Anda di halaman 1dari 15

Mengimani Peristiwa Isra Miraj dan Sanggahan Terhadap yang Mengingakarinya

Written by Administrator | Salah satu prinsip aqidah dalam Islam adalah mengimani peristiwa Isra dan Miraj yang dialami Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Isra adalah perjalanan yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama Malaikat Jibril pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Perjalanan sejauh ini ditempuh oleh beliau dengan mengendarai Buraq, sejenis hewan yang berwarna putih, panjang, ukurannya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada baghl (peranakan kuda dengan keledai). Dengan kekuasaan Allah taala, hewan ini mampu melangkahkan kakinya sejauh mata memandang. Adapun miraj adalah peristiwa naiknya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari bumi menuju Sidratul Muntaha, untuk kemudian berjumpa dengan Allah Yang Maha Tinggi dan menerima kewajiban shalat lima waktu sehari semalam. Sebagian orang beranggapan bahwa peristiwa Isra dan Miraj terjadi pada waktu yang berbeda, Isra pada satu malam tertentu, dan Miraj pada malam yang lain. Namun yang benar adalahperistiwa Isra dan Miraj ini terjadi pada satu malam yang sama. Demikian yang diungkapkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah. Keterangan beliau ini dikuatkan oleh Al-Imam Ibnu Katsirrahimahullah dengan mengatakan: Apa yang diungkapkan oleh beliau (Al-Baihaqi) ini adalah yang benar, tidak ada sedikitpun keraguan padanya. (Tafsir Ibnu Katsir). Banyak riwayat dari hadits yang menyebutkan tentang kisah perjalanan yang merupakan salah satu mujizat dan tanda kenabian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini. Masing-masing riwayat tersebut saling melengkapi satu dengan yang lain. Berikut ini, akan disebutkan dari riwayat Al-Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahihnya (hadits no. 162). Diriwayatkan dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Didatangkan kepadaku Buraq (dia adalah seekor binatang yang berwarna putih, panjang, ukurannya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada baghl (peranakan kuda dengan keledai), hewan ini mampu melangkahkan kakinya sejauh mata memandang). Akupun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, kemudian aku tambatkan hewan tersebut di sebuah tali (yang terdapat di pintu masjid Baitul Maqdis). Lalu aku memasuki masjid dan mengerjakan shalat dua rakaat. Setelah itu, aku keluar dan Jibril alaihissalam mendatangiku dengan membawa sebuah Saturday, 02 July 2011 09:38 |

bejana yang berisi khamr dan sebuah bejana yang berisi susu. Akupun memilih susu. Kata Jibril alaihissalam: Engkau telah memilih fithrah. Kemudian kami naik menuju langit, lalu Jibril meminta (kepada malaikat penjaga pintu langit) untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: Siapa engkau? Dia menjawab: Aku Jibril. Jibril ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Dia ditanya lagi: Apakah dia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit, dan akupun berjumpa dengan Adam, diapun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik menuju langit kedua, lalu Jibril alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: Siapa engkau? Dia menjawab: Aku Jibril. Jibril ditanya lagi: Siapa yangbersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Dia ditanya lagi: Apakah dia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan dua anak dari bibi[1], yaitu Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariyya shalawatullahi alaihima, mereka berduapun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik menuju langit ketiga, lalu Jibril alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: Siapa engkau? Dia menjawab: Aku Jibril. Jibril ditanya lagi: Siapa yangbersamamu? Jibril menjawab: Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dia ditanya lagi: Apakah dia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Yusuf shallallahu alaihi wasallam, dia adalah seorang yang dikaruniai setengah dari ketampanan, dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik menuju langit keempat, lalu Jibril alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: Siapa engkau? Dia menjawab: Aku Jibril. Jibril ditanya lagi: Siapa yangbersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Dia ditanya lagi: Apakah dia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Idris, dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah azza wajalla berfirman tentangnya:

Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. (Maryam: 57) Kemudian kami naik menuju langit kelima, lalu Jibril alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: Siapa engkau? Dia menjawab: Aku Jibril. Jibril ditanya lagi: Siapa yangbersamamu? Jibril menjawab: Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dia ditanya lagi: Apakah dia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Harun shallallahu alaihi wasallam, dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik menuju langit keenam, lalu Jibril alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: Siapa engkau? Dia menjawab: Aku Jibril. Jibril ditanya lagi:

Siapa yangbersamamu? Jibril menjawab: Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dia ditanya lagi: Apakah dia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Musa shallallahu alaihi wasallam, dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik menuju langit ketujuh, lalu Jibril alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: Siapa engkau? Dia menjawab: Aku Jibril. Jibril ditanya lagi: Siapa yangbersamamu? Jibril menjawab: Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dia ditanya lagi: Apakah dia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Ibrahim shallallahu alaihi wasallam sedang menyandarkan punggungnya di Al-Baitul Mamur, sebuah tempat yang setiap harinya ada 70.000 malaikat yangmemasukinya, dan para malaikat yang sudah memasukinya tadi tidak akan kembali lagi. Kemudian aku dibawa menuju Sidratul Muntaha[2], yang daunnya seperti telinga gajah dan buah-buahannya seperti guci yang besar. Tatkala ketetapan Allah datang menyelimutinya, berubahlah Sidratul Muntaha itu. Tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang mampu untuk menggambarkan keadaannya disebabkan sangat indahnya. Allah pun mewahyukan kepadaku dengan memerintahkan kepadaku shalat 50 waktu sehari semalam. Aku pun turun dan berjumpa dengan Musa shallallahu alaihi wasallam. Dia pun bertanya: Apayang diwajibkan Rabbmu kepada umatmu? Aku pun menjawab: Shalat 50 waktu. Musa berkata: Kembalilah kepada Rabbmu, mohonlah keringanan kepada-Nya karena umatmu tidak akan sanggup memenuhi kewajiban ini, sungguh aku telah menguji Bani Israil (ternyata mereka tidak sanggup). Aku pun kembali kepada Rabbku dan aku memohon: Wahai Rabbku, berikan keringanan kepada umatku. Maka Allah pun menguranginya sebanyak lima waktu. Kemudian aku kembali menjumpai Musa dan aku katakana kepadanya: Allah telah mengurangi sebanyak lima waktu. Namun Musa tetap mengatakan: Sesungguhnya umatmu belum mampu memenuhi kewajiban ini, kembalilah kepada Rabbmu dan mohonlah keringanan kepada-Nya. Terus menerus aku bolak-balik antara Rabbku tabaraka wataala dengan Musa alaihissalam sampai Allah menyatakan: Wahai Muhammad, kewajiban shalat itu sebanyak lima waktu sehari semalam, setiap shalat bernilai sepuluh (kebaikan), sehingga nilai keseluruhan dari lima waktu shalat adalah sebanyak 50 waktu shalat. Barangsiapa yang berniat untuk melakukan satu kebaikan namun dia belum mengamalkannya, maka akan dicatat untuknya satu kebaikan. Dan jika dia mengamalkannya, maka akan dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa yang berniat melakukan kejelekan namun belum mengerjakannya, maka tidak akan dicatat kejelekan untuknya sedikitpun, dan jika mengerjakan kejelekan itu, maka akan dicatat baginya satu kejelekan. Akupun turun dan berjumpa dengan Musa shallallahu alaihi wasallam dan aku kabarkan tentang apa yang telah aku alami. Maka Musa mengatakan: Kembalilah kepada Rabbmu, mohonlah kepada-Nya keringanan. Aku katakan kepadanya: Sungguh aku telah kembali kepada Rabbku sampai aku merasa malu kepada-Nya.

Isra dan Miraj dengan Ruh dan Jasad Beliau shallallahu alaihi wasallam
Sebagian kalangan yang lebih mengedepankan akal dan logikanya dalam memahami agama ini daripada nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah- berupaya untuk mengingkari terjadinya peristiwa IsraMiraj. Kalaupun benar peristiwa tersebut terjadi, maka itu hanya mimpi atau hanya ruh beliau saja, tidak mungkin dengan jasad fisik beliau. Menurut mereka, tidak masuk akal perjalanan sejauh itu hanya ditempuh selama satu malam. Sangat jauhnya jarak antara Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsha, kemudian ditambah jarak antara bumi dan langit, tentunya membutuhkan perjalanan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sehingga tidak mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bisa menempuhnya dengan jasad beliau. Sebuah benda yang paling keras sekalipun, kalau bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka benda tersebut bisa meleleh, apalagi jasad seorang manusia. Ini tidak masuk akal, kata mereka. Maka kita katakan: Benar bahwa peristiwa Isra Miraj itu tidak masuk akal, yakni akal yang berpenyakit, akalnya orang-orang yang di hatinya terdapat bibit penyimpangan dan kesesatan dari agama yang lurus ini. Sungguh akal yang sehat itu justru menerima dengan penuh ketundukan dan keyakinan setiap berita dalam Al-Quran maupun hadits. Akal yang sehat menyatakan bahwa Allah taala Maha Mampu atas segalanya. Kalau Allah berkehendak, Allah pun mampu untuk menciptakan kejadian luar biasa yang lebih menakjubkan daripada peristiwa Isra Miraj pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersebut. Ayat Al-Quran yang mengabadikan peristiwa besar ini, yaitu firman Allah taala:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Isra: 1) menunjukkan bahwa peristiwa tersebut adalah benar adanya dan dialami oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan ruh dan jasad beliau, bukan ruh saja atau mimpi saja. Berikut argumentasinya: 1. Kalimat tasbih ( ). Sebagaimana yang sudah dikenal di kalangan umat Islam, bahwa kalimat tasbih ini juga sering digunakan ketika melihat atau mendengar peristiwa besar dan menakjubkan. Kalau Isra dan juga Miraj ini dilakukan dalam mimpi beliau saja, maka ini bukanlah suatu peristiwa besar. Dalam mimpi, seorang manusia bisa saja mengalami kejadian aneh maupunperistiwa mustahil yang tidak akan mungkin terjadi di alam nyata ini.

2. Kalimat ( ), yang berarti hamba-Nya. Kalimat / hamba, bermakna sebuah ungkapan yang menunjukkan berkumpulnya antara ruh dan jasad, sebagaimana yang sudah dikenal dalam bahasa Arab. Adapun peristiwa Miraj, Allah subhanahu wataala telah abadikan dalam Al-Quran di awalawal surat An-Najm. Pada ayat ke-17:

Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (An-Najm: 17) juga merupakan argumentasi yang kuat yang menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi dan dialami oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan ruh dan jasad beliau. Hal ini ditunjukkan pada kata (yang berarti penglihatan, maksudnya penglihatan Nabi shallallahu alaihi wasallam), karena kata adalah sebuah ungkapan yang bermakna alat penglihatan dari dzat (jasad), bukan dari ruh. Argumen lain yang menunjukkan bahwa peristiwa Isra dan Miraj dialami oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan ruh dan jasad beliau adalah dalam ayat-Nya:

Dan Kami tidak menjadikan ruya[3] yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al-Quran. (AlIsra: 60) Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma menafsirkan makna ruya pada ayat di atas adalah pemandangan yang diperlihatkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa Isra ke Baitul Maqdis, adapun pohon kayu yang terkutuk adalah pohon Zaqqum sebagaimana dalam surat Ash-Shaffat ayat 62 sampai 65. (HR. Al-Bukhari, no. 3599). Sebagiamana ayat di atas, peristiwa yang dilihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini merupakan fitnah (ujian) bagi manusia, siapa yang membenarkannya dan siapa saja yang mendustakannya. Seandainya peristiwa seperti itu dialami dalam mimpi, maka tidak akan menjadi ujian bagi mereka. Bisa jadi semua orang -termasuk musyrikin Quraisy- akan percaya dan membenarkannya, karena -sebagaimana yang sudah disebutkan di atas- bahwa siapapun bisa saja bermimpi mengalami kejadian aneh atau peristiwa mustahil yang tidak akan mungkin terjadi di alam nyata ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Adhwa-ul Bayan). Sebagian pihak yang tidak mengimani bahwa peristiwa Isra Miraj dengan ruh dan jasad Nabi shallallahu alaihi wasallam berdalil dengan adanya salah satu riwayat dalam Shahih Muslim yangmenyebutkan tentang peristiwa Isra Miraj beliau, dan disebutkan di dalamnya:

Dan beliau sedang tidur di Masjidil Haram. Kata mereka, riwayat ini menunjukkan bahwa beliau mengalami peristiwa ini dalam mimpi saja karena ketika itu beliau sedang tidur. Kalau kita mengkaji dengan seksama kitab Syarh (penjelasan) Shahih Muslim yang ditulis oleh Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullah, maka kita akan jumpai keterangan beliau dengan menukil perkataan ulama sebelumnya tentang riwayat tersebut. Dan setelah dipelajari, maka kesimpulan dari yang disebutkan oleh beliau adalah di antaranya: 1. Riwayat tersebut telah diingkari oleh para ulama[4].

2. Para rawi hadits ini dari kalangan huffazh mutqinin dan para imam yang terkenal tidak ada satu pun yang menyebutkan riwayat dengan lafazh di atas. 3. Bisa jadi tidurnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika itu adalah saat datangnya malaikat kepada beliau. Adapun setelah itu, beliau bangun dan kemudian mengalami peristiwa yangsangat menakjubkan tersebut. Konteks hadits yang menyebutkan kisah ini tidak menunjukkan bahwa beliau ketika itu sedang tidur. 4. Yang benar adalah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mengalami peristiwa Isra dengan jasad beliau. Wallahu alam. Benarkah Isra Miraj pada 27 Rajab? Nantikan tulisan berikutnya, Insya Allah.

[1] Maksudnya adalah ibu salah seorang di antara keduanya adalah bibi yang lain, demikian sebaliknya, yakni ibu Isa merupakan bibi Yahya, dan ibu Yahya adalah bibi Isa alaihimush shalatu wassalam. [2] Secara bahasa Sidratul Muntaha artinya pohon penghabisan. Ibnu Abbas dan para mufassirin menerangkan bahwa dinamakan pohon tersebut dengan Sidratul Muntaha karena pengetahuan malaikat berhenti sampai di tempat ini, tidak ada seorangpun yang sanggup mencapainya kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Disebutkan dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu bahwa dinamakannya Sidratul Muntaha karena dia adalah tempat berhentinya segala sesuatu yang turun dari atasnya maupun yang naik dari arah bawahnya, berupa urusan Allah taala (wahyu dan ketetapan-Nya). Wallahu alam. (Syarh Shahih Muslim). [3] Kata ruya sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan mimpi. Namun dalam ayat ini, ruya bermakna pemandangan di alam nyata, bukan di alam mimpi sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat dari Abdullah bin Abbas setelah ini.

[4] Hal ini disebabkan karena kesalahan salah satu rawi dalam meriwayatkan hadits atau mungkin ada sebab lain wallahu alam.

Benarkah Isra Miraj pada 27 Rajab?


Saturday, 02 July 2011 09:41 | Written by Administrator |

Sebagian besar kaum muslimin, terkhusus di negeri ini meyakini bahwa peristiwa Isra Miraj jatuh pada malam 27 Rajab. Biasanya mereka isi malam itu dengan qiyamullail kemudian puasa pada siang harinya. Berbagai perayaan pun diadakan untuk memperingati peristiwa yang menjadi salah satu mujizat Nabi shallallahu alaihi wasallam tersebut. Benarkah Isra dan Miraj ini terjadi pada malam 27 Rajab? Para ulama sejak dahulu sudah membahas dan menerangkan permasalahan ini dalam kitab-kitab mereka. Dan kesimpulan dari keterangan mereka adalah: Bahwa tidak ada satupun dalil yang shahih dan sharih (jelas) yang menunjukkan kapan waktu terjadinya Isra dan Miraj. Para sejarawan sendiri berbeda pendapat dalam menentukan kapan waktu terjadinya peristiwa itu. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyatakan ada lebih dari sepuluh pendapat yang berbeda-beda dalam menentukan kapan waktu terjadinya Isra dan Miraj, di antaranya ada yang menyebutkan pada bulan Ramadhan, ada yang menyebutkan pada bulan Syawwal, bulan Rajab, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, dan berbagai pendapat yang lain. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: Diriwayatkan dengan sanad yang tidak shahih dari AlQasim bin Muhammad bahwa Isra Nabi shallallahu alaihi wasallam terjadi pada 27 Rajab. Riwayat ini diingkari oleh Ibrahim Al-Harbi dan para ulama yang lain. Al-Allamah Abu Syamah rahimahullah dalam kitabnya, Al-Baits ala Inkaril Bida wal Hawaditsmenyebutkan bahwa terjadinya Isra bukan pada bulan Rajab. Kemudian beliau juga mengatakan: Sebagian tukang kisah menyebutkan bahwa Isra dan Miraj terjadi pada bulan Rajab, perkataan seperti ini menurut ulama ahlul jarh wat tadil adalah sebuah kedustaan yang nyata. Semakna dengan yang dikatakan oleh Abu Syamah di atas adalah keterangan Ibnu Dihyah, sebagaimana yang dinukilkan oleh Ibnu Hajar rahimahumullahu jamian. Sekarang, mari kita menengok bagaimana penjelasan Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullah seorang ulama besar madzhab Syafii dan sering dijadikan rujukan oleh kaum muslimin

termasuk di Indonesia- terkait permasalahan ini. Dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim, beliau berkata: Peristiwa Isra ini, sebagian kecil berpendapat itu terjadi 15 bulan setelah diutusnya beliau shallallahu alaihi wasallam. Al-Harbi mengatakan bahwa itu terjadi pada malam 27 bulan Rabiul Akhir, satu tahun sebelum hijrah. Az-Zuhri mengatakan bahwa itu terjadi 5 tahun setelah diutusnya beliau shallallahu alaihi wasallam. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Nabi mengalami peristiwa Isra ketika agama Islam sudah tersebar di kota Makkah dan beberapa qabilah. Beliau tidak memastikan bahwa Isra dan Miraj terjadi pada malam 27 Rajab, beliau hanya sebatas menukilkan pendapat sebagian ulama sebagaimana telah disebutkan. Sebagian ulama memperkirakan bahwa peristiwa Isra dan Miraj ini terjadi tiga atau lima tahun sebelum hijrah. Karena setelah mendapatkan wahyu perintah untuk mendirikan shalat lima waktu pada peristiwa tersebut, beliau shallallahu alaihi wasallam masih sempat menunaikannya beberapa waktu bersama Khadijah radhiyallahu anha, istri beliau. Dan tidak diperselisihkan bahwa Khadijah radhiyallahu anha meninggal tiga atau lima tahun sebelum hijrah. Wallahu alam. Berdasarkan keterangan para ulama di atas, maka kita tidak boleh menetapkan, memastikan, ataupun meyakini bahwa peristiwa Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab. Hanya Allah subhanahu wataalasajalah yang mengetahui kapan peristiwa tersebut terjadi, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai hamba-Nya yang menjalaninya. Sementara kita tidak mendapatkan satupun ayat al-Quran maupun hadits yang memberitakan kapan peristiwa tersebut terjadi.

Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=593 atau http://www.mediasalaf.com/aqidah/benarkah-isra%E2%80%99-mi%E2%80%99raj-pada27-rajab/

***

Hukum Merayakan Peringatan Isra Miraj


Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah seorang alamin (yang terpercaya) dan memiliki sifat amanah. Dengan sifat inilah, beliau telah menyampaikan seluruh risalah dan syariat

Allahsubhanahu wataala kepada umat ini dengan lengkap dan sempurna. Tidak ada satu kebaikan pun, kecuali pasti telah beliau ajarkan kepada umatnya. Dan tidak ada satu kejelekan pun, kecuali pasti telah beliau peringatkan dan beliau larang umatnya untuk mengerjakannya. Kalau seandainya peringatan Isra Miraj itu bagian dari risalah dan syariat Allah subhanahu wataala, pasti beliau telah ajarkan kepada umatnya. Kalau seandainya peringatan Isra Miraj ini amalan yang baik, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam beserta para shahabatnya adalah orang-orang pertama yang mengadakan acara tersebut. Demikian pula para ulama generasi berikutnya yang mengikuti dan meneladani mereka, semuanya akan mengadakan perayaan-perayaan khusus untuk memperingati Isra Miraj Nabi Besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sehingga acara peringatan Isra Miraj, dalam bentuk apapun acara tersebut dikemas, merupakan amalan bidah, sebuah kemungkaran, dan perbuatan maksiat karena: 1. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri tidak pernah merayakannya atau memerintahkan kepada umatnya untuk merayakannya.

Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (syariat) kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Muslim) 2. Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, dan seluruh shahabat radhiyallahu anhum tidak pernah pula merayakannya. Demikian pula para tabiin, seperti Said bin Al-Musayyib, Hasan AlBashri, dan yang lainnya rahimahumullah. 3. Para ulama yang datang setelah mereka, baik itu imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, Ahmad), Al-Bukhari, Muslim, An-Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan yang lainnya rahimahumullah, hingga para ulama zaman sekarang ini. Mereka semua tidak pernah merayakannya, apalagi menganjurkan dan mengajak kaum muslimin untuk mengadakan peringatan itu. Tidak didapati satu kalimat pun dalam kitab-kitab mereka yang menunjukkan disyariatkannya peringatan Isra Miraj. 4. Kenyataan yang terjadi jika perayaan ini benar-benar diadakan, yaitu munculnya berbagai kemungkaran, di antaranya: a. Terjadinya ikhtilath, yaitu bercampurbaurnya antara laki-laki dan perempuan.

b. Dilantunkannya shalawat-shalawat yang bidah dan bahkan sebagiannya mengandung kesyirikan. c. d. Didendangkannya lagu-lagu dan alat musik yang jelas haram hukumnya. Mengganggu kaum muslimin. Di antara bentuk gangguan itu adalah:

o Terhalanginya pemakai jalan atau minimalnya mereka kesulitan ketika hendak melewati jalan di sekitar lokasi acara, karena banyaknya orang di sana. o Suara musik dan lagu yang sangat keras pada acara terebut, juga mengganggu tetangga dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi acara. Orang yang telah lanjut usia, orang sakit, maupun bayi-bayi dan anak-anak kecil yang semestinya membutuhkan ketenangan, mereka terganggu dengan adanya suara musik yang sangat keras tadi. Tidak semestinya beberapa gangguan tadi dianggap sepele dan ringan. Kecil maupun besar, setiap perbuatan yang bisa mengganggu dan menyakiti kaum muslimin, maka pelakunya terkenai ancaman:

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Al-Ahzab: 58) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Tidak akan masuk al-jannah orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya. (HR. Muslim) e. Tidak sedikit kaum muslimin yang melalaikan shalat berjamaah di masjid, bahkan yang lebih parah kalau sampai meninggalkan shalat fardhu. Ketika acara dimulai bada shalat Isya misalnya, sejak sore banyak yang sudah stand by di tempat acara. Mulai dari penjual-penjual dengan aneka barang dagangannya, pengunjung acara, sampai panitia acara pun, mereka lebih memilih berada di pos-pos mereka daripada masjid ketika dikumandangkannya adzan maghrib dan isya. Wal iyadzubillah. Semestinya umat ini dibimbing untuk kembali kepada agamanya. Mereka sangat antusias menyambut dan menghadiri acara peringatan Isra Miraj, namun mereka belum memahami hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Sebuah peristiwa dan mujizat besar yang saat itulah kewajiban shalat lima waktu ini diberlakukan kepada umat Islam. Suatu musibah jika salah satu rukun Islam ini dilalaikan hanya karena ingin menyukseskan acara yang sudah pasti menelan biaya yang tidak sedikit tersebut. Kalau masih ada yang beranggapan bahwa perayaan untuk memperingati Isra Miraj itu adalah baik, maka katakan sebagaimana kata Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah: } :{

Barangsiapa yang mengadaka-adakan kebidahan dalam agama Islam ini, dan dia memandang itu baik, maka sungguh dia telah menyatakan bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam telah berkhianat dalam menyampaikan risalah, karena Allah telah berfirman:

(Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian), maka segala sesuatu yang pada hari (ketika ayat ini diturunkan) itu bukan bagian dari agama, maka pada hari ini pun juga bukan bagian dari agama. Kita memohon kepada Allah subhanahu wataala hidayah untuk senantiasa berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, sampai akhir hayat nanti. Amin Ya Rabbal Alamin.