Anda di halaman 1dari 5

Pengertian iman kepada Qadha dan Qadar Iman kepada Qadha dan Qadar merupakan Rukun Iman yang

keenam, yaitu keyakinan bahwa Allah SWT telah memberikan ketentuan kepada semua makhluk yang ada di alam ini. Firman Allah dalam Quran Surah Al-Qamar ayat 49 sebagai berikut:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan takdirnya Dalam memahami Qadha dan Qadar, seharusnya jangan sampai salah paham atau keliru sehingga dapat merugikan kehidupan. Pada masa khalifah Umar Bin Khattab, ada seorang pencuri yang tertangkap dan dihadapkan kepada Khalifah Umar Bin Khattab. Ketika pencuri tersebut ditanya alasan mencuri, ia menjawab bahwa ini sudah takdir Allah. Jawaban tersebut justru membuat khalifah Umar Bin Khattab menjadi marah. Allah SWT sangat menyayangi umatnya sehingga mustahil memberikan ketentuan yang jelek terhadap umatNya. Ketentuan Allah selalu baik, apabila manusia mengalami sesuatu yang jelek. Sebenarnya itu akibat perbuatan manusia itu sendiri yang tidak sesuai dengan sunnatullah. Firman Allah dalam An-Nisa 79 sebagai berikut:

Apa saja nikmat Allah yang kamu peroleh adalah dari Allah SWT dan apa saja bencana yang menimpamu maka itu dari kesalahan dirimu sendiri. 1. Qadha Qadha menurut bahasa : rencana Istilah : Qadha ialah rencana pasti yang ditetapkan Allah SWT di Lauhil Madhfuz yang merupakan ketentuan Allah Firman Allah SWT dalam Q.S Al-Baqarah : 117

Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dan apabila dia merencanakan segala sesuatu maka bagiNya berfirman Kun maka jadilah ia.

Kewajiban beriman kepada dan qadar Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang berpakaian serba putih , rambutnya sangat hitam. Lelaki itu bertanya tentang Islam, Iman dan Ihsan. Tentang keimanan Rasulullah menjawab yang artinya: Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaekat-malaekat-Nya, kitab-kitab-Nya,rasul-rasulnya, hari akhir dan beriman pula kepada qadar(takdir) yang baik ataupun yang buruk. Lelaki tersebut berkata Tuan benar. (H.R. Muslim) Lelaki itu adalah Malaekat Jibril yang sengaja datang untuk memberikan pelajaran agama kepada umat Nabi Muhammad SAW. Jawaban Rasulullah yang dibenarkan oleh Malaekat Jibril itu berisi rukun iman. Salah satunya dari rukun iman itu adalah iman kepada qadha dan qadar. Dengan demikian , bahwa mempercayai qadha dan qadar itu merupakan hati kita. Kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan adalah atas kehendak Allah. Sebagai orang beriman, kita harus rela menerima segala ketentuan Allah atas diri kita. Di dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman yang artinya: Siapa yang tidak ridha dengan qadha-Ku dan qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencanaKu yang aku timpakan atasnya, maka hendaklah mencari Tuhan selain Aku. (H.R.Tabrani) Takdir Allah merupakan iradah (kehendak) Allah. Oleh sebab itu takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tatkala takdir atas diri kita sesuai dengan keinginan kita, hendaklah kita beresyukur karena hal itu merupakan nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Ketika takdir yang kita alami tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka hendaklah kita terima dengan sabar dan ikhlas. Kita harus yakin, bahwa di balik musibah itu ada hikmah yang terkadang kita belum mengetahuinya. Allah Maha Mengetahui atas apa yang diperbuatnya.

Takdir Muallaq Kaum muslimin yang semoga dimuliakan oleh Allah Taala, salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah beriman kepada takdir baik maupun buruk. Perlu diketahui bahwa beriman kepada takdir ada empat tingkatan : 1. Beriman kepada ilmu Allah yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada. Di antaranya seseorang harus beriman bahwa amal perbuatannya telah diketahui (diilmui) oleh Allah sebelum dia melakukannya. 2. Mengimani bahwa Allah telah menulis takdir di Lauhul Mahfuzh. 3. Mengimani masyiah (kehendak Allah) bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak-Nya. 4. Mengimani bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu. Allah adalah Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan manusia. Dalil dari tingkatan pertama dan kedua di atas adalah firman Allah Taala (yang artinya),Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. Al Hajj [22] : 70). Kemudian dalil dari tingkatan ketiga di atas adalah firman Allah (yang artinya),Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At Takwir [81] : 29). Sedangkan untuk tingkatan keempat, dalilnya adalah firman Allah (yang artinya),Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu perbuat. (QS. Ash-Shaffaat [37] : 96). Pada ayat Wa ma tamalun (dan apa saja yang kamu perbuat) menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah.

Takdir Mubram Takdir mubram merupakan ketentuan Allah swt. Terhadap makhluknya yang tidak bisa diubah lagi, contohnya adalah kematian. Apabila ajal telah tiba kepada seseorang, maka seorangpun tidak akan ada yang bisa menolaknya. Firman Allah swt: "sesungguhnya perintahnya dia menghendaki sesuatu hanyalah kepadanya: "JADILAH!" maka terjadi". (QS yaasin ayat 82). berkata

Kematian pasti datang kepada seseorang, waktunya tidak bisa diundurkan dan tidak bisa pula dimajukan. Firman Allah swt: "dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun." (QS. Al A'raf ayat 34). Terjadinya takdir terhadap seorang manusia dan makhluk Allah lainnya telah tertulis didalam QADARNYA. dengan demikian, qadar atau takdir pada hakekatnya merupakan pelaksanaan dari ketentuaan Allah swt. Firman Allah: "Tiada satu bencana pun yang menimpa dibumi dan tidak pula pada dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab (LAUHIL MAHFUZ) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. al Hadiid ayat 22.)

Iman Kepada Penulisan Takdir, Mencakup Lima Takdir: 1. Takdir yang meliputi seluruh makhluk Artinya, Allah telah mengetahui, menulis, menghendaki, dan menciptakannya, sebagaimana dijelaskan sebelumnya berikut dalil-dalilnya, dalam empat tingkatannya. 2. Takdir kedua adalah penulisan mitsaq (perjanjian), ketika Allah berfirman, Dan (ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Rabbmu? Mereka menjawab, Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. (AlAraf: 172) 3. Takdir Al-Umri (Penetapan umur): sekaligus penetapan rezki, aja, dan amal perbuatan seorang hamba, serta apakah ia bahagia ataukah sengsara, yaitu ketika masih berada di perut ibunya. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Masud.2 4.Takdir As-Sanawy (Penetapan tahunan). Allah berfirman, Pada malam itu, dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Ad-Dukhan:4) Ibnu Abbas berkata, Ketika lailatul qadar, ditulislah pada ummul kitab, segala yang akan terjadi pada tahun itu, baik yang berupa kebaikan, keburukan, maupun rezki. 5.Takdir Al-Yaumi (Penetapan harian). Allah Taala berfirman, Setiap hari Dia dalam kesibukan. (Ar-Rahman: 29) Jadi, setiap hari Allah mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, mengangkat derajat suatu kaum, merendahkan kaum yang lain.3 Takdir ini adalah penggiringan berbagai ketentuan kepada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Takdir yaumy ini merupakan rincian takdir umri (usia) ketika ruh ditiupkan ke janin yang ada di dalam perut ibunya. Sedangkan takdir umri juga merupakan rincian dari takdir pertama, di masa mitsaq (perjanjian), dan takdir di masa mitsaq ini merupakan perincian dari takdir yang ditulis oleh qalam dalam Lauh Mahfuzh.4