Anda di halaman 1dari 15

UJIAN SEMESTER KAPITA SELEKTA KOMUNIKASI

KOMUNIKASI INTELIJEN: ANTARA RUU INTELIJEN DAN HAM

Dosen: Drs. Ch. Herutomo, M.Si

Disusun oleh: Ditia Adi Noerhuda F1C008064

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2012

Paper Mata Kuliah Kapita Selekta Komunikasi

KOMUNIKASI INTELIJEN: ANTARA RUU INTELIJEN DAN HAM Oleh: Ditia A. Noerhuda F1C008064

Rancangan Undang-Undang tentang Intelijen Negara telah disahkan menjadi UndangUndang Intelijen Negara (UU No. 17 tahun 2011) pada tanggal 7 November 2011 lalu. Namun, masih banyak kontroversi yang muncul dari Undang-Undang ini. Salah satu yang paling gencar diantaranya adalah dalam kaitannya dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Banyak pihak yang menilai bahwa UU Intelijen akan menjadi celah untuk melegalkan beberapa tindak pelanggaran HAM. Intelijen Aslinya, intelijen berasal dari kata Romawi, intelligere, berarti memahami suatu permasalahan dengan amat baik. Intelijen lalu bersinonim dengan kata cerdas, brilian, pandai, cerdik-cendekia, berpengetahuan luas, dan seterusnya. Tidak ada hubungan malah bertentangan dengan kata akal-bulus, atau tipu muslihat. Kemudian intelijen dan matamata pada suatu periode mulai disamakan. Intelijen adalah sebuah seni mencuri, mengumpulkan, dan mengolah informasi. Sedangkan intelijen negara adalah lembaga negara yang merupakan bagian integral dari sistem keamanan nasional yang memiliki wewenang untuk menyelenggaran fungsi dan kegiatan intelijen. Intelijen merupakan produk yang dihasilkan dari pengumpulan, perangkaian, evaluasi, analisis, integrasi, dan interpretasi dari seluruh informasi yang berhasil di kumpulkan tentang keamanan nasional. Dengan kata lain, intelijen merupakan sari dari pengetahuan yang diproduksi oleh manusia. Seorang agen intelijen profesional mencoba mencoba membuat prediksi dengan menganalisis dan me nyin tesis aliran informasi terkini, serta menyediakan para pembuat keputusan dengan proyeksi latar belakang yang dapat dijadikan ukuran dari kebijakan dan tindakan yang akan dibuat. Selain itu, intelijen yang profesional juga memberikan tindakan-tindakan alternatif yang dapat diambil oleh pengambil kebijakan dan memberikan dasar bagi pilihan yang paling bijak. Sistem intelijen negara adalah kesatuan proses dan kegiatan yang dilakukan secara rahasia dan tertutup oleh badan-badan dan anggota-anggota intelijen negara yang 2

bertanggung jawab untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan informasi untuk menjamin keamanan nasional serta keberadaan masyarakat demokratik. Kegiatankegiatan intelijen merupakan instrumen eksklusif negara yang menjadi garis pertama pertahanan dan keamanan negara dari berbagai bentuk dan sifat ancaman yang berasal dari para aktor individu, kelompok, ataupun negara, baik dari dalam maupun luar negeri. Di Indonesia, kewenangan intelijen dipegang oleh Badan Intelijen Negara (BIN). Badan Intelijen Negara, disingkat BIN, adalah lembaga pemerintah nonkementerian Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang intelijen.

Hak Asasi Manusia (HAM) Hak asasi manusia adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang sejak ia dalam kandungan. HAM berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) dan tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1. Hak asasi dapat dirumuskan sebagai hak yang melekat dengan kodrat kita sebagai manusia yang bila tidak ada hak tersebut, mustahil kita dapat hidup sebagai manusia. Hak ini dimiliki oleh manusia semata mata karena ia manusia, bukan karena pemberian masyarakat atau pemberian negara. Maka hak asasi manusia itu tidak tergantung dari pengakuan manusia lain, masyarakat lain, atau Negara lain. Hak asasi diperoleh manusia dari Penciptanya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan hak yang tidak dapat diabaikan. Sebagai manusia, ia makhluk Tuhan yang mempunyai martabat yang tinggi. Hak asasi manusia ada dan melekat pada setiap manusia. Oleh karena itu, bersifat universal, artinya berlaku di mana saja dan untuk siapa saja dan tidak dapat diambil oleh siapapun. Hak ini dibutuhkan manusia selain untuk melindungi diri dan martabat kemanusiaanya juga digunakan sebagai landasan moral dalam bergaul atau berhubungan dengan sesama manusia. Pada setiap hak melekat kewajiban. Karena itu, selain ada hak asasi manusia, ada juga kewajiban asasi manusia, yaitu kewajiban yang harus dilaksanakan demi terlaksana atau tegaknya hak asasi manusia (HAM). Dalam menggunakan Hak Asasi Manusia, kita wajib untuk memperhatikan, menghormati, dan menghargai hak asasi yang juga dimiliki oleh orang lain.

RUU Intelijen Dengan mendapat persetujuan dari semua fraksi di DPR akhirnya Rancangan Undang-Undang Intelijen disahkan menjadi UU Intelijen. Dikutip dari voanews.com, Ketua Komisi pertahanan DPR Agus Gumiwang Katasasmita dalam laporannya didalam sidang Paripurna DPR menjelaskan bahwa Undang-undang Intelijen tidak memberikan wewenang untuk menahan dan menangkap kepada Badan Intelijen Negara, karena hal itu merupakan tugas dari penegak hukum. Aparat Intelijen diberikan wewenang untuk melakukan penggalian informasi, melakukan pemeriksaan aliran dana dan menyadap. Mengherankan, bahwa RUU Intelijen yang sedang digodok DPR dan Pemerintah RI memiliki banyak bolongnya, terutama hak-hak dasariah (non-derogable rights) justru tidak dijamin. Konstitusi negara kita UUD 1945, termasuk hasil amandamennya dengan jelas mencatumkan Hak-hak Dasariah itu. Tapi, untuk sebagian Anggota DPR dan Pemerintah, hak-hak fundamental itu justeru terpangkas dan tidak dijamin dalam RUU Intelijen. Amandemen Konstitusi UUD 1945, yang lebih banyak menegaskan UUD 1945 poin-poin UUD RIS di masa lalu, merupakan penekanan pada hak-hak dasariah yang telah dan terus diperhatikan setelah Declaration of Human Rights dinyatakan secara publik oleh PBB 1948. Rupanya Rancangan Undang-Undang (RUU) Intelijen yang digodok DPR dan Pemerintah masih mengandung 19 pasal bermasalah. Absensi tata nilai Hak Asasi Manusia (HAM) dalam RUU amat mencolok, dan seolah RUU Intelijen membangun hak fundamental manusia secara keliru, dan pembatasan HAM itu semata untuk kepentingan penguasa. Mengkonfrontasikan HAM dengan RUU Intelijen adalah kekeliruan paham secara mendasar. RUU sendiri menjadi berpeluang melanggar UUD 1945 yang justeru menjamin HAM, maka diakui dan dibela Warga Negara Indonesia. Jika RUU Intelijen berdiri bertentangan dengan HAM yang dijamin Konstitusi UUD 1945, berarti rancangan itu bertentangan pada dirinya. RUU Intelijen sendiri tidak dipahami beberapa hal fundamentalnya secara benar. Adapun deretan permasalahan RUU Intelijen tersebut terdiri dari definisi atau batasan apa itu intelijen. Kalau bertolak dari kata dan cakupannya saja tidak jelas, bagaimana membangun sebuah Undang-Undang Intelijen secara benar, bermanfaat bagi kemaslahatan umum dan sesuai Konstitusi? Beberapa poin lain yang dianggap kabur adalah: Ancaman dan keamanan nasional yang tidak jelas. 4

Fungsi Badan Intelijen Negara (BIN) meluas hingga ke daerah yang memberi kewenangan berlebihan.

BIN juga secara salah diposisikan di bawah Presiden (kekuasaan), padahal semestinya di bawah Departemen.

Intelijen yang dikhususkan kepada TNI tidak dijelaskan juga secara rinci tugasnya dan dikhawatirkan menjadi represif.

BIN sebagai kordinator lembaga intelijen yang masih menjalankan tugas operasional. Banyak kekhawatiran muncul, bahwa semua kekaburan ini akan rentan

disalahgunakan.

RUU Intelijen vs ISA (Internal Security Act) Internal Security Act (ISA) adalah sebuah sistem aturan yang meletakan kewenangan kepada pemerintah eksekutif dari dari yuridkisi untuk menjaga keamanan internal bangsa. Dalam beberapa yuridiksi, ISA memberikan wewenang untuk menangkap dan menahan orang tanpa melalui proses pengadilan. Beberapa negara yang menggunakan ISA diantaranya adalah Amerika Serikat, Singapura, dan Malaysia. Di Singapura, ISA didefinisikan sebagai undang-undang yang memberikan keamanan internal Singapura, penahanan preventif, pencegahan subversi, penindasan kekerasan terorganisir terhadap orang dan properti di daerah tertentu dari Singapura, dan untuk tambahan hal-hal insidental. ISA ini kontroversial karena beberapa menganggapnya sebagai hukum kejam yang peredaman kebebasan sipil. Para pendukung hukum berpendapat bahwa ISA diperlukan oleh negara untuk mengantisipasi dan menggagalkan ancaman keamanan serius. Beberapa waktu yang lalu muncul perdebatan tentang perlu tidaknya Indonesia membuat semacam Internal Security Act, seperti yang dimiliki oleh Singapura dan Malaysia. Perdebatan ini dipicu oleh beberapa kejadian aksi terorisme dan antisipiasi terhadap memburuknya situasi keamanan nasional menjelang pemilihan umum dan perkembangan situasi keamanan dalam negeri secara umum, misalnya munculnya konflik komunal dan pemberontakan dalam negeri. Tetapi, perdebatan itu masih membingungkan publik tentang apa itu Internal Security Act (ISA); apakah model ISA Malaysia dan Singapura ataukah Undang-Undang Keamanan Nasional seperti National Security Act tahun 1947 yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Walaupun perdebatan dan wacana tentang ISA mulai surut, secara aktual yang terjadi di lapangan, misalnya dengan adanya UU Terorisme, perdebatan sekitar RUU 5

Intelijen, dan per-luasan kegiatan/koordinasi BIN di daerah menggarisbawahi bahwa semangat ISA masih menjadi salah satu wacana dominan yang dikembangkan oleh negara dalam mengelola masalah keamanan nasional. Karena itu, kajian perbandingan dengan melihat pengalaman Malaysia penting untuk dilakukan. ISA lahir karena ada kepentingan dan kewajiban negara untuk menegakkan public order dan interests atas nama keamanan negara. Tentu hal ini dapat memberikan keleluasaan kepada penguasa untuk menafsirkan apa yang dimaksud dengan public order dan public interests atas nama keamanan negara. Ini sekaligus menegaskan bahwa ISA dan langkah-langkah sejenisnya sejak awal dihadapkan pada masalah klasik yaitu bagaimana membuat keseimbangan antara keamanan negara untuk melindungi public order dan public interests dan kebebasan dan hak-hak individual. Sebagai contoh, ambil penetapan ISA di negera tetangga, Malaysia. ISA Malaysia kini telah berumur lebih dari 40 tahun. Dalam perjalanannya, mereka yang ditangkap atas dasar ISA adalah mereka yang dianggap melakukan tindakan in manner prejudicial to the security of Malaysia or any part of thereof or to the maintenance of essential services therein or to the economic life thereof. Mereka dikenakan masa tahanan polisi selama 60 hari dan tidak memperoleh akses atas bantuan hukum dan kontak dengan keluarganya. Setelah 60 hari masa penahanan oleh polisi biasanya mereka dipindahkan ke sebuah kamp penahanan atas perintah dari Kementrian Dalam Negeri dengan kondisi tertentu. Mereka juga tidak diberi kesempatan untuk mengajukan keberatan dan pertanyaan seputar legalitas penahanan dan tuduhan negara yang menyebabkan mereka ditahan. Sebagai produk politik hukum yang ditujukan untuk menegaskan wewenang negara berhadapan dengan kebebasan sipil dalam situasi khusus dan memaksa untuk menjamin keamanan nasional, ada 5 (lima) aspek ISA yang perlu dilihat yaitu: 1. Situasi darurat penahanan 2. Apakah alasan kecurigaan dan penahanan kuat 3. Perlindungan dan bantuan hukum 4. Judicial review 5. Keadaan kamp tahanan

RUU Intelijen dan Berbagai Kontroversi yang Muncul Pada saat disahkannya RUU Intelijen, para aktivis dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan mahasiswa melakukan unjuk rasa menolak pengesahan RUU Intelijen menjadi Undang-undang. Salah satunya adalah dari KontraS, yang mengungkapkan pasal6

pasal yang ada didalam Undang-undang Intelijen banyak yang multitafsir sehingga sangat rentan ditafsirkan secara luas. KontraS juga menilai Undang-undang ini akan mengancam kebebasan dan demokrasi. Penolakan atas pengesahan Undang-undang intelijen ini juga datang dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). AJI menilai sejumlah pasal dalam Undang-undang ini berpotensi mengancam kebebasan pers. Beberapa pasal yang mengancam kebebasan pers dalam UU Intelijen diantaranya pasal 1 ayat 6, pasal 25 Ayat (1), pasal 26, pasal 31, pasal 32, pasal 44 dan pasal 45. Sedangkan kemerdekaan pers dijamin sebagai Hak asasi manusia yang diatur dalam pasal 28 F UUD tahun 1945 dan pasal 4 UU Pers No. 40 tahun 1999.

Pasal 4 (UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers) 1. Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. 2. Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran. 3. Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. 4. Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak. Pasal 28F UUD 1945 Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Pasal 1 Ayat (6) (UU No 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara) Rahasia Intelijen adalah informasi, benda, personel, dan/atau upaya, pekerjaan, kegiatan Intelijen yang dilindungi kerahasiaannya agar tidak dapat diakses, tidak dapat diketahui, dan tidak dapat dimiliki oleh pihak yang tidak berhak. Pasal 25 Ayat (1) (UU No 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara) Rahasia Intelijen merupakan bagian dari rahasia negara. Pasal 26 (UU No 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara) Setiap Orang atau badan hukum dilarang membuka dan/atau membocorkan Rahasia Intelijen. Pasal 31 (UU No 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara) Selain wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 Badan Intelijen Negara memiliki wewenang melakukan penyadapan, pemeriksaan aliran dana, dan penggalian informasi terhadap Sasaran yang terkait dengan: a. kegiatan yang mengancam kepentingan dan keamanan nasional meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, dan sektor kehidupan masyarakat lainnya, termasuk pangan, energi, sumber daya alam, dan lingkungan hidup; dan/atau 7

b. kegiatan terorisme, separatisme, spionase, dan sabotase yang mengancam keselamatan, keamanan, dan kedaulatan nasional, termasuk yang sedang menjalani proses hukum. Pasal 32 (UU No 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara) (1) Penyadapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dilakukan berdasarkan peraturan perundangan-undangan. (2) Penyadapan terhadap Sasaran yang mempunyai indikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dilaksanakan dengan ketentuan: a. untuk penyelenggaraan fungsi Intelijen; b. atas perintah Kepala Badan Intelijen Negara; dan c. jangka waktu penyadapan paling lama 6 (enam) bulan dan dapat diperpanjang sesuai dengan kebutuhan. (3) Penyadapan terhadap Sasaran yang telah mempunyai bukti permulaan yang cukup dilakukan dengan penetapan ketua pengadilan negeri. Pasal 44 (UU No 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara) Setiap Orang yang dengan sengaja mencuri, membuka, dan/atau membocorkan Rahasia Intelijen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Pasal 45 (UU No 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara) Setiap Orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan bocornya Rahasia Intelijen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Salah satu pasal yang mendapat sorotan dalam UU Intelijen tentang kebocoran rahasia negara. Pasal-pasal tersebut dikhawatirkan mengancam masyarakat sipil, terutama pers yang melakukan kegiatan pemberitaan. Kepala Badan Intelijen Negara, menepis kekhawatiran tersebut. Menurutnya, pasalpasal tersebut tidak dimaksudkan sebagai ancaman bagi masyarakat tetapi lebih tertuju kepada anggota intelijen. Banyak pihak seperti Koalisi Masyarakat Sipil Advokasi RUU Intelijen dan sejumlah elemen masyarakat lainnya akan mengajukan peninjauan kembali Undang-undang intelijen ini ke Mahkamah Konstitusi.

Penyadapan yang Dinilai Melanggar HAM Salah satu ketentuan di dalam UU Intelijen Negara yang memiliki potensi ancaman tinggi bagi perlindungan kebebasan warga negara, khususnya terkait dengan perlindungan hak-hak privasi, adalah munculnya pengaturan mengenai penyadapan-intersepsi

komunikasi, yang tidak cukup memberikan batasan. Ketentuan penyadapan yang diatur di 8

dalam Pasal 32 UU Intelijen Negara, meski terkesan memberikan batasan dan syarat bagi intelijen, dalam menggunakan kewenangan penyadapan, namun hal itu belum cukup untuk memberikan perlindungan bagi warganegara. Pasal 32 UU Intelijen Yang dimaksud dengan penyadapan adalah kegiatan mendengarkan, merekam, membelokkan, menubah, menghambat, dan/atau mencatat transmisi informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik, baik menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun jaringan nirkabel, seperti pancaran elektromagnetik atau radio frekuensi, termasuk memeriksa paket, pos, surat-menyurat, dan dokumen lain. Yang dimaksud dengan peratura perundang-undangan adalah Undang-Undang ini. Secara prinsipil, dilihat dari fungsi dan kewenangannya, lembaga intelijen negara sudah sepatutnya diberikan wewenang untuk melakukan intersepsi komunikasi (dalam hal ini, penyadapan), namun aturan yang muncul di dalam RUU, justru memiliki potensi pada terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Dalam praktik internasional, undang-undang nasional yang mengatur mengenai kewenangan penyadapan bagi lembaga intelijen, harus secara tegas mengatur mengenai hal-hal berikut ini: 1. Tindakan penyadapan yang dapat dilakukan 2. Tujuan melakukan penyadapan 3. Kategorisasi objek, yaitu individu yang dapat dilakukan penyadapan 4. Ambang kecurigaan, yang diperlukan untuk membenarkan penggunaan tindakan penyadapan 5. Pengaturan mengenai pembatasan durasi dalam melakukan tindakan penyadapan 6. Prosedur otorisasi/perijinan 7. Pengawasan serta peninjauan atas tindakan penyadapan yang dilakukan Oleh karena itu, sejalan dengan praktik-praktik internasional dan hukum HAM internasional, pengaturan mengenai pemberian kewenangan khusus intersepsi komunikasi bagi lembaga intelijen, di dalam UU Intelijen negara, seharusnya cukup menyebutkan perihal pemberian kewenangan untuk melakukan intersepsi/penyadapan. Selebihnya, mengenai otorisasi, tata cara, pengawasan, dan penggunaan hasil penyadapan, serta mekanisme komplain bagi korbannya, haruslah mengacu pada peraturan perundangundangan yang lain (undang-undang mengenai intersepsi komunikasi/penyadapan), tidak mengunci dari kemungkinan tunduk pada peraturan perundang-undangan lain, seperti yang tertuang dalam UU Intelijen Negara saat ini. Pengalaman di beberapa negara seperti Belanda, Amerika Serikat, dan Canada, pengaturan mengenai penyadapan diatur secara khusus di dalam Kitab Undang-Undang 9

Hukum Pidana mereka. Bila melihat Canadian Security and Intelligence Service Act, seluruh ketentuan mengenai intersepsi, termasuk pengertian, tata cara penyadapan, serta otoritasinya haruslah tunduk dan mengacu pada Canadian Criminal Code. Sementara di Indonesia pengaturan mengenai penyadapan diatur secara menyebar di dalam sejumlah peraturan perundang-undangan, untuk itu guna menindaklanjuti amar dari putusan MK, terkait dengan pengujian UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sebaiknya pengaturan mengenai penyadapan diatur di dalam satu undangundang khusus. Adanya undang-undang khusus mengenai penyadapan setidaknya menjadikan adanya satu kesatuan hukum penyadapan, sehingga bisa meminimalisir tindakan intersepsi illegal, yang berpotensi mengancam perlindungan hak asasi manusia warga negara.

RUU Intelijen vs HAM Dikutip dari Kantor Berita Antara, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai Rancangan Undang-Undang Intelijen Negara yang telah selesai dibahas oleh Panitia Kerja Komisi I DPR masih belum mengakomodasi norma-norma HAM. RUU Intelijen ini memang sangat penting untuk segera disahkan, mengingat kerja dan operasi intelijen di Indonesia selama ini tidak memiliki payung hukum dan bekerja pada prinsip demokrasi. Namun, RUU Intelijen hasil Panja itu masih belum sesuai dengan norma umum HAM, baik nasional maupun internasional. Komnas HAM mencatat beberapa hal yang krusial dari draf terakhir RUU Intelijen yang perlu diperbaiki, antara lain, tentang keamanan nasional (Kamnas) Ayat 8 Pasal 1 dan Pasal 3, karena tidak ada pengertian yang jelas mengenai Kamnas. Pengertian Kamnas tidak boleh direduksi menjadi keamanan pemerintah.

Pasal 8 Ayat 1 Pihak Lawan adalah pihak dari dalam dan luar negeri yang melakukan upaya, pekerjaan, kegiatan, serta tindakan yang dapat mengancam kepentingan dan keamanan nasional. Pasal 3 Hakikat Intelijen Negara merupakan lini pertama dalam sistem keamanan nasional. Dalam prinsip Johanesburg Ke-1, menyatakan, pembatasan HAM yang dijustifikasi dengan alasan keamanan nasional tidak sah bila tujuannya untuk melindungi yang tidak ada hubungannya dengan keamanan nasional, termasuk melindungi pemerintah dari kesalahannya. 10

Selain itu, Pasal 32 tentang penyadapan. Kewenangan penyadapan seharusnya diberlakukan dalam situasi khusus dengan payung hukum yang jelas, seperti dalam situasi darurat sipil atau darurat militer atau darurat perang yang penetapannya melalui payung hukum. Mengenai pengawasan eksternal terhadap intelijen, RUU Intelijen belum mengakomodasi tentang diperlukannya pengawasan terhadap operasi intelijen yang tidak hanya dilakukan oleh DPR, namun perlu dibentuk suatu Komisi Pengawas Intelijen. Terkait masa retensi dalam Pasal 25 itu, masa retensi yang tidak membagi dan mengkualifikasi jenis rahasia intelijen dapat berpotensi melanggar norma HAM dan menghambat kinerja Komnas HAM sebagai institusi negara. Masa retensi yang terlalu panjang, yakni 25 tahun akan menghalangi upaya penyelidikan yang dilakukan Komnas HAM terkait adanya dugaan pelanggaran HAM. Oleh karena itu, Komnas HAM mengusulkan masa retensinya adalah tiga tahun, lima tahun dan tujuh tahun, tergantung pada jenis rahasia intelijen. Namun, bila berpotensi dapat menimbulkan perpecahan bangsa, maka masa retensi bisa ditetapkan 25 tahun melalui keputusan pengadilan. Pengubahan kewenangan penangkapan menjadi penggalian informasi dalam pasal 31 akan menimbulkan masalah baru karena masih belum jelas, apakah intelijen melakukan penangkapan, pemeriksaan intensif atau interogasi. Ini akan membelengu kebebasan sipil. Komnas HAM menyesalkan tidak diminta pendapatnya dalam proses penyusunan RUU Intelijen Negara, baik Rapat Dengar Pendapat oleh Komisi I DPR maupun oleh Badan Intelijen Negara (BIN). Oleh karena itu, Komnas HAM memandang bahwa RUU Intelijen Negara belum cukup "fit dan proper" untuk disahkan menjadi UU, sehingga perlu ada perbaikan secepatnya sebelum disahkan. Secara luas, banyak pihak yang menilai bahwa UU Intelijen yang telah disahkan terseabut tidak mengakomodir kebebasan HAM. Isi pasal didalamnya bertolak belakang dengan hukum dan bertentangan dengan kebebasan masyarakat. Beberapa pasal yang bertentangan dengan hukum dan HAM itu antara lain tentang belum dimuatnya instrumen HAM dan kewenangan penangkapan selama 7x24 jam. UU ini menjadi ancaman atas kewenangan penangkapan 7 x 24 Jam oleh Intelijen Negara bertentangan dengan asas dasar hukum formal pidana pasal 16 jo pasal 20 KUHAP bahwa intelijen negara bukan merupakan aparat hukum yang berwenang dalam melakukan

11

penangkapan, penahanan (pro justicia) hal ini akan merusak mekanisme criminal justice system yang telah berlaku (DIM Pemerintah no.89). Dalam pasal 2 juga disebutkan bahwa asas penyelenggaraan intelijen Negara belum memuat prinsip-prinsip dasar HAM berupa non diskriminasi, keadilan, kesetaraan / persamaan hak, praduga tidak bersalah (persception of innocent) dan perlindungan minimal. Dalam RUU ini juga belum diatur tentang beberapa prinsip-prinsip penting seperti prinsip legalitas, dan prinsip nesesitas. UU ini juga belum mengatur secara khusus tentang perlindungan hak-hak dasar warga negara khususnya tersangka dalam operasi intelijen mencakup Derogable Rights (Pasal 27-29 UUDNRI 1945 jo UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang HAM) dan khususnya Non Derogable Rights. Begitupun tentang hak-hak korban (rehabilitasi, kompensasi).

Kesimpulan Intelijen adalah sebuah seni mencuri, mengumpulkan, dan mengolah informasi. Sedangkan intelijen negara adalah lembaga negara yang merupakan bagian integral dari sistem keamanan nasional yang memiliki wewenang untuk menyelenggaran fungsi dan kegiatan intelijen. Hak asasi manusia adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang sejak ia dalam kandungan. HAM berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) dan tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1. Tidak sedikit Anggota DPR (DPRD) yang tidak mendasarkan suatu RUU pada landasan ideologi dan konstitusional yang ada dalam Negara kita. Untunglah bahwa kita telah memiliki Mahkamah Konstitusi yang bertugas mengawasi RUU dan UU yang bertentangan dengan UUD 1945. Lembaga Negara baru ini, sebaiknya selain mengawasi proses pembentukan UU, sebenarnya diharapkan mensosialisasi semangat suatu RUU atau UU. Konstitusi adalah kontrak sosial para warga yang membentuk negara republik Indonesia. Membentuk RUU yang tidak bersesuaian dengan Konstitusi misalnya, mestinya diancam sanksi oleh MK, tidak sekedar menolak RUU-nya. Dapat dikenakan pasal rencana makar dengan RUU yang bertentangan dengan Konstitusi. Sayang, upaya menciptakan RUU untuk melindungi Konstitusi dari upaya pembajakan atau mempertentangkan belum ada. 12

Dalam kasus RUU Intelijen misalnya, bila HAM menjadi absen atau dianggap sebagai halangan, RUU Intelijen telah dimulai dengan suatu presuposisi yang keliru total. HAM manusia bukan momok, karena justeru menjadi fundamen paling mendasar sebuah negara. Tidak dapat dipahami bahwa RUU justeru memihakkan diri kepada sesuatu yang bertentangan dengan Hak-hak dasariah publik. Selama RUU Intelijen justru bila tidak mengakomodasi dan dan memberi jaminan apa pun untuk Hak-Hak dasariah seorang warga negara sebagai manusia, RUU telah melanggar Konstitusi UUD 1945. Jadi, sejak awal sebuah RUU harus ditunjukkan sisinya yang kontradiktif terhadap semangat Konstitusi. Asumsi dasarnya adalah bahwa, UU Intelijen haruslah dengan cerdas memahami HAM, dan melaksanakan tugas negara di mana HAM itu mutlak dilindungi. HAM dan intelijen aslinya, tidak berurusan dengan represi pemikiran dan fisik, tetapi menyangkut perlindungan terhadap manusia sebagai manusia. Perlindungan HAM adalah perlindungan terhadap masyarakat cerdas atau intelek. HAM jadi pra-syarat mutlak semua UU, tak terkecuali RUU Intelijen. Konstitusi hasil amandemen terakhir menegaskan rakyat sebagai pemegang kedaulatan Negara RI. Terkait dengan wacana untuk membuat aturan semacam Internal Security Act (ISA) disandingkan dengan UU Intelijen, harus diingat bahwa pemberlakuan undang-undang sejenis ISA akan selalu dihadapkan pada kebebasan/hak-hak sipil. Bahwa negara mempunyai kewajiban untuk menegakkan public order dan keamanan nasional, kewajiban itu harus dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan antara keamanan dan kebebasan sipil dan politik. Terlebih kewajiban itu tidak pernah lahir tanpa kesepakatan individu yang telah menyerahkan sebagian haknya kepada negara yang mereka bentuk melalui proses politik yang demokrasi. Tetapi perlu dicatat bahwa dalam demokrasi pun, individu tidak pernah menyerahkan seluruh haknya. Ada hak yang terus melekat yaitu non-derogable rights, yang merupakan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Suatu Internal Security Act akan selalu memberi peluang terjadinya pelanggaran terhadap nonderogable rights tersebut.

13

REFERENSI

UU Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) Undand-Undang Dasar RI Tahun 1945 Wibisino, Ali. 2006. Panduan Perancangan Undang-Undang Intelijen Negara. Jakarta: Pacivis. Program Officer Policy Monitoring pada Institute for Policy Research and Advocacy (ELSAM), Jakarta. http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_asasi_manusia, diakses pada hari Kamis, 15 Desember 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Intelijen_Negara, Desember 2011. diakses pada hari Kamis, 15

http://www.detiknews.com/read/2011/10/11/132327/1741460/158/kabin-ruu-intelijenjustru-jadi-rambu-rambu-agar-tak-asal-sadap, diakses pada hari Kamis, 15 Desember 2011. http://www.voanews.com/indonesian/news/DPR-Sahkan-UU-Intelijen--131511353.html, diakses pada hari Kamis, 15 Desember 2011. http://www.antaranews.com/berita/278450/komnas-ham--ruu-intelijen-belum-akomodasiham, diakses pada hari Kamis, 15 Desember 2011. http://www.voanews.com/indonesian/news/Aktivis-HAM-Kritisi-RUU-Intelijen-Negara-130064748.html, diakses pada hari Kamis, 15 Desember 2011. http://bpsdm.kemenkumham.go.id/component/content/article/43-berita-hukum-danham/385-menkum-ham-jangan-bentuk-image-negatif-uu-intelijen, diakses pada hari Kamis, 15 Desember 2011. http://en.wikipedia.org/wiki/Internal_Security_Act_(Singapore), diakses pada hari Minggu, 18 Desember 2011. http://en.wikipedia.org/wiki/Internal_Security_Act, diakses pada hari Minggu, 18 Desember 2011.

14

http://en.wikipedia.org/wiki/McCarran_Internal_Security_Act, diakses pada hari Minggu, 18 Desember 2011. http://en.wikipedia.org/wiki/Internal_Security_Act_(Malaysia), diakses pada hari Minggu, 18 Desember 2011. http://www.hrw.org/legacy/backgrounder/asia/malaysia-bck-0513.htm, diakses pada hari Minggu, 18 Desember 2011.

15