Anda di halaman 1dari 17

Badaruddin Amir membuat dokumen. KUCING Cerpen Badaruddin Amir Tuh, Mas Jono datang, Pak !

teriak anak saya Nita ketika melihat Mas Jono sudah datang dengan gerobaknya, terapung-apung di atas jalan yang berlubang menuju ke rumah kami. Mas Jono langganan kami ngebakso sore-sore. Pada jam tiga seperti biasanya kami memang sudah menunggu kedatangannya sambil duduk-duduk di teras. Nita dengan mangkuk kosong di tangan dan saya dengan koran yang belum sempat kubaca di kantor. Sedang Nadia dan ibunya akan muncul setelah bunyi teng-teng sudah berdentang dari jauh. Itulah tanda kedatangan Mas Jono. Biasanya kalau Mas Jono sudah datang maka yang pertama digodanya adalah Nita. Neng mau bakso ? kata Mas Jono sambil tersenyum. Dia selalu tersenyum pada Nita. Dan Nita yang lucu, menyukai gigi tonggos Mas Jono yang selalu menonjol bila tersenyum. Katanya seperti gigi kucing. Saya tahu persepsinya sangat keliru karena tak sedikitpun ada kemiripan antara gigi tonggos Mas Jono dengan gigi kucing. Tapi itulah keluguan anak-anak, dunia yang selalu kaya fantasi. Dan anak saya memang menyukai kucing. Dia mempunyai seekor kucing kesayangan berbulu putih. Namanya Nella. Nama itu adalah pemberiannya sendiri. Ketika kutanya mengapa namanya bukan si Manis, Nita mengatakan bahwa nama itu sudah terlalu umum. Tentu saja maksudnya sudah klise, dan ia mau nama yang manis untuk kucingnya, meski tak perlu bernama si Manis. Neng Manis mau bakso ya ? goda Mas Jono. Bapak saja juga, saya juga. Semua dua mangkok, Mas ! teriak Nita sambil melompat-lompat kegirangan menunggu pesanannya. Dan kalau Mas Jono sudah meracik pesanan kami dan bunyi sendok terdengar berdenting, Nadia kakaknya yang sudah kelas dua SMP itu segera melompat dari meja belajarnya dan berteriak dari dalam rumah, Saya juga, Mas. Ibu juga ! Begitulah kami akrab dengan bakso bikinan Mas Jono. Bukan kami saja yang menyukai bakso bikinan Mas Jono. Semua orang menyukainya. Kami sekampung sudah mengenal kegurihannya.karena itu banyak yang menjadi langganan tetapnya. Ada aroma khas pada bakso Mas Jono yang tak dimiliki oleh penjual bakso lain yang mencoba menyainginya. Bumbu-bumbu dan saus hasil racikannya rasanya selalu pas di lidah. Lebih dari itu, Mas Jono seperti tahu saja selera semua langganannya. Tidak perlu disampaikan bahwa Nita tidak menyukai lombok, Nadia dan Ibunya suka saus tomat, dan saya suka yang banyak kecapnya. Di kantor tempat saya bekerja juga ada kantin yang menyediakan bakso. Tapi saya tidak pernah ngebakso di sana. Saya lebih suka duduk-duduk di teras menunggu gerobak bakso Mas Jono terapung-apung dari jauh sambil menghabiskan berita-berita koran pagi yang baru sempat terbaca sore hari. Jika Mas Jono sudah datang, Nita melompat-lompat kegirangan.

Keakraban kami dan juga tetangga-tetangga lain se kampungdengan Mas Jono bukan hanya karena kami langganannya. Akan tetapi karena Mas Jono memang telah kami kenal sebagai orang yang baik, supel dan ngoko tapi tetap sopan. Dia telah kami anggap sebagai kerabat, meski dia dan istrinya baru dua tahun tinggal di kampung kami. Seperti kata pribahasa, Mas Jono itu pintar menjunjung langit di mana tempat kakinya sedang berpijak Mas Jono sering kami undang dalam acara-acara helatan, berzanji, pengantin, naik rumah baru ataupun acara-acara adat lainnya. Dan yang menyenangkan, Mas Jono tak pernah mengecewakan undangan kami. Mas Jono datang ke kampung kami pada awal musim hujan dua tahun lalu sebagai orang asing bersama istrinya. Mereka hanya berdua. Tak tampak mereka membawa anak-anak. Waktu melapor pada Pak Lurah mereka mengaku berasal dan Jawa. Tak jelas dari Jawa mana. Di kampungnya. katanya, mereka hidup sebagai petani kecil menggarap sepetak sawah warisan istrinya. Sebagai petani kecil, demikian cerita Mas Jono, ia dan istrinya tak dapat mempertahankan kehidupan yang lebih layak, karena kampungnya yang dulu masih daerah agraris pelan-pelan menggeliat bangun menjadi daerah perkotaan yang dihuni oleh kalangan elit. Tanah pertanian semakin sempit didesak oleh gelombang pembangunan. Para developer kelas kakap berlomba-lomba membebaskan tanah rakyat untuk membangun real estate. Gedung-gedung bertingkat didirikan. Hotel-hotel, toko-toko swalayan, tempat-tempat hiburan bemunculan di luar mimpi Mas Jono, telah mengepung lahan pertaniannya. Sehingga orang-orang kecil seperti Mas Jono harus minggir. Sebagian ikut transmigrasi spontan, sebagian lagi memilih merantau. lni memang revolusi pembangunan dan tentu harus ada yang korban. Mas Jono dan istrinyapun memilih merantau setelah sepetak sawah warisan istrinya dijualnya dengan harga miring. Harga tanah warisan istrinya itulah yang dipakainya sebagai modal mencari daerah baru di rantau. Dan Mas Jono dan istrinya terdampar di kampung kami. Mulanya Mas Jono memang masih meneruskan pekerjaan lamanya bertani. menggarap sawah orang dengan sistem bagi hasil se-dua. Satu bagian untuk petani penggarap dan dua bagian untuk pemilik sawah. Mereka tinggal di rumah Haji Ilyas yang punya sawah yang digarapnya. Selesai panen Mas Jono mendapat tambahan modal. Mas Jono kemudian menyewa rumah sendiri dan mulailah dia membuka usaha. Bakso. Dia membeli sebuah gerobak dan memodifikasinya menjadi gerobak bakso. Sementara itu istrinya membantu mencari tambahan penghasilan dengan menjual jamu gendong. Istrinya berkeliling kampung tiap hari mendatangi ibu-ibu yang membutuhkan jamu. Usaha Mas Jono memang terbilang cepat meningkat. Maklumlah, di kampung kami baru Mas Jono dan istrinya yang membuka usaha begitu. Belum ada pesaing. Jadi dapat dikatakan bahwa merekalah pelopomya di kampung kami. Saya kagum kepada suami-istri orang pendatang itu. Bukan kepada usahanya yang sudah boleh disebut berhasil, akan tetapi kepada keuletan dan kemampuannya menciptakan lapangan kerja untuk dirinya sendiri. Di kampung kami tidak sedikit pemuda-pemuda pengangguran yang punya jasmani kuat dan sehat,

akan tetapi tidak dapat menciptakan lapangan kerja sendiri. Kebanyakan pemuda-pemuda tanggung di kampung kami lebih suka menganggur dari pada bekerja kasar. Kalau mereka punya modal sedikit, mereka lebih suka merantau ke Kalimantan atau ke Malaysia, meski di sana konon mereka juga bekerja yang kasar.- kasar. Tapi apakah mereka berhasil di rantau ? jawabnya bisa ditebak. Mereka kebanyakan gagal dan kembali ke kampung dengan melarat. Sebagian tidak dapat lagi kembali dan terkubur di negeri orang. Hanya satu-dua orang yang dapat membuktikan diri sebagai perantau yang berhasil. Keuletan dan ketelatenan yang dicontohkan Mas Jono dalam merambah kehidupan, membuat banyak orang mengagumi pribadi Mas Jono. Saya sendiri sebagai ketua RT di kampung ini menganggapnya figur yang patut diteladani. Saya pernah mengusulkan kepada Pak Lurah agar Mas Jono diberi penghargaan sebagai warga kampung terbaik. Tapi kerapatan kampung menolaknya dengan alasan bahwa Mas Jono bukan penduduk asli kampung kami. Besok-lusa dia bisa pergi meninggalkan kampung kami. Saya senang berbincang-bincang dengan Mas Jono mengenai berbagai hal. Banyak pengalaman hidnpnya yang dapat ditimba jadi pelajaran untuk masa yang akan datang. Bakso Mas Jono laku keras, ya 7 Lumayan, Mas ! katanya ketika saya berbincang-bincang dengannya suatu hari. Mas Jono senang tinggal di kampung ini rupanya. Ada yang menarik di sin ? pancing saya Wah, semua menarik. Saya senang di kampung in Mas. Orang-orang di sini ramah. Seperti kerabat sendiri. Saya rasanya bukan pendatang lagi di sini. Apalagi sudah dapat berbahasa daerah sini sedikit-sedikit ! Tidak punya niat untuk terus tinggal di kampung ini ? kejarku. Mas Jono tersenyun dan katanya, Kalau tabungan saya sudah cukup saya kepingin beli tanah saja di sini, Mas ! Dan Mas Jono memang tidak sedang bermimpi. Dia memang sudah punya Simpedes hasil jerih payahnya sendiri berjualan bakso selama hampir dua tahun di kampung kami. Dan jumlahnya sudah cukup lumayan untuk membeli sepetak tanah. Dan hari demi hari berlalu, usaha Mas Jono semakin meningkat. Sekarang dia telah mengoperasikan tiga buah gerobak bakso. Sebuah dibawanya sendiri dan dua buah lainnya dibawa oleh orang lain, sekampungnya yang datang menyusul mas Jono. Sebagai wong cilik mas Jono mengaku telah menemukan kebahagiaan berkat keuletan dan ketelatenannya menggeluti dunia bakso yang selalu mengundang selera itu. Sekarang dia telah beli tanah dan rumah sendiri. Dan juga telah membeli alat pembuat bakso yang dijalankan dengan sebuah mesin diesel kecil. lstrinya sudah berhenti menjual jamu. Seluruh waktunya digunakan untuk mengoperasikan alat pembuat bakso yang baru saja dibelinya itu di rumahnya. Setiap malam di rumah Mas Jono kini terdengar desingan suara mesin pembuat bakso itu bekerja. Kebahagiaan yang belum dimiliki keluarga kecil itu barangkali hanya karena mereka belum dikaruniai anak. Mereka belum punya anak, meski mereka sudah lama kawin.

Kami kawin sepuluh tahun yang lalu. Tapi Gusti Allah belum menganuniai kami keturunan, Mas Cenita Mas Jono suatu hari kepadaku. Saya sangat merindukan seorang anak yang lucu seperti Nita, sambungnya sambil melirik Nita yang waktu itu datang menggendong kucing kesayangannya, Mas Jono memang belum pernah punya anak ? Belum, Mas. Sangat kepingin saya. Biar satu saja seperti Nita. Pernah konsultasi ke dokter ? Pernah. Ke dukun dan ke tabib juga sudah pernah, Mas. Tapi hasilnya tetap nihil Suara Mas Jono bergetar. Jangan putus asa. Suatu saat Allah akan. mengaruniai keturunan. Banyak orang sudah lima belas, bahkan dua puluh tahun baru dikaruniai keturunan. Asal saja tidak putus asa.. Nasihatku. Kerinduan Mas Jono untuk punya seorang anak terbayang pada wajahnya setiap kali Nita membeli bakso. ltulah sebabnya dia selalu menggoda Nita supaya Nita jadi kesal. Dia senang pada ekspresi Nita yang lugu. Tapi Nita tidak pernah kesal pada Mas Jono. Nita menyukai Mas Jono. Menyukai giginya jika tersenyum yang katanya selalu, seperti gigi kucing kesayangannya. SUATU hari ketika pulang kantor saya menemukan Nita menangis terngungu-ngungu karena kucing kesayangannya tiba-tiba hilang. Ibunya sudah berusaha mendiamkannya. Tapi sebentarsebentar Nita menangis lagi. Sampai ibunya bosan dan membiarkannya menangis sendiri di depan pintu. Kucing Nita ilang, Pak lapor Nita kepadaku. Kemana perginya kucing nakal itu, sayang ? Dicurri Mas Jono ! Dicuri Mas Jono ? aku pikir Mas Jono menggoda Nita lagi. Nita mengangguk seperti boneka yang disetel. Apa benar Mas Jono yang mencurinya ? Nita mengangguk lagi. Mas Jono jahat, Pa. Mas Jono pencurri. Mas Jono mencurri kucing Nita. Sudahlah. Nanti Papa Tanya Mas Jono ! rayuku menghapus air mata Nita dan rnenggendongnya masuk. Ketika saya menanya Nadia, anak itu membenarkan bahwa memang Mas Jonolah yang mencuri kucing Nita. Ada yang meithatnya ? Ada. Si Adi anak Pak Hasyim. Dia melihat Mas Jono mengiming-iming si Manis dengan sebiji bakso. Lalu menangkapnya, lalu memasukkan ke dalam bagasi gerobaknya. Sehari kemudian seekor kucing tetangga juga hilang. Ada yang melihat Mas Jono menangkapnya di pengkolan jalan. Lalu isu itu merebak seperti angina. Mas Jono mencuri beberapa ekor kucing Dan bermunculanlah cerita bahwa ternyata di kampung kami banyak orang yang kehilangan kucingnya. Kucing-kucing itu hilang secara misterius beberapa hari yang lalu, atau beberapa minggu yang lalu, atau mungkin beberapa bulan yang lalu. Tak ada yang terlalu serius memperhatikannya.

Soalnya, kucing-kucing itu mereka anggap sebagai beban saja. Bahkan ada yang merasa bersyukur atas kehilangan kucingnya secara misterius itu karena dengan begitu mereka tidak perlu lagi bersusah payah pergi sendiri membuangnya. Tak sama dengan kucing Nita yang memang dipelihara, dirawat baik-baik dan dijaga kesehatannya. Tapi entah mengapa mereka yang punya kucing itu tibatiba merasa kehilangan justru setelah isu beredar bahwa Mas Jono pencuri kucing-kucing itu. Bahkan ada yang terang-terangan mau menuntut Mas Jono. Isu itu semakin santer tatkala dari kampung seberang terdengar pula bahwa mereka juga kehilangan kucing-kucing yang selama ini tak mereka perhatikan. Dan yang diduga sebagai pencurinya adalah teman Mas Jono yang berjualan bakso di sana. Kucing-kucing ersebutmenurut yang menyampaikan berita itujuga hilang secara misterius tanpa diketahui kapan hilangnya. Mereka baru merasa kehilangan setelah isu hilangnya kucing-kucing itu beredar. Ini harus diatasi, Pak ! desak beberapa warga kampung yang kehilangan kucing kepadaku. Mereka datang berbondong-bondong lebih dua puluh orang semua. Sebagian naik ke rumah menemuiku, sebagian lagi di halaman mencangkung seperti demonstran menunggu basil rundingan utusannya. Ya. Meski mencuri kucing tidak dapat disamakan dengan menruri ayam atau kambing, saya akan tanya Mas Jono mengenai hal ini. Kataku mencoba memperlihatkan tanggungjawabku sebagai ketua RT. Bukan ditanya lagi, ini harus dicegah, Pak ! desak yang lain. Tapi kita harus punya bukti kuat dulu. Tidak boleh menuduh-nuduh sembarangan atau hanya membenarkan isu yang beredar. Siapa tahu isu itu sengaja digelindingkan oleh orang tertentu. Misalnya karena iri atas keberhasilan usaha Mas Jono ! Tapi apa belum cukup bukti dengan hilangnya kucing Nita, anak Bapak dan kucing-kucing yang lain di kampung ini ? sergah seseorang dengan suara tinggi. Saya menatap tajam orang itu. Mencoba memperlihatkan wibawa selaku ketua RT. Saya berharap jalan pikiranku akan dimengertinya. Tapi saudara-saudara harus mengerti bahwa kucing-kucing itu tidak punya arti apa-apa bagi kita. Hilangnya kucing-kucing itu tidak menyebabkan kita ru . Saya paham ! potong seseorang. Saya paham Bapak tidak rugi. Kita-kita juga tidak rugi dengan hilangnya kucing-kucing di kampung ini. Bahkan mungkin kita bersyukur karena tidak repot-repot lagi membuangnya. Tapi pernahkah Bapak tanya dari daging apa bakso si Jono keparat itu dibuat ? Saya terperanjat mendengar orang itu. Baik karena nada suaranya yang tinggi maupun karena maksud pertanyaannya. Terang saya tidak pernah membayangkan kalau Mas Jono tega berbuat seperti yang dituduhkan oleh orang-orang kampung yang dating melakukan ujuk rasa kepadaku ini. Saya mencoba mengusir bayangan-bayangan yang menjijikkan itu di benak. Ya. Bapak mungkin tidak tahu bahwa kucing-kucing itu dibikin bakso oleh si Jono karena saya melihat kemarin Bapak enak-enak saja menyantap daging kucing itu bersama anak-anak ! Benar, Pak. Orang di kampung seberang telah lama mencurigainya. Mereka sudah lama berhenti

makan bakso. Kita juga di sini sudakjijik makan bakso. Mungkin tinggal Bapak saja lagi yang suka makan bakso. Sebaiknya kita usir saja si keparat itu dari kampung ini, Pak ! Dasar orang pendatang, masa kita dikibulinya makan daging kucing. Padahal daging kelinci saja kita tidak doyan ! Tul kata Dollah, Pak. Sebaiknya si Jono kita usir saja dari kampong ini ! Saya juga setuju pendapat Dollah. Si Jono harus pergi dari kampong ini. Saya juga setuju, Pak ! Tiba-tiba pemuda pengangguran yang bernama Dollah berteriak ke halaman, Bagaimana kawankawan di luar, setujuuuuu ! Karena memang isyarat itulah yang dinanti, serentak saja mereka yang mencangkung di halaman berdiri dan berteniak Setujuuuuuu ! Nah, apa lagi yang ditunggu. Mari kita usir mereka ramai-ramai, Pak ! Desakan-desakan mereka saya biarkan tak terjawab. Saya diam membisu, Lama baru saya mengangkat muka. Menyeringai. Orang kampung yang datang mendesakku ini tinggal rnenunggu komando, atau mungkin hanya isyarat dari saya selesailah segalanya. Mas Jono dan keluarganya akan di-persona non grata-kan masyarakat. Saudara-saudara pulang saja dulu. Percayakan masalah ini kepada saya. Saya akan menemui Pak Lurah dulu dan akan mengecek kebenarannya ! kata saya sebijaksana rnungkin. Meskipun beberapa orang tidak puas atas keputusan saya mereka bisa mengerti. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Ada juga yang menggerutu dan menuduh yang bukan-bukan. xxx SUDAH dua hari saya duduk di teras menunggu Mas Jono lewat dengan gerobaknya tapi tak juga muncul. Saya yakin Mas Jono belum tahu isu yang beredar di masyarakat. Dan kalaupun benar Mas Jono berbuat seperti yang dituduhkan oleh orang-orang kampung itu, saya yakin mas Jono masih mengira aman-aman saja karena perbuatannya belum tercium. ltulah sebabnya saya tidak perlu terlalu tergesa-gesa mengambil tindakan. Saya ingin mengambil sampel dari bakso yang dijual Mas Jono. Saya mau membawanya ke laboratorium kota, menyuruh periksa apa betul daging yang dibuat bakso Mas Jono itu daging kucing. Tapi karena hari itu Mas Jono tidak juga muncul saya mengambil keputusan untuk mendatangi rumahnya sebelum menyampaikan persoalan itu kepada Pak Lurah. Sebab bagaimanapun juga Pak Lurah akan menyuruh saya lagi untuk mengeceknya. Dari jauh saya melihat tiga buah gerobak bakso Mas Jono diparkir di depan rumahnya, menandakan bahwa Mas Jono dan dua pembantunya hari itu memang tidak jualan. Syukunlah karena saya memang ingin menemuinya. Lebih syukur lagi kalau saya dapat memergokinya sedang membantai kucing-kucing hasil curiannya menjadi daging cincang yang segera akan dimasukkannya ke dalam alat pembuat baksonya itu.

Mas Jono ada ? Tanya saya kepada istrinya ketika sampai di rumahnya. Perempuan Jawa itu menatapku heran dan kemudian berusaha tersenyum. Wajahnya sedikit pucat seperti kurang tidur. Sedang sakit, Mas. Demam. Sudah dua hari tidak jualan. Monggo, Mas ! Teman Mas Jono yang membawa gerobak lainnya itu ? tanyaku penuh selidik. Wah, mereka sudah lama tidak jualan itu, Mas. Mereka sudah pada pulang kampung. Habis katanya bakso sudah tidak laris lagi di sini. Mari masuk, Mas ! Ya, terima kasih, saya cuma.... Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Saya celinguk ke dalam. Ke kamar yang dipisahkan oleh sebuah dinding gedek yang nampaknya masih baru. Saya melihat puluhan ekor kucing bersileweran dengan enaknya di kamar itu. Berbagai tingkah kucing-kucing itu membuat saya terpesona. Ada yang mengeong, ada yang berkejaran, ada pula yang nongkrong menjilati kakinya. Seekor lagi baru muncul dari balik pintu belakang berjalan dengan santainya, berbulu putih dengan kalung cantik di lehernya, segera saya kenali. Saya terperanjat karena itu tak lain kucing Nita. Saya mengerti, Mas. Kedatangan Mas Rusdi ke sini pasti untuk mencari kucing Nita. Nita tentu gusar dan menangis kehilangan kucing kesayangan kata istri Mas Jono seperti menyesal. Kami mohon maaf. Habis kucing Nita manis sekali. Mas Jono tidak tahan. Ia tergoda untuk. Boleh saya masuk melihat Mas Jono ? kata saya kemudian. Istri Mas Jono mengantar saya masuk. Mas Jono terperanjat ketika melihat saya di pintu kamar diantar istrinya. Beberapa ekor kucing yang mengerumuninya di ranjang tempatnya berbaring seperti ikut terperanjat atas kedatangan saya yang tiba-tiba. Oh, Mas Rusdi. Mari masuk ! katanya sambil melepaskan kucing yang sedang dibelainya dan berusaha untuk bangkit. Tidak usah repot-repot bangun, Mas. Biar berbaring saja. Tak epa-apa ! cegah saya. Wah. Mas Rusdi maaf. Beginilah keadaan di rumah kami. Ramai dengan kucing-kucing. Habis inilah hiburan satu-satunya bagi kami, Mas. Merekalah anak-anak kami yang manja. Yah, pengganti anak-anak kami katanya sendu dan berusaha menahan batuknya dengan telapak tangan. Saya tidak tahu kalau Mas Jono penyayang binatang kata saya. Mas Jono tertawa. Tapi tawanya segera diikuti batuk. Dibilang penyayang juga bukan, Mas. Mereka kami butuhkan dan mereka juga nampaknya membutuhkan kami. Saya menemukan mereka berkeliaran di kampung-kampung secara liar dan tak ada yang mengurusnya. Mereka kami pungut. Merawatnya dan mengambilnya sebagai pengganti anak. Habis, kami tidak punya keturunan, Mas. Gusti Allah... . katanya terputus karena batuk lagi. Oh, ya kucing Mbak Nita manis ya, Mas. Saya tergoda ingin memeliharanya. Itu bersama saudarasaudaranya di bawah kolong meja. Cut cut cut ! desahnya memanggil. Kucing itu seperti mengerti saja kalau dipanggil. Ia melompat naik ke ranjang dengan jinaknya,

menggosok-gosokkan bulunya ke kaki Mas Jono. Ke sini, Manis ! Dia meraih kucing itu. Membelai-belainya penuh kasih sayang. Menciumnya. Dan tahu-tahu mata Mas Jono jadi berlinangan. Dan kucing itu, seperti tahu saja bahasa cinta, ia menjilati air mata Mas Jono. Kalau Mas Rusdi mau membawanya pulang, ambilah. Tak apa. Sampaikan maaf saya pada Mbak Nita karena saya telah mengambil kucingnya diam-diam. Saya terharu menyaksikan pemandangan yang melankolis itu. Saya melihat kucing-kucing itu begitu jinaknya pada Mas Jono. Ah, mustahil Mas Jono tega membantainya dan membuat dagingnya menjadi bakso seperti yang dituduhkan orang-orang kampung. Tidak mungkin. Saya berani menjamin. Saya melihat kucing-kucing itu merasa aman di kamar Mas Jono. Mereka bermain dengan bebasnya. Tak seekorpun yang terkurung atau terikat di kaki ranjang. Bahkan beberapa ekor ada yang melompat ke ranjang menggosok-gosokkan tubuhnya manja ke kaki Mas Jono. Bahkan ada yang naik ke dadanya, nongkrong seperti patung dengan mata yang mencurigai kehadiran saya. Dan entah apa yang mendorong saya, tatkala saya hendak pulang saya berkata pada Mas Jono. Pelihara saja kucing ini, Mas. Saya bisa mencarikan yang lain untuk Nita!

Wahyudi Hamarong membuat dokumen. Guratan Luka Mama

GURATAN LUKA MAMA


Oleh: Wahyudi

Nak.. Adikmu dah sarjana, coba urus dulu biar tidak di rumah terusMama ingin dia di sini saja bersamaku. Aku hanya mengangguk pelan takut bikin kecewa Mama. Rina anak bungsu selisih 6 tahun dari aku. diantara tujuh bersaudara dia satu-satunya perempuan dan baru saja selesai kuliah. kuliahnya di perguruan tinggi pavorit dan memilih jurusan bahasa Inggris sebagai pilihan utamanya sejak awal. Aku sudah mencoba bicara dengan kepala sekolahku tentang keinginan Mama sekaligus keinginan Rina. Alhamdulillah, Kepala sekolah memberi respon menerima. Tapi, sebagai pelamar kerja tetap wajib masukkan surat lamaran. Ma, Rina sudah bisa mengajar Senin depan. Kepala sekolahku sudah menerima . Kebetulan, guru bahasa Inggris masih lowong. Berkasnya juga sudah masuk. Kalimat-kalimatku begitu detil dicermati Mama tanpa umpan balik. Jelas sekali rona bahagia terpancar dari wajahnya yang sudah keriput. Ada gerak nafas lega dari balik kebaya coklat yang selalu dipakainya selain daster. Setetes air bening mengalir di atas flek-flek hitam yang menempel dekatan dengan hidungnya. Jari telunjuk yang tak halus lagi menyeka air matanya sendiri sambil berlalu ke dapur menyiapkan secangkir teh dan kue untukku. Rina, Ada ji baju dinasmu untuk mengajar nanti? Trus, Mama lihat sepatumu masih sepatu yang kau pake waktu kuliah dulu. Ini ada uang mama sedikit, cukup untuk jahit kain dan beli sepatu baru. Mama pelan mengangsur uang tiga lembar uang seratus. Rina menerimanya tanpa bicara apa-apa. Memang, lepas kuliah praktis dia nggak punya uang. Tidak seperti waktu kuliah dulu, setiap bulan dapat biaya hidup meski lebih sering tidak cukup. Mama dapat gaji bulanan dari pensiun Papa yang pangkat terakhir hanya IId. Penjaga sekolah. Sejak Rina kuliah Mama bersamaku di rumah hasil peninggalan Papa enam tahun yang lalu. Rumah itu tidak terlalu luas, berdinding papan, beratap rumbia, kamar tiga petak, kolong rumah dipagar bilah-bilah bambu. Hanya halaman yang luasnya cukup untuk main gobak sodor. Olahraga idola anak-anak kampung. Lembayung di kaki langit mulai pudar, awan berarak membentuk gumpalan serupa bukit-bukit di belakang rumah. Tapi, sepertinya bukan pertanda rinai hujan akan turun. Penghuni jagad pun sudah kembali ke pelukan malam sambil memuja keagungan Ilahi. Tapi,mungkin ada juga yang masih sibuk dengan setumpuk urusan duniawi. Aku sendiri masih duduk di hamparan sajadah di kamar yang sudah diubah menjadi ruang salat. Kuselesaikan bacaan surah pendekku sembari menunggu sholat Isya yang tinggal beberapa menit

lagi.. Sayup kudengar bunyi Adzan dikumandangkan dari surau yang jaraknya setengah kilo dari rumah. Jujur, karena jarak itu, membuatku agak jarang ke sana. Aku salat Isya bersama Mama saja karena Rina ternyata datang bulan. Lirih kulantunkan bacaan demi bacaan dengan khusuk. Kulapazkan dengan irama serupa imam masjid Al-Azhar. Kami termasuk keluarga besar. Mama dan Papa punya anak tujuh. Hendra anak pertama bekerja di perusahaan tambang di Kalimantan setelah tamat kuliah. Kini, punya anak dua. Kadang bisa pulang hanya satu kali dalam dua tahun. Itu pun tak lebih dari dua belas hari. Hubungan kekerabatan memang terasa agak renggang. Rinto anak kedua juga sudah berkeluarga dan bekerja sebagai pegawai negeri di Papua lima tahun yang lalu. Untungnya, dia menikah dengan pacarnya dulu di kampus dari suku yang semarga dengan kami. Bukan suku asli papua yang kelasnya di mata orang kampung begitu dipandang sebelah. Mungkin, karena paras dan warna kulitnya kontras dengan orang-orang di kampung kami. Dia hanya pulang kalau kami kabari tentang keadaan mama yang sakit-sakitan. Dua saudaraku yang lain mengikuti suaminya sebagai pimpinan cabang bank. Mereka tidak menentu tempat tinggalnya. Kadang di Yogya, Balikpapan, Makassar dan beberapa kota lainnya. Mereka lebih jarang lagi pulang. Hanya satu kali dalam lima tahun. Mungkin mereka beranggapan kalo teknologi adalah solusi untuk mengatasi jarak. Lewat HP sudah cukup. Anak kelima Idwar. Dia meninggal ketika umurnya kisaran 12 tahun. Malaria yang ganas merenggut nyawanya dalam pelukan Mama di rumah sakit kabupaten. Aku sendiri anak ketujuh. Aku baru lima tahun bersama Mama lagi setelah kuliah di Makassar. Alhamdulillah terangkat jadi guru SMA sesuai dengan cita-citaku. Anak bungsu adalah Rina. Sebenarnya, Dia impian almarhum Papa dan Mama lewat doa-doa sepanjang waktu di atas sajadah lusuh. Mereka mengharapkan ada anak perempuan dari sekian anaknya yang laki-laki . Seperti kebiasaan di kampung, mereka mungkin sadar kalau anak lelaki akan mencari jalan hidupnya di rantau orang dan jarang yang mengadu nasib di daerah sendiri dengan berbagai alasan. Mereka belajar dari pengalaman tetangga yang merasa sebatangkara diusia senja. Seperti biasa, setiap anak perempuan adalah tulang punggung untuk urusan rumah. Rina tiap harinya memasak, melap perabotan, menyapu halaman, mencuci, menyiapkan obat Mama dan seabrek urusan lain di luar mengajar. Suatu ketika ada tugas pelatihan seminggu di kabupaten. Mama tidak langsung mengiyakan, juga tak banyak tanya karena tidak terlalu paham urusan sekolah. Tapi, dari wajahnya terbesit keinginan untuk tidak ditinggalkan selama itu. Benar saja, selama dia pergi aku yang kerepotan menjalankan beberapa tugas rumah. Yang jelas, dapur tak terurus, makan seperti anak kost. Trus, sampah bertumpuk di depan rumah karena tidak pernah dibuang. Yang jelas, akhir-akhir ini Mama kelihatan banyak merenung. Untuk urusan hati Rina sama dengan perempuan lainnya. Beberapa cowok pernah bertandang ke rumah ngobrol dan bercerita tentang berbagai hal. Ada juga beberapa yang sempat menjadi pacarnya meski tak pernah berlangsung lama. Mungkin tidak ada kecocokan diantara keduanya. Bahkan, pernah ada keluarga yang berniat melamar ke rumah tapi tak jadi karena Rina nyata-nyata menolak. Setelah kuselidiki ternyata mamanya sangat cerewet. Itu yang tidak disukainya. Padahal, mendengar itu Mama malah mengamininya. Maklum, keluarga sendiri.

Aku baru saja pulang dari sekolah. Kucopot pakaian dinas yang basah oleh peluh. Memang, siang ini terasa panas sekali. Gumpalan awan yang biasanya menghiasi langit tidak kelihatan kali ini. jalan beraspal terasa mendidih dan mengepul dilewati kendaraan. Setelah solat dan makan, aku tertidur di balai-balai yang terbuat dari bilah bamboo. KakAku..Aku mau bicara. Ada..ada orang yang mau datang melamar. Kalimat itu menghentikan aktivitasku membaca Koran. Aku mendadak jadi serius dengan kalimat barusan. Rina mulai menunduk. Siapa yang mau datang? Tanyaku singkat. Kuamati Rina gugup dengan pertanyaan ini. Dia menarik nafas panjang. Erwinteman kost Kakak di Makassar dulu. Aku diam. Mendengar nama itu Aku dipaksa mengurai kembali moment-moment kuliah dulu. Aku sangat hafal dengannya meski beda kampus. Orangnya cerdas, solider, peduli dengan orang lain dan ramah dengan siapa saja. Aku sering pinjam motornya untuk ketemu dosen, cari bahan kuliah bahkan sekali waktu kupakai kencan di malam minggu. Tapi, itu delapan tahun yang lalu. Sekarang dia bekerja sebagai supplier pengadaan barang di daerah. Usaha itu dia bangun bersama temannya dengan patungan modal.Rina mengurai beberapa info tentang Erwin untuk kunilai. Aku kembali terdiam sejurus. Otakku berputar-putar. Aku tidak ragu dengannya. Tapi yang membingungkan adalah bagaimana dengan Mama? Mungkinkah dia mau tinggal di kampung? Bagaimana kalau Rina memilih ikut dengannya? Jangan-jangan Kalau diterima dia akan di sini membuka usaha. Jadi mama tetap kan bersamaku.Rina sepertinya hafal apa yang menjadi ganjalan dihatiku sehinnga aku tidak berkomentar dari tadi. Baiklah, aku coba sampaikan ke Mama. Jawabku singkat. Mama baru saja usai shalat Isya. Biasanya kalau sembahyang agak lama, mulai shalat fardu, berjenis shalat sunnah, belum lagi dzikirnya. Aktivitas Mama lebih condong kepada urusan akhirat. Sampai-sampai sepanjang waktu lingkar tasbih tak lepas dari permainan jarinya yang keriput. MaTadi Rina cerita kepada saya. Katanya, ada orang tua laki-laki yang mau datang melamar. Dia teman kost aku dulu, namanya Erwin. Dia sarjana ekonomi, bekerja dengan usaha sendiri sebagai pemasok barang elektronik ke daerah. Dia akan membuka usaha di kabupaten. Setahu saya, dia orangnya baik. Mamanya sesuku dengan kita. Kalau papanya memang dari suku lain. Bagaimana Ma,.. Apa dia boleh datang? Aku meyakinkan Mama tentang laki-laki itu.. Dia terdiam agak lama, entahlah, aku tidak tahu apa yang terbesit dipikirannya. Kamu anak laki-laki satu-satunya yang tinggal dengan Mama sebagai ganti papamu, tempat Mama berbicara tentang berbagai hal termasuk adikmu, Rina. Kalau menurutmu laki-laki itu baik, mau menerima keadaan kita, bisa menjaga martabat keluarga, Mama rasa sudah saatnya memang adikmu mendapatkan pendamping.Ada butiran bening menetes dari mata mata Mama yang terharu, bahagia dan sekaligus mungkin rasa sedih. Kurasakan sketsa wajah Papa bergelayut dalam pikirannya. Kesunyian menyelinap seusai pembicaraan kami. Hanya, deru kendaraan yang terdengar dari kejauhan. terlihat bulan sabit bersinar di balik gumpalan awan. Pantulannya ke bumi hanya membias remang-remang. Sejak restu Mama, segalanya berjalan cepat. Rembuk keluarga, peresmian, akad nikah, dan pesta pernikahan semuanya sudah diputuskan termasuk berbagai prosesi adat dan berbagai ritual yang

harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Aku hanya mengatur saja karena begitu banyak anggota keluarga dan tetangga yang datang membantu. Kalaupun ada beda-beda pendapat semuanya menuju pada satu titik saja. Memberikan yang terbaik. Ketika acara sujud kepada orang tua, aku melihat Mama memeluk Rina sambil berlinangan air mata. Mungkin ingat Papa yang tak lagi menjadi saksi anak terakhirnya. begitupun Rina. Membiarkan saja airmatanya membasahi pipinya. Ada keharuan yang mendalam di hati masing-masing dan khalayak. Penghuni rumah bertambah satu orang. Sabanhari Rina melayani suaminya. Sajikan kopi, sarapan, makan siang, makan malam, setrika pakaian dan tentu saja melayani suami sebagai istri dalam remang-remang malam ditingkahi suara cicak yang sembunyi dibalik sambungan tripleks yang mengelupas oleh air hujan yang merembes. Saya merasakan Mama agak terabaikan dengan kehadiran Erwin akhir-akhir ini. Biasanya, rutin tiap hari Rina menanyakan apa Mama sudah sarapan,trus siapkan obat, pakaian, dan seabrek kebutuhannya yang lain. Focus Rina total berpindah ke Erwin sebagai suaminya. Kadang aku yang siapkan obat Mama kalau benda itu belum ada di meja lewat pukul tujuh, dan biasanya Mama minum pagi-pagi sekali. Halaman rumah yang biasanya bersih dari daun-daun ketapang kini berserakan tertiup angin timur yang menampar-nampar. Aku merasakan Mama membaca keadaan ini dari tatapan matanya mengguratkan sesuatu. Kak, Erwin tidak jadi buka usaha di sini. Katanya belum prospektif. Kalimat singkat itu mengikis konsentrasiku pada headline berita tentang Nazaruddin yang suap MK. Aku menatap wajah Rini tanpa berkedip mencoba membaca kalimat-kalimat selanjutnya yang masih tersimpan dalam hatinya. Saya sudah menyarankan agar di sini saja sambil mencari peluang usaha lainnya. Tapi, dia bilang belum saatnya untuk buka usaha. Menunggu tiga tahun lagi. Jadi, maaf Kak tiga kali saya di suruh memilih untuk ikut dengannya. Sampai-sampai ada hadist Nabi yang disampaikan tentang kewajiban istri ikut suamiAku tak punya pilihan Kak. Rini tertunduk lesu di kursi rotan tak mampu membaca reaksi kekecewaan yang terpancar jelas pada raut mukaku. Aku diam saja. Sepekan aku diamkan masalah itu. Aku tak tahu cara terbaik untuk menjelaskan. Mungkinkah menerima dengan lapang untuk ditinggalkan oleh putri satu-satunya di saat usianya menatap senja? Sanggupkah Aku menggantikan Rini urus Mama ketika hipertensi dan jantungnya kumat? Mungkinkah Mama terima kalau kucarikan pembantu saja? Bagaimana kalau dia menagih janji Erwin ketika datang melamar dulu? Pagi ini tak secerah kemarin. Mentari hanya menyembul di antara gumpalan awan yang berkejaran ke utara. Sebentar lagi akan membentuk awan hitam. Kalau arah angin tak berubah, biasanya titik-titik hujan menjilat permukaan tanah dan memercik sembari mengalir mencari tempat yang paling rendah. Dari jauh sayup terdengar katak merindu hujan. Mama baru saja memperbaiki jahitan bantal yang menganga sampai-sampai kapuknya beterbangan di seprei. Aku menatapnya dari jauh tapi tak berani bersitatap dengannya. Itu terjadi akhir-akhir ini saja. Biasanya Aku langsung menyapanya menanyakan apa saja sekaligus bentuk perhatianku selama ini. Tapi, kali ini kecemasan selalu mengepungku dari segala penjuru. Besok Adikmu berangkat ke Makassar dan selanjutnya akan tinggal di sana. Aku seperti disambar petir di siang bolong. Aku gugup. Tak menyangka kalimat itu akan meluncur dari mulut Mama. Seperti ada sesuatu yang berusaha dipendam rapat-rapat. Tersembunyi di balik intonasi dan mimic yang tegas.

Biarkan saja. Hidup adalah pilihan dan bukan hak Mama untuk menahan derap langkah Adikmu untuk mengikuti suaminya. Dia sudah menceritakan semuanya. Mama melangkah ke kamarnya dan meningggalkan aku begitu saja yang masih kelu. Aku dikepung rasa bersalah, mengiyakan proposal Erwin meminang Rina dua bualn yang lalu. Bagaimana keadaanya, Dok? Panasnya tinggi sekali. Bukan itu saja. Sepertinya beliau tertekan, ada masalah yang dipikirkan. Minumkan saja obatnya secara teratur. Mudah-mudahan membaik. Mama terbaring lesu di kamar perawatan sehari setelah Rini meninggalkan rumah mengikuti suaminya. Tetes bening mengalir pelan merembes di sandaran kepala mama. Semuanya karena Rini. Tidak berhakkah Mama menjalani senja lewat sentuhan tangan lembut putrinya? Aku menggugat. Majene, Medio Mei 2011

Wahyudi Hamarong membuat dokumen. keputusan KEPUTUSAN Seperti biasa Senin, anak-anak tergesa-gesa menuju gerbang sekolah. Pukul 07.15 menit pintu sudah terkunci rapat. Upacara memang setiap setengah delapan. Aturan ini sudah berlaku sejak sekolah ini berdiri lima tahun lalu. Mentari pagi mulai terasa hangat di kulit. siswa kelihatan mulai gelisah, seperti cacing terpanggang matahari. keringat bercucuran di wajah-wajah belia itu. Ada juga yang dipapah ke kelas, mungkin tidak sarapan dari rumah. Akhirnya kepala sekolah menyampaikan amanatnya. Ujian nasional tinggal seminggu lagi, anak-anakku khusus yang kelas XII harus mempersiapkan segala hal untuk menghadapi ujian nanti. Ingat, ujian nasional ini akan menentukan perjalanan anak-anakku ke depan. Kami harapkan semua dapat lulus, tentu saja syaratnya adalah banyak belajar.. Kalimat kalimat nasihat terus disampaikan kepala sekolah berkaitan dengan ujian nasional. Intinya, pesan-pesan dalam menghadapi ujian. Upacara usai, anak-anak berhambur ke kelas masingmasing, siap menerima pelajaran. Aku sendiri dengan guru lainnya berjalan menuju kantor sambil bercanda satu sama lain , ada juga yang mengkordinir alat-alat upacara untuk dikembalikan pada tempatnya. Bel berdentang satu kali, ganti pelajaran.aku siap-siap untuk masuk ke kelas mengajar. Beberapa buku sudah kukepit di pinggang sementara guru lain masih ada yang sibuk dengan berbagai urusan masing-masing. Baru saja aku beranjak, wakasek humas tiba-tiba ada di pintu dan membreak kami sejenak. Saya informasikan bahwa kita akan rapat mendadak pada kesempatan ini dan akan dipimpin oleh kepala sekolah. Pengumuman itu membuat kami menghentikan aktivitas rutin kami untuk mengajar. Dari balik jendela kaca, aku melihat kepsek berjalan ke arah kami. Badannya yang pendek gemuk mengepit buku agenda mengingatkan aku pada dosenku dulu di kampus yang sering diolok-olok oleh teman kuliahku. Warna kulitnya kontras dalam balutan stelan seragam linmas sebagai aparatur Negara. Agak gelap. Kepalanya di suburi rambut bak lidi-lidi yang ditancapkan. Matanya agak sipit meski asli pribumi sementara alisnya hitam lebat mengingatkan aku pada kumpulan awan pekat sebelum hujan ditumpahkan dari langit. Ada juga kumis yang tumbuh tidak subur di atas bibir serta jenggotnya yang lama tak dipangkas pisau cukur. Teman-teman sudah mengambil posisi duduk sesuai kursi masing-masing. Aku sendiri duduk agak di belakang, menyamping pada posisi duduk kepala sekolah yang sudah ada di depan kami. Dia mengedar pandang pada seluruh ruangan, mengamati kursi-kursi yang mungkin masih kosong. Tapi, semua kursi sudah terisi semua. Mungkin karena hari Senin, jadi hadir semua. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuhkalimat pembukaan rapat lancar disampaikan sebagaimana lazimnya pimpinan rapat. Bisa dimaklumi karena rapat-rapat seperti ini sudah rutin dilaksanakan.

Bapak-bapak dan ibu sekalianBapak mohon maaf karena rapat ini tidak disampaikan sebelumnya sebagaimana biasanya. Berhubung hal ini sangat penting dan bersifat instruksional. Tentu saja Bapak dan Ibu sekalian sudah tahu bahwa ujian nasional tinggal seminggu lagi. Pada tahun ini nilai kelulusan juga naik yakni lima koma lima untuk setiap mata pelajaran dan hanya boleh dua nilai empat lainnya harus enam. Selanjutnya, sesuai dengan hasil kesepakatan rapat di kabupaten bahwa siswa yang ujian adalah Anak kita Semua. Saya kira ini kita dapat pahami bersama Teman-teman agak kaget dan saling berpandangan satu sama lain. Mereka sepertinya paham benar apa maksud dan inti penyampaian mahkluk gendut di depan mereka saat ini. Mereka akan siap-siap memberi kunci jawaban untuk semua siswa yang ujian. Mereka tahu kalau ujian tahun kemarin akan kembali mereka lakoni. Mereka mengerti kalo idealisme pendidikan untuk mutu generasi harus dikesampingkan demi citra sekolah, dinas kabupaten dan pemerintah daerah. Aku acungkan tangan dan beranjak meninggalkan ruangan. Aku tak bisa konsentrasi lagi untuk topic berikutnya. Yang pasti, membicarakan strategi curang membantu siswa di ujian nanti. Aku kembali ke ruang sebelah cek roster pelajaran berikutnya. Kebetulan, aku memang ngajar. Matahari agaknya tak bersahabat lagi. Panasnya memanggang apa saja yang ada di bawahnya. Aku menyusuri koridor sekolah yang diatapi seng tapi terik itu masih tetap terasa membakar kulitku yang memang sensitif. Kupelototi benda bundar dipergelangan tanganku. Pukul 13.15. Bell berdenting tiga kali, anak-anak berhamburan keluar, saling berebut bis sekolah di sela panas yang memanggang. Tapi, ada juga yang naik kendaraan sendiri. Aku sendiri naik motor butut, warisan almarhum Bapak yang sudah ketinggalan jaman. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur lapuk yang sudah minta minta pensiun. Kupandangi langitlangit kamar. Kelihatan jelas atap rumbia yang sudah bolong-bolong. Ada sinar matahari yang tembus dan mengenai mukaku. Tapi bagiku biasa. Toh, aku memang belum sanggup mengganti gubuk ini dengan penghasilan sebagai guru honor yang digaji Cuma berdasar jam. dua ratus delapan puluh ribu rupiah sebulan untuk aku dan mama tersayang. Itu pun dari komite. Aku tak bisa tidur. Pikiranku terus menjelajah mencoba mencari pembenaran pada keputusan kepala sekolah yang tidak masuk diakalku. Memang, kebiasaan sekolah selama ini untuk membantu siswa pada saat ujian. Beberapa trik dilakukan. Pengawas independen dan pengawas ruang diservice dengan baik, seramah mungkin dan kalo sudah begitu biasanya lancar kunci jawabannya ke anakanak. Kalau pengawasnya galak, biasanya dicarikan sela supaya bisa mengambil soal dari siswa setiap lembar lalu disusup lewat jendela sehingga soal yang lain masih tetap di atas meja. Jadi,tidak ketahuan. Kalau cara ini juga tidak berhasil, maka dirancang cara agar para pengawas bisa lengah dan soal tetap bisa terbang ke guru mata pelajaran. Biasanya, dikerja di rumah yang dianggap aman. Yang paling fatal, semua jawaban siswa dikerja ulang alias diganti oleh jawaban guru. Jadi, guru yang ujian.. Fikiranku terus berkecamuk. Apa besok aku harus membantu lagi anak-anak itu? Apa aku ikut lagi perintah kepsek dengan alasan demi citra sekolah ? Bagaimana dengan sanksi pidana kala ketahuan. Siapa yang bertanggung jawab? Trus, bagaimana kalau banyak siswa yang pintar selama ini tidak

lulus, sementara siswa malas mencoret-coret bajunya di jalan karena sukses mendapat jawaban guru. Apa adil namanya? Belum lagi anggaran Negara yang besar hanya untuk mengangkat mutu pendidikan sia-sia. Satu demi satu pertanyaan itu mengembara dalam fikiranku. Setiap pertanyaan dijawab dengan Negatifoleh hatiku. Aku menggeliat gelisah, tak bisa tidur. Akhirnya kantuk itu datang juga, seiring dengan keputusanku untuk katakanTIDAK. Senin, pukul 07.00. Aku lagi menikmati berita Liputan 6 Pagi, memang akhir-akhir ini perhatianku agak focus pada pemilu legislative, kisruh dpt, penghitungan ulang, Demokrat Golkar yang cerai, sampai koalisi partai. Begitu menarik, sampai kadang aku cancel beberapa acara pavoritku dan sering telat makan. Tiba-tiba Handphoneku berdering. Sms masuk. Aku meraihnya. Aku tengok si pengirim. Kasek. Aku jadi gugup. Kuberanikan membuka inboxnya, Soal sudah ada di mejaku. Bapak tunggu di sekolah. Segera! Benda itu kuletakkan kembali, Aku diam agak lama tanpa reaksi. Terngiang kembali keputusanku semalam untuk. Tapi, bagaimana membalasnya? Jantungku berdegup kencang, bukan takut. Tapi, baru kali ini aku berani menolak perintahnya. Kuraih kembali benda itu, Tanganku pelan memencet tombol demi tombol, Maaf,PakAku tak bisa membantu. Kuletakkan kotak kecil itu kembali di atas meja dengan irama jantung yang lebih cepat dari biasanya. Sms masuk lagi. Besok Bapak menghadap setelah selesai ujian. Pukul 11.15. Di ruangan saya. Demikian isi balasan smsnya. Aku sudah menduga sebelumnya kalau kasek pasti bereaksi keras atas penolakanku. Aku agak was-was juga. Tapi, ada setitik keyakinan dalam hatiku bahwa hal yang kulakukan adalah benar. Terlalu yakin malah. Aku sudah berada di pintu gerbang sekolah..teman-teman memandang dari jauh dengan tatapan yang tak biasanya. Pak Baso, wakasek kurikulum tersenyum masam menatapku sekilas. Ada juga Bu Neni, guru bahasa Indonesia duduk di kursi panjang sedang bercanda dengan siswa, melihatku menjadi kaku. Hanya Pak Ahmad, teman diskusiku selama ini yang senyum simpul menatapku. Pikiran-pikirannya memang sejalan denganku untuk hal yang bertema pembaharuan pendidikan. Aku terus melangkah sambil menyapa teman-teman. Tapi kurasakan ganjil kali ini. Pukul 11. 13 menit. Aku masuk ke ruang kasek. Kudapati dia duduk di kursi putarnya. Assalamu alaikum. Aku menyapa dengan salam. Sekilas dia menatapku. Tergambar jelas ekspresi wajahnya mewakili perasaanya. Aku duduk saja di depannya, menunggu moment selanjutnya. Menunggu apa yang akan disampaikannya. Dia memperbaiki posisi duduknya. Bapak sangat menyayangkan tindakanmu kemarin. Termasuk para wakasek dan guru lainnya. Mereka menyesalkan hal itu. Apalagi, kamu hanya guru honor yang mengais rezeki dari kantong siswa. Maka berdasarkan rapat internal dengan guru, diputuskan bahwa tenaga kamu tidak dipakai lagi di sekolah ini. Ini sk pemberhentian anda. Sebuah amplop dikeluarkan dari laci mejanya dan diangsurkan padaku. Aku menerimanya. Tapi, Paksaya rasa ini tidak adil! Mengapa kita harus membantu lagi? Ini virus pembodohan, selalu berjangkit ke siswa. Dimana

logika Bapak ketika kita membantu lagi. Selama ini mereka sudah dibimbing sekian bulan melalui les, belum lagi bimbingan di luar. Kita saja yang terlalu berlebihan. Mengapa kita harus dituntut kuantitas lulusan kalau memang minus kualitas. Mengapa kita tak pernah belajar untuk mengubah cara kita yang salah? Kalimat-kalimat itu terlontar dari mulutku tanpa bisa kutahan lagi. Aku juga heran, baru kali ini aku mampu berbicara banyak di depannya. Mungkin di dorong oleh emosiku yang tak terbendung lagi Dia hanya menatapku tanpa reaksi sedikitpun. Mungkin pernyataanku banyak masuk bersemayam dinuraninya. Tapi, terima kasih atas semuanya. Ujarku singkat dan berlalu. Aku melangkah keluar. Beberapa teman yang sedang santai kusalami satu-satu. Aku pulang. Seperti kebiasaanku setiap pagi, nonton tv sambil nyeruput secangkir kopi dan terasa segarnya udara lewat jendela yang bingkainya sudah rapuh dimakan rayap. Dari jendela sesaat kulihat butir embun jatuh dipelepah daun pisang yang akhirnya jatuh ke bumi dan kering seiring sinar mentari. Tanganku sibuk mencari cannel favoritku.SCTV. Sekilas aku melihat jam dinding yang tergantung di atas tv. Pukul 06.30 Wita. Kepala Sekolah dan 6 guru SMA Negeri Barata Yuda Kab. Sindang Wangi ditangkap aparat kepolisian setempat. Mereka terbukti memberi kunci jawaban kepada para siswa yang sedang ujian. Mereka dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan sehubungan dengan kasus ini. Mataku tak berkedip sedikitpun ke layar kaca. Jelas `sekali kepala sekolahku, Pak Yono, Bu Neni, Pak Baso, Pak Imran, Pak Indra, dan Pak Yance digiring aparat polisi ke mobil yang sudah siap membawa mereka ke kantor polisi. Aku penasaran. Kupencet hpku dan calling ke Pak Ahmad. Kutanyakan perihal berita yang baru saja kusaksikan. Benar, Pak..Mereka dipergoki pengawas independen sedang kerja soal di ruang BK dan dikirim ke anak-anak lewat sms. Kasus ini sudah diketahui dinas. Dan yang paling penting, Bapak tidak jadi dipecat. Saya ceritakan persoalan ini ke Sekda perihal nasib Bapak, dan oleh beliau bapak tidak jadi dipecat. Tinggal sk Bapak yang ditunggu satu dua hari ini. Aku masih tertegun, mencerna kalimat-demi kalimat yang baru saja suap dari tellingaku. Ada rasa sedih menembus dalam hatiku. Tapi, aku juga tersenyum karena tak jadi dipecat. Semoga peristiwa ini membuat sadar kalo selama ini ada kekeliruan fatal yang harus diubah. Semoga virus pembodohan ini musnah dari sosok-sosok karbitan pendidikan Majene, April 2011