Anda di halaman 1dari 8

1

PERBEDAAN KADAR SERUM MALONDIALDEHYDE PADA PERSALINAN PRETERM DIBANDINGKAN DENGAN KEHAMILAN NORMAL PADA USIA KEHAMILAN DIATAS 20 MINGGU SAMPAI DENGAN KURANG DAR 37 MINGGU

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Kematian perinatal merupakan salah satu tolok ukur kemampuan suatu negara dalam upaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan menyeluruh. Salah satu penyebab tingginya angka kematian perinatal atau sekitar 70% disebabkan oleh persalinan preterm (Manuaba, 2007). Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi antara umur kehamilan 20 minggu sampai dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (WHO, 2009). Angka kejadian persalinan preterm berbeda pada setiap negara. Di negara berkembang angka kejadiannya masih jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju. Di Eropa,angkanya berkisar 5-11%, USA 11,9%, Australia sekitar 7%. Di India sekitar 30%, Afrika Selatan sekitar 15%, Malaysia 10%, di Indonesia angka kejadian persalinan preterm nasional belum ada, namun angka kejadian BBLR dapat mencerminkan angka kejadian persalinan preterm secara kasar. Angka kejadian BBLR nasional rumah sakit adalah 27,9% (Widjayanegara, 2009).

Berdasarkan data persalinan yang tercatat di bagian SMF Obstetri Ginekologi Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar terdapat sebanyak 852 kasus persalinan preterm (9,33%) terhitung sejak tahun 2008 hingga bulan Oktober tahun 2011. Bayi yang lahir preterm sering mendapat risiko yang berkaitan dengan imaturitas sistem organnya. Hal ini dapat mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang. Selain itu perawatan bayi preterm juga membutuhkan teknologi kedokteran canggih dan mahal. Menyadari penyulit - penyulit yang bisa terjadi, tingginya biaya perawatan intensif bayi baru lahir dan pengelolaan penyulit jangka panjang pada bayi yang lahir preterm tersebut, maka tindakan pencegahan sebelum persalinan terjadi akan memberikan hasil yang lebih bermanfaat dan lebih menghemat biaya dibanding dengan apabila telah terjadi persalinan. Oleh karena itu, strategi pengelolaan untuk mencegah persalinan preterm tersebut harus didasari oleh suatu pemahaman tentang penyebab terjadinya proses persalinan preterm yang lebih spesifik, sehingga bisa dikembangkan upaya-upaya pencegahan dan pengelolaan yang lebih rasional. Pada sebagian besar kasus, penyebab persalinan preterm tidak diketahui secara pasti. Namun diduga penyebab dari persalinan preterm bersifat multifaktorial. Kejadian persalinan preterm secara garis besar disebabkan sepertiganya oleh karena indikasi medik dan obstetrik (hipertensi dalam kehamilan, plasenta previa, solusio plasenta) dan duapertiga persalinan preterm terjadi secara spontan yang belum jelas diketahui penyebabnya. Sampai saat ini pemicu awal persalinan preterm spontan masih belum bisa dijelaskan secara pasti. Berdasarkan studi epidemiologi dan patofisiologi, terdapat empat jalur utama yang dapat menyebabkan timbulnya persalinan preterm yaitu : 1). aktivasi dari

sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal baik pada ibu maupun janin akibat stress pada ibu atau janin, 2). infeksi dan inflamasi, 3). perdarahan desidua, dan 4). perengangan uterus patologik (Esplin, 2005). Beberapa studi yang lain juga menambahkan faktor kelainan pada uterus atau servix dan faktor fetus sebagai penyebab timbulnya persalinan preterm (Krisnadi dkk, 2009). Walaupun masih jarang, adanya jalur oksidatif pada persalinan preterm mulai diteliti, dimana terdapat hubungan antara persalinan preterm dengan radikal bebas, stres oksidatif, dan kadar antioksidan endogen. Radikal bebas merupakan senyawa yang tidak stabil dan sangat reaktif. Reactive Oxygen Species (ROS) adalah salah satu dari radikal bebas. ROS adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbit luarnya. Adanya elektron yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari pasangan, dengan cara menyerang dan mengikat elektron molekul yang berada disekitarnya. Terdapat tiga macam ROS, yaitu superoksid (O2-), hydrogen peroxide (H2O2), dan hydroxyl (OH-). ROS menggunakan oksigen sebagai sumber energi untuk membentuk sistem pertahanan. Pada organisme yang sehat, sel memiliki mekanisme proteksi untuk melindungi diri dari kerusakan yang disebabkan ROS (Jauniaux, dkk. 2004). Adanya gangguan pada keseimbangan ini akan menyebabkan timbulnya suatu keadaan yang disebut stres oksidatif, yaitu ketidakseimbangan antara prooksidan (free radical) dan antioksidan (Eberhardt, 2001; Agarwal dkk, 2005).

Antioksidan merupakan sistem pertahanan untuk melindungi diri dari ancaman radikal bebas. Mekanisme sistem pertahanan tersebut terdiri atas enzymatik dan non-enzymatik. Pada sistem pertahanan enzymatik, glutathione peroxidase (GSH-Px), catalase (CAT), dan superoxide dismutase (SOD) memainkan peranan yang utama. Disisi lain, sel dan plasma memiliki nonenzymatik free radikal scavengers seperti asam askorbat, alpha-tokopherol, dan kelompok sulfhydryl (Aydan Biri dkk, 2006). Berdasarkan referensi, beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari hubungan antara antioksidan, stres oksidatif, dan persalinan preterm. Diantaranya meneliti H2O2 sebagai ROS yang dapat memicu kontraksi rahim pada persalinan preterm. Penelitian oleh Cherouny,dkk (1989), menyebutkan pemberian ROS berupa H2O2 dapat meningkatkan kontraksi uterus pada tikus akibat meningkatnya produksi prostaglandin, penelitian oleh Warren, dkk (2005) menyebutkan bahwa H2O2 dapat menyebabkan kontraksi miometrium pada ibu hamil dengan meningkatkan Ca2+ influx. Dewasa ini banyak penelitian yang mengkaitkan terbentuknya ROS dengan kejadian persalinan preterm melalui suatu mekanisme yang mempengaruhi fungsi dari Pompa ion kalsium yang dapat memicu terjadinya kontraksi uterus sehingga pada akhirnya menyebabkan terjadinya persalinan preterm (Juniaux,et al 2006). Penelitian lain pula menyebutkan, dalam kondisi patologis sejumlah besar ROS yang terbentuk akan merusak membran sel yang banyak mengandung asam lemak tidak jenuh (PUFA) menjadi lipid peroksidasi yang tidak stabil dan reaktif. Lipid peroksidasi menyebabkan

kerusakan membran sel secara langsung dan tidak langsung. Efek secara langsung yaitu menyebabkan gangguan pada fungsi membran sel sehingga dapat mempengaruhi perubahan kandungan cairan (fluiditas) membran dan mobilisasi enzim-enzim pada membran. Sebagai tambahan terhadap rusaknya fungsi membran sebagai barier tersebut, lipid peroksidasi juga mengakibatkan hilangnya homeostasis ion berupa gangguan kompartemen dan kekacauan ion utamanya yaitu ion Ca2+ sehingga dapat mempengaruhi fungsi sel otot (Warren dkk, 2005 ; Eberhardt, 2001 ; Aruoma, 1999). Sedangkan efek secara tidak langsung melalui produk-produk metabolit dari lipid peroksidasi (Eberhardt, 2001). Malondialdehyde (MDA) adalah senyawa dialdehida yang merupakan produk akhir peroksidasi lipid dalam tubuh. MDA menunjukkan produk oksidasi asam lemak tidak jenuh oleh radikal bebas. Oleh sebab itu, konsentrasi MDA yang tinggi menunjukkan adanya proses oksidasi dalam membran sel (Winarsi, 2007). Saat ini salah satu pengukuran yang digunakan dan dianggap sebagai baku emas kadar peroksidasi lipid adalah pengukuran malondialdehid (MDA). Pada penelitian yang dilakukan oleh Sarkar dkk (2006), ditemukan adanya peningkatan kadar MDA pada wanita yang akan mengalami persalinan preterm (451 + 184) dibandingkan dengan kehamilan preterm normal dengan umur kehamilan sama (291 + 97) (Sarkar dkk, 2006). Penelitian lebih lanjut tentang perbedaan kadar MDA pada persalinan preterm masih sangat jarang. Di RSUP Sanglah pun belum pernah dilakukan pemeriksaan mengenai kadar MDA pada wanita yang akan mengalami persalinan

preterm dibandingkan dengan kehamilan preterm normal. Mengingat MDA merupakan marker lipid peroksidasi in vivo yang baik, baik pada manusia maupun pada binatang, yang secara signifikan akurat dan stabil, maka peneliti berasumsi bahwa sangat penting dilakukan penelitian kadar MDA pada persalinan preterm.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas, dapat di rumuskan suatu masalah

penelitian sebagai berikut : Apakah terdapat perbadaan kadar malondialdehid (MDA) pada persalinan preterm dibandingkan dengan kehamilan normal pada usia kehamilan di atas 20 minggu sampai dengan kurang dari 37 minggu ?

1.3

Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum Untuk mengetahui perbedaan malondialdehid (MDA) pada

persalinan preterm dibandingkan dengan kehamilan normal pada usia kehamilan diatas 20 minggu sampai dengan kurang dari 37 minggu. 1.3.2 Tujuan khusus 1. preterm. Untuk mengetahui kadar MDA pada persalinan

2.

Untuk mengetahui kadar MDA pada kehamilan 20 minggu sampai dengan kurang dari 37

normal di atas minggu. 3.

Untuk mengetahui perbandingan kadar MDA

persalinan preterm dibandingkan dengan kehamilan normal pada usia kehamilan di atas 20 minggu sampai dengan kurang dari 37 minggu.

1.4

Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Akademis 1. Untuk memberikan sumbangan terhadap ilmu

pengetahuan pengaruh stres oksidatif terutama peroksidasi lipid terhadap kejadian persalinan preterm. 2. Sebagai data dasar untuk dilakukannya penelitian

lebih lanjut mengenai teori etiopatogenesis pada persalinan preterm. 1.4.2 Manfaat Praktis Apabila terbukti terdapat peningkatan kadar MDA pada persalinan preterm dibandingkan dengan kehamilan normal pada usia kehamilan di atas 20 minggu sampai kurang dari 37 minggu, maka pemeriksaan kadar MDA dapat digunakan sebagai sebagai salah satu prediktor terjadinya persalinan preterm.