Anda di halaman 1dari 2

Malam telah terlanjur larut, lalu lintas ibukota Jakarta begitu padat menyebabkan mobil yang kami kendarai

terlambat memasuki tol Cipularang. Waktu itu pukul 11.30 malam, di mobil yang sebenarnya muat untuk ber-delapan orang hanya berisikan 5 orang termasuk yang duduk di bangku supir. Mario yang menyupir mobil, Indra di sebelah Mario, kemudian di belakang duduklah aku dengan Aldi dan Ryan, dan hanyalah aku satu-satu-nya perempuan di dalam mobil tersebut. Kami baru saja menghadiri sebuah seminar di Jakarta, acara selesai tepat pukul 5 sore, dilanjutkan dengan makan malam bersama kemudian kami terjebak macet cukup lama di Jakarta. Mungkin karena bukan hari libur, tol Cipularang terasa begitu lenggang. Mobil yang kami kendarai melaju cukup kencang tetapi tetap hati-hati. Mario begitu waspada mengendarai mobil, tentunya. Seperti telah kehabisan ide bahasan mengobrol, Aldi memulai topik baru. Tentang hantu. Pada tau cerita yang anak kecil yang pipis di jalan tol ga sih? Ah, apaan? Kataku sedikit kaget. Itu yang anak kecil mau liburan bareng keluarganya, bukan sih? Sambut Ryan. Iye. Jawab Aldi. Tau gue. Sambung Mario tak kalah bersemangat. Ah, ngapain sih pada cerita hantu udah ah ga lucu. Kataku merasa seram. Jadi gini, Nin... Indra yang tadi diam saja, menoleh kebelakang menghadapku kemudian sambil tersenyum licik. Aku yang tidak suka karena merasa seram menutup telingan dengan kedua tangan. Tapi percuma, suara Indra tetap terdengar keras. Jadi anak kecil, pipis di jalan tol terus pas balik-balik ke mobil mukanya pucat. Ah, sumpaaaaah, ga lucu. Udahan ahh... Teriakku, kalo ga gue turun nih. Satu mobil terbahak. Yakali, malam gini mereka rela nurunin aku di tempat gelap dan sunyi macam ini. Kemudian Mario benar-benar memberhentikan mobilnya. Kita turunin ajah nih, si Nindya, apa yah... Kata Mario, sambil menoleh ke belakang, dan benarbenar memberhentikan mobilnya. Ah, tega lo semua. Yakali Nin, becanda gue. Mario mulai men-starter mobil, tapi ternyata mobil tidak mau menyala. Dicoba sekali-duakali-hingga berkali-kali, mobil tetap tidak mau menyala. Kenapa mobil lo? Tumben... Tanya Aldi, sambil menepuk pundak Mario. Ga tau nih, padahal bensin full, minggu kemaren habis di service. Ga mungkin rusak mesinnya.

Coba dinyalain lagi deh. Mobil lalu dinyalakan lagi, kemudian akhirnya mau jalan, tetapi ntah mengapa baru beberapa meter mati kembali. Mario terdiam sebentar lalu menoleh ke belakang ke arah aku, Aldi, dan Ryan dengan muka pucat. Kenapa lo? Tanya Aldi. Apa perasaan gue ajah yah, mobilnya kok jadi berat banget. Ah, lo apa-apaan deh, ga lucu ah lo Mar. Gue, serius Nin. Ga bohong, ngapain gue bohong sama kalian. Eng, sebenernya.. Indra yang dari tadi diam, mulai angkat bicara. Ada yang numpang di mobil kita... Kami semua diam, aku mulai melirik ke kanan-dan-kiri. Siapa? Siapa yang numpang? Daritadi kita ga pernah naikkin penumpang. Ada perasaan pengen menoleh ke belakang, tapi ga berani. Aldi yang duduk disampingku mulai kucengkeram tangannya. Lo lagi ga becanda-kan Ndra. Numpang gimana? Tanyaku pelan. Berusaha tenang. Konon katanya, jika kita ketakutan, makhluk dari dimensi lain itu, akan lebih senang mengganggu kita. Yang duduk dibelakang ada, yang duduk di atas mobil juga ada. Mobil ini penuh, wajar berat. Indra mengatakan ini dengan hati-hati sekali, Ada yang belum mandi yah? Indra melirik ke arah Mario, Aku, Ryan, dan Aldi bergantian. Mandi? Iyah, mandi besar maksudnya. Mobil makin hening. Ga ada yang mau mengaku, mungkin malu. Semua terlihat berkomat-kamit berdoa. Aku sendiri ga berhenti baca ayat Kursi, nyesel tadi sebelum berangkat ga shalat isya dulu. Mario mulai menyalakan mobil lagi. Sambil ngomong, Ya Allah, hidupin yaah, maafin kalo kita ada salah. Antara pengen ngikik, tapi seluruh badan rasanya membeku, membuatku mikir kali buat menertawakan Mario. Mobil berbunyi tanda menyala. Semua orang di dalam mobil itu mengucapkan alhamdulillah. Mobil mulai jalan dan cukup kencang. Kulihat keluar jendela, ternyata baru sampai di kilometer 95. Perjalanan kita masih jauh, baru kilometer 95. Wah berarti, anak yang hilang itu bener dong, kan kejadiannya di sini. Teriak Mario. Kami menoleh satu-sama-lain, kemudian hening. Mobil sunyi tanpa suara kami, kecuali John Mayer yang bernyanyi dengan kencang. Tak perlu-lah dibahas cerita kali ini. Cukup kami, Tuhan, dan makhluk ciptaannya yang tahu cerita hari ini.