Anda di halaman 1dari 5

KONSEP PAPER USULAN PENELITIAN OPSI Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penanggulangan IMS, HIV dan AIDS bagi

Pekerja Seks Perempuan melalui Intervensi tingkat komunitas A. Latar Belakang Masalah Setelah pemakaian napza suntik, penularan melalui seksual merupakan penyebab utama infeksi HIV di Indonesia. Menurut laporan KPAN paa Juni 2009, upaya penanggulangan HIV dan AIDS telah dilaksanakan di lokasi dan komunitas dengan menjangkau 27.180 WPS dan 403.030 pelanggan WPS (SRAN penanggulangan HIV&AIDS, 2010-2014). Beberapa temuan kunci dari hasil Surveilans Terpadu Biologi Perilaku (STBP 2007) menyebutkan bahwa pemakaian kondom secara konsisten pada seks komersial tahun 2007 masih rendah dengan peningkatan yang sangat lambat selama periode 2002-2007. Prevalensi HIV pada pekerja seks langsung di dua kota (Jakarta dan Jawa Tengah) menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan yaitu 10.2% untuk Jakarta dan 6.6% untuk Jawa Tengah. Demikian pula untuk PS tidak langsung yaitu 5.7% untuk Jakarta dan 1.6% untuk Jawa Tengah. Sebagian besar pekerja seks perempuan yang dilaporkan tersebut pada umumnya bekerja pada setting yang cukup beragam yakni lokalisasi, resosialisasi, lokasi, panti pijat, bar, karaoke, pub dan jalanan. Pengalaman dalam intervensi sebelumnya menunjukkan, ada perbedaan mencolok dalam implementasi di lokasi menetap (lokalisasi) dan jalanan. Pada lokasi menetap seperti Suko di Malang maupun Batu 24 di Tanjung Pinang, berhasil diciptakan lingkungan yang mendukung upaya penanggulangan HIV dan AIDS dengan cara pelibatan seluruh elemen dan lapisan sosial di dalam komunitas setempat. Sebaliknya, implementasi program pada wilayah yang tidak memiliki lokasi menetap menghadapi beberapa hambatan seperti sulitnya mengorganisir komunitas pada tingkat lokal (pemangku kepentingan lokal), sulitnya dilakukan pemantauan pada pekerja seks (jumlah, keberadaan, kesehatan), serta tidak ada jaminan keamanan, sehingga aturan main dan penataan komunitas tingkat lokal tidak mudah dilakukan. Dengan demikian, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa intervensi pada komunitas lokal, yakni dengan melibatkan pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat setempat, memiliki kekuatan di dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi upaya penanggulangan IMS, HIV dan AIDS. Hingga pada akhirnya transformasi sosial pada tingkat komunitas tersebut mampu mempengaruhi perubahan perilaku pada tingkat individu. Pendekatan ini diyakini mampu memberikan daya ungkit yang lebih tinggi dalam intervensi perubahan perilaku. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan upaya penanggulangan IMS, HIV dan AIDS bagi pekerja seks perempuan dalam konteks intervensi tingkat komunitas perlu diketahui untuk memperkuat program, sehingga penerapan pendekatan ini mendapatkan dukungan formal serta diperluas di wilayah lain.

Identifikasi dan pemahaman lebih mendalam tentang elemen-elemen kunci dalam intervensi tingkat komunitas akan diperoleh melalui penelitian sehingga strategi implementasi yang tepat dapat direncanakan bagi pelaksanaan selanjutnya. B. Hipotesis/Pertanyaan Penelitian Hipotesis Keterlibatan dan rasa memiliki program penanggulangan IMS, HIV dan AIDS oleh komunitas (termasuk pemangku kepentingan) menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan. Pelibatan dan kepemilikan program oleh komunitas (termasuk pemangku kepentingan) dimungkinkan karena adanya: o Pengorganisasian di dalam lokasi dengan tugas pokok dan fungsi yang jelas o Kepemimpinan yang kuat o Peraturan lokal yang mengikat o Dukungan dari anggota komunitas o Dukungan dari pemerintah setempat o Sistem monitoring kegiatan yang partisipatoris o Lokasi yang menetap Berdasarkan uraian tersebut pertanyaan yang akan dijawab adalah: 1) faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan penanggulangan IMS, HIV dan AIDS bagi pekerja seks perempuan dalam konteks intervensi tingkat komunitas; 2) melihat perbedaan keberadaan faktor-faktor tersebut pada dua lokasi yang berbeda yakni lokalisasi dan jalanan. Pemahaman atau hal baru yang didapat Dengan dilakukannya penelitian ini maka akan diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penanggulangan IMS, HIV dan AIDS yang berbasiskan pada Hak Asasi Manusia bagi pekerja seks perempuan dalam konteks intervensi tingkat komunitas. Argumentasi terhadap pemecahan masalah program: Dengan hasil penelitian yang didapat maka akan membantu pengambil keputusan, terutama di tingkat daerah dalam memilih strategi yang tepat untuk menangani penanggulangan IMS, HIV dan AIDS bagi pekerja seks perempuan. C. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penanggulangan IMS, HIV dan AIDS bagi pekerja seks perempuan dalam konteks intervensi tingkat komunitas.

D. Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para pengambil keputusan dan pelaksana program di lapangan untuk memilih pendekatan yang tepat dan bahan advokasi bagi upaya penanggulangan IMS, HIV dan AIDS bagi pekerja seks perempuan.

E. Rasionalisasi Pengalaman menunjukkan bahwa intervensi pada komunitas lokal, yakni dengan melibatkan pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat setempat, memiliki kekuatan di dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi upaya penanggulangan IMS, HIV dan AIDS. Hingga pada akhirnya transformasi sosial pada tingkat komunitas tersebut mampu mempengaruhi perubahan perilaku pada tingkat individu. Pendekatan ini diyakini mampu memberikan daya ungkit yang lebih tinggi dalam intervensi perubahan perilaku. Pelibatan dan kepemilikan program oleh komunitas (termasuk pemangku kepentingan) tersebut dimungkinkan karena adanya: o Pengorganisasian di dalam lokasi dengan tugas pokok dan fungsi yang jelas o Kepemimpinan yang kuat o Peraturan lokal yang mengikat o Dukungan dari anggota komunitas o Dukungan dari pemerintah setempat o Sistem monitoring kegiatan yang partisipatoris o Lokasi yang menetap Intervensi pada tingkat komunitas dengan ciri-ciri tersebut dapat dikategorikan sebagai intervensi struktural. Dimana intervensi dilakukan dengan memodifikasi struktur sosial, ekonomi, politik dan sistem. Intervensi semacam ini dapat mempengaruhi peraturan dan layanan kesehatan. Di samping itu, intervensi struktural dapat dilakukan pula dengan cara memodifikasi lingkungan fisik untuk mempengaruhi upaya pengurangan perilaku berisiko. Dengan demikian intervensi struktural lebih mengarah pada upaya mengubah lingkungan daripada individu semata (Gupta, Geeta Rao., dkk, 2008). Mengapa intervensi structural dibutuhkan? Diketahui, cukup banyak intervensi perilaku yang telah berhasil merekrut individu dari lingkungan dan memasukkannya dalam intervensi tingkat individu maupun kelompok. Akan tetapi patut diingat bahwa seusai menjalani intervensi tersebut, maka individu akan kembali ke lingkungannya. Pada saat itu sangat mungkin terjadi, individu yang telah berhasil mengubah diri (mengurangi perilaku berisikonya) justru mendapatkan perlawanan dari lingkungannya. Pada titik inilah intervensi struktural dibutuhkan untuk membangun lingkungan yang mendukung upaya mengurangi risiko penularan (Sweat, M. and J. Denison, 1995) F. Metodologi

1.

Lokasi Penelitian a. Jakarta untuk pekerja seks di jalanan b. Semarang untuk pekerja seks di lokalisasi sunan kuning

2.

Metode Penelitian a. Penelitian Kuantitatif Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan statistik, dengan menggunakan CrossTabulations. Cross-tabulation adalah sebuah teknik visual yang memungkinkan peneliti menguji relasi antar variabel. b. Penelitian Kualitatif Penelitian ini menggunakan metode berikut dibawah ini, sehingga peneliti menemukan sumber informasi yang lebih lengkap dari sisi kualitatif, metode yang digunakan : 1. Observasi lapangan 2. kelompok diskusi terarah

3.

Metode Pengumpulan Data a. Survei melalui wawancara kepada mami, mucikari dan manager di lokasi, survey dilakukan 150 orang di semarang dan 150 orang di Jakarta. b. Diskusi Kelompok Terarah kepada pemangku kepentingan tingkat wilayah di dua lokasi tersebut. Untuk kegiatan ini dipilih antara 6-12 orang informan

4.

Metode Analisis Data a. Langkah-langkah analisis data pada penelitian kuantitatif b. Langkah-langkah analisis data pada penelitian kualitatif

G. Pelaksanaan dan Etika 1. Persiapan dan pembentukan tim Pada kegiatan ini akan dilakukan pelatihan untuk tim yang bekerja di Jakarta dan Semarang. Sebelum diadakan pengambilan data di lapangan akan diselenggarakan workshop tokoh kunci di lokasi dimana penelitian akan dilakukan 2. Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan di Jakarta dan Semarang 3. Analisi data 4. Penyusunan laporan Etika penilitian: Data diambil melalui wawancara dan FGD. Kesediaan responden dilakukan persetujuan tindakan (informed concent). Di tiap lokasi akan dipilih seorang tokoh kunci yang akan menjadi penasehat dalam pelaksanaan kegiatan penelitian untuk menghindara stigmatisasi, diskriminasi dan obyektifitas pada saat penelitian berlangsung.

H. Daftar Pustaka Gupta, Gaeta Rao dkk, Struktural approaches to HIV prevention, 2008 IBBS 2007, Departemen Kesehatan dan Badan Pusat Statistik, 2008 SRAN 2010-2014, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, 2010 Structural Approaches to HIV Prevention Sweat, M. and J. Denison, Reducing HIV incidence in developing countries with structural and environmental interventions. AIDS, 1995. 9(Suppl. A): p. S251-257.

Susunan Tim Peneliti Peneliti Utama Asisten Peneliti : Ferraldo Saragi (OPSI) : 1. Henri Puteranto (FHI) 2. Susi Nurti Feriana (OPSI) Tim Lapangan : 1. Pingkan Z. Hardiman (OPSI) 2. Liana (OPSI DKI) 3. Titi Demiati (OPSI Jateng) 4. Sri Wahyuni (OPSI Jateng) Konsultan : 1. Prof. Irwanto, Phd. (Peneliti UNIKA Atmajaya) 2. Ciptasari Prabawanti (FHI)