Anda di halaman 1dari 4

Persebaran Fauna (dunia hewa) di Indonesia)

Keanekaragaman dan perbedaan fauna di Indonesia dipengaruhi oleh keadaan alam, gerakan hewan dan rintangan alam. Fauna atau dunia hewan di Indonesia digolongkan menjadi tiga kelompok berdasarkan pengelompokan oleh Alfred Russel Wallace dan Max Wilhelm Carl Weber. Secara ringkas tiga kelompok fauna di Indonesia adalah ebagai berikut :

Fauna tipe Asiatis, menempati bagian barat Indonesia sampai Selat Makasar dan Selat Lombok. Di daerah ini terdapat berbagai jenis hewan menyusui yang besar seperti gajah, harimau, badak, beruang, orang utan.

Fauna tipe Australis, menempati bagian timur Indonesia, meliputi Papua dan pulau-pulau sekitarnya. Di daerah ini terdapat jenis hewan seperti kangguru, burung kasuari, cendrawasih, kakaktua.

Fauna Peralihan dan asli, terdapat di bagian tengah Indonesia, meliputi Sulawesi dan daerah Nusa Tenggara. Di daerah ini terdapat jenis hewan seperti kera, kuskus, babi rusa, anoa dan burung maleo.

Jenis Fauna Australis, yang terdapat di Bagian Timur Indonesia

Manfaat Keanekaragaman Hayati Keanekaragaman hayati bermanfaat karena berperan sebagai sumber pangan, sumber sandang dan

papan, sumber obat dan kosmetik, serta mengandung nilai budaya. Keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan Kebutuhan karohidrat masyarakat Indonesia terutama bergantung pada beras. Sumber lain seperti jagung, ubi jalar, singkong, talas, dan sagu sebagai makanan pokok di beberapa daerah mulai ditinggalkan. Ketergantungan pada beras ini menimbulkan krisis pangan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Selain tanaman pangan yang telah dibudidayakan, sebenarnya Indonesia mempunyai 400 spesies tanaman penghasil buah, 370 spesies tanaman penghasil sayuran, 70 spesies tanaman berumbi, dan 55 spesies tanaman rempah-rempah. Sumber protein murah di Indonesia berasal dari bidang perikanan. Indonesia mempunyai zona ekonomi eksklusif sepanjang 200 mil dari garis pantai yang dapat dipergunakan oleh nelayan Indonesia untuk mencari nafkah. Budidaya udang, bandeng, dan lele dumbo juga sangat penting sebagai sumber pangan. Oncom, tempe, kecap, tape, laru (minuman khas daerah Timor), dan gatot merupakan makanan dan minuman khas daerah yang disukai masyarakat Indonesia. Aktivitas mikroorganisme seperti kapang, khamir, dan bakteri sangat diperlukan untuk pembuatan makanan ini. Beberapa spesies tanaman seperti suji, secang, merang padi, gula aren, kunyit, dan pandan banyak digunakan sebagai zat pewarna makanan. Keanekaragaman hayati sebagai sumber sandang dan papan Bahan sandang yang potensial adalah kapas, rami, yute, keraf, abaca dan agave, serta ulat sutera. Tanaman dan hewan tersebut tersebar di seluruh Indonesia, terutama di Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Di samping itu, beberapa suku di Kalimantan, Papua, dan Sumatera menggunakan kulit kayu, bulu-bulu burung, serta tulang-tulang binatang sebagai asesoris pakaian. Sementara itu, masyarakat pengrajin batik menggunakan tidak kurang dari 20 spesies tumbuhan untuk perawatan batik tulis, termasuk buah lerak yang berfungsi sebagai sabun. Masyarakat suku Dani di Lembah Baliem, Papua menggunakan enam spesies tumbuhan sebagai bahan sandang. Untuk membuat yokal (pakaian wanita yang sudah menikah) digunakan spesies tumbuhan kem (Eleocharis dulcis). Untuk membuat koteka/holim (jenis pakaian pria) digunakan jenis tumbuhan sika (Legenaria siceraria). Sedangkan pakaian perang terbuat dari tumbuhan mul (Calamus sp.). Untuk bahan papan digunakan kayu yang merupakan bahan utama hampir seluruh rumah adat di Indonesia. Semula kayu jati, kayu nangka dan pohon kelapa (glugu) digunakan sebagai bahan bangunan. Dengan makin mahalnya harga kayu jati, saat ini berbagai jenis kayu seperti meranti, keruing, ramin dan kayu kalimantan dipakai juga sebagai bahan bangunan. Penduduk Pulau Timor dan Pulau Alor menggunakan lontar (Borassus sudaicus) dan gebang (Corypha utan) sebagai atap dan dinding rumah. Beberapa spesies palem seperti Nypa fruticans, Oncosperma horridum, Oncosperma tigillarium dimanfaatkan oleh penduduk Sumatera, Kalimantan, dan Jawa untuk bahan bangunan rumah. Masyarakat Dawan di Pulau Timor memilih jenis pohon timun (Timunius sp.), matani (Pterocarpus indicus), sublele (Eugenie sp.) sebagai bahan bangunan, tiga pelepah lontar, gebang, dan alang-alang (Imperata cylindrica) untuk atap. Keanekaragaman hayati sebagai sumber obat dan kosmetik Indonesia memiliki 940 spesies tanaman obat, tetapi hanya 120 spesies yang masuk dalam bahan obat-obatan Indonesia. Masyarakat Pulau Lombok mengenal 19 spesies tumbuhan sebagai obat kontrasepsi. Spesies tersebut antara lain pule, laos, turi, temulawak, alang-alang, pepaya, sukun, nenas, jahe jarak, lada, kopi, pisang, lontar, cemara, bangkei, dan duwet. Bahan ini dapat diramu

menjadi 30 macam obat-obatan. Masyarakat Jawa juga mengenal paling sedikit 77 spesies tanaman obat yang dapat diramu untuk pengobatan segala penyakit. Masyarakat Sumbawa mengenal tujuh spesies tanaman untuk ramuan minyak urat, yaitu akar salban, akar sawak, akar kesumang, batang malang, dan kayu sengketan. Masyarakat Rejang Lebong, Bengkulu mengenal 71 spesies tanaman obat. Untuk obat penyakit malaria masyarakat daerah ini menggunakan sepuluh spesies tumbuhan, antara lain, yaitu Peronema canescens dan Brucea javanica yang merupakan tanaman langka. Masyarakat Jawa mengenal 47 spesies tanaman untuk menjaga kesehatan ternak kambing dan domba, antara lain bayam, temulawak, dadap, kelor, lempuyang, dan katuk. Masyarakat Alor dan Pantar mempunyai 45 spesies ramuan obat untuk kesehatan ternak, contohnya kulit kayu nangka yang dicampur dengan air laut dapat dipakai untuk obat diare pada kambing. Di Jawa Timur dan Madura dikenal 57 spesies jamu tradisional untuk ternak yang menggunakan 44 spesies tumbuhan. Tumbuhan yang banyak digunakan adalah dari genius Curcuma (temuantemuan). Di daerah Bone, Sulawesi Utara ada 99 spesies tumbuhan dan 41 famili yang digunakan sebagai tanaman obat.

Nilai Manfaat Keanekaragaman Hayati Nilai ekonomi Keanekaragaman hayati dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan (dapat mendatangkan devisa untuk industri). Misalnya untuk bahan baku industri, rempah-rempah, dan perkebunan. Bahan-bahan industri 1. misalnya: kayu gaharu dan cendana untuk industri kosmetik, kayu jati dan rotan untuk meubel, teh dan kopi untuk industri minuman, gandum dan kedelai untuk industri makanan, dan ubi kayu untuk menghasilkan alcohol. Rempah-rempah, misalnya lada, vanili, cabai, bumbu dapur. Perkebunan misalnya: kelapa sawit dan karet.
Gambar 8. Keanakaragaman Hayati yang memiliki nilai ekonomi (a) rotan (b) gandum

Nilai Biologis Keanekaragaman hayati memiliki nilai biologis atau penunjang kehidupan bagi makhluk hidup termasuk manusia. Tumbuhan menghasilkan gas oksigen (O2) pada proses fotosintesis yang diperlukan oleh makhluk 2. hidup untuk pernafasan, menghasilkan zat organik misalnya biji, buah, umbi sebagai bahan makanan makhluk hidup lain. Hewan dapat dijadikan makanan dan sandang oleh manusia. Jasad renik diperlukan untuk mengubah bahan organik menjadi bahan anorganik, untuk membuat tempe, oncom, kecap, dan lain-lain. Nilai biologis lain yang penting adalah hutan sebagai gudang plasma nutfah (plasma benih). 3. Nilai Ekologis Keanekaragaman hayati merupakan komponen ekosistem yang sangat

penting, misalnya hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis memiliki nilai ekologis atau nilai lingkungan yang penting bagi bumi, antara lain: a. Merupakan paru-paru bumi Kegiatan fotosintesis hutan hujan tropis dapat menurunkan kadar karbondioksida (CO2) di atmosfer, yang berarti dapat mengurangi pencemaran udara dan dapat mencegah efek rumah kaca. b. Dapat menjaga kestabilan iklim global, yaitu mempertahankan suhu dan ke lembaban udara.
Gambar 9. Hutan tropis yang mempunyai nilai ekologis yang penting bagi bumi

Nilai Sosial 4. Budaya Keanekaragaman hayati dapat dikembangkan sebagai tempat rekreasi atau pariwisata, di samping untuk mempertahankan tradisi.

B. Manfaat Keanekaragaman Hayati Sebagai sumber pangan, perumahan, dan kesehatan a. Pangan: Sumber karbohidrat: padi, jagung, singkong, kentang, dan lainlain. Sumber protein: kedelai, kecipir, ikan, daging, dan lain-lain. Sumber lemak: ikan, daging, telur, kelapa, alpukat, durian, dan lain-lain. Sumber vitamin: jambu biji, jeruk, apel, tomat, dan lain-lain. Sumber mineral: sayur-sayuran.

1.

Sebagai sumber pendapatan/devisa 2. a. Bahan baku industri kerajinan: kayu, rotan, karet b. Bahan baku industri kosmetik: cendana, rumput laut Sebagai sumber plasma nutfah, Misalnya hutan Di hutan masih terdapat 3. tumbuhan dan hewan yang mempunyai sifat unggul, karena itu hutan dikatakan sebagai sumber plasma nutfah/sumber gen. Manfaat ekologi 4. Selain berfungsi untuk menunjang kehidupan manusia, keanekaragaman hayati memiliki peranan dalam mempertahankan keberlanjutan ekosistem. Manfaat keilmuan 5. Keanekaragaman hayati merupakan lahan penelitian dan pengembangan ilmu yang sangat berguna untuk kehidupan manusia. 6. Manfaat keindahan Bermacam-macam tumbuhan dan hewan dapat memperindah lingkungan.