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung 2011

TUGAS 2 ETIKA ANALISIS ARTIKEL POSPORNOGRAFI

Nama : Ongky Wijaya NPM : 2010620103 Kelas : K Dosen : Hendrikus Endar Suhendar, SS.,M.Hum.

Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung 2011