Anda di halaman 1dari 15

RESUME AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN (AIK)

POKOK BAHASAN : y y y y y ISLAM PENDEKATAN DALAM STUDY ISLAM BIDANG KAJIAN ISLAM AKIDAH TAUHID

OLEH

MOH JOKO SANTOSO NIM. 08610081 / KELAS MUTTAQODIMIN

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG TAHUN AJARAN 2008 / 2009

RESUME 1. ISLAM Menurut pandangan orang ISLAM, hanya sedikit atau bahkan tidak ada aspek dakdalam kehidupan individu yang tidak dipandang sebagai ungkapan Islam atau yang tidak berasal dari implikasinya.karena tpandangan umat Islam tentang dunia selalu terpadu dan menyeluruh,dengan komitmen beragama yang di pandang sebagai inti dari mana semua hal lain berasal. Semakin dekat individu semakin itu mengamati budaya tradisional dunia Islam, semakin kuat penolakannya terhadap pembedaan tersebut. Meslipun dalam beberapa tahun terakir sekulerisme san pandangan sekuler merasuki pemikiran Islam, namun sebagian umat Islam tidak mudah menerimanya. Pemikir-pemikir Islam mengadopsi sejumlah cara untuk menghindari implikasi radikal sekulerisme. Maka, berkembang tekanan kuat diantara umat Islam sendiri untuk berpikir dan mencoba hidup menurut pandangan dunia Islam. Tekanan semacam itu muncul bersamaan dengan upaya sungguh-sungguh untuk merubah aspek-aspek kehidupan sosial, meskipun akan menimbulkan transformasi besar dalam masyarakat Islam tradisional. Pada masa sekarang ketika dunia islam dihadapkan pada dilemma yang ditimbulkan oleh hubungannya dengan tekanan modernitas dan kegagalannya sendiri. Dicari alat-alat luar yang dapat digunakan untuk bertahan, alat yang munkin saja tidak sesuai dengan idenditas, takdir dan kehi9dupan numat islam menurut hukum ALLAh. Menurut kata-kata Grunebaum,alat yang dipilih adalah memandang sesuatu yang heterogenetik sebagai sesuatu yang ortogenetik (Von Grunebaum, 1962). Masalah yang dihadapi dalam islam upaya memahami konsep Islam disebabkan luasnya konsep, fakta yang ada, dan keragaman tingkat pemahaman diantara umat Islam sendiri. Pertanyaan, apa itu Islam?terbukti sulit dijaawab baik oleh umat Islam itu sendiri maupun bagi para sarjana ilmu agama, meskipun pertanyaan ini sama sulitnya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti Apa itu Kristen? atau Apa itu Budha? selain itu, sudut pandang yang dipakai mereka yang berusaha menjawab pertanyaan itu pun berbeda-beda. Islam harus dipandang dari perspektif sejarah seperti respon berbagai generasi muslim yang selalu berubah, berbenah, dan berkembang terhadap pandanganmendalam tentang realitas dan makna kehidupan manusia. Namun hal ini tidak hanya menunjukan pandangan yang berubah

namun visi itu sendiri sebagai cita-cita umat islam menyesuaikan diri dengan tuntutan berbagai generasi. Islam tidak dapat dipandang sebagai satu, namun banyak hal, bukan hanya satu sistem keyakinan dan praktik, namun banyak sistem. Serina kali muatan sejarah Islam menunjukan beberapa sistem yang saling berdampingan. Saling bersaing, bahkan saling bertarung. Ada kecenderungan umum untuk memandang Islam sebagai monopolitik dan memperlakukan aspek barunya, khususnya pada periode modern ini, sebagai pengkhianatan tradisi normatif atau penyimpangan dari tradisi itu. Apapun makna islam, sejauh ini yang bisa dipelajari, adalah bagian sejarah yang mencerminkan karakteristik universal eksistensi historis, yang mengalami perubahan. Maka, respon terbaik terhadap pertanyaan, apa itu islam? adalah merujuk pada proses pengalaman berkelanjutan dan ungkapannya, yang mengkaitkan kelangsungan historis dengan pesan dan pengaruh nabi. 2. Pendekatan dalam studi Islam Pendekatan dalam Islam sangat beragam dari yang normatif sampai yang deskriptif. Meskipun banyak usaha yang telah dilakukan untuk membangun penelitian agama yang benar benar ilmiah dan mandiri di lingkungan universitas universitas barat, terbukti sulit sekali melakukan penelitian yang benar benar netral pada masalah norma dan filsafat agama. Maka upaya untuk memisahkan pertimbangan normatif dari apa yang sebagian dipandang sebagai aspek ilmiah menjadi sangat mendesak ketika akademisi membahas agama yang diyakininya seperti pada kasus mahasiswa barat yang mempelajari Islam. a. Pendekatan normatif atau agamis Diantara beberapa pendekatan terhadap Islam yang termasuk mendekati sisi normatif atau agamis adalah, yaitu : 1. Pendekatan misionaris Islam 2. Pendekatan apologetik Muslim 3. Pendekatan irenik yang dilakukan beberapa penulis Barat Pendekatan misonaris Islam Pada abad ke 19 muncul gerakan misionaris dari pihak gereja, sekte dan jemaat. Gerakan ini didorong oleh pemahaman mendalam tentang peradaban dan masyarakat non Barat setelah meluasnya daerah jajahan. Sebagai bentuk konsekuensi ini banyak individu

yang mengadakan perjalanan ke Asia dan Afrika untuk mengubah keyakinan penduduk asli ke Kristen dan untuk menunjukkan kekuasaan Barat. Maka diantara para misionaris ini banyak individu yang mahir berkomunikasi dalam bahasa masyarakat Islam dan persetuhan mereka dengan budaya memperluas pengetahuan mereka tentang Islam. Pada masa awal gerakan misionaris tujuan utamanya adalah mengubah agama atau keyakinan penduduk setempat. Maka perhatian harus diberikan pada perbandingan antara kristen dan Islam yang selalu merendahkan Islam. Meskipun kelompok lama sudah lama melepaskan tujuan menyebarkan agama Kristen, sejak PD II muncul elemen baru dalam bentuk misi keyakinan. Misi ini yang umumnya menganut keyakinan protestan ultrafundamentalis, membanjiri dunia Islam dengan tujuan membantu orang Islam memahami kesalahan jalannya. Sampai sekarang pendekatan misionaris tradisional terhadap Islam masih dipakai. Pendekatan Apologetik Diantara karekteristik penting pemikiran muslim pada Abad 12 adalah kecenderungan pada apologetik. Maka sulit sekali menemukan penulis Islam yang tidak mencerminkan pandangan apologetik. Apologetik dapat dipandang sebagai respon pemikiran Muslim terhadap situasi masyarakat Islam di zaman modern. Selain itu usaha ini bertujuan mencari alat untuk memodernisasi diri, yang dianggap menjadi kunci untuk meraih kembali kekuasaan dan kejayaan yang hilang, yang pada saat bersamaan berjuang mempertahankan identitas dan prinsip warisan taradisonalnya. Kelompok apologis telah menjadi sumbangsih pada masyarakat Islam dengan berbagai macam cara. Namun seperti gerakan misionaris Islam, gerakan apologetik memiliki sejumlah karekteristik yang dipandang kurang jelas dari sudut pandang keilmuan. Karena apologetik sangat berusaha menunjukkan Islam dengan cara yang positif, gerakan ini sering kali melakukan kesalahan yang menurunkan nilai keilmuannya. Maka kegagalan apologetik Muslim modern, harus dipandang sisi motif bukan sisi akademisi. Pendekatan Irenik Beberapa tahun sejak PD II berkembang gerakan baru di Barat, gerakan ini memiliki tujuan moral dan Agamis selain tujuan intelektual. Gerakan ini ingin memahami lebih mendalam tentang nilai nilai yang ditujukan Islam pada umatnya sendiri dan memberi evaluasi yang positif tentang kesalahan umat Islam.

Namun mereka yang menerapkan pendekatan ini masih kesulitan dalam menanamkan hubungan dengan umat Islam dikarenakan pandangan umat islam, berdasarkan pengalaman silam terhadap studi Orientalis Barat. Banyak tokoh tokoh yang menjadi contoh variasi pendekatan irenik terhadap Islam diantaranya Gragg dan Smith.

b. Pendekatan sejarah dan Ilmu Bahasa Tak dapat disangkal bahwa persepktif paling produktif pada studi Islam adalah persepektif Ilmu bahasa dan sejarah. Pada awalnya minat terhadap ilmu bahasa tidak berangkat dari minat terhadap Islam, namun sering kali sebagai dampak dari minat bidang lain seperti studi tentang bibel atau perbandingan semetik. Karena bahasa studi semetik adalah bahasa arab maka mereka tertarik dengan Islam. Keilmuan ini telah menemukan kembali kejayaan budaya Islam yang terlupakan yang termasuk salah satu faktor penting dalam kebangkitan kembali Islam pada masa sekarang ini. Pendekatan ini menempatkan bahasa sebagai alat terpenting untuk memasuki warisan Islam. Kelemahannya terletak pada program berorientasi pada sosial dan studi lapangan yang cenderung mengarahkan mahasiswa pada tradisi disiplin ilmu bukannya budaya Islam keseluruhan. Salah satu harapan cerah untuk kedepan bahwa muncul tipe pakar yang memahami ilmu sejarah bahasa dan juga menerapkan metode dan pendekatan ilmi behavioral. c. Pendekatan Ilmu Sosial Tak dapat diragukan lagi ilmu sosial dan perkembangannya termasuk salah satu perkembangan terpenting dalam kehidupan intelektual dan dalam organisasi sains di universitas universitas abad ini. Karena berbagai macam alasan, pakar ilmu sosial yang tertarik dengan timur tengah merasa perlu menekuni Islam. Sangat sulit menjelaskan apa makna pendekatan ilmu sosial pada studi agama, karena ilmu sosial ini memiliki sifat dan validitas studi yang sangat beragam. Maka pandangan dan pendekatan yang mereka adopsi sesuai sifat perubahan dan kemajuan.

Salah satu faktor lainnya yang terkait dengan pandangan begitu banyak pakar ilmu sosial adanya keyakinan terhadap kemungkinan dan kebutuhan kebutuhan untuk menunjukkan secara objektif kekuatan yang menggerakkan perilaku manusia. Selain itu banyak pakar ilmu sosial menegaskan tujuan yang jauh sederhana untuk diri mereka sendiri ketimbang merumuskan perilaku manusia secara universal. Banyak pakar ilmu sosial berusaha memandang agama secara objektif sehingga agama dapat dijelaskan dan perannya dalam masyarakat dapat dipahami. Tujuan penelitian mereka adalah menemukan aspek empiris keagamaan dengan keyakinan bahwa mengungkap keinginan ini akan membantu seseorang untuk memahami apa sebenarnya agama itu. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir, kondisi ini sudah berubah namun sebagian besar angkatan mahasiswa ilmu sosial sebelumnya secara pribadi maupun intelektual bersifat memusuhi topik ini. Karakteristik lain dalam ilmu sosial yang tidak mencerminkan cita cita pakar sosial namun yang menekankan sisi praktis adalah kecenderungan untuk mempelajari manusia dengan membagi beberapa aktivitas manusia menjadi beberapa segmen terpisah. Sebagian besar pakar sosial yang memberi kontribusi penting pada studi Islam berasal dari berbagai disiplin ilmu sosial. Maka umumnya mereka tertarik dengan Islam hanya karena pengaruh Islam pada bidang yang mereka tekuni. Dari persepektif seperti semacam itu, agama dianggap sebagai fungi bidang aktivitas lainnya. d. Pendekatan Fenomenologi Aspek pendekatan fenomenologi sangat penting bagi studi Islam, maka apa yang harus dilakukan studi semacam ini adalah menguraikan makna keagamaan pengikut itu. Kategori untuk memahami dan menyusun pengalaman agama adalah kategori yang dibentuk umat beragama untuk diri mereka sendiri melalui karya tradisi historisnya dan pengalaman pribadinya sendiri. Nilai metode fenomenologi atau semangat untuk mempelajari Islam dan Revolusi pendekatan studi ini dihargai oleh semua pihak yang mempelajari tradisi keilmuan Barat yang berkaitan dengan tradisi Islam. Aspek kedua pendekatan fenomenologi adalah penyusunan skema taksonomi untuk mengklasifikasikan fenomena antar batas komunitas agama, budaya, bahkan epos. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir fenomenologi agama telah mencapai ketenaran di Amerika

utara karena pengaruh Mircea Eliade dan mahasiswanya, hampir tidak ada upaya untuk menerapakan metode dan pandangan ini. Fakta yang cukup menyedihkan bahwa studi Islam sebagai suatu agama kurang berkembang di perguruan tinggi di amerika utara. Maka kemajuan dalam memahami tradisi Islam sangat bergantung pada dua hal, yaitu : 1. Pengakuan Islam sebagai salah satu segmen utama aktivitas agama manusia 2. Pengakuan bahwa ada disiplin ilmu yang canggih tentang studi agama, dengan pandangan dan metodenya sendiri yang sumber dayanya harus digunakan untuk lebih memehami pengalaman agama Islam.

3. Bidang Kajian Islam Topik bahasan yang relevan dengan studi Islam sebagai agama dapat dibagi menjadi : 1. Dunia arab sebelum Islam 2. Studi tentang Nabi 3. Studi Al Quran 4. Tradisi Nabi ( hadist ) 5. Kalam 6. Hukum Islam 7. Filsafat 8. Tasawuf 9. Sekte Islam khususnya Syiah 10. Kehiduapan kebaktian dan pemujaaan 11. Agama popular

Dunia Arab Sebelum Islam Keputusan untuk membatasi latar belakang Islam hanya pada dunia Arab sebelum Islam agaknya dibuat secara sembarang. Maka latar belakang kemunculan Islam merupakan sejarah agama timur dekat kuno secara keseluruhan.

Dalam artikelnya yang berjudul Islam and Image karya Marshall G. S ,Hodgson menekankan fakta bahwa kehidupan agama di Timur Dekat umumnya tidak dipandang sebagai rangkaian namun diselidiki dan dipandang sebagai kumpulan komunitas yang tersendiri dan eksklusif ( Hodgson, 1964 ). Selama beberapa waktu pengetahuan tentang agama dan kondisi lain kehidupan sosial dunia arab Pra Islam tidak dapat digali karena pemerintah saudi tidak memberikan izin arkeologi mengadakan penelitian di Sana. Namun beberapa tahun terakhir ini studi tentang warisan agama Islam mengalami kemajuan karena adanya penelitian arkeologi tentang sejarah kuno kawasan ini. Meskipun tidak mudah bagi peneliti untuk mendapatkan izin. Chelhod membahas kultus pengorbanan yang muncul sebelum Islam yang mungkin dapat dikaitkan dengan ibadah Haji dan pengorbanan lain yang menunjukkan aspek kehidupan sipil dan agama dikalangan umat Islam.

Nabi Muhammad Beberapa tahun setelah PD II, kajian tentang kehidupan Nabi Muhammad sangat disukai. Biografi cukup mendalam karangan Watt mendasari dimensi sosial dan ekonomi dan latar belakang aktivitas Nabi serta menggambarkan kecerdikannya dalam menjalin hubungan dengan suku suku ( Watt, 1953 dan 1956 ). Arah baru dalam bidang penelitian ini ditunjukkan oleh karya antropolog R. B Serjeant (Serjeant, 1958) dan studi Al Quran Harris Birkeland ( Birkeland, 1956 ). Serjeant yakin bahwa kita dapat menemukan elemen elemen dalam kehidupan suku Arab yang membantu memahami kehidupan Arab selama masa Nabi. Sementara itu Harris Birkeland ( 1956 ) lebih tertarik pada kandungan AL Quran, sehingga karyanya lebih relevan dengan perihal yang dibahas pada bagian berikutnya. Yang terpenting di sini adalah keyakinannya bahwa analisa cermat pada naskah Al Quran menunjukkan aspek aspek perkembangan agamis pribadi Muhammad yang sebelummnya tidak dihargai.

Salah satu bidang penting dalam kajian Nabi Muhammad yang tidak mengalami banyak kemajuan adalah kajian tentang kehidupan beragama umat Islam. Karya yang memiliki relevan terkuat dengan hal ini adalah terjemahan Life of Muhammad karya Haykal, yang mungkin dianggap sebagai karya biografis terbaik dari seorang muslim pada abad 20.

AL Quran Menyerupai situasi kajian Nabi Muhammad, kajian Barat tentang AL Quran memfokuskan pada masalah penting yang menyelimuti kitab suci umat Islam ini. Yang mengejutkan adalah karakteristik kajian AL Quran. Sarjana barat cenderung menekankan kritik terhadap kitab suci ini. Untungnya gambaran ini sudah sedikit berubah. Daud Rahbar menulis karya penting yang menganut tesis bahwa pesan AL Quran terfokus pada konsep tentang keadilan Tuhan (Rabbar, 1960). Salah satu alasan kenapa perhatian lebih besar tidak diberikan pada upaya untuk menguraikan AL Quran adalah dominasi perhatian sejarah di antara generasi sarjana awal. Kurangnya perhatian pada kajian AL Quran juga terkait dengan penafsiran tradisional tentang kitab suci dalam masyarakat Islam sendiri. Smith berusaha melacak perkembangan konsep teologi dengan mengikuti

eksposisinya melalui serangkaian ulasan tentang AL Quran. Sekali lagi pertimbangan paling mendasar pada kajian Islam adalah makna AL Quran bagi pengikutnya.

Hadist Kondisi kajian menyangkut tradisi Nabi diukur menurut karya empat orang : Ignaz Goldziher (1910), Joseph Schacht (1945), Nabia Abbott (1967), dan Fuad Sezgein (1967). Selain itu kita patut mencatat kontribusi Fazlur Rahman dalam Islamic Methodology in History (Rahman 1965). Secara umum perihal keontetikan hadist Nabi Muhammad mungkin merupakan masalah paling rumit yang dihadapi kajian Islam. Padahal sebagian besar informasi historis tentang Islam awal dan perkembangannya didapat dari materi semacam itu.

Diantara perkembangan terbaru dalam kajian hadist adalah upaya untuk menjawab pertanyaan tentang makna tradisi Nabi bagi Umat-nya. Salah satunya adalah adanya perhatian untuk mengkaji perdebatan kontemporer dari waktu ke waktu dalam sejarah Islam. Sisi perkembangan lain yang membantu penafsiran makna hadist merujuk pada kajian William Paul MCLean tentang peran dan karakter yesus seperti yang disebutkan dalam kumpulan hadist. Dia meneunjukkan bahwa yesus yang digambarkan dalam hadist sangat berbeda dari yesus yang digambarkan dalam AL Quran. Dalam hadist, yesus termasuk dalam konteks manusia dan dalam hal ini diberi fokus dan makna baru yang tidak dijumpai dalam ayat ayat Kitab Suci.

Kalam Bidang kalam, atau teologi Islam termasuk salah satu bidang kajian yang sulit dinilai dikarenakan kompleksitas dan luasnya topik bahasan dan aktivitas terkaitnya. Namun teologi atau ungkapan intelektual keyakinan agama sangat menarik perhatian mahasiswa ilmu agama. Tugas untuk menetapakan garis garis besar atau framework sejarah pemikiran teologi Islam telah dilakukan para pakar pendahulu pada abad 19 dan periode sebelum PD I. Selain sejarah teologi, keilmuan bidang ini terkait dengan sosok penting tradisi teologi Islam. Perkembangan penting pada kajian kalam terkait dengan sejarah pemikiran teologi Islam awal dan dengan perkembangan terakhir kelompok ortodok Sunni, yang disebut Asyariah. Aspek kedua munculnya kembali perhatian pada periode awal pemikiran teologi dapat dituntut pada munculnya sejumlah studi teknis tentang tokoh dan naskah tertentu, yang meskipun relatif kurang jelas, sebagian diantaranya sangat penting untuk menilai karakteristik perkembangan bidang ini. Aspek ketiga adalah besarnya perhatian pada paham Mutaziah. Bidang selain studi pemikiran Islam awal, yang mengalami kemajuan, adalah sejarah aliran pemikiran yang bernama al Ashari.

Tentu saja ada banyak framework selain framework sejarah dimana kajian teologi Islam dilakukan. Salah satunya adalah pertimbangan sistematis doktrin utama. Meskipun kajian kalam telah mencapai banyak kemajuan namun dua hal terasa masih lemah. Pertama adalah upaya untuk menekankan batas pengetahuan diluar kajian tokoh tokoh tradisional terkenal. Kedua adalah kurangnya penelitian interpretative pada teologi Islam yang berusaha mendasari bentuk ungkapan untuk memperjelas perhatian pemikir tradisional.

Sufisme Selama tahun tahun terakhir bidang kajian Islam yang menarik perhatian sangat besar adalah sufisme. Studi Islam sebagai tradisi agama tidak dapat menghindari penjelasan tentang aliran mistis yang sejak awal sudah berkembang dalam masyarakat, bahkan sejak masa nabi sendiri. Meskipun upaya menyusun sejarah sufisme masih panjang namun beberapa karya patut dianggap merekonstruksi perkembangan sufisme diantaranya Essai sur les origins du lexigue technique de la mystique karangan Louis Massignon. Berkaitan dengan kajian Sufi yang membahas topik selain sejarah, kita dapat membedakan beberapa perkembangan penting dalam era sekarang ini. Perkembngan terkini kedua pada studi sufi adalah munculnya sejumlah karya tentang topik persaudaraan mistik yang dulu banyak dilupakan. Namun, kajian paling ekstensif tentang ordo sufi dan upaya untuk menunjukkan sejarah dan perkembangannya secara menyeluruh. Aspek lain penelitian kajian sufi adalah tidak mudah mengklasifikasikannya. Untuk saat ini perkembangan kajian sufi didukung dengan perkembangan ilmu bahasa.

Syiah Dengan sedikit perkecualian, tradisi keilmuan barat cenderung memandang Islam sebagai stuktur monolistis yang memiliki norma keyakinan dan praktik yang tertata dengan baik. Padahal asumsi semacam ini menghambat upaya untuk menjelaskan masalah yang dihadapi berkenaan dengan perkembangan Islam.

Karena para sarjana tidak memandang syiah termasuk elemen utama Islam, maka syiah tidak mendapatkan perhatian yang sepadan. Akibatnya ketika para sarjana ini menulis teologi Islam, perhatian mereka hanya terfokus pada para pemikir Sunni saja dan ketika mereka membahas perkembangan hukum Islam, yang menjadi perhatian mereka adalah perkembangan ilmu hukum dalam Islam Sunni. Terkait dengan kalam, sementara Sunni cenderung berpendapat menurut otoritas, Syiah lebih mengedepankan rasionalitas. Dalam hal ini syiah memiliki kemiripan dengan pola pemikiran Mutazilah.

Agama Popular Peribadatan, kehidupan kebaktian, dan agama popular termasuk elemen penting kajian Islam yang sering kali diabaikan. Maka penekanan lebih besar harus diberikan pada karakteristik kesalahan Islam dan kualitas pengalaman penganutnya dengan mengingat bahwa Islam adalah agama yang memiliki hukum formalistik. Selain itu literatur masa lalu juga terdiri dari sejumlah tulisan tentang agama popular masyarakat Islam. Materi semacam ini, meskipun tidak memiliki kaitan erat dengan tema Islam klasik berperan penting dalam menjelaskan Islam sebagai keyakinan yang hidup.

4. Pengertian Aqidah

Aqidah menurut bahasa (etimologi) berasal dari yang berarti ikatan, berasal dari kata at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat. Sedangkan menurut istilah (terminologi): aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. Jadi, Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma

(konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qathi (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma Salafush Shalih. 5. Pengertian Tauhid

Dari segi bahasa mentauhidkan sesuatu berarti menjadikan sesuatu itu esa. Dari segi syari tauhid ialah mengesakan Allah didalam perkara-perkara yang Allah sendiri tetapkan melalui Nabi-Nabi Nya yaitu dari segi Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma Was Sifat.

Pensyariatan Tauhid

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Az Zariyat 51:56)

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah 2:21)

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (QS. An Nahl 16:36)

Tauhid Sebagai Kewajiban Terbesar Tauhid merupakan materi dakwah pertama para Rasul. Tauhid merupakan terminal pertama dan langkah terawal bagi mereka-mereka yang ingin menempuh jalan kepada Allah.

Apabila tauhid wujud dalam diri seseorang secara sempurna, maka tauhid akan mencegah seseorang itu masuk neraka.

Nabi saw bersabda: Tidak seorangpun bersaksi bahawa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul Nya benar-benar dari hatinya kecuali Allah akan mengharamkan atasnya neraka. (Hadis Riwayat Bukhari)

Apabila tauhid ada dalam diri seseorang (walaupun seberat biji sawipun), ia akan mencegah dari kekal di neraka selamanya.

6. Macam macam Tauqid

Ada 3 macam Tauhid : 1. Tauhid Rububiyah Mengesakan Allah Swt dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. Allah Swt berfirman : Allah menciptakan segala sesuatu. (Az-Zumar:62) Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya, sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rezeki. Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan sembahan(mu) selain Allah(Luqman 11). Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang bintang (masing masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta Alam. (Al-Araf 54) Allah menciptakan semua makhluk-Nya diatas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Jadi jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat manapun yang menyangkalnya. Bahkan, hati msnusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. 2. Tauhid Uluhiyah Yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah mabud (yang disembah). Maka, tidak ada yang diseru dalam doa, kecuali Allah, tiada yang dimintai pertolongan kecuali Allah, tiada yang boleh dijadikan tempat bergantung, kecuali Dia, tidak boleh menyembelih korban atau bernazar, kecuali untuk-Nya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah, kecuali untuk-Nya dan karena Dia semata. 3. Tauhid Asma wa-sifat Yaitu beriman kepada nama nama Allah dan sifat sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Quran dan Sunnah RasulNya menurut apa yang pantas bagi Allah Swt. Maka barangsiapa yang mengingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat

makhlukNya, atau men tawilkan dari makna yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid ar-rububiyah. Oleh karena itu Imam Ahmad berkata: "Qadar adalah kekuasaan Allah". Karena, tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang- tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada Lauh Mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.