Anda di halaman 1dari 6

Pengantar Ilmu Komunikasi

Edwi Arief Sosiawan

KULIAH - 6

4. Komunikan
Unsur komunikasi yang keempat adalah komunikan sering disebut sebagai receiver, audience, khlayak, atau sasaran yaitu yang menerima pesan dari komunikator. Penerima merupakan unsur penting dalam proses komunikasi, karena dialah yang menjadi sasaran komunikasi. Karena itu, mengetahui, memahami karakteristik penerima pesan merupakan salah satu faktor kunci dalam berkomunikasi. Keberhasilan komunikasi juga tergantung pada komunikan, oleh karena itu diperlukan beberapa syarat bagi komunikan agar komunikasi berjalan baik, yaitu : Kemampuan komunikan menafsirkan pesan

Komunikan mampu menggabungkan pesan yang diterima dengan pengetahuan yang dimiliki Komunikan sadar bahwa pesan yang diterima memenuhi kebutuhannya. Perhatian komunikan terhadap pesan yang diterima

Perhatian (attention) Perhatian sebenarnya merupakan syarat untuk dapat terjadinya persepsi atau langkah awal persiapan akan kesediaan individu melakukan persepsi. Perhatian terjadi ketika kesadaran dominan pada stimuli tertentu atau dengan kata lain keaktifan jiwa yang diarahkan pada sesuatu objek baik di dalam maupun di luar dirinya. Pengertian lain mendifinisikan perhatian sebagai pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang dituukan kepada satu atau sekumpulan objek. Secara skematis perhatian dapat diterangkan dalam gambar lingkaran di bawah ini :

1 2

Daerah pertama adalah daerah yang benar-benar diperhatikan atau disadari sepenuhnya, namun disamping daerah pertama terdapat juga hal-hal lain yang samar-samar disadari yang disebut sebagai daerah peralihan ( daerah dua intermediate field). Sedangkan daerah tiga adalah daerah yang sama sekali tidak diperhatikan. Syarat agar perhatian penuh tertuju pada suatu stimulus atau objek, adalah : inhibisi : pelarangan atau penyingkiran isi kesadaran yang tidak diperlukan atau menghalangi kesadaran. Contoh jika sedang menghadapi ujian maka singkirkan segala ajakan nonton dan hura-hura agar perhatian tetap tertuju pada ujian b. Appersepsi ; pengerahan dengan sengaja semua isi kesadaran termasuk tanggapan, pengertian dan sebagainya yang telah dimiliki dan bersesuaian dengan objek pengertian. Misal belajar tentang agama Hindu maka perlu mengerti tentang barang-barang peninggalan agama hindu seperti candi, arca dan sebaginya c. Adaptasi (penyesuaian diri) ; penyesuaian diri dengan objek atau stimulus.
a.

Gangguan dan Rintangan Komunikasi

Http://edwi.dosen.upnyk.ac.id

edwias@yahoo.com

Pengantar Ilmu Komunikasi

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Edwi Arief Sosiawan Jika kita melihat hakikat komunikasi sebagai suatu sistem, maka gangguan komunikasi bisa terjadi pada semua elemen atau unsur-unsur yang mendukngnya, termasuk faktor lingkungan dimana komunikasi itu terjadi. Menurut Shannon dan Weaver (1949) gangguan komunikasi terjadi jika terdapat intervensi yang mengganggu salah satu elemen komunikasi sehingga proses komunikasi tidak dapat berlangsung dsecara efektif. Sedangkan rintangan komunikasi dimaksudkan ialah adanya hambatan yang membuat proses komunikasi tidak dapat berlangsung sebagaimana harapan komunikator dan penerima. Meski ganggauan dan rintangan komunikasi dapat dibedakan, tetapi sebernarnya rintangan komunikasi bis juga terjadi disebabkan karena adanya gangguan. Gangguan atau rintangan komunikasi pada dasranya dapat dibedakan atas tujuh macam, yakni: Gangguan teknis Gangguan semantik Gangguan Psikologis Rintangan Fisik atau Organik Rintangan Statis Rintangan kerangka berpikir Rintangan Budaya Gangguan teknis terjadi jika salah satu alat yang digunakan dalam komunikasi mengalami gangguan, sehingga informasi yang di transisi melaui saluran mengalami kerusakan (Channel Noice). Misalnya gangguan pada stasiun radio atau TV, gangguan jaringan telepon, rusaknya pesawat radio sehingga terjadi suara bising dan semacamnya. Gangguan Semantik ialah gangguan komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa yang digunakan ( Black 1979). Gangguan semantik sering terjadi karena: 1. Kata-kata yang digunakan telau banyak memakai jargon bahasa asing sehingga sulit dimengerti oleh khalayak tertentu. 2. Bahasa yang digunakan pembicara berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh penerima. 3. Struktur bahasa yang digunakan tidak sebagaimana mestinya, sehingga membingungakan penerima. 4. Latar belakang budaya yang menyebabkan salah persepsi terhadap simbol-simbol bahasa yang digunakan. Seperti halnya dengan gangguan teknis, maka gangguan semantik merupakan suatu hal yang sangat peka dalam komunikasi. Banyak kecelakaan transportai udara terjadi karena kesalahan semantik. Misalnya dalam bulan Januari 1990 pesawat Aviance denagn nomor penerbangan 52 telah mengalami kecelakaan pendaratan di Kennedy International Airport New York (AS). Kecelakaan ini terjadi karena kesalahan pengertian bahasa. Pilot yang mengawaki Aviance menyampaikan kepada pengatur lalu lintas udara di bandara 45 menit sebelum pesawat mendarat bahwa, Winit apriority, we are alow on fuel (kami memerlukan prioritas dalam keadaan bahan bakar terbatas). Karena kata Priority ditafsirkan lain oleh petugas bandara bukan emergency (dalam keadaan darurat), dan masih tersedia bahan bakar yang cukup meski dalam keadaan terbatas, maka pesawat tidak diberi kesempatan mendarat lebih awal. Akibatrnya pesawat meledak di udara dan 73 orang tewas dalam peristiwa tragis ini. Ketika diselidiki oleh Dewan Keamanan Transportasi Udara Amerika Serikat yang dipimpin langsung oleh Lee Diikinson, ditemukan bahwa pilot dalam kehidupan sehari-harinya memakai bahasa Spanyol. Karena itu bahasa Inggris yang digunakannya dinilai tidak dalam keadaan darurat, sekalipun dikatakan memerlukan prioritas. Selain rintangan semantik juga terdapat rintangan psikologis. Rintangan psikologis terjadi karena adanya gangguan yang disebabkan oleh persoalan-persoalan dalam diri individu. Misalnya rasa curiga penerima kepada sumber, situasi berduka atau karena gangguan kejiwaan sehingga dalam penerimaan dan pemberian informasi tidak sempurna. Rintangan fisik ialah rintangan yang disebabkan karena kondisi geografis misalnya jarak yang jauh sehingga sulit dicapai, tidak adanya sarana kantor pos, kantor telepon, jalur transportasi dan semacamnya. Dalam komunikasi antar manusia rintangan fisik bisa juga diartikan karena adanya gangguan organik, yakni tidak berfungsinya slah satu panca indra pada penerima.

Http://edwi.dosen.upnyk.ac.id

edwias@yahoo.com

Pengantar Ilmu Komunikasi

Edwi Arief Sosiawan Rintangan status ialah rintangan yang disebabkan karena jarak sosial diantara peserta komunikasi, misalnya perbedaan status antara senior dan junior atau atasan dan bawahan. Perbedaan seperti ini biasanya menuntut periklaku komunikasi yang memperhitungkan kondisi dan etika yang membudaya dalam masyarakat, yakni bawahan cenderung hormat pada atasnanya, atau rakyat pada raja yang memimpinnya Rintangan kerangka berpikir ialah rintangan yang disebabkan adanya perbedaan persepsi antara komunikator daan khalayak terhadap pesan yang digunakan dalam berkomunikasi. Kini disebabkan karen latar belakang pengalaman dan pendidikan yang berbeda. Dalam studi yang pernah dilakukan oleh William (1974) tentang efektivitas pembaharuan program KKN cenderung menggunakan kerangka berpikir teoritis, sedangkan penduduk desa cenderung berpikr pada hal-hal yang bersifat praktis. William lebih jauh menyatakan bahwa, rintangan yang sullit diatasi pada hakikatnya berada antara pikiran seseorang dengan orang lain. Rintangan budaya ialah rintangan yang terjadi disebabkan karena adanya perbedaan norma, kebiasaan dan nilai-lnilai yang dianut oleh pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi. Di negara-negara sedang berkembang masyarakat cenderung menerima informasi dari sumber yanag banyak memiliki kesamaan dengan dirinya, seperti bahaasa, agama dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Selain itu dalam ilmu komunikasi juga dikenal model gangguan penyampaian pesan antarmanusia yang terdiri dari : 1. ganguan-1 : [pada akal budi komunikator ketika menjalani fungsi peniterpertasian : ketika komunikator mencoba mengiterpretasikan motif komunikasinya, yakni apa yang dipikir dan di rasakan tiba-tiba akal budinya tidak berfungsi 2. ganguan-2 : pada akal budi komunikatir ketika menjalani fungsi penyandian : ini terjadi anda lupa tentang satu istilah, sementara konsep tentang istilah, sementara konsep tentang istilah itu ada di benak anda. 3. ganguan-3 : pada peralatan jasmaniah ketika menjalani fungsi pengiriman : seorang pedagang cina menjawab seorang ibu yang menawar barang daganganya "lu gila" maksunya, rugilah. 4. ganguan-4 : pada saluran / media komunikasi : pada komunikasi tatap muka tanpa media. 5. ganguan-5 : pada peralatan jasmaniah komunikan ketika menjalani fungsi penerimaan 6. ganguan-6 : pada akal budi komunikan ketika menjalani fungsi penyandian balik. 7. ganguan-7 : pada akal budi komunikan ketika menjalani fungsi peinterpretasian. catatan: ganguan teknis dan semantik : ganguan teknis adalah ganguan yang terjadi selama proses perjalanan pesan dari komunikator ke komunikasinya, sedangkan ganguan semantik adalah ganguan teknis yang terjadi pada akal budi manusia ketika menjalankan fungsi penyedian (encoder),penyendian balik (decoder), dan pengiterpretasian (intrpreter). miscomunication dan misubderstanding : miscomunication adalah kesalahpengertian karena faktor peralatan jasmaniah.

Umpan Balik / feedback Komunikasi


Feedback adalah dua kata jadian / bentukan dalam bahasa Inggris yang terdiri dari kata feed (artinya: memberi makan) dan back (artinya: kembali). Arti harfiah kata ini adalah memberi makan kembali, tapi makna yang sebenarnya adalah memberi masukan kembali. Komunikasi merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Komunikasi yang baik tentunya akan menciptakan hubungan yang harmonis antarsesama. Keberhasilan komunikasi ini bila ditinjau dari segi keilmuan, maka dapat ditelaah berdasarkan

Http://edwi.dosen.upnyk.ac.id

edwias@yahoo.com

Pengantar Ilmu Komunikasi

Edwi Arief Sosiawan unrsur-unsur yang ada di dalamnya, yaitu komunikator, pesan, media, komunikan, dan umpan balik. Kelima unsur yang merupakan hasil kajian Harold Laswell ini saling berkaitan dan mempengaruhi. Di antara kelima unsur ini, umpan balik merupakan unsur yang paling penting dalam menentukan keberhasilan komunikasi. Umpan balik yang ditimbulkan dalam proses komunikasi memberikan gambaran kepada komunikator tentang seberapa berhasil komunikasi yang dilakukannya. Jadi, umpan balik (feedback) merupakan satu-satunya elemen yang dapat menjudge apakah komunikasi yang telah berlangsung berhasil atau gagal. Keberlangsungan komunikasi yang dibangun sebelumnya ditentukan oleh umpan balik sebagai bentuk penilaian, dan bila dianalogikan lagi dengan seorang siswa-dia naik kelas atau tidak-maka, umpan balik adalah sebagai nilai raportnya. Dengan mengetahui umpan balik yang dikirimkan oleh komunikan, maka sebagai komunikator, kita akan dapat langsung mengetahui apakah tujuan dari pesan kita tersampaikan atau tidak. Apakah umpan balik itu berupa respon negatif ataupun respon positif. Contoh kecil ketika kita berceramah atau berpidato di depan khalayak umum. Maka kita akan dapat melihat reaksi apa saja yang dilakukan oleh pendengar di depan kita. Mungkin ada yang tekun memperhatikan, ada yang mengobrol dengan teman di sampingnya, ada yang menguap karena bosan, atau melakukan interupsi atas apa yang kita sampaikan. Semua perilaku atau reaksi yang dilakukan oleh penonton di depan kita merupakan umpan balik yang langsung diberikan kepada kita sebagai komunikator. Orang yang mendengarkan dengan tekun mungkin memberikan respon positif sedangkan yang mengobrol dengan teman di sampingnya memberikan respon negatif. Namun, kesimpulan ini tidak kaku. Artinya, mungkin tubuh orang yang kelihatan tekun mendengarkan, berada di depan kita, sedangkan pikirannya jauh berada di luar sana. Namun sebaliknya, orang yang mengobrol dengan temannya, mungkin sedang asyik berdiskusi tentang apa yang kita sampaikan. Bahkan, diam pun bisa disebut sebagai umpan balik yang menandakan dua hal, apakah ia mengerti atau tidak sama sekali. Bila komunikasi memungkinkan para partisipannya untuk saling berhadapan wajah (face to face) maka feedback yang paling mendasar adalah tatapan mata (eyes contact). Mata yang menatap komunikator menunjukkan bahwa (para) komunikan benar-benar memperhatikannya. Ini tentu saja berlangsung secara dua arah. Artinya agar seorang komunikan menatap mata seorang komunikator, ia harus terlebih dahulu menatap mata-nya. Selain itu, ini harus dilakukan dengan sewajar / se-natural mungkin. Secara naluriah, bila kita berbicara secara tatap muka dengan seseorang, kita akan melakukan itu. Dalam konteks komunikasi dengan sekelompok orang / komunikasi kelompok, komunikator sebaiknya menjadi pihak yang mengambil inisiatif melakukan ini. Ia hendaknya membagi tatapan matanya kepada semua pihak yang hadir, tidak pada seseorang atau sekelompok orang saja. Ini sangat penting untuk membantu menciptakan suasana yang efektif bagi pencapaian tujuan komunikasi. Dengan penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa fungsi feedback adalah sebagai mekanisme kendali untuk mengetahui apakah perilaku komunikasi seorang komunikator telah efektif untuk mencapai sasarannya. Dalam Ilmu Komunikasi dikenal beberapa jenis feedback. Tidak semuanya persis merupakan variasi dari prinsip di atas. Ada di antaranya yang merupakan analogi pada konteks komunikasi yang lain atau merupakan sifatnya. Jenis-jenis feedback tersebut adalah : 1. Feedback Positif Feedback Negatif Feedback positif adalah isyarat / gejala yang ditunjukkan oleh komunikan yang menandakan bahwa ia / mereka memahami, membantu dan mau bekerja sama dengan komunikator untuk mencapai sasaran komunikasi tertentu, dan tidak menunjukkan perlawanan / pertentangan. Contohnya : komunikan mengangguk-angguk, memperhatikan dengan serius, mencatat, responsif ketika ditanya. Feedback negatif adalah isyarat / gejala yang ditunjukkan oleh komunikan yang menandakan bahwa ia / mereka memiliki sikap serta perilaku yang dapat berkisar dari mulai tidak setuju hingga tidak menyukai pesan, cara penyampaian, atau bahkan diri sang

Http://edwi.dosen.upnyk.ac.id

edwias@yahoo.com

Pengantar Ilmu Komunikasi

Edwi Arief Sosiawan komunikator. Segalanya sesuatu yang merupakan lawan dari feedback positif adalah feedback negatif. Contohnya : sikap acuh tak acuh, melakukan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan yang sedang dibahas, mengobrol, mengganggu orang lain, nyeletuk, memotong pembicaraan / interupsi secara tidak sopan, atau keluar ruangan / walk- out tanpa izin dari komunikator, dan sebagainya.

2. Feedback Netral Feedback Zero Feedback Netral adalah jenis feedback yang sulit untuk dinilai sebagai isyarat / gejala yang menunjukkan respon positif atau negatif. Dengan kata lain feedback netral adalah feedback yang tidak jelas wujudnya; apakah itu positif atau negatif. Contohnya : perilaku diam ketika ditanya mengerti atau tidak, Feedback Zero adalah feedback yang sulit dimengerti oleh komunikator. Komunikator tidak tahu harus menafsirkan isyarat / gejala yang muncul dari komunikan. Contohnya : ada yang tertawa ketika komunikator tidak sedang menyampaikan hal yang lucu, tiba-tiba ada yang menangis, dan sebagainya. 3. Feedback Internal Feedback Eksternal Feedback Internal adalah yang menunjukkan sumber dari isyarat / gejala yang menjadi feedback. Bila itu muncul dari dalam diri komunikator, maka itu disebut feedback internal. Maksudnya, misalnya ketika komunikator telah mengatakan sesuatu, tapi kemudian ia ingat sesuatu dan meralat apa yang telah ia katakan, maka yang kita lihat itu dapat kita katakan sebagai hal yang terjadi karena ada feedback internal pada diri komunikator. Feedback Eksternal adalah feedback yang munculnya berasal dari komunikan. Dalam hal ini komunikan dapat menunjukkannya dengan memberikan ekspresi wajah tertentu, gerak-gerik, perilaku atau bahkan suara-suara yang muncul ketika komunikasi tengah berlangsung. 4. Feedback Verbal Feedback Non-Verbal Feedback Verbal menunjuk pada bentuk atau wujud dari apa yang disampaikan komunikan sebagai reaksinya pada suatu perilaku komunikasi tertentu yang sedang berlangsung. Contoh dari feedback verbal misalnya adalah interupsi (memotong pembicaraan), nyeletuk (menyampaikan komentar secara spontan ketika komunikator sedang menyampaikan pesannya), atau dapat pula berupa secarik kertas yang ditulisi yang mengatakan sesuatu kepada yang sedang berbicara agar ia segera berhenti karena waktu untuknya sudah habis. Harap diingat pengertian verbal di sini. Pesan komunikasi yang verbal adalah yang bentuknya merupakan wujud dari penggunaan bahasa. Artinya, bisa berupa lisan atau tulisan. Feedback Non-Verbal adalah yang wujudnya bukan berupa lisan atau tulisan, seperti ekspresi wajah, gerak-gerik, cara duduk, cara berdiri, cara menatap, bentuk senyuman, isyarat tangan, dan sebagainya.

5. Feedback Langsung Feedback Tidak Langsung


Beberapa ahli komunikasi tidak sepakat dengan adanya dua jenis feedback ini. Alasannya adalah, feedback seharusnya adalah sesuatu yang tampak / dapat diidentifikasi keberadaannya ketika sebuah proses komunikasi tengah berlangsung, bukan sesudahnya. Bila sesudahnya, maka itu berarti merupakan respon atau tanggapan. Mereka menyatakan ini karena pengertian feedback langsung (immediate feedback) adalah feedback yang ditunjukkan ketika komunikasi sedang berlangsung, dan feedback tidak langsung (delayed feedback) adalah feedback yang disampaikan ketika komunikasi telah selesai. Konteks dua jenis feedback ini adalah pada perbandingan antara komunikasi interpersona dan komunikasi massa. Pada komunikasi interpersona, jelas untuk sebagian besar feedbacknya akan bersifat langsung atau segera. Artinya, orang yang berbicara / komunikator akan dapat segera mengetahui bagaimana reaksi si komunikan ketika ia sedang menyampaikan pesan tertentu

Http://edwi.dosen.upnyk.ac.id

edwias@yahoo.com

Pengantar Ilmu Komunikasi

Edwi Arief Sosiawan (karena situasinya tatap muka). Ini berbeda dengan komunikasi massa. Surat kabar, misanya. Para pembaca tidak dapat memberikan feedback yang segera. Feedback mereka dapat disampaikan melalui surat pembaca yang biasanya waktunya adalah cukup lama sejak apa yang ditanggapi terbit atau dibaca oleh komunikan, sehingga surat pembaca dapat dijadikan contoh sebagai feedback tidak langsung. Bila kita berpegang pada pengertian yang sebenarnya dari feedback, kedua jenis feedback terakhir ini dapat dikatakan sebagai sekedar sebuah kiasan. Feedback sifatnya harus segera dan disampaikan pada saat komunikasi sedang berlangsung. Oleh karena itu feedback dapat pula kita katakan sebagai sebuah reaksi komunikan. Akan tetapi bila penyampaiannya adalah pada saat sebuah proses komunikasi telah berlangsung, maka itu dapat kita katakan sebagai sebuah respon atau tanggapan. Feedback sangat penting dalam Komunikasi sehari-hari. Nilai pentingnya bukan saja pada kemampuan komunikator bagaimana ia bisa menafsirkan isyarat / gejala yang ditunjukkan kemudian mengambil tindakan yang memperbaiki keadaan, namun juga dari sisi komunikan, di mana seringkali muncul kebutuhan untuk menyampaikan feedback secara sengaja. Bila X berbicara dengan begitu percaya diri namun pada saat yang sama ia tidak menyadari bahwa ia sebenarnya sedang menyinggung perasaan seseorang yang ada di sekitarnya, bagaimana kita sebagai salah satu komunikannya memberitahu X secara tidak langsung agar ia dapat mengubah perilaku komunikasinya ? Di sinilah pengertian menyampaikan feedback (secara sengaja). Untuk sebagian besar kemampuan menyampaikan feedback secara sengaja kita perlukan pada saat kita menghadapi situasi di mana yang seharusnya dikatakan tidak bisa dikatakan begitu saja.

Http://edwi.dosen.upnyk.ac.id

edwias@yahoo.com